Tags

, , , , , , , , , , ,

“The ultimate goal of farming is not the growing of crops, but the cultivation and perfection of human beings”

 

 

 

Land of opportunity itu bernama Amerika. Tempat yang katanya semua orang boleh bebas mengais rejeki di sana, siapapun mereka. Termasuk satu keluarga Korea, yang ayahnya punya cita-cita lebih besar daripada jadi pengamat kelamin anak ayam profesional seumur hidup. Si ayah pengen punya ladang sendiri. Supaya bisa ia tanami dengan berbagai sayuran khas korea. Maka si ayah membeli tanah luas di pinggiran kota. Mereka sekeluarga pindah tinggal ke sana. Hidup dalam sebuah trailer alih-alih rumah hunian yang biasa. Tentu saja hidup baru keluarga ini tidak lantas mudah. Ayah dihadapkan oleh berbagai tantangan. Mulai dari menumbuhkan tanaman-tanamannya, menyuburkan, dan kemudian berusaha untuk menjual hasilnya. Belum lagi kondisi anak bungsu yang punya jantung lemah. Dan Ibu yang terus mengkhawatirkan sang anak, sehingga lebih suka mereka tinggal di kota saja, di dekat banyak orang.

Begitulah set up film Minari ini. Begitu sederhana dan simpel. Film ini memang bertindak selayaknya semi-otobiografi karena ceritanya berdasarkan masa kecil sang sutradara. Sutradara Lee Isaac Chun adalah David, si anak bungsu, dalam cerita ini. Sehingga film ini pun dibuatnya bernuansa sangat real. Tidak akan kita jumpai karakter yang comically jahat, ataupun keajaiban-keajaiban seperti sihir – apalagi supernatural. Yang paling dekat sebagai pihak antagonis adalah keadaan. Mengejar ‘american dream’ memang gak gampang, kita akan melihat begitu banyak permasalahan yang muncul seputar usaha keluarga ini untuk hidup berkecukupan di ladang tersebut. Yang jawaban atau solusinya sebenarnya justru ada di dalam mereka semua. Menyaksikan para karakter – keluarga ini – menyadari hal tersebut, belajar darinya, berkompromi dengan keadaan; inilah yang membuat film Minari menjadi menyenangkan dan sangat heartwarming untuk disimak.

Film menjadi semakin hangat lagi dengan nunjukin relasi antara si bungsu David dengan Nenek yang dipanggil tinggal bersama mereka untuk menjaga si bungsu dan kakaknya saat Ayah dan Ibu bekerja. Relasi David dengan nenek adalah salah satu inti dari cerita. Banyak adegan interaksi mereka yang bikin hati kita meremang. Membuat emosi kita teraduk-aduk. Ada yang lucu, yang sedih, yang bahagia. Semuanya bakal bercampur menjadi satu membentuk perasaan hangat di hati. Kalo gak percaya lihat saja adegan di dekat ending. Ketika si Bungsu yang tadinya karena keadaan jantungnya membuat ia percaya dia tidak mampu untuk berlari, akhirnya – oleh buncahan kasih sayang yang meluap di dada – berlari mengejar… ah, aku enggan melanjutkan karena sebaiknya memang film kayak gini ditonton sendiri supaya emosinya bisa benar-benar terasa.

Menceritakannya terlalu banyak nanti malah jadi kayak review yang isinya spoiler nyeritain semua itu

 

 

Serius deh, kurasa ulasan kali ini bakal jadi salah satu ulasan yang paling membosankan di blog ini. Karena gak banyak yang bisa kita bahas tentang film yang memang menggelora dari pengalaman dan perasaan yang film ini berhasil hadirkan. Aku nekat ngespoiler-pun, percuma. Emosi dan rasanya gak akan bisa mewakili atau menggambarkan sebenar-benarnya yang diberikan oleh film ini dengan menontonnya langsung. Not even 50%-nya. Minari ini adalah film yang sayang banget kalo dilewatkan. Aku harap film ini masuk ke bioskop Indonesia kapan-kapan. Enggak mesti sekarang. Bisa nanti setelah pandemi, atau kapan deh, pokoknya tayang. Sebab film kayak gini udah jarang kita dapatkan. Dengan industri yang semakin kebut-kebutan, terlebih karena pemulihan setelah kosong di pandemi, aku pikir akan semakin jarang lagi ada yang membuat film seperti Minari ini. Film yang ‘cuma’ nyeritain kehidupan satu keluarga. Film yang gak bermuatan agenda atau political, selain nunjukin sesuatu untuk mengangkat harapan kita semua.

‘Berbeda’ itu salah satunya membuat film ini jadi tidak tertebak. Bukan dalam artian tidak ada twist, melainkan dalam artian kita tidak bisa melihat ke mana poin-poin plotnya akan berujung. Dan ini juga bukan dalam artian naskahnya gak clear, karena poin-poin itu – tersusun dalam struktur naskah dengan benar – dan kita akan melihat itu dengan jelas di akhir film. Tema besar filmnya pun kita dapat mengerti sembari menonton, yang menunjukkan naskah berhasil melandaskannya sedari awal. Tidak tertebak tadi itu maksudnya adalah datang dari cerita yang terasa begitu besar. Kita tidak tersesat di dalamnya, tapi kita justru terasa seperti benar-benar ikut mengarungi cerita film ini. Kita mengarunginya sama seperti dalam kehidupan yang nyata; kita tahu path yang kita pilih, tapi kita tidak tahu ke depan bakal ada apa. Kita hanya berjuang untuk tetap berjalan pada path yang kita yakini. Makanya film ini terasa so wonderfully real.

Aku menunggu film ini untuk membuat kesalahan. Untuk menjadi overdramatis. Aku menunggu ada obstacle yang dihadirkan annoying dan maksa. Tapi tidak pernah itu semua terjadi. Film stays in it’s glorious storytelling. Memainkan perasaan kita tanpa berlebay-lebay. Bahkan ketika dalam momen pertengkaran – di tengah-tengah suasana yang paling emosinal untuk dua karakter film ini menjelang babak akhir cerita – film tidak lantas jadi tearjerker kacangan. Masalah dan bincang-bincang debat itu masih tetap terasa real. Kita mengerti kebimbangan kedua belah pihak. Kita paham bahwa yang satu bukan hanya ingin keluarganya bahagia, tapi baginya perjuangan mereka itu personal; baginya ini pembuktian kemampuan, sementara yang satunya lagi seperti tercabik; bukan karena tidak percaya tapi karena dia yang lebih conform tinggal di kota punya nilai tinggi terhadap hubungan sosial. Konflik ini menjadi puncak yang membuat perjuangan hidup menanam mimpi itu kian terasa bagi kita.

Hidup bukan soal memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Seperti merawat tanaman yang tentu saja bukan soal menyiram. Melainkan ada soal tanah dan segala macam. Tanah, berkenaan dengan tempat kita hidup. Di mana kita bertumbuh. Keluarga Korea dalam film ini berada di tanah Amerika. Untuk bertahan hidup, tidak cukup dengan mandiri, melainkan selalu akan ada asimilasi sosial yang juga harus dipupuk. Pada akhirnya film ini menunjukkan perjuangan itu tidak harus sendiri. Jadilah seperti tanaman minari yang bisa tumbuh dengan beradaptasi dengan jenis tanah ia ditanam.

 

Momen-momen yang memperlihatkan interaksi antara keluarga ini dengan penduduk asli, baik secara individu seperti Ayah dengan rekan kerjanya yang penganut agama yang ‘kelewat’ taat maupun secara bersama-sama seperti saat mereka pergi ke gereja, tidak dimasukkan hanya untuk menambah durasi cerita. Justru momen inilah yang jadi salah satu poin vokal oleh film. Ketika Korea dan Amerika saling ‘belajar’. Film membuatnya sangat menarik. Kita melihat betapa kebiasaan yang satu tampak aneh bagi pihak satunya. Dan bahkan bisa saja terjadi semacam pembullyan kecil-kecilan – subtil ditampakkan oleh film – tapi kemudian mereka lanjut menjadi teman. Momen-momen sosial yang indah seperti ini membuat film menjadi semakin menyenangkan untuk ditonton.

Akting para pemain tampak luar biasa natural. Sealami pemandangan hijau nan cerah yang kita lihat pada layar (Oh I’ll be damned kalo itu ternyata ada CGI-nya… it is not! Hmmph!) Steven Yeun sebagai Jacob (Ayah), Yeri Han sebagai Monica (Ibu); mereka berdua dapat bagian merasakan gejolak emosi yang tertahan kemudian meluap, dan keduanya berhasil dengan mantap menghidupkan karakter masing-masing. Aktor-aktor cilik juga gak mau kalah. Alan S. Kim yang jadi David dan Noel Cho yang jadi kakaknya, Anne, juga berhasil memperlihatkan permainan emosional yang subtil maupun yang lebih lepas. Mereka adalah anak Korea yang lahir dan berjiwa Amerika, tapi film tidak terjebak membuat dua karakter ini seperti stereotipe anak-gak-hormat-ama-budaya-sendiri. Ada layer dalam karakter mereka, yang berhasil dihidupkan. Yang mencuri perhatian adalah karakter Nenek Soonja yang diperankan Youn-Yuh-jung. Karakter ini menarik banget karena punya moral kompas sendiri, dia juga bukan tipikal nenek-nenek biasa yang cenderung grumpy. Justru Nenek yang seperti free-spirit dengan sikapnya yang bicara apa adanya. Karakter ini penting banget untuk development keluarga mereka.

Nenek juga suka nonton gulat!!

 

Meskipun diisi dengan banyak dialog yang mewakili perbedaan dua pihak, tapi film ini berhasil menghindar untuk menjadi ceramah. Ayah di film ini sama kayak protagonis di Tarung Sarung (2021) dan Levee di Ma Rainey’s Black Bottom (2021); yakni sama-sama jauh dari agama. Ayah lebih percaya pada kemampuan sendiri. Akan ada banyak adegan ketika Ayah berada di lingkungan agamis, dan kita melihat reaksinya seperti apa. Kita akan menemukan ada perbedaan – ada eskalasi – dari reaksi-reaksi tersebut – dari di awal dengan seiring cerita berjalan. Eskalasi reaksi itulah cara film ini untuk memperlihatkan Ayah belajar sesuatu tanpa terlihat seperti karakter ini diceramahi. Sehingga kita pun merasa tidak diceramahi.

 

 

Such a lively and lovely experience. Film yang mengandalkan gambar-gambar natural dan atmosfer cakep, dengan dikontraskan oleh musik yang cukup menghantui perasaan, ini benar-benar terasa seperti kehidupan berjalan. Dihidupi oleh karakter-karakter yang sama natural dan realnya. Pacing yang excellent dan interaksi yang menarik membuat film ini tidak terasa membosankan untuk disimak. Perjuangan keluarga yang diperlihatkan terasa akrab, kita ingin mereka berhasil. Kita ingin jadi teman bagi mereka. Sepanjang durasi, kita akan dibungkus oleh perasaan hangat. Dan diikat oleh film dengan rasa pengharapan yang benar-benar menguatkan.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MINARI

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Apa tantangan terbesar bagi kalian ketika pindah dan hidup berjuang di tempat yang baru?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA