Tags

, , , , , , , , , , , ,

“A guest is really good or bad because of the host…”

 

 

 

Demi mengisi waktu luang di kala pandemi, Haley dan teman-teman segengnya setuju untuk melakukan sesuatu yang berbeda. Obrolan Zoom mereka kali ini akan terasa lebih menantang. Karena Haley menyewa seorang cenayang untuk membimbing mereka berenam melakukan seance atau semacam ritual memanggil roh secara online. Mungkin karena sudah bosan di rumah, atau memang pada dasarnya mereka adalah anak-anak muda yang senang bercanda, ritual online mereka mulai ngarah ke hal-hal yang gak serius. Meskipun Haley sudah mengingatkan teman-temannya untuk menjaga kesopanan, beberapa dari mereka tetep membuat ulah. Dan seperti yang sudah kita semua duga – karena ini adalah film horor – Haley dan teman-temannya mulai mendapat gangguan aneh. Teror yang semakin lama semakin berbahaya. Ternyata hantu juga tidak senang dibecandain!

Kamu dan sahabatmu yang hobi ghibah online gak bakal jadi sekeren geng Haley yang manggil hantu pakek telepati elektronik

 

Host mengusung premis tentang Zoom meeting yang diganggu hantu tak pelak memang terasa ‘begitu dekat dan begitu nyata’ dengan keadaan kita sekarang. Berkat pandemi, kehidupan sosial kita semua harus pindah total ke dunia maya, dan pretty much semua penonton film ini sudah pernah sekali dua kali nongkrong bersama temen masing-masing di Zoom. Host mencoba mengangkat horor dari interaksi sosial kita yang menggunakan Zoom. Dalam film ini diperlihatkan sikap Haley dan teman-temannya berbeda saat berada di belakang dengan saat berada di depan si cenayang. Saat ‘peserta’ meeting masih mereka-mereka saja, mereka tampak lebih akrab – mereka lebih terbuka mengenai ritual yang akan mereka lakukan; sikap skeptis dan mengolok mereka ekspresikan dengan lugas. Namun ketika si cenayang sudah masuk, mereka ‘berakting’ seolah percaya dan benar-benar tertarik dengan istilah ‘astral plane’. Interaksi seperti ini tampak seperti nge-suggest bahwa meskipun komunikasi sudah dibawa ke depan kamera semua, kita masih menemukan celah untuk saling ngomongin di belakang. Walau dalam film ini tidak pernah benar-benar ditetapkan si cenayang found out lalu mungkin marah dan sengaja mengirim kutukan kepada mereka, yang kita tahu pasti adalah hantu atau roh jahat yang datang mengganggu mereka berasal sebagai akibat dari perbuatan salah satu teman Haley yang menganggap semua hanya becandaan.

Menjadi host yang baik, menjadi penentu tamu-tamu seperti apa yang datang kepada kita. Kita tidak bisa mengundang orang, tapi membuat hal menjadi susah bagi mereka. Adalah kewajiban dari tuan rumah untuk menegakkan aturan dan menjaga kesopanan. Adalah tuan rumah yang menentukan apakah menjadi tamu di situ adalah perkara tugas yang sulit atau bukan.

 

Gimmick Zoom dieksplorasi dengan maksimal oleh sang sutradara. Dalam debut feature-nya ini, Rob Savage benar-benar menciptakan dunia dari layar Zoom. Semua yang kita lihat adalah jendela-jendela platform tersebut. Dan Savage tau persis di mana-mana saja ia harus meletakkan elemen horor untuk membuat kita ‘melek’ ke sana tanpa disuruh. Paling serem itu waktu fitur background Zoom dijadikan bagian dari ‘kejutan’. Dengan durasi yang sangat singkat, Host memang bergerak efektif. Dengan segera kita melihat ke sudut-sudut gelap di belakang para tokoh, menunggu sesuatu untuk terjadi, atau menunggu suatu penampakan muncul. Yang jelas film ini paham dan sudah terkonek dengan penonton sejak awal. Semua trik yang pernah kita lihat pada horor genre found-footage seperti ini, ada. Kursi yang bergerak sendiri, gelas yang pecah tanpa sebab, orang yang tiba-tiba ditarik oleh tangan tak-kelihatan – bahkan kejutan seperti telapak kaki di lantai atau selimut/kain yang dilempar dan ternyata ‘nyantol’ di tengah-tengah udara. Jumpscare-jumpscare yang kita antisipasi pun hadir dalam film ini. Rahasianya adalah dalam cara mengolah, dan Host is great dalam menampilkannya; dalam membuat perasaan takut kita terbendung ke sana.

Praktikal efek dan permainan akting dijadikan senjata utama. Karena Host adalah jenis cerita yang menekankan kepada situasi yang natural. Dan semua pemain memang berhasil tampil tak dibuat-buat. Semua itu berhasil dicapai karena memang para tokohnya hadir nyaris tanpa karakter. Para pemain memerankan tokoh yang bahkan bernama sama dengan nama asli mereka. Jadi seperti mereka semua disuruh untuk memainkan keseharian saja. Tapi bukan berarti tanpa tantangan; saat ketakutan dan panik, mereka benar-benar seperti ketakutan. Dan panik. Sementara itu, efek yang digunakan juga seru. Sandungan yang terasa pada film ini sebagian besar berasal dari staging adegan. Maksudnya, dengan gimmick setiap kejadian lewat lensa kamera laptop atau hape, maka beberapa adegan terasa sekali ‘diatur’ supaya tokohnya entah itu membawa laptop sambil berjalan-jalan, atau dengan sengaja memasang tongsis supaya bisa naik tangga sambil merekam, padahal jelas sekali perbuatan tersebut tidak convenient untuk dilakukan.

 

Atau apa mungkin sudah jadi new normal kita ke mana-mana selalu on kamera laptop kalo di rumah?

 

 

Durasi 56 menit secara teknis memang termasuk ke dalam kategori film-panjang, jika mengacu kepada peraturan Academy Award. Batas yang Oscar nilai sebagai feature-length adalah di atas 40 menit. With that being said, sejujurnya aku harap Host ini dijadikan film pendek saja. Karena dengan begitu, film ini akan lepas dari aturan-aturan film yang banyak jadi sandungan baginya. Sebagai film pendek, Host tidak perlu memperhatikan plot/development karakter, tidak perlu memikirkan babak, mereka bisa seru-seruan aja dengan jumpscare dan kejadian-kejadian. Tapi nyatanya, sebagai film-panjang, Host jatohnya seperti film yang keasyikan bermain gimmick dan lupa menghadirkan cerita dan karakterisasi yang kohesif.

Siapa ‘host’ di film ini, gak pernah dijelaskan. Gimmicknya adalah kita menonton di layar sehingga kita adalah salah satu dari participant meeting, atau kita cuma lagi nontonin rekaman meeting mereka. Enggak seperti Unfriended (2015), yang punya tokoh utama yang jelas – lengkap dengan tragedi masa lalu dan benang merah antara teror dengan karakter mereka kuat mengingkat, Host tidak terlalu memikirkan ini semua. Kita gak yakin siapa tokoh utama di film ini. Bisa saja Haley, karena dia yang paling ‘baik’, tapi dia adalah tokoh yang dapat bagian paling sedikit. Ketika hantu mulai menakuti mereka satu-persatu, Haley somehow gak kebagian aksi. Tokoh ini justru mengundang kecurigaan. Aku sebenarnya cukup terinvest terhadap apa yang sebenarnya terjadi pada mereka, kepada siapa atau darimana asal hantunya; pada mitologi di balik itu semua. Tapi Host tidak punya semua itu. Film ini tidak menggali hubungan antarkejadian. Si hantu dan segalanya itu ya, memang random. Ada hantu yang kebetulan menjawab undangan mereka. That’s it. Gak ada motif walaupun di awal ada setup tentang backstory masing-masing tokoh, like, mereka punya seseorang yang sudah meninggal – mereka punya target untuk dipanggil. It would be much nicer story kalo ceritanya beneran punya sesuatu untuk diikuti dan dikuak, daripada hanya sekadar memperlihatkan kita adegan trik-trik horor dan jumpscare kodian.

 

 

 

Seperti sepenggal bagian dari sebuah horor kontemporer yang menarik; begitulah kalimatku kalo disuruh mendeskripsikan film ini. Arahannya mampu mengolah trope/trik lama menjadi segar – ya, bahkan jumpscarenya efektif – Arahannya mampu ‘memanggil’ penampilan akting yang meyakinkan. Menonton ini sangat menghibur, terutama sangat relevan karena benar-benar memotret sosial di era pandemi. Kita melihat tokoh memakai masker dan menyebut karantina segala macem. Hanya saja, ada banyak yang mesti dibenahi kalo cerita ini mau dianggap sebagai sebuah film. Karena, bagiku, ia masih belum terlihat seperti film. Melainkan sebuah cerita pendek yang sedikit kelewat panjang yang seru dan menghibur tentang hantu Zoom.
The Palace of Wisdom gives 2.5 out of 10 gold stars for HOST.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Pernahkah kalian mengalami kejadian horor atau misterius saat ber-Zoom ria?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA