AUTOBIOGRAPHY Review

 

“History repeats itself”

 

 

Dua hal tentang sejarah, yaitu ditulis oleh pemenang, dan mengulangi dirinya sendiri. Autobiography mungkin memang bukan cerita tentang kehidupan sutradaranya. Alih-alih itu, Makbul Mubarak dalam debut film panjangnya ini menggunakan judul tersebut untuk merujuk kepada rekam-jejak kekuasaan kelam militer yang bakal terus berulang. Keseluruhan film ini merupakan gambaran dari bagaimana itu semua bisa terjadi. Gimana rezim tangan-besi bisa begitu mendarah daging sehingga sekalipun ada satu orang yang cukup berani untuk menentangnya, tidak lantas berarti mudah bagi orang tersebut untuk berpaling dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kuasa yang ia tentang tersebut. Makbul lantas menghiasi penceritaannya dengan cekat lewat close up lekat, warna pekat, dan perasaan yang kelat. Sehingga wajar, banyak yang bilang Autobiography ini adalah film yang seram meski bukan film horor!

Bagi cowok, sosok ayah memang dapat terasa begitu menyeramkan. Meski udah gede kayak sekarang, aku masih gak berani main game, baca komik, atau bahkan nonton film di depan ayahku sendiri. Karena ajaran (dan hukumannya) untuk disiplin, serius, dan gak banyak main-main sudah begitu membekas. Itu ayah sendiri loh, dalam lingkungan keluarga pribadi. Bayangin aja kalo ayah yang lebih lagi, kayak Jenderal Purna, yang bagi Rakib bukan ‘ayah’ biasa. Bapak-bapak itu adalah purnawirawan, balik ke kampung untuk urusan kampanye politik. Semua orang hormat dan takut padanya. Kuasanya menyelimuti desa, tentara-tentara bisa dipanggilnya kapan saja dia mau. Bapak-bapak itu, juga adalah bos keluarga Rakib turun temurun. Dan kini giliran Rakib untuk mengurus keperluan sehari-hari si bapak Jenderal. Posisi ini membuat hubungan mereka jadi personal bagi Rakib, for he is the one that’s experiencing Jenderal Purna  dalam berbagai spektrum. Sebagai ayah, sebagai majikan, sebagai guru, sebagai pemimpin, dan sebagai ‘something else’ yang lebih mengerikan.

Later, Rakib bakal found out si Jenderal juga punya selera ‘humor’ dengan “Maaf adalah hadiah”

 

Spektrum tersebut dihidupkan oleh penampilan akting yang luar biasa dari  Arswendy Bening Swara. Simak waktu dia bilang “Siapa bilang saya minum kopi” dan lantas menyuruh Rakib duduk.  Suaranya enggak tinggi, Nadanya enggak naik. Tapi Rakib dan kita, sama-sama tau bahwa malatapeka besar akan terjadi kalo kata-kata itu tidak segera dituruti.  Di level seperti itulah Arswendy menghidupkan karakter ini. Santai, tapi tegasnya bikin orang tahu bahwa dia tidak main-main. Pak Jenderal ini kalo ngomong mirip kayak gambaran Tom Marvolo Riddle (alias sebelum jadi Voldemort) di buku Harry Potter. Setiap kata, sesantai apapun, disampaikan dengan force yang kuat. Setiap kata terasa seperti perintah, tapi tanda-serunya silent dan hanya keluar lewat penekanan dan aura yang dimiliki oleh Arswendy sebagai Jenderal Purwa. Kita juga akan melihat – seperti politikus pada umumnya – Pak Jenderal memantik simpati dengan kata-kata motivasi, dengan janji-janji. Simak lagi waktu dia ‘ngeles’ saat ada karakter anak muda bernama Agus yang mengadu soal keluarganya berharap agar tidak digusur. Force dari kata-kata Pak Jenderal saat menjawab itu kontan terasa mengerikan, karena di balik ‘ngeles’ persuasifnya, kita bisa mendengar nada mengancam di balik ‘di mana Ibu’ dan ‘di mana rumahmu’.

Tinggal-lah Rakib di sana, diam termenung, berusaha untuk mencerna dan memahami siapa sebenarnya Pak Jenderal yang dihormati sekaligus ditakuti warga. Memang, berbeda dengan Arswendy yang banyak melantunkan dialog dan lebih open secara ekspresi, Kevin Ardilova memainkan karakter yang lebih banyak diam. Yang ekspresinya lebih tertahan. And he was excellent at this! Rakib tampak seperti bergulat dengan pikirannya sendiri setiap kali berhadapan dengan ‘aksi’ Pak Jenderal. Dia kelihatan seperti takut, kagum, dan penasaran sekaligus. Sekilas, karakter Rakib ini bisa tampak sebagai kurang konsisten – cepat berubah-ubah. Tapi itu hanyalah efek dari ‘manipulasi emosional’ dari Pak Jenderal yang memang paling kuat menyerang Rakib. One moment, Rakib ditinggikan dengan disebut mirip Jenderal waktu masih muda. Lihat betapa gembiranya dia kemana-mana pakai seragam bekas Pak Jenderal. Momen berikutnya dia dimarahi karena nyembunyiin sesuatu di saku. Momen lainnya, Rakib tergopoh-gopoh nyari charger yang mau dipinjam. Ada juga ketika Rakib dibela dan lantas disuruh minta maaf dalam satu kesempatan yang sama. Ini sebenarnya adalah build up yang dilakukan film ke momen pecahnya konflik di antara kedua karakter ini.  Ini adalah kelincahan naskah untuk memuat gagasan sekaligus menjabarkan wants-and-need karakter Rakib itu sendiri sebagai karakter utama. At heart, ini adalah coming-of-age story bagi Rakib. Seorang anak muda yang ingin dapat approval dari seorang sosok ayah. Sehingga, ya, akan ada momen-momen ketika Rakib seperti menikmati perannya sebagai bawahan Jenderal, momen-momen ketika dia mempercayai pujian dan nasihat Pak Jenderal, yang semuanya mengarah ke ‘horor’ yang sudah kita antisipasi sebagai dramatic irony. ‘Horor’ ketika Rakib menyadari betapa dingin dan merah sebenarnya tangan yang selama ini menyuapi dirinya.

Film ini enggak cuma punya dramatic irony dan melepaskan kita dari tensi setelah melihat apa yang dipilih untuk dilakukan Rakib terhadap Pak Jenderal. The real punchline ada di belakang, pada apa yang dipilih untuk dilakukan Rakib setelah Jenderal tidak ada. Film ini mengakhiri ceritanya , meng-cut kita semua dari ceritanya, di momen eksak yang  sepertinya perfect banget. Ini tipe ending yang kayak di Triangle of Sadness (2022). Ending yang menyerahkan kepada kita untuk mengimajinasikan sendiri apa yang terjadi berikutnya. Orang yang lebih optimistis mungkin akan melihat Rakib di ending sebagai generasi muda yang mereset kembali power struggle antara rakyat dan pemimpin militer. Menjalankan fungsi sesuai namanya, mencatat yang baik-baik saja. Tapi kemudian aku ragu apakah bakal ada penonton yang melihatnya seperti itu. Sebab yang digambarkan film ini tak ayal begitu familiar bagi kita. Ada masa Indonesia di bawah pemimpin militer mengalami masa kelam orde baru. Saat orang bisa hilang karena bersuara, apalagi menentang. Dari konteks tersebut, dari judulnya, dari bagaimana semiotik dan aspek film dibangun, film ini sebenarnya sudah mengarah ke satu ending yang shocking terkait jadi apa Rakib setelah semua ini. Jadi, ya, adegan dan motong endingnya seperti itu perfect, tapi secara bangunan keseluruhan gak benar-benar terasa kayak perfect choice untuk dibegitukan. Karena sebenarnya film masih akan tetap kuat dan dramatis, dan emosional, jikalau endingnya enggak ‘dicut’ dan kita langsung melihat satu kesimpulan.

Siklus rezim kekerasan ternyata terus berulang. Film ini berusaha memberikan gambaran apa yang sebenarnya menyebabkan itu terjadi. Apa yang membiarkan itu terjadi. Gagasan yang bisa kita baca dari cara film menyampaikan ceritanya ini adalah bahwa semua itu berakar pada toxic masculinity. Autobiography adalah film yang cowok banget. Mulai dari catur, berburu, bir, kendaraan, semua simbol cowok hampir ada. Tapi, sosok perempuan – sosok ibu – seperti sengaja ditiadakan. Diminimalisir. Dan itu mungkin sebabnya kenapa film ini begitu ‘seram’. Seolah gak ada yang bikin jadi lembut. Seems like there’s no hope. Kita cuma bisa nikmati saja.

 

Jadi, karakter Pak Jenderal mengingatkan kalian kepada siapaa?

 

Bahasa visual yang digunakan pun seperti menuntun penonton untuk sampai kepada kesimpulan ending itu. Kita melihat Rakib memandang pantulannya di cermin, sambil memegang cangkir kopi yang diberikan sesuai permintaannya. Bercerita dengan visual seperti demikian memang salah satu kekuatan film ini, yang membuatnya jadi fresh. Karena Makbul Mubarak banyak menyuguhkan adegan lewat sudut yang unik. Sudut yang benar-benar mewakili perasaan Rakib. Kamera mengintip dari kaca jendela, merunduk di bawah spanduk kampanye, ataupun ya, membiarkan kamera tidak menyorot apa-apa selain aftermath dari suatu perbuatan. Visual ini juga jadi cara penyampaian metafora atau penyimbolan yang efektif. Adegan Rakib mandi lalu tiba-tiba Pak Purwa masuk dan memandikan dirinya, misalnya. Simbol ketika kuasa bahkan bisa ‘menjajah’ pribadi kecil di ruang mereka yang paling privat sukses tergambarkan dengan kuat dan disturbing lewat adegan tersebut. Suspens dan intensitas memang akhirnya berhasil diraih oleh film lewat gambar-gambar ini. Timing-nya juga precise sekali. Meskipun memang banyak shot-shot yang diam, entah itu menangkap ekspresi Rakib atau hanya memperlihatkan karakter duduk di sana, tapi tidak pernah terasa kelamaan. Feeling ‘ngeri’ tersebut berhasil terjaga dengan baik.

Di sisi lain, ada juga beberapa adegan yang mestinya bisa ditrim untuk membantu pacing keseluruhan. Film ini bisa terkesan terlampau runut,  walaupun runutnya kejadian tidak benar-benar terlalu ngaruh ataupun ngasih something dramatis yang benar-benar diperlukan.  Kayak ketika Rakib nganter-jemput Pak Jenderal ke kawinan.  Film benar-benar ngeliatin proses antar, pulang lagi, ambil senapan. jemput lagi, nyampe di tempat pesta – yang sebenarnya fungsinya untuk ngeliatin Rakib mampir ke mana dulu, dan adegan senapannya di mobil hampir ketauan. Menurutku fungsi tersebut gak benar-benar worth untuk mengulur pacing, dan mestinya bisa diperketat lagi.

 

 




But still, ini film yang luar biasa menginspirasi. dari sisi bahwa ini adalah film panjang pertama dari sutradara. Bahwa ia mampu mewujudkan visinya dan memberikan kita suguhan yang completely different. Yang berani, baik itu topik maupun seni berceritanya. Fakta bahwa film seperti ini – dibuat oleh sutradara baru pula – bisa eksis, dan bahkan memborong banyak penghargaan dalam dan luar negeri, seharusnya jadi inspirasi bagi setiap pecinta film. Buat yang angker sama film ‘berat’, jangan keburu keder duluan. Dua karakter sentral film ini, dihidupkan lewat penampilan akting yang gak dibuat-buat, akan gampang konek karena terasa familiar. Malah, semua yang digambarkan film ini terasa familiar, makanya film ini dikatain seram. Kita seolah menghidupi dunia yang sama dengan karakternya.  Visualnya bahkan berkata lebih banyak lagi daripada para karakter. Yang membuat film ini semakin menarik untuk disimak, semakin jauh dari kata membosankan. Aku gak bisa ngasih kata-kata bujukan ataupun kata-kata perintah yang mengancam kayak Pak Jenderal. Aku hanya bisa ngasih skor buat film. So yea, 
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for AUTOBIOGRAPHY

 

 




That’s all we have for now.

Jadi apakah menurut kalian kekerasan itu diwariskan, atau dipelajari?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2022

 

It has been a blessed year for cinema. Gimana tidak. Bayangkan, tahun ini kita dapat dua film dari Guillermo del Toro. Dua film dari Steven Spielberg. Tiga film yang loosely berdasarkan kehidupan masa kecil/remaja sutradaranya masing-masing. Dua film Pinokio. Film studio gede maupun film yang lebih ‘sederhana’ saling susul menyusul bikin cerita dalam konsep dunia multiverse. Avatar, making a comeback dengan sekuel. Kita dapat akhir dari seteru ikonik antara Laurie Strode dengan Michael Myers. Yang lantas diikuti oleh banyak lagi horor-horor yang berusaha ngasih sesuatu yang revolutionary. Slasher, Whodunit, dan bahkan monster creature yang juga berisi kritik/satir isu sosial. Film dialog dengan jin juga ada. Also, Voldemort jadi chef sinting sekarang. Gila, horor memang lagi lucu-lucunya sekarang. Di Indonesia juga gitu. Horor marak lagi. Mumun jump into a big screen! Ada juga horor yang bikin satu apartemen jadi kayak satu wahana rumah hantu besar. Salah satu horor nembus nyaris sepuluh juta penonton, walaupun yah secara kualitas filmnya masih jauh di bawah. Tapi di sini, di daftar film-film top saat ini, kita hanya akan bahas yang baik-baik aja. So yea., Mulai bermunculan horor-horor yang lebih nyeni, yang lebih berisi daripada sekadar parade jumpscare. Ada superhero horor sekarang. Ada horor religi juga. Jumlah penonton semakin bergerak naik setelah sekian lama berkurung sebab pandemi. Selain horor, kita dapat lebih banyak lagi film-film yang mengangkat isu perempuan, dua film Gina S. Noer, film superhero lokal, dan film-film komedi yang mulai berani untuk menunjukkan kematangan tema secara serius.

Pokoknya, jadi penggemar film di tahun ini rasanya puas banget. Puas bisa kembali ke bioskop. Puas sama pilihan dan variasi tontonan yang semakin banyak. Puas, karena actually ada lebih banyak film bagus sekarang ketimbang film jeleknya. At least buatku. Waktu ngerecap nilai-nilai film yang udah direview sepanjang tahun – My Dirt Sheet sukses mereview 122 film di tahun 2022 (peningkatan dari tahun sebelumnya) – aku notice kalo tahun ini film yang dapat skor B ke atas (6 ke atas) jumlahnya banyak. Jumlah yang dapat S (8 ke atas) kayaknya paling banyak di tahun ini, selama aku ngereview di blog ini. 

Aku cuma bisa senyam-senyum. Film-film itu ngingetin aku kenapa kita semua cinta pada film pada awalnya. Ngingetin bahwa film bisa begitu menginspirasi. Nah supaya senyumku enggak kelamaan (khawatir giginya kering!) maka kita mulai saja daftar Top-8 Movies 2022!!

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Before, Now & Then (Nana) (or as I called it ‘Selamanya Nana Terkurung’; film yang kayak perempuan Indonesia; cantik, tapi somehow tragis)
  • Black Phone (film horor tentang anak-anak yang benar-benar mencekam dan gak sekadar membuat mereka jadi objek.)
  • Bullet Train (di balik fast-paced action dan karakter-karakter unik nan kocak, film ini masih sempat nyiapin filosofi soal luck)
  • DC League of Super Pets (kelihatannya kayak kartun anak-anak yang simpel, tapi actually punya bobot yang gede. Film terbaik The Rock!!)
  • Nope (Jordan Peele strikes again, kali ini dalam horor creature yang ciamik!)
  • She Said (benar-benar ngasih lihat bahwa untuk empati kita hanya butuh ‘dengar dan rasakan’)
  • Tar (faux-biography komposer perempuan yang intens, Cate Blanchett show!!)
  • The Banshees of Inisherin (komedi tragis tentang gimana manusia menghadapi penolakan)
  • The Batman (temukan sendiri gimana rasanya benih harapan itu tumbuh pada kisah Batman dalam fase ’emo’ sebagai pahlawan)
  • Top Gun: Maverick (bukan hanya soal aksi-aksi pesawat tempur – yang beneran dilakuin Tom Cruise sendiri – film ini juga punya naskah yang supersolid)
  • West Side Story (kali pertama Spielberg garap musikal, rasanya sudah langsung ‘on another level’!!)
  • X – Pearl (dua dari trilogi horor Ti West yang benar-benar membekas berkat range luar biasa si Mia Goth)

Serta, Special Mention buat Ngeri-Ngeri Sedap, yang video ulasannya paling banyak ditonton di channel YouTube My Dirt Sheet. Dan kepada KKN di Desa Penari sebagai film dengan ulasan paling banyak dibaca di blog My Dirt Sheet tahun 2022. Man, film itu mecahin rekor di mana-mana

 

Oke, sekarang inilah DELAPAN BESAR 2022!! 

–PS: seperti biasa, klik di judulnya untuk dibawa ke halaman full-review masing-masing

 

 

 

8. GUILLERMO DEL TORO’S PINOCCHIO

Director: Guillermo del Toro
Stars: David Bradley, Gregory Mann, Ewan McGregor
MPAA: Rated PG 
IMDB Ratings: 7.7/10
“You did bring me joy. Terrible, terrible joy.”

 

Guillermo del Toro merebut kembali dongeng si boneka kayu yang mau dibawa Disney entah ke mana. Tadinya aku udah hopeless. Versi live-action Disney yang rilis beberapa bulan sebelumnya, mengubah Pinokio jadi propaganda ‘woke’ semata. Kehilangan magis karakter dan dongengnya. Guillermo del Toro mengembalikan itu semua lewat Pinocchio versi animasi stop-motion yang bener-bener sebuah penceritaan dongeng yang fantastis dan magical.

Ceritanya kurang lebih sama, tapi dibuat ke dalam warna yang sedikit lebih dark. Kualitas desain produksi yang bisa kita harapkan dari om del Toro, hadir semua di sini. Desain karakter yang unik, panggung era perang, tema yang bicara soal kematian di balik hubungan anak dengan orangtua. Dia membuat Pinokio benar-benar jadi miliknya sendiri.

Karena film ini, aku jadi kembali percaya, sinema modern kita masih punya kekuatan ajaib dalam bercerita. Seni mendongeng itu masih ada, and it might be stronger than ever!!

My Favorite Scene:
Aku masih terkagum-kagum gimana Guillermo del Toro kepikiran mengganti Negeri Nikmat dengan Kamp Pelatihan Perang untuk Anak-Anak. Arena bermain digantinya dengan panjat-panjatan dan obstacle courses buat latihan. Message yang diparalelkan loud-and-clear. Anak-anak yang terlalu patuh dan kaku tidak lebih baik daripada anak berandal yang bandel. Tentara sama aja kayak keledai, just follow rules! Adek-adek, cinta terkadang butuh kita untuk melanggar aturan!! 

 

 

 

 

 

 

7. SCREAM

Director: Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Stars: Neve Campbell, Jena Ortega, Melissa Barrera
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 6.3/10
“Because nobody takes the true fans seriously, not really. They just laugh at us, and why? Because we love something? We’re just a fucking joke to them! How can fandom be toxic? It’s about love! You don’t fucking understand, these movies are important to people.”

 

Wes Craven tidak membuat Scream sebagai slasher whodunit semata. Sejak film originalnya, Scream selalu juga bertindak sebagai komentar meta tentang genre horor itu sendiri; apa yang terjadi pada skena per-horor-an pada masa film itu dibuat. Itulah yang terutama membuat Scream konek dengan fans. Itulah yang membuatnya sebagai slasher yang cerdas.

Sebagai honor terhadap Wes Craven tersebutlah, Scream dilanjutkan kembali. Dan ya, film ini bukan soal membahas legacy Sidney semata. Film ini menyentil soal yang terpisahkan dari dunia film; penonton, penggemar. Fandom, yang di masa sekarang bisa menjadi begitu toxic, sampai-sampai membuat studio harus meluncurkan sekuel-sekuel reboot yang nothing but a cash cow. Sebagai penggemar-sejati, bahasan tersebut, yang merayap di balik kelanjutan teror Ghostface, menjadi menarik untuk dinikmati. Film ini actually ngelahirin istilah baru – rekuel – dan menikam apa-apa yang salah dari rekuel-rekuel tersebut.

Scream sendirinya adalah rekuel, namun mereka berani untuk ningkatin stake dan membuat dirinya terasa beneran urgen dengan karakter baru dan permasalahan (lama tapi) baru.

My Favorite Scene:
Film-film Scream juga biasanya suka ‘becandain’ adegan-adegan film original. Di film ini, salah satunya adalah bikin adegan yang mirip ama kejadian di basement rumah Tatum di film pertama. Dan ini adalah adegan yang bikin aku jatuh cinta sama Amber – my new favorite Scream character! Di dialog basement tersebut udah keliatan dia ini ada gila-gilanya sedikit hihihi

 

 

 

 

 

6. THE MENU

Director: Mark Mylod
Stars: Anya Taylor-Joy, Ralph Fiennes, Nicholas Hault
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 7.5/10
“Because. I need to know if you’re with us or with them.”

 

Makanan sering disimbolkan sebagai hal yang lain pada film. Termasuk pada The Menu, yang bicara soal menjadi snob dan gatekeeping art lewat cerita chef yang jadi ‘sinting’ dan mau bunuh diri beserta anak buah dan para tamunya dalam sebuah jamuan makan malam mewah terakhir.

This movie really hits me. Penampilan luar biasa Ralph Fiennes benar-benar membuatku memikirkan soal bagaimana cara yang benar untuk mengapresiasi seni, mengapresiasi film. Karena yang kita lihat di sini adalah chef yang great at what he does, yang percaya sama seni kuliner sampai ke akar filosofisnya, yang membuat rangkaian menu dengan tujuan dan konsep matang sebagaimana filmmaker menyiapkan filmnya, tapi di saat yang sama dia juga adalah orang yang telah kehilangan passion terhadap hal yang ia lakukan tersebut. 

Nonton film ini ya awalnya tertarik, lalu ngeri, terus jadi kepikiran sendiri. Sungguh sebuah konsep luar biasa menarik dipunya oleh film ini. Dijual sebagai dark komedi thriller, padahal sebenarnya merupakan food for our thought. Pada lihat dong, gimana kondisi kuliner di sana seperti menyimbolkan sinema juga? Amit-amit kita jadi sinefil yang snob kayak foodies di film itu yaa

My Favorite Scene:

Ketika heroine kita berusaha mengembalikan sedikit passion itu kepada si chef, dengan memintanya membuatkan cheeseburger – as opposed to fancy meals. Maaan, adegan bikin burgernya bener-bener menggiurkan!!

 

 

 

 

 

 

5. TRIANGLE OF SADNESS

Director: Robert Oslund
Stars: Harris Dickinson, Charlbi Dean, Dolly de Leon, Woody Harrelson
MPAA: Rated R
IMDB Ratings: 7.6/10
“I sell shit.”

 

Berawal dari model disuruh pasang tampang semakin jutek, seiring semakin mahal busana yang dikenakan, ke persoalan split bill cewek-cowok, ke persoalan orang kaya karena jualan tai, ke terdampar di pulau, Triangle of Sadness adalah satir yang menyenggol gender-role dan kelas sosial.

Setiap dialog, setiap adegan, akan membuat kita menempelkan mata dan telinga, karena semuanya dibuat dengan begitu menarik. Kita tahu film ini ingin menyampaikan sesuatu di balik kejadian yang sekilas tampak shooting fish in the barrel. Kayak cuma pengen mengolok orang kaya, tapi sebenarnya naskah mengembangkan mereka dengan berimbang. Film ini salah satu contoh lagi dari naskah yang dibuat dengan penuh pemikiran dan maksud. Enggak sekadar lucu-lucuan. Strukturnya sendiri kalo kita cermati seksama chapter-chapternya, ya kayak segitiga juga. Karena film ini sesungguhnya memuncak di tengah, dan di akhirnya adalah situasi yang sama kayak di awal, hanya dengan pembalikan role buat karakter-karakternya.

Keren banget gimana film ini bisa membuat dunia yang mungkin gak familiar itu – gaya hidup model dan orang kaya – dijadikan candaan, tapi kemudian lantas jadi relevan.

My Favorite Scene:
Badai di kapal! Serius, film ini gila banget masukin adegan seover itu tapi bisa gak tampak receh hahaha

Beberapa detik sebelum ‘badai’ menerpa

 

 

 

 

 

 

4. NOT OKAY

Director: Quinn Shephard
Stars: Zoey Deutch, Mia Isaac, Dylan O’Brien
MPAA: Rated R 
IMDB Ratings: 6/10
“So maybe one day, I’ll forgive you. But we will never be OK.”

 

Man, di pembuka aku ngomongin horor lagi make a new hits, tapi yang akhirnya masuk daftarku malah komedi satir banyaknya hahaha.. I guess aku bener-bener naruh perhatian lebih buat naskah yang menarik dan cerdas. Not Okay mungkin film yang jarang terdengar di daftar-daftar terbaik,  tapi inilah dia. Aku suka gimana film ini dengan perfect menangkap fenomena sosial media jaman sekarang. Sedari nulis reviewnya Juni lalu, aku sudah bilang aku bakal masukin ini ke daftar film teratasku. Segitu sukanya aku sama film ini. 

Bukan hanya soal konten bohong demi viral, karakter Zoey Deutch – penampilan aktingnya ngalir banget di sini, sukak! – di film ini benar-benar tepat menggambarkan gimana seorang influencer bisa sok peduli dan akhirnya terjerat dalam lingkaran kebohongannya sendiri. The lie gets bigger. Dan film mentackle bahasan ini dengan membawanya ke ranah yang grounded secara emosional.

Yang hebatnya pada naskah film ini adalah caranya menggarap protagonis yang unlikeable seperti demikian. Film tidak lantas menjadikannya pahlawan – mendapat redemption setelah dicancel. Karena itu akan sangatlah tidak adil, sebab si protagonis kita sesungguhnya adalah outsider dari bahasan yang sok ia angkat dan pedulikan. Ini menunjukkan film benar-benar paham dan tahu apa yang sebenarnya pengen mereka kritik pada konsep influencer masa sekarang.

My Favorite Scene:
Ini mungkin spoiler, tapi yah mau gimana.., Yang bikin aku suka ama film ini adalah pilihan yang mereka bikin diambil oleh karakter Zoey Deutch. Yaitu memutuskan untuk tidak jadi meminta maaf. Karena it’s not about her. Ini gak kayak di kita, yang banyak influencer bikin salah lalu segampang itu tinggal minta maaf. Film ini benar-benar mengerti dan membuat karakternya menyadari hal tersebut.

 

 

 

 

 

 

3. THE FABELMANS

Director: Steven Spielberg
Stars: Gabriel LaBelle, Michelle Williams, Paul Dano
MPAA: Rated PG-13 
IMDB Ratings: 7.7/10
“Movies are dreams that you never forget.”

 

Dari tiga film tentang kehidupan masa kecil/muda sutradara tahun ini, yang paling konek dan berkesan buatku adalah The Fabelmans karya Spielberg. Tadinya aku sudah nge-book spot buat West Side Story, ternyata Spielberg bikin film lagi, dan The Fabelmans ini actually resonance banget buatku yang pengen bisa bercerita seindah itu lewat film.

Terlihat jelas bahwa film sungguhlah penting bagi Spielberg. Karena di sini diceritakan tentang Sammy yang menemukan hidupnya dari kerjaan mengolah pita-pita yang ia rekam. Dari kerjaannya bikin video entah itu film untuk teman sekelas, maupun video liburan keluarga. At the emotional heart, film ini bicara tentang anak yang menemukan duluan ibunya ternyata tidak cinta dengan ayah. Kepentingan medium film berhasil dimasukkan berkait dengan aspek emosional tersebut. Yang menginspirasi adalah adegan-adegan saat Sammy menggarap video-video. Bagaimana dia menciptakan efek, bagaimana dia mengarahkan temannya. Dan gimana film yang ia hasilkan menyentuh setiap orang yang menonton. Lewat itu semua, Spielberg menunjukkan kekuatan sinema, bagaimana gerakan kamera dan segala macam aspek yang direkam dengan hati bisa mempengaruhi orang.

Kunci kesuksesan film ini juga datang dari penampilan akting. Sudah bukan rahasia lagi gimana Spielberg piawai ngedirect pemain-pemain, terutama yang muda-muda. Di film ini range arahannya tersebut, terbukti sangat luas. Seth Rogen saja bisa dibikinnya humanis!

My Favorite Scene:
Akting singkat nan berkesan paling memorable adalah cameo David Lynch di akhir. Gila, di menit-menit akhir itu film masih sempat ngajak kita bercanda dengan dialog Lynch dan pergerakan kamera yang selaras dengannya pas di momen final film. Bisa aja!!

 

 

 

 

 

 

2. EVERYTHING EVERYWHERE ALL AT ONCE

Director: Dan Kwan, Daniel Scheinert
Stars: Michelle Yeoh, Stephanie Hsu, Ke Huy Quan, Jamie Lee Curtis
MPAA: Rated R
IMDB Ratings: 8.1/10
“So, even though you have broken my heart yet again, I wanted to say, in another life, I would have really liked just doing laundry and taxes with you.”

 

Awalnya aku hanya memandang ini sebagai Rick and Morty versi film keluarga. Lalu sebagai multiverse yang lebih keren daripada Dr. Strange. Tapi semakin ditonton, semakin kita masuk ke dalam durasi yang memperlihatkan perjuangan seorang ibu lintas multiverse, maka jelaslah sudah film ini jauh lebih besar dari semua itu. 

Pertama, film ini juga menginspirasi untuk bikin film bagus, karena film ini actually bukan produksi gede. Budgetnya gak raksasa, timnya gak banyak. Tapi pencapaian visualnya luar biasa. Mereka membuat banyak sekali dunia yang ajaib, sebagai bagian dari multiverse, dan berhasil mengedit itu semua ke dalam penceritaan yang super duper kompleks. Syarat yang dipenuhi oleh film sehingga ceritanya tidak jadi bikin bingung – walau dunianya banyak dan bicara soal konsep nihilisme sebagai antagonis – adalah punya konflik yang grounded. Konflik ibu dan anak perempuannya, Konflik istri dengan suaminya yang terlalu baik.

Kedua, soal action. Film ini ngambil step yang jauh lebih gede dari konsep berantem ala kung-fu yang biasa kita lihat. Karena di sini, panggungnya adalah multiverse. Film menggunakan banyak sekali elemen-elemen unik dari panggung cerita, dari karakter (gimana awalnya gak bisa berantem, lalu jadi jago) sehingga semuanya jadi seru. Jamie Lee Curtis aja di sini bisa gilak gitu berantemnya. Harusnya jurus itu yang dia bawa pas ngelawan Michael Myers hihihi.

Ketiga, tentu saja naskahnya. Walau dunia, karakter, dan konsepnya zany, tapi karena kebutuhan film ini bukan jadi komedi meta kayak Rick and Morty yang basically punya konsep dunia yang sama, dialog-dialog di sini tuh bakal bikin hati kita diaduk-aduk alih-alih bikin bingung.

My Favorite Scene:
Adegan batu. Aku sampai masukin itu ke nominasi Best Scene di My Dirt Sheet Awards 11 nanti. Perbincangannya benar-benar ngena, jadi kontras yang bergaung banget setelah semua kehebohan multiverse dan donat-donat sebelumnya.

 

 

 

 

Okeh, tinggal film puncaknya. Well, yang sudah lama ngikutin blog ini mungkin sudah bisa lihat polanya. Aku hampir selalu meletakkan film yang objectively beneran best di posisi nomor dua, karena posisi satu akan kuberikan untuk film yang benar-benar ‘gue banget’. Makanya tiap tahun, selalu banyak yang surprise haha.. Kenapa konsepnya begitu? karena this list is supposed to be subjective. Aku selalu berusaha seobjektif mungkin di review-review, berusaha ngasih skor yang paling mewakili kualitas filmnya secara teori dan penulisan naskah. Sekarang, saatnya ngumpulin film-film itu ke dalam satu daftar teratas, yang kalo orang lihat mereka langsung tahu “oh ini pasti daftarnya si Arya.” Daftar My Dirt Sheet. Aku gak mau ini list Top-8 ku ini saking seragamnya jadi kayak kayak daftar yang disusun oleh A.I.. Enggak. Cukup sketsa dan gambar saja yang dibikinin oleh komputer. Let me have this one! 

Maka dari itu, inilah film yang menurutku paling pantas kuletakkan sebagai posisi puncak. Film yang bukan saja menginspirasi karena juga budgetnya gak gede, tapi juga mengembalikan cintaku kepada genre yang telah membuatku tertarik untuk nonton lebih banyak film lagi sedari awal. 

 

 

1. TERRIFIER 2

Director: Damien Leone
Stars: Lauren LaVera, David Howard Thornton, Amelie McLain
MPAA: Not rated
IMDB Ratings: 6.2/10
“Cause food’s a little funny, at the Clown Cafe”

 

Nasib horor/slasher modern ada di tangan Art the Clown.

Aku gak muluk bilang begitu karena kapan terakhir kali kita nonton horor yang gak ribet sama pesan politik atau isu sosial berlebihan, sekaligus gak takut untuk melanggar batas-batas sadis, brutal, jorok, dan lainnya, dan sanggup bikin karakter ikonik? Terrifier 2 berani dan melakukan itu semua. Setelah nonton film ini, aku gak khawatir lagi, Michael Myers can rest in peace.

Bukan berarti film ini kosong kayak ciki anak SD. Terrifier 2 adalah upgrade besar-besaran dari film pertamanya yang memang cuma gore-fest. Kali ini, Terrifier 2 dihadirkan dengan muatan drama dan plot yang berarti. Tentang kakak beradik sepeninggal ayah mereka. Kakak yang harus jadi pelindung bagi adiknya, pengganti sosok ayah, tapi si kakak ini masih galau dan gak percaya dia sanggup untuk semua itu. Plot sederhana yang berhasil jadi nyawa film ini, merayap di balik adegan-adegan pembunuhan yang gak nahan apapun. Inilah yang selama ini kuminta pada horor. Soalnya gak banyak horor atau slasher yang punya plot dan kesadisan sekaligus. Memang sih, karena level sadisnya, film ini bukan untuk semua orang. Kalo mau ajak pacar nonton ini juga kayaknya harus mikir dulu, it could be too gross. Totally, film ini bukan untuk yang faint-hearted, definitely tidak untuk ditonton saat makan. Aku aja panas dingin kok nontonnya. Dan itu membuktikan betapa film ini berhasil menciptakan ‘dunianya’. Terrifier 2 begitu kreatif, mereka juga gak punya budget gede, tapi berhasil ngasih sesuatu yang berdamage luar biasa dengan efek-efek horor/gore praktikal.

Secara akting, juga melebihi ekspektasi. Final girl dan si Art, bahkan si badut kecil yang bikin film ini jadi punya elemen mistis, semuanya dapat nominasi di My Dirt Sheet Awards. Pokoknya gak kayak horor Indonesia yang entah kenapa belakangan suka bikin final girlnya gak tersentuh, film ini beneran ‘menyiksa’ si karakter. Membuat survivalnya penuh oleh growth dan development, yang bikin kita ngecheer dia. Mengenai si Art, karakter ini bakal jadi ikonik karena punya kekhasan. Dia gilanya beda ama badut-badut di horor lainnya. To be honest, dibandingkan dengan Art yang bener-bener edan dan selalu sukses bunuh korban tanpa ba-bi-bu, Pennywise di It jadi kelihatan kayak anak pesantren yang alim hihihi

My Favorite Scene:
Aku jarang sekali suka sama adegan mimpi, karena biasanya cuma digunakan untuk mancing cheap scare, tapi adegan mimpi di Terrifier 2 begitu elaborate dan penting dalam bangunan narasi. Begitu banyak kengerian dan kegilaan di sekuen panjang mimpi tersebut!!

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Itulah daftar Top Movies 2022 My Dirt Sheet. The word here is the ‘magic of cinema’.

Berikut lengkapnya 122 film yang sudah direview dan dinilai di sepanjang tahun:

Apa film favorit kalian di tahun 2022? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2023?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

WEST SIDE STORY Review

“Hate cannot drive out hate; only love can do that”

 

 

Belakangan ini kita memang diberkahi banyak banget film musikal yang keren-keren. Annette (2021) yang menekankan kepada sisi absurd seninya. Tick, Tick…Boom! (2021) yang melekat berkat relate personal ceritanya. Ada begitu banyak pilihan musikal yang bagus, yang mampu membuat aku yang gak fans musik jadi jatuh cinta. Tapi dari semua, West Side Story garapan Steven Spielberg-lah yang paling pas untuk mengenakan mahkota. Karena film ini benar-benar goes for the big! Baik itu performance, musical numbers atau adegan musikalnya, produksi, hingga ke pesan, semuanya spektakuler. Spielberg ngedirect film ini dengan kemegahan yang cuma dia yang bisa. Dan itu berarti luar biasa karena film ini sendirinya sebenarnya adalah sebuah remake dari musikal yang enggak ‘kecil’. Spielberg membuat cerita ini lebih besar dan lebih relevan lagi!

Materi aslinya terinspirasi dari kisah Romeo dan Juliet. Namun alih-alih perseteruan keluarga, kisah cinta Tony dan Maria di West Side Story berada di tengah-tengah seteru dua kelompok etnis pemuda yang berbeda. Manhattan 1957 itu tempat tinggal yang jadi rebutan oleh penduduk imigran yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di satu sisi ada kelompok Inggris, dengan geng Jet. Dan di sisi lain ada warga Puerto Rico dengan kelompok Shark. Dua kelompok ini terus saja berantem, cari ribut. Persaingan memenuhi kebutuhan hidup yang layak membuat kedua kelompok saling benci. Tapi tidak Tony dan Maria. Bertemu di pesta dansa (sementara geng masing-masing lagi rebutan lantai dansa), Tony yang mantan anggota Jet dan Maria yang adik dari ketua Shark jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka bermaksud hidup bersama, pergi dari kota dan start fresh. Tentu saja, kedekatan mereka berdua dijadikan alasan baru bagi Jet dan Shark untuk ribut. Dan kali ini benar-benar bakal ada nyawa yang jadi korban.

westsideDF_12072_R12_COMP
Rumbling, rumbling~~

 

Namanya juga musikal, semua permasalahan film ini diceritakan lewat lagu. Set drama di kota dilandaskan lewat adegan musikal di opening. Alasan Jet nyari ribut, juga lewat musikal. Bahkan pas sekuen berantem pun juga ada gerakan-gerakan seperti balet (sebelum akhirnya film ini nunjukin berantem yang cukup violent). Dari nonton West Side Story inilah aku jadi mikir, bahwa keberhasilan sebuah film memang gak pernah sesederhana ‘horor yang penting harus bisa bikin takut’, ‘komedi yang penting harus lucu,’ ataupun ‘romansa yang penting harus bisa bikin baper’. Karena dengan begitu berarti ‘musikal berarti harus bisa bikin ikut nyanyi’. Nah dengan logika itu, sampai kapanpun aku gak akan pernah nemuin musikal yang bagus karena aku yang gak suka musik gak akan pernah nyanyi menonton musikal. Dan kalo aku – kalo kita – menilai film dengan subjektivitas sesederhana fungsi tersebut, ya kitalah yang rugi. Kita gak akan tahu film bagus bahkan kalo film itu tayang di depan hidung kita. Dari musikal segrande West Side Story inilah kita bisa sadar bahwa meskipun kita gak konek dengan liriknya, atau dengan musiknya, atau bahkan dengan bahasanya, sebuah film masih akan tetap bagus dan itu dinilai dari objektivitas teknik film itu dibuat, cerita film itu ditulis, seperti apa gagasannya disampaikan. Bagaimana craft film dalam memuat isi kemudian menampilkannya ke dalam genre masing-masing, di situlah sebenarnya penilaian film bagus atau tidak. 

Dan West Side Story benar-benar dibuat dengan epik. Setiap adegannya, mau itu musikal ataupun pas ngobrol biasa, berwarna oleh detil, penempatan kamera, dan bahkan bloking orang-orangnya saja seperti bermakna. Adegannya tu gak pernah sekadar nari-nari rame-rame di tengah jalan. Saking banyaknya adegan bagus yang benar-benar nonjolin craft dan visi dari si filmmaker, aku bisa bikin listicle khusus di dalam tubuh ulasan ini. ‘Dua-puluh Adegan Terepik dalam West Side Story, Nomor Lima Bakal Bikin Kamu Ikutan Joget!’ Ya, bukan lima, bukan delapan. Dua puluh itu aja kayaknya belum semua deh yang keitung. Kamera dan perhatian Spielberg lewat bercerita visual mengangkat setiap adegan musikal menjadi momen-momen ajaib yang kita rugi kalo sampai ngedip and miss it. Adegan nyanyi di gang gelap, lalu Tony loncat ke kubangan, kamera lantas menyorot dari atas; memperlihatkan pantulan berpuluh-puluh lampu dari jendela lewat riak-riak kubangan tersebut, maaan siapa sih yang bisa kepikiran membuat adegan seperti itu. Shot-shot film ini memang sangat imajinatif, gak ada yang standar. Dua geng saling bertemu di dalam gudang yang gelap; Spielberg mempesona kita dengan menggambar dari bayangan kedua kubu. Lalu ada juga sekuen panjang saat adegan masuk ke ruang dansa. Kameranya kayak melayang gitu aja, nempel di tubuh lalat kali hahaha. Buatku, film seperti beginilah yang menantang – sekaligus menginspirasi. Film, yang saat menontonnya kita langsung penasaran mereka ngerekamnya seperti gimana, kameranya gimana. Kok bisa? 

Akhirnya ya kita yang nonton jadi merasa dapat lebih banyak daripada sekadar lirik atau irama yang catchy. Kita ujung-ujungnya jadi mengapreasiasi musikal itu secara keseluruhan. Aku paling suka adegan nyanyi Amerika, dan adegan nyanyi di dalam ruangan kantor polisi. Selain itu, dengan pengadeganan dan penampilan menawan seperti itu, perhatian kita juga jadi terpusat pada cerita. Hampir seperti kita gak butuh lagi sama dialog. Mungkin ini jugalah yang dimengerti oleh film, sehingga Spielberg tidak menampilkan subtitle untuk dialog-dialog dalam bahasa Spanyol. Spielberg melalukan ini demi respek terhadap karakter dan bahasa itu sendiri, tapi dia toh juga tidak mempersulit atau meminta terlalu banyak kepada penonton. Perhatikan saja adegan-adegan berbahasa Spanyol itu. Selalu hanya keluar dalam adegan yang konteksnya sudah terlandaskan dengan baik. Selalu punya weight ke dalam karakterisasi dan plot itu sendiri. Ketiadaan subtitle ini justru jadi penanda utama bahwa film ini telah demikian baik bercerita lewat visual dan penampilan atau juga musiknya.

Colorfulnya pengadeganan didesain kontras dengan kelamnya cerita. Aku nonton film ini duluan daripada film aslinya, aku gak tau sebelumnya ini ceritanya bakal seperti apa. Dan aku surprise juga saat menyaksikan ujung cerita film ini. Aku gak expect kalo film yang udah dibuat untuk penonton modern ini berani membuat sekelam itu. Mungkin inilah kenapa West Side Story kurang laku (selain karena musikal memang kurang perform untuk penonton kita). Modern audience kan gak bisa dikasih ending yang conflicted. Pengennya yang jelas. Happy, atau sedih. Kalo bisa sih yang happy aja. Gak boleh di antara keduanya. West Side Story berakhir tragis dengan cinta yang terpisah oleh kematian, tapi punya undertone yang optimis ke arah kehidupan yang lebih baik untuk semua orang di kota. This ending will hit alot.  Dan aku senang karena film ini mengambil resiko dengan ending seperti itu. Film ini telah melakukan cukup banyak penyesuaian – ada hal-hal yang dibikin berbeda dengan versi aslinya – tapi untungnya tidak diubah sesuai kesukaan penonton modern. Malah kalo dipikir-pikir, ending versi ini memang lebih menohok.

westside-side-story-trailer-
Si Maria mirip-mirip Susan Sameh gak sih?

 

Seperti pesaingnya di Best Picture Oscar, Coda (2021), film West Side Story juga melakukan remake yang melakukan perubahan positif dalam hal representasi. Spielberg tak lagi menggunakan aktor kulit putih yang dimake-up coklat, melainkan benar-benar menggunakan aktor latin untuk karakter-karakter Puerto Rico. Feels film ini jadi semakin otentik, selain juga respek sama ras yang diangkat. Soal casting ini memang benar-benar dimanfaatkan sebagai isi karakter. Ariana DeBose yang berkulit lebih gelap misalnya, diset untuk memerankan Anita yang nanti terlibat dialog soal kulit itu dengan sesama Puerto Rico, terkait konteks bagaimana prioritas Amerika kepada warganya. Terus, ada karakter yang benar-benar merepresentasikan trans-people, sementara film aslinya tahun 60an belum berani banget menampilkan. Lalu ada juga aktor yang gak sekadar jadi cameo dari film original, tapi diberikan peran yang dramatis terkait dia memerankan peran terdahulu dengan peran sekarang. Tapi yang paling penting soal cast ini adalah, Spielberg benar-benar ngedirect mereka untuk menghasilkan performa yang sama luar biasanya.

Masalah rasis yang jadi akar konflik film ini digambarkan dengan kompleks, dan jadi masalah yang terstruktur karena begitulah pondasi tempat tinggal daerah mereka. Tapi kalo mau disederhanakan, sebenarnya ini adalah masalah hate. Kebencian. Makanya hubungan cinta antara Tony dengan Maria jadi simbol penyelamat mereka semua. Mereka cuma harus bisa melihatnya. Walau kadang cara untuk sadar itu bisa demikian tragis.

Honestly, pas pertama kali nonton aku mikir film ini – terutama karena endingnya – agak problematis. Like, kenapa kulit putih mati jadi seperti savior. Bukankah, aku sempat mikir, lebih cocok dengan penonton modern kalo dibikin yang jadi ‘penyelamat’ itu adalah karakter cewek. Setelah dipikir-pikir, dikaitkan dengan arc Tony dan Maria, the whole ending ternyata memang harus terjadi seperti yang film ini lakukan. Tidak ada jalan lain yang lebih powerful.

 

Tony yang diperankan oleh Ansel Esgort di versi ini diberikan journey yang lebih dramatis. Backstorynya – mengapa dia keluar dari Jet, kenapa dia bisa punya hubungan baik dengan pemilik toko yang orang latin – benar-benar melandaskan arc penebusan diri. Benar-benar memperlihatkan Tony mencoba menjadi pribadi yang lebih baik, tapi tidak segampang itu berkat kuatnya pengaruh seteru dan hate tadi di kota. Arc si Tony baru akan melingkar sempurna dengan ending film ini, karena itulah penebusan dirinya yang sebenarnya. Bukan dengan pergi menumbuhkan cinta di tempat lain. Kota ini juga harus diresolve masalahnya. See, di sinilah letak kekuatan naskah West Side Story. Kota mereka juga jadi karakter tersendiri. Yang bakal ngalamin pembelajaran, melalui nasib dua karakter sentral. Maria, diperankan oleh Rachel Zegler dengan memukau meski ini adalah film pertamanya, punya arc tentang innocence lost. Maria adalah simbol atau perwujudan dari value positif; polos, penuh mimpi, optimis. Karakter Maria ini jadi makin penting saat ending itu, karena lewat dialah karakter-karakter di kota melihat apa yang telah mereka lakukan terhadap kota yang harusnya adalah tempat penuh harapan dan mimpi.

 

 

 

Ah, film yang indah. Baik itu pesannya, experience menontonnya, serta penampilan akting dan musikalnya (yang btw, bener-bener dinyanyikan oleh pemainnya). Dunianya terasa hidup, setiap adegan pantas banget untuk kita pelototin. Setiap scene terasa epik dan spektakuler. Everything about this movie feels grande. Aku harus menahan diri nulisnya, karena kalo gak, bakal panjang banget. Karena semuanya bisa dibahas mendalam. Semuanya punya makna. I’m okay film ini yang dipilih Oscar untuk mewakili genre musikal dibandingkan film yang lain. Bukan hanya karena nama Steven Spielberg. Pak sutradara berhasil membuktikan nama besanya bukan sekadar legenda. Tapi juga karena film ini terasa urgen meskipun dia adalah remake. Aku senang karena actually di line up Best Picture Oscar tahun ini, ada dua film remake yang tampil demikian kuat melebihi film original mereka.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for WEST SIDE STORY.

 

 

 

That’s all we have for now

Sayang sekali film ini flop di bioskop kita. Menurut kalian kenapa film musikal enggak perform dengan baik bagi penonton Indonesia?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

LICORICE PIZZA Review

“Aren’t grown up people just little children at heart?”

 

 

Selama enggak masalah sama adegan perempuan dewasa memperlihatkan dadanya kepada cowok remaja, atau sama candaan berbau rasis, Licorice Pizza memanglah sebuah tontonan kisah cinta sepasang darah muda yang manis. Dan untuk sebagian besar waktu, film ini tidak membesarkan dirinya lebih daripada tentang itu. Buatku, romance komedi bersetting di sebuah kota dalam bayang-bayang 70an ini adalah yang paling less-urgent di antara sepuluh nominasi Best Picture Oscar 2022. Karena pesonanya yang terletak pada cinta dalam bingkai personal, bukan pada menelisik kejadian-sekarang dan agenda-agenda yang relevan. Film ini lebih terasa seperti fantasi, atau ingatan ke masa muda, like, menontonnya seperti mendengar seorang teman yang menceritakan pengalaman cinta pertama yang sampai sekarang terus membara. Licorice Pizza dibuat seperti rayuan manja yang mengajak kita memanggil kembali jiwa muda yang masih ada di dalam sana, yang gak akan pernah pergi meskipun kita semua merasa sudah waktunya untuk bertumbuh. 

Paul Thomas Anderson selaku penulis naskah dan sutradara memang menyusun narasi Licorice Pizza ke dalam bentuk yang terasa seperti per episode, seolah sedang merekoleksi memori. Gary bertemu dengan Alana di sekolah, tapi mereka bukan teman sekelah. Mereka bahkan enggak seumuran. Alana saat itu lagi kerja, jadi asisten tukang foto untuk sekolahannya Gary. Seperti layaknya cowok remaja yang curious sama kakak-kakak cantik, Gary langsung naksir Alana. Dia bahkan malam itu bilang ke adiknya bahwa dia telah menemukan perempuan yang bakal jadi istrinya. Jadi, Gary terus mengejar Alana. Alana yang nyadar gap-umur, berusaha untuk gak nunjukin perasaan, tapi toh Alana selalu ada bersama Gary. Mulai dari jadi ‘babysitter’nya hingga jadi rekan bisnis kasur-air yang dibangun Gary. Di sinilah kesan ‘episodik’nya itu dimulai. Mereka berdua akan bertemu berbagai macam orang, yang bakal bikin hubungan mereka naik-turun, karena tentu saja akan ada cemburu-cemburuan juga di sana.

pizzaimage-w1280
Dan bakal banyak sekali lari-larian

 

Feeling yang dihasilkan memang begitu otentik. Dunia 70an itu ditangkap lewat lensa dan pencahayaan yang mainly consist of semburat keemasan, sehingga benar-benar terasa mewakili era lampau yang dikenang dengan nuansa fantasi. Setting waktu tersebut juga sangat mewarnai narasi. Suasana politik, kebiasaan masyarakat, keadaan ekonomi, hingga tren kasur air itu sendiri semakin menghidupkan dunia tempat para karakter berinteraksi. Tentu saja gak cukup hanya di panggungnya saja. Para karakter itu sendiri juga dihidupkan dengan maksimal. Dua karakter sentral, Gary dan Alana, haruslah natural dan punya chemistry semempesona dunia mereka. Anderson mempercayakan leads-nya ini kepada dua aktor yang sama sekali belum pernah berakting di film-panjang. Dan baik itu si Alana Haim (penyanyi pop yang memboyong keluarganya untuk memerankan Alana dan keluarga di dalam cerita) maupun Cooper Hoffman (putra dari mendiang aktor Philip Seymour Hoffman) benar-benar membuktikan bahwa Anderson bukanlah sedang gambling; melainkan membuat sebuah investasi tajam nan teruji. Akting mereka berdua sungguh meyakinkan, hampir seperti merekalah karakter tersebut. 

Gary orangnya supel, temannya banyak, ‘pengagumnya’ juga. Gary dikenal bukan saja oleh sepantarannya, tapi juga oleh orang-orang yang lebih dewasa. Pembawaannya memang lebih dewasa dibanding umurnya. Beda ama Alana yang lebih tertutup, ketus, belum pernah pacaran, penuh keinsecurean, di umur yang sepuluh tahun lebih tua itu galau dan cemburunya bisa melebihi anak remaja seusia Gary. Dinamika mereka memang bersumber dari jarak umur tersebut. Tapi naskah tidak membuat kita mempertanyakan mereka akhirnya jadian atau enggak. Itu sudah diestablish sejak menit-menit pembuka. Tidak ada pertanyaaan; mereka berdua saling suka. Naskah film ini adalah soal drama yang mereka ‘pilih’ untuk lalui walaupun mereka saling suka. Bahwa mereka kidding with their feelings, atas nama bertindak dewasa. Akting dan karakterisasi mereka, aku apresiasi. Namun I just can’t love them seperti seharusnya seorang penonton film kepada karakter cerita. Karena fokus narasinya tersebut. Ceritanya yang dreamy dan fantasi, tapi bukan tentang bagaimana mewujudkannya menjadi nyata – bisakah hubungan tersebut jadi nyata. Melainkan udah fixed, gak ada ruang pertanyaan lagi di cerita ini. Persoalan hubungan yang mestinya ‘bermasalah’ tersebut dianggap gak ada gitu aja.

Iya, mungkin aku sedikit iri sama Gary dan Alana. Jika gender-rolenya dibalik, they were me. Di dunia nyata jika dibalik, hubungan seperti Gary dan Alana tidak akan dianggap sweet dan keren. Yang ada malah akan dituduh mau ‘grooming’, pedo, dimarahin ortunya, ataupun hal-hal lain yang bisa diantagoniskan sebagai konten Tiktok. Gary dan Alana sama sekali gak genuine buatku karena gak bakal begitu di dunia nyata. Tapi mungkin juga di situlah poinnya. Semua akan berbeda, tergantung gender yang melakukan. Tergantung sudut pandangnya. Nah di sinilah masalah film ini buatku. Sudut pandang atau perspektif dari Gary maupun Alana tidak pernah digali dengan luas. Mereka tidak kita kenal di luar romance atau perasaan cinta mereka. Gary praktisnya tidak punya development. Karakternya sama dari awal hingga akhir, dia tidak perlu membuktikan diri dia bisa dewasa, karena dia sudah seperti itu sejak cerita dimulai. Dia tidak pernah menganggap jarak umur mereka sebagai masalah. Dengan begitu, karakter ini jadi tidak ada mengalami pembelajaran.

pizza5902
It’s my dream, (Tho) Mas. Not her!

 

Jadi, tinggal si Alana. Perlu diingat, ini bukan kayak cerita drama cinta yang si jutek akhirnya luluh dan jatuh cinta kepada yang terus memberikan perhatian kepadanya. Alana sedari awal sudah tertarik, cuma dia enggak menganggap Gary dengan serius karena dia menganggap Gary masih bocah. Ada beberapa kali adegan Alana menyipitkan mata, melihat Gary yang bahkan belum bisa nyetir itu gak ngerti politik ataupun situasi ekonomi. Plot dan pembelajaran Alana adalah dia akhirnya menyadari bahwa umur itu cuma angka. Kedewasaan sikap dan kematangan mental gak tercermin di umur. Dia harus ngakui bahwa dia bisa lebih ‘bocah’ ketimbang Gary. Untuk mencapai pembelajaran tersebut, film tidak ngasih jalan lewat eksplorasi dalam-diri si Alana, melainkan dari luar. Dari karakter-karakter pria dewasa yang ia temui – yang ternyata jauh lebih parah ketimbang Gary. Dan itu bukannya Alana gak aware sama sikap para cowok. Alana ini pinter. Tapi somehow dia kayak desperate. Dia cuek aja sama male gaze ataupun sikap merendahkan lain. Dia slow aja bikinian sendiri di tengah pesta yang semua orang berpakaian lengkap. Flirtation alias tarik ulurnya kepada Gary membuat karakter ini jadi gak konsisten. Ditambah dengan Alana gak pernah berinteraksi dengan orang untuk dirinya sendiri (di luar berkaitan dengan Gary), karakter Alana ini jadi dangkal dan annoying buatku.

Tapi dari Alana ini kita bisa menyimpulkan bahwa film memang ingin memperlihatkan bahwa umur tidak pernah jadi soal. Hanya angka. Semua orang punya sisi kekanakan dalam dirinya. Betapapun jauhnya kita bertumbuh, menjadi diri yang ‘baru’ dengan tempaan pengalaman dan sebagainya, bisa kembali ke sisi ‘anak’ di dalam diri merupakan kenyamanan tak terhingga. Inilah kenapa Alana akhirnya lari kembali kepada Gary, dan sepenuhnya menerimanya. Dan ngomong-ngomong soal lari, film ini memang menyimbolkan perasaan bebas khas anak-muda tersebut dengan adegan-adegan berlari.

 

Permasalahan drama cinta selalu sama. Film tidak berhasil ngasih alasan kenapa sepasang karakter sentral itu harus berakhir jadian. Licorice Pizza ngeskip ini gitu aja, walaupun dalam cerita seperti ini pembelajaran barulah akan ada dan terasa kuat bagi dua karakter jika mereka enggak berakhir bersama. Enggak lagi menarik menonton tarik ulur anak remaja dengan orang dewasa. Maka keputusan film bercerita dengan episodik jadi tepat, untuk konteks pengembangkan minimalis seperti ini. Makanya cameo-cameo dalam film ini selalu jadi scene-stealer. Bukan semata karena mereka diperankan aktor gede seperti Sean Penn, Bradley Cooper, atau Maya Rudolph. Tapi karena Gary dan Alana tidak ada atau minim sekali perkembangan. Peran-peran kecil para aktor gede tersebut jadi suntikan fresh, yang bikin kita ‘melek’ lagi setiap kali Gary dan Alana mulai terasa repetitif. Penonton mengapresiasi mereka di atar peran yang seksis ataupun candaan yang problematis. 

Orang-orang banyak menghujat Don’t Look Up (2021) karena komedi receh yang diperankan aktor ternama yang main di situ. Walaupun komedinya tepat menyinggung keadaan di era pandemi, orang-orang tetap menganggapnya trying too hard. Dan memilih untuk gak mengakui kepintaran penulisannya. In short, people just hate it meskipun recehnya itu gak menyinggung kecuali tepat konteks dan sasaran. Aku menganggap sikap orang-orang itu aneh, karena di film Licorice Pizza ini tak kalah banyaknya karakter-karakter receh yang dimainkan aktor gede, dengan joke yang actually benar-benar menyinggung seperti soal rasis untuk orang Jepang dan sebagainya. Kenapa Licorice Pizza ini gak dapat ‘hujatan’ yang sama? Menurutku malah harus lebih lagi, karena sekalipun karakter itu juga memainkan sindiran terhadap dunia 70an, tapi jika dipertahankan untuk ditonton dan jadi lelucon di tahun sekarang, ya itu baru namanya too hard buat jadi lucu. Film ini mengadakannya hanya karena hal tersebut ada sesuai ingatan pembuat, dan inilah yang mengurung naskah dan karakter, membuatnya jadi tak bisa berkembang. 

 

 

 

Jadi sebenarnya film ini bukan tentang kisah menjadi dewasa, melainkan kisah terus menjadi remaja. Ceritanya sendiri benar-benar seperti rekoleksi ingatan manis tentang cinta di masa muda. Film ini keren dan hidup sekali dalam menggambarkan perasaan. Baik itu perasaan tentang dunianya, maupun perasaan cinta yang dirasakan karakternya. Hanya saja, cuma perasaan cinta itu saja yang dipunya dan terus digali. Karakternya seperti gak punya concern lain di luar flirt dan bikin cemburu-cemburuan. Makanya buatku film ini gak sekelas sama nominasi Best Picture yang lain. Film ini kelasnya tuh di cinta-cintaan remaja film kita yang biasa, dan film ini ada di bagian puncak kelas tersebut berkat pencapaian teknis dan juga aktingnya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for LICORICE PIZZA.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa cowok muda menyukai perempuan yang jauh lebih dewasa dipandang lebih keren dan manis dibandingkan kalo cowok dewasa suka perempuan yang jauh lebih muda? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

KING RICHARD Review

“The odds will always favor the man with a plan”

 

 

 

Nominasi Oscar untuk tahun 2022 baru saja diumumkan. Dan seperti biasanya, ada aja yang diributin sama khalayak. Kenapa film anu yang masuk, kenapa film yang itu enggak masuk. Selalu ada kekecewaan. Tapi itu bagus, karena selama masih ada yang kecewa berarti subjektivitas menonton film itu masih ada. Kita belum menjadi robot yang seleranya samaaa semua. Subjektivitas itulah yang bikin film beragam, dan actually menciptakan persaingan yang memajukan perfilman. Dan soal subjektif; meskipun kalo ngereview film yang udah ditonton aku berusaha seobjektif mungkin, dalam hal memilih tontonan aku bisa jadi salah satu penonton paling bias sedunia. Banyak film yang gak mau kutonton hanya karena soal sepele seperti tweet sutradaranya, attitude aktornya, atau malah karena tingkah buzzernya. Nah, buatku, yang jadi permasalahan dari sepuluh film yang ada dalam daftar nominasi Best Picture adalah film King Richard. Kenapa? Karena aku simply gak suka ama Will Smith. Jadi aku males, aku gak mau nonton film-filmnya. Kecuali terpaksa. Dan dengan masuknya film ini di daftar nominasi, aku jadi terpaksa harus nonton. Harus ngereview. Dan, sebagai penilai yang harus seobjektif mungkin, kini aku terpaksa harus mengakui bahwa film ini memang layak masuk nominasi. Film biografi ini adalah drama yang menghibur, dan ya, penampilan akting Will Smith membuat karakter menjadi menarik dan asik untuk disimak, walau sedikit problematis.

Kira-kira seperti itulah yang juga kurasakan kepada Richard Williams. Aku gak suka karakter ini. Pria ini keras kepala, dia menuntut semua orang harus melakukan hal yang sesuai pertimbangan dan rencananya, tanpa mau menjelaskan atau berbagi pandangan soal rencana tersebut. Richard sudah punya rencana terhadap dua (dari lima) putrinya semenjak mereka masih kecil. Venus dan Serena ingin dia jadikan atlet tenis perempuan nomor satu di dunia. Menyadari tenis itu olahraga kulit putih, Richard tahu jalan bakal berliku bagi kedua putrinya. Tapi Richard ini sudah punya visi ke depan. Dia pun melatih, mendidik, hingga mengorbitkan putri-putrinya dengan caranya sendiri. Cara yang kadang tampak ekstrim. Hingga tak jarang Richard bentrok dengan pelatih yang sudah bersedia ngajarin mereka bermain secara profesional (tau-tau Richard bilang anak-anaknya gak bakal ikut turnamen kejuaraan!) dan bahkan bentrok dengan istrinya sendiri. 

Udah kayak orang India yang anaknya baru lahir udah ditetapkan harus jadi dokter

 

So yea, from certain point of view, Richard memang problematis. Film ini mengambil sudut pandang seorang patriarki, yang diperlihatkan bahwa berkat jasa-jasanya (termasuk kerasnya didikan dan keras kepala serta pilihan-pilihan anehnya) dunia dipertemukan sama dua atlet tenis perempuan paling hebat yang pernah ada. Like, kenapa bukan Venus atau Serena Williams aja yang diangkat. Kenapa bukan cerita perjuangan kedua atlet yang sudah dididik keras ini saja yang dijadikan sudut pandang utama. Karakter Richard Williams ini jika dimainkan oleh orang yang salah, jika ceritanya dikisahkan dengan cara yang salah, pastilah karakter dan film ini bakal dihujat. Namun dari menonton awalnya saja kita bisa tahu bahwa cerita ini berada dalam tangan-tangan yang tepat. Memang, belum lagi sebuah penceritaan yang sempurna. Tapi setidaknya King Richard mengangkat dengan respek, dan berhasil mencuri perhatian kita selama durasi dua jam setengah yang film ini minta.

Karakter yang gak aku suka, dimainkan oleh aktor yang gak aku suka, tapi nyatanya aku mulai merasakan sedikit simpati kepada perjuangan karakternya seiring cerita berjalan. Aku jadi ngerasa relate juga sama sikap Richard yang suka melakukan hal sesuai rencana. Kita pun mengerti pleadnya, mengerti kenapa dia sekeras dan sengotot itu mengarahkan hidup kedua putrinya yang masih kecil. King Richard memang bukan cerita kemenangan olahraga. Ini lebih kepada sebuah cerita tentang ‘kemenangan’ parenting dari orangtua, itupun jika parenting memang ada unsur kalah-menangnya. Richard, at least, berpikir begitu. Dia kalah jika anak-anaknya tidak mendapat hidup yang lebih baik. Karakter ini selain sebagai orang tua, diberikan layer personal. Richard sendiri adalah seorang, katakanlah, loser. “Ayah dihajar orang lagi!” seru anaknya kepada ibu, mengindikasikan ini bukan kali pertama ayah mereka babak belur. Naskah mengaitkan personal tersebut dengan akar, atau dari mana mereka berasal. Daerah tempat tinggal yang ‘keras’ dan penuh prasangka. Jadi film ini juga bicara tentang kesenjangan hidup terkait warna kulit atau ras.

Lapangan tenis yang bagus adalah yang keras supaya bola-bola hijau itu punya pantulan yang mantap. Begitulah analogi yang cocok untuk set up, latar, yang membentuk karakter-karakter yang menghidupi naskah film ini. Cerita berjalan terbaik ketika mengeksplorasi pribadi Richard. Ketika kita melihatnya sebagai orangtua yang mau melindungi anaknya. Sikapnya yang menarik putri-putrinya dari turnamen dan mau fokus ke pendidikan jadi bisa kita mengerti. Ketika jadi orangtua ini, Richard kelihatan punya flaw. Dia seringkali tampak susah melepaskan egonya, semacam dia mau jadi orangtua yang baik itu bukan seutuhnya demi anaknya, tapi demi dirinya sendiri. Yang bahkan dalam hal olahraga pun dia sebenarnya loser. Will Smith melakukan kerja maksimal dalam menghidupkan karakter ini. Menggunakan kepiawaiannya bermain di antara garis drama dan komedi, Smith membuat Richard tidak sampai menjadi annoying. Dia tetap tampak simpatik. Dan yang terutama, ya menghibur.

Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan. Pepatah itu tentu saja bukan nyuruh kita pasrah. Melainkan harus terus berusaha dengan hati ikhlas. Ikhlas bukan berarti pasrah. Karena ikhlas berarti tetap mengupayakan yang terbaik, meskipun pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Richard Williams pantas dijadikan panutan untuk hal ini. Dia memegang teguh apa yang ia percaya. Dia berjuang sekeras ia bisa. Dia memimpin keluarganya dengan mantap, tidak menunjukkan keraguan walau apapun kata orang.

 

Baru ketika membahas urusan olahraga tenis itulah, Richard terlihat menjengkelkan. Pilihan-pilihan konyolnya, atas nama stick to the plan, itu membuatnya jadi tampak selalu benar. Film tidak benar-benar membuat kita masuk kepada karakter ini soal rencana tersebut. Malah ada yang dia tampak ambigu, entah itu membual atau tidak. Seperti misalnya ketika seorang pelatih yang melihat video latihan Venus dan Serena hanya mau melatih Venus seorang. Richard tampak keberatan mendengar ini, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Kemudian Serena yang merasa left out, berlatih sendiri. Dan di bagian akhir film kita melihat ada adegan dialog antara Richard yang menenangkan Serena dengan menyebut dia memang merencanakan Serena untuk kehebatan yang lebih besar. Dan kita semua tahu seperti apa besarnya nama Serena Williams sekarang. Berkenaan dengan karir olahraga tersebut, Richard benar-benar seperti yang paling tahu. Semua orang seharusnya tidak meragukan dirinya. Dan ini jadi terlalu berlebihan. Membuat karakternya enggak lagi punya sisi dramatis yang membuat kita peduli seperti di bahasan keluarga tadi. I mean, bahkan ayah dalam Captain Fantastic (2016) saja tidak selalu dibuat ngambil keputusan yang benar perihal pendidikan anak-anaknya. Karakter ayah dalam film fiksi tersebut jadi terasa lebih real dibandingkan ayah di drama biografi ini.

Richard malah kayak lebih pinter daripada pelatih tenis beneran

 

Arahan film semakin gak konsisten. Antara drama orangtua atau ke kompetisi olahraga. King Richard ditutup seperti cerita olahraga; dengan satu big match. Mendadak cerita jadi tentang Venus melawan pesaing yang seperti pakai taktik curang. Venus yang udah bertahun-tahun absen dari pertandingan karena disuruh latihan dulu terus dan menikmati masa muda oleh ayahnya, harus membuktikan kemampuannya. Oleh karena sebagian besar waktu dihabiskan film untuk membuat keputusan ayah terhadap pelatihan anaknya itu benar, maka drama olahraga ini jadi gak kena. Kita gak merasakan intensitas dari Venus. Ataupun juga dari match itu sendiri (karena sutradara Reinaldo Marcus Green memang tidak benar-benar mempersiapkan diri dengan adegan olahraga tenis). Kamera lebih sering pindah ke reaksi Richard dan keluarga Venus yang menonton. Bahkan di saat dia seperti udah pasti mau menjadikan film ini berakhir dengan olahraga, Green tahu dia tidak bisa lepas dari karakter utamanya. Maka hasilnya tidak maksimal. Terasa datar. Bahkan dalam kekalahan, Richard tidak merasa kalah. Bola drama ada pada anaknya, tapi anaknya tidak pernah benar-benar digali sedari awal.

Momen-momen Richard dengan anaknya itulah yang kurang. Venus dan Serena Williams jadi totally pendukung, walaupun kondisi yang sebenarnya di dinamika mereka kan ayahnya yang mendukung anak. Film ini cukup lihai. Mereka memberikan momen kepada Venus untuk memutuskan sendiri hidupnya, sehingga tidak lagi kayak diatur terus. Tapi tetap saja pilihan tersebut sejalan dengan Richard. Tetep ayahnya ini benar. Karakter Richard Williams jadi benar-benar kayak ‘dilindungi’. Cerita ini bakal lebih hidup jika lebih banyak momen seperti istri Richard mengonfrontasinya, membuat Richard bergulat dengan dirinya sendiri di dalam hati. Interaksi emosional anaknya yang mulai punya hidup sendiri dengan Richard dan ‘rencana-rencananya’ perlu ditampilkan lebih banyak. Dan konfrontasi itu enggak mesti harus fisik. Ini satu lagi kekurangan dalam penceritaan. Film ini perlu lebih banyak menggambarkan hal-hal emosional yang tak-terucap, ketimbangkan mewujudkannya atau mengucapkan dengan langsung. Literally, film lebih memilih untuk membuat Richard kentut sebagai tanda enggak setuju sama tawaran investor.

 

 

Kalo dibalikin lagi ke perumpaan tenis, film ini ya benar-benar kayak high profile match. Punya hype dan orang excited dan no matter what bakal terhibur. Padahal sebenarnya penguasaan bolanya masih kurang. Film ini masih kurang yakin mau menceritakan ayahnya saja, atau juga mengangkat dua pemain tenis dunia. And it is really weird pada cerita keberhasilan dua atlet cewek yang merepresentasikan ras mereka, mereka tidak diberi banyak sorotan. Melainkan membuat parenting yang ortodoks dan patriarki sudut pandang utama, yang menjadi sumber keberhasilan, dan punya keputusan-keputusan yang ternyata selalu benar. Film ini menghibur, tapi aku bisa paham juga kalo nanti ada yang bilang film ini cuma jadi serve untuk membuat Will Smith bisa jadi smash hit di Oscar.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for KING RICHARD

 

 

 

That’s all we have for now

Menurut kalian seberapa besar jasa Richard untuk karir anak-anaknya? Bagaimana membedakan antara mendukung dengan mengatur di dalam parenting?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

PENYALIN CAHAYA Review

“If he cannot silence her absolutely, he tries to make sure no one listens”

 

 

As of right now, people are just projecting their hate onto this movie. Kebencian yang memang layak sekali untuk dikoarkan karena bersumber dari dugaan kekerasan seksual yang ditutupi, yang ironisnya jadi tema dalam cerita. Sehingga orang-orang sekarang either mengasihani korban, atau mengutuk pelaku yang malah dapat penghargaan dengan menuliskan cerita ini. Like, hampir semua orang yang kulihat di timeline Twitter, yang memilih untuk menonton film ini, menyaksikannya supaya bisa membuktikan dosa itu benar tercermin ke dalam cerita. Menontonnya supaya bisa mengutuknya. Menonton tanpa apresiasi – apalagi memuji dan menikmati – sebagai bentuk solidaritas dan pembelaan kepada penyintas-penyintas yang didramakan. Mengutuk kekerasan seksual dan mengutuk pelakunya jelas adalah perbuatan yang benar. Tidak akan ada yang meragukan di sisi mana kita berpihak when it comes to case like this. Everyone should condemn it. Namun, film tentu bukan persoalan satu orang. Hanya untuk menilai salah-benar adalah alasan yang ‘kurang tepat’ untuk menonton film. Karena menonton harusnya pertama-tama untuk personal.

Aku gak meminta kalian untuk berhenti menyuarakan kebenaran dan berhenti membenci kasusnya. Aku hanya meminta untuk sejenak kita memisahkan film ini dari pelakunya. Toh film hanya ‘mesin fotokopi,’ bukan satu orang yang menyalinkan sesuatu di atasnya. Aku ingin meminta waktu sebentar untuk kita memikirkan apa yang diomongkan Penyalin Cahaya kepada kita, masing-masing. Seperti apa kira-kira dialog kita dengan film ini. Jika kita bukan korban, jika kita bukan pelaku, maka siapa kita, kata film, di cerita ini. Di mana posisi kita. Apa yang kita lakukan di cerita ini. 

penyalinmedia
Kenapa di akhir itu cuma dua cewek yang mendorong mesin fotokopi ke atas gedung? Karena yang cowok Tariq

 

Penyalin Cahaya bercerita tentang mahasiswi berprestasi bernama Suryani. Perempuan yang aktif di kegiatan teater kampus, sekaligus sibuk membantu usaha warung makanan milik orangtuanya. Selain sedikit masalah dengan ayahnya yang keras, things seem going well untuk Sur. Permohonan beasiswanya hampir tembus. Pertunjukan teater mereka sukses berat. Namun semua itu sirna ketika Sur menemukan dirinya terbangun kesiangan esok hari. Beredar foto-foto dia lagi mabok dan berpesta pora di acara sukuran klub teater tadi malam. Permohonan beasiswanya lantas ditolak. Sur diusir dari rumah. Sur yang sama sekali tidak ingat apa-apa kini berusaha membersihkan namanya. Mencari tahu siapa yang telah mengambil foto dan menguploadnya, hanya untuk menemukan perbuatan mengerikan lain yang malam itu terjadi kepadanya. Dan mungkin kepada banyak lagi teman lainnya.

Jadi, di mana aku dalam cerita Sur Menuntut Kebenaran dan Keadilan ini? Aku ngikutin perjuangan Sur menyibak misteri. Aku melihat ketika Sur malah balik dipersalahkan. Dia bicara dan mempertahankan diri tapi, aku menyaksikannya, jadi malah berbalik dituduh melempar fitnah dan meminta maaf walaupun di sini dialah yang paling dirugikan. Hidupnya hancur. Dan apa yang kulakukan? Aku hanya bisa merasa malu. Sedih dan marah juga sih, tapi yang paling nyesek kurasakan adalah malu. Karena film ini memperlihatkan kepadaku kesusahan yang harus dilalui Sur saat speak up sebagai korban. Diperlihatkan dengan emosi yang sangat mendetil, dalam teknis visual yang terlihat begitu luwes bermain close up dan warna-warna, sehingga kadang seperti realm fantasi tapi terasa menampar saking realnya semua terasa. Film ini dihadirkan ringan, tapi karena itulah justru terasa semakin menohok. Karena aku yang sama sekali gak tahu sesusah apa bagi korban seperti Suryani, yang merasa semua bisa selesai dengan enteng, jadi benar-benar merasa tersadarkan dengan tamparan. Malu karena ternyata sesusah itu bagi Suryani, dan Suryani-Suryani lain di luar sana. Malu karena kita gak doing enough to help them

Film ini paham bahwa awareness terhadap itu harus ditingkatkan. Jadi mereka membuat Sur menempuh semua yang kita jatuhkan kepada korban pelapor setiap kali ada kasus seperti ini. Sur akan dicurigai berbohong. Sur dipersalahkan karena ceroboh. Sur dianggap mencemarkan nama baik. Semua itu ditampilkan film dalam gambaran yang begitu naas, bukan semata demi dramatisasi ataupun glorifikasi penderitaan korban. Melainkan untuk ngeshame kita yang entah kenapa selalu takut untuk mempercayai korban. Kita malah lebih suka mempertanyakan mereka. Akhirnya membuat mereka senewen sendiri, merasa diri merekalah yang salah. This is the worst feeling. Film dengan berani mengangkat itu. Konflik personal Sur dieksplorasi. Dia merasa bersalah melanggar aturan ayahnya. Dia merasa bersalah nuduh temannya. Telah ngebajak hape mereka. Adegan Sur dan teman-teman nonton rekaman CCTV dan kemudian tuduhannya berbalik menjadi Sur malah disalahin teman-teman, duduk terdiam di sana, dengan pikiran berkecamuk antara apa ia dia salah dengan masih ada satu hal yang gak kejawab baginya, merupakan salah satu yang paling menohok. Menciptakan intensitas, dan karakter building yang kuat. Sur tidak digambarkan tak-bercela, dia tidak selalu benar, dan ini jadi menambah lapisan konflik. Ke kita, yang selalu failed mengenali urgensi korban. Bahwa sekalipun korban tampak bersalah, itu tidak mengurangi kenyataan bahwa dia adalah korban kasus kekerasan. It still happened to her. Help her.

Dengan begitu, ironi yang digambarkan film ini jadi semakin kuat. Sur, untuk speak up, terpaksa harus bertindak sendiri. Tanpa dukungan. Dia harus melanggar hukum untuk membuktikan dirinya tak bersalah dan adalah korban dari ini semua. Arahan untuk perjalanan karakter ini terasa begitu kuat. Mantap mengarah kepada efek yang diniatkan. Thriller bergaya misteri whodunnit dipilih untuk semakin mengontraskan. Kenapa? karena whodunnit biasanya simpel. Everybody is suspect tapi ujungnya selalu siapa yang salah, siapa yang benar. Sur pikir dia tinggal menemukan siapa yang upload. Siapa yang membiusnya. Sayangnya, urusan kasus kekerasan seksual di kita belum bisa jadi sesederhana itu. Tidak dengan relasi kuasa dan ketimpangan gender masih merajalela. Padahal seharusnya ya sederhana, orang yang berbuat salah, ya harus dihukum. Tapi kenapa Sur yang jadi semakin susah dan sendirian. Di pilihan bercerita inilah gagasan film sesungguhnya juga berada.

Bahkan penampilan akting Shenina Cinnamon sebagai Suryani tampak dikawal sangat ketat. Seperti misalnya ada beberapa dialog yang diucapkan dengan sedikit belibet olehnya, tapi oleh cara film ini mempersembahkan, belibet itu jadi tampak sesuai dengan konteks. Bahwa karakter ini memang sedang mengalami kejadian yang emosionalnya harus ia pendam sendiri. Sehingga ia ‘bergetar’ menahan semua itu.

Yang ditunjukkan dengan begitu emosional oleh film ini adalah bahwa pilihan satu-satunya bagi korban kekerasan  adalah untuk diam. Bukan karena mereka mau diam. Melainkan karena diam berarti pilihan yang paling aman. Karena keignorance kita-lah mereka memilih itu. Angkat bicara menjadi sulit. Bukan saja membuka trauma, tapi juga sebab kita masih lebih cenderung tidak mempercayai korban. Sementara pelaku dengan gampangnya memainkan kuasa untuk mendiamkan, bahkan balik menuding mereka. 

 

Mitologi medusa jadi alegori yang tepat. Dalam adegan revealing yang dibuat sangat teatrikal, mendadak realm fantasi tadi mendobrak kesan realism yang dibangun, kita diperlihatkan pelaku yang sebenarnya beraksi kayak wayang orang di tengah asap, berdialog soal medusa dan perseus. Di depan korban-korban yang dibekep. Adegan ini memang terlihat aneh dan over the top. Tapi masih berfungsi efektif dalam memuat gagasan. Karena beginilah gambaran korban-korban kekerasan seksual di dunia nyata. Mereka dibungkam. Mereka jadi terdiam. Membatu, kayak korban Medusa. Pelaku di cerita ini bilang dirinya Perseus, but really, pelaku sebenarnya lebih cocok dikatain medusa. Karena udah bikin korban membatu. Pelaku bebas bergerak. Terus beraksi ke sana kemari, menepis tudingan sana-sini, dan balik menyalahkan korban. Memastikan tidak ada yang mendengarkan mereka. Dan kita simply tidak melihat itu.

penyalininopsis-Film-Penyalin-Cahaya-Angkat-Cerita-Tentang-Kekerasan-Seksual
But now we know, dan kita kasih cermin ke Medusa. Mereka kini yang diam membatu.

 

Menjadi whodunnit ternyata punya lubang jebakan sendiri. Dan penulisan film ini enggak seanggun arahannya, sehingga film kecemplung juga beberapa kali. Dalam pengembangan misteri misalnya. Untuk membuat penonton tetap engage ke misteri, film paham harus mengungkap perlahan. Hanya saja, misteri ini terlalu dielaborate. Dari siapa pelaku upload, hingga ke pelaku pelecehan yang lebih besar, film terlalu sibuk mengembangkan seolah ini adalah kejahatan cerdas. Terselubung, terencana dengan matang. The crime keeps getting bigger. Hingga jadi kayak mustahil. Ya mustahil terjadi, mustahil gak ketahuan, mustahil ada yang bantuin. Kasusnya sendiri, jadi kayak ngada-ngada. Di sini aku bisa lihat penonton yang udah tahu kasusnya bakal ilfeel lagi saat menonton. Karena film tampak seperti mau ngepush kehebatan pelaku. Yang berlawanan dengan gagasan dan sasaran dialog film. Kita. Penyalin Cahaya harusnya ngepush narasi dari perspektif Sur untuk menegur kita yang gak melakukan apa-apa melainkan mempersulit korban. Bukan untuk memperlihatkan soal rencana sinting dan rapi si pelaku. 

Sehingga film terasa jadi lebih panjang daripada seharusnya, untuk urusan kasus yang tidak perlu terlampau digayain. Seharusnya waktu dipakai untuk ngeresolve beberapa hal. Terutama dari sudut pandang korban seperti Sur dan yang lain. Turn around mereka perlu dieksplorasi lagi karena berkenaan dengan kesukaran membuka suara. Aku sendiri sebenarnya pengen banget konflik Sur dan ayahnya diresolve, seperti Sur dengan ibu. Terutama karena ayahnya yang paling keras tidak mau mempercayai Sur, sementara dia juga ada benarnya – kalo ayah gak nyuruh Sur pake baju dalam, Sur gak akan pernah menyadari satu kejanggalan kunci yang membuatnya yakin dirinya ‘dikerjai’. Yang paling kurang greget sebenarnya adalah karakter Amin (Chicco Kurniawan di sini mirip John Cho ya haha) sahabat Sur yang tukang fotokopi dan menampung/memfasilitasi usaha Sur. Kalo kita balik ke kasus, menurutku ke dalam karakter inilah co-writer menuangkan dirinya. Pelaku in the past, dan kini berusaha meredeem diri dengan membantu Sur. Tapi yang dilakukan Amin tidak cukup. Hanya sebatas memberi mesin fotokopi. Sikapnya tidak pernah diselesaikan. Pengkhianatannya dirasakan oleh Sur, sebesar ‘pengkhianatan’ yang penonton rasakan sehingga banyak yang akhirnya memilih untuk tidak lagi mendukung film penting ini.

 

 

With all of that being said, pendapatku terhadap film ini – dan kasusnya –  ada dua. Pertama untuk filmnya sendiri. Aku masih menganggap film ini layak menang Terbaik FFI. Karena pesan dan relevansinya. Karena arahan dan teknis dan permainan aktingnya. Tapi tidak untuk sebagian lagi, terutama untuk penulisan. Yang memang terlalu bombastis, seringkali tidak sesuai dengan niat filmnya sendiri. Kedua, mengenai tujuan film dan kasus itu sendiri. I feel like, keberadaan film ini penting karena menyadarkan kita bahwa korban-korban itu susah mendapat keadilan, maka permudahlah. Bantu mereka sebarkan suara, karena itulah justice yang paling mungkin bisa mereka dapatkan. Akan tetapi, kalo dengan keberadaan film ini malah membuat korban semakin merasa tak diperlakukan adil, membuat mereka makin susah mendapat justice, maka menurutku hate it if we must. Sebaiknya film ini bertindak tegas dan merestore itu. Jangan sampai film ini hadir tapi jadi bertentangan dengan makna keberadaannya sendiri. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PENYALIN CAHAYA

 

 

 

That’s all we have for now

Kenapa kebanyakan orang masih begitu sulit mempercayai korban?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2021

 

Pertama-tama (biarin deh kayak orang pidato) aku mau ucapin maaf dulu karena tahun 2021 aku cuma sedikit sekali ngereview film. Total hanya 110 film yang terulas, padahal banyak yang rekues review beberapa film, ampe beberapa kali. Tapi aku selalu nontonnya telat, dan kemudian ketinggalan lantaran mulai banyak film yang keluar.  Sementara bioskop, di tengah tahun sempat buka, lalu tutup, dan rame lagi di akhir. Dan aku honestly gak bisa langsung ikut kembali ke bioskop karena paling males harus install-install aplikasi. Jadi, ya maaf kalo kalian yang bolak-balik ngecek ke blog ini untuk bahas soal film terbaru, dan kecewa ngeliat gak ada reviewan.

But also, aku mau terima kasih sama kalian-kalian yang masih mau-maunya ngecek ke blog ini. Meskipun reviewnya tidak hadir secepat biasanya, tidak sebanyak biasanya. Terutama sih, terima kasih karena masih peduli sama film. Masih tertarik untuk membahas dan ngomongin film, for the sake of the movies themselves. Bukan sekadar untuk asik-asikan atau keren-kerenan diri sendiri. Masih hobi berbondong-bondong meramaikan bioskop. Ataupun begadang demi nonton special screening di komputer.

Jadi, untuk tidak memperpanjang mukadimah (tuh kan jadi beneran kayak pidato Pak RT!), langsung saja disimak list delapan film teratas pilihan My Dirt Sheet. Walaupun sedikit, kompetisi kali ini tidak kalah ketat. Honorable Mentions kukurangi lagi dari 15 kini menjadi hanya 12 untuk membuat daftar ini tetap menarik. Dan perlu diingat, teratas di sini maksudnya memang terbaik, tapi bukan ‘terbaik’ terbaik. Melainkan ‘terbaik’ according to me, baik itu sebagai tontonan hiburan, tontonan bergizi, ter-relate ke diri sendiri, dan bahkan sebagai komposisi list yang menarik. Yea, singkatnya, subjektif. Film kesukaan kalian gak kesebut? Well, kalo ternyata aku sudah nonton, ya tinggal kita obrolin di komen. Kalo aku belum nonton? you can convince me untuk menyaksikannya segera. (Kecuali favorit kalian itu adalah Eternals atau Penyalin Cahaya; alias yang ada rilis di Januari. Mereka kubikin bersaing di 2022 saja).

 

 

HONORABLE MENTIONS

  • Censor (psikologikal horor yang dibikin sebagai tribute untuk film-film horor jadul yang gore dan nasty abis. Disturbingnya lipat dua!!)
  • Last Night in Soho (horor penuh gaya, dengan duo pemain yang cakep. Aku merasa relate banget karena pernah bikin film pendek dengan konsep cermin yang serupa)
  • Minari (drama keluarga yang ingin sukses di rantau ini sangat menyentuh, dan somehow menginspirasi)
  • Saint Maud (begini nih kalo halu sama iman dan kepercayaan!!)
  • Spider-Man: No Way Home (experience nonton paling gila yang bisa kita rasakan!)
  • Stillwater (meski diwarnai kontroversi, tapi ini adalah drama dengan konteks karakter dan politik sangat kuat. Plus ada relationship figur ayah dan anak yang sangat heartwarming)
  • The French Dispatch (film tapi sebenarnya adalah majalah! bingung kan?)
  • The Green Knight (dongeng ksatria pengecut yang diceritakan lewat visual yang magis dan breathtaking)
  • This Is Not a Love Story/Bukan Cerita Cinta (hidden gem di perfilman Indonesia. Dimainkan dengan sangat natural)
  • tick, tick…BOOM! (penampilan akting keren Andrew Garfield di musikal paling relate; siapa sih yang gak galau sama umur?)
  • Till Death (ku sangat surprise sama Megan Fox dan film ini)
  • Titane (Kucumbu Tubuh Indahku versi cewek, dan versi lebih brutal)

Serta, Special Mention marilah kita panjatkan ke hadirat The Medium, yang pada 2021, ulasannya paling banyak dibaca di My Dirt Sheet. Dan kepada The East yang mecahin rekor view video ulasan terbanyak di Youtube My Dirt Sheet.

 

Dan, inilah TOP-EIGHT MOVIES 2021!!

 

 

 

8. THE SUICIDE SQUAD

the-suicide-squad-2021-banner-art-8k-du-1366x768

Director: James Gunn
Stars: Idris Elba, John Cena, Margot Robbie
MPAA: Rated R for strong violence and gore, language throughout, some sexual references, drug use and brief graphic nudity
IMDB Ratings: 7.3/10
“Rats are the lowliest and most despised of all creatures, my love. But if they have purpose, so do we all.”

James Gunn actually did the impossible: Ngasih perspektif dan development kepada segitu banyak karakter! Dan dia melakukan itu tetap dengan penuh gaya.

Gak ada karakter yang gak berguna, sekalipun mereka mati, film memberikan sesuatu kepada mereka sehingga kita mengingatnya. Gunn actually memulai dengan swerve, tapi itu sama sekali tidak menghambat ataupun terasa seperti kecohan yang ngebecandain kita. Melainkan dilakukan dengan bersenang-senang dan efektif sebagai pengeset mood pada naskah. 

The Suicide Squad jadi salah satu film paling rame seantero 2021. Aksi-aksinya brutal (karena Gunn enggak shy away dari kenyataan bahwa protagonis ceritanya adalah orang-jahat semua), karakternya unik (grup protagonisnya menarik semua, tidak ada satupun yang satu dimensi, tidak ada satupun yang cuma ‘receh’), dialog-dialog kocak, dan visual yang benar-benar tepat mengenai estetik komik.

My Favorite Scene:
Dari Rat Girl yang steal the show hingga ke Polka Dot Man yang melihat ibunya di mana-mana, film ini berjalan cepat dengan nampilin begitu banyak adegan memorable. Favoritku adalah adegan ketika the squad menyerbu Jotunheim. Berantem dengan latar hujan itu sungguh ngasih intensitas dan jadi panggung yang menarik. Kreativitas Gunn kayaknya keluar semua di situ!

the-suicide-squad-rain

 

 

 

 

 

 

7. BLOOD RED SKY

AAAABdZVhCiwnfZ0fJKLgSYtsGUgJ2KE9OoYPQW7QzR1PdpiHsMbSJFPleDByWj7fCWs-8cdvUFE5ns2OoIkWcHBg8dl8LJREa4gFLKwIsZhvK028a3g0K8EbyTqrSa5fg

Director: Peter Thorwarth
Stars: Peri Baumeister, Carl Anton Koch, Alexander Scheer
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 6.1/10
“Did you drink blood?”

Criminally. Underrated.

Blood Red Sky adalah campuran dari thriller pembajakan pesawat, teror di ruang tertutup, drama seorang ibu, dan juga cerita tentang vampir. Dan walaupun si ibu itu adalah vampir yang berusaha menolong anaknya dari teroris, cerita tidak pernah membuat semuanya mudah. Intensitas selalu naik pada setiap adegan, karena film terus saja memberikan rintangan-demi rintangan. Semua itu berkumpul menjadi sajian mendebarkan, horor yang paling aku ingat sepanjang tahun, sementara juga menyentuh lewat perjuangan ibu terhadap anaknya.

Dewasa ini, horor udah jarang yang berimbang kayak gini. It’s either terlalu artsy, atau terlalu campy dengan jumpscare dan segala macam kekonyolan. Blood Red Sky tampil seperti horor dari era yang lalu. Yang bisa bikin kita duduk tegang, meringis oleh kekerasannya sangat eksplisit, jengkel setengah mati oleh villain yang over-the-top, sambil memikirkan psikologi di baliknya. Dan akhirnya terenyuh oleh hatinya. Coba deh ajak ibumu nonton bareng ini di Hari Ibu

My Favorite Scene:
Hubungan ibu dan anak jadi denyut emosi film ini. Momen paling sedih buatku saat Elias berusaha ngasih comfort dengan sesantai mungkin ke ibunya, menjaga dari matahari, ibunya yang sudah hampir kalah dalam perjuangan melawan naluri zombie, fully knowing bahwa berkat perjuangan berat ibunya itulah mereka masih hidup pagi itu

1ca4bf_f45e2b496622447b8da679b6db4aa851_mv2

 

 

 

 

 

6. THE FATHER

The-Father

Director: Florian Zeller
Stars: Anthony Hopkins, Olivia Colman, Imogen Poots
MPAA: Rated PG-13 for some strong language, and thematic material
IMDB Ratings: 8.3/10
“There’s something doesn’t make sense about this. Doesn’t make sense.”

Dari ibu dan anak laki-lakinya, kita beralih ke cerita tentang ayah yang bikin bingung anak perempuannya. Karena si ayah ini mengidap alzheimer, yang perlahan semakin parah. Membuatnya lupa bukan hanya letak jam tangannya, melainkan siapa dirinya, di mana dan kapan dia berada sekarang.

Tahun lalu ada film Relic, yang juga masuk Delapan-Besarku, yang juga bercerita tentang penyakit mengerikan ini. Tapi dengan elemen horor. The Father bercerita lewat drama dan dialog, tapi tetep terasa sama seramnya. Dan bahkan lebih menyayat hati. 

Film ini unggul bukan saja berkat penampilan akting Anthony Hopkins – living legend – yang luar biasa. Tapi juga berkat penceritaan yang benar-benar membuat kita berada di dalam sepatu karakter Anthony. Yang bisa lupa semua hal begitu saja sedari dia bangun tidur. Film akan menampilkan ruangan yang berbeda (furnitur dan letaknya), memperlihatkan karakter anak yang diperankan oleh artis yang berbeda-beda setiap adegan, sehingga kebingungan itu benar-benar kita rasakan. Maka kita menjadi semakin peduli dan semakin termasuk ke dalam cerita, dan juga kepada meluluhlantakkannya akibat dari penyakit ini.

My Favorite Scene:

Lihat betapa drastisnya perubahan si ayah seiring percakapan seringan kenalan ama pengasuh baru, dan bagaimana sang ayah tampak asing bagi anaknya.

 

 

 

 

 

 

5. YUNI (versi festival)

3350885204Director: Kamila Andini
Stars: Arawinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 8.0/10
“Mending makan cilok!”

Yuni suka warna ungu, nyanyi, makan cilok, silat. Yang tidak Yuni suka adalah dilamar. Karena Yuni masih sekolah, dia ingin ke perguruan tinggi. Yuni adalah cerita yang efektif sekali menggambarkan perempuan muda yang merasa terkurung pribadinya oleh pandangan sekitarnya terhadap perempuan beserta segudang pamali. Membahas perkawinan anak lewat sudut pandang remaja perempuan dengan cara yang sangat tenang tapi menyanyat hati.

Ada dua versi film Yuni. Tapi menurutku, hanya versi untuk tayang di festival saja yang benar-benar pantas disebut sebagai film Indonesia terbaik di tahun 2021. Versi festival benar-benar terstruktur untuk kita menyelami perasaan Yuni yang semakin merasa sendirian. Kuatnya, tidak seperti Lady Di di film Spencer, Yuni tidak pernah mengantagoniskan. Dia berusaha memahami pamali. Konflik seringkali hadir dari tindakan ‘perlawanannya’ tersusul oleh rasa cemas kalo dia telah melanggar ‘aturan-tak-tertulis’ tersebut.

Meskipun gagal di Oscar, dan meskipun versi bioskopnya lebih disukai karena ada nyanyi-nyanyi dan berakhir dengan soften the blow, aku rasa kita semua sepakat Yuni telah menyentuh hati kita. Seperti puisi.

My Favorite Scene:
Penolakan pertama yang dilakukan Yuni udah kayak adegan karakter yang harus membunuh untuk pertama kalinya untuk bisa survive dalam film-film thriller/horor. Perhatikan gimana sedari awal Yuni berjalan, terus mengkonfrontasi si cowok, dan bagaimana Yuni mengulangi kalimat menolak lamaran itu. Great acting, great writing, great directing!

maxresdefault (1)

 

 

 

 

 

 

4. THE MITCHELLS VS. THE MACHINES

AAAABSYF6Rln4hC-Aj5mdZIvmyGIOv4_E3Zoitx0VpDN7kan5rqvyhVIzXnjE-q0mQ8s9GpZee9FOm-3-3HPo_P40AcAfUD-YK-6OQmIlD-wruf-viRwOdSN9io9co4n5g

Director: Michael Rianda, Jeff Rowe
Stars: Abbi Jacobson, Danny McBride, Maya Rudolph
MPAA: Rated PG for action and some language
IMDB Ratings: 7.7/10
“My parents haven’t figured me out yet. To be fair, it took a while to figure myself out.”

Katie Mitchell adalah kita, hobi banget ama yang namanya film. Sampai-sampai dia giat membuat film pendek lucu-lucuan dari berbagai kreasi sendiri. Dan ya, Katie Mitchell adalah kita, yang hobinya tidak disetujui orangtua. In that way, film ini adalah cerita yang langsung gampang kita pedulikan. Hebatnya, film ini menomorsatukan kreasi penceritaan, kehebohan visual. Dan dapatlah kita animasi petualangan super konyol yang bakal terus menghibur dan menyentuh, sedari awal hingga akhir.

Visualnya dibikin sebagai karakter tersendiri. Film ini menggunakan estetik internet dan dunia sosmed, yang tidak hanya sebagai gimmick. Melainkan benar-benar menyatu ke dalam cerita. Kadang film ini terasa terlalu cepat, sehingga kita merasa perlu untuk mempause dan mengulangnya kembali. Bahkan jika kita benar-benar melakukan itu, film tidak akan menjadi bosan. Berkat humor dan dialog yang cerdas di atas karakter-karakter eksentrik yang menyerempet over-the-top itu.

Elemen petualangan bareng keluarga menambah keseruan film ini ampe pol! Tema yang diangkat adalah seputar teknologi, yang actually responsible dalam memperlebar jarak antara anak dengan orangtua. Membuat mereka semakin susah berkomunikasi. Dan walaupun musuh mereka memang robot-robot, film berimbang, tidak benar-benar menjadikan teknologi itu sebagai mutlak antagonis. Ada momen-momen menyentuh ketika orangtua berusaha memahami hobi anaknya dengan nekat mencoba masuk ke dunia teknologi. Bahkan ada adegan ketika ayah Katie harus bisa komputer dulu demi menyelamatkan anaknya

 

My Favorite Scene:
Begitu banyak komedi-komedi dan momen konyol di film ini. Film pun sempat-sempatnya masukin komentar kocak soal perilaku manusia yang telah jadi tergantung sama internet.

 

 

 

 

 

 

3. ANNETTE

c4f5dbff4b44f77ebde5790a94bf515acb4f34fc1df4cf953213db300f706e04-rimg-w523-h296-gmir

Director: Leos Carax
Stars: Adam Driver, Marion Cotillard, Devyn McDowell 
MPAA: Rated R for sexual content including some nudity, and for language
IMDB Ratings: 6.4/10
“Now you have nothing to love.”

Keanehan The French Dispatch hanya bisa disaingi oleh karya Leos Carax ini. Urusan cinta memang rumit dan aneh. Annette menceritakan cinta ‘palsu’ antara dua selebriti panggung yang menghasilkan anak berupa boneka kayu, dengan gaya teater musikal. And I love, every second of this movie.

Dialog-dialog yang dinyanyikan, dengan pengadeganan yang sureal dan hampir semua hal di layar itu tampak artifisial. Awalnya tampak seperti kisah romansa yang manis, tapi kemudian berubah menjadi rencana pembunuhan yang elaborate, ke eksploitasi anak. Karakter pun makin membuat dirinya tak disukai. Dan memang itulah yang diniatkan. Yang dirancang. Memang, akibatnya film ini tidak gampang untuk disukai banyak orang. Tapi dengan begitu, dia sukses menyampaikan gagasan yang dikandungnya. Bahwa manusia adalah makhluk yang tragis ketika kita menganggap hidup adalah panggung. Mungkin paling tepat jika kita menyebut Annette sebagai sebuah opera horor.

Dengan konsep dan konteks seperti demikian, film menjelma menjadi sebuah sajian yang cantik. Aneh iya, tapi cantik. Carax terus ngepush quirk filmnya tersebut. Penampilan para aktor pun jadi ikut terdorong. Akting-akting di sini begitu intens, dan kadang memang membuatku sedikit ngeri juga. Melihat Adam Driver semakin berpusar turun as a human, seiring dengan rash di wajahnya membesar, kadang membuatku takut, tapi kemudian kasian. Benarlah film superaneh, sukar dimengerti kalo terlalu fokus cerna nyanyiannya, ini mampu bikin kita turun naik.

 

My Favorite Scene: Banyak orang akan mengingat adegan ML sambil nyanyi, ataupun adegan baby annette melayang sambil nyanyi. Tapi buatku, yang paling ngena adalah adegan terakhir di penjara. Annette yang udah jadi manusia, dialog sama bapaknya. Feels so unreal. Sampai sekarang pun kalian masih akan mendengarku menyenandungkan lirik dan irama nyanyian mereka.

 

 

 

 

 

 

2. CODA

CODA-1

Director: Sian Heder
Stars: Emilia Jones, Troy Kotsur, Marlee Matlin
MPAA: Rated PG-13 for strong sexual content and language, and drug use
IMDB Ratings: 8.1/10
“You know why God made farts smell? So deaf people could enjoy them too.”

Coda pada dasarnya punya cerita yang sama seperti The Mitchells vs. The Machines. Bakat Ruby gak bisa didengar oleh orangtuanya. Tapi itu karena keluarga Ruby literally gak normal. Ibu, ayah, dan abang Ruby tuli. Dan setting keluarga tersebut eventually membuat Coda menjadi drama keluarga, cerita remaja, yang sama sekali berbeda.

Film ini mengembangkan karakter-karakter tulinya dengan hormat. Dan itu bukan dalam artian karakternya dijaga dan gak dikasih apapun yang negatif. Tidak. Melainkan hormat karena mereka dibuat tidak meminta simpati. Tidak malu dengan kekurangan mereka dalam hal apapun. Drama film ini datang dari Ruby yang gak lagi bisa terus menjadi telinga bagi keluarganya, karena dia sekarang harus mulai membangun hidupnya sendiri. Problematika yang dipersembahkan film ini lewat Ruby, terasa real dan relate. Makin real dan hormat karena film ini melakukan hal yang benar dalam merepresentasikan karakternya.

Perspektif juga dijaga sekali oleh film ini. Tahu kapan harus menarik semua suara dan membuat kita merasakan sepenuhnya yang dirasakan oleh karakter. Selain permasalahan keluarga yang menyentuh hati, film ini juga punya adegan-adegan musik yang indah, adegan khas remaja yang sweet, there are just so many lovable and enjoyable things di film ini.

My Favorite Scene:
Adegan Ruby duduk bersama ayahnya, kemudian dia bernyanyi kepada ayahnya, dan ayahnya mengerti. Truly momen ayah-anak paling kuat seantero film 2021. 

 

 

 

 

Cerminan ideologi, refleksi kasih sayang ibu, gambaran suram penyakit, potret opresi perempuan, perwakilan tunarungu, simbolisme kehidupan keluarga modern, keluarga public figur. Jika representasi adalah hal yang penting untuk dilakukan oleh film, maka aku pun mulai berpikir film apa yang kira-kira cocok untuk melambangkan perjuangan kita semua di era pandemi. Memang dua tahun belakangan ini, ada banyak film yang mencoba untuk menceritakan kehidupan kita tersebut.

Film yang kunobatkan sebagai terbaik tahun ini adalah film yang mencuat karena telah menjadi sindiran yang sangat telak kepada kita semua. Film terbaikku tahun ini adalah sebagai penanda jaman, yang kuharap sepuluh tahun lagi kita bisa menontonnya. Dan barulah saat itu kita semua benar-benar tertawa dibuatnya. Karena kita telah berhasil survive dari yang ia gambarkan.

 

 

1. DON’T LOOK UP

dont-look-up

Director: Adam McKay
Stars: Leonardo DiCaprio, Jennifer Lawrence, Meryl Streep
MPAA: Rated R for language throughout, some sexual content, graphic nudity and drug content.
IMDB Ratings: 7.3/10
“You guys, the truth is way more depressing. They are not even smart enough to be as evil as you’re giving them credit for.”

Lucunya, film ini sama sekali tidak bicara tentang pandemi virus.

Dan itulah yang jadi bukti bahwa satir dan sindiran film ini bekerja dengan sangat efektif. Dua astronom yang menemukan komet hendak menabrak bumi, malah disepelekan, dijadikan alat politik, Presiden lebih mendengar kata bisnisman dan berusaha mengambil keuntungan dari bencana yang sedang otw ketimbang mengambil tindakan pencegahan yang aktual. Ada begitu banyak kemiripan untuk dianggap sebagai kebetulan. Film ini pastilah meniatkan. Film ini pastilah sedang mengutarakan sikap dan pandangan. 

Sindiran itu bukan hanya untuk pemerintah. Untuk kita juga. Karena dari dua astronom itu, yang satu dijadikan bintang televisi sementara yang satu dianggap gila. Kita masih tertarik pada hal-hal yang gak perlu. Pada kecantikan/kegantengan, pada gosip, pada konser-konser dan selebrasi lainnya. Kita mudah kemakan media, yang memang lebih peduli sama rating. Kegocek pengalihan isu dari pemerintah. Tapi bukan hanya sindiran saja, sebenarnya film memperlihatkan kekuatan dan kelemahan kemanusiaan dengan imbang. Hanya manusianya saja yang lebih cenderung memilih yang bego.

Semua itu dilakukan McKay lewat penulisan yang sangat cerdas. Bukan hanya menyindir kita, dia juga mampu membuat cerita dua astronom ini legit dengan struktur skenario yang solid. Gerak kamera dan editing juga efektif dalam menampilkan tone. Tidak sekalipun film tergagap menangkap dan menghidupkan banyak karakter, yang dimainkan oleh ensemble cast yang luar biasa. Bintang-bintang itu bukan di atas sana, tapi di layar kita.

My Favorite Scene:
Buatku inilah film penanda jaman yang tepat. Era pandemi dan era idiocracy digambarkan dengan telak. Ada satu scene yang membuatku ngakak banget, yaitu ketika presiden Meryl Streep ngingetin Leonardo bahwa dia sekarang di lingkaran penguasa di atas. Presiden ngewhip out rokoknya, dan di latar kita melihat mereka berada di ruangan inflamable. Sungguh komentar yang ngena terhadap pemerintah.

kogprogdfd - Copy

 

 

 

 

 

So, that’s all we have for now.

Demikian daftar Top Movies 2021 ini kami tulis. Apabila ada salah-salah kata, lebih dan kurangnya kami ucapkan maaf dan terima kasih.

Apa film favorit kalian di tahun 2021? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2022?

Share with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are…


Tambahkan judul - Copy

We are the longest reigning PIALA MAYA’s BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

 
 

My Dirt Sheet Awards PERFECT10

 

 
Seperti semua cerita memalukan lainnya, awarding ala-ala ini juga bermula dari Facebook.
Nun jauh sebelum aku punya blog khusus ngulas film, dulu aku suka nulis semacam ‘personal-literatur’ di notes Facebook. Dan di akhir tahun 2009, aku bikin cerita rangkuman kejadian-kejadian yang terjadi dan menimpaku tahun itu. Baru di 2011-lah, konsep rangkuman tersebut berubah menjadi per-kategori. Kayak award show. Terpengaruh heavily oleh segmen The Dirt Sheet milik Miz dan John Morrison di WWE. So yeah, itulah cikal bakal atau origin dari awarding serta blog ini sendiri.
Konsep The Dirt Sheet di WWE yang tahun berikutnya itulah yang kuadopsi saat melebarkan diri dari FB ke blog beneran. Mulai dari catchphrase “winners and losers” hingga ke acara award yang ngasal dan suka-suka aja. Seiring waktu, aku jadi pencinta film dan mulai giat menonton dan nyari pengetahuan tentang film. Sehingga blog ini pun lebih fokus ke ulasan, dan ‘yang dinilai’ di award pun ikut bergeser; Dari yang tadinya berasal dari hal-hal yang kualami, kuamati, di manapun, sekarang jadi lebih banyak nyerempet tentang film dan sosial media.
Dan gak kerasa, sekarang ternyata udah yang ke-10 kalinya (tahun, iye, tahuun!) aku bikin awarding kayak begini di blog yang aku juga gak nyangka masih ada – dan ngelewatin cukup banyak evolusi. Aku sendiri juga kaget, excitement aku nulis dan ngerangkum kaleidoskop-yang-nyaru-sebagai-awarding ini masih sama kayak pas pertama kali bikin. Rasanya masih superseruu!! Padahal tahun 2020 gak exactly tahun yang ramah…
Ya, selain sebagai penanda full-circlenya sepuluh tahun Award ini, fokus kali ini juga tentu saja kepada 2020 itu sendiri. Tahun yang bagi sebagian besar manusia normal adalah tahun yang mengerikan. Merenggut kita dari kebiasaan normal. Membuat kita bertempur dengan penyakit yang menyebar lewat satu-satunya yang membuat manusia itu manusia; sosialisasi. Bagaimana dengan kalian, berapa menurut kalian angka yang sudah dicetak oleh tahun 2020?
Karena, inilah skor tahun 2020 menurut My Dirt Sheet!
 
 
 
 

TRENDING OF THE YEAR

Oke, menurutku kita semua tahu, tahun 2020 itu tahun milik siapa. Jadi gak usah basa-basi, inilah pemenang The Dirty untuk Trending of the Year:

Ilustrasi di atas (credit buat siapapun yang bikin) benar-benar mencerminkan keadaan yang sesungguhnya. Bermula dari kalelawar yang dijadiin sup, Covid-19 udah mengambil alih dunia. 2020 praktisnya bagi kita hanya berlangsung tiga bulan – cuma sampai Maret. Karena setelah itu semuanya hanya tentang survival kita dari corona. Virus ini mengubah gaya hidup, menguak sisi buruk, dan memercikkan banyak pengaruh lain – positif dan negatif – ke dunia yang kita kenal.
Tapi, kalo kalian masih penasaran sama tren apa aja pernah nongol di 2020, berikut mention buat para nominasinya:
1. #Blacklivesmatter
Seolah dunia gak bisa lebih horor lagi, hashtag ini jadi viral setelah insiden polisi bertindak semena-mena terhadap warna kulit di Amerika, yang memicu gerakan yang melawan praktik rasisme yang masih senantiasa ada di masyarakat nyaris di seluruh dunia.
2. Bu Tejo
Sosok yang memungkinkan film pendek Tilik menjadi viral. Karakter ini dibahas dari segala sudut oleh beragam warna netijen. Whether Bu Tejo adalah stereotipe atau gambaran nyata, yang jelas ibu bermulut tajam ini sudah sukses jadi idola
3. Dancing Pallbearers
Gak heran meme pembawa peti jenazah yang menari ini jadi viral. After all, komedi adalah mekanisme terbaik manusia. Dan 2020 memang adalah tahun dengan angka kematian yang tinggi
4. Kekeyi
Selegram dan bintang Youtube yang terkenal karena… ah katakanlah, karena keahlian tutorial make up dan video clip musiknya. Tengah 2020 aja, subscribernya udah nyampe satu juta
5. Kopi Dalgona
Bulan-bulan pertama masa karantina atau PSBB, kopi dalgona jadi pengalih perhatian yang trendi, saat semua orang berusaha untuk menyajikan sendiri kopi campur krim yang katanya enak ini
6. Parasite
Film yang paling banyak dibicarakan oleh sinefil. Menang gemilang di Oscar, mendobrak begitu banyak pintu rekor dalam catatan sejarah penghargaan film bergengsi di dunia itu sendiri.
7. Sepedaan di Tengah Jalan
Di masa pandemi, semua orang pada pengen sehat. Jadi beberapa ada yang merogeh goceknya, membeli sepeda termutakhir, dan merasa memliki separuh jalan raya!
 
 
 
 
Sepertinya aku gak perlu mengingatkan berapa persisnya angka kasus dan kematian karena Covid-19 di akhir tahun, karena semua itu masih berlanjut hingga sekarang. Begitu banyak korban. Belum lagi bencana-bencana yang lain. Di Januari itu ada banjir di Jakarta, lalu disusul oleh kebakaran hutan gede-gedean di Australia, bahkan katanya sempat mau ada Perang Dunia Ketiga! Gak heran jiwa yang menuju Great Beyond di film Soul itu jumlahnya banyak banget. Atuk dan Oomku ada di antara mereka.
Maka, mari kita Mengheningkan Cipta,
kita panjatkan do’a-do’a kepada mereka – mungkin kalo bisa juga sedikit kata maaf karena menyepelekan kematian mereka karena kepala kita terlalu keras untuk percaya Corona itu ada.
Kita dedikasikan

MOMENT OF SILENCE

ini untuk mereka-mereka, serta para tenaga kesehatan yang baik yang telah gugur maupun yang masih terus berjuang tanpa kenal lelah.
Mengheningkan Cipta
….
….
Mulai!
….
….
….
….
….
….
….
….
Selesai!
 
 
 
 
With that being said, aku gak akan biarkan Award ini jadi gloomy karena bencana dan trauma yang dibawa oleh Covid. Karena penyakit itu, bukan dia-lah yang kuat sebenarnya, melainkan karena kekonyolan kita yang menghadapinya. Sikap dan reaksi kitalah yang memberikan kesempatan besar kepada pandemi tak-kenal ampun itu untuk terus eksis.
Sehingga, lewat kategori spesial berikut ini, aku ingin mengajak kita semua untuk merayakan reaksi-reaksi beragam manusia dalam menghadapi si trend 2020.

BEST REACTION TO CORONA


 
Nominasinya adalah:
1. Bebasin Napi
Sementara rangorang diharuskan mengurung diri di rumah, para napi yang tadinya udah aman di dalam sel, malah dibebaskan menuju rumah masing-masing. Dengan efektif menambah calon korban – either korban pandemi atau korban kriminal-yang-diulangi-lagi
2. Bikin Tugu
Emangnya siapa sih yang gak mau selfie bersama makhluk paling terkenal seantero 2020?
3. Dangdutan
Kalo Taylor Swift bilang “shake it off”, maka orang-orang di negara kita beda lagi. Mereka bilangnya “jogetin aja!” 
4. Diskonin Turis
Alih-alih menghentikan penerbangan, pemerintah di Indonesia yang jago melihat peluang malah menggenjot pariwisata dengan ngasih diskon untuk turis asing berkunjung ke Indonesia. Rasakan langsung sensasi hidup di tengah Corona!!
5. Jadi Pocong
Untuk mastiin penduduk daerah mereka disiplin ber-PSBB, dua orang penduduk sebuah desa di Lamongan nekat berjaga sambil cosplay jadi Pocong. Bercandanya memang level Halloween di April Mop
6. Jualan Kalung
Ada gula ada semut. Ada penyakit, ada obat. Maka para petinggi di Kementan jualan kalung yang katanya anti-corona.
7. Ngarang Teori
Nyiptain film dan lagu tentang corona udah biasa. Di antara pemusik, ada yang namanya disebut sebagai jerinya oleh anak gaul sosmed, ngarang sesuatu yang lebih kreatif. Teori konspirasi di balik bencana pandemi.
6. Nimbun Masker
Setara dengan jalan pikiran pemimpinnya yang, beberapa penduduk yang punya jiwa bisnis tinggi, dengan sigap memborong masker, tisu toilet, hand sanitizer, dan beberapa perlengkapan esensial lain untuk dijual kembali dengan harga tinggi

 
Seringkali aku jadi mikir, jangan-jangan penanganan corona gak pernah terlalu serius karena memang ada peluang bisnis yang gede dibawa oleh pandemi ini? But anyway, inilah pemenang The Dirty untuk Reaksi Terbaik:

At least, reaksi mereka memang berdasarkan untuk pencegahan virus yang lebih baik

 
 
 
Setali tiga uang dengan itu, kategori yang berikutnya diumumkan adalah penghargaan untuk kebegoan paling hakiki yang pernah dilakukan umat manusia di tahun 2020. Marilah kita sambut para nominasinya dengan elu-eluan yang dahsyat.
“Elu! Elu! Elu!!!”

BEGO OF THE YEAR

 
1. Buku Film Kemendikbud
Jenius dan dogol mungkin jaraknya memang hanya ‘sebenang’. Tapi jika kalian – dan begitu juga dengan sejumlah penulis lain – membaca buku yang penuh typo, ungkapan aneh, kalimat yang kayak terputus, dan istilah yang salah, maka jelas tidak akan salah menempatkan buku ini ada di kotak yang mana
2. Covidiot
Terms untuk orang-orang yang bego dalam menghadapi covid-19. Entah itu karena gak percaya, atau ngambil kesempatan, atau malah ngejelekin orang yang mengutamakan kesehatan ketimbang keviralan.
3. Hamil Karena Berenang
Komisioner KPAI mengaku menemukan sesuatu di jurnal ilmiah. Yakni jenis sperma super yang bisa hidup dan berenang mencari mangsa di kolam renang. Penemuan yang saking ‘jenius’nya aku sampai gak yakin si Ibu kesandung hoaks di bagian mana; supersperma atau jurnal ilmiahnya…
4. Karen
‘Spesies’ ini terlahir di Amerika yang lagi krisis sosial, dalam lingkungan gabungan dari salah kaprah feminis dan salah kaprah masalah rasis. Mind you, spesies ini bisa lebih berbahaya daripada covid, karena selain membawa senjata api, perempuan-perempuan itu juga selalu benar.
5. Penonton Film Milea
Filmnya sendiri pintar. Culas, lebih tepatnya. Kita-kita yang nontonnya-lah yang udah sukses dibego-begoin. Sekian jumlah orang telah tertipu beli tiket film untuk nonton cuplikan-cuplikan no effort. Dan banyak yang ngaku suka pula sama ‘film’nya!
6. Pertandingan Money in the Bank
Konsep MITB kali ini cukup unik. Cowok ama cewek digabung. Arenanya bukan ring, melainkan satu gedung. Namun nyatanya yang kita dapatkan adalah pertandingan konyol – semacam food fight dan komedi sketch, dengan editing yang poor. Way to waste such a good concept.

 
Dan anugerah yang lebih malu-maluin ketimbang Razzie ini jatuh kepadaa..

Basically, nyaris semua nominasi Best Reaction to Corona tadi masuk ke dalam istilah Covidiot

 
 
 
Semoga gak ada yang berantem karena dua kategori di atas. Karena, bukannya apa-apa, tapi kategori Feud of the Year kami sudah punya daftar nominasi yang lengkap dan tinggal nunggu keputusan pemenang. Jadi kalo mau berantem, tahun depan saja ya. Jangan kuatir, Corona juga dipastikan oleh Pemerintah untuk tetap ada, kok!

FEUD OF THE YEAR

Nominasinya adalah:
1. Amerika vs. TikTok
Salah satu deklarasi di masa-masa akhirnya menjabat presiden, Trump mendeklarasikan perang terhadap TikTok, buatan Cina yang diyakininya menjual data-data pengguna Amerika
2. Geprek Bensu vs. I am Geprek Bensu
Seteru branding antara dua franchise ayam geprek (so last year!) yang setelah dipikir-pikir lebih cocok masuk Shocker of the Year. Karena, serius aku baru tahu, ternyata keduanya berbeda!! 
3. Habib Rizieq vs. Nikita Mirzani
Atau lebih dikenal dengan pertengkaran tukang obat melawan wanita tunasusila. Mungkinkah seteru mereka ini akan mewakili seteru gender-role yang kian ngehits di kalangan SJW?
4. Jefri Nichol vs. Falcon Pictures
Single-handedly nyingkirin WWE vs. Twitch dari daftar nominasi, karena yang dihadapi Nichol di sini actually adalah apa yang terjadi kalo WWE benar-benar mempermasalahkan penampilan superstarnya di media/platform lain. Seteru kontrak yang kedua belah pihak sama-sama punya poin ‘benar’
5. Joe Exotic vs. Carole Baskin
Nah kalo ini, baru, seteru yang kedua belah pihaknya sama-sama ‘mencurigakan’. Musuh bebuyutan yang sama-sama merasa lawannya bukan penyayang biantang yang baik. Pertengkaran mereka dikipas menyala lagi oleh serial dokumenter Tiger King di Netflix. 
6. Sasha Banks vs. Bayley
Klasik dari teman jadi lawan. Build up Sasha lawan Bayley udah dari setahun sebelumnya, dan di 2020 kita baru dapat klimaksnya. Yang dimainkan dengan character-work sangat bagus dari kedua superstar.
7. Telkom vs. Netflix
Siapa di sini yang pake Indihom, pas streaming Netflix kualitas gambarnya cetek? Nah, ditengarai penyebab itu adalah kesirikan Telkom kepada Netflix yang gak kunjung usai sepanjang tahun
8. Ukhti vs. Kawat Berduri
Di Twitter ada yang ngumpulin kumpulan klip-klip para ukhti yang berjuang dengan motor mereka di jalan raya. Enggak jelas juga mereka berjuang melawan apa, aturan lalu lintaskah, atau keignoran sendiri terhadap cara mengemudi yang baik dan benar. Melawan kawat berduri inilah yang paling bikin aku ngakak karena seperti puncak dari ‘perjuangan’ tersebut.

 
The Dirty jatuh kepadaaa…

Mereka berdua salah, aku gak mau memihak tapi tbh aku masih yakin kalo Carole memang memberi makan suaminya kepada harimau

 
 
Orang berantem biasanya dibumbui oleh trash talks, sebagai penyedap pertengkaran mereka. Membuat kita betah menyimak ketubiran mereka. Tapi, ada juga talks atau omongan yang justru bikin kesel. Gak semua komen atau quote atau meme lucu untuk terus diulang-ulang.
Kategori berikut ini akan memberikan penghargaan buat Quote paling annoying, yang sukur-sukur setelah dikasih piala, mereka menghilang dari muka bumi. Dan membawa Covid serta bersamanya

MOST ANNOYING QUOTE


Nominasinya adalah:
1. “Ikan hiu makan tomat”
2. “Iri bilang, Boss!”
3. “Karena pembahasannya agak sulit”
4. “Ku menangiiisss membayangkan..”
5. “Si kecil mulai aktif ya, Bun!”
 
Dan jeng-jeng-jenggg, pemenangnya a-da-laaaaah..

Pemerintah yang benar-benar tone deaf. Dan malas. Mendengarnya bikin aku… menangisss membayangkaaannn

 
 
Yea, I know mungkin si ‘ku menangis’ itulah yang harusnya kumenangin. Paling enggak, sebenarnya dia bisa menang sebagai Adegan Terbaik, jika kategori tersebut masih seperti di tahun 2013 saat pertama kali dimunculkan. Karena saat itu, kategori Best Movie Scene masih untuk lucu-lucuan. Tapi sekarang aku ingin lebih kritikal terhadap film. Dan lagi, penghargaan beneran untuk adegan terbaik memang masih kurang di luar sana.
Jadi, marilah kita simak nominasi Adegan Film Terbaik sepanjang tahun 2020

BEST MOVIE SCENE

 
Para nominasinya adalah:
1. City tracking – (“The Vast of Night”)

2. Dancing Drunk – (“Another Round”)
https://www.youtube.com/watch?v=J5jZTO92ZVk
3. Escaping House – (“The Invisible Man”)

4. Kitchen Fight – (“The Hunt”)

5. Police Station Fight – (“Birds of Prey”)

6. Reunion – (“Da 5 Bloods”)
https://www.youtube.com/watch?v=DqIy8ywpvKI
7. The Interview – (“Borat Subsequent Moviefilm”)
https://www.youtube.com/watch?v=voTC3VEZ054
 
And The Dirty goes to…..

The power of filmmaker yang beneran bikin film dengan berani dan punya suara

 
 
 
Selain nonton film, selama lockdown kita menghabiskan waktu di rumah paling banyak di antaranya adalah dengan main video game. Sebelum masuk ke pengumuman kategori berikutnya, aku mau umumin perihal My Dirt Sheet sekarang udah aktif juga ngereview di Youtube, dengan konsep yang agak berbeda. Yakni ngereview sambil main game! Dan game-game berikut ini boleh jadi bakal dimainin berikutnya.

GAME OF THE YEAR


 
Nominasinya adalaaaaaaa —– loading —— aaah:
1. Among Us

 
2. Animal Crossing: New Horizons

 
3. Crash Bandicoot 4: It’s About Time

 
4. Final Fantasy VII Remake

 
5. Resident Evil 3

 
 
Game udah mulai kayak film aja, banyakan sekuelnya… Tapi at least, sekuel game ngasih sesuatu yang benar-benar harus jelas berbeda dari originalnya.
Oke, inilah, pemenang The Dirty sebagai Game Tahun Ini:

Di masa pandemi, everybody is a SUS (alias dicurigai OTG)

 
 
 
Bahkan di dalam game kayak Among Us pun kita bertengkar satu sama lain. Kayak kurang belajar PPKN aja. In fact, segala kekacauan reaksi dan kekeraskepalaan orang-orang berhadapan dengan situasi seperti pandemi ini seperti ya karena memang kurang edukasi. Level negara aja lebih percaya kata influencer ketimbang kata-kata scientist.
Untuk itulah, maka My Dirt Sheet kali ini memberikan penghargaan khusus untuk guru-guru atau pendidik yang udah menghibur dan somewhat mendidik kita dengan ilmu dan kepandaian mereka

TEACHER OF THE YEAR


 
Nominasi untuk kategori ini adalah….
1. Frank Tassone (“Bad Education”)
Diadaptasi dari tokoh nyata, Frank adalah guru yang populer di sekolah, terkenal ramah dan bijak. Bagaimana kita menyingkapi jika ternyata guru seperti ini ketangkap basah korupsi?
2. Joe (“Soul”)
Joe begitu sibuk mengejar mimpi sehingga ia sendiri gak sadar betapa banyak orang-orang di sekitarnya menjadi lebih baik berkat didikan dan bimbingannya.
3. Martin (“Another Round”)
Guru yang satu ini gokil banget; karena merasa dirinya udah jadi membosankan, maka dia menerapkan salah satu penelitian tentang alkohol. Dia minum sebelum ngajar!
4. Mr. Shaibel (“The Queen’s Gambit”)
Kita bisa belajar dari siapapun. Mr. Shaibel membuktikan hal tersebut. Karena meskipun dia ‘cuma’ janitor, tapi berkat ajarannyalah Beth Harmon jadi punya mental dan attitude seorang juara catur.
5. Taat Pribadi (“Guru-Guru Gokil”)
Guru gokil versi Indonesia. Tadinya dia benci banget ama guru, tapi begitu ngerasain berada di tengah murid-murid saat menyamar jadi guru, Taat jadi menemukan cinta.

 
Dan, guru yang akhirnya jadi pahlawan dengan tanda jasa karena punya The Dirty adalaahh

 
 
 
 
Di tangan pendidik kayak Mr. Shaibel itulah masa depan anak-anak bisa cerah. Kalo di film, di tangan penulisan naskah lah, karakter anak-anak bisa punya modal kuat untuk masa depan yang cerah. Karena jadi bisa dimengerti dan dimainkan perfect oleh aktor cilik nantinya.
Kali ini pun, kategori Karakter Anak Terbaik dihadirkan kembali

BEST CHILDREN CHARACTER


dengan nominasi sebagai berikut:
1. Becky – “Becky”
Becky adalah Home Alone dengan tingkat violence maksimal!
2. Christmas – “Troop Zero”
Christmas ngingetin kita untuk jadi diri sendiri dan tidak conform ke standar buatan sosial.
3. David – “Minari”
David yang terlahir Amerika, tapi tetap tak melupakan jiwa Korea-nya. 
4. Flora – “The Haunting of Bly Manor” 
Flora boleh jadi creepy dan aneh, tapi semua itu ia lakukan demi melindungi orang-orang yang ia cinta
5. Mary – “The Secret Garden”
Mary menunjukkan kepada kita kekuatan dari memupuk imajinasi dan harapan.
6. Miles – “The Haunting of Bly Manor”
Miles adalah peringatan untuk tidak berkubang dalam kehilangan dan terbujuk rayu setan.
7. The Willoughby Children – “The Willoughbys”
Anak-anak Willoughby sangat unik, karena bermain dalam imajinasi gelap anak-anak yang menyangka mereka gak suka dengan orangtua sendiri

 
Dan The Dirty diberikan kepadaaa…

Perfectly splendid!!

 
 
 
Dari anak-anak, kita beralih ke calon ibu anak-anakku…haiayaaassssaphambyaarr XD Unyu op the Year, salah satu kategori original My Dirt Sheet Awards, dari tahun ke tahun selalu jadi kategori yang paling susah untuk ditentuin pemenangnya. Karena semuanya cakep-cakeeepppp hihihi

UNYU OP THE YEAR


Dan inilah para nominasi yang udah malang melintang di internet dan perfilman sepanjang 2020:
1. Alexa Bliss
Dari Goddess, Alexa berganti menjadi karakter yang unyu tapi creepy. Ini adalah kesekian kalinya Alexa masuk nominasi, mungkinkah penampilan barunya ini membawa berkah?
2. Anya Taylor-Joy
Dari Mak Comblang ke juara catur ke mutant petarung, Anya Taylor-Joy yang juga udah sering nongol sebagai nominasi, kini punya tiga penampilannya itu sebagai jurus pamungkas untuk mendapatkan piala!
3. Joey King
Dari remaja yang menyimpan rahasia hingga remaja yang memendam cinta menggelora, Joey King siap menjadi penantang kuat berkat aktingnya yang natural
4. Kathryn Newton
Dari remaja tak-populer kemudian berubah menjadi seorang pembunuh berantai, semua itu dilakukan Kathryn Newton dalam satu film yang sama. Penampilan dual aktingnya merupakan salah satu tantangan unik di tahun 2020
5. Millie Bobby Brown
Dari yang awalnya dikenal sebagai gadis cilik misterius dengan kekuatan psikis, Millie Bobby Brown berevolusi menjadi gadis muda yang enerjik, supel, dan cerdas dalam membongkar misteri.
See, semua nominasi ini membekas di hati. But there’s only one true winner. Dan inilah pemenang yang membawa pulang The Dirty berhias pita pink…

Checkmate!

 
 
 
 
Selagi aku membayangkan punya pasangan kayak mereka, mari kita rayakan cinta beneran yang udah membuat 2020 menjadi tahun yang hangat, di tengah segala keterbatasan akibat pandemi. Tapi awas, jangan sampai baper!

COUPLE OF THE YEAR



1. Abby & Harper
Menjadi pasangan berarti harus saling mengerti dan memahami, seperti Abby dan Harper yang tadinya udah mau putus tapi berakhir happy ending
2. Baskara & Sherina
Kita pikir kita dan pasangan yang paling uwu? Well, look at them and think again
3. Hinode & Miyo
Suka sama orang pasti ada alasannya. Dan alasan Hinode dan Miyo saling cinta ini akan membuat kita klepek-klepek sendiri
4. Jake & Amy
So happy akhirnya Jake dan Amy akhirnya dikasih momongan
5. Jamie & Dani
Kisah cinta Jamie dan Dani yang akhirnya harus terpisah dunia, memang sehangat dan semenyayat romansa yang dibalut horor!

6. Lars & Sigrit
Menjadi pasangan juga berarti harus saling dukung. Tengok saja perjalanan cinta Lars dan Sigrit di atas panggung karir menyanyi mereka
7. Otis & Mandy
Romansa klasik ‘beauty & the beast’ selalu punya pesona tersendiri, khususnya ketika dibawa ke dalam ring WWE

8. Zayn & Gigi
Satu lagi pasangan seleb real-life yang sukses bikin netijen ber-uwu uwu ria
 
Dan inilah The Dirty sebagai simbol cinta untuk pasangaaannn….

Tadinya kirain bakal cringe, tapi ternyata jadi salah satu dari sedikit sekali storyline yang kocak dan berbeda dari WWE di 2020

 
 
 
Di tengah kondisi yang semakin memprihatinkan, kita memang perlu mengisi dunia dengan lebih banyak cinta dan… musik!
Kategori berikut ini dijamin akan membuat kita terhibur dengan penampilan musik yang lain dari yang lain

BEST MUSICAL PERFORMANCE


 
Nominasinya adalaaah
1. Aubrey Plaza “Get Ready for Judgment Day”

2. Baby on Twitter “Killing in the Name of”

3. Baby on Twitter II “I Wonder What’s Inside Your Butthole”

4. Class 1-A “Hero Too”

5. Fire Saga “Double Trouble”

6. Miz & Morrison “Hey Hey”

7. Slashstreet Boys “Die by My Knife”

 
8. Troop Zero “Space Oddity”

 
Dan dengan bangga The Dirty kami berikan kepadaaa…

Gagal sebagai Couple of the Year, Lars dan Sigrit justru berhasil merebut hati kita dengan penampilan musik yang konyol dan menghibur!

 
 
 
 
Sebelum aku jadi keterusan mengkhayal, kayak beberapa teman kita yang masih bahagia dengan menganggap semua baik-baik saja dan Covid akan hilang dengan sendirinya sehingga tetap berkeliaran dengan masker yang dijadiin sebagai bagian dari gaya, baiknya aku segera balik menghadap realita. Menatap apa-apa saja yang sudah kukerjakan di tahun 2020.

MY MOMENT OF THE YEAR

Sebagai seorang Cancer yang memang lebih senang menyendiri, nyaris sepanjang tahun berdiam di rumah – untuk pertama kalinya lebaran sendirian (cuma sama kucing) – memberi aku banyak waktu untuk reinventing self. Dengan kebiasaan menonton yang juga semakin longgar karena pindah ke platform, aku akhirnya bisa mengejar untuk bikin konten di channel My Dirt Sheet yang Alhamdulillah sudah diaktifkan tahun 2020 ini. Awalnya berisi main game, yang kemudian ditambah dengan segmen ngereview sambil main game! Yang belum subscribe silakan subscribe yaa. Blog ini gak akan kutinggalin, channel itu hanya untuk perpanjangan ulasan dan penyaluran hobi bermain-main aja hehehe
Awalnya sih karena memang aku sempat diundang ngereview bareng oleh CineCrib. Aku jadi ngerasain juga keluwesan yang bisa didapat dari menyampaikan langsung, yang gak bisa sepenuhnya tersampaikan lewat review tulisan. Jadi, review di channel itu akan berfungsi sebagai pelengkap saja. Selain itu, aku juga diberi kesempatan untuk menjadi juri di kompetisi film pendek. Lumayan, aku jadi sempat juga dimention satu twit barengan Jokowi dan orang-orang penting. Dan kalo ada satu kejadian yang bikin aku gak tidur semaleman, maka itu adalah kejadian berpayung-payung ria (padahal malamnya mencekam) bersama Gadis Sampul.
Namun begitu, kejadian paling mengesankan buatku di tahun 2020 – jauh lebih mengesankan daripada pencapaianku dapat King of Games 10 kali di Duel Links, adalah ketika….
Menang Liga Komik (kuis-kuis tentang film) Kompasiana!

Serius deh, ini perjuangannya berdarah-darah, timku harus benar-benar ngatur strategi!

 
 
 
Dan sampailah kita ke penghargaan terakhir. Penghargaan paling greget yang bisa ditawarkan oleh My Dirt Sheet.
Aku gak yakin setelah melihat semua yang dikerjakan Pemerintah di tahun 2020 kita masih bisa kaget, tapi inilah kategori puncak

SHOCKER OF THE YEAR

Sebelum sampai ke pemenangnya, simak dahulu para runner-ups ini:
1. Parasite dari Korea menang empat Oscar, dan mencetak sejarah!
2. Edge kembali berlaga di atas ring!!
3. Utang Temon ke Muklis nyampe 250 juta!!!
4. Valentino Rossi cheated death! Twice!!
5. Undertaker main TikTok!
6. Everything is cake!!!
7. Mudik beda ama pulangkampung!?!
8. The Dirt Sheet Miz and Morrison is back!!
9. Es Krim Viennetta juga comes back!!
10. Tapi es krimnya beda ama yang dulu!!?!
11. Video UFO Pentagon!!
12. Monolith kayak film 2001: A Space Odyssey ditemuin di beberapa tempat!!!

 
Oke, tarik napas dalam-dalam…
Udah?
Inilah yang paling mengejutkan di antara semuanya…:

Di saat aku baru bikin youtube karena lockdown, orang di luar sana udah mecahin kode serial killer paling rumit abad ini!!!

 
 
 
 
Jadi, begitulah.
Semoga sebagian besar juara di 2020 ini enggak jadi juara bertahan di tahun depan nanti. Dan untuk itu memang keignorant kita semua harus cepat-cepat dienyahkan. Jangan sampai ada lagi selebrasi-selebrasi gak penting. Jangan dipelihara lagi denial-denial hanya untuk mempercantik citra diri. Kita semua punya banyak waktu untuk merenung sendiri di rumah.
I hope you all have wonderful year ahead.
Jaga kesehatan, dan selamat Tahun Baru!!!
 
 
 
That’s all we have for now.
Remember in life, there are winners.
And there are 

 
We still the longest reigning BLOG KRITIK TERPILIH PIALA MAYA.

NOMADLAND Review

“Not all who wander are lost”
 

 
Meskipun manusia purba sekarang telah berubah menjadi manusia modern cakap-teknologi semua, tapi kebiasaan hidup nomaden mereka tidak begitu saja hilang. Bedanya, kalo dulu manusia purba nomaden karena hidup tergantung musim dan iklim. Kini, nomaden udah berevolusi menjadi gaya hidup modern. Ada orang-orang yang lebih senang hidup tak-menetap alias traveling, dari satu tempat ke tempat lain, dari negara satu ke negara lain. Nomaden udah sama kayak hobi bagi mereka. Namun ada juga orang-orang yang terpaksa – dan akhirnya – hidup di jalan. Mereka hidup di dalam mobil van yang merangkap menjadi hunian. Menetap untuk bekerja sementara kemudian pindah lagi ke lokasi lain, mencari kerjaan yang lain. Nomadland karya Chloe Zhao adalah tentang para nomaden modern yang ‘tipe B’ ini. Nomaden yang tidak punya lagi tempat tinggal, sehingga mereka menjadikan jalanan panjang, berbatu, dan berdebu sebagai rumahnya.
Ini adalah film yang tergolong pendiem. Yang lebih banyak berekspresi lewat visual. Persis seperti protagonisnya. Fern, adalah perempuan baya yang lebih suka untuk mendengarkan nasihat dan cerita dari para ‘senior’ nomaden, ketimbang bicara terlampau banyak mengenai dirinya sendiri. Itu karena Fern memang ‘anak baru’ dalam kehidupan jalanan ini. Setelah Resesi hebat yang melanda Amerika, kota tempat Fern dan mendiang suaminya membangun rumah tangga seketika menjadi kota hantu. Semua pabrik mata pencaharian di sana tutup. Jadi Fern membawa hidupnya ke jalanan, di dalam van yang ia beri nama Vanguard. Berpindah dari satu kerjaan ke kerjaan lain. Berpindah-pindah dan selalu hadir ke tempat komunal nomad. Fern bermaksud belajar menjalani gaya hidup ini. Gaya hidup yang walaupun ada komunitasnya, tapi tetap saja sebagian besar akan berarti sebuah kesendirian.

Ku berjalan seorang diri, sebagai seorang kelana

 
 
Sekali lihat saja, kita langsung tahu bahwa ini adalah film yang spesial. Penempatan dan pergerakan kamera tampak simpel tapi sungguh bermakna. Menambah banyak sekali ke dalam penceritaan. Antara di awal memperlihatkan Fern bekerja di pabrik dengan di momen-momen berikutnya yang bertempat di lingkungan terbuka, film ini bukan hanya menyuguhkan pemandangan fenomenal. Ya, tentu kita akan terperangah melihat lokasi yang menjadi panggung cerita. Tempat-tempat eksotik wilderness khas Amerika (tampak seperti film koboi!), seringkali dipercantik dengan warna-warna yang mendukung mood, akan menjadi menu santapan utama mata kita. Bahkan sense geologi-ku yang udah lama tertimbun sempat menggelinjang manja melihat penampakan singkapan formasi batuan yang disinggahi oleh Fern. Tapi film ini bukan cuma soal pemandangan visual yang ‘wah’. Melainkan juga soal bagaimana perilaku kamera dalam menampilkannya. Bagaimana Fern – karakternya manusia – ditempatkan; dengan skala yang menggiring pemahaman kita bahwa ada dunia yang either mengukung atau luas pada Fern. Yang kaitannya ada pada soal kapitalisme yang digaungkan sebagai gagasan film. Bahwa tidak ada satupun yang dari gurun atau dataran atau pabrik atau tempat parkir itu yang milik Fern. Semua dimiliki oleh korporasi/manusia lain. Dan ini menciptakan rasa tidak adil.
Kita tak pernah dilepaskan dari apa yang dilihat – dan apa yang dirasakan – oleh Fern, sebab kamera akan terus mengajak kita mengikutinya. Zhao mempercayakan sepenuhnya visinya ini kepada Frances McDormand yang menyambut kamera dengan penampilan aktingnya sebagai Fern. Dan pilihan Zhao ini, tak pelak, adalah pilihan yang akurat. Jikalau dimainkan oleh aktor dengan permainan less dari McDormand, Fern akan jadi karakter yang annoying dan unlikeable. Emosi manusiawi yang menghidupi karakter ini gak akan nyampe kepada kita. But McDormand, dia paham bahwa karakternya ini adalah seorang yang berusaha kuat dan mandiri, pada saat dirinya paling tidak yakin pada dirinya sendiri. Pada saat dirinya justru percaya sebenarnya dia butuh bantuan orang lain. Kita bisa melihat bagaimana Fern tersenyum tipis saat mendengar perbincangan mengenai ‘ide-untuk-pergi’ dari sahabat sesama nomaden yang ia jumpai, dan instantly kita paham Fern saat itu sedang teringat kepada mendiang suaminya.
Selain lewat masalah kapitalisme, film menunjukkan betapa kecil Fern merasa juga melalui momen-momen saat dia ditinggal. Para kaum/society nomaden yang ditemui Fern, yang tinggal bersama dirinya beberapa hari di suatu lokasi, akan menjadi teman bagi Fern. Betapapun kaku tampaknya, tapi Fern ini memang selalu nyari teman. Dia bahkan bacain puisi untuk seorang pemuda yang ia kenal di jalanan. Dan kita paham apa yang dirasakan Fern saat para nomaden itu akhirnya pergi; Saat masing-masing mereka dengan cueknya cabut, Fern tinggal. Kamera akan memfokuskan kepada Fern yang memandangi mobil-mobil itu pergi. Emosi subtil yang ditunjukkan McDormand sebagai Fern justru ternyata bicara banyak kepada kita. Aku rasa aku bahkan gak perlu musik untuk dapat tersentuh oleh apa yang Fern rasakan. Metoda akting McDormand ini cocok sekali dengan niatan/visi sutradara yang membuat luapan emosi film tidak dalam ekspresi yang menggelegar. Tidak ada orang teriak-teriak marah di sini. Tapi yakinlah, kita akan merasakan luapan emosi saat melihat adegan setenang Fern berenang di sungai pada saat menjelang babak akhir film.

Fern belajar banyak dari komunitas nomaden. Dan yang ia pelajari itu akan lantas membuat kita lebih menghargai gaya hidup ini. Karena tidak semua yang berkelana tanpa arah itu tersesat. Bagi kaum nomaden itu, mereka dengan bebas dan bangga mengenali dunia sebagai rumah. Mungkin kita semua sesekali harus nyobain berkelana.

 

Enggak, nonton The Avengers sendirian gak sedih kok

 
Komunitas nomaden ini memang yang bikin film semakin terasa unik. Zhao melepas McDormand ke tengah-tengah kaum nomaden beneran. Ada tiga tokoh nomaden yang berperan sebagai diri mereka sendiri, difungsikan untuk bercerita – sebagai supporting – untuk karakter Fern. Aku gak yakin apakah istilahnya tepat, tapi berkat campuran karakter cerita dengan tokoh asli ini film jadi terasa seperti semi-dokumenter buatku. Dan unfortunately for this film, bagiku porsi bincang-bincang dan gaya hidup nomaden beneran itu tampak lebih menarik dan otentik. I kinda wished cerita film ini ada versi dokumenternya. Aku mau tahu tentang para nomaden itu lebih banyak. Fern-nya McDormand tampak hidup, dengan emosi yang manusiawi, dengan penampilan akting level dewa. Tidak akan ada yang mengecilkan karakter ini. Hanya saja, dibandingkan dengan keotentikan yang ditawarkan para nomaden asli yang bukan aktor tersebut, aspek melankoli yang jadi karakter Fern membuat dirinya jadi kalah menarik. Fern ini jadi kayak spirit-artifisial; semua kesedihan ada padanya, sementara yang bahagia-bahagianya ada pada para nomaden asli. Film seperti enggan memperlihatkan kesedihan di balik hidup nomaden yang sebenarnya sehingga Fern ini dijadikan sebagai perwujudan dari itu. Yang nantinya si sedih ini akan belajar untuk lebih menghargai dan merayakan gaya hidup ini.
Sehingga pada akhirnya, film ini meninggalkan kesan yang bercampur aduk. And not exactly dalam artian bagus. Kalimat “bukan homeless tapi houseless” itu lebih cocok diucapkan Fern di akhir. Karena dengan mengucapkan di awal, jadi tidak jelas. Kalo ini adalah story tentang orang awalnya terpaksa kemudian jatuh cinta sama life on the road, maka apakah itu berarti di awal itu Fern sudah complete arc-nya? Tapi ini juga menunjukkan film hanya mengangkat rintangan dari desain karakter Fern. Film tidak benar-benar menilik dari rintangan hidup di jalan itu sendiri. Semua tampak mudah bagi Fern. Jadi jika cerita ini sedari awal adalah selebrasi dari kehidupan nomad, apa berarti filmnya hanya tok menggali dari sisi yang bagus-bagus aja? Soal kapitalis juga tidak benar-benar tergali dari sini. Aku tidak merasa ada sikap yang kuat dari film ini. In the end, aku tidak benar-benar merasa terkonek dengan ‘apa sesungguhnya’ film ini.
 
 
 
Tidak ada sangkalan film ini tampaknya bakal jadi powerhouse di Oscar tahun ini. Teknis dan arahan, serta penampilan aktingnya luar biasa. Istimewa semua. Jika film adalah ‘show, don’t tell’ maka film ini menjuarai apsek ‘show’ tersebut. Adegan demi adegannya bicara banyak dengan apa yang ditampilkan. Aspek yang paling menarik adalah menggunakan non-actor sebagai karakter pendukung. Namun untukku, aspek ini sedikit menjadi bumerang. Karena menyebabkan protagonis cerita yang manusiawi itu bagaimanapun juga jadi tampak artifisial jika dibandingkan dengan mereka. Kalah menarik. Narasi yang merayap subtil di balik itu semua pun jadi tampak mixed.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for NOMADLAND
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apa yang paling kalian khawatirkan jika hidup di jalanan, di dunia yang luas, tanpa-rumah?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA
 

MINARI Review

“The ultimate goal of farming is not the growing of crops, but the cultivation and perfection of human beings”
 

 
 
Land of opportunity itu bernama Amerika. Tempat yang katanya semua orang boleh bebas mengais rejeki di sana, siapapun mereka. Termasuk satu keluarga Korea, yang ayahnya punya cita-cita lebih besar daripada jadi pengamat kelamin anak ayam profesional seumur hidup. Si ayah pengen punya ladang sendiri. Supaya bisa ia tanami dengan berbagai sayuran khas korea. Maka si ayah membeli tanah luas di pinggiran kota. Mereka sekeluarga pindah tinggal ke sana. Hidup dalam sebuah trailer alih-alih rumah hunian yang biasa. Tentu saja hidup baru keluarga ini tidak lantas mudah. Ayah dihadapkan oleh berbagai tantangan. Mulai dari menumbuhkan tanaman-tanamannya, menyuburkan, dan kemudian berusaha untuk menjual hasilnya. Belum lagi kondisi anak bungsu yang punya jantung lemah. Dan Ibu yang terus mengkhawatirkan sang anak, sehingga lebih suka mereka tinggal di kota saja, di dekat banyak orang.
Begitulah set up film Minari ini. Begitu sederhana dan simpel. Film ini memang bertindak selayaknya semi-otobiografi karena ceritanya berdasarkan masa kecil sang sutradara. Sutradara Lee Isaac Chun adalah David, si anak bungsu, dalam cerita ini. Sehingga film ini pun dibuatnya bernuansa sangat real. Tidak akan kita jumpai karakter yang comically jahat, ataupun keajaiban-keajaiban seperti sihir – apalagi supernatural. Yang paling dekat sebagai pihak antagonis adalah keadaan. Mengejar ‘american dream’ memang gak gampang, kita akan melihat begitu banyak permasalahan yang muncul seputar usaha keluarga ini untuk hidup berkecukupan di ladang tersebut. Yang jawaban atau solusinya sebenarnya justru ada di dalam mereka semua. Menyaksikan para karakter – keluarga ini – menyadari hal tersebut, belajar darinya, berkompromi dengan keadaan; inilah yang membuat film Minari menjadi menyenangkan dan sangat heartwarming untuk disimak.
Film menjadi semakin hangat lagi dengan nunjukin relasi antara si bungsu David dengan Nenek yang dipanggil tinggal bersama mereka untuk menjaga si bungsu dan kakaknya saat Ayah dan Ibu bekerja. Relasi David dengan nenek adalah salah satu inti dari cerita. Banyak adegan interaksi mereka yang bikin hati kita meremang. Membuat emosi kita teraduk-aduk. Ada yang lucu, yang sedih, yang bahagia. Semuanya bakal bercampur menjadi satu membentuk perasaan hangat di hati. Kalo gak percaya lihat saja adegan di dekat ending. Ketika si Bungsu yang tadinya karena keadaan jantungnya membuat ia percaya dia tidak mampu untuk berlari, akhirnya – oleh buncahan kasih sayang yang meluap di dada – berlari mengejar… ah, aku enggan melanjutkan karena sebaiknya memang film kayak gini ditonton sendiri supaya emosinya bisa benar-benar terasa.

Menceritakannya terlalu banyak nanti malah jadi kayak review yang isinya spoiler nyeritain semua itu

 
 
Serius deh, kurasa ulasan kali ini bakal jadi salah satu ulasan yang paling membosankan di blog ini. Karena gak banyak yang bisa kita bahas tentang film yang memang menggelora dari pengalaman dan perasaan yang film ini berhasil hadirkan. Aku nekat ngespoiler-pun, percuma. Emosi dan rasanya gak akan bisa mewakili atau menggambarkan sebenar-benarnya yang diberikan oleh film ini dengan menontonnya langsung. Not even 50%-nya. Minari ini adalah film yang sayang banget kalo dilewatkan. Aku harap film ini masuk ke bioskop Indonesia kapan-kapan. Enggak mesti sekarang. Bisa nanti setelah pandemi, atau kapan deh, pokoknya tayang. Sebab film kayak gini udah jarang kita dapatkan. Dengan industri yang semakin kebut-kebutan, terlebih karena pemulihan setelah kosong di pandemi, aku pikir akan semakin jarang lagi ada yang membuat film seperti Minari ini. Film yang ‘cuma’ nyeritain kehidupan satu keluarga. Film yang gak bermuatan agenda atau political, selain nunjukin sesuatu untuk mengangkat harapan kita semua.
‘Berbeda’ itu salah satunya membuat film ini jadi tidak tertebak. Bukan dalam artian tidak ada twist, melainkan dalam artian kita tidak bisa melihat ke mana poin-poin plotnya akan berujung. Dan ini juga bukan dalam artian naskahnya gak clear, karena poin-poin itu – tersusun dalam struktur naskah dengan benar – dan kita akan melihat itu dengan jelas di akhir film. Tema besar filmnya pun kita dapat mengerti sembari menonton, yang menunjukkan naskah berhasil melandaskannya sedari awal. Tidak tertebak tadi itu maksudnya adalah datang dari cerita yang terasa begitu besar. Kita tidak tersesat di dalamnya, tapi kita justru terasa seperti benar-benar ikut mengarungi cerita film ini. Kita mengarunginya sama seperti dalam kehidupan yang nyata; kita tahu path yang kita pilih, tapi kita tidak tahu ke depan bakal ada apa. Kita hanya berjuang untuk tetap berjalan pada path yang kita yakini. Makanya film ini terasa so wonderfully real.
Aku menunggu film ini untuk membuat kesalahan. Untuk menjadi overdramatis. Aku menunggu ada obstacle yang dihadirkan annoying dan maksa. Tapi tidak pernah itu semua terjadi. Film stays in it’s glorious storytelling. Memainkan perasaan kita tanpa berlebay-lebay. Bahkan ketika dalam momen pertengkaran – di tengah-tengah suasana yang paling emosinal untuk dua karakter film ini menjelang babak akhir cerita – film tidak lantas jadi tearjerker kacangan. Masalah dan bincang-bincang debat itu masih tetap terasa real. Kita mengerti kebimbangan kedua belah pihak. Kita paham bahwa yang satu bukan hanya ingin keluarganya bahagia, tapi baginya perjuangan mereka itu personal; baginya ini pembuktian kemampuan, sementara yang satunya lagi seperti tercabik; bukan karena tidak percaya tapi karena dia yang lebih conform tinggal di kota punya nilai tinggi terhadap hubungan sosial. Konflik ini menjadi puncak yang membuat perjuangan hidup menanam mimpi itu kian terasa bagi kita.

Hidup bukan soal memenuhi kebutuhan pangan, sandang, dan papan. Seperti merawat tanaman yang tentu saja bukan soal menyiram. Melainkan ada soal tanah dan segala macam. Tanah, berkenaan dengan tempat kita hidup. Di mana kita bertumbuh. Keluarga Korea dalam film ini berada di tanah Amerika. Untuk bertahan hidup, tidak cukup dengan mandiri, melainkan selalu akan ada asimilasi sosial yang juga harus dipupuk. Pada akhirnya film ini menunjukkan perjuangan itu tidak harus sendiri. Jadilah seperti tanaman minari yang bisa tumbuh dengan beradaptasi dengan jenis tanah ia ditanam.

 
Momen-momen yang memperlihatkan interaksi antara keluarga ini dengan penduduk asli, baik secara individu seperti Ayah dengan rekan kerjanya yang penganut agama yang ‘kelewat’ taat maupun secara bersama-sama seperti saat mereka pergi ke gereja, tidak dimasukkan hanya untuk menambah durasi cerita. Justru momen inilah yang jadi salah satu poin vokal oleh film. Ketika Korea dan Amerika saling ‘belajar’. Film membuatnya sangat menarik. Kita melihat betapa kebiasaan yang satu tampak aneh bagi pihak satunya. Dan bahkan bisa saja terjadi semacam pembullyan kecil-kecilan – subtil ditampakkan oleh film – tapi kemudian mereka lanjut menjadi teman. Momen-momen sosial yang indah seperti ini membuat film menjadi semakin menyenangkan untuk ditonton.
Akting para pemain tampak luar biasa natural. Sealami pemandangan hijau nan cerah yang kita lihat pada layar (Oh I’ll be damned kalo itu ternyata ada CGI-nya… it is not! Hmmph!) Steven Yeun sebagai Jacob (Ayah), Yeri Han sebagai Monica (Ibu); mereka berdua dapat bagian merasakan gejolak emosi yang tertahan kemudian meluap, dan keduanya berhasil dengan mantap menghidupkan karakter masing-masing. Aktor-aktor cilik juga gak mau kalah. Alan S. Kim yang jadi David dan Noel Cho yang jadi kakaknya, Anne, juga berhasil memperlihatkan permainan emosional yang subtil maupun yang lebih lepas. Mereka adalah anak Korea yang lahir dan berjiwa Amerika, tapi film tidak terjebak membuat dua karakter ini seperti stereotipe anak-gak-hormat-ama-budaya-sendiri. Ada layer dalam karakter mereka, yang berhasil dihidupkan. Yang mencuri perhatian adalah karakter Nenek Soonja yang diperankan Youn-Yuh-jung. Karakter ini menarik banget karena punya moral kompas sendiri, dia juga bukan tipikal nenek-nenek biasa yang cenderung grumpy. Justru Nenek yang seperti free-spirit dengan sikapnya yang bicara apa adanya. Karakter ini penting banget untuk development keluarga mereka.

Nenek juga suka nonton gulat!!

 
Meskipun diisi dengan banyak dialog yang mewakili perbedaan dua pihak, tapi film ini berhasil menghindar untuk menjadi ceramah. Ayah di film ini sama kayak protagonis di Tarung Sarung (2021) dan Levee di Ma Rainey’s Black Bottom (2021); yakni sama-sama jauh dari agama. Ayah lebih percaya pada kemampuan sendiri. Akan ada banyak adegan ketika Ayah berada di lingkungan agamis, dan kita melihat reaksinya seperti apa. Kita akan menemukan ada perbedaan – ada eskalasi – dari reaksi-reaksi tersebut – dari di awal dengan seiring cerita berjalan. Eskalasi reaksi itulah cara film ini untuk memperlihatkan Ayah belajar sesuatu tanpa terlihat seperti karakter ini diceramahi. Sehingga kita pun merasa tidak diceramahi.
 
 
Such a lively and lovely experience. Film yang mengandalkan gambar-gambar natural dan atmosfer cakep, dengan dikontraskan oleh musik yang cukup menghantui perasaan, ini benar-benar terasa seperti kehidupan berjalan. Dihidupi oleh karakter-karakter yang sama natural dan realnya. Pacing yang excellent dan interaksi yang menarik membuat film ini tidak terasa membosankan untuk disimak. Perjuangan keluarga yang diperlihatkan terasa akrab, kita ingin mereka berhasil. Kita ingin jadi teman bagi mereka. Sepanjang durasi, kita akan dibungkus oleh perasaan hangat. Dan diikat oleh film dengan rasa pengharapan yang benar-benar menguatkan.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for MINARI
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apa tantangan terbesar bagi kalian ketika pindah dan hidup berjuang di tempat yang baru?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA