Tags

, , , , , , , , , , , , ,

 

Ini adalah malam saat satu kemenangan atau kekalahan bisa menjadi penentu kunci brand acara WWE yang paling dominan. Dan kali ini kandidat yang berebut supremasi bukan hanya tim merah dan tim biru. Setelah dibesarkan selama nyaris satu dekade, tim kuning – anak emas Triple H – NXT akhirnya dilibatkan ke dalam pertempuran acara induk. Hasilnya memang seperti yang sudah diantisipasi banyak penggemar.

Survivor Series 2019 ini, dengan perseteruan antara Raw – Smackdown – NXT, sedikit kurang masuk akal dari segi kontinuitas cerita dan karakter, tapi sungguh-sungguh seru dan menyenangkan.

 

Jadi, apa sih sebenarnya NXT? Seberapa besar pengaruhnya terhadap keseluruhan standar acara WWE? Kita intip sedikit latar belakang NXT yang kemunculan awalnya di 2010an ini. Setelah berpindah format dari kompetisi ala reality tv, NXT dua tahun setelah debutnya menjadi semakin populer. Oleh Triple H, NXT dijadikan semacam developmental untuk talent-talent yang masih hijau dan mengasah skill gulat dan skill penampil mereka. NXT, tidak terbatas seperti Raw dan Smackdown yang harus memperhatikan, keinginan produser, permintaan sponsor, dan segala macam tetek bengek yang berhubungan dengan rating acara. Tapi tetap dikemas dengan kualitas dan standar produk yang tinggi. Oleh karenanya, menonton NXT menjadi seperti eskapis yang menyegarkan. Terutama bagi penggemar yang menginginkan konten yang lebih banyak aksi ketimbang drama. Bintang-bintang di NXT lebih bebas mengekspresikan karakter mereka, mengekslporasi jurus-jurus yang dahsyat. Dibandingkan Raw dan Smackdown yang lebih berorientasi ke family-entertainment, NXT terasa seperti remaja pemberontak di dalam keluarga WWE.

Sebagian bagian dari perubahan arahan acara induk Raw dan Smackdown menjadi lebih ‘galak’ yang mulai dilakukan sejak Oktober lalu, Survivor Series 2019 fokus untuk memperkenalkan NXT. Mengintroduksikan superstar dan gaya bermain tim kuning yang lebih agresif kepada penonton Raw dan Smackdown. Stake brand supremacy yang tadinya dari tahun ke tahun terasa semakin hampa; Raw menang dalam tiga tahun terakhir dan nyatanya kemenangan tersebut seringkali tidak berbuntut apa-apa, pada tahun ini menjadi sedikit lebih bergairah. Karena banyak penonton yang menganggap NXT begitu keren sehingga Raw dan Smackdown seharusnya dibuat lebih mirip seperti NXT. Bahkan, dari dulunya superstar dari NXT dinanti-nanti untuk naik kelas ke acara induk, menjadi dikhawatirkan untuk naik kelas karena acara induk masih belum sekeren acara NXT. Lucu, betapa secara tak-sengaja NXT sudah meng-take over acara inti.

Build up Survivor Series kali ini dimulai dari invasi para superstar NXT ke Smackdown saat sebagian besar superstar Brand Biru terlambat pulang dari show di Arab awal November. Storyline yang langsung menghantam penonton dengan gelombang keseruan karena serta merta kita mendapat banyak potensi pertandingan yang menarik. Para juara dari masing-masing brand dipertandingkan. Match-match yang normalnya hanya bisa kita dapatkan dalam video game kini bisa menjadi kenyataan.

Joker adalah Rey Mysterio yang tersakiti

 

Dan memang seperti fantasy league atau video game-lah match card acara ini. Kesinambungan dengan storyline dari superstar di dalam brand terpaksa harus kita lupakan sejenak. Pertandingan antartim atau antarbrand di Survivor Series hanya seru jika kita mampu mengsuspen ketidakpercayaan kita terhadap berbagai ketidakbersambungan. Raw dan Smackdown mungkin masih bisa berjalan seiring storyline di dalam brand mereka masing-masing; Charlotte dan Asuka masih saling membenci meski mereka satu tim dalam Survivor Series. Namun NXT adalah yang paling banyak butuh kerelaan kita untuk memaklumi hal-hal seperti Rhea Ripley yang bekerja sama dengan Bianca Belair yang satu malam yang lalu berantem habis-habisan di NXT War Games (ppv tahunan NXT). Kinda hard to believe Ripley memilih Belair dan juga Io Shirai sebagai rekan timnya padahal anggota tim War Gamesnya sendiri tidak dapat pertandingan apa-apa.

Survivor Series memang tidak dirancang untuk ditonton ‘serius’ seperti demikian. Karena yang ditawarkan memang adalah pertandingan-pertandingan, pertemuan-pertemuan impian. Kapan lagi kita melihat Sasha Banks dan Belair yang punya gaya ngeboss yang mirip bisa satu ring. Kapan lagi kita melihat Shirai bertemu kembali dengan Kairi Sane – kali ini dalam kapal yang berbeda. Atau bahkan, kapan lagi kita melihat pertandingan triple threat antara tiga orang yang semuanya mengandung unsur ‘strong’ dan ‘style’ – AJ Styles melawan Shinsuke Nakamura melawan Roderick Strong; pemenang match ini harusnya benar-benar dinobatkan sebagai King of the Strong Style. Survivor Series menyuguhkan momen-momen dahsyat yang benar-benar seperti ultimate fan-service. Dan perlu diingat sebagian besar superstar Raw dan Smackdown berasal dari NXT, sehingga beberapa dari mereka punya backstory tersendiri yang membuat duel semakin berisi. Aku ngakak, misalnya, saat melihat Shirai dan Sane bertarung heboh sebagai throwback mereka yang dulunya partner, dengan Dana Brooke hanya bengong di belakang.

Para superstar NXT sepertinya menyadari bahwa ini adalah kesempatan buat mereka. Sehingga meskipun sebagian besar mereka masih luluh lantak oleh pertandingan maut di War Games dua-puluh-empat jam yang lalu, mereka masih tampil maksimal. Adam Cole kemaren jatuh dua puluh kaki meniban meja, dan malam ini di Survivor Series sakit pada punggungnya dijadikan bukan sebagai hambatan, melainkan poin untuk bercerita dalam match dahsyatnya melawan Pete Dunne yang juga sama babak belurnya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa kesempatan sangat berharga untuk dilewatkan. Bukan hanya NXT yang mengapitalisasi kesempatan seperti ini. Raw dan Smackdown juga dapat keuntungan. Tidak lagi kita melihat pertandingan kejuaraan yang membosankan. Both Universal dan WWE Championship berlangsung asik dan padet – told the story well, tanpa bullshit, dan deliver aksi yang enggak berlebihan. Daniel Bryan melawan the Fiend menegangkan – meski akan jauh lebih bagus jika warna lampunya biasa aja – dan Brock Lesnar melawan Rey Mysterio berisi momen yang keren yang sudah jarang dilakukan oleh WWE.

Satu lagi nilai positif dari penambahan NXT adalah skoring yang menjadi intense. Sebelum ini, hanya Raw lawan Smackdown, skor kedua brand yang seringkali dibuat susul menyusul udah nyaris seperti spoiler hasil pertandingannya. Maksudku, kita sudah bisa menebak siapa yang bakal memenangkan pertandingan berdasarkan skor saat pertandingan itu berlangsung. Dengan adanya NXT, skor tersebut jadi semakin susah untuk ditebak hasil akhirnya. Di tengah acara, skor 3 – 1 – 2 dengan NXT memimpin dan Raw paling bontot, membuat kita tetap excited karena apapun masih mungkin untuk terjadi. NXT bisa gagal memimpin dan seri dengan salah satu brand. Atau mungkin malah Smackdown yang mencuri kemenangan. Hal yang tak bisa diantisipasi semacam ini yang membuat acara semakin seru.

seharusnya ada peraturan tegas Walter hanya boleh keluar diiringi musik klasik

 

 

Menangani pertandingan dengan superstar berjumlah banyak sekaligus – dua traditional tag team kali ini berjenis triple threat yang berarti ada lima-belas superstar aktif sekaligus – tampak sekali ada kesulitan dalam booking atau penulisan. Pertandingan yang cewek menggunakan elemen cedera palsu yang mengirim bukan hanya satu, melainkan dua superstar dari tim NXT ke backstage, untuk kemudian kembali lagi di akhir, tanpa jejak sakit apa-apa dan membantu Ripley ngalahin Sasha Banks, untuk memenangkan pertandingan. Ripley seharusnya tidak perlu mendapat bantuan, karena dia sudah begitu over sejak di War Games, dan tentu saja tidak perlu membuat ada yang ‘cedera’ karena terlihat gak masuk akal. Pertandingan yang cowok bahkan lebih parah lagi bookingannya. Terkecuali Keith Lee yang mendapat sorotan luar biasa sehingga tampak begitu kuat, banyak dari superstar yang terlibat seadanya. Mereka hanya ada di sana untuk dikenai jurus finisher. Seperti Damien Priest yang literally gak ngapa-ngapain sebelum kena RKO. Kevin Owens seperti diberikan kedalaman; ia yang kemaren bergabung dengan tim War Games NXT, kini memilih untuk menyerang Smackdown alih-alih NXT. Tapi kemudian kedalaman tersebut jadi berhenti begitu saja karena Ciampa, NXT, sendiri yang mengeliminasi Owens.

 

Penulisan yang tidak berimbang, dan ketidaksinambungan storyline intra-brand yang membuat superstar menjadi kurang-berkarakter menjadi sandungan utama Survivor Series. Tapi selain itu, semua aksinya menghibur. Kalian yang belum pernah nonton NXT, bisa dipastikan akan tertarik untuk mulai mengikuti acara tersebut setiap minggu. Karena hal terbaik yang dilakukan Survivor Series 2019 adalah menge-push brand NXT. Bukan hanya Tim Kuning menang angka, mereka juga menang di match terbaik. The Palace of Wisdom menobatkan Adam Cole melawan Pete Dunne dalam pertandingan yang tampak menyakitkan namun begitu seru sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

Full Results:
1. WOMEN’S SURVIVOR SERIES TRADITIONAL TAG TEAM TRIPLE THREAT Tim NXT (Rhea Ripley, Bianca Belair, Candice LeRae, Io Shirai, Toni Storm) menang atas Tim Raw (Charlotte Flair, Natalya, Asuka, Kairi Sane, Sarah Logan) dan Tim Smackdown (Sasha Banks, Carmella, Nikki Cross, Lacey Evans, Dana Brooke)
2. TRIPLE THREAT NXT North American Champion Roderick Strong mengalahkan Intercontinental Champion Shinsuke Nakamura dan United States Champion AJ Styles
3. NXT CHAMPIONSHIP Adam Cole bertahan atas Pete Dunne
4. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP The Fiend Bray Wyatt jadi juara bertahan ngalahin Daniel Bryan
5. MEN’S SURVIVOR SERIES TRADITIONAL TAG TEAM TRIPLE THREAT Tim Smackdown (Roman Reigns, Shorty G, King Baron Corbin, Braun Strowman, Mustafa Ali) unggul dari Tim NXT (Tomasso Ciampa, Matt Riddle, Walter, Keith Lee, Damien Priest) dan Tim Raw (Seth Rollins, Randy Orton, Ricochet, Drew McIntyre, Kevin Owens)
6. WWE CHAMPIONSHIP NO HOLDS BARRED Brock Lesnar tetap juara mengalahkan Rey Mysterio 
7. TRIPLE THREAT NXT Women’s Champion Shayna Baszler menang dari Smackdown Women’s Champion Bayley dan Raw Women’s Champion Becky Lynch 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.