MENCURI RADEN SALEH Review

 

“The wealthy and better-educated are more likely to shoplift. They are more likely to cheat at games of chance. They are often less empathetic.”

 

 

Mencuri sesuatu seharusnya adalah tentang sesuatu itu, bukan tentang mencurinya. Kalimat tersebut diucapkan oleh Rick, dalam episode serial kartun Rick and Morty yang didedikasikan untuk menyentil film-film bergenre heist yang semakin populer, semakin salah kaprah. Lebih mengutamakan aksi dan trik merampoknya ketimbang menggali kenapa protagonisnya harus merampok. You know, persoalan inner journey. Nah genre heist ini masih tergolong baru untuk film Indonesia, makanya aku pergi menonton karya terbaru Angga Dwimas Sasongko ini dengan perasaan was-was. Jangan bilang kalo nanti isinya cuma montase sok-sok asik ngumpulin anggota dan trik-trik merampok ala film heist barat doang. Dan ternyata, film ini tampil lebih baik daripada yang kukhawatirkan. Walau masih bisa dijumpai trope-trope usang genre heist yang disindir oleh Rick and Morty, tapi Mencuri Raden Saleh juga actually punya perhatian soal drama dan perjalanan karakter-karakternya. At least, mereka tidak merampok hanya karena lukisan Raden Saleh bernilai tinggi.

Untuk beresonansi dengan penonton, Mencuri Raden Saleh membahas soal persahabatan, persaudaraan, juga soal hubungan ayah dan putranya. Iqbaal Ramadhan dan Angga Yunanda memainkan duo mahasiswa yang bertindak sebagai semacam pemimpin dari komplotan, semua bermulai dari mereka. Iqbaal jadi Piko yang jago banget malsuin lukisan seniman, sementara Angga jadi si hacker Ucup yang bertugas dapetin job pemalsuan lukisan. Mereka dapat duit lumayan dari kerja rahasia ini. Tapi Piko butuh lebih banyak duit untuk membantu ayahnya yang di penjara. Mereka ngambil proyek berbayaran gede dari seorang mantan presiden (Tyo Pakusadewo). Mereka disuruh memalsukan dan menukar lukisan Penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh yang terkenal itu. Proyek kali ini bukan saja lebih gede, tapi juga lebih berbahaya. Maka, mereka perlu ngumpulin kru dulu. Ada pacar Piko (Aghniny Haque) yang jago bela diri, dua kakak-beradik (Ari Irham dan Umay Shahab) yang pengen buka bengkel sendiri, serta cewek tajir (Rachel Amanda) yang hobi jadi bandar judi jalanan. Mereka menyusun rencana, play into their respective talents, dan segala macem, only to terjerat dalam sebuah pengkhianatan. Yang membuat mereka kini bukan saja gak jadi dapat duit, tapi malah punya lebih-sedikit dari sebelum mereka memulai heist. Para karakter yang berkomplot untuk mencuri itu memang awalnya bergerak karena uang, tapi karena cerita film ini enggak sekadar soal pencurian, maka masing-masing mereka diberikan layer yang membuat mereka akan mendapatkan sesuatu yang lebih berharga dari uang itu sendiri. Bahwa ya, heist itu jadi lebih personal.

Mencuri juga ada filosofinya. Filosofi Piko!

 

Berdurasi dua jam setengah, film ini membagi porsi aksi heist dengan drama. Gaya penceritaan yang biasa dijumpai di genre heist yang karakternya banyak ini juga dilakukan oleh film. Ada kilasan balik saat satu karakter bercerita, memvisualkan informasi tersebut. Ada montase persiapan dan bikin alat-alat. Gaya yang dipakai supaya durasi panjang itu tidak membosankan. Editing film ini mumpuni untuk menyampaikan penceritaan tersebut. In fact, seperti halnya para karakter yang harus bekerja sama, aspek-aspek teknis film ini pun menampilkan kualitas kerja sama yang sama solidnya. Menghasilkan tontonan yang gak susah untuk kita ikuti. Para bintang muda yang main di sini juga tampak sangat fun. Enggak setiap hari mereka dapat kesempatan main film di luar drama remaja, film yang actually ngasih lapangan main yang berbeda. Yang punya tantangan berbeda. Mencuri Raden Saleh memberikan heist rasa Hollywood (film ini bahkan admit mereka pake referensi banyak film luar melalui gagasan karakternya) tapi dengan konflik ataupun drama yang grounded dan lokal punya. Kita bakal bisa merelatekan masalah mereka dengan kita.

Sebagai sutradara, Angga Sasongko menebar banyak komentar kepada negara, mumpung cerita filmnya masih gak jauh dari setting politik dan negara. Beberapa di antaranya membuatku terkikik karena dimainkan ke dalam apa yang mestinya jadi kelemahan cerita. Kayak, pas Ucup dengan gampangnya dapat data-data lukisan Raden Saleh tersebut; Yang sebenarnya bisa kita sebut sebagai sebuah convenience dalam naskah – kalo saja film enggak ‘ngeles’ itu karena database atau arsip digital negara kita bisa dibobol dengan segampang itu. Komentar yang tepat sasaran dan relevan mengingat situasi baru-baru ini. Angga memasukkan hal-hal seperti ini dengan smooth. Bahkan product placement aja bisa disebarnya tanpa terasa sekurang-ajar yang dilakukan oleh film Satria Dewa: Gatotkaca sebelum ini. I honestly lebih suka film ini sebagai drama dan lemparan komentar saja ketimbang sebuah aksi heist. Meski tak dipungkiri juga film berusaha menjadikan trope-trope itu sesuatu, atau mengikatnya dengan gagasan. Aku suka bagaimana lukisan Penangkapan Diponegoro itu dikaitkan dengan journey karakter lewat simbolisme pengkhianatan. Film ini rich ngomongin pengkhianatan tersebut, bukan hanya soal negara tapi juga di level yang lebih relate lagi yaitu antara sahabat, antara orangtua dengan anak, dan bahkan antara si kaya dan si miskin. Pengkhianatan itu sendiri sebenarnya salah satu trope andalan dalam genre heist, as in, selalu ada bagian ketika karakter genre ini disurprise oleh pengungkapan bahwa si anu yang di dalam grupnya ternyata jahat, atau something like that. Selalu ada karakter yang di-doublecross dalam cerita heist. Di film ini juga ada, tapi trope tersebut dimainkan lebih jauh ke dalam konteks cerita.

Satu lagi aspek yang relevan dengan kejadian baru-baru ini pada Mencuri Raden Saleh adalah soal orang kaya bukan lantas berarti gak mencuri. Bahwa mencuri bukan kerjaan orang kecil saja. Di film ini diperlihatkan orang kaya dan berprivilege seperti Fella dan si mantan presiden lebih lihai mencuri/berbuat curang dibandingkan dengan orang miskin tapi berkeahlian seperti Piko ataupun Tuktuk. Karena mencuri ternyata bukan soal gak punya duit. Melainkan soal gak punya empati.

 

Dari segi aksinya, aku cukup suka bagian mereka pertama kali beraksi. Ketika mereka mau menyabotase proses pengantaran lukisan di jalan raya. Yang menarik di situ buatku adalah gimana film tidak serta merta memperlihatkan mereka langsung jago. Terjadi sesuatu di luar perhitungan mereka. Piko dan teman-temannya panik. Ini benar-benar membuktikan kecemasan mereka saat ngambil job ini sedari awal. Bahwa mereka bukan pencuri. Ada dialog dari Piko yang membuatku merasa Angga Sasongko yang juga punya concern serius terhadap pembajakan film, pengen nyeletuk perihal itu juga. Jadi si Piko bilang bahwa dia bukan mencuri, dia forging lukisan hanya untuk nyari penghasilan tambahan. Untukku, itu terdengar seperti alasan yang bakal diucapin juga oleh pembajak film yang secara general bukanlah sindikat mafia, melainkan ya orang-orang seperti Piko. Anak muda yang pengen cari tambahan jajan tanpa menyadari perbuatan mereka termasuk pencurian besar. Sehingga kupikir film bakal lowkey membentuk journey Piko sebagai pembelajaran soal pencurian dan bagaimana sebenarnya bukan uang yang penting. Setelah aksi pertama yang membuat Piko dan kawan-kawan harus regroup, mereka terbentur dan normalnya bakal belajar banyak dari pengalaman ini, film mulai berjalan ke arah yang totally menggali grup pencuri paling lihai dengan sensasional.

“Harusnya ujungnya gak kayak gini!” Setuju, Om!

 

Warning, ini bakalan lumayan spoiler…!

Jadi setelah regroup, Piko dan teman-teman found out bahwa kegagalan mereka memang telah diharapkan dan kini lukisan palsu buatan Piko sedang ada di pameran Negara, sementara yang asli ada di tangan si mantan presiden. Orang itulah antagonisnya. Grup Piko cuma dijadikan bidak. Tidak ada milyar buat mereka. Nah, setelah itulah yang janggal buatku. Film  membuat Piko balik merampok lukisan asli dari si Ex-Presiden yang bikin acara ultah di rumah gedenya.  Jadilah kita dapat action set piece untuk final heist. Tapi yang gak klik bagiku di plot ini adalah, mengapa Piko pengen lukisan asli tersebut. Apa untungnya bagi mereka merampok lukisan itu? Mereka gak bakal dapat duit karena orang si Ex-Presidenlah yang actually ngasih mereka job. Kalo ketahuan, mereka yang udah dilepasin dari tuduhan polisi bakal jadi tersangka beneran, dan bagaimana itu membantu goal Piko sedari awal yakni membebaskan ayahnya yang terpenjara. Aksi terakhir itu udah keluar dari tujuan Piko di awal. Melainkan cuma sebuah aksi balas dendam yang kosong. Film actually berusaha membuat hal make sense dengan subplot ayah Piko ada sangkut pautnya dengan semua, tapi karena Piko sama sekali gak tahu sebelumnya, maka tetap saja pilihan yang ia ambil itu aneh. Piko just do something yang gak ada benefit langsung, yang gak membantu ayahnya, dari sudut pandang dirinya.

Kalo mau logis ya, lebih make sense kalo final heist itu adalah Piko and the genk ngerampok pameran. Mencuri lukisan palsu, dan menuduhkan kesalahan kepada Ex-Presiden yang mereka ketahui punya lukisan asli di rumah. Piko bakal dapat lukisan palsu karya yang memang miliknya (yang masih mungkin mereka jual di lelang nanti untuk bebasin ayah), serta si Ex-Presiden bakal ketangkep polisi – bentuk balas dendam mereka nyata, Either way, yang jelas, film harus ngasih alasan kenapa Piko harus merampok lagi. Sebenarnya, dari yang dilakukan film, bisa make sense asalkan Piko sudah berkomplot dengan penghianat dari dalam geng Ex-Presiden. Jadi Piko sudah dijamin punya cara untuk menguangkan lukisan asli yang ia curi. Tapi film bahkan tidak membuat yang seperti itu. Yang dibuat film sebagai ending adalah, tau-tau ada orang dalam si musuh yang menghubungi dan menawarkan duit lukisan kepada mereka. Ini seperti Piko mendapat solusi win yang ajaib dengan begitu saja di akhir cerita.

Jadi yah, plotwise, film ini menurutku harusnya bisa lebih baik lagi. Terutama di paruh akhir itu terlihat seperti ada pengembangan yang banting stir dari pembangunan di paruh awal. Sesuatu yang seperti baka berkembang menjadi A, tau-tau jadi B, atau malah dilupakan dan jadi sesuatu yang completely different. Misalnya kayak permasalahan Piko dengan pacarnya merasa di-left out. Pacar kayak cemburu ama bromance Piko dan Ucup. Piko pun tampak kurang gimana gitu ke si cewek. Dia malah kabur ninggalin si cewek pas diserbu polisi, mereka memang confront soal ini tapi belum memuaskan. Malah di pesta, si Sarah pacar Piko ini dikasih momen berantem bareng cowok asing, mereka kayak jadi ada koneksi. Tapi lantas persoalan itu gak pernah dibahas lagi. Lalu juga soal Ucup yang jati dirinya sudah diketahui polisi. Kupikir hal ini bakal jadi obstacle tambahan, tapi ternyata gak pernah jadi hambatan. Ucup masih bisa ikut rencana di pesta ultah. Hal-hal seperti itu mestinya bisa ditangani dengan lebih cakap lagi oleh naskah.

 




Ikut bergembira dan apresiasi buat eksistensi film ini. Memberi warna baru di perfilman kita dengan genre heist, Dari garapan genrenya sendiri masih Hollywood-sentris, yang di Hollywood itu sendiri genre ini sudah mulai jenuh karena banyak trope yang dianggap usang dan melenceng dari kekuatan genrenya yang sebenarnya. Akan tetapi, film ini juga berusaha memberikan value yang lebih. Dari sisi cerita, gagasan, dan karakter. Dan memang di sinilah kekuatan film ini. Permasalahan karakternya bisa kita dukung karena dekat alias grounded, karakternya pada loveable, dan komentar atau statement di balik journey mereka relevan. Akhir film ini sepertinya open untuk sekuel atau mungkin series, yang nyeritain petualangan Piko dan kawan-kawan lebih lanjut, dan ya karena film ini punya struktur yang menutup, aku jadi genuine tertarik kalo ada lanjutannya. Harapanku semoga next time penulisannya bisa lebih baik lagi supaya bisa benar-benar jadi national treasure di perfilman tanah air.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for MENCURI RADEN SALEH.




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang orang kaya yang mengutil? Kenapa orang yang kaya masih mengutil, korupsi, nimbun barang, monopoli, dan sebagainya?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



Comments

  1. Rian says:

    Saya ngerasa kurang klop sama adegan Sarah berantem di pesta. Buat saya adegan itu ada karena emang dia dan juga pemerannya atlet aja, jadi kayak dia emang harus ada berantemnya. Ga perlu aja gitu, karena awalnya kan dia bikin pantatnya dipegang tuh, kenapa ga dibikin histeris dan sejenisnya aja terus jadi perhatian banyak orang, chaos, dan si Rama panik dan takut, kalo perlu dihakimi orang2. Dengan begini adegan yg disampaikan bisa dilihat sebagai pelecehan dan bagaimana korban dan juga orang sekitar perlu bersikap. Sedangkan di film, orang di sekitar tuh ga tau apa2 selain ujuk2 pada berantem gitu. Btw, kalo dari after credit scene kayaknya bakal ada sekuelnya ya, Bang? Jangan2 bakal kayak Ocean’s series nih, apalagi kan scoringnya udah mirip..

    • Arya says:

      Kalo adegan berantem di pesta, aku juga ngerasa agak terlalu apa ya.. forced? terlalu ‘kasar’? I mean, ujug-ujug berantem dengan pengawal di sana, padahal bener make a scene udah cukup dengan dia teriak2 bilang kena pelecehan. Kalo pun memang harus ada adegan berantem untuk nunjukin fungsi Sarah, mestinya bisa dibikin lebih ‘cantik’ lagi aja gitu polesan adegan itu masuk ke cerita.

      Scoring aku notice banyak referensi dari yang lain, terus dibelokin aransemennya gitu. Jadi hampir mirip mau parodiin musik2 film. Aku notice ada yang mirip musik Hangover (pas adegan2 mereka sehari-hari atau mau ngelucu), sama ada juga yang terdengar kayak musik Stranger Things

  2. Sarah says:

    Sama ngeri ngeri sedap bagusan mana min ??? Kok feelingku agak males ya nonton ini wkkwkw takut sejenis film gundala atau hit n run

  3. Albert says:

    Iya pikiranku juga sama dengan mas Arya. Buat apa merampok yang kedua itu? Buat dendam? Apa sepadan ya, kalau mereka nantinya jadi buronan beneran dan gimana juga jualnya. Tapi yang paling menggangguku itu Ayahny Piko ngapain ya nabrak anaknya sendiri. Demi dendam atau demi uang? Kalau demi uang, kenapa anaknya ditinggal, ga dinikmati aja sama2 hasilnya. Masa mau dinikmati sendiri, ga ada sayangnya sama anaknya?

    Dan perampokan kedua ini boleh dibilang ga ada tantangan yang berarti. Sebagai penonton sih aku ga khawatir sama sekali, kelihatan pasti menangnya. Beda sama yang pertama ada polisinya tapi polisinya ga ada peran sama sekali di final Heist. Malah kupikir bapaknya Piko ini mau balas dendam dan mengacaukan perampokan. Atau perampokannya gagal lalu dia mengorbankan diri supaya anaknya lolos. Tapi ternyata ga ada action apa2, malah anaknya sendiri yang ditabrak lalu lukisannya diambil?

    Dan masalah2 di awal kenapa butuh duit udah ga ada bahasannya di ending ya, pokoknya dapat uang dianggap udah beres. Rasanya kalau aku udah ditipu sekali, tawaran uang di ending itu juga ga bisa kupercaya lagi. Tapi gimanapun ya film ini cukup bagus sih buat genre yang beda. Masih lebih bagus dari yang kubayangin.

    • Arya says:

      Haha iya gak standar heist. Cuma sayangnya ya itu, cukup banyak hal yang gak add up di paruh akhir. Motivasi ayahnya Piko, peran polisi yang MIA, goal akhir si Piko, kontingency plan yang ‘aneh’ karena toh Pikonya sendiri kan gak tau di kamar Permadi ada berapa lukisan, kebetulan aja di kamar itu ada satu lukisan lagi sehingga bisa bikin rencana darurat. Di paruh akhir itu kesannya banyak kebetulan yang merampungkan masalah, semua terjadi hanya karena naskah nulisinnya begitu, action karakternya udah gak bergerak sesuai logis lagi

      • Albert says:

        Iya komen mas Arya ke soearadiri itu udah mewakili semua isi hatiku. Ditambah tujuan dapat 2 Milyar buat bebasin bapaknya juga udah hangus karena Piko dirampok bapaknya sendiri. Kalau gini lebih masuk akal bapaknya merampok itu ya terus gabung sama kelompok Piko jadi uangnya dibagi rata daripada anaknya yang susah payah cari uangnya kok ditinggal gitu aja.

        Ya betul mas Arya harusnya yang dirampok yang palsu lalu Permadi dipenjara. Kalau endingnya gini ya mau ga mau mereka full jadi Heist dan buronan aja. Secara Permadi udah kenal Ucup Piko dan Sarah. Wah mana Sarah juga masih punya ibu. Sebetulnya ditonton masih fun sih cuma ga masuk akal memang.

        • Arya says:

          Bener, ending film ini baru jadi rewarding buat karakternya, di akhir pas Dini nelfon nawarin jual lukisan. Up that point, mereka ngelakuian sesuatu hal beresiko yang gak ada reward atau inline dengan tujuan mereka di awal. So yea, film ini menghibur, tapi naskah setelah babak kedua just tidak dikembangkan ke arah yang membuat karakternya take action yang relate ke human, alias logis.

          • Albert says:

            Kalau kupikir lagi sekarang mending bapaknya Piko itu bunuh Permadi aja ya. Jadi alasan balas dendamnya masuk akal daripada nabrak anak sendiri. Setidaknya walau Heist kedua tetap ga masuk akal, di ending Piko dkk udah aman karena ga ada yang tahu mereka yang mencuri. Kecuali DIni, tapi dia kan dalam ceritanya udah kasih pembeli.

          • Arya says:

            Bapaknya Piko ini diniatkan sebagai wild card, yang benar-benar wild. Saking wildnya jadi gak jelas lagi tujuan dan fungsi dia di situ ngapain hahaha. Tapi hebat sih, masih kepikiran nyamar dengan dandanan segala macem. Gak kayak si Ucup, yang jelas-jelas identitas ketahuan tapi tampil di publik polos gak ada nyamar-nyamarnya

          • Albert says:

            Kalau ngikutin komen lain soal Tuk2 yang dibebasin.menurutku masih masuk akal. Karena Tuk2 memang terdaftar supir resmi ekspedisinya yang tugasnya anter lukisan itu. Tuk2 bilang aja dia itu dirampok juga dan ga tau apa2 soal pencurian. Ya memang dipikir lagi rada ga masuk akal. Tapi seperti jawaban polisi cowok pas diprotes ceweknya, mereka ga mau repot2 nyelidiki. Karena lukisan aslinya udah selamat dan perampokan ini toh ga publish juga. Secara resmi Tuk2 memang yang bertugas. Ya udah. Ya memang kalau di dunia nyata polisi kayak gini ya ga bisa begitu. Mentang2 selamat masa perampokannya ga diselidiki lagi Tapi polisi ceweknya di ending masih lanjut kayaknya selidiki. Aku kesel juga polisi2 ini ga terlibat sama sekali di heist kedua. Harusnya mereka tantangan yang sebenarnya. Tantangan heist kedua ini terbilang ringan dan aku sama sekali ga tegang karena cuma masalah internal tanpa tantangan dari luar.

          • Arya says:

            Dari kamera work dan framing shot pas Dini datang ke penjara itu (memperlihatkan dia ngelirik Tuktuk di background) seolah ada sesuatu yang dibuild up perihal ‘nasib’ Tuktuk di penjara. Setelah itu pas Dini ngasih tanda lukisan di penjara juga, kamera yang liatin polisi cowok menatap Dini yang pergi, juga kayak ada build up ke sesuatu. Next scene di polisi lagi, si polisi cowok malah ‘ngotot’ Tuktuk dibebasin aja. Kayaknya ada sesuatu deh di sini. Antara film melupakan gitu aja, atau memang mau diungkapnya di sekuel, aku gak tau. Tapi dari shot-shot dan gimana kamera menangkap adegan itu rasanya kayak seolah si polisi cowok sengaja melepaskan Tuktuk, yang ada sangkut pautnya ama Dini. Mungkinkah si polisi cowok kerja sama ama Dini?

            Haha, mestinya polisi ada di heist kedua buat ngepush obstacle buat mereka ya. Atau bapaknya piko aja sebenarnya bisa tuh. Alih-alih bikin drama nabrak di jalanan, mending bikin piko dan bapaknya clash di rumah permadi, dengan agenda masing-masing. Sehingga aksi heistnya menjadi heist cepet-cepetan antara Piko dkk dengan geng bapaknya

  4. soearadiri says:

    Wah padahal aku pikir tujuan Heist yg kedua endingnya tuh lukisan bakal dibalikin ke negara. Endingnya bikin dialog Patriotis deh macam 5 cm. Mumpung masih Agustus, nasionalis lah wkwk. Kayaknya mereka udah tau juga tuh lukisan mau diapain, secara ada Ucup skrg ditambah Fella, mereka bisalah cari pembeli yg baru. Emg gk jelas sih nih Bapaknya Piko, tak pikir ke pesta mau ngebunuh Permadi kek. Eh, malah mau maling lukisan juga. Harus banget dijelasin di Sequel sih

    • Arya says:

      Alasan ngerampok yang asli itu jadi gak in line dengan concern mereka soal keselamatan. Toh lukisan yang palsu lebih gampang dijual. Bisa dijual dengan harga tinggi juga, since orang gatau itu palsu. Yang tahu kan cuma Permadi. Makanya berbahaya.
      Posisi mereka setelah ending ini justru jadi makin susah loh. Permadi ini megang dua kartu (tahu rahasia grup Piko, dan tahu soal ayah Piko), kalo cuma ditinggalin merana di rumahnya aja, ya tanggung. Si Permadi tinggal bisiki polisi soal lukisan yang asli ada di Piko, game over tuh langsung grup mereka. Lukisan asli ada di tangan, dan segala macam. Mereka balikin ke negara pun, gak akan dipercaya. Persoalannya bakalan antara kata-kata mantan presiden vs. kata-kata kelompok orang yang terlibat sabotase transportasi lukisan (salah satunya malah well-known hacker)

      Menurutku dengan alasan-alasan tersebut, lebih masuk akal secara sudut pandang karakter untuk mengambil kembali lukisan palsu. Dan dari perspektif mereka yang bukan pencuri, ngerampok lukisan palsu kayak ngambil kepunyaan sendiri. Posisi mereka jadi kuat kalo itu diambil. Mereka anonimously tinggal balik bisiki polisi kalo pencurinya Permadi, beres. Permadi gak bisa ngeles, yang asli beneran ada di rumahnya. Dengan begitu, Piko dan kawan-kawan bener-bener jadi mastermind di akhir cerita.

      Secara keseruan heist untuk eskalasi rintangan di naskah pun, antara ngerampok di rumah pribadi, dengan ngerampok di pameran dengan penjagaan Istana (atau malah bikin di Istana aja sekalian), jelas lebih grande heist-action piece di Istana sih. Stakenya juga beneran kerasa, mereka benar-benar gak boleh gagal

      • soearadiri says:

        Wkwk bener juga. Tinggal curi lukisan palsunya (whatever mau dijual apa dimusnahkan) bilang deh ke Andrea Dian kalo lukisan asli tuh di Permadi, beres njir. Kalopun mau ada scene ke rumah Permadi cukup bikin video bukti aja kalo lukisannya ada di Permadi. Broken juga nih naskah

        • Arya says:

          Nah iya kaan. Ada jalan lain yang lebih konkrit dan membawa keuntungan bagi mereka, secara duit, secara moral, dan secara balas dendam ke Permadi.. Sebetulnya memang terserah film aja mau bikin nyolong punya Permadi apa gimana. Tapi alasannya harus jelas, motivasi mereka melakukan itu harus make sense. Naskah film ini, buatku, gagal menjelaskan atau tidak berhasil memakesensekan hal tersebut.

  5. Aaron says:

    Sudah nonton dua kali dan cukup terhibur dengan Mencuri Raden Saleh. Secara pribadi, misi kedua yakni balas dendam ke Permadi masih masuk akal karena latarnya mereka dijebak untuk ambil lukisan dan ingin Permadi gagal mendapat lukisan Raden Saleh. Yang gak make sense buatku justru motif ayah Piko yang menabrak Piko dan ambil lukisan itu. Apa karena personality Budiman yang neglectful padahal dia bisa aja hilang dengan aman? Lalu polisi kok gak coba mantau Permadi pas pesta ataupun gerak-gerik Dini? Ya meskipun di post credit Sita mencoba menelusuri jejak komplotan, dia sudah curiga sama Ucup yang jadi otak rencana perampokan, juga Tuktuk, Sarah, Piko, dan seorang perempuan yang diberi tanda tanya

    • Arya says:

      Buat balas dendam pun tetap aneh sih, karena istilahnya aksi beresiko mereka itu hanya berujung ke membuat Permadi bersedih. Kalo balas dendam, kenapa gak sekalian membuat Permadi tertangkap. Toh Permadi udah bikin mereka berurusan dengan polisi, Ucup jadi buron, dsb. Plus, misi kedua itu membuat mereka jadi memegang lukisan asli, yang sebelum Dini nelfon di ending, mereka semua gak tau tu lukisan mau diapain. Lukisan yang bisa bikin mereka dipenjara beneran kalo Permadi yang sadar dirampok balik, ngaduin ke polisi. Kalo gak ditelfon, mungkin malah lebih baik bagi mereka lukisannya diambil ayah Piko aja hahaha. Misi kedua itu benar-benar bunch of cool stuff yang random mereka lakuin, for the sake of cool heist action aja

      • Aaron says:

        Buatku, goal utama ya buat Permadi kehilangan lukisan impian itu dan dapat duit. Masalah kenapa gak ambil lukisan palsu atau berhadapan dengan polisi kemungkinan berkaitan dengan mereka gak mau konfrontasi langsung dengan polisi meskipun mereka udah jadi buron. Bisa jadi karena Ucup udah banyak rekam jejak yang bakal terbongkar kalau berurusan dengan polisi. Poin dari film ini bukan buat jadi pahlawan dengan mengembalikan lukisan, lebih ke revenge ke Permadi. Pointless juga buat Permadi lapor karena itu bakal menyeret dia juga.

        • Arya says:

          Nah itu, mestinya kan goalnya dapat duit, sekaligus balas dendam ke Permadi.

          Coba kalo kita breakdown apa yang didapat dari Piko cs dengan ngambil lukisan asli yang dipunya si Permadi (keep in mind, saat milih keputusan itu mereka gak tau soal ayah Piko ataupun soal Dini yang bakal ngasih opportunity 15 Milyar):
          – Permadi, yang tau rahasia mereka, kehilangan lukisan
          – Di tangan mereka ada lukisan asli
          – Aksi mereka terekspos oleh Permadi
          See, gak ada dari hasil tersebut yang membuat mereka langsung achieve goal mereka di awal. Permadi kehilangan lukisan tapi at the same time membuat mereka memegang lukisan itu, bukan hasil yang ‘menguntungkan’ karena ya itu, Permadi holds all their cards. Bagi Permadi melaporin mereka gak pointless karena dia di posisi punya power, yang gak kecil.

          Sementara ada alternatif, yang kalo mereka ambil lebih langsung ‘menguntungkan’ ke goal mereka yang bukan pencuri bisa dapat duit. Juga, secara bangunan dramatis cerita, memberikan eskalasi tantangan yang lebih tinggi.

          Nah, menurutku kekurangan naskah film ini di paruh akhir itu adalah tidak memberikan alasan yang kuat kenapa Piko memilih ‘rute’ yang ini. Tugas film kan sebenarnya begitu, membuat supaya aksi karakternya berkembang secara logis dalam artian penonton mengerti kenapa dia harus mengambil tindakan yang ia pilih dan sebagainya. Membuat karakternya bertindak sesuai dengan karakterisasi yang sudah dilandaskan. Film ini, di paruh akhir itu buyar, karakter-karakternya tidak lagi bertindak sesuai dengan logisnya mereka di awal.

          Paruh awal udah bagus, mereka mencuri tapi fokusnya adalah yang dicuri itu berarti sesuatu bagi mereka. Sementara di akhir, film ini kembali menjadi bentuk yang dikritik Rick and Morty perihal banyak film heist yang salah kaprah. Di akhir, film ini jadi ke mencurinya saja. For the sake of cool action heist aja.

  6. Zombie says:

    masih gapaham watu adegan diterowongan, apa sih sebenarnya rencana mereka? apa rencananya truk yang berisi lukisan palsu mau nyalip truk yang berisi lukisan asli gitu?, terus truk yang berisi lukisan asli bisa kabur. kalau rencananya gitu gak harus dibuat macet di terowongan dong??
    Terus kecurigaan polisinya pada mobil yang dikendara sama iqbal yang berisi lukisan palsu dengan bilang “hmm kenapa ada dua mobil truk ya”, ya kan wajar aja mobil truk sebuah perusahaan ekspedisi pengantar paket ada banyak berkeliaran di jakarta
    Terus si polisinya main nabrak aja gitu langsung mobil truk yang dikendarai sama si iqbal wkwkwk

    • Arya says:

      Kayaknya mereka bakal tukeran di terowongan, si tuktuk ama gofar pindah ke truk si piko, sehingga mereka kini bawa lukisan palsu. Piko yang bawa lukisan asli. Terowongan itu dibikin macet dengan mobil Fella dimogokin di depan, mungkin biar tukeran supirnya gampang, truknya jadi punya alasan berhenti. Tapi ya, padat juga bikin susah untuk bergerak, dan ada polisi. Strategi mereka yang lemah dan banyak celah untuk gagal ini, di titik cerita itu masih masuk akal.
      Karena mereka gak profesional. Apalagi karena ternyata mereka cuma diperalat oleh Permadi. Aku nangkepnya, di misi terowongan itu, mereka memang udah diharapkan untuk gagal oleh si Permadi. Tujuan Permadi ya supaya lukisan asli dan palsu bisa berada di tempat yang sama dan membuat polisi bingung, sehingga kaki tangannya dia (si Dini) bisa masuk dan ngasih swerve ke polisi. Malah bisa jadi juga si polisi yang mengawal truk sebagai protokol buatan Permadi itu sudah dikisi-kisi bakal truk palsu yang mau nyuri, kan.

      • Joe Lucas (@joe_lucas19) says:

        iya ini memang kerasa banget sebagai kelemahan film, agak gk jelas apa rencanya yg mau mereka lakukan saat heist pertama itu, begitupun yang kedua, mereka tidak menjelaskan dengan gamblang ke penonton apa yang bakal mereka lakukan nantinya saat heist, sehingga kita juga bisa ikutan panik dan tegang saat ternyata mereka bakalan gagal gtu.

        aku sih memaafkannya dengan cara, “ohh mungkin gk dijelaskan rencana heist mereka ke kita, supaya nanti kita bakalaan ter-surprise dengan apa yg bakal mereka lakukan nanti saat heist beneran”

        so jadinya kita disuruh nebak2 sendiri apa yg bakal mereka lakukan nanti, cuma berdasarkan apa yg mereka siapkan sebelum heist dimulai,. yg mungkin direncanakan supaya jadi Twist, menurutku malah bikin kita berjarak dengan mereka. kurang dapet feelnya jadinya

        • Arya says:

          Mestinya bisa dibikin twist berupa si Dini ternyata sudah bekerja sama dengan mereka sedari awal (like, Dini yang bebasin Tuktuk, Dini yang ngasih tau lay out kamar Permadi dan ada lukisan lain di situ sehingga Piko bisa bikin rencana swerve, Dini yang nanemin cowok jago berantem untuk bantu Sarah di pesta, dll) Maka jadi make sense mereka mencuri Permadi. Karena ada ‘jaminan’ dari Dini. Tapi kan ternyata enggak. Si Dini baru melihat mereka di kericuhan pesta dan langsung nawarin ‘reward’ aja. Maka heist kedua itu semuanya memang jadi ngawang aja

          • Joe Lucas (@joe_lucas19) says:

            nah setuju tuh. waktu Tuktuk bebas, aku pikir juga dapet bantuan dari entah siapa, ehh malah ternyata gk ada twist apa2 dan memang cuma dibebasin dengan alasan konyol gtu aja. yang mungkin menurutku, soal Tuktuk bebas cuma sebagai jembatan agar si polisi cewek itu jadi curiga dan akhirnya di akhir film jadi tertarik untuk menyelidiki sendiri

            dan soal yg heist kedua yg ngawang gtu aja, emg kerasa banget. seharusnya mereka gk nyolong disana dong, harusnya mereka nyolong nya yg palsu yg ada di pameran. dan ditambah soal bapak yg entah ngapain berada di pesta Permadi, dan ujug2 malah nabrak anaknya sendiri. Hey!!, makin gk jelas jadinya

          • Arya says:

            Konyol banget itu, polisi main lepasin gitu aja, gak diikutin atau gimana. Tapi kalo polisinya negara berflower sih mungkin aja ya hahaha

            Bapak Piko itu kirain di sana mau nyelametin anaknya, taunya malah bikin cerita makin kacau XD

  7. Irfan says:

    Mohon izin ikut nimbrung mas hehe

    Aku nonton film MeRaSa ini 2x mas, jujur sisi positifnya adalah film ini cukup berhasil melebihi ekspektasiku. Ekspektasi yang lahir dari pengamatan kalau genre heist aku rasa bukan zona nyaman sineas kita, jadi nonton ini mungkin kita sudah prepare for the worst. But overall, film ini menumbuhkan optimisme untuk terus percaya film kita itu bertumbuh ke arah yang baik.

    Dari segi scene by scene aku rasa film ini memang bisa dinikmati. Mulai dari adegan Piko melukis di awal, kita berhasil dibuat yakin kalau tokoh ini bisa melukis, juga memalsukan. Sampai selesainya aksi gagal yang pertama, aku masih merasa cerita film ini masih make sense, bahwa mereka memang tidak profesional, tidak punya plan B, panik sana sini, all make sense.

    Nah masalahnya memang di aksi kedua. Kalau ditanya apa penggeraknya, di film cuma dijelaskan bahwa setelah Piko lihat lukisan palsunya di pameran dan Ucup confirmed DPO. Kepastian Ucup DPO ini yang sepertinya lebih jadi trigger ya, semacam “ini mah lama2 semua ketahuan juga” jadi mending gas sekalian aja balas dendam ke Permadi. Does it make sense? No. Tetapi jika melihat ketidakdewasaan para pencuri ini mungkin bisa dilogis2kan.

    Semakin ruwet di saat kita masukkan seorang Budiman di dalam aksi kedua. Motivasinya tidak secara tersurat ditampilkan di dalam film. Dari yang aku tangkap, Budiman bergerak dengan motivasi yang sama, balas dendam ke Permadi. Tanpa tahu Piko ternyata melakukan hal yang sama sehingga dilakukan plan B untuk mencuri curian Piko, sekaligus berniat mengambil alih tanggung jawab segala heist ini dari Piko (notabene dari scene di penjara, memang ini rencana dari Budiman untuk Permadi). About the contingency, well, aku cuma bisa bilang untunglah Permadi naruh lukisan lain di situ haha

    • Arya says:

      Wahahaha keren nih bikin singkatannya, yang lain nyebut MRS, mas Irfan bilangnya MeRaSa. Dapet aja!

      Bener, mungkin film memang meniatkan seperti itu. Bahwa aksi kedua mereka adalah aksi rage-anak-muda yang tidak dewasa, yang berontak ke orang dewasa, sipil ke penguasa, dan sebagainya. Kelemahan film dari mengangkat perihal ini adalah jadi banyak kemudahan yang dimunculkan untuk ‘membantu’ mereka. Hal-hal di luar kendali protagonis, yang membuat intensitas cerita jadi tidak naik total. Kayak, cowok jago berantem, tau-tau ada lukisan lain di ruangan Permadi, bahkan Dini nelfon di akhir bisa tergolong solusi mudah exmachina yang membuat usaha tak-matang mereka jadi ada reward.

      Kalo dengan konteks perjuangan anak muda seperti demikian, menurutku malah lebih worked kalo endingnya cuma: mereka lolos dan lantas menertawakan bersama keberhasilan untung-untungan mereka, realizing they barely get out alive. Sambil sadar, now what? dan melirik ke lukisan asli yang tak tahu mau mereka apakan. Berakhir dengan they fully realized sekarang mereka jadi kriminal.

      • Irfan says:

        Nah setuju aku sama mas arya. Seharusnya memang basic mereka sebagai pencuri tidak (atau belum) profesional memang masih harus ditonjolkan, tentu dengan tidak disupport kemudahan yang kebetulan ada pada situasi heist-nya.

        Ending bisa jadi pancingan yang bagus banget kayanya, for the next heist (re: sekuel). Adegannya bisa pada ketawa bego karena mereka bisa lolos dari segala rencana ngaco ini. terus ditutup adegan Piko liat lukisan Raden Saleh sambil bilang “so what’s next?” haha

        Btw adegan kamuflase bawa lukisan jadi kaya bawa meja yang ada taplak putihnya bakal terus mengingatkan kita ke film Bean yang tentang lukisan Whistler Mother wkwk

        • Arya says:

          Hahaha aku lihat ada yg bikin memenya tuh di Twitter pas film ini baru-baru tayang.

          Meski memang ada kejadian-kejadian di luar dugaan mereka, tapi masih terasa terlalu mudah penyelesaiannya ya. Masih terlalu gamblang dihadirkan film ini ‘jawaban’ atau ‘alat’ untuk membantu mereka

          • Irfan says:

            Haha iya sih mas, yaa semoga sekuelnya kelak bisa lebih baik daripada yang pertama, bukan sekuel yang aji mumpung

            Btw mas, aku kemarin abis nonton Mendarat Darurat. Aku akan menyarankan mas arya nonton bukan karena filmnya bagus, tapi aku butuh pendapat pihak yang terpercaya soalnya kemarin aku bener2 berusaha banget buat bertahan di kursi selama 2 jam kurang itu :’)

            Aku nonton MendaDar karena merasa premisnya menarik, tapi aku merasa ceritanya bener2 tipis, tanpa layer, tanpa emosi, meatless banget. Tipe film yang bikin kita suka skeptis kalo kita berniat nonton film Indonesia haha
            Semoga mas arya ada waktu nonton dan bisa bertahan lebih baik daripada saya wkwk

          • Arya says:

            Haha iya, jangan sampailah industri film kita berubah menjadi industri sekuel-sekuel aji mumpung.

            Nah ini, idealnya kan aku kamis kemaren nonton Miracle, senin nonton Darurat (weekend ku libur). Tapi lagi banyak urusan, maka kubaru bisa ke bioskop senin. Semoga si Darurat yang kayaknya memang kurang diminati dibanding Miracle, bertahan di bioskop, supaya masih bisa tertonton.

            Tapi kemaren aku lihat di Twitter ada yang review bilangnya Darurat menggali sesuatu yang baru terhadap makna pelakor. Gimana tuh, menurut mas Irfan memang ada?

  8. Irfan says:

    Jangan sampai ada film2 model part 1-2 ga jelas lagi (i’m talking about you, BiangKerok!) wkwk

    Jujur ya mas Arya, ga ada cerita di Darurat yang termemori di ingatanku. Karena menurutku penceritaannya terlalu dangkal, minim penjelasan, cuma tempelan2 adegan aja, berusaha menggali emosi penonton tapi aku merasa tidak berhasil. Part komedinya juga banyak yang kurang terdeliver dengan baik. Sepertinya script jadi bagian yang terlemah di sini.

    Sedikit spoiler, kalau pun ada adegan yang aku inget adalah adegan yang melibatkan Cecep Rahman, itu pun aku inget karena aku merasa adegan itu bikin aku mikir “adegan ini buat apa sih dibikin” haha

      • Irfan says:

        Bisa dibilang seperti itu mas. Mungkin kalau bukan Reza dan Marissa ya bisa lebih annoying lagi. Selain akting mereka berdua, yang lain ada yang di taraf biasa aja dan ada yang di taraf annoying haha

          • Irfan says:

            Sesuai script yang kurang dalem itu emang Marissa kudu annoying sih, tapi kalau itu aktris lain bisa aja jatuhnya makin annoying yang bikin kita sebel habis2an hehe misal karakter Asri Welas sm Tamara Geraldine jatuhnya annoying abis, padahal cuma bentar aja munculnya wkwk intinya scriptnya yang bikin kurang maksimal, padahal premisnya menarik

  9. Ilham says:

    Aduh 6 termasuk bagus banget buat bang arya yang emang agak pelit kasih nilai. Aku belum nonton nihh, dari awal aslinya agak kurang minat tapi setelah lama2 diliat kog banyak yang kasih rating bagusss ya jadi bingungg. Yakinin aku dong bangg spesialnya film ini biar tambah yakinn buat nonton. Takutnya pas nanti udah turun layar nyeselnya sampe berbulan bulan ;( . Mau nonton tapi masih mikir mikir lagi apakah se worth it ituuu. Soalnya waktu sama uang lagi ga bersahabat jadi bner2 milih2 bangett.

    • Arya says:

      Honestly, aku mikir cukup lama antara ngasih lima atau enam haha..

      Kayaknya, kalo gak peduli sama aksi tanpa alasan not-make-sense, sih oke aja untuk coba nonton

Leave a Reply