Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Anger is one letter short of danger”

 

 

Menjadi remaja berarti menjadi marah. Nyaris sepanjang waktu. Dalam menit-menit awal action-horror Becky, duo sutradara Jonathan Millot dan Cary Murnion, memparalelkan dunia remaja di sekolah dengan dunia penjara lewat cut-cut adegan yang saling bertubrukan. Memperlihatkan kepada kita bahwa penghuni kedua dunia tersebut kurang lebih sama. Mereka merasa terkekang. Mereka ingin memberontak. And as luck have it, beberapa napi toh memang berhasil kabur, atas nama persaudaraan – kekeluargaan. Di sinilah kontras dihadirkan, sebab kita kemudian berkenalan dengan tokoh utama cerita; cewek 13 tahun yang marah justru karena merasa keluarganya berantakan.

Becky nama remaja tersebut. Sasaran amarah Becky tentu saja adalah ayahnya, yang menjemputnya ke sekolah hanya untuk pergi liburan ke vila mereka – bersama calon ibu baru alias pacar sang ayah! Urgh!! Padahal Becky masih kangen sama ibu yang meninggal karena kanker beberapa waktu yang lalu. Jadi setibanya di villa, Becky memisahkan diri. Bersama anjing kesayangannya, Becky mengasingkan diri ke ‘benteng’ rumah kayu di tengah hutan. Sementara itu, ayah dan calon ibu tiri Becky kedatangan tamu. Dominick bersama anak-anak buahnya. Mereka kabur dari penjara karena mencari sesuatu yang disimpan di ruang bawah tanah villa milik ayah Becky. Dan ketika mereka tidak menemukan yang dicari, things get ugly. Film Becky adalah Home Alone (1990), kalo film tersebut beratus kali lebih sadis dan berdarah. Anak-anak, anjing, orangtua; tidak ada yang luput, semua jadi korban. Bagaimana dengan Becky? Well, bisa dibilang Becky bukan saja menemukan sasaran marah yang baru, dia juga membangkitkan rage yang belum pernah ia sadar ada di dalam dirinya.

kalo anjing Becky bernama Diego dan Dora, maka bisa jadi kita adalah Boots-nya

 

 

Ini bukan pertama kalinya Millot dan Murnion menjungkirbalikkan trope pada genre horor/thriller. Tengok saja salah satu karya mereka sebelumnya, Cooties (2014) – sayangnya aku dulu ngereview ini Path jadi gak ada jejaknya di blog – yang membahas tentang zombie outbreak di sekolahan; dengan anak-anak sebagai zombienya! Millot dan Murnion gak ragu untuk memperlakukan anak-anak dengan kejam di sana, karena mereka sudah jadi monster dan kita takut kepada mereka. Ya, ‘takut kepada anak-anak’ sudah menjadi topik yang menarik sejak cult-classic Village of the Damned (1995) dengan tepat menyimbolkan bahwa anak-anak merupakan cerminan dari kegagalan/mimpi-mimpi broken/kepolosan yang hilang dari orang dewasa. Dalam film Becky ini, Millot dan Murnion nge-subvert dua hal sekaligus; menjadikan anak yang menakutkan itu sebagai protagonis, dalam sebuah revenge-story yang biasanya bertokohkan wanita dewasa.

As far as the violence goes, film ini hadir menghibur. Suguhan yang diberikan kepada kita adalah adegan berdarah-darah. Paling seru yang berhubungan dengan bola mata. Yum! Melihat Becky mengamuk, berayun turun dengan semacam flying fox untuk menusuk salah seorang penjahat dengan pensil warna dan garisan kayu, memberikan sensasi kelegaan tersendiri kepada kita. Bukan hanya karena violence semacam ini masih teritung fresh (kapan lagi lihat anak-anak jadi jagoan Mortal Kombat, walaupun itu dalam ‘dunia’ mereka sendiri), melainkan juga karena biasanya anak-anak dalam film seringkali berstatus sebagai korban. Adegan tersebut berada pada titik balik si Becky, selama ini dia disuruh untuk menahan amarahnya. Kita melihat dia tidak punya outlet yang sehat dalam menyalurkan emosi dan griefnya – certainly semarah-marahnya seorang anak toh ia tidak bisa memukul bapaknya sendiri. Namun sekarang, geng Dominick yang jahat memberikannya alasan untuk meluapkan kemarahan. Film ini juga cukup detail dalam memplot langkah Becky berikutnya. Anak ini tidak lantas jadi jago, aksi-aksi dia berikutnya diperlihatkan sebagai sesuatu yang spontan. Ada bagian ketika rencana/jebakan yang diset oleh Becky gak berjalan sebagaimana yang diharapkan, sehingga dia harus menyusun rencana dadakan – bergulat dengan rasa marah, ketakutan, dan sakit, lalu menyerang dengan sesuatu yang sangat liar. Kekerasan dalam film ini menghibur dalam level aksi yang bakal hadir tidak terprediksi.

Marah itu amat sangat dekat dengan bahaya. Menyimpannya enggak sehat buat kita. Melampiaskannya? Kita harus berhati-hati karena ada cara yang sehat dan ada yang tidak untuk menyalurkan amarah. Namun tentu saja sehat itu dapat menjadi subjektif. Normalnya, melampiaskan dengan cara yang sehat akan berarti menyalurkan ke dalam bidang seni. Tapi pada Becky, melampiaskan dengan brutal adalah hal yang menyehatkan untuk hubungannya dengan keluarga.

 

Memainkan tokoh seperti Becky ini bukan masalah bagi Lulu Wilson yang sedari usia muda susah mentackle peran-peran dalam genre horor. Aku suka aktingnya dalam Annabelle: Creation (2017) dan dia even better di Ouija: Origin of Evil (2016), Wilson mampu menguarkan aura creepy tanpa kehilangan hook untuk simpati. Aktingnya di Becky ini hampir-hampir overkill, dia terus mengenai note yang sama berulang-ulang. Sayangnya film kurang peka. Becky tidak diberikan kesempatan untuk berkembang lebih jauh. Revenge-story seperti film ini keberhasilannya bertumpu pada transformasi tokoh utama. Tokoh yang biasanya lembut, jadi garang. Tokoh yang biasanya sabar dan pemaaf, jadi tanpa belas asih. First-kill mereka selalu jadi poin yang penting, titik saat kita merasakan perubahan itu mulai mencuat. Lulu Wilson enggak diberikan kesempatan ini. Becky pretty much the same, ‘insane’ person. Sedari awal dia sudah begitu marah. Kita sudah dapat sense dia adalah bom waktu yang siap meledak. I mean, film bahkan udah menyamakan keadaan dia dengan keadaan napi di penjara, ingat? Sebagai alat untuk memperlihatkan Becky dalam keadaan manis, film menggunakan flashback ke masa-masa ia di rumah sakit bersama ibu. Hanya saja adegan tersebut lebih terasa seperti tempelan karena hanya disebar random tanpa benar-benar ada flow dalam journey karakter si Becky.

Penulisan film ini terlalu dangkal sehingga Jeff di sini bisa aja sama ama Jeff di serial Community

 

 

Padahal bisa saja Becky dikasih kesempatan untuk belajar soal lebih menghargai orangtua, khususnya, serta bagaimana membentuk dan dealing with ‘keluarga tiri’ so to speak dari anak buah Dominick yang bernama Apex (penggemar gulat akan mengenalinya sebagai Kurrgan dari stable The Oddities di awal-awal Attitude Era). Dari segi karakterisasi memang Apex yang berbadan kayak raksasa mini ini lebih kompleks dan menarik ketimbang Becky. Dia diangkat anak oleh Dominick, dia bersumpah setia, akan tetapi nurani mulai membebani dirinya – ia tidak tahan lagi menyakiti anak-anak. Ada sesuatu padanya yang bisa dikaitkan menarik dengan Becky. Namun film tidak membiarkan sang protagonis untuk keluar dari kubangan duka kematian ibu. Dari awal hingga akhir Becky hanya menunjukkan lapisan teen angst, entah itu dari ibu atau dari anjingnya. Lucunya, malah ayah Becky yang disuruh belajar satu dua hal dari Dominick mengenai raising a proper family. Pelajaran-hidup yang tidak berguna karena karakter ayah Becky ujung-ujungnya hanya sebagai body count.

Film ini tidak tepat sasaran secara emosional. Jika kita tidak disuruh memahami degradasi Becky melainkan merayakan keberingasannya, film seharusnya bermain di area dark-comedy, seperti Cooties. Dan memang sepertinya lebih cocok begitu, karena sukar bagi kita untuk mempercayai penjahat-penjahat ‘profesional’ bisa kalah sama remaja tiga-belas tahun yang outnumbered dan jelas kalah-pengalaman. Terutama ketika film mengharapkan kita untuk menganggap para penjahat sebagai threat yang berbahaya dan serius. Kevin James memainkan peran Dominick bukan tanpa sebab; dia ingin break out dari zona nyaman sebagai karakter komedi – seperti temannya, Adam Sandler yang dapat kesempatan itu di Uncut Gems (2020) – desain Dominick (nazi white supremacist yang percaya pada brotherhood) jelas bukan komedi melainkan penjahat serius dan dramatis. Mereka ini berbahaya tapi bisa kalah dengan mudah oleh Becky? Film bahkan menunjukkan kekalahan mereka dengan cukup remeh, enggak exactly Becky punya power atas mereka, mereka kalah karena keputusan bego mereka sendiri. Ini membuat film jadi gak make sense dan harusnya justru diberikan tone dark-komedi supaya bekerja.

Kita tidak pernah diberitahu apa sebenarnya motivasi Dominick; benda yang ia cari tidak pernah dijelaskan kegunaannya. Cerita film ini terbangun dengan sama kopongnya dengan arahan dan karakter. Becky seharusnya jadi horor tempat-tertutup yang menegangkan. Namun lokasi tidak pernah seperti jadi penghalang dan menekan tokoh utama. Alih-alih menguatkan kesan mereka terkurung, film justru membuat tempat tersebut seakan luas. Becky bisa beraksi dengan bebas, menghabisi satu penjahat, tanpa perlu takut ketauan penjahat lain, karena dia ada di pinggir danau yang who knows berapa jaraknya dari rumah. Hal ini membuat intensitas film jadi gak kuat. Suspens jadi terangkat karena kita menyaksikan adegan-adegan sebagai bagian yang saling terpisah – oh ini giliran si anu yang dihajar, oh ini giliran si ini. Seharusnya ada pemikiran yang lebih jauh dalam memanfaatkan set villa terpencil tersebut.

 

 

 

Sure, ada hiburan yang datang dari film ini. Blood-squirting, eyeball-popping; jelas ada penggemar film seperti ini. Apalagi tokohnya adalah remaja cewek, yang menghabisi pria dewasa kasar dan superrasis. Hanya saja ini adalah hiburan yang tanpa bobot. Dengan karakter satu-dimensi (remaja yang marah karena ibunya meninggal dan ayahnya mau kawin lagi), dan menjual kesadisan, film ini tak lebih dari sebagai tontonan gimmicky. Ia akan diingat sampai sajian yang serupa hadir, dan itu rentang waktunya gak akan lama. Karena film-film seperti ini toh memang banyak yang suka.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for BECKY.

 

 

 

That’s all we have for now.

Mengapa remaja marah setiap waktu? Bagaimana caramu menghadapi adik atau anak usia remaja yang kerjaannya uring-uringan?

 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.