CEK TOKO SEBELAH Review – [2016 REPOST]

 

“No legacy is so rich as honesty.”

 

cektokosebelah-poster

 

It’s about time ada yang buat film tentang kehidupan pemilik toko sembako!

Hahaha seriously, kita bisa menemukan toko-toko yang jual jajanan kebutuhan sehari-hari tersebut di mana-mana. Rumahku practically dikelilingi oleh mereka sampai-sampai panggilannya berubah dari “kedai acong” dan “kedai si Gu” menjadi sesimpel “kedai belakang” dan “kedai depan”. Namun entah apa sebabnya tidak ada yang berani bikin cerita yang berpusat di lingkungan toko-toko kecil tersebut, I dunno – mungkin sejak warung Mak Nyak, padahal mereka begitu dekat dengan keseharian. Orang lebih tertarik sama film yang berjalan-jalan ke luar negeri. Jadi itulah sebabnya mengapa aku masuk ke studio dengan harapan yang cukup tinggi buat film ini. This could be a very interesting movie, dengan ide yang sederhana (namun ngena!), yang benar-benar dialami oleh pemilik toko di luar sana.

Cek Toko Sebelah pun tidak melewatkan kesempatan untuk berdekat-dekat ria dengan penonton. Setiap dialog, setiap adegan, setiap jokes terasa sangat lokal. Tidak susah untuk kita mengerti, tidak sukar bagi kita untuk merasa akrab dan erat dengan apa yang kita saksikan di layar. Kata orang, “it’s funny because it is true!”, Cek Toko Sebelah did a great job dalam menjaga dirinya tetap relevan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Film ini menempatkan KOMEDI SEBAGAI KOMODITI DAGANGAN PERTAMA, DAN DRAMA KELUARGA SEBAGAI JUALAN KEDUA sekaligus sebagai penggerak narasi.

 “kalo gak percaya, cek toko sebelah!”

“kalo gak percaya, cek toko sebelah!”

 

Mari bicara soal drama keluarganya duluan.

Koh Afuk yang mulai sakit-sakitan ingin terus melanjutkan usaha toko yang sejak dahulu ia lakukan bersama almarhum sang istri. Bagi Koh, toko ini punya sentimental value yang luar biasa. Dari antara dua putranya, Koh Afuk mempercayakan toko ke tangan anak bungsu, Erwin. Dan di sinilah Cek Toko Sebelah mengeksplorasi sisi dramatisnya. Erwin adalah pemuda yang lagi sukses-suksesnya di kantor, he has a great life going on; sebentar lagi dia bakal dapat promosi dan dipindahtugaskan ke Singapura. So obviously, Erwin dan pacarnya yang kece rada enggan disuruh ninggalin semua itu demi duduk nyatetin bon utang di toko keluarga. Keputusan Koh Afuk juga menimbulkan percikan api di dalam diri Yohan, anak tertua di keluarga. Yohan merasa left out so bad. Padahal secara keadaan hidup, Yohan dan istrinya lebih membutuhkan toko untuk menyokong his own family.

Sembari cerita berlanjut, kita akan mengerti alasan di balik kenapa Koh Afuk lebih mempercayakan tokonya kepada Erwin. At it’s heart, film ini bercerita banyak tentang masalah-masalah yang umum timbul dalam keluarga; pemasalahan sepele menyangkut trust, kerelaan, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan duduk baik-baik dan bicara. Film ini mencoba untuk menelaah problematika ini, yang justru terkadang bikin kita geram. Seringkali terbit rasa kesalku nonton ini karena realized apa yang tejadi kepada mereka bisa dengan segera beres jika Yohan mau ngomongin baik-baik keinginannya; jika Erwin dengan tegas untuk berkata “tidak” sedari awal.

Ada masing-masing sisi dari Erwin dan Yohan yang cukup terasa relatable buatku. Oh I’ve been there before. Aku tahu nyelekitnya enggak dipercaya oleh orang-orang yang sangat ingin kau pinjamkan pundak kepada mereka. Aku juga mengerti gimana beratnya untuk menolak permintaan dari orang yang kita cintai. And unfortunately, baik bagi Erwin dan aku, we learned in a hard way gimana ‘berpura’ menuruti kehendak demi nyenengin hati turns out adalah tindakan yang lebih menyakitkan. Inilah masalah terbesar dalam setiap keluarga; kita tidak terbuka dalam berkomunikasi. Dan lucunya, kita bertindak demikian dengan alasan menghindari konflik. Tanpa sadar bahwa itu justru membuat hal menjadi bagai api di dalam sekam.

 

Dan kemudian, ada sisi komedi.

Ada sejumlah anekdot segar dengan delivery timing yang oke yang bakal sukses bikin kita terpingkal. Sepertinya keputusan memakai para komika adalah tindakan yang tepat bagi film ini. There are some running-in jokes diintegralkan ke dalam narasi, yang actually punya pay-off dan really worked. Film ini akan memberikan kita hiburan yang konstan in terms of lawak-lawakan. Ketawaku paling keras datang pada adegan saat seorang satpam melakukan semacam mediasi antara Yohan dengan Erwin. Sebagai pembanding; kalo kalian suka nonton serial Scream Queens, kalian akan kebayang persisnya gimana humor dalam film ini bekerja. Over-the-topnya mirip, dengan lebih sedikit karakterisasi, sayangnya. Film ini juga memasukkan cerita persaingan antar-toko, untuk memperjelas struggle yang dialami oleh toko Koh Afuk, yang eventually membawa kita kepada salah satu adegan lovable yang really funny yang melibatkan dua pemilik toko yang ‘bersaing’.

 

Ayo siapa di sini yang udah sekolah tinggi-tinggi malah disuruh jagain legacy orangtuanyaa??

Namun begitu, aku tidak bilang Cek Toko Sebelah adalah film yang benar-benar hebat. It stands out sebagai film yang berani mengangkat topik original yang unconventional. Menghibur, iya. Dramatis, sering juga. Hanya saja tidak pernah tone tersebut terasa sejalan. Kurang mulus. Tone dan arahannya didn’t work for me. Setengah-pertama film – di mana kita akan melihat rangkaian adegan Erwin yang bekerja di toko yang diceritakan dengan menyerupai gaya montage – berat oleh unsur komedi, sementara dramanya baru datang setelah pertengahan. Film kerap pindah cut antara keadaan Erwin di toko dengan keadaan Yohan yang galau atau antara Koh termenung di toko dengan Yohan yang main kartu dengan teman-teman, dan setiap perpindahan adegan membuat kita terlepas dari emosi yang sudah terbangun di adegan sebelumnya. Membuat setiap sekuens rather episodic.

Kita tidak menyaksikan actual interaksi sodara antara dua tokoh sentral, Erwin dan Yohan, sampai ayah mereka jatuh sakit di tengah cerita. Di mana mereka kemudian bekerja sama, leads us ke sebuah resolusi yang terasa abrupt karena kita merasakan hubungan mereka, ataupun device untuk resolusinya, tidak diset-up properly. Isu terbesarku adalah dengan karakter Erwin. Yea, film ini menggunakan tiga tokoh yang berjalan paralel, akan tetapi hanya Erwin seoranglah yang tidak punya stake yang bener-bener bikin kita peduli kepadanya. Ditambah lagi, karakternya sendiri memang digambarkan kinda jerk, yang bagiku terlihat kayak rip-off serabutan dari karakter Schmidt di serial New Girl. Dia seorang yang selfish, but dia ngedraw a line soal gak mau bohong. And yet transisinya menjadi peduli kepada toko tidak pernah kelihatan. I mean, apa journey karakter si Erwin di sini?

 “Makasih ya”/ “Kok makasi? Kita gak ngapa-ngapain kok” EXACTLY

“Makasih ya”/ “Kok makasi? Kita gak ngapa-ngapain kok” EXACTLY!!

 

Ernest Prakasa menyabet banyak penghargaan penulisan skenario untuk filmnya Ngenest di tahun 2015 adalah salah satu yang bikin aku penasaran sama film Cek Toko Sebelah. I think skenarionya kali ini rada convoluted, tho. But, dari performancenya sebagai pemeran Erwin lah, Ernest terasa paling kurang. Literally, dia dengan sukses outperformed by any other casts, bahkan oleh komika-komika dan peran komikal mereka. Penampilan Erwin begitu forced, adegan yang nampilin dia dengan pacarnya sungguh susah untuk dinikmati. With that being said, penampilan terbaik di film ini datang dari Dion Wiyoko yang berperan sebagai Yohan dan aktor asal Malaysia Chew Kin Wah yang memainkan tokoh Koh Afuk. Karakter dan journey mereka lebih compelling sebagai tokoh utama. Pun mereka berdua memainkan range emosi masing-masing dengan seamless. Momen saat mereka berdua menjelang akhir film punya weight emotional yang kuat karena mereka memainkan peran dengan benar-benar contained.

 




Menawarkan adegan menghibur secara konstan. At times, menyenangkan. Meski begitu, aku tidak bisa bilang suka banget sama arahan narasi film ini, yang meski tak konvensional namun terasa konyol buat inti ceritanya. It feels a bit too orchestrated, tho. Bahkan segmen behind the scenes di closing credit kayak scripted. Padahal film ini berangkat dari premis yang begitu grounded. Komedinya kocak akan tetapi aku juga tidak bisa bilang film ini diselamatkan oleh komedinya. It work best when it tries to capture the dramatic side of its story. Film ini sepertinya aware dengan kelemahan resolusi-real yang dimiliki oleh ceritanya – as in nothing would happen jika mereka mau membicarakannya baik-baik sedari awal – jadi ia menyamarkannya dengan lanjut menjadi sedikit over-the-top. Dan untuk karakterisasinya, tidak banyak yang dijual selain pada tokoh Yohan dan Koh Afuk.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for CEK TOKO SEBELAH.

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.



SING STREET Review – [2016 RePOST]

 

“Arts are the very human way of making life more bearable.”

 

 

 

Salah satu perasaan paling menyenangkan sedunia, salah satu momen paling penting dalam hidup, adalah saat menemukan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan kita, the ones who share our obsessions. You know, yang effortlessly saling mengerti, yang bisa jadi lawan bicara berjam-jam soal suatu ide. People who you want to ‘make an art’ with.

 

Masa remaja Connor diisinya dengan dengerin musik, yang awalnya disebabkan lantaran Connor (sukar dipercaya kalo ini adalah debut film dari Ferdia Walsh-Peelo, saking compellingnya!) ingin meredam suara berantem kedua orangtuanya. Hidup pada jaman Duran-Duran (aaa Lupus bangeett!) mulai memperkenalkan konsep musik video, Connor sebenarnya enggak tahu apa-apa soal musik selain sebagai pelarian. Permainannya pas-pasan, dia bahkan enggak familiar dengan aliran musik, pengetahuannya sebatas yang hanya ia dengar dari omongan abangnya, Brendan (peran Jack Reynor ini sedikit mengingatkan kepada kehangatan uniknya tokoh Jack Black di School of Rock). Karena masalah ekonomi, Connor dipindahsekolahkan ke public school yang menjunjung erat nilai-nilai Katolik. Di sekolah yang semua muridnya cowok tersebut, sepatu warna coklat Connor enggak boleh dipake; harus hitam! Life is such a prison bagi Connor. Awalnya, Connor cuma seadanya, cuma se-existnya aja. Dia enggak melakukan apa-apa terhadap hidupnya. He’s just go with it; Ayah ibu berantem; dia bikin jadi lagu, Bully datang; “I’ll just take the punch.”

Momen pertama kita mulai merasakan ‘api’ di dalam diri Connor adalah ketika dia memberanikan diri mendekati cewek yang selalu berdiri di beranda rumah seberang sekolah mereka. Connor ngajak kenalan, dan turns out si cewek kece adalah seorang model. Apa akal Connor agar bisa kenal lebih akrab dan dapetin nomer Raphina (aura misterius yang natural dari Lucy Boynton) yang setahun lebih tua itu? Connor bilang dia lagi mencari model untuk video clip band mereka. Masalahnya adalah, there was no band!

Bikin musik itu ternyata sama dengan bikin film. Adalah sebuah proses yang required us untuk menemukan orang-orang yang sevisi. Proses yang enggak gampang, tapi sangat menyenangkan. Apalagi begitu sudah ketemu yang bener-bener ‘klik!”. Mau tahu apa lagi yang sama seperti demikian? Mencari jodoh.

 

Lewat film ini, beberapa di antara kita mungkin akan bernostalgia, beberapa akan pengen jadi anak band, beberapa akan reflecting so hard dan ujungnya baper. Maksudku, film ini sukses bekerja dengan baik dalam beberapa tingkatan. PUNYA BANYAK ELEMEN CERITA, yang kesemuanya dikonstruksi very tight, diceritakan dengan well-thought dan highly coherent. Sebagai period piece, Kota Dublin di Irlandia pada tengah 80an terhidupkan dengan baik. Kita lihat anak-anak muda di sana, Connor dan temen-temennya, follows tren musik yang terus berkembang. Mereka juga terinspirasi dari film. Amerika sebagai kiblat, dan London adalah tempat yang ingin mereka tuju. Bahkan Synge Street, sekolah mereka, worked greatly sebagai simbol penjara, sebagai tempat penting yang menempa kreasi dan pemasok bahan bakar pribadi Connor. Setting waktu dan tempat ini actually terintegrasi sempurna ke dalam cerita.

“Drive It Like You Stole It” is my favorite!

 

Penggemar musik jelas akan terhibur. Selain memberikan referensi beberapa pemusik yang udah jadi ikon, film ini juga membuat kita berdendang dengan lagu-lagu original yang asik punya. This is a fun, easy listened to, musical film. Menulis sebuah lagu, mendiskusikan nada-nadanya, mencari – aku enggak tahu istilahnya dalam musik – ‘lead’ atau ‘hook’ yang jadi appeal buat lagu itu, kemudian membuat video klip, ngumpulin properti, mereka adegan; rangkaian proses memproduksi musik yang mungkin enggak semua kita tahu tersebut tergambarkan luar biasa menyenangkan oleh film ini. Dan perjalanan musik band mereka sungguh asik untuk disimak. Menyebut diri sebagai aliran futurist, anak-anak Sing Street berevolusi dari Duran-Duran yang funky ke The Cure untuk kemudian akhirnya found their own beat. Dari yang tadinya untuk mengimpress Raphina, Connor realized musik adalah senjata terkuatnya untuk mengekspresikan diri.

Ini drama komedi yang kodratnya adalah film sedih, it tugs so many our heart strings. Namun arahan film ini mencegahnya untuk bermuram durja. Arahannya membuat cerita ini bersemangat tinggi! Tidak mellow berlebih. Kita bisa menikmati film ini sebagai kisah cinta remaja. The really sweet one, kalo boleh kutambahkan. Setiap anak cowok pasti ngimpi punya pacar yang keren. Begitu juga Connor. Tapi baginya, Raphina adalah kenyataan. Charm antarkedua tokoh ini worked magically. Kedua pemeran menyuguhkan penampilan akting yang supergrounded, dan terasa teramat real. Natural. Kita bisa rasakan cinta yang genuine tumbuh, tak hanya pada Connor dan surprisingly – bahkan mengejutkan buat dirinya sendiri – pada Raphina. Namun apa enaknya cinta tanpa konflik, maka film ini menulis dengan menarik  soal ‘beda dunia’ mereka dan berhasil membuat kita jadi sangat peduli sama nasib hati Connor. Lagu The Riddle of the Model hanyalah salah satu cara film ini mendeskripsikan relationship mereka di tahap-tahap awal. Membuat kiita mengantisipasi the bad outcome, we care for them, we want so much for them to be together in the end.

happy-sad

 

Pemusik basically adalah pemberontak. Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Connor memakai riasan ke sekolah, meniru dandanan Simon Le Bon, David Bowie. Bukan hanya the looks, Connor mengimplementasikan juga attitude mereka ke dalam dirinya sendiri. Dia bahkan berakhir dengan nama panggung, Cosmo. Nama yang memiliki arti luar angkasa, as opposed to dunia sempit tempat ia tinggal.
Sebagai sebuah karakter, pertumbuhannya yang demikian ini membuat Connor begitu compelling. Kita sungguh terinvest kepada karakternya. Kita turut dibikin penasaran ke mana dia akan melangkah setelah ini, karya yang bagaimana lagi yang akan ia hasilkan, akankah dia sukses atau hanya akan berakhir seperti abangnya.

Yang membawa kita kepada cara ketiga melihat film ini. Sebagai drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Semua orang di sekitar Connor adalah individu-individu yang meninggalkan mimpi mereka karena, well, hidup harus realistis. Kayak saudara cewek Connor yang dulunya hobi melukis, namun setelah gede ia berhenti dan tekun belajar biar nilai di sekolah bagus. Abang Connor, Brendan, on the other hand, memilih dropout dari kuliah untuk mengejar cita-citanya sebagai pemusik. Sayangnya, sampai Connor remaja, Brendan belum berhasil meraih mimpinya itu. Namun sosok Brendan adalah guru bagi Connor. He listens and hang on to Brendan’s every words. Prinsip Brendan ‘kerjakan impianmu’ jadi semacam mantra yang membimbing Connor. As a character, Brendan ditulis dengan sangat kuat dan interesting. Dia sudah melewati banyak hal, endure so many hard things – kegagalan – di masa lalu. Dia ada pada titik hidup di mana pikirannya sudah begitu terbuka, dia mendukung semua orang yang punya mimpi, bahkan jika mimpi itu adalah menjadi karyawan. Baginya, Connor sudah lebih dari sekedar adik; Connor adalah dirinya waktu masih muda.
And this creates a great conflict di dalam dirinya. Ada adegan di mana Brendan beneran menumpahkan segala emosinya kepada Connor karena Brendan tidak ingin Connor gagal, while deep inside it also hurt him karena ia tidak mau ditinggal sukses. Ia akan kehilangan arti jika Connor gets his dream come trueHigh note pada hubungan antara Connor dan Brendan ini ditulis dengan sangat indah.

Bagian terbaik dari sebuah film adalah bagian endingnya. Dan film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Sing Street punya kedua kualitas di atas. Each of its stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Aku enggak mau spoiler banyak, namun perasaan accomplished, perasaan bebas, tergambar dengan megah. Setiap akhir film adalah suatu awalan yang baru, dan yes kita bisa merasakan gamangnya Connor menghadapi apa yang ada di hadapannya.

 

 

I enjoy every seconds of it. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. It was beautifully written. It has heart and soul. Penceritaan yang sangat kreatif. Dialog-dialog membuat kita gatel pengen mengutipnya. Karakter-karakternya terflesh out dengan sempurna, bahkan temen-temen anggota band — the brothers of the same cause – dan bully langganan Connor mendapat jatah ‘hati’ yang cukup. It was highly well-performed. Cerita remaja yang bittersweet. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious. Malahan, lebih sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda yang beruntung sudah menontonnya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for SING STREET.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

[CHAMPION OF CHAMPIONS] – My Dirt Sheet Movie of the Decade (2010-2019)

Sepuluh tahun yang lalu ketika aku iseng masukin artikel delapan-film-favorit di blog tumblr-ku yang berfokus kepada artikel prediksi, review, dan analisis acara WWE, aku gak pernah nyangka bakal akan terus menulis mengenai film atau malah gak nyangka bakal suka nonton film dan mendedikasikan diri seutuhnya sebagai pengulas film.
Here I am, di 2020. Aku sekarang punya sepuluh daftar film favorit setiap tahunnya. Aku punya sepuluh juara film.

 
Ini adalah waktu yang tepat untuk menggodok mereka semua, mencari film mana yang jadi juara dari para juara, sekaligus melihat ke belakang seberapa jauh aku berkembang sebagai penonton film. Karena sama seperti sebagian besar dari kalian, aku juga mulai gitu aja. Aku bukan orang film, enggak ngambil sekolah film. I just love storytelling. Tapi tentunya bukan cuma tokoh-tokoh di film yang berkembang, belajar untuk jadi lebih baik. Kita juga seharusnya begitu, berusaha berkembang menjadi lebih dewasa, lebih matang. Maka dari itu, penilaian kita akan suatu film mungkin bisa berubah. Tapi keindahan dari apresiasi film adalah, kita bisa nonton film paling jelek sedunia tapi jika kita suka, ya kita suka. Tidak ada satu kritikus atau reviewer yang kata-katanya mempengaruhi selera, mendikte mana yang kita suka mana yang enggak. Tonton sebanyak mungkin film, kenali yang bagus, dan pilah mana yang disuka.

Pendewasaan dalam nonton film berarti bukan pada perubahan, melainkan belajar mengenali diri sendiri – mengenali akar dari selera. Memisahkan sehingga tidak bias.

 
Semua film-film juara ini sudah kutonton paling enggak lima kali. Entah itu sambil makan, pengisi background kalo lagi ngegambar, atau pengisi waktu. Beberapa dari mereka sangat personal karena berasosiasi dengan keadaanku pada zaman itu. Sehingga aku sudah bisa membayangkan memilih siapa di antara sepuluh ini akan sangat sulit. Yea, daftar ini kususun basically secara live, aku menulisnya on-the-go. Ulasan film-filmnya enggak banyak kutulis lagi, karena masing-masing akan disertai oleh link ke artikel Top-Eight tahun mereka. Yang lebih banyak kujelaskan nanti adalah seberapa berartinya film itu buatku serta alasan kenapa aku menempatkannya di posisi itu; bagaimana aku akhirnya memutuskan siapa yang jadi juara di antara juara.
 
Man, how am I gonna pick them apart…..
Mulai dari yang agak mudah dulu, kupikir juara paling bontot adalah

10. CARRIE (juara top-8 movies of 2013)

My Score: 5.5/10
My Favorite Characters: Carrie, Sue
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “These are godless times”
Cerita horor Stephen King. Dimainkan oleh Chloe Moretz. I’m one-hundred percent in.
Carrie re-adaptasi novel ini bukanlah film masterpiece. Dia gak break any-ground. Malahan aneh. Film memperlakukan supranatural Carrie yang semestinya membingungkan dan membuat takut layaknya seperti superpower. Seolah Carrie adalah pahlawan. Namun film ini sangat menyenangkan dan berisi karena menampilkan jurang yang sangat ekstrim sebagai pusat konfliknya. Si anak tertindas dan ibu yang ekstrim banget memeluk agama.
Aku suka Carrie karena yang terjadi kepada tokohnya itu adalah impian seluruh anak tertindas di seluruh dunia, dan 2013 itu adalah masa-masa aku tertindas banget sama kuliah haha…
 
 
Posisi berikutnya cukup konflik..

9. MAD MAX: FURY ROAD (juara top-8 movies of 2015)

My Score: 8.5/10
My Favorite Characters: Nux, Furiosa
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “I’m gonna die historic on the Fury Road!”
Fury Road adalah salah satu film action paling keren di dekade 2010an, dia punya – berani menampilkan – aspek-aspek yang ditinggalkan oleh film action kebanyakan. Semua stunt di film ini asli, kerja kameranya semua menakjubkan, arahannya mantep. Film ini juga respek sama legacy Mad Max.
Alasan film ini berada di posisi bawah adalah karena action bukan genre favoritku. Aku gak tahu, mungkin ini ada hubungannya dengan aku rutin nonton WWE sehingga dahaga buat cerita dengan media laga, buatku jadi biasa aja. Malahan, aku nonton Fury Road ini juga karena dipaksa oleh teman. Katanya bagus banget, ada adegan melibatkan nenek-nenek yang kocak dan pasti aku suka – katanya. Akhirnya aku nonton, dan wow! benar-benar fantastis. Adegan gitar api itu salah satu terkeren yang bakal selalu nyantol di hati.
 
 

8. THOR: RAGNAROK (juara top-8 movies of 2017)

My Score: 8.5/10
My Favorite Characters: Thor, Loki, Hela
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “I tried to start a revolution, but didn’t print enough pamphlets”
Aku benar-benar suka yang dilakukan oleh Taika Waititi  kepada dunia Thor. Komedi di film ini pure blast. Dialognya semacam ‘it’s funny becaue it’s true’ sehingga jadi berkali lipat lebih lucu. Tokoh-tokohnya awkward sehingga jadi lebih dekat daripada kita. Tapi meski banyak yang bilang filmnya jadi kayak OVJ, Ragnarok dibuat dengan sangat kompeten dan gak receh. Struktur, narasi, karakter, semuanya kuat. Apalagi visual dan desain produksinya.
Superhero kalo mau lucu, ringan, ya mending gini aja sekalian hahaha.. Buatku film ini murni hiburan. Menakjubkan film ini buktiin kekonyolan bisa kok dibuat bagus.
 
 

7. YOUR NAME (juara top-8 movies of 2016)

My Score: 9/10
My Favorite Characters: Mitsuha
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “Dreams fade away after you wake up”
Film terbaik 2016. Salah satu dari sedikit sekali film yang dapat nilai 9. Bukan hanya itu, film ini di daftarku bersaing dengan film-film keren lain semacam La La Land, Sing Street, The Witch. Makoto Shinkai berhasil membuat seni yang benar-benar indah, world-building yang kompleks dengan berbagai elemen, dan di pusatnya ada drama cinta yang unik dan hangat. Buatku elemen orang bisa saling cinta, terhubung secara emosional hanya lewat pesan di handphone tanpa pernah bertemu sebelumnya, sangat mengena.
Susah sih memang buatku meletakkan film ini di posisi yang cukup belakang. It’s just.. film-film lain terasa lebih akrab buatku.
 
Misalnya film ini:

6. FIGHTING WITH MY FAMILY (juara top-8 movies of 2019)

My Score: 7.5/10
My Favorite Characters: Ricky Knight, Hutch
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “All pregnancies are unplanned, son”
Aku bersyukur sekali ada film tentang WWE, mengangkat tentang pegulat wanita yang tergolong pemain baru, dan dibuat dengan bener. Jadi aku bisa menyukai ini tanpa rasa bersalah. Jadi bukan guilty pressure, melainkan benar-benar membanggakan.
Drama keluarganya kuat, komedinya efektif, dan inti ceritanya yang tentang mengejar mimpi juga sangat mengena. Seharusnya film ini tayang di bioskop Indonesia. Tapi sepertinya appeal wrestling di sini memang kurang ya. Atau jangan-jangan karena Indonesia masih ngelarang gara-gara kasus dekade lalu?
Wrestling buatku adalah bagian penting dari perjalananku suka sama film. Karena gulat basisnya adalah drama. Ada ceritanya. Dulu aku nonton, kalo gak WWE ya film horor. Makanya dua ini lebih berbekas buatku.
 

5. HEREDITARY (juara top-8 movies of 2018)

My Score: 8.5/10
My Favorite Characters: Charlie
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “Nobody admits anything they’ve done”
 

4. THE BABADOOK (juara top-8 movies of 2014) 

My Score: 8.5/10
My Favorite Characters: Babadook
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “Why don’t you go eat shit?”
Aku sudah menonton banyak horor, dari yang jelek hingga yang klasik semuanya kusantap. Kecuali horor esek-esek Indonesia karena waktu ngetopnya itu aku sama sekali belum tertarik nonton Indonesia. Hereditary dan Babadook adalah horor terseram yang kutonton sepanjang 2010-2019. Penulisannya juga termasuk yang terbaik. Unsur horor psikologisnya kental sekali. Juga sama-sama membahas kegagalan. Terutama The Babadook yang lebih fokus dan personal kepada si single mother. Dan itulah penyebabnya aku meletakkan posisinya di atas Hereditary.
Hereditary mengandung unsur cult sehingga ceritanya yang juga tentang ibu terasa lebih ‘eksternal’. Dia juga muncul di tahun yang memang horornya sebagian besar tentang sekte, sehingga kurang terasa ekslusif seperti The Babadook yang sekonyong-konyong di 2014 kita mendapat horor berbobot – dari sutradara baru – yang benar-benar seram.
 
Oke, sudah setengah jalan, dan kini tersisa yang susah untuk dipilih. Aku sendiri kaget juga aku ngepush film ini jadi tiga-besar. I discovered ternyata aku suka sama film yang performance musiknya, meskipun aku gak suka dengerin atau ngikutin musik.

3. PITCH PERFECT (juara top-8 movies of 2012)

My Score: 7.5/10
My Favorite Characters: Becca, Stacie
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “I set fires to feel joy”
2012 adalah masa gelap dalam hidupku. I got dumped by a girl, and I took it really hard. Dan Pitch Perfect hadir dengan lagu-lagu dan performance yang menghiburku. Ada kali setiap hari aku muter ini nonstop, supaya gak sepi.
Tokoh-tokohnya receh tapi lumayan unik. Aku jadi peduli sama akapela meski aku gak tau apa-apa, dan film ini juga bukan membahas akapela lebih dalam. Cuma hiburan. Dan surprisingly ditulis dengen bener. Becca gak annoying dan really cool. Suara Anna Kendrick bikin cinta banget. Sebagai catatan tambahan, mungkin aku sekarang belum nonton The Breakfast Club jika bukan karena film ini haha
 
 
Oke, we’re down to two. Ini keputusan yang sulit lantaran dua-duanya sama-sama paling jadul di sini, yang berarti dua-duanya lebih banyak aku tonton dibanding yang lain. Dua-duanya punya banyak adegan dan dialog yang masih terngiang-ngiang di telingaku. Yang aku hapal di luar kepala. Keduanya sama-sama quirky. Duh, ini serius susah…
Keputusanku sepertinya harus bertolak pada film mana yang lebih original… wait, yang satu adaptasi, yang satu sekuel! MASIH SAMA!!
Hmmm…. kalo sudah begini, ‘terpaksa’ kembali ke objektif sedikit, sehingga:
 

2. SCREAM 4 (juara top-8 movies of 2011)

My Score: 6.5/10
My Favorite Characters: Jill (duh!), Kirby
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “Do you know what it was like growing up in this family? Related to you? I mean, all I ever heard was Sidney this and Sidney that and Sidney, Sidney, Sidney. You were always so fucking special! Well, now I’m the special one.”
Serius aku hapal dialog itu di luar kepala. Aku cinta banget sama Emma Roberts waktu dia jadi psycho Jill dan ngucapin kalimat itu. Aku actually nonton ini ke bioskop sampe lima kali, dalam lima hari berturut-turut.
Ini urutanku nonton franchise Scream: Scream, Scream 4, Scream 2, Scream 3. Meski Scream jauh lebih original dan bagus daripada Scream 4, namun segi fun nontonnya buatku dua film ini amat berimbang. Jokes dan sentilan meta terhadap genre horornya kena banget, sehingga film ini bisa dijadikan sebagai penanda jaman pada sinema horor. Pembunuhannya agak bego, tapi masih bekerja-lah dalam lingkup dunia franchisenya. Ceritanya juga gak maksa-maksa amat, ini tampil lebih dari sekedar cash-grab menghidupkan kembali franchise jadul. Sense nostalgianya pun kuat dengan banyak reference sehingga nontonnya semakin asyik.
Aku udah bilang kan, Emma Roberts di sini keren banget? sejak nampil di film inilah maka sampe sekarang dia lekat dengan tipe karakter cewek ‘gila’ haha
 
 
With all that being said, film nomor satuku – My Dirt Sheet Movie of Decade 2010-2019 – adalah
 

1. SCOTT PILGRIM VS. THE WORLD (juara top-8 movies of 2010)

My Score: 7.5/10
My Favorite Characters: Kim, Envy Adams
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Shirt: “Well, Pac-man was originally called Puck-man. They changed it because… Not because Pac-man looks like a hockey puck. “Paku Paku” means “flap your mouth”, and they were worried that people would change, scratch out the P turn it into an F, like…” – oh wait I did that, I made the shirt already.
My Favorite Lines that I’d Like to Put on a Next Shirt: “Bread makes you fat.”
 
Jika kalian ngeklik link top-8nya kalian akan didirect ke… wujud pertama My Dirt Sheet! alias ke blog tumblr lengkap dengan gaya nulisku dulu hahaha
Bahkan saat aku sama sekali belum ngerti film, aku tau Scott Pilgrim adalah film yang spesial. Genrenya nyampur, drama, petualangan, fantasi, laga, musik, video game.. what? Ya video game, inilah uniknya film yang diadaptasi dari graphic novel ini. Cerita sebenarnya ringan, dekat dengan remaja manapun. Seorang cowok yang mau macarin cewek tapi harus berhadapan dengan mantan-mantan si cewek. Berhadapan di sini bukan sekedar harus lebih baik, lebih keren, melainkan literally harus ngalahin mereka dalam entah itu battle beneran atau battle bands. Either way, yang kalah jadi koin.
Cast film juga keren-keren. Sekarang separoh dari mereka sudah jadi superhero haha.. Film ini sungguh unik. Komedinya datang dari berbagai hal. Dari karakter, dari style, dari dialog. Bahkan dari editing. Dulu saat nonton ini nama Edgar Wright belum berarti apa-apa bagiku. Namun begitu aku tahu lebih banyak tentang film, aku langsung “daaang, gak heran filmnya bisa selincah ini!” Jangankan filmmaker lain, Edgar Wright sendiri aja setelah film ini hingga penghujung dekade, belum lagi mengeluarkan karya yang berenergi seperti ini. Scott Prilgrim vs. The World adalah gem langka yang gak semua orang berani bikin.
Paket lengkap buat anak nerd lah ini pokoknya. Salah satu kritikan buat film ini adalah bahwa si Ramona Flowersnya cuma tokoh manic pixie, but who cares! Semua remaja cowok kepingin punya cewek keren sesuai impian, toh.
 
 
 
 
 
So yea, that’s all for 2010s.
Menyenangkan nonton film bagus, menonton film enggak bagus, dan menyukai gak peduli bagus atau tidaknya. Intinya, nonton film ini bagaimanapun juga adalah menyenangkan. Makanya aku sekarang juga selalu mengusahakan menonton semua film. Walaupun kata orang filmnya jelek. Karena siapa tahu di dalamnya ada yang membekas di hati, ada yang mengena secara personal.
Apa film favorit kalian sepanjang 2010-2019?
Share with us in the comments 
 
 
Remember, in life there are winners.
And there are…
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

TURAH Review

“Either give up and die or die trying”

 

 

Satu lagi permata di antara kelimpahan batu, Turah adalah film yang berani mengangkat dan mengambil wujud berbeda dari film-film lain. Namun, ini adalah permata yang amat kasar. Menontonnya kita tidak akan merasa senang, atau gembira, atau berbunga, atau jumawa melihat tokoh baik berhasil mengalahkan tokoh jahat. Sebab depresi hidup adalah lawan yang berat; antagonis sebenarnya yang membawahi rasa takut, putus asa, dan berbagai macam perasaan negatif lain. Sutradara Wicaksono Wisnu Legowo menghimpun semua – tanpa memanis-maniskan keadaan – dan memperlihatkan kepada kita secara langsung seperti apa hidup yang untuk berharap aja, kita udah takut.

Kalo mau dideskripsikan, maka aku akan menggunakan istilah tempat jin buang anak untuk menjelaskan tempat seperti apa Kampung Tirang. Literally banyak mayat bayi yang ditemukan di kali dan dikubur di pinggir kampung. Tempat itu bahkan bukan ‘kampung’ beneran. Dia hanya sepetak tanah timbul dari endapan kali yang digunakan sebagai tempat tinggal buat orang-orang yang tidak mendapat tempat di dunia seberang kalinya. Orang-orang terbuang, dilepehkan mentah-mentah. Bagi kelas atas, mereka hanya tambahan suara saat pilkada. Janji-janji kesejahteraan itu tak perlu ditepati. Air bersih dan tempat tinggal yang layak? Pake aja apa yang ada! Turah sudah dari kecil tinggal di Kampung Tirang. Untuk memenuhi nafkah keluarga, dia dan para warga yang lain bekerja sebagai buruh pribadi Juragan Darso. Ternak kambing, barang bekas, tambak ikan, semua dijual ke Darso yang kemudian akan memberi upah kepada mereka.

Cukup? Tentu saja jauh!

 

Turah mungkin manut dan masih bisa legowo, istrinya dengan bijak menolak punya anak hanya untuk menambah korban sengsara, dapur mereka masih bisa ngebul walau hanya pas-pasan. Ditanyai apa ada kebutuhan yang masih kurang? Turah dan segenap penduduk menjawab “tidak ada, sudah cukup semua.” Namun tidak begitu dengan sahabatnya, si Jadag. Pemabuk ini sudah capek hidup susah, sudah bertahun-tahun dia bekerja kepada Darso namun hidupnya tak kunjung naik kelas. Dia cemburu sama Pakel yang sarjana. Jadag menyuarakan aspirasinya, mengajak Turah dan warga untuk membuka mata mereka, bahwa mereka bisa mendapat lebih, keringat mereka mestinya mengering masuk ke pundi-pundi masing-masing. Jadag mengambil rute protes yang beanr-benar frontal sehingga jika air kali yang tenang adalah Kampung Tirang, maka Jadag adalah batu yang dilempar ke sana, membuat riak-riak yang mengancam zona nyaman tempat terkutuk itu.

Hidup, sebagaimana yang diperlihatkan oleh film ini, adalah siklus yang selalu bertemu dengan kematian. Kita bisa menyerah dan mati. Atau mencoba, dan mati karenanya. Jadi, kenapa mesti takut? Keadaan suatu kaum tidak akan berubah, kecuali mereka mengubah keadaan mereka sendiri. Kita tidak bisa mengharapkan perubahan tanpa mengambil langkah untuk berubah.

 

Suara dan cahaya dalam film ini semuanya berasal dari alam. Kita tidak mendengar musik pengiring. Kita tidak melihat cahaya yang diekpos editing studio berlebihan. Hasilnya adalah sebuah gelaran gambar bergerak yang tampak nyata. Hampir seperti dokumenter ataupun live video. Sekuens menjelang penutup, yang malam-malam ujan gede itu, adalah yang paling membuatku takjub. Ditambah dengan pemahaman konteks cerita saat di titik itu, wuih bulu kudukku meremang saat menontonnya Film ini memang sangat suram. Hampir-hampir sukar untuk ditonton. Sekalipun ada humor yang terlontar dari percakapan para tokoh, maka itu adalah jenis humor yang bikin kita ragu apakah pantas menertawakan atau enggak. Sebab film ini cukup pintar untuk tidak menampilkan hal dalam satu dimensi. Bahkan tokoh Juragan Darso tidak semena-mena ditampilkan culas.

Penampilan akting para pemain nyaris sangat teatrikal. Aku gak bilang aktingnya kaku. Para aktor justru memainkan perannya, mendeliverkan emosi dengan sangat baik. Kita bisa merasakan pengaruh kata-kata Jadag merasuk lewat pancaran mata Ubaidillah yang memainkan Turah. Kita bisa merasakan geram dan later, kebimbangan menyeruak saat perlahan Slamet Ambari yang jadi Jadag runtuh oleh kesadaran tentang keadaan orang-orang di sekitarnya dan apa yang mereka pikirkan atas tindakan dirinya.  Dan menurutku ini agak berkonflik dengan kepentingan film untuk tampil serealistis mungkin. Ceritanya sendiri sudah cukup serius dan kelam, kita melihat penghuni kampung tersebut dalam keadaan susah – tak pernah senang – dan mereka tidak mengeluh. Tepatnya tidak berani mengeluh. I think film perlu memperlihatkan kepada kita gimana mereka tampak senang hidup di sana, sebagai kontras dari inner struggle yang dikubur dalam-dalam. Tapi enggak. Jadi kita dapat film yang muram dari awal hingga akhir, ditambah dengan dialog penuturan yang dibawakan dengan terlalu serius. Sangat menitikberatkan pada hal-hal emosional. Sehingga semakin ke ujung, aku kehilangan atmosfer otentik yang ingin ditonjolkan oleh film.

but seriously, mereka ngebuildnya begitu hebat aku jadi penasaran pengen lihat tokoh Ilah

 

Di satu sisi kita punya Jadag yang nyaris –nyaris menjadi over the top. Di sisi lain, tokoh utama cerita, Turah tidak benar-benar melakukan apa-apa. Tapi actually, ini adalah story arc dari Turah. Sebagian besar film, mengikuti Turah adalah kerjaan yang membosankan dibandingkan dengan adegan-adegan yang ada si Jadag. Turah kalah menarik. Dia tidak mengambil keputusan. Dia tidak memancing konflik. Dia berada di sana hanya bereaksi terhadap aksi yang dilakukan oleh Jadag. At times, aku kepikiran kalo Jadag bisa jadi adalah tokoh utama yang bisa membuat film lebih eventful. Tapi tentu saja, Turah punya kepentingan menyampaikan satu pesan tertentu pada narasi, yang aku bisa mengerti konteksnya kenapa film ini tetap menjadikan dia sebagai tokoh utama.

Meskipun usahanya tidak berbuah manis lantaran penuh oleh amarah, Jadag adalah pahlawan dalam cerita Turah. Sisa-sisa keberanian di dalam diri Turah terbangkitkan, dia belajar dari kesalahan yang dibuat oleh Jadag. Sekali lagi, ini adalah tentang diam saja atau mengambil tindakan. Pertanyaannya sekarang tindakan yang bagaimana. Jadag menggugurkan satu ekuasi, sehingga menyisakan satu lagi. Dan itu  sehubungan dengan kenapa mereka mau tinggal di sana. Kita tidak perlu stuck di satu tempat. Orang-orang di Kampung Tirang sebenarnya punya keahlian. Mereka memang pernah terbuang, tapi mereka bukan sampah. Mereka adalah leftovers yang enggak dipakek. Tindakan yang mereka ambil mestinya adalah sesimpel pergi mencari tempat yang membutuhkan kepandaian mereka.

 

 

 

Wakil terpilih dari film Indonesia untuk bersaing di Film Asing Terbaik ajang Oscar tahun 2018 mendatang. Makanya, aku sempat kecele pas Bandung enggak kebagian jadwal tayang film ini. Dan pada akhirnya, buatku, film Turah ini benar-benar seperti ‘sisa-sisa’ yang aku pungut dari bioskop alternatif, tapi perlu diingat, sisa-sisa bukan melulu berarti sampah. Karena aku justru merasa seperti baru saja menang lotere sehabis menonton film ini. Sisi kemanusiaan yang kuat, komentar tentang kecemburuan sosial, tentang kepemimpinan, film ini menyentuh jauh lebih luas dari sepetak tanah kampung. Kerelevanan ini membuatnya pantas terbang ke Oscar. Meski sebenarnya dia bukan pilihan satu-satunya, ada film yang lebih baik daripada ini – teknis maupun penulisan. Karena buat sebuah film yang menyuarakan harapan, film ini kadang tampil terlalu muram untuk membuat penonton peduli.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for TURAH.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

A SILENT VOICE Review

“It’s the way you say it.”

 

 

A Silent Voice menampilkan tokoh tunarungu-wicara, namun tidak sulit bagi kita untuk dapat mendengar bahwa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh  anime ini adalah komunikasi merupakan hal yang harus kita pelajari, karena kita semua, kebanyakan, tidak bisa berkomunikasi dengan benar.

 

Aku jadi kepikiran buat mencanangkan November sebagai bulan apresiasi anime sebab sudah beberapa tahun belakangan ini, setiap sekitaran November, aku selalu mendapat suntikan harapan bahwa masih akan selalu ada pembuat-pembuat film anime di luar sana yang berani menembus batas dan mengeluarkan tayangan berkualitas semacam Your Name (2016) dan A Silent Voice ini.  I mean, yea, memang memprihatinkan melihat Studio Ghibli masih harus berjuang secara keuangan, namun ternyata ini bukan akhir dari anime. Aku senang, meskipun aku bukan penggemar anime garis keras. Aku hanya memberikan kredit kepada yang pantas. Dan anime adalah salah satu media yang paling sering dioverlook. Di sini, aku ingin membujuk kalian buat meluangkan waktu dan mencari anime-anime yang baik. A Silent Voice adalah satu yang kurekomendasikan. Aku melewatkan film ini saat tayang di bioskop, dan lumayan nyesel karena ternyata ini film yang bagus banget. Bahkan jika kalian bukan penggemar anime, aku yakin setiap yang menontonnya akan  bisa menemukan apa yang bisa diapresiasi dari film ini.

Pada lapisan yang paling luar, kita bisa melihat film ini sebagai kisah drama relationship antara seorang cowok dengan cewek yang tunarungu-wicara. Tapi cerita ini tidak digarap dengan klise. Ceritanya bicara lebih banyak daripada romansa semata. Film ini menghindari banyak melodrama dan elemen-elemen pemancing baper yang banyak anime bahkan film lain terjerumus ke dalamnya. Tentu, salah satu bagian paling manis film ini adalah bagian percakapan antara kedua tokoh dengan menggunakan bahasa isyarat. Akan ada banyak kesempatan ketika mereka bercakap-cakap, saling melempar bahasa isyarat – dalam diam, semua emosi itu kita baca lewat pandangan mata mereka. Semua itu dapat tersampaikan dengan amat baik lewat animasi yang benar-benar menawan. Ini adalah film yang cantik dan punya cerita yang sangat menyentuh.

‘Menyentuh’ sebenarnya cukup mengecilkan karena apa yang tepatnya dilakukan oleh film adalah; ia menggenggam hati kita, kemudian meremasnya erat-erat. Membuat kita merasa sesak. Nyaris sebagian besar film ini terisi oleh adegan-adegan yang tough untuk ditonton. Terutama jika kalian pernah menjadi korban bully, pernah dikucilkan oleh teman-teman di sekolah. DAMPAK PERUNDUNGAN MENJADI KONFLIK UTAMA yang menyelimuti narasi. Dan film ini tidak ragu untuk menjadi menyedihkan. Namun tidak pernah sekalipun tokohnya meminta kita untuk mengasihani mereka. Film ini melakukan hal dengan sangat berbeda.  Biasanya film-film akan menempatkan kita di sudut pandang tokoh yang paling gampang dikasihani, dalam kasus film ini; sudut pandang Nishimiya, si cewek tunarungu-wicara yang dibully. Kita sudah pasti akan menginginkan Nishimiya untuk hidup bahagia. Film ini paham membahas dari perspektif demikian hanya akan membuat cerita menjadi terlalu dramatis dan kurang menantang. Jadi, cerita menempatkan kita di belakang Shoya Ishida, cowok yang tadinya paling getol ngebully Nishimiya.

senjata makan tuan adalah ungkapan yang tepat

 

Saat masih duduk di kelas enam, kelas Ishida kedatangan murid pindahan. Seorang anak perempuan yang membawa buku catatan ke mana-mana karena ia begitu bersemangat untuk mengobrol dengan teman-teman baru. Nishimiya tidak dapat mendengar, ia tidak dapat berbicara dengan lancar, jadi dia menggunakan tulisan untuk berkomunikasi. Teman-temannya disodorkan buku sebagai cara untuk bicara kepadanya. Tak butuh waktu lama bagi teman-teman satu kelas untuk menganggap Nishimiya merepotkan. Apalagi ketika mereka disuruh belajar bahasa isyarat, wuih Ishida langsung menertawakan. Di saat teman-teman yang lain mulai menjauhi Nishimiya, Ishida menjadikan anak itu bahan candaan. Dia meledek cara Nishimiya berbicara. Dia membuang buku komunikasi Nishimiya ke kolam. Ishida bahkan nekat mencabut alat bantu pendengaran dari telinga Nishimiya dan melemparkannya ke mana-mana. Eventually, hal tersebut membuat Nishimiya pindah dari sekolah mereka. Ishida pun dikecam teman-teman yang lain sebagai tukang bully kelas kakap, sekarang gantian ia yang dijauhi. Dikucilkan. Dan dikerjai oleh anak-anak satu sekolah. Kemudian film akan membawa kita melompati beberapa tahun hingga Ishida SMA. Dan yang kita lihat tidak lagi anak laki-laki yang ceria, melainkan seorang cowok yang begitu sendirian, tak punya teman, traumatized oleh kelakukan masa kanak-kanaknya sendiri.

Normal bagi anak kecil untuk menggoda, mengganggu, teman yang mereka sukai. Karena begitulah cara mereka berkomunikasi. Kekanakan, kata orang. Namun, Ishida tidak mendapat kesempatan untuk tumbuh dan mengerti itu. Sudah terlambat untuk dia mengerti apa yang ia lakukan sudah kelewat batas, segala yang ia lakukan berbalik kepadanya. Dia tumbuh menjadi cowok dengan trauma mendalam oleh derita yang ia berikan kepada orang lain. Begitu traumanya sehingga dia tidak mengerti apa itu teman, apa yang membuat seseorang bisa dianggap sebagai teman.

 

Biasanya dalam anime romantis kita dapat dua tokoh yang saling menyintai dan mereka terpisahkan oleh sirkumtansi dari luar, entah itu jarak ataupun hal lain. Dalam A Silent Voice, Ishida dan Nishimiya benar saling menyintai, tapi masing-masing mereka merasa bersalah – sudah melakukan hal mengerikan di masa lalu – sehingga mereka tidak tahu harus bagaimana untuk meruntuhkan tembok itu, bagaimana harus menjadi teman. Kita melihat usaha Ishida untuk mencari keberadaan Nishimiya saat mereka remaja. Ishida sungguh-sungguh belajar bahasa isyarat, karena dia menyangka karena tidak bisa saling bicara itulah masalah mereka. Tapi redemption itu tak kunjung datang kepadanya.

bahkan setelah gede pun kita masih paling sok kasar sama orang yang disukai

 

Komunikasi itu bukan masalah suara. Komunikasi bisa berbentuk apa saja. Akan tetapi, Ishida remaja bahkan menolak untuk kontak mata dengan orang lain. Dia tidak lagi tahu bagaimana cara berkomunikasi dengan orang, dia takut salah, takut dipersalahkan. Film ini mengambil langkah kreatif yang sangat kuat dalam menggambarkan keengganan dan ketakutan Ishida terhadap suara-suara sosial. Wajah semua orang di sekitar Ishida akan ditempeli tanda silang gede. Ketika ada orang yang mengajaknya bicara, berusaha berhubungan dengan Ishida, barulah tanda silang ini terlepas jatuh ke lantai.

 

 

Lebih memfokuskan kepada struggle yang dihadapi oleh remaja seperti Ishida, juga Nishimiya, film ini adalah studi karakter yang sangat relevan, terutama lantaran banyak anak-anak di luar sana yang juga berurusan dengan masalah perundungan. Korban maupun pelaku, semua kena dampaknya. Film ini dengan berani membahas semua itu, dengan lingkupan sudut pandang yang berbeda. Namun dua jam lebih durasi itu bisa sangat memberatkan, apalagi film ini begitu menoreh hati kita, it’s hard to watch sometimes. Penting bagi film untuk memperlihatkan interaksi antara Ishida dengan tokoh selain Nishimiya, akan tetapi masih banyak kita jumpai adegan-adegan percakapan antara para tokoh sampingan ini yang enggak begitu mempengaruhi atau menyumbangkan bobot emosi kepada fokus cerita. Film mestinya bisa memangkas beberapa, membuat cerita lebih ketat. Di luar itu, ini adalah film penting, and I really like it. Serta menurutku, film ini masih memiliki lapisan lain yang bisa kita eksplorasi, karena ada beberapa bagian yang sangat tersirat seperti reinkarnasi ataupun kenapa kita tidak pernah diperlihatkan wajah kakak Ishida, yang belum sepenuhnya aku mengerti.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for A SILENT VOICE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

PERSONAL SHOPPER Review

“The medium is the message.”

 

 

Fotografi abstrak pertama di dunia adalah jepretan dari seorang spiritualis. Begitu juga dengan lukisan abstrak; Hilma af Klint, pelukis Swedia yang mempercayai keberadaan dunia lain di luar dunia fana kita, menyelesaikan lukisan pertamanya (barisan bangun ruang yang terlihat tak beraturan) bertahun-tahun sebelum konsep seni abstrak dikenal oleh publik. Keabstrakan dipercaya berasal dari kesadaran yang lebih tinggi, yang dipengaruhi oleh spiritualisme dan theosofi. Bentuk-bentuk sembarang tersebut, actually adalah semacam bentuk dari komunikasi. Ada tatanan dalam keserampangan. Sebelum dahi kalian mulai mengernyit dan berkata cempreng ala ala Chris Tucker dalam Rush Hour, “This is bullshit!”, aku mau menekankan bahwa film Personal Shopper berlandaskan kepada pemikiran atau KONTEKS KEABSTRAKAN DENGAN KONTEN SPIRITUALIS. Menonton film ini akan sama seperti melototin lukisan abstrak; gak jelas. Ini adalah film arthouse yang teramat aneh, jadi kubilang, tontonlah segera film ini begitu nemu!

Narasinya sangat enggak-biasa. Sejujurnya, meski sudah banyak menonton film misteri dan horor, aku belum pernah melihat film yang seperti ini. Jika kalian mengharapkan film setan-setan dengan jumpscares ataupun tontonan horor thriller semacam American Horror Story dengan Americannya diganti dengan French, maka kalian akan kecewa. Saking misterinya, malah kita akan kesulitan untuk meletakkan ada di genre mana film ini. Hororkah, thriller, atau malah drama? Jawabannya; Semuanya. Keanehan film ini merupakan akibat dari BANYAKNYA PERGANTIAN TONE yang bakal kita temukan sepanjang durasi. Film ini ngepingpong kita dari satu tone ke tone lain dengan cara yang sangat sangat haunting. Mainnya cantik, memang, namun bakal bikin sangat enggak-enak. Merinding.

Film ini adalah gabungan dari banyak elemen cerita yang bedanya lumayan jauh juga satu sama lain. Ini adalah cerita hantu. Serta adalah sebuah potret duka. Sekaligus tentang seseorang yang frustasi terhadap pekerjaannya. Juga merupakan kisah misteri tentang penguntit yang ngintilin lewat teknologi. Di pusat semesta itu semua, ada Kristen Stewart sebagai seorang cewek bernama Maureen. Dia bekerja sebagai asisten belanja buat model terkenal. Maureen akan pulang-pergi Paris dan London mengambil pesanan baju untuk kemudian diserahkan kepada sang model. Di tengah-tengah kesibukannya itu, Maureen yang baru saja ditinggal mati oleh saudara cowok kembarnya berusaha menggunakan bakat ‘bisa-ngeliat’ yang ia miliki untuk mencari dan reach out kepada saudaranya tersebut. Maureen berusaha membuat koneksi antara dunia sini dengan dunia sana.

kita akan jantungan mendengar bebunyian di rumah setelah melihat ending film ini

 

Maureen adalah PENAMPILAN TERBAIK DARI KRISTEN STEWART sepanjang karirnya sejauh ini. Sudah lewat masa-masa ketika dia nampilin muka datar. Sebelum ini, aku pernah melihat Stewart turut bermain jadi asisten pribadi pada Cloud of Sils Maria (2014) yang juga digarap oleh Olivier Assayas, dan aktris ini bermain bagus banget di sana. Aku sudah ngereview film tersebut di Path beberapa waktu yang lalu, namun belum sempet menyadurnya jadi tulisan full ke blog. Highly recommended deh pokoknya, terutama buat yang suka soal idealisme melawan komersialisme.

Balik lagi ke Kristen Stewart dalam Personal Shopper; penampilan aktingnya meningkat. Di film ini dia bermain dengan fenomenal. Tokohnya sangat real, totalitas banget. At one point in the movie, Maureen yang ia perankan akan ngerasa malu kepada dirinya sendiri karena dia sangat ingin mencoba pakaian-pakaian pesenan klien yang tidak mampu ia beli. Di poin lain, Maureen nerima pesan Line yang sangat creepy dari seseorang misterius yang menurutnya mungkin saja itu adalah pesan dari abangnya yang sudah mati. Reaksi-reaksi emosi dari Maureen terlihat sangat nyata. Kita bisa merasakan dia terdetach dari dunia profesinya, dia terbebani oleh masalah-masalah yang she’s trying to deal with. Maureen akan berhubungan dengan banyak orang, dengan desainer, dengan manajer, dengan mantan abangnya, dengan calon pembeli rumah abangnya, dengan model kliennya, tapi kita tetap melihat dia sebagai dirinya sendiri. Pegangan kepada tokoh ini begitu kuat.

Ketika berduka mendalam, ketika proses berduka itu menghantui setiap langkah, kita tidak lagi mengerti apa itu hidup. Kita akan melakukan hal di luar nalar. Kita akan mengambil keputusan-keputusan yang tidak dipikirkan dengan matang. Kita tidak memikirkan apapun kecuali yang ganjil-ganjil. Gimana cara kerja otak saat berduka nestapa, semua tersebut ditangkap dengan sempurna lewat campur aduk dan abstraknya tone film ini.

 

Elemen-elemen dan tone campur aduk ini tidak pernah membuat film keluar dari jalur harmonis. Mereka menyatu membentuk satu tema spesifik, yakni bicara TENTANG APA YANG KITA ALAMI KETIKA KITA SEDANG BERDUKA. Menurutku gagasan itulah yang ingin dibicarakan oleh sutradara Olivier Assayas, dan dia benar-benar berhasil mengeksplorasi itu semua dengan sangat baik. Sukses berat membuatku kepikiran sama film ini, hingga lama setelah ceritanya berakhir. Bagian paling menawannya adalah kita tidak bisa memperkirakan cerita. Kita tidak tahu ke mana arah cerita ini, kita tidak tahu apa yang bakal terjadi selanjutnya, dan film ini dengan segenap hati mematahkan semua prediksi dan ekspektasi penonton yang berusaha menebak misterinya. Biasanya, film misteri akan memberikan kita kepingan puzzle, kalian tahu, kita akan diperlihatkan adegan yang berisi petunjuk yang bakal membuat kita menjentikkan jari bilang “Aha, aku ngerti sekarang! Begitu rupanyaaa!!” Tapi Assayas enggak memberikan kita momen buat kegirangan kayak itu. Nyaris setiap ada kesempatan, dia lebih memilih untuk menyembunyikan kepingan puzzle tersebut. Dia melemparkan kepada kita sebuah sekuen sambil bilang “tuh, cari tahu sendiri deh pake otak!” dan kita memang harus melakukannya supaya mengerti dan konek dengan para karakter.

Personal Shopper tidak menyia-nyiakan satu adegan pun. Tiada satu aspek yang tidak punya maksud dan arti. Aku literally bengong dua jam mikirin apa makna dari gaun berkilau yang diam-diam dikenakan oleh Maureen. Tone cerita memang diniatkan untuk berbeda, keabstrakan adalah nuansa yang berusaha dibangun, saking samarnya bahkan kita enggak pernah betul-betul tahu Maureen bekerja untuk seorang model atau siapa. Film tidak pernah menyebutkan terang-terangan. Akan tetapi, setiap layer cerita pada akhirnya tetap koheren satu sama lain.

Pekerjaannya sebagai asisten belanja pribadi dan keistimewaan Maureen dapat melakukan kontak dengan makhluk astral, dua hal ini menunjukkan kehidupan profesional dan personal Maureen sebenarnya berjalan beriring; Maureen adalah seorang medium, dia adalah perantara. Dan ini bentrok sekali dengan kehidupan sosialnya. Orang-orang yang ditemui Maureen, yang melakukan interaksi sosial dengannya, tidak berurusan langsung dengannya. Kepada pemilik butik atau desainer, dia bicara karena urusan kerja. Kepada teman-teman saudara kembarnya, well technically mereka bukan temannya secara langsung. Maureen tidak punya kehidupan sosial sendiri, dan saat itulah dia menyadari bahwa dia hanyalah ‘hantu’ dari eksistensi saudara kembarnya, dia adalah ‘bayangan’ dari kliennya. Adegan ketika Maureen mencoba semua pakaian yang ia beli untuk kliennya adalah cerminan dari dia ingin menjadi orang lain, dia ingin dirinya menyeruak menjadi ‘ada’. Percakapan lewat pesan teks juga bekerja baik menunjukkan gimana anonimnya internet membuat kita tak ubahnya seperti berkomunikasi dengan hantu.

Sebagai perantara maka sekaligus kita menjadi pesan. Dalam konteks komunikasi, konsekuensi sosial dari segala bentuk media yang kita gunakan, sejatinya adalah konsekuensi pribadi sebab media adalah perpanjangan atau perluasan dari diri kita sendiri.

 

 

Nasib film ini sebelas dua belas ama Swiss Army Man (2016), Personal Shopper mendapat sambutan “booo!” yang dingin dari kritik dan penonton di Festival Film Cannes. Aku kadang heran juga dibuat oleh para kritik yang selalu bilang bosen dan ingin sesuatu yang baru, namun begitu ada film yang benar-benar orisinil seperti ini mereka malah ngebantai filmnya. Pada awalnya memang film ini akan terasa rada bego. Pada bagian panjang soal Maureen yang ‘diteror’ pesan misterius, cewek ini mau-mau aja ngikutin apa yang dimau oleh lawan chattingnya. Maureen melakukan apa yang ia suruh, dan tak jarang Maureen mengetikkan jawaban dengan sedikit nada antusias. Aku sempat geram, paling enggak harusnya dia ngediemin, atau malah langsung lapor polisi. Tetapi aku sadar kita harus melihat kepada konteks gedenya; bahwa Maureen adalah orang yang sedang dealing sama proses berkabung yang begitu intens, juga ada satu hal lagi yang membebani pikirannya yang masih terkait dengan kematian saudara kembarnya. Jadi perspektif kita harus disejajarkan sehingga kita bisa mengerti dengan kondisi serapuh diri Maureen sekarang, tokoh ini tidak akan membuat keputusan yang tokcer dan cemerlang.

We don’t respond to anonymous texts at the Palace of Wisdom.

 

 

Dari adegan pertama sampai detik terakhir tidak ada momen yang sudah pernah kita lihat sebelumnya, membuktikan bahwa film ini bener-bener orisinil. Ia tidak ubahnya seperti lukisan abstrak yang penuh dengan bentuk-bentuk cerita yang dicampur aduk. Tapi ada keharmonisan narasi di balik keenggak jelasannya. Semua elemen cerita mengarah kepada satu tema spesifik, semua lapisan konten actually koheren satu sama lain, membuat satu bigger picture cerita tentang orang yang berjuang keras menangani proses berduka dan identitas dirinya sendiri. Sangat refreshing menonton film yang menangani misterinya dengan cara yang tidak biasa, yang membuat para penontonnya bekerja keras mengungkap apa di balik gambar demi gambar yang disusun seolah secara ngawur. Unsettling and haunting, kita tidak akan mendapat horor soal penampakan hantu yang sepele seperti Danur (2017) pada film ini. Keliatan dari judulnya, this is one very unconventional movie, dan kita semua harus menyaksikannya hanya untuk alasan tersebut.
The Palace of Wisdom gives 8 gold stars out of 10 for PERSONAL SHOPPER.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

THE EYES OF MY MOTHER Review

“Being alone with your feeling is the worst because you have nowhere to run.”

 

 

Tumbuh di lingkungan peternakan sepertinya menyenangkan. Dekat dengan alam. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Hamparan hijau seluas mata memandang. Kesannya segar sekali gitu ya. Namun bagi anak-anak, kondisi melegakan tersebut bisa sekaligus jadi kurungan buat mereka. Dengan rumah tetangga paling dekat bermil jauhnya, Francisca bermain boneka sendirian. Aktivitas setiap harinya diselingi dengan melihat Ibu bekerja, memberi makan sapi-sapi, merawat, dan memotongnya sebagai makan malam.

Yup, ibu Francisca enggak segan-segan membawa pulang kepala sapi dan membedah matanya di depan mata Franny yang lugu, yang memegang teguh setiap cerita yang keluar dari mulut ibunya. Dia belajar apa yang diakukan oleh ibunya, dan untuk anak seusianya melakukan hal seperti demikian, jelas bukanlah pengalaman yang bikin sehat jiwa. Lingkungan tidak membaik bagi Franny karena kedatangan seorang asing ke rumah mereka, membuat Franny menyaksikan lebih banyak trauma. Film ini adalah tentang Franny yang perlahan ‘menggila’ sekaligus berusaha keras mempertahankan interaksi sosial. Dia mengurus jasad ayahnya, dia memberi makan orang yang ia sekap di gudang, The Eyes of My Mother akan membawa kita mengintip sedikit ke dalam kehidupan seorang yang berubah drastis dari korban menjadi seorang pembunuh.

meja makan keluarga ini isinya mata sapi beneran, bukan yang telur.

 

Kamera yang statis ngerekam adegan-adegan long take, komposisi warna hitam-putih, desain suara dan scoring yang mengendap dengan eerie abis, drama horor ini diarahkan dengan gaya yang sangat nyeni. Perspektif tokoh utama tidak kita alami langsung, melainkan kita amati dari jauh. Kita enggak diajak masuk ke dalam kepala Francisca yang trauma secara emosi, kita cuma melihatnya berinteraksi seperti Francisca melihat apa yang dilakukan oleh ibunya. Dan di sinilah ketika film menjadi sangat disturbing. Kita tidak pernah melihat Franny kecil bertanya kenapa. Moral tidak pernah jadi permasalahan bagi cerita. Ini murni selayang pandang (sukur Alhamdulillah horor ini hanya satu jam lebih sedikit, siapa tahan ngerasa unsettling lama-lama) kehidupan ‘normal’ yang abnormal, sehingga pertanyaan ‘kenapa’ itu justru datang bertubi-tubi kepada kita. Kenapa kita mesti ngeliat ini semua? Kenapa film ini dibikin, apa sih maksud sutradara Nicolas Pesce memperlihatkan ini semua? Kenapa membunuh itu mendatangkan perasaan menakjubkan? Kenapa oh kenapa?

Karena, baik sebagai pembunuh ataupun sebagai korban, mereka sama-sama adalah manusia.

 

Film ini membagi narasinya ke dalam tiga chapter, masing-masing berjudul Mother, Father, dan Family. Ketiganya dapat kita translasikan sebagai trait ataupun personality yang membentuk pribadi Francisca. Insting merawat yang ia dapat dari ibunya, insting kerahasiaan dan bertindak yang ia peroleh dari ayahnya, dan keduanya terhimpun menjadi jawaban atas masalah Francisca; dia butuh keluarga.

Di balik segala ke-uneasy-an, segala perasaan mengganggu, sesungguhnya ini adalah cerita psikologikal yang sangat humanis. Bukan tidak mungkin orang-orang biasa seperti kita mengalami hal yang sama. Sebab, ketakutkan hakiki dari cerita ini BERINTI KEPADA RASA KESEPIAN. Layaknya film-film horor modern yang keren, film ini pun mengerti bahwa rasa takut itu datangnya dari dalam jiwa manusia. Untuk kemudian diperkuat dengan monster, hantu, ataupun hal-hal gaib yang tak berwujud. Dalam film ini, rasa takut akan kesepian tersebut diamplify menjadi berkali-kali lebih kuat dan disturbing dengan membenturkannya dengan elemen psikopat. Francisca merasa menakjubkan saat membunuh orang, sementara tidak ada yang lebih dia inginkan daripada punya company, punya teman. Konflik inilah yang jadi emotional core dan pusat cerita. Motivasi Fransiska yang terpecah antara pembunuhan dengan merawat, sampai kepada titik Francisca terlihat menyalurkan insting keibuan, itulah yang membuat kita susah untung berpaling dari film ini, meskipun penceritaannya sangat bikin kita enggak-nyaman.

Kesepian juga adalah penyakit mental manusia sebagai makhluk sosial. Banyak orang merasa sepi padahal sedang berada di tengah-tengah kerumunan pesta. Bahkan faktanya, lebih dari 60% pasangan yang sudah menikah masih merasakan kesepian. Rasa sendiri dan sepi itu bergantung kepada kualitas hubungan yang kita jalin. Namun kesepian tidak pernah digolongkan sebagai abnormal. Campurkan ia dengan kejadian traumatis? Nah, barulah kita bicara dengan Francisca!

 

 

Dalam kasus ini, Francisca mendapat personality dari apa yang ia lihat pada ibunya. Her deepest desire adalah merawat, singkatnya bisa dibilang ia ingin menjadi seorang ibu. Sepanjang film kita akan melihat dia berusaha keras untuk melakukan hubungan sosial dengan orang-orang. Ada adegan ketika ia ingin memberi makan sapi, namun sapinya malah mundur menjauh. Dan kemudian kita melihat usahanya menjalin relationship gagal karena pasangannya menjauh, takut. For her psychopathic behavior. Jadi dia menemukan cara termudah dengan menyekap mereka. Dia tidak butuh teman yang balas bicara, dia cuma butuh tubuh untuk dia kasih makan, dia rawat sebaik yang ia yakini.

Gaya macabre film ini, toh, bukan lantas berlebihan. Kita tidak melihat kekerasan yang benar-benar gamblang. Enggak ada yang bikin kita memejamkan mata, dari segi kesadisan adegan. Warna monokrom juga berperan dalam menyamarkan imaji-imaji berlumuran darah. Dalam kata lain, dari segi gore, film ini enggak benar-benar bikin mual. Adegan-adegan sadis itu justru terjadi di luar kamera. Atau sangat jaaaauuuh dari kamera. Kita tidak betul-betul melihat apa yang dilakukan oleh Fransiska kepada cewek yang dia ajak pulang ke rumah. As far as blood splatters, kita hanya melihat darah ketika cairan itu sedang dibersihkan. Tapi tutur film ini begitu efektifnya, sampai-sampai kita merasa seolah tahu apa yang terjadi di antara potongan adegan. Hampir seperti adegan kekerasan tersebut terjadi di depan mata kita walaupun kita tidak pernah melihatnya. Dan jika apa yang tidak dinampakkan oleh film ini bisa dengan jelas kita bayangkan, maka gambar-gambar yang secara eksplisit ditampakkan – bak mandi dengan air seputih susu tempat Francisca berendam dengan mayat ayahnya, misalnya – akan terus terpatri dalam pandangan kita, bahkan jauh setelah kita menyaksikannya.

“look in my eyes, what do you see?”

 

Penampilan para pemain dieksekusi dengan hati-hati. Francisca diniatkan untuk terasa jauh sehingga saat rasa simpati timbul kepada tokoh ini, kita akan merasa semakin tidak nyaman. Kika Magalhaes memerankan Francisca dewasa dengan keanggunan dan level kemisteriusan yang membuatku membandingkannya dengan aktor lokal Shareefa Daanish yang juga kerap bermain di ranah horor. Di bawah pendekatannya, tokoh ini mampu menumbuhkan rasa simpati meskipun tak jarang aksi yang ia lakukan tak dapat kita pahami. Ada perasaan sedih yang merasuk kala kita melihat dia berusaha untuk berfungsi secara sosial in her own screwed up way.

 

 

Di babak awal, pace terasa agak sedikit diburu-buruin, namun secara keseluruhan, film ini digarap dengan kalkulasi yang sangat spesifik. Trauma dan Kesepian seolah dijahit dengan precise ke dalam narasi, menghasilkan sebuah cerita yang sangat mengganggu. Clearly, apa yang diceritakan oleh film ini bukan untuk semua orang. Film ini enggak butuh jumpscare ataupun trik-trik pembunuhan besar untuk bikin kita ngeri. Secara artistik, ini adalah arthouse horror yang amat ambisius. Untuk sebuah karya pertama, pencapaian Nicolas Pesce tergolong luar biasa. Kita bisa melihat visinya. Meskipun mungkin tidak selalu jelas kenapa. Perspektifnya yang enggak necessarily subjektif, membuatnya sedikit artifisial.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for THE EYES FOR MY MOTHER.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

THE VOID Review

“Keeping your shape hidden with your triangle intact.”

 

 

Reaksi terwajar ketika melihat ada pemuda merangkak-rangkak hingga tersungkur di pinggir jalan pada malam yang sepi tentu saja adalah “meh, mabok noh orang!” Pikir dahulu sebelum bertindak suka kita panjang-panjangin menjadi pikir negatif dulu – maklumi – baru kemudian ambil tindakan seperlunya. Meski kalo aku sendiri yang nemuin orang berdarah-darah di jalanan gelap, maka kemungkinan besar aku akan langsung ngabur balik arah tanpa mikir dua kali. Tapi Daniel Carter adalah seorang polisi. Tugasnya melindungi. Jadi, dia mendekat ke si pemuda misterius, dan dengan segera dia menyadari orang ini butuh pertolongan serius. Opsir junior Daniel membawanya ke rumah sakit kecil di pinggir kota. Dan di sanalah kejadian mulai menjadi teramat aneh. Pelataran rumah sakit yang nyaris kosong tersebut mendadak ramai oleh sosok-sosok berjubah putih yang menggenggam pisau. Misteri film ini enggak sebatas pada ancaman anggota cult di luar saja. Listrik di dalam pun lantas ikutan berulah. Dan ada makhluk mengerikan bertumbuh dari mata seorang suster!! Kejadian di film betul-betul menjadi kacau dan di luar akal sehat, tapi ini adalah jenis kekacauan yang amat sangat bisa kita nikmati!

Beberapa tahun ini, banyak kita dapatkan horor-horor independen seperti It Follows (2015) ataupun The Babadook (2014) yang dibuat dengan arahan yang keren. Horor tapi nyeni, aku menyebutnya. Tentu saja ini adalah perkembangan yang sangat menyegarkan lantaran generasi sebelum ini punya arahan yang, ah katakanlah, lebih fisikal. Horor klasik generasi tahun 80an biasa disebut sebagai generasinya BODY HORROR. Karena memang dalam film tersebut banyak kita jumpai potongan-potongan tubuh yang bikin mual, monster-monster aneh yang bikin jijik, pesta pora gore, deh, pokoknya! Banyak orang yang memandang 80an sebagai periode puncak dari genre horor, filmmaker udah gak pakai mikir dan langsung ambil tindakan nekat. Dengan berani mengambil kesempatan sekaligus ngambil resiko, kala itu trennya adalah semua saling berlomba bikin horor yang paling aneh, dan filmmaker itu, mereka tidak pedulikan apapun. Semuanya mengambil creative risk. Bahkan Indonesia juga terjangkit fenomena yang sama, di sini kita punya Bayi Ajaib, Malam Satu Suro, Pengabdi Setan, dan banyak lagi yang nampilin horor dengan praktikal efek yang sangat graphic. Aku salah satu dari sekian banyak fans horor 80an, yeah, bukankah aku sudah pernah bilang aku berangkat dari genre horor?

Makanya The Void ini adalah sesajen yang sangat delightful bagiku. Film ini, jelas sekali, adalah throwback buat horor era 80an. Di sini kita akan ngeliat monster dengan sulur-sulur mengerikan ‘memakan’ manusia, kita akan liat kulit wajah yang mengelupas, perut yang menggelegak sebelum pecah mengeluarkan makhluk aneh yang lain. Makhluk-makhluk yang nampil dalam film ini begitu luar biasa. Walaupun ada sedikit efek komputer, menjelang akhir malah para tokoh kita akan masuk ke dunia green screen. Namun sejatinya MAKE UP DAN EFEK PROSTETIK ADALAH BINTANG dalam The Void, yang tentu saja dibuat dengan budget rendah. Kalian tahu, sebagian besar adegan menakutkan film ini adalah mimpi indah buat penggemar horor klasik.

Kehamilan selalu merupakan fenomena horor bagi cowok

 

As much as bikin kita nostalgia ke jamannya John Carpenter, The Void juga mengEKSPLORASI KETAKUTAN DARI HAL-HAL FILOSOFIS DAN KOSMIK YANG TIDAK KITA KETAHUI, yang dipengaruhi oleh gaya penceritaan H.P.Lovecraft. Rumah sakit jadi lokasi tertutup yang menjebak tokoh-tokoh film. Mereka ketakutan setengah mati, tidak tahu harus percaya kepada apa. Mereka diberi persenjataan yang sama lengkapnya dengan informasi tentang apa yang terjadi, dan itu sangatlah sedikit sekali. They are really just grasping at straws. Mereka enggak tahu di kota kecil mereka ada kelompok cult. Mereka enggak paham sama pandangan ajaran ‘sesat’ ataupun filosofi ngawur soal menentang Tuhan dengan menihilkan kematian lewat mutasi atau semacamnya, yang jadi motivasi utama pihak antagonis cerita. Dan kita, sebagai penonton, melewati pengalaman menakutkan itu bersama para tokoh. Sebab kita dan mereka, kita semua sama-sama enggak tahu apa-apa. Makanya ketika tokoh-tokoh ini belajar sesuatu hal, they discover things, atau bahkan ketika mereka cuma berdiri diam ketakutan hendak dimamam monster, kita juga merasakan hal yang sama. Kita ikut takut, bingung. Perasaan yang kita alami sangat in-sync dengan mereka. Dan setelah semua efek-efek menakjubkan itu, semua elemen cerita akan terkonek dengan cara yang juga sangat aneh.

Segitiga menjadi objek sakral yang terus kita jumpai sepanjang durasi. Geometri ini melambangkan dua lapisan tema cerita. Umumnya, segituga adalah simbol dari keharmonisan. Film ini juga membahas segitiga sebagai ‘formasi’ keluarga bahagia, sama seperti yang sekilas disebutkan oleh film animasi The Boss Baby (2017); sistem dua-orang yang distabilkan oleh orang ketiga, dalam hal ini adalah anak. Dalam The Void, ada implikasi tokoh-tokoh yang ngalamin penampakan ‘dunia lain’ adalah tokoh yang pernah ngalamin kehilangan anak. Tokoh yang segitiganya pernah rusak. Ini adalah tentang orang yang ingin membentuk kembali segitiga tersebut, but unfortunately segitiga juga berarti sebuah doorway, dan mereka menginterpretasikannya sebagai jalan masuk ke dunia horor.

 

Meskipun memang tokoh dinomorduakan, di mana segala kreatifitas dan kerja keras sepertinya memang didedikasikan untuk recreating segitiga keharmonisan horor klasik, The Void enggak sepenuhnya nyerah menjadi kosong. Sutradara merangkap penulis Jeremy Gillespie dan Steven Kostanski terlihat ingin memanfaatkan elemen filosofis untuk menutupi kekurangan di narasi dengan menjadi ambigu. Kayak, “Hey let’s just make this ambiguous so we can have fun with prosthetic and make up stuff!”. Dan kerjaan mereka tersebut memang sukses berat. Ini adalah salah satu film horor dengan efek praktikal paling gile di era 2000an. Ada beberapa jawaban yang diberikan secukupnya sehingga kita bisa menghimpun pemahaman sendiri soal apa yang sebenarnya mereka bicarakan di sini. Tapi tetep saja, keambiguitas itu menjadi salah satu kelemahan sebab hasil akhir produknya memang lebih terasa sebagai proyek have-fun bernostalgia semata.

Get ready for Chau Down!!! Eh, salah film…

 

Enggak semua film kudu menjadi studi karakter dengan tokoh-tokoh dan screenplay yang amazing dan semuanya harus sempurna. Film boleh saja bermain-main dengan teknik pembuatan model ataupun efek dan make up sadis. Asalkan jangan setengah-setengah. Film harusnya dibuat dengan komitmen ke satu arahan. Untuk The Void ini, aku ngerasa sayang aja mereka enggak menulis karakternya dengan lebih well-rounded lagi karena film ini toh memang meminta kita untuk peduli sama tokoh-tokoh. Penampilan aktingnya memang enggak dalem, namun dari babak pertama mereka sudah diset up dengan baik sehingga kita beneran peduli sama mereka menjelang akhir. Aku genuinely ngarep biar tokoh yang enggak bisa bicara itu selamat sampe ending. Tapi terutama kepada Polisi Daniel Carter dan istrinyalah kita banyak menyilangkan jari. Ada banyak momen ketika film ini kita masuk ke dalam hubungan mereka, namun pengeksplorasiannya terlalu tipis. Kita bahkan enggak jelas apakah mereka ini udah cerai atau lagi pisah doang.

Ketika sebuah film punya set up yang menarik udah menghamparkan banyak kepingan puzzle yang kalo disusun sungguh-sungguh bakalan jadi satu gambar yang keren, harusnya film tersebut ngedeliver penghabisan dengan gede. You know, throw a big punch as a finisher. Namun alih-alih begitu, The Void memilih untuk berakhir dengan menggantung kita. Membuat kita bertanya-tanya dan ingin lebih banyak. Saat di babak akhir, film ini agak menyebar begitu saja, enggak difokuskan ke satu penyelesaian. Film kehilangan semangatnya di akhir dan buatku ini mengecewakan. Padahal mereka mulai dengan so promising.

Harmoni kehidupan mungkin dilambangkan oleh bentuk segitiga, akan tetapi sejatinya kita tidak terbentuk dari kejadian yang menimpa hidup. Kepercayaan kita akan arti dari kejadian itulah yang membantuk kita.

 

 

 

Pengalaman misterius yang terasa genuine, horor ini akan membawa kita ke dalam realm of unknown. Penggemar horor seperti aku akan mendapati film ini sangat mengasyikkan. Efek praktikal dan make upnya sangat menakjubkan. Set rumah sakit dijadikan ruang tertutup yang menyeramkan. Menghadirkan cerita yang ambigu, akan tetapi menilik dari sebagian besar waktu, itu hanyalah cara dari film ini untuk menyamarkan alasan sebenarnya ia dibuat; hanya untuk bermain-main dengan efek dan nostalgia kepada horor klasik. Penyelesaiannya harusnya bisa lebih dipikirkan lagi. Karakternya harusnya bisa ditulis lebih well-rounded lagi. Mungkin memang harus beginilah akhirnya jika kita memulai sesuatu dengan bertindak duluan.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE VOID.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

20TH CENTURY WOMEN Review

“Be the role model you needed when you were younger”

 

 

Sebenarnya bukan gagasan tok yang membuat suatu cerita, suatu film, terasa spesial. Jika kita menilai film berdasarkan konsep abstrak yang jadi idenya saja, maka film kayak Resident Evil: The Final Chapter (2017) bisa jadi film yang bagus – lewat Alice film ini bicara tentang manusia harus come in terms soal kenapa dirinya diciptakan – Tetapi kan enggak, nyatanya Resident Evil adalah salah satu film terburuk 2017 sejauh ini. Tentu saja, kita butuh perspektif yang kuat dalam bercerita. Dan film adalah salah satu bentuk penceritaan. Mengutip kata-kata Roger Ebert, yang terpenting dalam bagi sebuah film adalah bukan tentang apa, melainkan bagaimana film tersebut menceritakan hal yang dijadikan gagasan. Bagaimana konteks yang membangun film tersebut tersusun. Dan 20th Century Women adalah FILM YANG BEGITU KAYA OLEH PERSPEKTIF.

Bayangkan sebuah segitiga spektrum seperti yang sering kita lihat di buku IPA yang membahas pembiasan optik; gagasan dan sudut pandang sutradara Mike Mills, tentang pengalaman ibunya yang membesarkan anak seorang diri adalah cahaya putih yang dimasukkan ke dalam film – yang bertindak sebagai segitiga – dan sebagai outputnya, satu ‘cahaya’ tersebut terpendar ke dalam perspektif-perspektif unik (but real) para tokoh film, dan cahaya-cahaya sudut pandang itulah yang membuat 20th Century Women sangat mencolok dan kaya.

 

Dorothea sudah kepala empat ketika melahirkan putra tunggalnya, Jamie. Suaminya telah tiada, Dorothea membesarkan Jamie seorang diri di bawah naungan atap rumah yang beberapa kamarnya beliau sewakan. Hidup mereka ramah, hangat, akrab. Namun 1979 datang, ini adalah kala di mana terjadi perubahan besar di Santa Barbara. Reagan ancang-ancang memulai rezim menggantikan Carter. Remaja mulai kenal rokok dan musik Punk. Jamie sudah 15 tahun sementara Dorothea pun tidak bisa untuk bertambah lebih muda. Serta merta lingkungan mulai memberikan pengaruh kepada ibu dan anak tersebut. Khawatir tidak bisa ‘menyentuh’ seluruh sisi kehidupan Jamie, Dorothie lantas meminta tolong kepada kedua penghuni kosnya; mahasiswi lulusan kesenian Abbie dan hippie tukang furnitur William, juga kepada cewek sahabat Jamie dari kecil, Julie, untuk membantunya dalam ‘membesarkan’ Jamie, membantu remaja ini melewati fase hidup yang complicated.

Anak-anak, jangan main Pass Out Challenge di rumah. Dan di sekolah. Dan di mana saja.

 

 

Dialog, dialog, dan dialog. Ada sih, intermezo kayak mobil terbakar, orang pukul-pukulan, mobil ngebut, tapi highlight film ini adalah saat para tokoh berbincang-bincang. Jamie ngobrol sama Julie. Abbie curhat ke Dorothea. Jamie berantem sama Dorothea. Ini adalah jenis film yang akan membuat kita ingin menekan tombol pause setiap beberapa menit sekali, dan nyatetin setiap percakapan yang muncul di antara mereka. Beberapa terdengar witty, seperti kalimat yang diucapkan Dorothea, yang kurang lebih kalo kita mencet tombol subtitle akan menjadi; “Mempertanyakan apakah kita bahagia sesungguhnya adalah jalan pintas yang bagus menuju depresi”. Tak jarang memang seluruh percakapan mereka terasa lucu. Ketika Jamie menjawab pertanyaan ibunya mengenai sebab dia berkelahi di taman, misalnya. The whole situation was just awkward. Film ini benar-benar menangkap kontrasnya dua generasi, dua sudut pandang. Film akan mendudukkan dua hal berbeda tersebut, dan mereka akan ngobrol tentangnya, saling mengeluarkan pendapat, sementara kita akan turut berada di sana; tidak pernah sebagai hakim, hanya sebagai saksi yang melihat struggle manusia untuk bisa saling mengerti dan mengisi, usaha untuk mengekspresikan diri, saling menjaga, meski terkadang memang cinta itu menimbulkan luka.

Komunikasi di antara para tokoh penuh oleh sudut pandang, unik, dan menginspirasi. Terutama adalah mereka tetap terasa nyata. Mengangkat begitu banyak perspektif lewat dialog sama gampangnya dengan balapan sama mobil dengan naik skateboard. Karakter-karakter dengan pandangan ‘beda’ tersebut bisa dengan mudah jatoh ke dalam kategori annoying dan sok-ngerasa-paling-bener. Tapi di sini enggak. Jamie, Dorothea, Julie, Abbie, William, semuanya kerasa real dan akrab. Aneh, iya, tapi kita ingin mengerti mereka. Cara film memperkenalkan mereka lewat voice-over narration dan tulisan di layar yang mencakup bahkan tahun lahir mereka, sangat membantu sehingga kita bisa melihat ‘darimana mereka berasal’. Membantu kita memahami konsep dan konteks para tokoh, gagasan dan perspektif mereka. Aku jadi pengen masuk ke layar dan menarik kursi, duduk ngobrol di meja makan bareng mereka. Aku ingin ikut si Julie manjat masuk ke dalam kamar Jamie, dan berbaring di sana, ngomongin soal kehidupan sambil menengadah menatap langit-langit yang berlumut. Aku ingin ikutan nari bareng Abbie kemudian membantu dia menjepret barangnya sehari-hari, all of that while we’re talking heart-to-heart.

Itu semua berkat penampilan akting yang begitu luar biasa. Mike Mills dan tim penulisnya membangun pondasi penokohan yang excellent, dan para aktor memanfaatkan dengan fantastis ruang yang diberikan buat menghidupkan peran-peran yang dewasa lagi berbeda tersebut. Lucas Jade Zumaan berada di tengah-tengah lingkungan yang confusing; sebagai Jamie dia berusaha ngertiin ibunya yang ngerasa diri sudah terlalu jauh ‘di depan’ she can’t go back entirely, dia berusaha memahami sobatnya, also a possible love interest, yang hanya mau mereka sebagai teman, dia berusaha ada di sana buat Abbie (Greta Gerwig is really great membuat kita pengen punya ‘big sis’ kayak dia) yang didaulat enggak bisa punya anak karena rahimnya ‘enggak kompeten’. Dan Lucas pulls it all off; ketika dia berkata dia ingin menjadi pria baik kita tahu bahwa dia bersungguh-sungguh mengatakannya.

Setelah penampilan fenomenalnya mencuri perhatian di Live by Night (2017), Elle Fanning kembali tampil mempesona sebagai cewek remaja yang enggak-bahagia yang menyebut dirinya sebagai ‘self-destruct’. Perannya adalah yang paling kompleks. Melihatnya ‘diusir’ enggak boleh lagi ke kamar Jamie jika hanya mau numpang tidur adalah salah satu momen yang bikin kita meringis karena ada begitu banyak emosi bentrok di sana dari kedua belah pihak. Tahun ini bisa jadi adalah tahun emas buat Elle, karena betapa piawai pendekatannya memainkan sosok yang berbeda; kita udah melihat dia di dua film, and yet we also don’t see her in those two.

elu friendzonin anak gue yeee

 

Pun begitu, ujung tombak film ini adalah Annete Bening yang glorious sekali memainkan Dorothea. Apa yang karakternya alami, integral banget dengan isi pidato presiden James Carter; Crisis of Confidence. Ibu ini mencemaskan seiring waktu dia bakal kehilangan purpose sebagai ibu Jamie. Hidupnya pun akan menjadi meaningless. Dorothea tumbuh saat perang dunia berlangsung, dia belajar militer, dan by the time dia selesai perang juga sudah usai. Menyenangkan, dan terkadang heartwrenching, melihat Dorothea berusaha tampil sebagai ibu yang asik, you know, ada adegan dia dipanggil ke sekolah Jamie lantaran kasus pemalsuan tanda tangan, dan dia malah memuji keterampilan anaknya alih-alih memarahi. Atau ketika dia enggak ngerti musik punk bagusnya di mana, dan kemudian dia diam-diam mencoba menari ngikutin irama ketika anaknya enggak ada di rumah. Ini adalah karakter bebas yang punya aturan sendiri; Dorothea ngerokok dengan alasan pada jamannya rokok adalah mode dan itu bukan berarti dia setuju ngeliat cewek remaja kayak Julie ngerokok. Bening’s portrayal terhadap tokoh ini membuat kita menyadari rumitnya peran seorang ibu.

Ada sense of kehilangan dalam film ini. I mean, ada rasa di mana ada sesuatu yang sudah terlewat dan enggak bisa kembali lagi. Ini adalah cerita tentang menyongsong waktu; Jamie yang sudah akan dewasa. Dorothea yang sudah semakin menua. Pergantian jaman. Seperti yang digambarkan oleh film ini melalui adegan mobil dengan efek visual cahaya yang berpendar warna-warni; Hidup bergerak dengan cepat. Kadang yang kita punya hanya kenangan, dan kita harus memegangnya erat-erat. Karena suatu hari kita akan jadi role model, dan yang kita perlukan untuk itu adalah menjadi sosok yang kita butuhkan saat kita masih muda. Sebagaimana Jamie, dan to an extent, Mike Mills sendiri, memeluk kenangannya dan membagi cerita dengan kita.

 

 

20th Century Women adalah KENANGAN Jamie. Dan ini dipertegas oleh treatmen kamera dan narasi yang menggunakan teknik voice-over yang sebagian besar disuarakan oleh Jamie, di mana ia terdengar seperti mengenang semuanya. Kita melihat semua kejadian masalalu dari perspektif masakini Jamie. Kita juga dikasih tahu gimana nasib para tokoh di akhir cerita, yang mana menandakan film ini sebenarnya masih punya plot. Pun masih ada struktur narrative yang dipatuhi. Namun memang film ini tampil seperti terbagi menjadi beberapa sketsa kejadian. Kita enggak tahu persis apa yang bakal terjadi, semua kelihatan seolah terjadi random, just like real life. Just like a real memory. Kejadian-kejadiannya lebih seperti dibangun berdasarkan anekdot-anekdot lepas soal hubungan antara cewek dengan cowok, soal anak dan ibu, feminism dan maskulin, dan semacamnya, alih-alih terbuild-up menjadi sesuatu adegan gede. Tapinya lagi, hal tersebut enggak serta merta menjadi cela buat film ini. Ceritanya yang episodic menegaskan kepentingan bahwa hidup tidak terencana. Dan semuanya itu terintegral manis dengan, katakanlah ‘gimmick’, bahwa film ini adalah cerita tentang Jamie yang mengenang semua kejadian.

 

 

 

Ditulis dengan matang, film ini akan ngingetin kita betapa singkatnya waktu yang kita punya di dunia. Lebih kepada soal memilih suri teladan dalam hidup, film ini menegur kita untuk menghabiskan hidup dengan orang-orang yang kita cintai dan peduli kepada kita saja. Karena kalo ada yang tetep di dunia, maka itu adalah cinta. Penampilan akting pada film ini semuanya hebat, menghasilkan sebuah sajian penuh kata-kata yang tidak akan terasa sumpek oleh ceramah. Menonton film ini kita seakan dipelototi oleh beragam sudut pandang yang sangat menarik, eksentrik kalo boleh dibilang. Akan ada banyak quotes tentang pilihan hidup buat kita kutip, due to being philosophical, atau karena kocak. Hidup itu aneh. Kadang kita mengurus, dan tak tahu kapan ketika giliran kita yang diurus. Orang-orangnya ribet. Kita tidak akan tahu apa yang bakal terjadi. Film cantik ini memotret kenyataan tersebut lewat kehidupan sekelompok orang yang tinggal bersama, mesti bertengkar namun begitu eratnya sehingga menjadi kenangan yang indah.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for 20TH CENTURY WOMEN.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We? We be the judge.

GOLD Review

“A dream that is not chased is a fantasy.”

 

 

Ada garis batas yang membedakan antara mimpi dengan khayalan. Garis itulah yang kita kenal sebagai usaha. Dan faktor yang membuat perbedaan tersebut tentu saja adalah kita, entitas yang berangan-angan. Khayalan adalah keinginan yang enggak disertai dengan usaha, dan hanya bisa disebut mimpi apabila kita berjuang untuk mewujudkannya.

 

Kenny Wells di ambang kebangkrutan. Ia mendapat bunga tidur tentang menemukan tambang emas terbesar. Jadi segalanya pun dipertaruhkan. Jual jam tangan emas istrinya, Wells terbang ke Indonesia. Mencari seorang ahli geologi ‘legendaris’ yang terakhir kali terdengar sedang berada di sana. Bersama-sama, mereka menembus belantara Kalimantan demi mencari emas yang mereka yakini ada di sana. Akan tetapi, segala jerih payah yang dilakukan Kenny belum cukup untuk membuat impiannya menjadi nyata. In fact, film Gold sepertinya tidak punya jawaban pasti antara khayalan dan mimpi bagi Kenny Wells.

Gold adalah film yang dibuat loosely berdasarkan skandal pertambangan beneran yang pernah terjadi di Indonesia. Awal tahun 90an itu, perusahaan tambang Bre-X Minerals dari Kanada ngeklaim mereka menemukan tambang emas gede di hutan Busang, Kalimantan Timur. Langsung deh stock meroket, Amerika heboh. Namun selidik punya si sidik, eh salah! selidik punya selidik, semua ‘tambang emas terbesar’ itu adalah pemalsuan. Dan blow up setelah penemuan kebenaran ini malah jauh lebih gede lagi. Pihak yang bertanggung jawab kabur, pemerintah Indonesia (kala itu di bawah pimpinan Presiden Suharto) terlibat dalam penutupan ijin tambang dan segala macem, sementara pemilik perusahaannya sendiri mengaku ia tidak tahu menahu, bahwa ia juga telah ditipu oleh rekannya. Film Gold sendiri hanya mengambil latar peristiwa dan mengaburkan tokoh-tokoh asli dengan menggunakan nama-nama plesetan. Kayak David Walsh yang namanya jadi tokoh Kenny Wells, ataupun si geologis Michael de Guzman yang dalam Gold menjadi Michael Acosta. FILM INI LAYAKNYA PARODI yang membuat kita mengangkat sebelah alis mata menanyakan; apakah buaian deretan angka segitu menghanyutkannya sehingga orang-orang bisa ngeoverlook kenyataan bahwa tidak ada emas di sana?

semua orang tersilaukan oleh pantulan cahaya jidat Wells

 

Jika sebelumnya dalam animasi Sing (2016) Matthew McConaughey berjuang mencari uang dan mati-matian melanjutkan usaha gedung teater warisan ayahnya, kali ini dalam Gold, dia kembali melakukan hal yang sama hanya saja sebagai anak pemilik perusahaan tambang. Apa yang dibawa oleh McConaughey dalam penampilannya, however, adalah hal yang pantas untuk diapresiasi. Dia actually nambah berat badan demi menjelma menjadi sosok fiktif Kenny Wells yang berperut buncit. Dan rambutnya; daaanggg, menyedihkan untuk dilihat dan menyeramkan untuk dialami hhihi. Namun karakternya, tho, Kenny Wells tidak pernah terlihat berupaya menyembunyikan garis rambutnya yang menipis. Ataupun dia tidak kelihatan benar-benar melakukan upaya apapun pada pekerjaannya. Aku enggak yakin apakah ini disengaja oleh pembuat film; Kenny is supposed to come off sebagai orang yang enggak tahu apa yang ia lakukan. Tetapi ada beberapa kali ketika menonton ini aku merasa tokoh yang jadi perspektif utama cerita tidaklah semenarik apa yang diniatkan oleh filmmaker.

Jerih payah di lapangan tidak pernah benar-benar diperlihatkan dialami oleh Kenny. Hanya satu adegan memperlihatkan dia kecapean, megap-megap jalan nembus hutan. On the site, perannya sangat terbatas, ditambah sebagian besar waktu dia terbaring tak berdaya kena malaria. Penting bagi sebuah film untuk mempertontonkan tokoh utama sebagai seorang yang cakap, or at least mengerti akan pekerjaannya, but yang Kenny Wells lakukan dalam membuat mimpinya jadi nyata hanyalah duduk-duduk, pasang tampang cemas nunggu laporan dari lab ataupun dari berita keuangan dan bicara meledak-ledak lewat telefon. Perjalanannya serasa dipersingkat, dipermudah. Secara struktur, Gold sendiri terasa kayak roller coaster yang naik turunnya berjarak deket banget sehingga by the time babak kesatu berakhir saja kita sudah kelelahan ngeliat Wells jatoh dan naik segitu seringnya. Nyaris tidak ada surprise emosi yang kita rasakan, kita bisa melihat semuanya datang.

Mungkin karena aku seharusnya bekerja di sekitar dunia pertambangan, aku dulu kuliah di teknik geologi, jadi naturally aku merasa relatable. Juga ada sedikit rindu ngeliat apa yang mereka lakukan dengan sampel core dan kegiatan-kegiatan geologi lainnya. Meski begitu I can’t exactly put myself into the characters. Aku kepikiran Mike Acosta, geologis lapangan yang diperankan oleh Edgar Ramirez, lah yang sekiranya bisa jadi tokoh utama yang lebih menarik. Sebagian besar aksi ada di tangannya. Jika dibandingkan dengan Wells yang sering keliatan clueless, Acosta seemingly is a perfect hero figure. Ditambah dengan twist yang disiapkan oleh film, well it’s not exactly a twist since we’ve already now the outcome of the actual event, karakter Acosta menyimpan layer yang lebih banyak. Filmnya sendiri melakukan kerja yang bagus ngebangun tokoh Acosta untuk kemudian disembunyikan ke background cerita. Kita difokuskan kepada drama hidup Wells. Sekitar midpoint, film benar-benar didedikasikan supaya kita bisa merasakan kasian kepada Wells. Porsi romansa dengan Kay yang diperankan oleh heartwarming oleh Bryce Dallas Howard dimaksudkan supaya kita bisa melihat stake yang dihadapi Wells dengan alasan yang sangat manusiawi; Kay bertindak sebagai nurani film, yang tentu saja – by the law of script writingat some point ditelantarkan oleh tokoh utama.

Susah untuk merasakan peduli kepada karakter yang niat mulianya adalah ngumpulin duit sebanyak-banyaknya bahkan jika tokoh tersebut digambarkan mendapatkan banyak tekanan dari pemangsa-pemangsa lain di dunianya. There’s a scene di mana Kenny beneran berhadapan dengan harimau, yang dengan sukses ia’ jinakkan’. Kenny Wells pada akhirnya tetap terlihat sebagai pemangsa kecil di dalam dunia korup yang penuh muslihat.

abis dibelai Kenny Wells nih jangan-jangan

 

“You sell your dream”, Wells berkata lirih soal pihak ketiga yang memintanya menjual tambang di Kalimantan, “What do you have left?” Di sinilah di mana film ini bicara personal kepadaku. Karena, ironisnya, kalimat pertanyaan serupa juga terlintas di pikiranku ketika memutuskan untuk berhenti sebagai geologis dan fokus ke passionku untuk menulis. Oke curhat, tapi poinku adalah film ini BERUSAHA NGEJUAL TOKOH – DAN CERITANYA – SEBAGAI SEBUAH AMBIGU di mana mimpi dan kenyataan, moral dan bisnis, apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang ingin dan rela kita lakukan, adalah hal yang harus dijawab secara pribadi. Namun penceritaannya malah membuat film terasa sebagai sebuah presentasi yang enggak yakin dia berdiri di ground yang mana. Ambiguitasnya tidak terasa menginspirasi. Kita diminta untuk ‘mendukung’ Wells, namun bahkan McConaughey terlihat unsure saat mengekspresikan karakternya. Ada adegan ketika Wells dan istrinya practically drooling over daratan hijau luas yang ingin mereka bangun rumah, dan I just can’t get behind that. I mean, aku gak bisa bayangin ada penonton yang tersentuh syahdu bilang “awww romantisnya mereka mau gundulin padang rumput indah buat dijadiin rumah megah”

kita bikin sumur di ladang biar banyak yang numpang mandi, horeee!!!

 

Sorotan kepada Indonesia banyak kita temukan dalam film ini. Penggunaan bahasa, tentara, sekilas tentang Dayak, pemerintah. Di sini juga ada aktor yang jadi anak Suharto, tapi namanya jadi Danny hahaha. Tapi sekali lagi perasaan gak yakin itu muncul; kelihatannya mereka enggak benar-benar syuting di pedalaman Kalimantan. Lokasinya terlihat agak off, iya sih di hutan itu ada vegetasi lokal kayak pohon pisang dan sebagainya, tapi rasanya enggak kayak di Indonesia.

 

Ini adalah film dengan banyak istilah-istilah, yang dijelaskan cukup menarik. Matthew McConaughey adalah salah satu dari tak-banyak aktor yang mampu nanganin adegan expository sehingga seolah kita mendengarkan dia langsung mata-ke-mata di mana kita enggak berani nguap di depan mukanya. Penampilan para aktor all around dapet dua jempol. Di babak awal kita akan dibawa masuk ke dalam hutan yang terasa basah, berlumpur, dan mengurung, sayangnya film sering ngeshift tone dengan naik-turun pada narasi. Film begitu concern untuk tampil engaging sehingga malah mencuat uninspiring. Dari segi penceritaan, film ini memang terasa agak berhemat dengan menggunakan style yang mirip-mirip The Wolf of Wall Street (2013). Yang tidak terperhitungkan oleh film ini adalah, jika Martin Scorcese saja tidak bisa benar-benar sukses bikin cerita dan tokoh bisnisman semacam ini menjadi compelling, kesempatan apa yang dipunya film ini dengan menitikberatkan bercerita lewat dialog alih-alih lewat visual?
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for GOLD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.