PUSS IN BOOTS: THE LAST WISH Review

 

“Because you already have what you wish for”

 

 

Animasi dengan karakter kucing oren pake sepatu boot, tentunya gak ada urusan untuk bicara dalem perihal kematian, kan?  Inilah pasti kartun untuk tontonan anak kecil, kan? Well, film animasi – seperti halnya komik – memang masih sering dipandang sebelah mata. Ya, animasi memang sebagian besar dibuat supaya lebih appeal buat penonton muda. Tapi itu bukan berarti film animasi tidak bisa bercerita dengan bobot yang lebih kompleks. Justru sebaliknya, film animasi bisa banget diolah jadi medium yang efektif untuk memperkenalkan isu yang lebih matang kepada penonton. Film animasi bukan lantas berarti film anak-anak, but when they do, animasi mampu mengangkat kepada isu-isu real yang dianggap ‘angker’ oleh orang tua kepada anak-anak. Sutradara Guillermo del Toro literally bilang bahwa animasi adalah medium, bukan genre khusus (untuk anak-anak) dalam pidato kemenangan film Pinokionya di Golden Globes baru-baru ini. Memang, despite pandangan umum bahwa animasi hanyalah film anak, toh telah banyak animasi hebat yang bercerita dengan matang. Mengangkat isu yang real. Sementara tetap menghibur dalam melakukannya. Puss in Boots terbaru karya Joel Crawford adalah contoh berikutnya, perjuangan terbaru dari animasi untuk membuktikan kekuatan medium ini dalam ranah bercerita.

Aku gak ngikutin franchise Shrek. Ini, in fact, adalah film Puss in Boots pertama yang aku tonton. Dan sukur Alhamdulillah film ini ceritanya berdiri sendiri. ‘Modal’ nonton ini cukup dengan tahu bahwa universe-ceritanya adalah dunia dongeng alias cerita rakyat populer. Jadi, yea, ‘magic’ adalah hal yang bisa kita harapkan di film ini. Si Puss in Boots sendiri kan, sebenarnya dari dongeng klasik Italia. Oleh universe ini, dia adalah kucing jagoan ala Zorro. Dengan sikap sedikit narsis; pede, cerdas, suka pesta, dan tak kenal takut. “Aku tertawa di hadapan Kematian” adalah jargonnya sebelum beraksi menantang bahaya. Saking jumawanya, Puss memang sedikit careless. Selama bertualang ngalahin orang jahat itu, kucing oren ini actually sudah ‘menghabiskan’ delapan nyawanya. Tau dong, kalo konon kucing punya sembilan nyawa? Nah, di sini ceritanya si Puss sudah dalam nyawanya yang terakhir. Kenyataan ini telak menerpa dirinya. Puss kini tidak merasa segagah itu. Dia bener-bener takut saat sesosok serigala datang dan nyaris mengalahkannya. Satu-satunya harapan untuk mengembalikan kegagahannya adalah saat ia menemukan peta ke Falling Star yang mampu mengabulkan semua permintaan. Puss ingin meminta nyawanya dibanyakin lagi. Petualangan Puss in Boots bersama rekan baru dalam mencari permintaan itu pun dimulai. Petualangan yang penuh bahaya dan stake yang tinggi. Karena bukan dirinya saja yang mengincar permintaan tersebut. Plus, si serigala yang ternyata adalah Death himself, terus memburu kemanapun dia pergi.

Seketika aku jadi teringat perjuangan mencari Dragon Ball

 

Selain karena soal rebutan mencari pengabul permintaan, pengaruh anime – animasi Jepang – lain kuat terasa di sini. Salah satunya adalah sekuen berantem dengan raksasa di awal cerita. Aku benar-benar gak nyangka kalo film dari barat ini, punya sekuen aksi yang vibenya mirip banget ama aksi di Attack on Titan! Serius. The way si Puss meloncat-loncat lincah mendekat menuju sasaran yaitu titik lemah raksasa yang menjulang. Perspektif kamera dalam menangkap dimensi kedua karakter ini.  Bahkan settingnya di atap-atap rumah. Persis banget kayak Eren yang mau mengalahkan Titan. Sungguh kejutan menyenangkan buatku. Aku jadi semakin tertarik melihat apa lagi yang bisa dilakukan film ini terkait gaya animasi yang mereka pilih. Visualnya sendiri tampak fluid dan seru karena menggunakan gaya yang sama dengan animasi pada Spider-Verse dan Mitchell vs. The Machines. Gabungan animasi 3D dengan efek dan garis-garis 2D sehingga tampak kayak komik yang bergerak. Kayak video game yang begitu stylish. Animasi tersebut juga terasa selaras dengan quirk yang dikandung oleh karakter dan dunianya sendiri. Ditambah dengan sekuen-sekuen action tadi, Puss in Boots jadi terasa luar biasa enerjik dan ciamik.

Perkara tone cerita dan karakter, film ini memang secara overall dibuat untuk menyasar penonton yang lebih muda. Appeal dari estetik dongeng dan kekonyolan yang bisa dibawanya tetap jadi jualan nomor satu. Tapi film ini juga tidak segan-segan untuk menyelam lebih matang soal bahasan, maupun candaannya. Dinamika antara kekonyolan, fantasi, dan real talk yang dikandung inilah yang bikin Puss in Boots: The Last Wish jadi hiburan paket komplit. Membuatnya jadi hiburan bagi penonton dewasa, maupun penonton yang lebih muda. Film ini gak ragu untuk membahas soal takut akan kematian, soal panik menyadari diri yang semakin menua (something yang clearly gak kepikiran sama anak kecil) karena film ini tahu dia punya medium yang brilian dan cocok banget untuk menceritakan soal itu. Makanya bagi orang yang lebih dewasa, cerita film ini bisa jatohnya mengerikan, sementara anak-anak mungkin hanya melihatnya sebagai kisah Puss bertemu musuh kuat yang berbahaya. And that’s okay. Kenapa? karena film ini bakal jadi experience yang terus berubah buat anak-anak tersebut seiring mereka dewasa. Anak kecil yang sekarang nonton ini, jika menonton kembali saat sudah dewasa maka akan menyadari hal yang sebelumnya gak mereka notice. Like, bukankah rasanya wonderful jika film mampu terasa berbeda, bisa tetap terasa baru, walaupun kita menontonnya berulang kali. Nah, film ini punya kesempatan untuk menjadi wonderful seperti itu dengan tampil dinamis, mengandung bobot dan hiburan dengan sama mutunya.

Dalam petualangannya mencari bintang pengabul permintaan, si Puss bertemu banyak karakter. Kawan lama, kawan baru, maupun musuh baru. Karakter-karakter seperti Kitty Softpaws, si Serigala Kematian, dan si cihuahua imut yang nyamar jadi kucing, Perrito, akan ngajarin Puss (dan to some extent, kita) tentang kehidupan dan kematian. Tentang bagaimana hidup justru berharga jika ada batas waktunya. Karena mau gimana pun juga, kematian akan datang. Melihat Puss yang ingin meminta ‘perpanjangan’ nyawa membuat aku sendiri teringat sama kejadian pas aku lagi Tugas Akhir dulu. Tanggal presentasi sudah mepet, tapi tugasku belum selesai. Maka aku minta perpanjangan waktu sama mentor. Tau gak beliau bilang apa? Mau sepanjang apapun saya kasih waktu, tapi kalo kamu belum ready, kamu gak akan pernah ready. Waktu itu tidak akan pernah cukup buatmu. Ya, mau berapa banyak waktu yang kita punya, enggak akan jadi soal. Karena semua adalah soal apa yang kita lakukan terhadap waktu tersebut. Dibawa ke cerita film ini; siap menyambut kematian sebenarnya adalah soal sudah atau belumnya si Puss menghargai hidup. Kitty Softpaws, teman alias, ehm, mantan Puss ada di sana untuk mengingatkan apa yang harusnya bisa dimiliki oleh Puss sejak lama jika dia benar-benar menghargai hidup (dengan menghargai bahwa hidup bisa berakhir). Perrito, surprisingly, bakal jadi karakter favorit banyak orang, bakal banyak sekali mengajari Puss soal ya, live the life. Karakter Perrito yang polos, rada bloon namun blak-blakan banget sama perasaannya, ternyata jadi karakter yang bijak banget dibanding yang lain. Karena Perrito satu-satunya yang melihat dunia sebagai sesuatu yang harus dinikmati. Sementara Puss, Kitty, dan karakter lain yang bersaing nyari Bintang, saling tidak percaya satu sama lain.

Cat Attack on Tree Titan!

 

Perihal kematian tersebut lantas semakin didaratkan lagi oleh film ini menjadi bahasan permintaan. Banyak lagi karakter yang jadi saingan Puss in Boots untuk mencari pengabul permintaan. Ada Goldilock dan keluarga beruangnya. Ada juga Jack Horner, si kolektor barang-barang dongeng ajaib. Bahkan Kitty juga sempat jadi saingan. Bahasan soal permintaan ini akan lebih gampang untuk relate ke anak-anak. Dan film juga gak ragu untuk ngasih pelajaran berharga. Tidak ada satupun dari karakter tersebut yang mendapatkan apa yang ingin mereka minta. Semuanya gagal. Tapi kegagalan tersebut tidak diperlihatkan film sebagai sesuatu yang depressing, melainkan dalam semangat yang positif, Yang lebih menggelora. Karena di sini film ngajarin soal sesuatu yang sebenarnya basic dalam nulis cerita. Yaitu yang kita inginkan sebenarnya tidak benar-benar kita perlukan. Dan bahwa yang kita perlukan itu sebenarnya sudah ada di sekitar kita, kita hanya perlu menyadarinya saja. Karakter dalam film ini seperti terkena pamali Birthday Wish Rule, yaitu ngasih tau permintaannya apa ke orang lain, sehingga permintaan tersebut tidak akan terkabul. Padahal sebenarnya ‘pamali’ tersebut justru adalah jawaban dari pencarian mereka. Bahwa dengan share their wish, mereka akhirnya bonding dengan orang-orang yang actually jadi ‘jawaban’ atas permintaan mereka. Karena orang-orang terdekat yang dikasih tau their secret wish itulah yang tadinya kurang dihargai – teroverlook – oleh mereka yang terbuai oleh keajaiban.

Mengharapkan sesuatu ‘keajaiban’ tentu saja gak salah. Hanya saja, one way or another, sebenarnya yang kita inginkan bisa jadi sudah ada di sekitar kita. Bisa jadi permintaan itu sebenarnya sudah terwujud, bahkan sebelum diminta. Kita hanya belum sadar aja. Kita terlalu menggebu sampai tidak menyadari apa yang dipunya. Tidak menghargai apa yang dimiliki. Seperti Goldilock yang gak sadar ada keluarga yang selama ini bersamanya. Seperti Puss yang baru ngeh hidupnya setelah semuanya akan berakhir.

 




So yea, jangan lagi animasi ini jadi medium storytelling yang teroverlook oleh kita. Yang kurang kita hargai, hanya karena tampilan yang cerah, jokes yang konyol, dan seringkali dibuat untuk appeal ke anak kecil. Karena lagi dan lagi, terus bermunculan animasi yang berbobot seperti film ini. Yang di balik hiburannya, menghadirkan bahasan yang berbobot. Mengangkat topik yang ‘angker’ tapi berhasil disamarkan lewat warna yang segar, tanpa mengurangi kepentingannya. Film ini penuh aksi, sekuen berantemnya keren-keren dan kreatif, serta penuh berisi oleh fantasi yang mereferensikan dunia dongeng/cerita rakyat klasik, sambil juga menghantarkan pelajaran berharga tentang hidup kita yang dibatasi oleh waktu. Pelajaran yang tentu saja konek untuk segala lapisan usia. Cerita petualangannya sendiri mungkin memang tidak benar-benar ngasih hal baru (selain dunianya sendiri), tapi karena penceritaannya yang menawan dengan dinamika yang unik, aku terhibur, sekaligus tersentil juga oleh film ini. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PUSS IN BOOTS: THE LAST WISH

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian merasa pernah punya satu hal yang dipengenin banget, tapi kemudian sadar ternyata kalian sudah punya itu? Apa yang membuat kalian akhirnya sadar?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2022

 

It has been a blessed year for cinema. Gimana tidak. Bayangkan, tahun ini kita dapat dua film dari Guillermo del Toro. Dua film dari Steven Spielberg. Tiga film yang loosely berdasarkan kehidupan masa kecil/remaja sutradaranya masing-masing. Dua film Pinokio. Film studio gede maupun film yang lebih ‘sederhana’ saling susul menyusul bikin cerita dalam konsep dunia multiverse. Avatar, making a comeback dengan sekuel. Kita dapat akhir dari seteru ikonik antara Laurie Strode dengan Michael Myers. Yang lantas diikuti oleh banyak lagi horor-horor yang berusaha ngasih sesuatu yang revolutionary. Slasher, Whodunit, dan bahkan monster creature yang juga berisi kritik/satir isu sosial. Film dialog dengan jin juga ada. Also, Voldemort jadi chef sinting sekarang. Gila, horor memang lagi lucu-lucunya sekarang. Di Indonesia juga gitu. Horor marak lagi. Mumun jump into a big screen! Ada juga horor yang bikin satu apartemen jadi kayak satu wahana rumah hantu besar. Salah satu horor nembus nyaris sepuluh juta penonton, walaupun yah secara kualitas filmnya masih jauh di bawah. Tapi di sini, di daftar film-film top saat ini, kita hanya akan bahas yang baik-baik aja. So yea., Mulai bermunculan horor-horor yang lebih nyeni, yang lebih berisi daripada sekadar parade jumpscare. Ada superhero horor sekarang. Ada horor religi juga. Jumlah penonton semakin bergerak naik setelah sekian lama berkurung sebab pandemi. Selain horor, kita dapat lebih banyak lagi film-film yang mengangkat isu perempuan, dua film Gina S. Noer, film superhero lokal, dan film-film komedi yang mulai berani untuk menunjukkan kematangan tema secara serius.

Pokoknya, jadi penggemar film di tahun ini rasanya puas banget. Puas bisa kembali ke bioskop. Puas sama pilihan dan variasi tontonan yang semakin banyak. Puas, karena actually ada lebih banyak film bagus sekarang ketimbang film jeleknya. At least buatku. Waktu ngerecap nilai-nilai film yang udah direview sepanjang tahun – My Dirt Sheet sukses mereview 122 film di tahun 2022 (peningkatan dari tahun sebelumnya) – aku notice kalo tahun ini film yang dapat skor B ke atas (6 ke atas) jumlahnya banyak. Jumlah yang dapat S (8 ke atas) kayaknya paling banyak di tahun ini, selama aku ngereview di blog ini. 

Aku cuma bisa senyam-senyum. Film-film itu ngingetin aku kenapa kita semua cinta pada film pada awalnya. Ngingetin bahwa film bisa begitu menginspirasi. Nah supaya senyumku enggak kelamaan (khawatir giginya kering!) maka kita mulai saja daftar Top-8 Movies 2022!!

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Before, Now & Then (Nana) (or as I called it ‘Selamanya Nana Terkurung’; film yang kayak perempuan Indonesia; cantik, tapi somehow tragis)
  • Black Phone (film horor tentang anak-anak yang benar-benar mencekam dan gak sekadar membuat mereka jadi objek.)
  • Bullet Train (di balik fast-paced action dan karakter-karakter unik nan kocak, film ini masih sempat nyiapin filosofi soal luck)
  • DC League of Super Pets (kelihatannya kayak kartun anak-anak yang simpel, tapi actually punya bobot yang gede. Film terbaik The Rock!!)
  • Nope (Jordan Peele strikes again, kali ini dalam horor creature yang ciamik!)
  • She Said (benar-benar ngasih lihat bahwa untuk empati kita hanya butuh ‘dengar dan rasakan’)
  • Tar (faux-biography komposer perempuan yang intens, Cate Blanchett show!!)
  • The Banshees of Inisherin (komedi tragis tentang gimana manusia menghadapi penolakan)
  • The Batman (temukan sendiri gimana rasanya benih harapan itu tumbuh pada kisah Batman dalam fase ’emo’ sebagai pahlawan)
  • Top Gun: Maverick (bukan hanya soal aksi-aksi pesawat tempur – yang beneran dilakuin Tom Cruise sendiri – film ini juga punya naskah yang supersolid)
  • West Side Story (kali pertama Spielberg garap musikal, rasanya sudah langsung ‘on another level’!!)
  • X – Pearl (dua dari trilogi horor Ti West yang benar-benar membekas berkat range luar biasa si Mia Goth)

Serta, Special Mention buat Ngeri-Ngeri Sedap, yang video ulasannya paling banyak ditonton di channel YouTube My Dirt Sheet. Dan kepada KKN di Desa Penari sebagai film dengan ulasan paling banyak dibaca di blog My Dirt Sheet tahun 2022. Man, film itu mecahin rekor di mana-mana

 

Oke, sekarang inilah DELAPAN BESAR 2022!! 

–PS: seperti biasa, klik di judulnya untuk dibawa ke halaman full-review masing-masing

 

 

 

8. GUILLERMO DEL TORO’S PINOCCHIO

Director: Guillermo del Toro
Stars: David Bradley, Gregory Mann, Ewan McGregor
MPAA: Rated PG 
IMDB Ratings: 7.7/10
“You did bring me joy. Terrible, terrible joy.”

 

Guillermo del Toro merebut kembali dongeng si boneka kayu yang mau dibawa Disney entah ke mana. Tadinya aku udah hopeless. Versi live-action Disney yang rilis beberapa bulan sebelumnya, mengubah Pinokio jadi propaganda ‘woke’ semata. Kehilangan magis karakter dan dongengnya. Guillermo del Toro mengembalikan itu semua lewat Pinocchio versi animasi stop-motion yang bener-bener sebuah penceritaan dongeng yang fantastis dan magical.

Ceritanya kurang lebih sama, tapi dibuat ke dalam warna yang sedikit lebih dark. Kualitas desain produksi yang bisa kita harapkan dari om del Toro, hadir semua di sini. Desain karakter yang unik, panggung era perang, tema yang bicara soal kematian di balik hubungan anak dengan orangtua. Dia membuat Pinokio benar-benar jadi miliknya sendiri.

Karena film ini, aku jadi kembali percaya, sinema modern kita masih punya kekuatan ajaib dalam bercerita. Seni mendongeng itu masih ada, and it might be stronger than ever!!

My Favorite Scene:
Aku masih terkagum-kagum gimana Guillermo del Toro kepikiran mengganti Negeri Nikmat dengan Kamp Pelatihan Perang untuk Anak-Anak. Arena bermain digantinya dengan panjat-panjatan dan obstacle courses buat latihan. Message yang diparalelkan loud-and-clear. Anak-anak yang terlalu patuh dan kaku tidak lebih baik daripada anak berandal yang bandel. Tentara sama aja kayak keledai, just follow rules! Adek-adek, cinta terkadang butuh kita untuk melanggar aturan!! 

 

 

 

 

 

 

7. SCREAM

Director: Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Stars: Neve Campbell, Jena Ortega, Melissa Barrera
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 6.3/10
“Because nobody takes the true fans seriously, not really. They just laugh at us, and why? Because we love something? We’re just a fucking joke to them! How can fandom be toxic? It’s about love! You don’t fucking understand, these movies are important to people.”

 

Wes Craven tidak membuat Scream sebagai slasher whodunit semata. Sejak film originalnya, Scream selalu juga bertindak sebagai komentar meta tentang genre horor itu sendiri; apa yang terjadi pada skena per-horor-an pada masa film itu dibuat. Itulah yang terutama membuat Scream konek dengan fans. Itulah yang membuatnya sebagai slasher yang cerdas.

Sebagai honor terhadap Wes Craven tersebutlah, Scream dilanjutkan kembali. Dan ya, film ini bukan soal membahas legacy Sidney semata. Film ini menyentil soal yang terpisahkan dari dunia film; penonton, penggemar. Fandom, yang di masa sekarang bisa menjadi begitu toxic, sampai-sampai membuat studio harus meluncurkan sekuel-sekuel reboot yang nothing but a cash cow. Sebagai penggemar-sejati, bahasan tersebut, yang merayap di balik kelanjutan teror Ghostface, menjadi menarik untuk dinikmati. Film ini actually ngelahirin istilah baru – rekuel – dan menikam apa-apa yang salah dari rekuel-rekuel tersebut.

Scream sendirinya adalah rekuel, namun mereka berani untuk ningkatin stake dan membuat dirinya terasa beneran urgen dengan karakter baru dan permasalahan (lama tapi) baru.

My Favorite Scene:
Film-film Scream juga biasanya suka ‘becandain’ adegan-adegan film original. Di film ini, salah satunya adalah bikin adegan yang mirip ama kejadian di basement rumah Tatum di film pertama. Dan ini adalah adegan yang bikin aku jatuh cinta sama Amber – my new favorite Scream character! Di dialog basement tersebut udah keliatan dia ini ada gila-gilanya sedikit hihihi

 

 

 

 

 

6. THE MENU

Director: Mark Mylod
Stars: Anya Taylor-Joy, Ralph Fiennes, Nicholas Hault
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 7.5/10
“Because. I need to know if you’re with us or with them.”

 

Makanan sering disimbolkan sebagai hal yang lain pada film. Termasuk pada The Menu, yang bicara soal menjadi snob dan gatekeeping art lewat cerita chef yang jadi ‘sinting’ dan mau bunuh diri beserta anak buah dan para tamunya dalam sebuah jamuan makan malam mewah terakhir.

This movie really hits me. Penampilan luar biasa Ralph Fiennes benar-benar membuatku memikirkan soal bagaimana cara yang benar untuk mengapresiasi seni, mengapresiasi film. Karena yang kita lihat di sini adalah chef yang great at what he does, yang percaya sama seni kuliner sampai ke akar filosofisnya, yang membuat rangkaian menu dengan tujuan dan konsep matang sebagaimana filmmaker menyiapkan filmnya, tapi di saat yang sama dia juga adalah orang yang telah kehilangan passion terhadap hal yang ia lakukan tersebut. 

Nonton film ini ya awalnya tertarik, lalu ngeri, terus jadi kepikiran sendiri. Sungguh sebuah konsep luar biasa menarik dipunya oleh film ini. Dijual sebagai dark komedi thriller, padahal sebenarnya merupakan food for our thought. Pada lihat dong, gimana kondisi kuliner di sana seperti menyimbolkan sinema juga? Amit-amit kita jadi sinefil yang snob kayak foodies di film itu yaa

My Favorite Scene:

Ketika heroine kita berusaha mengembalikan sedikit passion itu kepada si chef, dengan memintanya membuatkan cheeseburger – as opposed to fancy meals. Maaan, adegan bikin burgernya bener-bener menggiurkan!!

 

 

 

 

 

 

5. TRIANGLE OF SADNESS

Director: Robert Oslund
Stars: Harris Dickinson, Charlbi Dean, Dolly de Leon, Woody Harrelson
MPAA: Rated R
IMDB Ratings: 7.6/10
“I sell shit.”

 

Berawal dari model disuruh pasang tampang semakin jutek, seiring semakin mahal busana yang dikenakan, ke persoalan split bill cewek-cowok, ke persoalan orang kaya karena jualan tai, ke terdampar di pulau, Triangle of Sadness adalah satir yang menyenggol gender-role dan kelas sosial.

Setiap dialog, setiap adegan, akan membuat kita menempelkan mata dan telinga, karena semuanya dibuat dengan begitu menarik. Kita tahu film ini ingin menyampaikan sesuatu di balik kejadian yang sekilas tampak shooting fish in the barrel. Kayak cuma pengen mengolok orang kaya, tapi sebenarnya naskah mengembangkan mereka dengan berimbang. Film ini salah satu contoh lagi dari naskah yang dibuat dengan penuh pemikiran dan maksud. Enggak sekadar lucu-lucuan. Strukturnya sendiri kalo kita cermati seksama chapter-chapternya, ya kayak segitiga juga. Karena film ini sesungguhnya memuncak di tengah, dan di akhirnya adalah situasi yang sama kayak di awal, hanya dengan pembalikan role buat karakter-karakternya.

Keren banget gimana film ini bisa membuat dunia yang mungkin gak familiar itu – gaya hidup model dan orang kaya – dijadikan candaan, tapi kemudian lantas jadi relevan.

My Favorite Scene:
Badai di kapal! Serius, film ini gila banget masukin adegan seover itu tapi bisa gak tampak receh hahaha

Beberapa detik sebelum ‘badai’ menerpa

 

 

 

 

 

 

4. NOT OKAY

Director: Quinn Shephard
Stars: Zoey Deutch, Mia Isaac, Dylan O’Brien
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 6/10
“So maybe one day, I’ll forgive you. But we will never be OK.”

 

Man, di pembuka aku ngomongin horor lagi make a new hits, tapi yang akhirnya masuk daftarku malah komedi satir banyaknya hahaha.. I guess aku bener-bener naruh perhatian lebih buat naskah yang menarik dan cerdas. Not Okay mungkin film yang jarang terdengar di daftar-daftar terbaik,  tapi inilah dia. Aku suka gimana film ini dengan perfect menangkap fenomena sosial media jaman sekarang. Sedari nulis reviewnya Juni lalu, aku sudah bilang aku bakal masukin ini ke daftar film teratasku. Segitu sukanya aku sama film ini. 

Bukan hanya soal konten bohong demi viral, karakter Zoey Deutch – penampilan aktingnya ngalir banget di sini, sukak! – di film ini benar-benar tepat menggambarkan gimana seorang influencer bisa sok peduli dan akhirnya terjerat dalam lingkaran kebohongannya sendiri. The lie gets bigger. Dan film mentackle bahasan ini dengan membawanya ke ranah yang grounded secara emosional.

Yang hebatnya pada naskah film ini adalah caranya menggarap protagonis yang unlikeable seperti demikian. Film tidak lantas menjadikannya pahlawan – mendapat redemption setelah dicancel. Karena itu akan sangatlah tidak adil, sebab si protagonis kita sesungguhnya adalah outsider dari bahasan yang sok ia angkat dan pedulikan. Ini menunjukkan film benar-benar paham dan tahu apa yang sebenarnya pengen mereka kritik pada konsep influencer masa sekarang.

My Favorite Scene:
Ini mungkin spoiler, tapi yah mau gimana.., Yang bikin aku suka ama film ini adalah pilihan yang mereka bikin diambil oleh karakter Zoey Deutch. Yaitu memutuskan untuk tidak jadi meminta maaf. Karena it’s not about her. Ini gak kayak di kita, yang banyak influencer bikin salah lalu segampang itu tinggal minta maaf. Film ini benar-benar mengerti dan membuat karakternya menyadari hal tersebut.

 

 

 

 

 

 

3. THE FABELMANS

Director: Steven Spielberg
Stars: Gabriel LaBelle, Michelle Williams, Paul Dano
MPAA: Rated PG-13 
IMDB Ratings: 7.7/10
“Movies are dreams that you never forget.”

 

Dari tiga film tentang kehidupan masa kecil/muda sutradara tahun ini, yang paling konek dan berkesan buatku adalah The Fabelmans karya Spielberg. Tadinya aku sudah nge-book spot buat West Side Story, ternyata Spielberg bikin film lagi, dan The Fabelmans ini actually resonance banget buatku yang pengen bisa bercerita seindah itu lewat film.

Terlihat jelas bahwa film sungguhlah penting bagi Spielberg. Karena di sini diceritakan tentang Sammy yang menemukan hidupnya dari kerjaan mengolah pita-pita yang ia rekam. Dari kerjaannya bikin video entah itu film untuk teman sekelas, maupun video liburan keluarga. At the emotional heart, film ini bicara tentang anak yang menemukan duluan ibunya ternyata tidak cinta dengan ayah. Kepentingan medium film berhasil dimasukkan berkait dengan aspek emosional tersebut. Yang menginspirasi adalah adegan-adegan saat Sammy menggarap video-video. Bagaimana dia menciptakan efek, bagaimana dia mengarahkan temannya. Dan gimana film yang ia hasilkan menyentuh setiap orang yang menonton. Lewat itu semua, Spielberg menunjukkan kekuatan sinema, bagaimana gerakan kamera dan segala macam aspek yang direkam dengan hati bisa mempengaruhi orang.

Kunci kesuksesan film ini juga datang dari penampilan akting. Sudah bukan rahasia lagi gimana Spielberg piawai ngedirect pemain-pemain, terutama yang muda-muda. Di film ini range arahannya tersebut, terbukti sangat luas. Seth Rogen saja bisa dibikinnya humanis!

My Favorite Scene:
Akting singkat nan berkesan paling memorable adalah cameo David Lynch di akhir. Gila, di menit-menit akhir itu film masih sempat ngajak kita bercanda dengan dialog Lynch dan pergerakan kamera yang selaras dengannya pas di momen final film. Bisa aja!!

 

 

 

 

 

 

2. EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE

Director: Dan Kwan, Daniel Scheinert
Stars: Michelle Yeoh, Stephanie Hsu, Ke Huy Quan, Jamie Lee Curtis
MPAA: Rated R
IMDB Ratings: 8.1/10
“So, even though you have broken my heart yet again, I wanted to say, in another life, I would have really liked just doing laundry and taxes with you.”

 

Awalnya aku hanya memandang ini sebagai Rick and Morty versi film keluarga. Lalu sebagai multiverse yang lebih keren daripada Dr. Strange. Tapi semakin ditonton, semakin kita masuk ke dalam durasi yang memperlihatkan perjuangan seorang ibu lintas multiverse, maka jelaslah sudah film ini jauh lebih besar dari semua itu. 

Pertama, film ini juga menginspirasi untuk bikin film bagus, karena film ini actually bukan produksi gede. Budgetnya gak raksasa, timnya gak banyak. Tapi pencapaian visualnya luar biasa. Mereka membuat banyak sekali dunia yang ajaib, sebagai bagian dari multiverse, dan berhasil mengedit itu semua ke dalam penceritaan yang super duper kompleks. Syarat yang dipenuhi oleh film sehingga ceritanya tidak jadi bikin bingung – walau dunianya banyak dan bicara soal konsep nihilisme sebagai antagonis – adalah punya konflik yang grounded. Konflik ibu dan anak perempuannya, Konflik istri dengan suaminya yang terlalu baik.

Kedua, soal action. Film ini ngambil step yang jauh lebih gede dari konsep berantem ala kung-fu yang biasa kita lihat. Karena di sini, panggungnya adalah multiverse. Film menggunakan banyak sekali elemen-elemen unik dari panggung cerita, dari karakter (gimana awalnya gak bisa berantem, lalu jadi jago) sehingga semuanya jadi seru. Jamie Lee Curtis aja di sini bisa gilak gitu berantemnya. Harusnya jurus itu yang dia bawa pas ngelawan Michael Myers hihihi.

Ketiga, tentu saja naskahnya. Walau dunia, karakter, dan konsepnya zany, tapi karena kebutuhan film ini bukan jadi komedi meta kayak Rick and Morty yang basically punya konsep dunia yang sama, dialog-dialog di sini tuh bakal bikin hati kita diaduk-aduk alih-alih bikin bingung.

My Favorite Scene:
Adegan batu. Aku sampai masukin itu ke nominasi Best Scene di My Dirt Sheet Awards 11 nanti. Perbincangannya benar-benar ngena, jadi kontras yang bergaung banget setelah semua kehebohan multiverse dan donat-donat sebelumnya.

 

 

 

 

Okeh, tinggal film puncaknya. Well, yang sudah lama ngikutin blog ini mungkin sudah bisa lihat polanya. Aku hampir selalu meletakkan film yang objectively beneran best di posisi nomor dua, karena posisi satu akan kuberikan untuk film yang benar-benar ‘gue banget’. Makanya tiap tahun, selalu banyak yang surprise haha.. Kenapa konsepnya begitu? karena this list is supposed to be subjective. Aku selalu berusaha seobjektif mungkin di review-review, berusaha ngasih skor yang paling mewakili kualitas filmnya secara teori dan penulisan naskah. Sekarang, saatnya ngumpulin film-film itu ke dalam satu daftar teratas, yang kalo orang lihat mereka langsung tahu “oh ini pasti daftarnya si Arya.” Daftar My Dirt Sheet. Aku gak mau ini list Top-8 ku ini saking seragamnya jadi kayak kayak daftar yang disusun oleh A.I.. Enggak. Cukup sketsa dan gambar saja yang dibikinin oleh komputer. Let me have this one! 

Maka dari itu, inilah film yang menurutku paling pantas kuletakkan sebagai posisi puncak. Film yang bukan saja menginspirasi karena juga budgetnya gak gede, tapi juga mengembalikan cintaku kepada genre yang telah membuatku tertarik untuk nonton lebih banyak film lagi sedari awal. 

 

 

1. TERRIFIER 2

Director: Damien Leone
Stars: Lauren LaVera, David Howard Thornton, Amelie McLain
MPAA: Not rated
IMDB Ratings: 6.2/10
“Cause food’s a little funny, at the Clown Cafe”

 

Nasib horor/slasher modern ada di tangan Art the Clown.

Aku gak muluk bilang begitu karena kapan terakhir kali kita nonton horor yang gak ribet sama pesan politik atau isu sosial berlebihan, sekaligus gak takut untuk melanggar batas-batas sadis, brutal, jorok, dan lainnya, dan sanggup bikin karakter ikonik? Terrifier 2 berani dan melakukan itu semua. Setelah nonton film ini, aku gak khawatir lagi, Michael Myers can rest in peace.

Bukan berarti film ini kosong kayak ciki anak SD. Terrifier 2 adalah upgrade besar-besaran dari film pertamanya yang memang cuma gore-fest. Kali ini, Terrifier 2 dihadirkan dengan muatan drama dan plot yang berarti. Tentang kakak beradik sepeninggal ayah mereka. Kakak yang harus jadi pelindung bagi adiknya, pengganti sosok ayah, tapi si kakak ini masih galau dan gak percaya dia sanggup untuk semua itu. Plot sederhana yang berhasil jadi nyawa film ini, merayap di balik adegan-adegan pembunuhan yang gak nahan apapun. Inilah yang selama ini kuminta pada horor. Soalnya gak banyak horor atau slasher yang punya plot dan kesadisan sekaligus. Memang sih, karena level sadisnya, film ini bukan untuk semua orang. Kalo mau ajak pacar nonton ini juga kayaknya harus mikir dulu, it could be too gross. Totally, film ini bukan untuk yang faint-hearted, definitely tidak untuk ditonton saat makan. Aku aja panas dingin kok nontonnya. Dan itu membuktikan betapa film ini berhasil menciptakan ‘dunianya’. Terrifier 2 begitu kreatif, mereka juga gak punya budget gede, tapi berhasil ngasih sesuatu yang berdamage luar biasa dengan efek-efek horor/gore praktikal.

Secara akting, juga melebihi ekspektasi. Final girl dan si Art, bahkan si badut kecil yang bikin film ini jadi punya elemen mistis, semuanya dapat nominasi di My Dirt Sheet Awards. Pokoknya gak kayak horor Indonesia yang entah kenapa belakangan suka bikin final girlnya gak tersentuh, film ini beneran ‘menyiksa’ si karakter. Membuat survivalnya penuh oleh growth dan development, yang bikin kita ngecheer dia. Mengenai si Art, karakter ini bakal jadi ikonik karena punya kekhasan. Dia gilanya beda ama badut-badut di horor lainnya. To be honest, dibandingkan dengan Art yang bener-bener edan dan selalu sukses bunuh korban tanpa ba-bi-bu, Pennywise di It jadi kelihatan kayak anak pesantren yang alim hihihi

My Favorite Scene:
Aku jarang sekali suka sama adegan mimpi, karena biasanya cuma digunakan untuk mancing cheap scare, tapi adegan mimpi di Terrifier 2 begitu elaborate dan penting dalam bangunan narasi. Begitu banyak kengerian dan kegilaan di sekuen panjang mimpi tersebut!!

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Itulah daftar Top Movies 2022 My Dirt Sheet. The word here is the ‘magic of cinema’.

Berikut lengkapnya 122 film yang sudah direview dan dinilai di sepanjang tahun:

Apa film favorit kalian di tahun 2022? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2023?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

MINI REVIEW VOLUME 5 (TOP GUN: MAVERICK. 12 CERITA GLEN ANGGARA, SAYAP-SAYAP PATAH, DC LEAGUE OF SUPER-PETS, BEAST, PREY, KAMU TIDAK SENDIRI, LIGHTYEAR)

 

 

Enggak kerasa kita udah berada di caturwulan terakhir 2022 aja! Orang bilang kalo sedang bersenang-senang, waktu memang serasa berlalu bagai terbang. Dan ya, memang empat bulan terakhir sepertinya terasa lebih cepat karena banyak film yang bagus-bagus.  Kayaknya belum pernah aku ngasih skor tinggi sesering beberapa bulan ini.  Dan mungkin jumlahnya masih  bertambah, karena ternyata masih ada beberapa film lagi yang belum sempat kuulas. Di sinilah tempatnya. Sekaranglah waktu untuk mereka. Delapan film, the last batch dari cawu kedua 2022,  inilah mini-review volume kelimaaaa!!

 

 

 

12 CERITA GLEN ANGGARA Review

Masalah utama yang lumrah kita temui dalam film cinta-cintaan remaja adalah tidak mengangkat kenapa si cowok dan si cewek karakter sentralnya harus jadi pasangan. Harus pacaran. Kebanyakan film tidak memberikan alasan yang lebih jauh selain karena kedua karakter itu sama-sama paling cakep, dan ‘cinta tak harus ada alasan’. Meski memang benar juga di dunia nyata toh kita bisa mendadak naksir kesengsem sama orang dalam sekali lihat, and we don’t know why pokoknya kita merasa harus jadian ama si dia, tapi tentu akan ada pelajaran yang kita dapatkan dari saat ternyata kita ditolak dan sebagainya. Singkatnya, cinta – seperti halnya perasaan lain seperti horor, trauma – memang harus digali, karena penggalian itu yang journey pada refleksi dunia nyata yang kita tonton sebagai film.

Karena itulah aku gasuka banget ama film Mariposa (2020), yang dangkal sekali memperlihatkan cewek menguber cowok, dan turns out mereka harus bersama itu benar sebagai reward yang dikasih gitu aja. Makanya juga, 12 Cerita Glen Anggara yang masih satu universe sama Mariposa ini, actually jadi cerita yang jauh lebih kuat dibandingkan film utamanya tersebut. Karena film garapan Fajar Bustomi ini benar-benar menggali kenapa Glen tertarik untuk memenuhi dua-belas permintaan Shena, dan akhirnya dia jadi jatuh cinta beneran. Tema ‘love make you a better person’ mengalir di balik kisah anak muda, yang juga menyisakan ruang untuk cerita persahabatan dan keluarga.

Yang masih kurang bagiku di film ini adalah stake. Tidak terestablish dengan kuat. Malah hampir seperti film takut untuk memberikan rintangan, karena di cerita ini yang diperlihatkan sebagai stake adalah persahabatan Glen dengan teman-temannya. Film seperti ngeri menggali kerenggangan Glen dengan teman-teman, dan akhirnya malah membuat cerita jadi aneh dengan justru bukan Glen yang harus berubah dan memilih sikap. Selain soal itu (dan soal film tidak banyak melakukan perubahan pada trope standar wish-of-dying-girl), film ini adalah peningkatan dari film utamanya, dan one of the better Indonesian’s teenager romantic story

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for 12 CERITA GLEN ANGGARA.

.

 

 

BEAST Review

Satu keluarga yang lagi berkunjung ke Afrika, diserang singa ngamuk yang melukai setiap manusia yang ditemui. Itulah film Beast kalo dilihat dari kulit luarnya. Sebuah aksi survival, kejar-kejaran manusia dengan hewan buas di alam liar. Namun jika ditilik ke lapisan di dalamnya, film garapan Baltasar Kormakur ini bercerita tentang pria, seorang dokter, yang masih diselimuti perasaan bersalah for not being there ketika istri dan keluarga membutuhkan dirinya. Perasaan yang dikontraskan dengan perasaan si singa yang mengamuk karena kawanannya ditembak mati oleh pemburu.

Film ini mengambil pendekatan yang grounded sehingga kita mengerti manusia dan hewan buas yang jadi pusat di sini adalah sama-sama ‘wounded animal’. Yang harus meresolve urusan masing-masing. Inilah yang mengangkat Beast di balik urusan menyelamatkan diri.  Nilai plus berikutnya datang dari kerja kamera. Dalam Beast banyak kita jumpai adegan-adegan long take, yang diambil supaya terkesan tanpa putus. Pengambilan seperti demikian menambah kepada dua hal. Pertama, kamera itu benar-benar menguatkan kesan manusia yang berada di tempat terbuka. Yang juga asing baginya. Kalo mau niruin rekaman audio di bioskop; kesan ‘all around you’ benar-benar tertonjolkan oleh film ini. Kedua tentu saja, menambah ke horor. Singa yang bisa tiba-tiba menerkam dari balik semak setelah kamera berputar mencari-mencari, mengikuti karakternya. Film ini gak gagal soal suspens dan kejutan, serta rintangan yang terus diberikan untuk karakter Idris Elba.

Yang pengen lihat Elba lawan singa, akan terpuaskanlah. Sayangnya, gak semua akting film ini konsisten grounded. Karakter dua putri Elba di sini akting dan sifatnya annoying banget. Mereka masuk ke tipe-tipe karakter konyol dan riweuh yang biasa ada (dan kita pengen mereka mati duluan) dalam genre serupa. Kalo gak ada mereka, atau seenggaknya, penulisan mereka dibikin lebih baik lagi, film ini akan menghibur maksimal

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BEAST

 

 

 

DC LEAGUE OF SUPER-PETS Review

Sayang lebaran sudah lewat. Karena aku mau minta maaf sama film ini. Minta maaf telah meremehkan dan ngirain ini cuma film animasi konyol untuk anak kecil melihat anjing bisa bicara dan bisa terbang. Itulah kenapa kita gak boleh judge film sebelum nonton. Gampang bagi kita untuk mutusin gak nonton hanya dari trailer, dari visual, dan bahkan dari judul. Tapi ketahuilah, film hanya bisa diketahui bagus setelah ditonton, dan kalo kita kelewat film bagus karena keburu judge di awal, kitalah yang rugi.

DC League of Super-Pets adalah contoh film yang gampang diremehkan. Tentu, ini memang proyek jual brand DC ke penonton cilik, tapi itu tidak lantas berarti filmnya jelek dan dangkal. Karya Jared Stern dan Sam J. Levine ini sukses bikin aku ternganga.  Ceritanya (walau simpel dan ‘gampang ketebak’ untuk standar penonton dewasa) actually punya muatan lebih dari sekadar kartun yang menghibur. Universe tempat SuperMan punya anjing peliharaan itu dibangun dengan seksama, kita bukan sekadar melihat ‘what if’ story, melainkan benar-benar ada karakter yang kuat. Di sini, The Rock menyuarakan Krypto, anjing super yang harus belajar makna pahlawan di luar kekuatan-super dari kawanan hewan peliharaan terbuang. Dan pada gilirannya, Krypto turut mengajarkan hewan-hewan tersebut bagaimana menjadi pahlawan. Ini sungguhlah cerita padat, dengan muatan pesan yang baik sekali untuk ditonton oleh anak-anak.

Humornya bisa sedikit agak vulgar, tapi harmless. Anak-anak akan teralihkan oleh kelucuan tingkah polah karakter. Aku yakin, kalo aku nonton ini saat masih berusia SD, film ini pasti akan jadi film favorit yang kutonton berulang-ulang. Sejajarlah dengan film Disney dan Pixar.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DC LEAGUE OF SUPER-PETS

 

 

 

KAMU TIDAK SENDIRI Review

Aku bisa mengerti kesulitan Kamu Tidak Sendiri dalam ‘menjual dirinya’ kepada penonton. Sutradara Arwin Wardhana truly membuat film yang susah untuk dijual, terutama di industri perfilman kita. Kamu Tidak Sendiri dia buat sebagai thriller ruang tertutup, tapi bukan exactly sebuah film kecelakaan lift. Bukan pula film bencana gempa. Ini bahkan bukan tentang whodunit, siapa yang menyebabkan semua itu terjadi. Sebenarnya Kamu Tidak Sendiri adalah drama psikologi seorang karakter yang menutup diri dari sosial – seorang bos yang tampil jutek. Ruang tertutup di sini bukan lift yang rusak itu, melainkan diri si karakter ini.

Jadi ya, film ini akan banyak sekali berisi dialog. Dimainkan oleh Adinia Wirasti, dengan desain karakter yang keras kepala dan unlikeable. Penonton yang mengharapkan kejadian seputar menyelamatkan diri dari bencana di lift akan cepat merasa terkecoh dan bosan begitu masuk ke babak kedua, saat lapisan dan backstory karakter si Adinia ini diungkap, lewat dialog-dialog dan kamera yang cenderung tak banyak bermanuver. It is hard sell buat penonton Indonesia. Makanya jarang film kayak gini muncul di industri perfilman kita. Sehingga, mau gak mau film ini harus kompromi dengan kemauan industri. Dan inilah yang bikin dirinya gak maksimal. Kamu Tidak Sendiri ini kalo mau bagus dan deep, ya memang harus embrace dirinya.  Full dialog tidak akan membuat film jadi boring, asalkan dialog-dialog tersebut benar-benar bermakna dan berfungsi menambah kepada bobot cerita. Tapi yang actually kita lihat adalah sebuah effort yang seperti berpindah-pindah begitu sampai ke titik-mentok, yakni titik yang dianggap gak bakal disukai. Dialog-dialognya juga kurang tight, dan lebih disibukkan dengan masukan candaan – karena takut penonton bosan.

Makanya film ini endingnya jadi lemah banget. Film gak berani bikin nasib satu karakter menyedihkan. Jadi ada satu karakter yang mestinya sudah mati, karena dengan kematiannya, Adinia sadar dan pembelajaran yang dialami karakternya mulai jalan. Tapi film membuat si karakter kunci ini enggak jadi mati (walaupun segala visual clue sudah nunjukin dia lebih cocok untuk mati), dan lemahlah sudah pembelajaran yang dialami karakter utama.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for KAMU TIDAK SENDIRI.

 




LIGHTYEAR Review

Setelah ditonton, kayaknya aku tahu alasan kenapa sensor di kita (dan beberapa negara lain) cukup ketat sehingga film ini tidak jadi tayang di bioskop. Di film ini ada adegan Buzz ke hyper space yang membuat dia mengalami waktu yang berbeda dengan seluruh semesta. Jadi, setiap kali Buzz pergi, semesta bertambah tua empat tahun. Nanti ada montase yang memperlihatkan Buzz kembali ke pangkalan setiap empat tahun sekali, dan setiap kembali, dia melihat rekannya yang cewek meneruskan hidup. Dari pacaran (sama sesama cewek), lalu empat tahun kemudian hamil, empat tahun kemudian punya anak, anaknya udah gede, punya cucu, dan akhirnya mati. Problemnya ada di pasangan sesama jenis yang hamil. Karena montase, maka tidak ada penjelasan, dan ini tentu akan bikin bingung anak-anak. Bisa-bisa mereka menganggap cewek ama cewek bisa hamil juga. It’s complicated things, yang butuh bantuan film menjelaskan.

So yea, Lightyear secara keseluruhan juga sama. Ceritanya yang mengusung tema eksistensi, kehidupan, dan umur, bisa tampak membingungkan bagi penonton anak-anak. Bagi penonton dewasa sih oke. Walau bagiku juga tampak ekstra ribet dengan segala konsep Buzz skip waktu dan sebagainya (nanti revealing Zork bahkan lebih complicated lagi), tapi secara usungan tema, film ini konsisten. Dan tema tersebut diceritakan dengan rapi. Menutup. Juga make sense semua alasan kenapa terjadinya. Urusan visual dan animasi, Lightyear masih memegang kuat standar Pixar. Film ini terlihat clean, mulus, aksi-aksinya banyak hal baru. Buzz yang dihidupkan sebagai manusia, bukan sebagai mainan lagi, terasa fully sebagai karakter, lengkap dengan backstory dan mannerism yang baru sekaligus bikin nostalgia. Mungkin yang sedikit aneh adalah, estetik filmnya yang terlalu keren itu agak terasa kurang cocok dengan ilusi atau gimmick yang studio angkat, yakni film ini adalah film yang ditonton oleh Andy dalam Toy Story tahun 1995. Tapi, yah, itu cuma nitpick kecil yang gak nambah banyak untuk bobot penilaian.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for LIGHTYEAR

 

 

 

PREY Review

Satu lagi film yang teroverlook olehku. Prey ternyata adalah prekuel dari Predator, dan seperti yang diindikasikan oleh judulnya, film ini actually beneran film Predator yang kreatif dibandingkan dengan film-film lain (yang judulnya ‘Predator apalah’ melulu)

Prey mengerti, dan membawa kita kembali ke akar yang membuat Predator jadi salah satu ujung tombak survival horor. Aspek dinamika antara pemburu dan yang diburu. Dalam predator original kita lihat gimana pria-pria militer berotot dan macho itu dioverpower oleh kekuatan lain di atas mereka. Sutradara Dan Trachtenberg semacam mengambil perspektif lain dari situasi ini. Perspektif yang juga fit perfectly ke dalam agenda feminism yang kerap diangkat di era sekarang. Prey kini mengambil sudut dari perempuan, pada masa kuno banget (we talk about tahun-tahun orang suku pedalaman), yang tentu saja masih menganggap perempuan inferior dari laki-laki. Dan begitu ada Predator, si perempuan harus membuktikan bahwa ‘si lemah’ bisa menaikkan status dirinya sendiri menjadi predator puncak.

Apa-apa yang kita rinduin dari survival horor klasik, ada di sini. Prey pun tidak berkutat dengan karakter annoying seperti pada Beast. Melainkan memang fokus memainkan dinamika kelemahan-jadi-kekuatan yang dipunya oleh protagonisnya. Aksinya bahkan lebih seru dengan kontras peralatan jaman dahulu melawan peralatan canggih. Satu lagi perbedaan yang bisa kita bandingkan dengan Beast, Prey menggunakan kamera yang lebih kalem. Di sini lebih banyak wide shot, karena perasaan yang diangkat di sini bukanlah sensasi danger di area terbuka, melainkan karakter yang harus memahami lingkungan di sekitarnya. Memanfaatkan lingkungan dan memperhatikan apa yang berbeda dari sana, semuanya adalah ‘senjata’ untuk berhadapan dengan musuh.

Lucunya nonton film adalah, kita bisa memasukakalkan ada alien pemburu ketemu suku pedalaman, tapi untuk logika seperti karakter yang berpindah tempat kita masih merasa perlu untuk benar-benar ada penjelasan ‘kok bisa’ . Nah, Prey ini bagiku kurang di bagian tersebut karena ada dua kali adegan karakter pingsan dan bangun-bangun dia sudah ada di situasi berbeda – dan  ada satu ‘jump’ ini yang buatku memudahkan penceritaan saja. Prey kurang tight di majunya plot saja. Selain itu, ini adalah film cantik, berbobot, dan sangat seru.

The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for PREY

 

 

 

SAYAP-SAYAP PATAH Review

Tak disangka tak dinyana, Sayap-Sayap Patah yang awalnya dapat preseden buruk karena isu politik, ternyata berhasil tembus dua juta penonton. Pertumbuhan organik yang benar-benar bisa dilihat keramaiannya. Tapi sebenarnya, kesuksesan jumlah penonton film ini bukan hal yang aneh. Kenapa?

Karena secara teori, sutradara Rudi Soedjarwo dalam comebacknya ini benar-benar memanfaatkan trope dramatis sebagai peluru utama. Trope soldier-with-pregnant-wife sudah terbukti ampuh untuk jadi alur dramatis yang membuat penonton kasihan sama nasib karakternya.  Coba tengok lagi film-film drama perang atau semacamnya, pasti banyak ditemui karakter pejuang yang punya istri hamil yang menunggu di rumah. Sayap-Sayap Patah memanfaatkan ini dengan maksimal. Lewat ngecast Nicholas Saputra, everyone’s darling since AADC, misalnya. Dan jelas membantu pula, film ini diangkat dari tragedi teroris nyata, yang terjadi bisa dibilang masih baru-baru ini. Itulah kekuatan utama Sayap-Sayap Patah. Bangunan dramatiknya secara genuine mengakar.  And that’s it.

Sesungguhnya film ini tidak melakukan banyak pengembangan. Ada tema soal kontras polisi dengan teroris (polisi tidak akan mengorbankan keluarga) sebagai tulang punggung development karakter utamanya, tapi pengembangannya kurang terasa natural karena si karakter ini tidak banyak diperlihatkan langsung bersinggungan dengan paham teroris tersebut pada awalnya. Film tidak banyak mengubah kejadian nyata, dan memasukkan ke dalam bangunan perspektif karakter. Yang dilakukan film hanya memilah, mana yang enak untuk masuk, dan kapannya. Itulah sebabnya film ini masih tampak berkutat sebagai propaganda. Pembahasannya masih kurang berimbang. Teroris diperlihatkan baik karena polisinya baik, tapi kita tidak melihat contoh polisi yang jahat di sini. Jadi seharusnya, semua teroris jadi baik, dong. Tapi tidak juga, karena di sini teroris harus jahat. Nah, bobot dinamikanya itu yang masih dangkal dilakukan oleh film ini.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for SAYAP-SAYAP PATAH

 

 

 

TOP GUN: MAVERICK Review

Bagi yang ngikutin blog ini cukup lama, pasti tahu aku paling kurang-semangat urusan film action. Banyak yang kupilih untuk diskip. Karena buatku, nulis tentang film action itu susah. Bingung mau angkat apa, sebab ya kekuatan film action ya di aksi-aksi itu. Bagaimana dengan budget dan teknologi sekarang, action bisa tercapai dengan semakin meyakinkan. Aku justru lebih tertarik kepada cerita, karena cerita bisa dijadikan bahan tulisan tanpa harus mengerti teknik-teknik bikin adegan kayak pada action. Makanya aku lewatin juga film karya Joseph Kosinski ini. You bet I’m not even watch the first film. Orang-orang yang merekomendasikan sekuel kali ini pun bilangnya “bagus, karena aksinya keren”. Tak menarik buatku.

Tapi nih ya, kalo kemaren ada yang bilang “tontonlah, ceritanya tentang si Tom Cruise yang udah pensiun jadi Top Gun, kini harus balik tapi dalam kapasitas mengajar. Dan salah satu muridnya adalah anak dari sahabatnya, yang tewas saat mereka beraksi di udara”. Aku pasti akan cabut ke bioskop saat itu juga. Nobody tells me about this movie dari ceritanya tentang apa. Dan begitu akhirnya aku nonton film ini, DHUARRR! rasanya mindblown banget melihat cerita mentorship dengan layer drama dan perspektif sekaya ini. I. Love. This movie. Film action yang gak hanya peduli pada aksi-aksi mahal dan menawan. Tapi juga sedemikian dalam menggali dan menghidupkan karakternya. Film sekuel yang tidak sekadar dibikin lagi untuk nostalgia. Tapi benar-benar melanjutkan cerita dari karakter yang begitu disukai.

Begitu tersold lewat penulisan, barulah aku jadi semakin mengapresiasi aksi-aksinya.  Karena ya, kalo kita sudah peduli sama karakter, stake aksi mereka di udara bakalan jadi demikian terasa. Bukan rahasia umum lagi, Tom Cruise selalu melakukan aksi-aksinya sendiri. Di film ini juga begitu, dan maaan, yang ia lakukan di sini bikin kita tahan napas. Karena aksinya grounded, gak terlalu wah, tapi kita tahu bahayanya seperti apa. Film ini punya kejar-kejaran pesawat yang seru dan fun. Yang paling aku suka adalah momen-momen Maverick melatih para Top Gun muda di udara.

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for TOP GUN: MAVERICK

 

 




That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 4 (RANAH 3 WARNA, INCANTATION, DUAL, PERJALANAN PERTAMA, METAL LORDS, THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT, HUSTLE, CHIP ‘N DALE RESCUE RANGERS)

 

 

So, banyak yang nanya ‘Mini Review ini buat film-film yang kurang penting, ya?’ Nope, Enggak. Bukan. Wrong. Sama sekali tidak. If anything, justru buatku ini adalah tempat film-film yang lebih ‘susah’ untuk diulas. Karena seringnya, aku masukin film ke segmen ini karena aku gak bisa langsung merampungkan ulasan setelah nonton. Masih ada bagian yang harus dipertimbangkan. Masih ada bias yang masih harus diademkan. Atau masih merasa perlu untuk nonton filmnya lagi. Dan karena didiamkan dahulu itulah, filmnya jadi ‘tergilas’ film baru yang tayang berikutnya.  Jadi simpelnya, Mini Review ini gak ada hubungannya ama kelas kepentingan film, melainkan hanya soal aku telat menyelesaikan proses nulis atau nontonnya saja.

Buktinya? Nih lihat aja judul-judul yang terangkum di Volume 4 ini!

 

 

CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS Review

Sebagai anak 90an, mengatakan aku cukup akrab dengan Chip ‘N Dale sungguhlah basa-basi. Dua tupai ini muncul di setiap komik dan majalah Donal Bebek yang kubaca (di kita nama mereka ‘diterjemahkan’ jadi Koko dan Kiki). Dan game petualangan mereka di Nintendo, jadi favoritku waktu kecil. The game was like monopoly, bisa merusak persahabatan. Aku actually bertengkar dengan teman, karena di situ kita bisa salah angkat teman sendiri, dan ‘gak sengaja’ melempar mereka ke jurang. Yea, ‘gak sengaja’ hihihi

Anyway, aku berasa seperti anak kecil lagi saat nonton film ini. Demi ngeliat karakter-karakter kartun dari masa lalu tersebut. But also, conflicted, karena ya tahulah gimana film-film dari nostalgia masa kecil dimanfaatkan sebagai parade IP semata.  Chip ‘N Dale ini juga sebenarnya dibuat dengan niat seperti itu. Namun sutradara Akiva Schaffer mendorong konsep ‘hey, here are your favorite childhood characters‘ lebih jauh lagi. Yang menyenangkan dari film ini adalah mereka memang memperlihatkan perkembangan. Mereka semacam membangun dunia-cerita yang meta, dan mengeksplor cerita dari sana. Dale (disuarakan dengan pas oleh Andy Sandberg) capek jadi sidekick Chip di serial kartun mereka, sehingga memutuskan untuk nyari proyek solo, dan begitulah akhirnya duo ini pisah. Hingga sekarang. Dale operasi dirinya jadi animasi 3D untuk stay relevant dan Chip kerja di balik meja. Dengan setting yang menarik tersebut, film seperti berusaha ngasih lihat perkembangan animasi di balik nostalgia. Mencoba membayangkan gimana para tokoh kartun ini sebagai aktor beneran. Dan hasilnya memang lucu dan supermenarik. Banyak karakter dari berbagai kartun dihadirkan, dan permasalahan mereka disangkutkan dengan soal kartun-kartun bajakan.

Tapi ya itu tadi, film ini tidak pernah diniatkan untuk dibuat mendalam. Hey, ini ada masalah bootleg, ini ada issue soal trend animasi, mari kita bikin cerita yang actually memberikan gagasan tentang semua itu. Tidak. Chip ‘N Dale bukan great film karena memilih untuk membangun penceritaan berdasarkan surprise dan nostalgia value, sehingga banyak menomorduakan kaidah-kaidah film beneran. In the end, ini masih kayak kartun mereka dulu, tapi dengan setting berbeda. Kuharap film ini dibuatkan juga versi gamenya.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CHIP ‘N DALE: RESCUE RANGERS.

.

 

 

DUAL Review

Kita biasanya gak peduli sama apa yang kita punya, sampai sesuatu yang dipunya itu hendak direbut oleh orang lain. Kadang nilai sesuatu baru kita hargai, baru terasa, saat kita sudah kehilangan. Kupikir bahasan tentang hal tersebut bakal selalu jadi bahasan yang tragis. Tapi sutradara Riley Stearns somehow berhasil mengarahkannya ke dalam cerita dark comedy. Aku merasa bersalah juga, banyak ketawa miris melihat Karen Gillan yang di sini jadi Sarah yang hidupnya dicolong oleh kloningannya sendiri.

Sarah orangnya pendiam, gak asik, dia bosan ama hidupnya. Gak ada passion lagi ke pasangannya, juga selalu menghindar saat ditelpon ibunya. Momen pertama karakter ini kocak-tapi-sedih banget adalah ketika dia biasa aja saat dikasih tahu dokter hidupnya tinggal beberapa waktu lagi. Sarah justru kayak senang ketika dia sadar masalah hidupnya bakal jadi masalah kloningan. Ya. di dunia antah-berantah tempat tinggal Sarah, ada teknologi klone yang disediakan khusus untuk keluarga pasien yang hendak meninggal. Supaya gak sedih-sedih amat lah. Masalah baru muncul ketika Sarah gak jadi mati, jadi kloningannya sesuai hukum harus ‘dimatikan’ tapi si kloning menjalani hidupnya lebih baik daripada yang Sarah lakukan. Bahkan orang-orang terdekat Sarah lebih suka si kloningan ketimbang Sarah yang asli. Di titik cerita ini, aku benar-benar merasa gak enak udah ketawa.

Kupikir itulah kekuatan sekaligus juga kelemahan film Dual. Berhasil menemukan titik tengah tempat penonton bisa mengobservasi sekaligus berefleksi juga. Medan yang ditempuh film sebenarnya sulit. Sarah, misalnya, harus tampil ‘jauh’, terlepas dari penonton. Dan memang susah ngikutin karakter yang gak ada semangat sama sekali seperti ini. Tapi ketika waktunya tiba, Sarah harus bisa mendapat simpati, dan itu hanya bisa dilakukan dari seberapa kuatnya film menjalin kita lewat situasi metafora. Dual meminta banyak kepada kita.  Tapi memang ketika konek, film ini jadi seru. Paruh akhirnya buatku bisa jadi celah untuk film mulai menggali lebih dalam perihal hidup dan eksistensi. Sayangnya, film ini memilih untuk membungkus cerita dengan cara yang seperti mengelak dari bahasan tersebut. Dan itu membuat journey Sarah jadi mentah, karena ternyata film hanya menjadikan semuanya sebagai ‘hukuman’. Bukan pembelajaran baginya.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for DUAL

 

 

 

HUSTLE Review

Meskipun setting ceritanya memang di lingkungan basket, tapi sutradara Jeremiah Zagar tidak semata membuat film tentang olahraga basket, melainkan lebih sebagai drama tentang keluarga dan ambisi. Sehingga kita gak perlu untuk jadi penggemar basket dulu untuk menonton Hustle. Malah, dijamin, Hustle akan menyentuh setiap penonton yang menyaksikan ceritanya.

Adam Sandler sekali lagi membuktikan kematangan aktingnya. Dengan ini namanya tidak lagi disinonimkan dengan komedi-komedi receh. Sandler justru memperlihatkan taringnya sebagai aktor drama keluarga yang punya range natural sehingga karakter yang ia mainkan terasa hidup. Di sini dia adalah mantan pebasket yang kini jadi pencari talent karena cintanya dia terhadap olahraga ini. Dan memang penampilan akting Adam Sandler-lah yang membuat film ini menyenangkan untuk diikuti. Yang membuat naik turun dramanya  tidak seperti bola basket yang didrible keras. Melainkan melantun dengan emosional. Center film ini adalah hubungan antara Sandler dengan pria yang ia temukan jago bermain basket, tapi pria ini not yet ready. Jadi dia harus digembleng, dengan segala permasalahan seputar tim Sandler tidak percaya, dan Sandler melatih orang ini menggunakan biaya dari kantongnya sendiri.

See, Sandler sendiri di sini harus bekerja sebagai tim. Apalagi lawan mainnya kebanyakan adalah pemain basket beneran yang baru sekali ini berakting. Mungkin karena permainan Sandler tinggi di atas yang lain itulah, aku merasa agak kurang konek dengan aktor lain. Terutama lawan mainnya. Aku tidak benar-benar merasa si pria bernama Bo ini pengen banget jadi pemain basket. The reason he played juga gak ditonjolin kuat, hingga ke paruh akhir saat permasalahan baru personal bagi dirinya. Inilah yang membuatku agak sedikit kurang berada di belakang perjuangan mereka saat awal hingga pertengahan cerita. Untuk sebagian besar waktu aku merasa duduk di sana untuk melihat the magic of basketball cinema saja, karakternya kurang. Hanya Sandler yang menonjol.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HUSTLE

 

 

 

INCANTATION Review

Yup, there’s no doubt film ini menunggangi kepopuleran The Medium tahun lalu. Hadir dengan tema horor supernatural, kepercayaan dewa-dewa, dan bercerita dengan teknik found footage.

Dalam beberapa hal, sutradara Taiwan Kevin Ko sebenarnya melakukan lebih baik daripada The Medium. Dia bercerita dengan konsep found footage yang lebih solid ketimbang The Medium yang di awal malah tampak seperti mockumentary lalu lantas ngescrap konsep itu dan beralih jadi full cuplikan kamera. Karakter utamanya juga lebih kuat. Incantation ini adalah cerita tentang seorang perempuan yang di masa lalu pernah melanggar suatu ritual, dan sekarang dampak dari perbuatannya berhasil catching up, dan nyawa putri ciliknya jadi taruhan. Gak kayak Medium, perspektif tokoh utama film Incantation ini lebih fokus dan gak pindah-pindah. Dari aspek horor, selain gimmick pov langsung dari kamera, Incantation juga punya elemen body horror yang langsung menyerang fobia penonton. Diperkuat juga dengan bahasan soal persepsi; gimana kutukan dan berkah sebenarnya tergantung cara orang memandangnya.

Hanya saja film ini gak pede. Atau mungkin, film ini terlalu mengincar seru-seruan ketimbang bercerita dengan benar. Karena film ini actually ngebutcher kejadian atau runtutan peristiwanya. Lalu disusun dengan alur bolak-balik, yang seperti tanpa bendungan tensi. Kita akan bolak-balik antara rekaman video karakter di masa lalu dengan di masa sekarang, yang seringkali setiap perpindahan bikin kita lepas dari kejadian sebelumnya. Sehingga nonton ini jadi kerasa capeknya aja. Keseraman, apalagi journey karakternya, jadi nyaris tidak terasa karena sibuk pindah-pindah.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for INCANTATION.

 

 

 

METAL LORDS Review

Sebelum Eddie Munson yang bikin semua orang bersimpati, sebenarnya Netflix sudah punya kisah rocker baik hati. Metal Lords garapan sutradara Peter Sollett berkisah tentang dua remaja sekolahan misfit yang mencoba naik-kelas popularitas dengan membentuk grup metal supaya bisa menangin Battle of the Bands.

Selain sebagai cerita coming of age dan persahabatan dua remaja cowok (yang akan involving salah satunya deket ama cewek sehingag mereka jadi renggang), film ini punya ruh metal yang kental. Sehingga tampak seperti sebuah surat cinta terhadap genre musik tersebut. Film membahas tentang bagaimana genre ini di kalangan anak jaman sekarang. Yang lantas semakin berdampak kurang bagus bagi keinginan dua karakter sentralnya untuk populer. Pembahasannya sebenarnya cukup formulaik, alias gak banyak ngasih sesuatu yang baru. Tapi hubungan antarkarakter yang menghidupi ceritanya feels real. Seperti saat melihat Eddie di serial Stranger Things yang membuka mata bahwa, yah, rocker juga manusia, film ini juga memberikan kita insight di balik apa yang dianggap banyak orang sebagai stereotipe seorang anak penyuka musik keras.

Ngomong-ngomong soal keras, I do feel like film ini masih sedikit terlalu berhati-hati, like, masih terlalu ngincar feel good moment. Sedikit pull out punches. Tidak banyak adegan memorable terkait drama. Enggak menjadi sedalam Sing Street. Tapi untuk urusan musik metal, well, film ini memang cukup cadas.  Di adegan battle of the bands, kita akan dapat satu performance musikal yang keren. Bersama satu transformasi karakter yang sama kerennya!

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for METAL LORDS.

 

 

 

PERJALANAN PERTAMA Review

Ini film paling baru yang masuk daftar Mini Review. Artikel ini kurampungkan Jumat, sedangkan Kamisnya aku baru saja menonton film ini. Aku sebenarnya punya waktu untuk nulis ini ke dalam review panjang. Namun pas nulis kemaren, aku merasa perlu lebih banyak waktu. Sebelum akhirnya aku sampai pada kesimpulan, bahwa karya Arief Malinmudo ini sebenarnya memang mengandung nilai-nilai baik. Bukan hanya kepada anak, ini bisa dijadikan pelajaran buat kita semua untuk tidak memandang sesuatu dengan mengedepankan kebencian. Tapi dalam penceritaannya, masih clunky. Cerita ini punya dua sudut pandang, dan film tidak mulus – tidak benar-benar paralel dalam membahas keduanya.

Jadi ini adalah kisah tentang anak kecil yang dibesarkan oleh kakeknya. Dia tidak pernah tahu siapa kedua orangtuanya, kakeknya masih menyimpan rahasia. Sehingga si anak kesel. Ketika si Kakek pergi mengantarkan lukisan pesenan orang, si anak yang tadinya ogah-ogahan akhirnya mau ikut menemani. Di tengah perjalanan, lukisannya dicari orang, sehingga mereka harus menemukan. Tapi masalahnya, si anak gak tahu lukisan kakek seperti apa. Dan si kakek gak mau cerita. Film benar-benar ingin menyampaikan perasaan kesal si anak kepada kita sehingga di paruh awal cerita banyak sekali bagian-bagian narasi yang bikin kesel dan konyol. Ini adalah jenis film yang gets better di akhir, saat semuanya sudah diungkap. Tapi untuk film ini, bagian tersebut agak sedikit terlalu lambat datangnya. Membuat kita berlama-lama di bagian yang gajelas  di awal.

Dialog film ini sebenarnya cukup kaya oleh lapisan. Kayak kalimat ‘orangnya sudah ketemu’ di akhir film yang bermakna dua karena diucapkan oleh karakter yang di awal deny bahwa perempuan harus dicari, bukan mencari. Aku gede di Sumatera, jadi aku tahu Melayu dan Sumatera Barat yang jadi latar film ini memang sangat kuat dalam perumpamaan, dan nilai-nilai budi yang baik. Film ini berusaha menjadi sesuai latarnya itu, tapi tidak benar-benar mulus melakukan. Sehingga di awal-awal banyak muatan adegan-adegan yang seperti pesan-pesan random, kurang integral dengan permasalahan inner karakter. Beberapa malah konyol. Kayak ada adegan mereka ngejar bis, nganterin seorang penumpang anak kecil yang tertinggal. Dan lalu ada suara ibunya yang ngomen dari atas bus, lalu lantas si ibu ngajak anaknya selfie. Konyol sekali.

The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for PERJALANAN PERTAMA.

 

 

 

RANAH 3 WARNA Review

Satu lagi cerita dari tanah Minang, yang juga menjunjung nilai-nilai kebaikan dan berakar kuat kepada adat. Bedanya, Ranah 3 Warna diadaptasi dari novel, dan merupakan cerita sekuel. Sehingga punya advantage dari sisi dunia-cerita dan karakter-karakter yang sudah lebih established. Tapi itu tidak lantas berarti lebih baik dalam penceritaan.

Ranah 3 Warna memang lebih imersif. Di sini karakternya akan berdialog minang dan hanya berbahasa Indonesia kepada karakter yang gak bisa bahasa daerah. Persoalan bahasa benar-benar dikuatkan, karena setting tempat benar-benar masuk ke dalam narasi. Sesuai judulnya, akan ada 3 daerah, banyak budaya, banyak bahasa yang jadi panggung dan mempengaruhi karakter sentral. Tapi ini juga lantas membuat film jadi episodik, karena Ranah 3 Warna diarahkan Guntur Soeharjanto lebih seperti novel, ketimbang seperti film. Dalam film biasanya, konflik karakter akan dibuild up, stake naik, dan solusi baru ketemu di babak akhir cerita, sehingga segala usaha dan pay offnya jadi terasa gede sebagai akhir perjalanan. Ranah 3 Warna ini, konflik itu hadir sebagai permasalahan yang sama dihadapi oleh karakter di setiap tempat yang berbeda. Mereka tidak mengembangkan untuk satu film, tapi satu tempat. Lalu mengulang permasalahan itu ketika karakter kita pindah ke tempat yang baru. Jadinya terasa sangat repetitif.

Apa permasalahannya? soal kesabaran. Jadi ketika di Bandung, karakter kita dihadapkan kepada situasi yang menguji kesabarannya, lalu dia belajar dari nasihat orang, dan lalu ketemu solusi. Adegan berikutnya, pindah tinggal di negara lain. Dan formula konfliknya berulang kembali, walaupun seharusnya karakter utama sudah belajar tentang kesabaran itu di problem sebelumnya. Penonton awam mungkin gak akan masalah, apalagi karena film ini dihidupi oleh karakter-karakter menyenangkan, dengan pesan-pesan yang baik. Film ini bakal menang award cerita berbudi luhur (kalo ada). Tapi sebagai film, ini masih berupa pesan yang disampaikan berulang kali. Nonton ini, aku yang merasa harus belajar sabar.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for RANAH 3 WARNA

 

 

 

THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT Review

Dibuka oleh film meta, ditutup oleh film meta. Yup, sama seperti Chip ‘N Dale yang mengangkat kisah petualangan beneran dari aktor film kartun, film Unbearable ini juga begitu. Mengangkat kisah aktor yang harus ngalamin petualangan beneran. Aktor yang dimaksud adalah Nicolas Cage, yang di sini memainkan versi aktor dari dirinya sendiri. Karakter Nick Cage yang ia perankan dibentuk dari meme, gosip, isu, dan perjalanan karir ikonik yang ditempuhnya dalam real life. So yea, ini adalah film yang sangat lucu, bermain-main dengan karir aktor pemerannya.

Sutradara Tom Gormican tidak lantas membuatnya sebagai perjalanan nostalgia. Melainkan benar-benar mengolah cerita dari sudut pandang aktor Nick Cage. Bagaimana jika persona tersebut dijadikan karakter. Dimainkan langsung oleh Nicolas Cage hanya menambah lapisan di dalam karakter ini. Jika film harus bisa memblurkan antara fiksi dan realita, maka film ini garis tersebut tidak bisa lebih blur lagi. Penceritaannya dibuat ringan, sehingga tidak lantas ujug-ujug jadi  Birdman versi real. Lucunya, film ini membuat hal menjadi lebih besar lagi dengan membenturkan yang namanya film character driven, dengan film action. Dua tone ini meluncur mulus, dan ini membuktikan betapa Nicolas Cage benar-benar fluid dan versatile, di atas punya selera humor yang juga juara.

Tentu saja film bukan hanya tentang satu orang, walaupun basically build around ‘myth’ tentang dirinya. Film juga punya karakter-karakter lain. Dan di sini, semua karakter berhasil mencuri perhatian. At heart, film ini juga adalah tentang persahabatan. Nick Cage akan berteman dengan seorang yang ternyata berkaitan dengan kelompok mafia. Dan persahabatan mereka, yang involving mereka menggarap naskah film bersama-sama menjadi highlight yang bikin ini semakin menyenangkan untuk diikuti.  Jika kalian snob film, film ini akan menghibur tanpa ‘memangsa’ sel otakmu. Jika kalian suka film action heboh, film ini akan membuatmu lebih dari sekadar puas. Jika kalian suka Nicolas Cage, kalian akan treasure this movie forever.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE UNBEARABLE WEIGHT OF MASSIVE TALENT.

 

 

 

That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 


THE BAD GUYS Review

 

“Gives everyone a chance to show you who they are”

 

 

Bayi terlahir ke dunia dalam keadaan suci. Katanya sih, bagaikan kertas putih yang belum bertuliskan apa-apa. Masih kinclong banget. Namun dalam kurun hidupnya nanti, kertas tersebut akan cepat sekali ternoda. Penuh oleh catatan-catatan jelek yang ditulisnya sendiri. Si bayi gak bakal betah jadi orang suci. Dia akan mudah tergoda ke dark side. Orang jahat lebih keren daripada orang baik. Bandingkan saja karakter jahat di dalam film, yang biasanya lebih kompleks dibandingkan karakter baik yang cenderung annoying. Film yang karakter utamanya benar melulu terasa membosankan. Kita suka karakter yang bercela. Anak-anak cewek juga lebih suka pacaran ama bad boy ketimbang anak yang kalem. Jadi orang jahat dipandang lebih menarik, dan menguntungkan (kalo salah dan lantas viral – tinggal minta maaf!). Jadi mempertahankan ‘kertas’ bawaan lahir tetap putih itu susah, lantaran memang berbuat kebaikan lebih berat dan sulit untuk dilakukan. Kita actually harus belajar untuk menjadi orang yang baik. Kita harus belajar moral, agama, PPKn, Animasi-panjang debut sutradara Pierre Perifel memotret soal tersebut. The Bad Guys mengajak kita  merampok bank bersama hewan-hewan jahat, bertualang seru di dunia animasi sembari memperlihatkan struggle untuk menjadi orang baik itu begitu real.

Sebagai film heist, The Bad Guys actually banyak ‘mencuri’ dari film-film lain. Selain memuat banyak referensi dan trope-trope khas dari genre heist itu sendiri, nonton film ini terutama membuatku keingetan sama Despicable Me (2010) dan Zootopia (2016). Karena bermain di tema yang sama. Yakni tentang prasangka dan soal orang jahat yang harus berbuat baik. Geng Bad Guys terdiri dari Wolf, Snake, Shark, Tarantula, dan Piranha yang sudah bersahabat – merampok bank bersama-sama – sejak lama. Kiprah mereka sudah jadi legenda di kota. Semua orang takut kepada mereka. Untuk aksi puncak mereka, hewan-hewan antropomorfik ini berencana merebut Golden Dolphin, piala emas untuk orang paling dermawan di kota. Dalam aksi mereka, Wolf terpaksa harus menolong seorang ibu tua, membuat dirinya merasakan untuk pertama kalinya dipuji sebagai orang baik. Rencana mereka malam itu memang gagal, tapi Wolf yang tertangkap punya rencana lain. Wolf dan teman-temannya mengaku insaf, dan belajar jadi warga yang baik, padahal mereka masih berniat mencuri piala. Selama periode berpura-pura itulah, Wolf mulai mempertanyakan diri sendiri. Dia orang jahat atau orang baik. See, untungnya, pak sutradara Perifel tetap mengolah elemen-elemen ‘curian’ dari film lain tadi dengan baik. sehingga dia sukses mencuatkannya sebagai warna unik film The Bad Guys tersendiri.

Also, aku ingin mempersembahkan ulasan ini kepada the original Bad Guy, Razor Ramon (Scott Hall) yang telah berpulang beberapa bulan yang lalu

 

 

Punya karakter berupa hewan buas, yang ternyata baik, dan real antagonis yang berupa hewan yang biasanya dimangsa, The Bad Guys memang paling gampang untuk dikatain mirip Zootopia. Kedua film sama-sama membahas wujud fisik seseorang seringkali membuat mereka terlalu cepat di-judge oleh masyarakat. Dalam The Bad Guys, Wolf diceritakan sudah turun temurun dianggap sebagai orang jahat berkat kemunculannya di cerita-cerita klasik seperti pada cerita 3 Babi Kecil ataupun Little Red Riding Hood. Begitu pula dengan teman-temannya yang basically adalah hewan-hewan predator yang menakutkan. Soal prasangka atau prejudice film ini pada perkembangannya, mulai menggali ke tempat yang berbeda dari Zootopia. Para karakter hewan itu, mereka semua diceritakan jadi perampok karena mereka percaya itulah role mereka di masyarakat. Orang-orang enggak pernah ngasih mereka kesempatan jadi yang lain, maka jadi orang-jahat itulah yang mereka lakukan. Perbedaan pengolahan lantas semakin ditunjukkan film ini lewat treatment world-building ceritanya.

Jika dalam dunia Zootopia semua penghuninya adalah hewan yang bertingkah seperti manusia, maka dalam The Bad Guys ini, hanya karakter-karakter sentral yang berspesies hewan-antropomorfik. Mereka hidup bertetangga dengan manusia. Dan bahkan hewan-hewan lain seperti kucing dan guinea pig masih bertingkah seperti binatang kayak di dunia kita. Film tidak memberikan penjelasan terhadap hal tersebut secara blak-blakan.  Awalnya kupikir ini cukup aneh. Kenapa setengah-setengah. Ternyata ini bukanlah kealpaan film dalam menjelaskan. Tidak, dunia cerita ini tidak ada sejarah sci-fi yang menyebabkan sebagian hewan-hewan itu bisa pakai baju dan berbicara. Melainkan penyimbolan yang digunakan film untuk semakin mencuatkan perihal prasangka yang jadi tema cerita.  Karakter sentral perampok yang hewan buas – Wolf yang bicara penuh tipuan, Shark yang ahli nyamar, Piranha dengan aksen dan suka nyari ribut, Snake yang egois, hingga Tarantula yang jago ngehack – mereka semua digambarkan sesuai dengan stereotipe tertentu. Jadi bukan sekadar cocok dengan ‘sikap’ hewannya, melainkan juga mewakili karakter manusia yang sudah jadi stereotipe. Akan lebih aman dan more accessible untuk membuat karakter-karakter seperti demikian sebagai hewan ketimbang membuat mereka jadi manusia. Karena pasti bakal menimbulkan “wah, filmnya rasis nih” Bayangkan kalo Piranha digambarkan sebagai manusia yang berkebangsaan sesuai dengan aksen bicaranya. Dengan menampilkan mereka sebagai karakter hewan di antara manusia, film sebenarnya ingin menunjukkan secara halus kepada kita bahwa seringkali kita juga memandang sesama dengan penuh kecurigaan. Kita melihat fisik (yang biasanya memang dikaitkan dengan ras)

Maka bisa dibilang, Perifel memanfaatkan medium animasi untuk mengkorporasikan visinya menyampaikan tema dengan maksimal. Bukan sekadar lucu-lucuan hewan bisa ngebut-ngebutan dan mencuri. Film ini mengandung layer bahkan sejak karakterisasinya. The Bad Guys toh memang seketika memancing perhatian kita ke animasinya. Karakter-karakter yang disuarakan oleh jejeran bintang top seperti Sam Rockwell, Awkwafina, Craig Robinson, Marc Maron, Anthony Ramos juga tampak hidup dan sangat lincah oleh animasi bergaya ala komik; dengan shade pinggiran yang tebal sehingga literally mencuat. Tampilannya ini jadi sangat fresh, karena berbeda dari animasi tradisional. Hampir seperti campuran supermulus antara animasi 2D dengan 3D. Humor juga ditampilkan lewat visual, sebagai penyeimbang dari dialog-dialog yang konyol. Bagian aksi heist mungkin sedikit repetitif, tapi karena disuguhkan dengan gaya yang berbeda, sama sekali tidak terasa membosankan.

Film ini bahkan tidak butuh lagu Billie Eilish  untuk membuat persembahannya terkesan seru

 

 

Yang paling aku suka dari film ini adalah cara mereka menghandle tema yang kupikir bakal sama persis dengan Despicable Me. Yaitu soal cara ‘mengubah’ karakter protagonis yang perampok ini menjadi hero dalam cerita. Dalam cerita yang ditargetkan untuk penonton muda (khususnya anak-anak) biasanya ya tinggal ngasih karakter penjahat sebagai lawan dari karakter baik. Kalo karakter baiknya orang jahat, ya tinggal kasih karakter yang lebih jahat dan culas dan curang untuk jadi lawannya. Cara seperti ini cenderung untuk melemahkan kompleksitas yang menyusun karakter-karakter. Membuat narasi mereka jadi simpel. Dan memang dalam The Bad Guys ada karakter yang lebih jahat. In fact, ada beberapa pengungkapan yang terbuild up dan jatoh cukup ngetwist perihal karakter mana sebenarnya siapa, mereka baik atau tidak. Tapi naskah enggak melupakan saga atau plot karakter sentralnya. Keberadaan penjahat tidak lantas membuat geng protagonis kita jadi hero, jadi baik. Film ini terus menggali karakter mereka. Film benar-benar membuat mereka merasakan sendiri proses menjadi baik. Film benar-benar memberi ruang bagi karakter-karakter itu untuk memilih mereka mau jadi baik atau jadi jahat. Dengan kata lain, perkembangan karakter itu ada di sini.

Konflik antarmereka; persahabatan mereka yang dijadikan stake, ultimately dimanfaatkan film untuk mengenhance karakterisasi. Memperdalam bahasan di balik kejar-kejaran, rampok-rampokan, dan kekocakan belajar bertingkah baik. Tengok bagaimana film menghandle plot si Snake. Mungkin karakter sobat si Wolf ini yang paling ngena buat kita karena naskah benar-benar membangunnya dengan seksama. Di akhir cerita, Snake jadi baik dan gak egois itu kerasa earned banget karena progresnya itu kita rasakan, terbangun plot poin demi plot poin. Tema ngasih kesempatan kepada orang itupun tercerminkan dengan sempurna bukan hanya kepada Wolf, tapi juga pada banyak karakter lain.

Dulu Bang Napi di televisi bilang kejahatan ada karena ada kesempatan. Waspadalah, waspadalah. Film The Bad Guys menunjukkan, ternyata kebaikan juga seperti itu. Tercipta dari kesempatan. Berikan seseorang kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya, dan most of the time, seseorang itu akan menunjukkan yang terbaik dari dirinya. Jangan berprasangka dulu. Ya, berbuat baik itu sulit dan butuh kerja ekstra, maka sebaiknya jangan dipersulit lagi dengan menuduh hanya dari fisik atau dari kecurigaan semata.

 

 

Pepatah ‘Don’t judge a book by it’s cover’ sekali lagi terbuktikan oleh film ini. Bukan saja dari ceritanya, tapi juga dari eksistensinya. Pertama kali melihat trailer film ini di bioskop, kupikir bakal kayak animasi hura-hura yang biasa. Kekonyolan aksi perampokan saja. Catering untuk audience dengan berlebay-lebay. Tapi ternyata enggak. Selain satu-dua momen karakternya unnecessarily break the 4th wall, film ini ternyata terdesain sangat sempurna. Baik itu dari penceritaan, maupun tampilan visualnya. Animasinya hidup, sangat berlayer, persis seperti karakterisasi karakter-karakternya. Berlapis. Mereka semua actually punya plot dan perkembangan di balik aksi seru-seruan yang kocak. Sutradara Pierre Perifel tampak benar-benar memanfaatkan medium animasi sebagai media penyampai visinya. Dan dia gak segan-segan ngambil dari elemen film-film lain, untuk kemudian berusaha menggubahnya menjadi warna tersendiri.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BAD GUYS.

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian percaya orang-orang bakal melakukan yang terbaik jika diberikan kesempatan? Atau apakah manusia memang sudah hopeless gak bisa diharapkan untuk jadi baik?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

Top-Eight Serial Drama Netflix dengan Semangat Kartini

 

 

 

Bersyukurlah kita tinggal di era yang modern. Yang manusianya mulai banyak yang sadar dan berpola pikir progresif. Perjuangan Ibu Kartini untuk memuliakan derajat kaum perempuan mulai berbuah. Dunia perfilman yang dahulu dikaitkan dengan dunia milik laki-laki, kini tidak lagi. Banyak filmmaker perempuan yang mencuat. Karya film pun demikian. Sudah banyak sekarang film-film maupun serial TV yang mengangkat isu kesetaraan gender, yang menempatkan perempuan sejajar di kursi kemudi. Pokoknya Ibu Kita Kartini pasti tersenyum kalo diajak ke bioskop. Atau kalo lagi mager musim ujan ke bioskop, kita tinggal ajak Bu Kartini nonton di rumah, bersama keluarga.

Ya, kita juga mesti bersyukur tinggal di era dengan teknologi maju. Film dan serial TV berkualitas tinggal sejangkauan tangan. Banyak platform, seperti Netflix, yang mulai fokus ke membuat film dengan agenda feminis dan mengangkat perempuan sebagai sudut pandang utama. Dengan WiFi cepat, kita bisa nonton puas tanpa batas. Kayak kata salah satu provider internet dari Telkom Group; Internet menyatukan keluarga. Salah satunya, ya dengan tontonan.

Makanya,  mumpung lagi Kartinian, My Dirt Sheet ngumpulin daftar serial drama terbaik untuk dipakai ngabisin kuota internet keluarga kalian di rumah. Kenapa serial? Biar ngumpul dengan keluarganya lebih lama, dong! Nah, serial drama di daftar ini, sebagian besar adalah favoritku, dan kupilih sebagai terbaik untuk Hari Kartini karena benar-benar mengandung semangat perjuangan Ibu Kartini. Yang membahas tentang perempuan, dari sudut pandang perempuan.  Yang feminis, tapi tidak lantas agenda-ish.  Yuk, langsung kita simak!

 

 

8. NEVER HAVE I EVER (2020-2023)

Serial komedi coming-of-age remaja ini relatable bukan saja karena memotret kehidupan sekolah remaja perempuan kekinian, tapi juga relate bagi kita karena menampilkan representasi Asia, yang enggak stereotipe. Tokoh utamanya adalah Devi, anak India-Amerika, yang baru saja sembuh dari trauma berat akibat kematian ayah. Kini Devi berusaha menaikkan status sosialnya. Tentu saja bukan usaha yang gampang. Kebiasaan atau aturan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga asmara, jadi bentrokan pemanis kehidupan Devi.

Perjuangan Devi yang berusaha menikmati masa mudanya, sebagai remaja normal, melanggar pandangan Ibu memang mengingatkan kita kepada Kartini si burung trinil. Yang juga lincah dan gak mau ‘dikurung di sangkar’.  Serial ini menurutku memang cocok sekali ditonton oleh orangtua dan anak karena bisa membuka perspektif masing-masing. Serial ini tidak membuat karakter si remaja selalu benar, karena memperlihatkan konsekuensi. 

 

 

7. SELF MADE (2020)

Kartini memang berasal dari kalangan bangsawan. Beliau sempat mengenyam pendidikan (meski distop bapaknya), berteman dengan orang-orang Belanda, tapi Kartini selalu jadi dirinya sendiri. Berkulit kuning langsat di antara kulit putih pucat, tidak pernah kita dengar RA Kartini pengen tampil seperti orang Belanda. Kebaya tetap jadi pilihan pakaiannya. Soal fit in, bagi Kartini tidak pernah jadi soal dia mendapat tempat di antara bangsawan Belanda yang terpelajar. Melainkan lebih kepada dirinya memikirkan tempat kaum, dan bangsanya.

Perilaku Kartini yang demikian itulah yang terpikirkan olehku ketika menonton Octavia Spencer bermain akting dalam serial limited-drama Self Made. Merupakan cerita biopik Madam C.J. Walker, milyuner kecantikan yang berasal dari seorang tukang cuci. Tokoh perempuan dalam cerita ini berjuang melawan standar kecantikan dan rasisme dengan memegang teguh jati dirinya. Jadi diri kaumnya itulah berhasil dia tempatkan setinggi mungkin.

 

 

6. BLACK DOG (2019-2020)

Baru banget masuk Netflix awal bulan April, serial drama dari Korea ini memang lebih khusus bicara tentang kehidupan guru. Tapi bukankah Kartini juga seorang guru? Kartini mendirikan tempat belajar di rumahnya. Bersama adik-adiknya, Kartini ngajarin anak-anak kecil membaca dan menulis.  Sampai akhirnya beliau mendirikan yayasan khusus perempuan.

Karakter dalam Black Dog juga begitu.  Perempuan yang jadi guru pengganti  di SMA, tapi benar-benar memikirkan dan mendukung impian murid-muridnya.  Keren sekali menggambarkan hubungan guru-murid dan latar pendidikan (lengkap dengan politik di dalamnya!) Tapi sebenarnya, aku suka nonton ini karena ada Lee Eun Saem jadi salah satu murid, Itu loh, yang jadi Mi-Jin di serial zombie All of Us are Dead (2022). Aku naksir berat ama karakternya hihihi

 

 

5. UNBELIEVABLE (2019)

Salah satu semangat feminis Kartini adalah perempuan harus saling bantu. Harus saling dukung, Karena memang pada kenyataan, relasi kuasa itu ada. Dunia bisa sangat susah untuk mempercayai kata seorang perempuan. Inilah yang dipotret dalam serial kriminal Unbelievable. Gak ada yang percaya kalo perempuan muda di cerita ini adalah korban perkosaan. Adalah dua detektif perempuan yang berusaha untuk mengungkap kebenaran, dan menegakkan keadilan, both literally (yang salah memang harus dihukum) and figuratively (perempuan juga berhak mendapat perlakuan dan kepercayaan yang sama) 

Penyuka kisah detektif dan kasus kriminal pasti bakal betah nonton ini. Gak ada salahnya juga jika ini ditonton bareng keluarga.  Karena selain seru, konklusi yang dihadirkan juga benar-benar memuaskan. Bisa ngasih pelajaran juga, karena kisah dalam serial ini diangkat dari peristiwa nyata.

 

 

4. GILMORE GIRLS (2000)

Single Mother yang besarin anak seorang diri udah jadi staple bagi cerita-cerita bertema feminis. Bukan hanya film, serial juga. Misalnya yang populer itu ada Maid, terus When the Camellia Blooms. Aku masukin Gilmore Girls karena merupakan salah satu yang paling duluan mengangkat bahasan tersebut. Dan juga karena di serial ini, hubungan antara ibu dan anak remajanya yang juga perempuan lebih ditonjolkan.

Tema kemandirian, serta ‘perempuan’nya kerasa banget. Inilah yang bikin serial ini menonjol dan gak sekadar drama nangis-nangisan. Aku merasa serial ini kalo jadi orang, maka dia akan jadi R.A. Kartini. Tampak lembut dan tangguh secara bersamaan.  Di Amerika serial ini memang sangat populer, sampai dibikinkan sekuelnya, enam-belas tahun setelah serial originalnya kelar. Dan sekuel tersebut; Gilmore Girls: A Year in the Life (2016) masih digarap dengan sama respek dan menghiburnya.

 

 

 

3. NEW GIRL (2011-2018)

Ya, aku tahu ini entry yang sekilas tampak aneh. Tapi kalo dipikir-pikir, serial komedi persahabatan yang quirky ini memang berjiwa feminis. Jess, karakter utamanya, ngekos bareng tiga cowok asing di sebuah apartemen. Throughout enam season, mereka akhirnya jadi berteman akrab, dengan Jess jadi pusat interaksi mereka. Sering dibandingkan dengan Friends, serial ini actually juga relate sekali buat generasi milenial karena selain soal cinta dan persahabatan, juga membahas soal kerjaan, soal hidup di usia 30an – memenuhi ekspektasi orangtua dan lingkungan.

Nilai-nilai feminis yang diperjuangkan Kartini seperti kemandirian dan kesetaraan menjelma di dalam Jess dengan nada yang lebih ringan, dengan tetap terasa grounded. Serial ini bahkan juga memperlihatkan feminis dari perspektif laki-laki, yang diwakili oleh karakter-karakter teman Jess. Dan begitu-begitu, Jess juga seorang guru, loh!

 

 

2. GLOW (2017-2019)

Perempuan, seperti yang diperjuangkan Kartini, berhak mendapat pendidikan setinggi yang bisa dicapai laki-laki. Begitu juga dengan pekerjaan. Dunia bukan hanya milik laki-laki. Perempuan gak harus di dapur saja. Bisa kok jadi filmmaker, detektif, guru, dokter, dan bahkan pegulat.

Glow terinspirasi dari acara pro-wrestling beneran di tahun 80an, yang khusus menampilkan pegulat perempuan. Serial ini dalam kondisi terbaiknya adalah tentang menaklukkan male-gaze, khususnya di dalam industri hiburan. Perempuan dalam acara gulat bukan hanya objek untuk jual tampang dan bodi semata. Mereka bisa kuat-kuatan, mereka bisa perform, beraksi sendiri sebagai persona di atas ring. Satu episode favoritku adalah ketika karakter serial ini menolak skenario gulat yang harus ia perankan, karena rasis dan merendahkan perempuan.  Jadi mereka menulis ulang peran dan storyline di atas panggung. Bersama-sama mengarahkan acara gulat versi mereka, yang akhirnya terbukti tak kalah menghibur. Girl Power!!!

 

 

1. THE QUEEN’S GAMBIT (2020)

Ngomong-ngomong soal hal yang erat dikaitkan dengan dunia lelaki, The Queen’s Gambit bercerita tentang perempuan yang berhasil menjadi grandmaster catur (alias olahraga bapak-bapak), di usia yang tergolong masih sangat muda. Kemenangan Beth Harmon atas lawannya (yang tentu saja adalah pria-pria yang jauh lebih tua) diperlihatkan cukup ‘mengguncang’ dunia percaturan di masa itu, karena benar-benar telak membuktikan perempuan bisa lebih pintar daripada laki-laki. Serial ini juga menggali kenapa perempuan jago catur itu dijadikan berita yang sensasional, apakah itu berarti memang ada batas di antara dua gender dan masyarakat secara gak sadar mengakui keberadaan batas tersebut.

The Queen’s Gambit membahas persoalan gender dan kesetaraan dengan cerdas. Di balik tanding catur, kita akan dibawa menyelami psikologis Beth Harmon. Karena sebenarnya serial ini adalah tentang karakter tersebut menyadari kemandirian – menyadari apa artinya sebagai perempuan di dunia. Seperti cerita-cerita terbaik, serial ini tidak menggambarkan karakternya sehitam putih papan catur. Duh, gara-gara ini aku jadi kepingin lihat pertandingan catur antara Beth melawan Ibu Kartini.

 

 

 

Delapan serial drama dalam daftar rekomendasi ini, semuanya udah bisa disaksikan di Netflix. Tinggal klik.  Kalo dulu Ibu Kartini bilang “Habis gelap terbitlah terang”, maka sekarang aku bilang habis sudah masa kita berbingung-bingung nyari akun yang jualan Netflix di reply komenan sosmed orang. Sekarang terbitlah kemudahan. Karena buat langganan Netflix, sekarang kita bisa sekalian ama paket IndiHome!

Netflix via IndiHome tersedia dengan mudah dan praktis karena telah tergabung dalam satu tagihan bulanan.  Ada dua paket yang bisa dipilih, yaitu paket dengan kecepatan 50mbps dan paket 100mbps (bonus 100 menit telepon!) Sementara untuk pelanggan Telkomsel, Netflix dibundling dengan kuota data Telkomsel. Jadi gak perlu pakai kartu kredit. Hiburan tanpa batas IndiHomeXNetflix ini langsung bisa dinikmati setelah melakukan aktivasi. Pelanggan lama cukup klik link di email yang terdaftar di aplikasi myIndiHome. Untuk pelanggan baru, tinggal ke Nonton Puas Tanpa Batas. 

Yuk aktifkan supaya bisa nonton serial-serial di atas, dan tentu saja banyak film dan serial lainnya. Semoga ke depan Indonesia juga gak mau kalah dan bikin serial dengan spirit Kartini supaya bisa ditonton bersama keluarga, ya!

 

 

So, that’s all we have for now.

Apa film atau serial tentang perempuan favorit kalian?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…

 

 

 

 

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

TURNING RED Review

“No band-aids for the growing pains”

 

 

Pertumbuhan adalah proses yang mengerikan. Secara fisik, tubuh kita akan mengalami perubahan. Hal itu saja sudah mampu untuk menjungkirbalikkan mental, yang akhirnya bisa mengubah seseorang secara total. Ingat anak perempuan periang teman kelompokmu di TK? Well, jangan heran kalo dia gak bakal pernah bicara lagi kepadamu (atau mungkin kepada semua orang) saat remaja nanti. Atau anak cowok yang supersopan dulu, bisa berubah jadi berandal nyaris tak dikenali lagi saat udah di bangku SMP. Insecure dalam bertumbuh remaja adalah pelaku dari semua perubahan itu. Melihat tubuh kita berganti; kok di situ mendadak tumbuh bulu, kok suaraku jadi aneh, kok aku bertambah tinggi (or not, while your friends all towering up) Siapa yang bisa membantu kita melewati semua ini? Teman-teman yang bakal ngeledek? Orangtua yang gak bakal ngerti masalahnya, dan malah bikin tambah memalukan? Setiap orang akan melewati fase bertumbuh yang mengerikan itu, dan itulah sebabnya kenapa film animasi Turning Red debut film-panjang sutradara Domee Shi jadi salah satu tontonan coming-of-age yang benar-benar tepat sasaran.

Bagi penonton cilik yang baru akan mengalami, film ini akan jadi pembimbing. Buat penonton dewasa, film ini bakal jadi nostalgia – serta bisa dijadikan panutan terhadap gaya parenting orangtua. Turning Red ceritanya tentang anak 13 tahun alias anak mulai gede, dengan penekanan pada hubungan antara si anak dengan teman-teman, dan juga dengan ibunya. Jadi anak ini, si Meilin, adalah tipikal anak cerdas yang jago mata pelajaran apapun di sekolah. Tapi dia bukan tipe anak pendiam (salah satu keunikan penulisan film ini), Meilin orangnya rame banget. Bayangkan campuran antara Bart dan Lisa Simpson (film ini actually ngasih nod ke The Simpsons lewat penamaan dua patung rakun di rumah Meilin). Meilin gak populer amat, tapi at least dia punya teman segeng, dan mereka ngelakuin apapun bersama. Termasuk ngestan grup boyband terkenal. Jadi inilah rahasia Meilin. Dia sebenarnya gak hobi banget jadi nomor satu, dia hobinya hang out dan geek out bareng genk. Prestasi Meilin cuma bentuk responsibilitynya kepada ibu. Di luar rumah, Meilin berusaha menjadi dirinya sendiri. Tapi hal tersebut jadi semakin susah, karena Meilin tau-tau berubah wujud menjadi panda merah, setiap kali dirinya excited. Termasuk saat mikirin boyband dan anak-anak cowok! Dan tampaknya hanya ibu yang tahu cara melepaskan Meilin dari ‘kutukan’ tersebut.

Dari tampilan saja film ini langsung terasa keunikannya. Shi menggunakan estetik anime sebagai ruh animasi 3D. Karakter-karakternya digambar dengan gaya anime. Mata yang besar dan (kelewat) ekspresif. Warna-warna yang cheerful. Gaya berceritanya pun mirip style anime. Dengan cut to cut yang cepat sehingga spiritnya kerasa kayak kartun 90an yang biasa kita tonton di tv. Elemen transformasi ajaib Meilin menjadi Panda Merah juga berasa anime banget. Shi bahkan ngerender kota Toronto asli sebagai panggung cerita film ini, kayak yang biasa dilakukan oleh anime yang pakai lokasi beneran. Dari segi cerita dan bahasan, nonton Turning Red ini emang aku ngerasa vibe ala film-film Studio Ghibli. Film ini juga menyelam lebih dalam ke makna di balik perubahan jadi panda merah. Eksposisi dilakukan dengan fantastis, sembari tetap berusaha kental merepresentasikan budaya Asia, khususnya Cina.

redTurning-Red-screencap-Mei-and-friends-r
Salah satu rejected idea untuk judul film ini adalah My Neighbor Toronto

 

 

Itulah kenapa jadi banyak juga orang yang gak suka ama style film ini. Gaya anime memang gak semua orang suka. Apalagi kalangan penonton barat. Mereka punya gaya sendiri untuk kartun atau animasi over-the-top. Dan bagi mereka, kartun-kartun tersebut bukan Pixar. Salah satu penyebab Pixar di atas, karena gaya yang berbeda dari kartun-kartun tersebut. Makanya, begitu ada film Pixar yang tampil dengan style yang berada dalam spektrum over-the-top, banyak yang gak bisa langsung nerima. Dan disalahkanlah karakter-karakter cerita yang menghidupi gaya/style itu.

Karakter-karakter 13 tahun itu – Meilin dan teman-temannya – memang seringkali annoying. They loud, obnoxious, lebay, goal mereka cuma pengen nonton konser boyband. Aku juga jengkel sih. Tapi bukan berarti mereka tidak bisa relate dengan kita. Relate kan gak harus in sense sama-sama ngefans boyband (walaupun film ini toh memang juga menyasar nostalgia demam boyband seperti Backstreet Boys, NSYNC, atau Westlife di awal 2000an). Yang jadi ‘boyband’ku dulu adalah pemain smekdon, gadis sampul, power rangers, dan bahkan hal sesimpel komik dan video game. Itu hal-hal yang aku suka, tapi dilarang banget. Jadi aku main game, baca komik, atau nonton smekdon selalu diam-diam. Aku saat itu bahkan masih ‘closeted’ ngefans gadsam. Melihat Meilin mengejar apa yang ia suka, apa yang menurutnya paling penting saat itu, di belakang ibunya yang melarang, bukan saja membawaku ke masa-masa dulu, tapi sekaligus membuatku jadi peduli kepadanya. Ini ngajarin anak mengenali dan mengejar hobi atau passion atau kegemaran mereka. Ini ngajak anak yang nonton untuk merayakan diri. Soal annoying, kalo dipikir-pikir lebih menjengkelkan sebenarnya anak yang gak punya kesukaan ketimbang yang seperti Meilin ini. Sehingga yang jelas, Meilin ini beresonansi sekali dengan masa-masa umur segitu. Terutama buat kita yang sesama orang asia. Karena, tahulah, ‘lawan’ kita dengan Meilin sama. Asian parent.

Udah hampir jadi meme sekarang, persoalan ‘asian parent’. Orangtua dengan standar tinggi. Orangtua yang menuntut anaknya untuk selalu nomor satu. Ya itu nilai bagus, ataupun disiplin. Orangtua yang seperti alergi melihat anaknya bersenang-senang. Orangtua yang terlalu protektif sehingga gak sadar telah bikin malu anaknya di depan umum. This movie gets that right dengan ibu Meilin. Si ibu ini lebih suka nyalahin orang lain ketimbang benar-benar melihat Meilin sebagai person. Film lebih lanjut menelisik parenting semacam ini dengan tidak membuat masalah terbatas pada Meilin dan ibunya. Melainkan hingga ke neneknya. Turun-temurun perempuan dalam silsilah keluarga Meilin punya masalah dengan kutukan panda merah, yang di sini jadi melambangkan bagaimana parenting seperti itu telah mengakar. Di cerita ini, Meilin kini dihadapkan pada pilihan menyingkirkan panda merah dan meneruskan siklus ibu-anak yang tumbuh nelangsa, atau katakanlah berontak dan embrace ‘my panda, my choice’. Jadi film ini pada kadar tertentu pasti akan relate. Namun aku apresiasi sekali film ini, karena selain relate, juga nunjukin side yang aku gak tahu. Yang boys gak akan pernah takutkan. Yaitu ‘turning red’ itu sendiri.

Pubertas, yang khusus perspektif cewek. PMS-lah yang disimbolkan ke dalam berubah jadi panda merah. Film dengan gamblang menyebut ini saat adegan pertama kali Meilin berubah wujud. Kehebohan growing up yang gak bakal dialami laki-laki (walau sunat bisa jadi counterpart yang imbang). Tapi yang jelas, dengan memasukkan soal itu (again, film ini jadi seperti anime yang memang lebih berani ngetackle persoalan ‘pribadi’ dibanding animasi lain), berarti film ini memang benar-benar kuat di sudut pandang cewek tersebut. Film ini juga jadi ngingetin aku sama Yuni (2021). Meilin di Turning Red ini rasanya kayak versi yang lebih imut-imut dari Yuni, like, Meilin pun hanya punya teman-teman gengnya. Dalam circle gengnya itulah Meilin bisa bebas berekspresi. Bernyanyi bersama adalah cara mereka untuk saling konek. Malahan, Meilin bisa mengendalikan transformasinya bukan karena mengingat ibu, tapi justru karena mengingat persahabatan teman-temannya.  Seingatku, film ini gak ngeresolve hal tersebut. Ibu kayaknya gak pernah tahu Meilin berbohong soal mengingat dirinya. Dan ini mungkin cara film menekankan poin bahwa bagi perempuan memang selalu teman-temanlah yang jadi penawar dari pains of growing.

Seperti kata lagu Alessia Cara, gak ada perban untuk growing pains. Melainkan suka duka bertumbuh dewasa itu ya dijalani saja. Kita akan menjalani itu bareng teman-teman ‘sependeritaan’. Bukan dengan orangtua. Karena bagaimana pun juga, anak dengan orangtua akan berpisah jalan. Anak bisa – dan kemungkinan besar akan – tumbuh berbeda dari yang diinginkan dengan orangtua.

 

redfirst-trailer-for-pixars-turning-red-which-was-clearly-inspired-by-teen-wolf
Satu lagi rejected idea untuk judul film: PMS (Panda Mayhem Syndrome)

 

Bicara soal menjadi diri sendiri – bicara soal identitas, kalo dipikir-pikir, kenapa ya cerita seperti ini selalu gak benar-benar ada di ‘habitat’ aslinya. Identitas Meilin adalah seorang Cina yang terlahir dan besar di Kanada. Film Crazy Rich Asians, The Farewell, hingga Shang-Chi; karakternya selalu putra/i etnis yang lebih kritis dibandingkan dengan generasi older yang lebih tradisional. Apakah memang pandangan itu baru bisa terbentuk dengan adanya benturan dua culture dalam satu individu? Like, karena ada pandangan barat yang lebih memajukan individual, pandangan timur terguncang, dan baratlah yang cenderung ‘jawaban terbaik’. Aku gak tau juga, apakah kalian punya pendapat soal ini? Let all of us know di Komen yaaa

Yang jelas, kalo soal identitas, yang menurutku goyah di film ini adalah soal latar tahunnya. Kita tahu cerita ini bertempat di tahun 2002. Kita lihat ada tamagotchi, ada lagu-lagu yang beneran kayak lagu tahun segitu, Namun overall tingkah anak-anak muda penghuninya, bahasa percakapan mereka, sering kali terdengar kayak kekinian. Phrases yang mereka gunakan tidak benar-benar terdengar nostalgic, dan lebih sering mereka kayak anak jaman sekarang. Mungkin di situlah film menarik garis kerelevanan. Tapinya lagi aku jadi kepikiran kenapa cerita ini harus di tahun 2002, kenapa gak dibikin di masa kini saja. Kuharap alasannya gak hanya sekadar untuk personal nostalgia saja. 

 

 

Orang bisa berubah jadi panda ternyata mampu jadi kemasan cerita coming-of-age yang unik dan menarik. Animasinya looks good, dan banyak elemen yang ngingetin sama anime 90an. Meskipun penyimbolan panda merah yang mengandung banyak arti agak sedikit jadi terlalu sederhana oleh final act, tapi secara keseluruhan film ini berhasil memuat gagasan yang magical dengan cukup baik ke dalamnya. Kadang aku bingung juga, tadinya Panda Merah itu untuk melindungi keluarga dari kejahatan, tapi kemudian berubah jadi soal pubertas, dan lalu jadi kayak superpower yang bisa dibangkitkan kapan saja, tapi konsep yang sedikit kurang kuat tersebut tidak berdampak terlalu banyak ke dalam gagasan yang diangkat. Film ini tetaplah sebuah pengalaman relate yang hangat. Dan ngajarin banyak, terutama soal ibu dengan anak perempuannya yang beranjak dewasa.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for TURNING RED.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SING 2 Review

“Go big or go home”

 

 

Koala Buster Moon telah menyelamatkan teater di kota kecilnya. Dia melakukannya dengan menyelamatkan bakat-bakat di sana lewat kompetisi bernyanyi. Johnny si gorila, Rosita si ibu babi, Ash si landak rocker, Gunter si babi energetik, Meena si gajah pemalu; Buster Moon membantu mereka semua menemukan suara masing-masing. Sekarang, bertahun-tahun menikmati kesuksesan kecil mereka, Mr. Moon siap untuk mengejar kesuksesan yang lebih besar. Dia pengen mereka manggung di kota, di panggung yang lebih ternama. Dan semenjak seorang (err… tepatnya seekor) kritikus ngelepehin pertunjukan teater mereka, Moon jadi makin napsu untuk membuktikan diri. Nekat saja, dia memboyong para talent andalannya ke kota. Masuk gitu aja ke audisi di depan produser gede Jimmy Crystal si serigala putih yang ruthless, dengan persiapan yang minim. Bakatnya sendiri; sepik-sepik, memang berhasil membuat mereka dilirik. Dikasih slot mempersembahkan pertunjukan sendiri. Tapi pertaruhannya berat. Apalagi Buster Moon sama sekali belum nulis apa-apa tentang show musikal sci-fi yang ia janjikan, ataupun sama sekali tidak mengenal dan bisa menjamin singa rocker legendaris yang telah lama mengasingkan diri bisa hadir dan manggung bersama mereka semua!

Sutradara dan penulis naskah Garth Jennings paham ke mana harus melihat ketika ingin mengangkat cerita tentang dunia pertunjukan. Cerita tentang bakat dan menggapai mimpi digunakannya sebagai pondasi dalam film Sing yang pertama (2016) Di film sekuelnya ini, Jennings membangun cerita dari perjuangan ‘menjual’ bakat, bagaimana mengapitalisasi kesempatan. Sing 2 punya celetukan-celetukan kecil soal bisnis pertunjukan. Dan sebagai orang yang gak in-touch sama lagu-lagu populer (apalagi lagu kekinian), tema bisnis pertunjukan itulah yang lebih mudah untuk kunikmati saat menonton animasi hewan-hewan anthropomorphic ini. 

singsing-2
P.T. Barnum dunia satwa

 

Sebagai kreator, sebagai produser, Buster Moon selalu punya jiwa oportunis yang bisa membuat dia kadang tampak sebagai orang jenius, dan kadang juga tampak sebagai produser nekat yang gak-bener. Moon berjalan di antara garis ini, dan somehow suara Matthew McConaughey terasa cocok untuk menghidupkan karakter yang ada di posisi kayak gini. Cukup berwibawa dan terdengar genuinely care untuk jadi leader, dengan sedikit ‘nada’ ngambang yang membuatnya terdengar ‘berbahaya’, in sense that he is talk first. Moon jadi protagonis yang dapat kita pedulikan pada akhirnya karena dia adalah karakter yang terus ngepush kesempatan untuk dirinya sendiri, dan juga demi orang lain. Dia ada di situ untuk memastikan bakat-bakat terdengar dan menampilkan pertunjukan hebat. Kita bisa relate karena tentu kita juga pengen didengar. Di film ini, Moon juga mewakili kita yang memang sering harus berkompromi jika ingin ‘nampil’. Di samping permasalahan Moon harus live it up janji-janji palsunya (janji yang terpaksa ia ucapkan hanya supaya mereka bisa nampil), Sing 2 juga menyeletuk soal titipan studio. Seperti misalnya, Moon harus ngecast anak produser ke dalam pertunjukan teaternya walaupun si anak itu gak bisa akting.

Karena sekarang udah kayak, bakat itu gak penting lagi. Yang penting adalah marketable. Pihak studio akan menilai talent dari apakah ada dari mereka yang bisa diuangkan. Membuatku jadi teringat sama permasalahan kontes-kontes nyanyi/bakat. Peserta akan bela-belain audisi walaupun antrinya panjang sekali. Hanya supaya kemampuan mereka dinilai oleh segelintir juri sebagai bagian dari acara tivi. Acara yang sudah jadi rahasia umum ada storyline dan segala macamnya. Those shows are never just about talent searching. Mereka sebenarnya hanya mau menjual cerita lucu, cerita sedih, atau cerita keberhasilan dari peserta untuk show televisi. Ratings. Bakat dibisnisin. Mereka seharusnya bernyanyi saja, rekam sendiri saja, sepuas hati. Bikin band sendiri. Terus main dan asah kemampuan. Enjoy talent sembari mempertajamnya. Inilah yang berusaha dilakukan oleh Moon. Dia ingin ngasih tempat untuk talent-talent, tapi harus berhadapan dengan studio yang mengecilkan mereka.

Tentu memang benar, to make it big, we cannot sell ourselves short. Kita harus ngepush, menantang diri sendiri. Nampil di panggung yang lebih besar, so to speak, harusnya dijadikan tantangan untuk menjadi lebih baik. 

 

Padahal mengusung tema itu, tapi film ini kasiannya tampil ironis. Studionya clearly enggak mau ‘memberatkan’ film dengan penggalian itu. Studionya clearly hanya melihat Sing pertama sukses berkat cover lagu-lagu populer. Maka, Sing 2 hadir juga lebih fokus ke lagu. Karakter-karakternya jadi sekadar diadakan saja. Mereka diberikan plot tipis, dengan journey ke arah pembelajaran yang sama singkatnya.

Johnny, misalnya, dia harus belajar menari, di bawah ajaran koreografi profesional yang strict. In the end, semuanya ya salah si pengajarnya. Rosita, merasa tersingkirkan ketika dia digeser dari peran utama, karena dia yang takut ketinggian tidak sanggup melakukan adegan terjun bebas dan terbang di luar angkasa. Konflik pribadi/psikologisnya ini tidak dibereskan lewat pengembangan yang bertahap. Melainkan beres gitu aja dalam satu adegan. Meena punya masalah beradegan romantis, karena dia belum pernah pacaran. Belum kenal cinta. Solusi naskah untuk ini ya gampang aja. Tau-tau di luar ada gajah simpatik, jatuh cintalah Meena. Gunter, dan Moon, mereka nulis cerita on the way, dengan Gunter dengan kocak selalu mengubah-ubah situasi pada narasinya setiap saat. Mereka tidak punya momen kompromi atau apapun yang mengisyaratkan pembelajaran team work atau semacamnya. Permasalahan Moon menggarap show dari ide spontan dibuat terlalu gampang, they just made it. Sehingga pokok tema yang diangkat di awal jadi gak kena. Permasalahan studio ‘jahat’, sehingga kini mereka mengorbitkan diri sendiri, menjadi terlalu sederhana. Dengan sedikit, bahkan nyaris tidak ada pembelajaran yang dialami. Setidaknya, tidak ada yang mengajak penonton terinvolved.

singintro-import
Yang namanya Gina bukan si gajah, tapi Suki si kritikus lol

 

Cukup banyak diberikan porsi adalah tentang Ash yang berusaha membujuk Calloway – si singa legendaris – untuk kembali manggung. Relationship mereka ini bakal jadi hati film, jika memang dibahas lebih mendalam. Ash sudah seperti berkonfrontasi dengan dirinya dari film sebelumnya, dan Calloway juga punya konflik yang mudah menyentuh emosi kita semua. Namun bagian yang harusnya bisa jadi plot utama kedua film ditampilkan terlalu telat. Dan walaupun cukup banyak, tapi melihat dari bagaimana bagian mereka diposisikan – seringkali seperti selipan di antara adegan-adegan persiapan show – sepertinya studio memang menolak untuk menonjolkan ini. Sama seperti persoalan plot masing-masing karakter tadi, studio seperti gak mau penonton lebih fokus ke meresapi drama-drama itu. Studio maunya penonton nyanyi-nyanyi aja.

Bukannya mau nuduh, hanya saja, memang jadi terasa seperti studio gak percaya kalo penonton anak-anak akan bisa menyelami perasaan karakter. Dan bukan hanya film ini, banyak film lain yang seperti merasa mereka perlu ‘melindungi’ penonton (dan bukan hanya anak-anak!) dari real emotion. Film Backstage baru-baru ini contohnya. Seolah real emotion itu momok yang bikin film jadi berat. Seolah real emotion itu bahaya untuk hiburan penonton. Padahal kalo dipikir-pikir, ngasih cerita yang soulless kayak gini, yang hanya berisi lagu-lagu supaya happy, justru lebih mengkhawatirkan. Menumbuhkan penonton yang gak mau memikirkan perasaan for the sake of hiburan.

Salah satu kritikanku untuk film pertama Sing adalah kurang banyak lagu original. Film ini ‘menjawab’ itu dengan melipatgandakan jumlah lagu-lagu populer. Sebenarnya enggak masalah jika lagu-lagu itu adalah penampilan para karakter di panggung show mereka. It’s okay kalo gimmick franchise ini memang pertunjukan musikal dari karakter hewan yang mengcover lagu asli dari dunia kita. Aku suka kok, final show film ini. Terutama pas Halsey nyanyiin lagu Could Have Been Me. Dibikinnya lagu rock itu jadi kayak pop, yang buatku masih keren dan worked (walau greget dari lirik “Wrrraapped in your regret” dari vokalis The Struts tetap tak-bisa tergantikan). Akan tetapi, film kali ini juga lebih banyak menggunakan lagu cover untuk adegan-adegan yang gak perlu ada lagunya. Nyaris setiap ada adegan baru, film akan memutar lagu populer. Mereka juga bermaksud lucu-lucuan dengan penempatan lagu-lagu itu. Tapi ya jadinya annoying sekali. Film udah jadi kayak klip musik ketimbang cerita.

 

 

Lagu-lagu selingan itu jadinya mendistraksi. Karena memang untuk distraksi itulah film memasukkan banyak sekali mereka. Film gak mau penontonnya merasa berat atau bosan oleh cerita. Apalagi ini film anak dengan tema bisnis atau panggung hiburan. Jadi film merasa perlu untuk masukin musik populer sepanjang waktu. Lagipula bukankah lagu-lagu pop itu yang bikin film pertamanya laku? See, ironis film ini sendiri lebih mikirin jualan. Menjadikan bakat menyanyi dan desain karakternya yang lucu tidak sekalian sebagai penghantar cerita dengan real emotion. Film ini bisa menjadi keduanya secara berimbang, tapi memilih untuk jadi dangkal. Jadi nyanyi-nyanyian nostalgia semata. Cerita dan pembelajaran karakternya dibiarkan sederhana saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SING 2.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana menurut kalian tentang ajang-ajang pencarian bakat di televisi?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2021

 

Pertama-tama (biarin deh kayak orang pidato) aku mau ucapin maaf dulu karena tahun 2021 aku cuma sedikit sekali ngereview film. Total hanya 110 film yang terulas, padahal banyak yang rekues review beberapa film, ampe beberapa kali. Tapi aku selalu nontonnya telat, dan kemudian ketinggalan lantaran mulai banyak film yang keluar.  Sementara bioskop, di tengah tahun sempat buka, lalu tutup, dan rame lagi di akhir. Dan aku honestly gak bisa langsung ikut kembali ke bioskop karena paling males harus install-install aplikasi. Jadi, ya maaf kalo kalian yang bolak-balik ngecek ke blog ini untuk bahas soal film terbaru, dan kecewa ngeliat gak ada reviewan.

But also, aku mau terima kasih sama kalian-kalian yang masih mau-maunya ngecek ke blog ini. Meskipun reviewnya tidak hadir secepat biasanya, tidak sebanyak biasanya. Terutama sih, terima kasih karena masih peduli sama film. Masih tertarik untuk membahas dan ngomongin film, for the sake of the movies themselves. Bukan sekadar untuk asik-asikan atau keren-kerenan diri sendiri. Masih hobi berbondong-bondong meramaikan bioskop. Ataupun begadang demi nonton special screening di komputer.

Jadi, untuk tidak memperpanjang mukadimah (tuh kan jadi beneran kayak pidato Pak RT!), langsung saja disimak list delapan film teratas pilihan My Dirt Sheet. Walaupun sedikit, kompetisi kali ini tidak kalah ketat. Honorable Mentions kukurangi lagi dari 15 kini menjadi hanya 12 untuk membuat daftar ini tetap menarik. Dan perlu diingat, teratas di sini maksudnya memang terbaik, tapi bukan ‘terbaik’ terbaik. Melainkan ‘terbaik’ according to me, baik itu sebagai tontonan hiburan, tontonan bergizi, ter-relate ke diri sendiri, dan bahkan sebagai komposisi list yang menarik. Yea, singkatnya, subjektif. Film kesukaan kalian gak kesebut? Well, kalo ternyata aku sudah nonton, ya tinggal kita obrolin di komen. Kalo aku belum nonton? you can convince me untuk menyaksikannya segera. (Kecuali favorit kalian itu adalah Eternals atau Penyalin Cahaya; alias yang ada rilis di Januari. Mereka kubikin bersaing di 2022 saja).

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Censor (psikologikal horor yang dibikin sebagai tribute untuk film-film horor jadul yang gore dan nasty abis. Disturbingnya lipat dua!!)
  • Last Night in Soho (horor penuh gaya, dengan duo pemain yang cakep. Aku merasa relate banget karena pernah bikin film pendek dengan konsep cermin yang serupa)
  • Minari (drama keluarga yang ingin sukses di rantau ini sangat menyentuh, dan somehow menginspirasi)
  • Saint Maud (begini nih kalo halu sama iman dan kepercayaan!!)
  • Spider-Man: No Way Home (experience nonton paling gila yang bisa kita rasakan!)
  • Stillwater (meski diwarnai kontroversi, tapi ini adalah drama dengan konteks karakter dan politik sangat kuat. Plus ada relationship figur ayah dan anak yang sangat heartwarming)
  • The French Dispatch (film tapi sebenarnya adalah majalah! bingung kan?)
  • The Green Knight (dongeng ksatria pengecut yang diceritakan lewat visual yang magis dan breathtaking)
  • This Is Not a Love Story/Bukan Cerita Cinta (hidden gem di perfilman Indonesia. Dimainkan dengan sangat natural)
  • tick, tick…BOOM! (penampilan akting keren Andrew Garfield di musikal paling relate; siapa sih yang gak galau sama umur?)
  • Till Death (ku sangat surprise sama Megan Fox dan film ini)
  • Titane (Kucumbu Tubuh Indahku versi cewek, dan versi lebih brutal)

Serta, Special Mention marilah kita panjatkan ke hadirat The Medium, yang pada 2021, ulasannya paling banyak dibaca di My Dirt Sheet. Dan kepada The East yang mecahin rekor view video ulasan terbanyak di Youtube My Dirt Sheet.

 

Dan, inilah TOP-EIGHT MOVIES 2021!!

 

 

 

8. THE SUICIDE SQUAD

the-suicide-squad-2021-banner-art-8k-du-1366x768

Director: James Gunn
Stars: Idris Elba, John Cena, Margot Robbie
MPAA: Rated R for strong violence and gore, language throughout, some sexual references, drug use and brief graphic nudity
IMDB Ratings: 7.3/10
“Rats are the lowliest and most despised of all creatures, my love. But if they have purpose, so do we all.”

James Gunn actually did the impossible: Ngasih perspektif dan development kepada segitu banyak karakter! Dan dia melakukan itu tetap dengan penuh gaya.

Gak ada karakter yang gak berguna, sekalipun mereka mati, film memberikan sesuatu kepada mereka sehingga kita mengingatnya. Gunn actually memulai dengan swerve, tapi itu sama sekali tidak menghambat ataupun terasa seperti kecohan yang ngebecandain kita. Melainkan dilakukan dengan bersenang-senang dan efektif sebagai pengeset mood pada naskah. 

The Suicide Squad jadi salah satu film paling rame seantero 2021. Aksi-aksinya brutal (karena Gunn enggak shy away dari kenyataan bahwa protagonis ceritanya adalah orang-jahat semua), karakternya unik (grup protagonisnya menarik semua, tidak ada satupun yang satu dimensi, tidak ada satupun yang cuma ‘receh’), dialog-dialog kocak, dan visual yang benar-benar tepat mengenai estetik komik.

My Favorite Scene:
Dari Rat Girl yang steal the show hingga ke Polka Dot Man yang melihat ibunya di mana-mana, film ini berjalan cepat dengan nampilin begitu banyak adegan memorable. Favoritku adalah adegan ketika the squad menyerbu Jotunheim. Berantem dengan latar hujan itu sungguh ngasih intensitas dan jadi panggung yang menarik. Kreativitas Gunn kayaknya keluar semua di situ!

the-suicide-squad-rain

 

 

 

 

 

 

7. BLOOD RED SKY

AAAABdZVhCiwnfZ0fJKLgSYtsGUgJ2KE9OoYPQW7QzR1PdpiHsMbSJFPleDByWj7fCWs-8cdvUFE5ns2OoIkWcHBg8dl8LJREa4gFLKwIsZhvK028a3g0K8EbyTqrSa5fg

Director: Peter Thorwarth
Stars: Peri Baumeister, Carl Anton Koch, Alexander Scheer
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 6.1/10
“Did you drink blood?”

Criminally. Underrated.

Blood Red Sky adalah campuran dari thriller pembajakan pesawat, teror di ruang tertutup, drama seorang ibu, dan juga cerita tentang vampir. Dan walaupun si ibu itu adalah vampir yang berusaha menolong anaknya dari teroris, cerita tidak pernah membuat semuanya mudah. Intensitas selalu naik pada setiap adegan, karena film terus saja memberikan rintangan-demi rintangan. Semua itu berkumpul menjadi sajian mendebarkan, horor yang paling aku ingat sepanjang tahun, sementara juga menyentuh lewat perjuangan ibu terhadap anaknya.

Dewasa ini, horor udah jarang yang berimbang kayak gini. It’s either terlalu artsy, atau terlalu campy dengan jumpscare dan segala macam kekonyolan. Blood Red Sky tampil seperti horor dari era yang lalu. Yang bisa bikin kita duduk tegang, meringis oleh kekerasannya sangat eksplisit, jengkel setengah mati oleh villain yang over-the-top, sambil memikirkan psikologi di baliknya. Dan akhirnya terenyuh oleh hatinya. Coba deh ajak ibumu nonton bareng ini di Hari Ibu

My Favorite Scene:
Hubungan ibu dan anak jadi denyut emosi film ini. Momen paling sedih buatku saat Elias berusaha ngasih comfort dengan sesantai mungkin ke ibunya, menjaga dari matahari, ibunya yang sudah hampir kalah dalam perjuangan melawan naluri zombie, fully knowing bahwa berkat perjuangan berat ibunya itulah mereka masih hidup pagi itu

1ca4bf_f45e2b496622447b8da679b6db4aa851_mv2

 

 

 

 

 

6. THE FATHER

The-Father

Director: Florian Zeller
Stars: Anthony Hopkins, Olivia Colman, Imogen Poots
MPAA: Rated PG-13 for some strong language, and thematic material
IMDB Ratings: 8.3/10
“There’s something doesn’t make sense about this. Doesn’t make sense.”

Dari ibu dan anak laki-lakinya, kita beralih ke cerita tentang ayah yang bikin bingung anak perempuannya. Karena si ayah ini mengidap alzheimer, yang perlahan semakin parah. Membuatnya lupa bukan hanya letak jam tangannya, melainkan siapa dirinya, di mana dan kapan dia berada sekarang.

Tahun lalu ada film Relic, yang juga masuk Delapan-Besarku, yang juga bercerita tentang penyakit mengerikan ini. Tapi dengan elemen horor. The Father bercerita lewat drama dan dialog, tapi tetep terasa sama seramnya. Dan bahkan lebih menyayat hati. 

Film ini unggul bukan saja berkat penampilan akting Anthony Hopkins – living legend – yang luar biasa. Tapi juga berkat penceritaan yang benar-benar membuat kita berada di dalam sepatu karakter Anthony. Yang bisa lupa semua hal begitu saja sedari dia bangun tidur. Film akan menampilkan ruangan yang berbeda (furnitur dan letaknya), memperlihatkan karakter anak yang diperankan oleh artis yang berbeda-beda setiap adegan, sehingga kebingungan itu benar-benar kita rasakan. Maka kita menjadi semakin peduli dan semakin termasuk ke dalam cerita, dan juga kepada meluluhlantakkannya akibat dari penyakit ini.

My Favorite Scene:

Lihat betapa drastisnya perubahan si ayah seiring percakapan seringan kenalan ama pengasuh baru, dan bagaimana sang ayah tampak asing bagi anaknya.

 

 

 

 

 

 

5. YUNI (versi festival)

3350885204Director: Kamila Andini
Stars: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 8.0/10
“Mending makan cilok!”

Yuni suka warna ungu, nyanyi, makan cilok, silat. Yang tidak Yuni suka adalah dilamar. Karena Yuni masih sekolah, dia ingin ke perguruan tinggi. Yuni adalah cerita yang efektif sekali menggambarkan perempuan muda yang merasa terkurung pribadinya oleh pandangan sekitarnya terhadap perempuan beserta segudang pamali. Membahas perkawinan anak lewat sudut pandang remaja perempuan dengan cara yang sangat tenang tapi menyanyat hati.

Ada dua versi film Yuni. Tapi menurutku, hanya versi untuk tayang di festival saja yang benar-benar pantas disebut sebagai film Indonesia terbaik di tahun 2021. Versi festival benar-benar terstruktur untuk kita menyelami perasaan Yuni yang semakin merasa sendirian. Kuatnya, tidak seperti Lady Di di film Spencer, Yuni tidak pernah mengantagoniskan. Dia berusaha memahami pamali. Konflik seringkali hadir dari tindakan ‘perlawanannya’ tersusul oleh rasa cemas kalo dia telah melanggar ‘aturan-tak-tertulis’ tersebut.

Meskipun gagal di Oscar, dan meskipun versi bioskopnya lebih disukai karena ada nyanyi-nyanyi dan berakhir dengan soften the blow, aku rasa kita semua sepakat Yuni telah menyentuh hati kita. Seperti puisi.

My Favorite Scene:
Penolakan pertama yang dilakukan Yuni udah kayak adegan karakter yang harus membunuh untuk pertama kalinya untuk bisa survive dalam film-film thriller/horor. Perhatikan gimana sedari awal Yuni berjalan, terus mengkonfrontasi si cowok, dan bagaimana Yuni mengulangi kalimat menolak lamaran itu. Great acting, great writing, great directing!

maxresdefault (1)

 

 

 

 

 

 

4. THE MITCHELLS VS. THE MACHINES

AAAABSYF6Rln4hC-Aj5mdZIvmyGIOv4_E3Zoitx0VpDN7kan5rqvyhVIzXnjE-q0mQ8s9GpZee9FOm-3-3HPo_P40AcAfUD-YK-6OQmIlD-wruf-viRwOdSN9io9co4n5g

Director: Michael Rianda, Jeff Rowe
Stars: Abbi Jacobson, Danny McBride, Maya Rudolph
MPAA: Rated PG for action and some language
IMDB Ratings: 7.7/10
“My parents haven’t figured me out yet. To be fair, it took a while to figure myself out.”

Katie Mitchell adalah kita, hobi banget ama yang namanya film. Sampai-sampai dia giat membuat film pendek lucu-lucuan dari berbagai kreasi sendiri. Dan ya, Katie Mitchell adalah kita, yang hobinya tidak disetujui orangtua. In that way, film ini adalah cerita yang langsung gampang kita pedulikan. Hebatnya, film ini menomorsatukan kreasi penceritaan, kehebohan visual. Dan dapatlah kita animasi petualangan super konyol yang bakal terus menghibur dan menyentuh, sedari awal hingga akhir.

Visualnya dibikin sebagai karakter tersendiri. Film ini menggunakan estetik internet dan dunia sosmed, yang tidak hanya sebagai gimmick. Melainkan benar-benar menyatu ke dalam cerita. Kadang film ini terasa terlalu cepat, sehingga kita merasa perlu untuk mempause dan mengulangnya kembali. Bahkan jika kita benar-benar melakukan itu, film tidak akan menjadi bosan. Berkat humor dan dialog yang cerdas di atas karakter-karakter eksentrik yang menyerempet over-the-top itu.

Elemen petualangan bareng keluarga menambah keseruan film ini ampe pol! Tema yang diangkat adalah seputar teknologi, yang actually responsible dalam memperlebar jarak antara anak dengan orangtua. Membuat mereka semakin susah berkomunikasi. Dan walaupun musuh mereka memang robot-robot, film berimbang, tidak benar-benar menjadikan teknologi itu sebagai mutlak antagonis. Ada momen-momen menyentuh ketika orangtua berusaha memahami hobi anaknya dengan nekat mencoba masuk ke dunia teknologi. Bahkan ada adegan ketika ayah Katie harus bisa komputer dulu demi menyelamatkan anaknya

 

My Favorite Scene:
Begitu banyak komedi-komedi dan momen konyol di film ini. Film pun sempat-sempatnya masukin komentar kocak soal perilaku manusia yang telah jadi tergantung sama internet.

 

 

 

 

 

 

3. ANNETTE

c4f5dbff4b44f77ebde5790a94bf515acb4f34fc1df4cf953213db300f706e04-rimg-w523-h296-gmir

Director: Leos Carax
Stars: Adam Driver, Marion Cotillard, Devyn McDowell 
MPAA: Rated R for sexual content including some nudity, and for language
IMDB Ratings: 6.4/10
“Now you have nothing to love.”

Keanehan The French Dispatch hanya bisa disaingi oleh karya Leos Carax ini. Urusan cinta memang rumit dan aneh. Annette menceritakan cinta ‘palsu’ antara dua selebriti panggung yang menghasilkan anak berupa boneka kayu, dengan gaya teater musikal. And I love, every second of this movie.

Dialog-dialog yang dinyanyikan, dengan pengadeganan yang sureal dan hampir semua hal di layar itu tampak artifisial. Awalnya tampak seperti kisah romansa yang manis, tapi kemudian berubah menjadi rencana pembunuhan yang elaborate, ke eksploitasi anak. Karakter pun makin membuat dirinya tak disukai. Dan memang itulah yang diniatkan. Yang dirancang. Memang, akibatnya film ini tidak gampang untuk disukai banyak orang. Tapi dengan begitu, dia sukses menyampaikan gagasan yang dikandungnya. Bahwa manusia adalah makhluk yang tragis ketika kita menganggap hidup adalah panggung. Mungkin paling tepat jika kita menyebut Annette sebagai sebuah opera horor.

Dengan konsep dan konteks seperti demikian, film menjelma menjadi sebuah sajian yang cantik. Aneh iya, tapi cantik. Carax terus ngepush quirk filmnya tersebut. Penampilan para aktor pun jadi ikut terdorong. Akting-akting di sini begitu intens, dan kadang memang membuatku sedikit ngeri juga. Melihat Adam Driver semakin berpusar turun as a human, seiring dengan rash di wajahnya membesar, kadang membuatku takut, tapi kemudian kasian. Benarlah film superaneh, sukar dimengerti kalo terlalu fokus cerna nyanyiannya, ini mampu bikin kita turun naik.

 

My Favorite Scene: Banyak orang akan mengingat adegan ML sambil nyanyi, ataupun adegan baby annette melayang sambil nyanyi. Tapi buatku, yang paling ngena adalah adegan terakhir di penjara. Annette yang udah jadi manusia, dialog sama bapaknya. Feels so unreal. Sampai sekarang pun kalian masih akan mendengarku menyenandungkan lirik dan irama nyanyian mereka.

 

 

 

 

 

 

2. CODA

CODA-1

Director: Sian Heder
Stars: Emilia Jones, Troy Kotsur, Marlee Matlin
MPAA: Rated PG-13 for strong sexual content and language, and drug use
IMDB Ratings: 8.1/10
“You know why God made farts smell? So deaf people could enjoy them too.”

Coda pada dasarnya punya cerita yang sama seperti The Mitchells vs. The Machines. Bakat Ruby gak bisa didengar oleh orangtuanya. Tapi itu karena keluarga Ruby literally gak normal. Ibu, ayah, dan abang Ruby tuli. Dan setting keluarga tersebut eventually membuat Coda menjadi drama keluarga, cerita remaja, yang sama sekali berbeda.

Film ini mengembangkan karakter-karakter tulinya dengan hormat. Dan itu bukan dalam artian karakternya dijaga dan gak dikasih apapun yang negatif. Tidak. Melainkan hormat karena mereka dibuat tidak meminta simpati. Tidak malu dengan kekurangan mereka dalam hal apapun. Drama film ini datang dari Ruby yang gak lagi bisa terus menjadi telinga bagi keluarganya, karena dia sekarang harus mulai membangun hidupnya sendiri. Problematika yang dipersembahkan film ini lewat Ruby, terasa real dan relate. Makin real dan hormat karena film ini melakukan hal yang benar dalam merepresentasikan karakternya.

Perspektif juga dijaga sekali oleh film ini. Tahu kapan harus menarik semua suara dan membuat kita merasakan sepenuhnya yang dirasakan oleh karakter. Selain permasalahan keluarga yang menyentuh hati, film ini juga punya adegan-adegan musik yang indah, adegan khas remaja yang sweet, there are just so many lovable and enjoyable things di film ini.

My Favorite Scene:
Adegan Ruby duduk bersama ayahnya, kemudian dia bernyanyi kepada ayahnya, dan ayahnya mengerti. Truly momen ayah-anak paling kuat seantero film 2021. 

 

 

 

 

Cerminan ideologi, refleksi kasih sayang ibu, gambaran suram penyakit, potret opresi perempuan, perwakilan tunarungu, simbolisme kehidupan keluarga modern, keluarga public figur. Jika representasi adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh film, maka aku pun mulai berpikir film apa yang kira-kira cocok untuk melambangkan perjuangan kita semua di era pandemi. Memang dua tahun belakangan ini, ada banyak film yang mencoba untuk menceritakan kehidupan kita tersebut.

Film yang kunobatkan sebagai terbaik tahun ini adalah film yang mencuat karena telah menjadi sindiran yang sangat telak kepada kita semua. Film terbaikku tahun ini adalah sebagai penanda jaman, yang kuharap sepuluh tahun lagi kita bisa menontonnya. Dan barulah saat itu kita semua benar-benar tertawa dibuatnya. Karena kita telah berhasil survive dari yang ia gambarkan.

 

 

1. DON’T LOOK UP

dont-look-up

Director: Adam McKay
Stars: Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep
MPAA: Rated R for language throughout, some sexual content, graphic nudity and drug content.
IMDB Ratings: 7.3/10
“You guys, the truth is way more depressing. They are not even smart enough to be as evil as you’re giving them credit for.”

Lucunya, film ini sama sekali tidak bicara tentang pandemi virus.

Dan itulah yang jadi bukti bahwa satir dan sindiran film ini bekerja dengan sangat efektif. Dua astronom yang menemukan komet hendak menabrak bumi, malah disepelekan, dijadikan alat politik, Presiden lebih mendengar kata bisnisman dan berusaha mengambil keuntungan dari bencana yang sedang otw ketimbang mengambil tindakan pencegahan yang aktual. Ada begitu banyak kemiripan untuk dianggap sebagai kebetulan. Film ini pastilah meniatkan. Film ini pastilah sedang mengutarakan sikap dan pandangan. 

Sindiran itu bukan hanya untuk pemerintah. Untuk kita juga. Karena dari dua astronom itu, yang satu dijadikan bintang televisi sementara yang satu dianggap gila. Kita masih tertarik pada hal-hal yang gak perlu. Pada kecantikan/kegantengan, pada gosip, pada konser-konser dan selebrasi lainnya. Kita mudah kemakan media, yang memang lebih peduli sama rating. Kegocek pengalihan isu dari pemerintah. Tapi bukan hanya sindiran saja, sebenarnya film memperlihatkan kekuatan dan kelemahan kemanusiaan dengan imbang. Hanya manusianya saja yang lebih cenderung memilih yang bego.

Semua itu dilakukan McKay lewat penulisan yang sangat cerdas. Bukan hanya menyindir kita, dia juga mampu membuat cerita dua astronom ini legit dengan struktur skenario yang solid. Gerak kamera dan editing juga efektif dalam menampilkan tone. Tidak sekalipun film tergagap menangkap dan menghidupkan banyak karakter, yang dimainkan oleh ensemble cast yang luar biasa. Bintang-bintang itu bukan di atas sana, tapi di layar kita.

My Favorite Scene:
Buatku inilah film penanda jaman yang tepat. Era pandemi dan era idiocracy digambarkan dengan telak. Ada satu scene yang membuatku ngakak banget, yaitu ketika presiden Meryl Streep ngingetin Leonardo bahwa dia sekarang di lingkaran penguasa di atas. Presiden ngewhip out rokoknya, dan di latar kita melihat mereka berada di ruangan inflamable. Sungguh komentar yang ngena terhadap pemerintah.

kogprogdfd - Copy

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Demikian daftar Top Movies 2021 ini kami tulis. Apabila ada salah-salah kata, lebih dan kurangnya kami ucapkan maaf dan terima kasih.

Apa film favorit kalian di tahun 2021? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2022?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…


Tambahkan judul - Copy

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

SPIDER-MAN: NO WAY HOME, ENCANTO, RED NOTICE, PASSING, VENOM: LET THERE BE CARNAGE, THE KING’S MAN, ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS, dan BUKAN CERITA CINTA (THIS IS NOT A LOVE STORY) Mini Reviews

Resurgence bioskop di paruh akhir 2021 memang melegakan, tapi juga membuatku kewalahan. Antara rilisan bioskop, platform, screening khusus film festival, dengan kerjaan edit video dan nulis lainnya, semuanya jadi “too many things but so little time” buatku. Maka kupikir sudah saatnya untuk mengembalikan salah satu segmen blog ini yang pernah kulakukan di 2014-2015 (yea blog ini sudah setua itu haha), yaitu segmen Kompilasi Mini Review!

Jadi, inilah ulasan film-film baru yang kalian rekues di komen itu, yang udah kutonton tapi selalu tertunda nulis ulasannya, berkumpul di satu artikel. Sekaligus sebagai penutup; last entries untuk penilaian periode 2021 di My Dirt Sheet.

ENCANTO Review

Sampai sekarang aku masih susah percaya kalo Maribel Madrigal di Encanto ini adalah ‘orang yang sama’ dengan Detective Rosa Diaz yang ketus di serial komedi Brooklyn Nine-Nine. But hey, inilah testament dari kualitas voice-acting seorang Stephanie Beatrice. Sebagai Maribel, dia jadi gadis ceria, suka bernyanyi, yang tampak optimis. Nun jauh di dalam, Maribel merasa sangat perlu untuk selalu membuktikan dirinya sebagai bagian dari keluarga Madrigal yang penuh keajaiban. Karena cuma dialah, dari seluruh keturunan neneknya, yang tidak lahir dengan kekuatan spesial.

Di balik visual yang juga sama ajaibnya – menghibur setiap mata yang menonton – Encanto bicara tentang makna menjadi spesial itu sendiri. Pembahasan yang tentu saja penting untuk penonton anak-anak. Dan orang dewasa tentunya. Karena orang dewasa inilah yang biasanya suka nuntut yang macem-macem untuk anak mereka. Cerita Encanto difokuskan kepada keluarga ini saja, tidak ada penjahat atau makhluk yang harus dikalahkan, dan bahkan tidak ada petualangan keluar. Tapi bukan di situlah kekurangan Encanto. Karena departemen adventure tersebut sudah dihandle oleh elemen magic. Rumah keluarga mereka juga ajaib, bisa memuat dunia/tempat lain.

Yang membuat Encanto yang cakep ini terasa kurang greget adalah tidak pernah mencapai note-tinggi. Dengan kata lain, semuanya agak berakhir terlalu kentang. Magicnya tidak pernah terlalu besar. Adegan-adegan musikalnya juga tidak pernah tampak terlalu memorable atau benar-benar refleksi cerita. Melainkan lebih sering sebagai eksposisi. Kekuatan para karakter juga gak unik-unik amat. Bahkan elemen Protagonis yang gakpunya superpower juga sudah cukup banyak kita temui, apalagi di anime. Filmnya enak dipandang, imajinatif, meriah, kuat identitas, punya pesan bagus, hanya sendirinya terasa normal-normal saja.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ENCANTO.

ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS Review

Escape Room yang ceritanya bland banget dan aktingnya pun standar orang baca naskah itu, bisa ada sekuelnya karena menawarkan dunia yang terlihat bakal bigger, dan konsep death trap berupa game yang lebih fun, less berdarah-darah, sehingga lebih mudah diakses oleh lebih banyak lapisan penonton. Dan sutradara Adam Robitel tampaknya memang sudah merancang semuanya untuk menjadi seperti itu. Film kedua ini malah didesainnya menjadi semacam teka-teki sendiri.

To be honest, aku gak suka (dan gak peduli untuk sampai mau mereview) film pertamanya, tapi toh aku tertarik juga nonton yang kedua. Karena film ini actually dibuat dalam dua versi. Yang tayang di bioskop ama yang tayang di platfom streaming punya perbedaan signifikan pada opening dan ending. Yang membuat franchise ini kayak jadi punya dua jalan yang berbeda. Jadi aku menonton keduanya. Dan memang, kedua versi itu menawarkan thrill yang berbeda, dari konklusi yang berbeda. Namun menurutku, tetap tidak berpengaruh apa-apa terhadap kualitas film ini secara keseluruhan.

Karakternya tetap generic, aktingnya ada peningkatan sedikit, tapi masih seringkali annoying untuk ditonton. Film kayak meniru konsep pertandingan para juara di Hunger Games, tapi tidak berhasil ngasih konteks kenapa harus para juara. Film  jarang sekali balik ke kenyataan bahwa peserta kali ini pernah menang; mereka masih seringkali bego gak jelas. Malah ada satu karakter yang dibikin gak bisa ngerasain sakit, untuk alasan dan kegunaan pada cerita yang sepele. Game-gamenyalah yang jadi penawar utama kebosanan. Set piecenya masih dibangun dengan sangat niat. Aku paling suka bagian pas di ruangan yang diset kayak isi dalam sebuah bank. And that’s all about it.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS.

THE KING’S MAN Review

Produser, penulis, dan sutradara – si Matthew Vaughn – bermaksud ingin lebih bebas berkreasi dalam proyek prekuel ini. Dia cuma perlu mengestablish awal keberadaan agency beserta muasal karakter-karakter yang sudah kita kenal baik. Dan selebihnya, dia ingin mencoba sesuatu yang lebih dari spy-action komedi. Hasilnya, The King’s Man jadi banyak film sekaligus. Ada drama perang. Ada trik-intrik politik. Film ini jadi agak penuh sesak, sukar dilihat arahnya ke mana. Kebanyakan penonton hanya kecewa karena enggak terasa seperti franchise yang sama. Barulah saat elemen spy-action komedi yang familiar bagi kita datang, film ini kembali terasa menghibur.

Keseimbangan adalah kunci. Dan di situlah persisnya film ini kesandung. Bagian awal fokus kepada hal-hal yang ternyata gak perlu. Pada karakter yang ternyata bakal “hilang”. Karena film memutuskan sudah saatnya menjadi komedi seperti sedia kala. Sehingga momen-momen dramatis itu jadi tidak mendarat. Film mungkin bermaksud untuk membuild up. Tapi tidak pernah melakukannya dengan proper. Seperti ada satu sekuen komedi seputar menipu Rasputin dengan menggodanya. Build upnya ternyata hanya membuahkan adegan yang aku bisa mengerti akan dipandang menyinggung oleh sekelompok orang.

Ya, di sini ada Rasputin. Ada karakter-karakter sejarah beneran yang lain juga. Setting sebelum Perang Dunia I cerita ini memang ditarik dari kejadian sejarah kita. Film lantas membentuknya menjadi versi mereka sendiri, yang actually diadaptasi dari komik. Jadi, The King’s Man sebenarnya sedang bermain-main dengan sejarah fiktif dan sejarah nyata. Seharusnya konsep ini yang fokus dikembangkan sedari awal. Seharusnya inilah sumber fun sesungguhnya. Tapi nyatanya, selain action yang fluid dan paham ngasih punchline, yang membuat kita terhibur di sini cuma Rasputin. Dan – sialnya – saat ada karakter di seruduk kambing. 

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE KING’S MAN.

PASSING Review

Tadinya kupikir film ini bakal pretentious. Pakai warna hitam-putih for no reason selain pengen terlihat kayak estetik film jadul. Tapi kemudian debut Rebecca Hall sebagai sutradara ini floored me. Passing ternyata berarti dua. Pertama soal perempuan kulit-hitam yang ‘menyamar’ hidup sebagai kulit putih. Dan kedua, passing yang berarti seperti pada ending menyedihkannya nanti.

Menyamar di sini bukan dalam artian pake make up atau bedak, atau menipu dengan sengaja. Melainkan karena karakternya punya warna kulit yang lebih terang sehingga dianggap putih. Terms ini juga menguatkan tema film yakni di balik warna kulitnya semua orang adalah sama. Mereka bisa passing ya karena – selain warna kulit – tidak ada perbedaan antara sesama manusia, tidak ada yang unggul di atas yang lainnya. Tema tersebut diolah ke dalam drama persahabatan dua orang perempuan, dan di sinilah letak kecemerlangan sutradara.

Hall mau menyelami karakter. Film akan mengambil waktu, memperlihatkan reaksi setenang dan sekecil mungkin. Setiap percakapan dalam film ini, dialognya menguarkan karakter. Hall mau menggali sudut pandang sehingga semuanya ya jadi hitam-putih alias abu-abu. Tidak ada sugarcoating, tidak ada agenda. Kita melihat kejadian dari karakter utama Irene, yang mulai gerah sama kelakuan sahabatnya yang udah lolos jadi kulit putih tapi masih suka ikut keluyuran ke gathering kulit hitam, stealing all the spotlights. Dan film bicara blak-blakan lewat ekspresi dan sorot mata karakternya itu. Sebagai perbandingan, baru-baru ini aku nonton Backstage (2021), di situ ada karakter yang juga nanti jadi kayak iri sama karakter lain, tapi film seolah menghindari dari membahas. Melainkan hanya menampilkan saja. Hampir seperti filmnya gak mau kita merasakan negatif feeling dari si karakter utama. Film Passing gak peduli sama ‘memuliakan’ karakter seperti itu. Hall tahu dia sedang menceritakan manusia, jadi dia benar-benar mengulik perasaan manusia. Maka dari itu, film ini jadi drama yang sangat beresonansi.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PASSING.

 

RED NOTICE Review

Satu kata yang paling cocok menilai film ini. Mubazir.

Kalian punya tiga aktor versatile – drama bisa, komedi bisa, action bisa – tiga aktor yang lagi hit-hitnya. Tapi kalian hanya menggunakan aktor-aktor itu untuk namanya saja. Tidak benar-benar memberikan mereka sesuatu yang baru, atau bahkan tidak memberikan mereka karakter dan actual cerita. Film ini mecahin rekor Netflix, karena ya dimainkan oleh The Rock, Gal Gadot, dan Ryan Reynolds. Film ini ditonton, tapi aku yakin seratus persen gak ada satupun dari kita yang merasa dapat apa-apa darinya. Hanya hiburan kosong. Ibarat snack, film ini snack yang isinya angin doang.

Porsi aksinya? Red Notice hanya melakukan ulang aksi-aksi yang sudah pernah ada dalam film action sebelumnya. Pun, film ini tidak melakukan hal yang lebih baik dari film-film itu. Tidak menambah perspektif ataupun sensasi baru. Melainkan melakukannya dengan, kayak malas-malasan. Adegan di scaffold bangunan di awal itu misalnya. Aku bisa menyebut setidaknya dua film action lain yang sudah lebih dahulu melakukan itu dengan jauh lebih baik (Rush Hour 2 dan Shang-Chi). Red Notice, udahlah actionnya gak baru, film pun tidak memberikan karakter untuk dimainkan oleh para aktor gede itu. Film hanya menyuruh mereka jadi ‘diri sendiri’, atau at least jadi diri mereka yang paling menjual kepada penonton. Tidak satu kalipun saat menyaksikan film ini aku merasa peduli ataupun mengkhawatirkan mereka. Karena yang mereka lakukan di sini ya cuma menjalankan aksi-aksi aja dengan lucu-lucuan. Gak ada stake, gak ada rintangan. Seolah film takut gak laku kalo karakternya tampak susah dalam melakukan aksi.

Huh, judul film ini harusnya Red Flag aja. Biar siap-siap untuk yang terburuk saat hendak menontonnya.

The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for RED NOTICE.

SPIDER-MAN: NO WAY HOME Review

Bicara tentang film yang mau bikin senang penonton… Penutup trilogi ‘Home’ Spider-Man ini adalah juaranya! Konsep multiverse akhirnya fully dijalankan, dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesenangan penonton. Tiga Peter Parker bahu-membahu melawan musuh-musuh terkuat dalam film-film mereka selama ini. Interaksinya, nostalgianya. Film juga paham, punya selera komedi yang bagus, sebab kita akan tergelak melihat beberapa kali mereka saling becandain universe masing-masing. Aku sama sekali belum pernah merasakan pengalaman nonton film serame ini. Udah kayak lagi nobar Smackdown! Penonton ngecheer, tepuk tangan, tertawa bersama. Experience yang luar biasa.

Hebatnya, konsep multiverse itu bukan cuma dipasang sebagai cheap way untuk bikin penonton senang saja. Drama film ini actually datang dari pemanfaatan cerita tentang multiverse itu. Di sinilah untuk pertama kalinya Peter Parker Tom Holland harus mengambil keputusan dan bertanggungjawab sendiri. Di sinilah dia baru menyadari penuh resiko dan apa artinya menjadi seorang superhero bagi kehidupan dirinya. Dia pengen nyembuhin para penjahat, memang tampak kayak keputusan bego. Tapi Peter memang masih naif, dia harus benar-benar paham bahwa menjadi superhero itu bahaya, dan betapa pilihan seseorang benar-benar membentuk siapa mereka. Bagaimana dengan Peter-Peter lain dan karakter dari dunia lain? Mereka semua dihadirkan kembali dengan arc masing-masing. Semua bakal dapat pembelajaran, dapat second chance. Semakin menambah bobot drama muatan film ini.

Kekurangan film ini buatku hanyalah beberapa pengadeganan masih terasa seperti template. Kreasi atau katakanlah arahan sutradara belum tampak ciri khasnya, padahal sudah tiga film. Ada beberapa adegan yang awkward, kayak para penjahat berdiri diam gitu aja (kayak nunggu giliran) sementara karakter lain sedang ngobrol. Adegan aksinya juga heavy CGI, dan tidak sering diperlihatkan seperti karakter yang mengalami pembelajaran saat berkelahi itu. Hanya berupa aksi-aksi keren semata.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SPIDER-MAN: NO WAY HOME

THIS IS NOT A LOVE STORY (BUKAN CERITA CINTA) Review

Hidden gem di perfilman Indonesia. Tidak banyak yang bicarain soal film ini, padahal dia dapat award di Jakarta Independen Film Festival 2021 dan masuk short list FFI tahun itu. Aku juga tadinya gak aware. Cuma setelah bete dan kecewa berat nonton Aum! (2021), kami nyetel film ini, dan aku bilang aku jauh lebih suka ama film yang ini!

Ceritanya tentang seorang pemulung yang menemukan perempuan di truk sampah. Perempuan berkursi roda itu ternyata masih hidup, cuma tidak bisa bicara dan tidak mau bergerak. Sepertinya trauma. Maka, si pemulung membawa perempuan itu ke rumah. Tadinya ngarep ada yang nyariin dan dia bakal dapat duit imbalan. Tapi lewat berhari-hari gak ada yang nyariin. Si pemulung akhirnya tetap merawat dan mereka jadi akrab dengan cara mereka sendiri. Man, penampilan akting dan arahannya semua terlihat natural. Gak ada yang dibuat-buat. Gak ada drama yang dipancing-pancing dengan over. Sesuai judulnya, ini bukan cerita si cowok pemulung nanti jadi jatuh cinta. It was more than that. Ini bentuk cinta yang lain. Nonton ini kayak nonton kehidupan asli, dan kita jadi ikut peduli dengan kehidupan mereka. Sidi Saleh juga menambahkan lapisan berupa keinginan pemulung untuk jadi aktor, yang memperdalam bahasan dan karakter cerita.

Dijadikan 3 jam pun kita akan tetap betah menontonnya. Namun film mulai goyah saat keperluan untuk mengungkap misteri siapa perempuan itu datang. Gaktau sih, menurutku sebenarnya gak usah dijawab juga gak apa-apa. Ketika dijawab, justru akan jadi datar. Film juga kayaknya sadar, maka mereka memilih jawaban yang vague. Yang malah bikin akhiran film menjadi lebih tidak memuaskan lagi. Di samping akhiran dan elemen misterinya tersebut, This Is Not A Love Story adalah drama kehidupan yang solid, menarik, dan sederhana. Pure bercerita.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THIS IS NOT A LOVE STORY

VENOM: LET THERE BE CARNAGE Review

Venom dan Carnage adalah karakter yang dimaksudkan sebagai counter dari Spider-Man. Mereka adalah sisi jahat dan keliaran dan chaos. Dan fun. Tapi semenjak film pertamanya, Venom enggak pernah benar-benar fun. Ada sisi menghiburnya, tapi gak seberapa. Gak seperti yang dibayangkan. Maka di sekuel ini, Andy Serkis ingin melipatgandakan semua. Dan hasilnya adalah kebisingan yang nyaris bisa aku nikmati.

Fun dalam film ini adalah ribut-ribut bertengkar bahas makan ayam atau makan manusia. Berantem ngambek-ngambekan. Udah kayak ditulis oleh anak-anak untuk anak-anak. Sony kayak ingin berusaha keras biar bisa kayak Marvel, tapi pada akhirnya hanya ‘menyakiti’ karakter-karakternya. Carnage direduce dari serial killer menjadi… serial killer yang gak ngelakuin hal yang unik. Sia-sia aja pakai Woody Harrelson, yang udah pengalaman jadi pembunuh dalam film. Tom Hardy di sini juga kayak berusaha keras untuk tampak vulnerable, dia pengen jauh-jauh dari kehidupan Venom, namun pada akhirnya jadi bucin juga. Karena film actually juga membahas tentang hubungan cinta. Sampai-sampai ada juga yang menghubungkan Venom dan Eddie Brock sebagai relationship queer. LOL. Itulah yang terjadi kalo film yang benar-benar ngasih pegangan; Penonton bakal menggapai, meraih apapun dengan liar untuk jadi pegangan.

Film ini mau bicara banyak tapi bangunan ceritanya sendiri begitu sederhana. Dan pada akhirnya mereka tetap bertumpu pada aksi. Yang memang lebih menghibur daripada film pertamanya. Kali ini pencahayaannya gak gelap-gelap amat. Mereka berusaha sebisanya ngasih adegan berantem dua monster pemakan manusia menjadi tetap seru dengan rating sensor PG-13. Adegan paling penting film ini saja sebenarnya hanya adegan extra saat kredit penutup, yang sekarang terbukti cuma bait kosong saja.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VENOM: LET THERE BE CARNAGE

 

That’s all we have for now

Dengan ini, berakhirlah sudah penilaian untuk 2021. Jangan lupa cek Youtube My Dirt Sheet untuk Rapor Film Caturwulan III, yang bakal ngasih insight soal penilaian dan periode akhir. Dan setelah itu, tungguin juga daftar TOP-8 MOVIES 2021 yang bakal publish segera di blog ini.

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA