DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS Review

 

“To be content doesn’t mean you don’t desire more, it means you’re thankful for what you have and patient for what’s to come”

 

 

Bukankah sudah kubilang bahwa cerita seorang ibu paling baik diapproach sebagai horor? I mean, toh memang di antara horor-horor bagus yang beredar, cukup banyak mengangkat tema bagaimana sih psikologis atau perasaan perempuan sebagai ibu. Bahkan mungkin setengah dari horor yang kita bahas di blog ini adalah horor tentang ibu. Marvel Studio pun tampaknya sependapat. Begitu sudah jelas sekuel Doctor Strange (2016) akan melingkupi saga Wanda Maximoff yang merasa kehilangan keluarga/anaknya, Marvel lantas mendapuk Sam Raimi untuk duduk di kursi sutradara.

Raimi terkenal lewat trilogi The Evil Dead (1981-1992). Gaya horornya yang seram-dan-menghibur-secara-bersamaan (gak percaya? coba tonton salah satu horor modernnya; Drag Me to Hell) cukup banyak jadi panutan oleh filmmaker. Namun begitu, ini bukan kali pertama Raimi menangani proyek superhero. Film Spider-Man Sony tahun 2002 yang punya dua sekuel itu kan, Raimi yang garap. Dia telah sukses mengimplementasikan gaya horornya ke dalam format superhero, sesuai kebutuhan. Tapi proyek tersebut terhenti setelah Raimi merasa gak puas oleh campurtangan studio di film ketiga. Makanya sekuel Strange kali ini jadi big deal. Marvel pastilah ngasih kebebasan yang luas bagi Raimi untuk mengkreasikan gayanya, sehingga sutradara ini mau aja untuk kembali ke ranah superhero. Setelah kutonton (akhirnya! yang nyebelin dari masa liburan ialah kupasti telat nonton sebab bioskop penuh), benar saja. Kita udah dapet film superhero dengan rating Dewasa yang penuh adegan sadis, tapi Doctor Strange in the Multiverse of Madness ini menawarkan sesuatu yang lain. Benar-benar ngepush PG-13 dengan cerita ibu yang jadi jahat hanya demi bersama anaknya, lengkap pake zombie, orang terpotong dua, dan kepala meledak!

Multiverse of Madness literally jadi MOM (ibu) kalo disingkat!

 

 

“Was there any other way?” adalah kalimat yang jadi kunci tema pada narasi. Apa ada cara lain, tanya Wanda kepada dirinya sendiri yang terus memimpikan dua putra ciliknya, cara lain untuk bisa bersama mereka. Multiverse yang jadi judul film inilah cara tersebut. Jadi cerita film ini intinya adalah tentang Wanda yang berusaha mendapatkan kekuatan untuk pindah-semesta. Wanda memburu satu-satunya makhluk di seluruh alam semesta yang bisa menyebrang semesta sesuka hati. Makhluk berupa perempuan remaja bernama America Chavez. Nyawa remaja tersebut ada dalam bahaya karena Wanda yang semakin gak sabar menjadi semakin terbenam dalam kejahatan.  Di dalam tidur melihat Chavez dikejar monster bersama dirinya yang tampak agak lain, Strange awalnya mengira itu cuma mimpi buruk. Tapi kemudian Chavez beneran muncul. Strange kini harus melindungi Chavez, yang tentu saja membuat Wanda jadi menganggapnya musuh. Wanda ngamuk, Kamar-Taj diporakporanda, orang-orang jadi korban, Strange dan Chavez terpaksa kabur ke semesta lain guna mencari kitab yang bisa mengimbangi kekuatan Wanda yang udah total jadi Scarlet Witch dengan buku sihir jahat DarkHold!

Dari sinopsis singkat tadi itu aja udah kelihatan. Berlawanan dengan kalimat kunci tadi, there is no other way, cerita seperti ini didirect bukan oleh Raimi. Dia adalah orang yang tepat untuk menghidupkan dunia penuh sihir, karakter berkekuatan aneh, dan segala universe yang ajaib. Aku suka gimana Raimi tampak gak tertarik sama cameo-cameoan. Mungkin fans akan berpikir liar melihat ada kata Multiverse, you know, kebanyakan mungkin akan berpikir bahwa ini bakal jadi kesempatan emas untuk memunculkan banyak surprise character. Sialnya bagi mereka, Multiverse menurut Raimi adalah sebuah lapangan bermain yang luas. Tempat dia bisa memasukkan gaya bercerita horor ringan-tapi-seramnya. Raimi memilih fokus kepada memvisualkan hal yang grounded dari cerita fantastis yang dipercayakan kepadanya. Dan dia gak tanggung-tanggung dalam visualisasinya. When it moves, semua bergerak cepat tapi kita bisa merasakan sensasi horor di sana sini. Gak ragu dia memasukkan elemen jumpscare; eksistensi jumpscare di superhero ada sudah cukup ngagetin! Adegan aksinya walau gak frontal pakai darah, tapi tetap bikin ngilu karena brutal datang secara subtil. Kamera akan ngezoom ke wajah untuk nunjukin intensitas karakter. Elizabeth Olsen yang jadi Wanda dapat banyak momen untuk menunjukkan permainan akting dan dialog ekspresifnya, dan semuanya dimanfaatkan maksimal. Dari Avenger terkuat yang bikin kita merasa aman dia berubah jadi bikin kita merasakan teror. Adegan Wanda nyerang Kamar-Taj intens banget. Asap yang datang menyelimuti pasukan good guys, ngasih kekelaman yang langsung kerasa sunyi-sunyi berbahaya kepada kita. Voldemort harusnya konsultasi ke Wanda dulu sebelum dia menyerang Hogwarts. Olsen could go dari bikin kita simpati, ke ‘njir gila lo ye?’, ke bikin kita pengen ikutan kabur (bayangin dikejar penyihir ngamuk yang lari terseok berdarah-darah dengan rambut terurai!) ke bikin kita merasa kasihan lagi dengan amat sangat mulus.

Arahan Sam Raimi membuat film ini lebih dari sekadar watchable, berkat sensasi superhero-tapi-horornya itu. Arahannya justru mengangkat film dengan naskah yang sebenarnya agak minimalis ini. Multiverse of Madness paling kompleks dalam membahas Wanda alias Scarlet Witch. Sementara tokoh utamanya, si Doctor Strange itu sendiri, pembahasannya sama minimalisnya seperti protagonis dalam The Northman (2022) yang baru kureview sebelum ini. Untungnya memang Strange enggak segabut Newt Scamander di film kedua Fantastic Beasts (2018). Keberadaan Strange di dalam cerita masih tampak penting. Dia gak cuma buat nolong si Chavez. Melainkan ada keparalelan yang coba ditarik antara dirinya dengan Wanda. Mereka sama-sama orang yang punya kehilangan di semesta mereka. Jika Wanda pengen hidup bersama anaknya lagi, maka Strange ini, well untuk gambaran; kita melihat dia datang ke nikahan mantan. See, orang yang udah move on pasti gak bakal ke nikahan mantan (padahal karena gak diundang hihihi) kan? eh atau karena udah move on makanya datang?..  Stephen Strange datang. Inilah yang sepertinya mau dijadikan konflik dirinya sepanjang cerita. Sepertinya ingin ditunjukkan bahwa Strange berlagak nyante dan udah move on padahal belum. Keberadaan Multiverse yang bisa dikunjungi dengan cara tertentu jadi nawarkan kemungkinan baru bagi hidupnya. Dia bisa saja seperti Wanda, pindah hidup ke universe yang lebih bahagia. Ke universe yang ia lihat di mimpi-mimpi indahnya, maybe. Nah minimalisnya naskah adalah konflik Strange yang diniatkan itu tidak pernah tercuatkan maksimal. Tentu, konfrontasi dia dengan mantan di universe lain ada, tapi resolusi dirinya tidak tampak memuaskan. Bilang “aku cinta kamu di semua semesta” gak benar-benar ngasih perkembangan yang berarti kepada karakternya. Apalagi jika dibandingkan dengan development Wanda di akhir cerita; saat dia menyadari yang ia lakukan kepada anak-anaknya di semesta lain sebenarnya.

Konsep bahwa mimpi sebenarnya adalah jendela ke kehidupan kita di semesta yang lain, memang menggiurkan. Honestly, aku langsung merasa relate dan sempat mendukung Wanda demi mengenang mimpi-mimpi indah. Kalo bisa, akupun mau pindah hidup ke semesta where ‘you’ still talk to me, atau ke semesta aku punya teman gaib, atau ke semesta Max masih hidup dan kucing-kucingku semua bisa ngomong. I don’t blame Wanda for wanting that life. Tapi kemudian di akhir, film ini hits me hard. Film ini bicara tentang bagaimana merasa content walau kita merasa ada yang kurang dari hidup. Bahwa cukup itu bukan berarti puas dengan yang kita punya. Bukan pula harus berjuang mengejar untuk mendapatkan apa yang gak kita punya. Melainkan, merasa cukup berarti juga berdamai dengan kesalahan yang kita lakukan dan lantas optimis untuk perbaikan.

 

Plot Wanda tetap terasa lebih kuat menghidupi cerita sementara plot yang lain struggle untuk relevan kepada tema. Yang paling disayangkan jelas plot si anak baru, America Chavez. Diperankan dengan energik dan pesona tersendiri oleh Xochitl Gomez, karakter ini jarang dieksplor. Backstorynya hanya dipaparkan di satu momen, lalu persoalan dia gak bisa mengendalikan kekuatan pindah-universenya beres dengan nasihat/semangat singkat dari Strange. Sayang banget. Apalagi jika kita menoleh ke Wanda, kayak, semuanya udah ada di sana padahal. Anak yang nyari ibunya – ibu yang mau anaknya; seharusnya ada sesuatu yang bisa dipantik dari Chavez dan Wanda. Tapi interaksi manusiawi antarmereka aja nyaris gak ada, let alone ada percakapan personal. Mereka sebagian besar tergambar sebagai pemburu dan buruan. Hanya di penyelesaian saja seperti ada pengertian antara kedua karakter ini.

Stephen Universe lol “Scarlet, America, and Wong, and Stephen!~”

 

 

Maka kayaknya bener juga sih kalo ada yang bilang cocoknya ini jadi WandaVision 2 aja. Multiverse of Madness selain berat ke Wanda, juga kurang stabil untuk bisa berdiri sendiri. Penonton yang gak nonton serial WandaVision mungkin bisa mengerti keinginan seorang ibu untuk bersama anaknya, tapi keseluruhan konteks Wanda-jadi-jahatnya gak bakal utuh didapat. Soal konsep Multiverse, juga sama. Aku sendiri gak nonton serial What If dan Loki. Alih-alih itu, modalku mengerti multiverse di sini adalah nonton serial kartun Rick & Morty yang juga punya bahasan multiverse yang sama kompleks. Bahwa berbagai versi diri kita ada, exist di dunia. Ada kita yang jahat, ada yang baik, ada yang mirip, ada yang mukanya beda, ada yang versi makhluk lain. Kemungkinan versi masing-masing orang tak terbatas. Di satu sisi memang jadi tontonan yang menarik, bikin penasaran melihat versi-versi itu. Namun di sisi lain, konsep multiverse juga bisa jadi bumerang. Salah satunya adalah soal kematian.

Kematian satu karakter gak akan jadi persoalan lagi jika ada multiverse. Satu karakter yang mati, tapi dia itu masih hidup (dan banyak versi) di semesta-semesta lain. Di episode Rick & Morty malah kedua karakter utamanya membunuh versi diri mereka gitu aja, karena mereka udah messed up di semesta sendiri jadi mereka pindah hidup ke semesta yang paling mendekati kenormalan versi mereka. Pada akhirnya, stake film jadi gak ada lagi. Kita bakal casual aja melihat karakter mati karena toh nanti ada versi lain yang muncul di film/serial lain. Para karakter bisa diperankan oleh aktor yang sama, bisa juga tidak, di setiap semesta. Ini bukan teori atau gimana ke depan, loh. Melainkan langsung terasa buktinya di film Multiverse of Madness ini.

Dalam satu rangkaian adegan (yang aku yakin ini adalah permintaan studio, karena tone di sini benar-benar berbeda dari keseluruhan film) diperlihatkan Doctor Strange bertemu sama tim Illuminati. Ada Captain Marvel universe lain, Captain Carter, Mordo, Richards Fantastic Four, Black Bolt, dan Prof. X! (satu-satunya waktu saat penonton yang menanti cameo bersorak hihihi) Karakter-karakter yang sebenarnya berperan besar dalam universe atau cerita masing-masing, di film ini kayak muncul seadanya saja. Nantinya, mereka akan bertarung dengan Scarlet Witch. And they just dead. Matinya seru sih, cuma ya itu. Mati. Gak banyak pikiran di baliknya. Mereka mati gitu aja karena sudah dalam multiverse plot armor. Setiap karakter kini mati pun tak apa. Mereka bisa ‘direvive’ kapan saja sesuai kemauan studio. Kita yang nonton melihat kematian mereka pun jadi datar aja, demi menyadari itu semua. Nonton keseluruhan film jadi gak ada greget. Strange mati pun kupikir gak bakal ngaruh banyak karena toh ada infinite number of him yang bisa dimunculkan oleh studio. Satu-satunya yang bikin kita bisa peduli adalah si Chavez (dia cuma satu-satunya di semesta) dan melihat development si Wanda (itupun bagi penonton yang ngikutin serialnya).

 

 

 

Visi dan gaya unik sutradara adalah hal yang benar-benar dibutuhkan oleh sinematik universe yang sudah berjalan begitu lama seperti MCU. Kita bisa membuktikan itu pada film ini. Terasa benar bagaimana arahan Sam Raimi yang bermain kreasi horor di ranah superhero, mengangkat film ini jadi pengalaman seru yang berbeda. Aku benar-benar suka pada apa yang ia lakukan dalam menghidupkan naskah yang kurang balance dan cukup minimalis ini ke layar lebar. Ya, weakest part dari film ini sebenarnya bukan arahan Raimi yang di luar kebiasaan Marvel. Melainkan pada naskahnya. Karakter utamanya kalah solid penulisannya dibandingkan dengan karakter antagonis. Karakter baru yang dihadirkan juga tidak didalami. Dan juga, naskah film ini ngasih kita pe-er yang banyak kalo mau mengerti dan lebih enjoy menonton. Beruntung arahannya tadi sangat keren. This is truly ketika yang horor-horor jadi pahlawan!
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang multiverse? Apakah konsep multiverse bikin satu film lebih menarik, atau malah membingungkan? Apakah kalian gak keberatan sama untuk mengerti satu film kita harus nonton sejumlah serial dan film lain dulu?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

Comments

  1. Farah says:

    Akhirnya keluar juga reviewnyaaaa

    Adegan iluminati emang keliatannya jadi nonsense ya, bener kata mas Arya, tonenya beda sendiri, mana adegan ini yg muncul bgt di trailer, pas giliran ada di film dibikin gitu doang hahaha, mungkin MCU masih memanfaatkan hypenya spiderman ya? Dan menurutku, kehadiran cameo pun gak penting, let say cameonya diganti karakter random juga ga terlalu ngaruh apa2 sama keseluruhan cerita

    • Arya says:

      Hahaha akhirnya bioskop mulai sepi, tapi itupun ternyata di dalam studio masih banyak.. kayaknya banyak juga yang baru nonton karena nunggu kerumunan ilang yaa

      Iya kan haha, tiba-tiba dialog one-liner nya naik, si Strange jadi tiba-tiba lucu dsb. Adegan titipan studio yang harus ada, sih itu kayaknya. Template untuk push multiverse dan hype proyek selanjutnya. Kelemahan film-film sinematik universe selalu di situ; ke sisipan proyek lain, ke cameo-cameo. Multiverse is just ‘excuse’ yang keren untuk melakukannya. Kalo dilakukan dengan benar-benar ngaruh ke cerita saat itu, memang menghibur. Tapi kalo lebih sering jatohnya gak penting, ya bakal cepat jenuh juga ntar. Marwah satu karakter jadi berkurang, kalo ternyata ada banyak versi mereka di dunia haha

      • Farah says:

        Bener bgt mas, kalo formulanya itu2 aja bakalan banyak yg bosen sih, apalagi penonton awam, yg gak ngerti karakter ini siapa karakter itu siapa, apa makin kesini marvel sengaja nyari pasarnya yg cuma fans aja ya? Hmm

        Speaking of penonton awam, aku jadi penasaran sama salah satu pertanyaan mas Arya di akhir review, kalo menurut mas gimana tuh, film yg baru bisa dimengerti kalo kita mesti nonton serial a / film b. Karena dari review2 yg aku baca, banyak yg bilang bagus kalo udah nonton ini & itu. Meanwhile disisi lain banyak juga yg blg gabagus krn ga ngerti sama filmnya (temenku sampe tidur di bioskop saking ga pahamnya sm cerita hahaha)

        Aku pribadi agak bingung juga, krn menurutku film itu kan seharusnya bisa berdiri sendiri ya, mau dia sekuel, atau apapun, cuma sebaiknya bisa dinikmati lah wlpn ga nonton serial / film terdahulunya. Tapi diliat2 kan marvel ni getting complicated gt, apa bisa kita nonton film tanpa ngerti film terdahulunya (atau bisa?), karena aku tipe orang yg mau ntn sesuatu, aku rewatch bbrp serial / film sebelumnya yg sekiranya relate, biar bener2 bisa paham isi filmnya. Cuma kayak ga adil aja sama penonton awam yg sekedar pengen nonton dan nikmatin film kok syaratnya banyak hahaha

        • Arya says:

          Mereka udah di zona nyaman fans base udah gede sih kayaknya, dan titik segede itu apapun yang mereka bikin pasti bakal ditonton oleh bukan saja fans tapi juga awam karena hypenya. Istilah orang-orang awam yang pengen ikut menonton walau gak ngerti (karena gak mau ketinggalan hype), bukan lagi mereka yang cari penonton.

          Aku sendiri sih, ya lelah sih ya. Udah beneran kayak harus riset dulu sekarang kalo mau nonton. Bayangkan aku nonton trailer aja ogah, apalagi disuruh nonton segitu banyak episode serial dulu sebelum nonton film barunya. Kalo ‘pe-er’nya masih film sih, by default bakal tertonton juga sama aku. Tapi tetep, film harus bisa berdiri sendiri. Karena film itu kan bercerita, dalam durasi sekian harus bisa menyampaikan semua ceritanya – poin ada naskah dan ada visi sutradara kan supaya itu terpenuhi. Kalo cerita lengkapnya ada di materi lain, berarti kasarnya naskah dan sutradara gak berfungsi dengan baik.

          Benang-benang merah antar film/serial dari satu sinematik universe mestinya gak menghalangi penceritaan sih. Cuma memang studio aja yang memilih mengabaikan karena mereka sekarang menerapkan ‘model’ bikin film yang berbeda. Memang gak adil kalo kita bikin film yang gak bisa dinikmati awam, tapi sekarang mereka udah nemuin cara baru. Penonton pun kebiasaan nontonnya baru. Balik lagi ke atas tadi, orang-orang ke bioskop sekarang sudah bukan murni lagi karena pengen nonton. Tapi karena pengen jadi bagian dari hype sebuah tontonan. Kupikir, ini juga mulai ditiru ph gede di kita. Film KKN itu salah satu penerapan yang berhasil.

          • Farah says:

            Dengan kata lain, tujuan orang2 ke bioskop sekarang ini banyak yg bukan buat menikmati film, tapi cuma menikmati hypenya ya. Masalah kualitas filmnya gimana ya urusan belakangan.. persis kayak temenku juga sih yg gak keberatan walaupun sampe tidur di bioskop waktu ntn Dr Strange, yg penting joining the hype.
            Ditambah banyak aplikasi streaming film juga ya mas, yg cuma beda 2-3 bulan, udah keluar versi HDnya. Makin makin aja kita ke bioskop cuma buat update status tiket sama jajanan bioskop di sosmed wkwkwk

          • Arya says:

            Bener, karena dari hype itu penonton bisa ikut bikin konten. Jaman sekarang memang perilaku konsumen udah berubah, gak cukup menikmati saja tapi juga pengen produce sesuatu dari yang digunakan. Review film kayak blog ini juga salah satu contoh perilaku tersebut hahaha, gak jarang juga aku nonton satu film ‘terpaksa’ hanya supaya blog ada isinya.

            Balik lagi ke film yang berhasil jual hype kayak Marvel atau KKN, maka kupikir kita sebagai penonton yang perlu untuk, apa ya.. mawas diri, terus membuka diri untuk sesuatu yang lebih, yang harus terus kritis, yang harus terus belajar. Boleh ikut ke dalam hype, tapi acknowledge sebuah film ada kekurangan atau tidak.

  2. Intan says:

    Waaa,, akhirnya review yang ditunggu-tunggu muncul juga setelah beberapa hari bolak-balik ke blog ini hehe.

    Ini adalah film MCU pertama yang bikin saya merinding karena bisa dibilang horor meskipun tanpa setan-setanan. Kehadiran Wanda a.k.a Scarlet Witch aja udah cukup. Bener kata mas Arya, tokoh Wanda berhasil menaik-turunkan emosi penonton dari awalnya sedih-ngeri-kasian. Untuk Dr. Strange sendiri memang kurang digali kayaknya ya mas, jadi film ini terkesan miliknya Wanda (menurut saya, hehe).

    Tim Illuminati yang mati gitu aja di film juga bikin agak gimanaaaa gitu…
    Tapi yaa overall sih, emang watchable banget, saya aja nonton sampe dua kali (nemenin orang sih, haha).

    Konsep Multiverse ini juga bikin saya mikir, “so, apakah kita bisa ketemu Iron Man lagi di universe yang lain?”

    Can’t wait for Thor and She-Hulk! Yeay!

    • Arya says:

      On popular demand, Iron Man pasti bisa dimunculin kembali. Entah itu pemerannya beda, atau sama tapi karakternya slightly different. Black Widow juga, pokoknya yang mati-mati bisa muncul lagi. Makanya bagiku kerasa jadi mengurangi esensi karakternya. Kayak, nonton sinematik universenya jadi ‘apa yang terjadi, terjadilah. Suka-sukanya studio melihat peluang komersil aja’. Multiverse ngasih infinite possibilities, yang bisa jadi bumerang karena bikin semuanya gak lagi terasa spesial. Bisa-bisa malah ntar orang menonton cuma buat lihat kejutan karakter siapa yang dimunculkan di mana, karena dari segi konsekuensi cerita bisa dibawa kemanapun yang dimau.
      Obatnya mungkin ya, sutradara sih. Kalo arahannya kuat, seenggaknya hiburan masih terjamin, kayak di film ini. Mari kita lihat Taika Waititi ngebentuk Thor jadi gimana lagi yaayyy!!

      Haha iya bener, beneran kayak cerita Wanda yang jadi ruh utama. Tentang Strange-nya cuma soal dia dapat mata ketiga aja. Yang jadi landasan emosional dan horor dan segala macam, pondasinya di cerita Wanda.

  3. Iksan says:

    sebenarnya konsep multiversenya sih sdh bener hanya lewat america cavez sj bisa berpindah universe, bahkan wanda sj nggak bisa. cm mmg agak dipaksakan aja Cameo2 nya. terus knp multiverse g limited aja misalkan sama dg jumlah infinity stone gitu

    • Arya says:

      Multiverse Marvel ini masih terlalu bebas gak sih kesannya? Dari film ini aja cuma satu (selain Chavez) yang mereka kayak ngasih batasan untuk membuat karakter jadi spesial. Yaitu Spider-Man. Si Chavez yang udah berkelana ke segitu banyak universe, gak tau ama Spider-Man. Dan ini aneh mengingat Spider-Man lah yang duluan ‘punya’ beragam versi. Kesimpulanku, ya bagi Marvel, multiverse ini masih ‘samaran’ aja. Like, Spider-Man dilimit kemungkinan besar karena banyak di Sony kan. Jadi kayaknya Marvel belum punya konsep yang fix, kenapa dunia cerita mereka perlu ada multiverse dan sebagainya. Semuanya masih tergantung pada film/karya apa yang bisa mereka produksi selanjutnya. Mereka membiarkan multiverse bebas supaya bisa bebas juga nanti membuat produk sesuai ke depannya gimana.

  4. Albert says:

    Aku kecewa sih Wanda jadi villain. Padahal aku sengaja namatin WandaVision sehari sebelum nonton, rasanya kasihan Wanda kehilangan anak pengen dapat happy ending malah jadi villain. Daripada ga ada perasaan tegang ketika karakternya terancam bahaya gara2 ada multiverse ini semua bisa beres, aku lebih takut karakter itu bakal muncul lagi ga di film berikutnya. Kayak Spiderman favoritku bakal ada filmnya lagi ga, atau Wanda ini udah bener mati gini aja atau bakal muncul lagi. Aku yang fase 4 ini belum kebayang mau dibawa ke mana MCUnya, gimana gabung2in tokohnya nanti. Kayaknya masih berdiri sendiri masing2 film dan seriesnya.

    Ini adikku yang penonton awam udah ga mau nonton Marvel gara2 terlalu fantasi dan harus nonton sebelumnya dulu katanya. Malah KKN dia nonton. Dibilang bagus pula. Hahaha.

    • Arya says:

      Spider-Man kayaknya yang masih diragukan bakal ada lagi atau enggak, karena si Sony angin-anginan ahahaha
      Kalo Wanda, or even Romanoff ama Stark aku yakin somehow bakal dimunculin lagi (in whatever form). Infinite possibilities multiverse Marvel ini bisa diterjemahin sebagai studio bisa melakukan apapun yang mereka mau kok hahaha

      Casual viewer gak bakal rutin sih ngikutin semua ampe ke series-seriesnya, tapi dijamin bakal ikut nonton ke bioskop juga nanti saat ada film Marvel baru yang tayang. Kita sudah terjebak di jaring hype yang mereka bangun xD

    • Arya says:

      Kebalik gak sih, kayaknya cocok petualangan Dr. Strange yang jadi serial (tapi jadi mirip ama serial petualangan Loki), dan cerita Wanda jadi Scarlet Witch yang jadi film panjang (tapi bakal jadi drama dark banget)

Leave a Reply