DON’T LOOK UP Review

“It’s funny because it’s true”

 

Film-film tentang bencana selalu dimulai dari presiden yang tidak mendengarkan ilmuwan. Kalimat yang jadi meme di internet tersebut lucu, karena memang begitulah biasanya cerita-cerita bencana dalam film terjadi. Tapi kalimat tersebut mulai tidak lagi demikian lucu, ketika orang-orang menyadari kejadian itu sedang terjadi juga di dunia nyata kita. Bahwa film – karya seni – memanglah meniru kehidupan. Jadi orang-orang mulai ngebash Don’t Look Up. Komedi satir terbaru dari Adam McKay yang tega-teganya menyinggung soal reaksi pemerintah – reaksi manusia – terhadap pandemi Covid-19, di balik kedok cerita yang berdasarkan laporan jurnalis perihal perubahan iklim atau global warming. But hey to be fair, mungkin sebelum menggodok naskahnya McKay tidak meniatkan, bahkan belum tahu bakal ada pandemi. Tapi catatan dunia menangani pandemi baik itu di Amerika, hingga Indonesia, seperti menuliskan diri sendiri ke dalam naskah McKay. Sehingga dia membuat film ini seperti sebuah cerita pandemi yang tidak bicara tentang pandemi!

Jadi, kita-kita sendirilah – reaksi kita menghadapi pandemi, reaksi kita terhadap film ini – yang actually memberikan power kepada Don’t Look Up. The joke is on us. Untungnya Don’t Look Up lebih bijak daripada sekadar cerita yang menuding kebegoan umat manusia. Karena di balik komedi-gelapnya, McKay telah menggariskan bukan jawaban, melainkan lebih seperti gagasan soal lebih menghargai hidup dan kalo bisa kita semua kurang-kurangilah ego hidup di dunia fana.

lookmXkEyXkFqcGdeQWRvb2xpbmhk._V1_
Kalo kata Max Black di Twitter “Kirain drama, ternyata film comety”

 

Di mataku, McKay punya reputasi sebagai sutradara yang mampu menjelaskan banyak hal rumit dengan sederhana dan malah lucu. Seperti, ketika di The Big Short (2016) dia berhasil menjelaskan peristiwa krisis finansial 2007-2008 lengkap beserta istilah-istilah ekonomi dan perbankan dengan nada komedi yang solid sehingga aku yang sama sekali buta akan hal tersebut tidak terbengong-bengong, malahan sangat menikmati dramanya. Sehingga sekarang, bagiku menarik sekali melihat pendekatan yang ia lakukan dalam mempersembahkan masalah perubahan iklim ke dalam kiasan sci-fi tentang komet yang jatuh menimpa bumi. Yang dilakukan McKay di sini adalah membuat permasalahan iklim ataupun komet yang sering disepelekan banyak orang karena jauh alias masih lama itu menjadi terasa amat, sangat, superduper dekat. 

Bagi astronomer, nemuin komet merupakan prestasi. Bisa menamai komet dengan namamu adalah salah satunya. Tapi perayaan komet yang dilihat Dr. Mindy dan muridnya, Kate Dibiasky terpaksa harus berakhir prematur. Karena menurut hitungan, komet besar tersebut ternyata melaju menuju bumi. Tepatnya, akan membuat bumi kiamat dalam waktu sekitar enam bulan lagi. Jadi Dr. Mindy dan Kate harus segera melaporkan temuan mereka ke presiden, dengan harapan tindakan pencegahan bisa segera dilakukan. Namun, reaksi Bu Presiden, orang-orang yang berkepentingan, dan bahkan sebagian masyarakat pun ternyata tidak seperti yang diharapkan oleh Dr. Mindy dan Kate.  

Presiden yang hanya peduli sama citra. Yang cuma mau bergerak jika itu berarti keuntungan perolehan suara baginya, maka selalulah diadakan selebrasi. Media yang suka menutupi kejadian dan lebih milih mendahulukan rating. Masyarakat dan netijen yang failed untuk melihat kepentingan suatu hal, melainkan lebih tertarik pada gosip dan pada betapa gantengnya orang yang muncul di televisi. Pada gambaran-gambaran sosial seperti inilah satir dan sindiran Don’t Look Up menunjukkan performa sangar yang jadi hiburan utamanya. Bencana yang mestinya bisa cepat diatasi, jadi lama dan berlarut-larut karena bukan saja menyepelekan dan tidak percaya, pemerintah lebih suka untuk mengurusi dulu isi kantongnya. Dan orang-orang terombang-ambing sehingga akhirnya turut mengambil keputusan salah dan bego karenanya. Di sinilah kita dengan gampang menarik garis kepada penanganan pandemi yang parah dari pemerintah. Running gag soal snack gratis yang dijual oleh komandan tinggi negara itu? Yup kita gak salah jika mengaitkannya denagn keputusan pemerintah menjual kepada rakyat hal-hal yang semestinya gratis dan seesensial makanan. Film ini dibuat oleh orang Amerika yang resah sama pemerintah mereka yang pinter-pinter blo’on. Dan sebagaimana yang terbaca, lucunya, film ini juga terasa sama dekatnya bagi kita yang orang Indonesia.

Beneran, cuma perlu sedikit perubahan kok untuk membuat film ini benar-benar relate total sama Indonesia. Perubahan kayak, dituker; si Jonah Hill yang jadi presiden dan Meryl Streep jadi sosok di belakangnya yang dibecandain orang sebagai ibunya. Atau karakter bilyuner gadget yang diperankan Mark Rylance dibuat mengharuskan semua orang ngeinstall app buatannya untuk perlindungan dari komet.  I’m sorry jika terdengar terlalu political. But yea, everything is about politics. Film ini jelas dibuat berdasarkan ketidaksukaan terhadap itu. Karena padahal tidak semuanya mesti harus politik. McKay actually nulis dialog soal kenyataan sesungguhnya bahkan lebih parah, karena mereka-mereka (pemerintah) itu tidak sepintar itu untuk menjadi sejahat yang kita kira. Karena memang padahal ada hal yang lebih penting. Kesehatan, keselamatan hidup orang banyak. Keselamatan planet. Film menuliskan concernnya dengan sangat cerdas. Menyindir dengan, turns out, sangat tepat. Makanya terasa sangat lucu. 

lookvlcsnap-2021-12-25-11h42m56s324
The writing is funnier than most comedies I’ve watched this year.

 

Di balik satirnya itu, film sesungguhnya ingin memperlihatkan yang terburuk dan yang terbaik dari umat manusia. Bukan salah film kalo yang ia gambarkan jadi betul-betul relevan sehingga kayak menunjuk-nunjuk muka kemanusiaan. Karena yang ditampilkan sebenarnya berimbang. Penggalian mendalam dari sosial penanda jaman yang kita rasakan. Betapa mudahnya orang yang dijadikan meme walaupun sesungguhnya dia yang benar, itu juga digunakan untuk menunjukkan betapa lihainya kita terhadap teknologi. Menggelar konser kemanusiaan, sekilas tidak berarti langsung kepada masalah, tapi itu juga jadi bukti kuatnya persatuan jika kita semua sudah sadar. Don’t Look Up bukannya tidak ada plot. Ilmuwan Dr. Mindy dan Kate bukanlah ada di sana untuk memperingatkan semua orang dan mereka selalu benar. Masing-masing juga punya kesalahan.

Ada pilihan yang mereka ambil, yang berujung pada pembelajaran. Pada Dr. Mindy yang diperankan penuh range emosi oleh Leonardo DiCaprio, kita melihat development dari seorang profesor yang belum publish jurnal, nervous jadi pusat perhatian tapi dia pengen membuktikan diri, dan akhirnya terlena juga ketika mendapat sedikit attention dan posisi. Dan bahkan karakter yang difungsikan sebagai kompas moral seperti Kate, juga punya drama. Jennifer Lawrence jadi korban bully udah seberpengalaman DiCaprio jadi korban bencana alam; di sini Kate yang ia mainkan adalah karakter yang paling amburadul oleh kejadian. Dia yang nemuin, tapi dia yang paling diledek, diacuhkan, dikucilkan. Mencapai emosional seperti itu dengan tetap menjaga tone yang humorous jelas bukan prestasi mudah. Kate-lah yang menghantarkan kita kepada elemen agama yang dimuat oleh film ini. Elemen yang sekilas kayak di permukaan, tapi sesungguhnya punya statement yang tak kalah kuatnya. Elemen itu datang dari ‘tempat’ yang tak terduga, dan actually adalah yang paling dekat dengan jawaban yang dipunya oleh manusia di film ini. Karena lowkey film ini bicara tentang kesombongan manusia yang merasa punya power di dunialah yang membuat kiamat itu tampak berlipat kali lebih buruk.

Masih banyak lagi aktor-aktor gede yang ikut bermain di sini, dan mereka semua on-board banget dengan yang ingin disampaikan oleh film. Mereka total menghidupkan karakter-karakter mereka yang tampak konyol. See, mereka di sini tidak berusaha keras untuk tampil konyol, karakter-karakter mereka yang begitu relate dengan kejadian yang terjadi di dunia nyatalah yang membuat mereka lucu. Lucu yang ironis, yang membuat kita balik mempertanyakan diri “Mau sampai kapan kita hidup sekonyol ini?” Jadi, ya di balik komedi memang ada kesuraman yang merayap. Ada suatu ketakutan bahwa dunia kita bisa saja berakhir seperti yang diperlihatkan film. Ini membuat kita jadi sejajar dengan karakter film yang takut dunia mereka dihantam komet. 

Banyak karakter, banyak sindiran komedi, banyak dark yang melatarbelakangi, film ini tidak sekalipun tersandung dalam menampilkan semuanya. Kamera film tidak terjebak (dan tidak merasa perlu) untuk menyorot ensemble cast sekaligus dalam satu frame. Melainkan fokus kepada menghasilkan berbagai rasa yang diniatkan. Cut-to-cut film memang terkadang tampil too much pada bagian eksposisi dan pada bagian membandingkan dua kejadian sekaligus, tapi saat menguarkan komedi ataupun yang bikin kita geram, film dengan bijak fokus memperlihatkan reaksi dan ekspresi. Sehingga walaupun pace film terasa cepat, kita tidak merasa kebingungan ngikuti cerita ataupun perasaan yang diniatkan, tidak merasa ketinggalan. Semuanya tampil dengan keseimbangan luar biasa.

 

 

 

Baru inilah film yang benar-benar menjadi penanda era pandemi. Era idiocracy. Dan film ini bahkan sama sekali tidak bicara tentang virus tersebut. Tidak ada masker-maskeran, tidak ada lockdown-lockdownan. It was supposed to be kiasan global warming. Tapi kita jualah yang membuatnya bahkan terasa lebih relevan lagi.  Berisi sarkas yang dikemas ringan dan sangat menghibur, komedi dari awal hingga akhir tanpa pernah kehilangan bobot dari komentar-komentar dan sindiran yang dilayangkan. McKay menunjukkan kualitas penulisan yang cerdas. Dia paham mengolah cerita tanpa keluar dari fokus. Begitu banyak yang bisa salah dalam film ini, berkat beragamnya elemen yang dimuat, elemen yang bekerja. Dia dengan berani menghantam semua. Aku tidak akan meminta film ini untuk melambat, atau menyuruhnya berhenti mengejek kita. Seperti komet itu. Ya, seperti komet. Film ini datang sebagai cerminan atau kiasan dari yang terjadi di dunia nyata. The only time kita menunduk seharusnya adalah untuk merenungkannya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for DON’T LOOK UP.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah keadaan di Indonesia sekarang pantas untuk dibuatkan film komedi sendiri? Genre apa yang kalian buat berdasarkan Indonesia?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FINCH Review

“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough”

 

 

Finch-nya Tom Hanks berharap robot buatannya bisa hidup layaknya manusia. Akan tetapi, tidak seperti Pak Tua Geppetto si Tukang Kayu, Finch tidak butuh Peri Biru untuk membuat keinginannya itu terkabul. Karena Finch adalah enginer robot yang handal. Dia telah membuat robot sederhana, sebelumnya. Dia hanya perlu step up his game, dan membuat robot cerdas yang bisa bicara, bergerak, dan berpikir. Dan, tidak seperti Geppetto yang membuat boneka kayu karena kesepian, Finch membuat robot bukan untuk cari teman. Finch memang sendirian (satu-satunya manusia di tengah mesin, perkakas rongsok, dan anjing peliharaan), tapi Finch tidak merasa kesepian. Finch justru nyaman dengan keadaannya. Satu-satunya alasan dia ingin menciptakan robot seperti manusia, adalah karena Finch merasa hidupnya sudah tak lama lagi, sehingga dia harus segera mencari pengganti. Pengganti siapa dan buat apa? Pengganti dirinya untuk menjaga anjing peliharaan kesayangannya.

finch202109211022-main.cropped_1632194537
Kayaknya aku butuh juga belajar bikin robot untuk jagain kucingku

 

 

Jika cerita tersebut terdengar datar bagi kalian, maka itu hanyalah karena aku memang belum menyebut settingnya. Di sini, aku ingin memperlihatkan bahwa setting suatu cerita ternyata memanglah sangat berperan. Sehingga tak jarang, setting tersebut menjadi bagian dari karakter dalam cerita. Gini, bayangkan cerita Finch itu bertempat di masa sebelum pandemi. Lalu coret itu, dan bayangkan cerita tersebut berada dalam situasi lockdown. Ya, narasi keseluruhan yang bermain dalam kepala kalian pastilah akan sangat berbeda – tentu saja akan ada perbedaan stake, tantangan, dan bukan tak mungkin juga perbedaan solusi. Bobot motivasi Finch mencarikan teman bagi anjingnya saja bisa berbeda antara saat dia bisa menemukan banyak manusia dengan saat harus bersusah payah untuk keluar rumah. Semua perbedaan tersebut dapat muncul hanya dengan mengganti situasi yang melatarbelakangi cerita. Sutradara Miguel Sapochnik enggak mau tanggung-tanggung. Dia menempatkan cerita Finch ke setting distopia.

Lapisan ozon Bumi sudah demikian parah (jadi kayak keju swiss, kata Finch) sehingga semua makhluk hidup yang terpapar sinar matahari, bakal kebakar seolah mereka adalah vampir. Situasi ini membuat kesendirian Finch beralasan, karena sejauh yang ia tahu (dan kita lihat) tidak ada manusia yang selamat. Situasi ini juga menghantarkan kita kepada kesehatan Finch. Lewat informasi visual, kita tahu dia terkena radiasi yang cukup parah. Dan di atas semua itu, makanan pun menipis. Situasi ini menciptakan stake yang menggencet. Yang membuat Finch harus bergerak setiap hari, mencari makanan di tempat-tempat terbengkalai, mempertaruhkan nyawa dengan keluar – ke tengah cahaya matahari – dengan pelindung baju UV yang sudah rombeng, menemukan tempat-tempat yang aman – bagi dirinya dan anjingnya – dari serangan badai berikutnya. So we see Finch is in a pinch situation. Situasi itulah yang enventually mengharuskan, mendesak, karakternya untuk membuat robot dan meletakkan kepercayaan yang ia tahu amat sangat berharga.

Setelah premis manusia membuat robot untuk menjaga anjing, membangun dunia yang memuat itu sekaligus menyediakan tantangan dan desakan yang kuat, tugas Miguel berikutnya adalah memberikan tema. Gagasan apa yang ingin ia sampaikan sebagai ruh dari konflik cerita. Ibarat jika bikin robot, sutradara Miguel kini harus memberikan robot itu baterai. Trust atau kepercayaan, dipilih olehnya sebagai ‘baterai’ tersebut. Dan ini berhasil jadi motor penggerak yang efektif. Pembelajaran tentang trust yang dilalui oleh para karakter; Finch sendiri, Jeff si Robot, dan Goodyear si anjing kesayangan (hanya tiga inilah karakter yang muncul dalam cerita) itulah yang membuat cerita jadi punya hati, yang membuat narasi film menjadi sedemikian berbobot sehingga film Finch bisa mencuat melebihi statusnya sebagai film distopia biasa yang menceritakan soal bencana umat manusia.

Robot itu diciptakan Finch sebagai makhluk cerdas, setia, punya daya tangkap luar biasa (meskipun sebenarnya terpaksa berjalan dengan kekuatan 72% dari potensi aslinya) supaya si robot tinggal meniru apa yang dilakukan Finch. Ngasih makan anjing, ngendarai mobil van, bikin shelter dan segala macamnya. Satu hal yang tidak bisa diprogramkan adalah, membuat robot itu dipercaya oleh Goodyear, sang anjing. Jadi, Finch dalam sisa umurnya harus mengajarkan si robot berlaku, supaya mendapat kepercayaan. Masalahnya, Finch sendiri adalah orang yang punya trust issue. Dari pengalaman masa lalu yang ia ceritakan kepada robot dalam berbagai kesempatan, kita paham bahwa Finch enggak percayaan sama orang, bahkan sebelum bencana matahari menimpa bumi. Dalam keadaan mereka yang sekarang, ketidakpercayaan Finch terhadap orang lain semakin besar. Bukannya tidak ada lagi manusia, namun kondisi manusia berebut untuk survive telah meruntuhkan sisa-sisa tembok kepercayaan di dalam diri Finch. Terlebih karena dia dan si anjing telah hidup sebagai saksi betapa jahatnya manusia saat kondisi memaksa mereka. Jadi, pertanyaan besar yang membuat interaksi karakter-karakter ini menarik adalah bagaimana bisa seseorang mengajari sesuatu hal kepada orang lain, saat dia sendiri tidak paham sama hal yang hendak ia ajarkan.

Tentu saja tidak bisa. Finch bahkan gak bisa menjelaskan makna trust dengan sederhana dan tepat, saat si robot bertanya. Finch hanya menjawab trust adalah trust. Dia either menjawab terlalu singkat, atau menjawab dengan cerita yang sangat panjang. Finch gak tahu, karena dia sendiri gak pernah percaya sama orang lain sebelumnya.  Inilah yang harus disadari oleh Finch, dalam waktunya yang terbatas. Finch sendirilah harus yang lebih dulu belajar memahami apa itu trust, bagaimana mempercayai orang lain kembali, sebelum ia berusaha mengajarkannya kepada Jeff si Robot.

 

Banyak penonton dan kritikus yang mengatakan film ini tidak original dan membanding-bandingkannya dengan film distopia lain, dan bahkan juga dengan film Tom Hanks lain, Cast Away (2000) hanya karena setting dan situasinya. Padahal sebenarnya, Finch ini pada intinya justru lebih mirip dengan Finding Nemo (2003). Si Finch adalah Marlin yang harus belajar untuk mempercayai Dory (dan eventually Nemo) – yang dalam film ini adalah Jeff si Robot. Akan ada adegan ketika Finch harus membuat keputusan, dan Jeff mengusulkan sesuatu tapi Finch menolak karena tak percaya. Akibatnya mereka berada pada tempat yang semakin parah. Tentu saja, film ini punya pesonanya tersendiri.

finch.ucmki3.image.qoh
Robotnya mirip mukak Deadpool, dan pas ngomong kayak lagi di Red Roomnya Twin Peaks

 

 

Sebagian besar, film ini ditopang oleh kepiawaian akting Tom Hanks. Aktor satu ini, batuknya aja meyakinkan! Hanks memainkan pria terluka luar dalam dengan power yang membuat kita tidak memandang karakternya dengan beriba-iba ria. Kita bisa melihat perjuangan dan desakan. Kita bisa melihat betapa dia tidak menyerah meskipun di lubuk hati dia pesimis sama dunia. Kita bisa merasakan dia hanya hidup untuk menjamin anjingnya berada di tangan yang benar. Hanks bersinar memainkan karakter ini, dia membuat akting dengan banyak dialog itu dengan berbagai range emosi itu tampak mudah. Momen-momen ketika dia ‘mendongeng’ untuk Jeff, aku merasa gak sabar dan ikutan duduk di sana mendengarkan cerita. Hanks gak butuh flashback, cukup dia bercerita aja, semua emosi yang diniatkan, semua pembelajaran yang dikandung, sudah tersampaikan kepada kita. Maka, tugas akting Caleb Landry Jones pun tak kalah berat. Dia harus bisa mengimbangi Hanks, sekaligus sebagai robot yang satu-satunya cara menunjukkan ekspresi dan perkembangan adalah lewat suara. Caleb berhasil terdengar seperti anak yang polos ke seorang yang penuh rasa optimis, hingga menyerempet ke komedi lewat kontras karakternya dengan Finch. Developmentnya semakin terasa saat film mendekati akhir. Jeff terasa sekali perbedaannya dengan saat di awal, kita merasakan progresnya dalam belajar menjadi semakin ‘manusiawi’.

Interaksi Finch dengan Jeff, Jeff dengan Goodyear, Finch dengan Goodyear menghantarkan kita melewati naik turunnya perasaan hangat, haru, intens, dan juga kocak. Film memang gak berniat menjadi sepenuhnya depressing. Malah, lebih banyak momen-momen ringan. Momen-momen yang lebih manusiawi. Mengingat ini cerita distopia dengan tokoh manusia dan robot dan hewan, maka pencapaian manusiawi tersebut jelas merupakan feat yang luar biasa. Saat menonton, seiring perjalanan yang dilakukan para karakter menuju Golden Gate Bridge (yang membuat film ini semacam road-trip movie) kita akan merasakan cemas, dan sedikit gak tega karena kita tahu cerita mengarah kepada Finch yang harus pergi. Alias mati. Bagi naskah, inilah yang dijadikan pertanyaan untuk dijawab di babak terakhir. Apakah usaha Finch berhasil?

Enggak banyak film yang berhasil tetap stabil saat ‘mencabut’ karakter utamanya saat cerita berlangsung. Kebanyakan langsung jatuh bebas, alias sudut pandangnya jadi kacau, dan tidak terjustifikasi kenapa karakter utama tersebut harus hilang atau diganti atau semacamnya. Contoh teranyar adalah The Medium (2021), horor Thailand yang bangunan ceritanya langsung runtuh saat karakter utama dibikin tewas dan ujug-ujug diganti oleh karakter dukun yang random. Finch adalah contoh yang berhasil. Suprisingly, film ini berhasil mencapai ending yang memuaskan meskipun karakter utamanya harus undur diri. Karena naskah benar-benar ditulis dengan matang. Keseluruhan babak terakhir adalah untuk menunjukkan keberhasilan Finch. Kita melihat aftermath dan apa yang ia ‘wariskan’ kepada Jeff. Masih ingat ketika di awal ulasan disebut setting sebagai bagian dari karakter? Seiring Finch belajar tentang trust, bahwa masih ada yang bisa diharapkan di muka bumi, situasi dunia cerita pun berubah. Membantu Finch menyadari semua itu. Gampang untuk overlook dan mengatakan film ini random tiba-tiba dunianya udah gak bahaya lagi. Sesungguhnya, film meminta kita untuk percaya bahwa ada yang mendasari semua itu. Bahwa sebenarnya yang diperlihatkan bahwa masih ada harapan. Sepeninggal Finch, cerita tidak berakhir karena lewat interaksi Jeff dan Goodyear film memperlihatkan bahwa perjalanan karakter Finch sudah melingkar sempurna. Jeff mendapat kepercayaan Goodyear karena Finch telah berhasil membuka hatinya untuk sebuah trust.

 

 

 

Buatku film robot ini hangat sekali. Action dan komedi dan ketegangannya tidak pernah berlebihan, melainkan fokus kepada cerita karakter. Perjalanan manusiawi yang harus ditempuh oleh karakternya. Sebagai road-trip, memang film ini adalah salah satu yang cukup langka, karena menunjukkan karakternya sampai di tujuan, bahwa tujuan itu sama berharganya dengan prosesnya. Secara terpisah film ini memang bisa terasa kurang original. Premisnya kayak sudah banyak. Settingnya apalagi. Namun secara gambaran besar, semua elemen di film ini berada pada tempat dan memenuhi fungsinya masing-masing. Dihidupi oleh tema yang menggugah dan penampilan akting yang memukau. Mata kita pastilah kelilipan pasir jika tidak melihat indahnya film ini. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for FINCH.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian termasuk yang susah mempercayai orang? Mengapa menurut kalian itu bisa terjadi?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THOSE WHO WISH ME DEAD Review

“No time to grieve for roses when the forests are burning”

 

Membahas sebuah film memang tak bisa dilakukan tanpa sedikit-banyak menceritakan tentang alur film tersebut. Namun, menceritakan tentang Those Who Wish Me Dead ini terasa mirip sekali dengan memantik api yang bakal menjalar membakar habis hutan. ‘Api’ di sini adalah spoiler, dan hutannya adalah the entire review. Karena film ini memang terdiri dari kejadian-kejadian kecil, yang kemudian membesar, menjalar, saling berhubungan membentuk konflik besar film. Ada perempuan yang trauma oleh kegagalannya sendiri, ada anak kecil yang dikejar pembunuh. Ini adalah thriller kejar-kejaran, sekaligus juga merupakan kisah bencana alam. Film ini begitu all over the place. Tapi juga so little – setelah api itu padam, tidak ada banyak hal tersisa selain abu untuk kita bicarakan. Yang jelas, ya, akan ada api besar, jadi kalian yang suka nontonin kebakaran masih akan bisa terhibur olehnya.

Tapi aku akan tetap mencoba. Ngasih tahu gambaran besar kisah film yang diangkat dari novel ini, dengan sesedikit mungkin membeberkan detil-detil di dalamnya. Cerita ini dimulai dari ayah dan anak yang sedang dikejar oleh dua pembunuh yang gak segan-segan melenyapkan siapapun yang menghalangi mereka. Dalam pelarian, ayah dan anak itu mengalami nasib naas sehingga kini tinggal si anak yang jadi buronan. Si anak kabur ke belantara hutan Montana. Di sana, dia ditolong oleh seorang pemadam kebakaran. Mereka berdua harus berjuang keluar dari hutan – segera menuju tempat yang bisa melindungi sang anak. Dengan dikejar oleh dua pihak yang memburu berapi-api; tim pembunuh, dan api beneran yang tengah berkobar melalap hutan tempat mereka bersembunyi.

dead013325_1142x642_637534307234461060
Some people just wanna watch the world burn.

 

Aku suka sama naskah tulisan Taylor Sheridan, khususnya Sicario (2015) dan Hell or High Water (2016). Naskahnya selalu berhasil memuat studi karakter yang kompleks ke dalam thriller yang menegangkan. Sheridan sepertinya juga cukup beruntung dapat sutradara yang sevisi, yang mampu menggambarkan apa yang ia niatkan. Dalam Those Who Wish Me Dead ini, sebenarnya naskah Sheridan juga lumayan kompleks. Setidaknya, sesuai dengan zona nyaman dia selama ini. Perempuan pemadam kebakaran dalam cerita ini adalah Hannah yang suka ngelakuin hal nekat (dan bodoh ala jackass) karena nurani dan perasaannya terbebani oleh kesalahan yang ia lakukan dalam tugas beberapa waktu yang lalu. Hannah trauma tidak bisa menyelamatkan tiga cowok remaja dari kebakaran. Pasal ini dibentrokkan oleh Sheridan dengan Connor, si anak kecil yang dikejar-kejar pembunuh. Naskah Sheridan berhasil mencuatkan bahwa Connor adalah kesempatan bagi Hannah menebus diri, sekaligus juga bahwa ada kesamaan pada keduanya. Yakni dua pribadi yang sama-sama mengalami trauma. Naskah film ini akanlah bersinar jika benar-benar mendalam membahas hubungan antara karakter Connor dengan Hannah.

Kali ini memang sepertinya Sheridan kurang mendapat kebebasan kreatif, walaupun dia juga merangkap sebagai sutradara. Karena film ini diadaptasi dari novel, yang juga melibatkan penulis novel aslinya. Jadi ada kebutuhan untuk membuat semirip mungkin dengan cerita novelnya. Dan di sinilah kejatuhan dari film Those Who Wish Me Dead (dan juga kejatuhan dari banyak film adaptasi novel yang penulis novelnya juga mendapat kredit nulis naskah). Film ini masih enggan lepas dari bentuk novelnya. Sudut pandang cerita ini tidak fokus, melainkan sering berpindah-pindah. Juggling dari Hannah-Connor ke pasangan lain yang ada di dalam kisah. Ada pasangan polisi lokal dengan istrinya yang tengah mengandung. Dan tentu saja duo pembunuh yang mengejar Connor. Dua pasangan itu juga punya cerita sendiri, tapi karena porsi mereka dibagi-bagi bersama porsi Hannah dan Connor, tidak ada pasangan ataupun satu karakter yang benar-benar mencuat sebagai tokoh utama. Mereka semua sama-sama kurang tergali. Sama-sama satu dimensi.

Kita harusnya peduli sama Connor dan Hannah, karena merekalah yang sebenarnya diniatkan sebagai center piece. Merekalah yang paling bertragedi. Namun film ini tidak berhasil membangun center itu sendiri. Dan malangnya, baik Connor dan Hannah kalah menarik dibandingkan dengan polisi-dan-istri dan dua pembunuh itu. Polisi dan istrinya basically adalah cool couple, terutama sang istri yang ternyata jago survival (including naik kuda sambil menembak senapan). Mereka punya stake yang tak kalah berharga – yakni bayi di kandungan. Dinamika keduanya asyik untuk diikuti, mereka dengan gampang bisa jadi tokoh utama film ini karena punya petualangan pribadi yang lebih seru. Terus, kedua pembunuh; mereka boleh jadi penjahat yang ‘hanya jahat tanpa karakter’, tapi sudut pandang jahat mereka ini menarik. Salah satu dari mereka ada yang bilang gak mau menyakiti wanita hamil, tapi di adegan pembuka film kita melihat baju mereka bebercak darah sehabis masuk rumah yang ada penghuni perempuan dan suara anak balita (and yes, they blow up the house after that). Atau ketika salah satu mereka bilang benci sekali sama kota ini. Aku lebih penasaran sama kenapa sikap mereka begitu ketimbang harus melihat lagi Hannah terkenang kejadian kebakaran hutan yang naas, ataupun Connor yang berperilaku sedikit lebih dewasa ketimbang usianya.

Sepertinya itu karena memang kekuatan naskah Sheridan masih kentara di balik keputusan kreatif lainnya. Kesubtilan naskah itu masih dapat kita rasakan, terutama ya pada kedua penjahat itu. Pada pihak yang jadi judul film ini; “Mereka yang ingin aku mati”. Mereka itu siapa? Tentunya ada kelompok yang lebih besar di balik dua pembunuh suruhan tersebut. Nah, naskah bermain cantik dengan hanya memberi tahu kita secara tersirat. Menggoda kita. Film menampakkan sedikit siapa dalangnya (diperankan oleh cameo Tyler Perry), tapi dengan bijak meninggalkan lebih banyak di dalam bayang-bayang. Ada serangkaian orang-orang berkuasa yang gak senang dengan kerjaan ayah Connor, dan itulah yang menyebar jadi masalah seperti api membakar hutan.

Sepercik kecil api mampu menghanguskan berhektar hutan. Ayah Connor sebagai forensic auditor mungkin dianggap memantik api tersebut, mengungkap banyak kasus, mungkin seperti korupsi, oleh orang-orang besar. Tapi sebenarnya yang dilakukan ayah Connor justru menyibak, mengingatkan bahwa ‘hutan’ itu memang sedang terbakar. Bahwa sedang ada masalah besar yang harus dihadapi. Ayah Connor melawan api dengan api.

 

dead41454350-9445619-image-m-36_1617806590435
Oke, api dan kebakaran memang cool untuk ditonton!

 

Kesubtilan problem dalam dunia cerita ini diseimbangkan dengan menampilkan visual yang benar-benar red hot sebagai puncaknya. Itulah saat ketika percikan-percikan kejadian akhirnya terhubung. Sheridan benar-benar menaruh kita dan karakternya di tengah kobaran api. Di momen inilah film mencapai titik tertingginya. Kebakarannya tampak beneran mengukung dan terkesan berbahaya. Adegan-adegan aksi seperti berantem di situ atau berlari dikejar api berhasil bikin kita menggigit jari dengan tegang. Angelina Jolie sebagai Hannah tampak nyaman sekali kembali ke ranah aksi, malah penampilannya di sini yang kerap menyadarkanku bahwa film ini sejatinya juga adalah sebuah laga survival.

Bahkan spektakel itupun terlambat untuk benar-benar menyelamatkan film. Tidak benar-benar ada sesuatu yang berisi di baliknya. Anak kecil yang nyawanya terancam, itu stake yang gampang sekali untuk dramatisasi. Film ini tidak berbuat banyak dalam menggali itu. Kejar-kejarannya jadi datar karena selain soal keselamatan nyawa, dan hubungan yang jadi makin akrab, tidak banyak perkembangan karakter yang diperlihatkan. Tidak banyak pertumbuhan yang personal. Dan lagi karena kita tidak benar-benar difokuskan kepada harus peduli ke siapa. Aku tidak berniat terdengar kasar atau terlihat terlalu menghina, tapi ya, pemandangan hutan yang terbakar lebih punya kedalaman ketimbang film ini secara keseluruhan.

 

 

Film ini bukan burung phoenix yang makin cantik setelah apinya padam. Film ini justru paling bagus saat kebakaran hutan dan konflik-konflik dari tiga pasang karakter itu bertemu dan ‘terbakar’ bersama. Setelahnya, film jadi datar karena kita tidak berhasil dibuat untuk peduli. Sepanjang perjalanan, cerita sibuk menjuggling kita dari satu pasangan karakter ke pasangan lainnya. Tidak tersisa banyak ruang dan waktu untuk pengembangan dan penggalian masing-masing. Melainkan hanya episode kejar-kejaran yang terlalu gampang untuk dituliskan. Karakter yang seharusnya jadi pusat cerita juga justru jadi kalah menarik. Ini definitely bukan karya terbaik dari Taylor Sheridan. Terasa subpar, malah jika dibandingkan dengan Sicario ataupun Hell or High Water. Naskah dan struktur bercerita perlu lebih banyak ditempa lagi supaya bisa benar-benar membentuk cetakan sebuah film.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THOSE WHO WISH ME DEAD.

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian siapa sebenarnya yang sudah terusik oleh ayah Connor? Bagaimana sekiranya laporan Connor ke media dapat menghentikan kasus tersebut?

Share  with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

CRAWL Review

“Just keep swimming”

 

 

Di tengah horor dan thriller yang membanjiri lanskap perfilman, Crawl memang bukan ‘monster’ yang besar. Dia bahkan tidak ambisius. Tapi siapa sangka, film garapan Alexandre Aja ini, yang nyempil ‘malu-malu’ di antara film-film box office, ternyata dalam diamnya mampu memberikan pengalaman menakutkan paling murni yang bisa kita dapatkan. Dan ya, memang begitulah makhluk horor seharusnya; menyergap diam-diam dan mematikan. Crawl melakukannya dengan gemilang. It was a straight-up horror adventure. I have a blast watching this movie. Tidak pake hal-hal goib. Tidak pake perjanjian dengan klub-klub sesat. Tidak pake teori-teori sains rekaan yang ujung-ujungnya bikin cerita gak masuk akal. Tidak pake twist yang berusaha tampak pintar dengan mengecoh penonton. Delapan-puluh-tujuh menit benar-benar murni pembangunan suspens. Dan meskipun bergantung berat pada CGI, semua elemen horor pada dunia film ini berakar pada hal yang natural. Hewan dan manusia. Dan bencana alam.

Sebelum membahas dua yang kusebutkan duluan, aku ingin menekankan kepada pentingnya bagi kita untuk tidak melupakan si badai kategori 5 yang jadi latar pada film ini. Karena actually badai ini bukan sekedar latar. Melainkan ia sudah menjelma menjadi karakter tersendiri. Sedemikian kuatnya film ini ngelay-out sang badai tersebut. Badai itu tampak sangat realistis. Budget jelas sekali dimanfaatkan dengan efisien. Badai itu seperti sedang beneran terjadi. Atmosfernya menjejak kuat ke dalam cerita. Bukan sekadar siraman hujan lebat, langit gelap, dan hembusan angin dimainkan dengan efektif sebagai bagian dari alur cerita. Kadang badai ini membantu menyelamatkan tokoh-tokoh. Kadang juga membuat usaha survive mereka menjadi semakin susah. Cerita film ini menggunakan air untuk menaikkan intensitas kengerian; di mana air yang menjadi jalan masuk bagi para buaya (atau aligator) dimainkan secara bertahap.

Dalam usahanya mencari sang Ayah yang secara misterius tak-bisa dihubungi, Haley (Kaya Scodelario melakukan begitu banyak, ia kuyup oleh air dan darah) menerjang badai tersebut kembali ke rumah masa kecilnya di Florida. Untung saja ia melakukan hal tersebut, sebab ayahnya (Barry Pepper bermain gemilang sebagai motivator utama dalam hidup si Haley) ternyata membutuhkan pertolongan medis dengan segera. Sesuatu menyerang si ayah di dalam basement/crawl space rumah mereka, dan si penyerang – tak diketahui oleh Haley pada awalnya – ternyata masih di sana. Haley dan ayahnya terjebak, bersama si penyerang; buaya, yang setia menanti. Saat itulah badai ikut turun untuk meramaikan ‘pesta’. Air hujan di luar menjadi detik-detik bom waktu, karena sesegera air memenuhi ruangan, ruang gerak buaya semakin luas. Sementara posisi Haley dan ayahnya semakin kegencet. Ke mana pun mereka bergerak, air yang semakin naik, membawa buaya senantiasa mengekor mereka.

hayo ada yang tau bedanya buaya atau aligator?

 

Cerita yang dihadirkan memang sangat simpel. Tetapi semua elemen yang ada didesain sedemikian rupa sehingga bekerja berurut membangun kengerian yang maksimal. Menonton ini akan membuat kita duduk merengket, terpekik-pekik kecil, saat menyadari perlahan bahaya terus terbendung. Haley dan ayahnya nyaris tidak punya ruang untuk bernapas. Kita bahkan dibuat bertanya-tanya ngeri di dalam hati mengenai keselamatan anjing peliharaan yang senantiasa menggogok dari lantai atas memanggil tuannya. Setiap kali air naik, kita akan dibuat ikutan jantungan mikirin berapa banyak lagi buaya yang masuk. Kita akan dibuat melototin permukaan air karena kita pengen tau buayanya bakal muncul dari mana. Sungguh usaha yang sia-sia sebenarnya, karena film berhasil mengeksekusi jumpscare demi jumpscare dengan timing tak-terduga.

Horor yang terpusat di basement rumah – yang kemudian bakal naik ke lanta-lantai lain – seperti tak pernah kehilangan nada seramnya. Aksi-aksi survival yang kerap dilakukan oleh Haley, pilihan-pilihan nekat yang ia paksakan dirinya untuk lakukan, bakal membuat kita menahan napas. Tidak pernah sekalipun tindakan tokoh dalam film ini tampak bego, kayak di horor-horor atau thriller pada umumnya. Alexandre Aja yang dulu pernah menggarap Piranha 3D (2010) dengan lumayan sukses; horor tentang hewan buas juga, hanya saja lebih ‘receh’, pada film Crawl ini ingin membuktikan bahwa dia sanggup membuat yang serupa menghibur, tapi dengan nuansa yang lebih serius. Dan menurutku, dia memang berhasil melakukan hal tersebut. Buaya-buaya dalam film ini, kendati secara teknis memang adalah ‘makhluk monster pemakan manusia’ tapi tidak semata diperlihatkan hanya ingin memangsa manusia. Terkecuali pada satu-dua adegan para buaya tampak ‘bekerja sama’, mereka tidak dibuat melakukan sesuatu di luar kebiasaan buaya pada umumnya. Film ingin mempersembahkan mereka sebagai binatang normal. Kita diperkenalkan asal usul mereka lewat papan jalan penangkaran buaya yang dilewati Haley di adegan awal. Jadi film menanamkan kepada kita bahwa ini adalah buaya-buaya normal, ini adalah bencana alam normal, dan orang-orang yang terjebak di sana – baek ataupun tukang ngejarah supermarket – adalah orang-orang normal

Bahwa ini sesungguhnya adalah cerita yang grounded. Yang berinti pada keluarga. Hati cerita ini terletak pada hubungan Haley dengan ayahnya. Film sungguh memperhitungkan segala kejadian mengerikan yang terjadi pada Haley sebenarnya memiliki akar atau menjadi simbol dari apa yang seharusnya ia lakukan terhadap masalahnya dengan dirinya sendiri, yang berkaitan dengan sang ayah. Rumah masa lalu itu misalnya; tentu saja bukan tanpa sebab cerita memilih fokus di rumah itu padahal akan lebih seru kalo cerita meluas ke lingkungan di luar rumah, di mana ada lebih banyak buaya dan medan yang lebih menantang. Haley dan ayahnya memang mulai berjarak, padahal dulunya mereka akrab sebagai pelatih dan atlet renang. Haley yang selalu nomor-dua seringkali merasa tak percaya diri. Ayahnya lah yang terus menyemangati. “You’re an apex predator” gebah ayahnya bertahun-tahun yang lalu, yang jika dilihat sekarang kala mereka dikelilingi buaya, kata-kata tersebut dapat menjadi sangat ironi. Masalah pada Haley adalah bukan karena dia payah sebagai atlet renang, hanya saja ia merasa dirinya berenang karena ayah. Bakat yang ia miliki menjadi beban tatkala menjadikannya tidak percaya kepada dirinya sendiri. So it’s perfectly make sense Haley harus berenang secepat yang sebenarnya ia bisa demi menyelamatkan dirinya dan ayahnya. Buaya-buaya itu tepatnya adalah simbol ‘apex predator’ yang harus ia kalahkan.

Sama seperti sebagian dari kita, Haley tidak bisa terdorong jika tidak diberikan motivasi. Dia butuh sosok lawan untuk dikalahkan. Hanya saja untuk waktu yang lama, ia salah kaprah. Bukan tuntuan ayah, bukan pesaing renang, yang harus ia kalahkan. Lawan itu adalah dirinya sendiri. Buaya-buaya itu adalah dia menurut sang ayah; cepat – predator. Ketika dia ingin mengalahkan buaya berenang demi nyawanya, ia sadar yang ia butuhkan hanyalah berenang, berenang, terus berenang, tanpa menyerah kepada keinginan berhenti. Haley mengalahkan ‘lawan’ yakni dirinya sendiri. Maka kita lihat akhirnya dia mengangkatkan tangan penuh kemenangan.

 

Kenapa basement rumahnya bolong-bolong ya, sengaja banget ngundang air masuk?

 

Antara aksi survival dan pembangunan karakter, film memang bisa tampak agak ‘lucu’ juga. Percakapan ayah dan Haley kadang membuat kita merasa harus banget gitu ngajak ngobrol mendalam soal keluarga sekarang. Beberapa percakapan terdengar terlalu ‘dipaksa’ padahal mestinya lebih tepat dibicarakan dalam sikon yang lebih aman. Dan ini dapat membuat film yang berusaha grounded ini tampak tidak-realistis. Masa lagi dikepung buaya, bapaknya ngajak bernostalgia ke masa kecil. Tapi percakapan itu dibutuhkan karena karakter kedua tokoh ini perlu untuk dilandaskan. Sehingga kita peduli akan keselamatan mereka. Sehingga Haley dan ayahnya tidak jatoh seperti beberapa tokoh lain yang saat mereka dimakan buaya, kita tidak merasa peduli sama sekali. Film butuh menetapkan sesuatu terhadap karakternya sehingga kita ingin mereka selamat. Kita mengkhawatirkan kebersamaan mereka. Bukan sekedar kasihan kalo mereka dimakan, karena tentu saja kita kasihan dan ngeri melihat manusia dimakan buaya.

Tapi melihat ke belakang, semua drama itu tampak dengan mudah teroverlook karena penggambaran aksi survival yang begitu kuat. Film ingin tampil serius, dia tahu apa yang harus dilakukan untuk itu, dia juga ingin punya cerita yang berbobot. Hanya saja ketika kau menggarap film seperti ini, selalu ada resiko adegan-adeganmu tampak ‘maksa’ dan tidak berfungsi sesuai dengan yang dikehendaki. Menurutku film bisa lebih baik jika diberikan ruang cerita yang sedikit lebih luas sehingga pengembangannya bisa dilakukan dengan lebih natural.

 

 

Selain masalah minor tersebut, aku suka sekali film ini. Untuk urusan horor dan thriller, buatku selalu ada jeda yang cukup jauh antara film yang bagus di bioskop. Untuk waktu yang cukup lama sejak Us, aku belum lagi ngerasa puas dan genuine terhibur. Horor-survival bertema hewan buas dari Alexandre Aja ini menyambung estafetnya. Desain produksnya enggak ngasal. Badai dan buaya CGI itu tampak meyakinkan. Aksi bikin kita beneran mencicit di tempat duduk. Jumpscarenya efektif sehingga aku tidak merasa kesal dikagetin. Simpel, gak butuh twist, dan jauh dari keinginan bangun universe ribet. Nonton ini akan memuaskan sekali buat kita-kita yang ingin kabur sejenak dari rahang mengerikan dunia nyata. But mind you, kengerian dalam film ini berpotensi untuk balik menghantui kita dalam dunia mimpi
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CRAWL.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Film ini sebenarnya berpesan soal mengubah kekalahan menjadi motivasi. Pernahkah kalian merasa begitu kalah sehingga memutuskan untuk berhenti mencoba?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

THE MEG Review

The number one rule is to not become a victim yourself

 

 

 

Laut, meski gak punya pohon-pohon, masih berlaku hukum rimba di sana. Ikan kecil dimangsa ikan yang besar. Ikan yang besar dimakan oleh ikan yang lebih gede. Ikan lebih gede tak ayal kena mamam sama ikan raksasa. Manusia sebagai bagian dari ekosistem, mau masuk hutan atau lari ke pantai pun tak bisa luput dari hukum tersebut. Kita butuh makhluk lain untuk melanjutkan kehidupan. Untuk bertahan hidup adalah tujuan kita di dunia. Tetapi, sebagai makhluk yang dianugrahi hati buat mikirin etika, tentu kita manusia enggak bisa sembarangan ‘memakan’ sesama manusia. Makanya Jason, seorang penyelam penyelamat, di film The Meg dipandang sebelah mata sama rekan-rekannya; lantaran Jason pernah mengorbankan seisi kapal selam untuk menyelamatkan diri beserta segelintir orang yang saat itu bersama dengannya.

Tak ada yang percaya alasannya, membuat Jason mengasingkan diri ke Thailand.  Dia menunggu ilmuwan-ilmuwan biologi laut di kilang lepas pantai Cina itu kembali minta tolong kepadanya karena Jason percaya pada apa yang ia lihat. Well, atau tepatnya yang tidak ia lihat. Ada sesuatu di dasar palung di sana yang menyerang mereka. Makhluk supergede yang menemukan jalan ke permukaan berkat ekspedisi yang dilakukan oleh para ilmuwan. Monster purbakala yang tahu persis dirinya masih meraja di puncak rantai makanan. Tidak seperti Jason, hewan ini gak akan berpikir dua kali, enggak bakal teragu oleh nurani, dalam memakan manusia demi kelangsungan hidupnya.

kebanyakan nonton Steve-O mancing hiu di Jackass nih hhihi

 

 

Survival adalah kebutuhan paling mendasar setiap manusia. Tapi mengapa kita merasa perlu untuk menolong orang, banyak pahlawan yang sudah gugur, dan ada juga yang selamat dan berhasil menolong orang. Sebagai makhluk sosial, sudah kodratnya bagi kita untuk merasa ingin membantu orang lain menyelamatkan diri. Kita memperkirakan resiko, kita menantang diri sendiri untuk bisa selamat bersama mereka. Apapun alasannya kita menolong orang karena keyakinan kita sanggup survive pada akhirnya. Maka dari itu, yang perlu diingat adalah dengan jangan sampai kita sendiri yang menjadi korban. Jangan keburu untuk dianggap pahlawan sehingga kita menyebabkan keselamatan lain justru semakin terancam.

 

Sayangnya The Meg enggak konsisten merenangi perairannya sendiri. Tema yang mereka angkat timbul tenggelam. Umm.. lebih tepatnya, bayangkan sebuah batu yang kalian lempar menyisir permukaan air. Batunya akan loncat-loncat, kan. Begitulah tema film ini terasa. Film enggak konsisten dalam mengeksplorasi konteks ceritanya. Jonas ngorbanin banyak orang supaya bisa menyelamatkan paling enggak beberapa, supaya mereka enggak binasa semua. Kita seharusnya mendukung sudut pandang ini, karena Jonas adalah tokoh utama cerita. Namun film juga secara berlebih berusaha membuat kita sedih. Seperti si pria Asia yang dengan sengaja mengorbankan dirinya; kenapa kita mesti sedih karena tindakannya tersebut, sementara kita tahu – Jonas tahu dan ia dipersalahkan karenanya – bahwa pengorbanan itu kadang diperlukan. Pada satu poin Jonas bilang enggak gampang menjadi orang yang selamat dari musibah. Jadi usaha-usaha film untuk mendramatisasi setiap kematian para tokoh lain enggak ngefek ke kita.

Di momen kita menyadari kebiasaan minum yang menjangkiti Jonas tidak menambah apa-apa ke dalam plot; malahan tidak pernah disinggung lagi selain buat introduksi yang kayak tempelan, kita tahu film ini tidak benar-benar niat untuk memanusiakan para tokoh yang lain. Mereka dibuat sebego-begonya orang yang nyalain lampu meski sudah belajar bahwa cahaya dapat menarik perhatian predator yang mengincar mereka. Ide pintar ilmuwan di film ini adalah menembakkan racun ke mulut hiu alih-alih memancing si hiu dengan daging yang sudah diracuni. Keputusan-keputusan yang mereka buat sama seperti dialog yang mereka ucapkan; it’s either awkwardly cheesy atau blo’on.

Penokohan mereka begitu tipis, gak bakal cukup untuk tersangkut jadi kotoran di gigi hiu yang mau memangsa mereka. Jonasnya Jason Statham adalah hero film aksi paling generik, walaupun dia punya dasar moral sendiri, tapi tak pernah menguar lebih dari titik dia nge-I told you so orang-orang. Rainn Wilson adalah orang kaya yang bersifat egois yang kita nanti-nantikan kematiannya. Page Kennedy menerima tugas sebagai orang hitam yang lucu karena mengeluh setiap saat. Ruby Rose adalah cewek hispster yang jago komputer. Bingbing Li jadi tokoh cewek pendamping utama yang tentu saja bertugas menjadi orang yang perlu diselamatkan oleh Jonas. Begitu banyak tokoh yang gak ngapa-ngapain, ataupun memberi sesuatu yang baru, sudut pandang yang bikin kita enjoy mengikuti dan peduli ama mereka. Ada satu tokoh anak kecil, yang bikin kita “aww lucunya” dan dia gak diberikan apa-apa selain yang sudah kita lihat pada trailer. Juga ada tokoh kepala ilmuwan yang merasa bimbang saat mengetahui ‘musuh’ mereka adalah hewan prasejarah, ia dijangkiti dilema apakah makhluk ini sebaiknya tidak harus dibunuh, melainkan bisa dilestarikan. Namun film sebodo amat, dan tokoh-tokoh lain seratus persen meng-ignore si tokoh dengan menjalankan misi mengebom si hiu.

kenapa lagu Hey Mickey versi Thailand jadi soundtrack benar-benar di luar kuasa logika ku

 

 

Bekerja sama dengan China, film ini berusaha tampak lebih menarik buat pasar di sana.  Yang ada malah, The Meg tampak seperti ‘Made in China’ dari film hiu yang lebih kompeten seperti Jaws (1975). Bagian paruh pertama film ini membosankan dengan banyak penjelasan dan bincang-bincang teknologi dan istilah-istilah semacamnya. Bagian kedua, setelah perahu mereka dibalikkan, memang lebih seru, hanya saja meminjam banyak dari elemen yang sudah pernah kita lihat. Mereka berusaha melakukan hal yang sama, dengan lebih besar, dengan teknologi yang lebih mumpuni. Bahkan dengan mindset itupun, senjata utama film ini adalah ‘monster’nya yang super gede, The Meg tidak pernah benar-benar terasa menyeramkan. Alih-alih menggunakan suasana dan atmosfer bawah laut yang mencekam, film menakut-nakuti kita dengan jumpscare kelebatan hiu. Melihat sirip raksasa itu mendekat menyusur air, tidak membuat kita takut. Malahan greget pengen lihat si hiu bakal ngapain, bagaimana cara si hiu membunuh orang-orang yang tak berkarakter itu. Aksi hiunya pun biasa sekali. Aku mengharapkan mereka berkreasi dengan hiu sebesar itu, namun selain shot CGI yang merupakan versi halus dari photoshop serangan hiu hoax di internet yang sering kita lihat, tidak banyak hal seru yang ditawarkan oleh si hiu. Bahkan gak banyak darah, lantaran film menolak untuk sadar diri dan ngepush untuk dapat rating yang ‘enggak-dewasa’.

Mindless-monster movie yang membosankan. Menonton film ini bagaikan ngobrol sama orang annoying yang sok asik. Mereka pikir mereka lucu, exciting, mereka pikir aksinya keren, tapi semuanya biasa aja. Bahkan nonton Sharknado akan lebih menghibur, karena pembuatnya tahu kekuatan konsep ‘murahan’ yang mereka gunakan, dan mereka paham gimana menargetkannya kepada penonton sasaran pasar mereka. The Meg tidak sanggup untuk seserius dan semenakutkan Jaws, dan merasa gengsi untuk tampil seperti Sharknado. Padahal justru kemindless-annya itu yang semestinya dijadikan kekuatan. Adegan final Jonas actually satu lawan satu melawan hiu itu adalah adegan terbaik; film harusnya embrace kegakmasukakalannya tersebut sedari awal, karena sesungguhnya film ini berenang di kolam yang sama dengan film-film Sharknado.

 

 

 

Palungnya boleh dalam, namun ceritanya dieksplorasi dengan dangkal. Hiu film ini boleh saja gede, tetapi filmnya sendiri bernilai kecil lantaran filmnya terlalu sibuk untuk menjadi ‘Made in China’ dari film-film hiu yang lain. Dia menganggap dirinya seriously keren. Tapi tidak mengolah karakternya dengan baik. Dia tidak mengembrace sisi konyol yang mereka punya. Padahal jika mereka melakukan secara konsisten apa yang mereka lakukan di paruh akhir cerita, it would be a total blast. Akan bekerja sangat baik kalo saja mereka benar-benar total, penuh darah, konyol, dan sebagainya. Tidak konsisten dengan konteks, juga tidak total memainkan konsep. Jadinya adalah film ini seram tidak, kocak dan menyenangkannya juga hilang timbul.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE MEG.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM Review

“Stupidity and greed will kill off humans”

 

 

Ada yang punah pada Jurassic World: Fallen Kingdom, dan itu bukan dinosaurusnya.

 

Dua puluh lima tahun setelah Jurassic Park (1993), teori chaos yang dibicarakan oleh Dr. Ian Malcolm sekarang sudah menjadi prophecy yang terwujud nyata. Dan beban dilema moral itu kembali jatuh kepada manusia sebagaimana ancaman kepunahan sekali lagi membayangi dinosaurus. Gunungapi di pulau atraksi dinosaurus, Isla Nublar menunjukkan aktivitas tak menyenangkan, mengancam kehidupan kadal-kadal prasejarah buatan yang tinggal di sana. Tanggung jawab tentu saja ada di tangan manusia, sebagai pihak yang telah menciptakan mereka. Setiap tindakan ada konsekuensi, ada satu pertanyaan raksasa lagi yang bikin manusia mikir dua kali – yakin mau nyelametin makhluk-makhluk yang secara insting menjadikan manusia sebagai menu sarapan, makan siang, dan tak ketinggalan makan malam mereka?

Jurassic World: Fallen Kingdom tampak seakan bersiap membuka ruang diskusi bertajuk debat antara ketamakan melawan tanggungjawab. Karena hal tersebutlah yang menjadi motivasi para tokohnya. Claire (segala kekacauan dinosaurus itu jadi terlupakan demi ngelihat Bryce Dallas Howard), mengambil alih posisi tokoh utama kita kali ini, aktif dalam organisasi pecinta alam yang ingin menyelamatkan dinosaurus sebagai bagian dari makhluk hidup. Berhasil mendapat sponsor keuangan dari seorang bapak tua yang sakit-sakitan di rumah gedongannya, Claire membujuk Owen (kenapa dia begitu kocak? Tentu saja karena dia adalah Chris Pratt) untuk mengadakan ekspedisi penyelamatan ke Isla Nublar. Maksud hati kerja sama tiga orang ini adalah menyelamatkan sebanyak mungkin dinosaurus dari pulau yang bakalan banjir lava panas itu, memindahkan mereka ke tempat baru yang aman dan terjamin.

sayangnya cerita tentang dilema moral tadi tak bisa ikut terselamatkan

 

Enggak sampai sepuluh menit malah, pembahasan yang mestinya berbobot tersebut ditinggalkan begitu saja. Ketika tim ekspedisi sampai di pulau, seketika film menjadi aksi kejar-kejaran, dan lewat midpoint, cerita kembali berubah tone; kali ini menjadi semacam monster thriller di ruang sempit. Claire dan Owen harus mengeluarkan para dinosaurus yang tadinya mereka pikir mereka selamatkan, dari mansion yang diambil alih oleh pihak-pihak yang melelang para dinosaurus dengan tujuan mulia menjadikan mereka sebagai senjata militer. Porsi monster thriller ini bisa saja menjadi keren, karena kita tahu sutradara J.A. Bayona sudah pengalaman bikin thriller di tempat tertutup, yang kita perlukan sekarang adalah hook dan cerita yang menarik. Dari sekian banyak kemungkinan elemen cerita yang berpotensi menarik untuk digali – aku pribadi sebenarnya tertarik mengenai bahwa tidak hanya satu kelompok yang mampu menciptakan dinosaurus – film ini malah kembali mengeksplorasi soal penggunaan dinosaurus untuk kepentingan militer. Elemen cerita yang sudah muncul di Jurassic World (2015) dan tidak ada orang yang aku kenal yang menganggap cerita tersebut keren. I mean, ceritanya begitu gak make-sense, sebab tidak dalam dunia manapun kita menemukan militer melatih binatang cerdas untuk berperang, let alone langsung loncat ke milih dinosaurus.

Dinosaurus. Dinosaurus. Dinosaurus. Lebih dari menyelamatkan mereka, film tampak berusaha begitu keras menempatkan mereka semua di wajah kita just so they could ‘save’ them for more films. Aku mengerti ketika kita membuat film tentang dinosaurus, seketika dinosaurus menjadi hal yang esensial. Filmnya harus punya dinosaurus, karena itulah yang ingin dilihat oleh penonton.  Tapi film sesungguhnya adalah bagaimana cara menceritakan tentang sesuatu tersebut, dalam hal ini dinosaurus. Fallen Kingdom penuh dengan sekuen manusia lari terbirit-birit dikejar oleh dinosaurus buas, tetapi tidak ada yang terasa memorable karena diolah dengan mentah tanpa build-up. Satu-satunya obat pada film ini adalah arahan dan perspektif dari sang sutradara dalam menampilkan adegan-adegan yang bikin bulu kuduk meremang. Tapi pada dasarnya film ini adalah lima belas menit terakhir The Lost World: Jurassic Park (1997) yang dipanjangin hingga mengisi sebagian besar durasi dua-jam. Film Jurassic Park, sebagai perbandingan, setiap sekuen yang mengandung si T-Rex dibuat dengan benar-benar ngebuild up si monster sendiri, kita melihat dia di kandang, lepas dari kandang, hingga ke shot ikonik T-Rex mengaum di museum, mereka tidak sekadar memejeng dinosaurus di layar, ada pembangunan cerita yang terasa intens, yang membendung antisipasi dan kengerian kita terhadap T-Rex. Pada The Lost World juga begitu, dari trailer yang menggantung, ke kejaran dua ekor T-Rex, ke bayinya, ke kota-kota, mereka tidak hanya muncul. Ada terasa seperti tahapan yang menghimpun kengerian dan akhirnya memuncak menjadi sekuen atau adegan yang mengesankan. Hal seperti demikian tidak kita temukan pada Fallen Kingdom. Adegan-adegannya ya tampak datar, mereka hanya menunjukkan dinosaurus. Yang mana semakin terasa mengecewakan karena mereka kini bekerja dengan teknologi CGI dan animatronik yang semakin memadai dan meyakinkan. Selain Blue si Raptor baik, mereka enggak benar-benar ngebuild up keberadaan para dinosaurus.

Ankylosaurus itu sepertinya dibeli Indonesia untuk membantu perbaikan jalan

 

Ada beberapa gambar yang impresif. Secara directorial, film ini lebih baik dri Jurassic World yang kamera asal ngerekam yang penting gambarnya keren punya. Hanya saja lebih seringnya, film ini melakukan shot-shot yang visually dipersembahkan untuk nostalgia film Jurassic Park terdahulu.  Tanpa diback up oleh pembangunan cerita, throwback yang begitu in-the-face itu malah jatoh datar dan tidak benar-benar ngefek membuat film menjadi berbobot. Adegan tim ekspedisi melihat Brontosaurus, misalnya. Tubuh cerita film ini tampak begitu mirip dengan The Lost World; paruh pertama di hutan, paruh terakhir di hunian manusia. Bahkan ada beberapa adegan yang mirip sama adegan di Jurassic Park III (2003). Dosa terbesar film ini, sebagai bagian dari trilogi Jurassic World, bagaimanapun juga adalah ketidaksinambungan cerita yang muncul lantaran trilogi ini sendiri tidak mengacknowledge kejadian di Jurassic Park 2 dan 3. Hal ini membuat karakter yang muncul kembali serta aspek cerita yang dihadirkan tampak ‘aneh’. Jika gunungapi Isla Nublar mau meletus, kenapa repot-repot nyari tempat mindahin dinosaurus, ampe ke pemukiman manusia segala – kan bisa dikembalikan ke Isla Sorna saja, yang sudah kita semua ketahui dari Jurassic Park terdahulu tidak memiliki gunung berapi.

Ketamakan pangkal kepunahan. Tamak yang sesungguhnya adalah ketika kita mengeksploitasi sesuatu demi kepentingan sendiri, sehabis-habisnya, dan ketika sesuatu yang kita usahakan tersebut berbalik menjadi sesuatu yang salah, kita berpaling mangkir dari tanggungjawab terhadapnya.

 

Bukan berarti film ini menajamkan karakter manusianya. Mereka dibuat sama blandnya dengan para dinosaurus maupun dengan cerita. Jika disebut “Jurassic Park”, maka yang terlintas pertama kali di pikiran kita pastilah dinosaurus, tapi percakapan dan yang dilakukan oleh tokoh manusianyalah yang membuat film tersebut menjadi berbobot. Kita melihat Dr. Grant membuang artefak kuku Raptor sebagai simbol dia move on dan lebih memilih keluarga. Tidak ada yang seperti demikian pada Fallen Kingdom. Sebagai tokoh utama, Claire diolah dengan lebih baik daripada saat di Jurassic World. Dia membuat pilihan besar, tetapi beberapa detik kemudian film memutuskan untuk menegasi pilihannya tersebut. Kemampuan tokoh ini pun sepertinya diturunkan. Aku tidak mengerti kenapa dia yang mantan operator taman musti balik ke taman yang sama ditemani oleh anak baru yang mengoperasikan komputer segala macem unuknya. Bicara tentang anak baru tersebut, cowok ini adalah tokoh paling annoying di sepanjang film. Dia muncul teriak-teriak panik doang, dia takut pada semua hal; ketinggian, T-Rex, komentar cerdasnya adalah bahwa lava itu panas. Jelas dia dimasukkan untuk komedi, namun yang bikin kita gagal paham adalah kenapa film ini menganggap dia lucu, kenapa dengan adanya Chris Pratt di jajaran cast mereka, film masih perlu menggali komedi dengan cara yang annoying seperti ini.

Owen di tangan Chris Pratt memang tampak keren, dia salah satu yang bikin kita betah nonton film ini. Relasinya dengan Blue akan membuat kita semua kangen sama binatang peliharaan kita di rumah. Porsi drama, komedi, dan aksi berhasil dia tackle dengan sempurna. Sayangnya, tokoh Owen tidak berkembang sama sekali. Sejak awal kemunculan, dia tampak tak berubah dari film pertama. Saat film ini berakhir pun, dia masih orang yang sama. Dia tidak belajar apapun, dia tidak berkembang ke manapun. Begitu juga dengan tokoh antagonis manusia dalam film ini; dibuat begitu satu dimensi, penjahatnya adalah bos corporate yang hanya mau uang, that’s it. Ada tokoh anak kecil yang diungkap punya background menarik. Treatment terhadap si anak dengan dinosaurus yang dilakukan oleh film, ada satu adegan di mana pantulan wajah si anak di kaca seolah menyatu dengan wajah Indoraptor, membuat kita berteori seru begitu selesai menyaksikan film ini. Aku banyak mendengar bahwa orang-orang menganggap film ini terlalu ‘sadis’ dan gelap buat penonton cilik, dan aku gak setuju. Fallen Kingdom justru tampak jinak, beberapa adegan pemangsaan tampak dibuat ditahan-tahan, apalagi kalo bukan demi mencapai rating tayang yang lebih ringan.

 

 

Sama seperti manusia yang berusaha melakukan tindakan yang mulia namun pada akhirnya kita melakukan lebih banyak hal yang salah ketimbang yang benar, film ini pun hanya terselamatkan dari ‘kepunahan total’ berkat kemampuan dari sang sutradara. Ada beberapa momen yang fun, film ini masih cocok untuk ditonton seru-seruan waktu liburan, tapi tidak akan pernah berbekas lama. Karena screenplay film ini benar-benar berantakan. Teramat sangat datar, tokoh-tokohnya tidak banyak perkembangan, hingga film ini tampak tak menimbulkan kesan yang berarti. Hanya seperti filler menjelang cerita yang sebenarnya yang ingin mereka ceritakan tentang bagaimana dinosaurus akhirnya dimanfaatkan manusia untuk kehidupan rakyat banyak.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for JURASSIC WORLD: FALLEN KINGDOM.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017