Tags

, , , , , , , , , ,

“Humans are the virus”

 

Pernyataan ‘manusia adalah virus’ awalnya merupakan pertanyaan yang mulai santer berseliweran sejak merebaknya pandemi virus Corona. Yang semakin ke sini, makin banyak tampaknya orang yang semakin yakin bahwa memang kitalah virusnya. Langit toh semakin cerah, polusi semakin berkurang begitu manusia-manusia terkurung dan terbatasi pergerakannya. Dunia sedang membersihkan diri dengan mengurangi manusia. Serius, beneran ada orang yang beranggapan seperti itu.  Perdebatan soal siapa yang sebenarnya penyakit untuk dunia inilah yang diangkat oleh film Gaia besutan sutradara Jaco Bouwer. Yang dijadikan sentral konflik antara protagonis dengan antagonis ceritanya. Sementara di latar belakang yang enggak di belakang-belakang amat, film menjalin horor dari tumbuhan jamur yang aktif menyebarkan spora, memperkuat ekosistem sendiri, dan mengubah yang ada di hutan itu menjadi monster setengah manusia, setengah tanaman.

Maka dari itulah, nonton Gaia ini berasa belajar alam lewat ilmu filosofis. Menggugah pikiran, sambil sangat disturbing secara bersamaan!

gaiaScreen-Shot-2021-02-16-at-9.47.40-AM

Monsternya akan tampak akrab buat penonton yang mainin game The Last of Us

 

Tadinya aku ngira ini film horor suku pedalaman. Cerita dimulai ketika Gabi, salah satu petugas hutan atau apalah yang terpisah dari rekannya saat mencari drone yang jatuh di tengah hutan. Kita tahu lebih baik daripada Gabi karena kita diperlihatkan drone yang ia cari itu dipukul jatuh oleh dua orang bertelanjang dada, berlumur lumpur, lengkap dengan senjata tradisional buatan tangan untuk berburu. Jadi naturally aku berpikir, mereka adalah orang hutan yang gak suka dengan keberadaan orang kota beserta alat-alat teknologi canggih itu. Apalagi kemudian Gabi terkena perangkap yang mereka pasang. Aku pikir, wah udah deh, pasti Gabi ketangkep dan disiksa. Tapi kemudian malam pun tiba, dan horor yang sebenarnya pun mulai menampakkan diri (lewat kelebatan-kelebatan, sehingga lebih mengerikan!) Ada sesuatu yang berbahaya di hutan, dan satu-satunya kesempatan Gabi untuk selamat ternyata justru terletak pada naungan dua orang yang ternyata bukan penduduk terbelakang, namun actually tahu satu dua hal tentang hutan dan penghuni unusual tersebut.

Setelah itu pun, film ini enggak pernah simpel. Gaia juga bukanlah cerita sederhana tentang survival Gabi melawan monster di hutan. Seperti sulur-sulur dan akar pohon yang bertumpang tindih, film ini punya banyak lapisan di dalam ceritanya. Seperti visual dari kamera drone yang terbalik-balik, film ini pun terasa disorienting. Bikin kita kehilangan pijakan, both lewat dialog-dialog dan adegan-adegan yang didesain supaya terasa seperti perjalanan yang trippy abis. Aku bahkan bingung harus mulai ngomongin film ini dari mana. Aku gak mau secara tak sengaja meng-spoil all the fun dari pengalaman menontonnya.

Well, mari mulai dari horor yang ditawarkan oleh film ini. Bouwer gak cukup hanya dengan horor creature. Dia sebenarnya sudah cukup berhasil, kalo kita hanya melihatnya dari sini saja. Bouwer lebih memilih untuk menggunakan prostetik alih-alih CGI, dan ini langkah yang tepat. Suasana surealis itu jadi benar-benar kerasa seramnya, karena somehow juga terasa otentik. Apalagi Bouwer tidak pernah over menampilkan monster-monsternya. Sebagai back up, Bouwer juga menggunakan elemen body horor. Yang juga tersampaikan dengan efektif berkat efek kostum. Film ini seperti menepis dugaan kita bahwa tumbuhan tidak bisa jadi horor yang menakutkan. Bayangkan saja gimana kalo tiba-tiba di permukaan kulit kita mendadak muncul jamur atau dedaunan. Yang kalo ditarik sakit, dan mengeluarkan darah, karena jamur dan tumbuhan tersebut ternyata nyambung ke saraf, seolah tumbuh langsung dari dalam kita. Itulah yang kita lihat terjadi kepada Gabi dan karakter-karakter di film ini. Bouwer menampilkannya dengan sangat grounded sampai-sampai kulit kita akan ikut terasa gatal-gatal dan memanas menyaksikan Gabi mencabuti jamur-jamur di kakinya. 

Suasana horor surealis, sebaliknya, dicapai oleh Bouwer lewat parade shot demi shot artificial yang dipersembahkan seperti fotografi yang super creepy. Gabi yang terbaring di tepian air, Gabi yang berdiri di tengah air – dengan sulur merambat di kaki, karakter yang literally bersetubuh dengan bumi, shot spora yang mengalir merasuk ke bagian-bagian hutan, bahkan shot kamera drone yang terbalik-balik tadi. Film menampilkan shot-shot tersebut sebagai adegan mimpi, atau fantasi, yang menambah banyak sekali kepada visual disturbing yang diniatkan. Menambah kompleksnya muatan dan bobot film ini.

Dan itu kita belum ngomongin karakter loh. Selain Gabi, yang jadi sentral di sini adalah karakter dua orang yang tinggal di hutan itu. Mereka adalah ayah dan anak, Barend dan Stefan. Dengan Stefan actually lahir dan gede di hutan, belum pernah melihat kota atau dunia luar sama sekali. Ke mana ibu mereka adalah pertanyaan bagus yang gak akan kujabarkan karena ibu mereka punya peranan besar terhadap keseluruhan cerita. Yang aman untuk diberitahu adalah hal yang ‘dibawa’ oleh kehadiran Gabi di pondok – dan hutan mereka. Film menggali relasi Gabi dengan Stefan – yang belum pernah melihat cewek sebelumnya, kecuali foto sang ibu – dan menjadikannya sulut untuk konflik denagn Barend. Dalam prosesnya, film berhasil membuat Stefan dan Barend sebagai karakter yang fully-realized dan kompleks. Terutama Barend. Dia adalah man-of-science yang terpuruk dalam duka, sehingga akhirnya menemukan ‘Tuhan’. Sudut pandang Barend basically jadi pondasi bangunan cerita dan visi film ini. 

Gaiada

Menemukan Tuhan di hutan

 

Film tak melupakan karakter satu lagi. Si Gaia, si jamur yang menguasai hutan itu sendiri. Untuk beberapa kali, film berhasil mencuatkan bahwa jamur yang bersemayam di pohon besar tempat Barend ‘sembahyang’ itu seperti punya kehendak sendiri. Semua hal yang kita lihat dilakukan oleh si Gaia, dan dia punya kehendak/motivasi kuat di baliknya. Dia bisa menjadi protagonis dan antagonis seiring cerita berjalan. Segitu kompleksnya film ini. Namun juga tak pernah terasa terbebani oleh eksposisi, karena pilihan sutradara untuk menguarkan misteri dari hal-hal yang tidak pernah diungkap dengan gamblang. Malahan, ketika menyebut protagonis dan antagonis di awal tadi, aku sebenarnya gak yakin apakah protagonis yang kumaksud di sini itu adalah si Gaia atau si Gabi.

Bumi menyediakan banyak sekali untuk kebutuhan makhluk hidup, termasuk manusia. Tapi terkadang manusia lupa dan malah memuaskan keserakahannya.  Ke-ignorance itulah virus yang sebenarnya. Manusia seharusnya jadi penyembuh, demi Bumi.

 

Karena memang si Gabi inilah yang paling lemah, secara karakterisasi. Kekompleksan dirinya hanya sebatas film membuat dia sebagai sosok kekasih sekaligus sosok ibu bagi Stefan. Karakternya hanya sebatas seorang perempuan. Yang tidak punya hook emosional apa-apa selain kita kasian lihat dia menderita karena lumrah kasian lihat manusia menderita. Karakternya tersebut bahkan gak jalan sebelum sampai di tengah. Di awal, Gabi ini tidak punya motivasi. Kalopun ada malah konyol; Gabi hanya mau membersihkan lingkungan dengan membawa pulang ‘bangkai’ dronenya. Tapi dia melakukannya dengan cara yang tepat seperti yang diguyonkan oleh partnernya di kapal saat itu. “Ada bahaya” “Whooo aku mau lihat!” Sebagian besar waktu, Gabi hanya difungsikan film sebagai medium untuk adegan-adegan surealis. Adegan-adegan tersebut dimunculkan sebagai mimpi atau fantasi atau halusinasi Gabi.

Adegan-adegan mimpi ini membawa kita ke nilai lemah film berikutnya. Aku mengerti kebutuhan adegan-adegan mimpi tersebut. It’s okay film punya banyak adegan mimpi atau adegan halusinasi. Khususnya ketika adegan tersebut memiliki makna dan memang menggerakkan alur cerita. Kekurangan film ini adalah, adegan-adegan mimpi itu ditutup dengan basically cara yang sama. Gabi terkesiap bangun. It’s get old very fast. Kita melihat rentetan visual yang creepy, kemudian “Haaah!” Gabi tersentak kaget. Begitu terus. Jadinya boring karena setiap kali muncul adegan ‘aneh’ kita jadi langsung mengantisipasi Gabi bangun dengan kaget. Ini justru merusak tempo penceritaan, dan seharusnya bisa dilakukan dengan cara lain. By the time Gabi mimpi untuk kedua kali, sebenarnya sudah terlandaskan di pikiran penonton bahwa itu adalah pengaruh atau bentuk interaksi Gabi dengan Gaia. Sehingga tidak perlu lagi harus selalu digawangi dengan adegan Gabi terbangun. Film seharusnya sudah bebas untuk melakukan transisi ke sureal tersebut dengan mulus, menyatu dengan rest of the film. Biarkan saja penonton yang menebak-nebak.

 

 

Terakhir kali aku nonton horor yang ‘musuhnya’ adalah tumbuhan ini kapan ya, The Ruins (2008) kayaknya pas Halloween tahun kemaren. Karena memang cukup jarang sih. Apalagi yang benar-benar jadi horor enviromental yang serius dan cukup filosofis kayak film ini. Hebatnya film ini adalah dia tampil kompleks tanpa menjadi berat. Horornya aja ada banyak, horor monster, horor surealis, bahkan body horor. Belum lagi karakternya, yang saking kompleksnya aku jadi segan menjabarkan banyak seperti biasa. Karena memang sebenarnya gagasan film ini sendiri tidak serumit itu. Sebenarnya justru sederhana, tapi film berhasil bercerita melebihi gagasan tersebut. In a positive way. Dia gak sekadar banyak gaya. Tapi ini juga bukan film yang sempurna, karena ada beberapa aspek yang repetitif. Dan juga karakter utama yang kalah kompleks dan kalah menarik dibanding karakter lain.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for GAIA

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya teori tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Barend dan pohon Gaia itu? 

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA