Tags

, , , , , , , , , ,

“Your value doesn’t decrease based on someone’s inability to see your worth”

 

 

 

‘Buanglah mantan pada tempatnya’ memang bagi sebagian besar orang lebih mudah untuk dikatakan daripada dilakukan. Pertama karena kenangan yang mengingatkan kita pernah bahagia tentu saja sangat berharga. Dan kedua karena kita tidak tahu pastinya di mana tempat membuang mantan. Untuk itulah Toko Barang Mantan hadir. Tristan membuatnya sebagai tempat yang menyalurkan barang-barang dari mantan, untuk dijual kembali – lengkap beserta sejarahnya. Sehingga proses move on jadi lancar dan ya, kenangan itu kini bisa benar-benar berharga.

Tapi berkebalikan dengan itu, film Toko Barang Mantan garapan Viva Westi ini sendirinya justru hadir sebagai pengingat bahwa move on itu susah, seringkali itu adalah salah kita sendiri, dan jika kita menyadarinya dan mau berubah maka bukan tidak mungkin cinta lama itu akan beneran bersemi kembali.

 

Fokus dari drama komedi romantis ini adalah perasaan Tristan terhadap mantan nomer wahidnya, Laras. Wahid di sini bukan dalam artian urutan melainkan ‘yang paling nomor satu di hati. Selama ini, Tristan masih belum move on dari pacar masa kuliahnya ini. Alasan mereka putus, seingat Tristan, adalah karena cowok gondrong ini belum lulus-lulus kuliah. Tristan lebih mementingkan toko. Dan kini, Laras muncul di depan pintu toko yang Tristan kelola bersama dua pekerja yang sudah menjadi seperti teman baiknya. Laras bermaksud memberikan undangan pernikahan. Pertemuan singkat mereka berlanjut heboh, sebab Tristan dan Laras konek kembali. Di tengah-tengah bisnis toko yang semakin sepi, Tristan melewati lagi masa-masa indah di sebelah Laras, dan ultimately berkonfrontasi ulang soal pilihan hidup dan ekspresi cinta – hal yang membuat mereka berantem sedari dulu.

Halo, ada komedi? / Silakan cek toko sebelah

 

Konsep toko yang menjual barang-barang pemberian bekas pacar sebenarnya cukup menarik. Ia juga sangat mudah relate ke orang-orang karena memang gak semudah itu mencampakkan sesuatu yang punya kenangan sekaligus bikin nyelekit jika masih terus diingat. Aku di dompet masih nyimpen undangan premier yang dikasih mantan sebagai hadiah ulangtaun kok, padahal udah tujuh-delapan tahunan yang lalu. Meskipun bendanya sepele, sejarahnya yang terasa berharga. Atau kadang ada juga sebaliknya. Yang rasanya mubazir aja membuang barang yang sebenarnya masih bagus, kayak kalo kebetulan mantannya nyebelin tapi tajir dan dibeliin perhiasan; masa mau ditaro di tempat sampah gitu aja. Cerita-cerita para ‘klien’ toko barang mantan menjelaskan sejarah barang yang mau ia jual, meskipun seringkali digambarkan sebagai sket komedi kelas-B, tapi tetap terasa menghibur karena mengingatkan kita bahwa cinta memang konyol-konyol manis seperti demikian. Aku suka ketika cerita berkutat pada si toko ini, sayangnya film enggak benar-benar memikirkan konsep tersebut dengan seksama.

Toko ini dijadikan stake dan merupakan perlambangan langsung dari kondisi mental Tristan. Malah ada dialog yang terang menyebut Tristan ingin membuktikan dia punya masa depan, oleh karena itu toko ini harus berhasil dibuatnya laku. Karena toko adalah mata pencaharian Tristan yang udah gak disokong oleh keluarga – sejak berhenti skripsi, dan ayahnya nikah lagi dengan wanita yang nyaris seusia dengannya, Tristan perang dingin dengan sang ayah. Kita gak bisa peduli lebih dalam karena toko ini sudah seperti bakal ditakdirkan gagal sedari awal. Sekilas memang tampak menguntungkan. Tristan bebas menentukan harga sementara para ‘klien’ hanya peduli menyingkirkan barang mereka. Klien ini tidak mendapat bagi hasil, Tristan juga tidak membayar mereka atas barang yang diserahkan untuk dijual. Toko barang dari mantan menarik buat yang mau menjual, tapi buat yang beli? Siapa yang mau membeli barang kenangan orang lain? Toko barang mantan secara esensi ‘hanyalah’ toko barang bekas yang diberi gimmick sejarah-manis – apa yang ia jual sebenarnya?Bagaimana Tristan bisa membuat profit dari kenangan suatu barang? Okelah kalo barang-barangnya berupa cincin, action figure, atau aksesori mahal. Tapi di film ini kita juga melihat ada yang menjual sobekan karcis bioskop.

Ada bagian ketika Tristan yang kepepet mencoba menjual barang-barang secara online. Untuk mendongkrak penjualan, dia mengarang sejarah benda yang ia jual. Melebih-lebihkan sehingga tidak sesuai dengan sejarah asli. Taktik ini berhasil. Namun lantas dipandang rendah oleh teman, Laras, dan bahkan oleh si klien pemilik barang tadi. Tristan dianggap tidak jujur. Film membuat hal ini sebuah ‘big deal’ karena diparalelkan dengan usaha-salah yang kerap dipilih oleh Tristan. Bahwa sejarah mantan tidak boleh diubah karena sangat personal. Padahal sebenarnya ini sama sekali bukan masalah. Film tidak berhasil menetapkan kenapa si klien masih ngestalk barang yang sudah ia ‘buang’, toh ia tidak mendapat keuntungan atau apapun dari toko. Jadi, masalah pada toko sama sekali tidak terasa berbahaya, Tristan tidak benar-benar dalam masalah keuangan karena ia tidak ngeluarin sepeser pun untuk dapetin barang; persoalan bayar sewa juga gak jadi soal dengan ia punya banyak properti mahal dan bahkan konflik dengan orangtuanya bukan benar-benar konflik yang menekan.

If anything, film ingin menunjukkan bahwa move on itu memang sulit. Orang yang masih kepoin barang mantan yang sudah ia buang, masih peduli sama caption karangan yang ditulis Tristan, memberi informasi kepada kita bahwa orang tersebut masih memikirkan mantan. Semua orang di film ini sebenarnya sama seperti Tristan, masih sayang mantan, masih belum mau ngaku, tapi sekaligus juga lebih baik daripada dirinya karena, misalnya pada dua teman di toko, kisah Tristan dan Laras mereka jadikan sebagai cautionary tale.

Tristan dan tokonya mengajarkan kepada kita bahwa harga kenangan bersama mantan itu masih tinggi. Namun juga harga tersebut berbeda bagi setiap orang. Sesuatu yang kita anggap berharga, akan mempunyai nilai berbeda bagi orang lain. Toko itu not worked karena tidak ada seorang pun yang berhak menilai kenangan milik orang lain. Begitu juga dengan usaha terhadapnya. Nilai kita dan kenangan kita enggak akan berkurang hanya karena orang tidak menghargainya sebesar kita. 

 

Rumah mewah mana yang meja makannya kelihatan dari luar pagar?

 

Kekuatan film ini terutama terletak pada dua pemain sentral. Reza Rahadian dan Marsha Timothy; two lovers yang tidak bisa bersatu karena mereka menilai hal dengan harga yang berbeda. Penampilan mereka, interaksi dan chemistry, bagaikan oase di tengah canggungnya delivery dan komedi dari para pemain pendukung. Film berusaha menghidupkan dunia cerita dengan tokoh-tokoh pendukung yang colorful dan dialog yang sewajarnya dialog milenial kita masa kini. But no one hits notes like Reza or Marsha does. Akan tetapi, dengan tidak bermaksud mengecilkan penampilan mereka, sebagian besar konflik antara kedua yang digambarkan dengan dialog ribut teriak-teriak bukan hiburan bagi semua orang. Certainly not mine. Banyak aspek dari Tristan yang bisa kurelasikan secara personal kepada diriku, tapi aku tetap susah peduli sama karakternya, karena dia sering melakukan tindakan yang impulsif semata karena bucin pada Laras. Kepada Laras pun empati susah hadir karena tokohnya memang segampang itu pergi-datang, memancing sesuatu untuk kemudian tidak bertindak seperti yang ia sebutkan. Misalnya, Laras menyebut cintanya tak bersyarat, tapi dia toh mengharuskan Tristan untuk mengatakan cinta meski perbuatan Tristan sudah mewakili itu semua. Dikatakan dia meminta kepastian, tapi sikapnya malah menunjukkan kalo dianya aja yang memang ‘buta’, lah orang-orang di sekitar mereka lihat kok.

Standar sekali memperlihatkan argumen lewat orang yang meledak-ledak. Lucu aja ‘cerita cinta dewasa’ digambarkan sebagai kisah yang konfliknya harus dibuat eskplosif dengan orang beragumen adu teriak – dan mereka ini bahkan bukan suami istri. Orang yang suka nonton kebakaran mungkin bakal enjoy aja. Tapi yang sebenarnya enak diikuti itu adalah dinamika dua orang. Dinamika Tristan dan Laras jadi gak enak karena adegan mereka cenderung berakhir repetitif. Bagian paling parah di film ini justru adalah endingnya. Ketika semuanya sudah terlihat oke, semua sudah move on ke hidup masing-masing, setelah mereka dapat melihat kesalahan dan mengubah diri, film lalu meniadakan semua itu dengan membuat adegan bersatunya cinta. Ini benar-benar terlihat maksa. Tidak tampak seperti akhir yang natural, melainkan seperti akhir versi korporat yang mengharuskan film harus berakhir dengan pacaran karena lebih menjual.

 

 

Seperti barang-barang di toko mantan yang dijual dengan penurunan nilai, di bawah nilai asli karena barang bekas dan jauh dari nilai kenangan, film ini sendiripun mengalami penurunan mutu karena pilihan ending yang seperti meniadakan perjalanan move on. Melainkan malah merayakan kebucinan yang akhirnya terbukti akan tetap bersatu. Konsep tokonya menarik, namun mestinya bisa diolah dengan lebih baik sehingga dapat hadir sebagai simbol yang lebih natural, yang membuat stake dan cerita menjadi lebih menggigit.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for TOKO BARANG MANTAN

 

 

 

That’s all we have for now.

Apa kalian punya barang dari mantan yang masih disimpan? Kenapa masih disimpan? Ada sejarahnya enggak?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.