Tags

, , , , , , , , , , ,

“Sometimes you have to find the good in goodbye”

 

 

Bagaimana menyampaikan kepada orang yang kita sayangi bahwa kata dokter umur mereka hanya tinggal beberapa minggu lagi? Mengajak mereka bicara serius; terlalu menyedihkan. Membawa mereka liburan, bersenang-senang dahulu baru kemudian dikasih tahu; tetap saja menyedihkan. Cara terbaik memberitahunya – menurut film The Farewell yang ceritanya berdasarkan kisah nyata keluarga sang sutradara, Lulu Wang – adalah dengan… eng ing eng… tidak memberitahu sama sekali!

Billi (penampilan dalem Awkwafina jadi salah satu alasan kenapa film ini begitu indah dan menyentuh) juga protes begitu keluarga besarnya menyiapkan rencana yang menurutnya sangat ‘jahat’ buat Nai Nai alias neneknya. Billi memang seperti mendengar dua kabar buruk secara berturut. Pertama dia terhenyak mengetahui neneknya mengidap kanker paru-paru yang cukup parah sehingga divonis tutup usia dalam tiga bulan. Dan kedua, bahwa keluarga besar sepakat untuk bukannya memberitahu, tapi malah sekongkol berpura-pura ada pesta nikahan sebagai alasan pulang untuk bertemu dengan Nai Nai terakhir kalinya. Billi gak diajak, karena dia terlalu emosional dan dianggap tak mengerti cara-pikir orang Asia. Tapi Billi nekat pulang juga. Dia sayang neneknya. Dia sayang keluarga. Dia sayang negera asalnya. Dia ingin mengucapkan selamat tinggal yang benar.

“Nek, mau aku spoiler-in sesuatu gak?”

 

Jika ini kuliah, maka sepertinya kita melanjutkan kembali kelas mengenai ‘perlunya kebohongan’ yang dibahas pada ulasan Lampor: Keranda Terbang (2019). Billi yang jadi tokoh utama The Farewell sedikit lebih kompleks daripada Netta di Lampor. Tidak ada hantu dalam The Farewell yang menjadi jarak antara kebohongan dan manusianya, jadi jika dilihat dalam nada yang serius film ini jauh lebih ‘nyeremin’ karena para tokoh dalam film ini harus berhadapan langsung dengan dilema moral kebohongan yang ia lihat dan ikuti. Bohong untuk melindungi orang yang disayang – bohong yang diyakini membuat hal menjadi tidak ribet dan less-painful – dalam The Farewell juga dikaitkan dengan budaya dan cara-berpikir bangsa Asia, khususnya Cina. Gagasan ini membuat film tampil sarat nilai budaya dan terasa sangat personal bagi pembuat dan para pemainnya. Namun tidak sekalipun cerita terasa tertutup. Malahan konflik emosional – tensi drama- yang hadir terasa begitu dekat dan akrab. Kejadian di film ini tidak lain hanya membuka mata terhadap perspektif kemanusiaan.

Perbedaan pandang antara budaya barat yang lebih individualis dengan budaya timur yang family-oriented dieksplorasi dengan seadil-adilnya. Membuat masing-masing dalam film ini tampak luar biasa kompleks. Billi yang tak-percaya bagaimana mungkin membohongi Nai Nai dibilang lebih baik, ternyata sendirinya menyimpan kebohongan perihal status studi kepada keluarga lantaran ia merasa tak ingin merepotkan. Ibu dan ayah dan keluarga lain yang berjuang keras mengadakan pesta pernikahan palsu pun tak seketika tampil ‘kejam’. Kita diberikan kesempatan untuk melihat hati mereka enggak dingin-dingin amat, dan diberi waktu untuk memahami alasan kenapa mereka pikir berbohong seperti demikian berdampak lebih baik untuk keluarga. Apalagi buat kita penonton Indonesia, persoalan keluarga Billi mungkin tidak asing karena di sini kita juga diajarkan untuk memilih yang baik-untuk-semua dibanding memilih yang benar. Bahkan Nai Nai sendiri tak tampil sebagai sosok yang harus dikasihani. Pada satu titik disebutkan, dulu Nai Nai melakukan hal yang sama kakek saat kakek divonis berpenyakit yang membuat umurnya tak lama lagi. Tapi tak semua emosi dalam film ini hadir lewat pengungkapan. The Farewell yang tokohnya memendam dan merefleksikan perasaan terdalam mereka dalam cara yang berbeda-beda ini lebih banyak bermain lewat pandangan mata dan gestur-gestur kecil. Inilah bahasa universal yang dipakai oleh film yang berbicara kepada kita semua.

Selagi Billi mempertimbangkan yang sebaiknya ia lakukan, kita yang nonton juga jadi terombang-ambing. Awalnya kita pikir setuju dengan protesnya Billi. Kemudian film membuka sudut pandang salah seorang keluarganya, dan kita perlahan menganggukkan kepala. Seiring berjalannya cerita, kita melihat beragam sudut, mengerti alasan masing-masing tokoh, kita juga tertarik masuk ke dalam dilema Billi. Mana hal benar yang harus dilakukan ketika semua aspek tampak sama-sama beralasan. Keterbukaan-pikiran adalah hal yang menjadi tujuan dari cerita ini, dan film benar-benar berhasil mencapai hal tersebut.

Film berjalan dengan elegan. Dia tidak jatuh ke dalam ranah cerita dramatis yang menye-menye. Juga tidak terpuruk menjadi komedi receh. Wang merajut elemen drama dan elemen komedi dengan tidak berlebihan. Melalui hubungan antara Billi dengan Nai Nai yang menjadi jantung cerita, film membuat kita merasa bersedih dengan situasi yang dihadapi, dan di saat bersamaan membuatnya tampak ringan dengan candaan dari pengamatan terhadap keadaan tersebut. Film menghamparkan sekuen panjang tokoh-tokoh yang duduk ngobrol di meja makan. Dari percakapan kangen-kangenan keluarga besar hingga perdebatan mengenai ‘maju’nya hidup di Amerika. Dan itu semua tidak pernah terasa membosankan. Percakapannya membuat kita merasa menjadi begitu kaya. Naskah selalu menemukan cara untuk menjadikan setiap momen sebagai sesuatu yang berharga dan menghibur. Beberapa hal yang terlihat lucu di awal, dapat menjadi mengharukan begitu muncul lagi di belakang, dan sebaliknya.

 enggak setiap hari kita bisa melihat kejujuran juga dianggap sebagai hal egois

 

Dalam tingkatan personal, jelas, film ini mampu membuat setiap penontonnya teringat nenek di kampung. Dan kemudian rentetan pertanyaan yang mengisi struktur naskah pun mengisi benak kita. Akankah kita melakukan hal yang sama ketika kejadian Nai Nai dan Billi terjadi kepada kita. Apakah hubungan kita cukup dekat dengan nenek sehingga kita merasa sedih ketika mungkin kita diharuskan untuk berbohong juga. Apakah kita sanggup mengucapkan selamat tinggal.

That’s the ultimate question! Yang jadi akar Billi enggak mau ikutan berbohong sebenarnya adalah dia ingin mengucapkan selamat tinggal, kali ini. Karena dulu dia tidak sempat mengucapkan, dia pindah dari sisi neneknya, dari Cina, saat masih balita. Dia belum mengerti. Dan sekarang, saat dia sudah dewasa, kesempatan mengucapkan selamat tinggal dengan benar itu dia dapatkan. Namun dia dilarang oleh ‘tradisi’ keluarga, sehingga ini menjadi konflik baginya. The Farewell merupakan perjalanan Billi berjuang bukan saja menguatkan diri untuk berpisah, melainkan juga berjuang menemukan cara terbaik untuk mengucapkan selamat tinggal, karena setiap orang ternyata mempunyai cara masing-masing. Dan seperti yang diperlihatkan pada akhir cerita, bagi Billi kata selamat tinggal itu bukan saja untuk neneknya, melainkan juga kepada negara asal – masa lalu kehidupannya.

Semua hal pantas untuk mendapatkan selamat tinggal yang layak. Karena setiap hal punya memori. Setiap hal punya salah. Dua kata ‘selamat tinggal’ punya kekuatan yang luar biasa. Bisa menguguhkan kenangan tadi. Bisa menyembuhkan kesalahan tadi. Makanya mengucapkan dua kata tersebut luar biasa susahnya.

 

 

Setiap menit film ini terasa begitu pesonal dan penting buat pembuatnya. Gagasan yang diangkat betul-betul membuat kita berpikir dan merasa. Pendekatan komedi dan drama yang seimbang menjadikan film tampil berbobot. Dan enak untuk ditonton meskipun banyak terdapat adegan percakapan panjang yang kadang bisa muncul sekenanya, tapi tidak pernah merusak tempo dan penceritaan. Karena setiap aspek di sini punya karakter tersendiri. Semua yang dibahas menambah kepada karakter-karakter tersebut. Sehingga cerita ini menjadi natural, dan that’s the best way to approach this kind of story. Ketika kita mengucapkan selamat tinggal kepada film ini, rasanya pun menggelora. Sedih. Lega. Cinta. Haru. Rindu.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE FAREWELL