Tags

, , , , , , , , , , , , ,

Objectification is above all exteriorization the alienation of spirit from itself”

 

 

Si Manis adalah sebutan untuk penunggu jembatan Ancol yang dipercaya masyarakat sebagai hantu dari wanita muda yang meninggal secara tragis – diperkosa oleh beberapa pria. Nama asli wanita itu simpang siur, sebagian menuliskan Maryam, Mariam, beberapa sumber mengatakan nama aslinya Siti Ariah. Yang pasti adalah kecantikan hantu ini begitu populer sehingga berbagai kisah penampakan beredar seolah orang-orang pada berlomba menceritakan kisah perjumpaan dengannya. Dan satu yang bisa kita simpulkan dari legenda Betawi tersebut adalah sungguh menyedihkan nasib Maryam, atau Ariah; sudah jadi hantupun dia masih tetap jadi korban objektifikasi seksual orang-orang.

Objektifikasi adalah peristiwa mengerikan ketika seseorang bukan lagi dilihat sebagai manusia, melainkan sebagai barang. Bahkan menurut filsuf Nikolai Berdyaev, bukan hanya memanggil orang seperti catcalling saja, melainkan memanggil orang atau kumpulan orang-orang dengan sebutan yang mungkin memang mengacu kepada mereka seperti Min, Mimin, Anak Twitter, Anak Instagram – atau Netizen, Negara +62, Gen Z, Milenial – mengecilkan sebuah kemanusiaan menjadi objek yang bisa dikelompokkan, digunakan, dimanfaatkan, dan dibuang.

 

Bukan sekali ini saja cerita hantu ini diangkat ke televisi maupun layar lebar. Penuturannya sebagian besar sama. Si Manis membalaskan dendam kepada pria-pria yang sudah mengakhiri hidupnya. Sebuah kisah balas dendam dari wanita yang hanya dipandang sebagai objek oleh pria. Sutradara Anggy Umbara dan co-sutradara Bounty Umbara juga memasukkan narasi objektifikasi perempuan dalam remake legenda ini. Namun mereka menyuntikkan satu elemen mengejutkan yang membuat film ini menjadi pengalaman berbeda dari satu kisah lama

Versi baru dari Si Manis Jembatan Ancol garapan Umbara Bersaudara ini bercerita tentang suami istri Maryam dan Roy yang kehidupan pernikahannya tidak bahagia. Satu adegan Maryam dibentak hanya karena berusaha menyelamatkan pergelangan tangan kemeja sang suami dari kuah sop dengan sukses menyampaikan kepada kita bahwa hanya Maryam seorang diri yang berusaha mempertahankan cinta di dalam rumah tangga mereka. Bagi Roy, Maryam tak lebih dari kerikil, yang ada atau tidak tak-ada bedanya. Roy hanya menganggap Maryam sebagai aset, barang kepunyaaan. Roy tidak perlu banyak pertimbangan untuk menjadikan Maryam sebagai jaminan hutang kepada rentenir preman yang menjadi sumber malapetaka nantinya. Film ini actually meletakkan Roy sebagai salah satu perspektif utama. Ya, kita akan melihat Maryam yang tak-bahagia bertemu pelukis muda bernama Yudha yang baru pindah ke lingkungan tempat tinggal mereka, kita melihat ada koneksi antara Maryam dan Yudha. Namun cerita bergerak sebagian besar dari perspektif dan akibat dari pilihan yang dibuat oleh Roy.

Kecemburuan Roy terhadap Yudha tak lebih dari karena dia menganggap Maryam adalah kepunyaannya

 

Tiga tokoh sentral film ini menempati posisi yang cocok didasarkan pada teori dalam buku Dramatica: Theory of Story. Maryam yang diperankan oleh Indah Permatasari (pada reinkarnasi cerita sebelum ini, Si Manis diperankan oleh Diah Permatasari) sebagai main character alias tokoh utama karena film ini adalah tentang dirinya. Yudha si pelukis muda yang diperankan Randy Pangalila (dalam balutan wig yang membuat rambutnya tampak tebal dengan abnormal) adalah hero atau pahlawan, yang langsung mewakili penonton – yang kita inginkan berhasil dan membawa kebaikan pada kemenangan. Posisi terakhir dalam Dramatica adalah protagonis; tokoh yang menggerakkan plot – dan posisi tersebut ditempati oleh Roy yang diperankan dengan satu dimensi oleh Arifin Putra.

Dalam genre aksi Balas-dendam tradisional (istilah tepatnya untuk film jenis ini adalah Rape and Revenge films) seperti The Last House of on the Left (1972), I Spit on Your Grave (1978), atau baru-baru ini Revenge (2017), formula yang digunakan adalah tokoh perempuan merupakan gabungan dari tokoh utama, protagonis, dan hero. Dengan struktur cerita berupa pada babak pertama sang tokoh dieksploitasi sebagai objek sebelum akhirnya diperkosa dan ditinggalkan begitu saja, pada babak kedua si tokoh bangkit, berjuang bertahan, yang kemudian akan mengubah dirinya secara total. Saat poin-pertengahan, tokoh-tokoh film tersebut berbalik menjadi subjek yang akan membawa kita ke babak penghabisan saat dia benar-benar menghabisi para pelaku yang sudah memperkosa dirinya. Si Manis Jembatan Ancol justru tidak pernah meletakkan Maryam sebagai subjek. Cerita Si Manis Jembatan Ancol terstruktur berdasarkan sudut Roy. Midpoint cerita adalah ketika Roy tak bisa mundur lagi dari perjanjiannya dengan Bang Ozi (Ozy Syahputra dengan gemilang memainkan peran di luar cap-dagang tokoh legendarisnya di sinetron Si Manis Jembatan Ancol tahun 90-an).

Menghadirkan protagonis berupa antagonis sebenarnya langkah yang cukup menarik. Hanya saja film tidak benar-benar menuliskan arc atau plot untuk tokoh Roy. Pada beberapa poin, dia diperlihatkan tampak menyesal, tapi semua perasaan tersebut cuma angin lalu, karena Roy tidak berubah secara karakter hingga cerita berakhir. Film melewatkan kesempatan berharga mengeksplorasi persoalan objektifikasi wanita melalui sudut pandang pria yang melakukannya. Film cuma sebatas memperlihatkan bentuk ‘hukuman’ bagi pria-pria yang mengobjektifikasi wanita tanpa memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan. Si hero Yudha bahkan tetap dihukum meskipun dia berusaha memperlakukan Maryam lebih daripada sekadar objek lukisan.

Si Manis dalam film ini adalah sebutan yang juga merujuk kepada identifikasi seksual Maryam. Yang menunjukkan cara warga memandang menghargai dan memperlakukan dirinya, Maryam cuma si wajah manis, dan ketika dia mati identifikasi inilah yang nyantol -yang disebut karena warga takut menyebut nama aslinya. Di dunia nyata, objektifikasi semacam ini akan membuat wanita mengobjektifikasi dirinya sendiri dan melukai dirinya secara emosional. Di film ini hasilnya lebih horor lagi; Maryam  menjadi sebuah presence, desas-desus.

 

Jika film bermaksud memperlihatkan kekuatan perempuan, maka ia melakukannya dengan cara yang aneh. Ketika Maryam sudah menjadi hantu, film tidak memberikan tokoh ini treatment seperti Suzzanna yang ‘belajar’ menjadi hantu dalam Suzzanna: Bernapas dalam Kubur (2018). Kita tidak melihat dia lagi kecuali ketika dia muncul dan membunuhi satu persatu anak buah Bang Ozi. Membunuh itu ia lakukan dengan sangat ragawi – para preman itu dicakar, ditusuk, dipenggal. Horor film ini menguar dari lingkungan tempat tinggal tokoh yang mulai ramai oleh desas desus kemunculan hantu. Maryam ketika jadi hantu tetap sebagai objek, keberadaannya adalah rumor di kalangan warga, ia sekarang dikenal sebagai Si Manis karena warga terlalu takut menyebut namanya. Dan elemen horor ini seringkali hadir lebih seperti komedi; kita akan seringkali tertawa melihat reaksi, warga maupun preman, yang ketakutan melihat hantu Maryam. Horor yang benar-benar mengerikan tersaji sebagai lapisan psikologis – kita akan melihat banyak shot-shot keren seperti Maryam melayang di atas jembatan dengan kain-kain merah terbentang ke sana kemari – namun posisinya sungguh rendah karena hanya dipakai sebagai adegan mimpi. Dan bahkan dalam memperlihatkan adegan mimpi pun, film masih ‘bercanda’ sehingga justru membuat adegan mimpi tersebut jadi menjengkelkan. Ada dua tokoh yang punya adegan ditakut-takuti lewat mimpi yang berlapis-lapis. Kaget, terbangun, kaget, terbangun rupanya masih mimpi, kaget lagi!, masih mimpi lagi. Lame.

Ada satu-dua yang cukup menakutkan. Film ini tergolong sadis buat pecinta kucing. Namun sebagian besar horor film ini bentrok dengan tone komedi. Film seperti gak pede dengan horornya karena setiap kali adegan mengerikan selalu disertai guyonan. Beberapa yang tidak, memang terasa sekali horornya hambar. Seperti desas desus tentang rumah yang ditempati Yudha adalah rumah angker – jendela nutup sendiri – tapi tidak pernah subplot ini berujung pada apa-apa. Hanya obrolan warung. Padahal film udah ngebuild up memfokuskan kamera pada nomor rumah 9 yang terbalik sendiri jadi 6, seolah itu adalah hal paling mengerikan di seluruh Jakarta 1970an.

menurutku mereka melewatkan kesempatan membuat kucing kepala buntung sebagai sidekick Maryam yang baru, sebagai ganti Ozy yang jadi preman

 

Maryam di sini tampak seperti objek untuk sebuah twist yang disiapkan tanpa benar-benar memperhatikan detil logika. Perbuatan yang dilakukan Maryam sebagai simbol perlawanan atau kekuatan wanita butuh pemakluman yang cukup besar dari kita karena yang ia lakukan tampak mustahil dan ajaib untuk bisa berhasil dikerjakan – karena ada begitu banyak hal yang bisa salah yang bisa membuat kedok Maryam ketahuan. Aku sebenarnya enggak mau meng-spoiler banyak-banyak, tapi film ini seperti sok keren dengan twist itu – like, mereka bertaruh banyak di sini seolah dengan penjelasan pada twist film menjadi lebih baik. It’s actually not. Karena banyak hal gak masuk akal seperti dari mana Maryam bisa bergerak – misalnya masuk ke rumah preman – tanpa terlihat malah sempat-sempatnya masang jebakan ala Home Alone. Bagaimana dia bisa menghilang pas nampakin diri di depan warga. Dari mana dia dapat baju untuk kostum jadi hantu. Dari mana dia bisa tahu wajah preman padahal mereka pakai topeng semua – Yudha saksi hidup aja mandeg bikin laporan ke polisi karena dia gak tahu wajah para pelaku. Dan – ini nih yang bikin aku ngakak – sehebatnya ilmu survival dan militer, gimana bisa dia ngelempar ranting yang tembus menusuk badan orang. Usaha yang dilakukan film ini supaya twistnya itu bisa masuk akal terjadi adalah dengan memastikan warga kampung Roy bego semua. Selain Roy, Maryam, Yudha, Bang Ozi, tokoh-tokoh film horor tentang objektifikasi wanita ini semuanya kayak tokoh dalam komedi receh.

So yea, setelah twist itu jadi kelihatan jelas bahwa cara bertutur film ini bukan karena mereka ingin melakukan sesuatu terobosan terhadap genre ataupun gagasan, melainkan karena pembuat film ini sendiri gak tau cara menampilkan cara atau kejadian yang masuk akal dari seorang yang membunuh dengan pura-pura menjadi hantu. Maka sudut pandang Maryam mereka sembunyikan. Mereka jadikan twist. Meskipun cerita ini lebih cocok jika tidak dipersembahkan sebagai twist dan cerita dilangsungkan dalam formula Rape and Revenge tradisional saja.

 

 

Revenge story dari perspektif pelaku ini tidak dibarengi dengan penulisan yang matang. Tidak ada end game dari gagasan pembuat, sebab protagonis dan hero prianya – pihak yang melakukan objektifikasi pada perempuan – tidak ditulis mengalami perubahan. Mereka tidak punya plot. Dan sungguh susah mendukung Yudha karena dia diperkenalkan sebagai creep di awal dan bucin di akhir. Satu-satunya yang berubah adalah Maryam, itu pun dia tidak diperlihatkan sebagai subjek hingga menit-menit terakhir – ia dirahasiakan karena film butuh dia untuk jadi objek ketakutan warga dulu, objek twist, dan objek humor. Pada akhirnya memang objektifikasi perempuan yang diangkat oleh film ini sebagai tema/gagasan utama hanya dijadikan bahan becandaan semata.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for SI MANIS JEMBATAN ANCOL.