X Review

 

“The old often envy the young”

 

 

 

Horor mirip ama bokep. Keduanya adalah genre yang ditonton orang-orang bukan untuk plot. Penonton memilih film horor supaya bisa melihat karakter-karakter mati mengenaskan. Nilai plus bagi penonton kalo si karakter itu sempat telanjang dulu sebelum dibunuh ajal (which is why paduan horor-bokep easily jadi yang paling laris). Sementara bokep sendiri, jelas,  penonton cuma mau melihat orang gak pakai baju, dalam apapun situasi fantasi mereka. Keduanya adalah eksploitasi,  dan yang terburuk dari mereka adalah bahwa keduanya penuh oleh male-gaze. Tentu saja gak semuanya begitu, ada juga pembuat-pembuat yang mencoba membuat horor, maupun porn, sebagai sebuah seni. Dalam horor, lahir istilah elevated-horor. Horor yang artsy banget, sampai-sampai susah untuk dimengerti. Dalam bokep, I don’t know honestly, tapi dalam film X yang merupakan comeback horor sutradara Ti West ada karakter filmmaker bokep yang berusaha membuat tontonan yang benar-benar nyeni dan cinematik. Memang, fenomena horor dan porn yang saling bersilangan ini jadi circle back together di bawah X (come to think of it, aku jadi gak yakin judul film ini dibacanya memang “ex”, atau “cross”) yang merupakan produksi studio A24. Studio yang khusus bikin apa yang disuka oleh orang banyak dengan gaya yang super duper nyeni.

Yang Ti West bikin kali ini memang film yang ada unsur horor dan bokepnya. Tapi bukan dalam sense ‘horor-bokep’ seperti yang dulu sempat hits banget di negara kita. West membuat sebuah sajian horor yang seperti ditarik langsung dari jaman puncak kebangkitan mainstream genre ini (akhir 70-an) dengan cerita tentang sekelompok kecil pembuat film dewasa.  Mereka menyewa kabin di daerah pedesaan Texas, tapi enggak bilang kepada pasangan tua yang punya kabin tersebut kalo bangunan dan lokasi sekitarnya itu akan dijadikan lokasi suting film bokep. Siang harinya memang suting mereka berjalan lancar (yang berarti peringatan kepada kalian untuk tidak menonton film ini saat sedang berpuasa). Pas malam tiba, baru semua rusuh. Nenek tua yang sedari siang ngintipin mereka mulai kumat dan membunuh semua tamunya satu persatu.

Jenna Ortega sekali lagi bermain di film yang bicara tentang elevated horror.

 

 

Biasanya film-film A24 memang cukup angker bagi penonton mainstream. Karena memang biasanya nyeni dalam kamus mereka berarti film yang bercerita dengan pace lambat, minim dialog, dan secara general sukar untuk langsung dimengerti. Film X ini tidak dibuat dengan seperti itu. X ini benar-benar dibuat mainstream. Dibuat untuk bikin penonton merasakan sensasi sama dengan saat menyaksikan horor, atau bokep. Seperti yang kubilang, jangan nonton ini pas puasa karena adegan-adegan filmmaking mereka meskipun dibuat dengan sinematik tapi tetap straightforward. Kalian bahkan perlu buat ngecilin suara untuk beberapa adegan tertentu. Elemen horornya pun dibuat sedekat mungkin dengan horor ‘fun’ yang biasa kita cari kalo lagi kepengen nonton sambil santai. Lokasi terpencil. Orangtua aneh dan menyeramkan. Pembunuhan sadis berdarah-darah. Ke-overthetop-an kejadian sebagai kontras efek low budget yang jadi pesona khas horor jadul juga ada. Bahkan hewan buas juga jadi aspek horor di sini. Era 79 yang dijadikan latar waktu cerita memang terasa sangat hidup. Kamera, audio, desain produksi. Semuanya membuat film ini kayak beneran dibikin di tahun segitu. Dengar saja dialognya yang kayak percakapan jadul. Kurang lebih pencapaiannya mirip ama Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas (2021) yang berhasil melukiskan era action 80-an. Film X ini vibenya mirip banget sama The Texas Chain Saw Massacre original (1974). Bahkan set up cerita yang mereka semua datang dengan mobil van, terus lokasi dan rumahnya yang bakal jadi TKP-nya pun pasti bakal ngingetin fans horor kepada film si Leather Face. Yang selalu paling kuapresiasi tentu saja adalah gak ada jumpscare suara-suara pencopot jantung sama sekali. Adegan yang mengagetkan buat karakter dalam cerita sih ada, tapi tidak pernah disertai dengan treatment yang memaksa kita untuk melompat dari kursi.

Di situlah letak seninya. West benar-benar menguatkan pada kreasi. Dia memilih setting dan estetik 70-80an bukan tanpa alasan. Bukan sekadar throwback nostalgia. Tema yang disilangkannya di sini adalah soal tua dan muda. Secara visual dan penampakan luar, film ini membawa kita ke horor jadul, tapi dia menambahkan unsur-unsur kebaruan – unsur yang mendobrak – merayap di balik itu semua. Pertama kamera, West menggunakan kamera melayang di atas pada beberapa adegan yang bikin kita menahan napas, seperti pada adegan di danau (dengan buaya gede!) dan adegan di ranjang (protagonis kita ngumpet di bawah kolong). Kamera itu ngeshot dari atas langsung ke bawah, kayak lagi tengkurap di langit. Menghasilkan pandangan wide yang kerasa benar-benar horor dan mencekat yang ada di bawah. Penggunaan kamera demikian seperti benar-benar menempatkan film di batas antara film lama dengan film baru. Terasa modern dengan semacam drone, tapi juga closed dan feel traditional dengan scare yang dihasilkan. Ada satu lagi teknik aneh yang dipakai oleh West, yaitu editing transisi pada beberapa adegan. Meski gak berhubungan dengan old-and-new, tapi editing ini in-theme dengan gambaran atau simbol X yang diangkat. Karena West memang menyambungkan dua adegan berbeda seperti saling silang. Agak sulit digambarkan dengan kata-kata, tapi kalo dari urutan editing tersebut bekerja begini: Adegan B akan masuk gitu aja saat Adegan A masih berlangsung, selama beberapa detik lalu balik lagi ke Adegan A, lalu baru benar-benar tiba di Adegan B. Tadinya kupikir ini kesalahan editing, karena tau-tau ada adegan sapi saat mereka ngobrol di dalam mobil. Tapi ternyata editing masuk bersilangan itu muncul sekitar dua-tiga kali lagi sepanjang durasi.

Secara kronologi adegan juga film ini bergaya. Cerita actually dimulai dengan polisi menyelidiki rumah dan menemukan banyak korban. Lalu kita dibawa mundur dan melihat kejadian apa yang terjadi di sana sebelumnya; kejadian itulah yang jadi menu utama film. Sekilas memang ini struktur kronologi yang sudah lumrah digunakan oleh film-film. Tapi sesungguhnya di film ini, struktur tersebut punya fungsi yang lebih signifikan ke dalam tema besar narasi. Dengan menjadikannya berjalan seperti demikian, West membuat cerita film ini menjadi melingkar. Namun dengan karakter reveal yang jadi saling bersilang. Penting bagi kita untuk mendengar ‘pengajian’ gereja di televisi itu duluan karena itu bagian dari development karakter utama, yang nanti bakal ngecircled back berkat struktur melingkar, menandakan pembelajaran karakter yang jika dilakukan dengan linear maka hanya akan terasa ambigu.

Pelototkan mata untuk berbagai adegan yang ‘meramalkan’ kematian karakter-karakter

 

 

Bagian terbaik yang dilakukan film ini terkait tema old-new tersebut adalah karakterisasi tokoh-tokohnya. Seperti halnya horor jadul, karakter yang hadir di X pun sering melakukan pilihan bego. Keputusan mereka sering bikin kita ketawa. Kayak karakter si Jenna Ortega yang setelah diselamatkan, tau-tau malah marah dan pergi gitu aja. Hebatnya, mereka gak hanya tampil bego untuk mati. Mereka gak otomatis annoying, karena film sesungguhnya mendekonstruksi stereotipikal karakter mereka. Dalam horor jadul, yang mati duluan adalah karakter yang ‘nakal’, yang biasanya adalah cewek pirang yang isi otaknya cuma berduaan sama pacarnya, si atlet yang pikirannya ngeres. Final Girl (protagonis/heroine) film jadul selalu adalah cewek baek-baek, yang erat ditandai oleh si karakter masih perawan. Film X merombak ulang semuanya. Yang mati duluan di sini adalah karakter yang tidak have sex, at least tidak di depan kamera. Cewek pirang di sini otaknya berisi pemikiran progresif tentang peran wanita dan kemandirian. Protagonis alias Final Girl cerita adalah Maxine (diperankan oleh Mia Goth yang setengah wajahnya dikasih freckles), salah satu bintang film bokep yang mereka bikin. Arc Maxine benar-benar kebalikan dari sosok Final Girl tradisional.

Konstruksi karakter tersebut membuat film dengan vibe 70an ini jadi relevan. Dengan Final Girl yang bukan lagi ‘orang suci’, film X ingin mengangkat diskusi soal pandangan lama yang sepertinya sudah kadaluarsa di masa modern. Pandangan soal otonomi perempuan dalam hidup atau karirnya. Pembicaraan karakter film ini seputar menjadi seorang bintang bokep (atau soal membuat film porno sebagai sebuah pekerjaan, yang juga bagian dari seni) mirip dengan persoalan di dunia kita mengenai pelacur yang statusnya dinilai lebih terhormat. Tentunya ‘antagonis’ yang tepat untuk perspektif ini adalah agama. Old couple yang jadi pembunuh dalam cerita berasal dari keluarga yang taat beragama, mereka mendengarkan dakwah degradasi moral anak muda. Di tangan yang salah, bidak-bidak ini akan berkembang menjadi cerita yang bakal ofensif dan one-sided. Memojokkan agama. X di tangan West tidak pernah menjadi seperti itu. Bahasan agama ia handle dengan hati-hati. Dikembalikan kepada karakter itu sendiri. Perhatikan perbedaan intonasi dan pilihan kata Maxine saat menyebut dirinya adalah simbol seks di depan cermin pada beberapa adegan. Those would reveal banyak hal, mulai dari development karakter (realisasi dianggap objek hingga menjadi subjek) hingga sedikit backstory karakter itu.  See, dalam menganani bahasannya, film ini jadi sangat ber-layered, akan mudah melihat film menjadi ambigu jika kita ketinggalan satu lapisan. Yang ultimately membuat X jadi punya rewatch value tersendiri.

Tema old-new tadi digunakan untuk memperhalus lagi bahasan sensitif  tersebut. Film tidak sekasar itu menyebut pasangan tua itu jadi sadis karena maniak agama. Film membawa bahasannya ke arah mereka sudah tua, sudah terlalu lama menahan diri. Terlalu lama mengejar bahagia di hari nanti. Kenapa tidak bahagia di masa muda? Konflik film ini sebenarnya bisa disederhanakan sebagai sebuah rasa penyesalan di usia tua. Maka dari itulah West ngasih Mia Goth dua peran. West membuat si Nenek Tua diperankan juga oleh Mia sehingga adegan-adegan antara Maxine dengan si Nenek punya bobot yang lebih besar – kita jadi mengerti si Nenek bisa melihat Maxine sebagai dirinya di masa muda, sebagaimana juga kita melihat Maxine gak mau menjadi seperti Nenek nanti saat tua. Again, karakter mereka juga jadi simbol seperti X yang saling bersilangan.

Alasan Nenek Tua membunuh semua orang (bukan hanya geng Maxine saja, tapi sepertinya beliau sudah sering melakukan ini sebelumnya) bukan semata karena sange. Si Nenekiri dengan anak muda yang masih bisa mengejar segalanya, Iri sama anak muda yang berani memilih untuk bahagia atas kemauan dan sebagai dirinya sendiri. Orang tua memang selalu cemburu kepada anak muda. Karena anak muda punya kekuatan untuk memilih.

 

 

 

Ini boleh jadi adalah horor favoritku tahun ini (belum bisa mutusin, karena baru bulan Apriilll!!). But for sure, film ini beneran keren dan dibuat dengan penuh kreasi dan pemikiran. Film ini membuktikan kalo sajian horor artsy gak harus selalu berat. Sekaligus membuktikan horor mainstream yang fun dan ‘genre’ abis, serta bahkan yang tampak eksploitatif sekalipun, bisa sarat oleh muatan dan memantik diskusi. Horor yang fun gak musti total bego di atas sadis dan seram. Setiap film, apapun genrenya, dapat menjadi tontonan yang menarik dengan naskah cemerlang, gaya yang asik, dan sutradara yang benar-benar peduli sama craft dan punya visi. Film ini punya semua itu. Ada banyak lapisan untuk dibincangkan. Tak lupa sebagai horor, dia mengerikan – punya antagonis creepy, pembunuhan sadis, setting terkurung, dengan stake hidup atau mati. Paduan atau persilangan yang benar-benar seimbang.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for X.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menjadi bintang bokep lebih mulia daripada maniak agama?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TEXAS CHAINSAW MASSACRE Review

“To live is to be haunted”

 

Rekuel, istilah untuk sekuel-reboot seperti yang sudah disebutkan oleh Scream (2022), sepertinya beneran sudah jadi go-to plan oleh studio yang ingin menghidupkan kembali franchise atau judul ikonik miliknya. Rekuel ini menjadi hits terutama dalam genre horor. Bikin sekuel dari cerita original puluhan tahun yang lalu dengan judul yang sama dengan original dan meniadakan sekuel-sekuel lain mereka sebelumnya, telah dilakukan oleh Halloween, Candyman, Wrong Turn, Child’s Play, hingga ke Scream itu sendiri. Dan sekarang, giliran Texas Chain Saw Massacre turut serta. Nyaris lima-puluh tahun sejak film originalnya. Tentu saja ini adalah taktik untuk nyari duit yang lebih gampang; alih-alih bikin cerita atau tokoh horor original yang belum tentu disukai orang, kenapa tidak bikin kembali dari yang sudah ada. Scream, being meta dan suka ngejek genrenya sendiri, sudah ngasih tahu ke kita bahwasanya rekuel ada yang bagus dan gak sedikit juga yang cuma cash-grab murahan. Rekuel yang bagus adalah yang menghadirkan stake, gak sekadar munculin karakter lama lalu lantas either mendewakan atau membunuh mereka gitu aja. Dan Texas Chainsaw Massacre, sayangnya, termasuk ke dalam bagian rekuel yang disebut Amber dalam Scream sebagai “bullshit, cash-in, run of the mill sequel.”

texasthe_texas_chainsaw_massacre_netflix
To be fair, film ini berontak dari aturan rekuel karena judulnya ama film original beda di ‘The’ dan spasi doang

 

 

The original The Texas Chain Saw Massacre (1974) jadi kesayangan kritikus dan penggemar horor karena film tersebut tidak pernah cuma sekadar tontonan ‘pembantaian dengan gergaji mesin di Texas’. Film tersebut dipertimbangkan banyak orang sebagai horor seni sebab di balik kekosongan plot dan beberapa breakthrough yang dilakukan pada jaman itu, sutradara Tobe Hooper memang bercerita dengan implisit.  Film itu kita kenang sebagai film yang sadis bukan karena menonjolkan darah dan bunuh-bunuhan secara terang-terangan. Coba deh kalian tonton lagi. Sebenarnya adegan pembantaiannya dilakukan dengan cut dan editing yang sangat precise, horor itu sesungguhnya ada di imajinasi kita, film ini ‘hanya’ menceritakan dan ngebuild upnya dengan sempurna. Tidak hanya itu, ada anyak lapisan yang bisa kita kupas saat menelurusi narasi dan elemen-elemen horor tadi. Bahkan pernah dilaporkan sutradara horor fantasi asal Spanyol Guillermo del Toro sampai sempat berhenti makan daging untuk beberapa waktu setelah menonton film ini. Bukan karena jijik, tapi karena pembicaraan para karakter seputar perilaku manusia dalam konsumsi daging benar-benar telah merayap menghantui dirinya.

David Blue Garcia, selaku sutradara untuk Texas Chainsaw Massacre baru ini bukannya tidak mencoba untuk memberikan lapisan. Film ini berusaha mencuatkan keadaan masa kini supaya filmnya relevan, seperti film original yang memotret kawula muda pada jamannya. Bahasan hidup bebas, dinamika keluarga, dan sedikit komentar soal rasis/kependudukan yang marak di tahun 1970an kini berganti dengan bahasan yang secara esensi tidak banyak berubah, tapi ya terasa dekat dengan permasalahan dunia modern. Kelompok anak muda yang ada di sentral narasi adalah influencer, yang punya visi untuk mengubah kota mati Harlow di pinggiran Texas menjadi tempat hidup untuk komunitas anak-anak muda. Istilah yang tepat sepertinya adalah gentrifikasi (bahasan yang juga ada di film Candyman terbaru). Jadi, mereka datang ke tempat asing, dan mau mengubah tempat itu jadi galeri seni dan segala macam. Cekcok dengan warga lokal tentu tak dapat dihindarkan (meskipun bisa diatasi dengan terbuka). Real problem datang ketika salah satu bangunan panti asuhan yang ada di kota itu ternyata masih dihuni sama nenek tua yang menolak untuk dipindahkan. Malang bagi para anak muda, sosok besar yang telah melupakan naluri pembunuhnya ternyata tinggal dan nurut sama si nenek. Dan ketika si nenek akhirnya tiada karena ribut-ribut, si sosok itu mengenakan kulit wajah si nenek sebagai topeng, mengambil senjata pusakanya yang disimpan di balik tembok rumah, dan mulai membunuhi orang-orang muda yang mengusik kota tempat tinggalnya.

Nonton ini aku jadi seperti mengerti kenapa film-film horor tu selalu bikin karakter-karakter mereka bego. Karena film mau kita menikmati pembantaian para karakter. Menurutku, asal bukan karakter utama yang bego sih, oke-oke aja. Keasikan film ini datang dari menyaksikan Leatherface menghabisi anak muda yang kita gak tahu siapa mereka. You know, semacam keasikan yang kosong. Film justru makin napsu dengan memasukkan ‘penanda jaman’ semakin lanjut. Adegan ketika para turis kejebak di dalam bus bersama Leatherface jadi adegan paling menghibur karena begitu dungu. Kita tidak bersimpati, malahan di momen itu kita justru seperti berada di pihak Leatherface. 

Lapisan dramatis dan emosional film ini juga diniatkan datang dari karakter Lila (Kasian banget Elsie Fisher jadi kayak turun kelas main di film ini) yang diceritakan sebagai seorang penyintas dari peristiwa penembakan massal di sekolahnya. Karakter inilah yang diparalelkan ke karakter legend, Sally Hardesty (diperankan oleh Olwen Fouere karena Sally yang ‘asli’ telah berpulang ke Rahmatullah), protagonis di film original yang jadi satu-satunya survivor rumah jagal Leatherface. Sayangnya niat tersebut tidak benar-benar berbuah karena kedua karakter ini justru kurang matang dikembangkan oleh film. Selain sering melirikkan kamera ke bekas luka tembak Lila, film gak pernah benar-benar mengeksplorasi trauma karakter Lila. Hubungannya yang renggang dengan karakter kakaknya pun jarang dicuatkan. Film yang durasinya cuma 80 menit ini lebih banyak berkutat di adegan kucing-kucingan dengan Leatherface. Sudut pandang dipindah-pindah antara Lila, dan kakaknya, Melody (Sarah Yarkin berakting standar karakter horor) sehingga film ini gak punya karakter utama yang jelas. Sally pun tak tampak sebanding dengan Laurie Strode di rekuel Halloween ataupun dengan Sidney Prescott di rekuel Scream. Kemunculannya hanya supaya ada karakter legend, arc-nya kayak dipaksain ada, dan penyelesaiannya pun lemah. Film mau bikin rivalry antara Sally dengan Leatherface, tapi gak mampu untuk menulisnya. Jadi kayak berantem biasa aja, interaksi spesial itu tidak bisa film ini ciptakan. Ending film original malah jadi biasa aja saat kita tahu ternyata dia selamat hanya untuk jadi yang ia lakukan di film ini.

texas67562-1643705072
Sinopsis singkat, cek! Muji ala kadar, cek! Time for the caci maki!!!

 

Sesuatu yang gak membunuhmu, akan membuatku kuat. Tapi itu kalo kita tidak tenggelam dalam rasa trauma. Hidup akan terus dihantui oleh sesuatu yang mengerikan di masa lalu. Bagi Lila itu adalah penembakan, dan bagi Sally itu adalah si Leatherface. Lila perlu belajar untuk seperti Sally, yang kini sudah jauh lebih capable ketimbang dirinya berpuluh tahun yang lalu.

 

Gore dan bunuh-bunuhan yang sangat eksplisit jadi satu-satunya elemen yang membuat film ini watchable. Namun tentu saja itu gak bakal bikin film ini memorable. Gak akan bisa menjejak sekuat film originalnya. Apalagi film rekuel ini hadir di platform; sekarang jaman platform, kita bisa tinggal skip ke bagian bunuh-bunuhan aja. Aku bisa nonton bagian pembunuhan di menjelang akhir yang gokil itu beratus kali tanpa nonton film utuhnya. Penonton bisa gak peduli pada cerita dan actual things yang disampaikan film ini secara setengah-setengah. This is not good, bukan hanya untuk film ini, tapi juga untuk genre slasher horor keseluruhannya ke depan nanti. Jangan sampai penonton hanya ingin mencincang film dan skip ke bunuh-bunuhannya aja. Maka cerita dan karakter itu haruslah ditulis dengan kuat. Texas Chainsaw Massacre perlu lebih fokus dan menguatkan kengerian dari narasi, dari suspens, dari lingkungan dan konflik. Kota mati di film ini enggak menarik, mereka hanya nampilin kota yang kosong. Yang suasananya bahkan enggak seram. Atmosfer ini yang harusnya dibangun oleh film. Enggak semata mengeksploitasi Leatherface dan sadisnya saja.

Karena memang yang paling insulting untuk fans adalah si Leatherface itu. Dalam film original, karakter yang terinspirasi dari serial killer beneran ini diberikan lapisan psikologis. Dia kayak orang dewasa yang mentalnya masih anak-anak, yang besar di keluarga ‘tradisional’. Sedikit simpati yang kita rasakan untuk karakter penjahat utama ini datang dengan natural, dari momen-momen kecil yang menampilkan kevulnerableannya sebagai anggota keluarga tersebut. Dan Leatherface di original itu enggak superhuman. Bisa sakit, bisa dikalahkan. Tidak tertinggal di belakang, dan bisa mendadak muncul di tempat lain dengan cepat. Sedangkan di film terbaru ini, Leatherface udah kayak orang yang berbeda. Hanya kayak penyendiri. Dia sekarang kayak gabungan antara Michael Myers dengan Norman Bates. Mulanya film seperti pengen menarik simpati dari dia yang kehilangan pengasuh yang ia sayangi, dari dia yang terusir dari rumah, tapi kelamaan dia jadi semakin inhuman, dan film harus membuat karakter-karakter lain ignorant nan bego supaya kita ‘ada rasa’ ke Leatherface. Film bahkan membuatnya menari dengan chainsaw, meniru ending film original, tapi melihatnya itu ada feeling yang beda. Jika di original rasanya kompleks, hubungan korban yang kabur dengan mangsa itu menghantam kita dengan perasaan bercampur. Maka di film ini, rasanya yang datar aja, kita bahkan mungkin sudah full mendukung si Leatherface karena dia kuat, dia berhasil membantai orang-orang yang mengusik.

 

 

 

Bar-bar aja gak cukup. Yea, ketakutan penonton mungkin bisa terceklis dengan menghadirkan adegan pembunuhan yang openly brutal, bisa bikin nahan napas dengan adegan sembunyi-sembunyian, tapi film juga harus punya suspens dan tensi yang natural, yang berasal dari dinamika karakter. Itulah yang tidak dipunya oleh rekuel yang digarap dengan sangat basic ini. Naskah pengen memuat banyak lapisan, tapi tidak ada yang berhasil dikembangkan dengan drive yang alami. Film ini hanya seperti menempelkan gagasan, dan meng-overdid the characters. Kita tidak lagi takut dan peduli karena karakternya membunuh karena merasa terusik. Film meninggalkan semua itu dan memilih untuk mengubah semua elemen ceritanya menjadi inhuman dan datar. Se-uninspired setnya. Hampir seperti film ini sendiri dipasangi topeng yang membuatnya amat sangat jelek. Just ugly. 
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for TEXAS CHAINSAW MASSACRE

 

 

 

That’s all we have for now

Adegan pembunuhan mana yang jadi favoritmu di film ini? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

12 HOUR SHIFT Review

“Doctors treat illnesses, nurses treat people”
 
 

 
 
Mendengar cerita dari teman-teman yang kuliah di Kedokteran, jaga malam di klinik atau rumah sakit seringkali menjadi pengalaman yang rusuh dan seru. Mulai dari cerita horornya sampai ke cerita kedatangan pasien yang gak abis-abis. Menonton horor komedi 12 Hour Shift seperti benar-benar menghidupi pengalaman tersebut. Cerita yang diset ‘Pada suatu malam di Rumah Sakit di Arkansas 90an’ penuh oleh kejadian-kejadian chaotic seputar aktivitas jaga. Yang oleh sutradara Bea Grant – langganan berperan di film horor membuat Grant jadi punya perspektif dan visi tersendiri untuk genre ini – diperkuat volume kerusuhannya. Karena di sini Grant benar-benar menjungkirbalikkan image rumah sakit dan perawat itu sendiri. Membenturkannya dengan realita kehidupan yang keras untuk seorang wanita yang mengais kehidupan dari lingkungan berlatar malam.
Tokoh utama cerita ini bukan perawat putih baik hati, cakep dengan senyum pepsoden. Mandy (perawakan dan permainan gestur Angela Bettis pas sekali menangkap kehidupan keras yang membesarkan tokohnya) tampak ‘dekil’ dan gak-lebih sehat daripada pasien-pasien yang harus ia jaga. Kita diperkenalkan kepadanya saat tokoh ini sedang merokok. Dan later, dia mencuri pil obat. Lantas menghancurkan dan menghirupnya. Malam itu, Mandy bekerja dobel shift. Jelas dia butuh duit. Dan bahkan dobel shift itu belum cukup baginya. Karena Mandy punya ‘kerjaan’ lain. Sebagai perawat, Mandy memang cukup telaten dan bertanggungjawab terhadap pasien-pasiennya. Namun dia juga gak segan-segan menuangkan pemutih pakaian ke minuman pasien yang penyakitnya sudah parah. Mandy mempertimbangkan ini baik-baik. Ia memilih pasien mana yang akan diambil organnya. Untuk ia jual. Kekacauan itu datang dari sini. Saat sepupu Mandy yang bertugas menjadi kurir – yang mengantarkan ginjal dari Mandy ke underground buyer – malah menghilangkan ginjal tersebut. Dengan ancaman ginjal miliknya sendiri yang bakal jadi pengganti, sepupu Mandy kini menyusup ke rumah sakit sebagai perawat. Mencari ginjal baru, walaupun ginjal itu masih di dalam tubuh pasien yang sehat. Dan Mandy-lah yang kalang kabut berusaha membereskan keadaan sebab semakin lama sepupu semakin menggila sehingga polisi dan mafia underground tersebut mulai langsung terlibat di rumah sakit!

Dan tiba-tiba, Mick Foley! *cue Mankind music*

 
 
Kerusuhan yang terjadi dari perburuan ginjal yang semakin lama semakin terang-terangan itu diceritakan dalam balutan komedi. Film ini akan membuat adegan suster palsu yang ngaku jadi temen gereja seorang pasien dementia sebelum akhirnya mencoba untuk membunuh si pasien sebagai sesuatu yang lucu. 12 Hour Shift bermain di ranah dark-comedy. Tokoh-tokoh protagonisnya melakukan hal-hal semengerikan kerjaan antagonis, jadi film ini juga adalah cerita anti-hero yang sangat twisted. Dugaanku, enggak semua orang dapat dengan mudah mengapresiasi komedi yang dilakukan oleh film ini.
Untuk memastikan penonton peduli sama karakter-karakter protagonis tersebut, film ini cukup bijak untuk tidak menyandarkan pundak seutuhnya kepada komedi. Memang, film ini hidup oleh karakter yang ‘rusuh’ dan berantakan. Nyawa film ini terletak pada kejadian demi kejadian yang terus naik tensinya seiring kegilaan karakter yang semakin nekat. Namun film ini juga tidak melupakan esensi di balik ceritanya.  Ini bukan film yang dibuat sekedar untuk seru-seruan, kejar-kejaran, dan bunuh-bunuhan. Ada sesuatu yang layak untuk diperbincangkan merayap dalam konteks ceritanya itu sendiri. Karena 12 Hour Shift sebenarnya bersuara tentang moralitas dan pekerjaan. Tokoh kita adalah suster atau perawat yang diperlihatkan cukup peduli terhadap pasien, tapi tidak tahu lebih baik dalam urusan ‘merawat’ dirinya sendiri. Sebagai perawat ia juga dihadapkan kepada kewajiban untuk mengobati pasien-pasien yang seperti dirinya pribadi; junkie yang gak peduli sama tubuh, dan di kesempatan lain Mandy juga terlihat seperti ‘membantu’ terminal patient dengan ‘mempercepat’ kematian mereka – entah itu mereka mau atau tida.
Tindakan Mandy di film ini membuat kita mempertanyakan seperti apa tepatnya peran seseorang terhadap kehidupan orang lain. Pantaskah kita membantu orang lain padahal diri kita justru memerlukan bantuan yang lebih urgen. Bagaimana dengan kehendak orang; etiskah tindakan Mandy yang menyelamatkan dirinya sendiri dengan ‘menyelamatkan’ pasien yang udah parah, meskipun si pasien sudah barang tentu keberatan kalo Mandy minta ijin dulu sebelum mengakhiri derita penyakitnya? Dan bagaimana ketika Mandy ingin mengambil ginjal itu dari seorang kriminal? Rekannya mengangkat bahu dan berkata “May be he deserves it”. Rumah sakit dalam 12 Hour Shift bisa jadi dirancang sebagai paralel dari dunia nyata. Tempat orang-orang berusaha membantu orang lain, tapi sistem mengharuskan membantu diri sendiri dahulu, sedangkan sistem itu sendiri tidak begitu jelas perihal moralitasnya. Ending film ini lantas menunjukkan shift panjang itu praktisnya sama saja tidak berakhir. Tidak putus. Hanya sejenak waktu untuk Mandy bernapas lega, sebelum shift berikutnya tiba. Karena begitulah tuntutan hidupnya. Uang yang ia cari tidak pernah cukup, masalah yang datang kepadanya tidak pernah beres selama ia terus bekerja seperti demikian, dan Mandy sadar itulah dunianya.

Perbedaan antara dokter dan suster/perawat sebenarnya jauh lebih esensial daripada sekadar jumlah gaji mereka. Dokter mengobati penyakit. Suster mengobati orang sakit. Pekerjaan Mandy adalah merawat orang-orang tersebut. Namun merawat yang seperti apa? Bahkan para mafia pun menggunakan istilah ‘taking care of someone’ sebagai kode untuk membunuh mereka. Yang dikerjakan Mandy dalam film ini merefleksikan pilihan moral yang mungkin juga dihadapi banyak dari kita. Dihadapi ketika kata ‘membantu’ saja tidak cukup, dan perlu untuk dipertimbangkan segala sebab akibat yang menyertainya.

 

Kalo milih suster ‘edan’, aku masih lebih prefer Ratched sih

 
 
Dari sinopsisnya, kalian mungkin sudah menebak masalah yang hadir pada penceritaan film ini. Mandy di rumah sakit membereskan masalah yang dibawa oleh sepupunya yang menghilangkan ginjal untuk dikirim ke kurir. Semua situasi itu dikenai kepada Mandy. Tokoh utama kita bukan pencetus langsung dari aksi dan masalah yang ada. Melainkan dia hanya jadi ‘pemberes’. Sepupunya lah yang menarik trigger majunya kejadian demi kejadian. Nyawa sepupunya yang pertama kali berada di dalam bahaya, yang dipertaruhkan. Mandy hanya bereaksi terhadap aksi yang digerakkan oleh sang sepupu. Ini berarti Mandy adalah tokoh utama yang pasif. Jadinya kita lebih seru menonton aksi sepupunya ketimbang Mandy. Karena film juga tidak membiarkan momen-momen dramatis seputar masalah moral dan pilihan Mandy muncul lama-lama di layar. Cerita tidak membawa kita menyelami masalah itu. Melainkan tetap berfokus kepada kejadian-kejadian rusuh yang digebah oleh aksi sepuou Mandy.
Interaksi yang melibatkan Mandy seharusnya dibuat lebih engaging lagi. Candaan mestinya bisa ditulis dengan lebih gamblang dan tidak bernuansa inside joke antara Mandy dengan karakter lain di rumah sakit. Terutama, tempatkan Mandy di posisi yang riskan dan cahaya yang lebih tegas lagi, seperti cerita menempatkan sepupunya. Kita tahu sepupu cewek ini edan, bego, dan nekad. Film menggambarkan Mandy dengan sedikit terlalu berhati-hati. Usaha film membuat tokoh ini relate ke penonton justru berbalik membuat posisi tokohnya semakin gak-tegas. Film tetap seperti ragu menunjukkan bahwa Mandy lebih dekat sebagai seorang anti-hero ketimbang everyday-hero itu sendiri
 
 
 
 
Menarik berkat kejadian-kejadian rusuh yang digambarkan semakin menggila. Film ini didesain untuk membuat kita tergelak melihat kekacauan satu malam akibat karakter-karakter bercela. Hakikatnya, ini adalah dark-comedy yang menarik untuk disimak, berkat suara yang digaungkan di balik ceritanya. Namun secara bangunan cerita, film ini butuh banyak perbaikan. Terutama dalam membentuk karakter utamanya yang masih tampil pasif dan dikenai oleh kejadian dari aksi karakter yang lain. Film ini butuh untuk lebih memperdalam eksplorasi tokoh utamanya sebagai penyeimbang dari kejadian sensasional yang tak-pelak menenggelamkan bukan hanya si tokoh utama melainkan gaung gagasan film ini sendiri.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 12 HOUR SHIFT.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Pantaskah kita membantu diri sendiri dengan dalih membantu orang lain? Setujukah kalian dengan pernyataan kita butuh persetujuan orang untuk dibantu sebelum membantu mereka?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE BABYSITTER: KILLER QUEEN Review

“You will never get over with a crush until you find a new one.”
 

 
 
Ngelupain ‘crush’ atau ‘orang-yang-kita-idolain-ampe-naksir-berat’ itu dapat menjadi hal yang susah untuk dilakukan. Terutama jika ‘pujaan’ kita itu benar-benar dalam kondisi gak mungkin untuk kita dapatkan. Semakin mustahil justru semakin susah. Karena kita penasaran dan tidak mendapat closure terhadap perasaan naksir yang simply tak tersampaikan tersebut.
Tengok saja si Cole. Udah dua tahun. Udah dua film. Tapi dia masih belum bisa melupakan babysitter lamanya yang kece dan keren; Bee. Hubungan yang menarik antara Cole dan Bee memang menjadi salah satu aspek yang bikin kita begitu kepincut sama horor-komedi The Babysitter (2017). Karena bukan hanya sebagai cem ceman, Bee ini udah kayak kakak sekaligus sahabat terbaik bagi Cole. Dan juga, seorang musuh. The Babysitter berubah menjadi horor slasher over-the-top ketika mengungkap bahwa Bee ternyata adalah pemimpin dari klub pemuja setan. Kelompok Bee mengincar darah Cole, si anak polos. Jadi, di samping masih terbayang-bayang sosok Bee, Cole yang sekarang udah SMA juga masih teringat-ingat akan peristiwa mengerikan tersebut. Dia jadi awkard sendiri di sekolah. Orangtua Cole sudah akan mengirimnya ke Psychiatric Academy, jika Cole hari itu tidak kabur ke pantai bersama teman masa kecilnya, Melanie. Namun toh Cole memang tidak gila. Di alam bebas itu, Cole bertemu kembali dengan hantu-hantu dari masa lalunya. Mereka kini bekerja sama dengan geng baru pemuja setan. Dan mereka semua juga belum melupakan soal Cole dan darah innocent Cole yang begitu berharga untuk ritual mereka!

Dan kejar-kejaran konyol itupun dimulai~

 
Aku suka film film pertama; Samara Weaving-nya keren, ceritanya unik, sadisnya fun. Sebagai sebuah sekuel, The Babysitter: Killer Queen ini mempertahankan banyak hal dari film pertamanya. Penonton yang suka dengan gaya gore dan humor lebaynya, sudah pasti akan menggelinjang karena film kali ini menghadirkan lebih banyak ‘tubuh’ yang bakal digunakan untuk eksplorasi kreasi adegan mati yang kocak-kocak. Penonton yang suka dengan gimmick komedi tulisan dan visual akan bernostalgia berat karena film kedua ini menggunakan gimmick yang persis sama. Mulai dari menampilkan judul di opening hingga ke kemunculan momen ‘WTF’ yang dibikin sebagai throwback buat film pertama. Di sekuen finalnya juga; jika film pertama menggunakan lagu We are the Champions, maka di film kedua ini lagu Queen yang dipasang adalah – you guessed it – Kille Queen. So yea, buat penonton yang suka ama sensasi mengenali hal-hal familiar, film ini punya kelebihan pada aspek tersebut. Pemain-pemain yang lama juga semuanya masih lengkap, memainkan karakter mereka terdahulu. Bahkan adegan mati mereka di film ini digambarkan punya kemiripan dengan adegan mati mereka di film sebelumnya. Misalnya, tokoh si Bella Thorne kembali kena tembak di dada dan akhirnya mati dengan kepala yang misah dari badan. Walaupun film terlihat kesusahan untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Samara Weaving (karena karakternya mendapat pengurangan durasi yang cukup besar dibanding pada film pertama), elemen horor yang konyol masih dihadirkan dengan level maksimal untuk menyenangkan kita yang semakin hari semakin bosan dan butuh tontonan yang membuat kita sekejap kabur dari realita.
Sayangnya, hal vital satu lagi – selain Samara Weaving – gagal dihadirkan kembali oleh film. Penulis skenario yang menggarap The Babysitter pertama, Brian Duffield, yang notabene bertanggung jawab atas hadirnya penggalian cerita antara Cole dan Bee, yang membuat horor ala home-invasion menjadi menegangkan plus seru dengan ide-ide segar, tidak lagi ambil bagian nulis pada sekuel ini. Duffield hanya terkredit sebagai pencipta karakter. Sebagai gantinya, naskah digarap rombongan oleh sutradara McG bersama tiga kepala lain. Dan hasilnya langsung kelihatan di layar yang kita tonton. Absen sudah narasi yang terstruktur kuat dengan karakter-karakter yang menarik karena bersenang-senang dengan trope karakter dalam genre horor. Kejadian dalam The Babysitter: Killer Queen ini terasa semakin serabutan karena tuntunan dunia atau panggung cerita yang semakin luas, sementara para penulis naskah tidak mampu mengimbangi perluasan tersebut.
Kejar-kejaran itu jadi terasa random. Literally menampilkan tokoh random. Bicara soal gak bisa move on, empat orang di balik naskah ini sepertinya benar-benar memuja para tokoh lama dan gak peduli ama tokoh baru sehingga justru para tokoh lama yang mendapat backstory lebih lengkap. Itupun penceritaannya dilakukan dengan ala kadar dan kayak tempelan. Tokoh-tokoh baru tak sekonyol tokoh lama. Di sini dimunculkan tokoh pendukung mayor baru; seorang cewek pindahan yang punya masa lalu dengan Bee, hanya saja pengkarakteran tokoh ini begitu tipis. Dia baru benar-benar diungkap di akhir, dan sepanjang durasi sebelumnya si cewek ini tak lebih dari device cerita saja.
Hal yang menarik dari tokoh itu adalah, melaluinya dirinya film tampak ingin meng-subvert atau menggulingkan salah satu trope horor klasik. Atau sederhananya, ingin mengubah solusi-klasik dari film horor. Menjadikan solusi itu menjadi lebih cocok dengan keadaan masa-sekarang. Bahasan di paragraf ini bakal jadi spoiler ringan, aku mau ngingetin sedikit sebelum lanjut. Jadi, horor-horor klasik dibuat berdasarkan formula kebaikan menang mengalahkan kejahatan, yang digambarkan seringkali dengan simbol kemurnian lawan sesuatu yang korup. Putih-hitam. Kemurnian di situ berarti keperawanan. Kita acap melihat dalam slasher klasik tokoh yang mati duluan itu ya remaja-remaja binal. Yang dibunuh saat lagi ena-ena. Protagonisnya adalah cewek baik-baik. Kemurniannya bakal mengalahkan corrupt-nya setan. Trope ini pernah ‘ditumbangkan’ oleh Scream (1996) dengan menjadikan Sidney final girl meski gak lagi ‘murni’. The Babysitter: Killer Queen ini seperti menggulingkan apa yang sudah pernah ditumbangkan itu sekali lagi. Di sini setannya mengejar sesuatu yang polos alias murni, dan solusi yang dihadirkan adalah dengan tidak menjadi murni. Justru ketidakmurnian itu yang langsung dijadikan senjata untuk mengalahkan setan. Implikasinya bisa tergantung bacaan masing-masing penonton, dan film tidak ngejudge apapun. Dan kupikir elemen ini tentunya adalah kekuatan dari film ini, jika saja si film ini sendiri tidak terlalu khusyuk menguatkan kekonyolan-kekonyolan dan ceritanya dibuat jauh lebih rapi lagi.
Mungkin The Babysitter dibuat dengan deal ama setan, dan sekuel ini dijadikan tumbal

 
 

Salah satu cara ampuh untuk melupakan ‘crush’ adalah dengan menemukan pujaan yang baru. Cole menemukan ini dan akhirnya mendapat closure. Sayangnya si film sendiri belum, sehingga dirinya jadi terlalu berkubang di film terdahulu dan malah jadi seperti parodi dari film tersebut.

 
Jangankan untuk menyamai film pertamanya, untuk menjadi sebuah tontonan yang menghibur saja film ini tidak lagi mampu. Kekonyolan yang dihadirkan tidak lagi bikin kita senang karena terlalu over. Untuk awal-awal masih bisa ditolerir, namun kemudian semakin menjadi-jadi. Menyeruak ke mana-mana. Lelucon film ini bersandar pada referensi pop culture, dengan rentang yang sungguh luas. Dari polisi yang nyanyi “Ice, ice, baby” hingga ke Joe Exotic dan celetukan soal horor post-Jordan Peele. Untuk komedi dan aksi slashernya, film ini udah menyerempet level ‘edan’, dan edan yang bukan dalam artian positif. Edan, dalam artian kejadiannya terjadi tanpa ada bobot karena begitu random. Semuanya terasa overkill. Dan yang membuatnya semakin parah adalah, kejadian-kejadian tersebut akan jarang sekali terasa fresh. Ada satu sekuen-adegan yang buatku sangat garing. Yakni ketika ada dua tokoh yang berantem; film membuat berantem mereka itu dengan konsep seperti video game. Ada suara “Fight!” dari narator, di sudut atas layar kita kemudian tampil life-bar seperti pada game fighting, dan kedua tokoh tadi berantem pake jurus-jurus. Itu semua terjadi out-of-nowhere. Tampak seperti ingin niru Scott Pilgrim vs. The World, hanya saja dilakukan dengan lebih poor, dan randomnya tidak termaafkan karena tak sesuai degan dunia cerita yang dibangun. Like, kenapa di dunia yang ada cult dan setan, malah nonjolin konsep video game.
 
 
 
Masing-masing penulis tampaknya punya ide dan referensi. Tapi alih-alih berembuk dan menyatukannya menjadi satu konsep yang solid, semua ide dan referensi itu ditampilkan serabutan. Dicampurkan ke dunia dan tokoh-tokoh yang sudah kita kenal. Dan hasilnya ya memang sebuah kekonyolan yang menyerempet ke segala arah. Film ini tidak mampu menulis cerita dan karakter baru yang menyamai, setidaknya, bobot pada film pertama. Film ini tidak mampu menciptakan konsep baru. Film hanya tahu membuat semuanya jadi berskala lebih besar. Sayangnya, itu termasuk kebegoan. Malahan kebegoan itulah yang justru diprioritaskan untuk membesar.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE BABYSITTER: KILLER QUEEN

 

 
 
 

 

That’s all we have for now.
Who’s your biggest crush ever? Dan bagaimana cara kalian move on darinya, jika bisa?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2 Review

“Better the devil you know than the devil you don’t”
 

 
 

Manusia lebih baik daripada iblis. Sejak iblis yang diciptakan dari api terang-terangan menolak memberikan penghormatan kepada manusia yang tercipta dari tanah, iblis diturunkan derajatnya. Dan mereka pun mengamini penurunan tersebut dengan bersumpah untuk terus sekuat tenaga menyesatkan anak manusia sehingga berada di dasar neraka bersama mereka. Alfie dalam Sebelum Iblis Menjemput (2018) menambah skor bagi manusia, dia berhasil mengalahkan iblis. Bersama adik tirinya, wanita ini lolos dari peristiwa maut yang mengubah kehidupan mereka. Dua tahun kemudian, kini di Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2, Alfie masih dihantui bisikan dan bayangan. Dia dan adiknya, Nara, lantas kembali dipaksa terlibat dalam masalah mengerikan yang berakar pada persoalan iblis menjebak manusia untuk melakukan perjanjian terkutuk. Hanya saja kali ini, angka skor tadi tidak lagi menjadi soal.

Karena, demi horor Alfie dan kita semua, keunggulan manusia terhadap iblis ternyata juga bisa berarti manusia yang menghamba pada iblis mampu menjadi iblis yang bahkan jauh lebih iblis daripada iblis itu sendiri.

 

tak ada yang waras di kota ini

 
Sutradara dan penulis naskah Timo Tjahjanto kembali mengajak kita bersenang-senang dengan horor sadis ala Evil Dead. Yakni horor dengan tone yang over-the-top, berisi makhluk-makhluk peranakan teror praktikal dan permainan teknis, dan ditaburi selera humor edan. Penggemar horor akan bersorak melihat adegan ala Alien lahirnya pria dewasa dari dalam tubuh seorang wanita. Reaksi terhadap berbagai trik horor dan jumpscare film ini jelas akan beragam. Misalnya adegan tangan setan yang ngasih jari tengah ke Alfie; ini bisa jadi adegan kocak bagi penonton yang gemar horor-horor ala B-horor 90-an. Dan di sisi lain, bagi beberapa penonton yang lain (sebagian besar sepertinya), adegan itu bakal jadi exactly just what it is; sebuah jari tengah yang diacungkan tepat ke depan muka semua orang yang mengharapkan peningkatan dari film yang pertama.
Filmografinya padahal sudah berbicara. Sebelum Iblis Menjemput: Ayat 2 actually merupakan sekuel pertama bagi Timo. Sebelum ini, dia dikenal dengan cerita-cerita orisinil. Gaya horor sadisnya bisa diaplikasikan ke cerita apapun, dan terbukti cukup menjual, sehingga sekuel Ayat 2 ini terasa dipaksakan dan justru membatasi. Karena cerita Alfie sudah tuntas di akhir film pertama, transformasi karakternya sudah sempurna. Akan lebih baik bagi Timo untuk menjual cerita pada film kedua ini sebagai cerita baru atau murni judul baru saja lantaran menarik Alfie kembali terasa sangat dipaksakan.
Ini semua kelihatan dari babak set up yang sangat lemah begitu mereka mulai memperlihatkan Alfie kepada kita. Ketika prolog dua cewek di rumah, yang ada keren netes terus dimatikan, tapi masih ada bunyi tetesan dan itu adalah bunyi darah yang menitik ke lantai, film terasa sangat menarik. Kita dihadapkan pada misteri baru, orang-orang baru, percakapan mereka did a good job membangun sosok Ayub dan kejadian mengerikan kehidupan mereka lima-belas-tahun lalu. Aku genuinely langsung penasaran. Apa sebenarnya yang menyerang si Gadis. Apa yang sebenarnya terjadi kepada mereka. Relasi antargrup mereka juga disinyalir punya konflik. Tapi kemudian, kita dibawa menemui Alfie dan satu jumpscare berikutnya, kedua kubu ini  – orang-orang di prolog dan Alfie – berada di bangunan bekas panti. Film menyediakan sedikit sekali alasan logis yang menghubungkan Alfie dengan geng Gadis dan masalah mereka. Hanya sebatas karena Alfie pernah lolos dari iblis, dan sekarang anak-anak muda ini ingin minta tolong padanya karena nyawa mereka sedang diincar oleh sesosok iblis. Alfie seperti dipaksakan masuk; ini ironis karena cara film membuat Alfie ada di sana adalah dengan membuat geng Gadis menyatroni kediaman Alfie dan Nara, lengkap dengan topeng perampok, melumpuhkan Alfie, membawanya paksa – menyekapnya dalam bagasi mobil. Mereka minta tolong dengan literally menculik si calon penolong. Dan setelah teriak-teriak tanpa benar-benar menolak, Alfie mau saja menolong dan membaca mantra yang melepas semua petaka. Set up yang sungguh kentara dipaksakan supaya cepat, dan Alfie bisa ada di sana gitu aja. Padahal dia tidak punya hubungan ataupun masalah personal dengan salah satu dari Gadis dan teman-teman pantinya. Alfie tidak punya motivasi di plot ini. Dia hanya terpaksa karena iblis pervert musuh ‘klien’nya mengincar Nara (antagonisnya aja gak ada konflik-langsung dengan Alfie), dan satu-satunya yang menahan Alfie dan Nara gak cabut dari situ adalah mobil yang mogok.
Sure, masih ada transformasi yang dialami oleh Alfie. Di awal cerita dia adalah tough street-wise lady yang membakar kakak tirinya sendiri dan di akhir dia belajar bahwa dia adalah orang yang tidak punya kendali atas nyawanya sendiri. Dia adalah personifikasi dari manusia lebih baik ketimbang iblis sekaligus lebih buruk. Dihitung dari film pertama, seharusnya dia orang yang double bad-ass…(es?). Namun Alfie dimainkan dengan cara yang ‘lucu’ oleh Chelsea Islan. I mean, ada alasannya kenapa dulu aku memplesetkan namanya jadi Cheesy Island, tapi kemudian dia menunjukkan peningkatan akting yang signifikan. Di Sebelum Iblis Menjemput, Chelsea jelas bukan bahan tertawaan, perannya menggenjot fisik dan emosi, and she was delivered. Di film kedua ini, sayangnya, dia kembali menjadi Cheesy. Akting takutnya lebay. Bicaranya sebagian besar teriak-teriak hampa. Hampir seperti dirinya enggak nyaman dituntut seekspresif itu.
dan dia harus berpose metal untuk mengeluarkan kekuatan barunya

 
Cerita film ini masih akan bisa bekerja tanpa harus ada Alfie di sana. Sekelompok alumni panti yang ditarik kembali oleh iblis masa lalu mereka. Yang udah nonton, coba bayangkan kalo plot Alfie di film ini dijadikan plot si Budi, atau Gadis…. it could still work dan made more sense, kan. Ini adalah soal menggunakan iblis balik mengalahkan iblis; soal menemukan loophole di lingkaran setan. Film menggunakan Stockholm Syndrome lebih dalam dari lapisan luar narasi untuk memparalelkan hubungan manusia dengan iblis. Selain Alfie, sesungguhnya tokoh-tokoh baru yang berkenaan langsung dengan masalah dalam film ini gak ada yang punya karakter yang kuat. Mereka dangkal, dan klise. Si jutek, si misterius, si baik, mereka enggak punya background pribadi. Mereka hanya anak panti. Kenyataannya, mereka ini cuma penambah itungan kemenangan iblis atas manusia – mereka cuma jumlah korban. Bayangkan anak-anak Losers Club ketemu Pennywise, hanya kali ini mereka enggak berjuang — nah, begitulah tokoh-tokoh baru di film ini.
Banyaknya ‘korban’ enggak lantas berarti film ini punya adegan sadis/horor yang menyenangkan. Tidak, jika tokoh-tokoh ini sebagian besar hanya teriak-teriak, entah itu berargumen, atau nyari teman yang hilang (teriak padahal masing-masing pegang hatong), atau ketakutan. Dan lebih tidak lagi, saat adegan sadis/horornya monoton alias itu-itu melulu. Ada banyak sekali adegan setan seram di ujung (lorong/bawahtangga/seberang ruangan) dan kemudian si setan ini maju ke depan, mendekat dengan kecepatan edan sampai muka seramnya mau nabrak kamera. Manusia di film ini kesurupan iblis, dan tampaknya si iblis itu kesurupan Sonic!
 
 
 
 
Berakhir dengan cukup menarik sebenarnya, mungkin mereka mengincar trilogi. Dan jika iya, kita bisa mengharapkan arahan yang sangat berbeda pada film terakhir nanti dilihat dari elemen baru yang ditambahkan film ini sebagai resolusi cerita. Maka itu, aku ingin memberikan saran untuk ngetone-down Alfie sedikit, karena di film ini dia menjadi begitu over-the-top. Kita jadi menertawakan apapun yang ia lakukan. Semakin seram situasinya, semakin ngakak ngeliat Alfie. Mereka juga perlu come up with much better story buat Alfie, yang konfliknya benar-benar personal dan berhubungan langsung secara natural dan gak bersifat kebetulan dengan dirinya. Selain beberapa hiburan, jika dibandingkan dengan film pertamanya, sekuel ini mengalami kemunduran. Ceritanya lemah, horornya kalah seru, karakternya kalah menarik.
The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for SEBELUM IBLIS MENJEMPUT: AYAT 2

 
 
 
That’s all we have for now.
Menurut kalian apakah setan itu merujuk pada identitas, atau sesuatu yang kita lakukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

MANGKUJIWO Review

“Hate begets hate; violence begets violence”
 

 
Harta, tahta, wanita. Dan pusaka. Empat hal itulah yang – sebagaimana dibeberkan oleh film Mangkujiwo garapan Azhar Kinoi Lubis – merupakan resep asal usul hantu Kuntilanak yang penampakannya telah ada semenjak film Kuntilanak di tahun 2006. Mangkujiwo memang berusaha memangku segala lore dan menghubungkan semua misteri dari film-film terdahulu sebagai sebuah cerita origin. Dan oddly enough, film ini ternyata menjadi lebih cocok disebut sebagai thriller perebutan pusaka ketimbang horor.
Sekte Mangkoedjiwo itu bermula dari pria tua bernama Brotoseno. Dia menyelamatkan seorang perempuan hamil yang dipasung di suatu desa, karena perempuan itu dituduh gila. Brotoseno tahu lebih banyak daripada penduduk, dan daripada kita di titik permulaan cerita. Perempuan ini sebenarnya adalah ‘mainan’ kepunyaan teman sekaligus saingan beratnya; si Tjokro Kusumo. Brotoseno ingin balas dendam. Jadi perempuan yang bernama Kanti itu sebenarnya nasibnya bagai keluar dari mulut singa, masuk ke dalam lubang buaya. Brotoseno dan Tjokro dua-duanya adalah orang berilmu, pemilik pusaka cermin Pengilon Kembar, dan mereka telah berniat untuk gak mau damai saling bermusuhan. ‘Menyelamatkan’ dalam kamus Brotoseno adalah menempa Kanti yang toh juga ia pasung dengan berbagai ritual mengerikan. Lengkap dengan banyak makhluk menyeramkan dan sejumlah makanan menjijikkan. Brotoseno ingin Kanti melahirkan anak setan dan menggunakan anak tersebut nantinya sebagai senjata, karena Tjokro hanya bisa dibunuh oleh darah dagingnya sendiri.

men and their power, right

 
Cerita film ini memang mengandung muatan yang sangat gelap. Secara esensi, ini adalah cerita seorang villain. Seorang yang jahat. Sebab tidak ada satupun tindakan Brotoseno sang tokoh utama tergolong heroik. Bahkan ketika nanti saat si bayi sudah tumbuh menjadi gadis dewasa bernama Uma dan Brotoseno berkata ia akan melindungi Uma dari segala marabahaya, kita tahu itu semua karena Brotoseno ada maunya. Uma tak lebih sebagai boneka. Sebagai alat. Tidak ada bedanya dengan cermin pusaka yang juga ia jaga dan rawat.
Karena ingin konsisten dengan tema pria menggunakan wanita sebagai objek itulah, maka film mengeksploitasi kekerasan terhadap wanita habis-habisan. Di sinilah letak horor film ini. Hantu kuntilanaknya sendiri belum jadi soal, proses menjadikan kuntilanak itulah yang menyeramkan. Edan sekali melihat sejauh apa Brotoseno, maupun tokoh-tokoh lain yang berilmu gaib melakukan tindakan mengerikan kepada orang yang tak-berdaya demi sebuah rencana untuk, what, mendapatkan kekuatan tunggal sebuah pusaka. Begitu getolnya orang bisa memupuk kejahatan, dan kemudian menggunakan muslihat untuk menyebarkan kejahatan tersebut kepada orang lain. Yang dijual oleh film ini sebagai horor adalah kekerasan pada tokoh perempuan yang dipasung, dicekoki makanan tak-lazim (kalo sekarang mah bisa kena virus corona!), dan digerayangi oleh beberapa makhluk halus. Set dan desain produksi film ini tampak meyakinkan. Ia menggunakan hewan-hewan dan praktikal efek untuk menghasilkan ketakutan repulsif yang natural. ‘Ketakukan repulsif’ di sini tentu saja maksudku adalah hal-hal yang menjijikkan. Untuk penonton yang perutnya lemah, mungkin waktu yang paling aman menonton film ini adalah beberapa jam sebelum dan sesudah makan. Lantaran akan ada banyak adegan yang bikin perut jumpalitan seperti muntah belatung, makan cicak, ataupun membedah tikus dan menggodok isi perutnya ke sepiring nasi.
Kekerasan tak berhenti sampai di sana. Tokoh perempuan muda dalam film ini bakal ditonjok – beneran pake tinju – hingga berdarah-darah. Ingat film Carrie yang tokohnya dibully hingga kekuatan supernaturalnya bangkit kemudian dia membalas dendam ke semua orang yang menyakitinya? Nah, Mangkujiwo sepertinya juga mengincar goal seperti, dengan efek yang bikin lebih meringis karena siksaan ke tokoh cewek di film ini sangat fisikal. Film meniatkan supaya dalam diri kita terbendung antisipasi balas-dendam, film ingin kita menunggu kebangkitan Kanti sebagai kuntilanak dan menyalurkan kekuatannya lewat Uma. Film ingin membuat kita geram kepada para preman. Tapi ketika waktu itu tiba, ketika kekerasan menyeimbangkan diri dengan mengganti target kepada para tokoh pria, perasaan dramatis seperti yang kita rasakan saat Carrie mengamuk tidak terasa pada film ini. Sebab secara garis besar kita tahu ini balas dendam itu bukan milik Uma ataupun Kanti. Melainkan milik tokoh utama, si patriarki, Brotoseno.

Penyatuan cermin dalam film ini digerakkan oleh tipu muslihat, kekerasan, dan kejahatan yang bahkan terlalu ‘setan’ untuk disebutkan. Bukan salah Uma kenapa dia jadi punya kekuatan setan, karena dia lahir dari benih-benih kebencian dan segala hal buruk yang ditanam oleh Brotoseno. Inilah yang membuat film ini susah untuk dinikmati; cinta absen di sini. Kebaikan gak hadir. Di antara tokoh-tokohnya tidak ada kasih sayang. Pria hanya menganggap wanita sebagai benda pemenuh kebutuhan. Wanita senantiasa mengabdikan diri. Semuanya dibesarkan oleh hal negatif. Maka film ini bisa dijadikan peringatan bagi kita semua; apakah kita yakin hidup di dunia yang seperti ini?

 
Beruntung Sujiwo Tejo yang membawakan Brotoseno dan merapal mantra-mantra ritual itu. Jika tidak, bisa-bisa film ini akan kehilangan aura mistisnya. Sebab, admit it, segala adegan tarian pemanggilan setan atau apalah dan semua komat-kamit eksposisi tentang pusaka maupun tentang lore/backstory dunia cerita film ini, sebenarnya hanya nonsens belaka. Begitu jauh dari dunia kita, I mean, apa pedulinya kita sama masalah kedua orang-pinter yang saling berselisih itu. Rasa kasian pada Kanti atau Uma pun hanya sebatas nurani otomatis karena melihat orang yang teraniaya. Film begitu sarat oleh eksposisi gaib sehingga seolah memasukkan begitu banyak percakapan tersebut untuk meyakinkan dirinya sendiri ketimbang meyakinkan kita. Ditambah lagi, ini adalah cerita penjahat. Film harusnya berusaha untuk membuat kita paling tidak ikut merasakan urgensi dari rencana dan perlakuan jahat Brotoseno. Seperti misalnya pada saat kita membaca review yang sangat berbeda dari penilaian kebanyakan; meskipun kita tidak setuju dengan reviewnya, namun jika reviewnya ditulis dengan baik, maka kita akan tetap bisa mengerti darimana si reviewer bisa menarik kesimpulan tersebut – kita bisa paham kenapa si reviewer merasakan apa yang ia rasakan. Film tentang penjahat seharusnya juga demikian. Ketika kita menonton Arthur Fleck pada Joker (2019), kita tahu dia jahat, kita tidak mendukung perbuatannya, namun kita mengerti motivasinya – kita bahkan bersimpati padanya karena kita paham situasi yang membuatnya seperti demikian. Mangkujiwo tidak punya semua ini. Brotoseno dituliskan sebagai karakter misterius yang kita ikuti dari awal hingga akhir cerita, tanpa kita benar-benar menyelami apa akar dari motivasinya.
Seharusnya film memberikan dia stake. Vulnerability. Memang, ada sekuen ritual yang mengharuskan Brotoseno menyakiti dirinya sendiri, tapi dia ditulis begitu sakti mandraguna sehingga shot luka-luka di punggungnya itu enggak menghasilkan rasa dan makna apa-apa. Kanti yang meninggal di luar perkiraannya pun gagal menghasilkan tensi karena diceritakan dengan serabutan – sebagai sisipan dari paparan flashback. Hubungan Brotoseno dengan Uma tidak pernah digali (tidak ada adegan emosional yang memperlihatkan Brotoseno benar-benar butuh Uma), begitu pula hubungannya dengan Tjokro yang notabene jadi musuhnya. Kita hanya mendengar hubungan Brotoseno – hanya dijelaskan lewat kata-kata, yang tak sepenuhnya bisa kita yakin perkataan itu benar karena satu hal yang berhasil ditetapkan oleh film ini mengenai tokoh utamanya itu adalah justru bahwa ia tidak dapat dipercaya.

kalo mau bolak-balik, kenapa gak mulai dari Brotoseno dan Uma sebelum Uma pergi dari rumah aja, supaya cerita bisa mendarat dahulu

 
Cerita dalam film ini berlangsung dalam rentang kurun waktu sembilan-belas tahun. Kinoi memilih bercerita dengan alur maju mundur yang berselingan, yang seringkali tidak disertai dengan time-image yang jelas dan editing yang efektif. Narasi berpindah antara satu periode ke periode lain tanpa ada keparalelan yang jelas. It gets better di pertengahan, tetapi di awal-awal akan sulit mengikuti apa yang sebenarnya terjadi. Terlebih karena dialog yang enggak berarti apa-apa selain eksposisi. Mangkujiwo ini adalah kasus lain dari kecenderungan film Indonesia yang gak pede nampilin cerita linear karena mereka gak punya twist alami. Film ini termasuk yang percaya filmnya akan ‘aman’ jika ada yang disembunyikan, dan cara bolak-balik ini dipakai untuk merahasiakan banyak elemen karakter yang mestinya dilandaskan dari awal karena bakal ngaruh ke kita peduli dan mengerti plightnya atau tidak — hal esensial untuk menyampaikan cerita.
Alih-alih itu, kita malah dapat cerita yang melompat-lompat tanpa ritme yang jelas. Bertemu tokoh-tokoh yang sok misterius padahal annoying; tokohnya Djenar Maesa Ayu gak jelas banget motivasinya apa menginginkan cermin bersatu, membantu Broto – sementara separuh film ia habiskan dengan pasang tampang smug seolah ia bakal ‘menusuk’ Broto dari belakang. Tokoh si Bongkok-Ganjelan juga gak jelas, dan yang kumaksud bukan dialognya. Melainkan tindakan, seperti bisa nulis lirik Lingsir Wengi di pasir lengkap-lengkap tapi gak sekalian nulis perkenalan diri dan maksud. Persoalan cermin kembar itu juga tidak memuaskan karena bertentang dengan maksud film ini hadir sebagai asal-usul, cerita nyatanya hanya sedikit sekali menjelaskan hal dari titik-mula. Di akhir film kita masih bengong sebenarnya cermin ini kenapa bisa ada, dan dimiliki oleh dua orang yang bermusuhan.
 
 
Horor yang lebih seperti thriller dalam dunia di mana mistis adalah logis, cerita film ini sesungguhnya sangat gelap. Ketakutan yang dihadirkan pun berupa takut yang menjijikkan. Sudut pandang yang digali kali ini, sangat berbeda. Sayangnya film menempuh cara bertutur yang unnecessarily ribet. Set dan desain produksi jadi hanya sebatas visual karena penulisan dan arahannya terlalu off. Para karakter seperti tidak hidup, dengan hanya penampilan Sujiwo Tejo dan Asmara Abigail yang meyakinkan – itu pun tidak berarti banyak lantaran keduanya bermain di zona nyaman mereka. Alur bolak baliknya diniatkan untuk menyihir kita semakin masuk ke dalam narasi. Namuun tidak seperti mantra yang dilantunkan tokoh dalam cerita, film ini enggak punya ritme/pace. Melainkan hanya komat-kamit mengisahkan serangkaian cerita nonsens.
The Palace of Wisdom gives 3 gold stars out of 10 for MANGKUJIWO.

 
 
 
That’s all we have for now.
Bisakah kalian membayangkan hidup di dunia di mana semua bersatu hanya karena ketakutan, tipu muslihat, dan kebencian belaka? Ada gak sih dunia yang seperti demikian?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

PEREMPUAN TANAH JAHANAM Review

“No man is free who is not master of himself.”
 

 
Tidak ada tandingan kepercayaan diri Joko Anwar jika sudah berbicara tentang film horor. Horor memang sudah zonanya dia, afterall. Anwar memang sangat peka terhadap unsur-unsur kengerian, dia paham membangun, memancing dan kemudian mengeluarkan horor itu dengan baik, sehingga film-filmnya tidak sekadar jumpscare ngagetin. Opening Perempuan Tanah Jahanam membuktikan itu.
Kita melihat dua orang wanita ngobrol dalam loket tol masing-masing lewat handphone. Keduanya adalah penjaga karcis tol. Satu di antara mereka, Maya (Tara Basro sudah jadi trademark dalam film Joko Anwar seperti elemen perempuan hamil), mengaku ketakutan lantaran ada mobil kuno yang sama terus bolak-balik masuk ke jalur loketnya. Di samping bekerja sebagai penghantar dan perkenalan karakter yang sangat efektif, sekuen pembuka ini juga bekerja seperti film pendek horor urban yang sangat menakutkan.  Build up pengadeganannya sangat tight. Tensi film seketika naik begitu pengemudi mobil kuno itu turun menghampiri Maya. Cahaya dan kamera kompak menghasilkan suasana malam di tol yang eery, sepi kecuali oleh ketakutan Maya yang menguar ke tempat duduk kita. Maya bicara dengan sang pria misterius, hanya dibatasi oleh jendela kaca. Pria itu berasal dari desa kelahiran Maya, mengenali Maya sebagai Rahayu. Dan Pria ini datang untuk membunuh Rahayu atas tindakan mengerikan yang dilakukan oleh orangtua Rahayu. Adegan yang menyusul akan membuat kita menjerit tertahan, sebab jika ini adalah Scream atau horor whodunit lainnya, Maya tokoh utama kita akan berada di posisi mati duluan
Maya boleh saja selamat dari peristiwa tersebut, tapi bulu kuduk kita akan terus dibuat berpush-up ria. Perempuan Tanah Jahanam masih punya banyak lagi setting dan punchline momen-momen seram. Salah satu favoritku adalah ketika Maya berjalan di pasar ruko yang sudah sepi. Dia sendirian mencari Dini, hanya ditemani sejumlah manekin yang membuat aku siap-siap memejamkan mata. Menonton Perempuan Tanah Jahanam ini; pendapatku tentang Joko Anwar masih sama. Bahwa dia lebih hebat sebagai sutradara ketimbang sebagai penulis skenario. Cerita Maya berlanjut menjadi semakin aneh. Suasana seram di desa dengan kondisi misterius yakni setiap bayi yang lahir selalu tak berkulit tidak pernah bisa sepenuhnya menutupi naskah yang lemah dan banyak menyisakan ruang untuk kita menertawai hal-hal konyol yang ditimbulkan. Maya jadi penasaran mencari tahu asal usulnya. Ternyata benar dulu dia bernama Rahayu, dan orangtuanya punya rumah yang sangat besar di desa. Maya dan Dini yang terang saja kapok kerja lagi di tol butuh duit untuk bisnis baju mereka. Properti besar di tanah yang penduduknya benci kepadanya dijadikan Maya sebagai jalan keluar. Maya nekat pergi ke sana dengan menyamar sebagai mahasiswa.

karena siapa sih yang mau membunuh mahasiswa… wohoo dalem.

 
See? pilihan Maya tampak reckless dan bego. Seseorang datang dari suatu tempat untuk membunuhmu, mengatakan seluruh desa mencarimu, kemudian kamu malah memutuskan untuk pergi ke desa orang tadi sendirian? Mungkin memang tergantung seberapa besar untung yang bisa didapatkan dengan pergi ke sana. Mungkin memang tergantung seberapa gede napsu kita untuk mendapatkan sesuatu sehingga mau pergi ke tempat berbahaya tanpa persiapan yang matang. Dan sepertinya itulah gagasan yang disampaikan oleh film ini. Soal menuruti napsu dan tak punya kendali. Makanya antagonisnya adalah dalang yang bermain wayang dari kulit manusia.
Ada tokoh yang against all logic mengaku bernama Rahayu kepada penduduk desa, hanya supaya cepat diberikan surat rumah oleh kepada desa. Bahkan petaka pertama yang memulai rentetan tragedi dan ritual di sejarah desa ini bermula dari Nyai yang kebelet napsu pengen punya anak. Satu bukti lucu yang membuatku menarik kesimpulan film ini bercerita tentang pentingnya mengendalikan diri adalah fakta bahwa setiap hari di desa itu lahir bayi. Pertanyaan yang langsung bikin aku penasaran saat menonton ini bukanlah kenapa bayi yang lahir selalu tak berkulit, melainkan kenapa selama dua puluh tahun dikutuk sedemikian rupa, masih ada juga penduduk yang hamil di desa terpencil nan kecil itu. Tidakkah penduduknya jera melihat bayi mereka direndam sampai tak bernyawa lima menit setelah lahir. Nafsu penduduk di sana sebegitu besarnya, bahkan memang ada satu adegan yang menunjukkan lelaki di desa ingin memperkosa tetangganya yang sudah tiga bulan ditinggal pergi suami.

Film menunjukkan betapa mengerikannya malapetaka yang bisa terjadi jika manusia hanya menuruti keinginan dan hawa nafsu, tanpa memiliki kendali diri. Pemimpin akan berbuat semena-mena. Pengikut tidak akan berpikir jernih. Kita tidak akan selamat jika tidak menjadi dalang bagi hidup sendiri. Sengsaralah jika kita tinggal di tempat seperti demikian. Tempat  manusia-manusia hanya jadi wayang itulah yang dinamakan tanah jahanam.

 
I mean, itulah yang bisa kutarik dari cerita horor yang hanya punya lapisan luar. Sila bandingkan ini dengan Midsommar (2019) yang juga horor sadis nan berdarah yang bukan konsumsi bawah tujuh-belas tahun. Di balik peristiwa Dani terjebak di komunitas kecil yang ternyata adalah sekte dengan ritual-ritual pencabut nyawa, Midsommar adalah cerita tentang hubungan-asmara yang buruk; tentang wanita yang butuh untuk dimengerti tapi sekitarnya tidak pernah benar-benar mendukung atau perhatian kepadanya. Perempuan Tanah Jahanam, terasa ompong di luar cerita tentang wanita yang kembali ke desa yang seluruh penduduk di sana menginginkan dia mati untuk menghapus kutukan yang dipasang oleh keluarganya kepada seluruh desa. Perempuan Tanah Jahanam punya dialog yang kadang menyentil agama, atau pemerintah, ataupun soal orangtua kepada anak. Namun malah terasa sebagai dialog tempelan semata karena tidak paralel dengan perjalanan Maya. Yang mana dikarenakan si Maya sendiri tidak berubah banyak di akhir cerita selain pengetahuannya soal masa lalu bertambah, dia tidak punya inner-plot. Ada pembicaraan soal perawan di awal film yang sempat disinggung lagi di tengah, tapi ternyata malah tidak berbuah apa-apa bagi narasi. Selain saat ada bayi normal yang lahir, pada latar berkumandang musik natal, yang menandakan bayi sebagai simbol keselamatan bagi perawan di tanah jahanam.

mungkin ada somekind of twisted orgy sehabis panen sehingga di sana setiap hari ada bayi yang lahir

 
Dosa paling jahanam yang dilakukan oleh film ini terletak pada perlakuannya menggarap flashback untuk mengungkap kebenaran dalam-cerita. Film dengan setting dan treatment dan craft semenawan ini tidak mengimbangi diri dengan penulisan yang rajin. Ada tokoh hantu di sini yang hanya berfungsi sebagai device flashback, yang dilakukan dengan sangat standar. Semua film horor level rendah melakukan ini; bikin tokoh utama tak sadar diri, kemudian si hantu akan memberikan kenyataan berupa kejadian flashback begitu saja. Ini aku belum akan cerita soal narasi bagian pengungkapan itu yang juga tidak masuk akal. Motivasi dalang utama cerita ini sungguh tak logis, dan dikerjakan dengan berbelit-belit. Supaya gak diteriakin “Spoiler, woy!” maka di sini aku cuma bilang: kalo dia bisa santet dan ritual segala macem, kenapa enggak langsung bunuh, kenapa mesti menempuh jalan yang lebih banyak korban.
Penulisan film ini sungguh parah sehingga kita akan sering tertawa geli menyaksikan adegan atau mendengar dialognya.
Ada adegan jumpscare temen Maya mencolek pundaknya, dari balik pintu terali – literally menjulurkan tangannya masuk ke terali. Orang macam apa yang memanggil teman dengan cara begitu, terlebih saat padahal dia punya kunci pintu terali tersebut. Ada tokoh dosen sastra Rusia yang begitu random – kenapa musti Rusia dan enggak langsung sastra Jawa saja jika toh fungsi tokoh ini hanya menafsirkan aksara jawa kuno.
Ada dialog seperti “Mau BH?” atau “Itu rumah siapa?” yang dijawab dengan “Itu rumah keluarga yang tinggal di sana saat saya masih kecil” – dialog semacam ini yang mestinya dihindari oleh setiap penulis naskah lantaran tidak memberikan informasi apa-apa, pun tak membentuk atau mencerminkan karakter.
Satu hal yang bisa kita pelajari soal karakter Maya adalah bahwa dia tidak bisa naik motor, karena ada adegan Maya mengalihkan perhatian penduduk kampung yang mencegatnya dengan motor. Maya melempar handphone ke arah yang berbeda sehingga kerumunan meninggalkan motor dengan keadaan menyala, dan Maya tidak menggunakan motor tersebut untuk melarikan diri dengan gampang.
Wow, jika mau me-nitpick, akan ada banyak sekali yang bisa dicecar.
Yang bikin aku tak habis pikir adalah jemuran Christine Hakim yang masih membulat padahal itu kulit manusia yang elastis bukan cetakan plastik.
 
 
 
It’s not a bad movie. Beneran. I do not hate it. Film ini dibuat dengan kompeten, ada passion dari pembuatnya. Aku hanya  tidak merasakan perkembangan sejak Pengabdi Setan (2017), kecuali kali ini Joko Anwar berusaha mengakhiri cerita dengan benar – menggunakan epilog ‘satu tahun kemudian’ sebagai hiasan – dan trademark Joko Anwar kali ini lebih terasa. Makanya film ini niscaya akan mendapat sambutan demikian hangat dari para penggemarnya. It’s an enjoyable thrilling ride. Hanya saja film ini cuma punya permukaan. Tidak banyak yang bisa kita dapatkan, selain dialog-dialog tempelan persepsi pembuatnya soal agama, pemerintahan, dan keadaan sosial yang relevan. Juga ada pembahasan soal dosa orangtua yang turun kepada anaknya. Penulisan film ini adalah sisi terlemah. Narasinya berbelit dan terlalu mengandalkan kepada unsur kejutan dan rangkaian kejadian alih-alih perkembangan tokoh sebagai seorang manusia. Aku enggan menggunakan istilah plot-hole, namun pada film ini banyak dijumpai hal-hal yang membuat film jatuh konyol dan tak masuk akal. Yang pria dari desa di awal film; tak pernah dijelasin darimana dia bisa tahu Rahayu kerja di tol atau bahkan wajah Rahayu sekarang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PEREMPUAN TANAH JAHANAM.

 
 
 

MIDSOMMAR Review

“Empathy is the most essential quality of civilization”

 

 

Ini baru film horor panjang kedua Ari Aster, tapi Midsommar udah sukses menjadi film-yang-paling-banyak-dirikues-reviewnya sepanjang blog ini berdiri. Jangankan sebelum tayang di bioskop Indonesia, sewaktu naskahnya bocor di internet saja aku sudah ‘dirongrong’ untuk membaca dan memberikan penilaian. Well, of course aku sebenarnya juga menggelinjang nungguin film yang sempat hampir batal tayang di bioskop sini ini. Hereditary adalah film terbaik terfavoritku tahun 2018. Dalam film tersebut Aster menunjukkan kekuatannya menghimpun horor dari drama manusiawi. Mengetahui itu semua, aku tahu bisa mengharapkan apa kepada Midsommar, dan aku menantinya dengan sabar. Aku ingin sekali karya Ari Aster ini jadi film terbaik lagi.

Setelah aku selesai menonton Midsommar, aku merasa sangat resah. Oleh adegan-adegan. Oleh karakter. Oleh penceritaan. Oleh ceritanya. Drama kejiwaan manusia mengakar dengan kuat. Film benar-benar meluangkan waktu untuk itu. Judulnya mengacu kepada festival musim panas yang dikunjungi oleh tokoh film, akan tetapi cerita belum akan membawa kita ke sana; tidak hingga sampai babak kedua. Untuk seluruh babak pertama kita benar-benar dipahamkan dulu kepada situasi Dani si tokoh utama. Hubungan asmara cewek ini lagi di ujung tanduk. Karena Dani orangnya panikan, secara emosional dia butuh didukung setiap saat. Dan sikap Dani terkait hal tersebut mulai terasa mengganggu bagi cowoknya yang merasa keseret-seret dalam drama wanita. Jika bukan karena hal yang ditakutkan Dani menjadi kenyataan, pastilah mereka berdua sudah putus. Namun duka Dani membuat mereka tetap melanjutkan hubungan. Di sinilah film menggambarkan toxicnya hubungan Dani dan Christian. Akan lebih baik mereka putus saja. Tapi Dani butuh sandaran emosional, dan Christian enggak sampai hati mutusin cewek yang sedang berkabung (emangnya siapa yang tega?). Arti ‘Enggak sampai hati’ di sini menjadi mendua karena memang begitulah sikap Christian kepada Dani seterusnya; tidak sepenuh hati dia jadi sandaran. Christian dan teman-temannya enggak setulus hati menenangkan mental Dani. Mereka enggak sepenuhnya senang tatkala Dani memutuskan untuk ikut ke festival musim panas di alam pedesaan Swedia

I used to did that too

 

Midsommar menggunakan visual untuk menggambarkan sekaligus mengontraskan gejolak di dalam karakter Dani. Tampilan film ini sangat benderang dan meriah ketika sudah sampai di desa komunitas tempat kejadian perkara nantinya. Akan sulit menerkanya sebagai film horor hanya dengan melihat warna dan segala keindahan yang terpampang. If anything, kejadiannya seperti berada di dalam dunia mimpi berkat cahaya dan warna yang natural tapi tak terasa begitu-natural. Namun semua itu akan cepat berubah menjadi mimpi buruk karena justru pada saat di festival itulah kejadian-kejadian berdarah yang bisa bikin mual film ini terjadi. Ada sesuatu yang aneh pada tempat yang penuh suka ria dengan banyak obat-obatan untuk rekreasi tersebut. Sampai ke titik yang membuat tradisi dan upacara mereka tidak bisa lagi dianggap seenteng perbedaan budaya semata. Jika kalian menonton film ini untuk melihat kepiawaian teknik dan efek gore – yang jadi nilai jual lebih film – maka kalian akan kesal menontonnya di bioskop Indonesia yang banyak penyensoran.

Untungnya, bukan sebatas kesadisan dan kevulgaran yang dilakukan dengan hebat oleh film ini. Melainkan inti dan hati ceritanya. Tentang toxic relationship dan pentingnya untuk merasakan empati dalam menjalin hubungan tadilah yang dijadikan kemudi utama penggerak cerita. Naskah film ini tidak berkembang demi menjawab pertanyaan seputar membasmi ritual atau mengungkap misteri pemujaan dan sekte di balik festival. Bagian itu justru elemen terlemah pada film karena tidak memuat hal yang benar-benar baru. Banyak kejadian berkaitan dengan ritual atau sekte yang mengingatkan kita pada film lain. Horor klasik asal Inggris The Wicker Man (1973) akan menjadi hal pertama yang terlintas ketika menyaksikan film ini. Midsommar secara fokus membahas soal membuka diri terhadap hubungan baru yang lebih sehat yang disimbolkan dengan sangat ekstrim. Pertanyaan yang dijadikan plot poin naskah adalah apakah Dani bakal mempertahankan hubungan dengan Christian, dan ultimately apakah Dani akan menganggap pacarnya tersebut sebagai keluarga. Lihat saja cara gendeng film ini menyimbolkan tindak membakar barang-barang dari mantan.

Sebagai manusia, kita paling enggak mau merasa sendirian. Apalagi jika dalam kesedihan. Kita butuh orang untuk diajak berbagi. Ini di satu sisi menyebakan menjalin hubungan itu cukup tricky. Kita enggak bisa begitu saja membagi semua hal kepada orang lain tanpa membuat mereka merasa dituntut dan diseret ke dalam hal negatif. Kuncinya adalah pada pemahaman dan empati.

 

Tokoh Dani ditulis dengan sangat melingker sehingga kita paham apa yang ia inginkan dan apa yang ia butuhkan. Keluarga. Pihak untuk mendengarkan dan berbagi perasaan dengannya. Sepanjang film dia harus menyadari dan melihat mana yang pantas untuk ia anggap sebagai keluarga. Naskah menuliskan ini semua dengan jelas lewat dialog dan bukti-bukti visual. Christian yang memeluknya dalam diam di bagian awal dikontraskan dengan penduduk komunitas yang mengikuti irama tangisan Dani di menjelang akhir film. Tadinya tidak ada teman yang ikut berduka dengan dirinya. Dani sendirian, terpisah secara emosi dari kelompoknya. Salah satu hal paling mengganggu yang diangkat oleh film ini adalah betapa orang-orang desa yang udah kayak orang gila itu justru lebih punya empati ketimbang geng Christian yang terpelajar. Para penduduk desa ikutan mengerang kesakitan ketika ada tetua mereka yang sakaratul maut ketika ‘gagal’ bunuh diri dalam sebuah upacara adat.  Para wanita di komunitas ikut menangis bersama Dina. Merekalah yang sebenarnya dicari oleh Dani. Bagi Dina, bukan masalah lagi perkara mereka-mereka itu sinting atau bukan. Yang jelas sekarang dia sudah bisa berbagi bukan hanya kesedihan dan duka, melainkan juga kebahagiaan dan suka cita. Ia tak lagi merasa terkucilkan.

Dunia Terbalik

 

Film mencapai puncaknya ketika mengeksplorasi hubungan antara Dani dan Christian. Penampilan Florence Pugh sebagai Dani menjadi salah satu kunci utama keberhasilan ini. Tadinya aku sudah cukup respek sama aktor ini, karena dia kelihatan sangat total bermain sebagai pegulat di Fighting with My Family (2019). Namun di Midsommar, dia bermain jauh lebih total lagi. Secara emosional, tentu saja. Ari Aster berhasil lagi menarik yang terbaik dari pemainnya, seperti yang ia lakukan sebelumnya pada Toni Collette di Hereditary. Kedua penampilan ini pantas untuk diganjar Oscar, meskipun memang sepertinya peran horor sulit untuk diloloskan.

Ketika kita melongok ke luar dari masalah Dani, begitu kita ingin merasakan dunia cerita secara utuh, film mulai terasa melemah. Karakter-karakter yang lain terasa sempit dimensinya. Jika pun ada ruang, seperti karakter salah satu teman Dani yang bernama Pelle, maka itu digunakan sebagai twist alias ada sesuatu yang ditutupi. Cerita fish-out-of-water sekelompok remaja hidup dalam lingkungan dengan peraturan yang menurut mereka ajaib tak pernah tampak benar-benar menantang karena ada beberapa kali kita harus menahan ketidakpercayaan lantaran mereka seperti tak pernah curiga melihat gelagat yang enggak-enggak. Seperti, film bisa saja berakhir jika semua pendatang di komunitas itu sepakat untuk pergi. Tapi tidak, film membuat mereka ‘terpisah’ dan tidak bergerak seperti manusia sungguhan. Melainkan sebuah bidak pada naskah.

Soal tragedi pada keluarga Dani di awal hadir dengan terlalu kompleks untuk tujuan melandaskan betapa sendirinya Dani bersama pikiran dan perasaannya. Film seolah mengisyaratkan peristiwa tragedi itu bakal balik dan berhubungan ke akhir cerita, tapi ternyata tidak. Mungkin ada petunjuk visual yang kulewatkan, entahlah, tapi aku merasa peristiwa tersebut seperti ditinggalkan begitu tujuannya sudah tercapai. Yang membuat penggambaran kejadiannya jadi terasa eksesif. Meski memang sekalian digunakan untuk melandaskan genre – sejauh mana film menampilkan adegan kematian – tapi aku tetap merasa mestinya ada cara yang lebih bisa klop merangkai kejadian sehingga tidak terkesan terlalu eksploitatif (terhadap genrenya sendiri).

 

 

 

Jadi itulah sebabnya aku merasa resah setelah menonton ini. Dari teknis kamera, editing, penampilan, visual, efek – ini benar-benar film juara. Gagasannya pun bikin merinding. Tidak peduli seperti apa keluargamu, yang penting kita bisa merasa menjadi bagian – dilihat, didengar, dimengerti – mereka. Namun juga aku merasa film ini tidak se-wah Hereditary. Ada elemen pada cerita dan penceritaannya yang terlalu dibuat untuk memenuhi standar pada genrenya. Sehingga jadi gimmicky. Selain itu, beberapa bagian mestinya bisa dipercepat temponya, karena ada yang tidak terlalu signifikan untuk menambah bobot cerita seperti adegan mereka getting high together. Catatan penting untuk yang mau nonton adalah ini film yang berpotensi besar untuk mengganggu dan bikin gak nyaman, meskipun memang lebih berhumor ketimbang Hereditary.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MIDSOMMAR.

CHILD’S PLAY Review

“And this is a friendship that will never ever end”

 

 

Lewat beragam poster teaser yang cerdas, meski sedikit terlampu nekat, digambarkan secara eksplisit Chucky membantai tokoh-tokoh mainan Toy Story. Reboot Child’s Play di negara asalnya memang tayang berbarengan dengan Toy Story 4 (2019). Dan ternyata, untuk menambah kesan ‘mengerikan’, kesamaan film ini dengan animasi Pixar tersebut tidak berakhir sampai di sana.

Pertama-tama, pemilik Chucky juga bernama Andy. Tapi tentu saja tidak semua film yang memajang tokoh anak kecil dimaksudkan sebagai tontonan untuk anak-anak. Terutama jika tokoh anak tadi punya mainan yang mengucapkan sumpah serapah dan bisa belajar untuk berbuat kekerasan. Chucky dalam Child’s Play adalah gambaran gelap dari keinginan Woody dan teman-teman dalam Toy Story. Film ini juga memiliki filosofi yang sama; semua mainan ingin dimainkan. Seperti Woody kepada Andy, Chucky kepada Andy-nya (as in, Andy miliknya satu-satunya) juga punya masalah ketergantungan. Hanya saja, ketergantungan Chucky – ‘kepolosan Chucky’ – enggak ada imut-imutnya sama sekali.

Dalam adegan pembuka kita melihat Chucky merupakan produk boneka modern merek Buddi yang diprogram untuk berteman selamanya dengan anak yang membeli. Tapi Chucky diprogram untuk bisa berbuat jahat, berkat salah satu pekerja yang sakit hati diperlakukan semena-mena oleh mandor pabrik mainan. Chucky yang matanya menyala merah alih-alih biru itu pun sampai di tangan Karen (peran ibu muda yang cool yang cocok banget dibawakan oleh Aubrey Plaza), seorang single-parent berjuang sebagai karyawan supermarket, yang menghadiahi Chucky kepada anaknya. Andy (Gabriel Bateman memainkan anak menjelang ABG yang edgy) yang tak punya teman di lingkungan baru mereka pada awalnya memang senang bermain dengan boneka Buddi yang canggih. Dengan ‘safe protocol’ tak pernah terinstall, Chucky punya keistimewaan yang membuat dirinya tidak semembosankan boneka-boneka yang lain. Tapi yang diperbuat oleh Chucky semakin lama tampak semakin berbahaya. Boneka ini hanya mau membuat Andy senang, namun dia tidak punya batasan. Andy yang merasa ngeri mulai menjauh, tapi itu hanya membuat Chucky semakin bernapsu untuk terus bermain bersama. Mayat-mayat pun mulai menumpuk di sekitar Andy, yang berjuang untuk membuktikan semua kejadian tersebut merupakan ulah dari sebuah boneka.

ide judul film horor: Hutang Buddi Dibawa Mati.. ayo, Produser-Produser, ditunggu teleponnya

 

Sejak 1988, Chucky susah untuk dibunuh. Literally. Bahkan pembuatnya saja, Don Mancini, gak sanggup untuk menghentikan lajunya bibit-bibit sekuel yang terus bermunculan. Child’s Play versi baru ini lucu lantaran lahir di saat sekuel orisinalnya masih berlanjut. Bahkan bakalan ada series yang menyambung timeline di cerita aslinya.  Sutradara asal Norwegia, Lars Klevberg, jelas punya visi yang begitu kuat sehingga dengan pedenya dia tetap membuat Child’s Play. Paling tidak, dia paham untuk membuat suatu reboot atau remake dibutuhkan perubahan dan alterasi yang benar-benar matang, perlu gagasan yang membuat cerita tadi terasa segar. Jadi, ya, kita akan melihat banyak perbedaan signifikan antara Child’s Play versi ini dengan versi orisinal-dan-peranakannya. Terutama dari si Chucky itu sendiri.

Untuk meremajakan kisah ini, Klevberg membuang elemen supernatural. Chucky tidak lagi dirasuki oleh jiwa Charles Lee Ray, seorang kriminal penyembah setan. Chucky di film ini adalah sebuah gadget sangat canggih. Dia boneka yang dibuat oleh perusahaan elektronik besar – bayangkan Apple yang tidak membuat telepon pintar melainkan boneka pintar. Chucky dan boneka-boneka Buddi punya sistem online yang membuat mereka terhubung dengan aplikasi-aplikasi seperti saluran televisi, layanan transportasi, dan mainan-mainan elektronik. Jadi begitu Chucky mengamuk di paruh akhir cerita dengan menggerakkan berbagai macam barang-barang, kita merasa lebih ngeri karena lebih mudah membayangkan teknologi yang kita miliki tiba-tiba malfungsi alih-alih membayangkan ada makhluk poltergeist mengendalikan mereka. Mungkin kita bakal merasa sedikit ditegur, karena film ini menunjukkan malapetaka bernama Chucky itu justru datang dari kelalaian manusia dalam menangani teknologi. Melihat Chucky, berarti kita melihat perjalanan sesuatu yang tadinya netral menjadi berbahaya karena manusia di sekitar Chucky memutuskan untuk menggunakannya untuk sesuatu yang buruk ataupun tak berfaedah. Chucky belajar membunuh lewat televisi; dia menyaksikan Andy dan teman-temannya terhibur oleh adegan sadis. Sebaliknya, melihat Andy, berarti kita melihat pembelajaran tentang betapa kita kadang tidak menyadari kita tidak memerlukan hal yang kita pinta, sebab film ini menunjukkan harapan-harapan Andy diwujudkan oleh Chucky secara mengerikan.

Persahabatan hingga-akhir yang disebut oleh film ini boleh jadi merujuk kepada hubungan saling ketergantungan antara manusia dengan teknologi. Manusia menciptakan sesuatu berkenaan dengan kebutuhannya akan penghiburan. Sebaliknya, hiburan yang diciptakan justru berbalik menjadi mempengaruhi manusia. Dalam film ini kita melihat pengaruh kekuatan Chucky bisa begitu luas lantaran manusia sudah sedemikian konsumtifnya terhadap penggunaan teknologi, sehingga manusia menjadi lepas kontrol.

 

Klevberg, untungnya tidak seperti Chucky yang galau gak diajak main sehingga melakukan hal-hal di luar norma. Klevberg tahu batasan dalam ‘bermain-main’. Child’s Play yang dibuatnya punya perbedaan signifikan tetap mempertahankan sisi-sisi yang membuat film aslinya menjadi sensasi horor-cult. Film ini, sukur alhamdulillah, tidak dibuatnya ekstra kelam dengan backstory yang serius. Film-film Chucky selalu merupakan film horor hiburan yang konyol. Sadis tapi menggelikan. Kita dimanjakannya dengan adegan-adegan kematian yang over-the-top. Banyak hal-hal horor yang hilarious bertebaran di sepanjang film. Rating R membuat film ini lebih leluasa dalam bercanda dan berslasher ria. Aku tantang kalian untuk tidak tertawa miris melihat semangka yang dihadiahkan Chucky kepada Andy. Film ini tahu cara menjadi horor 80-an yang baik. Kita punya keluarga  dengan dinamika yang khas – aku suka cara film menghubungkan Andy dengan ibunya dengan seorang polisi yang juga punya ibu. Kita punya geng anak-anak yang berusaha merahasiakan sesuatu, yang di luar nalar dan kemampuan mereka. Kita punya adegan ‘one last scare’ dan satu dialog pamungkas dari seorang ‘final girl’. Film ini sudah memenuhi kriteria horor yang ikonik – ia akan menjadi modern-klasik. Pembuat film tampak banyak bersenang-senang. Ada banyak adegan easter egg dan foreshadowing, seperti ketika di awal-awal kita melihat ibu Andy melakukan gestur gantung diri sebagai tanggapannya terhadap reaksi Andy ketika dihadiahi Chucky. Mark Hamill, terutama, terdengar sangat asik menyuarakan Chucky. Hamill memberikan ciri tersendiri yang membuatnya berbeda, sekaligus tak dipandang sebelah mata.

Andy tadinya mau ngasih nama Han Solo kepada boneka Buddinya hhihi

 

Dan sebagaimana pada horor-horor jadul, tokoh pada film ini pun tak banyak diberikan karakteristik. Beberapa di antara mereka sangat klise. Dalam teman segeng ada yang gendut, ada yang aneh, ada yang jahat. Ibunya Andy punya pacar dan si pacar itu brengsek satu-dimensi yang punya masalah dengan Andy. Semua trope karakter itu mungkin bisa dioverlook, karena kita lebih peduli sama cara mereka dibuat mati nantinya. Tapi tetep saja kita berpikir, kalo saja mereka ditulis dengan lebih baik.  Kita tidak harus menunggu mereka mati, tertawa ngeri, dan kemudian tak peduli. Inilah yang membuat film-film horor barat itu yang terkenalnya malah sosok pembunuhnya. Mereka malah menjadi ‘hero’ yang kita cheer. Kita tidak merasa kasihan sama manusia-manusia yang menjadi korban. Padahal mestinya paling enggak kita peduli sama mereka. Salah satu hubungan yang menurutku bakal bikin film semakin asik ditonton adalah antara ibu Andy dengan polisi tetangga mereka. Aku ngarep mereka lebih banyak ditonjolkan lagi.

Perbedaan yang dibuat oleh sutradara, selain memberikan rasa segar, juga menjadi salah satu kekurangan. Chucky dalam film ini kehilangan jiwa. Karena dia tak pernah seorang manusia seperti Chucky jaman dulu. Chucky kini hanya A.I. Film berusaha membuat dia tampak polos – seperti E.T. malah, dia belajar dari sekitar. Tapi bahkan E.T. adalah makhluk hidup. Sedangkan di sini kita sudah tahu bahwa Chucky hanya diprogram. Kita tahu perasaan ingin berteman dan membahagiakan Andy itu artifisial sedari awal. Kemudian kita tahu dia dibuat bisa melakukan kekerasan yang malah membuat kita mempertanyakan aturan main dari kejahatan di dalam ciri Chucky. Kenapa dia tidak langsung berkembang sedari awal. Pada titik mana tepatnya Chucky meninggalkan kebaikan. Film ini lumayan mengeksplorasi lingkungan sekitar, yang berkaitan dengan perkembangan Chucky – soal Andy yang juga termasuk ‘kasar’ karena Ibunya sedikit terlalu bebas dalam hal parenting. Tapi tetap saja, Chucky yang sekarang punya karakter yang lebih tipis ketimbang yang dulu. Salah satu cara film untuk memperlihatkan seolah Chucky punya karakter adalah dengan adegan dia ‘bercandar’ dengan Andy saat mengubah wajahnya. But it’s more silly karena memusatkan perhatian kita semua kepada betapa anehnya desain Chucky yang sekarang. Cukup susah untuk mempercayai desain creepy seperti itu dipilih sebagai mainan sahabat manusia.

 

 

 

Pada dasarnya ini adalah salah satu dari sedikit sekali remake/reboot yang bener; yang dibuat dengan bener-bener ada perubahan positif dan visi baru yang membuatnya tampak serupa tapi tak sama. Film ini juga berhasil tampil seru, menyenangkan, menghibur, sekaligus berdarah – khas horor klasik jaman dulu. Aku bener-bener senang di bulan Juli ini dapet dua horor yang tau persis cara membuat horor yang menghibur. Jika kalian bisa tahan sedikit jumpscare dan enggak masalah soal desain baru Chucky yang hanya sedikit lebih rupawan daripada Annabelle, film ini hiburan yang cocok ditonton berkali-kali. Karena pengkarakteran yang tipis itu tak-pernah menadi sandungan besar untuk film-film seperti ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for CHILD’S PLAY.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Child’s Play, tampaknya, adalah seri pertama dan satu-satunya yang diciptakan saat originalnya masih berlangsung. Kayak gak mau kalah ama Annabelle. Menurut kalian kenapa orang suka menjadikan benda-benda polos seperti boneka sebagai simbol horor?

Kenapa, seperti Andy dan teman-teman, kita begitu excited melihat benda-benda lucu melakukan hal-hal kasar/keji/tak-senonoh?

Share with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

MATIANAK Review

“Blessed are the merciful, for they will be shown mercy”

 

 

 

Siapa yang menanamkan kebaikan, dia akan menuai – coba tebak – kebaikan juga. Jika kita menunjukkan kasih sayang yang begitu besar, dengan tulus, kita akan disentuh balik oleh kasih sayang yang tak kalah hangat. Sungguh merupakan kalimat yang positif untuk mengajarkan kebaikan kepada sesama manusia. Siapa sangka, dalam debut pertamanya sebagai seorang sutradara, aktor Derby Romero berhasil membuat perbuatan positif tersebut jadi punya undertone yang mengerikan.

 

Ina (juga menjalani debutnya dalam horor, Cinta Laura Kiehl punya presence yang kuat) besar tanpa orangtua di panti asuhan kini tumbuh menjadi wanita yang benar-benar cinta dan peduli kepada anak-anak yatim piatu yang diasuhnya. Film menunjukkan hangatnya hubungan yang terjalin di antara Ina dengan anak-anak. Dan anak-anak itu juga respek dan peduli padanya. Hingga kemudian Andy, satu-satunya korban yang selamat dari insiden yang menewaskan satu keluarga, ditempatkan ke panti mereka. Andy anak yang aneh. Dia jarang ngomong. Anjing takut kepadanya. Kejadian-kejadian seram bermunculan bersamaan dengan kehadiran Andy di tengah-tengah mereka. Andy dijauhi. Oleh anak-anak, maupun oleh pengasuh. Kecuali Ina. Actually, Ina-lah yang justru menjamin Andy tinggal di sana saat pemilik panti menolak untuk menerimanya. Menyebut dengan tegas dirinya yang bertanggungjawab atas Andy.

Babak pertama dan kedua film ini bergulir dengan menyenangkan untuk diikuti. Pesona cerita memang sepertinya terletak pada interaksi tokoh, baik itu Ina yang memposisikan dirinya sebagai ‘big sis’ kepada anak-anak. Maupun sesama anak-anak itu sendiri. Kehidupan dalam film ini terbangun dengan tidak melupakan napas horornya. Bagaimana anak kecil melihat gudang sebagai tempat yang menyeramkan, dan mereka mengarang-ngarang cerita untuk saling menakuti (biar takutnya sendiri gak keliatan!), kemudian saling menantang untuk masuk ke gudang – buatku momen-momen seperti begini yang membuat film hidup. Tone ceritanya bercampur dengan mulus. Kita boleh jadi tertawa melihat tingkah tokoh cilik, bisa juga sedikit tersentuh melihat aksi yang dilakukan oleh Ina demi anak-anak asuhnya, sekaligus tetap was-was dengan horor yang bakal terjadi. Bangunan horor, petunjuk untuk twist di akhir, semuanya terjalin di dalam cerita.

si Andy mirip Ocho kecil di film live-action manga 20th Century Boys (2008)

 

Meskipun banyak tokoh anak-anak, tapi film ini jelas bukan untuk konsumsi anak-anak. Film cukup bijak untuk langsung memberitahuk kita gambaran atmosfer mereka right at the beginning of the movie. Ya, memang sih, sudah jadi adat jelek penonton untuk gak terlalu musingin kategori-umur film – kita sesama penonton tidak bisa berbuat banyak jika bioskop sendiri pun tidak tegas. Tapi serius deh, untuk horor yang satu ini, aku sarankan orang-orang dewasa untuk mematuhi dan peka terhadap rambu-rambunya. Jangan bawa anak kecil nonton film ini. Kasian mereka, bisa trauma. Level kekerasan dan gore pada film ini berada di level yang tinggi, sehingga nyaris bisa disebut sebagai body horror. Ada gambar-gambar disturbing seperti hantu anak kecil dengan usus terburai. Mayat manusia bergelimang darah dengan posisi anggota tubuh yang bikin meringis. Dan tokoh-tokoh anak kecil tadi; mereka ada dalam cerita bukan sekadar untuk teriak-teriak ketakutan. Cerita benar-benar tak pandang bulu dalam memilih korbannya. Semua adegan pembunuhan yang dalam film ini memang dilakukan off-screen, kamera bakal berpaling dari ‘momen klimaks’ tapi tetap saja masih ada suara, dan aftermath, yang bakal membuat imajinasi kita meliar. Dan percayalah imajinasi kita kadang lebih kuat daripada gambar yang disuapi, malahan horor-horor yang bagus selalu menerapkan hal ini; tidak memperlihatkan yang krusial dan membiarkan penonton bergidik sendiri tanpa bisa keluar dari imajinasi di dalam kepalanya.

Menurutku film ini sebenarnya tidak perlu untuk menjadi begitu loud untuk menjadi seram. Tapi mungkin karena belum terlalu pede, maka kita masih menjumpai fake jumpscare yang suara-suaranya bikin jantung copot. Padahal beberapa adegan ditangani dengan baik sehingga atmosfer seremnya itu kerasa. Film sempat bermain dengan lilin. Aku suka shot dari belakang mobil yang sedang berjalan dengan kanan-kiri pepohonan yang bergoyang tertiup angin, tapi goyangannya itu tampak patah-patah sehingga kesannya eerie banget. Aku juga suka bagian ketika Fatih Unru yang jadi salah satu anak panti terkurung di dalam gudang. Editing di bagian ini precise banget. Kamera membawa kita terpotong pindah dari Fatih yang berteriak ketakutan sambil menggedor pintu ke sosok hantu di belakangnya, dan semakin frantic pindahnya si hantu semakin mendekat. Intensitas horor saat sekuen adegan ini bekerja dengan sangat baik. Jumpscarenya pun bekerja dengan efektif dan benar-benar mengena kepada penonton – in a good way. Soal gore dan darahnya; kalian tahu aku suka. Kita juga sama-sama bisa melihat kenapa tone horornya harus memuncak ke arah sana. There’s something about showing mercy yang semakin ke sini semakin regresi, di mana tokoh utama kita harus dihadapkan dengan cara kerja dunia yang berlawanan secara ekstrim dengan keadaan ideal yang ia anut.

Tadinya kupikir MatiAnak bakal seperti The Orphanage (2007), horor Spanyol yang juga tentang wanita yang memilih mendedikasikan hidupnya bekerja di panti, dengan elemen gore. Mungkin memang gak benar-benar original, tapi masih bisalah bekerja dengan gayanya sendiri. Namun masuk babak ketiga, film ini ternyata lebih mirip ama Hereditary (2018) – dan musti kutambahkan, MatiAnak failed dalam usahanya untuk menjadi seperti horor buatan Ari Aster tersebut.

“Malu? Malu? Malu? Malu gak?”

 

Tadinya kupikir yang aneh dari film ini cuma kenapa Ina yang sejak kecil tumbuh dan gede di lingkungan panti asuhan lokal masih beraksen bule dan bukankah poin dari menjadi aktor adalah bermain bukan menjadi diri sendiri. Tapi di babak ketiga, setelah melihat di mana elemen-elemen cerita berkumpul, setelah jawaban dari plot poin mulai terlihat dan mengembang menjadi penjelasan, keanehan dalam film ini semakin banyak. Seolah film gak tahu bagaimana harus mengikat cerita sehingga punchline ataupun gagasan yang ada tadi itu menjadi kuat sebagai final. MatiAnak bisa kubilang sebagai salah satu horor dengan penyelesaian yang asal-selesai yang pernah kutonton. Aku tidak mengerti transformasi Ina; kenapa dia harus ‘ngalah’. Aku mengerti build up cerita berfokus kepada antara Ina dengan Andy, progresnya adalah sekarang Ina yang mendapat belas kasihan – kita melihat Ina yang semakin ke sini semakin galak, rambutnya semakin awut-awutan, tapi aku tetap tidak bisa melihat kenapa dia begitu cepat, katakanlah, menerima takdirnya. Seperti ada perlawanan atau satu momen penyadaran yang terskip oleh cerita. Ada adegan ketika Ina harus melukai seseorang, dia malahan sempat berantem dulu, yang mustinya adalah titik balik tokoh yang tadinya elok budi pekerti banget, tapi efeknya terasa terburu dan gak benar-benar mengena.

Film seperti kebingungan menangani elemen cult pada ceritanya. Kita tidak pernah benar-benar mendapat sense yang pasti soal apa sih yang dikerjakan oleh mereka, how do they work, sebatas apa campur tangan mereka, karena dalam film ini juga terdapat sejumlah hantu yang gak jelas siapa, yang siapa. Ada hantu keluarga Andy, ada sosok hitam yang supposedly ‘Raja’ yang anggota cult sembah, tapi juga ada hantu nenek-nenek, terus entah hantu apa yang sempat merasuki anak-anak. Juga ada bagian investigasi. Ina mengunjungi rumah Andy untuk mencari petunjuk. Namun investigasi tersebut sungguhlah pointless karena hanya berujung pada sebuah flashback yang adegannya sendiri pretty much adegan yang kita saksikan di awal film. Ina tetap tidak tahu apa yang terjadi, later on jawaban diberikan kepadanya oleh tokoh yang lain. Agak sayang sih, soalnya di dua babak sebelumnya Ina dibuat cukup kuat – dia melakukan banyak pilihan, tapi ternyata dia tidak benar-benar melakukan aksi apa-apa saat penghujung cerita. Dan bicara soal pointless, aku sungguh tidak mengerti kepentingan tokoh Jaka selain untuk antar-jemput dan biar ada romance-nya barang sedikit.

 

 

 

Lumayan kuat di dua babak awal, namun keteteran di akhir. Ada banyak yang mestinya bisa lebih diefektifkan lagi. Aku benar-benar bengong di ending karena terasa maksain untuk berhenti di sana. Padahal masih ada pilihan untuk tokoh utamanya, tapi naskah mengharuskan dia untuk memilih itu tanpa banyak pertimbangan. Ini seperti ketika kita main video game, semua musuh sudah kalah, tinggal bos terakhirnya, dan kita malah milih untuk tidak melawan sang bos. Tapi, di balik semua itu, aku cukup senang horor sudah menjadi begitu hitsnya di sini sehingga memancing sisi kreatif dari pelaku perfilman muda. Asalkan semuanya mau belajar dan menantang diri sendiri, aku yakin tidak butuh waktu lama untuk kita mendapat Jordan Peele-Jordan Peele tanah air, ataupun horor yang benar-benar sejajar ama kualitas Hereditary
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for MATIANAK.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Membesarkan orang yang mungkin bakal menjadi ‘musuh’ kita sih sudah biasa, tapi jika dibalik; maukah kalian mendapat belas kasihan dari orang yang kalian takuti?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.