Tags

, , , , , , , , , , , ,

“Fight to protect”

 

Dua gajah berkelahi, pelanduk mati di tengah-tengah. Tidak, aku tidak sedang ngajakin belajar peribahasa. I’m just saying peribahasa tersebut memberikanku gambaran gimana rusuhnya kalo ada dua makhluk besar kayak gajah bertengkar. Pelanduk di hutan yang kebelutan berada di sana sampai-sampai jadi korbannya. Sekarang coba bayangkan kalo dua gajah yang berantem itu dituker sama dua raksasa. Godzilla, si Raja Monster, yang bisa menembakkan sinar atomic dari mulutnya. King Kong, gorila-kelewat-subur yang bisa mencabut pohon hingga ke akarnya, seenteng nyabutin uban. Dua monster raksasa itu berkelahi. Dan memang, manusia – kita-kitalah – yang jadi pelanduknya. Tapi itu tidak berarti kita mati di tengah-tengah. Karena nyatanya, film Godzilla vs. Kong garapan Adam Wingard ini membuktikan kita justru happy sehappy-happy-nya berada tepat di tengah-tengah pertempuran kolosal tersebut. Menonton rangkaian aksi fantastis dengan decak kagum. This is pure entertainment. Seganas-ganasnya. Seliar-liarnya.

Adam Wingard paham betul bahwa orang-orang rela menghabiskan waktu dengan mendekam pake masker di bioskop demi melihat Kong dan Godzilla baku hantam. Apparently, bukan orang Indonesia saja yang doyan nonton keributan haha… Yang jelas, Wingard mengerti yang diinginkan oleh penonton. Maka dia membuat Godzilla vs. Kong sebagai sajian yang gak muluk-muluk dalam hal plot atau cerita. Simpel aja. Beberapa ilmuwan ingin mencari sumber energi baru. Jadi mereka memutuskan untuk mencari ke dunia tempat asal muasal para Raksasa. Mereka butuh Kong, untuk katakanlah, jadi guide ke Hollow Earth tersebut. Perjalanan panjang itu harus mereka lakukan dengan ‘diam-diam’ karena Kong dan Godzilla sudah turun temurun jadi bebuyutan. Apalagi Godzilla si penjaga bumi dari  monster-monster raksasa asing, sudah mulai aktif ya Bun.. eh maksudnya, sudah mulai aktif berpatroli kembali. Ada sesuatu yang mengganggu si Godzilla. Menyebabkan monster reptil raksasa itu jadi beringas. Para ilmuwan tentu saja tidak mau keberadaan Kong sampai diketahui oleh Godzilla. Tentu saja yang namanya malang, tak dapat ditolak. Tapi ternyata Godzilla memburu ke tempat yang salah. Bukan Kong yang harusnya diberangus oleh Godzilla. Melainkan maut yang secara rahasia dikembangkan oleh perusahaan Apex di tengah-tengah kota!

“Marthaaaa!!”

 

Aksi berantem para monster raksasa memang terdeliver dengan super seru. Seperti pada Godzilla: King of the Monsters tahun 2019 yang lalu, kita akan dibuat puas oleh adegan-adegan perkelahian antarmonster. Keunikan dan hal spesial dari masing-masing mereka, dicuatkan dalam pengadeganan dan koreografi aksi. Wingard pun sering bermain dengan kamera. Menaruhnya seakan di lengan Kong, misalnya. Membuat kita merasakan pov berantem itu secara langsung. Sutradara King Kong vs. Godzilla original (1954) versi Jepang, Ishiro Honda, pernah bilang bahwa kejadian ada King Kong melawan Godzilla itu kan sebenarnya konyol banget, tugas filmmaker di sini adalah bagaimana memanggungkannya. Bagaimana mendesain kejadian dan situasi sehingga perkelahian dua makhluk reka ini menjadi epik. Dalam film original tersebut, Honda membuat pertempuran Kong dengan Godzilla itu sebagai satir dari perang rating industri pertelevisian Jepang pada saat film itu dibuat. Dalam Godzilla vs. Kong terbaru ini, sutradara Wingard tidak mensatirkan macam-macam. It’s just a plain monster melawan monster, namun ternyata manusia adalah monster sebenarnya, dan kemudian balik lagi menjadi monster melawan monster. Kesimpelan itu dibikin impas oleh Wingard lewat visual yang luar biasa. Panggung yang dibicarakan oleh Honda, well, Wingard di film ini menciptakan bukan hanya satu, melainkan tiga panggung yang superinteraktif dalam perkelahian Kong dengan Godzilla. Pertempuran di tengah laut. Di dalam laut – dengan serpihan kapal dan pesawat bagai bintang-bintang di sekitar mereka. Pertempuran malam hari bermandikan lampu neon gedung-gedung di kota Hong Kong. Shot-shotnya keren semua. Pertempuran di kota normal, well, let’s make that a handicap – the more the merrier!! Wingard gak abis akal untuk mengisi separo dari durasi film ini dengan gempuran aksi. Semuanya benar-benar memanjakan imajinasi anak kecil yang tertidur di dalam diri kita. 

Actual improvement  yang dilakukan oleh Wingard terletak pada pengkarakteran. Dua film awal Monsterverse, Kong: Skull Island dan Godzilla: King of the Monsters punya dosa yang sama; yakni karakter manusianya gak ada development dan, terutama sangat boring. Nah, boring itu bukan sebuah masalah pada film ini. Wingard membumbui karakter-karakter yang ia punya, secukupnya. Kita akan lihat ada karakter seorang podcaster yang paranoid, dia percaya beberapa konspirasi. Karakter ini juga berfungsi sebagai comedic relief berkat reaksi-reaksinya. Millie Bobby Brown kembali melakoni perannya sebagai Madison Russell. Madison dalam cerita ini diberikan sidekick – yang diperankan dengan kocak oleh Jullian Denison, mereka eventually bakal team up dengan si podcaster. Petualangan kecil-kecilan mereka mengungkapkan rahasia perusahaan Apex sebenarnya cukup menghibur, hanya saja tidak banyak diberikan waktu. Porsi mereka harus mengalah kepada porsi tim ilmuwan yang melakukan perjalanan bersama Kong. Dalam tim tersebut karakter menariknya adalah seorang anak kecil perempuan bernama Jia (diperankan dengan adorable oleh aktor cilik tunarungu Kaylee Hottle) Anak ini punya hubungan khusus dengan Kong. Bayangkan film horor yang biasanya ada karakter anak kecil yang bisa berkomunikasi dengan hantu. Nah, Jia ini mirip seperti itu. Dia secretly bisa berkomunikasi dengan Kong pake bahasa isyarat. Malahan, hanya omongan Jia-lah yang mau didengar oleh Kong. Dinamika Jia dengan Kong memberikan hati kepada film ini. Cerita mereka cukup diflesh-out, kita diberitahu latar kenapa Jia bisa dekat dengan Kong, sehingga kita jadi peduli sama persahabatan keduanya.

Baik Godzilla maupun Kong, mereka sebenarnya berkelahi untuk melindungi. Untuk menjaga teritori. Untuk menjaga orang atau sesuatu yang dipedulikan. Dalam cerita ini, dan dalam kebanyakan hal, justru manusialah yang predator. Berkelahi untuk menguasai. Bertempur, dan menciptakan alat serta teknologi, untuk mendapatkan yang dimau.

 

Dan uniknya, bahkan karakter monster pun diberikan ‘warna’ lebih banyak oleh sutradara. Misalnya, si Kong. Actually malah kalo dipikir-pikir, Kong-lah yang jadi tokoh utama. Peran Kong di sini benar-benar integral ke dalam cerita. Dia punya arc, tidak lagi sekadar muncul sesekali untuk adegan aksi. Kita merasakan motivasi Kong untuk melindungi. Kong juga diberikan momen personal ketika dia kembali ke kampung halamannya (di situ kita juga disiratkan sedikit mengenai latar karakter Kong). Film melakukan langkah ekstra untuk meniupkan kepribadian ke dalam Kong. Salah satunya adalah dengan menggunakan lagu latar untuk beberapa adegan yang menunjukkan kegiatan ataupun apa yang dirasakan oleh Kong. Seperti pada adegan opening yang mengeset ada hubungan khusus antara Kong dengan si Jia, kita mendengar lagu tentang seseorang dengan gadis cilik. Karena tone keseluruhan dijaga untuk tetap ringan, maka pilihan lagu yang digunakan oleh film ini untuk Kong tersebut kadang-kadang bisa terdengar cheesy. Tapi sepertinya tidak akan mengganggu banget, karena kapan lagi kita melihat Kong diberikan karakter yang cukup banyak untuk bisa diperbincangkan. Sebaliknya, si Godzilla di film ini kurang banyak tampil. Godzilla di sini digambarkan agresif, sebagian besar waktu terlihat seperti dia-lah antagonisnya. Sehingga beberapa fansnya mungkin bakal kecewa, dan bisa jadi keberatan karena Godzilla sedikit keluar dari karakternya sebelum film ini. I know, karena walaupun aku bukan penggemar berat Godzilla, tapi melihat dia di-close up tersenyum jahat ala Bezita tetep saja terlihat aneh.

“King Kong phone home”

 

Memang harus diakui, film seperti ini akan selalu kebentur masalah dalam penyeimbangan antara aksi dengan karakterisasi. Dan eksposisi. Penonton boleh saja pengen melihat aksi seru, tapi yang sebenarnya akan diingat dan dinikmati oleh penonton tentu adalah ceritanya. Journey karakternya. Wingard berkutat dan akhirnya memilih formula yang sama. Nyaris 50 persen aksi, dan sebagiannya lagi adalah gabungan dari eksposisi dan karakter. Eksposisi tidak bisa dihilangkan karena bagaimana pun juga penjelasan terhadap apa yang terjadi, teknologi, mitos, serta konsep Hollow Earth itu sendiri perlu untuk diinformasikan.Wingard yang mau membuat film ini ringan dan total menghibur, tak punya pilihan lain selain mengorbankan development karakter. Sehingga Godzilla vs. Kong heboh di luar, tapi dalamnya tetap masih hampa. Aku tak mengerti kenapa formula ini terus dipakai. Kenapa memilih setting cerita yang butuh eksposisi, kenapa mereka tidak membuat pure dari sudut pandang monster raksasanya, misalnya. Di balik keseruan bag-big-bug, kita tidak terlalu perhatian lagi sama cerita. Malah mungkin, ada penonton yang gak peduli (dan gak ingat) ceritanya apaan. Kalo ada yang bilang film ini adalah “mindless destruction” maka itu benar. Dalam artian mindless yang betul-betul tidak mikirin apa-apa. Para Titan bertarung di kota, di antara gedung-gedung, yang hancur gitu aja seolah tempat itu kosong.

Ritme kejadiannya juga bisa lebih diperhatikan lagi. Karena film ini tuh kayak berjalan dengan aneh. Mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk memperlihatkan mengangkut Kong ke Hollow Earth, ketimbang petualangan di Hollow Earth itu sendiri. Menurutku durasinya terlalu singkat. Mungkin karena budget juga, maka Hollow Earth kurang dieksplor. Adegan Kong berantem ama Godzilla di sana aja gak ada. Padahal bisa seru kalo mereka berlaga di tengah medan yang gravitasinya berbeda. Film ini paling datar, ya memang di Hollow Earth itu. Aku bahkan gak ingat kalo Kong itu raksasa tinggi besar karena selama di sana sedikit sekali shot yang nampilin skala. Sedikit sekali yang menunjukkan betapa menakjubkannya ukuran dunia tersebut. Petualangan tim Millie Bobby Brown juga deserves more time. Dan kupikir lucu sekali, karakter Madison dan Jia sama sekali tidak pernah bertemu. Mereka tidak berkesempatan bertualang bersama. Tidak ada interaksi. Padahal bisa saja seru, soalnya Madison bisa dibilang kubu Godzilla sedangkan Jia sekutu dari Kong. Film seharusnya bisa menampilkan lebih banyak hal, sementara tetap ringan dan menghibur.

 

 

Kita ingin melihat dua monster raksasa yang ikonik berantem, dan persisnya itulah yang diberikan film ini kepada kita. Semua pertarungan diceritakan dengan memanjakan kehausan kita terhadap keributan skala epik. Dan yang membuatku tercengang adalah, film ini benar-benar ngasih kita pemenang pada duel maut ini! Karakter-karakter di dalam cerita dibuat tidak membosankan, mereka diberikan trait-trait yang unik. Pokoknya film ini seru dan menghibur. Dan di situlah film ini memberi garis batas. Karena dia gak pernah keluar dari garis tersebut. Tidak banyak development pada karakter-karakter menarik tadi. Alur ceritanya pun relatif simpel. Ini bisa jadi kelemahan atau sebaliknya jadi nilai lebih, tergantung darimana penonton menilai ‘hiburan’ bagi mereka sendiri. Bagiku, film ini oke, tapi memang mestinya bisa lebih seru lagi. Ritme dan petualangan, serta pertarungannya mestinya bisa lebih diperhatikan lagi. Karena ada beberapa bagian yang terasa seperti film ini melewatkan kesempatan besar.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for GODZILLA VS. KONG

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Perusahaan jahat di film ini bernama Apex, yang diambil dari istilah ‘apex predator’. Mengisyaratkan bahwa manusia adalah predator puncak dari rantai makanan. Apakah menurut kalian predator memang lebih baik daripada makhluk lain di bawahnya? 

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA