“… the champions are never afraid of losing”
Salah satu alasan kenapa ada batasan umur yang mengatur hal seperti anak-anak belum boleh punya SIM, belum boleh ikut Pemilu, belum boleh beli rumah, belum legal untuk memberikan consent, adalah karena anak-anak yang itungannya belum dewasa itu masih dalam perkembangan fisik dan mental sehingga dianggap belum bisa bertanggungjawab sepenuhnya. Nah sekarang coba bayangkan ketika anak remaja yang bahkan belum bisa beli bir sendiri, memikul tanggung jawab melindungi bumi dari kriminal biasa hingga marabahaya seperti serangan monster, alien, atau bahkan amukan dewa. Virgo and the Sparklings (2023) sekilas sudah menyinggung soal remaja menjadikan kerjaan superhero sebagai hak mereka, Spider-Man versi Tom Holland telah membahas sudut pandang dramatis dari beban menjadi superhero remaja. Shazam! (2019) garapan David F. Sandberg lah yang pushed soal gimana jadinya jika remaja yang masih immature bertindak sebagai penyelamat kota lebih grounded dan berfokus dalam nada yang lebih kocak. Pesona Shazam! itulah yang membuat film ini jadi entry superhero DC yang jauh lebih ringan dan loveable, easily dianggap bisa head to head dengan colorfulnya superhero sebelah. Sekuel Shazam! kali ini pun dibuat dengan hati yang sama. Menjamin dua-jam durasi itu jadi pengalaman yang seru, lucu, dan juga nostalgic mengingat kita semua waktu kecil pasti pernah bermimpi jadi superhero yang menyelamatkan dunia sekenanya, just to impress teman-teman yang lain.
Semenjak membagikan kekuatan Shazam! kepada saudara-saudari keluarga angkatnya, Billy Batson bertindak sebagai leader dari kelompok superhero mereka. Tapi karena abandonment issue yang dia punya – seperti yang dibahas pada film pertama, Billy berpindah-pindah keluarga – Billy jadi pemimpin yang agak terlalu strict dan clingy. Dia agak ngerasa gimana gitu, saat Freddy, Mary, dan saudara yang lain punya agenda masing-masing dan not really do things his way. Sementara itu, masalah yang lebih besar muncul dalam bentuk keluarga yang lain. Keluarga dewa, tepatnya. Putri-Putri Atlas yang telah terbebas mencuri tongkat Shazam, dan mereka bermaksud untuk membalas dendam kepada Wizard dan para Champion. Kota Philadelphia lantas jadi bagai pelanduk di tengah-tengah seteru keluarga. Keluarga superhero immature yang malah lebih sering rusakin kota, dan keluarga dewa yang juga gak begitu akur satu sama lain.
Alih-alih dielukan sebagai pahlawan lokal, Billy dan saudara-saudarinya sebenarnya justru dianggap warga malu-maluin dan nyusahin. Grup mereka disebut sebagai Philadelphia Fiasco. Pecundang Philadelphia. Karena Billy dan saudara-saudarinya memang sembrono. Wujudnya saja yang dewasa, kekar, dan tangguh. Di balik itu sesungguhnya mereka masih amat muda. Itulah aspek yang paling charming dari film ini. Enggak pernah lupa kalo karakter-karakternya masih belum berpengalaman, masih immature. Masih bergulat dengan ego masing-masing. Sifat ‘kekanakan’ mereka diperlihatkan terus, mulai dari bagaimana mereka berinteraksi hingga ke gimana mereka beraksi. Sekuen mereka bantuin jembatan kota runtuh benar-benar memperlihatkan gimana para superhero ingusan kita memilih aksi dan prioritas. Adegan runtuhnya jembatan itu sebenarnya gak kalah seram dengan yang di Final Destination 5, tapi karena aksi ngasal para Shazam! semua jadi kocak. Ngeliat sikap kekanakan begitu muncul lewat sosok dewasa, menghasilkan kontras yang jadi sumber kelucuan adegan-adegan film ini. Adegan mereka nego dengan para dewa, really killed me. Waktu nulis suratnya juga. Film ini did a great job dalam nulisin humor dari identitas karakter,
Arahan David F. Sandberg juga terasa kuat. Di balik hingar bingar lelucon dan aksi (dan oh boy, betapa Sandberg dikasih begitu banyak hal untuk dimainkan), kita bisa merasakan arahan yang grounded. Yang menarik kita lewat perspektif. Action di Shazam! Dua ini terasa significantly lebih besar dibanding film pertama, dan setiap momen-momen aksi itu terasa berbeda. Dan yang aku suka adalah, nuansa horor yang kental terasa di balik aksi-aksinya. Tahu dong, kalo si Sandberg ini memang karya horornya lah yang put him on the map in the first place. Dia ngegarap film pendek Lights Out, yang lantas dijadikan film panjang yang ngehits. Sutradara Swedia ini juga lantas menyumbang entry paling bagus dari franchise Annabelle, lewat Annabelle: Creation (2017) Nah, vibe horornya itu seringkali keliatan di adegan-adegan Shazam! Dua ini. Adegan jembatan yang kubilang tadi, misalnya. Terus juga desain karakter-karakter monster yang nanti bakal muncul. Momen bareng naga di dalam kegelapan. Dan tentu saja adegan di museum, saat salah satu dewa membuat ruangan tertutup debu lalu semua orang membatu. Chilling banget! Semua itu kerasa horor salah satunya akibat dari kuatnya build up lewat perspektif. Ada beberapa kali Sandberg menempatkan kita pada perspektif korban saat kejadian bencana itu. Kita dibuat ngelihat monster muncul dari dalam kayu, kita ngerasain berada di dalam mobil yang mau jatuh dari jembatan, like, kita benar-benar dibuat merasakan perspektif orang di jalanan yang ngalamin peristiwa itu.
Shazam! Dua berhasil menyelipkan momen-momen itu ke dalam tone film yang ringan dan kocak. Nonton ini memang sepenuhnya jadi seru. Meski belum sukses penuh untuk membuat kita tidak merasakan kekurangan di balik narasi. That gaping hole yang terasa olehku adalah kesan dramatis dari cerita. Dari journey Billy Batson. Kita ambil saja Peter Parkernya Tom Holland sebagai perbandingan. Peter dan Billy sama-sama superhero remaja, yang belum benar-benar matang dan dewasa pemikirannya. Maka gol dari journey kedua karakter ini basically sama. Mereka akan jadi semakin matang, they will get there through some hardships. Peter diberikan banyak momen dramatis; mentornya tewas, bibinya tewas karena kesembronoan aksinya, pacarnya pun jadi dalam bahaya. Semua itu membentuknya untuk jadi sadar, pun berubahnya tidak langsung saja, melainkan dia melewati fase broken down dulu. Dia perlu mendapatkan keberanian dan confidentnya lagi. Billy Batson dalam film ini tidak melewati sesuatu yang mirip seperti itu. Saudara-saudarinya kehilangan kekuatan adalah hal mengerikan yang terjadi padanya. Dan itupun efeknya tidak permanen, mereka bisa dikasih kekuatan lagi dengan tongkat yang ada di tangan penjahat. Momen broken downnya datang begitu saja, dan selesai bukan exactly dari pembelajarannya sendiri, melainkan didorong oleh pembelajaran yang dialami Wizard. Yang mengakui dia salah meragukan pilihannya memilih Billy sebagai juara, dan bahwa Billy punya something yang gak dipunya orang. Billy bangkit setelah mendengar ini. Buatku ini terasa sebagai resolusi journey yang lemah karena tempaan ke Billy kurang kuat.
Juara tidak ditempa oleh kekuatan fisik semata. Melainkan ditempa oleh hati yang tegar. Itulah kenapa perbedaan mendasar antara juara yang sebenarnya dengan orang biasa adalah para juara sejati tidak takut untuk kalah. Mereka tidak takut kehilangan, karena mereka percaya mereka bisa merebutnya kembali. Bagi Billy, ini berarti banyak. Karena dia juga melihatnya sebagai berani melepaskan keluarga. Itulah yang akhirnya membuat Billy jadi benar-benar jawara Wizard yang asli
Permasalahan Billy juga sebenarnya berakar dari hubungan dengan orangtua angkatnya, terutama si Ibu. Hanya saja naskah menggali ini bahkan lebih sedikit lagi ketimbang Suzume (2023) membahas Suzume dengan Bibinya. Interaksi antara Billy dengan si Ibu palingan bisa diitung dengan jari. Membuat momen mereka akhirnya resolve drama mereka, jadi tidak terasa kuat. Padahal mestinya permasalahan Billy ini bisa dibuat paralel dengan masalah Billy dengan ketiga Putri Atlas – yang semuanya adalah older lady; mereka bisa banget jadi cerminan sosok yang ‘membantu’ Billy melihat something dari masalah dia dengan ibu asuhnya. Naskah malah membuat Freddy yang punya hubungan khusus dengan grup antagonis. Ngomong-ngomong soal itu, peran Freddy di film kedua ini memang terasa lebih besar daripada Billy. Bestie Billy yang pake tongkat itu ngelaluin hardship yang lebih banyak ketimbang Billy, punya relasi yang lebih banyak dan lebih terflesh out, dan bahkan punya romance yang gak sekadar lucu-lucuan. Aku malah nyangkanya film bakal mengganti Billy dengan Freddy, saking menonjolnya Freddy di cerita ini.
Intrik di dalam keluarga Atlas sendiri sebenarnya juga menarik. Tiga orang putri berbeda usia, berbeda kekuatan, dan diam-diam juga berbeda motivasi. Cerita tiga bersaudari ini sayangnya juga kurang tereksplorasi. Melainkan cuma dibikin sebagai lembaran turn demi turn. Dan karena hubungan mereka dengan si Billy Batson juga kurang tergali, jadinya perkembangan karakter mereka juga tak terasa dramatis. Padahal ketiganya adalah karakter original, loh. Karakter yang enggak ada di komik. Jadi, kemungkinannya ada dua. Either film ini enggak mampu menuliskan karakter original dengan matang. Atau ya karena gak ada di komiklah, makanya mereka gak diberikan eksplorasi yang lebih dalam.
Ngomong-ngomong soal Sisters, kemaren aku nonton serial thriller komedi di Apple TV+ tentang lima bersaudari yang jadi tersangka setelah suami salah satu dari mereka ditemukan tewas. Kalo pada pengen nonton juga silakan klik https://apple.co/3JLLAAz dan subscribe mumpung masih ada free trial!
Zachary Levi tampak sudah semakin settle mainin superhero komedi versi dirinya sendiri; superhero yang kayak kena ‘penyakit’ man-child akut. Tapi memang di situlah pesona karakternya. Film ini toh dihuni oleh banyak karakter likeable, yang juga diperankan dengan sama-sama menyenangkannya. Interaksi mereka yang seringkali kocak, tingkah yang absurd, serta aksi seru yang tak kalah lucu – sekaligus ada tone horor merayap di baliknya – bikin keseluruhan film jadi pengalaman super fun. Ceritanya juga dengan klop masuk sebagai sambungan film pertama. Surprise di momen akhir sukses bikin satu studio tepuk tangan sambil ngakak. Hanya saja naskah kali ini belum sukses terasa solid. Narasinya seperti kelupaan elemen dramatis, sebelum seluruh kota diserang dan ada yang harus mengorbankan dirinya. Journey karakternya juga begitu, tidak benar-benar dieksplor, sebelum akhirnya dimunculkan saat cerita sudah di titik hendak berakhir. Menurutku, harusnya ini bisa dilakukan dengan lebih baik lagi sehingga Billy Batson dan journey karakternya bisa lebih mencuat dan jadi lurus sebagai pondasi utama.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SHAZAM! FURY OF THE GODS
That’s all we have for now.
Kalo anak/remaja disepakati belum matang sehingga belum bisa dipercaya memikul tanggungjawab, kenapa tiap daerah/negara punya batasan umur-dewasa yang berbeda? Apa yang menyebabkan anak di satu daerah bisa dinilai lebih cepat dewasa ketimbang daerah lain?
Share pendapat kalian di comments yaa
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
Wah setelah postingan AntMan, skrg mas Arya kayanya officially mulai uptodate lagi sama postingan jagat superhero ya 😀 tadi padahal udah niat mau nonton cuma gajadi karena takut b aja, ternyata scorenya lumayan juga, jadi tertarik hahahaha
Hahaha gantian sekarang horor yang agak dicuekin.
Ringan lah ini, superhero kayak kartun juga, cocok buat keluargaa
Sudah nontonnnnn!!!! Bagus ya mas. Sederhana gitu, alurnya smooth. Nontonnya santai, gak yg mesti gimana gimana. Threatnya juga gak terlalu heboh, tapi tetep kerasa urgensinya. Jokesnya lucu-lucu banget. Aku seneng sih, karena persaingan Marvel & DC jadinya kompetitif. Disaat DC udah mulai nemu titik terang, Marvel harus puter otak buat nemu formula yang lebih cocok di phase 5. Good for them.
Di saat orang sekarang ngarepin Marvel supaya lebih serius, sebaliknya DC diharapkan lebih loosey-goosey ya, Mbak hahaha, kedudukan bisa berbalik nih karena Marvel tugasnya lebih susah.
Threatnya sebenarnya kocak sih, superhero bocil lawan emak-emak dewa – yang sebenarnya juga masih ‘kekanakan’ malah berantem antara mereka sendiri.
Jadi kesannya ini film ditujukan untuk anak-anak ya bang? cerita yang lebih ringan dan berwarna. Kemarin nonton Black Adam saja sudah agak membosankan (ini persepsi saya pribadi yang cari film superhero sejenis Batman)
Yup, ini lebih baik dari Black Adam, tapi memang bukan superhero setipe Batman Nolan.
Ini superhero buat hiburan keluarga haha
tapi emang edukasi untuk menjadi mandiri baik mental dan pemikiran ini perlu dilatih dari kecil minimal, selambat-lambatnya sampai umur 17 tahun mereka sudah siap menjadi dewasa. banyakan dari kita bahkan sampai umur 40an tahun bahkan lebih masih dianggap ga dewasa kan. superhero bukan favoritku si tp nanti kalo ada waktu dicoba nonton xD
tapi edukasi untuk menjadi dewasa ini pelan-pelan harus dipupuk melalui tanggung jawab agar minimal di usia 17 tahun nanti mereka siap memasuki dunia dewasa. karena kenyataannya di kita itu lebih banyak yg bahkan sudah di atas 40 tahun pun menghadapi hidup masih cenderung kekanak-kanakan. anyway superhero bukan favoritku, si, tp nanti kapan2 coba nonton lagi xD
Hahaha bener banget sih, di kita kayaknya cenderung banyak anak cepat dewasa, tapi saat dewasa cepet juga kembali kayak kekanakannya. Coba aja nonton, siapa tau sukaa 😀
This movie is fun!
Tapi dua poin penyelesaiannya agak berasa deus ex machina, ya: Unicorn dan munculnya Wonder Woman.
Dari mana mereka tahu kalau Unicorn bakal muncul dari lorong yang itu? Dikasih tahu sutradara?
Terus kenapa ya pas Freddy mau nyolong Golden Apple, Hespera yang udah ngacungin tongkat ke dia enggak nembak Freddy? Pas diteriakin Kalypso buat nyerang dia kayak ragu gitu.
Jadi akhirnya karakterisasi tiga putri Atlas ini jadi kayak gini:
Anthea: baik dan memihak manusia
Kalypso: juahat dan memusuhi manusia
Hespera: jahat tapi abu-abu dan berasa nanggung. Enggak jelas soal sikapnya waktu masalah penanaman Seed of Tree of Life itu.
This movie is fun!
Tapi dua poin penyelesaiannya berasa deus ex machina, ya: Kemunculannya Unicorn dan Wonderwoman.
Aku tadinya mikir dari mana mereka tahu kalau Unicorn bakal muncul di lorong itu? Dikasih tahu Steve? Tapi nggak ada adegan Steve memandu mereka. Jadi kayak tiba-tiba aja tahu lokasi kemunculan Unicorn. Tapi asli ngakak pas permen cokelat jadi pengganti ambrosia XD
Terus waktu Freddy mau nyolong Golden Apple, kenapa Hespera yang udah ngacungin tongkat ke dia enggak menembak Freddy? Pas diteriakin sama Kalypso buat nyerang, Hespera kayak ragu gitu.
Karakterisasinya tiga putri Atlas ini akhirnya kaya gini:
Anthea: baik dan mihak manusia (meski karakternya sebagai dewi berusia 6000 tahun enggak meyakinkan dan dia beneran kayak manusia remaja. Mihak manusia cuma karena ada spark antara dia dan Freddy? Baru kenal bisa sedalam itu, ya terkesannya?)
Kalypso: jahat dan musuhin manusia.
Hespera: jahat tapi terkesan abu-abu dan setengah-setengah. Enggak jelas sikapnya waktu perseteruan soal di mana seharusnya Golden Apple ditanam di mana. Kukira sebagai pemimpin dia yang rasa marahnya paling besar ke manusia. Ternyata malah Kalypso yang justru paling kejam.
Btw kenapa kalau komen di sini ada tulisan “there’s critical error on this website”, ya? Jadi komennya nggak bisa langsung muncul gitu. Kudu di-refresh dulu.
Oh gitu? Wah ada error di hostingannya lagi kayaknya. Semoga cuma karena libur lebaran jadi kurang maintenance
Udah sebelum lebaran deh, Mas. Error-nya terjadi sejak saat aku komen di review Balada Si Roy. Aku komen nggak lama setelah film itu rilis.
Sekarang kalau komen ada tulisan “nonce verification failed”. Ini udah nyoba komen berkali-kali gak bisa-bisa.
Pas dari komen pertama sudah verification failed atau saat sudah berkali-kali?
Dari settingnya sih memang kuset komenan harus kuapprove dulu, biar aku tahu setiap kali ada komen masuk
Padahal di museum pas awal, Hespera gak ragu buat bunuh semua manusia ya, at least harusnya dia berhati dingin sama kayak Kalypso.
Anthea sus bgt, umur segitu tapi nyamarnya main-main ke sekolah remaja hahaha
Sejak dari komentar pertama verification failed-nya sudah muncul, Mas. Setelah itu pas nyoba komen berkali-kali pun juga muncul.
Walah.. semoga cuma error di setingan pesan failednya aja. Pernah ada komen yang benar-benar tidak muncul/tidak ada replyan gak?
Always, sejak komen di Balada Si Roy itu. Kalau habis komen enggak ku-refresh atau enggak ku-backward, komennya nggak bakalan muncul lagi. Jadi sekarang biasanya kalau komen di blog ini buat jaga-jaga, sebelum ku-post, ku-copy dulu biar kalau ilang bisa langsung ku-paste lagi.
Oo.. makanya banyak komen yang dobel-dobel masuk ke aku. Mungkin banyak ngalamin hal yang sama. Bingung juga aku lapor ke hostnya gimana haha