THE EAST Review

“A guilty conscience needs to confess.”

 

Dari dulu aku penasaran gimana sih peristiwa penjajahan negara kita, yang katanya berlangsung selama 350 tahun, di mata ‘pelakunya’ alias orang-orang Belanda sendiri kini. Tentunya, bagi orang Belanda, peristiwa tersebut menjadi catatan sejarah yang gelap juga. Film The East (aslinya diberi judul De Oost) sempat dirundung kontroversi, sama seperti ketika ada yang berusaha bercerita tentang PKI atau sejarah kelam lainnya di sini. Tapi segera mereda karena memang The East hadir dengan tujuan mulia. Film ini muncul bukan sebagai pengorek luka yang kemudian berusaha menyembuhkannya dengan berbagai pembelaan. Melainkan hadir hampir seperti sebuah permintaan maaf. Dan seperti yang ditunjukkan oleh pilihan protagonis pada ending nanti, film ini sesungguhnya adalah sebuah pelampiasan dari rasa bersalah berkepanjangan, pelampiasan yang diniatkan sebagai perwakilan dari yang dirasakan oleh orang-orang Belanda selama ini.

Cerita yang disuguhkan mengambil sudut pandang karakter fiksi bernama Johan de Vries (diperankan oleh Martijn Lakemeier dengan tantangan range emosi yang cukup lebar oleh developmentnya). Karakter inilah yang nanti mengarungi berbagai peristiwa yang beneran tercatat dalam buku sejarah, bertemu dengan tokoh-tokoh beneran. Johan jadi tentara relawan yang dikirim ke kamp di Semarang. Kondisi daerah koloni Belanda tersebut memang sedang tidak stabil selepas konflik dengan Jepang. Ada pemberontakan dari penduduk lokal yang sudah siap untuk menggaungkan kemerdekaan. Misi Johan adalah melindungi tanah properti Belanda tersebut dengan berpura-pura menjadi pelindung bagi penduduk. Namun yang dilihat dan dirasakan Johan di sana membuat nuraninya konflik dengan tugas yang diberikan. Terlebih ketika Johan terpilih sebagai salah satu orang kepercayaan Raymond Westerling (Marwan Kenzari tampak berkarisma, sekaligus bikin ciut), komandan yang tadinya dielukan sebagai Ratu Adil.

east32780_135829_st_sd-high
Supaya gak spoiler, coba buka lagi buku sejarahmu dan lihat hal mengerikan apa yang dilakukan oleh Westerling di Makassar

 

Sutradara Jim Taihuttu memang adalah orang yang tepat untuk mengangkat tragedi ini menjadi cerita dengan perspektif yang berimbang. Karena bukan saja dia berkebangsaan Belanda, dia juga memiliki darah Maluku. Jadi dia bertapak di antara dua kubu. Ini membuat film The East sendiri jadi punya weight atau bobot. Aku tahu aku sudah berkali-kali nulisin soal ini – bahkan mungkin ada pada setiap review film perang; Bahwa cerita perang tidak pernah merupakan soal hitam-putih. Selalu ada dilema. Selalu ada pertentangan moral yang hebat. Bayangkan seseorang yang mau mengakui kesalahan, tapi dia melakukannya jadi terkesan setengah hati karena terlalu mencoba untuk membela diri, memperlihatkan kebimbangan moral dan resiko dan keharusan yang terpaksa dia ambil. Film The East tidak pernah tampil seperti orang yang sedang berusaha membela diri. Dan itulah yang membuat film ini nyaman untuk ditonton. Terutama bagi kita, descendants dari pihak terjajah yang ada di dalam cerita.

Film ini tidak pernah tampil seperti membenarkan tindakan Belanda, tidak pernah tampil dengan sikap seorang savior. Dia mempersembahkan apa adanya. Penjajahan bagaimanapun juga tidaklah berperikemanusiaan. Kita tidak bisa jadi pahlawan dengan menjajah orang di negara mereka sendiri. Keberimbangan itu tercapai berkat lapisan yang diberikan cerita kepada pihak satunya. Film ini pun tidak ragu untuk memperlihatkan Indonesia sebagai kelompok teroris, paling enggak beberapa kelompok yang bertentangan. Gambaran kacaunya situasi politik yang memecah-belah persaudaraan sendiri ditampilkan oleh film sebagai salah satu pendorong plot.

Tak pelak, karakter Johan memang dirancang sebagai perwakilan dari serdadu-serdadu Belanda, bahkan mungkin jutaan orang Belanda yang merasa bersalah. Plot atau Journey karakter ini menggambarkan semua proses penyadaraan yang mungkin mereka alami. Kita melihat Johan awalnya sebagaimana anak-anak muda yang udah gak sabar untuk melakukan sesuatu untuk negaranya. Johan, menjalin persahabatan dengan teman-teman di kamp, bangga menjadi prajurit. Interaksi mereka mungkin klise, seperti yang selalu ada pada film-film perang, tapi konteks cerita membuat kita memakluminya. Karena untuk beberapa bulan tidak ada perang. Jadi mereka tidak ‘menceritakan kisah hidup lalu mati’ seperti yang sudah-sudah. Ada pertanyaan yang menghantui benak mereka, terutama Johan mengenai sebenarnya apa yang mereka lalukan di situ. Pertanyaan itu yang lantas berkembang menjadi developmental bagi karakter Johan. Steps dari seseorang yang bangga ke yang merasa perlu ada di sana ke merasa harus menjadi penyelamat ke rasa bersalah yang mengubah dengan cepat (dalam sense penceritaan) mood karakter menjadi depresi dan kelam; inilah yang jadi medan penceritaan, dan film berhasil melakukan dengan benar dan menyentuh. Mainly karena berimbang itu tadi.

Nurani yang dirundung rasa bersalah butuh melakukan sebuah pengakuan.  Albert Camus bilang, pengakuan itu bisa dilakukan dalam bentuk seni. Film ini adalah salah satu bentuk seni yang dimaksud. Karena film ini berhasil menggambarkan pengakuan rasa bersalah yang dilakukan oleh Johan dengan cara kelam tersendiri.

 

Kamera tak luput merekam, menunjukkan dengan tepat seperti apa rasanya berada di daerah yang rawan konflik. Kita lihat Johan dijamu minum kelapa oleh anak kecil, dan beberapa menit kemudian film memperlihatkan kepada kita imaji mengerikan kepala manusia tertancap pada pancang. Perhatian yang tajam pada detil dramatis, serta historis seperti demikian membuat film ini terasa benar-benar memeluk kita. Mengukung kita ke dalam cerita kemanusiaan, sehingga tak bisa berpaling dari horor yang datang ketika kemanusiaan tersebut berada pada konflik.

Supaya terasa semakin otentik, film benar-benar turun suting ke Indonesia. Menggunakan bahasa dan (berjuang dengan) dialeg Indonesia. Beberapa aktor Indonesia seperti Lukman Sardi, Yayu Unru, Putri Ayudya juga turut menyumbangkan permainan peran. Kalian bisa sedikit bersenang-senang menantikan penampilan mereka. Kolaborasi studio Belanda dan Indonesia demi mewujudkan film ini secara tak-langsung tentu saja menambah bobot kepada apa yang ingin disampaikan dalam cerita. Bagaimana mampu mengenali persahabatan di dalam perang bisa jadi adalah hal yang diperlukan untuk menghentikan perang tersebut.

eastin-productie-de-oost-2
Kenapa tentara Belanda begitu benci ama monyet?

 

Dengan cerita yang sudah detil dan karakter yang berlapis, yang harus dipikirkan oleh film ini kemudian tentu saja adalah cara menceritakannya. Unfortunately, film ini memilih menggunakan flashback. Jadi actually periode cerita terbagi ke dalam dua bagian, Johan masih serdadu di Semarang (ditampilkan lewat warna-warna yang lebih natural) dengan Johan yang sudah kembali ke negaranya – terbebani oleh rasa bersalah yang ia dapatkan sebagai oleh-oleh (ditampilkan lewat warna monokrom entah itu biru atau abu). Dua periode ini disebar saling berganti sepanjang durasi film. Perpindahan antara dua periode inilah yang seringkali membuat kita terlepas dari cengkeraman cerita. Film tidak berhasil menemukan, atau mungkin lebih tepatnya merancang, momen perpindahan yang benar-benar selaras. Periode Johan depresi sebenarnya penting karena membahas satu lapisan lagi dari karakternya, yakni soal hubungannya dengan ayah yang ex-nazi. Relasi ini adalah kunci yang membentuk sudut pandang Johan yang sebagian besar kita lihat.

Tapi dengan memperlihatkannya berpindah-pindah, film jadi kehilangan ritme cerita. Bobot ke ayahnya itu tidak terasa sekuat yang diincar. Belum lagi, karena adegan-adegan Johan di Semarang jelas lebih menarik daripada saat dia kembali ke Belanda. Sehingga secara natural kita yang nonton akan lebih peduli dengan adegan di daerah konflik, pingin cerita cepat-cepat balik ke sana lagi. Film jadinya kehilangan keseimbangan dari segi penceritaan. Tingkat dramatis yang diincarpun jadinya gagal tercapai. Terutama karena di babak ketiga, ketika setting pindah ke Makassar saat Johan sudah jadi pasukan Westerling, cerita jadi seperti melompat dan seperti ada pengembangan yang ketinggalan. Karakter yang berubah mendadak, tidak lagi terflesh-out perlahan seperti di awal.

Mestinya film diceritakan dengan linear saja. Dimulai dari dikirim ke Semarang, di kamp, terus jadi pasukan Westerling, dan kembali ke Belanda untuk penyelesaian. Resikonya paling cuma membuat film terasa seperti terbagi jadi dua episode. Tapi setidaknya emosi yang diincar akan bisa terhampar dengan lebih runut. I mean, Full Metal Jacket (1987) aja dibuat Kubrick dengan linear, menempuh resiko tersebut; filmnya terasa seperti episode pelatihan dan episode medan perang. Tapi kita tidak terlepas dari development dan emosi dan bobot cerita. The East ini punya potensi, paling tidak, bisa seperti saga seorang tentara yang disturbing. Formula dan bahan-bahannya sudah benar. Cetakannya saja yang perlu diperbaiki.

 

 

Tak berlindung di balik fiksi, film ini berani tampil membahas sudut pandang yang tak banyak mau dieksplorasi. Tentang Belanda di jaman kolonial Indonesia. Tentang pihak yang menjajah. Dan film ini menampilkannya dengan imbang. Tak ada agenda glorifikasi atau pembelaan diri. Film ini pure memperlihatkan sisi kemanusiaan yang dialami oleh pihak-pihak yang terlibat. Sebagai film perang, however, film ini mengikuti formula dengan baik. Kita bisa bilang klise, tapi masih unik berkat sudut pandang. Pada penceritaannya-lah film ini ‘kena tembak’. Alur flashback yang dipakai actually menghambat kita dalam mengikuti dan tidak banyak membantu untuk filmnya sendiri. Tapi yang perlu ditekankan sedikit lagi adalah, keberanian film ini mengangkat isu. Sehingga mungkin film ini break something new di perfilman Belanda; mungkin perbandingannya seperti kalo ada sineas sini yang berani bikin film tentang PKI.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE EAST.

 

 

That’s all we have for now.

Jika film ini dianggap sebagai surat permintaan maaf dan penyesalan dari Belanda, apakah menurut kalian yang dilakukan film ini untuk itu sudah cukup?

Share  with us in the comments 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

JUDAS AND THE BLACK MESSIAH Review

“The most powerful weapon on Earth is the human soul on fire”
 

 
 
Pidato “Dream” Martin Luther King memang membawa pengaruh besar bagi pergerakan Civil Rights. Bibit-bibit perjuangan mulai tumbuh. Dan Amerika, menyandang racist status quo dengan bangga, terus memonitor gerakan-gerakan kulit hitam. That’s when they ‘found’ Fred Hampton. Messiah – Penyelamat – bagi kaum-kaum marginal, yang menggerakkan massa lewat berbagai program menghimpun persatuan dan protes demi protes antikekerasan. FBI sudah siap untuk mengangkat senjata, membasmi Partai Black Panther tempat Hampton bernaung di Chicago. Tapi tidak sebelum mereka membuat cerita ini benar-benar seperti kisah dalam Alkitab. Senjata rahasia FBI untuk melumpuhkan Black Panther adalah dengan menyusupkan seorang Judas – seorang pengkhianat – ke dalam barisan Fred Hampton.
Judas and the Black Messiah garapan Shaka King akan membawa kita melihat secara personal apa yang sebenarnya terjadi pada malam penyergapan dan pembunuhan Fred Hampton. Karena film ini akan memposisikan kita mengikuti Bill O’Neal, pemuda kulit hitam sekuriti khusus kepercayaan Hampton dan Black Panther, but also pemuda kulit hitam yang jadi informan FBI.

“I’m becom-, I’m becom-, I’m becomiiing
Judas in, Judas in my mind”

 
Dalam interogasi pertamanya dengan agen FBI yang bakal mempekerjakannya, kita mendengar sudut pandang menarik dari Bill O’Neal. Bahwa menurutnya badge atau lencana pengenal lebih menakutkan daripada pistol. Karena badge mengisyaratkan seseorang adalah bagian dari sesuatu yang besar, bahwa ada army yang siap mendukung di belakang mereka. Interogasi yang menjadi bagian dari pembuka film ini boleh jadi diniatkan untuk memperlihatkan alasan kenapa O’Neal sampai bisa atau mau jadi penyusup untuk FBI melawan gerakan rekan-rekan senasib seperjuangannya sendiri. Namun, kalimat yang O’Neal sebutkan perihal ‘badge dibandingkan pistol’ tersebutlah yang dengan sukses mengeset karakternya. Membuat kita bisa mengerti apa yang lebih bervalue bagi O’Neal, dan ini akan berdampak kepada pilihan-pilihannya nanti. Serta menambah bobot emosional dan drama ketika dia melihat dan mengexperience langsung ‘didikan’ Hampton. Dan ini semua itu bukan dilakukan oleh film untuk nge-justify his action later, melainkan untuk menanamkan konflik moral bagi tokohnya.
Karena lencana itu ternyata bukanlah ‘lambang’ polisi atau FBI. O’Neal salah. Perjuangan Hampton dan pemuda-pemuda kulit hitam lain bukanlah perjuangan bersenjata. Sure, mereka punya pistol dan senapan untuk membela diri, tapi setelah benar-benar berada di antara Black Panther, O’Neal bisa melihat bahwa Hampton – sebagaimana Martin Luther King – menggagas gerakan nonviolent.
Setiap kali ada film biografi dari sejarah atau dari peristiwa yang beneran terjadi ini pasti selalu ngeri. Ngeri karena yang dipotret oleh film tersebut, yang tercatat sebagai peristiwa atau masalah lampau, ternyata masih relevan – dan untuk kasus film ini – tampaknya masih hangat terjadi di masa kita menontonnya sekarang. Kita bisa relate karena cerita perjuangan para pahlawan kita juga bicara soal musuh paling mematikan itu ya, musuh dalam selimut. Pengkhianat dari orang sendiri. Sedangkan bagi orang Amerika tentu saja film ini masih relevan sekali dari segi masalah rasisme dan kesemena-menaan aparat. Hukum yang berlaku keras di depan nonkulit putih doang. Belum lama ini kita toh melihat serbuan Kapitol oleh kulit putih, tapi tidak satupun pelakunya mendapat hukuman yang keras. Banyak yang jadi berandai-andai kira-kira apa yang terjadi kalo para penerobos adalah kulit hitam.

Yang jadi sorotan dalam film ini adalah betapa cepatnya polisi mengangkat senjata dan bersiap-siap akan kemungkinan terburuk terhadap perjuangan kulit hitam, sekalipun perjuangan tersebut tidak benar-benar melibatkan tindak kekerasan. Pernah lihat foto polisi menodongkan senjata api ke wajah seorang bocah? Nah, bagaimana bisa polisi dan aparat yang bersenjata takut dan curiga terhadap warga yang tidak pegang apa-apa. Dari perjuangan Hampton, film ini menyugestikan bahwa semangat perjuangan orang yang merasa tertindas itu memang lebih kuat dan mematikan. Pistol bukan apa-apa dihadapannya. Makanya polisi pada ketakutan.

 
O’Neal kini bisa melihat the invisible badge of honor yang ‘dikenakan’ oleh Hampton, orang itu punya bala pengikut yang besar sekali jumlahnya. O’Neal melihat Hampton membuat gerakan pelangi; Hampton berjuang untuk mempersatukan kaum-kaum marginal tanpa peduli ras mereka apa. Dia berusaha menggaet penjuang Latino, bahkan orang-orang kulit putih yang dipandang sebelah mata oleh rezim pemerintah.
Frasa ‘O’Neal melihat’ akan terus berulang jika aku menceritakan seluruh babak kedua film. Karena memang begitulah penceritaan film ini dilakukan. Lewat mata O’Neal, karakter Fred Hampton yang kharismatik itu diperlihatkan kepada kita. Penampilan akting Daniel Kaluuya menjadikan karakter Hampton bahkan terasa lebih besar lagi. Setiap pidato yang ia bawakan, Kaluuya selalu membawakannya dengan lantang dan berapi-api. Film meluangkan waktu untuk memperlihatkan soal Hampton yang selalu lumayan gugup saat latihan pidato di kamar, dia gak menyadari bahwa dirinya seorang penyair – ada romance relationship yang terflesh out sehubungan dengan ini – yang sekaligus juga memperlihatkan kepada kita betapa people-person nya si Hampton. Kharisma itu melimpah ruah lewat penampilan Kaluuya. Ketika dia bicara, kita rasanya ikut terangguk-angguk mengamini apa yang ia katakan. Tokoh ini disebut oleh O’Neal sebagai orang yang sanggup menjual garam kepada siput, dan kita sama-sama tahu betapa mematikannya garam bagi siput. Persona Hampton – sebagai sosok Messiah – di sini memang perlu sekali untuk dibangun, supaya nanti dramatic irony yang dihasilkan juga semakin gede. Akibatnya tentu saja adegan pembunuhan dan tindakan atau pilihan yang diambil O’Neal terhadap si Messiah bakal terasa semakin emosional. Sutradara Shaka King menggenjot banget di elemen ini. So much, sehingga malah jadi masalah tersendiri.
Si Judas, yang jadi protagonis utama cerita, jadi kalah menarik. Karakter O’Neal yang diperankan dengan tak kalah meyakinkan oleh LaKeith Stanfield kurang tergali. Segala konflik moral dan latar belakang yang sudah diniatkan di awal tadi, belakangan jadi jarang dan tidak pernah benar-benar digali oleh film. Tindakan mata-mata yang ia lakukan tidak digambarkan film sebagai sesuatu yang benar-benar memakan dirinya dari dalam. Guilt itu gak kuat diperlihatkan. Ada momen-momen ketika O’Neal tampak mulai ragu dan dia udah gak mau lagi jadi mata-mata FBI, tapi kemudian dengan ‘gampangnya’ permasalahan tersebut dienyahkan. Kita melihat dia makan steak ditraktir oleh si FBI. Beres. Film tidak pernah clear soal apakah memang soal uang, atau bagaimana tepatnya moral O’Neal melihat perbuatannya sendiri. Film tidak menyelam lebih jauh ke karakter ini. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membangun Fred Hampton. Terkait itu juga, relasi O’Neal dengan Hampton pun kurang terflesh-out. O’Neal masuk Black Panther, naik pangkat dari supir ke kepala keamanan, diperlihatkan begitu saja. Kita tidak pernah lihat prosesnya. Kita tidak pernah melihat interaksi personal antara O’Neal dengan Hampton. Bagaimana dia bisa menjadi begitu terpercaya di mata Sang Messiah. Sempat ada momen ketika O’Neal dicurigai oleh anggota Black Panther yang lain, tapi momen itu pun ditampakkan dengan ringan dan ‘gampang’ usai, seperti momen-momen kemelut O’Neal yang lain.

Hayo yang kecele Black Panthernya bukan Wakanda angkat tangaan

 
Beberapa kali film ini menyelipkan adegan wawancara asli antara O’Neal beneran dengan televisi. Dan mendengar beberapa hal yang tokoh itu ucapkan, membuatku jadi bilang “Hey I wanna watch that part!” Seperti soal dia menyebut dia enggak dendam sama agen FBI yang menyuruhnya jadi mata-mata; malah ia menganggap agen itu sebagai mentor. Bagian-bagian yang memperlihatkan adegan seperti itulah yang harusnya juga dimuat oleh film ini. O’Neal dengan agen FBI dalam film ini, tidak digali relasi mereka. Tidak kelihatan O’Neal punya respek khusus terhadap orang tersebut. Film ini harusnya bisa bicara banyak tentang dilema moral O’Neal, terlebih karena kita tahu apa yang terjadi kepadanya (beberapa minggu setelah wawancara televisi yang rekamannya diperlihatkan di film ini, O’Neal bunuh diri). Akan tetapi, menonton film ini, tidak terasa kegundahan dan beratnya pilihan-pilihan tersebut bagi O’Neal. Penyesalan ataupun kegelisahannya hanya dipampang di permukaan. Aku enggak nonton wawancara utuh yang dicuplik film ini, tapi kita semua tahu jika wawancara tersebut ternyata lebih menarik dan emosional, maka tentu ada masalah yang serius dari naskah Judas and the Black Messiah ini.
 
 
 
Dalam ngebuild sosok Hampton, dan membangun emosi soal kejadian naas yang jadi puncak cerita, film ini memang piawai sekali. Menontonnya membuat kita merasa menyayangkan semua yang harus terjadi. Membuat kita berpikir, dan merasa ngeri betapa sedikitnya hal berubah; dulu dengan sekarang. Drama ini superb dalam menceritakan kejadian, tapi sedikit sekali bermain dalam lapisan karakter yang lebih mendalam. Yakni lapisan konflik moral. Sudut pandang dan konflik seorang Judas itu tidak pernah dibahas mendalam karena lebih banyak membahas sosok Messiah-nya. Seharusnya film ini bisa bicara lebih banyak tentang relasi antara kedua sosok ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JUDAS AND THE BLACK MESSIAH.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Kenapa malah kelihatannya polisi yang takut sama warga padahal yang punya pistol justru mereka? Bagaimana kalian menafsirkan perilaku kasar polisi yang rasis?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE TRIAL OF THE CHICAGO 7 Review

“If you remember what you fighting for you will never miss your target.”
 
 

 
 
Mungkin gak sih aksi demonstrasi berlangsung tanpa berakhir kerusuhan? Jawabannya tentu ‘bisa saja’, tapi ruang tanya itu masih terbuka ketika ada yang memperdebatkan lebih lanjut; apakah demo tanpa rusuh itu efektif. Argumentasi soal demonstrasi seperti demikian memang lagi sering terdengar, atau tepatnya, terbaca ketika kita berselancar di sosial media. Karena memang topiknya lagi hangat sekali. Di Amerika, di Thailand. Negara kita juga lagi kena musim demo, berkat disahkannya UU Cipta Kerja yang berbuntut banyak masalah. Mulai dari isinya, hingga ke kejadian seputar pengesahannya yang tergolong mendadak itu. Aksi penolakan terhadap UU tersebut bergelora di mana-mana. Buruh angkat suara, Akademisi menghimpun diri. Mahasiswa turun ke jalan. Anak STM ikut di belakang kakak-kakak mereka itu. Aksi mereka diharapkan berlangsung damai. Namun kemudian ada halte terbakar. Perlawanan lantas muncul di mana-mana. Polisi melawan pendemo. Mengejar hingga ke kampus-kampus. Menangkapi mahasiswa, sampai-sampai para pelajar yang terangkap terancam bakal susah dapat kerja. Ibarat kata, mereka tak bisa dapat surat kelakuan baik, karena sudah ikut merusuh dan merusak kota.
Begitulah ujung-ujungnya nasib pengunjuk rasa. Disebut sebagai provokator. Pengganggu kestabilan keamanan. Tahun 1968 tujuh pemuda ditangkap oleh kepolisian Chicago. Mereka diadili karena tertuduh sebagai provokator kerusuhan dalam aksi protes terhadap Perang Vietnam yang tadinya aman menjadi huru-hara. Membuat polisi harus bertindak keras. Banyak sekali korban terluka, baik dari pihak polisi maupun pendemo yang tergabung dari beberapa golongan. Sidang ketujuh pemuda (sebenarnya ada delapan, satu lagi yang berkulit hitam dapat tuduhan ekstrim membunuh polisi sehingga ia mendapat ‘perlakuan’ khusus) ini berlangsung alot. Berhari-hari. Karena para pemuda-pemuda itu justru curiga bahwa polisilah yang cari ribut duluan. Yang sengaja memancing kerusuhan terlebih dulu demi mengantagoniskan gerakan mereka. Kisah nyata konflik demonstrasi yang relevan bukan saja dengan keadaan Indonesia, melainkan dunia sekarang, inilah yang dimainkan ulang oleh Aaron Sorkin sutradara yang sudah aral melintang menangani drama debat di pengadilan berkat kepiawaiannya mengeset dan menulis dialog yang tajam-tajam. Selama kurang lebih dua jam, kita akan dibawa duduk menyaksikan trial demi trial yang penuh emosi. Film ini akan membuat kita geram. Kemudian tertegun. Dan memikirkan ulang aksi perjuangan yang mungkin sedang kita lakukan supaya perjuangan tersebut lebih tepat sasaran.

The whole world is watching — if you’re wearing mask or not, eh…

 
 
Actually, adegan persidangan di film ini adalah sidang terheboh yang pernah aku lihat di dalam film. Bahkan lebih bikin geram dibandingkan sidang yang pernah kutonton di televisi, dan aku udah liat sidang kopi sianida dan sidangnya Steven Avery. Debat sidang yang ada di film ini begitu sensasional. Tadinya saat menonton aku berpikir kejadian-kejadian seperti dua pemuda tertuduh suatu hari datang mengenakan jubah hitam panjang seperti milik hakim – sebagai bentuk sindiran mereka terhadap sikap sang hakim – adalah pandai-pandainya si pembuat film aja supaya cerita persidangan itu unik dan seru. Ternyata, setelah aku baca-baca beritanya seusai menonton, kejadian tersebut memang benar terjadi. Sidang Chicago 7 ini memang beneran penuh oleh kejadian-kejadian yang kalo dilihat sekarang pastilah memalukan bagi sistem peradilan Amerika. Hakim yang bias sedari awal – Yang Mulia itu tanpa diminta langsung buka suara klarifikasi bahwa meskipun bernama belakang sama tapi dia bukan sanak keluarga salah seorang terdakwa – yang mengikat dan menyumpal mulut terdakwa kulit hitam yang tak diijinkannya mencari pengacara pengganti, itu bukan karakter yang diciptakan untuk khusus untuk film ini. Melainkan karakter orang beneran yang ditunjuk sebagai kuasa tertinggi dalam sidang yang mestinya demokratis tersebut.
Sorkin mengambil esensi dan point-point yang membuat kejadian nyata itu diperbincangkan, untuk kemudian diperkuatnya lagi dengan pengadeganan dramatis buah visinya sendiri. Bagian-bagian sejarah itu disulamnya sempurna, menyatu dengan karakter-karakter dan elemen-elemen yang ia ciptakan untuk menjadikan cerita ini sebagai sebuah film. Ketika memperlihatkan adegan bentrokan polisi dengan pendemo, misalnya, Sorkin menyelinginya dengan cuplikan kejadian yang nyata dari rekaman berita. Meskipun potongan itu hitam-putih, tapi tidak pernah sekalipun kontras dengan pengadeganan yang berwarna. Ini menunjukkan betapa mulusnya dua klip video itu dirangkai. Bukan semata soal editingnya, melainkan juga keberhasilan dari penjagaan tone dan pacing cerita. Alur The Trial of the Chicago 7 bergerak dengan kecepatan penuh. Kilasan flashback dan selingan kejadian asli tidak pernah melambatkan ataupun membagi film ini seperti dua bagian. Karakter-karakter yang banyak itu bukan pula jadi halangan. Mereka semua mendapat porsi perspektif dan pembelajaran yang cukup untuk membuat kita benar-benar tertuju kepada masing-masing.
Walau karakter hakim luar biasa nyebelin (aslinya Hakim ini belakangan disebut ‘unqualified’ oleh Peradilan Amerika), tapi film tidak benar-benar total memihak. Film tidak menyuruh kita untuk percaya bahwa tujuh pemuda yang disidang itu enggak bersalah, apalagi menyuruh kita untuk membenci polisi dengan sepenuh hati karena mereka semua main kasar. Hakim yang bias dan rasis tidak lantas membuat pihak satunya otomotis benar dan tidak bersalah. Film tidak membiarkan kita tenggelam dalam konspirasi. Melainkan mencuatkan apa yang sebenarnya menjadi akar masalah di sini. Persidangan yang kian menjadi ajang tuduh-tuduhan itulah yang difokuskan di sini. Bukan hanya si Hakim saja, semua pihak diperlihatkan punya bias yang membuat mereka menjadikan sidang tersebut terlalu personal, sehingga tidak lagi melihat jernih. Seperti karakter yang diperankan Eddie Redmayne; orangnya pinter, respekful, dan yang paling bisa dijadikan teladan. Namun dia sendiri juga bias dalam memandang karakter si Sacha Borat Cohen, padahal jelas-jelas rekan seperjuangannya. Ketujuh pemuda memang dari golongan berbeda; ada geng mahasiswa, geng hippie, geng pramuka. Mereka bertujuan sama, tapi pandangan gak suka – gak percaya terhadap jalan atau cara kerja geng lain itu tetap ada. Bahkan lebih jauh film ini perlihatkan bahwa bias itu bisa datang dari penampilan luar. Satu-satunya yang bisa mempertahankan objektifitas dan gak ujug-ujug jadi bias itu adalah karakter pengacara penuntut yang diperankan oleh Joseph Gordon-Levitt. Dia yang gak setuju demo rusuh seharusnya adalah ‘musuh’ bagi para pemuda, tapi kita bisa lihat dari sikapnya kadang justru dialah yang paling duluan gak setuju sama tindakan Hakim. Dia yang berusaha profesional dan memegang teguh respek dan paham tujuan itulah yang buatku jadi highlight di film ini.

Film ini menunjukkan bahwa betapa menjaga untuk gak menjadi bias itu adalah hal yang susah untuk dilakukan. Dalam perjuangan, seringkali kita menjadi terlalu personal. Seperti demo di Chicago itu; sidangnya malah seperti saling tuding siapa yang berbuat onar duluan. Padahal tujuan awal demonya adalah untuk memprotes pengiriman tentara ke Vietnam. Untuk menghentikan perang, bukan malah membuat ‘perang’ baru. Kita semua gampang meleset dari tujuan jika melupakan untuk apa, untuk siapa, kita berjuang pada mulanya. 

 

Hayoo siapa yang dalam menilai film aja, seringkali udah bias duluan sebelum nonton?

 
 
Yang ditawarkan film sebagai jawaban dari bagaimana supaya kita enggak jadi gampang bias, juga sungguh luar biasa dramatis. Adegan yang jadi ending film ini terasa sangat powerful. Adegannya kayak ketika Chris Jericho bacain daftar yang comically superpanjang berisi nama-nama submission yang mampu ia lakukan waktu di WCW dulu, hanya saja tidak seperti Jericho, adegan ini tidak di-boo. Malahan diiringi tepuk tangan yang bikin merinding. Ini merupakan desain dari sutradara, ia menerapkan bahasa film pada ending ini. Jika aslinya adegan tersebut justru berlangsung di awal-awal masa persidangan, Sorkin menaruhnya di akhir cerita sebagai bentuk pembelajaran dan penyadaran yang sudah dialami oleh para karakter. Pertanyaan yang harusnya mereka bahas bukanlah pihak mana duluan yang mancing ribut, pihak mana duluan yang kasar, dan kemudian menuding. Melainkan adalah pertanyaan untuk siapa unjuk rasa itu mereka lakukan. Untuk apa ide-ide tersebut mereka lontarkan. Momen penyadaran tersebut terangkum semua di dalam sekuen ending. Dengan sempurna menutup film dengan nada yang kuat, yang membuat kita berkontemplasi terhadap perjuangan yang sedang kita jalani sendiri.
Cerita yang hebat, dimainkan oleh assemble cast yang tak kalah hebatnya. Masalah yang muncul buat film ini cuma perspektif dan sudut pandang yang cepat sekali berpindah-pindah. Karena cerita ini gak punya tokoh utama. Kalopun ada, maka ia bukan satu orang. Melainkan satu grup. Satu pergerakan. Ini membuat film bekerja tidak seperti film-film biasa. Dan karena diangkat dari kejadian nyata, dibuat untuk menampilkan peristiwa yang sesuai fakta, film ini jadi sedikit terbatas. Dia tidak dalam kapasitas mengakhiri semua plot atau semua masalah yang dihadirkan. Terdakwa kedelapan dalam sidang tersebut, punya konflik yang tak kalah penting. Soal rasis dan prejudice yang lebih dalem. Namun karena peristiwa yang difilmkan oleh cerita tidak menyorot ke sana, maka permasalahan soal konflik itu juga tidak dibahas sampai habis. Hal tersebut jadi cacat sedikit buat film ini, karena normalnya setiap film harus menuntaskan setiap poin yang dimunculkan sepanjang cerita.
 
 
Maka itulah, aku berusaha untuk tidak terlalu bias karena aku suka sama cerita dan karakter-karakternya. Aku ingin melihat film ini secara objektif, ya sebagai film. Penilaiannya harus sama dengan saat menilai film-film lain. Sebagai cerita, definitely ini merupakan salah satu terpenting di tahun ini. Malah juga sebagai salah satu tontonan yang paling seru, padahal isinya kebanyakan ‘cuma’ orang-orang ngomong. But I never have a problem with chatty movies. Selama diceritakan dengan kuat dan terarah, ia akan asyik untuk dinikmati. Film ini akan enak untuk ditonton berulang kali, hanya untuk melihat kejadian demi kejadiannya. Kita akan lupa bahwa kameranya ternyata sangat pasif, berkat dialog dan adegan yang dinamis di ruang sidang tersebut. Sorkin berusaha optimal untuk membuat penggalan sejarah ini menjadi satu film yang layak, sembari tetap berpegang teguh pada visi kenapa ia membuatnya in the first place.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE TRIAL OF THE CHICAGO 7.

 

 
 

 

That’s all we have for now.
Jadi apakah kerusuhan itu terjadi karena pendemo lupa sama siapa yang sebenarnya sedang mereka perjuangkan? Bagaimana jika demo tetap rusuh kendati para pendemo masih fokus dan sadar pada siapa yang sedang mereka bela – mereka perlu sesuatu yang tegas supaya suaranya didengar – apakah kalian masih setuju dengan tindakan itu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FORD V FERRARI Review

“I’d rather have an enemy I can respect than a friend I can’t trust.”
 

 
Meskipun judulnya mengusung persaingan antara dua perusahaan mobil balap, Ford v Ferrari garapan James Mangold sebenarnya bercerita tentang dua orang yang tadinya sering beradu argumen menjadi sahabat karena sama-sama cinta mobil dan balapan, berjuang melawan politik citra perusahaan – dan masalah pribadi masing-masing – dalam usaha mereka menciptakan keajaiban yakni mobil balap tercepat dan tertangguh.
Walaupun kurang tertarik sama mobil, sama balapan, aku bahkan enggak hapal nama-nama mobil biasa – apalagi mobil balap. Tapi aku tahu bahwa balap mobil seperti Formula 1 bukan semata soal ‘privilege‘ punya mobil canggih atau teknologi yang mahal. Bukan pula sekadar kehebatan orang di balik kemudinya. Melainkan sebuah strategi. Yang melibatkan kerja sama tim yang melibatkan banyak orang. Memenangkan sebuah balapan berarti kalkulasi taktis kapan harus ngegas, kapan harus masuk pit stop untuk pengisian bahan bakar atau perbaikan teknis, sampai ke kapan harus ‘menunggu’ rekan satu tim yang juga jadi lawan karena dalam balapan biasanya satu perusahaan mobil memasang dua pembalap. ‘Lingkungan’ inilah yang dibahas dalam Ford v Ferrari. Ceritanya menekankan kepada pentingnya tokoh-tokoh untuk bekerja dalam tim, dan bagaimana dalam sebuah persaingan bukan musuh atau rival dari luar saja yang perlu diperhatikan – melainkan juga lawan dari dalam. And as far as the racing goes, film ini membelalakkan mataku lantaran balapan yang mereka ikuti lebih besar daripada balap-balap yang aku tahu pake hitungan lap sebagai finish. Le Mans yang jadi panggung kompetisi cerita ini adalah balapan selama dua-puluh-empat jam nonstop!

bapak gak kebelet? / gak udah keluar kok

 
Keajaiban yang terkandung dalam Ford v Ferrari tercatat dalam sejarah, karena cerita film ini memang diangkat dari peristiwa dan orang-orang nyata. Pertengahan 1960an bukan periode gemilang untuk perusahaan mobil Amerika, Ford. Penjualan turun karena generasi muda pengen produk yang lebih menantang. Jadi mereka punya ide untuk berpartner dengan mobil balap terkemuka dari Itali, Ferrari. Penawaran kerjasama mereka dianggap merendahkan oleh Ferrari, sehingga mereka ditolak mentah-mentah. Demi harga diri, Ford mengerahkan kepercayaan kepada produk asli Amerika untuk mengalahkan Ferrari dalam permainan mereka sendiri; balapan. Enter Carroll Shelby, mantap pembalap yang actually pernah mengalahkan Ferrari di Le Mans beberapa tahun sebelumnya, kini bekerja sebagai manufacturer mobil balap lokal. Shelby yang ditugaskan membuat Ford menang atas Ferrari, memilih untuk mempercayakan kemudi kepada Ken Miles, veteran Perang Dunia 2 yang merupakan seorang jenius mobil dan mesin yang eksentrik. Shelby rela mengesampingkan perbedaannya dengan Miles karena dia tahu Miles adalah orang yang tepat. Jadi mereka berdua mulai mengerjakan proyek ini dengan segenap hati. Namun bagi Ford, ini bukan sebatas siapa yang tercepat. Melainkan tetap soal citra perusahaan. Ford bukan hanya ingin menang. Mereka menginginkan menang dengan kondisi-kondisi tertentu; kondisi yang enggak exactly segaris lurus dengan kepentingan dan kepercayaan Shelby dan Miles.
Shelby dan Miles adalah pahlawan bagi dunia otomotif. Dan setelah menyimak cerita film ini kita akan paham mengapa. Sangat mudah merelasikan diri kepada kedua tokoh ini, walaupun kita gak ngerti apa-apa tentang mobil ataupun balapan. Passion mereka terhadap dua hal tersebutlah yang begitu mengena. Ketika kita cinta mengerjakan satu hal, we’re doing good at it, tapi kita merasa terhalang untuk melakukan yang kita cintai dengan cara kita sendiri. Shelby dan, terutama Miles, mereka sungguh-sungguh berskill dewa, tapi mereka tetap kesusahan mendapat sponsor – berjuang mencari uang. Miles bahkan bersusah payah untuk menjadi pengemudi mobil balap yang ia bantu rancang untuk Ford, hanya karena menurut Ford dia bukan sosok ideal bagi ‘poster’ produk mereka. Bayangkan itu, mobil dan balapan adalah satu-satunya yang mereka enjoy kerjakan, namun mereka harus dapat ‘izin’ dulu untuk berbuat.
Ini bakal terasa dekat, karena hampir setiap bidang – setiap industri – punya ‘batasan’ seperti demikian. Misalnya, filmmaker yang merasa paling bahagia sedunia akhirat saat menggarap film, akan tetapi dia tidak bisa membuat film yang benar-benar sesuai dengan keinginan karena campur tangan studio atau ph yang menginginkan film tersebut laku, atau menang festival, atau ‘ramah’ buat banyak lingkupan penonton. Dan tidak bisa benar-benar melawan karena semua ini adalah teamwork, dan aksi yang diambil akan selalu terefleksi pada rekam jejak di industri itu sendiri. Ini menjadi pertarungan antara – bukan lagi antara kau dengan saingan dari ph sebelah – melainkan antara egomu dengan passionmu dengan tuntutan ‘bos’. Aku geram sendiri, setengah mati, melihat perlakuan eksekutif Ford kepada Miles, he deserved much more than what he actually got, dan satu-satunya alasan kenapa dia masih mau di sana karena dia begitu cinta sama mobil dan apa yang ia lakukan. Dan satu-satunya yang menahanku dari tidak manjat kursi dan menghujani wajah si Beebe di layar dengan permen karet adalah momen kecil yang terjadi di antara Miles dengan bos Ferrari.

Penghormatan dari musuh ketika kita kalah lebih berharga ketimbang jabat tangan dari teman ketika kita menang. Karena ketika orang yang secara terbuka ‘melawan’mu memberikan hormat, kita tahu itu tulus dan kita telah put up the good fight – sekalipun kalah, kita akan merasa menang. Namun ketulusan yang sama tidak bisa langsung terasa ketika mendapat selamat dari seorang teman. Karena dalam sebuah kompetisi, persaingan seringkali berasal dari dalam – the real struggle adalah mengendalikan ego dan kepentingan masing-masing untuk kemajuan bersama.

 
Mesin yang membuat film ini bekerja sesungguhnya adalah hubungan antara Shelby dan Miles. Mereka pada awalnya gak bener-bener temenan, lebih ke musuhan malah. Namun mereka berkembang menjadi lebih dari sekadar rekan kerja karena punya mutual respek. Mereka saling menghormati kemampuan masing-masing. Salah satu adegan paling menyenangkan untuk disaksikan dalam film ini adalah ketika Shelby dan Miles berantem di halaman seberang rumah Miles. Tentu saja penampilan akting menambah banyak bobot dalam menghidupkan dua karakter ini. Matt Damon benar-benar hebat memerankan Shelby sebagai protagonis yang bijaksana – tokohnya ini seperti tempat pengaduan yang menenangkan jika kita punya masalah – meskipun dia sendiri berjuang dengan keputusan yang ia ambil sebagai kerjaannya yang sekarang. Christian Bale? maaan, orang ini bunglon atau apa sih.. apa badannya terbuat dari karet sebenarnya..? Baru tahun lalu dia gendut di Vice (2018) dan sekarang dia hampir tak dapat dikenali – badannya jauh lebih kecil – sebagai Ken Miles yang beraksen Inggris. Bale sungguh menyelam ke dalam perannya. Total melebur ke dalam karakternya. Bale di sini memainkan tokoh yang meledak-ledak, tapi mau mengalah demi keluarga, apapun supaya dapat nafkah. Melihat dia harus menelan kebanggaan dan idealisme yang dulu (bahkan masih berusaha) ia pertahankan, sebenarnya cukup nyelekit. Kita peduli pada tokoh ini. Relasi Miles dengan putranya juga cukup digali untuk menambah lapisan pada karakter dan bobo emosi pada cerita. Miles adalah hero yang kita semua ingin dia mendapat keberhasilan.
Ketika kita sudah dapat protagonis dan hero yang memuaskan, film ini terasa kurang nendang jika kita merujuk pada Dramatica Theory; main character film ini mendua dan gak begitu masalah lagi di akhir. Ford, sesuai judul, adalah topik utama, cerita bergerak dalam frame kebijakan-kebijakan Ford. Di awal, perusahaan ini seperti underdog – dibandingkan dengan Ferrari. Sepertinya mustahil Ford yang biasa membuat mobil ‘rumahan’ mengalahkan Ferrari dalam balapan. Miles sempat berkelakar butuh dua ratus tahun untuk mencapai hal tersebut. Kemudian, film membuka, dan kita melihat Ford sebagai si jahat dan Miles sebagai underdog yang harus berjuang melawan korporat seraksasa Ford. Dan terus komit pada Ford sebagai evil korporat yang tak peduli pada kru, pembalap, dan pekerjanya. Cerita memang tetap bekerja sesuai konteks, tapi juga menurutku Ford di film ini jadi sedikit cartoonish.

Lagi balapan, dan bosnya pergi makan naik helikopter

 
Begitulah salah satu cara sutradara Mangold membuat cerita tetap intens. Dia mengarahkan biografi ini hampir seperti pure crowd-pleaser. Dan ini bentrokan yang seru; jarang-jarang ada kisah nyata yang berjalan seperti direka untuk kesenangan penonton. Mangold banyak menggunakan wide shot untuk memastikan kita bisa mengikuti semua yang terjadi di layar. Bahkan saat adegan balapan, dengan seringnya cut ke wajah Bale yang udah mengemudi kayak pembalap kesetanan beneran, kita masih mudah mengerti mobil mana di posisi berapa, dan tingkungan mana yang membawa ancaman bahaya. In fact, begitu mobil dan pembuatannya, hingga nanti adegan balapan, film ini melaju dengan ngebut sehingga durasinya yang dua setengah jam tidak terasa. Hanya di awal-awal saja, sepertiga film; ketika cerita masih dibebani oleh set up seputar perusahaan, film terasa lambat.
 
 
 
Kalo film ini mobil, maka akselerasinya sedikit lambat, kurang sempurna. Namun begitu film sudah mencapai titik steady, cerita persahabatan dua orang yang berjuang di dalam perusahaan yang sedang berkompetisi ini menjadi mengalir dengan lancar. Gak ada berhenti masuk pit stop. Pengemudi-pengemudi cerita, alias para pemainnya, berakting dengan luar biasa. Adegan balapannya seru dan terasa sangat berbobot lantaran drama dan karakter tergarap dengan maksimal. Salah satu biografi olahraga terbaik tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for FORD V FERRARI.

THE IRISHMAN Review

“When you get to political machines that can control a state, then you’re really into organized crime – almost.”
 

 
Untuk mendukung pernyataan bahwa film semestinya adalah sebuah cerita yang ‘intim’ alih-alih heboh dengan franchise, Martin Scorsese mempersembahkan The Irishman; film yang mengintimidasi sejagad (sinematik) raya dengan durasinya yang tiga-jam-setengah dan diisi oleh karakter-karakter yang lebih banyak berdialog ketimbang meledakkan benda.
The Irishman boleh jadi merekonstruksi mitos sejarah seperti yang dilakukan oleh Quentin Tarantino dalam Once Upon A Time in Hollywood (2019) belum lama ini. Atau mungkin saja tidak, dan dia bicara fakta. Karena yang diangkat oleh Scorsese dalam film ini adalah kejadian dalam lembar sejarah politik garismiring crime Amerika yang masih simpang siur kebenarannya. Tentang menghilangnya Jimmy Hoffa, salah satu sosok pemimpin bisnis dalam percaturan politik Amerika, yang kemudian dilaporkan dibunuh. Dalam The Irishman, peristiwa tersebut diceritakan dari sudut pandang Frank Sheeran, pensiunan perang pengantar daging steak yang berkat keahliannya dipekerjakan sebagai tukang cat rumah. Hanya saja dia tidak menggunakan cat aaupun kuas. Pengecat rumah hanyalah bahasa kode untuk pembunuh bayaran geng mafia. Sheeran dengan cepat mendapat kepercayaan, dia berteman dengan orang-orang penting di dunia mafia. Termasuk dengan Hoffa. Dan ada kemungkinan dialah yang menghabisi Hoffa yang sudah kayak kakak penjaganya dalam sebuah tugas.

darah lebih pekat daripada cat

 
Narasi berlangsung dalam periode 60 tahun, atau mungkin lebih. Kisah mengalir dari masa kini membuka ke masa lalu, sesuai penuturan Frank Sheeran. Dari Sheeran yang tua renta ke Sheeran muda – sekilas juga diperlihatkan saat dia masih di medan perang – hingga ke versi dia yang lebih dewasa. Kita akan menyaksikan berbagai versi Robert De Niro, dari yang dimudakan pakai efek komputer sampai aktor senior ini — aku tidak tahu lagi mana penampilan wujud asli si aktor mana yang efek saking mulusnya visual film ini. Dalam rentang waktu yang begitu panjang tersebut, kita diperlihatkan keparalelan antara dunia politik dengan dunia gangster alias mafia. Apakah semua ini hanya rekayasa alias cuma terjadi di dunia film atau memang begitulah nyatanya di dunia nyata Amerika, atau mungkin malah seluruh dunia – termasuk Indonesia, membuat film semakin menarik untuk disimak. Terutama oleh penyuka konspirasi. Dalam film ini, kita melihat misi Sheeran bukan sekadar melenyapkan ‘rekan’ yang mengacau maupun yang sudah tak berguna. Melainkan juga menyelundupkan senjata api yang ternyata adalah untuk memadamkan Revolusi Cuba. Pembunuhan JFK turut diperlihatkan sebagai campur-tangan dari geng mafia. Hal yang paling bikin seru lagi adalah, periode panjang narasi ini mengimplikasikan peran mafia dalam politik ini masih berlangsung hingga sekarang.

Istilah mafia merujuk kepada kelompok teroganisir yang berketerkaitan dengan pihak berwenang, dengan aktivitas apapun – termasuk yang melawan hukum – demi kepentingan pribadi dan golongan. Benar-benar mirip dengan cara kerja dunia politik, bahkan pelakunya sama-sama berjas dan berdasi. Politik dan mafia bagaikan berasal dari satu geng yang sama. Geng kejahatan berencana.

 
Dunia sindikat penuh orang ditembak di tempat, oleh film ini tidak pernah diglamorisasi. Meskipun memang cara kerja mereka didramatisasi. Karena film ingin mempersembahkan kejahatan mafia itu dalam cahaya bisnis – yang berkaitan dengan mempertegas ‘kebutuhan’ para tokoh. Mereka-mereka yang bekerja dalam dunia tersebut bergerak demi kepentingan golongan yang menjadi penguasa. Konflik datang dari tokoh-tokoh yang punya kepentingan pribadi. Sheeran, dalam hal ini, punya keluarga. Secara spesifik, hubungan Sheeran dengan putrinya ditonjolkan. Film memilih untuk lebih fokus menggali perenungan karakter ketimbang aksi. Kita memang masih akan melihat beberapa adegan aksi dan kejahatan, tapi sebagian besar waktu didedikasikan oleh film untuk karakter duduk diam di antara dialog. Mereka diberikan ruang untuk berpikir, mempertimbangkan matang-matang opsi sebelum memilih tindakan. Sehingga meskipun tempo cerita memang lambat, kita akan menemukan banyak sekali momen-momen intens. Yang datang enggak muluk-muluk, sesimpel dari diamnya mereka menemukan cara mengungguli lawan bicara. Sampai ke kita emosinya bisa berlipat ganda karena kita akan otomatis mengantisipasi pergumulan senjata.
Mengenai hal tersebut, tak bisa dipungkiri juga durasi panjang film ini benar-benar terasa panjang. Karena terkadang diisi dengan kurang maksimal. Sheeran dengan putrinya seharusnya mendapat penggalian lebih dalam dan dampak relasi mereka kepada cerita sebaiknya dibuat lebih gede lagi. Arc putri Sheeran dibuat lebih jelas dan berarti lagi. Sejujurnya, asalkan dimanfaatkan maksimal, sebenarnya durasi panjang bukan masalah. Apalagi melihat orang-orang yang bekerja di depan maupun belakang layar film ini – menghabiskan waktu seharian pun aku yakin kita semua rela. Scorsese memastikan adegan-adegan kekerasan yang ia munculkan terasa elegan, dan tidak menjatuhkan keseluruhan film menjadi crime receh yang menjual darah ataupun ledakan semata. Tidak ada koreografi kamera yang ‘istimewa’, tidak ada penggunaan cut yang berlebihan. Semuanya terasa sangat tenang, dan diarahkan dengan efisien dan tepat-guna. Dengan kata lain, kekerasan tipikal dunia mafia tidak ia jadikan jualan utama.
Final battle atau konfrontasi besar versi film ini bukanlah aksi tembak-tembakan. Bukan pula satu dialog panjang nan dramatis seputar pengakuan atau apa. Klimaks The Irishman adalah berupa sekuen pembunuhan Hoffa sepanjang nyaris setengah jam. Tidak banyak sutradara yang mampu menggabungkan banyak adegan – banyak cut – ke dalam satu sekuen panjang dengan menjaga ritme serta build-up suspens sehingga punchline atau akhir sekuen tersebut terasa sangat nendang. Perhatikan Scorsese bahkan tidak menggunakan musik latar sepanjang sekuen tersebut; membuat ketegangan semakin memuncak. Ending film ini merupakan salah satu ending terbaik tahun ini, menurutku, sebab memunculkan banyak pertanyaan dan memantik diskusi mengenai makna dan keputusan tokoh mengambil tindakan yang serupa dengan yang ia lihat di bagian pertengahan film.

bayangkan jadi putri Frank Sheeran dan harus menceritakan pekerjaan ayahnya di depan kelas saat Show & Tell.

 
Seperti ilmu padi; semakin tua semakin jadi. Scorsese menunjukkan kematangan luar biasa lewat penggarapannya. Film-film Scorsese selalu berenergi. Namun tak seperti Goodfellas (1990) – sama-sama biografi tokoh dunia mafia – yang menggebu, The Irishman tersaji lebih subtil. Film barunya ini lebih tertarik untuk membedah karakter-karakter. Scorsese seolah ingin membaca pikiran dari setiap tokoh yang diambil dari orang-orang nyata tersebut. Melihat sang sutradara bekerja sama dengan tiga aktor legenda dalam mencapai tujuan itu sungguh kesempatan yang berharga.
Mari mulai dengan Al Pacino. Ini adalah kali pertama Scorsese kerja bareng dirinya. Dan maaan, Scorsese memberikan Al Pacino peran yang sempurna sebagai Jimmy Hoffa yang meledak-ledak. Jadi keseruan tersendiri melihat Al Pacino teriak nunjuk-nunjuk muka orang. Berkebalikan dengan Joe Pesci yang juga klop banget memerankan Russel Bufalino. Pesci yang literally ditarik Scorsese dari bangku pensiun memainkan ekspresi yang begitu dingin dari seorang petinggi mafia yang terhormat, bersahabat, tapi sekaligus penuh taktik dan pertimbangan. Menatap tokoh ini aku sampai gak berani berkedip karena aku jadi begitu concern dengan pertimbangannya. Last but not least, De Niro yang penuh pengendalian diri memerankan Frank Sheeran yang beraksi dinamis. Setiap kali dia muncul di layar, duduk semeja dengan para mafia, perhatian kita akan otomatis mengarah padanya, karena suksesnya film menulis karakter ini sehingga kita pengen tahu bagaimana keadaan atau dialog itu mempengaruhinya. Kalimat-kalimat yang ia ucapkan terdengar bukan hanya seperti improvisasi aktor, melainkan juga seperti improvisasi si Sheeran itu sendiri karena banyak yang ia pertaruhkan setiap kali bersama teman-temannya yang mafia. Personally, adegan Sheeran makan roti bareng Russel di akhir, yang circled back ke mereka semeja makan pertama kali, cukup mengharukan buatku.
 
 
 
Menyaksikan film yang berusaha membuat kita terinvest kepada karakter-karakternya terasa sangat menyegarkan, dan sungguh berharga. Karena begitu banyak film yang menuntut kita memperhatikan easter eggs, koneksi kepada film terdahulu, menahan diri untuk bertanya karena penjelasan akan hadir di film berikutnya. Yang dihadirkan oleh Martin Scorsese ini akan mengingatkan kepada kita seperti apa sih sinema itu sebenarnya. Film ini diarahkan dan diedit dengan luar biasa cakap, dimainkan dengan masterfully meyakinkan, sehingga durasi yang panjangnya bisa dipakai untuk melancong dari Bandung ke Jakarta naik kereta tidak terasa membosankan. Seperti tokoh-tokohnya, drama crime ini terasa matang dan dewasa.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE IRISHMAN.

THE NIGHTINGALE Review

“In tragedy, empathy still dependent of proximity”
 

 
Belum lama ini, peringatan kemerdekaan negara kita sempat tercoreng oleh peristiwa berwarna rasisme yang terjadi pada sekelompok mahasiswa asal Papua di Surabaya, yang berbuntut panjang. Aku bukannya bilang film The Nightingale menggambarkan peristiwa yang sama persis, tapi yang digambarkan oleh drama period piece yang berlokasi di Pulau Tasmania, Australia ini – yakni arogansi sosial yang berakar pada kolonisasi – kurang lebih mirip dengan yang kita temukan pada lingkungan modern. Jika pemuda Papua dihardik monyet oleh aparat, maka bangsa Aborigin dalam The Nightingale dipanggil “Boy!” Namun bukan dalam artian sebagai anak kecil, melainkan ‘boy’ yang berarti panggilan kepada binatang ternak/binatang peliharaan.
Clare, tokoh utama kita, berkulit putih – tapi ia tak bernasib lebih baik. Sedikit, karena dia adalah pendatang tawanan. Dan sebagian besar karena dia adalah wanita. Clare memang tidak dipanggil ‘Boy’, tapi bagi serdadu Inggris dia tak lebih dari sekadar burung penyanyi (nightingale adalah burung bulbul yang bersuara merdu). Clare adalah properti bagi Letnan Inggris yang membawanya ke Tasmania. Nasib Clare tak berbeda dari Billy, ‘orang hitam’ yang ia sewa untuk mencari jejak si Letnan Inggris yang menyisir hutan bersama orang-orangnya menuju ke kota, satu hari setelah menghancurkan keluarga Clare, dan membiarkan wanita itu mati.

oke sekarang aku pengen melihat Nightingale melawan Mockingjay

 
The Nightingale punya intensi seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) tapi dengan pengembangan seperti Three Billboards Outside Ebbing, Missouri (2017). Bermula seperti sebuah cerita balas dendam perempuan, film ini lantas membuka dengan suara yang menarik. Nafsu membalas itu dapat kita rasakan perlahan sirna; segala kekerasan yang diwariskan di antara kelompok kulit putih penjajah, segala diskriminasi dan pelecehan, bahkan ketidakpedulian terhadap lingkungan, semua ‘kejahatan’ yang ingin dibetulkan oleh aksi Clare itu tampak tidak penting lagi. Bukan lantaran hal-hal tersebut perlahan membaik, ataupun karena Clare menjadi takut, melainkan sepanjang perjalanan yang ia lalui bersama Billy, ia menjadi punya sesuatu yang baru untuk dilihat – untuk dipertimbangkan. Gagasan yang ingin diangkat oleh sutradara Jennifer Kent tidak sesederhana kejahatan akan mendapat balasan. Tidak, karena kekerasan yang akan berbuntut pada kekerasan hanya akan membentuk lingkaran setan kehancuran manusia yang akan terus bergulir. Kent justru mengangkat pertanyaan ‘bagaimana jika cara lain di luar balas dendam’. Dan terutama, ‘masihkah kemanusiaan itu akan ada di dunia yang penuh dengan kekerasan’.

Sakit itu tentu masih terasa. Lukanya bahkan mungkin tidak akan pernah sembuh. Alih-alih saling membalas sehingga orang merasakan sakit yang kita derita, mungkin jawaban dari semua itu adalah mendekat untuk merasakan sakit yang orang derita. Saling berempati. Sehingga kita merasakan kesamaan dengan orang  di sekitar kita, tidak peduli warna kulit, dan agama mereka.

 
Meskipun cerita mengambil tempat pada tahun 1825, saat The Black War berkecamuk di Tasmania; menjadikan jalan-jalan di pedalaman Tasmania sangat berbahaya karena tensi yang begitu tinggi antara serdadu kolonial Inggris dengan penduduk lokal yang semakin tersingkir dan diperlakukan tidak manusiawi, The Nightingale terasa seperti berita yang kita temukan di internet tadi pagi. Segala yang kita rasakan saat menonton peristiwa naas demi peristiwa naas di film ini begitu relevan.  Menyaksikan setiap frame film ini seperti menyaksikan kejadian asli. The Nightingale baru film panjang kedua Jennifer Kent (sebelumnya adalah The Babadook yang super-seram tentang grief seorang ibu beranak satu itu), tapi sutradara yang satu ini sangat bernyali.
Film ini disajikan olehnya dengan begitu disturbing. Banyak adegan kekerasan, mulai dari pemerkosaan, pembunuhan, hingga sesuatu yang keji yang dilakukan kepada anak keci, yang ditampilkan tanpa tedeng aling-aling. Supaya kita semua tahu betapa mengerikannya perilaku penjajah. Namun aspek tersebut tidak pernah dialamatkan sebagai gimmick semata. Kekerasannya tidak sebagai pengalih perhatian kita dari cerita yang hampa – ya, aku menyindirmu, wahai Perempuan Tanah Jahanam (2019) – ini tak pelak adalah salah satu film paling kompleks, paling menyakitkan untuk ditonton beberapa tahun terakhir. Bukan kekerasannya yang menarik perhatian kita. Melainkan setiap keputusan-sulit yang harus diambil oleh karakter, yang memaksa skenario untuk maju, yang membuat film semakin menarik untuk kita ikuti. Ada simbol-simbol menyejukkan yang digunakan oleh film sebagai counter dari elemen disturbing ini. Yang akan membuat kita terdistract dan berusaha memahami makna burung yang jelas-jelas dijadikan metafora, nyanyian, bahkan landscape dari belantara itu sendiri.

untung gak ada yang suka burung gagak, jadi kita selamat dari mendengar ‘entah apa yang merasukimu’

 
Mengingat betapa kerasnya film ini, kita hanya bisa membayangkan berat dan konflik moral yang harus dilewati oleh para aktornya. Tidak mungkin mereka enggak mendapat bimbingan atau konseling dari psikolog setelah memainkan beberapa adegan yang sangat brutal tersebut. Karena mereka memainkan peran dengan begitu… nyata. Tidak sedetik pun aku merasa melihat seseorang yang pura-pura jadi orang jahat atau orang teraniaya. Baykali Ganambarr yang main sebagai Billy, this is just his first feature, tapi tampak begitu natural. Kita tidak pernah melihatnya sebagai kaku dan dingin walaupun tokohnya memang diniatkan canggung dan ‘berjarak’ pada awalnya dengan tokoh utama. Peran yang cukup tricky lagi adalah sebagai antagonis – letnan Inggris – yang jahat dan nyebelin. Peran ini ditangani oleh Sam Claflin, truly like a pro. Meskipun tokohnya ini nyaris satu-dimensi tapi kita tetap mendengarkan semua gagasannya, kita pelototin semua perbuatannya, dan kita sungguh-sungguh benci padanya, seperti, kita sudah melakukan suatu hal yang tepat dengan membencinya sehingga kita justru tidak ingin dia melakukan hal yang mengkhianati ‘kejahatannya’. Claflin tidak terjebak ke dalam karakter over-the-top. Dia juga tidak tampak seperti sedang berakting. Dia memainkan adegan-adegan yang sangat ‘mengganggu’ dengan keotentikan seseorang yang harus bertindak jahat  demi menunjukkan powernya. Claflin sangat sukses memainkan tokoh antagonis yang sebegitu jahatnya kita suka untuk membencinya.
Sedangkan tokoh utama kita, Clare, diperankan oleh Aisling Franciosi yang memberikan salah satu permainan peran paling menyayat hati tahun ini. Karakternya benar-benar menempuh perjalanan yang ekstrim, secara emosional. Bayangkan grafik yang bergelombang naik dan turun, nah pada setiap titik terendah menuju ke atas dan setiap titik tertinggi menukik ke bawah; di situlah saat akting Franciosi terasa sangat fenomenal. Sehingga emosi Clare tak mencuat dibuat-buat, melainkan benar-benar bersumber dari kesakitan yang teramat kita pahami. Pretty much, setelah semua yang ia lalui di awal cerita, Clare PTSD, dan sentuhan yang diberikan oleh Franciosi benar-benar hormat kepada PTSD itu sendiri; yang tak tereksploitasi secara berlebihan.
Sayangnya, ada beberapa kali kita terlepas dari tokoh Clare. Tepatnya pada saat adegan-adegan mimpi. Inilah yang menurutku merupakan sedikit kelemahan dari The Nightingale. Aku bisa mengerti durasi dan temponya yang cukup lambat. Aku bisa paham kenapa babak ketiga seperti mengulur-ngulur waktu menuju peristiwa yang sudah kita nantikan dengan geram. Tapi penggunaan adegan mimpi dalam film ini; sebenarnya bisa dimengerti juga kepentingan adegan-adegan tersebut. Film ingin menunjukkan progres batin Clare, dari dia takut sebagai korban berubah menjadi gentar karena nun jauh di balik hatinya dia balik merasa dirinya bersalah.  Adegan film ini juga jadi ruang untuk mengembalikan sang sutradara ke habitat semula; ke ranah horor. Dalam film pertamanya, The Babadook, yang notabene film horor juga banyak menampilkan adegan mimpi. Dalam The Nightningale juga sama. Peristiwa-peristiwa yang tergambar dalam adegan mimpi tersebut semuanya mengerikan.  Banyak, katakanlah hantu, yang kadang muncul dengan wajah seram. Hanya saja yang jadi masalah adalah repetitifnya adegan-adegan mimpi itu terasa. Strukturnya selalu sama. Semuanya berakhir dengan kemunculan sosok yang paling seram, Clare yang tadi berjalan (atau berlari) terbelalak, dan kemudian dibangunkan. Adegan mimpi yang jumlahnya lumayan banyak ini jadi tak-kejutan lagi, jadi tertebak, sehingga malah seperti lebih kuat berfungsi sebagai transisi – atau bahkan; jeda iklan – ketimbang pandangan mendalam dari psikologis Clare.
 
 
 
 
Jennifer Kent membingkai kebrutalan penjajahan, menghidangkan kekerasan terhadap wanita, anak-anak, dan minoritas, tapi berhasil mengakhiri cerita tersebut dengan mengambil cara yang spesial. Ia memancing kita untuk melihat ke dalam. Tidak menjawab langsung, melainkan memberi kita jarak untuk mempertimbangkan. Ada masa ketika kita tidak sejalan dengan tokoh utamanya, yang tidak sepenuhnya kesalahan pada film. Melainkan ‘kesalahan’ kita yang telat untuk berubah, seperti tokohnya berubah. Film ini keras, susah untuk disaksikan karena kontennya yang no holds barred, namun merupakan salah satu film terpenting bagi siapapun yang ingin merasakan kemanusiaan.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE NIGHTINGALE

 
 

SUSI SUSANTI: LOVE ALL Review

“The battles that count aren’t the ones for gold medals.”
 

 
Ibarat pertandingan bulu tangkis, Susi Susanti: Love All dimulai dengan servis yang baik dan menghangatkan untuk kemudian meng-smash hati kita dengan momen-momen kecamuk yang menghantar kepada kebanggaan.
Film biografi biasanya mengangkat perjalanan hidup tokoh pahlawan, jadi kenapa tidak mengangkat cerita perjuangan atlet di medan pertandingan menghadapi ‘lawan’ demi tanah air. It’s about time. Indonesia lagi butuh-butuhnya cerita inspiratif yang mengusung kebanggaan tanah air di waktu yang penuh keraguan dan ketakutan seperti sekarang ini. Sebelumnya di tahun ini kita sudah dapat film 6,9 Detik tentang kisah hidup atlet panjat tebing yang dijululi Spider-Woman oleh negara luar. Sutradara Sim F melanjutkan estafet dengan menghadirkan kisah si Balerina Susi Susanti. Kejelian sang sutradara di debut film panjangnya ini adalah dia tidak hanya mempertontonkan kembali kekuatan wanita dalam sebuah kompetisi olahraga, melainkan juga menghidangkan kepada kita kekuatan wanita yang menyebut dirinya seorang Indonesia. Susi Susanti: Love All tidak menyempitkan diri sebagai biografi atlet olahraga, ia juga adalah drama kebangsaan di dalam denyut nadinya.
Kita akan diperlihatkan kehidupan remaja Susi di tahun 80an. Adegan pembuka film ini dengan sangat fantastis mengeset banyak hal penting sekaligus. Tentang latar keluarga Susi yang keturunan Cina (sekarang, disebut Tionghoa). Tentang ayah Susi yang mantan atlet bulu tangkis – yang menjadi akar kegemarannya terhadap olahraga raket ini. Tentang sifat Susi yang tidak suka kalah. Jika suka bermain bulu tangkis berarti Susi adalah wanita yang tomboi, maka film bahkan membangun sisi feminisme Susi dengan menunjukkan dia sebagai balerina; secara ‘rendah hati’ film membangun informasi kepada kita menuju split kemenangan Susi yang melegenda. Adegan pembuka itu ditutup dengan Susi yang berpakaian balerina memenangkan pertandingan bulu tangkis melawan juara; sungguh empowering!

The Badassminton Ballerina!

 
Menyaksikan lembar-lembar perjuangan Susi berlatih – dari zero menjadi hero – mengingatkan aku kepada film Fighting with My Family (2019) karena sama seperti tokoh Paige dalam film tersebut, Susi juga berasal dari keluarga pemain olahraga yang ia sukai (dalam kasus ini bulu tangkis) dan ia juga ‘melangkahi’ abangnya dalam proses menjadi atlet. Drama keluarga tidak dieksplorasi terlalu banyak di dalam Susi Susanti, tetapi formula perjalanan-dalam Susi terasa serupa. Bukan hanya dengan Fighting with My Family, melainkan juga dengan beberapa film olahraga lain. Dan ini bukanlah masalah. Tentu saja sah jika cerita mengikuti formula yang sudah terbukti bekerja efektif, dan Susi Susanti: Love All dalam kapasitasnya sebagai cerita olahraga, paham cara tampil sebagai drama olahraga yang dramatis. ia bukan sekadar mengikuti formula, ia menambahkan bumbu-bumbu manis yang membuat ceritanya unik.
Namun sebenarnya aspek paling hangat dan menarik pada film ini adalah hubungan antara Susi dengan ayahnya. Percakapan antara kedua tokoh ini patut diganjar medali emas. Film menunjukkan betapa ayahnya percaya kepada Susi dan betapa bagi Susi dukungan ayahnya begitu penting lewat dialog yang tidak menye-menye, melainkan lewat personifikasi beberapa sifat yang dimainkan dengan kontinu, dengan penambahan intensitas di setiap waktunya. Dari percakapan dengan ayahnya, Susi memahami makna filosofis ‘love all’ yang menjadi istilah skor kosong-kosong di dalam bulu tangkis. Semua itu akan sangat berarti bagi pertumbuhan karakter Susi yang tadinya merasa harus selalu memenangkan setiap pertandingan. Terlebih karena ada landasan rintangan bagi Susi. Orang hebat di sana bukan Susi seorang. Teman satu pelatihannya juga hebat-hebat. Mereka semua harus bermain baik demi mengharumkan nama bangsa, dan ini pada beberapa kesempatan menjadi beban bagi Susi. Pada awalnya Susi menganggap janji membawa medali adalah sebuah hutang, tetapi sepanjang durasi – setelah sekian banyak pertandingan dan lawan yang ia hadapi barulah akhirnya ia memahami maksud tagihan janji yang diminta ayahnya – yang semuanya kembali kepada makna ‘love all’.

Bukti kemenangan bukan hanya semata medali emas. Sesungguhnya ada yang lebih penting daripada berjuang demi mendapatkan piala ataupun penghargaan. Yakni berjuang dengan menunjukkan kebanggaan dan dedikasi. Karena yang terpenting bukanlah hal menangnya. Bukanlah soal sukses atau tidak mengalahkan musuh. Melainkan untuk siapa kita berjuang. Siapa yang berada bersama kita di akhir perjuangan – di akhir masa sulit

 
Film juga membahas hubungan antara Susi dengan Alan Budikusuma yang kita sudah tahu mereka bakal menjadi pasangan. Hubungan romansa ini sebagian besar difungsikan untuk menaikkan stake di paruh kedua (dan juga karena cerita butuh sekuens romansa) – prestasi mereka menurun. Namun tidak ada yang terasa istimewa pada bagian ini, selain mungkin fakta menarik bahwa sebelum ini Dion Wiyoko dan Laura Basuki pernah juga bermain sebagai pasangan di era kerusuhan pada Terbang: Menembus Langit (2018)

level rasisku adalah menganggap semua yang sipit pasti jago bermain bulu tangkis

 
Di bagian inilah naskah mulai kelihatan bingung menjalin dua elemen cerita. Kita sudah hampir di penghujung – ada pertandingan besar di Barcelona, dan cerita seolah membuatnya sebagai klimaks. Tapi ada yang kurang dari pertandingan tersebut. Tidak ada gunanya menunjukkan kepada kita pertandingan yang sudah kita tahu hasilnya, harus ada konflik personal yang tercermin dan diperlihatkan, lebih dari penggunaan narasi voice-over. Pertandingan bersejarah itu jadi terasa datar. Film tampaknya menyadari ini – atau mungkin kita yang baru tersadar – dan cerita pun masuk ke apa yang sepertinya adalah match point. Film butuh untuk mencetak angka emosi terakhir, dan ia menggunakan elemen cerita satu lagi yang tadi serasa sudah ditinggalkan.
Cerita perjuangan Susi Susanti dibayangi oleh situasi politik Indonesia sebelum era reformasi. Negara demokrasi yang masih trauma dengan insiden ‘PKI’, negara yang masih rawan bagi penduduk keturunan yang dianggap sebagai komunis. Warga keturunan harus punya surat untuk diakui sebagai warga Indonesia, masalahnya adalah mengurus surat tersebut ribetnya bukan main. Bahkan atlet yang berjuang membela negara, tetap susah untuk mendapat pengakuan. Film ini mengangkat masalah tersebut di dalam narasi, bahwa banyak warga Indonesia lebih memilih bersembunyi sebagai warga negara lain. Susi dan keluarga termasuk yang mendapat masalah ini. Kita melihat sikap film ini terhadap situasi tersebut ketika ada dialog yang menyebut Indonesia bukan komunis yang harus sama dengan latar adegan senam yang pesertanya mengenakan seragam. Kita juga akan melihat gagasan film ini terhadap keadaan tersebut. Film mengangkat masalah ini di awal cerita, untuk kemudian sempat absen di tengah ketika fokus pada elemen olahraga, dan barulah di akhir masalah ini diangkat kembali.
Struktur cerita seharusnya bisa diperbaiki lagi sehingga narasi tidak terasa seperti episode. Film tampaknya ingin runut sesuai timeline sejarah, padahal semestinya tidak berdosa amat jika – memakai istilah candaan Sarwendah kepada Susi; ‘dinakalin’ sedikit urutan kejadiannya. Masalah kewarganegaraan mestinya bisa ditambahkan di pertandingan besar Susi sehingga emosinya lebih terasa utuh. Elemen olahraga dan elemen kebangsaan dalam film ini seharusnya bisa lebih mulus dilebur ketimbang diceritakan bergantian.
 
 
Penampilan Laura Basuki benar-benar jago di sini. Gestur dan gaya main Susy Susanti ia mainkan dengan mirip. Dia tidak tampak canggung bermain bulu tangkis. Ada intensitas yang ia hadirkan ke dalam perannya. Terutama pada bagian-bagian yang lebih menuntutnya untuk bermain emosional. Lewat Basuki – lewat decit-decit sepatunya di lapangan, lewat keluhnya saat pergelangan cedera, lewat semu wajahnya ketika diajak jalan oleh Alan, film menunjukkan suka duka kehidupan seorang remaja yang menjadi atlet untuk negara yang bahkan belum memastikan posisi dirinya di sana. Susi Susanti: Love All adalah tontonan wajib di iklim negara saat ini untuk kalian yang mulai merasa bete, bosan, atau takut kepada negara.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SUSI SUSANTI: LOVE ALL

 

6,9 DETIK Review

“One day your life will flash before your eyes.”

 

 

Sementara Spider-Man sedang diperebutkan oleh Disney dan Sony, diam-diam ternyata Indonesia punya Spider-Woman loh! Julukan tersebut diberikan kepada Aries Susanti Rahayu yang sukses menjadi juara dunia dalam cabang panjat tebing pada Asian Games 2018 di Palembang. Dengan catatan waktu yang bukan main cepat. Prestasi yang sungguh luar biasa, mengingat asal dan perjalanan Ayu yang begitu penuh perjuangan. Kisah hidup salah satu atlet nasional kebanggaan Indonesia inilah yang diangkat oleh Lola Amaria dalam drama biopik 6,9 Detik. Biopik yang juga menyerempet dokumenter karena menggunakan penggalan adegan-adegan asli dari pertandingan panjat tebing Asian Games 2018 dan tokoh asli bermain  sebagai pemeran utama.

Seperti semua cerita perjuangan, cerita ini pun bermula dari rumah. Ayu yang tumbuh di desa di Grobogan, Purwodadi.  Dia dekat dengan sang ibu yang bisa menolerir ‘kebandelan’ Ayu yang suka bermain ala cowok. Kebersamaan mereka terpisah oleh ibu yang pergi bekerja ke luar negeri sebagai TKW. Meskipun tidak pernah sepi di rumah – Ayu tinggal bersama ayah, dua orang kakak, dan bu’ lik (bibi) – tapi Ayu selalu merindukan ibu. Olahraga menjadi pelampiasan buat Ayu. Dia yang pada dasarnya memang berani dan suka tantangan, menekuni panjat tebing yang diperkenalkan kepadanya oleh seorang guru di SMP. Ayu sebenarnya berbakat, hanya saja kehilangan sosok ibu membuatnya sempat menjauh dari jalan yang harus ia lalui. Semuanya terserah kepada Ayu untuk menyerah atau malah kembali ke siapa dirinya, menoreh prestasi, dan membuat bangga ibu pertiwi serta ibunya sendiri.

bakatnya sudah terlihat sejak dia suka bernyanyi ‘cicak-cicak di dinding’ waktu kecil

 

Kisah nyata kehidupan Ayu dibagi oleh film ke dalam tiga periode. Saat dia masih kecil di tahun 1999, saat dia ABG dan diperkenalkan dengan olahraga panjat tebing, dan hari-hari berlatih di tim nasional menjelang Asian Games. Bagian dia kecillah yang paling menyenangkan untuk ditonton. Di sini Lola Amaria benar-benar telaten merajut berbagai informasi dalam adegan demi adegan. Detil-detil kecil dipergunakan untuk menanamkan kepada kita pemahaman seperti apa si Ayu – apa yang ia inginkan, apa yang membuat dia menjadi seperti dirinya sekarang. Dengan kata lain, film sukses menetapkan motivasi perjuangan Ayu setelah dewasa nantinya. Film memperlihatkan ketidaksukaan Ayu terhadap kekalahan melalui dialog serta lewat adegan-adegan interaksi Ayu dengan sekitarnya. Juga ada narasi tentang penolakan Ayu terhadap kotak-kotak gender; dia yang suka bermain bersama anak-anak cowok, memainkan permainan ‘cowok’, menolak untuk disebut anak perempuan. Sayangnya, topik cerita yang satu ini tidak terasa berujung kepada apa-apa, karena film tampak ingin kembali berfokus kepada persoalan Ayu dengan ibunya. Namun bahkan persoalan itupun tidak benar-benar memuaskan pengeksplorasiannya.

Memasuki periode kedua cerita, film tidak lagi setelaten semula dalam bertutur. Dan ini menjadi masalah karena periode ini merupakan masa terendah dalam hidup Ayu, jadi kita harus dibuat benar-benar peduli pada dirinya. Seharusnya ini adalah bagian yang penting secara emosional. Ayu membuat pilihan-pilihan yang buruk selagi kesulitan menjalani latihan panjat tebing yang memang literally sulit dan menyita banyak tenaga. Jadi ini adalah bagian di mana Ayu ‘dihajar’ habis-habisan. Tapi film memilih untuk menceritakan kehidupan Ayu di periode ini dengan sangat cepat. Rentetan klip ala montase dengan narasi voice-over Ayu menulis surat kepada ibunya pada dasarnya mendiktekan kepada kita hal-hal yang dilalui oleh Ayu – pertama kali pacaran, masalah sama temannya, mencoba ke klub malam (ada sedikit adegan underage drinking di sini) Hubungan sebab-akibat tidak lagi diperlihatkan dengan sedetil bagian sebelumnya.

Cerita tak kunjung melambat, melainkan tancap gas ke periode terakhir. Ayu kini sudah dewasa, dia sekarang berjilbab. Walaupun mengetahui hal tersebut dari poster, aku tetap kebingungan mencari mana yang tokoh Ayu saat dewasa ini. Begitulah cepatnya cerita melompat-lompat. Pertanyaan utama yang diangkat dalam periode ini adalah mengenai sanggup atau tidak Ayu bertahan dalam lingkungan pelatihan yang keras. Dan somehow, masalah Ayu dengan ibunya di periode kedua tidak pernah dijelaskan dengan memuaskan. Mereka tau-tau sudah damai, dan sekarang ‘musuh’ Ayu adalah pelatih galak yang diperankan oleh Ariyo Wahab. Tadinya kupikir film ini mengaitkan ini dengan ketidaksukaan Ayu kalah, apalagi oleh anak laki-laki – kupikir hubungan mentorship Ayu dan Pelatih akan dieksplor sehingga lebih personal daripada sekadar murid dan guru; seperti hubungan mentorship antara Paige dengan pelatihnya di Fighting with My Family (2019) tapi ternyata tidak. Film seperti buru-buru ingin sampai di adegan Asian Games. Hanya sedikit ‘hati’ yang dimasukkan ketika membahas pelatih yang ekstra keras membimbing Ayu. Tokoh Pelatih tidak terasa sebagai manusia beneran, bahkan Ayu pun tak menyentuh kita secara personal.

Film ini kurang terasa dramatis sinemanya. Hanya seperti runtutan kejadian-kejadian yang silih berganti. Bahkan Fighting with My Family yang tentang olahraga bohongan, dengan tokoh atlet hiburan, saja terasa lebih manusiawi karena menggali sisi humanis bukan semata tokoh utama melainkan juga pendukung di sekitarnya. Sepertinya ini semua karena film tidak dimainkan oleh aktor beneran; Lola ingin menutupi kekurangan pemain yang ia punya – dalam hal ini si Ayu sendiri – maka ia tidak memberikan banyak kesempatan bagi pemain untuk menunjukkan sisi emosional

Lebih susah ngajarin atlet berakting ketimbang ngajarin aktor berolahraga

 

Namun, ada satu cara lain yang lebih menarik untuk melihat film ini. BAGAIMANA JIKA SEMUA KEJADIAN DI FILM ADALAH PANDANGAN FLASHBACK DARI AYU DEWASA – BUKAN FLASHBACK URUTAN CERITA? Begini, film ini dibuka dengan adegan Ayu dewasa yang tengah hendak bertanding di final Asian Games. Selagi menunggu aba-aba untuk mulai memanjat, dia menoleh ke barisan penonton dan melihat dua sosok anak yang merupakan dirinya sendiri saat masih kecil. Kemudian barulah film membawa kita ke masa lalu Ayu, yang dimulai dengan adegan mimpi si Ayu Kecil. Kejadian kemudian berjalan hingga kita kembali ke adegan pembuka, Ayu hendak bertanding. Jadi, periode-periode yang kita saksikan antara pembuka film dengan kelanjutan Ayu bertanding bisa diinterpretasikan sebagai flashback Ayu. Hanya ada di dalam kepala Ayu.

Makanya kejadiannya lompat-lompat. Seperti banyak terskip. Karena saat kita mengenang masa lampau, kita hanya akan mengingat momen-momen penting. Dan memang itulah momen-momen yang diperlihatkan oleh film. Ayu mengirim surat marah kepada ibunya. Ayu curhat pada ibunya. Baikan mereka tidak diperlihatkan karena yang Ayu ingat – yang paling penting bagi Ayu adalah momen ketika ibunya tak ada di saat dia butuh dan momen ketika ibunya hadir kembali saat dia butuh. Makanya lagi, banyak detil-detil yang aneh kita jumpai di sepanjang cerita. Seperti misalnya Agnes Monica yang ditonton Ayu kecil di televisi tahun 1999 tampak seperti Agnes Monica yang sudah lebih dewasa daripada tahun segitu (TV jelas menyebutkan Pernikahan Dini padahal tahun segitu Pernikahan Dini belum lagi tayang). Ataupun ketika saat dewasa kakak-kakak Ayu tampak lebih muda ketimbang dirinya. Itu karena Ayu sudah lama tak melihat kakak-kakaknya, mungkin begitulah tampang mereka saat terakhir kali Ayu melihat mereka. Ayu hanya mengingat dia mengidolakan Agnes Monica

Bagaimana jika Ayu mengalami semacam ‘Life Review Experience’ hanya saja dia tidak dalam keadaan nyaris meninggal, melainkan dalam kondisi emosi yang ekstrim lantaran sedang berada dalam momen terpenting seumur hidupnya?

 

Tapi jikapun benar begitu, pilihan ini mustinya tidak bisa dijadikan alasan. Ketika kita membuat film, kita kudu membuatnya dramatis secara sinematik. Toh sudah ada film yang seluruh ceritanya ternyata berupa flashback dari si tokoh yang masih mampu memberikan hubungan sebab-akibat yang runut, tak seperti terskip-skip, meskipun dengan urutan yang acak, seperti Stay (2005) atau Jacob’s Ladder(1990). Karena hubungan-hubungan antarkarakter mesti dijelaskan. Sesuatu yang diangkat harus dapat terlihat penuntasannya. Di situlah letak ‘drama’ yang penonton nikmati. Perjalanan yang turut dipelajari. Di situlah konfliknya, melihat karakter bertumbuh dengan pembelajaran. Kekurangan film 6,9 Detik yang paling kerasa adalah apa yang dialami Ayu tidak terasa earned. Kita tidak benar-benar merasa berjuang bersamanya. Lantaran kita juga tak benar-benar melihat dia berjuang menghadapi masalahnya. Bahkan kenapa mesti panjat tebing saja tidak pernah dijelaskan oleh film. Kita mengerti Ayu tidak suka kalah/gagal, tapi kita tidak diberikan penjelasan yang memuaskan kenapa dia mesti berjuang di panjat tebing – tidak di lomba lari, ataupun renang, atau apa kek.

Cara bercerita bisa dikreasikan, tapi film ini tidak banyak melakukan kreasi. Mungkin bisa berdalih karena budget yang kecil. Tapi tetap saja, film tidak mampu menghasilkan euforia kemenangan ataupun ketegangan. Menonton film ini seperti menyaksikan laporan profil seorang atlet nasional ketimbang sebuah cerita perjuangan dramatis. Kita tahu ujung film ini bahkan sebelum filmnya dimulai. Oleh karena itu seharusnya film ini berbuat sesuatu yang ‘seru’, seharusnya pengalaman menonton kita yang dijadikan sasaran utama dalam bercerita. Buat struktur cerita yang menantang, yang out of the box. Mainkan konsep yang unik. Cerita berupa flashback ini mungkin bisa lebih menarik kalo dibuat lebih vague dan dream-like lagi. Atau mungkin buat flashback Ayu itu terjadi saat dia beneran memanjat. Pada detik-detik perjuangannya itu , dia mengenang hidupnya. Like, cut-to-cut momen-momen hidup dengan slow motion Ayu memanjat, atau apa kek. Atau malah, bikin saja Ayu mecahin rekor 6,9 detik; walaupun tidak sesuai dengan kejadian sebenarnya tapi setidaknya ada momen yang lebih pecah dan beneran live-it-up kepada judul filmnya.

 

 

 

Tadinya aku enggan mengulas film ini. Karena film ini punya maksud yang baik, sehingga aku merasa enggak enak harus bicara jujur tentangnya. Tapi setelah memikirkannya selama dua hari, aku menemukan cara untuk menikmati film ini. Membuatnya tidak separah penilaianku awalnya. Tapi tetap belum cukup. Film ini saat Ayu masih kecil, toh, memang tampil menyenangkan. Kejadiannya tergambar detil, karakter-karakternya hidup. Hanya saja semakin ke belakang, penceritaannya semakin lepas – terasa lompat-lompat. Adegan demi adegan berganti tanpa memberikan waktu untuk kita meresapi emosi. Itupun kalo memang ada emosi dalam cerita dan penampilan aktingnya.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 6,9 DETIK.

ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD Review

“It’s better to burn out than to fade away”

 

 

Lewat cerita tentang seorang aktor serial televisi koboy yang berusaha untuk tetap dikenal sebagai aktor yang hebat dan pemeran pengganti yang sudah menjadi sahabatnya di Hollywood tahun 60an, Quentin Tarantino mengajak kita semua bercanda. Menggoda kita dengan mengubah sejarah kelam menjadi dongeng happy ending. Tarantino memasukkan dua tokoh fiksi ke dalam dunia nyata. Dengan tujuan untuk membuat kita berandai-andai seperti apa jadinya jika Hollywood tidak pernah berubah, tidak palsu, tidak ada yang meredup kemudian menghilang; jika Hollywood adalah tempat yang – seperti dalam cerita – tempat kebaikan selalu menang melawan kejahatan.

Menurutku memang begitulah cara terbaik menonton film ini. Menganggapnya sebagai dongeng. Judulnya saja udah kayak kalimat pembuka hikayat-hikayat zaman dulu; “Pada suatu hari di Hollywood” Buat penggemar film, Hollywood adalah istana impian. Tempat cerita-cerita diwujudkan ke gambar bergerak. Sekaligus juga, Hollywood sendirinya adalah tempat cerita-cerita baru lahir. Cerita orang-orang yang datang dan pergi dari dunia perfilman. Dalam dunia nyata, cerita-cerita tersebut seringnya merupakan tragedi. Karena para aktor-aktor punya masa kadaluarasa. Dalam roda industri yang terus bergulir, pemain muda akan menjadi tua dan cepat atau lambat bakal tergantikan oleh pemain muda yang baru. Rick Dalton, tokoh utama film ini, akan literally dibunuh karakternya. Dalam serial koboy baru yang ia perankan, Dalton bukan lagi bintang utama. Masanya sudah lewat. Kini dia ditawari peran antagonis. Untuk episode pertama, tokohnya akan dibunuh oleh protagonis yang diperankan oleh aktor muda berbakat sehingga studio bisa menaikkan rating dan melanjutkan musim serial tersebut. Begitulah peran Dalton yang dulu selalu jadi hero nomor satu di televisi. Di tahun 1969 itu, dia menyadari perannya sekarang hanyalah pemeran pembantu. Ini adalah akhir dari era Dalton, yang diparalelkan oleh Tarantino dengan akhir dari era kejayaan 60’an yang dibawa oleh tragedi pembunuhan oleh Charles Manson.

See, cerita campuran fiksi dan fakta seperti ini hanya bisa dikerjakan oleh orang yang benar-benar suka pada film. Yang betul-betul mengerti seluk beluk Hollywood beserta sejarah-sejarahnya. Tarantino sudah tidak diragukan lagi keabsahannya. Sejak Pulp Fiction (1994) dia sudah memperlihatkan gambaran pengganti zaman di genre action; bintang baru menggantikan bintang lama lewat adegan Bruce Willis menembak John Travolta. Yang ia sajikan kali ini adalah kumpulan momen-momen yang menunjukkan betapa cintanya dia terhadap film. Narasi tersaji ringan, dengan banyak dialog dan adegan yang bernada komedi. Namun juga perasaan sedih dan nestapa terasa membayangi. Karena ini adalah cerita tentang perjuangan seseorang untuk tetap relevan. Untuk menjadi immortal. Semua itu semakin menghantui sebab kita tahu apa yang terjadi di penghujung tahun itu. Bakal ada yang ‘dibunuh’. Tapi kita tidak lagi yakin siapa atau malah apa yang mati. Film dibangun seolah membendung antisipasi kita terhadap kejadian nyata yang menggemparkan. Sepanjang waktu aku duduk nonton ini aku merasa terhibur meskipun di dalam hati aku terus bertanya-tanya bagaimana film ini mempertemukan Dalton dan Booth yang tokoh fiksi dengan Sharon Tate, seperti apa posisi mereka dalam tragedi tersebut. Yang dilakukan oleh film ternyata benar-benar sebuah twist, yang seharusnya kita senang melihatnya tapi tetap kita merasa ambigu. Film berakhir dengan sangat kuat karena ikut ke dalam pikiran kita sampai ke rumah. Apakah Tarantino sedang menyarankan sebuah solusi. Apakah yang sebenarnya menjadi penyelamat di sana.

Di Indonesia kita mengenal pepatah “manusia mati meninggalkan nama”. Film kesembilan Quentin Tarantino ini membalikkan itu. Rick Dalton berjuang agar namanya tetap berkibar. ‘Turun’ dari tahta protagonis bukan berarti dia tidak lagi tampil prima. Karena actually yang lebih parah bagi manusia adalah nama mati duluan sebelum pemiliknya.

 

Meskipun namanya nongol di koran, Leonardo DiCaprio masih belum meninggal

 

 

Ini bukan pertama kalinya Tarantino menulis ulang sejarah. Menimpanya dengan fiksi. Kita sudah lihat cara dia menulis nasib Hitler di Inglourius Basterds (2009) Sejalan dengan ini juga bukan kali pertama Tarantino menyemplungkan dirinya ke dalam kontroversi. Fantasi Once Upon a Time… in Hollywood bisa jadi susah untuk ditelan buat beberapa penonton. Terlebih buat penonton yang berhubungan langsung dengan tokoh-tokoh nyata yang disinggung alias digambarkan lewat visi Tarantino. Ya aku sekarang bisa melihat alasan putri Bruce Lee protes karena penggambaran yang dilakukan Tarantino terhadap almarhum ayahnya yang melegenda. Tapi sekaligus aku juga bisa melihat adegan-adegan seperti itu dibuat tak-lain-dan-tak-bukan sebagai subteks dari konteks cerita. Bruce Lee yang bertarung imbang dengan Cliff Booth si stuntman sesungguhnya ada dalam ingatan si Booth sendiri. Adegannya berupa flashback dari ingatan Booth sehubungan dengan fakta namanya di Hollywood sudah besar sebagai orang yang berbahaya.

Ya orang-orang juga bisa protes soal Charles Manson yang didepiksikan sebagai tokoh sakral, namun konsekuensi tindakannya tidak digambarkan sampai ke dia. Manson hanya muncul satu kali di film. Karena film memang bukan soal Manson, melainkan fiksi soal perjuangan manusia. Manson hanyalah katalis yang memungkinkan terjadinya kekerasan yang menjadi simbol perjuangan. Kita melihat salah satu Manson Girl bilang mereka membunuhi bintang film karena sudah mengajarkan kekerasan di televisi. Kejadian di sekuen akhir tersebut menunjukkan kekerasan melahirkan kekerasan, namun kekerasan itu diperlukan sebagai bentuk dari perjuangan bertahan hidup, yang paralel dengan tema stay relevan. Ini berhubungan dengan cara Tarantino memperlakukan wanita di dalam film ini. Actually wanita yang diperlakukan kasar udah menjadi kritikan rutin untuk karya Tarantino. Di film Once Upon ini kita bakal melihat Booth menghajar cewek hippie anggota cult Manson. Dalton bahkan membunuh salah satu cewek itu dengan cara yang memuaskan dan berhubungan dengan sesuatu yang ngelingkar dengan bagian awal karirnya. Semua itu merupakan bagian dari keambiguan yang sudah diniatkan untuk kita rasa. Kita memang disuruh untuk bingung; menyoraki sesuatu yang tampak seperti heroisme pria tetapi cewek-cewek itu pantas mendapat pembalasan atas peristiwa di dunia nyata.

Film ini juga bisa susah untuk ditonton jikalau kalian lebih menyukai cerita nyaris tiga jam yang banyak aksi-aksinya. Meski memang saat porsi aksi muncul film menampilkan kekerasan tanpa tedeng aling-aling, namun sebagian besar waktu kita hanya melihat orang duduk dan bercerita. Mereka mendongeng di dalam dongeng. Nonton film ini kayak mendengarkan orang tua bercerita. Kadang kita dibawa melihat visualisasi flashback dari seorang tokoh – yang seperti kasus Bruce Lee dan Cliff Booth tadi; flashback yang ‘kebenaran’ kejadiannya belum absah. Kadang kita melihat Dalton dan Booth hanya duduk mengomentari film-film lama yang mereka mainkan bersama. Buatku, adegan-adegan demikian sama menariknya dengan adegan aksi. Karena aku suka mendengar cerita. Aku suka melihat belakang layar dari pembuatan film difilmkan. Juga tak terhitung banyaknya insight yang diberikan film terhadap skena perfilman Hollywood. Seperti film-film Tarantino sebelumnya, film ini juga renyah oleh dialog-dialog yang dibawakan dengan menarik dan meyakinkan.

Penampilan Leonardo DiCaprio dan Brad Pitt mengangkat film menjadi semakin menyenangkan. Menakjubkan cara naskah menempatkan mereka di kejadian-kejadian yang ‘aneh’, seperti ketika kita melihat Dalton lagi syuting dan DiCaprio harus memainkan tokoh yang saking pengennya untuk tampil gak-kalah dari bintang muda malah melupakan dialog yang mesti ia ucapkan. Atau ketika Brad Pitt harus menunjukkan reaksi saat masa lalu tokohnya diungkap – Booth dipercaya membunuh istrinya yang kebanyakan ngomel saat mereka liburan di kapal, naskah meminta Pitt untuk menunjukkan ambiguitas dari kebenaran ‘gosip’ tersebut, dan Booth oleh Pitt tampak seperti menikmati semua ini. Like, dia justru ingin orang percaya akan gosip tersebut karena mengangkat namanya sebagai seorang stuntman tangguh. Margot Robbie juga bermain menakjubkan. Naskah menampilkan Sharon Tate seperti tokoh dongeng yang tampak tak nyata. I mean, orang-orang biasa diperlihatkan tidak menyadari bahwa dia masih ada, bukan sekadar persona di bioskop. Dan bahkan dia juga mendapati namanya mulai meredup seperti Dalton. Aku pengen melihat penampilan Robbie lebih banyak, terutama soal kasus Manson tadi. Tapi Sharon Tate tampak seperti ditinggalkan, demi kepentingan twist yang diperlukan oleh visi cerita.

We’re watching the end of an era

 

Semua yang sepintas tampak seperti kekurangan di atas, sesungguhnya juga bertindak sebagai kekuatan yang dimiliki oleh film. Karena film memang mengincar perasaan yang mendua saat kita menontonnya. Tapi jika memang mau bicara kekurangan, aku menemukan dua yang masih belum aku lihat alasan Tarantino memilih untuk bercerita seperti itu. Pertama soal lompatan periode di babak ketiga yang menggunakan narasi untuk menjelaskan ke kita apa yang terjadi selama lompatan tersebut. Sembari film terus membangun narasi yang mengarahkan kita ke tragedi nyata, yang kemudian tidak dilakukan. Menurutku menggunakan periode dan narasi ini tampak seperti wujud bercerita yang malas dan menyingkat waktu dibandingkan dengan cara film menampilkan cerita tokoh sebelum sampai ke titik ini. Di awal dan tengah penceritaannya sangat kreatif. Selalu ada hal baru yang dilakukan untuk menggambarkan cerita tokoh yang sedang bergulir.

Kedua adalah soal kenyataan bahwa untuk konsep film ini bekerja, penonton perlu untuk mengetahui sejarah kasus sekte Manson, yang dijadikan twist oleh cerita. Keseluruhan punchline film hanya bekerja jika kita sudah tahu ini semua berdasar dari kisah nyata yang dibelokkan menjadi dongeng. Karena jika penonton tidak tahu, maka cerita film ini akan berakhir membingungkan. Tokoh Sharon Tate hanya akan tampak seperti tokoh ekstra yang seharusnya bisa dihilangkan. Soal kekerasan terhadap anggota sekte juga memang akan menjadi gambaran dominasi pria kulit putih terhadap wanita, pelampiasan kepada hippie, karena ada missing piece jika penonton tidak tahu sejarahnya. Aku nonton ini sama temanku yang hanya tahu film ini berdasarkan kasus Manson tanpa benar-benar tahu apa yang terjadi pada kasus tersebut, dan saat film beres dia bingung. Punchline dan belokan sejarah yang dilakukan film tidak kena kepadanya. Jadi, film ini membatasi dirinya sendiri. Film mengasumsikan semua penontonnya tahu, dan memang kita diminta untuk riset-riset sedikit dahulu. Dan buatku ini adalah kelemahan karena film meski punya sesuatu yang mendalam tapi seharusnya bisa bekerja di level permukaan. Kita hanya bisa menikmati dongeng sejarah jika kita tahu batasan mana dalam cerita itu yang benar-benar terjadi.

 

 

 

Tarantino tampak sedikit terlalu asik bercanda di film ini. Komedinya twisted and dark. Ceritanya memang menyenangkan, dengan tokoh fiksi dan nyata digabung, tapi bekerja dalam level yang ambigu. Yang untuk mengerti keambiguan dan sasaran yang dituju, penonton harus tahu dulu sejarah yang benar-benar terjadi. Jika tidak, film ini akan terasa berat dan menyinggung sekali. Di situlah letak keunikan film ini. Dia tidak takut untuk menjadi seperti demikian. Jarang kita dibuat menikmati film sekaligus menyadari yang kita tonton adalah harapan yang sudah kadaluarsa. Yang untuk menjadi pembelajaran saja tampak terlalu fantastis. But if you love films, punya perhatian terhadap sejarahnya, you will love this movie.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for ONCE UPON A TIME IN HOLLYWOOD.

 

 

 

FIRST MAN Review

“Failures are great learning tools..”

 

 

 

Sejak jaman Jules Verne, manusia sudah mendambakan terbang ke bulan. Manusia butuh sesuatu yang tinggi sebagai simbol dari cerahnya harapan, sebagai tolak ukur pencapaian. Kita mendongak menatap sesuatu yang ingin kita gapai. Puncak perjalanan manusia kala itu adalah sampai ke bulan. Bahkan menjadi sebuah kompetisi, but it really moves human forward. Dan setelah asap roket dan asap kompetisi itu sirna, Neil Armstrong adalah sosok yang berdiri di sana, yang menjejakkan harapan umat manusia ke tempat setinggi-tingginya. Apa yang ia rasakan di atas situ. Apa makna perjalan tersebut bagi dirinya. First Man adalah cerita tentang diri Neil Armstrong, sebagai seorang manusia.

Ini bukan lagi soal kemajuan teknologi semata. Ini bukan perihal memenangkan perlombaan. Ini bukan catatan kemenangan negara yang superpower. Ini bahkan bukan tentang menjadi pahlawan yang dielu-elukan berhasil menjalankan misi. Ini adalah cerita tentang seorang manusia yang selama hidupnya pertama kali merasakan dirinya terbang oleh determinasinya untuk survive dari duka kehilangan dan kegagalan.

kalo ini film Indonesia, lagunya pasti “Ambilkan bulan, Pa”

 

Sejak George Melies ngajak kakek-nenek buyut kita jalan-jalan ke bulan lewat film pendeknya (A Trip to the Moon – 1902), para pembuat film juga berlomba-lomba menceritakan kisah perjalanan manusia ke luar angkasa. Mengeksplorasi ruang tanpa batas, menjelajah tempat yang tidak diketahui dengan ilmu pengetahuan, akan menjadi porsi utama cerita-cerita tersebut. First Man, berbeda dari lainnya, membawa kita ke atas sana sembari tetap menjejakkan kaki kita sedalam-dalamnya ke tanah paling akrab yang disebut dengan kemanusiaan yang berkekeluargaan.

Fokus cerita adalah Neil Armstrong dan keluarganya yang kehilangan putri pertama karena kondisi kesehatan. Grief yang selalu terpatri di dalam diri Armstrong, yang ia akui akan terus memberikan pengaruh kepada pekerjaannya sebagai seorang astronot NASA. Armstrong mengajukan diri dan terpilih dalam program antariksa terbang mencapai bulan. Kesulitan-kesulitan yang dihadapi dalam pelaksanaan program tersebut, dan bagaimana itu semua mempengaruhi pribadinya, bagaimana dampaknya terhadap keluarga lah yang benar-benar dijadikan inti utama. Film ini tidak mengandalkan efek komputer sebanyak mereka mengandalkan penampilan akting Ryan Gosling dan Claire Foy (tuan dan nyonya Armstrong themselves) yang fenomenal. Gosling benar-benar membawakan ruh Armstrong ke dalam dirinya. Kita kerap mendapati permainan peran yang tersirat dan enggak exactly meledak-ledak dari Gosling, dan sebagai Armstrong pun dia menyuguhkan penampilan yang serupa. Tapi kadang terasa aneh juga, kekaleman Armstrong ini membuat kita terlepas dari cerita karena kita tidak pernah betul-betul tahu banyak ‘siapa dan darimana’ dirinya.

Alih-alih menyuguhkan sajian blockbuster memperlihatkan misi manusia yang berangkat ke bulan, Damien Chazelle mengembangkan cerita dari perspektif yang sangat personal. Bahkan, sang sutradara sendiri pun beranjak keluar dari zona nyamannya; Chazelle biasanya menggarap cerita yang bertemakan musik, namun dalam First Man kita akan melihat gimana Armstrong, yang disebutkan cakap bermain piano, menolak memainkan alat musik tersebut. Saat menonton First Man, kita tidak menjadi excited dengan melihat efek ledakan ataupun keseruan dari misi eksplorasi yang gone wrong. Hati kita jumpalitan melihat adegan Armstrong duduk bersama keluarganya di meja makan, malam sebelum ia menjalankan misi mencoba terbang ke bulan. Seorang ayah yang harus menjelaskan kepada putra-putranya dia harus pergi dan mungkin tidak akan pernah kembali. Seorang ibu yang duduk terdiam di sana, memahami situasi dan menelan rasa khawatirnya bulat-bulat sehingga ia tidak berteriak menuntut suaminya untuk menjalani pekerjaan normal seperti yang ia impikan.

Konflik kemanusiaan dalam ceritanya yang membuat kita bertahan duduk menghabiskan durasi film yang memang cukup panjang. Di lain kesempatan, film memparalelkan apa yang dirasakan oleh Armstrong mengenai pergi dan mengorbankan yang ia miliki demi sesuatu yang nun jauh di sana dengan keadaan sosial politik yang menimpa rakyat Amerika kala itu sehubungan dengan program ruang angkasa yang hendak ia jalani. Pemakaman sudah seperti menjadi jamuan bulanan buat Armstrong dan istrinya. Dia sudah kehilangan begitu banyak teman dan rekan kerja sesama ‘pelaut luar angkasa’ dalam usaha mereka menjalankan program tersebut. Dalam satu momen yang langka; Armstrong meninggikan suaranya, ia berseru bahwa kegagalan adalah keharusan lantaran mereka sudah sepatutnya gagal dan belajar dari kegagalan tersebut mumpung masih di bawah sini, supaya tidak ada kegagalan begitu sudah sampai ke atas sana. Bentrokannya adalah; at what cost? Film memperlihatkan gejolak dari masyarakat yang mempertanyakan keputusan pemerintah mengeluarkan dana besar untuk sesuatu yang berbahaya dan tak pasti, padahal masih ada hal yang lebih dekat lagi yang semestinya diberikan aliran dana.

orang sudah nyampe bulan, eee kita masih bingung bulan depan makan apa

 

 

Film berusaha menangkap semua aspek ceritanya dalam tampilan yang natural. Enggak dibuat-buat. Maka dari itu, aku menyarankan untuk tidak menonton film ini dalam keadaan perut yang kosong. Karena sebagai kontras dari adegan drama dan masalah keluarga yang direkam dengan relatif tenang, adegan-adegan yang berhubungan dengan astronot dan percobaan luar angkasa pun betul-betul dibuat senyata mungkin. Maksudku, kameranya – yang sedari awal sudah dibuat grainy biar sesuai dengan waktu kala itu – juga ditangani dengan sangat praktikal. Chazelle menggunakan teknik kamera handheld untuk sebagian besar adegan; di satu pihak dia berhasil menyatukan efek-efek dengan mulus, membuat setiap adegan tersebut sangat menakutkan dan penuh suspens. Namun di pihak lain, itu berarti kamera akan sering bergoyang hebat. Membuat kita seperti persis berada di dalam roket, mengalami semua guncangan yang dirasakan Armstrong dan teman-temannya. Dan ini bisa menjadi pengalaman yang membuat mual. Menonton ini aku jadi bersyukur aku kepentok dalam cita-citaku menjadi astronot, karena jika nonton film ini aja aku udah merasa mau muntah karena goyang-goyangnya, gimana kalo aku jadi pilot roket ke bulan beneran? Belum ninggalin atmosfer, bisa-bisa aku sudah pingsan duluan dengan bola mata berputar-putar kayak di film-film kartun.

Salah satu yang paling menakjubkan itu adalaha ketika Armstrong beneran nyampe ke bulan. Pengalaman menontonnya benar-benar terasa mengharukan. Suasana yang mendadak hening karena di sana enggak ada angin, padahal kita tahu di Bumi sana orang seluruh dunia mendengarkan siaran langsung misi mereka. Suara kresek-kresek komunikasi satelit mereka dengan menara NASA. Kalimat ikonik yang diucapkan oleh Armstrong. Seolah kita menjadi orang ketiga yang ikut, yang menjejakkan kaki di sana. Melihat dirinya terdiam di atas sana, hanya berdiri untuk beberapa saat.. Merinding! Atau paling tidak, aku merasa seperti orang-orang yang mendengarkan langsung siarannya saat peristiwa tersebut beneran terjadi bertahun lalu. Kita banyak mendengar berita bahwa film ini diprotes oleh warga Amerika lantaran tidak memperlihatkan adegan spesifik penancapan bendera. Setelah melihat film ini, dan menyaksikan sendiri sekuen di bulan tersebut, aku bisa melihat kenapa adegan penancapan bendera itu tidak disorot. Dan itu bukan karena pembuatnya gak nasionalis. Melainkan karena adegan tersebut akan mengganggu kekonsistenan tema film; sebab ini adalah tentang pencapaian manusia seutuhnya, yang diwakili oleh Armstrong di luar kewarganegaraannya.

Jika ada satu hal yang membuatku penasaran dari bagian di bulan tersebut, maka itu adalah hal personal yang dilakukan oleh Armstrong saat dia memandang kawah bulan dari dekat. Kalo disebutin, akan spoiler banget, aku yakin kalian keberatan jika terlalu spoiler. Maka aku hanya bisa bilang, aku cukup mendua perihal adegan tersebut. Adegan yang menyentuh tersebut, akan berkurang kekuatannya jika tidak benar-benar dilakukan oleh Armstrong di dunia nyata; dia hanya bersifat teatrikal belaka. Lain halnya jika hal itu beneran terjadi, dan kita baru pertama kali melihat sisi tersebut dari sosok Armstrong. Saat membuat film ini, diberitakan mereka memang melakukan riset dengan langsung mewawancarai keluarga Armstrong, jadi adegan yang kumaksudkan di sini bisa saja beneran terjadi, akan tetapi tidak ada informasi lebih jauh yang bisa mengonfirmasi hal tersebut.

 

 

 

Usaha yang sungguh-sungguh menjadikan cerita sejarah ini sebagai pandangan yang sangat personal tentang cinta, harapan, dan keluarga. Segala aspek dan teknis diperhatikan dengan seksama, sehingga terciptalah nuansa pengalaman yang otentik dan keaslian. Sedikit mengecewakan adalah koneksi emosi kita dengan Neil Armstrong yang kerap terasa terputus, karena tokohnya dimainkan dengan emosi yang terlampau detached pada tipe cerita yang mengajak kita untuk berpegang erat kepada karakternya. Ini bukan tentang kejadian apa, melainkan siapa yang mengalaminya. Kita ingin berkomunikasi lebih banyak dengan tokoh utamanya.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for FIRST MAN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa yang kira-kira kalian lakukan jika kalian tahu tidak akan gagal? Apakah sesuatu hanya berharga jika berhasil dilakukan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017