Tags

, , , , , , , , , ,

 

Sejujurnya, aku gak mengerti kenapa WWE masih mempertahankan Extreme Rules sebagai salah satu acara pay-per-view mereka. Karena dari tahun ke tahun sudah jelas. Mereka gak bisa untuk benar-benar menjadi “Extreme” seperti dulu.

Acara Extreme Rules tercatat bermula di tahun 2009. Tapi sebenarnya, sejarahnya mundur beberapa tahun ke belakang. Tepatnya di tahun 2005. Saat WWE membuat ppv khusus untuk reuni ECW; acara gulat yang terkenal dengan ke-hardcore-annya. Acara saat itu diberi nama “One Night Stand”. Begitu ECW ditetapkan sebagai brand kecil-kecilan di major show WWE (bersama Raw dan Smackdown) di tahun 2007, One Night Stand dijadikan ppv milik brand tersebut. Nah, di tahun 2009, WWE, yang telah menapaki rute acara PG (Bimbingan Orangtua), secara resmi mengganti istilah ‘hardcore’ dengan ‘extreme rules’. Sehingga One Night Stand yang konotasinya juga enggak PG tersebut, diganti namanya. Jadi Extreme Rules juga. Tapi dengan konsep yang tetap sama. Semua pertandingan di acara tersebut punya stipulasi atau aturan-aturan yang ekstrim. Last Man Standing, Tables, TLC, No Holds Barred, hingga ke stipulasi unusual seperti ‘Yang Kalah Dicukur Rambutnya’ dan last year’s ‘Eye for an Eye’ match.  Seiring perkembangan; seperti WWE yang memilih untuk membuat lebih banyak ppv berdasarkan match tertentu (kayak, ppv TLC yang basically sama-sama extreme, karena di situ jenis pertandingannya seputar tangga, meja, dan kursi) dan keadaan zaman itu sendiri, konsep Extreme Rules semakin tergerus. Tahun kemaren, WWE masih bisa memainkannya ke dalam tema horor. Namun kita bisa melihat dan merasakan taraf ekstrim-nya itu semakin berkurang. Malah berkembang ke arah konyol – Eye for an Eye tadi matchnya ternyata tidak segarang judulnya.

Dan tahun ini, Extreme Rules benar-benar terasa hampa. Dari enam match yang ditampilkan, yang ada stipulasinya cuma dua. Itupun cuma Triple Threat dan Extreme Rules. You know, stipulasi yang biasa ada. Di Extreme Rules tahun-tahun awal, match Extreme Rules single itu jarang loh – dulu itungannya itu standar dari yang paling standar. But now, Extreme Rules jadi stipulasi main event. Buatku, ya sayang banget. Padahal kalo dijual dengan stipulasi keren, match-match di acara ini pasti menarik. Bayangkan kalo Uso lawan Street Profits (dengan cerita Montez Ford balas dendam abis cedera rusuk) diadakan dalam Tables Match. Atau Charlotte dan Alexa, yang bawa-bawa boneka dalam feud mereka, diadain dalam Dollhouse Match, or something. Dan, ada juga EST balas dendam sama The Man, c’mon masa mereka ga bisa nemuin stipulasi keren sesuai dengan tema feud tersebut!

Jadi, tahun ini ppv Extreme Rules bukan hanya mengecewakan. Tapi juga kurang menjanjikan. Udah gak cocok sama namanya. Mestinya diganti aja. Lucky for us, some fans on internet took liberty to correct this.

xtremeones-en-los-combates-de-WWE-Extreme-Rules

Ah, that’s more like it

 

Normal Rules sangat-sangat reguler, sampai-sampai juara WWE kita yang baru aja dikasih tanding dalam sebuah pertandingan tag team reguler. Big E yang akhirnya ngecash in koper MITB ke Almighty Bobby Lashley (yang sudah cukup lama mendominasi Raw dengan tangan dingin), finally memenuhi keinginan dan ekspektasi para fans. Big E yang momentumnya lagi berapi-api itu, sama sekali tidak terjadwal untuk bertanding di ppv ini. Instead, WWE mengadakan tag team dadakan untuknya seolah malam ini cuma malam-malam biasa di hari Senin. Dari sini saja sudah kelihatan, bahwa WWE sendiri tidak menganggap ppv ini begitu spesial. They are not even trying

Yang keliatan berusaha keras itu hanya superstar-superstarnya saja. Kalo saat nonton ini ternyata kita terhibur, dan matchnya ternyata cukup seru, itu karena aksi dan penampilan hebat para superstar. Big E, New Day, AJ Styles, Uso, Street Profits, Jeff Hardy, Sheamus, Damien Priest, Finn Balor, dan lain-lain yang tampil, mereka semua adalah profesional yang memberikan tidak kurang sedikitpun. Walaupun pertandingan mereka di sini, gak banyak bedanya dengan biasa mereka lakukan di Raw atau Smackdown, tapi mereka masih keliatan menggali sesuatu yang belum pernah kita lihat. Di balik akhiran match yang berupa roll up kentang, kita disuguhkan hiburan aksi counter mengcounter (serta komedi Sheamus niruin Jeff Hardy). Di balik tag team match standar, kita dibikin seru-seruan oleh hot tag dan permainan psikologi injury. Tekanan untuk tampil menghibur memang bersandar pada superstar, dan aku merasa dinamikanya di sini memang setimpang itu. Para superstar disuruh bermain terbaik, tapi WWE sendiri (yang belakangan ini udah nunjukin mereka bisa memecat siapa aja kapan saja dengan alasan ‘budget cut’) tidak pernah menjual acara ini di luar sebagai acara B, yang bahkan hasil akhirnya aja sudah mereka ‘spill’ sendiri dengan mengiklankan match card acara lain yang bakal berlangsung sebulan lagi. 

xtremeRules_SheamusPriest-6cf6871eee18a57e3645431d3acb9a91

Saking stressnya superstar, jadi banyak botch tuh!

 

Acara ini hebat… sebagai background noise. Kayak, kalo kita lagi sibuk tapi gak mau sepi, maka acara bisa diputar untuk menghiasi suasana. Cukup sesekali aja dilirik, pas lagi ada yang seru, atau pas superstar favorit kita lagi nampil. Dan memang persisnya begitulah keadaan WWE sekarang. Gak lebih sebagai background noise di tengah bangkitnya skena gulat-hiburan. Di sana-sini, acara gulat lain sibuk menampilkan terobosan. Bikin riak dengan entah itu berita hiring, ataupun match-match dahsyat. Tapi WWE masih bergeming. Mereka seperti menolak percaya bahwa mereka sekarang punya kompetitor. Mereka ngegarap show, tetap dengan mindset tidak ada kompetisi. Sehingga hasilnya, ya, acara mereka jadi seperti Normal Rules. Terasa tidak signifikan. Tidak penting dan tidak relevan lagi untuk diikuti.

Coba kita lihat. Hal penting yang terjadi dalam Normal Rules cuma dua. Rematch Becky Lynch dengan Bianca Belair (yang berujung dengan kembalinya Sasha Banks) dan Lily si boneka misterius yang RIP (alias disobek-sobek oleh Charlotte). Selain itu, dengan tidak adanya pergantian juara, tidak adanya gerak maju storyline, dan dengan akhiran yang sebenarnya sudah kita ketahui, match dalam acara ini semuanya tidak ada kepentingan lagi. Di sinilah WWE itu salah. Mereka harusnya membuat stipulasi untuk mengangkat derajat pertandingan-pertandingan tersebut. Setidaknya bikin mereka unik sehingga ada kepentingan untuk ditonton. Tapi kan, tidak. Dibiarkan hampa. Tinggal superstar sendiri yang sibuk cari cara dan melakukan yang terbaik. Dan bahkan dua yang penting itu, bisa jadi berujung jadi biasa-biasa aja di tangan penanganan WWE yang cuek bebek sama kompetisi. Kembalinya Sasha bisa saja berujung jadi another Triple Threat. Sedangkan Lily yang robek, bisa jadi hanya penting di hari ini. Besoknya dilupakan. Karena WWE memang cenderung untuk gak-kontinu seperti itu. Lihat saja stori Alexa dan Fiend. Yang bolong-bolong karena WWE gak ngerti cara bikin storyline mereka. 

Beneran deh, WWE kayak benar-benar gak tau cara mengembangkan cerita dan karakter supernatural. Mereka kayaknya udah lupa. Undertaker has cast some really big shadow. Bray Wyatt malah dipecat di tengah-tengah karakter yang lagi hangat-hangatnya. Alexa Bliss gak jelas juntrungannya – setelah kalah dari Charlotte di sini apakah dia bakal jadi manusia biasa lagi, atau malah semakin ‘gila’. Dan Demonnya, Finn Balor. Maaan, The Demon benar-benar dibuat insignifikan.

Satu-satunya hal ekstrim yang hadir pada acara ini adalah betapa extremely insignificant-nya semua hal yang ada di dalam durasi nyaris tiga-jam ini.

 

Seperti yang sempat disinggung tadi, match Demon lawan Roman Reigns aja gak dipush. Malah di-devaluate oleh WWE dengan ngiklanin Reigns melawan Lesnar untuk Title Match di Arab. Bukan hanya itu, leading up ke Normal Rules ini, Reigns malah dibuat sibuk meladeni Big E dan New Day ke Raw. Balor ditinggal gitu aja. Dan si Balor ini udah dicuekin sedari SummerSlam kemaren, di mana dia seharusnya adalah penantang tapi kemudian diambil alih oleh John Cena. Match Reigns melawan Demon Balor dijadikan main event di Normal Rules, meskipun kita semua sudah tahu siapa yang bakal menang. Sekali lagi, ini harusnya jadi tugas WWE untuk menyiapkan kejutan di match tersebut. Supaya ada sesuatu yang bisa kita dapat dari menontonnya. Dalam kata lain, keberhasilan match ini tergantung dari alur atau kejutan yang sudah disiapkan oleh WWE. Bagaimana mereka membuat kekalahan Demon Finn Balor menarik, tapi tetap respek sama karakternya, dan juga tidak membuat Roman Reigns terlihat lemah atau pengecut. Jika WWE benar-benar peduli sama acara ini, jika WWE mengenali kompetisi itu ada, pastilah mereka akan menyiapkan storyline yang keren, menyiapkan aksi seseru yang mereka bisa. Like, push superstar sedikit lebih jauh in sense of apa yang bisa atau tidakbisa mereka lakukan/tampilkan. Tau dong apa yang dipilih WWE sebagai penutup dan konklusi untuk match yang sebenarnya sudah tidak perlu kita tonton lagi ini?

It was shit!!

Demon Balor jatuh dari atas turnbuckle karena talinya copot. Izinkan aku meminjam kata-kata Randy Orton sebentar. “Stupid! Stupid! STUPID!!” Dikeroyok oleh Bloodline jelas lebih respekful buat Demon Balor ketimbang jatuh sendiri kayak gini.

xtremewwe-finn-balor-demon-extreme-rules-finish

Bukan hanya Lily yang RIP di acara ini

 

Selama ini kita percaya ungkapan yang bilang bahwa gak ada superstar yang lebih besar daripada WWE. Bahwa WWE-lah yang meng-create superstar. Tapi kali ini, di acara Normal Rules ini, keliatannya adalah superstar yang berusaha mati-matian mengangkat WWE (also, mati-matian menjaga pantat sendiri supaya gak dipecat). Karena pada ppv yang sialnya kita telah tonton ini, sama sekali tidak terasa keinginan WWE untuk mengangkat lebih. Melainkan sekadar, melangsungkan acara saja. Mereka bahkan tidak mau susah-susah untuk live it up to the name of the show. Pertandingannya tetap terasa seru, ya karena WWE sekarang memiliki superstar kelas profesional. WWE boleh saja berpikir mereka adalah perusahaan gulat nomor satu, yang menghasilkan superstar keren dari produk yang keren. But I do believe, WWE sekarang gak punya produk yang bagus. Mereka cuma punya superstar keren. Dan seharusnya mereka lebih memperhatikan superstar-superstar tersebut dengan memberikan mereka playground yang lebih asyik dan memancing penampilan maksimal. The Palace of Wisdom sebenarnya menolak untuk memilih karena WWE sendiri kayak gak berusaha, tapi demi menghormati para superstar, kami tetap memilih dan menobatkan Bianca Belair dan Becky Lynch sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

Full Results:

1. TAG TEAM The New Day mengalahkan AJ Styles, Omos, dan Almighty Bobby Lashley
2. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos bertahan dari The Street Profits
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte Flair tetap juara ngalahin Alexa Bliss
4. UNITED STATES CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT Juara Bertahan Damien Priest menang atas Sheamus dan Jeff Hardy
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bianca Belair menang DQ dari Juara Becky Lynch saat Sasha Banks datang ikut campur
6. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP EXTREME RULES Roman Reigns retains over The Demon Finn Balor

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.