Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“It’s the broken toys that need the most love and attention”

 

 

Dalam semesta Toy Story, semua mainan bisa berbicara. Dapat bergerak sendiri, dan merasa sedih kalo tidak lagi diajak bermain oleh anak yang memiliki mereka. Karena itulah tujuan para mainan tersebut diciptakan. Dan mainan di sini ini bukan terbatas yang seperti Woody, Buzz Lightyear, Jesse, atau Rex, yang memang sebuah figur aksi, yang punya baterai, dan diprogram untuk dimainkan aja. Melainkan juga boneka porselen seperti Bo Peep yang sebenarnya hanya hiasan ruangan. Atau bahkan potongan-potongan bagian dari mainan pun bisa bergerak dan diam-diam pengen dimainkan oleh manusia.

Toy Story 4 memperkenalkan kita kepada ‘mainan’ baru. Bernama Forky, yang dibuat dari senpu (sendok-garpu) ditambah mata-mataan dan potongan ‘sampah’ lainnya. Woody menyaksikan sendiri gimana Bonnie, anak perempuan yang jadi ‘majikan’nya menciptakan Forky out of her insecurities di hari orientasi TK. Forky memang tercipta sebagai mainan hasil imajinasi anak-anak, tapi dia sendiri tidak tahu dirinya adalah mainan. Tapi bukan seperti Buzz pada film pertama yang gak sadar dirinya cuma mainan. Inilah yang membuat tokoh baru yang sebenarnya cukup annoying tersebut menarik. Karena Forky berbeda dari mainan-mainan yang sudah kita kenal. Untuk pertama kali, kita bertemu mainan yang tidak mengenali dirinya sebagai mainan. Alih-alih bermain bersama anak, insting natural Forky adalah kembali ke tempat sampah. Sikap Forky ini ‘mengganggu’ Woody. Penting bagi Woody – yang tadinya selalu berada dalam lemari karena tak-terpilih jadi teman bermain Bonnie yang lebih suka sheriff koboi cewek – untuk menjaga supaya Forky tetap berada di pelukan Bonnie. Karena ia tahu pentingnya mainan tersebut bagi Bonnie, dan juga inilah satu-satunya cara Woody bisa berguna bagi Bonnie. Jika Forky hilang kembali ke tempat sampah, itu berarti peran Woody selesai; yang berarti dia juga cepat atau lambat akan dibuang. Usaha Woody dalam mencegah semua itu terjadi membawa mereka ke sebuah petualangan yang tak-terduga. Pandangan Woody terbuka sebagaimana dia bertemu dengan berbagai mainan baru. Salah satunya adalah cengceman lamanya, si Bo Peep, yang justru tampak senang dan lebih oke sebagai mainan tanpa-pemilik.

sebelum jadi mainan aja eksistensinya udah membingungkan, sendok atau garpu

 

‘Mainan’ dalam Toy Story 4 mengandung makna yang luas. Mereka melambangkan semua hal yang dibutuhkan oleh anak-anak untuk mendapat ketentraman emosional, apapun bentuknya. Hubungan saling ketergantungan yang dapat terjadi antara mainan dan manusia digambarkan film ini seperti hubungan orangtua dan anak. Ada banyak adegan yang menekankan pada persamaan ini, seperti ketika Woody bertemu Bo Peep di taman dan secara serempak mereka melihat ke balik-balik semak-semak, saling bertanya “yang mana anakmu?”. Setiap orangtua menjadi teman bagi anak-anak mereka, hingga nanti si anak dewasa dan meninggalkan rumah. However, bagi Woody, sebenarnya perasaan tersebut berkembang menjadi lebih jauh. Woody si boneka mainan jadul dalam film ini beneran terlihat seperti kakek-kakek. Setelah pisah dengan anak-originalnya, Woody begitu ingin mengusahakan yang terbaik untuk Bonnie – yang bisa dibilang sebagai cucunya. Woody tampak seperti kakek yang begitu ikut campur, bukan hanya kepada Bonnie secara langsung, melainkan juga kepada hubungan Bonnie dengan Forky.

Bobot emosional datang terus menerus dari perjalanan Woody, bermula dari dirinya yang tak bisa ‘bersaing’ dengan mainan yang lebih baru. Status Woody sebagai mainan yang sudah tua ini paralel dengan tokoh penjahat yang dihadirkan oleh naskah. Sebuah boneka ‘susan’ di toko antik yang pengen banget punya teman anak cewek. Si boneka, Gabby Gabby, mencoba terlihat menarik bagi anak kecil. Jadi dia mengecat kembali freckles di wajahnya. Kotak suaranya yang rusak, berusaha ia ganti dengan kepunyaan Woody; usaha yang menjadi sumber ‘horor’ utama di dalam cerita. Jika dalam Toy Story 3 (2010) yang lalu kita mendapat tokoh yang sekilas baik namun ternyata jadi antagonis utama, maka film debut Josh Cooley sebagai sutradara film panjang ini kita mendapati Gabby Gabby yang tampak mengancam dengan pasukan boneka ventriloquistnya yang menyeramkan ternyata tidak seperti yang kita kira.

Seberapa jauh kita mencintai seseorang. Seberapa jauh kita melangkah untuk melindungi seseorang. Orang seperti Woody – kakek atau nenek – punya begitu banyak cinta dan kepedulian untuk dibagikan. Film meminta kepada mereka untuk melihat ke dalam hati nurani, untuk mengenali ‘mainan rusak’ sebenarnya yang harus diperbaiki. Dengan kata lain, film ingin meng-encourage kita untuk tahu kapan harus berhenti dan memusatkan perhatian kepada yang lebih membutuhkan.

 

Selain menilik lebih dalam hubungan antara Woody dengan pemiliknya – pengembangan karakter Bonnie hampir-hampir diperlakukan serupa dengan karakter Riley di Inside Out (2015) – , memparalelkan hubungan Woody dengan mainan tua lain yang sama-sama punya keinginan untuk ‘mengabdi’ kepada satu anak, film juga memberikan satu hubungan emosional lain yang menjadi roda gigi penggerak narasi. Yakni hubungan Woody dengan Bo Peep. Antara Woody dengan seseorang yang punya pandangan berbeda dengannya, yang actually menantang Woody dengan satu kemungkinan lain yang tak berani ia pikirkan selama ini. Bo Peep adalah karakter yang mendapat upgrade paling besar, dia lebih dari sekadar menjadi cewek jagoan yang mandiri – perfect heroine dalam standar Disney. Salah satu kalimat berdampak gede yang ia ucapkan kepada Woody adalah “siapa yang butuh kamar anak-anak ketika kita punya semua ini?” dengan merujuk kepada dunia luar yang luas. Dunia memang merupakan elemen kunci yang ditonjolkan oleh cerita. Sebab dengan berada di sanalah, Woody actually menyadari betapa kecilnya dia yang sebenarnya. Like, dengan melihat keluar barulah kita bisa memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan demi diri kita sendiri dan orang-orang di sekitar. Karena cerita dan para tokoh itu menantang kita untuk melihat dan mendengarkan hati nurani. Woody yang kadang menggunakan suara mainannya untuk mewakili kalimat yang ingin ia sebutkan, Buzz yang menekan tombol di dadanya untuk mendengarkan ‘nasehat’ apa yang harus ia lakukan, Gabby Gabby yang secara gamblang butuh ‘inner voice’ yang baru, semua elemen itu menggarisbawahi kepentingan elemen hati yang dibicarakan oleh film ini.

Dilihat dari tingkat keseramannya, Gabby Gabby lebih cocok bernama Annabelle

 

Begitu menakjubkan gimana dunia yang luas tersebut merangkul kita dengan begitu banyak emosi personal dari para tokohnya yang ditulis berlapis. Tentu saja semua itu tidak akan bekerja maksimal jika tidak ditunjang dengan pembangunan visual yang luar bisa menawan. Pixar sudah gak ada lawan dalam menyuguhkan gambar-gambar komputer yang tampak asli. Film ini tampak seperti foto asli, dengan gerakan-gerakan karakter yang mulus. Detil yang film ini tampilkan sangat mencengangkan. Lihat saja kilauan di kulit porselen Bo Peep, jahitan di kemeja Woody, bulu-bulu boneka dan kucing. Adegan pembuka menampilkan suasana hujan dengan air yang benar-benar tampak nyata.

Warna-warna segar juga turut datang dalam wujud tokoh-tokoh, baik itu yang baru maupun yang lama. Semua tokoh-tokoh itu punya peran yang dapat konek dengan berbagai tingkatan penonton. I mean, penonton cilik akan terhibur oleh keunikan desainnya. Humor film ini juga punya rentang yang cukup luas. Mungkin aku harus memberi peringatan bahwa humor film ini kadang cukup gelap. We do get some suicide attempts dari tokoh Forky yang pengen banget menetap di tempat sampah. Tapi digarap dengan halus dan innocent enough. Ini membuat Toy Story 4 jadi tontonan yang pas untuk semua anggota keluarga. Sementara memang lapisan emosionalnya mungkin bakal lebih terasa buat penonton dewasa yang sudah ngalamin pahitnya perpisahan. But that’s how good Pixar movies are. Mereka berani menjadi diri sendiri tanpa harus mematuhi kode-kode pasar dengan merecehkan atau terlalu mendramatisir cerita.

Banyaknya tokoh pada paruh awal cerita membuat kita merasa kurang pada beberapa penggalian seperti Woody dengan Buzz, ataupun dengan Jesse. Terkadang juga membuat cerita terasa seperti episode-episode yang sekedar bertualang bertemu orang-orang. Poin-poin adegan terasa agak ngawur, misalnya ketika Woody dan Forky sudah tinggal menyeberang jalan untuk ke trailer park tempat kendaraan keluarga Bonnie terparkir, tetapi Woody malah memilih masuk ke toko barang antik karena melihat lampu hias milik Bo Peep. Pada titik itu kita akan merasa bingung, apa pentingnya pilihan tersebut terhadap plot Woody secara keseluruhan. Bahkan hingga midpoint pun kita disuguhi backstory seorang tokoh baru yang baru kita lihat sehingga kita tidak yakin apa pengaruhnya. Tetapi semua itu, semua elemen cerita yang diperlihatkan oleh film ini, toh pada akhirnya terikat menjadi sesuatu yang memuaskan kita secara emosional. Episode-episode itu ternyata memang penting ketika kita sudah mengerti di paruh akhir ke mana arah cerita, walaupun tampak muncul random. Kalo mau bicara kekurangan, kupikir hanya soal tersebut yang bisa kupikirkan; Butuh waktu sedikit untuk mengikat semua elemennya. Selebihnya film ini seru dari awal hingga akhir.

 

 

 

Bagi yang sempat khawatir, entry keempat dari salah satu trilogi legendaris ini bisa kupastikan tidak mengecewakan. Film ini benar-benar masih punya sesuatu untuk diceritakan sebagai, katakanlah, ekstra dari film ketiga yang sungguh emosional. Ini bukan sekadar exist karena duit, ataupun karena filmnya sendiri tidak tahu kapan harus berhenti. Masih ada beberapa benang yang ingin diangkat, masih ada sudut pandang yang bisa dieksplorasi, dan film ini melakukannya dengan penuh penghormatan baik terhadap karakter-karakternya, maupun terhadap penonton yang sudah ikut tumbuh dan ‘bermain’ bersama ceritanya. Film ini sesungguhnya dapat saja berdiri sendiri, karena mereka melakukan kerja yang sangat efektif dalam melandaskan backstory terutama hubungan Woody dengan Bo Peep dan antara mainan dengan anak manusia di awal-awal cerita. Sehingga gak nonton triloginya pun bakal masih bisa menikmati dan terhanyut oleh cerita. Yang dapat menjadi dark dan lumayan emosional, tapi mungkin anak kecil tidak bakal terlalu memperhatikan ini karena visual yang menawan dan realistis (untuk standar dunia mainan).
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for TOY STORY 4

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa sebagian anak-anak susah move-on dari mainan masa kecil? Apakah itu akan mempengaruhi mereka saat sudah dewasa? Dan kenapa kakek-nenek kita begitu peduli, sehingga ada ungkapan yang bilang grandparent lebih sayang cucu ketimbang anak mereka sendiri?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.