PEMUKIMAN SETAN Review

 

“Doesn’t the fight for survival also justify swindle and theft?”

 

 

Pemukiman Setan, horor kedua dari Charles Gozali, boleh saja punya premis yang terdengar mirip ama Don’t Breathe (2016) tapi bukan berarti kita juga bakal menahan napas saat menontonnya. Malah kebalikannya! Film ini justru mendorong kita untuk menjerit sejadi-jadinya. Mengumpat sekeras-kerasnya. Karena horor yang ditawarkan adalah jenis yang ‘sinting gila miring’. Ala Evil Dead, Pemukiman Setan merupakan horor dengan sosok setan edan yang untuk mengalahkannya para karakter harus siap melakukan aksi berdarah-darah. Horor yang sangat physical di tempat yang basically tertutup ini dibuat sebagai sajian hiburan utama, menutupi narasi yang kali ini dibuat lebih tipis oleh Charles Gozali. Will it be enough tho?

Motivasi Alin (Maudy Effrosina sekali lagi dikasih kesempatan untuk buktiin dia bisa jadi ikon ‘Final Girl’ di horor modern Indonesia) adalah masalah ekonomi. Gadis itu harus ngasih makan adiknya. Dia harus bayar hutang bapaknya. Jadi Alin memaksa temannya, Ghani, untuk mengajaknya serta. ‘Namu’, alias merampok ke rumah orang. Setelah sempat tengkar sama dua teman kelompok Ghani yang udah erat kayak sodara, Alin akhirnya memang diajak. Kali ini mereka menyatroni rumah kosong di tengah hutan. Celakanya baru setelah sudah di dalamlah, Alin dan geng maling itu merasa ada yang gak beres pada rumah tersebut. Dan saat mereka membebaskan seorang perempuan muda yang terikat di basement, sepertinya hendak dijadikan tumbal ritual, keadaan menjadi semakin mengerikan. Yup, alih-alih rumah seorang pria buta yang turned out seorang veteran perang yang mematikan seperti pada thriller Don’t Breathe (2016), geng perampok di Pemukiman Setan lebih apes karena ternyata yang mereka masuki adalah rumah sekte ilmu hitam Mbah Sarap. Basically tempat itu jadi rumah hantu tertutup yang bakal menyiksa mereka mental, dan tentunya fisik.

Seketika jadi korban demit balas dendam

 

Tahun lalu, lewat Qodrat, Charles Gozali ngasih kita sajian horor yang vibenya kayak action 80-90an, era saat Ustad ‘berkelahi’ menumpas angkara murka setan dan iblis di dunia. Film tersebut benar-benar stand out di jagat perhororan kita buatku karena bukan saja mengembalikan ‘pakem simpel’ kebaikan melawan kejahatan (di saat film horor modern gagal mencari dan menggali ‘lawan’ alternatif dari kejahatan dan malah jadi ribet dengan twist gak karuan), tapi juga melakukan itu dengan mengangkatnya ke arahan yang baru. Ustad tidak serta merta dibuat suci dan selalu menang seperti cerita jaman dulu, melainkan dibuat seperti karakter utama dalam cerita superhero modern. Karakter yang harus menemukan kembali rasa kemanusiaan di dalam dirinya sebelum bisa menggunakan kekuatan ‘super’ menolong orang lain. Film tersebut menapakkan karakter ustad ke ground yang kita bisa relate dengannya. Sebagai sesama manusia yang pernah berbuat, atau punya tendensi terjerumus ke dalam, perbuatan yang salah. Jadi selain punya battle action yang seru  melawan setan sebagai bentuk exorcist, film itu punya narasi yang kuat pada inner journey karakter utamanya

Dalam film horor keduanya kali ini, battle action horor tersebut dilipatgandakan oleh Charles Gozali. Film ini totally is all about aksi-aksi horor supernatural yang edan dan berdarah-darah. Alin dan teman-teman seperjuangannya akan benar-benar berjuang untuk bisa keluar dari rumah itu. Mereka diteror oleh halusinasi mengerikan yang membuat mereka saling serang satu sama lain. Mereka juga dikejar-kejar oleh Adinda Thomas yang ngasih performance memorable banget sebagai perempuan yang jadi keturunan si dukun ilmu hitam berkekuatan setan. Make up-nya boleh saja ngingetin kita sama sosok ibu setan di Evil Dead Rise (2023), tapi gerakan dan gestur-gesturnya merapal kutukan sambil jongkok-jongkok, udah kayak lokal banget. Senjata tim protagonis untuk melawan? Well, vibe ala karakter superhero juga kembali dilakukan pada film ini. Alin  dan teman seperjuangannya (at least yang tersisa di antara mereka) harus mencari keris yang dalam legenda (alias flashback masa lalu yang juga jadi opening cerita) merupakan satu-satunya senjata yang bisa melukai Mbah Sarap. Senjata itulah yang memberikan kekuatan kepada Alin – yang by the way, sedari awal memang sudah mulai dibuild up sebagai cewek yang sudah ready to do rough things saat keadaan mendesak.

Keadaan terkadang memang mampu membuat seseorang terpaksa merampok, seperti yang dialami oleh Alin dan karakter-karakter di cerita ini. Mereka merampok bukan semata soal supaya bisa survive. Namun ini juga adalah perkara kebebasan. Seseorang yang terdesak dapat menjadi pencuri jika dia melihat itu satu-satunya kesempatan baginya untuk keluar dari lingkaran setan kehidupan.

 

Perbedaan mencolok antara film ini dengan Qodrat terkait naskah, adalah Pemukiman Setan ini terasa lebih simpel. Narasinya secara keseluruhan lebih tipis. Pertama, lebih mudah bagi penonton untuk langsung konek dengan Alin dan masalah ekonominya. Ini sebenarnya adalah kesempatan bagi film untuk bisa dalam-dalam mengeksplorasi perkembangannya karakternya. Hanya aja pembahasan Alin sebagai karakter utama juga terasa tipis. Hubungan Alin dengan ayah – terkait hal yang ia terpaksa lakukan di masa lalu – jadi momok yang terus membayangi Alin hingga sekarang, tapi persoalan ini tidak benar-benar diselami selain untuk menunjukkan darimana Alin draw her strength. Koneksi dia dengan trio perampok Ghani, Fitrah, Zia,  juga kurang terasa perkembangan relationshipnya. Yang kerasa dramatis justru koneksi antartrio perampok itu. Film punya momen-momen dramatis, dan itu semuanya lebih terasa datang dari relationship yang terjalin antara Ghani, Fitrah, dan Zia – tiga orang yang menjadi saudara, bukan oleh ikatan darah, melainkan oleh kesamaan nasib. Alin terus saja terasa seperti outsider dalam dinamika mereka. Kita pun tidak pernah benar-benar mengenal Alin, karena Alin ini kayak lebih banyak ditutup. In which, remind me of film-film superhero yang banyak aspek dari karakternya sengaja disimpan untuk sekuel. Alin sebagai Final Girl, hero dalam horor, terasa seperti berjalan sendiri. Tau-tau bisa nemu dan handle Keris. Kenapa dia bisa kayak the chosen one, masih hanya dibahas di permukaan oleh film.

Kalo Ustad Qodrat di akhir berasa kayak Ksatria Baja Hitam, si Alin di akhir film ini berasa kayak jadi shinigami di Bleach

 

Padahal penting untuk kita melihat keparalelan protagonis dengan antagonis. Misalnya kayak di Don’t Breathe, secara simbolik film itu membandingkan makna rumah bagi cewek karakter utama dengan pria buta sebagai villainnya. Yang satu sebagai pahlawan perang menganggap rumah sebagai hal yang harus dipertahankan, sementara yang satunya merampok rumah ironically karena dia pengen punya modal untuk keluar dari rumahnya sendiri, alias pengen mencari kesempatan di tempat lain. Keparalelan seperti itu menciptakan dinamika antara protagonis dan antagonis sehingga perjuangan mereka jadi punya intensitas yang lebih dalam. Alin dan Sukma tampak kurang diberikan keparalelan seperti ini. Hanya Sukma kadang suka tampil sebagai hantu ayah Alin sebagai simbol Alin harus mengalahkan momok personalnya sendiri. Makanya aku bilang penulisan film ini mestinya lebih mengeksplorasi lagi. Namun karena sekarang targetnya adalah to keep things lighter, film jadi banyak ‘mempermudah’ persoalan.

Karakter yang diperankan dengan pesona tersendiri oleh Teuku Rifnu Wikana adalah personifikasi dari kemudahan tersebut. Kemunculannya terasa seperti pedang bermata dua. Di satu sisi, karakter orang sakti yang dia perankan membawa tone unik (antara misterius dan lucu) yang menambah warna pada cerita, bikin suasana lebih hidup. Tapi di sisi lain, karakternya tidak lain tidak bukan adalah penyampai eksposisi dan fasilitas kemudahan bagi perjuangan Alin. Pak Urip ini bikin misteri jadi dull, cerita seperti dituntun olehnya yang lebih seperti perpanjangan dari penulis naskah yang mengejakan langsung poin-poin berikutnya kepada karakter, alih-alih menuliskannya ke dalam bentuk narasi yang lebih mengalir. Tapinya lagi memang, keberadaan Urip di tengah-tengah Alin dan geng Ghani masih mending ketimbang saat gak ada Urip. Naskah malah sampai terasa kayak seadanya dalam nampilin informasi. Kayak Fitrah yang dituliskan langsung nuduh dengan tepat gitu aja Alin ngambil barang berharga lebih banyak dari yang seharusnya (padahal dia gak lihat ada berapa jumlah total barang tersebut), atau kayak Alin yang udah aman di mobil, malah ke rumah setan itu lagi buat nabrak Sukma. Atau kayak Alin udah punya keris tapi malah nabrak pakai mobil setelah dia nyaris berhasil kabur.

Final Battle mereka itu sebenarnya oke secara pengadeganan atau koreografi, heck the shot is awesome. Tapi sirkumtansi yang mengelilingi bisa sampai terjadinya dari stand point karakter, ganjil. It would make more sense kalo setannya ngejar ke apartemen atau semacamnya. Dan lagi aku sampai sekarang masih merasa ada yang ‘lucu’ dari gimana cerita film ini membuat pilihan si Alin kayak gak ngaruh banyak, like, dia ikut atau gak ikut merampok ujung-ujungnya dia bakal tetap dapat duit. Cerita ini lebih impactful buat Ghani dan saudara-saudarinya at this moment. Kayak, petualangan Alin di sini baru benar-benar ngefek kalo ada cerita lanjutannya nanti.

 




Buatku ini belum cukup. Sajian aksi horor, akting fun, dan momen-momen dramatis kecil dari karakter pendukung memang ngasih hati dan bisa memberikan 90an menit hiburan brutal tersendiri, tapi secara narasi film ini terlalu simpel dan baru skim the surface. Qodrat sebenarnya udah formula yang bisa dibilang tepat bobotnya. Aku berharap sekuelnya nanti dibuat less seperti film kali ini, dan tetap stay mengembangkan di jalur film tersebut. Nonton film ini aku tetap terhibur meski cukup banyak menguap bosan juga karena kemudahan perjuangan dan eksposisi yang semakin mempersimpel narasi. Kalo ditanya suka, aku masih suka, tapi juga yang jelas I’m not holding my breath up for the next of this clone of Evil Dead.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for PEMUKIMAN SETAN

 

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang perampokan /pencurian oleh orang dengan alasan terdesak sebagai usaha terakhir? Apakah menurut kalian itu justifikasi yang cukup untuk tindakan kriminal?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL

 



THE BOY AND THE HERON Review

 

“Because you are a beautiful lie and I am  a painful truth”

 

 

Bagaimana menjalani hidup dengan benar? Caranya adalah dengan mengingat dan memahami kematian. Jawaban tersebut bisa kita dapatkan dari ajaran agama, atau dari menonton karya terbaru Hayao Miyazaki, sang Bapak Studio Ghibli. Sudah bukan rahasia, film-film Pak Hayao selalu personal, penuh makna, dan luar biasa menakjubkan lewat simbol-simbol dunia ajaib yang surealis. Namun The Boy and the Heron ini, bahkan lebih deep, dark, dan personal lagi. Kisahnya yang tentang seorang anak laki-laki yang kehilangan ibu akibat perang boleh saja bermula dengan kejadian yang berdasarkan pengalaman hidup Pak Hayao semasa kecil, tapi film ini berakhir dengan sesuatu yang seperti mencerminkan ujung dari dunia animasi magis buatannya sendiri. Film ini bisa jadi adalah hadiah terakhir dari Hayao Miyazaki kepada kita. Bagaimana kita hidup di dunia tanpa film-filmnya?

Fantasi, anak, dan perang. Hayao Miyazaki is up there untuk film-film yang bermain di tema tersebut (for me, he followed by Guillermo del Toro)  Hayao bicara tentang  kehilangan, duka, tragedi tapi lewat dunia fantasi yang menakjubkan. Dia tidak melihat itu sebagai musuh yang harus ditakuti, ataupun menjadikan sebagai sebuah pengalaman yang mengeksploitasi. Hayao, malahan, membuatnya sebagai entitas yang harus dihadapi. Dipelajari. Dihormati. Ini yang juga ia lakukan kepada tema kematian dalam The Boy and the Heron. Anak laki-laki dalam cerita ini, Mahito, menyongsong babak baru dalam hidupnya. Setelah ibunya tewas jadi korban perang, Mahito dibawa ayah pindah ke daerah pedesaan Tokyo. Hidup bersama istri ayahnya yang baru. Meskipun nurut, toh kita melihat penolakan itu dalam sikap Mahito. Penolakan untuk menganggap Natsuko sebagai ibu. Penolakan untuk nerima kenyataan ibunya bakal tergantikan. Inilah yang membuat Mahito diledek oleh burung cangak (sejenis bangau) yang bisa bicara yang secara misterius muncul di area sekitar rumah mereka. Cangak itu menyebut bahwa ibu Mahito masih hidup, dan ada di dalam reruntuhan menara di hutan. Dan bahwa Natsuko juga pergi ke sana. Dengan panah dan busur buatannya sendiri, Mahito pergi ke menara. Mencari ibunya. Meskipun dia tahu Cangak Abu itu berbohong. “I know it’s a lie, but I have to see” katanya mantap sebelum masuk ke ‘perangkap’ yang membuatnya terjebak di dunia sureal di bawah sana.

Kenapa translatenya enggak bangau aja ya? Atau burung kuntul sekalian. Judulnya jadi Anak Laki-Laki dan si Kuntul haha

 

See, Mahito sama sekali tidak takut sama Heron (kita manggilnya Heron aja lah ya hehe) yang menjebaknya. Dia sudah mempersenjati diri, fisik dan mental, untuk melawan tipu daya Heron. Yang actually, Heron ini kocak, karena ada dialog ambigu si Heron yang dengan bangga bilang “Benar, semua yang aku sebutkan adalah bohong” yang lantas ditembak oleh Mahito “Berarti itu bohong juga dong?” Mahito dan si Heron memang dalam perjalanan menjadi berkawan, mereka akan bekerja sama untuk ke puncak menara. Tempat kakek buyut Mahito selama ini bersemayam. Hayao Mayazaki kali ini memang benar-benar menyatukan dunia nyata dan fantasi, keanehan yang dilihat Mahito juga direcognized oleh karakter manusia lain. Petualangan yang dialami Mahito bukan terjadi di dunia mimpi yang bakal ngasih dia pembelajaran, melainkan benar ia lakukan. Realitas dalam cerita film ini memang didesain sebagai realitas dengan keanehan-keanehan. Yang bekerja di dalam konteks tema cerita, yaitu tidak takut kepada hal yang tidak kita mengerti. Seperti halnya Mahito yang tidak takut dengan keanehan dan kebohongan Heron. Mahito justru takut sama dunia nyata, dunia di mana dia harus punya ibu dan hidup baru. Saking gak siapnya Mahito dengan sekolah baru, dia sampai nekat melukai kepalanya sendiri dengan batu. Adegan yang bikin aku kaget, dan sejujurnya aku struggling untuk melihat kepentingan adegan self-harm di film yang harusnya untuk tontonan keluarga. Sampai di menjelang akhir, naskah akhirnya mengikat adegan tersebut dengan pembelajaran yang beautiful seputar sikap penerimaan dan penyadaran Mahito.

Dengan tema dan desain begitu, menurutku ada benarnya film ini juga adalah film ‘terberat’ dari Hayao Miyazaki. Film ini menantang kita untuk memahami emosi Mahito di lingkungan rumahnya yang baru. Mahito yang jarang bicara dan menutup diri. Film ini menantang kita untuk menyelami dan melihat makna di balik kejadian-kejadian dan karakter-karakter aneh yang ditemui oleh Mahito nanti selama petualangannya dalam menara. Karena di dalam sana, dia akan bertemu banyak banget hal-hal di luar nalar. Mulai dari rombongan makhluk imut putih, kawanan pelikan pemakan makhluk lain, tentara burung parkit, dan bahkan versi lain dari ibunya sendiri. Garis besar yang bisa aku sebutkan tanpa membuat review ini jadi ‘walkthrough spoiler’ adalah semua kejadian dibuat dengan maksud mempersiapkan Mahito untuk memahami kematian. Karena inilah yang dibutuhkan Mahito supaya dia bisa melanjutkan hidup sebagaimana mestinya. Mahito harus bisa melihat makna hidup lewat mengerti tentang kematian, menurut karakter-karakter di sekitarnya. Kita bahkan bisa menangkap sedikit komentar tentang perang dan dampaknya terselip sebagai layer dalam cerita.

Ada anekdot menarik yang pernah aku baca soal Kehidupan dan Kematian. Jadi, Life bertanya kepada Death “Kenapa manusia mencintaiku, sedangkan dirimu sangat mereka benci?” Death dengan kalem menjawab “Karena kamu adalah kebohongan yang indah, sedangkan diriku adalah kebenaran yang menyakitkan”. Anekdot tersebut membantuku mencerna film ini lebih lanjut. Karena persis itulah yang sebenarnya yang dikatakan oleh film. Bahwa kematian tidak lebih dari sebuah kenyataan pahit. Bahwa semua hal akan menemui ‘ajalnya’. Bahwa semuanya fana. Tinggal kitanya saja yang mempersiapkan diri menyongsong kenyataan tersebut tiba.

 

Karena ini film yang personal, maka membaca film ini pun udah kayak membaca Hayao Miyazaki sendiri. Seperti menapak tilas film-filmnya selama ini. Karena penonton yang familiar dengan karyanya, akan merasakan The Boy and the Heron ini seperti sangat akrab. Not just in sense, karena memang sudah ciri khasnya membuat film seperti begini. Tapi on a deeper level, kayak sebuah self-tribute dari orang yang sedang melihat ke belakang, ke dalam dirinya sendiri. Di dalam cerita, kakek buyut Mahito membangun dunia sureal fantastis ini dan dia ingin Mahito meneruskan pekerjaannya. Dia ingin Mahito tinggal di sana, menjaga agar dunia tersebut tidak runtuh. Karena dia ngerasa gak sanggup. Dunia yang mestinya damai tanpa perang seperti dunia nyata itu, nyatanya tidak semenangkan itu. Burung-burung yang masuk ke sana jadi ganas. Penulisan story tersebut terasa seperti self-realization dari Hayao Miyazaki. Bahwa dunia-dunia yang dia bangun selama ini, yang dia ciptakan dalam film-film indah itu, tetaplah sebuah fantasi. Dan akan berakhir. Bahwa dia gak bisa menciptakan itu selamanya. Ada titik di mana dia harus berhenti. Titik di mana cerita-cerita itu ‘mati’. But also, Hayao tampak bergulat dengan dirinya sendiri lewat karakter anak-anak Mahito, tak akan ada hal yang benar-benar ‘mati’. Ibu masih akan tetap hidup di hati Mahito yang bakal tumbuh dan menjalani hidup. Begitu juga karyanya, akan tetap hidup abadi lewat kita-kita penontonnya, hingga generasi-generasi selanjutnya.

Supaya konsisten dengan tema unggas; film ini bisa jadi adalah swan song-nya Hayao Miyazaki.

 

Sayangnya, dari yang kulihat di studioku menonton, aku merasa resepsi penonton kasual terhadap film ini agak datar. Like, fakta bahwa kita bisa menyaksikan animasi magis Ghibli di layar lebar aja mestinya udah cukup untuk bikin “wah-wah” sendiri. Tapi aura yang kurasakan di studio saat itu biasa saja. Kayaknya film ini bakal mirip kayak Elemental (2023) waktu tayang musim panas lalu. Penonton expecting petualangan yang dahsyat, sehingga gak sadar sebenarnya film ini sedang bekerja wonderful dalam konteks dan bahasan yang ingin disampaikan. Also, kita sering agak terlalu cepat ngejudge film dengan tema berat sebagai film yang lambat, sebagai aneh dan gak jelas. Padahal film ini naskahnya berhasil mengembangkan dengan seksama konflik personal yang dirasakan oleh Mahito. Karakternya distant by design karena begitu cara dia awalnya berusaha dealing with kehilangan ibu. Sepuluh menit pertama, vibe ‘dark’ dan sureal itu sudah dilandaskan kuat oleh naskah. Adegan opening yang Mahito di antara orang-orang di area yang kebakaran, dengan visual api dan sosok-sosok manusia yang berdistorsi, kurang apa coba itu melandaskan seperti apa film ini nantinya. Jangan harap film ini menyuapi kita dengan apapun. Karena bahkan pengungkapan informasi penting pun, misalnya pengungkapan hubungan antarkarakter siapa dan apa, dilakukan oleh film dengan natural tanpa aba-aba yang menuntun “oh ini bakal masuk bagian penting”. Film menampilkan dirinya sebagai dunia mimpi, untuk kita eksplorasi dan pahami sendiri. Hebatnya film ini justru karena kita ikut menyelam, menguak, merasakan, dan berubah bersama karakternya.

 




Untuk menjawab pertanyaan sendiri di awal tadi, no I can’t. Studio Ghibli tahun-tahun belakangan ini struggle terus, setiap film barunya keluar- bahkan yang bukan buatan Hayao, kesannya seperti film terakhir terus. Tapi aku selalu percaya Hayao Miyazaki bakal comeback, mendaratkan film Ghibli kembali ke tengah-tengah kita. Aku gak bisa membayangkan kalo ini bakal beneran jadi film terakhirnya. That’s why aku gak bakal ngupdate list Top-8 Film Ghibli Favoritku dengan film ini. Bukannya karena jelek, atau aku tak suka. Film ini menceritakan hidup-mati dengan konsep yang wonderful. Lapisan-lapisan fantasi dan personal yang saling tersulam satu sama lain. Ngasih kita karakter-karakter absurd yang ikonik, seperti yang biasa mereka lakukan. Aku hanya belum mau mengakui bahwa ini adalah end of an era. Aku berharap bakal ada lagi film ajaib yang bikin aku mengubah list itu. Ya, turns out, aku lebih keras kepala daripada Mahito.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE BOY AND THE HERON

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang Hayao Miyazaki dan Studio Ghibli selama ini? Sebesar apa menurut kalian peran film-film mereka terhadap sinema atau kalian sendiri personally?

Share pendapat kalian di comments yaa

Bagi kalian yang juga melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang, satu lagi film yang kukasih score 8.5 tahun ini, bisa ke Apple TV untuk menonton Killers of the Flower Moon. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



BARBIE Review

 

“Life is your creation”

 

 

Sutradara Greta Gerwig menyebutkan setidaknya ada tiga puluh tiga film yang ia jadikan referensi saat menggarap film tentang boneka kesayangan nomor satu anak-anak perempuan sedunia ini.  Beberapa referensi yang disebutkan Gerwig memang ‘kelihatan’ sepanjang durasi Barbie, dalam pengadeganan, dalam dialog yang dengan sarkas menyentil referensinya, atau yang benar-benar gamblang seperti adegan pembuka yang mlesetin pembuka 2001: A Space Odyssey. Bukan lagi monyet yang menemukan monolith, melainkan anak-anak perempuan yang sudah letih main ibu-ibuan pakek boneka bayi, menemukan boneka wanita dewasa, pirang, langsing, cantik, dan bisa mereka dandani dengan berbagai kostum mulai dari pekerjaan hingga fashion pesta! Yup, Barbie memang digarap fun dan absurd. Bersanding tayang dengan Oppenheimer-nya Nolan, juga lantas menanamkan kesan dua film ini bagai air dan api, dengan Barbie dianggap ringan ketimbang Oppenheimer. But make no mistakes, kedua film ini sama-sama berbobot. Meskipun gak disebutkan sebagai film-film referensinya, toh aku merasa film ini seperti gabungan dari konsep meta The Lego Movie dengan eksplorasi kesadaran mainan pada Toy Story. Alhasil Barbie sesungguhnya adalah bahasan filosofis tentang eksistensi dengan faktor-faktor seperti gender yang bergerak di baliknya.  Yang jelas, film ini bukan live-action dari Barbie animasi fantasi yang dulu sering tayang saat musim libur di televisi!

I’m just like you, you’re just like me

 

Barbie Margot Robbie tinggal di Barbieland. Menjalani hidup yang perfect bersama Barbie-Barbie yang lain. Ada Barbie yang jadi pilot, Barbie yang benerin jalan, Barbie yang menang nobel, hingga presiden di sana tu pun, Barbie. Mengisi hari, Barbie Stereotypical kayak karakter Margot Robbie, have fun di pantai. Hang out bareng Barbie dan para Ken, termasuk Ken-nya Ryan Gosling, yang pengen nempel terus sama Barbie Margot Robbie.  Semua Barbie dan Ken (dan juga boneka lain produksi Mattel yang sudah tidak diproduksi lagi) ini tau mereka boneka. Mereka bangga, karena Barbie – mereka – diciptakan sebagai icon perempuan yang kuat bagi anak-anak. Film pun dengan kocak segera menjelaskan bagaimana hubungan absurd antara para boneka dengan pemilik mereka di dunia nyata terbentuk. Para Barbie bergerak persis kalo anak-anak main boneka, mereka bisa tinggal melayang. Mobil mereka bahkan enggak perlu mesin, karena digerakkan oleh tenaga imajinasi anak-anak. Pokoknya kehidupan rutin di Barbieland tak pernah menjemukan. Aman dan nyaman. Bersenang-senang dan sempurna sepanjang hari. Sampai suatu ketika Barbie Margot Robbie tiba-tiba mulai memikirkan kematian. Hidupnya lantas jadi tak sempurna. Dia terjatuh ketika berjalan, karena mendadak kaki jenjang indahnya itu tidak lagi berjinjit. Worse, dia menemukan selulit di pahanya! Atas usul Weird Barbie (Barbie yang sudah ‘tak berbentuk’ karena dimainkan dengan berlebihan oleh anak-anak), Barbie Margot Robbie pergi ke dunia nyata. Guna menemukan anak manusia yang memainkan dirinya. To make things right with her.  Petualangan Barbie bersama Ken pun dimulai.

Dulu kalo ada anak cewek yang cakep, ibu-ibu – termasuk mamak ku – pasti memujinya “aihh, adek cantik sekali, kayak boneka berbi”. Boneka Barbie yang telah ada sejak 1960an itu memang telah turut jadi lambang kecantikan. Anak-anak sejak kecil taunya cantik ya seperti itu. Tinggi, langsing, rambut panjang. Belakangan, Barbie memang mulai hadir dengan lebih diverse. Tapi imaji kecantikan yang telah jadi standar itu tetap tidak berubah. Dan ukuran kecantikan seperti demikian bukan exactly sebuah hal yang bagus. Greta Gerwig memasukkan permasalahan tersebut sebagai bibit konflik internal yang dirasakan oleh karakternya. Para Barbie, terutama si Barbie Stereotypical yang jadi karakter utama cerita, merasa kehadiran mereka membantu dunia menjadi lebih baik. Barbie merasa sebagai role model yang membuat hidup anak perempuan jadi lebih berdaya. Seperti boneka-boneka perempuan di Barbieland. Dialog pada bagian awal film ini memang tidak bisa diisi oleh bantering, karena para Barbie percaya hidup mereka flawless dan paling benar, tapi justru diisi oleh dialog-dialog yang terdengar sarkas bagi kita. Karena kita tahu di dunia nyata, Barbie tidak seheroik itu. Melainkan cukup problematik. Bayangkan betapa terkejutnya Barbie tatkala sampai di dunia nyata. Bukan saja tidak ada anak perempuan yang memeluk dan berterima kasih kepadanya, Barbie malah dihujat oleh seorang anakremaja. Barbie malah merasa tidak aman berada di kota dengan sedikit sekali presence perempuan, lebih banyak laki-laki yang aktif di jalanan, dan semuanya memandang dirinya dengan tatapan yang bikin gak nyaman. Menyadari eksistensinya justru membawa bad impact bagi anak-anak perempuan (dengan ngeset standar mustahil dan mengotak-ngotakkan mereka harus bisa jadi ini dan itu),Barbie menangis untuk pertama kalinya. Ngecast Margot Robbie adalah langkah yang tepat, karena pertama; fisiknya membuat kita percaya bahwa Barbie memang diciptakan sebagai ide kesempurnaan perempuan. Kedua, kemampuan aktingnya mampu membawakan konflik personal yang menyeruak secara perlahan tapi pasti di balik kesempurnaan yang ia percaya itu.

Ada banyak cara untuk melanjutkan cerita Barbie ini. Cerita bisa dibawa ke arah mengalahkan patriarki dan korporat jahat, misalnya. Terlebih karena memang ada karakter bos dan petinggi-petinggi perusahaan Mattel yang ingin mengembalikan si Barbie ini ke dalam kotak, mengirimnya kembali ke Barbieland. Gerwig bisa saja menjadikan mereka sebagai sosok antagonis, karena telah membuat women empowerment sebagai bahan jualan boneka semata. Jadi Barbie dan pemiliknya bisa dibikin bekerja sama mengalahkan Mattel demi membuat dunia nyata dan Barbieland lebih baik lagi. Atau kalo mau lebih sureal, bisa saja dibuat pemilik Barbie ini adalah karakter lain yang diperankan Margot Robbie, alias Barbieland adalah produk imajinasi dari kepala seorang perempuan di dunia nyata yang kabur dari toxicnya dunia nyata. Tapi Greta Gerwig sama seperti Barbie, gak mau masuk ke dalam kotak. Menjadikan cerita seperti dua contoh yang kusebut itu, adalah cara gampang yang bakal membuatnya masuk ke kotak mainstream storytelling. Gerwig mengambil arahan yang totally berbeda. Yang totally unik dan hanya dia yang bisa. Dia membuat tidak ada yang jahat dan baik. Not even patriarki jahat, matriarki benar.  Korporat cari cuan dari mainan anak, ada, tapi oleh Gerwig mereka itu bukan penyebab masalah, melainkan juga dampak . Yang dipilih oleh Gerwig sebagai bahasan adalah soal pilihan itu sendiri. Tentang eksistensi dan menyadari bahwa kita punya pilihan. Bahasa Gerwig di sini adalah bahasa filosofis (menjawab pertanyaan dengan pertanyaan), dan satirnya, bahkan sedikit menyenggol kisah di dalam agama.

“I am a liberated man.” Liberated man = free man = preman!

 

Eksistensi Barbie dan Ken seperti reverse dari Adam dan Hawa. Gerwig seperti ingin memperlihatkan teorinya bahwa dunia kita jadi patriarki hanya karena Adam diciptakan duluan, dan Hawa dijadikan sebagai pendampingnya. Kalo Hawa yang diciptakan duluan, hasilnya ya kayak di Barbieland. Barbie dibikin terlebih dahulu, dan baru Ken dibuat sebagai playmate bagi Barbie. Matriarki ternyata tak lebih baik. Karena sistem itulah yang membuat Ken Ryan Gosling juga jadi punya krisis eksistensi. Dia merasa dirinya hanya ada sebagai pendamping Barbie. ‘Barbie and Ken’ – kita melihat di adegan yang telah jadi meme, bahwa saat ditangkap polisi, Ken mengidentifikasi dirinya sendiri sebagai ‘and Ken’. Bukan ‘Ken’. Saat dunia kita sedang memperjuangkan kesetaraan perempuan, para Ken tengah mengambil alih Barbieland dengan brute force. Ya, yang tampak girang saat mereka di dunia nyata, memang Ken. Tak ditemukannya di sana laki-laki menjadi cheerleader buat perempuan. Laki-laki di dunia nyata memegang kendali, punya posisi. Naik kuda! Jantan sekali. Pandangan tersebut lantas dibawanya kepada Ken lain di Barbieland (termasuk pada Ken Simu Liu yang jadi saingannya), dan tempat itu seketika berubah menjadi setoxic dunia kita. Ryan Gosling juga perfect di perannya ini, karena dia bisa membawakan peran yang goofy dengan aura yang agak nyebelin dengan pesona konstan. Ken punya adegan nyanyi tersendiri, dan Gosling nails it oh so correctly.

Film ini menunjukkan mau itu matriarki atau patriarki, keduanya leads to the same toxic thing. Penulisan film ini berusaha membalance-kan kedua perspektif. Di titik inilah, dialog-dialog mulai kembali kepada traditional bantering. Saling attack dan defense antara Barbie dan Ken, perempuan dan laki-laki (notice cuma ada dua, bahkan di dunia boneka yang penduduknya gak punya alat kelamin sebagai penanda biologis) Diungkapkan betapa susahnya jadi cewek, yang dituntut harus sempurna. Diungkap susahnya jadi cowok yang dituntut tak boleh tampak vulnerable. Ditowel soal cowok yang punya kebiasaan suka meng-mansplaining everything. Dicolek soal cewek yang gampangnya nge-fake-in apapun.

Walau memang keseluruhan Barbieland jadi potret yang bagus, jadi cermin cartoonish yang absurd, bagi permasalahan real kita, film Barbie ujungnya berkutat parah pada penyelesaian. Si Barbie sendiri literally kebingungan mengenai ending dia apa. Well, tahun lalu Triangle of Sadness, salah satu Top-8 2022 Movies ku juga membahas soal patriarki dan matriarki yang dibalik, seperti pada Barbie ini. Film itu mengakhiri ceritanya dengan terbuka; apakah cewek juga akan saling bunuh demi kekuasaan, atau apakah cewek rela menjajah pria, semuanya diserahkan kepada pandangan dan subjektivitas penonton masing-masing. Apa yang kita percaya itulah yang akan terjadi. Greta Gerwig, sebaliknya, terus mendorong perspektif Barbie sebagai pihak yang telah melihat yang terburuk dari keduanya. Barbie telah melihat dunia nyata, dan melihat kebenaran di balik dunia plastiknya. Barbie telah melek, telah woke, dan pilihan itu ada di tangannya. Journey karakter Barbie adalah untuk menyadari bahwa dia punya pilihan. That she have to act on her choice. Bahwa dia, bukan sekadar gagasan. Dia adalah apa yang ia pilih. Penyelesaian yang filosofis dengan dialog antara Barbie dengan penciptanya, mungkin akan tampak kurang memuaskan bagi penonton setelah sekian banyak hal-hal ajaib dan elemen-elemen cerita yang dihadirkan oleh film.

Boneka Barbie dimasukkan ke dalam kotak, dijual dengan kostum, ada yang sebagai dokter, ada yang sebagai petualang, ada yang sebagai princess, dan sebagainya. Siapa mereka seolah ditentukan sejak mereka dibuat. Inilah yang didobrak oleh film Barbie. Poinnya adalah percaya bahwa kita punya pilihan. Bahwa orang bukan terdefinisikan dari ‘kotak’ mereka – dan ‘kotak’ ini bisa berarti apapun yang diberikan kepada mereka, entah itu titel, atribut, ataupun gender sekalian. Melainkan oleh pilihan mereka sendiri. Kita harus memilih sendiri. Itulah kenapa disebut hidup adalah kreasi kita sendiri.

 

 




Inilah yang terjadi jika sutradara indie dikasih tugas menjual IP. KIta gak hanya dapat film yang tentang produk tersebut, tapi juga sesuatu yang lebih dalam. No doubt boneka Barbie yang terkenal bakal semakin terkenal, tapi lebih daripada itu, kata Barbie akan mendapat asosiasi baru. Yakni sebuah film yang sangat absurd dan unik, yang mengeksplorasi eksistensi dan bahasan yang menantang tentang dinamika gender. Film penuh pesona dengan desain produksi dan artistik ngejreng ini pada awalnya bakal bikin kita tertawa-tawa, tapi makin ke sini, kita bisa melihat bahwa hiburan di sini bukan receh semata. Ada banyak komentar berbobot yang ada di balik karakter dan dunia yang absurd tersebut. Kalo ada warna yang menggambarkan film ini, maka memang paling cocok warna kostumnya Bret Hart. Hitam dan Pink. Karena film ini memang thoughtful dan fun secara bersamaan.  
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BARBIE

 

 




That’s all we have for now.

Barbie dan Ken tadinya baik-baik saja dalam pandangan ideal tapi naif mereka, tapi masalah mereka muncul saat Barbie dan Ken mulai melek pada pandangan baru yang mereka dapatkan di dunia nyata. Apakah menurut kalian ini juga yang terjadi di dunia kita yang semakin woke kayaknya semakin banyak masalah, ketimbang masa lalu yang kayaknya aman-aman saja ketika belum banyak pihak yang ‘baperan’?

Share pendapat kalian di comments yaa

Sebelum ditutup, aku mau ngajak kalian pindah dari Barbieland ke Apple TV+ , karena ada serial bagus tentang pembajakan di pesawat! Dibintangi oleh Idris Elba, serial thriller ini bakal ngajak kita ke sebuah trip angkasa yang tak terlupakan. Yang pengen nonton bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



ASTEROID CITY Review

 

“Sometimes you have to accept things the way they are and move on”

 

 

Belum lama sejak Wes Anderson bikin kita takjub dengan film yang ternyata bukan film, melainkan majalah! (baca review  The French Dispatch di sini) Sekarang sutradara maniak gambar simetris dan warna palet kontras ini hadir membawa film yang tak kalah ajaibnya. Kali ini dia membuat film dari theater play. Dari proses orang bikin pertunjukan sandiwara teater. Asteroid City, begitu quirky, kisah yang diceritakannya bahkan enggak real di dalam konteks dunia cerita itu sendiri. Nah lo, belum apa-apa sudah aneh kan? Hihihi

Biasanya kan, kita tahu cerita dalam film adalah sebuah fiksi, namun bagi para karakter di dalam film, cerita dan dunia mereka adalah nyata.  Asteroid City tidak seperti itu. Yang dikisahkan adalah tentang seorang ayah, berprofesi sebagai fotografer, yang menyimpan rahasia dari anak-anaknya bahwa ibu mereka telah meninggal tiga minggu yang lalu. Si Augie justru membawa anaknya jalan-jalan. Tiga putrinya yang masih kecil-kecil mau dibawa ke rumah kakek, sementara putra sulungnya mau dianter ke kemah ilmiah di Asteroid City; tempat di tengah gurun yang jadi pusat wisata dan penelitian antariksa lantaran dulu pernah kejatuhan asteroid. Kita bertemu Augie dan keluarga saat mereka sampai di kota tersebut. Di malam pembukaan kemah, alien (like, literally alien dan UFOnya) turun ke tengah-tengah mereka, dan mengambil asteroid simbol tempat Kota. Kejadian itu membuat Augie dan orang-orang nyentrik lain yang anaknya ikut kemah (termasuk seorang selebriti), harus dikarantina di Asteroid City, sampai pemerintah dan mereka semua bisa memasukakalkan peristiwa kemunculan makhluk luar angkasa tersebut. Sementara kita, para penonton, punya satu hal lagi untuk dimasukakalkan, yakni apa sebenarnya film ini. Karena kisah di Asteroid City tadi itu  sebenarnya cuma drama teater. Augie dan putranya dan si selebritis dan karakter-karakter lain, cuma peran yang dimainkan oleh aktor-aktor teater. Kita juga akan diperlihatkan lewat gambar hitam putih sebagai penanda, adegan-adegan yang menunjukkan pembuatan Asteroid City, aktor-aktor yang berlatih, penulis yang mencari inspirasi, serta sutradara yang sering didatangi pemain yang kebingungan atas peran yang ia mainkan. Jadi seperti ada dua bagian yang bercampur; bagian cerita di Asteroid City yang berwarna, dan bagian cerita dari dokumentasi belakang panggung yang hitam putih. Dengan garis utama yang dibiarkan blur.

Film ini adalah Barbenheimer yang sebenarnya, karena di sini ada Margot Robbie dan ledakan bom atom

 

Boleh gak sih film dibikin seperti itu? Ya boleh-boleh saja, asal bangunan penceritaan dengan konsep uniknya tersebut bekerja dalam sebuah konteks, dan tentu dengan tidak meninggalkan development karakter. Asteroid City, buatku, terasa even better daripada The French Dispatch karena punya development karakter yang lebih kuat. Memang, karakter di dua film ini typical karakter Wes Anderson banget, dalam artian mereka sama seperti lingkungannya yang berwarna kontras dan simetris; tampak artifisial.  Tapi di balik quirk yang aneh dan kekakuan mereka, kita masih bisa merasakan genuine, relatable feelings. Dan di film ini, feelings tersebut lebih terasa, dan ditulis dengan lebih mencuat. Kita bisa meraba karakter development itu dari menarik garis paralel antara perspektif utama. Menarik persamaan dari karakter Augie, dan aktor yang ceritanya memerankan Augie (keduanya diperankan oleh G-Man Jason Schwartzman). Mereka berdua sama-sama mencoba memasukakalkan perasaan yang mendera. Perasaan bingung, Augie bingung dengan perasaan dukanya yang seperti tak mendapat tempat di dunia yang begitu random malah memberikannya alien dan cinta. Aktor yang meranin Augie bingung kenapa tiba-tiba ada alien di dalam cerita yang ia mainkan. Sehingga keduanya berusaha mencari jawaban atas bingung tersebut. Augie, mencoba dengan memotret alien dan Midge, aktris yang ia jumpai di sana. Sementara si aktor berusaha nanya ke penulis dan sutradara.

Tapi alien, si aktris, penulis, dan sutradara itu bisa apa. Toh Wes Anderson tidak memberikan jawaban terhadap itu. Augie dan para karakter lain – fiksi ataupun karakter aktor – dibiarkan ‘menjelajah’ kejadian aneh tersebut. Hidup mereka dibiarkan random.  Dan itulah poin film ini. Wes bukannya tidak mau ngasih jawaban, melainkan supaya para karakternya, supaya kita juga, melepaskan diri dari menuntut penjelasan. Satu-satunya yang mendapat balasan di sini adalah perasaan Augie terhadap si aktris, yang menandakan kepada kita bahwa dalam cerita ini Wes Anderson mementingkan perasaan, emosi yang dialami oleh para karakternya yang kaku, dibandingkan dengan rasionalisme. Maka logika, gak maen di sini. Logika enggak dimasukkan ke dalam perhitungan karya film ini (at least, sampai kita membedahnya ke dalam bentuk lain misalnya seperti tulisan review ini)

Terkadang hal dapat terjadi secara random tanpa penjelasan. Misalnya hal yang kebetulan, yang terjadi dalam kesempatan yang acak. Terkadang ada juga hal-hal yang tidak bisa dijelaskan. Hal-hal seperti perasaan. Cinta, penyesalan, duka. Kita cuma bisa menerima perasaan dan kejadian tersebut, dan move on melanjutkan hidup. 

 

Saat kita sudah mengerti akan itulah, film lantas seperti mendobrak sendiri ‘peraturan’ dalam dunia ceritanya. Yang tadinya kita sangka sebagai ‘kejadian beneran’ dan ‘cerita’ ternyata tidak demikian adanya. Karena membedakannya begitu berarti kita masih memakai logika. Memisahkan bagian cerita jadi dua kotak itu dengan melihat tanda-tanda seperti, warna hitam putih untuk menunjukkan dunia yang butuh penjelasan (dunia nyata) dengan warna cerah untuk dunia reka (dunia sandiwara di kota Asteroid), ternyata hanya perangkap bingkai yang dimiliki oleh film ini. Wes ingin meleburkan keduanya, maka dia membuat ada satu karakter – host dari bagian dokumentasi – yang masuk ke dunia warna. Lalu ada beberapa aktor di dunia hitam putih yang tiba-tiba berwarna. Batasan nyata dan reka menjadi tidak ada, semua jadi tampak sama-sama artifisial, semua jadi abstrak seperti karya seni itu sendiri. Dan satu hal tentang seni, itu adalah seni merupakan cara pembuatnya berkomunikasi. Sampailah kita kepada lapisan berikutnya pada Asteroid City sebagai sebuah sinema. Sebuah karya seni, dengan Wes Anderson sebagai penciptanya. Dan sama seperti foto alien yang dipotret Augie, film sebagai seni hanya memotret. Potret itu sendiri nantinya disebar dan diterjemahkan dan disimpulkan dengan bebas oleh orang-orang yang melihat. Apakah alien di foto ini hoax? Atau apakah berarti umat manusia dalam bahaya?

Hampir seperti kartun, pake ada Road Runner segala

 

Seniman membuat karya. Dia tidak perlu memasukakalkan karyanya. Wes Anderson tidak perlu untuk melogiskan Asteroid City. Tadi dia dengan gampangnya meminta kita untuk tidak menonton ini dengan menuntut penjelasan. Melainkan untuk merasakannya secara subjektif saja. Namun bagaimana proses dia membuat ini? Asteroid City dalam level terdalam sebenarnya adalah gambaran proses kreatif seorang seniman seperti Wes Anderson dalam membuat karya. Konflik antara membuat yang bisa diterima akal dengan mempertahankan cita rasa seni itu sendiri. Percakapan aktor Augie menuntut penjelasan dengan sutradara yang menepis soal logisnya jalan cerita, curhat si aktor terhadap perannya, berakar dari si kreator itu sendiri yang bergulat menciptakan sesuatu yang bisa diterima, bisa dirasakan, alih-alih semata logis untuk dipikirkan. Dari film ini kita bisa menyimpulkan bahwa Wes Anderson pada akhirnya percaya bahwa seni tidak akan bisa tercipta jika manusia sebagai pembuat hanya berkutat pada hal-hal yang masuk akal. Karakter di dalam film ini kaku karena mereka strive untuk hal logis. Untuk kemudian diperlihatkan tokoh-tokoh di Asteroid City butuh alien yang gak masuk akal, butuh hal sensasional supaya hidup mereka yang kaku bisa cair. Anak-anak yang belajar planet-planet itu, jika tidak kedatangan alien, mungkin tidak akan pernah bicara tentang filsafah hidup dengan si koboy, Putra Augie dan teman-temannya yang science freak tidak akan sempat ngerem dan naksir-naksiran jika alien tidak datang ke sana. Augie dan ayahnya akhirnya bisa berdamai dengan duka saat membiarkan putri-putri cilik itu melakukan ritual penguburan ala penyihir. Karena saat mereka mengembrace ketidakmasukalan sikap anak-anak itulah, pintu bagi Augie untuk menyentuh emosi mereka terbuka. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan dengan mengandalkan akal pikiran. Karena justru akal pikiran yang mengandalkan imajinasi.

“You can’t wake up if you don’t fall asleep” adalah yel-yel yang kita dengar diteriakkan oleh para aktor saat pembuatan teater Asteroid City. Kata-kata yang ternyata ‘masuk akal’ sekali ke dalam konteks film tadi. Kata-kata yang terjemahan literalnya adalah semacam menyebut untuk bisa terbangun, kita harus tidur dulu itu seperti menyiratkan pesan bahwa ya kita harus berkhayal dulu baru bisa disebut tersadar. Inilah kunci seni menurut Anderson. Untuk bisa menyentuh kesadaran emosional, serta kemelekan akal pikiran, maka kita harus berani untuk berimajinasi terlebih dahulu. Seliar-liarnya.

 

 




Tak ada yang dijelaskan oleh film ini. Tidak ada jawaban tentang apa maksud aliennya. Karena film sebagai seni tidak perlu menjelaskan dirinya sendiri. Tugas itu ada pada kritikus. Sebuah film tetap perlu disampaikan maksudnya karena film bagaimanapun juga adalah komunikasi antara si pembuat dengan penonton. Komunikasi itu terjaga bukan dari pembuatnya menggunakan bahasa yang masuk akal atau gampang dicerna.  Justru menurut film ini bahasa yang paling efektif itu adalah perasaan, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan logika. Komunikasi itu terjadi, terjaga, saat ada penyampaian bahasa dan perasaan tersebut. Ada yang menerima, setidakmasukakal apapun bahasanya. Film ini aneh, karakternya kaku, kejadiannya gak masuk akal, komedi dan karakternya yang diperankan oleh banyak bintang gede itu amat nyentrik. It’s rather unsual and hard to watch, yes. Film ini adalah alien bagi kita, seperti alien bagi karakter di Asteroid City. Sesuatu yang mungkin penting untuk melanjutkan hidup yang seringkali sudah jadi tak berasa.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for ASTEROID CITY

 

 




That’s all we have for now.

Jika film adalah seni yang tak harus menjelaskan, bagaimana dengan tulisan kritik atau ulasan? Menurut kalian kritik itu tulisan apa sih, berita, opini, karya ilmiah, atau bisakah dia disebut sebagai karya seni juga?

Share pendapat kalian di comments yaa

Sebelum ditutup, aku mau ngajak kalian pindah dari gurun ke Apple TV+ , karena ada serial bagus tentang pembajakan di pesawat! Dibintangi oleh Idris Elba, serial thriller ini bakal ngajak kita ke sebuah trip angkasa yang tak terlupakan. Yang pengen nonton bisa langsung subscribe dari link ini yaa https://apple.co/46yw8RX

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



ELEMENTAL Review

 

“The most important things in life are the connections you make with others”

 

 

Masih ingat lagu Olaf si boneka salju di Frozen? It goes like “The hot and the cold are both so intense, put them together? it just make sense!” Ya, perbedaan menyatukan. Opposites attract. Dan hey, kita bahkan tinggal di negara yang mottonya menyebut perbedaan sebagai alat persatuan. Sudah ada begitu banyak kisah tentang gimana dua orang yang begitu berbeda akhirnya menjadi pasangan yang serasi karena saling melengkapi, saling menghargai, dan kita semua suka cerita-cerita kemanusiaan seperti ini. Jadi pertanyaannya adalah di titik mana cerita tersebut menjadi klise – jika muatan yang terus relevan tersebut memang bisa untuk terasa klise. Tadinya, aku mengira titik itu ada di animasi Pixar terbaru ini. Tapi ternyata sutradara Peter Sohn bukan hanya sekadar membuat cerita tentang Gadis Api yang jadi couple dengan Cowok Air. Bukan hanya tentang chemistry yang terjalin dari perbedaan. Melainkan menggali ke dalam. Film ini menekankan kepada pentingnya koneksi emosional sebelum bicara tentang betapa indahnya koneksi fisik yang dihasilkan darinya.

Biasanya yang bersikap dingin itu digambarkan sebagai es. Uniknya di sini Sohn membuat bahwa yang panas ternyata juga bisa jadi ‘dingin’. Si Cewek Api, bernama Ember lah yang dalam cerita Elemental mengalami kesulitan untuk connect dengan orang-orang di Element City. Ember sudah berniat untuk kelak menggantikan posisi ayahnya sebagai pemilik toko keluarga, tapi dia kesulitan untuk melayani berbagai permintaan customer.  Ember suka meledak marah, like literally mengobarkan api sampai-sampai suatu ketika dia membuat pipa-pipa air di basement toko dan rumah mereka bocor. Masalah tersebut menyedot Wade si Cowok Air, yang actually tukang ngecek kelayakan bangunan di kota. Pertemuan mereka berujung pada Ember harus berjuang mendapatkan ijin toko hingga menyelamatkan toko tersebut dari terjangan air. Untuk itu Ember harus bisa meyakinkan petugas kota. Dan Wade yang memang punya sikap gampang tersentuh, berusaha membantu Ember untuk melakukan hal tersebut.

Cek Toko Sebelah, IPA edition

 

Notice gimana cerita terus menekankan kepada soal membangun koneksi? Mulai dari menjaga toko hingga berusaha menyakinkan Gale si awan pimpinan petugas kota, masalah yang ditemui Ember adalah karena dia gak bisa menyentuh orang-orang tersebut secara emosional. Beda sama Wade yang bahkan bisa membuat penonton satu stadion olahraga melakukan ‘ombak’ bareng. Sekilas Wade memang tampak sebagai humor relief karena mudah banget nangis, tapi karakter ini adalah pendukung yang sangat tepat bagi journey personal Ember. Wade bakal ngajarin Ember gimana membuka diri, untuk berani menjadi vulnerable di depan orang lain, dan menyadarkan Ember bahwa sebenarnya kunci dari masalah emosinya itu adalah karena Ember tidak berani jujur kepada dirinya sendiri. Crying game yang jadi permainan keluarga Wade juga sebenarnya bukan permainan lucu-lucuan saja, tapi secara inner permainan tersebut jadi tes bagi Ember, bagian dari proses belajarnya membuka diri secara emosional. Itulah kenapa Ember dan Wade akhirnya jadi pasangan yang bisa kita dukung. Karena film membuat kita mengerti bahwa kedua orang ini sebenarnya saling butuh satu sama lain. Film ngebuild up dengan manis proses mereka jadian, yang ditunjukkan dari mereka mau bersentuhan aja harus saling percaya dulu. Saling konek dulu secara emosional. And when they do touching each other, film ngetreat-nya seolah perayaan cinta yang begitu besar lewat permainan kimia dan fisika yang indah antara air dan api.

Membuka diri kepada orang memang penting, kayak di film aja, karakter cerita kita harus dibikin vulnerable supaya bisa relate dengan penonton, dan hanya jika penonton merasa relate-lah maka karakter dan film tersebut baru bisa dipedulikan. Kita perlu orang lain merasakan hal yang kita rasakan, kita perlu saling mengetuk hati satu sama lain. Tapi memang tidak semua orang berani melakukannya karena untuk bisa vulnerable tersebut maka kita harus membuka diri terhadap siapa kita sebenarnya, jujur dulu pada apa yang kita rasakan sebenarnya.

 

Hal itulah yang terjadi pada Ember. Dia susah konek ke orang, karena secara emosional dia belum siap membuka diri terhadap masalah personalnya sendiri. Dia belum siap mengakui bahwa dia sebenarnya gak mau ngikutin keinginan ayah untuk mengelola toko. Hubungan antara Ember dengan ayahnya juga jadi salah satu elemen penting di dalam cerita. Yang membuat film ini juga bertindak sebagai drama keluarga yang menghangatkan. Konflik yang perlahan dikembangkan seperti api dalam sekam, akhirnya mendapat penyelesaian yang tak kalah manis dengan elemen romansa. Kedua elemen pada cerita ini berjalan paralel sebagai inner journey yang solid. Inilah yang selalu jadi kekuatan naskah pada film-film Pixar. Berani untuk mengeksplor bahwa yang diinginkan oleh karakter, sebenarnya bukan hal yang mereka butuhkan. Elemental dan film-film Pixar lain berani untuk gak ngasih karakternya hal yang mereka inginkan di awal cerita. Beda sama film Indonesia yang seringnya ngasih lihat apa yang karakter mau di awal, itu yang bakal berhasil mereka dapatkan sebagai penutup cerita. Padahal momen karakter menyadari yang mereka inginkan not really good for them dan lantas membuat pilihan lain menuju yang kini mereka sadar lebih mereka butuhkan bakal selalu jadi momen pembelajaran yang kuat, yang membuat film Pixar selalu beresonansi buat penonton dewasa, dan juga penonton anak-anak.

Literally bikin ombak together

 

Ngomong-ngomong soal penonton anak. well, di sinilah mungkin Elemental bisa membagi dua penonton. Misi yang basically cuma mau dapetin ijin toko memang bukan petualangan benar-benar diharapkan penonton anak yang pengen petualangan yang lebih fantastis. . Bentukan film yang sebenarnya lebih seperti rom-com, komedi romantis, ketimbang actual adventure juga bisa bikin penonton yang lebih dewasa agak canggung mengajak adik-adik atau anak mereka menonton ini. Tapi kalo nanya aku, tentu saja kita gak bisa bilang film ini ‘buruk’ karena kurang fantastis, atau karena ngasih lihat anak-anak build up orang pacaran. Menurutku, pelajaran berharga yang dipunya cerita outweight sedikit kecanggungan ataupun kenormalan yang dipunya oleh animasi fantasi ini. Anak-anak justru bisa belajar banyak tentang romantic relationship yang sebenarnya juga tergolong ‘aman’ karena di film ini diajarkan untuk membangun rasa pengertian terlebih dahulu. Bahwa hubungan gak bisa langsung sosor fisik, melainkan harus punya dasar emosional, harus terjalin dari dalam. Film ini sebenarnya juga menggambarkan kehidupan sosial karena Ember dan keluarga dipotret sebagai semacam orang dari daerah kecil yang pindah mencari kehidupan baru di kota besar. Kota yang punya stigma negatif terhadap mereka (api dilambangkan susah bergaul dengan elemen lain seperti air dan tanah yang lebih gampang mix together). Sehingga keadaan keluarga Ember yang membangun sendiri tempat tinggal mereka, yang tinggal berkomunitas di pinggiran kota, gak merasa benar-benar cocok dengan penduduk lain dapat jadi pelajaran sosial yang berharga tentang saling menghargai.

Soal fantasi, memang Elemental gak punya dunia dengan high concept kayak Soul ataupun aturan-aturan seperti Inside Out, tapi bukan berarti film ini lack of creativity dan jadi animasi yang datar. Sebaliknya, Elemental membawa fantasi itu ke ranah yang lebih grounded dan bisa lebih mudah dipahami oleh penonton anak-anak. Para penduduk dan kota Element itu sendiri memang didesain untuk bertindak layaknya unsur alam beneran. Seperti yang dipelajari oleh anak-anak dalam pelajaran ilmu alam di sekolah. Gimana api dengan mineral, gimana air bisa menciptakan pelangi, gimana cahaya bisa diteruskan oleh air, gimana api ternyata digunakan untuk bikin kaca dan ornamen-ornamen yang unik. Dan bukan hanya dari hal-hal yang kita lihat, beberapa dialog film ini juga memuat banyak candaan yang diambil dari gimana elemen-elemen alam itu bekerja. Gimana awan hanya ikut kemana angin bertiup. Gimana  air diceritakan seolah pengen tahu apapun – padahal maksudnya juga adalah soal air selalu mengisi tempat/bejananya. Desain visual karakter juga dimainkan untuk menambah kepada karakterisasi. Misalnya kayak si Ember yang badan apinya actively semakin bergejolak sesuai dengan emosi yang ia tahan. Jadi ya, aku pikir penonton gak bakal kehabisan hal untuk dikagumi dari dunia film ini. Karena fantasinya dari ilmu beneran yang begitu well-crafted sehingga membentuk jadi dunia yang dihidupi karakter-karakter ajaib.

Dan jika adik-adikmu belum puas bertualang, di rumah tinggal setel saja Apple TV+ karena di sana ada serial animasi anak terbaru berjudul Stillwater tentang anak yang tetanggaan sama panda! Just click this link untuk subscribe~ https://apple.co/42U6Omf

Get it on Apple TV

 

 

 




Better jika kita masuk ke dalam film ini, fully realized kalo ceritanya bukan exactly sebuah petualangan fantastis. Karena memang film ini lebih seperti rom-com dan drama keluarga dengan karakter-karakter unik. Memang tak jadi terlalu fantastis dengan konsep dunia dan petualangannya, namun film ini ngeceklis semua kriteria sebuah film yang bagus dan benar tanpa cela yang kentara. Naskah yang solid dan development yang kuat membuatnya jadi tontonan yang berbobot. Really, aku tak menemukan pilihan yang salah dari film ini. Bahkan flashback yang mereka lakukan pada beberapa adegan tidak menghambat tempo dan punya alasan kuat untuk dilakukan demi menjaga cerita tetap berjalan dari sudut Ember. Sekilas terlihat biasa, tapi keunikan justru mencuat dari gimana film ini mengolah bahasan yang sudah sering lewat sudut fokus yang rada berbeda. Dari gimana kreasi fantasi itu diarahkan untuk menjadi lebih grounded supaya penonton lebih mudah mengerti dan terattach kepada karakter. Menurutku film ini cuma hadir di waktu yang kurang tepat; hadir di saat penonton selalu mengharapkan something explosive sebagai hiburan di bioskop (untuk alasan yang sama kenapa superhero yang lebih grounded dan simpel ala cerita kartun juga tidak benar-benar digandrungi dibandingkan superhero yang banyak kejutannya). Tapi aku percaya, ini adalah tipe film yang seiring berjalannya waktu akan semakin diapresiasi oleh penonton yang lambat laun menyadari how well-rounded penceritaan yang ia miliki.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for ELEMENTAL

 




That’s all we have for now.

Mengapa menurut kalian film ini menganggap persoalan emotional connection perlu diajarkan kepada anak-anak?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



THE FLASH Review

 

“We are products of our past, but we don’t have to be prisoners of it.”

 

 

Flash akhirnya punya film-panjang setelah sekian lama ikut ‘bantu-bantu’ di Justice League, dan padahal punya serial sendiri. Dan keberadaannya ini bukan tanpa diwarnai masalah. Superhero dengan kekuatan supercepat ini hadir saat DC mau merombak ulang keseluruhan sinematik universe mereka, yang entah bagaimana sepertinya selalu kurang memuaskan. Aktor yang meranin si Flash, Ezra Miller, pun sedang dalam belitan kasus. Mungkin karena filmnya berada di posisi demikianlah, maka sutradara Andy Muschietti menggodok cerita yang membahas tentang menyikapi kesalahan di masa lalu. Ironisnya, bahasan ‘harus move on’ tersebut harus ia bicarakan di balik konsep multiverse penuh nostalgia yang sepertinya sudah jadi senjata utama produser film superhero untuk menggaet penonton. Sehingga, dengan konteks demikian, di balik petualangan lintas-waktunya The Flash memang lantas jadi punya inner journey yang tuntas dan kuat. Tapi film ini serta merta memberikanku sesuatu untuk dipikirkan ulang.  Karena selama ini, aku selalu berpikir bahwa yang terpenting dari sebuah film adalah inner journey karakternya. Dan sepertinya itu membuatku jadi punya kesalahan di masalalu; kesalahan dalam menilai film. Sebab film The Flash, dengan kelemahan-kelemahan outer journeynya, justru membuktikan bahwa kulit luar cerita ternyata juga sama pentingnya.

Si Supercepat yang suka telat

 

Jangan menoleh ke belakang. Jangan pertanyakan kenapa hal bisa salah. Jangan menyesali kesalahan lalu lantas terus-terusan meratapi sampai lupa untuk meneruskan hidup. Karena tidak ada lagi yang bisa kita lakukan selain belajar dari kesalahan tersebut. Menerima bagaimana kesalahan itu membentuk kita dan jadikan itu pengalaman berharga. Sebenarnya, ini adalah tema yang cocok sekali sebagai konflik untuk seorang superhero yang bisa berlari begitu cepat sampai-sampai bisa menembus waktu. Karena kita selalu bilang, andai kita bisa balik ke masa lalu, maka kita akan memperbaiki kesalahan. Well, guess what, Flash bisa ke masa lalu, dan di film ini dia akan belajar bahwa walaupun kita bisa ke balik, kita tetap tidak bisa memperbaiki kesalahan itu.

 

Ada banyak sekali yang ingin diperbaiki oleh Barry Allen di dalam hidupnya. Dia ingin ayahnya melihat ke kamera cctv supermarket supaya bisa jadi bukti ayahnya tak-bersalah atas kematian ibunya. Dia ingin ibunya tidak lupa membeli sup tomat yang jadi sumber masalah itu. Dia ingin bisa melindungi keluarganya. Sekarang, seusai another mission ngeberesin kerjaan Batman, kita melihat Flash menemukan fungsi baru dari kecepatan supernya. Yakni dia bisa travel back in time. Barry merasa inilah kesempatan baginya memperbaiki hidupnya. Tapi dia salah. Kedatangannya ke masa lalu memang menyelamatkan ibunya dari maut, namun efek dari perbuatan itu ternyata jauh lebih parah. Tindakan Barry Allen jadi membuat timeline dunia yang baru. Dunia tanpa Justice League. Dunia yang Batman dan Superman nya sangat berbeda dari yang ia kenal. Ketika General Zod datang ke Bumi, Barry Allen harus membentuk tim superhero di dunia tersebut, dan salah satunya dia harus melatih versi remaja dari dirinya di dunia itu untuk menjadi Flash yang baik dan benar.

Film ini ngasih sudut yang unik dari cerita origin superhero. Berbeda dari kebanyakan origin yang mengawali bahasan dari bagaimana si karakter punya kekuatan superhero, kita telah mengenal dan tahu kekuatan Flash saat cerita film ini dimulai. Yang belum kita kenal betul adalah siapa sosok Flash di balik topeng; sosok Barry Allen yang sebenarnya. Dukanya apa. Konflik personalnya apa. Sehingga walaupun sebagai Flash dia sudah kuat, tapi pembelajaran karakter ini terus bergulir. Lapisan inner journey inilah yang buatku cukup berhasil dipersembahkan oleh film. Bersama dirinya kita ditarik mundur melihat backstory Barry Allen sebagai seorang anak muda, serta juga origin dari kekuatannya ternyata seperti apa. Penceritaan dengan time travel ke masa muda karakter utama membuat kita melihat sang superhero dari sisi yang lebih berlayer. Dengan kelemahan personalnya sebagai human being yang jadi fokus utama dan terus digali. Ini mendaratkan karakternya. Hubungan Barry dengan ibunya, bagaimana perasaannya terhadap sang ibu, di situlah lajur film ini menyentuh hati para penonton.

Musuh yang harus dihadapi Barry sebenarnya memang bukan General Zod, melainkan dirinya sendiri. Film memang menyimbolkan ini dengan menghadirkan surprise villain yaitu si Dark Flash. Makhluk paradoks produk dari pilihan Flash untuk pergi ke masa lalu in the first place. Secara konteks, masuk akal kalo Flash harus mengalahkan Dark Flash karena menyimbolkan dia yang sekarang sadar untuk move on dan belajar dari kesalahan, harus mengalahkan dirinya yang masih ingin memperbaiki masa lalu. Namun anehnya, film tidak benar-benar membuat Barry Allen ‘kita’ menghadapi Barry Allen dunia lain itu. Film malah membuat Barry muda-lah yang ‘mengalahkannya’. Menurutku, film sebenarnya gak perlu membuat sampai ada tiga Barry Allen. Dua saja cukup. Supaya ‘pertarungan’ inner Barry itu terasa benar terefleksi pada pertarungan outernya. As in, biarkan Flash mendapat momen mengalahkan ‘antagonisnya’.  Film ini anehnya gak punya momen yang penting tersebut. Keseluruhan babak dua adalah tentang Barry Allen berusaha membentuk tim superhero (sekaligus mendapatkan kembali kekuatan supernya), konsep multiverse kicks in, kita melihat Batman-nya Michael Keaton, Superm..ehm, Supergirl-nya Sasha Calle, Kita melihat interaksi Barry berusaha menjalin persahabatan dengan mereka. Kita juga of course melihat interaksi Barry dengan dirinya versi lebih muda, yang sangat kocak. But there’s nothing beyond those characters dan keseruan melihat merkea, karena bisa diibaratkan kejadian di dunia mereka itu adalah kejadian Alice di Wonderland – kejadian untuk membuat Barry Allen ‘kita’ mempelajari kesalahannya. Hanya saja di film The Flash ini, Barry Allen sadar di tengah-tengah, dan tidak lagi bertarung mengalahkan siapa-siapa. I mean, bahkan Alice saja harus mengalahkan Queen of Hearts, Dorothy harus mengalahkan The Wicked Witch. Di film ini, final battle si Flash ada pada ketika Barry berdialog dengan ibunya. Yang sebenarnya memang menyentuh dan bagus, tapi meninggalkan kesan datar bagi penonton tatkala pertarungan dengan Zod dan Dark Flash sudah dibuild. Momen ‘kemenangan’ itu tidak terasa bagi penonton. 

Kayaknya ini film superhero pertama yang ada adegan hujan bayi ya?

 

Jadi aku sadar di situlah pentingnya outer journey. Inner dan outer harus dikembangkan berimbang karena jika hanya outernya saja, film akan jadi hiburan kosong. Dan sebaliknya, jika hanya innernya saja, maka seperti yang kita rasakan saat beres nonton film ini, kesannya jadi datar. Semua petualangan itu kesannya jadi buang-buang waktu. Setelah semua interaksi lucu Barry dengan dirinya versi muda, tanpa ada tensi yang dicuatkan, kita hanya melihat karakter itu sebagai tontonan si Barry. Koneksinya dengan Batman Keaton dan Supergirl juga kayak throw-away moment saja. Momen outer yang dikembangkan balance dengan inner journey cuma ada pada penutup, saat kemunculan satu karakter membuat Barry menyadari bahwa dia masih belum berada di dunia yang benar. Menurutku ini ending yang tepat sekali sebagai cara film ini mengomunikasikan bahwa semesta DC memang sudah sekacau itu. Bahwa there’s no going back. Melainkan mereka hanya bisa move on bikin ulang yang baru.

Dan ngomong-ngomong soal outer, ada satu yang paling terluar yang tak-bisa tak kita perhatikan dan mempengaruhi pertimbangan kita suka film ini atau tidak. Visual. CGI yang digunakan. Banyak dari adegan aksi di film ini, tampak kasar dan konyol. Raut wajah karakternya. Jurus-jurus berantemnya. Bayi-bayi itu! See, aku sebenarnya gak peduli sama efek realistis atau enggak. I mean, kita yang nonton film Indonesia biasanya udah maklum soal efek visual. Asalkan menghibur dan konsisten, tak jadi soal. Tapi jangan bilang kalo bad CGI itu adalah pilihan kreatif, semacam visual style ala Spider-Verse misalnya. Dan itulah yang menurutku terjadi di film ini. Mereka sebenarnya ingin membuat efek yang konyol untuk adegan-adegan kekuatan Flash saat sekitarnya jadi seperti melambat. Bad CGI itu pada akhirnya hanya alasan karena film gak mampu untuk bikin efek yang diniatkan dengan meyakinkan. Like, kalo memang mau cartoonish, maka tone film secara keseluruhan harus dibikin lebih selaras lagi untuk membangun efek tersebut. Pada film ini, konsep dan eksekusinya terasa belum klop. Sebagian besar film terasa seperti serius, maka pada adegan-adegan yang visualnya mestinya ‘bermain’ jatohnya tetap tampak sebagai CGI yang jelek.

 

Dinamika Flash dan Batman ngingetin ama Spider-Man dan Iron Man. Flash yang masih muda dan kocak memang sering dianggap padanan Spidey dari Marvel. Personally, Tom Holland menurutku lebih lucu sih daripada Ezra. Buat penggemar Tom Holland, di Apple TV+ ada serial baru yang ia bintangi loh. Judulnya The Crowded Room. Thriller psikologis, gitu. Yang pengen nonton bisa subscribe langsung dari link ini  https://apple.co/3NgkhiF

Get it on Apple TV

 

 




Di balik visualnya yang bisa bikin orang males nonton, sebenarnya film ini cukup unik, ngasih origin story dalam bentuk berbeda, dan punya muatan drama keluarga yang manis dan menyentuh – mengalir kuat di balik cerita multiversenya. Dari bingkisan luarnya, film ini memang parade nostalgia dan reference dan petualangan yang didesain untuk menghibur. Tapi kulit luarnya ini punya kelemahan pada bagian penyelesaian, yaitu tidak dibikin seimbang dengan isi di dalamnya. Sehingga kesannya jadi datar, dan seperti menghabis-habiskan waktu karena solusinya sebenarnya tidak perlu pakai petualangan sepanjang itu jika petualangan dan musuhnya yang sudah dibuild tidak lagi jadi penting di akhir. Tapinya lagi, jika film ini benar adalah terakhir dari DC sebelum dirombak ulang, kupikir film ini berhasil menyampaikan itu lewat ending yang cukup bergaya. Terlihat gak tuntas, tapi sebenarnya sudah menutup rapat-rapat.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE FLASH

 




That’s all we have for now.

Jika kita dibentuk oleh masa lalu dan kita berkembang dengan belajar darinya, apakah itu berarti kita yang sekarang pasti hanya akan dianggap jadi ‘kesalahan’ bagi kita di masa depan?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



THE LITTLE MERMAID Review

 

“We realize the importance of our voices only when we are silenced”

 

 

Banyak kelakuan dari Princess Disney yang simply not fly buat cewek jaman sekarang. Banting tulang ngurusin rumah, sampai ada cowok yang ngelamar? Kuno.  Ngefriendzone-in cowok sampai dia ngasih satu perpustakaan penuh buku-buku? Matre. Rela ninggalin rumah dan orangtua cuma demi cowok yang disuka? Huh, apalagi ini, kelihatannya kok clingy banget. Lemah. Untuk mengupdate value-value itulah, remake diperlukan (selain urusan cuan, tentunya). Setelah sekian lama Ariel dikatain princess yang paling ngeyel “gak punya masalah tapi lantas dicari sendiri”, kini Rob Marshall berusaha menghadirkan ulang cerita sang Putri Duyung dengan beberapa perubahan, terutama untuk menekankan kepada journey Ariel bukan sekadar perjalanan mengejar pangeran. Melainkan cerita seorang perempuan yang suaranya ingin didengar. Suara yang mendamba dunia yang lebih besar.

Remake live-action Disney sendiri, biasanya ada dua jenis. Yang mengangkat sudut pandang baru. Dan yang dibikin beat-per-beat persis sama dengan animasi originalnya, dan ditambah dengan beberapa perubahan. Rob Marshall membuat The Little Mermaid sebagai jenis yang kedua. The Little Mermaid versi baru ini alur, pengadeganan, dan dialog-dialog dasarnya sama persis dengan film animasinya tahun 1989 dulu. Ariel adalah putri duyung yang tertarik sama dunia manusia. Dia suka ngumpulin barang-barang manusia, meskipun dilarang oleh ayah yang menyuruhnya untuk gak usah dekat-dekat manusia. Karena berbahaya. Tatkala sedang melihat kapal yang lewat, yang actually hancur diserang badai, Ariel yang baik hati menyelamatkan seorang pria. Pangeran bernama Eric. Ariel jatuh cinta kepada Eric, membuat ayahnya – sang raja laut – murka. Ariel yang lagi down, jadi sasaran empuk muslihat Ursula. Penyihir laut yang menjanjikan putri duyung itu kehidupan sebagai seorang manusia. Dengan suara merdu Ariel sebagai bayarannya.

Tadinya mau minta jiwa si Flounder, but look at those fish eyes! By God, there’s no soul in there!!

 

Penambahan dilakukan di sana-sini guna menguatkan dan memperdalam konteks cerita. Ursula yang diperankan dengan legit fun oleh Melissa McCarthy, misalnya. Backstorynya diubah supaya Ariel bisa lebih terkoneksi sehingga lebih mudah bagi kita untuk percaya duyung remaja itu mau saja melakukan perjanjian dengan dirinya. Di cerita ini, dia adalah bibi Ariel yang diasingkan oleh King Triton. Ursula dibikin lebih ‘dekat’ dan ‘relate’ kepada Ariel. Tapi Ursula adalah contoh kecil penambahan backstory di sini ternyata benar menambah kedalaman bobot cerita. Contoh besarnya adalah backstory Eric. Di film aslinya, Eric ini generik sekali. Dia cuma cowok yang jatuh cinta sama perempuan bersuara merdu yang menyelamatkan nyawanya. Relasi Ariel dan Eric pun aslinya memang hanya sebatas ketertarikan secara fisik. Namun di film ini, ikatan keduanya jauh lebih grounded dan beralasan. Eric dituliskan sebagai anak angkat Ratu, yang suka melaut tapi juga mulai dilarang-larang karena berbahaya. Eric juga punya koleksi barang-barang laut karena dia penasaran sama dunia di bawah sana, paralel dari Ariel yang punya satu gua penuh koleksi barang-barang manusia yang ia pungut dari kapal-kapal yang karam. Kesamaan dengan Eric tersebutlah yang jadi ‘alasan’ Ariel jatuh cinta kepadanya. Kesamaan ide, pandangan, bahkan tantangan.

Menurutku penjabaran backstory itulah yang terbaik yang ditawarkan oleh film, karena dengan ini romance mereka terasa lebih berarti. Mereka bukan lagi sekadar orang-orang cakep yang jatuh cinta. Karakter-karakter tersebut jadi punya lebih banyak bobot untuk kita pedulikan. I mean, bahkan adegan di dunia manusia terasa lebih menyentuh dan genuine ketimbang Ariel di laut, saking groundednya interaksi Ariel dan Eric, sebagai dua manusia yang share interest terhadap dunia masing-masing. Momen-momen itu yang gak dipunya oleh film aslinya, yang memang karena diset untuk tontonan anak-anak, membuat romansa mereka simpel dan gak dalam.

Untuk mencapai itu, yang diubah oleh Marshall sebenarnya adalah tema ‘Voice’. Suara. Bandingkan opening film asli dengan film live-action ini. Para pelaut di dua film ini membicarakan duyung dalam ‘nada’ yang berbeda. Yang animasi, ngeset up para duyung sebagai makhluk majestic bersuara indah. Bahkan Sebastian si kepiting literally adalah pemimpin konser, dan putri-putri Triton (termasuk Ariel) adalah penyanyinya. Suara, di film animasi, merupakan lambang inner-beauty. Ketika Ariel khawatir dia tidak bisa mengucapkan cinta kepada Eric karena suaranya diambil, Ursula mengusulkan untuk menggoda dengan kecantikan fisik. Di film live-action ini, suara duyung pada adegan awal diset sebagai sesuatu yang mengerikan. Suara godaan yang menggiring pelaut menuju karam. Suara ini leads ke persoalan prejudice antara manusia ke duyung, yang berakibat duyung juga menganggap manusia berbahaya. Film Rob Marshall punya konteks dua kubu yang saling membenci, dan Eric dan Ariel jadi penengah karena mereka membuka diri untuk melihat dunia yang lain. Suara jadi power bagi Ariel, yang naasnya harus ia buang jika dirinya mau diterima. Dia harus patuh kalo mau diterima Ayah. Dia harus tak-bersuara jika mau diterima manusia.

Kata-kata Triton kepada Ariel di akhir menyimpulkan segalanya. Bahwa suara kita adalah hal penting. Satu-satunya cara supaya apa yang ada di dalam kita, didengar. Jangan bungkam hanya supaya kita diterima. Kita gak bisa hanya diam kalo menginginkan perubahan.

 

Aku yakin itulah yang jadi alasan kenapa mereka nge-race swap Ariel. Meskipun bilangnya bukan perkara ras, tapi konteks film ini butuh Ariel sebagai seseorang yang menyuarakan hal yang tak bisa ia miliki. Lagu pamungkasnya menyebut “part of that world” untuk menekankan bahwa ini juga tentang orang-orang yang mendambakan kesempatan yang lebih besar, minoritas yang ingin setara.  Jadi secara konteks tersebut, Ariel akan lebih believable jika dibikin sebagai a color person. Like, bayangkan saja jika yang mengeluhkan suaranya yang tak didengar, yang pengen masuk ke ‘dunia orang’ itu, seorang putri raja berkulit putih. Gak akan believable, dia malah akan terdengar manja – just like Ariel di animasi yang setelah sekian lama banyak orang yang menganggapnya cuma mendambakan cowok manusia. Apalagi di iklim sekarang, memasang Ariel yang seperti itu hanya akan terdengar tone-deaf. Jadi ya, aku pikir Disney harus mengganti sosok Ariel dengan sosok yang pantas menyandang permasalahan tersebut. Dan dapatlah kita Halle Bailey, yang secara gestur dan suara benar-benar menakjubkan sebagai Ariel. Ngecast aktor yang bisa nyanyi menambah efek magis pada film ini. Yang bahkan, arahannya saja seringkali tidak bisa mengikuti.

Ku cuma penasaran, itu lehernya apa gak terkilir, rambutnya apa tidak berat di-whip saat basah-basah begitu?

 

Begini-begini, lagu Disney kesukaanku (of all time!) adalah Part of Your World.  Saking sukanya aku bahkan nyimpen slot save khusus di game Kingdom Hearts 2 di part mini game Part of Your World supaya aku bisa mainin lagu itu terus-terusan. Anyway, I think versi Halle seperti menggambarkan perasaan yang lebih mendobrak. Momen tangan Ariel menggapai lewat lubang juga dibuat begitu intens (kalo di horor, udah kayak tangan mayat yang menerobos keluar dari kuburannya) Hanya saja, karena film ini sama persis beat-to-beat dengan versi original, secara kronologi dan bangunan intensitas, keseluruhan adegan nyanyi Part of Your World itu jadi kerasa aneh. Karena di film aslinya, lagu itu adalah suara hati Ariel sehabis di ultimatum Ayah. Di titik itu dia belum kepikiran mau ke dunia manusia. Tekadnya itu baru muncul saat setelah menyelamatkan Erik. Jadi momen itu, Ariel lagi nelangsa. Jodie Benson tepat menyanyikannya dengan sense of longing yang sedih yang nanti berubah naik saat di batu karang. Flownya enak. Part of Your World versi Halle didesain untuk lebih kuat, sehingga gak cocok lagi ditempatkan di ‘posisi’ yang sama. Film ini harusnya mengubah susunan adegan. Yang kita lihat di sini, emosi Arielnya jadi gak mulus naik. Dia udah jor-joran di lagu itu, tapi puncaknya (di batu karang) seperti tertunda adegan penyelamatan.

Memang paling baik jika adaptasi atau remake berani mengubah. Film ini sepertinya tahu itu tapi gak berani mengubah total. Buktinya mereka berani mengganti Scuttle dari burung camar menjadi burung Gannet yang bisa menahan napas cukup lama di dalam air. Demi membangun aspek Ariel yang dilarang ke permukaan (aspek ini tidak ada di film originalnya). Supaya momen pertama Ariel ke permukaan tidak terganggu, kan gak lucu kalo dia ke permukaan hanya karena pengen ngobrol sama si Scuttle. Pengennya sih, film ini lebih banyak komit ke penambahan/perubahan, seperti begitu. Karena banyak perubahan yang jadi kurang berefek karena film terlalu ngotot sama ngikutin originalnya. Kayak lagu Part of Your World tadi. Contoh lainnya adalah pasal perjanjian Ariel dengan Ursula. Film ini menambahkan klausul Ariel disihir supaya dia lupa akan batas waktunya, dia dibikin lupa harus berhasil mencium Eric(with true love dan full consent!) dalam waktu tiga hari. Hal itu ditambahkan supaya Ariel dan Eric bisa menumbuhkan cinta genuine – which is great. Tapi film juga gak mikirin gimana Ariel bisa ingat, sehingga jadilah kita mendapat banyak adegan Sebastian dan Scuttle berusaha membuat Eric mencium Ariel. Yang akhirnya hanya membuat Ariel tidak banyak beraksi selayaknya tokoh utama. Sampai-sampai for some reason, kita malah mendapat Awkwafina nge-rap dengan suaranya yang cempreng itu. Disney, why do you hate us?

Film lantas sadar mereka butuh mengembalikan Ariel kepada action. Jadilah di final battle dengan Ursula, film mengubah… well, film tidak mengubah full sesuai dengan kebutuhan untuk memperlihatkan aksi Ariel sebagai tokoh utama yang akhirnya bisa mengalahkan Ursula. Melainkan, film hanya mengubah satu detil dari adegan di versi asli. Yaitu alih-alih membuat Eric yang melayarkan kapal supaya tiangnya menusuk si Ursula raksasa (dan dalam prosesnya membuat Eric- dan manusia secara umum – worthy di mata ayah Ariel), film ini malah membuat di momen itu Ariel si putri duyung yang menggunakan garpu untuk menyisir rambutnya tiba-tiba paham gimana kapal bekerja, dan dia-lah yang mengarahkan kapal untuk menusuk Ursula. Dan kita semua diharapkan untuk tepuk tangan dan bersorak “Hore, hidup perempuan berdaya!” Well, aku suka kalo perempuan dibuat berdaya, tapi tidak seperti ini cara mainnya. Adegan battle itu harusnya disesuaikan dengan yang ingin diangkat. Film yang sudah dirancang dengan konteks baru harusnya lebih banyak melakukan pengadaptasian, tidak cukup hanya dengan ngikutin beat-to-beat film aslinya.

Tapi aku yakin anak-anak pasti suka ngelihat duyung-duyung di sini. Kalo kalian punya adik atau keluarga yang masih kecil dan suka tontonan hewan dan manusia, di Apple TV+ ada loh tontonan yang pas dan seru berjudul Jane, tentang anak kecil yang menyelamatkan hewan-hewan langka, pake kekuatan imajinasinya! Tinggal klik ke link ini yaa untuk subscribe https://apple.co/3OL4MkQ

Get it on Apple TV

 

 

 




Perubahan film harus lebih total. Padahal mereka udah berani ganti sosok protagonis dan karakter lain. Mereka nekat pakai hewan laut yang realistis, misalnya, tapi mereka gak berani untuk mengubah atau melakukan adegan dengan berbeda. Adegan yang lebih cocok untuk konteks yang mereka pasang. Like, lagu Under the Sea saja ujung-ujungnya tetap menampilkan hewan laut yang bertingkah ‘ajaib’. Film tetap diarahkan beat-to-beat sama, supaya bisa meniru momen-momen ikonik. Film gak pede dengan perubahan atau penambahan yang mereka lakukan. Padahal secara konteks, film ini lebih kuat loh. Berhasil memperdalam bahasan dan karakter. Ariel saja  berani ke permukaan, masa film ini gak berani sih mengarahkan adegan-adegan ke ‘uncharted water’.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE LITTLE MERMAID

 




That’s all we have for now.

Kasian ya si Halle Bailey, dia masih banyak dihujat perihal dicast jadi Ariel. Menurut kalian kenapa sih kita susah menerima sesuatu yang tidak familiar bagi kita? Menurut kalian penolakan public kepada Halle sebagai Ariel sebenarnya terdorong oleh apa?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SEWU DINO Review

 

“Scratch my back and I’ll scratch yours”

 

 

Cerita horor sebenarnya memang simple, gak perlu diperibet. Tarok karakter dalam ruangan bersama mayat, jadi cerita horor. Mayatnya mungkin hidup, si karakter mungkin berhalusinasi. Tarok karakter berdua saja di dalam ruangan, bisa juga jadi cerita horor. Mereka bisa saling bunuh hingga yang satu jadi hantu. Mereka bisa saling curiga dan parno sendiri. Heck, tarok karakter seorang diri saja dalam ruangan kosong, dia bisa jatoh dalam kegilaaan, dan jadilah juga cerita horor. Kejadian horornya bisa sederhana, tapi penggaliannya harus mendalam. Ketakutan yang dirasakan itu harus dieksplor hingga ke akarnya. Jika ketakutan itu tidak digali ke personal karakternya, tidak direlatekan kepada kita, horor hanya akan jadi rangkaian kejadian tak-masuk akal yang menjengkelkan. Hantunya hanya akan jadi monster yang harus dikalahkan seperti pada cerita superhero. Karakternya hanya akan jadi si bego yang kita teriakin karena dia tidak melakukan hal yang dilakukan orang beneran. Tapi kebanyakan horor kita sekarang kebalikan dari itu. Banyak cerita yang berumit-rumit ria dengan lore dunia, intrik kubu-kubu, simbolisme, twist and turns, dan sebagainya, tapi pada pembahasannya malah menyederhanakan cerita sebagai wahana jumpscare dan kesurupan kayang-kayang. Jarang yang menyentuh ‘kegelapan’ di dalam sana.

Sewu Dino, untungnya digarap oleh Kimo Stamboel yang memang penggemar horor tulen. Cerita yang sebenarnya ribet karena menyangkut perang santet antara dua kubu, dia fokuskan kepada karakter yang harus mandiin orang yang sudah kesurupan selama hampir seribu hari. Dan aku yang awalnya kurang antusias, ternyata jadi menikmati ini. Kupikir film ini bakal sama seperti KKN di Desa Penari tahun lalu. Cerita dari thread Twitter yang turns out hanya mega marketing gimmick; enggak pernah menggali ceritanya yang actually relate – mahasiswa kota kkn ke desa – dan malah asyik bergumul dengan kejadian-kejadian mistis konyol. Karakter journey-nya dibiarkan dangkal. Sewu Dino ternyata dikembangkan berbeda dari threadnya oleh Kimo. Kudengar banyak pembaca thread yang kurang suka sama film ini, but screw them. Karena, memang Sewu Dino bukan film horor terbaik. Tapi cerita ini adalah versi yang  punya decent horror story di tengah-tengah kemelut santetnya.

Menghitung hari, dino demi dino

 

Ceritanya tentang Sri, gadis yang mencari nafkah untuk pengobatan ayahnya. Dia mencoba melamar jadi pembantu di tempat Mbah Karsa, yang dikenal warga sebagai orang sukses yang punya banyak tempat usaha sehingga selalu butuh banyak tangan tambahan. Nyatanya, Mbah Karsa butuh ‘stok’ perempuan dengan set kemampuan khusus untuk melaksanakan ritual menyelamatkan cucunya yang kena santet. Sri diterima karena gadis ini punya sesuatu yang ia sendiri tak tahu gunanya apa. Sri lahir di jumat kliwon, dan itu adalah syarat kunci untuk membebaskan cucu Mbah Karsa. Jadi, Sri bersama dua perempuan lain ditempatkan di pondok tengah hutan. Mereka harus memandikan Dela yang kesurupan setiap senja. Pekerjaan yang jelas berbahaya, karena setan yang telah bersemayam nyaris seribu hari itu selalu berusaha untuk lepas dan menyerang para pemandinya.

Di bagian pondok inilah Sewu Dino benar-benar fun. Film actually meluangkan banyak waktu untuk set up dan build up kerjaan horor yang harus dilakukan para gadis tukang mandiin itu. Salah satu set up penting yang dilandaskan film adalah kenapa Sri mau-maunya mandiin Dela. Kayaknya lebih aman mandiin harimau sirkus deh, ketimbang mandiin orang kesurupan yang suka menggigit dan mencekek manusia. Motivasi Sri bukan hanya karena duit, tapi kita dikasih info soal Sri yang berusaha tidak mengulangi kejadian yang membuat adiknya sendiri tiada. Sri tidak ada di sana, makanya sekarang dia ingin membantu gadis muda ini. Meskipun gak gampang baginya. Kita melihat Sri yang justru jadi orang pertama yang pengen kabur saat melihat ‘job desk’ dan resiko yang menantinya. Tapi itulah yang nanti jadi konflik. Yang fun lagi buatku adalah gimana film ngebuild up ‘ritual memandikan’ tersebut. Cara-caranya, batas waktunya, dan sebagainya. Banyak aturan yang harus Sri dan dua temannya ikuti. Salah satunya mereka harus mandiin Dela sambil dengar kaset rekaman suara Mbah Karsa yang bacain langkah-langkahnya. Tentu saja ini nanti bakal berkaitan dengan momen-momen scare yang dipunya oleh film. Like, mereka harus ngiket dulu tangan dan kaki si Dela sebelum membuka keranda bambu. There’s no way hal akan baik-baik saja saat mereka melakukannya hahaha…

Kimo gas pol di sini. Gak ada sensasi ‘adegan datar’ di film ini. Horor yang ia suguhkan benar-benar main fisik. Beberapa kali film ini hampir jadi body horor saking banyaknya ‘abuse’ yang diberikan on-cam kepada tubuh para karakter. Aku sampai heran masa iya film ini ‘cuma’ dikasih rating 13+ sama lembaga sensor. In my opinion, this should be higher. Apalagi tayangnya di masa lebaran. Jadi tontonan keluarga deh, pasti. Anyway, sensasi horor di sini terasa lebih well-crafted ketimbang pada KKN. Momen-momen kecil seperti suara rekaman yang tiba-tiba mati sukses bikin kita semakin mengantisipasi kengerian, untuk kemudian dipecahkan oleh ‘punchline’ seperti jumpscare atau serangan setan. Kimo sendiri pernah publicly bilang dia menggemari dan terinspirasi sama Sam Raimi (Evil Dead, Drag Me to Hell). Dan di Sewu Dino ini pun pengaruh Sam Raimi pun kelihatan. Lucunya, selain itu, aku juga menangkap ada pengaruh game survival horor Jepang pada film ini. Khususnya seri game Fatal Frame. Serius. Begitu banyak momen yang bikin aku teringat sama game itu, I’ll just go ahead and say it: Sewu Dino buatku kayak adaptasi tak-resmi dari Fatal Frame. Ritual yang gagal (kurang elemen disaster doang). Desain antagonis yang pake tali menggelantung di anggota badan, ngingetin sama Rope Maiden. Setiap kali tidur, Sri menjelajahi dunia lain dan melihat gubuk di sana – ini kayak main plot di Fatal Frame 3 yang karakter kita akan bertualang di Manor of Sleep setiap tidur dan nanti hantu-hantu di ‘mimpinya’ itu akan berdampak physically di dunia nyata. Rekaman dan suara-suara mengerikan bicara ke karakter? Udah staple di game dan film horor Jepang kayaknya. Sri harus ke hutan mengecek payung-payung pagar gaib, easily bisa jadi misi dalam game. Dan, berapa kali coba dalam game-game Fatal Frame kita dapat sekuen escape lari-lari dramatis bareng orang yang kita selamatkan? Sekuen escape di film ini, juga punya treatment yang dramatis seperti itu. Yang bikin beda ya Sri di film ini benar-benar melawan dengan fisik, bukan dengan kamera haha

Kayaknya aku kebanyakan main game puasa-puasa….

 

Bahkan Sri pun mirip sama karakter utama game, dalam hal, dia gak banyak bicara. Agak kurang aktif, unless ‘tombolnya’ dipencet. Kalo yang ini sih, sebenarnya kekurangan film ini menurutku. Namun bukan exactly kekurangan dari karakter ataupun dari Mikha Tambayong memerankannya. Mikha melakukan cukup banyak; sebagai protagonis horor dia didera cukup banyak di babak akhir. Sekali lagi, Kimo tahu gimana harus ngetreat cerita horor.  Hanya saja, di momen Sri mulai ‘gerak’ film udah habis. Di awal-awal, aku mengerti Sri diarahkan untuk jadi karakter yang rasional. Dia kabur duluan. Dia gak ‘seringan tangan’ itu mau melakukan kerjaan mengerikan. Tapi ini juga membuatnya jadi kurang dominan. Apalagi karena film ternyata malah menyiapkan ‘twist’ di tengah, regarding ada di antara mereka ada yang ingin menyabotase ritual mandi. Di tengah itu, alih-alih fokus mengembangkan karakter Sri, film malah sibuk bercocok tanam clue. Ngebuild up momen ‘siapa yang jahat’. Kita terputus dari Sri di bagian tengah. Dan ini membuat kita butuh agak lama untuk bisa konek lagi dengan motivasi dan journey karakternya. Makanya momen-momen ketika Sri terpukul telah membunuh satu karakter enggak benar-benar kena. Padahal secara teorinya dia telah ngelakuin something opposite dari tujuannya pengen membantu.  Momen ketika dia menolak duit pun jadi tidak benar-benar nendang. Padahal itu momen puncak yang juga mengusung gagasan cerita. Yang mengaitkan Sri dengan bigger things dalam universe cerita ini.

Menolak duit yang harusnya adalah upah dirinya adalah pembelajaran Sri soal bagaimana ‘cara kerja’ Mbah Karsa. Bahwa semua itu merupakan lingkaran setan. Lingkaran setan di sini bukan hanya soal kau menyerangku, maka aku menyerangmu – seperti Mbah Karsa dengan musuhnya. Tapi juga soal aku membantumu, maka kau harus membantuku. Yang dilakukan Sri sebenarnya adalah menolak untuk terus terikat dengan Mbah Karsa. Dia ingin lepas dari lingkaran itu, karena baginya goal sudah tercapai. Dia sudah meredeem diri dengan membantu Dela.

 

Film ini sempat dipermasalahkan soal bahasanya. Yang campur-campur Jawa Indonesia. Buatku, aku gak terlalu ngeh ke bahasa saat menonton. Mungkin karena terbiasa nonton film asing, yang bahasanya ku gak tau. Jadi for me, yang ‘terdengar’ itu ya cuma subtitle dan emotions yang mau diceritakan. Tapi memang, kalo mau pake bahasa tertentu, film harus komit dan benar-benar menjadikan bahasa itu sebagai identitas. Bukan sebagai gimmick. Pada Sewu Dino, memang Jawanya masih kayak gimmick, belum terlalu jadi identitas atau karakter. Tapi buatku gak nganggu. Menurutku yang tidak benar-benar perlu itu ya, ada ‘twist’ di tengah. Cerita terasa lebih ‘natural’ dan  fun ketika ketiga karakter di pondok itu merasa dipermainkan oleh setan di dalam tubuh Dela. Akan lebih menarik melihat gimana setan itu membuat mereka malah jadi saling serang di hari terakhir tugas mereka, misalnya, ketimbang masukin alur seseorang dengan sengaja sabotase dan si setan membiarkannya. Aku senang aja sama situasi horor tertutup mereka setiap hari harus masuk ke sana mandiin orang kesurupan. Malah aku pengennya jangan tiga hari doang, tapi full seribu hari aja sekalian. Repetitif, repetitif, deh!

Namun lore soal ada dua kubu di luar mereka semua itu memang akhirnya membayangi cerita yang sudah berusaha dibuat simpel oleh Kimo. Di momen akhir saat Sri mulai menguat sebagai karakter, Sewu Dino mulai tercampur aduk. Akan ada karakter yang tau-tau muncul. Akan ada lebih banyak misteri untuk dipecahkan. Ini membuat film jadi tidak berakhir memuaskan, walaupun journey karakter utama kita selesai dengan gemilang. Sewu Dino tetap terasa jadi sesuatu yang belum selesai, dan ini bukan cara yang benar-benar tepat untuk mengirim penonton pulang. Tidak cukup membuat penasaran, melainkan hanya ya gak puas saja. Terakhir kali aku ngerasa puas nonton horor yang ada cult-cultnya itu ya pas nonton akhir dari season 4 serial Servant di Apple TV+ Momen psikologikal horor dan turn around karakternya terasa banget. Kalian bisa langsung klik link berikut ini untuk langganan Apple TV+ dan catch up banyak lagi tontonan original lainnya https://apple.co/40MNvdM

Get it on Apple TV

 




Journey karakternya memang gak sampai terlalu dalam, film ini masih sebagian besar berfokus kepada kejadian horor yang terjadi, alih-alih menelisiknya. Tapi seenggaknya film ini menolak jadi terlampau ribet dengan lore dan segala macam perang santet yang membayangi alur karakter utamanya. Melihat dari si protagonis saja, film ini actually adalah cerita horor yang decent, dan digarap ke arah yang fun. Ingin mencuatkan pada situasi horor yang ngeri-ngeri sedap untuk ditonton. Tapi dijamin bikin ngompol kalo kita yang ngalamin. Enggak jelek, meski gak great juga karena masih berusaha catering buat jadi wahana bagi penonton. Ada twist yang gak perlu dijadiin seperti itu, misalnya. Yang jelas secara keseluruhan, film ini lebih baik dari KKN di Desa Penari. While it’s not saying much – karena standar KKN rendah banget – nilai plus film kali ini buatku adalah banyak elemen-elemen dari sini yang membuatnya jadi kayak something dari universe game Fatal Frame 
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SEWU DINO

 




That’s all we have for now.

Kalo menurut kalian kenapa Sri gak mau nerima uang bayarannya?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



THE SUPER MARIO BROS. MOVIE Review

 

“Physical bravery attracts most attention. But courage takes many forms”

 

 

Sega punya Sonic, Nintendo punya Mario. Sebagai anak 90an, itu perang-base pertama yang aku ikuti. Perang konsol video game rumahan, dengan maskot game masing-masing. I’m more of a Nintendo boy, tho. Aku lebih suka main Mario – yang menurutku lebih simpel dan lucu ketimbang Sonic. Gamenya juga kulebih menikmati buatan Nintendo (seenggaknya, sampai Sony PlayStation dengan Crash Bandicoot datang haha) Di ranah game-yang-jadi-film, however, kesuksesan Sega mengadaptasi Sonic sehingga dibikin sekuelnya, tampak bikin Nintendo gak mau kalah dan akhirnya mengeluarkan kembali IP game kesayangan mereka ini ke layar lebar!  Yup,  Mario Bros, memang dilindungi banget oleh Nintendo. Setelah live-action yang really cringe tahun 90an dulu itu, Mario hening. Gamenya aja yang terus keluar dengan berbagai variasi, tapi itu pun ekslusif untuk konsol Nintendo. Mulai dari side-scrolling, RPG, 3D Adventure, Balap, Berantem-berantem, bahkan random Sports. Aaron Horvath dan Michael Jelenic punya kesempatan emas dan lapangan bermain yang luas buat bikin film full CGI tukang ledeng bersaudara yang benar-benar compelling, melihat dari ragam dan gedenya IP ini. Jangan mau kalah dong ama Sonic. Tapi nyatanya, duo sutradara kita memang menebar banyak referensi dan merangkai cerita dari sana. Membuat film Mario Bros ini fun bagi kita yang mengenalnya, tapi hati film ini ada di ‘kastil’ yang lain.

Belajar dari kesalahan film live-actionnya dulu – serta kesalahan adaptasi game ataupun animasi yang suka tau-tau masukin karakter manusia yang gak ada di materi aslinya – film Mario Bros. sebenarnya memulai dengan langkah yang lebih mantap. Setidaknya, film tahu sisi unggul Mario Bros. Karakter manusia di tengah Mushroom Kingdom. Dan mereka membuatnya ya animasi semua. Didesain semirip mungkin dengan gamenya. Secara cerita, kubilang, film ini merangkai set up yang cukup bisa mendaratkan karakter. Mario dan Luigi hidup di ‘dunia nyata’, mereka bekerja sebagai tukang ledeng, dan mereka ini diledek oleh keluarga karenanya. Mario dan Luigi di film ini diceritakan sebagai dua orang dewasa yang diremehkan karena mereka kecil, dan kerjaan mereka juga dianggap sepele. Relasi antara Mario dan Luigi juga dibangun. Mario lebih berani dan jago, sementara Luigi orangnya agak penakut dan khawatiran. Sebagai animasi yang persis game, meski karakter mereka manusiawi, toh kita tetap melihat mereka melakukan kerjaan tukang ledeng dengan cara yang cartoonish, sehingga film tetap berjalan lucu dan menghibur. Saat ingin membantu beresin masalah banjir di kota Brooklyn, dua bersaudara ini tersedot pipa aneh yang membuat mereka terpisah. Mario sampai di Mushroom Kingdom, Luigi mendarat di wilayah Koopa yang dipimpin oleh Bowser, yang lagi dalam misi memperluas kekuasaan. Mario nanti akan bekerja sama dengan Princess Peach untuk mengalahkan Bowser, dan menyelamatkan Luigi

Ini bukan tentang Mario mukulin Bowser sampai pingsan, terus direkam, karena disuruh sama Peach loh ya

 

Yup, film ini memang punya kreasi tersendiri sebagai bentuk adaptasi yang mereka lakukan. Karakter Peach disesuaikan dengan masa sekarang, saat cewek gak lagi melulu diselamatkan. Peach di sini, digali sebagai Princess yang punya sisi petualang, yang lincah dan jagoan. Karakter-karakter lain seperti Donkey Kong, dan bahkan si Bowser sendiri juga diperlihatkan dari sisi yang berbeda, tapi kita masih tetap mengenali mereka sebagai karakter yang sudah kita kenal. Soal sedikit perbedaan ini, Mario sendiri juga disorot bahkan sebelum film ini tayang. Yakni soal aksen dan suara Mario yang terdengar berbeda dari versi video game. Chris Pratt yang nyuarain Mario sempat dirujak netijen karena suaranya beda, tapi ternyata film ini punya alasan untuk membuat Mario terdengar seperti ‘normal’. Karena ternyata aksen italia Mario dan Luigi itu, diceritakan sebagai gimmick mereka untuk iklan doang. Aksen itu cuma untuk menarik perhatian. Sehingga, sekarang kita bisa mewajarkan kenapa Mario suaranya seperti Chris Pratt bicara normal – karena Mario supposed to be orang biasa juga, yang masuk ke dunia ajaib di ujung pipa.

Bicara soal pengisi suara, menurutku Pratt menghidupkan Mario dengan baik, suaranya terdengar antusias, bingung, atau lainnya pada momen-momen yang tepat. Terkadang Mario akan bersorak ala game, dan Pratt tidak terdengar maksa ngucapinnya. Voice akting yang menonjol adalah si Jack Black sebagai Bowser. Aku hampir-hampir tidak menangkap itu suara Jack Black saat mendengar suara serak menggemuruh Bowser. Baru saat dia ada adegan menyanyi-lah, ciri khas Jack Black terdengar. Dan itu momen yang tepat, karena kita melihat Bowser dari sisi lain – sisi yang less barbaric. Salut buat Jack Black. Enggak kayak Seth Rogen yang suaranya gitu-gitu melulu. Begitu Donkey Kong ngomong, kita pasti langsung tau pengisi suaranya siapa haha. Seth mainin karakter ini standar. Anya Taylor-Joy juga di sini terdengar kurang nendang sebagai suara Peach. Tidak sememorable Bowser, atau juga Luigi. Charlie Day di sini memang juga cukup surprised buatku; Kupikir bakal annoying tapi Luiginya ternyata terdengar genuine, suaranya cocok sama dinamika karakter Luigi.

Karakter dalam Mario Bros. memakai berbagai item yang dikenal sebagai power ups untuk menjadi kuat. Ada bunga yang membuat mereka bisa menembakkan bola api. Ada kostum kucing yang membuat mereka jadi punya ‘jurus’ kucing. Dan ada jamur yang literally membuat mereka bertambah besar. Mario di sini gak suka jamur, tapi dia lebih gak suka lagi dikatain kecil. Jadi power ups benar-benar membantu. Tapi bukan power ups yang bikin Mario berani. Mario berani, karena dia gak ragu mengakui kelemahan dan memakai power ups. Mario berani, karena dia gak menyerah dan mencoba menyelesaikan tantangan platform terus menerus sampai berhasil.

 

Kreasi seperti pada set up karakter sayangnya tidak dilakukan utuh untuk menggarap cerita. Begitu sampai di Mushroom Kingdom, dan Mario, Peach, dan – di tempat terpisah – Luigi, harus bertualang, film mengganti kreasinya menjadi kreasi memunculkan referensi saja. Alur dan development, journey inner karakter, dijadikan minimal. Film cuma jadi serentetan adegan-adegan yang merujuk pada video game. Belum pernah aku merasa pengen balik buat main game, saat sedang nonton di bioskop, Mario Bros. memang senostalgia itu! Begitu banyak karakter (hampir semua musuh di game Mario hadir!), tempat, platform, dan bahkan musik yang bikin aku teringat sama sensasi main video gamenya. Tapi ini sudah bukan lagi jadi pujian. Karena di balik itu semua, petualangan Mario di Mushroom Kingdom, melawan Bowser, terasa kosong. Efek Mario pisah dengan Luigi sama sekali tidak digali. Pas battle terakhir mereka ketemu, dan penyadaran Mario datang begitu saja. Mario cuma ngikut ke mana karakter-karakter lain membawanya, ke mana naskah mengarahkannya, dia tidak benar-benar ‘memainkan’ petualangan itu. Like, masalah banjir di kota saja terlupakan karena Mario masuk ke Mushroom Kingdom. Dan kesempatan Mario balik ke kota dan menyelamatkan kota datang dari pertarungan dia dengan Bowser. Di tengah-tengah itu, Mario never reflect tentang kegagalan dia di awal atau semacamnya. Dia jadi hero dan diaccept keluarga dengan otomatis, petualangannya tidak terasa earned. Melainkan cuma kayak rentetan kejadian seru seperti pada video game. Film ini cuma punya hal-hal yang pernah kita lihat, dan kita lakukan di dalam video game. Tanpa ada konteks yang kuat – or rather, dengan konteks yang dibangun tapi dilupakan – menyaksikan itu semua ya jadinya kayak ngeliat iklan video game terbaru Mario saja ketimbang melihat film yang menceritakan soal Mario dan teman-teman.

Game- eh film Mario baru, with better graphics!

 

Seolah puluhan referensi game Mario belum cukup, film lantas masukin nostalgia 80an secara umum. Membuat film menjadi semakin tampak seperti cuma bergantung kepada nostalgia. Yang paling mengganggu buatku adalah lagu-lagu populer 80annya. Like, why. Aku sumringah setiap kali nada-nada dari game terdengar, mewarnai adegan sebagai background. Sebaliknya, aku mengernyit kenapa lagu Take On Me yang dimainkan saat mereka masuk ke wilayah Donkey Kong, bukannya muterin lagu theme game Donkey Kong. Apa hubungannya lagu-lagu populer itu dengan film dari game, toh gamenya tidak pakai lagu-lagu tersebut. Dari situ saja kita bisa menyimpulkan bahwa film ini ya benar-benar menyasar gelombang nostalgia semata. Enggak benar-benar punya cerita untuk disajikan. Bekerja terbalik alih-alih membangun cerita dan menghiasnya dengan referensi dan nostalgia, film ini justru ngumpulin referensi dan lantas menghubungkan semua itu dengan apa yang akhirnya mereka sebut sebagai cerita. Gak heran film ini jadi terasa tipis, bahkan kosong seperti tak-berhati.

Sebelum ini, aku nonton satu lagi film yang diangkat dari game populer di Nintendo, yang tokohnya juga pria berkumis (tapi bukan tukang ledeng). Tetris. Cerita pembuatan game itu ternyata udah kayak film aksi mata-mata! Kalian bisa baca reviewnya di sini. Dan yang pengen menontonnya, Tetris tersedia di Apple TV+, kalian bisa mulai berlangganan di https://apple.co/3nhEOdf
Get it on Apple TV

 




Urusan game, aku memang lebih suka Nintendo dengan game-game seperti Mario, Donkey Kong, Metroid, Kirby, dan lain-lain. Tapi untuk urusan game yang diadaptasi jadi film, Sega – saingan Nintendo sejak lama – ternyata masih unggul. Sonic satu. Mario nol. Film ini void, terasa kayak gak ada cerita. Padahal berangkat dari set up yang lumayan bikin film kerasa punya kreasi sendiri sebagai adaptasi. Tapi begitu petualangannya masuk, film ini tancap gas dan hanya berubah menjadi suguhan adegan-adegan seperti game. Dan lagu-lagu populer era lawas. Kalo dibilang menghibur dan menyenangkan, ya memang menghibur dan menyenangkan. Tapi bukan lantas berarti sinema, seperti kata Luigi. Iklan sirup aja bisa menghibur kok. Dan memang baru seperti itulah level film ini. Baru seperti iklan.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for THE SUPER MARIO BROS. MOVIE

 




That’s all we have for now.

Pernah dong main game Mario? Power up favorit kalian dalam seantero game Mario apa sih?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MOANA Review – [2016 RePOST]

 

“There’s (should be) more than meets the eyes.”

 

moana-poster

 

Kluk, kluk.

Hei hei, kenalin, namaku Heihei. Kalian tentu sudah menyaksikan petualanganku mengembara samudera dengan Putri Moana, bukan? Wah kalo belum, sayang sekali, kalian tidak melihat betapa keren dan cerdasnya aku di situ.

Wow, aku bisa mendengar sorakan kalian dari sini. Terima kasih, terima kasih. Tadinya kupikir cuma Moana yang bisa melihat kelebihanku. Aku tahu dia suka padaku. Sewaktu remaja dia pernah melarang seseorang untuk menjadikanku ayam goreng. Moana juga sering curhat – bicara padaku. Dan sebagaimana layaknya pendengar yang baik, aku akan mendengar keluh kesahnya tanpa berkedip sampai Moana selesai bicara. Yang biasanya ia lakukan abruptly, yang mana kutahu dia merasa amat terbantu oleh kehadiranku. Dan aku tahu kalian juga suka padaku. Setiap kali aku beraksi di layar, kalian pasti berseri dan tertawa-tawa.

Padahal sebenarnya aku seekor ayam biasa di desa. Well, oke, aku sedikit lebih tampan sih dibandingkan ayam-ayam lain. Mataku indah, sebesar bola pim… tenis! Kerjaanku sehari-hari di pulau ya cari makan, sama kayak penduduk desa yang lain. Aku suka matukin batu, selera makanku cukup gede. Kalian tentu sudah melihat betapa festivenya penduduk desa kami. Kehidupan suku kami memang menyenangkan seperti itu; bikin kerajinan tangan, memanen hasil-hasil alam sambil bernyanyi. Pemandangannya indah. Semuanya pada betah, tidak seorangpun mau repot penasaran terhadap apa yang ada di seberang lautan selepas batu karang sana. Yang kami tahu hanya ada ombak besar. Berbahaya. Lagipula ada legenda yang mengatakan penduduk harus tinggal di pulau.

Ladies and Gentlemen, sambutlaaaahhh: The Rock!!!

Ladies and Gentlemen, sambutlaaaahhh: The Rock!!!

 

Tidak seorangpun yang bermimpi untuk berlayar, kecuali Moana. Anaknya pemberani sekali. Moana adalah putri dari kepala suku kami, jadi tinggal tunggu waktu sebelum Moana diangkat menjadi pemimpin baru. Masalahnya adalah, Moana suka sekali sama air. Beneran. Dia pernah nekat berlayar bareng Pua si babi, dan sampan kayu mereka hancur dengan sukses diterjang ombak. Aku bersumpah untuk tidak akan jadi sebego Pua. Aku akan menjauh sejauh-jauh mungkin dari pantai.
Kemudian seantero desa terkena masalah, kelapa pada menghitam, panen-panen busuk. Legenda mengatakan ini adalah kutukan dari Te Fiti. Satu-satunya cara mencegah ‘wabah’ ini menyebar adalah dengan mengembalikan hati Te Fiti yang dibawa kabur oleh Maui, seorang Setengah-Dewa yang menghilang setelah kalah berantem sama sesosok makhluk kuno.

Langkah kaki mantap membawaku ke naungan sebuah gua yang besar dan tersembunyi. Sepertinya tidak ada penduduk desa lain yang tahu tempat ini. Kupikir jika tinggal di dalam gua leluhur suku Moana dengan banyak perahu-perahu yang ditinggalkan ini, maka aku bisa selamat meski seluruh pulau mati. Bukankah aku sudah bilang bahwa sebenarnya aku ini pinter? Hah! Aku ngendem di dalam salah satu kapal yang berisi banyak benda yang bisa kupatuki. Rencanaku sudah sempurna. Jadi jangan ketawakan aku yang teriak sekenceng-kencengnya begitu kali berikut aku diangkat oleh tangan lembut nan tegap Moana, aku mendapati kami berdua berada di tengah-tengah lautan biru!

Kukuuuuuuuukkkk!!!!

Kalian terkagum oleh ANIMASI LAUT YANG BEGITU REALISTIS sehingga kalian merasa kebawa seger dan ingin menyentuh air kepulauan tropis yang hangat nan indah. Well, aku bisa kasih tau; Airnya Dingin! Setidaknya bagi bulu ayamku. Aku sebenarnya mencoba kabur, namun Moana yang kini sobatan sama lautan berkat kekuatan dari jimat hati Te Fiti, malah mengurungku di dalam perahu. Misi kami adalah menemukan Maui. Moana memang nekat, despite her father’s wishes, dia tetep aja bertualang di lautan to set things straight.

Situasi yang memburuk bukan berarti adalah kesalahan dari orang yang kebetulan lagi memimpin. Akan tetapi, pemimpin kudu berani untuk mengambil resiko, to take on action untuk segera menyelesaikan masalah yang ada demi kebaikan yang lebih besar bagi semua orang.

 

Tapi senekat dan seberaninya Moana, sebenarnya ada satu masalah: cewek itu enggak tahu caranya mengemudikan perahu layar. Petualangan seru kami semakin menjadi kocak setelah Maui beneran bergabung. Mulanya aku agak bete lantaran makhluk sok-jago itu menyebutku sebagai kudapan. Namun ternyata hatinya cukup baik, dia peduli pada kesehatanku di laut, Maui kerap memberi biji-bijian untuk aku makan. Psst, Maui secretly ngefans loh sama aku, terbukti dari ketika ia kelepasan berubah wujud nyamain diriku yang tamvan pakek v. Sebaliknya, yang paling aku suka dari Maui adalah tatonya. Sekujur tubuh Maui ada tato yang bisa bergerak dan punya pikiran sendiri. Tato Maui bisa protes dan bereaksi terhadap tindakan Maui. Dia bicara kepada tato-tatonya, malahan ia sering dibikin jengkel lantaran tato tersebut kerap menyuruh Maui ngelakuin the right things to do; membantu Moana.

Aku terhibur sekali sepanjang perjalanan. Aku pikir kalian juga. Menyenangkan sekali melihat hubungan ombang-ambing antara Moana dan Maui, mereka bertengkar padahal mereka harus belajar bekerja sama. Dwayne Johnson menunjukkan kepawaian skillnya dalam dissing people dan ngomong tinggi terhadap dirinya sendiri. Sebagai tulang punggung cerita, reaksi dan timing dan ekspresi Auli’I Cravalho enggak menunjukkan kalo ini adalah debut voice-actingnya. Petualangan kami hidup oleh interaksi mereka. Aksi-aksi yang kami lewati pun sangat seru. Jangan salah, peranku vital loh! Kemampuanku menelan benda-benda keras jauh lebih bermanfaat dibanding keimutan si Pua. I eventually got hurt dalam pertarungan besar kami di akhir cerita. Meski begitu, aku bersyukur enggak terlibat sekuens di bawah laut saat Moana dan Maui berhadapan dengan seekor karakter ala-ala bajak laut yang sangat original. Soalnya aku masih menggigil akibat sebelumnya nyaris game over di tangan monster-monster Kakamora yang kayak buah kelapa yang mengejar perahu kami.

Mad Max Polynesian Road!

Mad Max Polynesian Road!

 

Semua tropes Disney klasik favorit pemirsa sekalian, hadir dalam kisah kami. Narasinya rada-rada klise; Dua tokoh lead yang saling enggak akur, hero yang beranjak dewasa yang belajar banyak tentang kehidupan – yang ternyata lebih luas dan lebih besar daripada dirinya sendiri. Pesona kisah kami terletak di setting budaya Kepulauan Polynesia yang baru pertama kali diangkat dan dijadikan fokus oleh Disney. Berbalut MITOS YANG FASCINATING. Aku beruntung bisa jadi bagian dari kehidupan sosial di sana. Aku beruntung bisa berada di tengah-tengah kejadian. Aku beruntung bisa kenal Moana. Dan kupikir, just get to watch her blossoms into something beautiful membuat kalian sama beruntungnya sepertiku.

Moana dan Maui juga pandai bernyanyi. Ada lebih dari satu lagu yang bikin buluku berdiri. Adegan musikal yang ada terdengar dan terlihat megah sekali. How Far I’ll Go could be the next Let It Go, catchy dan fun to listen to. Kalo ayam bisa nyanyi pastilah aku juga sudah ikut bernyanyi. Harapanku semoga lagu tersebut tidak jadi annoying, sih, kayak Let It Go yang mentang-mentang bagus, diputerin terus. Untungnya kami tidak punya radio atau internet di pulau. Kalo didenger-denger lirik lagu-lagu yang mereka nyanyikan memiliki arti dan turut berkembang bersama perjalanan mereka.

Memang, petualangan kami bertiga tidak sepadet kisah rekan-rekanku di film Zootopia (2016) yang pake baju dan bisa berbicara. Perjalanan kami lebih mudah diikuti oleh anak-anak karena tidak banyak yang tersembunyi di bawah permukaan. Zootopia yang bertema lebih mature akan membuat penonton tenggelam dalam pikiran demi pikiran yang menantang. Pesan dalam Moana lebih tembak-langsung dan dibumbui oleh banyak humor ringan dan sekuens aksi yang seru. Nilai entertainment petualangan kami jauh lebih tinggi. Kalian bisa bernyanyi, tertawa, dan terkagum oleh animasi tanpa perlu banyak berpikir. Kalian enggak perlu pinter banget dulu untuk ngakak melihat kelakukan dan tampang blo’onku.

Berkat Moana suku kami sukses mengarungi hidup yang lebih baik. Kemandiriannya mengajarkan banyak hal, terutama buat anak cewek. You don’t need to wait to be saved, that you can take the matters to your own hands and save all things you loved yourself. Bahkan mengajarkan hal tersebut kepada pria sekuat Maui yang berhasrat dielukan sebagai pahlawan; kita perlu bergerak untuk mewujudkan yang kita inginkan. Atau malah kepada seekor ayam, a village-idiot, sepertiku. Moana percaya ada sesuatu yang lebih deep, deep inside of me, dan itu membuatku sendiri percaya bahwa mungkin aku memang lebih pintar daripada kelihatannya. There’s more than meets the eyes. There should be. Kukukruyuuk!! #thechickenlives

 




Animasi luar biasa – dari tahun ke tahun Disney terus nunjukin peningkatan yang signifikan dalam urusan visual, voice acting yang benar-benar hidup, musical numbers yang megah, moral yang baik, pesan yang berharga, semua yang bisa kita minta sama animasi klasik Disney ada di sini. Ceritanya sangat exciting dan menyenangkan. At the same time, film ini enggak really punya banyak di dalam benaknya. But that’s not necessarily a flaw. Karena dirinya adalah film yang sangat menghibur, anak-anak akan menyukainya sementara orang yang lebih dewasa akan bisa terpuaskan melihat sorotan budaya yang disuguhkan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for MOANA.

 




That’s all we have for now.

Special thanks to Heihei the bantam rooster for typing his pieces.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.