Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Living in regret will become your biggest regret.”

 

 

Jika kalian berpikir untuk mengakhiri nonton film ini sekarang – yang berarti mungkin kalian bosan mendengarkan percakapan tak-berkesudahan atau bingung menyelami bacaan puisi; JANGAN! Karena walau karya terbaru Charlie Kaufman ini memanglah sangat kompleks, tetapi ini merupakan tontonan yang berakar kepada emosi yang paling manusiawi dari setiap diri kita. Sehingga film ini bisa jadi teman curhat kita yang paling akrab untuk ngobrolin hal yang paling kita takuti; Eksistensi, cinta, dan waktu.

Awalnya film ini seperti sebuah cerita tentang cewek yang ingin mengakhiri relationship-nya yang buruk. Kita mendengar suara hatinya menarasikan betapa dia dan pacarnya, Jake, udah gak semenarik dulu. Dan bahwa ‘dulu’ di sini aja dia udah lupa pastinya kapan. Si cewek merasa hubungan mereka masih lama padahal masih relatif baru; sebegitu jenuhnya dia dengan hubungannya. Dia bermaksud ingin mengakhiri itu semua, setelah perjalanan terakhir (dan pertama) mereka ini. Jake mengajaknya untuk bertemu dengan kedua orangtua Jake. Kita menonton perjalanan mereka, berkendara dengan mobil sementara salju mulai turun di luar. Kita mendengar bincang-bincang mereka – tentang eksistensi, tentang karya-karya klasik, tentang apapun. Ketika sampai di rumah orangtua Jake, keanehan pada kejadian di film ini sudah tidak bisa kita dianapungkiri lagi. Film semakin bernuansa sureal tatkala ibu dan bapak Jake tampil kadang tua, kadang muda, kadang tua lagi. Dan untuk menambah kerutan di jidat kita, film juga semakin sering meng-cutback ke seorang janitor tua yang sedang sendirian di gedung sekolah. Apa hubungannya si Janitor Tua dengan si tokoh cewek dan Jake?

Strangely, film ini membuatku baper

 

 

Di dunia cerita yang seperti mimpi dengan banyak hal yang berubah-ubah dan tak-pasti, justru si Janitor yang muncul sporadik di duapertiga durasilah yang merupakan paling konstan. Ketika Jake kelihatan seperti memiliki sikap yang berganti-ganti, ketika kedua orangtuanya dapat dengan jelas kita lihat berubah seperti meloncati periode waktu setiap mereka muncul, dan bahkan ketika tokoh utama kita dipanggil dengan nama yang berbeda-beda, si Janitor tetap berada di sekolah. Sendirian. Menonton film atau mengamati siswa-siswi. Pada satu momen, kita melihat si Janitor selesai menonton romance-fiksi karya Robert Zemeckis (Kaufman masukin nama Zemeckis di film ini udah kayak kalo Garin bikin film dan di film itu tokohnya nonton film rekaan yang disutradarai Hanung) tentang seorang waitress dan kemudian pada adegan makan malam di rumah keluarga Jake sesudahnya, si tokoh cewek disebutkan bekerja sebagai waitress. Di momen lain kita melihat percakapan yang didengar si Janitor, di-recite oleh dua tokoh lain pada adegan berikutnya. Hal yang dilihat dan didengar oleh si Janitor somehow memiliki efek terhadap kejadian yang dialami oleh tokoh utama dan Jake. Menonton film ini dengan menyadari hal tersebut, akan membuka pemahaman baru pada kita karena bahwa ini film ternyata tidak untuk dilihat luarnya saja.

Penampilan tokoh-tokohnya bisa dibilang horor, karena begitu unsettling dan random dan sureal. Salut sama permainan akting para aktor, mulai dari Jessie Buckley, Jesse Plemons, Toni Collette, dan ‘Remus Lupin’ David Thewlis. Dari segi fungsinya, I’m Thinking of Ending Things dikatakan sebagai film thriller, tepatnya psikologikal thriller karena benar-benar menghantui kejiwaan kita dengan komentar-komentar soal penyesalan dan kesepian. Film ini persis seperti gambaran yang disebutkan oleh si tokoh cewek ketika mendeskripsikan lukisan pemandangan yang ia buat. Meskipun kita tidak melihat dengan langsung ada orang yang sedih atau orang yang menyesal, tapi gambar yang disajikan menghantarkan semua rasa tersebut. Kita disuruh untuk menyelam langsung ke dalam gambar-gambar untuk merasakannya. Salju yang kemudian membadai di malam hari yang gelap dan jalanan-jalanan yang nyaris kosong adalah penanda oleh film bahwa yang kita saksikan ini adalah lukisan yang menyuarakan perasaan kelam, dingin, dan sebuah kesedihan. Dan meskipun  kita boleh saja baper oleh si cewek dan Jake (personally I miss having deep conversations about movies, existence, human, and space with ‘that someone’), tapi sebenarnya si Janitor Tua-lah yang didesain untuk dekat dan mewakili kita.

Si Janitor Tua ini adalah seorang ultimate observer. Selain nonton film, sudah begitu banyak orang yang ia perhatikan. Murid-murid yang tumbuh silih berganti di sekolah itu; dia mendengar banyak, melihat banyak, namun tidak ada yang memperhatikannya. Ketika cerita mengambil panggung di rumah Jake, kita dibawa bertandang ke kamar Jake sewaktu kecil dan kita melihat banyak koleksi film dan buku. Dan bukan hanya itu, di basement ‘terlarang’ rumah itu – di dalam mesin cucinya, kita melihat pakaian dengan logo yang sama persis dengan logo pada seragam si Janitor. Inilah benang merah tak-terbantahkan dari apa yang sepertinya merupakan dua narasi terpisah. Bahwa Jake, orang yang kepalanya penuh oleh pengetahuan tentang karya film dan sastra klasik, dan Janitor Tua, orang yang bertahun-tahun berada di tengah pusaran beragam siswa beserta pengalaman dan cerita mereka, adalah orang yang sama.

Tentu, kita dapat membayangkan seperti apa psyche orang seperti Jake. Kita sendiri juga banyak menonton film dan membaca dan kemungkinan besar sering memperhatikan perilaku orang lain di internet atau secara langsung. Semua yang kita baca/amati dapat dengan mudah menjadi bagian dari imajinasi atau cerita yang kita susun sendiri. Dan itulah yang sebenarnya terjadi pada film ini. Semuanya adalah figmen dari imajinasi karangan Jake si Janitor Tua. Dia sudah melihat terlalu banyak sehingga dirinya bisa menciptakan/mengarang cerita tentang kehidupannya sesuai dengan yang ia mau. Makanya adegan dengan orangtuanya memperlihatkan sosok yang berubah-ubah usia, karena karena Jake membayangkan mereka (atau kejadian tersebut) dalam timeline yang berbeda-beda. Mengapa seseorang mengarang ulang cerita hidupnya di dalam kepala? certainly kita pasti juga pernah merasa menyesal melakukan langkah salah dalam hidup dan berandai ‘bagaimana jika saat itu aku begini’. Dalam kasus si Jake ini, kita harus mempertanyakan bagaimana bisa orang yang berwawasan luas seperti Jake bisa berakhir jadi tukang sapu aula? Nah, di sinilah letak penyesalan tersebut.

Penyesalan dapat menghantui hidup kita dalam berbagai rupa. Kita bisa menyesali perbuatan yang telah dilakukan atau menyesali keputusan yang dibuat. Rasa sesal itu juga bisa datang dari sesuatu yang urung kita lakukan, dari kesempatan yang tidak kita ambil. Kita juga menyesal akan sesuatu bagian dalam hidup kita yang sudah usai. Dan terakhir sesal itu datang dengan sangat pahit saat kita rasa dunia ternyata tak seindah yang kita bayangkan. Mengemban keempat jenis penyesalan ini akan membuat hidup sengsara, seperti yang dialami oleh Jake. Dari kejadian di film ini – kejadian karangan Jake tentang sebagaimana mestinya hidupnya – kita bisa menyimpulkan Jake menyesal tidak pernah berani untuk punya pacar, menyesal belum bisa membahagiakan orangtua, menyesal gagal secara karir, dan dia jadi bitter terhadap dunia yang mengacuhkannya.

Jake tidak menyadari ada sesal kelima; yakni hidup bergelimang penyesalan tersebut. Alih-alih memperbaiki hidup, dia malah mengarang cerita dalam kepalanya. Cerita yang sama seperti jalanan bersalju itu. Sempit, dan tak membawa hidupnya ke mana-mana. 

 

Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada berguna

 

Dengan keunikan bahwa ternyata tokoh utama kita adalah bagian dari imajinasi alias seseorang yang tidak nyata, maka dapat dimaklumi jika ada dari kita yang merasa terkecoh oleh film ini. Kirain film tentang bad relationship ternyata film tentang cowok yang gak bisa move on dan kesepian seumur hidup. Things yang ingin diakhiri itu ternyata bukan hubungan pacaran, melainkan sesuatu yang lebih kelam lagi, tergantung dari interpretasi kita. Kaufman sepertinya memang ingin mendobrak struktur tradisional film, tapi tetap saja sineas sekaliber dirinya (mungkin secara tidak sadar) tidak tega merusak kaidah film. Tokoh si cewek diberikannya keinginan dan kendali atas diri. Tokoh ini seperti konsep yang lebih kuat daripada karakter di The Lego Movie (2014) – film itu sangat menarik membuat tokoh utama yang beraksi dan punya free will padahal ternyata mereka tetap saja dimainkan oleh orang lain. Bedanya adalah si cewek ini didesain Kaufman bergerak dengan kemauan sendiri yang merupakan refleksi dari sisi lain Jake. Konsep ini menguatkan konteks dengan sangat hebat. Karena sekarang yang kita lihat sebenarnya itu adalah Jake mengobrol sendiri di dalam kepalanya. Tempat yang seharusnya dia jadi bintang utama – kita melihat dia sampai membayangkan dirinya mendapat award di akhir cerita – tetapi dia tetap ‘dikalahkan’ oleh si cewek; yang notabene adalah tokoh imajinasinya.

Ini mungkin adalah gambaran konflik personal terhebat yang pernah kita lihat di dalam medium film. Kontemplasi karakter benar-benar dimekarkan menjadi fantasi sureal yang tak menye tapi begitu kuat menghantarkan kita ke dalam dinginnya perasaan sedih. Karakter yang ‘kalah’ dengan kepalanya sendiri, menandakan akhirnya dia menemukan kedamaian dan melepaskan sesalnya (walaupun sesaat). Kalo disangka terlalu rumit membayangkan si cewek dan Jake sebenarnya adalah Jake yang berdebat dirinya sendiri yang melihat dari sisi lain, bayangkan saja adegan ketika cewek dan Jake membahas film, namun si cewek bahasannya lebih ‘benar’ ketimbang Jake. Ini kayak kita mau nulis tapi ternyata hasil di dalam kepala jauh lebih bagus ketimbang hasil beneran haha..

 

 

 

So yea, aku gak akan bahas film ini poin demi poin, maksud per maksud, simbol ke simbol. Sebagian karena sutradaranya udah keburu buka kartu. Namun sebagian besar karena menurutku film ini adalah bincang-bincang yang perlu untuk ditonton langsung oleh kalian. Karena film ini sebenarnya bukan soal apa yang sebenarnya terjadi, melainkan perasaan apa yang dihantarkan olehnya. Dan Kaufman, di balik sureal dan teka-teki dan puisi dan reference ke berbagai film, berhasil. Di menit tokohnya mulai ngobrol dengan pikirannya saja, aku sudah tertarik, dan lantas baper saat tokohnya ngobrol berdua. Jadi aku penasaran, rasa apa yang mungkin muncul dari penonton-penonton lain. Struktur naskah bisa jadi memang diabaikan oleh pembuat yang lebih tertarik pada konstruksi visual film adaptasi ini (ratio 4:3 digunakan supaya perhatian kita lebih terfokus), tapi masih bisa ‘worked’ karena sangat efektif dan konsisten dengan konteks gagasan yang ingin disampaikan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for I’M THINKING OF ENDING THINGS.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Salah satu dialog dalam film menyebut bahwa manusia adalah satu-satunya makhluk yang sadar dirinya akan mati, sehingga manusia menciptakan harapan. Tapi dengan berharap, kita jadi bisa kecewa. Dan kemudian memilih untuk mengakhir semuanya sekarang. Bagaimana pendapat kalian tentang harapan dan penyesalan itu sendiri? Bagaimana kalian cope up dengan perasaan menyesal? Bisakah kita hidup tanpa ada rasa menyesal?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA