Tags

, , , , , , , , , ,

“It isn’t really about becoming rich or famous; It is about things much simpler and more fundamental than that.”

 

 

 

‘American Dream’ bagi orang Amerika bukan sekadar angan-angan di siang bolong. Melainkan adalah harapan akan kehidupan yang lebih baik. Mimpi tersebut telah terwariskan dari generasi ke generasi. Para orangtua membanting tulang membuka peluang bagi anak-anaknya, dan anak-anak yang sukses tidak akan melupakan darimana mereka berasal. Semua itu dijamin oleh tanah Amerika yang menjanjikan kesempatan tak-terbatas yang sama untuk semua orang, tidak peduli siapapun mereka. Kesempatan yang tidak terbatas pada mencari kekayaan saja, tapi juga kebutuhan sosial seperti demokrasi dan kebebasan bersuara.

Gagasan atau konsep American Dream itu lantas dibawa oleh sutradara Brandon Trost (yang mengadaptasi cerita pendek bertajuk Sell Out) ke ranah komedi sebagai satir dirinya terhadap bagaimana American Dream kini di tengah-tengah bangkitnya budaya baru di negara tanah airnya.

Premis umum dari film ini adalah soal tua melawan muda. Aliran kuno melawan mentalitas kekinian yang katanya serba open-minded. Bahan utama komedinya adalah seorang buyut yang pekerja keras, giat untuk mengubah nasib dari penggali parit, pindah ke Amerika mencari sesuap nasi dan secuil kesempatan baru (dan seteguk air karbonasi) supaya anak cucunya bisa punya tanah sendiri dan jadi orang terpandang. Pretty much semua ayah (atau malah orangtua) berkeinginan seperti Herschel Greenbaum tersebut. Namun tidak semua ayah bisa seberuntung Herschel. Eh, beruntung atau sialkah namanya jika kau tak sengaja tercebur di gentong produksi acar/asinan dan ikut terawetkan bareng mentimun-mentimun? Yang jelas, itulah yang persisnya terjadi pada Herschel. Dia terbangun seratus tahun kemudian, dan bertemu dengan cicit entah lapis keberapanya, Ben Greenbaum. Herschel lantas menemukan bahwa di dunia yang sudah maju, American Dream-nya ternyata belum benar-benar terwujud. Malahan bisa saja gatot karena Ben sepertinya sudah jauh melenceng dari tradisi keluarga, hingga ke titik Herschel harus bersaing bisnis dengan keluarga satu-satunya tersebut.

“I’m Pickle Rick!!”

 

Memainkan lebih dari satu tokoh dalam sebuah film bisa jatoh antara dua hal; sulit karena membutuhkan jangkauan rentang akting yang luas, atau jadi penampilan yang konyol karena tidak jarang dua tokoh atau peran tersebut diniatkan sebagai komedi. Target An American Pickle boleh jadi pada film lucu-lucuan, akan tetapi penampilan akting Seth Rogen yang didaulat memainkan Herschel si immigran Yahudi sekaligus Ben, keturunan milenialnya, cukup kuat sehingga mampu membuat kita menoleh dua kali dan tidak meng-overlook-nya completely. Memang sih, oleh Rogen, Herschel dan Ben pembedanya paling utama adalah di janggut dan aksen. Kita tidak akan melihat Herschel sebagai tokoh yang berbeda dari kebanyakan peran Rogen sebelum ini, I mean, Rogen enggak menyelam sempurna menjadi tokoh baru. Kita masih melihat Herschel sebagai Seth Rogen berjanggut. Dan Ben sebagai Seth Rogen versi nerd – yang lebih ‘jinak’ alias less-high dan less-vulgar. Tapi, justru memang itulah poin dari cerita ini.

Herschel dan Ben deep inside adalah pribadi yang sama. Buah tak jauh jatuh dari pohonnya, kata pepatah. Bukan saja mereka sama-sama tergila sama air seltzer. Mereka mirip dalam banyak hal. Mulai dari busuk hatinya, hingga ke hal-hal baik, terutama soal cinta ama keluarga. An American Pickle berpondasi pada interaksi dua karakter ini. Dan dengan konflik yang bersumber dari dua orang yang belum saling mengenal tersebut, film ini sebenarnya adalah tipe film yang ‘ceritanya bakal cepat beres jika tokoh-tokoh yang berkonflik bener-bener ngobrol sedari awal’. Untungnya, film ini tidak pernah terasa annoying, ataupun membuat kita pengen ceritanya udahan aja hanya karena kita tahu permasalahan mereka yang sebenarnya. Hal ini disebabkan karena film menggali seteru kedua tokohnya lewat rangkaian kejadian atau ‘kontes’ yang menarik. Yang berdasarkan kepada perbedaan dua generasi memandang dunia. Bagaimana cara tradisional berusaha mencari sukses di lapangan modern, dan sebaliknya, film juga menunjukkan bagaimana pandangan kekinian bisa sangat menjatuhkan cara pandang yang konvensional.

Kita akan melihat Herschel menjual acar timun yang lantas jadi viral karena generasi sekarang demen sama yang vintage. Film mengomentari soal tren masa kini, di mana seseorang bisa dengan gampang melejit setelah mendapat pengakuan dari sosial yang menyebar lewat sosial media. Bagaimana seseorang dapat menjadi sensasi atas hal biasa. ‘Mudah’nya menjadi terkenal dan kaya diperlihatkan sekonyol itu. Lalu sebaliknya, juga diperlihatkan semuanya gampang sirna karena dunia sekarang menuntut political correctness, yang bisa dieksploitasi dan punya ekstrimitas yang sama konyolnya. Sebut pendapat yang di mata publik bertentangan, komen sesuatu yang menyinggung, niscaya kau viral juga tapi habislah sudah. Yang sebenarnya dilakukan oleh film ini adalah mengomentari perihal kedudukan American Dream di tengah Amerika modern yang mulai giat oleh aksi-aksi Cancel Culture. An American Pickle, lewat Herschel yang tradisional – yang kalo ngomong kadang masih kuat rasis dan homophobic dan merendahkan wanita –  membuka ruang kontemplasi kepada penonton bagaimana kita menginginkan kebebasan untuk memenuhi diri, tapi di saat yang bersamaan kita juga dengan gampang menutup dan ‘mematikan’ orang lain.

Semua itu sepertinya karena American Dream itu sudah seperti acar/asinan. Mengendap terlalu lama di larutan, sehingga berubah rasanya. Alias, istilah tersebut sudah salah kaprah. Sebenarnya bukan soal menjadi kaya atau terkenal, melainkan soal sesuatu yang lebih sederhana. Soal keluarga sejahtera. Soal bermasyarakat yang maju bersama.

 

 

Bagi Rogen, kedua perannya ini praktisnya adalah persoalan dirinya menggali personanya lewat dua kacamata yang berbeda. Rogen harus meletakkan mindsetnya dalam tubuh dan kelakukan dan aksi generasi kuno seperti Herschel, dan di lain kesempatan memindahkan mindset tersebut ke kelakukan milenial. Walau dalam film kita sering melihat Herschel face-to-face dengan Ben, dan kamera berpindah seolah Rogen harus berakting secepat memindahkan sakelar on/off – dalam hal ini Herschel/Ben, kita tahu besar kemungkinan proses syutingnya tidak demikian, namun itu tidak mengecilkan tantangan peran yang dilakukan oleh Seth Rogen. He still needs to reach deep onto his characters, dan berhasil menempuh rentang tersebut dengan baik. Dari penampilannya sebagai Herschel dan Ben itulah candaan dihadiahkan kepada kita. Lewat dialog, maupun lewat tindakan ‘fish-out-of-water’ Herschel dan reaksi Ben terhadapnya. Film ini cukup bijak untuk tidak membuat komedi lebay dari beda zaman yang dirasakan oleh Herschel. Melainkan berfokus pada usaha Herschel mengejar ketertinggalan dan beradaptasi dengan zamannya.

Ol’ boomer versus millennial

 

 

Tapi terkadang kita perlu untuk diingatkan kembali pada premis komedi ini. Ekstrim itu kadang menghilang dari narasi, membuat pada beberapa bagian film terasa seperti takut untuk menjadi dirinya yang paling maksimal. Dengan hanya sedikit memperlihatkan keterkejutan Herschel pada teknologi-teknologi baru yang ia lihat dan harus gunakan, misalnya, membuat kita lupa dia berasal dari satu abad yang lalu. Interaksinya dengan Ben jadi tidak banyak bedanya dengan interaksi ayah dan anak yang biasa. Padahal mereka lebih dari itu.

Pada bagian resolusi cerita seperti mengarah kepada kepercayaan, alias agama, karena Dream dan film ini juga adalah tentang menjaga tradisi dan tidak melupakan akar keluarga. Namun film sepertinya ragu untuk menyentuh itu. Memperlihatkan tapi kemudian mengembalikan cerita ke ranah penyelesaian sesimpel ‘keluarga adalah sama’. Di pertengahan juga misalnya, ketika kita berpikir cerita akan bisa meledak dengan penggalian yang cukup kontroversial – politisi yang ngomong kasar – tapi ujungnya malah langsung diberangus. Sudut pandang Ben juga tidak pernah benar-benar diperkuat dari dua sisi, kita kebanyakan hanya memandang dia sebagai ‘antagonis’, lalu kemudian jadi baik, yang seharusnya film ini berada dalam kapasitas membuat Ben juga sama-sama mengundang simpati. Akan ada aksi Ben yang hanya terlihat culas, dan ini bertentangan dengan gagasan film. Kita harusnya diperlihatkan alasan Ben sedari awal, untuk memunculkan dramatic tensi setiap kali mereka bersaing. Karena kita paham cerita ini bukan tentang siapa yang menang di antara mereka, jadi usaha film memfokuskan kita ke sana seharusnya bisa diperkecil dan fokus memperbesar perbedaan-perbedaan yang seolah semakin menjauhkan mereka. Barulah nanti pembelajaran tokohnya bahwa mereka sama itu terasa maksimal emosional.

 

 

 

 

Bayangkan ketemu keturunanmu dan melihat dunia sudah berkembang, tapi kau merasa keluargamu berjalan di tempat. Terbaik film ini datang dari benturan dua karakter beda generasi, yang mencoba untuk memasukkan pemahamannya, dan dua karakter itu dimainkan oleh satu orang. Drama dan komedi dari elemen tersebut mampu membuat film ini jadi menyenangkan untuk disimak. Kemudian film ini memindahkan fokus pada kejadian demi kejadian, tapi tidak pernah dibuat maksimal. Film ini ingin memperlihatkan tantangan mewujudkan American Dream di dunia dengan cancel culture, sayangnya film tidak berani untuk tampil total dalam membahas ini. Sehingga satirnya kurang terasa.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for AN AMERICAN PICKLE.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang ‘Cancel Culture’? Apakah itu melanggar kebebasan orang dan merusak demokrasi?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA