Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

“Sometimes people come into your life for a moment, a day, or a lifetime”

 

 

 

Terjebak di lingkaran-waktu-yang-terus-berulang (infinite time loop), mengulangi hari yang sama – kejadian yang sama terus-menerus, maka seseorang itu harusnya introspeksi diri, kan? Harusnya menggunakan kesempatan kedua (atau kesekian kalinya) itu untuk memperbaiki setiap kesalahan yang sudah dilakukan supaya hidupnya bisa kembali lurus dan bermakna, kan?? Salah! Well, setidaknya enggak mesti begitu. Karena time-loop tersebut justru bisa saja digunakan untuk mengisi hari sesuka hati karena hidup ini toh semeaningless itu.

Begitulah cara Nyles (Andy Samberg mendapat kesempatan menggali sisi cuek dari persona komedi ‘main-main’nya) memaknai peristiwa terjebak di time-loop yang terjadi kepadanya. Entah sejak beberapa lama. Kini hidup Nyles cuma sebatas satu hari, di hotel tempat sahabat pacarnya menggelar pesta pernikahan. Setiap kali tertidur, Nyles akan terbangun di ranjang hotel pada hari yang sama. Setiap kali dia celaka, zaaappp! dia terbangun tanpa luka di ranjang tersebut. Kita bertemu dengan Nyles saat dia sudah enggak peduli lagi untuk mencari jalan keluar. Dia menikmati hidupnya yang tanpa komitmen dan nyaris tanpa konsekuensi, kecuali saat Roy (J.K. Simmons selalu jadi surprise yang bisa diandalkan) datang, memburunya untuk balas dendam. ‘Hidup nyaman’ Nyles tersebut mulai keganggu saat dalam salah satu skenario main-mainnya, Sarah (Cristin Milioti kocak sekali sebagai cewek sarkas yang penuh dark jokes) tertarik kepada Nyles dan mengikuti cowok itu masuk ke gua yang mereset waktu time-loop.

Kenapa ngikooottt??!!

 

Menit-menit awal film ini memang bisa bikin bingung, juga bakal banyak eksposisi sehingga sedikit boring. Namun begitu aturan-dunia cerita sudah terestablish – dan film keep it simpel – Palm Springs menjelma menjadi perjalanan yang menarik. Arahan Max Barbakow mengeksplorasi aspek-aspek segar dari trope ‘time-loop’ yang sudah banyak kita dapatkan pada film seperti ini sejak Groundhog Day (1993). Jiwa dan hati cerita ini terletak pada hubungan antara Nyles dengan Sarah, yang tentu saja jadi deket dan beneran akrab karena mereka terperangkap bersama. Film mengembangkan komedi dari kontras antara Nyles dan Sarah yang sangat berbeda dalam memandang banyak hal. Mulai dari Sarah yang meminta tanggungjawab udah keseret masuk, walaupun Nyles balik nuding ‘salah sendiri siapa suruh ikut, kan udah dilarang’. Hingga – setelah fase denial terlewati – ke perbedaan keduanya mengisi hari. Nyles dan Sarah akan berpetualang berdua, tapi mereka punya ide yang berlainan. Inilah yang membuat film ini menarik.

Dari hubungan keduanya kita mendapat banyak sekali adegan fun. Samberg dan Milioti seperti dilepas untuk berliar-liar ria. Diikat hanya oleh chemistry yang semakin menguat tatkala film rehat dari adegan-adegan kocak dan beralih ke perbincangan mendalam soal keberadaan manusia di dunia. Mereka debat, tapi gak sekadar teriak-teriak. Selalu ada yang baru dari pengadeganan dan perbicaraan mereka, sehingga asik sekali untuk disimak. Konflik Nyles dalam cerita ini sebenarnya adalah tentang ketakutan berkomitmen. Terjebak di time-loop disandingkan dengan terjebak melalui hari-hari yang sama saat kita sudah mengikrarkan komitmen. Maka Nyles lebih memilih untuk terjebak di time-loop karena di situ Nyles bisa bebas tanpa konsekuensi. Hari ini dia bisa salah kepada orang, besoknya orang tersebut sudah lupa dengan semua salah itu. Sementara bagi Sarah, mengetahui bahwa kita salah dan orang-orang gak tau itu semua, itulah kesalahan yang sebenarnya. Sarah butuh hidupnya menjadi benar, dia tidak mau lari dari komitmen.

Menjadi dewasa berarti harus siap menjalani hari-hari yang sama. Dengan tanggung jawab dan konsekuensi. Film ini mengajarkan kita untuk melihat hal-hal kecil untuk disyukuri karena hidup adalah bukan soal seberapa lama waktu yang kita habiskan dengan seseorang, atau dengan pekerjaan, atau dengan keadaan. Melainkan adalah soal apa yang kita lakukan terhadap waktu itu sendiri.

 

Salah satu perdebatan mereka yang menarik adalah soal menerima orang apa adanya. Nyles mengumpamakannya dengan memakan biskuit berlapis coklat. Hanya merasakan apa yang digigit, enggak usah memusingkan hal-hal selainnya. Sementara Sarah mengatakan kita perlu memikirkan coklatnya coklat apa, biskuitnya terbuat dari apa. Karena masalalu penting dalam pembentukan seseorang, karena rekam jejak eksistensi manusia adalah mereka melalui perubahan. Ironisnya, Nyles juga tidak kita ketahui asal-usulnya. Dan ini membuat kita susah untuk benar-benar peduli sama Nyles, padahal dia bertindak sebagai tokoh utama cerita.

Kejebak dalam loop itu enak, apa-apa tinggal lup!

 

 

Saat Nyles dan Sarah saling curhat tentang masa lalu, Sarah merahasiakan beberapa kejadian di dalam hidupnya, tapi paling tidak kita jadi lebih mengenal dirinya. Sedangkan Nyles, karena sudah lama sekali hidup di dalam loop, dia jadi lupa akan masa lalunya sendiri. Kita bahkan tidak pernah tahu kenapa Nyles bisa terjebak pada awalnya, apa karena dia nyasar ke gua? Film ini tidak peduli untuk membahas itu. Backstory Nyles yang disesumbarkan hanyalah ‘sejarah’ siapa aja yang pernah ia ‘pacarin’ selama terjebak, ranging from bartender ke ayah Sarah, tentu saja penekanan adegan ini adalah untuk menambah bumbu humor. Kita tidak pernah mengetahui dunia Nyles sebelum loop selain dia adalah cowok yang bosan dalam relationshipnya dengan pacar yang jauh lebih muda. Sehingga kita jadi susah peduli sama Nyles. Kita perlu tahu sepeerti apa kehidupannya dulu supaya tokohnya jadi punya bobot, supaya kita bisa peduli seperti yang kita lakukan terhadap Sarah. Seiring cerita berjalan, kehidupan personal Sarah sebelum masuk ke dalam loop diungkap, dan kita pun jadi semakin peduli. Konflik personal Sarah, beban karakternya jadi terasa nyata. Heck, bahkan si Roy yang memburu Nyles karena dendam saja berkesempatan untuk mendapat simpati kita, karena dia diberikan momen yang membuka backstory hidupnya. Nyles perlu digali lagi supaya kita melihat dia lebih dari sekadar nihilis yang kerjaannya main-main (baca: immature). Atau kalo enggak, mestinya sekalian bikin Sarah saja sebagai tokoh utama. Soalnya lagi, memang si Sarah ini yang banyak bikin keputusan; entah itu untuk mengisi hari, ataupun untuk keluar dari loop, arc Sarah clearly lebih emosional daripada arc Nyles.

Kita tidak bisa menyalahkan orang yang ikut masuk ke dalam hidup kita. Karena kita tidak bisa mengatur ataupun memilih siapa yang benar-benar peduli terhadap kita. Sebaliknya, justru jadi tugas kita untuk tidak bersikap egois dan balik-peduli kepada orang-orang yang sudah memilih untuk masuk ke dalam hidup kita.

 

 

Kita tidak benar-benar gereget dan mendukung Nyles untuk bisa kembali ke waktu normal, setidaknya tidak sebanyak gereget kita terhadap keberhasilan Sarah. Film mestinya bisa lebih menyeimbangkan tone, karena jika sudah menyangkut Nyles, cerita memang seperti bimbang untuk jadi lebih sedikit serius. Di sekitar Nyles film ini tampil dengan surealis yang konyol (dengan dinosaurus di latar belakang!), humor yang receh, dan kekerasan yang komikal. Dan bicara soal ‘kekerasan yang komikal’, aku masih belum bisa sepenuhnya akur sama jalan keluar yang diberikan oleh film kepada Nyles dan Sarah. Apakah film memang mengincar sesuatu yang dark dan gak pasti? Kedua tokoh ini praktisnya sama saja dengan bunuh diri untuk mengakhiri; either mengakhiri hidup atau mengakhiri loop. It’s one thing kalo sudah dilandaskan sedari awal sebagai komedi – seperti pada montase Sarah mencoba-coba kekuatan loop, tapi rasanya berbeda aja kalo tokohnya melakukan itu dengan konteks ‘langkah terakhir’ yang gak pasti.

 

 

Dengan cerdas menceritakan ulang trope time-loop, komedi romantis ini membuktikan kreativitas itu memang masih mungkin untuk terus digali. Menonton film ini rasanya mirip kayak nonton episode-episode Twilight Zone, yang karakternya selalu dihadapkan pada keadaan yang menantang pikiran-pikiran filosofis. Bedanya, film ini gak horor. Melainkan sangat kocak. Selain masalah kurang tergalinya tokoh utama, dan dia kalah emosional dengan tokoh pendukung, aku pikir film ini tetap termasuk dalam kategori tontonan yang enak untuk ditonton lagi. Dan lagi. Dan lagi. Dan lagi. Oh tidak, kita kena loop?
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PALM SPRINGS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Nyles menyalahkan karena tidak mengerti kenapa Sarah mau-maunya mengikuti dia masuk ke dalam gua. Menurut kalian, kenapa kadang kita bersikap seperti Nyles – yang takut ketika ada orang yang memilih masuk ke hidup kita?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA