“To survive, you must tell stories”

 

Ciri khas Wes Anderson memang gampang dikenali. Sutradara ini gemar menangkap gambar-gambar yang sudah ia atur sehingga berkomposisi simetris, dengan palet warna cerah yang seolah mengalir gradasinya memenuhi frame. Dikatakan seperti lukisan kurang tepat, melainkan lebih seperti diorama. Miniatur dari bangunan ataupun pemandangan yang dicomot langsung dari fantasi di dalam kepalanya. Anderson lalu mengisi dunianya itu dengan begitu banyak karakter (yang kebanyakan dari mereka bersikap seperti anak kecil yang sangat absurd), untuk kemudian memuatnya ke dalam struktur yang tak-kalah unsualnya. Itulah pesona dari karya-karya Wes Anderson yang sukar sekali ditiru kesempurnaan-uniknya. Namun sekalipun visualnya enak dan gemesin untuk dilihat, sering juga film We Anderson sukar untuk diikuti. Banyaknya karakter dengan beragam backstory, semuanya bicara begitu cepat tanpa banyak waktu untuk kita mencerna. Meninggalkan kita tergopoh-gopoh sendiri ‘memungut’ semua materi, figuring it out strukturnya, dan mencari tahu apa yang terjadi pada cerita dan yang ada di baliknya. 

Kesukaran itulah yang juga kurasakan saat menonton karya terbarunya, The French Dispatch. Menit-menit pertama begitu crowded – sumpek – oleh pengenalan segitu banyak jurnalis yang bekerja di ‘dapur’ majalah fiksi bertajuk The French Dispatch (berdasarkan majalah The New Yorker). Keningku berkerut, berusaha memahami dan menelan semua informasi yang dihantarkan bertubi-tubi tersebut. Dan kemudian aku tertawa. Film ini sendirinya ternyata adalah sebuah majalah!

frenchthe-french-dispatch-1280x720

Majalah yang dibuat oleh seorang filmmaker penuh cinta dan craftsmanship

 

The French Dispatch terbagi ke dalam beberapa cerita pendek. Tapi ini gak lantas menjadikannya seperti antologi biasa. Sebab cerita-cerita pendek itu dimaksudkan sebagai artikel atau rubrik yang ada pada majalah. Lengkap dengan judul, penulis artikel, dan keterangan lainnya yang biasa kita jumpai pada halaman majalah. Katakanlah; rubrik traveling budaya lokal, seni, politik, dan kuliner. Konteks narasi di sini adalah majalah French Dispatch hari itu dirundung duka. Editor mereka meninggal dunia secara tiba-tiba. Meninggalkan wasiat bahwa majalah ini akan ditutup. Jadi para jurnalis berkumpul untuk edisi terakhir majalah. Artikel yang lantas jadi film ini adalah tulisan terakhir beberapa jurnalis yang bakal dimuat. Di akhir film, kita akan melihat mereka semua berembuk menulis obituari untuk si Editor.

See, benang merah cerita-cerita itu memang cuma bahwa mereka adalah artikel yang divisualkan untuk kita tonton. Artikel dari majalah yang enggak bakal terbit lagi. Maka menonton film inipun akan terasa gak-kontinu. Gak ada reward gede. Selain menikmati bagaimana tulisan jurnalis fiktif ‘dibacakan’ kepada kita. Namun juga bukan berarti film ini bakal hampa. Wes Anderson jarang sekali membuat karya yang tidak ada hubungan personal dengan dirinya. Dan The French Dispatch ini kentara sekali passion dan respek sang sutradara mengalir, kepada budaya Perancis, dan terutama kepada penulisan majalah yang kian memudar di dunia modern kita. 

Majalah memang sudah tergantikan oleh media-media online. Yang proses penulisan dan metode, bahkan konsepnya sama sekali berbeda. Sekarang, berita-berita atau artikel, lebih mementingkan kepada kecepatan. Lebih duluan publish, berarti kemungkinan view banyak jadi lebih gede. Isi jadi nomor dua, yang penting judulnya dulu. Maka gak heran lagi kalo sekarang kita ngelihat judul-judul bombastis, tapi begitu diklik isinya cuma paling banyak lima baris – yang dipecah ke dalam lima halaman – dengan isi berupa informasi yang belum memuat apa-apa selain tanggal dan garis besar kejadian. The French Dispatch menunjukkan (atau mengingatkan kembali, tergantung usia penontonnya) bahwa nulis artikel dulu tidak sebasic itu. Bahwa melaporkan sesuatu juga ada seninya. Bahwa yang terpenting seharusnya adalah menghasilkan sesuatu yang benar-benar bisa dibaca, bisa diikuti, selain juga tentunya berisi informasi yang mendetail.

Storytelling adalah sebuah seni yang membuat apapun jadi gampang mencapai penonton, pendengar, pembaca, atau penikmatnya. Ketika jurnalisme bertemu dengan ini, maka artikel yang sedang dilaporkan akan menjadi lebih imersif. Dunia dulu mengerti akan hal ini. The French Dispatch membawa kita ke dunia tersebut.

 

Di situlah aku merasa relate sama film ini. Walaupun aku bukan jurnalis, atau bahkan bukan penulis beneran, tapi setidaknya aku merasa mindsetku ketika memutuskan untuk gerak di dunia blog khusus menulis review, sejalan dengan pemahaman yang diusung oleh The French Dispatch. Bahwa menyampaikan sesuatu haruslah dengan bercerita. Aku gak mau review-reviewku terbaca seperti laporan berita – hanya informasi filmnya dibikin oleh siapa, dibintangi siapa, dan bicara tentang apa. Aku selalu berusaha membuat penyampaiannya sebagai suatu cerita. Bukan menceritakan ulang plot, melainkan berusaha membuat ulasan itu sendiri punya pembabakan atau punya konflik atau punya pertanyaan yang bakal terjawab bersama-sama. Wes Anderson membuat ‘sebuah artikel tampil bercerita’ itu tampak gampang dilakukan. Padahal enggak. Kalo gampang, orang-orang masih melakukannya, jurnalisme kita gak akan berubah jadi berita gosip sekarang.

Makanya aku sangat menikmati film ini. Menarik sekali melihat cara Anderson memvisualkan jenis-jenis artikel/rubrik majalah ke dalam film pendek. Kadang dia membuat si penulis artikel sebagai perspektif utama, kadang dia membuat tokoh yang diberitakan sebagai karakter utama. 

French-Dispatch-Review-A-beautiful-but-hollow-movie-1280x720

Saat nonton aku baru tau kenapa filmnya banyak banget pakai pemain-pemain bintang

 

Bagian cerita yang paling pendek adalah artikel budaya lokal, yang ditulis dan dimainkan langsung oleh jurnalis yang diperankan oleh Owen Wilson. Bayangkan vlog orang lagi travelling di sebuah kota, dia mengunjungi tempat-tempat sambil bercerita kepada kita. Nah, cerita karakter Owen ini seperti itu. Hanya, dia bicara langsung kepada kamera film, dari atas sepedanya.  Kita bisa melihat ini sebenarnya adalah artikel jalan-jalan yang penulisnya akan ‘berpindah-pindah’ tempat, menceritakan mereka satu demi satu. Di sinilah nostalgia Anderson terhadap Old-France bermain-main jadi visual yang indah tapi juga kocak kepada kita. Bagian ini ditempatkan di awal karena juga difungsikan untuk menjelaskan latar tempat film ini kepada kita, yakni kota fiksi Ennui-sur-Blase. Cerita bagian kedua, favoritku, adalah tentang Benicio Del Toro yang jadi napi tertuduh pembunuhan dengan bakat melukis yang luar biasa. Muse-nya adalah sipir perempuan, yang juga jadi kekasihnya, cerita ini berakhir dengan keren saat karakter yang diminta melukis untuk pameran itu melakukan sesuatu yang mengejutkan terhadap lukisan-lukisannya. Secara cerita, inilah bagian yang paling mudah untuk dinikmati. Motivasi dan kejadiannya jelas. Secara gagasan, bagian yang berasal dari artikel eksibisi seni ini menyinggung soal eksploitasi seni, dengan seniman yang terpenjara. Kalo mau dihubungkan dengan jurnalisme, bisa saja bagian ini menyikut soal bagaimana penulis bagai terpenjara dengan pesanan-pesanan tulisan.

Yang paling kocak adalah artikel ketiga. Bahasan politik, mereferensikan laporan jurnalistik nyata dalam sejarah The New Yorker, ketika penulis yang outsider masuk ke dalam masalah sehingga tulisannya bisa jadi tidak senetral seharusnya. Cuma, bagian yang dibintangi Timothee Chalamet dan Frances McDormand ini dipersembahkan dengan lucu. Seperti tak serius. Kasus politiknya, misalnya, dibikin sebagai protes mahasiswa yang menginginkan supaya cowok bisa bebas ke asrama cewek. Negosiasinya nanti melibatkan si Timothee sebagai ketua manifesto main catur dengan pemerintah, secara terpisah. Namun sebenarnya, sebagaimana fungsi komedi, bagian ini banyak celetukan dan simbol. Artikel terakhir berupa tulisan wawancara Jeffrey Wright dengan seorang chef yang memilih bekerja di penjara hingga nantinya dia terlibat dalam menangani kasus penculikan. Artikel ini kita tonton dalam bentuk talkshow dengan cuplikan adegan-adegan yang diceritakan oleh si chef. Bagian ini yang paling banyak aksi, sampai membuat film butuh untuk menjadi sebuah animasi.

Tangkas melaporkan, punya jiwa seni, ngerti politik, dan bisa ‘memasak’ berita jadi cerita. Tampaknya itulah yang kualitas jurnalis yang dirindukan oleh film ini

 

Gak tanggung-tanggung memang, Anderson menggodok adegan demi adegan. Dia juga menggunakan warna untuk membedakan perspektif lebih lanjut. Kita akan melihat di satu adegan yang sama, film akan berubah warna dari hitam-putih ke colorful, lalu balik lagi ke hitam-putih. Yang juga menambah keunikan visual film. Jadi meskipun antara satu cerita dengan cerita lain tampak tidak langsung menyambung, atau bahkan film ini jadi susah untuk diikuti dengan beragam karakter dan warna dan humor absurdnya, tapi justru dengan sebanyak itu kreasi yang dihadirkan mestinya gak ada alasan bagi kita untuk bosan ataupun mengantuk ketika nonton film ini. Semua memang didesain seperti itu, Anderson ingin membuat menonton film ini terasa seperti sedang membaca majalah dengan beragam artikel di dalamnya.

 

 

 

 

Ya, aku tahu film ini tidak semudah itu untuk diikuti. Apalagi jika kita terbiasa sama tontonan dengan narasi yang jelas. Karya Wes Anderson ini tidak peduli dirinya gampang dicerna atau tidak. Ini toh surat cintanya kepada seni jurnalisme majalah yang telah hilang. Semua perhatiannya dicurahkan untuk kreasi dan menciptakan dunia Ennui, dengan kantor majalah dan berita-berita itu secantik dan sehidup-hidupnya, meskipun absurd. Komedi dan karakternya gak bakal langsung konek dengan kita. Semuanya dikerahkan untuk membuat film ini sebagai visual majalah dengan cerita yang bertubi-tubi. Kalo dituliskan benar-benar, ulasan film ini akan jadi sama crowdednya. Maka aku berusaha membuatnya seringan mungkin, dan gak menyebut terlalu banyak. Seenggaknya, aku mau mencuatkan secuil hal yang bisa kita bawa tidur setelah menonton ini.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE FRENCH DISPATCH

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya nostalgia khusus dengan majalah? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA