Tags

, , , , , , , , , , , , ,

“We are our own worst critic”

 

 

Adalah kecenderungan alami bagi kita untuk berusaha menjadi lebih baik, terlebih dalam urusan penampilan. Karena memang bagaimana kita terlihat oleh muka umum sangat berpengaruh pada setiap aspek dalam hidup. Orang pendek, misalnya, gak bakal langsung keterima jadi tim inti basket di kelurahan. Orang gendut, seperti Rara dalam drama komedi terbaru dari Ernest Prakasa ini, memiliki kesempatan yang lebih kecil – dan lebih susah untuk sukses – dalam dunia pekerjaan ketimbang orang yang lebih singset. Jadi bukan ‘mendadak’ setiap orang begitu insecure terhadap dirinya masing-masing. Kecemasan tubuh kurang langsing, kurang berisi, kurang putih, kurang tinggi, kurang seksi terjadi bukan sebatas pada wanita, bahkan juga pada pria. Media mengeset standar kecantikan dan kita suka pada apa yang mereka jual. Society mengamini standar tersebut. Dan kita menjadi begitu keras kepada diri sendiri supaya terhindar dari body-shaming, supaya sempurna menjadi sesuai standar penampilan yang menjadi ilusi dari ‘lebih baik’.

Secara konstan Rara (Jessica Mila actually put on a little more weight for her role here) hidup di bawah tekanan dan body-shaming dari sekitarnya. Terlahir mirip almarhum ayah (ungkapan halus untuk berkulit hitam) dan suka makan banyak – dengan batang coklat sebagai pelengkap 4 sehat 5 sempurnanya – Rara bahkan dapat tekanan di lingkungan rumah. Ibu Rara yang mantan model kerap menegur Rara untuk mengurangi porsi makan, memperhatikan berat badan, dan membanding-bandingkannya dengan sang adik yang punya potongan kayak gadis sampul majalah. Rara tadinya cuek, toh dia punya Dika, pacarnya yang menyintai Rara – yang melihat cahaya di dalam diri Rara. Tapi kemudian, tekanan pekerjaan mendera. Untuk bisa naik pangkat menjadi manager di perusahaan make-up, Rara enggak bisa hanya mengandalkan kepintaran. Sebab image dan penampilan adalah hal yang utama – you can’t be important if you’re not pretty enough. Rara bertekad mengubah penampilan, dia mendorong dirinya sampai-sampai Dika dan orang-orang terdekat tidak mengenali lagi siapa dirinya. Dan itu bukan hal yang bagus, sebab dia mungkin saja sudah kehilangan kecantikan dirinya yang sebenarnya.

brand-brand kecantikan nyuruh kita untuk menjadi diri sendiri sembari menawarkan produk untuk mengubah penampilan.

 

Aku sendiri bukan orang yang paling secure sedunia untuk urusan penampilan. Sejak kecil aku berurusan dengan ledekan fisik (diledekin karena pendek, dibecandain karena cadel) dan meski aku sudah ‘menaklukkan’ itu, kini muncul lagi hal yang bikin insecure. Rambutku yang sekarang hanyalah bayangan dari kemegahannya dahulu yang sukses bikin jealous cewek-cewek di kampus. Kupluk adalah relic ke-insecure-anku perihal rambut yang kupakai ke mana-mana. Aku juga pernah gendut dan mengurangi makan (nyaris) secara gila-gilaan, persis Rara. No shit. Makanya aku suka sama cerita kayak gini. Makanya aku kepikiran untuk bikin film pendek Gelap Jelita, yang terinspirasi dari lagu Scars to Your Beautiful dari Alessia Cara. Aku tau first hand bahwa insecure fisik adalah masalah yang serius bagi setiap individu. Aku pengen pesan menguatkan untuk melawan ke-insecure-an bisa terus berlanjut. Dan Imperfect yang diadaptasi oleh Ernest dari cerita buku karangan sang istri, Meira Anastasia, buatku menyempurnakan hidangan bergizi soal melawan ke-insecure-an.

Digarap oleh seorang komika/komedian, film ini punya dosis sehat guyonan yang bukan merecehkan malahan memberikan nada yang unik dalam menggambarkan permasalahan insecure fisik tersebut. Sepanjang durasi kita akan bertemu dengan banyak tokoh-tokoh yang merasa minder dengan ketidaksempurnaan dirinya, mereka diledek karenanya, dan mereka bukan hanya berani nge-call out yang ngata-ngatain, melainkan juga berani secara kasual membicarakan ketidaksempurnaan tersebut sebagai becandaan dengan teman. Just like ketika Ernest menertawakan kesipitannya pada film debut yang meloncatkan karirnya sebagai sutradara dan penulis – Ngenest (2015). Tokoh-tokoh Imperfect lowkey empowering. Kita melihat mereka dalam berbagai wujud ketidaksempurnaan seperti gendut, item, tonggos, tompelan. Dan kita seperti diajak untuk menertawakan para pelaku body shaming sebagai garda pertama pertahanan diri dari menghilangkan keinsecurean tersebut. In this way, film menjadi sangat relatable, karena dengan beragamnya ‘contoh kasus’ maka kita akan menemukan satu yang bisa dikaitkan dengan diri. Film menggebah kita untuk menatap kekurangan diri sendiri, dan menjadi bangga terhadapnya alih-alih memaksa diri untuk berubah. 

Dan Rara adalah sosok yang sempurna untuk dijadikan pusat dari ketidaksempurnaan itu semua. Naskah benar-benar menghormati tokoh ini. Rara bukan hanya pintar dan real good at her job di perusahaan make-up. Hal pertama yang kita pahami dari Rara adalah dia suka makan dan dia oke dengan itu. Ketika stake cerita naik, dan dia harus menurunkan berat badan, Rara tidak serta merta dibuat menyiksa dirinya dengan mengurangi makan. Rara selalu mencoba untuk menghormati dirinya sendiri terlebih dahulu dibanding apapun. Makanya, Rara kemudian menjadi ‘lawan’ dari Marsha (Clara Bernadeth memainkan Regina George versi kantoran). Lewat dinamika antara Rara dan Marsha film menjelaskan kenapa cewek cantik populer selalu memandang cewek yang tidak menonjol dan hanya punya satu sahabat yang sama dipandang ‘aneh’ sebagai ancaman. Semua kembali kepada insecure tadi. Cewek-cewek cantik ala trope ‘mean girl’ berjalan pada sistem yang dibentuk oleh media dan society. Sementara cewek seperti Rara – dan protagonis film-film yang ada trope ‘mean girl’nya, mereka ini kayak wild card, mereka punya kemampuan untuk berada di luar sistem dan conformity dalam society, mereka tidak mesti berada di dalam sana. Oleh karena itu dalam setiap cerita mean girl; Regina, Heather, dan sekarang Marsha, selalu membuat protagonis menjadi bagian dari geng mereka – memasukkan protagonis kembali ke sistem.

Imperfect, however, mengolah elemen ini dengan lebih dewasa sebab Rara bukan lagi di lingkungan sekolah seperti cerita trope mean girl pada umumnya. Masalah Rara bukan lagi sesepele pengen punya pacar atau jadi populer. Rara ingin naik jabatan, dia sendiri yang memilih untuk jadi kurus dan mendapat respek dari Marsha. Seperti Marsha. Karena hanya dengan menjadi Marsha-lah tujuannya bisa tercapai. Perubahan Rara terasa lebih powerful karena kita dapat merasakan bingung dan perjuangan Rara untuk bertahan menjadi diri sendiri sekaligus juga mengubah diri secara fisik. Akhirannya memang masih tertebak oleh kita. Aku bisa melihat film ini akan dikritik oleh banyak orang sebagai stereotip banal lebih baik gendut daripada modis. Apalagi karena pemeran Rara bukan orang gendut beneran dan tetap tergolong atraktif untuk standar masyarakat. Pada satu titik menjelang akhir, Rara dijadikan contoh untuk produk make-up terbaru di kantornya; dia yang pintar dan berusaha keras memperbaiki penampilan, ter-reduce menjadi stereotip. Cliche as it is, tapi sesungguhnya inilah cara film untuk menegaskan kepada kita bahwa hal itulah yang terjadi kepada siapapun yang lebih mementingkan penampilan luar; kita hanya akan menjadi sebuah stereotip.

Seribu pujian tetep gak akan berefek segede satu kritikan. Karena kita gak bakal tahu pasti seberapa tulus pujian tersebut dan seberapa objektifnya komentar ngritik tersebut. Sehingga kita ditinggal untuk bertanya kepada diri sendiri. Inilah mekanisme dasar mengimprove diri. Yang seringkali kita bersikap keras kepada diri sendiri sehingga kita berubah menjadi orang yang bukan siapa kita. Dan semua itu bermula dari satu komentar orang soal penampilan fisik kita.

 

Ernest Prakasa membangun satu dunia yang dengan tepat mencerminkan keseluruhan insecurity dan body-shaming bekerja di dunia nyata. Hubungan antara Rara dengan Dika, pacarnya yang fotografer berfungsi lebih dari sekadar menjalankan tugasnya sebagai bagian drama romance dari drama komedi romantis ini. Arc Dika (diperankan dengan hangat dan sangat simpatik oleh Reza Rahadian) mengajarkan kepada society, dan kita, cara memperlakukan orang dengan benar; yakni dengan tidak meletakkan pressure kepada mereka – untuk respek terhadap pilihan orang karena sebagian besar waktu mereka berusaha untuk menjadi diri sendiri, tapi dunianya punya tuntunan, dan kita sebaiknya tidak menambah mumet dan biarkan mereka membuat pilihan, dan respek kepada apapun pilihan mereka. Tidak perlu kita terlalu banyak mengatur, atau malah jadi menyalahkan dirinya – seperti mama Rara kepada Rara. Film ini juga menggambarkan soal victim-blaming yang bisa saja terjadi secara kasual, tanpa kita sadari, yang sebenarnya justru menambah pressure kepada orang.

Satu lagi tokoh yang berperan besar bagi perkembangan karakter Rara, tentu saja adalah adiknya; Lulu (dimainkan dengan manis oleh Yasmin Napper yang juga manis). Si anak ’emas’ sang mama. Rara dan Lulu akrab, tapi diam-diam ke-perfect-an Lulu juga menjadi sumber ke-insecure-an bagi Rara. Ada satu adegan emosional yang melibatkan kakak beradik ini, dan juga mama mereka, yang dihandle dengan begitu grounded dan menghangatkan oleh film. Rara begitu ‘jealous’ sama Lulu sehingga dia tidak melihat bahwa adiknya ini punya ke-insecure-an sendiri. Film menjadikan Lulu sebagai wakil untuk mengatakan orang-orang yang terlihat sempurna juga punya masalah insecure. Kita juga diperlihatkan bahwa di masa kini orang bisa jatoh bahkan lebih artifisial daripada stereotipe jika terlalu mengagungkan penampilan lewat tokoh pacarnya Lulu yang hanya peduli pada bagaimana dia terlihat oleh followernya di sosial media.

Semua tokoh dalam film ini diberikan peran dan kepentingan, bahkan tokoh-tokoh yang terlihat konyol. Ini adalah pencapaian yang paling pantas kita selebrasi pada Imperfect. Ernest berusaha menyempurnakan gaya komedinya; tokoh-tokoh minor yang biasanya cuma jadi guyonan sketsa yang ditempatkan hanya sebagai selingan atau transisi di antara adegan-adegan penting, kali ini mereka (sejawat komika Ernest dan obrol-candaan mereka) dibuat paralel dengan permasalahan tokoh utama. Tidak lagi adegan-adegan mereka bisa dibuang begitu saja, karena di film ini mereka menambah bobot bagi narasi. Konklusi film ini akan terasa sangat nendang oleh emosi, berkat cara film mengikat masalah-masalah insecure yang melanda para tokoh. It is really empowering, and beautiful. Kalo dipaksa nitpick, aku cuma mau bilang sedikit kekurangan film ini adalah masih ada beberapa tokoh yang tampak tak tersentuh oleh insecure padahal mestinya di akhir itu mereka merayakan ketidaksempurnaan bersama-sama.

mereka basically bikin video musik Scars to Your Beautiful

 

 

 

Padet, lucu, bikin jatuh cinta, tapi bukan Jessica Mila – apakah itu? Film ini jawabannya. Komedinya yang bikin terpingkal itu tidak pernah terasa sia-sia, malahan menambah banyak bobot untuk cerita. Hubungan keluarganya bikin hangat, begitu juga romansa – kita melihat dua orang yang berusaha saling menghargai no matter what, mereka berusaha melihat masing-masing di luar penampilan fisik. Dan yang paling penting film ini mengajak kita untuk lebih mencintai dan menghormati diri sendiri. Tidak serta merta menyalahkan dunia yang sudah mengeset standar kecantikan. Film ini juga berani untuk menjadi stereotipe alias klise demi menyampaikan gagasannya. Cerita ini penting untuk disaksikan bukan hanya wanita, tapi juga pria. Karena insecure bisa melanda semua orang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for IMPERFECT: KARIER, CINTA & TIMBANGAN.