Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Ugliness is just a failure of seeing”

 

 

Kita tahu sedang jatuh cinta pada seseorang jika pembawaan kita lebih ceria, wajah kita berseri-seri, ketika bertemu dengan orang tersebut. Namun bagaimana jika kita tidak bisa melihat? Dari mana kita tahu cinta itu hadir? Gampang, rasakan dengan hati. Yang susah adalah, cara merasakannya. Kayak Diah di Cinta itu Buta. Cewek pemandu wisata ini harus kehilangan penglihatannya dulu sebelum dapat merasakan tulusnya cinta dari orang yang tak pernah dia ‘ngeh’ sebelumnya.

Oleh sutradara Rachmania Arunita, cerita Cinta itu Buta dibuat tidak banyak berbeda dengan film berjudul Kita Kita (2017). Menurut IMDB memang Cinta itu Buta dibuat berdasarkan rom-com asal Filipina yang digarap oleh Sigrid Andrea Bernardo, in fact Bernardo mendapat kredit penulis di sini sebagai original story. Film Cinta itu Buta tidak mengubah banyak pada naskah, selain latar yang disesuaikan.

Korea diambil sebagai panggung cerita. Alur ceritanya cukup sederhana. Strukturnya terbagi jelas. Pada babak set up kita akan melihat Diah hidup berbahagia di Korea, sampai dia dikhianati oleh tunangannya. Dia actually melihat dengan mata kepalanya sendiri sang tunangan ngedate manja ama wanita lain. Diah terpukul. Dan entah karena kebanyakan minum, atau karena shock dan stress berlebih, pandangannya mengabur dan ia pun buta untuk sementara (alias untuk waktu yang ditentukan oleh naskah). Saat tergelap dan terhopeless dalam hidupnya itulah, seorang pria tak dikenal muncul dalam hidupnya. Membawakannya makanan setiap pagi. Membangunkannya bagai alarm paling cempreng. Babak kedua kita melihat bibit cinta Diah mulai muncul kepada Nik yang tak kenal lelah hadir menghiburnya. Dan sesuai dengan gagasan yang diusung, film mengakhiri babak ini dengan pertanyaan apakah Diah masih tetap akan cinta setelah melihat seperti apa rupa – siapa – Nik sesungguhnya. Apakah hanya kecantikan Diah semata yang membuat Nik mendekatinya?

cinta itu batu

 

Daya tarik film ini terletak pada pasangan yang menjadi sentral cerita. Diah dan Nik. Cewek cantik dan cowok bertampang pas-pasan; kalau jelek dianggap terlalu merendahkan. Unlikely couple yang membuat kita hampir langsung menginginkan mereka bersatu. Film lalu membuat sang cewek tak bisa melihat sehingga cerita terasa semakin grounded. Karena mungkin memang hanya itulah satu-satunya keadaan yang memungkinkan cowok jelek bisa jalan bareng cewek cantik. Yang memungkinkan cowok bisa mendekat tanpa dicurigai tukang kuntit atau langsung diteriakin Pervert!” Elemen cerita ini sebenarnya unik bukan karena fresh ataupun berani. Charlie Chaplin sudah melakukannya di City Lights (1931) – di film tersebut Chaplin memainkan tokoh pria konyol pas-pasan yang jatuh cinta sama cewek yang buta; dia hanya berani mendekati sang cewek karena tau cewek itu tak bisa melihat siapa dirinya sebenarnya. Nik dalam Cinta itu Buta juga digambarkan insecure dengan rupa dirinya sehingga dia ‘takut’ mata Diah normal kembali. Cerita semacam ini unik, berbeda dari komedi romantis-perfect kebanyakan, karena terasa kuat menggambarkan kita semua. Baik Chaplin maupun Nik, mereka enggak ganteng. Tampang mereka lebih cocok sebagai wajah komedi dibandingkan wajah romansa. Tapi mereka itu mewakili kita manusia biasa. Kita yang selalu menganggap diri kita tak-sempurna. Mereka merepresentasikan perjuangan meraih impian, mendapatkan pasangan yang menghargai mereka bukan dari tampang atau kekayaan melainkan their true self.

Jika kita melihat sesuatu yang jelek, tutup mata, dan lihatlah lebih dalam. Film ini menunjukkan kepada kita terkadang kita perlu kehilangan sesuatu untuk dapat merasakan lebih baik. Dan juga sama pentingnya bagi kita untuk terus menebar kebaikan. Karena jeleknya paras hanya sebatas pandang. Paras dan pandang itulah limitasi yang harus kita perluas dengan hati.

 

Interaksi antara Diah dan Nik menjadi penopang utama keberhasilan cerita. Karena narasi akan dengan cepat menjadi membosankan, terutama di babak kedua. Kita tidak melihat banyak hal selain Nika yang datang, melucu, dan kemudian mereka berdua jalan-jalan. Cinta itu Buta memasangkan Shandy Aulia dan Dodit Mulyanto. Aku tidak bisa memastikan dialog di antara kedua tokoh adalah  dialog khusus yang ditulis film ini atau improvisasi dari kedua pemain. Namun yang jelas, Shandy dan Dodit tampak cukup bersenang-senang dengan peran mereka. Diah dan Nik tampak cukup menikmati keberadaan masing-masing. Gaya melucu Dodit pas dengan tuntutan karakter Nik, dia akan menggoda dan merayu Diah – seringkali membuat penonton tergelak geli melihat tingkahnya. Disambut oleh Shandy Aulia yang sudah terbiasa memainkan gestur cewek manja. Menghasilkan pasangan yang cute dan mengundang tawa.

Tentu saja tak berarti kerjaan sutradara lantas menjadi gampang; tinggal tarok kamera dan meniru film aslinya. Latar tempat harus dimanfaatkan dengan benar sehingga kita tidak lagi bertanya kenapa mesti Korea; digunakan untuk mengontraskan persepsi kekinian kiblat kinclongan universal dengan sesuatu yang lebih merakyat. Pengadeganan juga harus dipikirkan maksimal supaya film tidak terkesan malas dan sekadar meniru tanpa melakukan banyak kreasi. Tapi jikapun memang thok meniru, Cinta itu Buta setidaknya berhasil menyadur tanpa meninggalkan rasa. Pengungkapan di bagian akhir tidak jatuh sebagai kejutan yang ujug-ujug ataupun mengecoh. Melainkan tetap berjalan dalam konteks Diah tidak melihat Nik karena dia belum punya rasa. Seluruh film dilihat dari sudut pandang Diah, dan di sepanjang adegan sebelum pengungkapan kita benar-benar melihat ada Nik di sana tapi tidak tampak penting dan di-overlook. Film mengaburkan dimensi waktu untuk memuluskan penceritaan – menampilkan tanpa membuat kita menyadari apa yang ditampilkan – sehingga semuanya tampak make sense dan enggak maksa di akhir pengungkapan. Akan tetapi, pengaburan waktu tersebut seharusnya bisa dibuat dengan lebih baik lagi, dengan memasukkan lebih banyak penanda waktu  – bukan sekedar kemunculan figur penting – sehingga tidak menyisakan banyak ruang bagi penonton untuk kebingungan.

Keberhasilan cerita semacam itu bergantung kepada pemikiran penonton tentang jeleknya rupa seseorang. I mean, kita harus benar-benar melihat Nik sebagai orang jelek supaya pesannya dapet. Di sinilah salah satu letak trickynya; karena film tidak boleh sedangkal mengasumsikan semua penonton bakal menganggap Nik jelek. Karena ukuran ganteng itu juga bisa diperdebatkan. Bisa saja memang ada penonton cewek yang nonton film ini karena suka sama Dodit. Makanya film ini lantas mengambil langkah komedi yang sebagian besar disandarkan kepada ‘jijik’nya tingkah laku Nik, alih-alih menyoroti fisiknya. Nik juga dibuat mabuk di awal. Jadi tantangannya adalah membuat karakter yang lumayan repulsif untuk ditonton tanpa merendahkan si karakter tadi. Dia juga diberikan backstory yang humanis. Cinta itu Buta berhasil menyadur elemen yang membuat Kita Kita menjadi film terhits Filipina tahun 2017 yang lalu; keseimbangan antara humor, romansa, yang tidak terjebak sepenuhnya pada gambaran fisik.

cantik itu relatif, jelek itu universal.

 

Elemen buta digunakan bukan untuk semata ‘menghukum’ wanita sebagai pihak yang paling judgmental, melainkan justru untuk membuat set up cerita menjadi lebih mungkin-untuk-terjadi. Buta di sini dijadikan karakter, penilaian tokoh Diah ditanamkan di awal bergantung pada matanya. Konflik yang diusung adalah ‘jika dia bisa mencintai apa yang ia lihat, apakah itu berarti dia tidak bisa mencintai yang tidak ia lihat’. Jadi cerita ini bukan soal judgmental, melainkan lebih ke pemahaman untuk benar-benar mengenali perasaan.

Meski begitu, Kita Kita memang justru mendapat kritikan dari cara film itu memasukkan elemen kebutaan. Inilah yang seharusnya diperbaiki oleh Cinta itu Buta, karena film ini punya kesempatan untuk membuat cerita ini menjadi lebih baik. Tapi film ini tidak melakukan hal tersebut, dia cukup puas hanya sebatas meniru saja. Elemen buta sementara yang terjadi dan sembuh kapan saja sesuai kebutuhan naskah terasa sangat sinetron dan tidak benar-benar ada penjelasan alias sekenanya. Kita diharapkan untuk memaklumkan. Ini tak ubahnya trope usang amnesia di film-film; tokoh kepentok kepalanya dan mendadak hilang ingatan lalu butuh diketok lagi kepalanya supaya ingatannya kembali. Sekonyol itu. Cinta itu Buta seharusnya merancang kebutaan itu dengan lebih berbobot lagi. Menghasilkan cerita yang enggak beat-to-beat sama secara keseluruhan.  Penonton yang sudah nonton Kita Kita, akan merasa dua kali lebih bosan, terlebih jika mereka juga tidak begitu tertarik sama latar Korea. Film harusnya melakukan inovasi lebih banyak pada departemen cerita dan penceritaan.

 

 

 

Hangat, lucu, dan terasa segar meskipun sebenarnya bukan cerita yang benar-benar unik. Elemen spesial film ini sudah pernah dilakukan oleh banyak film sebelumnya. Maka film ini mengandalkan kepada interaksi pemain; yang dipasangkan dengan cukup nekat. Mereka berhasil tampak cute bersama, tapi ketika sendiri-sendiri terasa sedikit ketimpangan. Karena Dodit belum lagi bermain sebagai benar-benar aktor. Film ini nampak stay true dengan film originalnya. Akan mengajarkan kita cara untuk merasakan cinta lebih banyak di dunia. Sutradara seharusnya punya kata atau visi versi dirinya terhadap ini, memasukkannya ke dalam cerita, melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang ada pada sumber. Tapi sepertinya film ini turn a blind eye dan dibuat untuk meniru saja yang sudah ada.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for CINTA ITU BUTA.