Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Marriage can either be a classroom where people become wiser and better, or a prison where people become resentful; and bitter.”

 

 

 

Dalam semangat #DiRumahAja, Vivarium karya sutradara Lorcan Finnegan memperlihatkan kepada kita betapa terkurung di dalam rumah itu dapat menjadi hal yang mengerikan. Horor bekerja terbaik saat melukis kiasan rumah tangga dan keluarga layaknya penjara bagi pasangan yang belum siap seutuhnya. Film ini seolah bilang “Masukilah pernikahan dan tinggalkan harapanmu selamanya.”

Gemma hanya mau sebuah rumah. Sebagai naungan buat keluarganya di masa depan. Maka wanita yang bekerja sebagai guru TK ini pergi melihat-lihat ke agen perumahan bersama sang pacar, Tom. Diantar oleh realtor creepy bernama Martin, pasangan muda ini berkendara ke kompleks perumahan bernama Yonder. Perumahan ini masih baru, rumah-rumahnya yang sederhana namun nyaman berbaris rapi di sepanjang jalan perumahan. Semua seragam, sama-sama dicat hijau, sama-sama bersih. Sama-sama kosong. Gemma dan Tom diajak masuk ke rumah nomor sembilan. Namun di tengah-tengah presentasi open-house itu, Martin menghilang. Gemma dan Tom ditinggalkan berdua. Keadaan semakin mengerikan tatkala Gemma dan Tom tidak bisa menemukan jalan keluar dari kompleks tersebut; mereka tetap balik ke depan rumah nomor sembilan. Mereka seperti dipaksa untuk tinggal di sana. Setiap hari mereka mendapat kiriman kardus entah dari siapa. Kardus-kardus tersebut berisi makanan, minuman, dan keperluan sehari-hari. Salah satu di antaranya berisi bayi. Gemma dan Tom, yang menikah aja belum, disuruh membesarkan anak tersebut dengan dijanjikan kebebasan. Tapi anak itu bukan anak biasa. Ia tumbuh besar lebih cepat daripada bocah normal. Dia suka ngulang omongan orang. Dia creepy kayak si Martin. Dan tunggu deh ampe ngambek, dia bakal teriak nyaring sekali kayak suara ketel air saat sudah mendidih!

kalo dikasih makanan setiap hari sih, semuanya juga mau dikarantina

 

Vivarium seutuhnya adalah sebuah metafora kehidupan berumah tangga pasangan modern. Metafora yang begitu in-the-face, kalo boleh dibilang. Kita bisa menarik garis paralel itu dari visual dan dialog yang diucapkan oleh para tokoh. Mereka yang ‘dipaksa’ tinggal di rumah itu adalah perlambangan sebuah komitmen; sebuah ikatan. Kemudian datang anak, secara tiba-tiba, ini tak lain adalah gambaran ‘momok’ yang menimpa pasangan muda yang belum berencana punya anak, setidaknya tidak secepat itu. Gemma dan Tom lantas mendevelop sikap baru yang berkembang atas reaksi mereka yang berbeda tentang keadaan ini. Menyaksikan mereka akan membuat kita terlibat tanya jawab dengan kepala sendiri. Mendiskusikan langkah terbaik yang mestinya diambil oleh para tokoh, ataupun membandingkannya dengan langkah yang kita ambil bila itu semua terjadi kepada kita. Sering juga kita menemukan komedi dalam gambaran pada film ini – yang kupikir ini timbul bagi penonton yang sudah beneran berkeluarga sehingga lebih gampang menemukan kelucuan sebab merasa terwakili atau lebih relate.

Tom, tentu saja adalah seorang ayah, dia jadi gak betah di rumah, maunya bekerja demi kelangsungan hidup. Dan film ini memberikan ‘kerjaan’ yang begitu mengena maknanya; yakni kerjaan menggali lubang jalan keluar dari kompleks yang basically seperti menggali liang kubur sendiri. Jesse Eisenberg memainkan peran yang lebih serius di sini, dengan range yang cukup luas mulai dari ramah hingga ke hampir-hampir seperti orang ilang akal dan terlalu fokus kepada apa yang dikerjakannya. Sebaliknya, Gemma yang diperankan oleh Imogen Poots tumbuh naluri keibuannya. Ini juga bukan peran yang enteng. Walaupun si bocah bukan anak dari rahimnya, tapi ia merasa ingin melindunginya. Mengajarkannya berbagai hal. Kemisteriusan sang anak adalah sesuatu yang harus ia pecahkan, meskipun beberapa kali perangai si anak membuatnya kesal dan berteriak bersikukuh dengan “Aku bukan ibumu!”

Ada momen-momen manis saat Gemma bonding dengan si anak. Persis saat dia seperti akan berhasil mengubah makhluk aneh tersebut menjadi nyaris-manusiawi – si anak bisa menari dan mempertanyakan mimpi, film menaikkan tensi dengan membuat si anak mulai ‘bersekolah’. Ia menghilang entah ke mana beberapa jam setiap hari (Gemma pernah coba mencari tapi malah nyasar hihihi) dan pulang ke rumah membawa buku bertulisan bahasa alien. Ini seperti cara film menyampaikan bahwa orangtua tidak bisa sepenuhnya mengenali anak. Bahwa anak akan selalu di luar jangkauan, dan akan ada masanya mereka melakukan sesuatu yang either tidak akan bisa dimengerti atau tidak cocok dengan ‘selera’ orangtua. Film ini memang membahas parenting pada sisinya yang gelap seperti demikian. Vivarium sendiri, secara harafiah berarti tempat penangkaran atau tempat pemeliharan hewan dengan tujuan penelitian. Nah film ini secara literal pun persis seperti itu; Gemma dan Tom ‘ditangkap’ oleh semacam alien yang mengatur segala kegiatan mereka. Ditempatkan dalam semacam simulasi berkeluarga. Kita ada di posisi alien, menyaksikan perilaku mereka, mengamati bagaimana sebenarnya sebuah komitmen hidup bersama berdampak kepada dua orang saat keadaan tersebut benar-benar dipaksakan kepada mereka.

Mengaitkan dengan pekerjaan Gemma sebagai guru yang mengajar anak-anak orang lain dan masih bisa berbahagia karenanya, maka pernikahan benarlah bisa menjadi seperti berada di dalam ruang kelas. Membuat orang yang berada di dalamnya menjadi lebih pintar, lebih dewasa, lebih bijak. Namun sekaligus pernikahan dapat terasa seperti penjara, terlebih jika berpikir semua yang kita berikan di dalamnya hanya akan berhenti di sana.

 

Impian punya keluarga sempurna, dengan rumah yang hangat dan aman, lingkungan yang bersih tentram, bukan tidak mungkin memang cuma sebuah mimpi di siang bolong belaka jika sebenarnya kita belum siap untuk berumah tangga. Dalam film ini, kesempurnaan adalah palsu. Kompleks perumahan Yonder begitu mulus, awannya seragam berbentuk perfect seperti bentuk… awan. Tidak ada angin. Tidak ada suara. Namun dua penghuninya jauh dari merasa damai tinggal di sana. Gemma dan Tom malah diperlihatkan lebih senang tidur di dalam mobil mereka, alih-alih di kamar yang bersih dan selalu rapi, karena di dalam mobil ada bau. Bau dunia nyata, kata Gemma. Itu adalah salah satu momen yang benar-benar kerasa dari tokoh ini. Sebab terkadang Poots memainkan Gemma seperti mengalami mood swing alih-alih geunine feeling. Yang memang cukup sesuai dengan tone film yang memang meniatkan sebuah mati-rasa. Menguatkan keartifisialan dari lingkungan ceritanya.

Harga rumah di kompleks ini kelihatan dari cat temboknya yang ijo

 

 

Kredit pembuka film ini sebenarnya sudah memberi tahu tema/gagasan yang menjadi landasan cerita Gemma. Kita melihat burung kedasih (cuckoo bird) yang merupakan burung parasit, meletakkan telur di sarang burung lain, dan setelah telur-telur menetas maka si anak kedasih akan mengenyahkan saingannya – ia mendorong jatuh anak si pemilik sarang, sehingga ia akan dibesarkan oleh si pemilik sarang. Persis seperti Gemma nanti, saat dia tetap membesarkan anak alien yang nyata-nyata creepy. Dalam lingkup gagasan parenting, ini adalah gambaran yang menarik. Tapi film tidak mengembangkan plot ke arah sini – ini bukan cerita yang membahas naluri seorang ibu membawa kebahagiaan bagi dirinya. Melainkan cerita yang didesain untuk memperlihatkan kungkungan dalam kehidupan rumah tangga. Maka, film mulai goyah dan semua pesannya jadi enggak jelas lagi kekuatannya. Metafora burung tersebut tidak benar-benar berarti karena toh memang bukan anaknya; Gemma berurusan dengan anak yang ia tidak punya tanggung jawab asli terhadapnya. Akan beda jika anak tersebut adalah anak kandungnya; yang kemudian diajarin oleh alien untuk melawan, misalnya.

Dengan jelas-jelas membuat Gemma berada di situasi yang memaksa untuk jadi ibu, dan membesarkan makhluk creepy yang bukan anaknya, metafora ke kengerian berumah tangga itu tidak lagi mengena. Film kehilangan relevansi gagasan. I mean, memangnya setiap anak yang bukan anak kandung akan jadi jahat – padahal sebelum ini kita sudah menyaksikan manisnya ikatan keluarga angkat lewat Instant Family (2019) Kita jadi bertanya apa yang sebenarnya pengen dicapai oleh film ini? Peringatan untuk tidak gegabah berkeluarga? Atau ini hanya persoalan beda perspektif – jika kita merasa terkekang maka rumah tangga dapat terasa lebih parah daripada penjara Azkaban? Namun sekali lagi, itu semua sesungguhnya tidak terwakili oleh cerita berupa dua orang yang dipaksa, dijebak sedari awal. Oleh makhluk menyeramkan pula.

 

 

 

Jadi pada akhirnya film ini hanya akan bekerja pada level permukaan, tentang dua orang yang diculik. Memang, ada beberapa momen yang diniatkan sebagai metafora rumah tangga, akan tetapi tidak sepenuhnya mewakili karena tidak semua pernikahan bermula dari paksaan dan ketidaksiapan. Film ini mungkin ingin jadi peringatan saja bahwa di dunia modern, kesempurnaan rumah tangga itu semuanya palsu. Tapi ia tidak memperlihatkan mana yang asli. Bagaimana dengan pernikahan yang sebenarnya. Dengan segala metafora bahwa pernikahan adalah perangkap, film ini sayangnya hadir cuma berat sebelah.  Gagasannya jadi terasa steril, karena cerita tidak benar-benar sensitif dan manusiawi.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VIVARIUM.

 

 

 

That’s all we have for now.

Terang aja mereka tertekan, wong mereka diculik dan dipaksa. Film ini bicara harapan kedua tokohnya hilang sejak pertama mereka masuk ke rumah tersebut, jika dibawa ke hidup rumah tangga seperti yang digagas film ini, menurut kalian harapan akan apa yang sebenarnya hilang dari pasangan begitu mereka tinggal satu rumah dan punya anak? Apakah setiap pernikahan benar-benar mengekang seperti ini?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.