MARIPOSA Review

“Do not chase people.”
 

 
 
Mariposa akan bekerja dengan lebih baik jika dijadikan berfungsi sebagai cautionary tale – kisah peringatan – tentang naksir sampe mengejar cinta sesungguhnya dapat bermetamorfosis menjadi hal yang menjurus ke pelecehan atau interaksi yang tidak ‘sehat’. Hanya saja sutradara Fajar Bustomi mengarahkan cerita ini ke ranah romantisasi. Khas anak remaja yang mendambakan kehidupan cinta ajaib yang berbunga-bunga mekar pada waktunya.
Sebagian besar cerita akan mengambil tempat di lingkungan terdekat dengan remaja. Di sekolah, di rumah, ini adalah tempat-tempat sakral bagi remaja sebagaimana dua tokoh sentral cerita ini juga mendapat nasihat, masukan, dan bahkan larangan dari orangtua maupun sahabat perihal kehidupan sosial dan pendidikan mereka. Kita bertemu dengan Acha, gadis jago kimia, lagi curhat sama sahabatnya. Acha sudah lama naksir berat ama cowok pinter di kelas, si Iqbal, tapi si cowok ini cuek sehingga kini Acha sudah gak tahan lagi. Diwanti-wanti oleh sahabatnya, Acha justru semakin menggebu. Dia mendatangi Iqbal. Ngenalin diri. Nyerocosin eksposisi dalam waktu kurang dari lima menit. Kemudian practically ‘nembak’ Iqbal. Reaksi yang ia dapat? Dingin. Iqbal yang lebih tertarik memenangkan olimpiade sains tidak mempedulikan Acha. Namun ini malah membuat Acha semakin manja (dan maksa) dan terus mengejar Iqbal. Di lain pihak, si cowok ini gak bisa begitu saja mencampakkan Acha, karena mereka harus bekerja sama sebagai tim dalam olimpiade, mewakili sekolah mereka.

sekolah jaman now, hukumannya bukan bersihin wc, melainkan bersihin kolam renang!

 
 
Hal berbeda yang ditawarkan oleh film yang berangkat dari cerita di platform Wattpad ini adalah lekatnya para tokoh dengan ‘profesi’ mereka yakni pelajar. Biasanya cerita-cerita remaja meskipun lokasinya di dalam kelas, tapi jarang sekali menampilkan mereka belajar. Persoalan nilai atau prestasi akademik tak dibahas, tokohnya pada sibuk pacaran aja. Ini semua bisa ditelusuri akarnya, yakni pengaruh trope film-film barat bahwa dalam kelas sosial remaja, tokoh yang suka belajar alias pintar akan mengisi sebagai karakter cupu. Biasanya mereka akan jadi sidekick atau sahabat dari tokoh utama yang biasanya adalah anak baru atau berstatus anak yang biasa-biasa saja. Lawan dari karakter pintar dan cupu adalah tokoh populer, entah itu jago olahraga, atau supercakep, dan mereka ini biasanya jadi karakter antagonis dan seringkali suka membully. Dalam Mariposa, trope khas cerita barat seperti demikian tidak ada.  Trope ketimuranlah yang kental; kepintaran dihormati dan anak-anak pelajar mengambil posisi teratas di kelas sosial mereka. Acha maupun Iqbal tersohor di sekolah karena kepintaran mereka. Cerita pun mengaitkan konfliknya kepada aspek ‘pekerjaan’ mereka sebagai pelajar saat kita diperlihatkan momen-momen mereka membahas soal dan adegan di olimpiade sains. Pendidikan dijadikan salah satu poros utama, dan ini sesungguhnya dapat membawa gambaran dan pengaruh yang baik bagi penonton remaja, terutama yang sering ‘terwarnai’ oleh cerita remaja di barat yang situasinya tidak serta merta cocok. Kita tetap bisa menjadi anak pintar sekaligus cakep, populer, dan ya bahkan bisa punya pacar.
Pacar. Persoalan klasik anak muda. Meskipun film cukup menonjolkan kehidupan tokohnya sebagai anak sekolahan, tapi yang namanya remaja tetaplah remaja. Bagi mereka punya pacar itu adalah nomor satu. Bagi penonton yang lebih dewasa, konflik utama film ini besar kemungkinan akan terasa receh. Motivasi nomor satu Acha (lebih penting di atas menang olimpiade!) adalah punya pacar. Pacar bukan sembarang pacar. Iqbal. Harus Iqbal. Motivasi tokoh sesepele ini sebenarnya bukan masalah, it doesn’t necessarily make or break a movie. Ambil contoh salah satu karya Bustomi yang lain, Dilan 1990 (2018), di film itu motivasi Milea sang tokoh utama adalah mengenang cintanya waktu SMA. ‘Kecil’ sekali, tapi kita gak bisa bilang filmnya jelek hanya karena kita gak menganggap penting persoalan si tokoh. Melainkan kembali kepada penceritaannya. Mariposa ini persis Dilan 1990. Dengan role tokoh di balik. Tokoh utama ceweknya di sini lebih aktif. Sebagai tokoh utama, Acha lebih masuk, fit into structure, ketimbang Milea. But somehow, ceritanya terasa lebih ‘parah’.
Dilan dengan gombalan. Acha dengan centil manja. Sesungguhnya masing-masing tokoh ini adalah sisi dari satu koin yang sama; koin cringe alias koin bikin-geli-telinga. Adhisty Zara sangat pas memainkan karakter ini, dialog-dialog panjang ditampilkannya effortless dalam nada manja. Ini peran yang tampak paling nyaman dimainkan oleh Zara sepanjang karir filmnya yang masih muda. Tapi jika kita melihat perkembangannya; Zara dapat recognize pertama dari perannya sebagai Euis yang berkonflik dengan ayah yang mendadak miskin, lalu jadi tokoh yang hamil di usia sekolah, sebagai Acha yang sepertinya tidak begitu berbeda dengan remaja keseharian, dengan range yang relatif lebih sempit – She nails it, hanya saja tantangannya enggak besar –  Mariposa ini bisa dibilang sebagai kemunduran bagi Zara. Kelakuan Acha yang sangat agresif mengejar cinta Iqbal ditampilkan sebagai perbuatan yang lucu.  Disuruh ngelupain Iqbal, dia malah bilang jadi semakin kangen. Di dalam kelas, Acha yang pinter bisa mengerjakan latihan dengan lebih cepat dari siapapun, sehingga dia bisa memandangi pemandangan di kursi sebelahnya; tak lain-tak bukan adalah Iqbal. Acha ngomong, ngomong, dan ngomong dia suka kepada Iqbal, bahkan mengaku sebagai pacarnya padahal Iqbal bukan sekali dua kali menolak dan menunjukkan ketidaksukaan terang-terangan kepada Acha. Di mana ada Iqbal, di suatu tempat dekat situ ada Acha yang siap mendekati. Dia minta nomor telepon, begitu gak dikasih; ia cari sendiri. Acha terus berjuang, menahan diri untuk ‘menyerang’ Iqbal adalah hal yang susah buat Acha; tak-tertahankan. Baginya ini seperti menangkap kupu-kupu; terkejar tapi tak tergapai.
‘Unrequited love’ pada seni selalu dipandang sebagai elemen yang romantis. Cinta yang indah, begitupun tragis. Mariposa menampilkannya lewat warna-warni yang cerah, film ini terhampar penuh warna. Karena ini adalah cara Acha memandangnya; perjuangan cinta yang cute. Tapi ada batasan antara perjuangan dan perbuatan yang menjurus ke harassment. Salah satu filosofi Acha mengenai dirinya dan Iqbal adalah bahwa dia air dan Iqbal batu. Acha ingin menetesi Iqbal sampai berlubang karena menurutnya begitulah air dan batu bersatu. It’s a really twisted philosophy sebab batu yang kena air itu berlubang dan eventually bisa hancur. Dengan konstan ‘meneror’, memaksa Iqbal jatuh cinta kepadanya, bukan tidak mungkin hidup Iqbal beneran hancur karena Acha. Dan film actually memberikan penyelesaian dan ending yang menampilkan karakter Iqbal yang kayak ‘rusak’. Less-humane kalo boleh dibilang.
MariPusAp setiap kali Acha nyebut dia pacar Iqbal di Mariposa

 
Interaksi apapun, dari dan kepada siapapun, yang sifatnya tidak ada konsen mutual – dalam artian yang satu ngerasa seneng, yang satunya lagi merasa gak nyaman, atau dirugikan, atau direndahkan – masuk ke dalam kategori pelecehan. I mean, bayangkan kalo posisinya di balik. Iqbal ngejar-ngejar Acha meski sudah ditolak; mungkin akan ada bahasan restraining order dalam cerita. Namun jika pelakunya cewek, justru cowok yang menolak dan membentaknya yang dianggap berhati batu. Film bahkan nunjukin ada tokoh cowok pinter (kali ini tipe cupu) satu lagi yang nunjukin ada rasa ama Acha, tapi Acha yang cinta ke Iqbal menganggap si cupu itu mengganggu dan bikin sebal. Ini semacam standar ganda pada film. Tidak pernah ada konsekuensi pada Acha. Padahal mengejar orang yang enggak mau sama kita sebenarnya juga bisa bikin hidup sendiri berantakan. Kita bisa kehilangan kesempatan merasakan cinta yang asli, kita bakal halu sehingga mudah dimanfaatkan orang, apalagi kalo orang yang kita kejar bukan orang baek-baek kayak Iqbal. Sedihnya, film justru menghajar semua kepada Iqbal. Ada adegan Iqbal meledak karena gak tahan lagi karena ulah Acha, dan dia malah dikecam kasar oleh sahabat Acha. Di rumah, Iqbal semakin digencet oleh ayah yang ingin dia menang olimpiade, tapi karena Acha dia sakit, konsentrasinya belajar keganggu.
Dunia dalam film ini memaksa Iqbal untuk jadian sama Acha. Bahkan ada adegan yang memperlihatkan Iqbal dimanipulasi oleh teman-temannya untuk merasa galau ketika dia gak diundang ke pesta ulangtahun Acha. Film seperti bingung membuat kedua tokoh ini bersatu – karena supaya laku, tokoh haruslah jadian – maka sampai-sampai film pun ‘memaksa’ Iqbal untuk jatuh cinta, walaupun itu harus mengorbankan plot si tokoh. Aku beneran sedih melihat perkembangan Iqbal dalam film ini. Awalnya dia cool, hanya ngurusi urusan sendiri, dia pintar sehingga bisa terpilih jadi peserta olimpiade – Angga Yunanda paling cocok meranin tokoh ‘pendiem’ , namun seiring durasi, di balik kejengkelannya, ia tampak semakin galau. Benar-benar susah memastikan Iqbal genuinely in love kepada Acha – paling enggak, seperti cinta si cupu – atau karena seluruh dunia yang menyuruhnya. Motivasi tokoh ini kemudian dienyahkan begitu saja, dia gak punya apa-apa selain wujud yang dicintai oleh Acha. Kalimat yang ia ucapkan di bagian akhir film itulah yang ultimately break the movie for me, yang juga jadi bukti si batu sudah beneran hancur. Kurang lebih; “Aku gak suka sains. Aku gak mau kuliah ke luar negeri. Aku sukanya sama kamu.”  THAT’S DUMB. Okelah mungkin dia gak suka fisika, kimia, rumus-rumus, tapi sempit sekali yang ia suka cuma Acha. Setelah sepanjang film dia tampak beneran jengkel, tapi kemudian berubah. Hidupnya cuma Acha, dia membuang semua demi sesuatu yang sesungguhnya juga masih dipaksakan kepadanya. Bukankah bisa saja dia dibuat nerima beasiswa, dan masih suka sains, sambil pacaran ama Acha.

Berat memang suka ama orang tapi gak berbalas. Alih-alih berkutat dengan pesan ambigu dari film soal mendekati orang itu jangan dengan berisik (atau malah: berisik dahulu, ghosting kemudian?) sebaiknya kita berfokus kepada menjalankan hidup sesuai passion sendiri. Berhenti mengejar orang. Karena jika kita menjalankan hidup sebagai diri sendiri, orang yang tepat akan datang menemukan kita. 

 
 
 
Ini udah kayak Anti-La La Land. Dua tokohnya memilih untuk jadian dan membuang hidup mereka. Mereka bahkan tidak punya passion sedari awal, padahal pintar-pintar tapi gak ada yang beneran niat ikut olimpiade. Pembelaannya adalah, mereka masih pelajar. Mereka belum tau yang baik dalam hidup. Perjalanan mereka toh masih panjang. Biarlah mereka menikmati cinta. Dan jika kalian juga menikmati cinta monyet, kalian akan menikmati film ini, karena cerita mereka gak mulai dari langsung pacaran, melainkan ada perjalanan pedekate, nembak, ditolak, dan terus berjuang. Meski udah dikata-katai. Tapi jika bagi kalian ke-cringe-an mereka meromantisasi keinginan punya pacar itu annoying, atau dumb, atau bahkan ofensif karena menjurus harassment – perbuatan Acha dan sekitarnya bisa jadi membuat Iqbal berpikir ia juga cinta, atau lebih parah merasa bersalah udah pernah ngasarin – maka kalian gak akan asik menontonnya. Buatku, mestinya film ini difungsikan sebagai pembelajaran saja, gak ngejar pacaran, melainkan menemukan cinta itu sendiri; endingnya ya mesti gak bersatu.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MARIPOSA.

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian kapan dan apa yang membedakan cinta-yang-tak-terbalas dengan/menjadi kejahatan(harassment) atau gejala penyakit mental? Apa batas keinginan dengan obsesi? Bagaimana menurut kalian perbuatan Acha kepada Iqbal itu?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

Comments

  1. Dewi says:

    Semalam nonton yg jam terakhir saking penasarannya, udah baca versi novelnya juga sebelumnya. Tapi memang dua duanya gak terlalu masuk ke saya jadi ya biasa aja. Baca novelnya pusing, pas di filmin ya biasa jadinya, Ya Zara gemes centinlnya, sebatas itu aja. Kalo anak SMP atau SMA bisa berulang kali nonton kali ya, atau yg suka dua couple ini. Beberapa scenenya romancenya emang dibuat seperti drama Korea ya, jadi orang Indonesia yg banyak penggemar Korea bakalan jejeritan. Di banding dilan 1990 dulu, sensasinya lebih besar 1990 kalo ke saya. Apa karena saya perempuan jadi lebih suka digombalin dilan ketimbang diketusin Iqbal.

    • arya says:

      Iya banyak yang didedikasikan buat penggemar Korea; adegan mama acha joget-joget kpop aja ada beberapa kali, belum pemunculan bahasa dan makanannya. Daya tarik film ini memang zara-angga kayaknya, yang lagi hits di kalangan anak sekolah setelah Dua Garis Biru, ph-nya tinggal nyari cerita wattpad/novel yang cocok buat ‘panggung’ mereka

  2. Menik says:

    Waa ini keren bgt! –> “Karena jika kita menjalankan hidup sebagai diri sendiri, orang yang tepat akan datang menemukan kita.”
    *thumbs

    • arya says:

      itu tergambar banget dari Iqbal datang meski tak diundang di akhir film, cuma ya sayangnya dialog dan circumstance si Iqbal jadi cintanya dibikin konyol dan menghancurkan dia sebagai karakter

  3. fafaurina says:

    Review dari mas arya akhirnya muncul juga. Di youtube rata2 reviewnya bagus, skornya juga 7 ke atas, mas arya cm ngasih 3, lebih rendah dari Dilan 90 & 91 dong. Asli aku nggak ada niatan buat nonton film ini sejak baca wattpadnya. Aku kurang suka karakter si acha, menurutku agak gimana gitu, terlalu bucin, pinter banget tapi kok ngejar cowok sampek dibela2in pindah sekolah. Segitunyakah cinta itu buta. Klo karakter iqbal waktu baca, ya begitu deh cowok ganteng, pinter, cool ala2 cowok wattpad pada umumnya. Kenapa juga si iqbal tiba2 jadi jatuh cinta sama si acha. Kayak kehilangan banget. Suatu pertanyaan bagiku. Malah waktu baca, aku sempet mikir, dengan melihat karakter acha yg begitu, kenapa nggak dibikin aja sekalian versinya kayak film posesif, mungkin otakku masih bisa terima. Kalau ngikutin novel emang bagiku terlalu bucin, lebih bucin dari Dilan & Milea malah. Apa mungkin faktor umur kali ya…he…he..jadi bukan seleraku. Trus aku cek di goodreads juga banyak yg ngasih bintang satu buat novel ini, karena bagi pembaca karakter tokoh ataupun cerita novelnya ada yg cacat logika. Tapi bagi yg sudah nonton, ada yg komen kalau filmnya lebih mending daripada novelnya. Jadi, yang penasaran pengen tau bedanya di novel sama waktu di filmkan, silahkan baca & nonton. Apalagi buat fansnya angga zara wajib nonton pokoknya…jangan sampek nggak..he..he..Terakhir, pertanyaan buat mas arya. Gemess juga nggak sama angga zara? Biar sama kayak orang2.

    • arya says:

      Mungkin mendingnya karena di film si Acha gak pindah sekolah karena ngejar cowok hahaha… iya ih, aku tadi juga cek review bukunya di goodreads dan banyak ternyata pembaca cewek yang gasuka Acha karena bucin dan halu padahal dia anak pintar. Film Dilan 90-91, selain Dilan yang ajaib, ceritanya masih make sense dan kayak beneran bisa kejadian, cuma ya yang dibahas di situ tu gak pentingnya. Kalo Mariposa ini romantisasinya itu sensasional sekali, cringe dan kebucinannya kerasa kayak dibuat-buat biar cute

      • fafaurina says:

        Asli bener2 dah cm mas arya doang yg ngasih skor 3….ha…ha…iya sih klo aku ma scr karakter tokoh mending dilan dah…iconic bin ajaib. Klo acha bucinnya kebangetan, nggak masuk dilogikaku. Ada yg bilang emang novelnya lebih parah daripada filmnya. Tapi biar bucinnya acha beralasan, mungkin nggak sih adaptasi filmnya dibikin kalau yg acha lakukan saat ini, ngejar cowok sampek segitunya, pokoknya harus dapatlah intinya smpek harus menurunkan harga dirinya, itu karena ada trauma atw peristiwa dimasa lalunya misal karena pernah kehilangan seseorang yg dia sayang. Atau jg bisa ja dibikin klo acha punxa gangguan mental…sehingga dia mencoba segala cara biar mendapatkan apa yg dia mau. yaitu si iqbaal. Mungkin lbh make sense kali ya…kyk kata mas arya jadi teror lama2. Ntar genrex romantic thriller atw apalah..he..he…

        • arya says:

          nah iya bener, alasan acha itu harus dieksplorasi jadi karakternya ada layer/depth; kalo ada itu baru deh aku bisa ngasih di atas lima ahahaha
          Kalo dia cuma cinta ngotot sejak pandangan pertama, ya gimana kita bisa mau peduli.. wajar jika kita lebih mengiyakan semua saran manda sahabat acha, makanya aku di awal review nulis film ini kalo jadi cautionary tale lebih efektif/baik, karena kita udah di side si sahabat, kita tahu si acha ini halu, mestinya sampai akhir kita sama-sama menyaksikan dan menilai acha. Tapi film gak konsisten, kadang kita dibuat setuju ama manda, kadang kita disuruh sepemikiran dengan perjuangan acha, lalu akhirnya film memberikan kesimpulan bahwa acha benar sedari awal, dia gak halu, iqbal memang cinta sama dia — jadi ya buatku kentara film ini bukan progres natural, melainkan tuntutan naskah yang sensasional.. meromantisasi mimpi remaja, tapi gak mikirin remaja itu sebagai manusia beneran.

  4. Albert says:

    Cinta itu sederhana, jadi nonton Acha aja rasanya udah kasih 8 buat film ini hahaha. Sebetulnya filmnya 2jam kurang 3 menit menurutku bisa diarahkan juga ke Iqbal daripada ke Acha mulu.. Kan katanya dia berani mengutarakan pendapat di ending terinspirasi dari Acha. Mestinya bisa diperlihatkan lebih jelas di mana Acha mendorong Iqbal untuk berani bicara. Ada 2 momen sih seingatku pas Acha nguping di rumah sakit dan pas Iqbal nangis pas gurunya pura2 kalah tapi ga dieksplor lagi nangisnya. Mestinya kalau ambil momen itu supaya Iqbal curhat ke Acha, endingnya Iqbal berani nolak itu lebih masuk akal. Tapi ya kira2 juga sih ga suka sains kok sukanya Acha. Hadeuh jadi ingat Dilan.

    • arya says:

      mestinya tuh apa kek, Iqbal hobi musik, atau game, atau komik – apa ajalah, supaya pas dia bilang gak suka sains, karakter dia tuh gak abis gitu loh; biar gak antara sains atau acha, Dilan aja masih punya geng motor sebagai representasi diri dia selain suka sama Milea

      • fafaurina says:

        Yup..Mngkin klo film ini diambil dr sudut pandang yg tepat akan mnghasilkan ksluruhan crita yg lebh baik n lbh bs ditrima lagi. Harapanku ktika liat prtama kali trailerx, smoga film ini jauh lbh baik drpada Dilan stlah da fajar bustomi sbg sutradara yg psti bakal blajar bnxak dr ksuksesan film sblumx. Tp mngkinkah keromantisan n kbaperan yg sensasional d film mariposa ini agar bs mngulang ksuksesan Dilan n Milea? 6.3 jt pnonton. Pada akhirx, bagus/tdk nya sbuah film akan kmbali lagi ke selera orang masing2.

        • arya says:

          Ya, yang diincar tentu saja kesuksesan penonton Dilan, target pasarnya ya remaja-remaja penonton Dilan juga – plus Dua Garis Biru.. adegan yang ngereference Dilan juga ada di film ini.
          Sebenarnya, bagus/tidak film itu ukurannya tetap objektif, karena bikin film – naskah, produksi, akting, dsb ada ilmunya, jadi ada tolak ukur bagus-atau-tidak, benar-atau-salah. Laku/tidak film-lah yang ditentukan oleh selera penonton. Tapi kadang penonton suka gak rela/atau gengi film yang ia sukai gak bagus, maka kaburlah penggunaan ‘bagus’ ini. Padahal kan kenyataannya sudah terbukti beberapa kali, perolehan penonton jarang sekali berbanding lurus dengan kualitas filmnya (film oscar penontonnya dikit, film horor selalu laku, dll)

      • Albert says:

        Kalau di dunia nyata udah terlanjur terbiasa ngikuti maunya orang susah sih kalau ditanya maunya sendiri. Iqbal kayaknya hidupnya belajar aja sih ga ada kehidupan sosialnya. Tapi ya karena ini film sebaiknya memang ada hobi pembanding ya. Gimanapun tetap puaslah liat Zara, banyak banget wajahnya di layar hahaha.

        • arya says:

          iya, soalnya tau darimana dia bahwa dia gak suka sains kalo gak ada pembanding (basket kek, renang kek) masa pembandingnya Acha, kan lucu. Kemungkinan besar malah dia gak suka sains itu sebagai bentuk berontak dari ‘opresi’ ayahnya. Perbandingan yang tepat untuk masalah di film ini tu mestinya Iqbal gak suka ayahnya, dia sukanya Acha

      • Albert says:

        Baru lihat mas Arya di Cinecrib hehehe. Lebih kejam mas Arya nilainya daripada mereka :p. Iya kalau aku tetap sih lebih baik diliatin proses sukanya ke Zara eh ke Acha gitu biar ga ujug2 di ending. Ada sih dikit2 kayak pas dicuekin kayaknya bingung wajahnya, atau pas liatin Acha pas di RS. Tapi ya tidak dikembangkan sih. Nanti di ending bilang kuliah sainsnya di Indo aja gitu biar sama Acha lebih masuk akal.

        • arya says:

          Dia jadi respek ke Acha karena ngajarin berani bersuara juga mestinya gak lantas berarti langsung cinta kan, apalagi di dua babak awal dia menghabiskan waktu untuk menolak Acha – masa ledakan marah dia nolak dua kali itu juga hanya karena gak berani ngomong sama ayahnya dia gak suka sains. Daripada cinta, menurut ‘reward’ yang paling cocok buat mereka berdua di cerita ini tu adalah respek; Acha harus diredeem respeknya setelah kelakuan bucin, Iqbal harus mendapat respek sebagai dirinya sendiri di luar pengaruh ayahnya. Setelah mendapat ini barulah wajar jika mereka mengenal/merasakan cinta yang sebenarnya.
          Jadi ya aku setuju sih, kurang prosesnya

    • Nawat says:

      Tapi serius deh bang Arya, remaja jaman sekarang suka banget cerita model-model begini. Temen2 ku banyak banget yang suka, yang menjadikan kehidupan percintaan mereka jadi toxic relationship. Selama film adaptasi wattpad yang seringnya cerita cowo utama gaanteng,cool, brengsek dan twist boombastis yang terkesan mengada-ada laku ya kedepannya bakal ada aja film adaptasi wattpad yang lain.

      • arya says:

        padahal kalo secara logika/duduk perkaranya, si Iqbal gak brengsek.. tapi film/cerita memposisikan kita mendukung Acha, kemudian membuat perbuatan Acha ternyata benar, jadilah si Iqbal keliatan brengsek, jadi buatku film ini mengada-ada bahwa cewek yang naksir berat, sampe agresif meski ditolak dan bikin gak nyaman itu feelingnya bakal selalu benar.. padahal kan belum tentu

  5. Nawat says:

    Tapi jujur mas anak jaman sekarang suka banget sama cerita kayak gini, temen2ku suka banget, itu yang nyebabin hubungan mereka jadi toxic relationship. Padahal mah nggak mungkin banget ada cewe se-berani Acha dan cerita kayak gini di kehidupan nyata.

    • arya says:

      Remaja, apalagi cewek, tentu suka dengan romantisasi kayak gini – cewek naksir cowok cakep,pinter,populer, dan berjuang sampai akhirnya si cowok yang klepek-klepek… apalagi di dunia nyata cewek ‘gabisa’ nembak duluan, mungkin bahkan ada yang jadikan Acha
      sebagai inspirasi.
      Makanya film jadi terasa masih sempit, istilahnya ‘mainnya kurang jauh’, karena ke dunianyata perilaku begini tuh luas banget. Kalo 5W IH, film ini baru bahas ‘what’ dan ‘who’nya saja

  6. Nawat says:

    Mas gimana rasanya dihujat habis-habisan sama remaja abegeh di cinecrib? Wkwkw kan udah saya bilang, ini itu target nya remaja2 ABG apalagi bawa adaptasi wattpad dan fans buta angga-zahra (walau saya juga ngefans keduanya) . Sabar ya mas….

    • arya says:

      ahahaha iya gakpapa, reaksi mereka wajar sih namanya juga kesukaan mereka dihadapkan ke satu sudut pandang yang baru – kayak orang lagi nyantai di kamar gelap terus disenterin, ya ngamuklah silau xD
      lagian soal pelit nilai mah di blog sendiri ini aja aku udah sering diserang hahaha, so that’s cool lah, tapi aku harap penonton cinecrib mau ngecek ke review ini buat penjelasan yang lebih memuaskan, karena di video gak bisa kesebut semua. Karena wow, ngereview di video itu susah! hahaha

  7. irfan says:

    Well film ini sepertinya memang menggunakan koneksi zara-angga untuk memulai in the first place. zara as acha is cute (but unreasonably cute) dan angga as iqbal is stiff (also unreasonably stiff).
    kita ga tau sifat iqbal mana yg bikin acha smp segitunya, begitu pula kita ga tau kenapa iqbal bisa sekaku itu terhadap acha. karakter hampir semuanya one-layer aja ga sih mas. mau acha, iqbal, juna, ayah iqbal, ibu acha, even pak bambang wkwk kita bahkan ga tau pak bambang pulangnya gimana waktu helm apeknya dipinjem
    we need more dua garis biru or imperfect or pretty boys than this film or dilan or milea *cry*

    • arya says:

      say it louder! ahahaha
      harusnya, walau cerita untuk remaja sekalipun, film tuh punya goal yang lebih berbobot daripada sekadar tokohnya jadi dapat pacar.
      bener, di film ini semuanya tu satu lapis aja. Esensi plotnya cuma dari cewek pinter yang jomblo berubah menjadi cewek pinter yang punya pacar. Iqbal malah lebih parah lagi, dari cowok pintar berubah menjadi cowok pacar Acha. Respek dikitlah mestinya film indonesia ke remaja.

      • irfan says:

        yes setuju bgt mas. rasanya masih banyak film indonesia yg materi ceritanya tidak cukup respek terhadap penonton, dalam rentang usia berapa pun.
        iqbal actually a good guy with principal, tp kaku dalam menyampaikan sesuatu. yes acha sudah berhasil melubangi “batu” iqbal, make him less good of a person pada akhirnya. kalo pun iqbal menjadi jujur ke ayahnya bahwa dia tidak suka sains, rasanya terlalu dangkal kl kemudian alasannya adalah krn sudah menemukan orang yg “sempurna”.
        film ini berhasil kok dalam “be the best or be nothing at all”. well, aku yakin kita satu suara mas kl ini jelas not the best.

        • arya says:

          Lagipula agak gak klop juga; kalo ternyata Iqbal (dan Acha) gak suka sains, kenapa film malah menjadikan kemenangan di olimpiade itu sebagai stake? Kenapa kita mesti peduli mereka menang atau tidak, kenapa Iqbal nangis beneran pas dikabarin gak lolos sama prank-nya pak guru. Padahal mestinya biar logis, Iqbal lega dong kalah, bebannya lepas.. malah mungkin mestinya dia ‘ngelawan’ sang ayah dengan sengaja kalah olimpiade, karena dia gak berani ngomong langsung ke si ayah bahwa dia gak suka sains dan gak mau beasiswa.
          Jadi, menurutku karakter Iqbal dan konflik passion-vs-parenting ini jadi terdangkalkan oleh goal film yang terlampau datar, yakni membuat pacaran sebagai reward. Padahal, goal reward yang cocok mestinya adalah respek; Acha yang agresif dan Iqbal yang gak berani ngomong; sejatinya yang mereka butuhkan adalah menghormati diri/keinginan sendiri.

  8. Miyanov says:

    Jd penasaran standar ap aj yg dpake buat milih wattpad yg bakal diadaptasi. Keknya temanya sejenis gini mulu haha.
    Anw, sebagai yg slama ini silent reader doang mau ucapin makasih udh bkin ulasan yg selalu detail. Saya yg lagi belajar nulis novel jadiin review film dsini buat perbandingan dn menghindari kesalahan2nya. Kn walau medianya beda, novel dn film sama2 story telling.
    Sampe.kadang mikirny gini : Kalo dtulis gini, kritik dr mydirtsheet kira2 apa y? Hahaha

    • arya says:

      standar sepertinya bisa gampang kita tebak: yang laku! ahahaha… makanya temanya itu-itu saja, soalnya satu laku, pasti yang lain ngikut karena lebih ‘aman’
      Wah terimakasiih, semoga bisa jadi bahan perbandingan dengan baik.. iya, aku pernah baca di teori penulisan skenario dari Field, untuk memperdalam satu tokoh utama film itu malah sebaiknya kita nulisin/karang dulu background dia siapa, apa kesukaannya, apa ketakutannya, cerita hidupnya sebelum cerita di film dimulai — istilahnya bikin ‘novel’ tentang si tokoh dulu.. supaya penulis naskah paham motivasi dan segala macam ketika naskah ditulis sehingga seolah si tokoh itu, tindakan dan pilihannya, yang balik bicara kepada si penulis. Film Indonesia kayaknya jarang yang nulis film sampe segitunya hahaha, makanya kebanyakan film ‘suara’ tokoh-tokohnya kerasa sama aja.
      Hahaha, sukses yaa belajar novelnya, kalo udah jadi satu buku, jangan sungkan kabarin, biar bisa aku beli 😀

    • Abdi_Khaliq says:

      Kalau standar cerita di wattpad buat diadaptasi ke film tuh cuman satu… jumlah pembacanya harus jutaan, makin banyak yang baca makin besar kesempatan menang, nggak peduli seancur apapun ceritanya yang penting bisa jadi uang… uang… dan uang!! Hahahahaha…
      Padahal kalo dipikir pake logika manusia sehat… “Yaeyalah jutaan pembaca, secara dari cerita gratisan wattpad!” Saya berani jamin cerita-cerita Penulis wattpad yang dibaca jutaan pembaca nggak bakalan lolos apalagi laku kalo langsung dikirim ke editor penerbit buku professional!!
      Buku-buku karya Penulis Professional macam Habiburrahman El-Shirazy, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Dee Lestari, Tere Liye, Asma Nadia dkk, jarang banget kok bisa terjual sampai jutaan copy, kenapa? Karena karya mereka tuh berkelas dan nggak gratisan!! Karya-karya mereka banyak dipuji pembaca di Goodreads, sangat berbanding terbalik dengan buku-buka hasil adaptasi wattpad yang dibaca berjuta-juta orang (di wattpad aka gratisan) tapi malah dihina di Goodreads!! Kan miris!!

      • arya says:

        wahahaha menarik nih logikanya, “wattpad bisa jutaan pembaca, karena gratis”, ya bener sih, dan sekarang memang bikin buku atau film itu jalurnya banyak. Kalo dulu kan relatif lebih dikit, dan susah; orang harus punya karya yang bener dulu baru bisa dilirik penerbit atau produser. Kini ada alternatif; ada viewer/fans/massa. Tentu saja sah-sah aja, toh gak gampang bikin sesuatu yang bisa konek ke banyak orang, tapiiii kalo urusan jumlah ini banyak cara meraih nya yang gak sebanding kualitas; kayak gratisan tadi.. jangankan jumlah viewer, jumlah penonton aja gampang dimanipulasi… Lama-lama urusannya di perfilman bakal jadi persaingan promosi, bukanlagi persaingan quality

      • Abdi_Khaliq says:

        Nggak heran sih bang cerita wattpad dibaca jutaan orang, selain gratis, 90% usernya juga ABG-ABG LABIL semua, selera mereka gampang banget ditebak, kalau romance biasanya si karakter cowok harus bad boy, jaim, jutek, cuek, sok keren, pendiam, kalau ketemu karakter cewek sering-seringlah berantem, terus ujung-ujungnya jadian dan happy ending!
        Nah kalau horror beda lagi, bikinlah karakter utama indigo, bisa melihat hantu, sering dibully, mati suri, berteman dengan hantu, background hantu mati penasaran, karakter antagonis satu dimensi yang membenci karakter utama tanpa alasan jelas ( bisa karena dianggap aneh, sok kecantikan, rebutan pacar), terus yang akhirnya antagonis kena batunya! DONE! Selamat satu juta pembaca!! Hahahahahaha…. #kidding

        • arya says:

          kalo twist si tokoh sebenarnya sudah mati dan sekarang sudah jadi hantu, itu termasuk resep horor laku juga gak? ahahaha kayaknya sering juga nemu begini xD
          Nah iya itu, makanya sebenarnya secara objektif sebagai suatu karya, kita bisa melihat Mariposa ini di genre drama remaja memang gak jauh dari sebagai ekivalen horor geje di genre horor remaja.. soalnya toh sudah ada drama remaja yang lebih berbobot kayak Booksmart atau Terlalu Tampan aja deh, itu receh juga tapi berisi. Makanya penontonnya sedikit ahahaha…

      • Abdi_Khaliq says:

        Wah kalo twist karakter utama ternyata sudah mati sepanjang film sih saya belum dengar tuh… BUKKK…. (Dilempar batu sama fans The Others dan The sixth sense) HAHAHAHA
        Ehemm…. Ditengah-tengah hinaan fans Cinecrib ternyata Bang Arya punya beberapa fans berat juga yang berani membela Mydirtsheet! Hahahaha
        Sumpah saya ngakak baca komenan Penonton Indonesia yang langsung keluar sifat asli bar-barnya saat baru bertemu The Real Kritukus FIlm! Hahahahaha

        • arya says:

          ahaha terimakasihlah buat kalian-kalian yang meluangkan waktu meladeni komenan viewers
          reaksi mereka wajar sih sebetulnya, adikku sendiri aja kalo seleranya dikasih liat ada yang salah biasanya langsung ngamuk sumpah serapah pake acara jambak-jambak segala xD

      • Abdi_Khaliq says:

        Mari kita semua berdoa’! Semoga saja Wattpad dapat segera membangun bioskop-bioskop gratis di seluruh Indonesia, biar jumlah penonton film-film adaptasi Wattpad bisa sebanding dengan jumlah pembaca buku yang mampu maraup puluhan juta remaja!!! Hahahahahaha

        • arya says:

          semoga wattpad jeli dan bikin platform kayak netflix gitu, tapi khusus film-film dari cerita original mereka.. supaya film-film ini gak langsung mencemari bioskop ahahaha

    • bodong says:

      Gw masih menunggu My Ice Girl atau My Ice Boy buat difilmin. Ini ada mystery nya gitu, gak bucin doang. Tapi, harus ada modifikasi biar parts2 bagusnya aja yg dimasukin.

  9. Aaron says:

    gak minat nonton nih film karena materi ceritanya semacam downgrade dari Dua Garis Biru, buat anak SMP atau awal SMA mungkin akan memikat. Agak unfortunate cast berbakat disuguhkan materi yang lemah

    • arya says:

      Aku terutama memang menyayangkan castnya, kasian kalo mereka ntar ‘terjebak’ di peran-peran kayak gitu terus. Ntar film-film makai mereka karena ngeliat lakunya gimana, gitu. Padahal si Zara itu awalnya udah bagus, dapat peran yang rangenya luas di Cemara ama Garis Biru

  10. Raditya Dika says:

    Berkembangnya film-film seperti ini karena banyaknya penulis yang memberi sampah untuk konsumsi generasi muda, sehingga sudah terbiasa makan sampah. Jadi, ketika ada penulis yang menulis kisah bagus, ya mereka akan katakan jelek. (SAya rindu akan cerita cinta yang mendidik) Saya pernah membaca salah satu karya penulis generasi 90, pak Adul Rachman, dia menulis kisah mirip seperti Marposa, tapi lebih menonjolkan rasionalisme dan karakter enggak cuma 2D. MC cowok begundal, enggak punya tujuan hidup. Namun ketika ibunya sakit dan berharap anaknya bisa lulus dengan baik dan menjadi orang sukses, di situ dia punya tujuan hidup. MC cewek, seorang penulis Wattpad yang kebingungan karena dia menulis cerita bagus, tapi enggak pernah banyak yang baca. Hingga dia memutuskan ingin berhenti, tapi karena mendapat inspirasi dari perubahan si cowok nakal di sekolah, dia merasa tergugah untuk meneruskan tulisan. Si cowok meminta bantuan si cewek untuk menjadi pintar dan itu plot yang berkembang. (Enggak akan saya tulis semua, ini saja sudah spoiler) Dari pada cuma suka, karena apa? Ganteng, cantik, baah … terus tujuan si tokoh cuma cinta, enggak ada taruhan apa pun jika mereka gagal. Dan itu merusak generasi kita. Ingat, membentuk generasi dengan tulisan.

    • arya says:

      Kurang lapisan, setuju itulah kelemahan cerita-cerita remaja kita sekarang, sehingga bener – jadi gak ada taruhan. Seperti Mariposa ini contohnya, memangnya kenapa kalo Acha gagal jadi pacar Iqbal; kenapa Acha harus punya pacar Iqbal. Ini gak digali oleh film. Film hanya nunjukin yang satu batu, sehingga yang satu jadi begitu penasaran dan terus mengejar-ngejar. Kita gak bisa peduli sama motivasi semacam ini. Coba kalo diberikan bobot sedikit, seperti cerita Pak Abdul yang mas contohkan, maka akan ada nilai lebih yang membuat penonton berpikir dan merasa.
      Maka tentu saja cerita-cerita yang hanya menjual cantik, ganteng, baper, manja, lucu akan selalu kalah mutu nilainya dibanding cerita-cerita yang menggali tokoh-tokoh lebih dari sekadar itu semata

  11. Lisya says:

    Wow…. Banyak yg bilang film ini bagus, keren, baper, dll yang berpotensi mengarah pada pujian dan kekaguman. Nggak salah juga. Sedikit yang mengkritik dan mengulik sedalam ini. Benar juga untuk melihat dari sisi nyata dan lebih memahami bahwa realita nggak akan bekerja semulus drama. Mungkin, plot yang disajikan terkesan tak terduga dan tak memaksa. Tapi, kalau kita paham tentang realita yang ada, bener2 nggak akan setuju dengan ceritanya. For the first time aku menemukan yang sefrekuensi dengan apa yang aku pikirkan dan ingin ungkapkan.
    Bner2 keren banget untuk tulisan ini, sangat mewakili aku….

    • arya says:

      Terima kasih sudah membaca dan memahami.
      Iya, ceritanya jadi terkesan dibuat-buat karena Mariposa ini kurang/tidak punya satu lapisan yang membentuk konteks ‘kenapa seorang cewek bisa demikian sukanya sama cowok’
      Sebagai pembanding, kamu bisa nonton anime A Whisker Away yang ada di Netflix. Tokohnya sama persis kayak Mariposa, ada cewek yang ngejar-ngejar cowok ‘sok dingin’. Mungkin karena anime jadi bisa lebih luwes dengan elemen fantasi manusia bisa berubah jadi kucing, tapi yang jelas elemen fantasi yang dipunya film itu jadi lapisan excuse kenapa cewek itu bisa naksir berat, dan semua karakterisasi jadi terangkum semua dan justru membuat tokoh manusianya semakin manusia. Jauh lebih manusiawi daripada manusia di Mariposa.

Leave a Reply