THREE THOUSAND YEARS OF LONGING Review

 

“The power of storytelling is to free us from isolation…”

 

 

Cerita tentang pengabulan permintaan semuanya selalu adalah nasehat atau kisah peringatan. Alithea dengan tegas bilang begitu kepada Djinn yang menghadiahinya tiga permintaan saat momen-momen awal pertemuan mereka dalam film Three Thousand Years of Longing. Dialog tersebut bertindak sebagai cara sutradara George Miller ngasih tahu ke kita bahwa film ini bukanlah kisah persahabatan manusia dan jin-pengabul-permintaan yang biasa. Karakter yang aware dengan dongeng dan konsep storytelling merefleksikan bahwa selain bertema cinta dan kesendirian, ini adalah film yang juga tentang story itu sendiri. Aku langsung ‘terjerat’, Aku mau dengar lebih banyak lagi obrolan karakternya. Tahun 2020 lalu, aku ngalamin sensasi menggelinjang serupa saat nonton Black Bear. Yang juga film tentang story dan storytelling, namun fokusnya adalah soal menulis cerita adalah proses healing bagi diri pribadi. Three Thousand Years of Longing membahas dari sisi satunya. Bahwa bercerita punya kekuatan amat sangat ajaib bagi audiensnya. Cerita hebat, yang diceritakan dengan sama hebatnya, mampu menyentuh hati manusia yang mendengarkan. Dan yah, membebaskan mereka.

Kekuatan sebuah storytelling tersebut digagaskan film lewat interaksi dua karakter sentralnya. Manusia dan jin. Alithea adalah seorang narratologist alias peneliti cerita. Mendalami sejarah, dongeng, dan mitos udah kerjaan Alithea sehari-hari. Makanya Alithea gak lantas girang saat jin yang keluar dari botol kaca unik yang ia beli di toko suvenir Istanbul memberinya tiga permintaan. Ini narasi yang sudah sering dia jumpai dalam studi cerita. Perempuan ini gak yakin jin yang tadinya raksasa dan berbahasa kuno tersebut adalah jin baek-baek. Sehingga si Djinn-lah yang ambil inisiatif untuk meyakinkan Alithea. Karena hanya dengan memenuhi tiga permintaan Alithea-lah, Djinn bisa sepenuhnya bebas. Alithe akhirnya duduk mendengarkan, mendiskusikan, cerita-cerita dari Djinn. Cerita-cerita yang mengaburkan batas ilmu sejarah dan ilmu agama yang ia ketahui, dengan insight pribadi dari si jin.

“Botol apaan, nih?”

 

Sense of wonder, elemen sihir, dan visual ajaib masih kita temukan mewarnai durasi, namun memang fondasi utama film ini adalah dialog antara Alithea dengan Djinn. Yang juga berarti, akar dari fondasi itu adalah penampilan akting.  Untuk memerankan Alithea yang cerdas tapi agak kaku socially, Tilda Swinton – dengan wig dan kacamata berbingkai besar – menggunakan gestur-gestur terbatas, tapi dia melepaskan emosi lewat ekspresi-ekspresi kecil yang bisa kita tangkap dan mengerti bahwa karakternya sebenarnya tertarik, tertantang, dengan cerita Djinn. Kevulnerablean khas seseorang yang di luar tampak skeptis dan cuek, tapi di lubuk hatinya dia merasa relate, tergambar lewat intonasi dan pandangan mata Tilda. Melihat Alithea kadang aku jadi teringat sama diri sendiri saat nonton film yang gak benar-benar kusuka tapi ada hal-hal yang relate yang kutemukan di film tersebut. Dengan kata lain, Tilda membuat karakter Alithea bisa konek juga dengan penonton. Kita jadi bisa melihat karakter ini di balik sikap scholarnya. Sementara itu, lawan mainnya, Idris Elba yang jadi Djinn… wah, tantangan peran ini adalah monolog-monolog panjang. Sebagai Djinn dia akan bercerita banyak kisah, lalu meyakinkan Alithea, dan juga menebar aura-aura ambigu kepada kita. Bukan perkara mudah, amazing sekali yang dicapai Idris Elba lewat akting-suara. Dia sukses terdengar meyakinkan, menenangkan, memantik simpati (Djinn nyaris memohon supaya Alithea mau ucapin keinginan), sekaligus agak sedikit ‘sus’

Karena memang begitulah dinamika – yang bakal menambah ke bobot growth karakter – yang dimiliki oleh struktur naskah film ini. Secara garis besar, memang film ini terbagi antara bagian cerita-cerita, dan baru di babak ketiga masuk ke bagian romance antara Alithea dengan Djinn. Resiko yang hadir dari bentuk narasi seperti itu adalah peran Alithea sebagai karakter utama jadi bisa terasa kurang menonjol. Like, dia baru mencuat di babak ketiga. Saat Djinn menceritakan kisah-kisah, Alithea bisa dianggap penonton sebagai pendengar saja. Tidak beraksi. Padahal Alithea sebenarnya sudah ‘beraksi’ sedari awal. Yakni lewat dinamika dia gakpercaya (gak mau ngucapin keinginan) dengan Djinn yang berusaha meyakinkan. Film tidak pernah saklek soal apakah jin-jin yang dilihat Alithea sebelum mendapat botol Djinn itu pertanda Alithea memang bisa melihat, atau hanya halusinasi, atau malah semua itu ulah Djinn yang berusaha memikat Alithea untuk datang. Nah, sikap Alithea terhadap itu yang jadi growth, secara subtil merayap di balik reaksi-reaksinya terhadap cerita Djinn. Yang menariknya lagi adalah, film tidak benar-benar menekankan apakah empat kisah yang diceritakan Djinn yang berhasil menyentuh hati Alithea benar-benar terjadi – dan Alithea genuinely relate dengan kisah itu – atau kisah itu sengaja didesain oleh Djinn relate ama Alithea supaya perempuan itu ‘terjerat’. Yang jelas, di babak akhir keduanya jadi saling cinta. Dan aksi Alithea lebih menonjol di akhir itu, sebagai tindakan orang yang berusaha tidak egois dengan harapan akan cinta. Alithea akhirnya bisa menggunakan permintaannya untuk membuat mereka merasakan cinta (sesuatu yang mereka damba sekian lama bersama)  tapi juga tidak mengikat.

Sudah sejak zaman dahulu kala, story dijadikan bukan saja sebagai media hiburan, tapi juga untuk menyampaikan pesan, moral, dan menggugah pikiran masyarakat penontonnya. Terciptalah teater, tv, film, dan sebagainya. Kita yang baca blog ini, tentu mengerti daya tarik dan kekuatan cerita lewat sebuah penceritaan. Karena kecintaan pada filmlah, maka kita gemar mendiskusikannya. Alithea yang mendengar kisah Djinn, is one of us. Dia tersentuh, merasa relate, dan akhirnya terkonek dengan Djinn, melalui storytelling dahsyat dari Djinn. Karena itulah kekuatan sebuah storytelling. Bisa membangun komunikasi yang benar-benar konek dalam level paling dekat. Great storytelling akan membebaskan kita melaui perasaan yang sudah saling tershare dengan personal.

 

Empat kisah yang diceritakan Djinn tergambar jadi visual yang seru, kadang juga creepy, yang distinctive satu sama lain. Kisah itu juga menarik karena ada irisan dengan keilmuan nyata yang kita ketahui, seperti ilmu agama, ataupun sejarah. Tapu yang gak kalah pentingnya, kisah-kisah tersebut lowkey paralel dengan kehidupan Alithea. Kisah pertama adalah tentang masa-masa sebelum Djinn dikurung di dalam botol. Djinn jadi penasehat Queen Sheba (Ratu Balqis), sampai Solomon (Sulaiman) datang memikat Sheba. Sheba lebih memilih Solomon, dan Djinn dibuang setelah sebelumnya dimasukkan ke dalam botol. Sheba paralel dengan masa muda Alithea yang membuang teman khayalannya dan memilih untuk fokus ke studi literatur. Kisah berikutnya adalah tentang gadis budak yang menemukan botol Djinn, dan menggunakan permintaannya untuk bisa menikah dengan Pangeran Mustafa. Si gadis budak sayangnya tidak pernah meminta keselamatan, sehingga sebelum tiga permintaannya beres, si gadis tewas terbunuh dalam sebuah peristiwa kudeta. Si gadis paralel dengan Alithea yang pernah menikah dan punya momongan tapi memilih untuk membiarkan dirinya ikutan ‘hancur’ ketika rumah tangganya ter’kudeta’. Kisah ketiga dari Djinn adalah tentang dua bersaudara yang harusnya jadi raja, yang harusnya bisa menemukan botol Djinn, tapi mereka menghancurkan diri mereka sendiri lantaran terlalu larut dalam hal yang mereka suka (dalam hal ini perang, dan wanita). Alithea setelah pernikahannya kandas juga begitu, menenggelamkan diri ke dalam studi. Sehingga akhirnya dia jadi stress sendiri, teroverwhelm oleh pengetahuan. Seperti nasib yang melanda tokoh pada kisah terakhir dari Djinn. Perempuan bernama Zefir yang ingin melihat dunia, meminta ilmu pengetahuan tak-terbatas. Keparalelan Alithea dengan kisah-kisah Djinn diperkuat oleh treatment shot yang dilakukan oleh film. Seperti saat memperlihatkan kebiasaan yang sama antara Alithea dengan Zefir, yakni menggoyangkan kaki saat membaca, Dan sama-sama hobi ngoleksi botol. Ataupun cara Alithea menelan ludah yang mirip dengan gestur yang dilakukan oleh Sheba.

George Miller sekali lagi menunjukkan range liarnya sebagai sutradara. Film babi, penguin, mad max, dan kemudian ini? Maan!

 

Keparalelan itulah yang membuat Alithea merasa relate dan tergugah. Kisah Djinn (mau itu Djinn sengaja atau tidak) sukses menciptakan koneksi tak-terbantahkan di antara mereka. Keduanya jadi saling cinta, Alithea become a better person. Kekuatan storytelling berhasil digambarkan film lewat hubungan kedua karakter ini. Satu pertanyaan tersisa. Apakah film ini sendiri – lewat penceritaan yang dilakukan sutradara – berhasil menyentuh kita-kita semua sebagai penontonnya, secara personal?

Sayangnya, aku gak yakin jawabannya “Ya!” Karena seperti yang sudah kusebut di atas, film ini ngambil resiko terlihat sebagai film dengan dua bagian, yang bagian satunya si protagonis kayak gak ngapa-ngapain. Film dengan banyak kisah seperti ini, ditambah dialog dan relasi tak-biasa antara dua karakter beda alam, dengan mudah membuat penonton merasa overwhelm.  Too much. Cerita ada bahas soal benang merah, dan jika dibawa ke film ini sendiri, ‘benang merah’ itu disimpan sedikit terlalu jauh untuk ditemukan oleh penonton. Three Thousand Years of Longing adalah tipe film yang percaya penonton itu semuanya cerdas, dan bisa menemukan sendiri koneksi mereka dengan cerita. Itu bagus, tidak menyuapi. Tapi film memilih melakukan hal justru ‘mempersulit’. Babak ketiga misalnya, kejadian Alithea dan Djinn jadi pasangan terasa abrupt. Alur yang jadi lebih personal, dapat ditafsirkan penonton sebagai film yang tadinya punya kisah menakjubkan, jadi mengerucut di babak final. Kebalikan dari biasanya cerita membesar semakin ke akhir. Babak ketiga itu juga bisa kulihat bakal jadi terlalu gaje oleh penonton. Serupa kayak kesan yang dihasilkan oleh Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) pas bagian sosok Jelita muncul. ‘Bantingan stir’ film ini membuat kesan ‘patahan’ yang kerasa banget. Harusnya bisa diperhalus. Masuknya ke bagian yang menunjukkan ternyata film ini juga adalah cerita yang membahas romance antara dua insan yang selama ini mendamba mestinya bisa dilakukan dengan lebih baik lagi.

 




Tadinya aku nonton film ini ntuk pemanasan sebelum film Jin dan Jun selesai dibuat. But maan, ternyata film ini berada di level yang sama sekali tak-terbayangkan. Sungguh sebuah take yang unik dari kisah antara manusia bersahabat dengan jin. Ternyata film ini menawarkan bahasan yang lebih dalam soal cinta dan kesendirian. Sembari juga mengusung gagasan yang kuat tentang betapa kuatnya sebuah efek sebuah storytelling terhadap audiensnya. Itu aspek yang aku suka dari film ini. Secara gak langsung membuat kita sadar, film atau cerita itu gak sekadar untuk hiburan dan cuan. Ada tingkatan koneksi manusia yang harusnya bisa dicapai. Dan ngomong-ngomong soal hiburan, film ini juga punya elemen-elemen penunjang yang tak kalah serunya. Penampilan akting yang jempolan. Visual dongeng yang imajinatif. Mitologi dan hakikat jin yang dikisahkan pun terasa cukup dekat, dan akan menantang kita dengan perspektif fiksi yang fresh. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THREE THOUSAND YEARS OF LONGING

 




That’s all we have for now.

Kalo kalian dikasih tiga permintaan terkait / untuk film ini, apakah permintaan tersebut?

Share  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



Leave a Reply