Tags

, , , , , , , , , , , ,

“It is not our fault but it is still our responsibility.”

 

 

Ketika ditinggal mati seseorang yang dicintai, kita bisa berpegang kepada prinsip lima-tahap dari Kubler-Ross untuk meniti kembali kestabilan emosional yang kita rasakan. Namun bagaimana jika yang mati itu adalah diri kita sendiri? Bagaimana jika suatu trauma mengerikan terjadi kepada diri kita, meninggalkan luka fisik dan luka jiwa sebegitu dalamnya, sehingga menewaskan siapa diri kita sebelumnya? Lima langkah, tujuh, atau malah dua-belas sekalipun tidak akan cukup untuk menuntun kita melewati proses penyembuhan. May dalam film 27 Steps of May, yang mengalami kekerasan seksual di usia belia, butuh waktu delapan tahun! Sutradara Ravi L. Bharwani mengerti bahwa bergulat dengan trauma personal adalah urusan alami yang sangat sulit bagi para korban. Sebuah bagian dari perjalanan kehidupan yang tidak bisa diburu-buru, tidak bisa dikemas menjadi tahapan-tahapan yang seolah menyederhanakan. Karena dealing with personal trauma, grief atas sesuatu peristiwa melecehkan yang terjadi kepada kita, tidak bisa dijadikan simpel. Melainkan sesuatu yang kompleks, yang sakitnya dapat menjalar hingga ke orang-orang terdekat.

Makanya, 27 Steps of May berjalan dengan deliberately slow. Film ini ingin kita menyelami apa yang dirasakan, terutama, oleh May. Cerita akan memposisikan kita ke dalam sepatu (berkaos kaki panjang) May. Bertahun-tahun setelah dia direnggut ke dalam gang, kehidupan May (jebolan Gadis Sampul Raihaanun Soeriaatmadja bakal jadi kontender kuat dalam penghargaan-penghargaan film tahun ini) tak pernah lagi semeriah pasar malam di adegan pembuka. Dia tak pernah keluar dari kamarnya. Tempat dia mengerjakan pembuatan boneka-boneka princess. Tempat dia melakukan bunyi ‘ceplok ceplok’ yang ternyata adalah berolahraga lompat tali. Dunia May sekarang adalah kamar putih yang nyaris berisi. Bahkan ayahnya sendiri hanya masuk ke sana saat mengantar meja untuk kerja May. Kamera akan membawa kita masuk ke dalam momen-momen paling rahasia dari wanita yang menutup dirinya ke dalam isolasi. Yang memilih ‘curhat’ dengan torehan pisau silet tatkala sekelebat trauma tertrigger lewat ke ingatannya. Film ingin membuat kita merasakan diskoneksi yang serupa dialami oleh May ketika dia duduk diam di meja makan bersama ayahnya. Itulah satu-satunya waktu ketika May mau meninggalkan kamarnya. Selebihnya dia mendekam, bahkan harus ditarik paksa keluar saat ada rumah tetangga yang kebakaran. Kemudian hal yang seperti datang dari dunia David Lynch terjadi kepada May. Dinding kamarnya berlubang dan wanita ini menemukan ada yang tinggal di balik dinding tersebut. Seorang pesulap. Laki-laki.

mungkin dia mau ngajarin rahasia sulap sebuah tongkat yang bisa membesar?

 

 

Honestly, begitu tokoh pria tukang sulap yang diperankan jenaka-tapi-misterius oleh Ario Bayu ini muncul, aku sempat khawatir. Aku enggak mau film malah meromantisasi posisi May sebagai korban dengan kehadiran si Pesulap, cerita akan kehilangan gagasannya jika membuat May diselamatkan oleh Pesulap. Untungnya 27 Steps of May sepertinya sudah punya langkah-langkah riset sendiri. Film ini sangat menghormati tokoh yang ia ceritakan. May sendirilah yang eventually memilih untuk memanjat masuk ke dalam lubang di dinding. Tak sekalipun dia menjadi pasif dan tampak membutuhkan pertolongan. Elemen sulap sendiri – sebagai peristiwa ajaib yang tak terduga – juga berperan dalam menambah bobot pembelajaran yang terjadi kepada May. Film ini tahu persis bahwa korban-korban kekerasan seperti May bukan saja berkembang menjadi orang yang penuh rasa takut, yang menutup diri, yang cenderung menyakiti diri sendiri, melainkan juga merasa kehilangkan kendali. Inilah akar dari proses trauma May, yang membuat dia menjadi seperti dirinya sekarang – yang menyetrika baju dengan hati-hati, yang memakan hanya makanan putih, yang disiplin terhadap waktu. Dia ingin mengembalikan kontrol, kendali atas dirinya sendiri. Itu juga makanya May tertarik mempelajari sulap; sebagai perwujudan dari ia ingin bisa mengendalikan peristiwa ajaib yang ia lihat.

Wanita, ataupun pria, yang jadi korban kekerasan seksual adalah mereka yang dipaksa untuk melakukan sesuatu di luar kemauan mereka. Mereka kehilangan kendali atas diri sendiri, dan perasaan tersebut akan terus berlanjut setelah kejadian. Jadi mereka berusaha untuk mengembalikan kendali yang hilang tersebut. Inilah yang terjadi kepada May, yang kegiatan hidupnya seketika menjadi rutin yang itu-itu melulu. Mengembalikan kontrol ini jadi salah satu tema berulang yang dapat kita lihat pada film.

 

Selain May, film ini juga tentang ayahnya. Ayah May (rasa-rasanya baru sekali ini aku melihat Lukman Sardi memainkan tokoh sedevastating ini) menafkahi mereka dengan bekerja sebagai petinju. Tapi setelah tragedi yang menimpa May, sang ayah bukan lagi bertinju secara profesional, melainkan untuk pelampiasan emosi semata. Jika May menyalurkan sakitnya dengan menyakiti diri sendiri, Ayah May resort ke menyakiti orang lain. Dia juga, pada dasarnya ingin mengembalikan kendali kepada keluarganya, karena dia tidak tahu harus apa. Kita melihat si ayah justru merasa aneh tatkala May melakukan sesuatu di luar kebiasaan pada pertengahan film. Kita merasakan kontras keheningan May dengan dentuman dan hantaman dan teriakan adegan-adegan bertinju sang ayah. Jika kalian ingin tahu apa yang terjadi kepada Iron-Man saat skip lima tahun di awal film Avengers: Endgame (2019); Ayah May ini bisa dijadikan pendekatan yang cocok. Karena si ayah memang persis seperti Tony Stark dalam kondisi kejiwaan yang terburuk. Kedua tokoh ini sama-sama bergerak dalam sistem untuk mengendalikan. Bedanya hanya ayah May tidak punya resolusi untuk balik ke masa lalu dalam upaya mengendalikan kembali ‘kekalahan’ keluarganya. Dan si ayah enggak bisa ngamuk gitu saja kepada May yang menutup diri darinya seperti Iron-Man ngamuk kepada rekan-rekan superheronya.

May dan ayahnya berusaha menyetir hidup mereka kembali seperti sedia kala. Namun tanpa ada yang berani mengungkapkan – tak ada sistem yang mensupport mereka berdua selain keheningan di antara mereka, tanpa mereka sadari mereka justru menyakiti orang lain dan diri mereka sendiri. Dan inilah yang sebenarnya berusaha dikomunikasikan oleh film. Bahwa sesungguhnya ini adalah perjuangan May untuk berkomunikasi dengan ayahnya, begitu juga sebaliknya. Mengingatkan kepada korban perlunya untuk membuka komunikasi, dan kepada keluarga korban untuk menjadi pendukung. Dua tokoh ini terisolasi oleh trauma. Ada adegan ketika May terbata hendak berteriak mengatakan sesuatu kepada ayahnya, tetapi dia belum sanggup. Hal ini membuat ayahnya semakin merasa bersalah dan merasa tak mampu melindungi anaknya. Sebaliknya, kesalahan sang ayah adalah belum menyadari bahwa anaknya butuh lebih dari sekedar presence. Tidak cukup hanya duduk diam di sana. Ayah May malah semakin salah ketika dia malah menyalurkan emosinya sendiri ke dalam ring, jauh dari May. Yang malah membuat May makin merasa sendirian, terbukti dengan seringnya kita diperlihatkan adegan May duduk menunggu kepulangan ayahnya di meja makan.

Kita tidak bisa mengendalikan semua baik-baik saja. Bukan salah kita jika semuanya berubah menjadi tidak baik-baik saja. Kita butuh saling support. Karena kita bertanggung jawab untuk hidup terus sambil menyembuhkan diri. Jangan lagi tambahkan luka yang tak-perlu.

 

“sakit berarti ada yang gak ngalir”, makanya biarkanlah semua mengalir kecuali diare

 

 

Melihat apa yang terjadi kepada May dan ayahnya akan membuat kita mengerti apa yang dirasakan oleh korban-korban kekerasan yang bikin trauma. Film benar-benar meluangkan waktu untuk menekankan perasaan tersebut. Beberapa adegan cukup disturbing, secara terang-terangan memperlihatkan May melukai dirinya sendiri. Sekelebat adegan perkosaan juga tampil intens. Ayah May juga sama menyayat hatinya ketika pria ini menerima begitu saja pukulan dari lawannya di dalam arena. Semua orang dalam film ini memberikan penampilan yang sungguh menyentuh. Film ini mampu berkata banyak tanpa perlu sering-sering membuka suara. Bahkan editingnya saja bisa memberikan jawaban sehingga seolah kita sedang berdialog langsung dengan film ini. Seperti saat kamera memperlihatkan luka di wajah ayah May, dan detik berikutnya kita diperlihatkan dia beraksi dalam ring tinju.

Tapi tentu saja tidak ada film yang sempurna. Walaupun sengaja tampil slow-burn dan banyak adegan yang seperti putus-putus antara May dengan ayahnya. Paruh pertama film ini  terasa lebih panjang daripada paruh keduanya. Aku pikir bisa saja ada beberapa adegan yang dihapus supaya menjadikan pace lebih terjaga. Tapi on second thought, tiap-tiap adegan film ini terasa seperti napas, sehingga jika dihilangkan satu denyut film ini bakal keskip satu beat, dan malah bisa saja semakin merusak temponya. Jadi, kupikir pace atau tempo di awal ini adalah resiko penceritaan. Dan satu lagi, aku juga akan lebih suka kalo si Pesulap itu dibuat lebih ambigu; mungkin angkat diskusi apakah dia ada di dalam kepala May saja atau tidak. Toh film sudah membuktikan lebih baik bagi para tokoh jika pria tersebut tidak ada di momen resolusi akhir May. Menjadikan dia beneran ada justru membuat tokoh ini terjebak dalam semacam trope ‘manic pixie dream boy’.

 

 

 

Aku setuju kalo ada yang bilang film ini adalah film Indonesia terpenting, terbaik, sejauh tahun 2019. Semua yang terpampang di layar itu tampak begitu sarat makna dan gagasan. Cerita dengan percaya diri menghembuskan setiap detik napas dan denyut nadinya dalam setiap langkahnya. Yang membuat kita turut merasakan diskoneksi, membuat kita membayangkan seperti apa trauma di dalam sana. Perasaan terkurung itu begitu kuat, entah itu dalam kamar putih bersih ataupun di dalam ring yang riuh dan kumuh. Dan memang itulah yang dilakukan oleh film-film terbaik; membuat kita merasakan suasana, atmosfer, perasaan, tanpa perlu berlebihan mengorkestrasinya. Film ini bakal jadi kekuatan, support-sistem tersendiri, bagi penonton yang mungkin pernah mengalami kekerasan seksual ataupun trauma personal lainnya.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for 27 STEPS OF MAY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya langkah-langkah sendiri dalam menghadapi trauma atau grief atau kesedihan yang mendalam? Menurut kalian kenapa dalam film ini pelaku kekerasan kepada May tidak pernah menjadi penting lagi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.