Tags

, , , , , , , , , , , ,

“If you remember what you fighting for you will never miss your target.”

 

 

 

 

Mungkin gak sih aksi demonstrasi berlangsung tanpa berakhir kerusuhan? Jawabannya tentu ‘bisa saja’, tapi ruang tanya itu masih terbuka ketika ada yang memperdebatkan lebih lanjut; apakah demo tanpa rusuh itu efektif. Argumentasi soal demonstrasi seperti demikian memang lagi sering terdengar, atau tepatnya, terbaca ketika kita berselancar di sosial media. Karena memang topiknya lagi hangat sekali. Di Amerika, di Thailand. Negara kita juga lagi kena musim demo, berkat disahkannya UU Cipta Kerja yang berbuntut banyak masalah. Mulai dari isinya, hingga ke kejadian seputar pengesahannya yang tergolong mendadak itu. Aksi penolakan terhadap UU tersebut bergelora di mana-mana. Buruh angkat suara, Akademisi menghimpun diri. Mahasiswa turun ke jalan. Anak STM ikut di belakang kakak-kakak mereka itu. Aksi mereka diharapkan berlangsung damai. Namun kemudian ada halte terbakar. Perlawanan lantas muncul di mana-mana. Polisi melawan pendemo. Mengejar hingga ke kampus-kampus. Menangkapi mahasiswa, sampai-sampai para pelajar yang terangkap terancam bakal susah dapat kerja. Ibarat kata, mereka tak bisa dapat surat kelakuan baik, karena sudah ikut merusuh dan merusak kota.

Begitulah ujung-ujungnya nasib pengunjuk rasa. Disebut sebagai provokator. Pengganggu kestabilan keamanan. Tahun 1968 tujuh pemuda ditangkap oleh kepolisian Chicago. Mereka diadili karena tertuduh sebagai provokator kerusuhan dalam aksi protes terhadap Perang Vietnam yang tadinya aman menjadi huru-hara. Membuat polisi harus bertindak keras. Banyak sekali korban terluka, baik dari pihak polisi maupun pendemo yang tergabung dari beberapa golongan. Sidang ketujuh pemuda (sebenarnya ada delapan, satu lagi yang berkulit hitam dapat tuduhan ekstrim membunuh polisi sehingga ia mendapat ‘perlakuan’ khusus) ini berlangsung alot. Berhari-hari. Karena para pemuda-pemuda itu justru curiga bahwa polisilah yang cari ribut duluan. Yang sengaja memancing kerusuhan terlebih dulu demi mengantagoniskan gerakan mereka. Kisah nyata konflik demonstrasi yang relevan bukan saja dengan keadaan Indonesia, melainkan dunia sekarang, inilah yang dimainkan ulang oleh Aaron Sorkin sutradara yang sudah aral melintang menangani drama debat di pengadilan berkat kepiawaiannya mengeset dan menulis dialog yang tajam-tajam. Selama kurang lebih dua jam, kita akan dibawa duduk menyaksikan trial demi trial yang penuh emosi. Film ini akan membuat kita geram. Kemudian tertegun. Dan memikirkan ulang aksi perjuangan yang mungkin sedang kita lakukan supaya perjuangan tersebut lebih tepat sasaran.

The whole world is watching — if you’re wearing mask or not, eh…

 

 

Actually, adegan persidangan di film ini adalah sidang terheboh yang pernah aku lihat di dalam film. Bahkan lebih bikin geram dibandingkan sidang yang pernah kutonton di televisi, dan aku udah liat sidang kopi sianida dan sidangnya Steven Avery. Debat sidang yang ada di film ini begitu sensasional. Tadinya saat menonton aku berpikir kejadian-kejadian seperti dua pemuda tertuduh suatu hari datang mengenakan jubah hitam panjang seperti milik hakim – sebagai bentuk sindiran mereka terhadap sikap sang hakim – adalah pandai-pandainya si pembuat film aja supaya cerita persidangan itu unik dan seru. Ternyata, setelah aku baca-baca beritanya seusai menonton, kejadian tersebut memang benar terjadi. Sidang Chicago 7 ini memang beneran penuh oleh kejadian-kejadian yang kalo dilihat sekarang pastilah memalukan bagi sistem peradilan Amerika. Hakim yang bias sedari awal – Yang Mulia itu tanpa diminta langsung buka suara klarifikasi bahwa meskipun bernama belakang sama tapi dia bukan sanak keluarga salah seorang terdakwa – yang mengikat dan menyumpal mulut terdakwa kulit hitam yang tak diijinkannya mencari pengacara pengganti, itu bukan karakter yang diciptakan untuk khusus untuk film ini. Melainkan karakter orang beneran yang ditunjuk sebagai kuasa tertinggi dalam sidang yang mestinya demokratis tersebut.

Sorkin mengambil esensi dan point-point yang membuat kejadian nyata itu diperbincangkan, untuk kemudian diperkuatnya lagi dengan pengadeganan dramatis buah visinya sendiri. Bagian-bagian sejarah itu disulamnya sempurna, menyatu dengan karakter-karakter dan elemen-elemen yang ia ciptakan untuk menjadikan cerita ini sebagai sebuah film. Ketika memperlihatkan adegan bentrokan polisi dengan pendemo, misalnya, Sorkin menyelinginya dengan cuplikan kejadian yang nyata dari rekaman berita. Meskipun potongan itu hitam-putih, tapi tidak pernah sekalipun kontras dengan pengadeganan yang berwarna. Ini menunjukkan betapa mulusnya dua klip video itu dirangkai. Bukan semata soal editingnya, melainkan juga keberhasilan dari penjagaan tone dan pacing cerita. Alur The Trial of the Chicago 7 bergerak dengan kecepatan penuh. Kilasan flashback dan selingan kejadian asli tidak pernah melambatkan ataupun membagi film ini seperti dua bagian. Karakter-karakter yang banyak itu bukan pula jadi halangan. Mereka semua mendapat porsi perspektif dan pembelajaran yang cukup untuk membuat kita benar-benar tertuju kepada masing-masing.

Walau karakter hakim luar biasa nyebelin (aslinya Hakim ini belakangan disebut ‘unqualified’ oleh Peradilan Amerika), tapi film tidak benar-benar total memihak. Film tidak menyuruh kita untuk percaya bahwa tujuh pemuda yang disidang itu enggak bersalah, apalagi menyuruh kita untuk membenci polisi dengan sepenuh hati karena mereka semua main kasar. Hakim yang bias dan rasis tidak lantas membuat pihak satunya otomotis benar dan tidak bersalah. Film tidak membiarkan kita tenggelam dalam konspirasi. Melainkan mencuatkan apa yang sebenarnya menjadi akar masalah di sini. Persidangan yang kian menjadi ajang tuduh-tuduhan itulah yang difokuskan di sini. Bukan hanya si Hakim saja, semua pihak diperlihatkan punya bias yang membuat mereka menjadikan sidang tersebut terlalu personal, sehingga tidak lagi melihat jernih. Seperti karakter yang diperankan Eddie Redmayne; orangnya pinter, respekful, dan yang paling bisa dijadikan teladan. Namun dia sendiri juga bias dalam memandang karakter si Sacha Borat Cohen, padahal jelas-jelas rekan seperjuangannya. Ketujuh pemuda memang dari golongan berbeda; ada geng mahasiswa, geng hippie, geng pramuka. Mereka bertujuan sama, tapi pandangan gak suka – gak percaya terhadap jalan atau cara kerja geng lain itu tetap ada. Bahkan lebih jauh film ini perlihatkan bahwa bias itu bisa datang dari penampilan luar. Satu-satunya yang bisa mempertahankan objektifitas dan gak ujug-ujug jadi bias itu adalah karakter pengacara penuntut yang diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt. Dia yang gak setuju demo rusuh seharusnya adalah ‘musuh’ bagi para pemuda, tapi kita bisa lihat dari sikapnya kadang justru dialah yang paling duluan gak setuju sama tindakan Hakim. Dia yang berusaha profesional dan memegang teguh respek dan paham tujuan itulah yang buatku jadi highlight di film ini.

Film ini menunjukkan bahwa betapa menjaga untuk gak menjadi bias itu adalah hal yang susah untuk dilakukan. Dalam perjuangan, seringkali kita menjadi terlalu personal. Seperti demo di Chicago itu; sidangnya malah seperti saling tuding siapa yang berbuat onar duluan. Padahal tujuan awal demonya adalah untuk memprotes pengiriman tentara ke Vietnam. Untuk menghentikan perang, bukan malah membuat ‘perang’ baru. Kita semua gampang meleset dari tujuan jika melupakan untuk apa, untuk siapa, kita berjuang pada mulanya. 

 

Hayoo siapa yang dalam menilai film aja, seringkali udah bias duluan sebelum nonton?

 

 

Yang ditawarkan film sebagai jawaban dari bagaimana supaya kita enggak jadi gampang bias, juga sungguh luar biasa dramatis. Adegan yang jadi ending film ini terasa sangat powerful. Adegannya kayak ketika Chris Jericho bacain daftar yang comically superpanjang berisi nama-nama submission yang mampu ia lakukan waktu di WCW dulu, hanya saja tidak seperti Jericho, adegan ini tidak di-boo. Malahan diiringi tepuk tangan yang bikin merinding. Ini merupakan desain dari sutradara, ia menerapkan bahasa film pada ending ini. Jika aslinya adegan tersebut justru berlangsung di awal-awal masa persidangan, Sorkin menaruhnya di akhir cerita sebagai bentuk pembelajaran dan penyadaran yang sudah dialami oleh para karakter. Pertanyaan yang harusnya mereka bahas bukanlah pihak mana duluan yang mancing ribut, pihak mana duluan yang kasar, dan kemudian menuding. Melainkan adalah pertanyaan untuk siapa unjuk rasa itu mereka lakukan. Untuk apa ide-ide tersebut mereka lontarkan. Momen penyadaran tersebut terangkum semua di dalam sekuen ending. Dengan sempurna menutup film dengan nada yang kuat, yang membuat kita berkontemplasi terhadap perjuangan yang sedang kita jalani sendiri.

Cerita yang hebat, dimainkan oleh assemble cast yang tak kalah hebatnya. Masalah yang muncul buat film ini cuma perspektif dan sudut pandang yang cepat sekali berpindah-pindah. Karena cerita ini gak punya tokoh utama. Kalopun ada, maka ia bukan satu orang. Melainkan satu grup. Satu pergerakan. Ini membuat film bekerja tidak seperti film-film biasa. Dan karena diangkat dari kejadian nyata, dibuat untuk menampilkan peristiwa yang sesuai fakta, film ini jadi sedikit terbatas. Dia tidak dalam kapasitas mengakhiri semua plot atau semua masalah yang dihadirkan. Terdakwa kedelapan dalam sidang tersebut, punya konflik yang tak kalah penting. Soal rasis dan prejudice yang lebih dalem. Namun karena peristiwa yang difilmkan oleh cerita tidak menyorot ke sana, maka permasalahan soal konflik itu juga tidak dibahas sampai habis. Hal tersebut jadi cacat sedikit buat film ini, karena normalnya setiap film harus menuntaskan setiap poin yang dimunculkan sepanjang cerita.

 

 

Maka itulah, aku berusaha untuk tidak terlalu bias karena aku suka sama cerita dan karakter-karakternya. Aku ingin melihat film ini secara objektif, ya sebagai film. Penilaiannya harus sama dengan saat menilai film-film lain. Sebagai cerita, definitely ini merupakan salah satu terpenting di tahun ini. Malah juga sebagai salah satu tontonan yang paling seru, padahal isinya kebanyakan ‘cuma’ orang-orang ngomong. But I never have a problem with chatty movies. Selama diceritakan dengan kuat dan terarah, ia akan asyik untuk dinikmati. Film ini akan enak untuk ditonton berulang kali, hanya untuk melihat kejadian demi kejadiannya. Kita akan lupa bahwa kameranya ternyata sangat pasif, berkat dialog dan adegan yang dinamis di ruang sidang tersebut. Sorkin berusaha optimal untuk membuat penggalan sejarah ini menjadi satu film yang layak, sembari tetap berpegang teguh pada visi kenapa ia membuatnya in the first place.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE TRIAL OF THE CHICAGO 7.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Jadi apakah kerusuhan itu terjadi karena pendemo lupa sama siapa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan? Bagaimana jika demo tetap rusuh kendati para pendemo masih fokus dan sadar pada siapa yang sedang mereka bela – mereka perlu sesuatu yang tegas supaya suaranya didengar – apakah kalian masih setuju dengan tindakan itu?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA