Tags

, , , , , , , , , , , ,

“A father’s a treasure; a brother’s a comfort; a friend is both.”

 

 

 

Tersamar di balik dongeng makhluk-makhluk fantasi yang hidup dalam dunia dengan kenyamanan dan kemudahan teknologi modern sehingga melupakan kemampuan ajaib mereka, ada pesan menyentuh tentang hubungan anak dengan orangtua yang gak sempat ia kenal, juga tentang eratnya persaudaraan yang bisa timbul dari situasi seperti demikian. Karena hubungan keluarga memang sebegitu magicnya, sehingga kita mau-tak mau bakal dapat merasakan keterikatan terhadap anggot keluarga pada setiap serat dari diri kita.

Pada ulangtahunnya yang ke-enambelas, Ian Lightfoot – seorang elf yang disuarakan oleh Tom Holland, orangnya pemalu, gak pedean, dan bukan seorang pemberani – menerima hadiah yang sudah disiapkan oleh ayah yang meninggal dunia semenjak ia masih dalam kandungan ibunya. Hadiah berupa sebuah tongkat kayu. Abang Ian, Barley, yang hobi main game kartu ala ‘Dungeons and Dragons’ percaya bahwa tongkat itu merupakan relik dari sejarah dunia fantasi mereka. Bukti bahwa bangsa mereka bisa sihir dan segala macam keajaiban yang kini sudah dianggap omong kosong oleh masyarakat. Ian juga tadinya enggak percaya sama abang yang menurut semua orang – dan ia sendiri setuju; aneh dan pecundang. Namun di tangannya sendiri, tongkat tersebut berhasil mengembalikan ayah, well… kaki sang ayah. Keajaiban memang ada dan Ia adalah pewarisnya. Ian bisa mengembalikan ayah khusus untuk satu hari asalkan bisa menemukan batu yang jadi sumber kekuatan. Maka berangkatlah Ian, bersama Barley yang dimainkan oleh Chris Pratt, dan bagian pinggang ke bawah ayah mereka, bertualang naik van rongsok demi berjumpa dengan ayah yang sangat ingin Ian kenal. Ian pengen menghabiskan hari, mengobrol, dan berbagi dengan sosok yang dijadikannya panutan tersebut.

untung gak jadi thriller “The Invisible Dad”

 

 

Sebagai abang (dari dua adek; cewek dan cowok) aku lumayan bangga dan terenyuh nonton film ini. Karena cukup jarang ada film – terutama film keluarga – yang benar-benar menghormati persaudaraan abang-adek seperti film ini. Enggak hanya dijadikan lelucon, atau diarahkan menjadi rivalry. Sure, bagi adek, abang-abang mereka seringkali kelihatan entah itu sok galak, nyebelin, atau sok asik. Di Onward juga nampilin seperti begitu; Ian sangat berbeda dengan sang abang. Malah, Ian bisa dibilang gak suka dan gak percaya sama Barley. Mereka tidak bermain bersama, mereka tidak punya hobi yang sama. Pada awalnya, Barley yang kekanakan dan penuh oleh ‘teori’ sejarah, memang terlihat seperti tokoh sidekick untuk lucu-lucuan. Kemudian seiring waktu, fokus film semakin jelas, dan ternyata hubungan persaudaraan Ian dengan Barley lah yang dijadikan menu utama. Akan ada banyak adegan mereka bonding mulai dari sekadar ngobrol atau melakukan tantangan bersama yang bakal mengingatkan kita kepada saudara di rumah. Ian bisa magic tapi dia gak percaya sepenuhnya, sehingga banyak momen-momen Barley menggempor semangatnya – mengajarinya dengan sabar. Adegan Ian gemetar menyeberang jurang dengan sihir jembatan-tak-terlihat dengan diikat tali yang dipegang oleh Barley, ia kerap neriakin “jangan dilepas” tanpa berani menoleh ke Barley di belakang, misalnya; ini seperti ketika seorang abang ngajarin adiknya naik sepeda, memegangi dari belakang. Adegan-adegan mereka seperti begini yang benar-benar hits home buatku.

Beberapa penonton mungkin merasa film ini gak konsisten karena seperti berganti topik; dari yang tadinya tentang anak yang ingin bertemu dengan ayah berubah menjadi tentang persaudaraan. Tapi memang justru itulah poin pembelajaran yang dialami oleh Ian di dalam film ini. Pixar selalu gemilang karena cerita-cerita yang disuguhkan selalu berhasil bekerja maksimal dalam formula/struktur penceritaan yang simpel-namun-bener. Supaya bisa gak merasa film ini enggak-konsisten, kita perlu mengingat hal paling dasar dalam premis dramatik seorang tokoh film. Yakni soal ‘wants’ dan ‘needs’; tokoh menginginkan sesuatu dan berjuang demi itu, hanya untuk menyadari hal sebenarnya yang ia butuhkan. Onward, pada inti emosionalnya, adalah tentang anak yatim yang ingin bertemu sekali saja dengan ayahnya – ia berjuang mencari tokoh panutan supaya bisa menjadi lebih baik dalam hidup, dan setelah petualangan yang ia lalui bersama abang, ia menyadari ia tak pernah kehilangan sosok itu. Selama ini, ada satu orang yang selalu menyemangati, mendorong dirinya menjadi lebih baik, percaya pada dirinya, dan orang itu harusnya ia hargai. Persoalan mencari ayah hanyalah lapisan luar dari permasalahan Ian. Dan film ini akan membuka hingga ke lapisan dalam dengan cara yang benar-benar menyentuh karena Ian juga serta merta harus come in terms dengan merelakan ayah yang tak pernah ia kenal.

Hanya abang atau saudara laki-laki yang lebih tua yang bisa mencintai seperti seorang ayah, menyebalkan kayak saudara cewek, peduli sebagaimana seorang ibu, sekaligus suportif dan bisa akrab layaknya sahabat karib.

 

Dan sesungguhnya kita beruntung film ini tidak memusatkan banyak kepada Ian dan kaki ayahnya. It’s a good thing film ini maju dan enggak mentok menjadi komedi konyol dua orang berusaha menyamarkan makhluk tak berbadan-atas sebagai orang normal. Kocak memang, tapi dengan cepat menjadi basi. Karena dunia mereka sudah terlalu fantastis. Melihat mereka berusaha memakaikan sweater dan kacamata hitam untuk samaran ayahnya – seolah bodinya utuh – terkesan jadi biasa saja karena normal di dunia cerita ini sendirinya sudah ajaib. Sukar membayangkan penduduk menjerit begitu melihat ayah mereka hanya kaki tatkala para penduduk itu adalah sebangsa cyclops, atau pixie, yang memelihara naga seolah anjing di rumah, dan unicorn kayak rakun atau pengais sampah. Onward ini kayak Shrek, atau animasi fantasi serupa, dengan elemen komedi menyamarkan ‘mayat’ ala Weekend at Bernie’s (1989). Komedi di film Bernie’s bisa sukses histerical karena dunianya adalah dunia normal kita – yang dibentrokkan dengan mayat didandani dan bisa jalan-jalan seolah masih hidup. Pada Onward, elemen kaki ayah ini enggak bisa menjadi lebih menonjol lagi komedinya karena sifat dunia yang emang udah fantastis sedari awal. Jadi, merupakan langkah bagus dari film untuk move on dan menjadikan koneksi Ian-Barley sebagai pusatnya.

Onward tampil sebagai film keluarga lucu, hangat, seru, menyentuh emosi. Yang tercapai berkat eksplorasi cerita yang berani keluar dari zona nyaman. Memperlihatkan kenyataan kepada anak-anak bahwa berkubang pada masa lalu, berpegang pada sesuatu yang bukan untuk kita, akan menghambat diri sendiri. Kadang yang sudah pergi tidak akan kembali. Film membuat anak-anak berani menerima kematian orangtua, dengan menunjukkan bahwa cinta itu datang dari sosok orangtua pengganti berupa keluarga kita yang lain. Onward juga menampilkan tokoh ibu yang tidak biasanya hadir di film-film seperti ini. Ian dan Barley tidak berjuang sendirian, ibu mereka tidak menunggu di rumah dan hanya muncul di awal dan akhir film saja. Peran ibu tidak diabaikan dalam pencarian mereka. Bagi ibu-ibu yang menikah lagi bisa memetik pelajaran dari ibu Ian yang sudah punya ‘pacar baru’ untuk membiarkan anak mencari tahu dan lebih mengenal ayah mereka sebagai proses perkembangan. Namun ada satu yang masih kurang penggalian, yaitu dari Barley si abang. Cerita ini harusnya membuat para abang di antara penonton bisa come to terms dengan tanggungjawab pada pundak masing-masing. Hanya saja, di film ini Barley tidak berubah banyak dan segala masalah mereka lenyap alias bisa ditangani karena Ian bisa sihir.

ultimate bro movie

 

Lapisan lain yang dimiliki film ini adalah soal magic yang kini sudah tersingkirkan. Karena orang terbuai oleh teknologi yang memudahkan. Dengan gampang kita dapat menarik garis paralel dunia modern mereka dengan dunia modern kita. Tapi bagaimana dengan dunia sebelumnya? Kita tentu saja tidak bisa mengharap ada sihir beneran yang melenyapkan semua persoalan dengan sebait mantra. Barley, adalah pengacara alias pengangguran-banyak-acara yang kerjaannya di rumah adalah main game dan di luar rumah sebagai aktivitis pelindung bangunan dan tempat bersejarah. Barley percaya pada magic masa lampau. Kesamaannya dengan tokoh Ian adalah mereka sama-sama berpegang pada past. Film menggagas past dan future seharusnya bisa berjalan beriring; kita belajar dari masa lalu demi masa depan. Tokoh Barley di film ini seringkali berlawanan dengan pesan tersebut karena dia selalu benar. Pengetahuannya tentang mitologi dunia fantasi seolah me-redeem dirinya yang disebut seorang screw-up oleh masyarakat. Di dunia nyata kita tidak bisa menjadi seperti Barley selamanya karena tidak akan selalu benar, dan jika salah akan ada keajaiban. Kita, dan Barley, perlu belajar tanggungjawab dan film tidak memperlihatkan itu.

 

 

Dunia monster dan magic selalu bicara soal kepahlawanan. Dan dalam keluarga, kepahlawanan itu berarti seorang kepala keluarga yang mengayomi, melindungi, menyemangati anggota keluarganya. Setiap dari kita punya sisi tersebut. Mungkin itulah yang dimaksud dalam film ini ketika memperlihatkan makhluk-makhluk yang melupakan kemampuan dasar mereka. Polisi centaurus yang emoh berlari karena sudah punya mobil (gimana cara dia duduk). Pixie yang jadi geng motor mengacuhkan sayap mereka. Ada banyak yang bisa dibahas dari animasi petualangan fantasi ini. Dengan hubungan abang-adik sebagai pusatnya. Film ini jadi pelajaran berharga bagi keluarga di zaman modern, karena berani menghadang persoalan sesuatu kadang tidak sesuai harapan. Juga merupakan cerita yang sangat menghibur dengan penampilan dan imajinasi yang ‘liar. However, ini bakal jadi sempurna, jika menggali lebih dalam terkait konsekuensi dan tanggungjawab.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ONWARD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian punya cerita/pengalaman unik dengan abang – atau kakak?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.