Tags

, , , , , , , , , , ,

“Your feelings so are important to write down, to capture, and to remember”

 

 

 

Menyimpan dan menulis di buku harian adalah seni yang hilang. Semenjak era digital, orang lebih suka curhat di sosial media karena bisa langsung mendapat tanggapan. Kenapa pula harus memendam sendiri jika bisa dikatakan secara anonim dan mendapat feedback dengan segera, kan. Ini juga seiring dengan menurunnya minat menulis karena sekarang apa-apa dapat tersampaikan lewat foto. Gambar, gif, meme. Emoji. Padahal ada sesuatu yang tidak benar-benar bisa ditangkap oleh visual, ada sesuatu yang tidak pernah bisa kita bagi sepenuhnya kepada orang. Yakni perasaan terjujur yang kita rasakan di satu momen tertentu. Hidup penuh bukan saja oleh kenangan besar, tetapi juga oleh hal-hal kecil yang seringkali kita lupa. Menuliskannya ke atas kertas, setelah kita mengalami semua itu, kemudian membacanya di kemudian hari akan terasa seperti mengalami sekali lagi; kenangan, detil-detil kecil, penggalan dari diri kita sendiri.

Film musikal anak-anak Buku Harianku akan memperlihatkan kepada generasi muda, dan kepada kita yang sempat lupa, bahwasanya menyimpan jurnal pribadi dapat menghantarkan banyak pengalaman manis dan sangat membantu mengingatkan kembali siapa diri kita sebenarnya. 

 

Buku harian itu, Kila punya satu. Ke mana lagi tempat gadis cilik itu mengadu kalo lagi dimarahin mama. Seperti kali ini, mama menunda liburan mereka ke Bali, karena harus membereskan kerja dahulu di Sukabumi. Kila dititipkan di rumah Kakek. Ugh. Meski sama-sama tentara, Kakek Prapto ini jauh berbeda dengan mendiang ayah Kila yang lembut. Kakek galak, suka maksa Kila makan sayur. Kila enggak tahu aja, sang kakek juga menyimpan satu buku harian. Kila juga enggak menduga di desa kecil itu dia mendapat teman, Rintik, yang malu bergaul lantaran disability yang membuatnya tidak dapat berbicara. Keceriaan Kila bertemu dengan ketulusan Rintik, dan bersama teman-teman lain, mereka berusaha mencegah peternakan Kakek jatuh ke tangan pebisnis licik yang berniat mengubah seantero desa menjadi kompleks vila.

untung buku harian Kila bukan punya si Tom Riddle

 

Film ini cukup membuat aku terkesan, karena coba deh baca lagi sinopsisnya. Ada banyak hal yang dibahas oleh film ini. Sementara biasanya, film anak-anak terutama untuk yang seusia Kila akan dibuat sederhana dalam artian masalahnya hanya satu, gak banyak-banyak. I mean, film remaja aja kadang berpuas dengan satu layer kok (lirik Mariposa) Buku Harianku ini surprisingly padet. Menonton ini kerasa sekali sutradara Angling Sagaran seperti pelan-pelan merajut satu pokok permasalahan ke pokok lain supaya mereka saling bertautan tanpa memberantakkan seantero film. Cerita bergerak maju cukup anggun dari elemen fish-out-of-water (Kila yang anak kota beradaptasi dengan kehidupan desa) ke permasalahan anak kecil yang enggak mau makan sayur, dan berjingkat terus ke permasalahan yang lebih dewasa, bahkan hingga menyebut soal penyakit Alzheimer segala. Selain melalui Kakek yang Alzheimer ringan ini, film memasukkan cerita dengan perspektif yang lebih dewasa lewat permasalahan orangtua seperti ibu Rintik yang harus menyingkapi kondisi anaknya.

Sebagian besar tokoh pendukung punya relasi yang menyumbang bobot bagi karakter Kila. Hampir susah untuk ngepinpoint ini cerita tentang apa. Film bicara tentang hubungan Kila dengan ayahnya; Kila memegang teguh pesan sang ayah untuk terus berani membela yang benar. Juga bicara tentang Kila dengan ibunya; tokoh utama kita ini adalah anak baik yang sayang banget ama orangtuanya, ada satu momen di menjelang akhir yang menunjukkan betapa manisnya ikatan ibu dan anak ini. Hubungan Kila dengan Rintik juga jadi salah satu pilar cerita karena ini membahas persahabatan dengan disabilitas yang tentu saja memberikan teladan yang baik bagi semua penonton, untuk tidak mengucilkan, tidak mempersulit mereka. Film tidak berpaling dari memperlihatkan salah-perlakuan yang mungkin kita lakukan dan meng-encourage penonton untuk berani meminta maaf seperti yang dilakukan oleh Kila. Petualangan dan persahabatan Kila dengan Rintik akan terasa begitu hangat dan menyenangkan. Kedua pemain tampak genuinely saling menyayangi. Widuri Puteri mendapat kesempatan untuk mengasah bakat naturalnya dengan menjawab tantangan memainkan karakter tunawicara dengan penampilan yang adorable. Kila Putri Alam yang meskipun tampak seolah bermain menjadi dirinya sendiri berhasil membuktikan keluwesan aktingnya. Dia tidak terkesan mendapat posisi ini hanya karena dia bisa bernyanyi. Kila beradu peran dan emosi dengan banyak aktor yang lebih berpengalaman. Salah satunya adalah dengan aktor senior Slamet Rahardjo.

Pusat cerita ini, however, adalah hubungan Kila dengan Kakek. Film took an extra mile untuk memperlihatkan dua tokoh ini berlawanan. Si Kakek bahkan dibuat seperti karakter bersifat grumpy dan menyebut anak kecil itu merepotkan, meskipun tidak pernah sepenuhnya sifat seperti ini muncul dalam sepanjang sisa durasi. Tapi mereka berlawanan justru karena punya banyak kesamaan. Sikap keras hatinya, dan ya itu tadi, sama-sama menyimpan buku diari. Ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh film ini ketika memperlihatkan Kakek mengenang masa lalu lewat diari tentang anaknya, dan hubungannya dengan sikap Kakek-Kila yang saling belum terbuka. Bagian terbaik dari film ini adalah babak ketiga ketika cerita mulai membuka untaian antara Kila dan Kakek. Di menit-menit terakhir juga buku harian yang menjadi judul baru benar-benar menunjukkan weight-nya kepada cerita. Dan adegan musikal Kila dengan Kakek; itulah puncak rasa yang diberikan film kepada kita. Adegan nyanyi dengan rentang feeling yang luas.

Hidup adalah cerita masing-masing yang ditulis hari demi hari, dan momen-momen ketika kita membaca kembali lembar-lembar kenangan itulah pembelajaran yang bakal mengingatkan siapa sebenarnya diri kita. Maka dari itulah, menyimpan diari bisa disebut sebagai semedi personal. Cara kita berinteraksi kembali dengan our genuine feelings, seperti yang terjadi pada Kakek Prapto – ataupun sebagai cerminan our true self kepada orang lain, seperti yang terjadi pada Kila dan ibunya.

 

Saat ngomongin nyanyian dan film anak-anak dalam satu napas, yang terpikirkan otomatis adalah film Disney. Disney selalu berhasil menyuguhkan adegan nyanyi yang deep-in-the-feel, yang menyatu mulus dengan keseluruhan filmnya. Yang membuat Disney mampu mencapai level klasik seperti demikian bukan hanya karena lirik lagu film-filmnya dan komposisi musiknya magis atau irama dan performancenya catchy, melainkan juga karena treatment dan penempatan adegan-adegan lagu itu sendiri. Pada saat momen-momen perasaan paling krusial terjadi di ceritalah, maka tokohnya bernyanyi. Adegan musikal atau nyanyian dijadikan sebagai cara yang menakjubkan untuk memperkenalkan kita kepada karakter dan perasaannya saat itu. Princess yang menyanyikan desire terdalam mereka. Juga, antagonis yang mendendangkan motivasi mereka. Setiap film musikal lantas menggunakan formula ini; menggunakan nyanyian di berbagai momen sehingga punya nada yang bervariasi, ada senang, sedih, marah, rindu, triumph; sesuai dengan perkembangan karakter.

Lagu-lagu pada Buku Harianku, sekitar 11-12 kalo gak salah, benar-benar mengemulasi perasaan Kila saat mengalami berbagai peristiwa sebagai anak-anak. Dia bernyanyi ketika gak mau disuruh makan, ketika kedinginan baru bangun, saat dia bermain bersama teman-teman. Semuanya menyenangkan. Namun selain adegan nyanyi terakhir bersama Kakek, lagu-lagu di film ini sejatinya hanya muncul untuk suka ria anak-anak. Tidak ada momen seperti Sherina bernyanyi sedih gak mau pindah sekolah di Petualangan Sherina (2000). Untuk mengenang ayahnya, Kila menyanyikan lagu tentang Burung Parkit. Ombang-ambing emosi tokoh ini tidak disampaikan lewat musikal yang penyebarannya sedikit kurang merata. Di bagian tengah ada cukup lama adegan-nyanyi absen. Dan ketika muncul, it was lagu belajar bahasa isyarat yang dicut berselingan dengan lagu dari antagonis…,

konsep yang unik, tetapi – selain kata-kata pada dua lirik itu enak di-matchcut-in – why?

 

Dengan sebagian besar lagu nadanya senang (hampir seperti film punya materi lagu dahulu, barulah kemudian berusaha memasukkan semuanya ke dalam cerita), film ini memang seperti tampak kurang berani menghadapkan atau membebani tokoh anak-anak pada emosi yang lebih tidak-ceria. Bagian emosional seperti demikian diserahkan kepada tokoh dewasa. Meskipun sering dimarahi, ada adegan nyasar di hutan malam hari, dan ada orang-jahat pada cerita, namun Kila tidak pernah benar-benar berada dalam ‘bahaya’ atau posisi yang down. Ini adalah pilihan yang diambil oleh film, tentu saja, akan tetapi sebaiknya mereka juga mempertimbangkan anak-anak mampu kok dihadapkan pada situasi yang serius.

Bahasan ini membawa kita kepada elemen film yang paling lemah, yaitu si komplotan ‘penjahat’, si bisnisman penipu. Cerita butuh figur untuk pembuktian Kila dalam berani membela kebenaran. Hanya saja tokoh antagonis ini dibuat komikal, dan pembahasan serta penyelesaian konfliknya tidak benar-benar berkesan. Terlebih karena formula lumrah dan begitu banyak elemen cerita pada film ini. Sehingga meskipun keberadaannya diperlukan, kita merasa lebih baik elemen penjahat tanah ini ditiadakan supaya cerita bisa lebih fokus kepada elemen lain. Misalnya, elemen persembahan tari kupu-kupu bersama Rintik dan teman-teman di Tujuhbelasan. Momen penampilan mereka itu sangat manis, tapi hadir seujug-ujug. Tidak ada penyebutan mengenai acara dan rasanya sayang aja tidak ada lebih banyak adegan yang menunjukkan interaksi antaranak-anak ini.

 

 

Anak-anak Indonesia dapat satu lagi teman baru. Kila lahir sebagai tokoh yang sangat mewakili mereka, baik, meski sedikit bandel, pinter, senang berteman, berani. Dia juga cukup unik, memberinya kekhususan – yakni pose berpikir – yang sekiranya jadi ciri khas dan ditiru juga oleh anak-anak. Film ini benar-benar memperlihatkan dunia berjalan dari sudut pandang anak, dengan konflik di sekitar mereka, yang mereka kenali dan beberapa yang mereka pahami secara emosi. Ada sejumlah pemeranan yang bagus di sini. Musik dan nyanyian yang ceria juga bakal mengisi hubungan hangat antarkarakter. Nada film ini hanya sedikit bablas menjadi komikal ketika menangani tokoh penjahatnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for BUKU HARIANKU.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian punya pengalaman seru mengenai buku harian?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.