24 JAM BERSAMA GASPAR Review

 

“Hope is a desperate feeling in a desperate situation”

 

 

Apa coba persamaan detektif di film-film? Ya, kasus misteri yang mereka tangani dengan susah payah itu ternyata paralel dengan masalah personal mereka. Tapi detektif Gaspar memanglah beda (jantungnya aja di kanan!)  Kasus baginya sedari dulu cuma satu; mencari teman masa kecil yang hilang di dunia yang semakin canggih tapi moral semakin bobrok itu, Sutradara Yosep Anggi Noen mengadaptasi cerita Gaspar dari novel, ke dalam genre yang baru baginya. Jika dua film Yosep sebelumnya kita ibaratkan kayak orang introvert; irit berkata-kata, penuh visual storytelling yang mengajak berkontemplasi, maka film Gaspar ini kayak ekstrovert. Berisik, menggebu-gebu, ambisius, penuh aksi. Satu buku dipadatkannya ke dalam 90an menit, sumpek berisi urusan tentang dunia masa depan, tentang situasi sosial politik yang kok kayaknya gak jauh-jauh amat dengan keadaan kita sekarang, lagu non-diegetic yang kayak mengejakan perasaan karakter, dan pencarian desperate dari seseorang yang memegang teguh cinta dan harapan. So yea, ini adalah film detektif yang begitu berbeda sehingga menantang bukan cuma buat kita, tapi juga bagi pembuatnya. Jantungnya aja ada di kanan!!

Gaspar yang jantungnya ada di kanan itu (yang udah nonton film ini ampe abis pasti bisa tahan pengulangan ini hahaha) mendapat petunjuk tentang keberadaan atau nasib teman masa kecilnya, Kirana, yang hilang sejak lama. Selama ini Gaspar menekuni pekerjaan detektif, memang untuk mencari Kirana, dan along with that job, Gaspar juga melihat kebobrokan dunia tempatnya tinggal. Saat menangani satu kasus, Gaspar dihajar ampe babak belur. Dan dokter di underground fight club milik Agnes, memvonis alat di jantungnya yang ada di kanan udah game over sehingga Gaspar cuma punya 24 jam untuk hidup, 24 jam untuk mencari kebenaran soal Kirana. Gaspar harus segera menyimpulkan dan menyerang targetnya. Supaya bisa mendapat pembalasan dan closure sebelum dia mati.

review 24 jam bersama gaspar
Gaspar, jantung kamu di mana?  *insert meme Bart Simpson* Di kanan… Yeaayy!!!

 

Gak banyak film Indonesia yang membahas tentang detektif, dan lebih sedikit lagi film kita yang mengangkat setting distopia negara kita. Makanya menit-menit awal film ini begitu menarik. Kamera 24 Jam Bersama Gaspar memotret fantasi itu dengan kontras antara kecanggihan dan kebobrokan yang kentara. Suasana daerah slum-nya udah kayak dalam game-game seperti Final Fantasy VII. Orang berantem di mana-mana, sementara aktivitas komunal tampak patuh dengan aturan seperti penggunaan gawai yang seperti merecord semua. Feelnya strange, kayak jauh tapi juga terasa dekat secara bersamaan. Tapi maksud dari pembangunan dunia distopia seperti itu tidak pernah benar-benar kita tahu, karena seiring durasi berjalan, film seperti melupakan settingnya. 24 Jam Bersama Gaspar actually akan berubah menjadi aksi heist-gone-wrong, dan lingkungan yang kita lihat jadi kayak daerah jelata, ‘sudut kota Jakarta itu keras, Bung’ seperti yang biasa-biasa saja. Film tidak lanjut menggali bangunan dunia reka uniknya itu, misalnya rule apa yang berkembang di masyarakat di jaman itu, apa yang beda dari jaman cerita itu, ataupun kenapa di masa depan yang keras itu orang-orangnya pada kembali memakai bahasa baku.

Sebenarnya soal bahasa baku ini buatku tidak masalah. Toh baik itu Reza Rahadian, Laura Basuki, ataupun Shenina Cinamon terdengar tidak demikian canggung dalam membawakannya. Bahasa baku ini juga jadi kontras yang menarik di dunia mereka yang penuh kriminal dan hitam. Like, hidup susah seperti itu, terus digencet ekonomi sampai pada bunuh diri dan ada yang jual anak, tapi bahasa mereka masih terjaga. Baku. Terdengar di telinga kita yang sehariannya pakai bahasa nyampur aduk dan ngasal, jadinya kayak ‘sopan’. At least, mereka kayak masih menjaga emosi. Kesan yang timbul dari kontras bahasa dan situasi itu jadi seperti mereka ini orang-orang yang dingin sekali. Mungkin mereka dingin karena sudah biasa hidup makan hati tergencet situasi seperti itu. Bahasa ini bisa jadi much deeper ketimbang persoalan pilihan biar beda, tapi ya itu tadi, kita hanya bisa menduga karena film seperti tidak peduli-peduli amat sama bangunan dunia distopianya tersebut. They just did it in the first minutes, dan kemudian ya jadi malah membahas persoalan simbolik lain, yaitu kotak hitam penuh misteri yang dimiliki ‘tersangka utama’.

Alih-alih melanjutkan world building sebagai panggung tempat karakternya harus beraksi, mengungkap pencarian seumur hidupnya, film ini lebih tertarik mengobrolkan backstory. Lewat flashback-flashback masa kecil. Intensinya sebenarnya cukup jelas. Film pun menggunakan flashback itu untuk mengontraskan antara Gaspar yang masih kecil dulu, lebih riang karena punya Kirana, dengan Gaspar yang sekarang – bayangkan Harrison Ford di Blade Runner, atau Ryan Gosling di Blade Runner 2049, tapi lebih volatile dan desperate. Suasana visualnya pun jadi pembanding yang diniatkan untuk menguatkan perkembangan karakter dan dunia. Hanya saja film melakukan bolak-balik ini dengan sangat sering, padahal poin dan tujuannya sudah terlandaskan. Basically paruh pertama film akan sering banget berpindah-pindah ini, dan ini memperparah tempo film yang sedari awal memang sudah mentok banget antara arahan slow burn yang biasa Yosep lakukan dengan konsep mendesak dari waktu 24 jam tadi.

Biasanya waktu yang mendesak itu membuat stake cerita semakin dramatis. Misalnya, karakter yang cuma punya 3 jam untuk mengejar pacar yang mau pindah ke luar negeri, atau karakter harus keluar dari dunia gaib sebelum portal menutup di pagi hari. Himpitan waktu memacu karakter untuk segera beraksi, mengambil resiko, membuat pilihan. Ketegangan datang dari melihat mereka berjuang hingga detik terakhir tapi seolah mereka bakal gagal. Pada Gaspar, kejaran waktu yang ditekankan oleh film bahkan hingga lewat visual angka pengingat seolah detik bom waktu, tidak terasa seperti dibarengi oleh urgensi, karena cerita seringnya bolak-balik menelisik Gaspar berkontemplasi dengan kehilangannya akan Kirana (yang sebenarnya ini juga jadi cara film melontar eksposisi) Dan juga stake kurang terasa karena Gaspar sebenarnya sudah siap untuk mati. Jantung di kanan ternyata cuma alasan mudah membuat Gaspar harus mati, karena gak banyak dan mendesak efek rintangannya pada saat adegan aksi. Pria ini sudah demikian bijak, dia sudah punya semua jawaban, dia hapal betul gimana dunianya bekerja, dia telah memahami persoalan rakyat kecil seperti mereka – orang baik yang terpaksa berbuat nekat demi mewujudkan harapan mereka akan hidup lebih baik. Journey Gaspar terasa tidak memerlukan gencetan. Karena inti dari inner journey-nya itu adalah dia butuh untuk percaya jawaban yang ia cari ada di dalam kotak, meskipun sebenarnya kotak itu bisa jadi bahkan bukan sesuatu yang spesial. Karena harapan terhadap ada kotak itulah yang mendorongnya untuk terus. Dan karena film membuat Gaspar telah berdamai dengan pemahamannya tersebut, dan sudah berdamai dengan kematian yang pasti akan datang, maka perkara dia berhasil atau tidak, secepat apa dia menemukan kotak itu,  tidak terasa benar-benar jadi soal.

Jantung hatinya-lah yang dia gak tahu ada di mana

 

Dulu ada lagu Zamrud yang liriknya mlesetin makna pepatah berakit ke hulu berenang ke tepian itu menjadi  “Bersakit dahulu, senang pun tak datang, malah mati kemudian” Ini actually selaras dengan gimana film ini memandang nasib rakyat kecil seperti Gaspar dan teman-teman seperjuangannya di dunia distopia mereka. Mereka cuma bisa terus berakit dan berenang, karena yang mereka punya cuma harapan akan ada senang kemudian. Ketika harapan mereka itu menjadi semakin desperate, maka mereka akan berakit dan berenang dengan menghalalkan segala cara asal nanti bisa sampai ke tepian, entah di mana letaknya. Di sinilah ketika moral itu menjadi abu-abu. Orang baik akan melakukan hal jahat, ketika mereka jadi begitu desperate berharap ada imbalan yang pantas mereka dapatkan setelah perjuangan selama ini.

 

Supaya gak terlalu berat dan serius, film ini pun melunakkan tensi. Kayak dari karakternya Dewi Irawan yang memang sepertinya diniatkan sebagai comedic relief dengan tone yang tetap sesuai ama vibe film. Atau juga saat heist kecil-kecilan mereka ke toko emas. Ya, Gaspar tidak berjuang sendirian, Film memasuki bagian aksi sebagai babak final. Yang dijamin bisa bikin penonton yang mungkin tadi cukup lelah menjadi melek. Walau mereka terkadang dipotret dalam shot yang menarik, sebenarnya geng Gaspar ini pun kurang maksimal dikembangkan. Kita paham mereka direkrut atau bergabung karena ‘musuh’ yang sama, cause yang sama, tapi hubungannya dengan Gaspar terasa kosong. Like, kalo di game RPG kita paham karakter-karakter yang bergabung jadi party kita itu selain punya masalah personal dengan musuh, mereka juga terdevelop menjadi punya ikatan personal dengan karakter utama, sehingga masalah personal yang masing-masing tadi jadi masalah bersama. Gaspar di film ini terasa berjarak dengan mereka. Yang beneran punya kepedulian terhadap journey Gaspar cuma Kik, yang diperankan Laura Basuki. Tapi itupun kehadiran karakternya aneh, like, kita awalnya udah percaya Gaspar adalah anak kecil kesepian, punya teman Kirana sehingga tidak sendiri lagi, lalu Kirana hilang dan ini jadi motivasi dia sampai gede. Tapi ternyata diungkap Gaspar teman masa kecilnya bukan cuma Kirana. Ada Kik. Aku gak tau kenapa film kayak sengaja gak langsung menyebut ada Kik di awal. Meski memang masih sesuai tema – bahwa mereka ikut Gaspar cukup karena harapan bisa katakanlah dapat balas dendam dan duit – tapi ini membuat kita susah peduli sama mereka. Mereka juga jadi berjarak dengan kita.

 




Film detektif yang pada akhirnya tidak terasa seperti menonton cerita detektif. Film distopia yang pada akhirnya tidak terasa seperti sebuah bangunan dunia reka yang utuh. Kalo bobroknya sih, dapet banget. Maka menonton film ini terasa seperti melihat puing-puing reruntuhan masyarakat sosial, yang mungkin tidak lama lagi bakal kejadian. Ketika orang-orang tidak punya motivasi selain berpegang pada harapan – yang bisa saja kosong – namun tetap secara desperate mereka percaya. Also, puing-puing karena film ini terasa seperti pecahan konsep-konsep yang tidak berjalan saling menyokong. Cerita butuh untuk karakternya ‘melambat’ tapi jebakan waktu membuat seolah ini adalah aksi yang harus terus bergulir. Beberapa orang mungkin menemukan keindahan pada puing-puing, tapi bagi beberapanya lagi, puing-puing bisa tampak tak lebih berharga dari onggokan batu di pinggir jalan. Semua itu mungkin tergantung dari jantung kalian ada di mana.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 24 JAM BERSAMA GASPAR.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian, di manakah jantung Gaspar?

Silakan share… ahaha bercanda ding.. Menurut kalian apakah menurut film ini berarti tidak ada baik dan jahat, melainkan hanya siapa yang duluan merasa desperate saja? Silakan share di komen yaa

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



TIGER STRIPES Review

 

“Tigers don’t change their stripes”

 

 

“Aku jugak mau rotiii!” sekali waktu kecil dulu itu aku nimbrung dengan antusias pas mendengar dua tanteku bisik-bisik bilang nitip mau beli roti. Tapi jawaban mereka aneh. Mereka cuma berpandangan, lalu bilang itu roti untuk orang dewasa. Baru bertahun-tahun kemudianlah aku ngerti roti apa yang sebenarnya dimaksud. Pernah juga waktu SMP, ada teman sekelasku yang perempuan menangis lalu berlari pulang karena diledekin anak-anak yang lain, “Bendera jepang, bendera jepang!” Begitulah entah kenapa di lingkungan kita perihal menstruasi perempuan dianggap sebagai hal yang entah itu seperti Voldemort – tidak boleh disebutkan – atau juga hal yang seperti memalukan. Aku juga tidak banyak bertanya, karena ya itu tadi, urusan orang dewasa dan bukan urusanku yang laki-laki. Ternyata di negeri tetangga juga sama. Mungkin karena lingkungan kita juga masih serupa. Film Tiger Stripes karya Amanda Nell Eu menggali bahwa ketabuan soal hal sepenting itu, ternyata justru berdampak enggak sehat bagi anak perempuan. Karena jangankan anak laki-laki, anak perempuan juga gak tau apa yang terjadi pada diri mereka, dan mereka hanya tahu itu kotor. Tambahkan pula kisah tentang jati diri ke dalamnya, jadilah kisah anak usia 11 tahun ini jadi seperti Turning Red (2022) versi horor!

Di sekolah anak perempuan itu, Zaffan memang cukup dikenal sebagai anak yang badung. Mengunci toilet supaya enggak ada masuk sehingga dia bersama dua temannya bisa puas berseloroh merekam video joget-joget, ataupun bikin corat coret doodle seronok di buku tulisnya, adalah keseharian yang kita lihat Zaffan lakukan. Jilbab seragamnya tidak mampu membuat Zaffan stop mengekspresikan diri, dan seringkali Zaffan kena hukuman karenanya. Baik itu di sekolah maupun di rumah. Dalam level sepermainannya pun, gak sedikit teman Zaffan yang tidak menyukai sikap Zaffan yang ‘liar’. Terlebih ketika anak itu (sepertinya) jadi yang pertama kedatangan bulan di antara mereka. Dengan teman-teman yang menjauhi, dengan lingkungan yang tidak pernah membahas itu melainkan hanya menyebut larangan-larangan yang harus ia patuhi, Zaffan jadi tidak tahu harus mengadu ke mana. Dan mulailah horor itu. Zaffan melihat ada orang di atas pohon. Zaffan merasa tubuhnya berubah. Keluarga dan orang sekitarnya menyaksikan sendiri gimana anak itu berubah menjadi siluman harimau.

review tiger stripes
Aing maung!!!

 

Alih-alih panda merah yang cute, Zaffan berubah menjadi manusia setengah harimau dengan mata menyala ungu, dan dia gak segan untuk menyantap hewan-hewan kecil. Proses transformasinya juga gak ada komikalnya sama sekali. Zaffan mendapati tubuhnya memar-memar, rambutnya rontok, kukunya copot-copot. Ada bulu kasar yang tumbuh, dia cabut, aduh sakit sekali! Transformasi itu digambarkan oleh film lewat image-image dan tone ala body horor. Like, bener-bener disturbing. Cara film ini memvisualkan itu enggak kayak ketika horor anak-anak seperti Goosebumps yang jatohnya lebih ke over the top dan cheesy. Kengerian Zaffan akan tubuhnya itu terasa kuat, dan ini tuh sebenarnya adalah pilihan film, buat menekankan gagasannya. Apa itu gagasannya? Well, transformasi Zaffan ini dipicu oleh satu hal.  Malam itu Zaffan terbangun dan mendapati kasurnya ada noda darah. Kita tidak melihat dia yang bingung dan takut itu dikasih penjelasan apapun. Ibunya yang datang menolong hanya bilang “Kau kotor sekarang.” Jadi kebayang dong seperti apa yang Zaffan rasakan. Dia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada tubuhnya, yang ia dengar tentang itu cuma rumor mengerikan, dan betapa itu adalah penanda bahwa dia jorok – anak perempuan gak boleh ibadah selama dapet – membuat dia percaya bahwa dirinya, tubuhnya, berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.

Perlakuan mentabukan menstruasi, seolah hal itu lebih kotor daripada seharusnya dijadikan pemantik horor di film ini. Menstruasi adalah fase natural yang dialami perempuan. Memang, pengetahuan dari ajaran agama menerangkan soal orang yang dapet itu berarti dalam keadaan tidak suci. Tapi somehow pada masyarakat, ‘tidak suci’ itu berkembang menjadi selayaknya hal yang benar-benar menjijikkan. Kita mendengar teman dekat Zaffan – yang memang sedari awal punya bibit-bibit jealousy kepadanya – openly mengungkapkan rasa disgust dekat-dekat sama Zaffan yang lagi dapet. Bau-lah. Jijik-lah. Sikap teman-teman sepantarannya itu menunjukkan bahwa bukan hanya Zaffan, melainkan tidak satupun dari anak perempuan di sana yang benar-benar mengerti fase yang bakal mereka lewati. Padahal mereka ini tumbuh dan dididik di lingkungan agamis, dan strive untuk pendidikan yang maju. Jadi film sebenarnya sedang menggugat lingkungan tempat Zaffan tinggal. Lingkungan, yang malangnya, relate dengan lingkungan kita. Dan kemudian memang pada lingkungannya itulah Tiger Stripes memusatkan penggalian.

Suasana kampung melayu dihidupkan, dan dijadikan kontras dengan pribadi Zaffan. Inilah mengapa tadi diset bahwa Zaffan tampak lebih badung dibandingkan teman-temannya. Perspektif Zaffan, teman-teman Zaffan, guru dan orang tua, dan tak ketinggalan relasi kuasa umur dan gender mulai dicuatkan oleh film. Sehingga terjadi juga pergeseran tone dan elemen horornya. Seiring Zaffan semakin dijauhi, seiring dia mulai menerima dan mengembrace yang terjadi kepadanya (ada sedikit juga mengingatkan kepada protagonis di The Animal Kingdom yang perlahan menjadi serigala) tentu dia jadi tidak takut lagi kepada dirinya. Yang semakin takut justru adalah orang-orang di sekitarnya. Horor Tiger Stripes memudar menjadi penyadaran gelap dan dramatis buat kita, saat kita menyaksikan Zaffan menjadi ‘monster’ di mata lingkungannya. Mata-mata itu memandangnya takut, sementara kita dibuat melihat siapa sebenarnya Zaffan, si ranking tiga dan kadet terbaik di sekolah. Tapi bagi orang kampungnya, Zaffan adalah siluman harimau liar, berbahaya dan penuh dosa, anak perempuan berikutnya yang bakal hilang dari desa mereka. Adegan paling heartbreaking film ini adalah ketika Zaffan dirukiyah – disaksikan satu desa – oleh Ustadz yang memperlakukan exorcism ini sebagai entertainment show yang dia siarkan live lewat hape. Semacam perbandingan paralel ngerecord joget-joget; hobi Zaffan. Film juga menurutku bijak sekali membiarkan si Ustadz itu ambigu, apakah dia beneran bisa ngusir atau cuma ‘tukang-obat’, kita dibuat tak pernah persis tahu.

Sama seperti kiasan ‘keliatan belangnya’. Konotasi tersebut memang terasa negatif, karena bermakna seseorang terbongkar kelakuan aslinya. Tapinya lagi, emangnya kenapa dengan kelakuan aslinya tersebut. Memangnya kenapa jika seseorang akhirnya berani jujur dan memperlihatkan siapa dia sebenarnya. Kan tidak mesti semua belang itu pasti buruk dan merugikan orang lain. Yang kita lihat pada Zaffan juga demikian, kita mungkin setuju tidak semua perbuatannya pantas, tapi anak sekecil – apalagi sepotensial itu; dalam urusan otak dan kreasi – harusnya dibimbing. Tapi bahkan soal alamiah dan paling personal dari dirinya sebagai perempuan pun, tidak bisa sepenuhnya dia dapatkan.

“Ooooh crazy, but it feels so right”

 

Berbeda dengan Turning Red yang langsung melandaskan dunianya fantasi, bahwa perubahan Meilin menjadi panda merah itu bukan fenomena ganjil melainkan kekuatan turun temurun yang dirahasiakan darinya; bahwa berubah menjadi panda merah masuk ke dalam kotak ‘possible’ di dalam dunia cerita, Tiger Stripes membiarkan dunianya terbangun surealis. Dibilang normal, jelas enggak. Dibilang beneran gaib, ya kok sepertinya kejadiannya kayak berbeda dan sering tiba-tiba Zaffan dan semuanya seperti normal lagi. Arahan membawa ke ranah surealis, karena dengan begitu, perspektif yang banyak tadi mungkin untuk dilakukan. Supaya shift dari body horor yang lekat pada persoalan Zaffan memandang dirinya ke drama makhluk siluman yang mengenaskan ketika film lebih banyak menampilkan bagaimana Zaffan terlihat oleh mata penduduk, bisa terbungkus tanpa benar-benar mengubah perspektif karakter utama.  Sehingga pengalaman nonton film ini bagi kita terasa seperti sebuah mimpi yang begitu liar. Enggak semua orang bakal suka, tho. Elemen horor film ini berpotensi dianggap ngawang-ngawang, kejadiannya bisa tampak seperti tak konsisten dan gak jelas; film ini sendirinya bisa jadi kayak ‘belang-belang’, dan mudah bagi penonton untuk kehilangan poin. Membuat mereka mengharapkan penjelasan yang tentu saja tak akan pernah ada. Karena yang diincar film adalah mempertanyakan, menggugat, keadaan.

Tapi tentu saja itu merupakan resiko-kreatif yang diambil oleh film. Buatku, itu membuat film ini terasa lumayan fresh. Seperti ngasih variasi ke dalam bentuk-bentuk cerita coming of age horor atau fantasi yang sudah ada sebelumnya. Perspektif dan lingkungannya juga membuat film ini unik. Meskipun film ini seperti punya lebih banyak, tapi yang disuguhkan baru beberapa. Kayak sekolahnya Zaffan. Dari dialog-dialog dan keadaan, film ini seperti menyentil soal sosial unik negara mereka berkaitan dengan stereotipe kelas penduduk/etnis, tapi kita tidak benar-benar melihatnya. Zaffan disebut ranking tiga, dengan juara satu dan duanya kita dengar dari nama-namanya adalah murid dari etnis Cina dan etnis India (yang membuat Zaffan practically etnis Melayu terpintar di sekolah), namun di lingkungan sekolah itu seperti ekslusif menampilkan etnis Zaffan. Mungkin ada konteks sosial lain bahwa mereka tidak benar-benar satu pergaulan, tapi menurutku since film ingin menggugat lingkungan sosial yang lebih tertutup, akan bisa jadi warna atau sudut pandang tambahan gimana teman sekolah Zaffan yang lain memandang dirinya setelah jadi siluman. At least, narasi kurasa  tidak akan dirugikan oleh pembanding tambahan.

 




Kalo Farah iri sama Zaffan, aku iri sama Malaysia karena berani membuat film ini. Karena ini tuh bener tipe film yang ingin kita perlihatkan kepada orang luar. Kita ingin lihatkan gimana di daerah kita punya perspektif dan lingkungan tersendiri sehingga cerita coming-of-age yang formatnya familiar pun bisa jadi unik. Untuk kasus film ini jadi literal misteri dan horor mengerikan. Dengan strong narrative dan arahan yang bertaring, film ini menerobos belukar conventional, dia ingin menggugat lingkungan tempatnya tumbuh. Lingkungan yang bikin ‘susah’ bagi anak perempuan untuk tumbuh menjadi diri sendiri, karena soal ‘dapet’ aja mereka tahunya cuma itu kotor. Dan bicara soal karakter anaknya, film ini punya penampilan akting yang bukan sekadar template akting kesurupan, mereka terasa natural seperti anak-anak umumnya tapi karena tuntutan arahan untuk menghasilkan kesan surealis, playfulness dan keingintahuan mereka yang raw, dapat dengan cepat mereka kondisikan sebagai something yang jadi lebih dark dan dramatis. Bayangkan cerita dengan karakter anak-anak, tapi vibenya udah surealis dan sedisturbing body horror. In other words, selain arahan yang bertaring, film ini juga punya akting yang mengaum.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TIGER STRIPES.

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian kenapa haid itu berkembang menjadi seolah perkara yang tabu di masyarakat kita dan, apparently juga di Malaysia?

Silakan share di komen yaa

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



EXHUMA Review

 

“..digging up the past has two sides: The pro is that you remember things you had forgotten about. Unfortunately, the con is the exact same thing. “

 

 

Perdukunan memang bukan cuma milik Indonesia. Tiap-tiap daerah punya kepercayaan yang beragam sehingga upacara dan praktik ritual spiritualnya pun berbeda-beda. Doa atau mantranya berbeda, ada yang pakai tari-tarian, ada yang pakai acara kesurupan. Selalu menarik membandingkan – melihat perbedaan dan mungkin ada sedikit kesamaan – antara ritual kepercayaan di tempat lain dengan di tempat kita. Apalagi Exhuma karya Jae-hyun Jang dari Korea Selatan ini tidak hanya bicara tentang klenik pengusiran setan. Melainkan, menjadikan elemen supernatural itu sebagai titik awal penggalian historis kebangsaan mereka. Jadi bukan hanya soal ritual perdukunan yang bisa kita dibandingkan di film horor ini. Setiap daerah, setiap bangsa, punya luka – punya koreng yang jika bisa jangan sampai tergaruk kembali – yang berbeda-beda.

Pasangan dukun pengusir hantu harus bekerja sama dengan seorang pengurus jenazah dan ahli geomancer (dari film ini aku baru tahu kalo geomancer itu artinya ahli feng-shui) saat mereka menerima kerjaan dari keluarga ‘old money’ KorSel yang tinggal di Amerika. Kerjaan bukan sembarang kerjaan. Sumber masalah keluarga yang dihantui itu bisa jadi adalah si kakek buyut yang dulu dimakamkan di sebuah bukit. Jadi, empat karakter sentral kita bermaksud melakukan penyucian dengan menggali makam tersebut, dan memindahkan jenazah. Namun upacara mereka yang awalnya tampak sukses itu membawa mereka kepada masalah yang bahkan lebih misterius dan lebih membahayakan daripada sekadar arwah penasaran.

review exhuma
Kalo film punya elemen, maka elemen film ini adalah ‘tanah’

 

Mengambil latar dunia modern, Exhuma memang tampak mengincar penekanan kepada perspektif masa sekarang diajak untuk looking back, atau katakanlah, menggali masa lalu. Film ini paham gimana fascinating-nya bagi kita untuk melihat lebih dekat tradisi ritual-ritual. Benturan dari keduanya itu digambarkan pula lewat desain karakter. Dukun yang tidak digambarkan kuno, melainkan sebagai anak muda yang modis. Lihat saja Hwarim dan Bong-Gil, mereka bisa digolongkan ke dalam anak muda keren, Mereka dibikin punya style khas tersendiri, semua adegan ritual yang mereka lakukan are always delight to see. Tertampil intense dan misterius, tapi juga tetap terasa anggun. Majestic. Begitulah mereka terpotret alih-alih tergambar sebagai dukun tradisional yang dituakan. Jikapun ada karakter tua, seperti Kim Sang Deok, si bapak ahli feng-shui, yang memang jadi karakter yang paling banyak tahu dan pemahaman terhadap apa yang sedang mereka tangani dan yang harus mereka lakukan, film memastikan karakter ini tetap unik dan tidak pernah menjadi hanya sekadar eksposisi.  Sudut pandang dan prinsipnya terus digali. Dia diberikan kebiasaan yang membuatnya mencuat dan memorable. Film berhasil membuat empat karakter sentral tidak stereotipikal ataupun tidak terlalu archetype. Karena bahkan anggota mereka yang fungsinya untuk peringan suasana pun, diberikan aspek menarik – bahkan ada adegan yang bermain-main dengan ekspektasi kita terhadap karakternya.

Permulaan yang sudah demikian baik, kita disuguhi arahan dan penulisan yang benar-benar tahu apa yang mau diutarakan, yang benar-benar punya ‘something’. Lalu datanglah resiko yang mereka putuskan untuk ambil. Exhuma, dengan cerita orang pinter yang mengusir setan; memecahkan misteri supernatural, melawan setan, dan saves the day, basically bisa dibilang masuk ke dalam format cerita kemenangan pahlawan-lah. Hollywood biasanya cerita-cerita kayak gini cetakan strukturnya adalah bagian mid-point adalah bagian ‘pertempuran pertama’; pada saat ini biasanya akan ada semacam kekalahan atau ketidakmampuan yang disadari oleh protagonis, sehingga nanti begitu masuk ke sekuen berikutnya – yang esensinya adalah sekuen downtime untuk regroup – mereka akan bersiap untuk masuk ke bagian ‘taktik kedua’. Exhuma tidak berjalan dengan format tersebut. Sendirinya membagi cerita ke dalam chapter-chapter, namun secara keseluruhan struktur kita dapat melihat mid-point di film ini adalah keberhasilan, dan sekuen regroup di sini adalah momen karakter merayakan kemenangan. ‘Taktik kedua’ atau ‘cara baru’ di film ini literally ada kasus lanjutan saat empat protagonis harus menyelesaikan masalah dengan setan yang sebenarnya. Saat mereka menyadari ada peti mati lain di dalam makam yang sudah digali tadi. Peti besar berbalut logam duri, yang dikubur vertikal. Hampir seperti, kalo di struktur Hollywood, ini adalah bagian false resolution di menjelang tamat. But it’s actually bahasan utuh. Kalo di game, katakanlah, Exhuma terasa seperti jadi dua bagian. Separuh awal seperti misi dalam mode easy, dan separuh terakhir seperti misi mode hard.

Shiftnya itu kerasa sekali. Karena pada dua bagian itu, film membahas ‘setan masa lalu’ juga dengan treatment yang berbeda. Di separuh awal kasus, mereka berhadapan dengan ruh kakek buyut keluarga klien yang terbebas ketika peti matinya yang hendak dipindahkan dibuka oleh orang yang tak bertanggungjawab. Ruh jahat atau hantu si kakek itu digambarkan oleh film tidak exactly secara fisik. Melainkan dia muncul sebagai sosok out-of-focus, terlihat selalu secara tidak langsung – paling sering lewat pantulan dari jendela atau semacamnya. Paling fisik dari hantu ini ya ketika dia masuk ke tubuh orang, membuat mereka melakukan hal-hal yang gak bisa dilakukan oleh manusia normal. Untuk masuk ke ruangan saja, hantu itu perlu untuk membujuk manusia untuk membukakan jendela. Sementara di separuh akhir, sosok setan yang harus dikalahkan literally muncul kayak creature atau monster (film ini menyebutnya siluman). Sosok prajurit zirah Jepang yang tinggi besar, yang bisa berubah menjadi bola api besar. Ada juga creature kecil berupa ular siluman, badannya ular, kepalanya amit-amit.

Abis nonton ini aku jadi mengkhayalkan death match antara Hakushi WWE lawan Bankai-nya Captain Komamura

 

Exhuma kaya oleh konteks dan subteks. Perbedaan treatment horor, ‘misi’ karakter, hingga tone keseluruhan pada dua bagian tersebut sejatinya merupakan perlambangan. Tindakan menggali kubur untuk proses penyucian itu sendiri pemaknaannya adalah menggali masa lalu, menggali sejarah di tanah mereka, yang berkaitan dengan proses healing. Ini juga terestablish dari dialog-dialog soal plotting tanah yang terus direcycle. Ketika para karakter menggali lebih lanjut, itu adalah perlambangan film juga menggali ke akar persoalan. Tentang masyarakat sosial modern mereka mengingat kembali trauma historis. Bagi kita yang bukan orang Korea atau juga mungkin tidak banyak tahu soal negara itu, jelas film ini bisa jadi pelajaran ekstra. Bahwa Korea Selatan dulu terlibat seteru dengan Jepang. Persoalan dua negara ini pun sudah sedari awal dilandaskan oleh film ketika Hwarim disangka orang Jepang oleh pramugari. Adegan yang ngeset Hwarim bisa berbahasa Jepang itu sekaligus juga menanamkan bahwa tentang dua negara inilah sebenarnya bahasan akan mengarah.

Masa lalu itu keras kepala. Kita kubur pun, masa lalu akan tetap berada di dalam sana. Menunggu orang yang tepat datang menggalinya. Dan thing about menggali masa lalu adalah, punya sisi baik dan sisi buruk. Sisi baiknya kita bisa mengingat kembali sejarah. Sisi buruknya, well,  kita jadi teringat kembali sejarah. Yang pasti ada alasannya untuk ingin dilupakan in the first place. Film ini menunjukkan, dalam balutan wacana tanah yang makin sekarang semakin dijual-jual begitu saja kepada orang kaya (sultan brengsek), bahwa kini adalah urgen untuk mengingat kembali luka itu demi persatuan mereka.

 

Melihat lewat lensa desainnya tersebut, kita jadi bisa sedikit meraba apa yang sebenarnya diincar dari film membuat plot seperti terbagi dua (dalam konteks tanah, aku jadi membayangkan sesar normal saat memikirkan alur film ini) Pertama, film ingin audiens negaranya untuk bercermin. Hantu kakek yang seringkali berupa pantulan/cerminan seperti perlambangan bahwa hantu masa lalu itu adalah masing-masing mereka secara kolektif. Like, film ingin bilang bahwa yang terkubur di tanah itu adalah milik mereka bersama, baik maupun buruknya. Their land of South Korea. Dan tanah tersebut sekarang dihantui, seperti dulu pernah ‘dihantui’ oleh momok bernama Jepang. Perayaan individu di mid point film tadi adalah pengingat mereka harus menggali lebih dalam, karena momok itu bisa saja kembali. Jadi ancaman yang nyata. Seperti siluman prajurit Jepang kembali menapak di hutan mereka. Perjuangan fisik empat karakter sentral di akhir, mencari pasak, ngasih sesajen ikan, pake kerja sama dengan ilmu dukun segala cabang, demi mengalahkan si siluman adalah hal yang harus mereka lakukan untuk menjaga tanah atau negara mereka. Bahwa mereka harus bekerja sama dan menjadi layaknya keluarga, seperti gimana empat karakter sentral ended up di akhir cerita.

Walau bergerak dengan mantap terukur di dalam desain dan konteksnya, resiko tetaplah sebuah resiko. Pembagian dua bentuk horor tersebut toh terasa sangat drastis, dan pergeseran tone tersebut dapat terasa mengganggu bagi penonton. Setidaknya, membuat penonton jadi membandingkan. Bagian mana yang lebih asik, atau bagian mana yang lebih ‘bosan.’ Film sebenarnya melakukan pengembangan dengan sangat baik. Well-designed. Kita melihat karakter sentral mencapai puncak vulnerabilitas masing-masing saat melawan si siluman di paruh akhir, dramanya enakan di paruh akhir, hanya saja paruh ini akan kalah seram ketika penonton membandingkannya dengan paruh awal. Saat film mengerahkan craftnya maksimal untuk membangun adegan-adegan horor. Adegan-adegan yang lebih mudah dicerna dan dirasakan kengeriannya oleh sebagian besar penonton. Sementara bagian melawan siluman terasa lebih bombastis, dan meskipun memang film lebih cenderung bersandar kepada efek praktikal yang juga well-done, dua hal yang sebenarnya tetap saling menyambung akan terasa seperti dua hal yang kontras berbeda oleh penonton.

 

 




Horor jadi terasa so much more ketika ketakutan kita terhadap hantu atau setan dijelmakan dari momok lain yang lebih ‘real’. Film ini mengambil apa yang mungkin sedang dirisaukan oleh si pembuat pada negaranya, hal urgen yang menurut dia penting untuk dibicarakan, dan mengolah itu ke dalam bangunan horor paranormal. Hasilnya lebih kaya. Tujuan untuk menampilkan hiburan dari horor-horor pengusiran setan, tercapai. Bentuk-bentuk lokal dari budayanya tersiar. Sementara gagasannya tadi tertanam kuat membayangi di balik narasi. Arahan dan penulisan film ini kuat, banyak adegan memorable yang hadir di sini, also film ini bergerak dalam desain yang berani mengambil resiko. Ceritanya yang tersusun dari beberapa chapter terasa seperti patah menjadi dua bagian – meskipun sebenarnya dua bagian ini kontinu membentuk gambaran besar yang menunjukkan sebuah development penyadaran.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for EXHUMA.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian topik sosial-politik apa di Indonesia yang belum ada yang garap padahal cocok banget dijadikan cerita horor?

Silakan share di komen yaa

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



PASAR SETAN Review

 

“Do what you must, and pay the price if you’re wrong”

 

 

Harus mencari penampakan beneran, demi menyelamatkan channel vlog. Yup, that’s where we at now in terms of premise cerita sebuah horor hiburan. Namun bahkan goal yang konyol dan stake yang sama sekali tidak bikin kita peduli itu pun tidak benar-benar dijambangin oleh karya debut layar lebar Wisnu Surya Pratama ini, karena ada cerita lain yang membungkusnya. Yakni tentang kepala polisi yang menyelidiki kasus kematian para vlogger tersebut di dalam hutan kaki Gunung Salak. So yea, Pasar Setan actually punya elemen yang membuatnya semacam True Detective: Setan Country. Dan ‘setan’nya as in, “Setan, film apaan nih!?”

Cerita sekelompok vlogger yang nekat mencari Pasar Setan, mitos gaib yang sudah merakyat dishoe-horn ke dalam cerita investigasi polisi yang gak punya bahasan inner juga sebenarnya selain mendebat soal realistis vs. percaya tahayul, dan gak ngapa-ngapain selain nontonin rekaman para vlogger yang ditemukan. Jadi itu jugalah yang kita tonton. Kepala Polisi bernama Rani jengkel karena kasus sekelompok anak muda yang tewas di hutan itu malah ditangani secara gak masuk akal oleh bawahannya. Seorang gadis satu-satunya yang selamat dari kejadian misterius tersebut, si Tamara, malah ditangkap oleh warga lokal. Jadi Rani membawa Tamara ke kantor, merawat sekaligus menginterogasinya. Karena bukti-bukti digital yang ia tonton belum cukup jelas menjawab kenapa teman-teman Tamara yang lain tewas. Tapi kesaksian Tamara – dia adalah host di acara misteri yang di ambang kena cancel lantaran ketahuan bikin konten palsu, dan itulah yang menyebabkan Tamara and the genk nekat mencari Pasar Setan dan beneran ‘diserang’ hantu-hantu yang dipimpin oleh Nyi Salimah – ternyata berbeda dengan video yang dia amati. Rani harus mengambil keputusan terkait Tamara, karena warga yang percaya gaib mulai mendatangi kantor dan meminta masalah Tamara untuk diselesaikan oleh ‘hukum’ mereka.

Ternyata ada karakter kepala polisi yang lebih annoying dan less-charismatic daripada karakter Jodie Foster di True Detective

 

Kita akan berpindah-pindah dari kejadian yang dialami menurut sudut pandang Tamara, ke ‘aksi’ marah-marah si Rani, lalu ke beberapa video yang ditonton Rani. Dan selain lensa grainy yang lebih natural dan rasio vertikal – yang aku gak tahu apakah itu YouTube short/Instastory/TikTok karena ku memang kurang familiar sama format itu – film tidak pernah benar-benar memberikan treatment yang berbeda terhadap perpindahan tersebut. Kita gak yakin, mana yang beneran terjadi, mana yang cuma cerita Tamara, mana yang ditonton oleh Rani. Mungkin ini taktik sutradara untuk melingkupi ceritanya dengan aura misteri, supaya kita juga terlibat dalam investigasi si Rani. Tapi jika dilihat dari gimana bentukan cerita, clearly yang diincar naskah adalah dramatic irony dari kita tahu Rani ngotot mengusahakan hal yang normally benar, tapi untuk kasus Tamara ini, dia salah. Sehingga arahan film ini terasa missing the point.

Sepanjang menonton, ada sense bahwa film ini sebenarnya mengincar gimmick found footage, ataupun penceritaan dengan pov kamera kayak Keramat. Ada beberapa dialog yang membuild up soal kamera yang dipegang karakter harus tetap merekam semua kejadian, bahkan di kantor pun ada seorang polisi yang diperintah oleh Rani untuk terus standby merekam proses investigasi. Namun bahkan gimmick pov ini juga gak pernah benar-benar dimekarkan. Karena sebagian besar film masih berlangsung seperti biasa aja. Dengan sudut pandang seperti film-film normal. At this point, aku lantas ngerasa sutradara just didn’t care. Dia kayak setengah-setengah dalam mewujudkan visinya. Arahan yang paling serius dilakukan cuma untuk jumpscare. Di aspek ini film cukup lumayan. Ngebuild up adegan penampakan dengan suasana gelap-terang. Dengan suara-suara hutan, ataupun suara-suara hantu, suasana horor di pasar mistis itu kerasa. Lalu ketika Nyi Salimah muncul – serta hantu-hantu lain dengan desain cukup unik dan beragam – kita bakal langsung melek oleh kaget-kagetan. Yang bikin aku takjub cuma satu, tau-tau di pasar tradisional gaib itu ada pisau guillotine hahaha

Biasanya memang trik jumpscare ini bare minimum-lah buat horor lokal. Biasanya masih bisa berhasil bikin penonton puas dan melupakan naskah yang dangkal. Masalahnya, Pasar Setan narasinya juga kacau. Urutan kejadian yang tampil di film ini enggak selurus, enggak sesatu perspektif Rani seperti yang tadi kutulis di sinopsis. Film ini actually dibuka dari sudut pandang Tamara dan grupnya yang sedang berembuk mau bikin konten apalagi setelah mereka dihujat karena ketahuan pake hantu palsu. Seolah ini adalah perjalanan Tamara untuk redeem herself, seolah ini perjuangan grup itu untuk menjadi mungkin semakin akrab, menyelesaikan masalah internal. Ternyata kan tidak. Grup ini bukan karakter, mereka cuma bagian dari misteri yang harus dipecahkan oleh Rani yang sebenarnya lebih fit sebagai journey karakter utama. Hanya saja Rani ini one-dimensional bukan main. Dia gak punya background seperti halnya karakter utama. Yang punya, ya si Tamara. Tapinya lagi, naskah tidak bercerita sebagai kisah perjuangan dia. See, kacau kan narasinya. Ini kayak dua cerita, lalu digabungkan dengan cara kedua ceritanya dipecah-pecah untuk menghasilkan even more surprises, dan melupakan ground work yang mestinya dikembangkan.

review pasar setan
Kalo memang pengen twist, sekalian aja judulnya Pasar Kaget

 

Jika pengennya jadi cerita Tamara, maka harusnya goal dan stake mereka itu diperdalam lagi. Misalnya, kayak di film Agak Laen (2024), grup karakternya pengen rumah hantu mereka sukses, dan film itu membuild up alasan kenapa rumah hantu itu penting bagi mereka. Personal mereka digali, bahwa mereka adalah orang kecil yang cumak bisa kerja di profesi yang laen seperti itu. Opsi mereka sudah diset up terbatas. Rumah hantu itu jadi satu-satunya taruhan mereka. Begitupun misalnya dengan horor found footage Hell House LLC (2015), yang juga tentang sekelompok anak muda yang ingin rumah hantu mereka sukses. Bahwa kerjaan mereka sebagai kru rumah hantu itu sudah dibangun sebagai hal yang personal dan mereka memang harus stay dan gak boleh gagal di kerjaan itu. Sedangkan di Pasar Setan ini, kerjaan Tamara dan kawan-kawan sebagai konten kreator atau vlogger channel horor itu tidak dilandaskan urgensi dan kepentingan personalnya. Kenapa mereka yang masing-masing masih muda, atraktif, dan sehat itu harus bergantung kepada nama baik channel. Kenapa mereka gak pivot ke konten lain aja. Kenapa solusi yang terpikir oleh mereka adalah nyari ‘hantu beneran’ – ini kan sangat tidak masuk akal, seolah yang dibangun adalah dunia cerita yang hantu itu nyata – kenapa gak dari dulu mereka pake hantu beneran. Di tengah film sebenarnya ada momen ketika masing-masing teman Tamara curhat soal motivasi dan goal mereka, hanya saja di titik itu – oleh karena bangunan cerita yang pindah-pindah aneh tanpa ritme jelas – mereka cuma ngeluh dan berantem gak jelas, sehingga kita pun udah gak lagi bisa mendorong diri untuk peduli kepada mereka. Ataupun merasa bisa mempercayai kata-kata mereka.

Karakter-karakter dalam film ini punya kepercayaan masing-masing yang dengan teguh mereka pegang. Rani yang percaya pada hal logis ingin mengungkap kasus di gunung itu sebagai pembunuhan. Warga desa percaya itu adalah peristiwa gaib. Kameraman Tamara cuma tahu ini adalah soal kerjaan dan dia berusaha nyelesaikan kerjaan.  Bagi Kevin yang penting adalah cuan. Jadi, mereka bertindak mengikuti kepercayaan itu. Dan mereka  bakal membayar jika nanti yang mereka percaya adalah hal yang salah. Dan kadang, juga saat mereka benar. Semua ada price-nya. Kepercayaan itulah ternyata hal yang diperjual-belikan dalam Pasar Setan.

 

Tanpa adanya kedalaman, dan galian yang harus mengalah bangunan cerita dan pada usaha supaya ada twist, maka ketika naskah mencoba untuk mendevelop karakter menjadi tidak satu-dimensi pun, jadinya malah kayak sebuah inkonsistensi pada karakter. Misalnya ketika menjelang akhir, Kevin jadi peduli sama Tamara “Kalo lu ke sana sendirian, lu cari mati namanya”, padahal sebelumnya dia pernah menyuruh Tamara pergi sendirian ke lokasi Pasar, malam-malam, buat ngerekam konten mencari kameraman yang hilang. Perubahan Kevin yang tadinya culas itu tidak terlihat seperti development melainkan lebih kayak naskah tidak konsisten. Karena memang jarang juga ada waktu untuk mereka terdevelop, karena momen kita pindah ke melihat mereka itu oleh bangunan film selalu adalah momen-momen cerita harus ‘naik’ alias momen horor seru. Momen cerita ‘turun’ ditugaskan kepada bagian cerita Rani di kantor polisi.

 




Kayaknya, sejauh ini, dari film-film IDN yang pernah aku tonton dan review, film ini yang paling ‘jauh’. Semua aspeknya terasa, bukan mendua, lebih tepatnya setengah-setengah. Arahannya seperti setengah hati mau jadi film dengan gimmick pov shot, atau kayak found footage. Naskahnya terasa immature, ceritanya setengah hati mau bahas tentang investigasi polisi skeptis, atau mau tentang perjalanan anak muda ke hutan di kaki gunung. Yang by the way, gak pernah terasa perjuangannya karena mereka naik mobil, jalan kaki ke sana sebentar (dengan karakter ngeluhnya minta ampun), dan ketika sampai pun nemuin pasar yang mestinya mitos itu gampang. Dan pasarnya, selain karena suara-suara seram itu, tidak terasa benar identitasnya. Kayak tempat seram aja. Sebagai anak geologi yang dulunya cukup akrab dengan bahasan naik gunung, film ini buatku tidak terasa membuatku jadi bernostalgia ke pengalaman ataupun cerita-cerita tentang pasar itu.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for PASAR SETAN.

 

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian punya pengalaman seram saat naik gunung?

Silakan share ceritanya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



POOR THINGS Review

 

““God’ is whatever is the next obvious step towards wholeness in yourself and your life; ‘Ego’ is whatever within you stops you taking it.””

 

 

Bikin film adalah urusan menciptakan dunia. Ketika bikin karakter amnesia dirasa terlalu kacangan sementara bikin karakter alien sepertinya terlalu pasaran, maka sutradara Yorgos Lanthimos sekalian saja membuat dunia reka yang totally menantang akal sehat, supaya karakternya yang gak punya ingatan dan perjalanan yang ditempuhnya menuju aktualisasi-diri itu dapat terlaksana dengan spesial. Tapi meskipun dunia ceritanya kali ini aneh, dunia tersebut toh masih ada sama-samanya ama dunia kita. Karena di situ juga banyak makhluk-makhluk malang yang hidup di dalamnya. Dan sebagai drama komedi, yang paling lucu dari film ini adalah,  bahwa persepsi kita tentang siapa yang ‘makhluk malang’ – The Poor Things itu – akan berubah. Akan berbeda di akhir cerita.

Pernah dengar paradoks Kapal Theseus? Misalkan Kapal A, satu persatu secara bertahap bagiannya diganti dengan bagian yang baru, apakah kapal tersebut ketika semua bagiannya sudah baru, masih bisa disebut sebagai Kapal A? Lalu lantas jika bagian-bagian lamanya tadi dikumpulkan, dan dibangun kembali menjadi kapal dengan bentuk yang persis sama seperti sebelumnya, apakah hasil kapalnya itu bisa disebut kapal A? Mana yang kapal A sebenarnya di antara dua kapal ini? Paradoks tersebut mengulik soal makna identitas, dan mirip seperti itu jugalah cerita film Poor Things. Protagonis utamanya, yang diperankan dengan lugas dan berani oleh Emma Stone, adalah seorang perempuan yang  fisiknya dikenali oleh beberapa konglomerat sebagai Victoria, tapi dia sendiri tahunya dia bernama Bella Baxter. Gadis yang dibesarkan oleh seorang ilmuwan bernama Godwin, yang ia panggil dengan simply “God”. Dan memang persis seperti God – Tuhan-lah sosok Godwin bagi kehidupan Bella. Karena perempuan berambut hitam panjang itu actually diciptakan Dr. Godwin dari mayat Victoria yang otaknya diganti sama otak bayi dari dalam kandungan Victoria sendiri. Jadi Bella, tanpa maksud merendahkan, adalah freak of nature. Awalnya dia polos kayak anak-anak baru belajar bicara, Godwin-lah yang mengajari dia banyak pengetahuan. Tapi kelamaan, Bella mulai berani memilih jalan hidupnya sendiri. Selama ini gak boleh keluar rumah, dan dijodohkan sama asisten Godwin, Bella minta ijin untuk pergi bertualang melihat dunia luar. Walaupun orang-orang yang dia temui mencoba untuk – in some ways bisa disebut mengekang – Bella percaya dirinya adalah identitas utuh yang baru, yang punya pilihan dan keinginannya sendiri.

review poor things
Mereka yang aneh ini, anehnya, menurutku terasa seperti Kurotsuchi Mayuri dan Nemu versi yang lebih manusiawi

 

Bella hidup di London, dari kostumnya seperti di era Victorian, tapi teknologinya dunia Bella seperti bahkan lebih ‘canggih’ dari dunia kita. Canggih dalam artian absurd haha.. Like, jangan bayangkan ilmuwan Dr. Godwin seperti ilmuwan steril dan terpelajar. Godwin more like a mad scientist. Di rumahnya berkeliaran hewan-hewan ajaib seperti ayam berkepala babi, ataupun angsa berkaki empat. Kalo Godwin bersendawa, yang keluar bukan angin. Tapi gelembung kayak gelembung sabun. Dunia ini tentu saja difungsikan sebagai konteks yang memungkinkan cerita perempuan hasil transplant otak ini dapat bekerja, tanpa kita harus merisaukan perkara etika ataupun kelogisannya. Karena film selalu nomor satu adalah soal konteks. Terms seperti ‘retarded’ yang boleh saja secara moral kita terkesan degrading, akan terasa jadi ‘tak mengapa’ ketika kita sudah dilandaskan betul karakter yang menyebut term tersebut. Perspektif dan karakterisasi film ini mengalir kuat dari gimana tegas dan tanpa sungkannya ‘suara’ para karakter divokalkan. Ilmuwan yang dari luar tampak kurang etis, tapi ternyata punya sisi parenting yang humanis – eventho sisi itu ditempa dari kelamnya perbuatan yang ia terima di masa kecil. Dan Bella, dia dibuat seperti orang yang melihat dunia sebagai orang dewasa tapi dengan pandangan ‘polos’ anak kecil yang melihat dan ngalamin semua hal sebagai untuk pertama kali. Karakter Bella jadi ruang bagi film untuk menelisik sistem sosial yang cenderung patriarki, sehingga film bisa membenturkan banyak nilai feminis yang diharapkan membawa perbaikan dengan sistem yang mengukung. Lihat saja ketika film membuat solusi keuangan Bella di Paris adalah dengan bekerja di rumah bordil.

Dengan melandaskan dunia yang absurd, dan mindset ‘ilmuwan’ sebagai basic dari karakternya, film meminta kita untuk meninggalkan kacamata etika dan purely menyelam ke dalam pikiran Bella yang delevoping concern sesuai dengan yang ia lihat dari sekitar. Untuk experience tersebut, film gak segan mengganti lensa tanpa tedeng aling-aling sepanjang cerita. Kadang gambar yang kita lihat seperti melingkar, hampir kayak fish-eye. Kadang pemandangannya begitu wide. Kadang kita notice kamera ngezoom membuat sekeliling blur. Ini sebenarnya menyesuaikan dengan sense penasaran dan eksplorasi yang sedang dialami oleh Bella ketika dia melihat dunia. Pun, film menggunakan kode warna yang selaras dengan pandangan Bella. Di babak awal film, ketika Bella paling terasa kayak anak polos, yang gak boleh keluar rumah, yang cuma bisa tantrum ketika dilarang, layar film tergambar hitam putih. Tanpa warna. Namun begitu Bella mulai kenal sensasi kewanitaan, begitu dia keluar rumah menemukan segala sesuatu yang baru, begitu dia ngerasain yang namanya ‘furious jumping’, layar yang kita lihat meledak oleh warna. Teknik kamera dan coloring yang digunakan ini selain memvisualkan development karakter Bella, tentu juga bekerja sama efektifnya memperkuat kesan dunia absurd dan komedi pada cerita. Dengan setting dunia yang boleh saja terasa amat aneh, tapi Poor Things could not be any clearer dalam menyampaikan tema soal identitas dan self-actualization dari sudut pandang perempuan.

Menjadi diri sendiri di tengah dunia yang terus-terusan meminta kita untuk menjadi sesuatu yang lain, yang terus-terusan mendorong kita untuk mengikut keseragaman, yang terus-terusan mengingatkan kita untuk tahu diri – tidak melupakan dari mana kita berasal – jelas adalah suatu perjuangan yang berat. Bella Baxter memperlihatkan ini kepada kita. Dirinya  disuruh untuk realistis. Untuk berhenti berharap. Puncaknya, Bella disekap, akal dan nafsunya akan dirampas darinya. But they didn’t stop her.

 

Development Bella kerasa banget. Cara film bercerita pun dibuat ngikut dengan perkembangan itu. Ketika nalar Bella masih ‘bayi’, film ngambil resiko dengan seolah cerita ini dari sudut pandang Max, mahasiswa yang dimintai tolong jadi asisten di rumah mereka oleh Dr. Godwin. Cerita seolah dimiliki oleh Max dan Dr. Godwin, dua orang yang meneliti perilaku Bella. Perlahan, status mereka tersebut tergantikan. Dengan subtil – namun tegas – Bella mulai mengambil alih komando cerita. Dia mulai berani menyuarakan keinginan. Dia mulai berani mengambil aksi. Hingga di akhir babak satu, Bella membuat keputusan otonom. Ikut Mark Ruffalo ke luar negeri. Dari segi akting pun development Bella menguar, tadinya Bella dimainkan oleh Emma benar-benar limited. Ya dari kosa katanya, maupun dari geraknya. Tapi seiring identitasnya bertumbuh, raganya pun terisi dengan semakin matang. Bella using big words, sering mengutip bahasa-bahasa buku yang ia baca, gesturenya semakin percaya diri. Dominasi lelaki di sekitarnya pun, kita rasakan semakin mengendor. Dari sinilah film sebenarnya perlahan ngasih development sarkas yang ultimate. Bahwa yang dimaksud oleh judul sebagai Poor Things ternyata bukan Bella. Ternyata bukan perempuan yang hidupnya ditekan, diatur, diejakan oleh standar yang terbentuk dari kuasa laki-laki. Melainkan, ya, laki-laki itulah the real poor things.

Madame ngajarin Bella nasihat yang maknanya literally ‘Berani kotor itu baik’

 

Setiap manusia memang fight their own battle, dengan kondisi yang memaksa dan menantang mereka. Film dibuka dengan Emma Stone terjun dari jembatan, membuat kita membatin “kasihan sekali dia”. Kemudian adegan berikutnya kita melihat dia seperti orang yang cacat mental. Tapi di akhir cerita, Bella yang telah menyadari kekuatan dan tujuan dari eksistensinya menunjukkan kepada kita bahwa laki-laki seperti Duncan yang cengeng, Harry yang gak berani berharap, God yang bahkan gak bisa mengelak dari kematian dan lebih butuh dirinya ketimbang dia butuh Godwin, dan Alfie yang literally ditulis oleh naskah sebagai manifestasi traits terburuk dari lelaki; mereka-lah yang lebih malang. Bukan perempuan yang beraksi demi kebebasan menjadi dirinya sendiri itu yang kasihan. Adegan di akhir, ketika Bella ngajak Max nikah. Bukan hanya pembalikan dari momen di awal, tapi dari adegan tersebut terasa sekali ada shift. Max is the good one, ‘dosanya’ cuma dia tak pernah berani ‘nembak’ langsung. Kini justru Bella yang bukan saja sudah jadi ekual, tapi juga memegang kendali.

Di tangan naskah yang kurang cermat, karakter seperti Bella ini bisa terkesan sebagai terlalu ideal. Membuat cerita jadi pretentious, atau malah terlalu dibuat-buat. Terlalu muluk. Hal itu tidak pernah terasa ada pada Poor Things. Karena nyalinya tadi untuk menggali Bella sebagai orang dewasa yang melihat dunia dengan pemikiran seperti anak kecil. Semua dicoba. Pengen tahu apapun hal yang baru. Kemauannya harus dituruti. Ini oleh naskah dijadikan cela yang menambah layer karakternya itu sendiri. Yang akhirnya membentuk desain film seperti apa. Film jadi vulgar, lancang, bikin kita gak nyaman, sometimes degrading. Tapi lewat semua itulah pembelajaran Bella berlangsung. Enggak ada dunia yang sempurna. Bahkan dunia seabsurd ini pun tidak bisa sempurna. Bella tahu itu, dia akhirnya tahu salah dan benar, tapi juga dia tahu apa yang lebih penting dari itu. Yaitu untuk menjadi diri sendiri, dan terus berharap dan berusaha dirinya bisa mengubah dunia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tidak ada yang sempurna, tapi semua orang mestinya berjuang untuk menjadi lebih baik. Ah, ini pandangan ilmuwan sejati. Godwin pasti bangga pada Bella!

 

 




Akhirnya, semua film nominasi Best Picture Oscar 2024 sudah rampung semua direview di blog ini. Dan kurasa somehow tepat film ini jadi film penutup karena in some ways, film ini seperti gabungan dari film-film tersebut. Weird, hitam-putih, karakter yang dealing with siapa dirinya – apa yang ia kerjakan, sound desain dan dunia yang ajaib, dinamika relationship yang berpusat pada relasi kuasa perempuan dan laki-laki. Mungkinkah film ini yang bakal menang? Itu terserah Academy sepenuhnya.  Tapi yang jelas, drama komedi romance ini merupakan sebuah perjalanan dari karakter dengan sudut pandang dan suara yang kuat. Penulisannya pada development karakter juga kuat sekali. Film ini boleh saja aneh, tapi pesannya akan sangat tegas dan bisa kita cerna dengan relatif mudah. Dan film ini tak pernah jadi pretentious dalam melakukan hal tersebut. Also, film ini punya banyak penampilan akting yang menarik. Unik. Yang bikin kita gak nyangka aktornya berani melakukan itu. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for POOR THINGS.

 




 

 

That’s all we have for now.

Apa menurut kalian tindakan Bella nge-transplant otak kambing ke mantan suaminya hanyalah sebuah balas dendam, atau sebuah statement? Statement apa kira-kira? 

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



MADAME WEB Review

 

“Life did not begin when you are born…”

 

 

Apa yang akan kau lakukan jika punya kekuatan bisa melihat alur kejadian di masa depan? Well, ya mungkin kau akan menggunakan kekuatan itu untuk menyelamatkan orang-orang yang penting bagimu, kau mungkin ingin mencegah hal buruk terjadi kepada orang-orang yang tak bersalah, atau kau mungkin gak mau ikut campur dan cuma ngasih komenan atau celetukan tersirat mengenai nasib mereka. Nah, sekarang apa yang kau lakukan jika kau seorang pembuat film dan lagi bikin cerita tentang superhero yang bisa melihat masa depan, dalam jagat universe yang masa depan karakter-karakter lainnya sudah kau ketahui? Kau mau bikin cerita superheronya menggunakan kekuatan menyelamatkan orang doang? Yang bener aja, rugi doongg. Lihat nih gimana S.J. Clarkson dalam debut penyutradaraan film-panjangnya. Dia meletakkan begitu banyak reference dan jokes perihal hidup superhero lain untuk disebutkan oleh karakter utamanya, yang tidak disisakan banyak selain sikap sarkas (tapi datar) dan petualangan yang nyaris tanpa intensitas.

Cerita tentang Cassandra Webb, gadis paramedik yang saat nyaris mati dalam bertugas, terbangkitkan kekuatan cenayangnya, ini harusnya memang sebuah cerita origin dari setidaknya empat superhero perempuan. Karena kejadian tadi, Cassie sekarang jadi bisa melihat kejadian di masa depan, khususnya kematian, beberapa saat sebelum kematian tersebut terjadi. Dalam salah satu penglihatannya, Cassie melihat tiga gadis remaja di kereta yang sedang ia tumpangi bakal dibunuh oleh pria misterius dengan kekuatan seperti laba-laba. Cassie menyelamatkan tiga remaja tersebut, dan mereka berempat lantas jadi buronan si pria laba-laba, all the while Cassie mikirin cara menggunakan kekuatannya untuk melawan. Tapi ini ternyata tipe cerita origin superhero yang take too long untuk membuat karakternya superhero (tiga gadis remaja tadi bahkan sama sekali belum jadi superhero hingga kredit bergulir). Ceritanya sangat aneh, tidak memuaskan baik itu ekspektasi penonton terhadap kisah superhero, maupun lingkaran journey karakter utamanya sendiri. Like, power Cassie yang sering bikin cerita atrek either ngasih keseruan atau kecohan, kayak berbanding terbalik dengan kebutuhannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Dia justru jadi better person dengan melihat masa lalu.

Cassie merasa dia gak punya waktu untuk mikirin masa depan, karena dia gak pernah mengerti masa lalunya. Dia hanya punya catatan/jurnal ibunya yang meninggal saat melahirkan dirinya, di pedalaman hutan Peru. Dia selalu menganggap pilihan ibunya sebagai tindakan negatif. Cassie berpikir hidupnya gak jelas karena sedari lahir memang udah gajelas. Tapi hidup ternyata tidak dimulai dari saat kita lahir. Karena hidup kita ternyata saling berhubungan dengan hidup orang lain. 

 

review madame web
Harusnya tayangnya pas April Mop ga sih, bukan pas Valentine

 

Mengambil pembelajaran dari tema ceritanya, mari kita melihat ke belakang. Ke film-film superhero 90an hingga awal 2000an. Kenapa ke masa itu? Karena persis seperti itulah vibe film ini, yang memang sesuai juga dengan timeline cerita yakni tahun 2003. Madame Web did a great job dalam mengemulasi estetik film superhero di era tersebut. Shot-shotnya, gerak kameranya, referensi pop kultur, hingga ehm.. spesial efeknya. Adegan suku manusia laba-laba di pembuka itu bahkan lebih mirip ke aksi-aksi dalam serial minggu pagi Power Rangers. Cheesy. Reaksi dan gerak-gerik karakter-karakternya pun juga punya nuansa ‘canggung’ yang sama dengan penampilan akting film-film jagoan 90an. Dialog dan ceritanya juga sama-sama over the top. Film ini terasa seperti film superhero keluaran awal 2000an, sebelum standar film superhero comic book dinaikkan oleh Marvel. Mungkin ini bisa disebut keberhasilan Madam Web, kalo kita bisa menjawab kenapanya. Kenapa film ini justru mau mengemulate era terburuk dari genre superhero? Soalnya biasanya kan, orang bikin reference nyamain ke satu jaman karena entah itu untuk tribute, karena jamannya punya banyak pengikut cult, atau mereka ingin mengambil yang terbaik dari era itu. Tapi film ini justru kayak menjadi secheesy itulah tujuan utamanya.

Di titik ini kita udah tahu Sony pengen bikin universe Spider-Man versi sendiri, but they can’t just do that karena ada MCU. Dan so far, Sony cuma bisa bikin film dari karakter-karakter di ‘sekitar’ Spider-Man, tanpa actually bisa memperlihatkan sang superhero laba-laba. Jadi mungkin Madame Web yang bisa lihat masa depan inilah kesempatan terdekat mereka untuk membuat reference, to take a shot, bercanda-canda dengan Spider-Man. Makanya film ini jadi banyak banget nyentil-nyentil Spider-Man. Bukan hanya ada Ben Parker, tapi beneran ada Peter Parker! Tapi masih bayi haha… inilah yang lantas kebablasan dilakukan oleh Sony.  Film menjual Spider-Man dan lore nya lebih banyak ketimbang Madam Web jtu sendiri. Dan ini bukan sekadar karena penjahatnya seorang Spider-Person. Film beneran bersandar pada pengetahuan kita akan Spider-Man, naskah dan dialog ditulis around that. Ngebecandain Ben soal ditembak. Mancing-mancing soal nama bayi Peter. Film Madame Web ujug-ujug jadi persis kayak teman di circle kita yang ngerasa dirinya lucu dan edgy, yang dalam tiap kesempatan ngasih sneaky remarks about something dan bener-bener get in front of our faces bilang “Hahaha, get it? Get it? Ngerti doongg.. lucu kan yaa!!” padahal lucu kagak, yang ada malah annoying. Sebab penggarapan cerita utamanya malah ke mana-mana. Film ini justru kayak lebih concern sama ngait-ngaitin ke Spider-Man. Dakota Johnson jadi semakin cringe karena dialog-dialog dia sebagian besar bukan penggalian drama karakternya, melainkan celetukan dan tanggapan ke karakter lain yang sebenarnya adalah suara studio dalam menyampaikan reference Spider-Man. Deadpan-nya bukan lagi dry humor, tapi dead karena pemainnya kikuk menyampaikan dialog.

Stake cerita bahkan lebih terasa ketika kita meletakkan kepedulian kepada baby spidey haha.. My biggest care adalah Emma Roberts jadi mamak Spider-Man, dan ketika dia ikut terlibat dalam kejar-kejaran dengan si Spider-Person jahat, aku baru ngerasa peduli. Jangan sampai baby spidey batal lahir karena si jahat. Ini lucu karena momen itu cuma satu sekuen. Villain cerita ini khusus mengejar tiga gadis remaja yang ia takutkan bakal jadi superhero yang membunuhnya  di masa depan (si Villain dapat penglihatan lewat mimpi soal kematian dirinya), tapi aku tidak pernah merasa peduli sama ketiga gadis tersebut. Kenapa, karena kita tidak tahu mereka sebelumnya. Dan film pun tidak actually memperlihatkan mereka berjuang dan balik melawan dan berakhir jadi superhero beneran. Beda rasanya ketika melihat mereka yang nobody dan gak dibuild up menjadi sesuatu yang pentingnya segimana (karena bahkan mimpi si jahat tidak pernah ditekankan sebagai reality betulan) dengan ketika kita melihat baby Peter dalam bahaya – karena selama ini kita sudah kenal betul sosok Spider-Man. Jadi anehnya film ini adalah pengetahuan kita akan hal yang di luar ceritanya justru memancing hal yang lebih dramatis ketimbang karakter dan cerita aktual mereka.

Dengan banyaknya referensi 2000an, aneh aja Cassie gak jelasin kekuatannya sebagai Final Destination yang era segitu amat populer kepada tiga remaja

 

Di sinilah terbukti film ini gak tau apa yang mau diincar. Bahwa film ini cuma ide-ide liar studio doang.  Karena keluarga Parker pun lalu dikesampingkan gitu aja oleh film yang telat menyadari karakter sentral utama mereka cuma sekumpulan cewek-cewek atraktif dengan personality sekuat karakter sinetron. Heck, mungkin better kalo motivasi si penjahat supaya Peter Parker gak lahir, dan Madame Web dan tiga dara laba-laba jadi superhero yang berusaha menggagalkannya. Si Villain yang fokusnya cuma ngejar tiga gadis itu, akhirnya tampak seperti penjahat yang paling setengah hati jahatnya dan paling lemah. Dia ditabrak mobil dua kali oleh Cassie yang belum punya kekuatan berantem beneran. Aksinya tidak punya intensitas, dia malah lebih garang saat masih belum punya kekuatan ketimbang saat dia sudah jadi manusia laba-laba. Also, aktingnya juga bahkan lebih aneh lagi. Banyak adegan dia ngobrol yang kayak didubbing karena mulutnya gak gerak, tapi suaranya keluar. Aku gak tau mungkin mic mereka mati saat syuting apa gimana haha..

Yang jelas peran si penjahat ini ujung-ujungnya sama dengan cara film memanfaatkan kekuatan melihat masa depan. Cuma untuk mempermudah majunya cerita. Cassie sama sekali gak tau kenapa si Villain ingin membunuh tiga dara, dia gak tahu mereka bakal jadi superhero, tapi dia tetap menjaga mereka. Harusnya yang ditekankan di sini adalah drama yang terjalin antara mereka. Dia yang melihat mereka sama seperti dirinya, stray yang dibuang keluarga. Perjuangan mereka untuk survive harusnya bisa menyentuh hati, tapi oleh film semua itu didangkalkan. Cassie bisa berkomunikasi dengan si penjahat lewat mimpi, dan si penjahat membeberkan semua. Ini penulisan yang malas banget. Bandingkan usaha naskah ini nyisipin sneak remarks dalam tiap dialog dengan usaha naskah menggali konflik dramatis. Kelihatan kan, film ini sebenarnya bukan berniat mau ngasih cerita. Kekuatan Cassie kalo dipikir-pikir mirip dengan kekuatan Yhwach, boss di saga terakhir Bleach. Sama-sama menggunakan kemampuan melihat beberapa detik kejadian di masa depan untuk mengambil langkah dalam combat. Tapi si Cassie battlenya gak pernah keliatan seru. Melainkan konyol. Yhwach punya Ichigo yang mati-matian berusaha mengalahkannya. Cassie cuma punya penjahat yang setengah hati mengejarnya, gak pernah tampak benar-benar bahaya, dan film udah liatin goal battle mereka yang berhubungan dengan logo Pepsi Cola. Film ini lebih concern ke tamatnya harus kena logo itu!

 




Kesuksesan satu-satunya film ini adalah bikin tontonan dengan vibe film superhero era 2000an. Tapi buat apa? Itu adalah era yang orang senang sudah berpindah darinya, era yang gak dirindukan siapapun, dan it’s not like film ingin ngasih perbaikan dan nunjukin yang terbaik dari era tersebut. Film ini flat out mengemulasi yang terburuk dari situ. Karakter-karakter cringe dengan dialog dangkal – yang lebih diperparah lagi dengan kemauan film untuk constantly ngasih reference yang sok-sok mau bikin penasaran itu ada Spider-Man atau enggak. Aksi dan kejadian yang over the top. Konsep melihat masa depan  kayak versi lite dari Final Destination, dan film never actually capitalized on that concept dengan aplikasi yang unik. Padahal kalo mau digarap bener-bener, mestinya bisa, karakternya sebenarnya punya journey. Tapi film ini mentang-mentang udah melihat ‘masa depan’ dari jagat cerita keseluruhan, jadi menaruh hati dan niatnya di tempat yang lain.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for MADAME WEB.

 

 




That’s all we have for now.

Jika hidup tidak dimulai dari saat kita lahir, apakah itu berarti hidup kita juga tidak berakhir saat kita mati? 

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



AMERICAN FICTION Review

 

“We live in a fantasy world.. the great task in life is to find reality”

 

 

Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Memperdagangkan trauma dan kesedihan. Itulah realita yang digambarkan dalam American Fiction, debut penyutradaraan Cord Jefferson. Film adaptasi novel ini di tangannya menjadi komedi satir yang aku pikir bakal bikin gerah beberapa orang, seperti penulis buku/pembuat karya yang memang jadi subjek di dalamnya. Dan walaupun di judulnya ada kata Amerika, satir di film ini gak akan luput mengenai kita di Indonesia. Karena ironisnya, cerita di film ini relate juga dengan kondisi di ‘rumah’. I mean, lihatlah pekarangan sosmedmu. Berapa banyak yang bikin konten yang menuai cuan dari cerita-cerita sedih, cerita orang-orang berantem, atau bahkan cerita kebegoan. Konten yang menjual kalangan minor, ataupun yang sengaja menyasar kepada stereotipe-stereotipe lainnya. Kita sekarang hidup di dunia fiksi. Dunia di mana, sesuai dengan salah satu dialog film ini yang bikin aku ngakak; “The dumber I behave, the richer I get” Film ini begitu lucu karena yang diceritakan benar adanya!

Ya, jaman sekarang idealisme dianggap tidak bisa menghasilkan apa-apa selain stress dan kelaparan. Di cerita film ini, seorang dosen, punya pendidikan dokter, dan penulis novel, Thelonious Ellison yang akrab dipanggil Monk, hidupnya juga mulai menghimpit tatkala novel-novel yang ia tulis dengan serius dan sepenuh hati, katakanlah, tidak laku. Satir film ini langsung ngegas saat publishernya yang kulit putih itu meminta Monk untuk menulis cerita yang lebih ‘black’. Bayangkan disuruh untuk menjadi lebih lokal oleh orang yang sama sekali tidak punya kaitan apa-apa sama kelokalanmu. Lagipula, lanjut sang publisher, pasar cuma butuh dahaga mereka akan konfirmasi bahwa mereka adalah orang yang peduli sama isu terpuaskan. Maka Monk kepikiran menulis novel satir yang isinya penuh oleh stereotipe yang dikenal publik pada ras kulit hitam. Dia menulis buku itu sebagai olokan. Tapi justru buku itu laku keras di pasaran. Kritik dan penikmat kasual – yang hampir semuanya kulit putih – menyukai novel yang sengaja dibikin sebagai pembuktian sampah oleh Monk. Novel, yang ia kasih gimmick ditulis bukan oleh dirinya, melainkan oleh seorang tokoh rekaan. Seorang napi yang kabur dari penjara. Makin meledaklah penjualan novel tersebut saat ‘identitas’ penulis itu diungkap. Sampai-sampai ada produser yang ingin memfilmkan novelnya. Monk, demi keuangan keluarganya, lantas harus memilih; antara tetap menjadi dirinya yang tak bisa menjual apa-apa, atau terpaksa menjadi penulis dan kisah-nyata bohongan yang ia ciptakan sendiri.

reviewamericanfiction
Abis nonton ini, ngereview pun lantas jadi was-was, takut kemakan jebakan pembuat yang seperti Monk

 

American Fiction tayang di bioskop Amerika bulan Desember tahun lalu, hampir bertepatan dengan waktu Jatuh Cinta Seperti di Film-Film memeriahkan bioskop tanah air. Menarik, karena dua film ini basically menggunakan konsep meta yang serupa. Pun sama-sama punya komentar soal industri film/karya tulis negara masing-masing (sama-sama parodiin produser/publisher hahaha). Jatuh Cinta Seperti di Film-Film yang tentang seorang penulis skenario berusaha menulis dan memfilmkan kisah romans dari kehidupan cintanya, currently bertengger di posisi ke delapan dalam daftar Top-8 2023 Movies-ku, dan alasan film itu berada di posisi tersebut adalah karena ada yang mengganjal dari struktur meta yang digunakan terhadap journey karakter utamanya. Film American Fiction ini lantas memberikan kepada kita contoh cara yang benar dalam menghandle konsep tersebut, sehingga journey Monk sebagai karakter utama terasa tetap ‘real’.  Karena American Fiction tidak lantas give in kepada gimmick cerita metanya. Alih-alih menggunakan hitam putih sebagai pembeda, film menggunakan layer akting yang beneran dikaitkan kepada narasi. Monk pria terpelajar kelihatan dari gaya dan cara bicara dia, tapi kita benar-benar ditekankan kepada Monk harus mengubah cara dia bicara, gaya dia menulis, menjadi sesuatu yang stereotipe dan menurutnya degrading ketika dia menulis novel sesuai tuntutan publisher. Akting Jeffrey Wright main betul, dan memang pantas diganjar nominasi. Cara film ini dalam menampilkan sebuah adegan yang ternyata hanya karangan Monk dilakukan dengan sureal namun tetap terang sehingga apa yang sebenarnya terjadi kepadanya tidak pernah tersamarkan sebagai kejadian yang tidak pernah beneran terjadi. Dalam artian, journey yang dilalui Monk tetap jelas, growth yang ia alami tetap kita lihat terjadi kepadanya.

Adegan Monk menulis novel full of stereotypes itu dilakukan dengan menarik oleh film. Monk udah kayak sutradara yang mengawasi dua karakternya berdialog, lalu karakter-karakter tersebut akan balik bertanya “Gue ngomong apalagi nih bos?” atau malah mengkritiknya “Gue ngomongnya gak kayak gitu!” Menyangkut ke perihal satirnya, adegan tersebut dirancang dengan precise sehingga untuk kita – yang merupakan salah satu sasaran sindiran – adegan tersebut akan menghasilkan sedikit perasaan mendua. Adegan dialog itu supposedly nunjukin parody yang jelek, atau beneran bagus. Ketika kita merasakan itulah, pembuktian satir film bekerja dengan benar. Lewat adegan menulis cerita penuh stereotype dan menjual ‘ras’ padahal sebenarnya shallow itulah film membuktikan benar bahwasanya kita sebagai konsumer kadang dengan begonya kemakan konten orang. Kita melihat ‘oh film dari ras minoritas pastilah real, emosinya raw, dan mengusung bahasan sosial yang penting’ padahal itu bisa jadi cuma gimmick. Bisa jadi penulis ceritanya seperti Monk, just making stuff up, memasukkan sebanyak mungkin stereotype karena memang itulah yang lebih gampang laku. Bahwa sekarang kita tidak melihat berdasarkan isi yang sebenarnya, melainkan hanya ikut-ikut tren agenda.

Sebagai seorang terpelajar, Monk tentu saja melawan industri seperti ini.  Ketika ada pengarang kulit hitam lainnya, menulis novel setipe (alias sama-sama jualan stereotipe ras mereka semata), ditambah dari sudut pandang perempuan pula, Monk melihat novel tersebut sebagai gimmick semata. Tentu saja orang akan suka, toh itu cerita hidup perempuan dari ras minoritas. Malah bukan ‘akan suka’ lagi, melainkan ‘harus suka’. Karena kalo ada orang yang tidak suka cerita itu, apalagi si orang yang tidak suka ini adalah kulit putih, maka dia akan beramai-ramai dicap sebagai seorang rasis yang gak peka. Kalo dia pria, maka niscaya dia akan dicap anti feminis. Sebagai pengulas film, aku bisa mengerti yang dirasakan Monk, karena seringkali aku juga merasa ada film yang kayak cuma ngejual stereotype, atau cuma ngejual agenda, tapi dalam menyampaikannya aku agak susah karena takut diserang balik sebagai gak dukung perempuan atau tone deaf terhadap sosial.  Dan permasalahan ini dijadikan film sebagai inner journey dari Monk. Dia yang awalnya berusaha idealis dan blak-blakan menolak, dihadapkan kepada situasi yang membuat dia melihat kenapa ‘industrinya’ jadi begini, dan ultimately dia harus memilih. Pilihannya nantilah yang jadi puncak satir film ini. Ending yang bakal ninggalin kita topik untuk dipikirkan. Karena film yang dibuat sebagai gambaran ini, tidak menawarkan solusi. Melainkan tetap berpegang kepada pencerminan dunia nyata.

Kisah-nyata seperti di fiksi-fiksi

 

Sebenarnya persoalan ini sudah pernah disentuh oleh Jordan Peele dalam filmnya yang berjudul Nope (2022). Secara umum film yang bentukannya horor-creature sci fi itu membicarakan gimana manusia suka mengekspoitasi hal yang berbeda sebagai spektakel. Atau tontonan hiburan. Dan hal yang berbeda itu bisa meliputi ke ras mereka yang dalam cerita film seringkali hanya digunakan sebagai role-role stereotipe dan cukup hanya di role tersebut. Film American Fiction ini tidak lain dan tidak bukan membahas persoalan tersebut lebih dalam dan lebih personal lagi. Stakenya dibuat lebih grounded, supaya filmnya sendiri tidak menjadi hal yang ia kritik. Inilah yang membuat film ini meskipun tidak ada solusi, tapi tetap terasa powerful sebagai gambaran. Karena semuanya dikembalikan kepada karakter yang terpaksa harus memilih. Karena keadaan. Therefore, kepada kitalah sebenarnya cerita ini meminta penyadaran.

Karena pasar gimanapun juga terbentuk oleh permintaan konsumen. Dunia kita sekarang adalah dunia fiksi yang jualan yang laku bukan jualan yang berbobot, melainkan jualan ringan dan not necessarily harus asli, asalkan jualan tersebut bisa membuat orang konsumernya merasa lebih mulia. Sehingga muncullah penjual-penjual yang memperdagangkan kepalsuan. Stereotype, cerita sedih, kebegoan. Semuanya semu, yang dijual maupun yang dirasakan oleh yang beli.

 

 

 

Jadi gimana cara film ini mempertahankan ke-real-an journey karakter? Dengan actually memparalelkan soal kerjaan Monk nulis buku, dengan konflik di dalam keluarganya, yang semuanya dokter. Monk punya adik dua orang (yang satunya mungkin jadi penyebab kenapa film ini gak tayang di bioskop Indonesia), punya asisten rumah tangga yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri, punya Ibu yang mulai digerogoti Azheimer. Dan ayah mereka telah lama jadi urban legend di kota kelahiran, lantaran dulu bunuh diri dengan menembak kepalanya sendiri (film pun sempat-sempatnya menebar dark jokes seputar peristiwa ini dari karakter yang innocently lupa Monk punya riwayat tragedi tersebut). Yang terjadi kepada ayah, kepada ibu, kepada keluarganya keseluruhan digunakan oleh film sebagai stake dan pendorong bagi Monk untuk menentukan keputusan. Serta jadi tempat hati cerita ini berada. Benar-benar terasa seperti kisah karakter yang berjuang. Monk bisa saja menulis tentang keluarganya sendiri, tapi itu tetap belum cukup. Karena seperti ironi yang acapkali dicuatkan oleh film, itu tidak akan terasa real enough bagi pembaca. Satir pamungkas dilakukan oleh film ketika memperlihatkan adegan diskusi Monk dan sejawat sesama juri award literatur, pendapat otentik Monk sama sekali tidak didengarkan oleh juri yang lain, dengan alasan ‘black voices has to be heard’.

 

 




Semakin jauh Monk menulis dari kenyataan, semakin liar dia menggunakan stereotype dan identitas, semakin shallow bahasa yang ia gunakan, semakin nyeleneh judul novel yang ia ajukan, bukunya justru semakin laku. Aku rasa ini adalah salah satu film in recent years yang paling jago dalam menggunakan sindiran ke dalam penceritaan. Kena dan telak semua! Mungkin judulnya aja yang kurang tepat. Dan itupun karena kisah di film ini tidak hanya sedang terjadi di Amerika. Sindiran film akan mengena bahkan kepada kita. I honestly think, kayaknya ini adalah masalah global dunia yang tersentuh sosial media. Bahwa orang-orang peduli sama isu, bukan karena mereka benar-benar peduli sama isunya, melainkan karena dengan merasa peduli mereka merasa jadi pribadi yang lebih baik. Jadilah isu tersebut soal unjuk agenda kosong semata. Makanya film ini terasa urgent. Di luar itu, melihatnya sebagai drama keluarga pun film ini terasa sama kuatnya. Menunjukkan film ini juga punya hati, selain punya otak dan nyali. 
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for AMERICAN FICTION.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah ada alasain lain kenapa sekarang kita seperti mudah kemakan sama konten-konten yang menjual gimmick ketimbang bobot?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review Petualangan Anak Penangkap Hantu kemaren, bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



PETUALANGAN ANAK PENANGKAP HANTU Review

 

“Greed makes a ghost story”

 

Sebagai anak yang tumbuh bersama generasi kartun Scooby-Doo dan buku-buku detektif misteri anak seperti Trio Detektif dan Lima Sekawan, tentu saja aku tertarik pengen nonton film Jose Poernomo yang satu ini. Genre yang terbilang langka buat anak-anak di masa sekarang. Serta merupakan langkah yang cukup beresiko di tengah gempuran horor ‘beneran’ di skena perfilman lokal. Terbukti saja, saat menonton memang cuma aku satu-satunya ‘anak’ di dalam studio. Anak-anak benerannya mungkin pada lebih tertarik sama horor yang lebih dewasa, atau sama film orang pacaran. Enggak sepenuhnya bisa disalahkan, tapi aku heran aja sih. Karena, di luar bagus atau tidaknya kualitas, konsep sekelompok anak kecil membantu orang dewasa memecahkan kasus misteri ini used to be staple dalam cerita untuk anak-anak. Cerita-cerita semacam inilah yang awalnya memperkenalkan anak-anak 90an ke genre horor atau misteri atau thriller whodunit. Apakah zaman memang sudah seberubah itu? Anyway, kembali ke filmnya. Petualangan Anak Penangkap Hantu mengikuti format cerita detektif misteri anak, enggak ada hantu beneran – cuma manusia yang tamak sebagai dalang kejahatan. Lucunya, yang perlu dijadikan catatan adalah, film ini, berakhir jadi beneran creepy. Tapi untuk alasan yang lain.

Anak Penangkap Hantu adalah nama grupnya. Anggota mereka adalah Rafi, Chacha, dan Zidan. Dari poster dan hiasan di kamar masing-masing, kita tahu Rafi anaknya suka petualangan, Zidan brain of the group, dan Chacha, well, kamarnya berhias poster Princess Disney, versi live action modern! Jadi kita tahu Chacha bukan anak cewek lemah yang harus diselamatkan. Malahan, Chacha dengan senang hati berperan sebagai umpan saat mereka mulai menangkap ‘hantu’. Ya, tiga anak ini pemberani, slogan mereka aja “Saatnya hantu takut sama anak-anak!” Geng APH percaya hantu itu gak ada, mereka menangani banyak kasus hantu yang ternyata adalah kasus orang mau maling, lalu nyamar jadi hantu. Kepercayaan mereka tersebut mendapat ujian, saat mereka dimintai tolong oleh Kak Gita untuk mengungkap kasus kutukan penunggu hutan di desa Segoro Muncar. Desa tersebut telah lama kekeringan dan banyak kasus orang hilang. Gak gampang bagi geng APH menguak kasus di sana, karena kepercayaan mereka berbenturan dengan adat istiadat warga desa yang percaya sama makhluk gaib. Makhluk yang, by the way, dalam beberapa kesempatan menampakkan wujudnya. Menakuti-nakuti Rafi, Chacha, dan Zidan.

You know Zidan is a ‘real deal’ begitu lihat di kamarnya ada poster Elon Musk sebelahan ama poster Einstein lol

 

Sebenarnya apa sih yang bikin cerita detektif misteri anak-anak seperti ini bisa menarik bagi audiens cilik? Ini pertanyaan yang bikin aku kepikiran, kenapa dulu waktu kecil aku rela telat ikut main di luar rumah, supaya gak ketinggalan episode Scooby-Doo? Sampai nekat nyelipin buku Trio Detektif di dalam Al-Quran untuk dibaca di sela-sela belajar ngaji? Yang bikin kecantol in the first place, rasanya adalah dunia dan karakter-karakter ceritanya. Entah itu Scooby-Doo (anjing yang bisa ngomong!) dan sobat manusianya Shaggy yang lucu dan paling penakut, Georgina di Lima Sekawan yang tomboi dan lebih suka dipanggil George, atau trio Jupe-Pete-Bob dengan dinamika mereka yang saling mengisi kelemahan masing-masing.  Lalu tentu saja misteri yang ditawarkan. Misteri siapa yang jadi hantu, siapa sebenarnya pelaku, gimana sesuatu yang mengerikan ternyata cuma trik. Bukan hanya soal jawaban, tapi ada sesuatu yang justru melegakan buatku saat masih kecil itu untuk mengonfirmasi bahwa hantu yang selama itu mengganggu Scooby-Doo ternyata cuma manusia. Bukan hantu beneran. Bahwa semua hal supranatural ada penjelasan masuk akalnya. Ngikutin cerita membuka tabir misteri, walaupun masih dalam tahap sederhana, selalu sukses jadi daya tarik.

Untuk urusan pembangunan misteri tersebut, film Petualangan Anak Penangkap Hantu ini pun melakukannya dengan cukup menarik. Setidaknya, berhasil menjaga di dalam garis yang bisa dinikmati oleh penonton cilik. Unsur horor sebagai red herringnya cukup tampak mengerikan dengan benda-benda bergerak sendiri dan sosok hantu yang seperti melayang dengan jubah menjuntai. Dari segi penulisan, film ini pun masih dalam taraf yang bisa dimengerti oleh anak. Tidak banyak memakai istilah yang membingungkan. Investigasinya ringan. Jawaban berbagai misteri soal kenapa desa kekeringan, kenapa banyak orang yang menghilang, kenapa hantunya bisa kayak gitu, bisa gerak-gerakin benda, perlahan diungkap dan dijawab di akhir dengan penjelasan yang bisa dimengerti oleh anak-anak. Penonton cilik akan bisa mengikuti misteri yang dihadirkan. Sembari melakukan itu, film ini juga bicara kepada penontonnya tersebut soal gimana generasi sekarang, generasi yang lebih muda, harusnya bisa lebih menghormati budaya sendiri. Aku suka alasan pertama Rafi ingin menolak rekues kasus dari Kak Gita, karena dia takut nanti mereka tak tahu adat di sana, takut mereka nanti salah bertindak dan dianggap tidak menghormati warga. Sudut pandang warga yang percaya hal gaib dalam cerita ini diwakili sebagian besar oleh Wak Bomoh yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Beliau adalah tetua yang mengurusi ritual-ritual kepercayaan sehubungan dengan penunggu hutan di desa, yang berperan sebagai rintangan terbesar geng APH dalam menyelidiki kasus. Wak galak ini yang ngasih larangan dan aturan-aturan yang tak boleh dilanggar, termasuk main ke hutan. Yang, ya bisa ditebak, setengah aturan tersebut langsung dilanggar oleh APH yang malah kemping di dalam hutan dekat tempat sesajen hahaha

Untuk penonton dewasa, film ini lewat kasus yang ditangani APH kayak ngasih gambaran lucu. Karena, ini adalah kasus di mana seseorang yang berkuasa memanfaatkan kepercayaan warga untuk keuntungannya pribadi. Ketamakannya membuat ia tega mengarang cerita palsu dari kepercayaan warga, ketamakannya membuat ia rela melakukan stage act, aksi-aksi panggung, gimmick hantu untuk memuluskan uang masuk ke koceknya. Di mana ya sepertinya kita melihat tindak-tanduk yang sama?

 

Walau konflik dan dinamika antarkarakternya juga bisa dimengerti dan dekat dengan anak-anak, karakter-karakter ceritanya itu sendiri masih belum luwes. Masih seperti hidup dalam pengertian orang dewasa yang berusaha menulis karakter anak. Urusan karakternyalah, menurutku, letak kelemahan film ini. Dinamika yang menarik sebenarnya ada, kayak, Rafi dalam usia beranjak remaja, mulai naksir-naksiran sama Chacha. Natural dan relate, hanya film ini seperti gelagapan menjadikan itu sebagai sandaran utama menghidupkan karakter. Selebihnya karakter film ini, at best, aneh. Di momen satu-satunya cerita ini ada stake – saat geng APH actually dalam bahaya – film meremehkan efek kejadian tersebut untuk momen flirt Rafi ke Chacha. Bayangkan anak sekecil itu jatuh dari tebing karena tali panjat tebingnya diputus, dan dia masih bisa bercanda untuk memancing simpati temannya.

Panjat tebing? film ini punya wild sense of adventure. Mungkin untuk menunjukkan anak-anak jaman sekarang sangat capable menggunakan gadget dan teknologi, maka film menggunakan banyak aksi yang way over the top sebagai sarana para detektif cilik menginvestigasi kasus. Jadi, mereka ingin menelurusi sungai untuk melihat kenapa air sungai itu kering dan alirannya gak sampai ke desa. Karena gak mungkin jalan kaki sejauh itu, maka kupikir mereka akan menggunakan drone. But oh boy, betapa kelancanganku sebuah dosa besar. Rafi, Chacha, Zidan yang pemberani itu pakai drone? Cuih lemah. Mereka langsung terbang ke lapangan, as in terbang melayang pakai parasut! In a way, kalolah film memang mengincar sesuatu yang over sebagai pengganti momen-momen komedi dari tingkah laku ajaib Scooby dan Shaggy, aku pikir film ini berhasil dengan segala gadget parasut, panjat tebing, dan hal-hal luar biasa untuk dilakukan sekelompok anak kecil di dalam hutan seperti itu. Tapi masalahnya, momen-momen aksi itu cuma momen. Vibe film, apakah seru over the top, apakah konyol seperti Scooby Doo, apakah spionase sersan (serius tapi santai) seperti Spy Kids, tidak diset oleh film. Yang diset baru soal misteri dari peristiwa supranatural.

Muzakki Ramdhan udah kayak McKenna Grace versi Indo, filmnya begitu banyak sehingga kayak muncul random, kadang dia masih kecil kadang dia udah dewasa

 

Pemerannya, Muzakki Ramdhan, Giselle Tambunan, M. Adhiyat, sih tampak fun-fun aja. Film yang justru seperti kesusahan membentuk karakter mereka. Tidak ada development. Yang ada justru karakter mereka seperti berubah-ubah. Kadang Zidan kayak serius pinter, kadang kayak anak kecil clueless ala film horor yang malah mendekat ke arah bayangan hantu. Film juga cuma bisa nunjukin Zidan ama Chacha kakak-adik dengan adegan pelukan setiap kali mereka selamat dari kejaran hantu. Selebihnya, mereka jarang sekali berinteraksi berdua. Si Rafi, kadang disebut pemberani, tapi di lain adegan justru dia yang paling teriak-teriak ribut saat sesuatu yang seperti hantu menampakkan diri. Kalo kita ambil perbandingan kartun Scooby-Doo sekali lagi, Rafi ini kayak Fred dan Shaggy disatukan. Scooby-nya siapa? Well, karakter di film ini memang seperti kekurangan sesuatu. Maskot. Kalo di cerita detektif cilik 90an, biasanya geng protagonis punya peliharaan. Ada Scooby, ada Timmy. Yang fungsinya perekat yang menyatukan para karakter. APH punya paman yang nyupirin mereka ke mana-mana. Namanya Bang Dul. Dia inilah yang perannya seperti Scooby-Doo, sebagai comedic relief, juga sebagai penolong anak-anak.

Dalam cerita yang ditulis dengan lebih matang (meski cerita untuk anak), karakter-karakter itu tidak akan melulu soal menyelediki hantu. Akan ada growth pada sifat mereka. Maybe, kelompok ini akan gagal, atau akan berselisih paham, atau berpisah, lalu dibantu damai kembali oleh Bang Dul yang membuat mereka melihat situasi dan kesalahan mereka. Karakter Kak Gita, juga tidak akan cuma jadi orang yang minta tolong, lalu jadi korban hilang. Kenapa orang dewasa sampai meminta tolong anak-anak, juga akan digali oleh naskah yang kuat penulisan karakternya. Tidak hanya sekadar menyederhanakan karena mereka sudah terkenal mampu. At least, saat nanti dalam bahaya, harusnya ada kekhawatiran dari orang dewasa seperti Gita. Film ini kelewat simpel, sampai-sampai hal menjadi unintentionally menjadi amat sangat creepy, dan di film ini justru jadi solusi, justru jadi waktu bagi karakter Bang Dul memenuhi fungsi perannya sebagai penolong. Bang Dul berhasil melacak Gita karena dia yang kesengsem sama gadis itu diam-diam telah menaruh tracker di dalam kalung yang ia berikan. Duh! Film ini mau bicara tentang tindak kriminal? That is the crime hahaha

 




Aku senang ada film ini. Genre detektif cilik selalu dapat tempat di hati. Menurutku anak-anak perlu lebih banyak tontonan horor atau misteri yang benar selevel dengan mereka. After all, bayi merangkak dulu baru bisa lari kan. Hanya saja, untuk standar cerita anak sekalipun, film ini aim terlalu rendah. Dari segi penulisan kasus dan arahan misteri supranaturalnya, film ini cukup mengerti bagaimana melakukan itu ke dalam level penonton anak-anak. Kadar ngerinya pas, kadar teka-teki atau investigasinya pas. Tidak sampai berat atau membingungkan. Tapi dari segi penulisan karakter, film ini masih meraba-raba. Akibatnya karakterisasi geng protagonis tidak konsisten, mereka beneran lebih kayak sekelompok anak di tempat yang tak seharusnya, dan tau-tau bisa banyak hal dan memecahkan kasus. Lewat bantuan tindakan seorang creep hahaha…. Menurutku, vibenya aja sih yang belum terset dengan kuat. Biarkan anak-anak bertingkah seperti anak-anak, dari situ cerita akan bisa lebih flexible. Mau konyol seperti Scooby Doo bisa, mau agak serius seperti serial detektif anak Home Before Dark (2020-2021)-nya si Brooklyn Prince juga bisa.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for PETUALANGAN ANAK PENANGKAP HANTU

 




 

That’s all we have for now.

Sedih juga film ini kemaren yang nonton di studioku cuma aku sendiri. Menurut kalian apakah memang anak-anak sekarang kurang tertarik sama genrenya? Kenapa, apakah karena mereka terlalu cepat dewasa?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Yang penasaran sama serial detektif cilik Home Before Dark yang kusebut di-review (2 season), bisa subscribe Apple TV untuk menontonnya yaa. Mumpung ada promo free seminggu nih. Tinggal klik di link ini https://apple.co/3SqRITp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU 1995 Review

 

“Don’t ever go back to your old ways that do not work. That’s the reason you changed them in the first place.”

 

 

Oh Tuhan, there’s two of them!” Kemudian aku tergelak di bioskop. Dilan ada dua, dan maksudku bukan soal ini adalah film Dilan dengan pemeran yang berbeda. Melainkan, karena di cerita Pidi Baiq yang kali ini disutradarai oleh Benni Setiawan, Dilan finally found his match. Dan ‘match’ yang kumaksud bukan soal pasangan doang, melainkan lebih ke Dilan akhirnya ketemu ‘lawan’ yang sepadan. Dalam wujud perempuan berambut sebahu bernama Ancika. Like, Dilan mau ngegombal dikit, langsung kena selepet yang gak kalah ngocol dari Ancika. Belum pernah kan lihat Dilan nginyem karena dicounter? Haha ya, akhirnya film yang jadi penutup perjalanan cintanya ini memang menghadirkan sosok yang sedikit berbeda dari Dilan yang sudah familiar. Dilan kini agak lebih kalem. Dia sudah lebih dewasa dari terakhir kali kita menontonnya. Dilan sudah kuliah, dan itu adalah tahun 1995 yang mulai bergejolak dengan situasi politik. Karena itu, tentu saja kita jadi punya ekspektasi bahwa cerita yang dihadirkan juga jadi sedikit lebih dewasa dari sebelumnya Dan again, maksudku dewasa dalam artian lebih matang loh, bukan dewasa yang ngeres. Itu mah namanya bajingan, kalo kata Ancika.

Mungkin karena Ancika memang masih anak SMA. Film ini sukurnya tidak lagi mempertahankan konsep ‘lucu’ trilogi Dilan, yang perspektifnya gak klop ama judul; Dilan 1990Dilan1991 tapi ceritanya dari perspektif Milea, eh begitu judulnya Milea, ternyata ‘suara’ dari Dilan! Film Ancika ini memang mengambil perspektif utama dari Ancika, gadis remaja yang ngocol, pinter. berani, bahkan cenderung galak sama cowok-cowok yang nekat naksir dia. Zee JKT48 nails her character’s traits soundly. Secara karakterisasi, Ancika jauh lebih kaya ketimbang karakter Milea di film 1990. Ancika tidak pernah tampak seperti kertas kosong. Kehidupan sekolahnya terasa lebih kuat. Ancika ini kayak Dilan versi cewek, ketika dia berinteraksi kepada teman-temannya hahaha.. Kita juga gak perlu nunggu film berikutnya untuk mengenal lebih dekat Ancika dalam lingkungan keluarga dan pribadinya. Ancika juga sudah punya motivasi dan sikap yang tegas.. Dia pengen masuk Unpad. Dia gak mau pacaran. Inilah yang mendapat ‘tantangan’ nanti ketika dia bertemu dengan salah satu teman kuliah mamangnya, yaitu si Dilan.

Mengingat kondisinya, aku pikir film mengintroduce Dilan ke dalam cerita Ancika dengan well done. Humble, mungkin lebih tepatnya. Tidak demikian terasa seperti sosok yang dikultuskan. Meskipun memang di dalam cerita si Dilan ini dikenal oleh banyak orang. Aksi dan kisah cintanya udah kayak urban legend di Bandung 1995. Teman-teman sekolah Ancika, terutama anak-anak cowok yang hobi motoran, menganggap Dilan sebagai senior yang wajib dihormati. Tapi si Dilan itu sendiri tampak ‘kalem’ dan ya, lebih dewasa di balik keunikan yang menjadi pesonanya. Dilan versi film ini adalah mahasiswa seni rupa ITB, seorang aktivis. I give huge props buat Arbani Yasiz yang membuat kayak gampang meranin berbagai karakter yang punya identitas lokal yang kuat. Belum lama ini dia beliveable banget jadi pemuda Minang di Ranah 3 Warna (2021), dan kini dia pentolan pemuda Sunda, yang amazingnya lagi melanjutkan ke versi yang lebih dewasa dari karakter yang populer dimainkan oleh aktor yang lain sebelumnya, without missing any beats of that character. Dilan versi Arbani tampak lebih tenang, lebih bijak, tapi tetap dengan tingkah dan effort yang ajaib. Dibilang less gombal, enggak juga. Dilan versi Arbani tetap punya segudang kata-kata maut yang ampuh untuk membuat perempuan se’tangguh’ Ancika tersipu. Kayaknya, karena Dilan versi Arbani ini lebih believable sebagai aktivis yang turun ke jalan, yang berantem, maka kita lebih gampang ‘tolerir’ terhadap gombalnya. Membuat dia jadi enggak cringe. Karena dia kelihatan lebih dari sekadar tukang gombal sok jagoan

Tidak lagi pengen nimpalin dengan teriakin ‘Pret!!’ setiap kali Dilan selesai ngomong.

 

Hati dari cerita memang masih seputar romans. It feels genuinely sweet, dengan karakter yang juga genuine menarik. Ancika tumbuh ketertarikan sama Dilan. Pemuda yang mengucapkan terima kasih telah dibikinin minuman, lewat secarik surat. Mahasiswa yang membantunya bikin PR resensi novel, walaupun berakhir memalukan. Cowok yang bilang mereka banyak kesamaan, mungkin karena salah satu dari mereka ada yang nyontek – purposely bermain-main dengan ekspektasi dirinya. Film membuat Dilan mencuat di mata Ancika bukan karena pemuda itu ngotot mengejar si anak SMA. Tapi ada build up. Film ngasih ruang bagi Ancika untuk melihat dan membandingkan Dilan dengan cowok-cowok lain yang tertarik kepadanya. Aku suka gimana Ancika yang digambarkan cuek dengan penampilan, merasa perlu dandan padahal occasion-nya cuma belajar bareng Dilan di ruang tamu. Ketertarikan yang naturally bertumbuh itu jadi layer, di balik ‘konflik’ yang juga dibangun seputar Dilan yang punya masa lalu. Dan masa lalu Dilan bukan cuma tentang Milea, melainkan juga soal ‘hobby’-nya sebagai geng motor. Masa lalu – mantan-mantan – Dilan ini yang bikin Ancika ragu. Ancika bukannya mau ‘memperbaiki’ Dilan, seperti yang berusaha Milea lakukan di Dilan 1991. Ancika cuma khawatir Dilan akan kembali kepada masa lalunya tersebut, kepada either or both of those. Apalagi kemudian Ancika melihat Dilan ikutan demo mahasiswa, Berantem ama polisi? Bagi gadis itu cowok yang ia suka itu begitu volatile. Bisa sewaktu-waktu kembali ke masa lalu, dan itu berbahaya baginya.

Ke-insecure-an Ancika bersumber dari masa lalu Dilan. Sikap yang relate sih buat remaja-remaja generasi sekarang. Apalagi belakangan marak narasi seputar ‘mau gimanapun, kita akan kalah sama mantan’. Kisah Ancika dan Dilan mengajarkan kita bahwa masa lalu memang akan jadi bagian dari kita, enggak akan pernah lepas dari siapa diri kita sekarang. Tapi bukan berarti kita harus kembali kepada masa lalu. Kita kudu ingat bahwa ada alasannya masa lalu itu menjadi masa lalu. Karena ada sesuatu yang not working, dan kita mau memperbaikinya. Jadi, biarkanlah masa lalu untuk jadi pembelajaran saja.

 

Kita bisa lihat sebenarnya cerita Ancika ini memang punya modal untuk garapan yang lebih berbobot (kalo gak mau dibilang dewasa) walaupun perspektifnya datang dari anak SMA. Bahkan sebenarnya justru menarik ketika persoalan seperti penangkapan aktivis dipandang dari mata anak sekolah. Gimana orang-orang yang sedang fokus berjuang ke depan ‘terhalang’ oleh jebakan masa lalu. Aku suka saat Ancika marah kepada Dilan, karena marahnya bukan sekadar cemburu. Melainkan karena merasa dipermalukan. Aku sebenarnya pengen film ini mengeksplorasi lebih banyak pada sudut-sudut dan emosi yang unik seperti demikian. Toh Ancika memang dibentuk berbeda dari Milea. Ancika punya cerita dan masalahnya sendiri, mau itu personal maupun terkait Dilan. Sayangnya, film yang memuat karakter yang lebih dewasa dari sebelumnya ini, yang punya perspektif muda dalam lingkungan yang lebih berbobot ini, yang berpesan untuk tidak kembali kepada masa lalu ini, sendirinya masih terasa tidak mau berbeda dengan film-filmnya yang telah lalu.

Dalam artian, film ini sendirinya seperti menolak untuk jadi dewasa. Masih menolak untuk berpikir audiens mereka bisa menghandle cerita yang lebih berbobot. Sure, film ini dibuat untuk anak muda. Lebih untuk remaja usia Ancika ketimbang usia Dilan. Tapi lihatlah si Ancika. Perspektifnya yang lebih mature dari Milea, atau bahkan beberapa kali lebih mature daripada Dilan yang lebih sering kegep kembali menekuni perbuatan di masa lalu, terasa enggak mencapai full potensial ketika cerita masih meng-treat karakter mereka untuk pacar-pacaran ‘biasa’ saja. Film seperti melihat kesuksesan trilogi terdahulu – yang kurasa kita setujui bersama sebagai film kayak snack yang isinya angin doang – dan menganggap itu sebagai standar yang harus dikalahkan. Bahwa film ini harus ngimbangin itu, maka film ini juga harus sukses menarik perhatian anak muda/remaja dengan cara yang sama. Yang malah membuat film ini seperti meremehkan Ancika-Ancika lain di luar sana.

On second thought, penggemar JKT48 mungkin berpendapat berbeda soal film ini dibuat untuk remaja usia Ancika?

 

Bayangan keberhasilan film-film terdahulu, menurutku membuat film ini tak maksimal sebagai cerita barunya sendiri. Momen-momen seperti Dilan hilang, curiga tertangkap saat aksi demo, seharusnya bisa membuat babak ketiga cerita lebih intens bagi Ancika. Namun justru pada babak terakhir-lah film ini flat. Film seperti mengawang, bingung mendaratkan cerita. Bingung mencari daratan yang bikin lebih baper, ketimbang aksi atau konklusi yang lebih true ke development karakter. Akibatnya, sikap Ancika yang di awal tegas menolak label pacaran (also, momen seru lain sebenarnya melihat Dilan ‘struggle’ menyingkapi tolakan Ancika dengan respek) jadi gak terasa punya journey yang clear sampai bisa berubah menjadi mau pacaran. Penyelesaian manis tiga tahun kemudian pun lantas jadi seperti diburu-burukan. Apa yang seharusnya dapat menjadi sebuah konklusi suka ci(n)ta dari kehidupan segitu banyak karakter yang saling terhubung di setting dunia yang sudah kuat merekat, jadinya hanya terasa berfungsi seperti hiasan cute supaya penonton pulang dengan perasaan puas semata.

 

 




Fungsinya memang terlaksana. Film ini jadi penutup yang hangat. Tapi kupikir harusnya film ini bisa lebih. Satu film ini harusnya bisa lebih nendang ketimbang trilogi sebelumnya, karena memang ini much better secara materi dan eksekusi teknis. Dari trilogi Dilan, menurutku yang paling lumayan adalah Dilan 1991, dan film kali ini bahkan lebih kuat daripada film itu. Props juga buat akting dua karakter sentral. Dinamika dan chemistry mereka tampak fun. Tapi kemudian film ini melakukan hal yang sudah benar tidak dilakukan oleh karakternya. Kembali ke masa lalu. Keinginan untuk tetap ringan, menghambat film. Karena ceritanya sebenarnya sudah berkembang, sudah lebih dewasa. Karakter-karakternya juga. Walau masih muda, perspektif mereka lebih berbobot. Film tidak diarahkan mengikuti kedewasaan mereka. Sehingga belum terasa maksimal. Aku gak minta untuk jadi ribet dan njelimet, tone ringan dan uniknya sudah tepat, tapi at least development mereka tidak diloncat. Manis tidak diburukan. Situasi latar dunianya juga bisa paralel dan lebih nyantol dengan lebih enak.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for ANCIKA: DIA YANG BERSAMAKU 1995

 

 




That’s all we have for now.

Dari empat film universe Dilan, urutan favorit kalian seperti apa? Apakah menurut kalian, Dilan bakal jadi romans remaja klasik di masa depan?

Silakan share pendapatnya di komen yaa

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



MONSTER Review

 

“You can call me a monster. That’s fine. It honestly doesn’t bother me. Because you see, that’s what society does, they put labels on things they don’t understand.”

 

 

Monster besutan Kore-eda Hirokazu seperti mengajak kita bermain-main dengan prasangka. Vibe yang dibuat misterius lewat konsep melihat kejadian dari berbagai sudut seolah menuntun kita kepada pertanyaan “siapa sebenarnya yang monster di sini?” Aku sendiri teringat sama kalimat promo dari salah satu superstar WWE jagoanku, Bray Wyatt (rest in peace). Kalimat yang aku kutip sebagai penggalan pengantar ulasan ini. Basically karakter/gimmick Bray Wyatt saat mengucapkan itu adalah seorang yang merasa dirinya berbeda, dan orang-orang yang tidak mengerti dirinya, takut kepadanya. Mencampakkan dirinya. Namun upon arriving to the squared-circle, Bray telah mengembrace perbedaan dirinya, dan menjadikan itu sebagai kekuatan. He now takes back control from them. Dia tidak lagi peduli sama yang orang-orang katakan terhadapnya. Kalimat itu mengantarkanku kepada pemahaman bahwa film Monster pada intinya adalah sebuah journey menuju self honesty seperti yang telah diembrace oleh Bray Wyatt (walau karakter film ini tidak mesti berakhir jadi sekelam Bray Wyatt). Dan dalam journey nya tersebut, setidaknya ada  empat jenis ‘monster’ yang dibicarakan oleh karya Kore-eda ini.

Jika kita sama judgmental-nya dengan society yang suka dengan cepat melabeli orang yang ‘berbeda’ sebagai monster, atau alien, atau whatever, maka kita juga akan cepat melepehkan film ini without giving it much thought. Naskahnya, dari luar, tampak berpindah ke mana-mana tanpa karakter utama yang jelas.  Konsep kembali kepada kejadian A tapi dari perspektif yang berbeda, bisa sekilas tampak seperti usaha manipulatif arahan yang menyandarkan diri kepada kejutan-kejutan dari pengungkapan kejadian. Monster dibuka dari seorang single mother yang merasa kelakukan anaknya yang baru kelas 5 SD jadi berubah, dan dia mencurigai itu semua karena ulah wali kelas anaknya di sekolah. Sehingga si ibu mulai mencecar sekolah yang juga tampak menutup-nutupi kejadian. Kemudian cerita memindahkan kita ke belakang si wali kelas, guru cowok yang ternyata tidak sejahat ataupun seaneh kelihatannya. Dan finally di pertengahan akhir, film akhirnya settled di bahasan dari perspektif Minato, si anak kelas 5, yang sikap dan tingkah lakunya bikin cemas ibunya tadi. Bukan hanya tiga perspektif, film ini actually juga bisa dibilang berpindah genre tiga kali. Di awal seperti thriller, lalu jadi studi karakter yang ironis, dan berakhir sebagai drama anak-anak. Perpindahan tersebut tidak dilakukan dengan se’sopan’ cara film menceritakan/mengeksplorasi tiap sudut pandang karakter (lewat sinematografi dan musik yang brilian), melainkan dengan deliberately rough. Kembali ke kejadian sebelumnya dengan memusingkan tanpa tedeng aling-aling. Inilah yang membuat kita urung menjudge terlalu cepat. Desain yang diniatkan seperti begini, justru semakin menarikku masuk dengan pertanyaan-pertanyaan seperti “Kenapa Kore-eda melakukannya seperti ini?”

Kenapa, jika cuma ingin memperlihatkan prasangka yang ternyata membuat semua orang adalah ‘monster’ bagi orang lain, film berkutat lama di perspektif Minota dan ‘teman rahasianya’ Yori Hoshikawa?

Kenapa pula, jika inti yang ingin diceritakan itu adalah drama anak yang merasakan sesuatu yang tak-biasa di dalam dirinya, film ini harus melewati perspektif karakter yang lain terlebih dahulu? 

Clearly, film ingin penonton merasakan. Bukan hanya merasakan dramatic irony, ataupun kejutan-kejutan ‘oh ternyata dia begini, dia tidak jahat, dan sebagainya’. Melainkan film ingin penonton merasakan atau mengalami sendiri keadaan yang menciptakan berbagai bentuk monster. Dan ultimately film ingin penonton merasakan journey yang dialami oleh seseorang ketika dia mulai merasa benar dirinya adalah monster.

Kalo ini film indonesia, pig-brain kayaknya bakal ditranslate jadi ‘otak-kebo’

 

Kita diperlihatkan gimana monster di film ini terbentuk lewat bagian awal yang membahas perspektif ibu Minato. Gimana bola liar desas desus membuat dia jadi mengantagoniskan pak guru. Lalu membesar mencurigai pihak sekolah, mencurigai kepsek. Bahkan si ibu jadi melihat Minato, anaknya sendiri sebagai ‘monster’. Bentuk monster pertama yang diperlihatkan oleh film adalah monster prasangka. Pak Guru yang malang; hanya karena pembawaan dan gesturnya, apapun yang ia lakukan (meskipun niatnya baik) mudah disalahartikan oleh orang lain sebagai tindakan yang creepy. The worst part about monster tipe ini adalah, dirinya sendiri tidak mengerti atau tidak bisa melihat kenapa orang lain bisa melihatnya dalam ‘cahaya’ yang menakutkan seperti itu. Ini mengakibatkan pembelaan yang dia lakukan akan semakin memperparah keadaan. Monster kedua juga datang dari orang luar, tapi dari pelabelan. Di film ini contohnya adalah sahabat Minato, si Yori Hoshikawa, yang dilabeli monster oleh ayahnya sendiri karena Yori ini anak cowok yang ‘kemayu’. Walau Yori tampak oke-oke saja dikatain monster dan dijauhi teman, the heartbreaking part darinya adalah anak sekecil dia bahkan belum paham yang ia rasakan itu enggak exactly hal yang salah, tapi dia hanya bisa nurut saja ketika dipahamkan oleh orang lain bahwa dia adalah kesalahan yang harus diperbaiki. Monster ketiga adalah kebalikan dari semuanya. Datang dari dalam diri sendiri, dan full aware yang ia lakukan pantas untuk membuat dirinya disebut monster, meski dia tahu dia tidak punya pilihan. Monster tipe berahasia ini adalah kepala sekolah Minota. Ibu guru yang melakukan hal buruk secara tak sengaja di masa lalu, tapi mau tak mau dia harus menutupi kejadian tersebut. Karena dia punya tanggungan dan hal lain yang dipertaruhkan. Nyesek, ketika kita lihat misalnya pada adegan niup terompet itu, bahwa dia aslinya adalah pribadi yang sangat lembut dan baik lagi bijaksana. Namun selain tiga tipe monster itu, yang paling malang sekaligus berbahaya adalah tipe monster yang hampir saja ‘jadi jelmaan’ oleh Minato, yang actually adalah gabungan terburuk dari yang dirasakan/dialami oleh Pak Guru, Yori, dan Bu Kepsek.

Yang paling berbahaya itu adalah monster yang disebut dengan self-loathing. Orang yang memonsterkan dirinya sendiri, dan berkubang dalam perasaan buruk dan prasangkanya sendiri. Orang yang self-loathing akan menghindar dari minta tolong, dan bahkan bisa sampai menyakiti diri sendiri.

 

Itulah kenapa cerita ini sebenarnya merupakan cerita Minato. Anak yang tahu persis dirinya ‘berbeda’ dari anak cowok lain, dia knows better about himself ketimbang Yori terhadap dirinya sendiri, tapi juga tidak seberani Yori. Sehingga Minato memendam semuanya di dalam diri. Minato punya rahasia seperti Bu Kepsek tapi tidak punya positif force behind it, selain takut malu dan tidak diterima oleh teman-temannya. Dia takut ketahuan kalo dia suka ama cowok. Minato bahkan tidak mau nunjukin dia bersahabat akrab dengan Yori di depan teman-teman sekelas yang lain. Kediam-diamannya ini membuat dia tampak aneh di mata ibunya. Yang gak beres pada Minato jadi terlihat lebih besar oleh sang ibu. Tindakan Minato seperti potong rambut diri sendiri bisa demikian red flag bagi ibu (padahal alasannya either karena sesimpel keinosenan anak kecil yang mau ngilangin ‘noda’ bekas disentuh oleh teman yang dianggap ‘berpenyakit’, atau hanya karena tidak mau rambut panjangnya dianggap kecewek-cewekan). Bayangkan gimana reaksi ibu begitu mendengar Minato bilang soal terlahir kembali saat ngobrolin ayah yang sudah meninggal. Kalo sudah menumpuk begitu, biasanya orang seperti Minato akan menarik diri dari lingkungan sosial. Dan itulah yang persisnya Minato lakukan di pertengahan akhir cerita.

Jadi film ini adalah journey Minato menemukan kedamaian atas dirinya yang sebenarnya. Stake cerita ini adalah salah pilih sedikit, Minato akan benar-benar jadi monster self loathing yang berbahaya terutama bagi dirinya sendiri. Beruntung dirinya punya sahabat dan tempat pelarian, yaitu Yori. Di pertengahan akhir itulah, film menjadi tontonan yang dramatis lagi beautiful dalam memperlihatkan struggle Minato – yang masih seorang anak kelas lima SD! Pencarian jati diri, menghadapi resiko bullying, ‘berguyon’ dengan ide telahir kembali, dilakukan oleh film dengan penuh respek terhadap perspektif, dengan desain detil, menutup kepada sebuah kejujuran dan penerimaan diri yang dengan metaforanya sendiri memperlihatkan ‘lesson learned, tapi hidup hanya akan lebih menantang dari sini’.

Yes, we are little dirty monsters from the forest. So what?

 

Konsep/struktur tiga perspektif, dan cerita yang seperti berevolusi antara tiga ‘genre’ berbeda, secara psikologis membawa kita ke dalam journey yang dialami karakter dan lingkungan mereka. Kita jadi melihat monster-monster itu bisa bertumbuh dari karakter yang begitu compelling dan terasa dekat karena mereka hidup dalam environment yang sederhana. Film ini tidak lagi terasa seperti kecohan dari kenyataan yang sengaja disembunyikan belaka. Everything we see is not what it seems, terutama jika kita terbuka melihat dari sudut pandang lain. Dan ini diwujudkan oleh film ke dalam visual-visual yang punya tone misterius yang kuat sehingga minat penonton juga semakin membendung menyaksikannya. Satu lagi adegan yang artinya bisa mendua, yang aku suka di film ini adalah adegan penghapus jatuh. Ibu Minato hendak pergi beli semangka, dan saat dia lewat Minato sedang menyondongkan badan ke bawah hendak mengambil penghapusnya yang jatuh ke lantai. Adegan itu langsung dicut memperlihatkan Ibu kembali dari belanja, dan saat masuk dia melihat Minato masih dalam posisi nyondongin badan ke bawah yang sama dengan saat dia pergi. Seolah Minato gerakannya berhenti saat dia pergi, dan baru bergerak lagi saat dia pulang. Ini kan misterius sekali. Kalo baru nonton otomatis kita akan menyangka hal yang serupa dengan Ibu “Ni anak kesurupan apa gimana sih!?”  Tapi tentu saja adegan tersebut bisa jadi hanya kebetulan penghapusnya jatuh lagi, dan kengerian itu hanya berasal dari prasangka ibu terhadap Minato berkelakuan aneh yang sudah terbangun sebelum kejadian tersebut terjadi.

 

 




Tahun 2024 kayaknya bakal jadi roller coaster yang hebat, sebab kemaren film pertama yang aku review ‘meh’ banget, dan film kedua di ulasan tahun ini. WOW. At first, aku memang honestly cukup judgmental terhadap penceritaannya yang seperti mengarah ke ‘ternyata begini, ternyata begitu’ doang. Tapi ternyata, aku menyadari film ini punya desain khusus dalam menyampaikan journey karakternya. Journey yang hanya bisa maksimal jika kita ikut secara menyeluruh merasakan gimana ‘monster’ itu bisa terbentuk. Yang lantas ditutup dengan pilihan karakter untuk mengembrace monster versi dirinya sendiri. Awalnya bermain dengan prasangka, tapi film justru menjadi begitu powerful dengan berkembang membuat kita berefleksi, berkontemplasi, bukan tidak mungkin di antara kita jadi ada yang menunjuk hidungnya sendiri demi mendapat jawaban masing-masing dari menonton film ini. Film Jepang ini ticked the box untuk ‘syarat’ skor tertinggiku. Cerita yang berevolusi, dengan konsep yang kuat dan karakter dan dunia yang luar biasa compelling.
The Palace of Wisdom gives 9 out of 10 gold stars for MONSTER

 




 

That’s all we have for now.

Tanyakan kepada diri sendiri, monster seperti apakah aku?

Dan jika tidak keberatan, silakan share di komen yaa

Jangan lupa untuk subscribe Apple TV, ada banyak serial dan film-film original yang tayang di sana. Di antaranya adalah Killers of the Flower Moon yang masuk dalam Daftar Top-8 Film Favoritku tahun 2023. Tinggal klik di link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL