BABYLON Review

 

“The cinema has no boundary; it is a ribbon of dream.”

 

 

Tempat paling ajaib di dunia, kata Damien Chazelle dalam karya terbarunya ini, adalah set alias tempat orang syuting film. Karena film memanglah seperti sebuah keajaiban – sihir!- yang ditangkap pada layar. Kita tahu satu adegan film saja, adalah kerja sama begitu banyak orang, begitu banyak keahlian, begitu banyak ‘trik’ untuk membuatnya entah itu beneran seperti sedang terbang atau sesimpel berjalan di hutan. Aku beruntung pernah diijinkan untuk tiga malam hang out di set film, melihat-lihat cara orang bikin dan merekam adegan, ngobrol ama kru-kru dan nanya-nanya ama pemain. Ya, suasana dan segala yang ada di situ memang terasa out-of-the-world. Saat itu aku menyaksikan gimana tembok bata dari rumah terbengkalai mereka sulap jadi gedung gereja, gimana papan kayu jadi sumur di tengah hutan. Yang kurasakan itu ‘baru’ dalam skala film lokal. Sedangkan yang diangkat oleh Damien Chazelle dalam film grande tiga jam lebih ini adalah studio film terbesar di jagat kita, Hollywood. Babylon merupakan kisah fiksi namun dengan latar yang tepat sesuai sejarah Hollywood, mengambil fokus kepada masa transisi dari era film bisu ke film bersuara. Dan di sini, Damien seolah benar-benar mengajak kita ke belakang tirai ajaib itu. Melihat kontras di balik film yang tampak romantis, elegan, penuh passion dan mimpi: Drugs, kehedonan, serta desperation dari karir-karir yang naik untuk kemudian lantas tergantikan.

Kata yang tepat untuk film ini mungkin, ya, surat cinta. Tapi Babylon bukan tipe surat cinta yang sama dengan yang dikirim Damien lewat La La Land (2017). Kali ini, Damien Chazelle merayakan kecintaannya kepada sinema, sekaligus menyentil industri Hollywood itu sendiri. Itulah kenapa film ini meledak-ledak, vulgar, dan over-the-top. Semuanya terasa chaotic, apalagi film ini punya banyak sekali karakter supaya kita benar-benar bisa melihat bagaimana industri film yang terus berkembang berdampak kepada manusia-manusia yang strive untuk mewujudkan mimpi dan passion mereka. Kita melihat gimana film-bersuara, menjadi peluang karir bagi seorang pemusik jazz kulit hitam. Sementara juga membuat penulis title/dialog film bisu kehilangan posisi. Dari semua karakter, tiga yang jadi fokus utama adalah Nellie LaRoy (Margot Robbie), Jack Conrad (Brad Pitt), Manny Torres (Diego Calva). Nellie seorang figuran muda, yang percaya dirinya adalah bintang.  Kesempatan untuknya menunjukkan sinar datang ketika dia dipilih buat meranin seorang pelayan bar, and she nails it. Tapi kemudian tantangan baru muncul ketika studio mulai pindah ke film bersuara. Also, gaya hidupnya yang kelewat glamor mulai berdampak buruk. Sebaliknya, Jack adalah aktor senior di MGM. Aktor dengan bayaran tertinggi. Konflik dirinya muncul tatkala semua film terbarunya flop di box office. Dia maunya percaya itu semua karena era baru film, tapi dia akhirnya harus nerima kenyataan yang lebih pahit lagi. Dan dari sudut lain ada Manny. Yang berangkat dari pelayan, ke tukang cari properti, ke asisten, hingga jadi studio executive. Ketika sudah di atas, Manny mulai merasakan efek dari sisi gelap industri, ketika dia mulai harus membuat keputusan-keputusan yang dia tahu enggak bener demi kemauan studio.

Menariknya lagi, karakter-karakter ini konon ditulis dengan referensi tokoh real di Hollywood

 

Melalui ketiga karakter tersebut  evolusi industri di Hollywood mulai dari tahun 1926 hingga ke 1930an dihamparkan. Kita akan melihat bagaimana mereka ‘bereaksi’ dan memilih aksi mengikuti perkembangan teknologi perfilman. Ketiga karakter ini pun bertransformasi sejalan dengan dunia mereka. Jadi bisa dibilang menonton Babylon ini seperti menonton karikatur sejarah Hollywood. Apalagi Babylon memang menggambarkan periode-periode itu dengan blak-blakan. Misalnya, ‘ajaib’ yang dimaksudkan saat berkata ‘set film adalah tempat paling ajaib di dunia’ tadi itu adalahbetapa rusuhnya sebenarnya proses syuting, tapi tetap berhasil tertangkap menjadi adegan dan film yang bagus. Saat nonton mereka syuting film perang kolosal bisu itu, aku beneran nyangka filmnya bakalan kacau. Gimana tidak coba; karena saat itu masih bisu, yang artinya studio hanya merekam gambar, di satu lokasi (padang gersang luas) ada banyak film/adegan yang disyut dalam waktu bersamaan. Dalam tone kocak, Babylon membuat syuting yang melibatkan banyak pemain ekstra tersebut dengan begitu rusuh. Skripnya ‘diperbaiki’ on the go, oleh Jack, sambil menenggak alkohol. Ekstra-ekstranya  ada yang terluka beneran (bahkan tewas hihihi). Kamera mereka rusak sehingga Manny harus ke kota minjem yang baru secepat mungkin, sebab sutradara mengejar waktu sunset. Dan ketika sudah mau mulai take adegan, si Jack udah terlalu mabok bahkan untuk berjalan. Semua itu kayak udah mau gagal. Tapi AJAIBNYA saat kamera roll, Jack mampu berakting ekspresi yang sempurna. Cahaya yang diincar dapet. Properti ledakan sukses. Semua kerusuhan dan kekacauan dan cek cok dilupakan. Semua bersorak mereka telah berhasil merekam adegan yang dahsyat. Babylon, dengan caranya tersendiri, berhasil membuat kita percaya para karakter – yang mewakili aktor-aktor dan pekerja film sekalian – adalah profesional yang benar-benar punya passion.

Sehingga industri Hollywood yang terus berkembang seiring teknologi dijadikan oleh film ini selain sebagai panggung, juga sebagai tantangan. Hollywood jadi karakter antagonis tersembunyi. Ketika teknologi untuk membuat film-bersuara ditemukan, kita diperlihatkan proses syuting yang kontras sekali dengan adegan syuting yang pertama tadi. Kali ini syuting dilakukan di dalam warehouse studio, tertutup, panas (karena kalo pakai AC nanti suaranya ikut kerekam). Bagi Nellie dan sutradara dan para kru, proses syuting film bersuara pertama mereka ini penuh tantangan, dan film sekali lagi menggambarkan frustasinya mereka dengan kocak. Enggak hanya harus menghapal naskah, Nellie disusahkan aktingnya oleh gerak yang kini terbatasi oleh posisi mic, misalnya. Tidak ada yang boleh bersuara. Kita bisa melihat take demi take untuk satu adegan yang terus aja ada salah teknis tu, membuat semua orang yang terlibat menjadi semakin senewen. Tapi karena passion itu tadi, they pulled through. Adegan sukses terekam (finally) dan semua bersorak. Melihat mereka berhasil rasanya ekivalen dengan kita menonton superhero berhasil mengalahkan musuhnya. Kekocakan dan kerusuhan bikin film tersebut lantas membawa kita kepada drama yang lebih personal tatkala tantangan itu semakin jauh dari zona nyaman para karakter. Ketika Hollywood terus melaju, menuntut mereka untuk memilih pada satu pilihan terakhir, stay atau pergi.

Sinema bagai mimpi yang tak terbatas. Itulah yang membuat Hollywood menjadi seperti kota Babylonia. Kota yang terus membangun menara setinggi langit, untuk mengejar posisi para dewa. Mengejar keabadian. Para ‘warga’ Hollywood juga mengejar hal yang sama. Dan dalam perjalanannya, tersilaukan oleh hal yang sama dengan yang membuat Babylonia ditertawai oleh para dewa. Ultimately, mereka harus sadar dari pesta pora. Bahwa – pepatah kita bilang manusia mati meninggalkan nama, no – manusia hanya bisa meninggalkan nama. Sementara film dan seni akan terus berkembang, manusia akan tergantikan. Beberapa tidak akan sampai ke puncak.

 

Ajaib tapi kasihan

 

Aku bahkan gak yakin di ending yang Manny nangis nonton Singin’ in the Rain itu harus merasakan apa. Merasa terkecoh, sih yang jelas. Karena seperti Tar (2022), ending Babylon juga sempat membuatku berpikir jangan-jangan film ini dari kisah nyata hahaa.. Tapi ini tentu saja terkecoh yang bagus, like, “that’s so good, you got me!” Pada momen itu memang Babylon mencuat jadi bagus, karena berhasil mengevoke dilema perasaan yang nyata. Apakah Manny nangis haru karena kisah mereka menginspirasi orang lain untuk film baru? Atau merasa kecewa karena bukan dia yang melihat itu sebagai karya? Babylon membuat kita mengalami chaosnya menjadi ‘penduduk’ dari sesuatu yang dengan cepat berubah, membuat kita melihat sesuatu yang grounded dari mereka semua.

Walaupun memang, dari presentasinya sendiri, Babylon ini merupakan film yang cukup susah untuk diikuti karena terlalu blak-blakan dan over-the-top. Film enggak takut untuk menjadi vulgar dan jorok, dan bahkan berdarah, karena di lain sisi, memang begitulah yang paling tepat untuk menggambarkan cara orang ‘survive’ di kota penggapai dewa tersebut. Selain tone dan gaya bercerita, banyaknya karakter juga bakal membuat penonton susah untuk attach. Pertama karena tidak semua dari mereka ditulis berimbang. Dan kedua, karena konsepnya adalah memperlihatkan bagaimana mereka bereaksi terhadap perkembangan jaman, maka film tidak benar-benar menyelam ke dalam journey mereka. Kita hanya melihat para karakter sebagai poin-poin. Mana motivasi, mana konflik, mana resolusi. Kita tidak pernah benar-benar utuh bersama dengan mereka. Akibatnya lagi, relationship yang terjalin antarkarakter jadi tidak mencapai efek maksimal. Salah satu hati dari cerita ini adalah hubungan yang terjalin antara Nellie dengan Manny. Aku suka dialog pas mereka pertama kali berjumpa. Mereka ngobrolin soal passion yang sama. Bahwa mereka akan sukses bareng di dunia perfilman. Itu salah satu momen genuine yang dipunya oleh film. Tapi pengembangan ini kemudian tidak terasa mengalir, karena ya kita hanya dibuat melihat mereka dari poin-poin itu tadi. Hubungan profesional dan hubungan mereka secara personal tidak pernah jadi diarahkan dengan jelas. Sehingga ketika di akhir mereka sepakat untuk hidup bareng, momennya kurang nendang. Aku gak tau apakah ini mungkin, tapi rasanya film ini perlu ngurangin sedikit energy chaoticnya supaya para karakter bisa lebih hidup lagi.

 




Film dalam film; film yang pakai adegan yang memperlihatkan backstage pembuatan atau bisnis film, selalu jadi soft-spot buatku. Makanya nonton film ini aku puas. Makin lama adegan-adegan mereka syuting, aku lebih senang. Dan di sini banyak banget adegan bikin-filmnya. Aku selalu kagum sama aktor yang berakting sedang akting, dan di sini mulai dari Margot Robbie hingga ke Brad Pitt nunjukkin penampilan akting yang demikian dengan sangat juara. Energi overall film yang chaotic dan over-the-top tidak menyentuh penampilan akting mereka yang total. Kecuali mungkin pas Nellie ceritanya mau melawan ular, itu konyol banget sumpah. Kayak kartun. Tapi sepertinya memang itulah konsep film ini. Kartun, parodi, dari bagaimana industri Hollywood berpengaruh kepada para pengejar mimpi seperti Nellie, Manny, Jack, dan banyak karakter lain. Cara lain untuk memandang film ini, adalah bahwa ia merupakan surat cinta tak-biasa, karena surat ini bukan hanya ungkapan perasaan yang merayakan cinta kepada sinema, tapi juga sentilan terhadap arahan industrinya. Perubahan itu bagus, dan bakal terus terjadi. Film sekarang bukan hanya bersuara, tapi berkembang lebih edan lagi dengan teknik digital, yang tentu saja ngasih challenge dan tuntutan baru. Semoga kecepatan itu tidak menjadi momok dan membuat kita lupa berpegang pada mimpi pada awalnya. 
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for BABYLON

 




That’s all we have for now.

Jangankan Hollywood, di kita aja perputaran industri sudah cukup cepat. Salah satunya keciri dari cepatnya pergantian aktor-aktor muda. Bermunculan sutradara-sutradara baru dengan gampangnya. Apakah menurut kalian ini hal yang bagus atau gimana, mengingat state perfilman kita sekarang?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MANGKUJIWO 2 Review

 

“The sins of parents bleed further in the children”

 

 

Moral kebanyakan cerita horor adalah soal manusia ternyata lebih seram, lebih jahat, daripada hantu. Mangkujiwo karya Azhar Kinoi Lubis menekankan ‘moral’ tersebut dengan lebih jelas lagi, karena yang ia bikin di sini sebenarnya lebih sebagai sebuah thriller sadis perebutan kekuasaan supernatural. Thriller tentang manusia-manusia yang saling serang dengan ilmu hitam, saling memanipulasi untuk tujuan duniawi, dan para makhluk gaib tak lebih dari senjata yang diperebutkan. Dan manusia yang lebih lemah, jadi budak yang diperalat. Bagai pion yang digerakkan ke sana kemari. Or worst, jadi tumbal. Eksistensi film ini sebenarnya menarik, dan patut disyukuri. Karena ngasih warna berbeda pada genre horor lokal, memusatkan pada galian yang identitas klenik yang benar-benar lokal. Tapi film pertamanya tahun 2020 lalu itu, aku kurang suka. Mainly, karena kurang baiknya penggarapan naskah. Mangkujiwo pertama kayak orang yang mumbling nonsense. Begitu sibuk berkutat pada lore, istilah-istilah, dan eksposisi pembangunan dunia. Jadi aku tahu perbaikan apa yang kuharapkan pada sekuelnya kali ini. Satu hal yang pasti, Mangkujiwo 2 berpegang erat pada elemen-elemen yang diapresiasi penonton pada film pertamanya. Desain produksi dan artistik.  Yang paling kuingat di film pertamanya itu memang adalah penggunaan binatang-binatang horor (alias jijik) yang kayak asli. Nasi dicampur isi perut tikus, wheew masih kebayang ampe sekarang. Dan di film kedua ini, tikus-tikusnya memang dihadirkan lebih banyak lagi!!

As far as the opening goes, aku suka sama film kedua ini. Di pembuka itu kita ditempatkan di dalam studio bioskop. Lagi ada pemutaran film. Lalu kita melihat Uma, gadis yang bisa memanggil Kunti setiap kali dia terluka tak sadarkan diri, nonton di tengah-tengah barisan. Di belakang Romo-nya dan orang-orang penting lain. Bagi Uma, something feels off. Awalnya kupikir dia diserang gelombang panik. Mendadak dia melihat penonton lain di sekelilingnya dibantai oleh gerombolan orang yang datang entah dari mana. Uma berlarian, nangis kejer kalo istilah sekarang. Belakangan, kita tahu yang dilihat Uma roh-roh orang yang dulu memang pernah dibantai di situ. Ini opening yang decent banget, gak sih, buat cerita horor. Perfectly ngeset up tone keseluruhan, sekaligus ngasih tau permasalahan apa yang bakal menghantui karakternya.  Tapi kemudian film sampai pada bagian dialog-dialog karakter, dan it was still a meh. Mangkujiwo 2 masih tetap terbebani oleh segala macam eksposisi. Barulah ketika penjelasan dan intrik-intrik cerita sudah out-of-the-way, ceritanya kembali jadi sedikit lebih enak untuk dinikmati.

Jadi kenapa karakter Sujiwo Tejo ini bersikeras nyuruh orang memanggil dia Romo?

 

Masih ingat kemaren kita membahas film Autobiography yang serasa film horor meski tanpa setan? Nah, Mangkujiwo 2 ini kayak Autobiography jika film itu beneran film horor, dan agak sedikit lebih susah dalam berbicara. Permasalahannya mirip.  Mangkujiwo 2 juga punya latar politik yang seperti gambaran dari rezim-horor kita. Tapi di sini diceritakan ada higher power dari politik itu. Ada mastermind yang mengatur semua. Orang itu adalah Romo Brontosaurus. Eh salah, Romo Brotoseno. Bayangkan pemain catur, itulah posisi si Romo. Bidak-bidaknya adalah Jenderal, orang-orang gede lain, dan rakyat tak berdosa, seperti Uma, dan karakter fotografer yang diperankan oleh Marthino Lio, bernama Rimba. Rimba ini anak seorang aktivis yang dibunuh oleh Jenderal. Ya, sekarang bidak-bidak lama dan baru itu sedang diadu oleh Romo. Film mulai kerasa ‘enak’ ketika konflik seputar Rimba mulai dikembangkan. Pada review Mangkujiwo pertama aku menyebut film tersebut  tidak meninggalkan kesan apa-apa. Melainkan hanya nonsense dan kekerasan (pada perempuan pula!) Film itu tidak punya genuine feeling di baliknya. Film itu tidak punya cinta. Aku bukannya ge-er bilang film ini mendengarkanku atau apa, cuma yang jelas step up yang dilakukan film kedua ini adalah mereka actually memasukkan cinta ke dalam narasi. Ada suntikan feeling yang bisa kita rasakan, bisa kita ikuti di balik sadis dan jijiknya tikus-tikus itu sekarang. Cinta itu salah satunya datang dari hubungan antara Rimba dengan Uma. Dunia Mangkujiwo terasa jadi sedikit lebih hidup karena sekarang ada karakter dengan perasaan yang bisa kita relasikan, enggak melulu soal rebutan kekuatan dan kekuasaan. Anyway, jadi nanti Rimba ceritanya mulai sadar dan mengajak Uma untuk basically wake up.  Untuk melihat bahwa si Brotoseno bisa jadi bukan Romo, bukan ayah, sebaik yang Uma sangka. Anak muda seperti mereka harus melek, harus mengenali siapa, darimana; sejarah mereka. Jika tidak, mereka akan mengulangi ‘dosa’ negara, orang-orang sebelum mereka. Karena Romo sedang membuat mereka berjalan di siklus horor rezim dendam antar-generasi.

Perihal sejarah kelam akan terus berulang dijadikan film sebagai latar dari dunia horor cerita. Bahwa dosa orangtua, dosa generasi sebelumnya, akan diteruskan. Akan terpetakan pada generasi muda sesudahnya. Dan itu terjadi karena ada satu orang yang mengendalikan semuanya. Ada satu  pihak, dalam hal ini si Romo, yang seolah gak ikut campur dan kayak orang baik, tapi ternyata mengatur dan menghendaki itu semua demi kepentingannya sendiri. Jadi sebenarnya menarik juga untuk menelisik, di mana film ini meletakkan garis antara fiksi dan gambaran nyatanya?  Apakah film ini suggest ada higher power, ada sosok ‘Romo’ di balik kemelutnya negeri kita?

 

Seharusnya film menjadikan kisah Rimba dan Uma sebagai fokus. Paruh akhir ketika kita sudah bisa ‘melihat’ jelas karakter-karakter ini adalah bagian terbaik dari Mangkujiwo 2. Sayangnya, bagian ini seperti joke “kamu itu punya inner beauty, tapi terlalu dalam, gak keliatan”. Secara keseluruhan film masih sumpek oleh tetek-bengek istilah dan segala macamnya. Cerita dengan dunia dan logika sendiri memang selalu punya tantangan besar untuk membangun dunia itu. Terlalu banyak eksposisi, penonton bingung sama ‘aturan’ dunianya, memang jadi sandungan yang lumrah. Beberapa film toh mampu untuk melakukannya tanpa terlalu banyak merusak narasi dan tempo. Avatar pertama misalnya, aku kagum gimana dengan cepat dan efektif film itu menghamparkan sains teknologi avatar dan soal bulan Pandora. Ketika bicara Avatar, kita selalu kepikiran soal visual dan teknisnya, sehingga lupa kunci rahasia dari pencapaian film itu adalah naskah yang efektif. Penempatan dan pemampatan eksposisi yang terukur dan tepat-guna, karena film punya alur yang jelas. Sebaliknya, ini jugalah kenapa dua film Mangkujiwo seperti kesusahan dalam bertutur.

Film ini tidak punya plot yang jelas. Film ini cuma punya kejadian demi kejadian demi kejadian yang diungkap oleh ternyata, ternyata, dan ternyata. Plot yang dimaksud di sini adalah alur dari karakter, perspektifnya apa, maunya apa, journey-nya apa. Film ini bahkan gak punya bangunan yang jelas merujuk karakter utamanya. Dari opening, sepertinya Uma yang diperankan Yasamin Jasem adalah karakter utama. Tapi bukan, Uma terlalu pasif untuk jadi protagonis utama. Peran karakternya di sini ya cuma untuk manggil si Kunti. Uma repetitif banget. Ngelihat bayangan pembantaian – dirinya dipukulin beneran – pingsan – nyanyi Lingsir Wengi – lalu muntah setelah Kunti beraksi. Yang benar-benar aktif sebagai hero dan punya motivasi adalah Rimba. He’s the perfect choice untuk bawa plot yang jelas, tapi dia treatment-nya layaknya karakter pendukung saja. Karena sebenarnya film sudah mengeset Romo sebagai karakter utama. Ya, sama seperti pada film pertama, Mangkujiwo 2 juga sebenarnya adalah cerita tentang villain. It’s okay sebenarnya buat film menjadikan not-good person sebagai karakter utama. Malah bisa jadi menarik, kan, kita langsung melihat dari perspektif penjahat kayak di film Henry: Portrait of a Serial Killer. Hanya saja, sudah melakukan dua kali, tapi film ini tetap belum benar-benar total merangkai ceritanya ke dalam perspektif jahat si Romo. Karakternya gak punya journey, gak ada stake kuat, dan dia selalu ‘benar’. Film ini sempat juga mencoba untuk membuatnya menghibur kayak Jigsaw, yang sekilas John Kramer kayak kalah, tapi semua terkuak ternyata berjalan sesuai perhitungannya. Romo juga ada bagian kayak dia ‘kalah’, tapi enggak. Dan di momen itu, yang diinginkan film belum nyampe karena karakter Romo belum ada di level simpatik ataupun kita pedulikan seperti itu.  Film ini pengen kompleks dan different, tapi sendirinya belum mampu merangkai yang diincar dengan lancar.

Who lets the rats out? Who, who, who

 

Ambisius, sepertinya memang begitu. Walaupun karakter-karakternya banyak yang dihidupkan agak over-the-top, tapi film ini punya dialog yang cukup bermakna. Bukan dialog receh. Film ini cukup serius. Apalagi ketika menggarap horor dan adegan sadisnya, kita bisa lihat film ini gak main-main. Meski memang gak semua usahanya work out. Yang berhasil, kayaknya ya tikus-tikus itu. Aku nonton ini sampai – maaf – angkat kaki ke kursi, karena takut kalo-kalo ada tikus beneran di bawah tempat duduk hahaha.. Penempatan tikus untuk horor, fungsinya dalam narasi, berhasil dimasukkan. Adegan pembunuhan sadisnya, juga cukup oke. Cuma yang aneh adalah sosok kuntilanaknya. Asmara Abigail tidak reprising her role sebagai Kanti di sini, dan sebagai gantinya kita dapat kuntilanak merah yang generik banget. Cuma melayang di sana sebelum menyerang. Sama seperti Uma, Kuntinya repetitif dan gak berkesan. Atau mungkin kita yang sudah terlalu capek untuk terkesan. Capek sama mumbo-jumbo dan kerumitan bercerita. Terakhir, yang enggak banget, yaitu kekerasan pada perempuannya. Elemen ini dipertahankan oleh film. Aku ngerti, bukan ini saja horor yang ‘nyerang’ cewek. Bahwa ada sesuatu yang ingin dikatakan oleh horor saat menjadikan karakter perempuan berjuang hidup-mati. Di sini, mungkin untuk menyimbolkan patriarkal, kepemimpinan laki-laki, tapi yang film ini lakukan untuk itu kadang ‘maksa’. Jatuhnya ya jadi kayak eksploitatif. Salah satu yang paling ‘maksa’ itu adalah saat adegan yang goalnya adalah mempertemukan Rimba dengan Kunti. Gak natural banget kelihatannya Rimba bisa gak sengaja mukul Uma, sampai berdarah dan pingsan.  Bukan hanya ditonjok ampe berdarah-darah, adegan kekerasan film ini malah ada yang gross banget melibatkan Romo dan Uma; yang meskipun off-cam, tapi tetep hard-to-watch.

 

 




Sempat terpikir olehku, bahwa mungkin film ini sebenarnya gak jelek. Film ini membuatku teringat sama dialognya Joker, soal ‘ahead of the curve’. Film ini adalah monster di luar horor normal. Yang kita semua belum siap untuk menerimanya. Horor yang basically membahas mastermind, dalang, dari kekacauan di kehidupan. Yang berangkat dari perebutan kekuatan mistis. Bahkan pembuatnya sendiri belum siap untuk horor ‘sebesar’ ini. Ya, mungkin itulah sebabnya kenapa film ini masih tampak begitu mentah. Olahan ceritanya masih sumpek, tidak ada alur yang jelas, karakter yang belum efektif dan berfungsi sebagaimana mestinya. Aku gak tahu mereka nyiapin berapa judul lagi, tapi paling enggak di film keduanya ini sudah ada sedikit perbaikan. Mungkin, sepertinya lebih pada sebuah harapan, saat film terakhirnya tayang kita semua lebih siap untuk menerima, dan mereka pun lebih siap untuk membuat dengan sebenar-benarnya potensi yang dipunya cerita.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for MANGKUJIWO 2

 

 




That’s all we have for now.

Jadi, menurut kalian apa yang sebenarnya ingin dikatakan film ini dengan memperlihatkan bahwa ada kuasa yang lebih tinggi di atas Jenderal, kuasa di luar tatanan yang resmi?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BALADA SI ROY Review

 

“It’s good for young people to be angry about something”

 

 

Tayang berbarengan, Balada si Roy dan Autobiography ternyata memang punya banyak kesamaan. Keduanya adalah film yang cowok banget. Dan selain karena sama-sama ada Arswendy, kedua film ini basically bercerita tentang anak muda yang berusaha membebaskan diri dari rezim atau tatanan lama yang berkembang di masyarakat. Tapi tentu saja keduanya bercerita dan diceritakan dengan begitu berbeda. Balada si Roy membawa persoalannya ke dalam nada yang benar-benar menggebrak. Dengan mengusung semangat novel source materinya, Fajar Nugros meletakkan protagonis mudanya di tengah-tengah tatanan kuasa pada tahun 80an, dan berusaha memantik api inspirasi dari perjuangan kritis sang protagonis. Film ini seolah bilang ke anak muda jaman sekarang supaya jangan cuma taunya paham ‘woke’ dari luar, tapi juga harus benar-benar melek sejarah sendiri di dalam. Melek, dan lawan!

Aku sendirinya sebenarnya gak kenal ama Roy. As in, aku belum pernah baca novelnya dan gak juga nontonin versi sinetronnya. Sehingga, referensiku nonton ini paling cuma dari novel-novel atau film remaja yang sepertinya sejenis, kayak Dilan, dan yang paling dekat sepertinya Lupus. Dan aku memang benar-benar melihat kesamaan antara Roy dan Lupus. Mungkin karena ‘lahir’ di waktu yang berdekatan. Lupus nongol pertama kali tahun 86, dan Roy tahun 88. Lahir saat tren yang serupa, yang juga sangat berbeda dengan tren cerita remaja jaman sekarang. Perbedaan inilah yang bikin cerita Roy – dan tentu saja film Balada si Roy ini, terasa fresh.  Seperti Lupus, Roy enggak exactly tentang remaja pacaran. Mereka memang dikasih love interest, tapi keseluruhan ceritanya lebih fokus kepada kehidupan anak muda itu sendiri. Kepada si titular karakter. Kehidupannya. Seluk beluk sikapnya. Pandangannya.  Lupus sudah punya pacar bernama Poppy, tapi masih tetep suka godain cewek-cewek lain. Begitupun si Roy. Hatinya tertambat kepada Ani, tapi cerita akan memperlihatkan Roy juga menjalin pertemanan dekat dengan beberapa karakter cewek lain. Ya, begitulah anak muda. Masih bebas, ogah terikat. Bolos sekolah, berbuat nakal, berantem, protes kepada aturan adalah pemandangan biasa pada potret anak muda seperti mereka. Anak muda yang masih mencari jati diri itulah yang jadi gambaran pokok pada cerita 80an. Pada Balada si Roy ini. Bedanya dengan Lupus, Balada si Roy tidak menggambarkan itu dalam nada komedi. Bahkan bisa dibilang, Roy adalah versi dark dari Lupus.

Kalo lebih pedas lagi, mungkin judulnya udah ganti jadi “Balado si Roy”

 

Di hari pertamanya di sekolah baru, Roy udah bersinggungan dengan masalah. Roy yang bersepeda dan nekat membawa anjing kesayangannya, seketika jadi perhatian. Malah, sukses merebut perhatian seniornya yang bernama Ani. Sialnya, si Ani ini udah ada yang suka. Dullah, anak yang punya kota Serang. Sikap si Dullah yang sok kuasa sebelas dua belas dengan gimana sang ayah memimpin di kota. Tentu saja, Roy yang kritis dan keras – teman-teman menyebutnya ‘Kepala Batu’ – gak tinggal diam. Roy gak segan-segan untuk menantang Dullah dan menuliskan buah pikirannya tentang kota mereka di koran. Perlawanan Roy berhasil mempengaruhi anak-anak lain yang selama ini ditindas. Tapi peliknya, Roy tidak begitu saja dianggap pahlawan. Dia malah dicap sebagai biang onar. Dengan ‘musuh’ kuat, teman yang semakin lama semakin berkurang, dan nilai rapor yang kian menurun, hari-hari si Roy menjadi semakin berat. Film Balada si Roy menggambarkan naik turunnya kehidupan Roy.

Anak-anak muda harusnya kritis seperti Roy. Apalagi dengan api dan gejolak meledak-ledak yang dimiliki saat usia dan pikiran remaja, wuih gak heran anak-anak muda disebut sebagai agen perubahan.  Masalahnya ya cuma satu, penyaluran yang tidak tepat. Bahkan, Roy, masih sering menemukan dirinya menyalurkan emosi dengan cara yang kurang pada tempatnya. Karakter Roy memang bukan poster yang sempurna, tapi itulah yang membuat dia dapat jadi inspirasi yang nyata. His strength, keberaniannya, kemauannya belajar (termasuk belajar sejarah), sikap setia kawannya, bisa jadi panutan sembari kita belajar dari kesalahan-kesalahan yang ia buat.

 

Honestly, awal-awal, kalo di bioskop boleh loncat-loncat, aku udah jungkir balik saking senengnya. Aku merasa mendapat film yang hebat. Film remaja yang benar-benar menggali being a teenager, di lingkungan yang juga benar-benar dibuat hidup. Penuh layer. Sepuluh, tidak, lima-belas menit pertama Balada si Roy terlihat begitu perfect. Sekuen di sekolah, begitu hidup. Foreground, background semuanya gerak! Semua yang di layar beneran seperti punya kehidupan di situ. Desain produksinya juga keren. 80an terpancar dari penampilan para karakter. Daerahnya tercermin dari bahasa dan gaya hidup karakter. Roy sendiri langsung mencuat, bukan saja karena naik sepeda dengan anjing berlarian ngikutin dirinya, tapi ada aura berbeda dari cowok tinggi, berambut panjang, berjaket jeans ini. Di menit-menit awal ini, film melandaskan dunianya dengan efektif. Karakter-karakternya terasa menarik. Bahkan si Dullah, digambarkan berbeda dari anak-jahat lainnya. Dia diperlihatkan grogi juga ke cewek. Dia diperlihatkan vulnerable secara emosi (Bio One paling bagus jadi Dullah pas di momen-momen vulnerable yang berusaha ia sembunyikan tersebut). Hook emosional buat Roy, yang ‘dihadiahkan’ oleh Dullah juga intens abis! Kurasa gak harus jadi penyayang binatang, untuk kita merasakan luka si Roy. Semuanya seperti dibangun untuk transformasi  dramatis dari Roy yang di awal memang kelihatan agak terlalu ‘baik’. But then, it’s all downhill from there. Aku duduk di sana, terus berharap film merapikan dirinya, dan bercerita dengan keren lagi. Tapi itu tidak pernah terjadi.

Kayaknya bukan pada arahannya. Fajar Nugros benar-benar menyulap dunia dan para karakter itu menjadi hidup. Sama kayak yang dia lakukan pada grup Srimulat di Srimulat: Hil yang Mustahal Babak Pertama (2022). Abidzar Al Ghifari aja sukses didirectnya jadi karakter ‘bandel’. Yang Nugros lakukan pada Abidzar sebagai Roy di sini mirip kayak yang sukses ia lakukan pada Naysila Mirdad di Inang (2022); bermain-main dengan pengetahuan meta kita terhadap aktornya. Yang punya image anak baek-baek, diambil, dan direshape di sini menjadi karakter yang jauh berbeda dari image meta tersebut. Pengadeganannya pun, seperti yang sudah kucontohkan pada adegan awal di sekolah, digarap dengan benar-benar fluid. Tidak ada adegan yang pemainnya kayak baris-berbaris nunggu giliran dialog. Dimensi dan ruang adegan terus dimainkan. Adegan action, kayak berantem ataupun kebut-kebutan, dilakukan dengan sedemikian rupa sehingga adegannya tetap grounded. Gak over-stylized. Kamera memastikan kita melihat apa yang dirasakan karakter. Tantangan  bikin dunia 80an, tidak membatasi kelincahan Nugros untuk mempersembahkan cerita. Di sekolah, di pasar, di jalan; seperti Roy itu sendiri, film ini going so many places. Satu-satunya yang bikin aku kadang lupa bahwa ini cerita di tahun 80an adalah, kinclongnya gambar. Walau dandanan dan propertinya dipastikan 80an semua, tapi warna pada layar itu masih terkesan modern. Untuk soal bahasa, aku gak tahu juga 80an di Serang bahasa pergaulan daerahnya gimana, jadi ya selama terdengar kayak percakapan natural, buatku tak masalah.

Nice touch, main catur tapi satu bidaknya ilang dan diganti ama gulungan benang!

 

Tadinya aku mau bilang kalo film ini oke di penyutradaan namun lemah di penulisan. Tapi setelah melihat nama penulisnya, aku jadi bingung. Penulisnya ternyata Salman Aristo. Menulis banyak skenario keren sebelumnya. Adaptasi novel bukan barang baru baginya. Waktu aku belajar teori nulis skenario, modul-modul belajarku banyak yang fotokopian dari kelas asuhannya. I was like, apa yang terjadi sama film ini? Kok bisa jadi begitu saat ditonton? ‘

‘Begitu’ yang kumaksud adalah film ini ceritanya gak ngalir kayak bentuk skenario film. Ceritanya masih kayak bentuk chapter-chapter pada novel. Atau mungkin malah kayak cerita-cerita pendek digabungin jadi satu. You know, kayak episode. Roy dengan anjingnya. Roy tarung adat dengan Dullah. Roy kena santet (beneran, film ini bakal ada momen horor juga!), Roy dan usahanya ngapel Ani (harus ngalahin bokap Ani main catur dulu). Setiap episode punya konflik, penyelesaian, dan bahkan karakter pendukung spesial tersendiri. Selain dengan ibunya, Ani, dan teman-teman di sekolah, Roy juga berinteraksi dengan karakter-karakter lain nanti. Sepanjang nonton ini aku berasa jadi kayak meme Leonardo DiCaprio yang lagi nunjuk itu, karena bakal banyak sekali aktor-aktor yang ‘tau-tau’ muncul. Jadi sosok yang bakal ngajarin Roy sesuatu tentang hidup. Tapi semuanya tidak mengalir kayak struktur film, yang konfliknya ada di sekuen berapa dan penyelesaian nanti di sekuen berapa. Nonton film ini capek, kerasa panjang banget, karena formula yang sama terus diulang. Berkali-kali. Kita akan melihat Roy baik, terjemurus, berhasil, dan baik lagi, berulang kali. Tentu, semua itu ada garis besarnya; soal si Roy yang ingin mengubah tatanan sosial kota karena gak nyaman dan pengen menemukan rumah, jadi overarching plot. Bahasan satu orang versus satu kota itu memang keren. Juga bagus film memuat banyak. Tapi dengan struktur yang masih kayak novel ini, film terasa sepertl melompat-lompat di sekitar gagasan besarnya alih-alih berjalan mantap sebagai satu kesatuan. Development karakter Roy jadi gak terasa, karena setiap kali dia sudah berubah, dia kembali melakukan hal yang sama pada kesempatan berikutnya. Kita tidak tahu journey ini kapan mulai dan berakhirnya. Tau-tau Roy jadi anak motor, aja. Tapi lantas film berakhir dengan dia mengembara, tanpa kendaraan.

Cocoknya, cerita kayak gini memang dibikin sebagai slice of life. Yang fokus kepada karakter Roy. Pemikirannya. Pandangannya. Dia mengarungi hidup sehari-hari digambarkan dengan jelas dan runut. Interaksi dia dengan karakter lain, bertemunya dibuat lebih natural. Enggak seperti tau-tau ketemu, dan berfungsi hanya di satu ‘episode’ saja. Ada bagian ketika tau-tau ada cewek yang juga anak baru, Roy kenalan. Mereka jadi temen akrab, namun begitu ‘episode’ ini selesai, si anak baru pindah lagi dan gak muncul lagi hingga cerita beres. Mestinya kemunculan dan exit karakter ini bisa dipercantik lagi, dibuat lebih natural. Toh ketika sudah jadi film, naskah tidak harus sama persis dengan yang digariskan pada novel. Tergantung adaptasi kreatif mengolah novel menjadi sesuai bentuk naskah. Roy sebenarnya bisa menjadi slice of life, yang benar-benar menyentuh. Seperti pada menggarap bagian cinta, film paham untuk membuatnya tentang personal sebagai remaja itu sendiri. Harusnya ini dipertahankan supaya jadi slice of life. Tapi film jadi ambisius, sehingga fokusnya malah jadi kayak kompetisi antarlaki-laki. Bertarung. Main catur. Hingga balap motor. Aku gak yakin setelah kredit bergulir, penonton akan melihat  (dan mengingat) Roy sebagai sosok, sebagai pikiran dan perjuangannya, bukan sebagai aksi jagoan yang ia lakukan.

 




Sudah senyaris itu kita dapat film remaja yang berbobot, dengan penceritaan yang gak FTV alias receh menye-menye. Karena Roy memang berbeda dari tokoh cerita remaja kekinian. Roy mengajarkan pemikiran dan karakter yang tangguh, berani. Kisah Roy seharusnya menginspirasi untuk itu. Secara arahan karakter, dan produksinya sebenarnya sudah unik dan segar. Menit-menit awalnya aku suka banget. Semuanya seperti mengarah kepada development karakter dan alur yang tegas. Tapi ternyata enggak. Film ini malah merosot. Problem film ini adalah bentuk yang masih terlalu ‘novel’. Cerita yang tidak mengalir. Dan malah cenderung memfokuskan kepada adegan-adegan aksi/kompetisi, dan hal-hal ajaib lain yang tau-tau ada di cerita. Penonton akan bingung film ini sesungguhnya mau apa. Apalagi tidak ada romance yang biasanya mereka suka pegang. Aku kurang suka ama remake. Tapi kalo ada film yang aku ingin ada remakenya, maka film ini mecahin rekor karena baru saja tayang tapi aku berharap film ini diremake lagi (dengan struktur skenario yang gak usah ikut-ikut novelnya). Saking bagus gagasan namun kecewa eksekusinya.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BALADA SI ROY

 




That’s all we have for now.

Kira-kira mengapa cerita remaja sekarang sudah tidak lagi atau jarang yang membahas pemikiran karakter – apalagi berbingkai nasionalisme seperti Roy dan remaja 80an?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



AUTOBIOGRAPHY Review

 

“History repeats itself”

 

 

Dua hal tentang sejarah, yaitu ditulis oleh pemenang, dan mengulangi dirinya sendiri. Autobiography mungkin memang bukan cerita tentang kehidupan sutradaranya. Alih-alih itu, Makbul Mubarak dalam debut film panjangnya ini menggunakan judul tersebut untuk merujuk kepada rekam-jejak kekuasaan kelam militer yang bakal terus berulang. Keseluruhan film ini merupakan gambaran dari bagaimana itu semua bisa terjadi. Gimana rezim tangan-besi bisa begitu mendarah daging sehingga sekalipun ada satu orang yang cukup berani untuk menentangnya, tidak lantas berarti mudah bagi orang tersebut untuk berpaling dari kenyamanan yang ditawarkan oleh kuasa yang ia tentang tersebut. Makbul lantas menghiasi penceritaannya dengan cekat lewat close up lekat, warna pekat, dan perasaan yang kelat. Sehingga wajar, banyak yang bilang Autobiography ini adalah film yang seram meski bukan film horor!

Bagi cowok, sosok ayah memang dapat terasa begitu menyeramkan. Meski udah gede kayak sekarang, aku masih gak berani main game, baca komik, atau bahkan nonton film di depan ayahku sendiri. Karena ajaran (dan hukumannya) untuk disiplin, serius, dan gak banyak main-main sudah begitu membekas. Itu ayah sendiri loh, dalam lingkungan keluarga pribadi. Bayangin aja kalo ayah yang lebih lagi, kayak Jenderal Purna, yang bagi Rakib bukan ‘ayah’ biasa. Bapak-bapak itu adalah purnawirawan, balik ke kampung untuk urusan kampanye politik. Semua orang hormat dan takut padanya. Kuasanya menyelimuti desa, tentara-tentara bisa dipanggilnya kapan saja dia mau. Bapak-bapak itu, juga adalah bos keluarga Rakib turun temurun. Dan kini giliran Rakib untuk mengurus keperluan sehari-hari si bapak Jenderal. Posisi ini membuat hubungan mereka jadi personal bagi Rakib, for he is the one that’s experiencing Jenderal Purna  dalam berbagai spektrum. Sebagai ayah, sebagai majikan, sebagai guru, sebagai pemimpin, dan sebagai ‘something else’ yang lebih mengerikan.

Later, Rakib bakal found out si Jenderal juga punya selera ‘humor’ dengan “Maaf adalah hadiah”

 

Spektrum tersebut dihidupkan oleh penampilan akting yang luar biasa dari  Arswendy Bening Swara. Simak waktu dia bilang “Siapa bilang saya minum kopi” dan lantas menyuruh Rakib duduk.  Suaranya enggak tinggi, Nadanya enggak naik. Tapi Rakib dan kita, sama-sama tau bahwa malatapeka besar akan terjadi kalo kata-kata itu tidak segera dituruti.  Di level seperti itulah Arswendy menghidupkan karakter ini. Santai, tapi tegasnya bikin orang tahu bahwa dia tidak main-main. Pak Jenderal ini kalo ngomong mirip kayak gambaran Tom Marvolo Riddle (alias sebelum jadi Voldemort) di buku Harry Potter. Setiap kata, sesantai apapun, disampaikan dengan force yang kuat. Setiap kata terasa seperti perintah, tapi tanda-serunya silent dan hanya keluar lewat penekanan dan aura yang dimiliki oleh Arswendy sebagai Jenderal Purwa. Kita juga akan melihat – seperti politikus pada umumnya – Pak Jenderal memantik simpati dengan kata-kata motivasi, dengan janji-janji. Simak lagi waktu dia ‘ngeles’ saat ada karakter anak muda bernama Agus yang mengadu soal keluarganya berharap agar tidak digusur. Force dari kata-kata Pak Jenderal saat menjawab itu kontan terasa mengerikan, karena di balik ‘ngeles’ persuasifnya, kita bisa mendengar nada mengancam di balik ‘di mana Ibu’ dan ‘di mana rumahmu’.

Tinggal-lah Rakib di sana, diam termenung, berusaha untuk mencerna dan memahami siapa sebenarnya Pak Jenderal yang dihormati sekaligus ditakuti warga. Memang, berbeda dengan Arswendy yang banyak melantunkan dialog dan lebih open secara ekspresi, Kevin Ardilova memainkan karakter yang lebih banyak diam. Yang ekspresinya lebih tertahan. And he was excellent at this! Rakib tampak seperti bergulat dengan pikirannya sendiri setiap kali berhadapan dengan ‘aksi’ Pak Jenderal. Dia kelihatan seperti takut, kagum, dan penasaran sekaligus. Sekilas, karakter Rakib ini bisa tampak sebagai kurang konsisten – cepat berubah-ubah. Tapi itu hanyalah efek dari ‘manipulasi emosional’ dari Pak Jenderal yang memang paling kuat menyerang Rakib. One moment, Rakib ditinggikan dengan disebut mirip Jenderal waktu masih muda. Lihat betapa gembiranya dia kemana-mana pakai seragam bekas Pak Jenderal. Momen berikutnya dia dimarahi karena nyembunyiin sesuatu di saku. Momen lainnya, Rakib tergopoh-gopoh nyari charger yang mau dipinjam. Ada juga ketika Rakib dibela dan lantas disuruh minta maaf dalam satu kesempatan yang sama. Ini sebenarnya adalah build up yang dilakukan film ke momen pecahnya konflik di antara kedua karakter ini.  Ini adalah kelincahan naskah untuk memuat gagasan sekaligus menjabarkan wants-and-need karakter Rakib itu sendiri sebagai karakter utama. At heart, ini adalah coming-of-age story bagi Rakib. Seorang anak muda yang ingin dapat approval dari seorang sosok ayah. Sehingga, ya, akan ada momen-momen ketika Rakib seperti menikmati perannya sebagai bawahan Jenderal, momen-momen ketika dia mempercayai pujian dan nasihat Pak Jenderal, yang semuanya mengarah ke ‘horor’ yang sudah kita antisipasi sebagai dramatic irony. ‘Horor’ ketika Rakib menyadari betapa dingin dan merah sebenarnya tangan yang selama ini menyuapi dirinya.

Film ini enggak cuma punya dramatic irony dan melepaskan kita dari tensi setelah melihat apa yang dipilih untuk dilakukan Rakib terhadap Pak Jenderal. The real punchline ada di belakang, pada apa yang dipilih untuk dilakukan Rakib setelah Jenderal tidak ada. Film ini mengakhiri ceritanya , meng-cut kita semua dari ceritanya, di momen eksak yang  sepertinya perfect banget. Ini tipe ending yang kayak di Triangle of Sadness (2022). Ending yang menyerahkan kepada kita untuk mengimajinasikan sendiri apa yang terjadi berikutnya. Orang yang lebih optimistis mungkin akan melihat Rakib di ending sebagai generasi muda yang mereset kembali power struggle antara rakyat dan pemimpin militer. Menjalankan fungsi sesuai namanya, mencatat yang baik-baik saja. Tapi kemudian aku ragu apakah bakal ada penonton yang melihatnya seperti itu. Sebab yang digambarkan film ini tak ayal begitu familiar bagi kita. Ada masa Indonesia di bawah pemimpin militer mengalami masa kelam orde baru. Saat orang bisa hilang karena bersuara, apalagi menentang. Dari konteks tersebut, dari judulnya, dari bagaimana semiotik dan aspek film dibangun, film ini sebenarnya sudah mengarah ke satu ending yang shocking terkait jadi apa Rakib setelah semua ini. Jadi, ya, adegan dan motong endingnya seperti itu perfect, tapi secara bangunan keseluruhan gak benar-benar terasa kayak perfect choice untuk dibegitukan. Karena sebenarnya film masih akan tetap kuat dan dramatis, dan emosional, jikalau endingnya enggak ‘dicut’ dan kita langsung melihat satu kesimpulan.

Siklus rezim kekerasan ternyata terus berulang. Film ini berusaha memberikan gambaran apa yang sebenarnya menyebabkan itu terjadi. Apa yang membiarkan itu terjadi. Gagasan yang bisa kita baca dari cara film menyampaikan ceritanya ini adalah bahwa semua itu berakar pada toxic masculinity. Autobiography adalah film yang cowok banget. Mulai dari catur, berburu, bir, kendaraan, semua simbol cowok hampir ada. Tapi, sosok perempuan – sosok ibu – seperti sengaja ditiadakan. Diminimalisir. Dan itu mungkin sebabnya kenapa film ini begitu ‘seram’. Seolah gak ada yang bikin jadi lembut. Seems like there’s no hope. Kita cuma bisa nikmati saja.

 

Jadi, karakter Pak Jenderal mengingatkan kalian kepada siapaa?

 

Bahasa visual yang digunakan pun seperti menuntun penonton untuk sampai kepada kesimpulan ending itu. Kita melihat Rakib memandang pantulannya di cermin, sambil memegang cangkir kopi yang diberikan sesuai permintaannya. Bercerita dengan visual seperti demikian memang salah satu kekuatan film ini, yang membuatnya jadi fresh. Karena Makbul Mubarak banyak menyuguhkan adegan lewat sudut yang unik. Sudut yang benar-benar mewakili perasaan Rakib. Kamera mengintip dari kaca jendela, merunduk di bawah spanduk kampanye, ataupun ya, membiarkan kamera tidak menyorot apa-apa selain aftermath dari suatu perbuatan. Visual ini juga jadi cara penyampaian metafora atau penyimbolan yang efektif. Adegan Rakib mandi lalu tiba-tiba Pak Purwa masuk dan memandikan dirinya, misalnya. Simbol ketika kuasa bahkan bisa ‘menjajah’ pribadi kecil di ruang mereka yang paling privat sukses tergambarkan dengan kuat dan disturbing lewat adegan tersebut. Suspens dan intensitas memang akhirnya berhasil diraih oleh film lewat gambar-gambar ini. Timing-nya juga precise sekali. Meskipun memang banyak shot-shot yang diam, entah itu menangkap ekspresi Rakib atau hanya memperlihatkan karakter duduk di sana, tapi tidak pernah terasa kelamaan. Feeling ‘ngeri’ tersebut berhasil terjaga dengan baik.

Di sisi lain, ada juga beberapa adegan yang mestinya bisa ditrim untuk membantu pacing keseluruhan. Film ini bisa terkesan terlampau runut,  walaupun runutnya kejadian tidak benar-benar terlalu ngaruh ataupun ngasih something dramatis yang benar-benar diperlukan.  Kayak ketika Rakib nganter-jemput Pak Jenderal ke kawinan.  Film benar-benar ngeliatin proses antar, pulang lagi, ambil senapan. jemput lagi, nyampe di tempat pesta – yang sebenarnya fungsinya untuk ngeliatin Rakib mampir ke mana dulu, dan adegan senapannya di mobil hampir ketauan. Menurutku fungsi tersebut gak benar-benar worth untuk mengulur pacing, dan mestinya bisa diperketat lagi.

 

 




But still, ini film yang luar biasa menginspirasi. dari sisi bahwa ini adalah film panjang pertama dari sutradara. Bahwa ia mampu mewujudkan visinya dan memberikan kita suguhan yang completely different. Yang berani, baik itu topik maupun seni berceritanya. Fakta bahwa film seperti ini – dibuat oleh sutradara baru pula – bisa eksis, dan bahkan memborong banyak penghargaan dalam dan luar negeri, seharusnya jadi inspirasi bagi setiap pecinta film. Buat yang angker sama film ‘berat’, jangan keburu keder duluan. Dua karakter sentral film ini, dihidupkan lewat penampilan akting yang gak dibuat-buat, akan gampang konek karena terasa familiar. Malah, semua yang digambarkan film ini terasa familiar, makanya film ini dikatain seram. Kita seolah menghidupi dunia yang sama dengan karakternya.  Visualnya bahkan berkata lebih banyak lagi daripada para karakter. Yang membuat film ini semakin menarik untuk disimak, semakin jauh dari kata membosankan. Aku gak bisa ngasih kata-kata bujukan ataupun kata-kata perintah yang mengancam kayak Pak Jenderal. Aku hanya bisa ngasih skor buat film. So yea, 
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for AUTOBIOGRAPHY

 

 




That’s all we have for now.

Jadi apakah menurut kalian kekerasan itu diwariskan, atau dipelajari?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



PUSS IN BOOTS: THE LAST WISH Review

 

“Because you already have what you wish for”

 

 

Animasi dengan karakter kucing oren pake sepatu boot, tentunya gak ada urusan untuk bicara dalem perihal kematian, kan?  Inilah pasti kartun untuk tontonan anak kecil, kan? Well, film animasi – seperti halnya komik – memang masih sering dipandang sebelah mata. Ya, animasi memang sebagian besar dibuat supaya lebih appeal buat penonton muda. Tapi itu bukan berarti film animasi tidak bisa bercerita dengan bobot yang lebih kompleks. Justru sebaliknya, film animasi bisa banget diolah jadi medium yang efektif untuk memperkenalkan isu yang lebih matang kepada penonton. Film animasi bukan lantas berarti film anak-anak, but when they do, animasi mampu mengangkat kepada isu-isu real yang dianggap ‘angker’ oleh orang tua kepada anak-anak. Sutradara Guillermo del Toro literally bilang bahwa animasi adalah medium, bukan genre khusus (untuk anak-anak) dalam pidato kemenangan film Pinokionya di Golden Globes baru-baru ini. Memang, despite pandangan umum bahwa animasi hanyalah film anak, toh telah banyak animasi hebat yang bercerita dengan matang. Mengangkat isu yang real. Sementara tetap menghibur dalam melakukannya. Puss in Boots terbaru karya Joel Crawford adalah contoh berikutnya, perjuangan terbaru dari animasi untuk membuktikan kekuatan medium ini dalam ranah bercerita.

Aku gak ngikutin franchise Shrek. Ini, in fact, adalah film Puss in Boots pertama yang aku tonton. Dan sukur Alhamdulillah film ini ceritanya berdiri sendiri. ‘Modal’ nonton ini cukup dengan tahu bahwa universe-ceritanya adalah dunia dongeng alias cerita rakyat populer. Jadi, yea, ‘magic’ adalah hal yang bisa kita harapkan di film ini. Si Puss in Boots sendiri kan, sebenarnya dari dongeng klasik Italia. Oleh universe ini, dia adalah kucing jagoan ala Zorro. Dengan sikap sedikit narsis; pede, cerdas, suka pesta, dan tak kenal takut. “Aku tertawa di hadapan Kematian” adalah jargonnya sebelum beraksi menantang bahaya. Saking jumawanya, Puss memang sedikit careless. Selama bertualang ngalahin orang jahat itu, kucing oren ini actually sudah ‘menghabiskan’ delapan nyawanya. Tau dong, kalo konon kucing punya sembilan nyawa? Nah, di sini ceritanya si Puss sudah dalam nyawanya yang terakhir. Kenyataan ini telak menerpa dirinya. Puss kini tidak merasa segagah itu. Dia bener-bener takut saat sesosok serigala datang dan nyaris mengalahkannya. Satu-satunya harapan untuk mengembalikan kegagahannya adalah saat ia menemukan peta ke Falling Star yang mampu mengabulkan semua permintaan. Puss ingin meminta nyawanya dibanyakin lagi. Petualangan Puss in Boots bersama rekan baru dalam mencari permintaan itu pun dimulai. Petualangan yang penuh bahaya dan stake yang tinggi. Karena bukan dirinya saja yang mengincar permintaan tersebut. Plus, si serigala yang ternyata adalah Death himself, terus memburu kemanapun dia pergi.

Seketika aku jadi teringat perjuangan mencari Dragon Ball

 

Selain karena soal rebutan mencari pengabul permintaan, pengaruh anime – animasi Jepang – lain kuat terasa di sini. Salah satunya adalah sekuen berantem dengan raksasa di awal cerita. Aku benar-benar gak nyangka kalo film dari barat ini, punya sekuen aksi yang vibenya mirip banget ama aksi di Attack on Titan! Serius. The way si Puss meloncat-loncat lincah mendekat menuju sasaran yaitu titik lemah raksasa yang menjulang. Perspektif kamera dalam menangkap dimensi kedua karakter ini.  Bahkan settingnya di atap-atap rumah. Persis banget kayak Eren yang mau mengalahkan Titan. Sungguh kejutan menyenangkan buatku. Aku jadi semakin tertarik melihat apa lagi yang bisa dilakukan film ini terkait gaya animasi yang mereka pilih. Visualnya sendiri tampak fluid dan seru karena menggunakan gaya yang sama dengan animasi pada Spider-Verse dan Mitchell vs. The Machines. Gabungan animasi 3D dengan efek dan garis-garis 2D sehingga tampak kayak komik yang bergerak. Kayak video game yang begitu stylish. Animasi tersebut juga terasa selaras dengan quirk yang dikandung oleh karakter dan dunianya sendiri. Ditambah dengan sekuen-sekuen action tadi, Puss in Boots jadi terasa luar biasa enerjik dan ciamik.

Perkara tone cerita dan karakter, film ini memang secara overall dibuat untuk menyasar penonton yang lebih muda. Appeal dari estetik dongeng dan kekonyolan yang bisa dibawanya tetap jadi jualan nomor satu. Tapi film ini juga tidak segan-segan untuk menyelam lebih matang soal bahasan, maupun candaannya. Dinamika antara kekonyolan, fantasi, dan real talk yang dikandung inilah yang bikin Puss in Boots: The Last Wish jadi hiburan paket komplit. Membuatnya jadi hiburan bagi penonton dewasa, maupun penonton yang lebih muda. Film ini gak ragu untuk membahas soal takut akan kematian, soal panik menyadari diri yang semakin menua (something yang clearly gak kepikiran sama anak kecil) karena film ini tahu dia punya medium yang brilian dan cocok banget untuk menceritakan soal itu. Makanya bagi orang yang lebih dewasa, cerita film ini bisa jatohnya mengerikan, sementara anak-anak mungkin hanya melihatnya sebagai kisah Puss bertemu musuh kuat yang berbahaya. And that’s okay. Kenapa? karena film ini bakal jadi experience yang terus berubah buat anak-anak tersebut seiring mereka dewasa. Anak kecil yang sekarang nonton ini, jika menonton kembali saat sudah dewasa maka akan menyadari hal yang sebelumnya gak mereka notice. Like, bukankah rasanya wonderful jika film mampu terasa berbeda, bisa tetap terasa baru, walaupun kita menontonnya berulang kali. Nah, film ini punya kesempatan untuk menjadi wonderful seperti itu dengan tampil dinamis, mengandung bobot dan hiburan dengan sama mutunya.

Dalam petualangannya mencari bintang pengabul permintaan, si Puss bertemu banyak karakter. Kawan lama, kawan baru, maupun musuh baru. Karakter-karakter seperti Kitty Softpaws, si Serigala Kematian, dan si cihuahua imut yang nyamar jadi kucing, Perrito, akan ngajarin Puss (dan to some extent, kita) tentang kehidupan dan kematian. Tentang bagaimana hidup justru berharga jika ada batas waktunya. Karena mau gimana pun juga, kematian akan datang. Melihat Puss yang ingin meminta ‘perpanjangan’ nyawa membuat aku sendiri teringat sama kejadian pas aku lagi Tugas Akhir dulu. Tanggal presentasi sudah mepet, tapi tugasku belum selesai. Maka aku minta perpanjangan waktu sama mentor. Tau gak beliau bilang apa? Mau sepanjang apapun saya kasih waktu, tapi kalo kamu belum ready, kamu gak akan pernah ready. Waktu itu tidak akan pernah cukup buatmu. Ya, mau berapa banyak waktu yang kita punya, enggak akan jadi soal. Karena semua adalah soal apa yang kita lakukan terhadap waktu tersebut. Dibawa ke cerita film ini; siap menyambut kematian sebenarnya adalah soal sudah atau belumnya si Puss menghargai hidup. Kitty Softpaws, teman alias, ehm, mantan Puss ada di sana untuk mengingatkan apa yang harusnya bisa dimiliki oleh Puss sejak lama jika dia benar-benar menghargai hidup (dengan menghargai bahwa hidup bisa berakhir). Perrito, surprisingly, bakal jadi karakter favorit banyak orang, bakal banyak sekali mengajari Puss soal ya, live the life. Karakter Perrito yang polos, rada bloon namun blak-blakan banget sama perasaannya, ternyata jadi karakter yang bijak banget dibanding yang lain. Karena Perrito satu-satunya yang melihat dunia sebagai sesuatu yang harus dinikmati. Sementara Puss, Kitty, dan karakter lain yang bersaing nyari Bintang, saling tidak percaya satu sama lain.

Cat Attack on Tree Titan!

 

Perihal kematian tersebut lantas semakin didaratkan lagi oleh film ini menjadi bahasan permintaan. Banyak lagi karakter yang jadi saingan Puss in Boots untuk mencari pengabul permintaan. Ada Goldilock dan keluarga beruangnya. Ada juga Jack Horner, si kolektor barang-barang dongeng ajaib. Bahkan Kitty juga sempat jadi saingan. Bahasan soal permintaan ini akan lebih gampang untuk relate ke anak-anak. Dan film juga gak ragu untuk ngasih pelajaran berharga. Tidak ada satupun dari karakter tersebut yang mendapatkan apa yang ingin mereka minta. Semuanya gagal. Tapi kegagalan tersebut tidak diperlihatkan film sebagai sesuatu yang depressing, melainkan dalam semangat yang positif, Yang lebih menggelora. Karena di sini film ngajarin soal sesuatu yang sebenarnya basic dalam nulis cerita. Yaitu yang kita inginkan sebenarnya tidak benar-benar kita perlukan. Dan bahwa yang kita perlukan itu sebenarnya sudah ada di sekitar kita, kita hanya perlu menyadarinya saja. Karakter dalam film ini seperti terkena pamali Birthday Wish Rule, yaitu ngasih tau permintaannya apa ke orang lain, sehingga permintaan tersebut tidak akan terkabul. Padahal sebenarnya ‘pamali’ tersebut justru adalah jawaban dari pencarian mereka. Bahwa dengan share their wish, mereka akhirnya bonding dengan orang-orang yang actually jadi ‘jawaban’ atas permintaan mereka. Karena orang-orang terdekat yang dikasih tau their secret wish itulah yang tadinya kurang dihargai – teroverlook – oleh mereka yang terbuai oleh keajaiban.

Mengharapkan sesuatu ‘keajaiban’ tentu saja gak salah. Hanya saja, one way or another, sebenarnya yang kita inginkan bisa jadi sudah ada di sekitar kita. Bisa jadi permintaan itu sebenarnya sudah terwujud, bahkan sebelum diminta. Kita hanya belum sadar aja. Kita terlalu menggebu sampai tidak menyadari apa yang dipunya. Tidak menghargai apa yang dimiliki. Seperti Goldilock yang gak sadar ada keluarga yang selama ini bersamanya. Seperti Puss yang baru ngeh hidupnya setelah semuanya akan berakhir.

 




So yea, jangan lagi animasi ini jadi medium storytelling yang teroverlook oleh kita. Yang kurang kita hargai, hanya karena tampilan yang cerah, jokes yang konyol, dan seringkali dibuat untuk appeal ke anak kecil. Karena lagi dan lagi, terus bermunculan animasi yang berbobot seperti film ini. Yang di balik hiburannya, menghadirkan bahasan yang berbobot. Mengangkat topik yang ‘angker’ tapi berhasil disamarkan lewat warna yang segar, tanpa mengurangi kepentingannya. Film ini penuh aksi, sekuen berantemnya keren-keren dan kreatif, serta penuh berisi oleh fantasi yang mereferensikan dunia dongeng/cerita rakyat klasik, sambil juga menghantarkan pelajaran berharga tentang hidup kita yang dibatasi oleh waktu. Pelajaran yang tentu saja konek untuk segala lapisan usia. Cerita petualangannya sendiri mungkin memang tidak benar-benar ngasih hal baru (selain dunianya sendiri), tapi karena penceritaannya yang menawan dengan dinamika yang unik, aku terhibur, sekaligus tersentil juga oleh film ini. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PUSS IN BOOTS: THE LAST WISH

 




That’s all we have for now.

Apakah kalian merasa pernah punya satu hal yang dipengenin banget, tapi kemudian sadar ternyata kalian sudah punya itu? Apa yang membuat kalian akhirnya sadar?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



PUISI CINTA YANG MEMBUNUH Review

 

“Art comes from joy and pain… But mostly from pain.”

 

 

Aku terus kepikiran sama adegan pembuka film Puisi Cinta yang Membunuh. Aku merasa ada kemiripan antara yang dibikin oleh Garin Nugroho dengan yang dilakukan oleh Ingmar Bergman pada sekuen pembuka Persona (1966), yang ada anak kecil membelakangi kita nyentuh layar sinema, dengan close up wajah perempuan. Pada pembuka yang kompleks tersebut – Bergman udah kayak nyeritain sejarah singkat gambar-bergerak – hal terasa out-of-place tapi sekaligus terasa benar mewakili apa yang ingin disampaikan pada cerita utuhnya kemudian. Bergman ingin kita menatap langsung dan personal karakter perempuan dalam cerita, bahwa cerita perempuan ini adalah soal image yang tertangkap. Garin Nugroho memang tidak se-elaborate itu menyuguhkan opening Puisi Cinta yang Membunuh. Justru jauh lebih sederhana, tapi bobot dan kepentingannya dalam melandaskan tema terasa sama. Garin memperlihatkan kepada kita Mawar Eva de Jongh (saat itu tentu saja kita belum tau karakter yang ia perankan siapa) berdiri di tempat yang sepertinya studio foto, menghadap kita, mengangkat kamera sedada, dan bilang kepada kita penontonnya bahwa seni bisa menyembuhkan dan juga bisa membunuh. Aku terus kepikiran akan adegan ini karena menurutku Garin accomplished so much dengan pembuka ini. Seketika dia melandaskan tema dualitas yang nanti membayangi narasi cerita. Seperti kamera yang kini di depan kita, tidak lagi melihat bersama kita; Seketika Garin menantang kita untuk melihat berlawanan. Melihat sisi yang biasanya tidak disorot. Gimana jika membunuh, melukai, adalah proses seni. Gimana jika kriminal ternyata ‘hanya’ pergulatan dengan trauma. Gimana jika hantu bukan lagi untuk ditakuti, melainkan untuk dikasihani?

Dalam filmnya sebelum ini, Garin membahas trauma punya jejak pada tubuh. Trauma masa lalu dapat tergambar dalam gerak tubuh seseorang di sepanjang hidupnya. Seseorang yang punya trauma akan mengekspresikan itu di dalam kesehariannya; luka-diri itu lantas jadi seni. Untuk bertahan dan menguatkan diri. Gagasan itu dibawa ke luar oleh Garin kali ini. Ketika seni tersebut tidak lagi semata untuk diri sendiri, melainkan juga untuk dishare kepada orang lain, maka itu juga berarti trauma dan sakit yang dirasakan juga ikut terhantar – ikut dikenai – kepada penikmatnya. Itulah ketika puisi dapat membunuh.

 

Seketika film Garin ini jadi berbahaya. Menyorot gagasan bahwa tindak kriminal, aksi pembunuhan, bisa dipandang sebagai suatu perwujudan puitis. Jikalau gagasan ini dibicarakan dalam suatu diskusi umum, mungkin memang sinting, Nyeleneh. Tak dapat diterima. Mana ada yang mau disuruh melihat perbuatan keji sebagai karya berbudaya. Namun tempat Garin membicarakan ini adalah film. Sendirinya adalah seni. Toh, Garin bukan sutradara pertama yang menyoroti cahaya begini kepada soal perilaku kekerasan. Perbandingan terkini yang lantas melintas di kepalaku adalah Lars von Trier yang tahun 2018 lalu membuat film The House That Jack Built. Diceritakan di situ Jack menganggap pembunuhan yang ia lakukan sebagai kegiatan seni rupa. Jack membuat berbagai karya dari mayat-mayat korbannya. Mulai dari dompet, hingga, ya rumah. Film garapan Lars tersebut menyorot dari perspektif Jack saat dia berdialog dengan kepalanya sendiri perihal pembenaran atas seni yang ia ciptakan. Mengangkat diskusi soal kriminal dan seni dari sana. Memang, cara berceritalah yang pada akhirnya menentukan. Garin yang tentu saja paham akan hal tersebut, menggunakan kekhasannya sendiri untuk mengangkat diskusi. Bahasan soal trauma, gaya teater (dramaturgi), dan kali ini membalut cerita dengan tema duality dan menjadikan protagonisnya simpatik di tengah-tengah itu semua.

If looks could kill…

 

Karakter yang diperankan Mawar adalah an attractive, seemingly innocent young woman bernama Ranum. Mahasiswi tata busana yang keliatan cukup aktif. Mungkin dia ingin menyibukkan diri. Karena, well, Ranum suka merasa ada sesuatu yang bersama dirinya tatkala dia sendirian. Sesuatu yang sudah dari dulu selalu ia rasakan. Oleh Pak Sutradara, ‘sesuatu’ ini digambarkan sebagai bayangan tangan, dan sesekali sepotong tangan pucat beneran yang muncul dari balik selimut Ranum. Kehadiran tangan dan perasaan ada orang yang menyertainya itu belum apa-apa dibandingkan ketakutan Ranum yang paling hakiki.  Ketakutan ketika perasaan dia telah melakukan hal mengerikan terhadap orang-orang di sekitarnya muncul. Ranum aktif mengikuti berbagai kegiatan, tapi setiap kali dia bertemu dengan orang – dan orang tersebut punya niat yang bukan-bukan terhadapnya, keesokan harinya pasti orang-orang itu diberitakan tewas mengerikan. Dan Ranum bakal galau di kamar karena dia merasa dia yang telah membunuh mereka semua. Ranum bakal menjedotkan kepalanya berkali-kali ke tembok “Berdoa! Berdoa! Berdoa!” Perasaan bingung, takut itu, tak kunjung hilang. Misteri kematian tersebut sama sekali tidak berhenti.

Puisi Cinta yang Membunuh bekerja terbaik saat menunjukkan keambiguan dari kejadian seputar Ranum. Ketika Ranum cuma gelisah dan ngeri sendiri membaca berita kematian-kematian tersebut, kita melihat dirinya actually melakukan pembunuhan tersebut. Atau paling tidak, kita melihat sesuatu yang menyerupai dirinya. Kita menyaksikan ‘Ranum’ ini muncul, mengomandoi kejadian gaib terjadi, dan akhirnya membunuh sambil melafalkan bait-bait puisi. Kematian/pembunuhan aktualnya dilakukan film lebih banyak secara off-screen – kamera akan sengaja menyorot ke satu titik di dekat pembunuhan – namun karena diserahkan kepada imajinasi kita itulah maka setiap serangan ‘Ranum’ terasa semakin mengerikan. Shot-shot yang dilakukan film ini terkait horor dan thrillernya benar-benar didesain supaya kesan misterius itu mengalir deras. Supaya imajinasi kita menyambung semakin liar lagi. Sehingga adegan-adegannya terasa punya layer tersendiri. Adegan-adegan pembunuhan itu hanya akan jadi sebuah tindak balas dendam jika direkam dengan gamblang. Akan tetapi, lewat cara menampilkan seperti yang film ini lakukan, pembunuhan-pembunuhan tersebut terasa punya sesuatu yang lebih. Terasa seperti suatu pelampiasan yang mendorong kita terus masuk, terus peduli tentang apa ini sebenarnya.

Tentu saja, semua kesan dan efek itu turut terbantu tersampaikan lewat penampilan akting luar biasa dari Mawar Eva. Come to think of it, Mawar di sini memikul semua sendiri. Dia harus memainkan perempuan yang bingung dan takut, sekaligus juga diminta untuk jadi entitas misterius yang membunuhi orang-orang. Dan ini film Garin, loh! Yang terkenal dengan film-film nyeni yang ‘berat’ dan njelimet. Tapi Mawar di sini, bisa. Mawar paham menerjemahkan visi Garin ke dalam dual-acting yang total. Kalo gak liat sendiri, aku gak bakal percaya dia mau melakukan separoh dari adegan-adegan di film ini. Aku gak bakal percaya dia mampu melakukannya dengan tepat. Untuk aktor muda seperti Mawar, jelas ini adalah pencapaian luar biasa.

Melihat ‘Ranum’ membunuh sambil berpuisi, lalu mendengar ibu dosen Raihaanun membahas berita-berita real serial killer yang pernah ada di Indonesia (Robot Gedek, dan banyak lagi headline bikin merinding) otomatis membuat kita memikirkan soal kekerasan dan seni itu tadi. Sehingga sebenarnya tak lagi jadi soal mengenai siapa ‘Ranum’ yang membunuh itu. Kenapa ada ‘Ranum’ kedua yang membayangi ke mana Ranum pergi. Seni film ini, menurutku, salah satunya datang dari menjaga keambiguan Ranum dan ‘Ranum’ tersebut. Karena penonton akan punya interpretasi masing-masing. Akan mencoba mengaitkan sendiri dalam kepala kita apa yang menurut kita terjadi – tergantung dari masing-masing memaknai ceritanya. Mungkin akan ada penonton yang mengira semua pembunuhan itu hanya terjadi di benak Ranum saat ia menuliskan pengalaman tak-enaknya sebagai puisi. Mungkin akan ada penonton  yang mengira orang-orang itu sesungguhnya merasakan trauma Ranum lewat puisi. Menurutku, selama kesan sedih itu tersampaikan, gak masalah penonton menganggap kejadian pembunuhannya sebagai apa, pelakunya beneran Ranum atau bukan.

Datang. Baca puisi. Bunuh. Pergi

 

Predikat horor-art film ini justru jadi terusik saat naskah mulai menyebut soal kembar. Kemudian dengan gamblang membeberkan (lewat karakter lain pula!) di sana sini apa yang terjadi di masa lalu traumatis Ranum. Menjelaskan puisi yang kita dengar sebagai mantra pembunuh itu ternyata berasal dari komik lama yang dulu suka dibaca Ranum. Sehingga ini jadi bukan lagi tentang trauma dan seni. Melainkan jadi trauma dan manifestasinya secara literal gaib. Menuliskan narasi seperti ini tentu saja tidak salah, hanya saja penceritaannya kurang tepat untuk konsep film di awal. Yang film ini lakukan actually adalah membuat pengungkapannya sebagai plot twist yang kini terbuka. Keambiguan yang dibangun di awal jadi hilang. Jadi terjawab, walau sebenarnya tidak ada urgensi yang menuntut film untuk menjelaskan semuanya. Sebab kesan yang diniatkan untuk kita rasakan kepada karakter-karakternya (terutama duality karakter utama) sebenarnya masih bisa tersampaikan. Penonton gak akan bilang ini film horor seseram film jumpscare. Penonton gak akan bilang ini film romansa. Apalagi film komedi. Dari bagaimana horor pembunuhan, flashback karakter lain, hingga ke teror psikologis yang mendera Ranum, kita sudah bisa merasakan ada sesuatu yang tragis di cerita ini. Sesuatu yang menyedihkan. Menurutku, penjelasan naratif yang dilakukan film ini di babak akhir masih bisa dilakukan dengan cara yang lebih tersirat, dengan pengadeganan yang lebih subtil dan sureal. Like, aku lebih suka film ini saat mereka menempatkan dua Ranum begitu saja di satu lokasi, membuat kita sendiri yang berusaha menyimpulkan sendiri. Tapi ya, mungkin film merasa itu bakal too much buat penonton. Mungkin film ingin memastikan penonton mengerti sehingga lebih mudah untuk melihat ini sebagai alternatif horor – bahwa genre horor bukan sekadar wahana jumpscare.  Bahwa horor juga bisa dinikmati sebagai seni.

 

 




Memang, film ini vastly different dari horor lokal mainstream.  Not bad-lah sebagai film pertama yang kutonton di tahun 2023 – film lokal pula! Horornya disajikan lebih sebagai kiasan dari perasaan. Hantunya pun dihadirkan lebih dari sekadar keberadaan yang menakutkan. Bahkan bisa dibilang, hantu di sini sebenarnya adalah sosok yang paling menyedihkan. Karena film ini sesungguhnya bicara trauma, karakter-karakternya mengalami kejadian traumatis di masa lalu dan one way or another harus deal with that. Dan hantu di sini adalah produk dari trauma tersebut. Untuk membimbing penonton ke jalur ini, sedari adegan pembuka, Garin langsung menyambut dan mengarahkan perhatian kita untuk tertuju kepada duality; bahwa ada sisi lain yang jarang disorot dan itulah yang disorot sekarang olehnya di film. Karena itulah menjaga tetap ambigu jadi langkah terbaik yang bisa dilakukan film ini. Supaya kita tidak terlepas dari duality tersebut. Tapi film merasa perlu juga untuk menjelaskan dengan lebih gamblang, sehingga kesan tersebut dihentikan menjelang babak akhir dan film menjadi pengungkapan yang lebih clear. Yang sayangnya juga mengurangi kemagisan dan art-nya itu sendiri. 
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PUISI CINTA YANG MEMBUNUH.

 

 




That’s all we have for now.

Mengapa menurut kalian perasaan negatif kayak marah, galau, derita, justru bisa menghasilkan karya seni yang lebih bagus – like, lagu bagus aja biasanya tercipta dari orang yang patah hati?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 7 (TAR, THE BANSHEES OF INISHERIN, DECISION TO LEAVE, THE FABELMANS, THE BIG 4, SHE SAID, RRR, HOLY SPIDER)

 

 

Wow, mini-review kali ini gede banget! Lihat saja film-filmnya. Salah-salah, artikel ini bisa disangka daftar film terbaik 2022. Secara banyak kontender Oscar! Sabaarr, daftar terbaikku masih belum keluar. Justru baru akan dikeluarkan setelah mini review ketujuh ini. Mini-review yang berisi batch terakhir dari film-film tahun 2022 yang kutonton dan kuulas. Tahun ini memang dahsyat, maka paling tepat kalo berakhir dengan membahas film-film yang dahsyat juga. Inilah, Mini-Review Edisi Desember, edisi penutup tahun 2022!

 

 

 

DECISION TO LEAVE Review

You named it; si kaya dengan si miskin, anak geng satu dengan geng lawannya, vampir dengan mangsanya, cerita forbidden love selalu seksi. Park Chan-wook mendorong ini lebih jauh lagi dengan menghadirkan romansa antara detektif dengan perempuan yang harusnya ia tangkap. Relationship dua karakter sentral inilah yang bikin kita semakin mantap memutuskan untuk enggak leave saat menonton Decision to Leave. Kebayang dong, gimana susah dan impossiblenya situasi mereka untuk bersama. Apa yang si detektif pertaruhkan untuk bersama dengan perempuan tersebut. Dan film ini gak mau kasih kendor. Semua layer ia isi dengan bobot. Pembahasan soal guilt, obsesi, dinamika rumah tangga dimasukkan oleh Park Chan-wook seolah penyair yang sedang menyempurnakan sajak puisinya dengan rima. Seperti itulah persisnya Decision to Leave. Thriller romance yang puitis.

Aku sempat mikir, film ini kayak berangkat dari anekdot ‘gadis di pemakaman’ yang mungkin kalian sudah pernah juga mendengar. Itu loh, anekdot yang nyeritain seorang wanita yang ngeliat cowok ganteng di pemakaman ibunya, lalu beberapa hari kemudian si wanita membunuh adiknya, dengan harapan bisa ketemu lagi dengan si cowok ganteng. Anekdot itu dikenal sebagai tes psikopat. Dan persis kayak itulah karakter si perempuan love interest detektif di film ini lama-kelamaan. Aku merasa pembunuhan kedua sengaja ia lakukan karena tau si detektif tinggal di daerah yang sama. Saking cintanya orang bisa melakukan hal yang psiko, bahkan si detektif juga menyerempet ‘gak-waras’ saat dia melindungi perempuan yang ia cinta tersebut.

Decision to Leave bisa sangat berat untuk ditonton karena pilihan-pilihan karakternya. Juga karena film memilih bercerita dengan cara yang, not exactly bolak-balik, tapi juga gak lurus. Honestly, aku sempat bingung juga nontonnya. Dibingungkan oleh, I’m sorry to say this, pemainnya kayak mirip-mirip semua. Aku harus nonton ini dua kali. Dan begitu udah tahu gambaran besarnya, aku mulai bisa ‘mengenali’ siapa yang siapa. Dan juga mulai lebih bisa mengapresiasi kejeniusan cara film ini dalam menceritakan bagian penyelidikan ataupun flashback; dengan meleburkan present dan past sehingga seolah karakter cerita itu langsung berada di sana.

 

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DECISION TO LEAVE

.

 

 

HOLY SPIDER Review

Dari cerita kriminal satu ke kriminal lainnya. Hanya saja there will be no love dalam film yang diangkat sutradara Ali Abbasi dari kasus kriminal nyata di kota Iran ini. Malahan, kesan setelah nonton Holy Spider beneran terasa seperti abis melihat laba-laba. Shock, ngeri. Merinding. Jijik.

Menit-menit awal dibuild up sebagai proses perjuangan jurnalis perempuan menulis dan mengungkap kasus pembunuhan berantai PSK di jalanan kota Mashhad. Perjuangan, as in, di daerah muslim seperti itu gerak perempuan seperti Rahimi jelas terbatas. Pertama, perempuan berambut pendek itu harus menutup aurat. Kedua, di sistem yang mengharuskan laki-laki sebagai pemimpin, tentu saja manusia-manusia lelakinya bisa kebablasan power dan Rahimi harus berurusan mulai dari polisi yang balik melecehkan dirinya hingga ke kerjaannya yang dipandang sebelah mata bahkan oleh keluarga korban. Cerita fiksi mungkin akan berakhir happy.  Orang yang jahat akan kalah, dan heroine kita dapat reward. Namun Holy Spider bukan fiksi. Sutradara kita mengambil materi asli bukan untuk lantas mengubahnya menjadi dongeng pengantar tidur. Holy Spider benar-benar akan menelisik keadaan di sana, mengangkat pertanyaan kenapa ini bisa terjadi, dan kemudian membenturkan Rahimi dengan si pelaku kejahatan.

Bagian yang membahas dari sisi pelaku, inilah paruh cerita yang bener-bener bikin kita shock. Gimana si pelaku malah dianggap pahlawan. Gimana keluarga pelaku malah bangga terhadap ayahnya. Film tidak melakukan ini dengan sengaja supaya dramatis, melainkan justru mengajak kita menelisik apa yang salah dengan society dan cara pandang mereka terhadap ajaran agama. Satu momen yang bikin aku percaya film ini dibuat dengan niat yang benar adalah ketika memperlihatkan pelaku kelimpungan ketika istrinya pulang padahal di ruang keluarga, dia baru saja membungkus mayat korban dengan karpet.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for HOLY SPIDER

 

 

 

RRR Review

Aku paling jarang nonton film India, but when I do, film yang kutonton karena katanya bagus itu, biasanya memang bagus. Termasuk RRR karya S.S. Rajamouli ini.

Pikirku aku telah melihat semuanya. Oh cerita dua cowok – yang begitu sama namun  juga begitu berbeda; membuat keduanya jadi kayak ‘good friends better enemies’ – yang dibuild up menuju pertarungan keduanya, kupikir akan berakhir ya di berantem. Namun momen berantem itu sudah muncul jauh sebelum durasi habis. Apalagi yang dibahas? Naskah film ini benar-benar menuntaskan cerita hingga ke sudut-sudut latarnya. Inilah yang bikin film India kayak RRR ini begitu megah, begitu besar. Durasi sepanjang itu bukan hanya digunakan untuk adegan-adegan aksi yang panjang. Bukan hanya untuk adegan-adegan nari yang konyol (toh film ini berhasil memasukkan adegan nari-nyanyi menjadi suatu kepentingan kultural) Tapi bahasan ceritanya juga. Film ini kayak, Goku-Bezita yang dikembangkan oleh berjilid-jilid komik Dragon Ball, dibahas tuntas dan bahkan lebih deep oleh film ini dalam sekali duduk pada Bheem dan Ram.

Dan soal actionnya, man. Film ini gak ragu untuk jadi over the top, tapi gak pernah terasa receh. Action-actionnya gak masuk akal, tapi karena landasan karakternya begitu kuat, kita jadi no problem ngesuspend our disbelief. Kita menikmati itu semua sebagai rintangan, sebagai kait drama yang harus dikalahkan oleh para karakter. Film ini buktiin kalo jadi over-the-top, gak musti harus berarti kehilangan otak dan hati.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for RRR

 

 

 

SHE SAID Review

Enggak beberapa lama setelah nonton Like & Share (2022) yang menurutku terlalu gamblang bicara soal numbuhin empati pake ‘lihat, dengar, dan rasakan’, aku menonton film temannya si ucup ini(“Si Sa-id” hihihi). Dan garapan Maria Schrader ini mengonfirmasi pernyataanku soal empati enggak harus pakai ‘lihat’. Cukup ‘dengar dan rasakan’

Diangkat dari kisah nyata perihal terungkapnya kasus pelecehan seksual dan abuse yang dilakukan oleh produser Harvey Weinstein kepada aktris-aktris selama beberapa tahun, She Said gambarin perjuangan tim jurnalis untuk meliput kasus tersebut. Kesusahan dan rintangan yang mereka temui, sebagian besar datang dari korban yang tidak berani mengakui. Yang sudah terikat hukum yang memihak kepada kubu yang lebih berpower. Yang aku suka dari film ini, yang bikin kita in-line dengan protagonis, adalah gak sekalipun film ini bercerita dengan eksploitatif terhadap korban. Tidak seperti Like & Share yang merasa perlu untuk memperlihatkan adegan diperkosa sampai dua kali supaya kita berempati sama karakter korban, She Said tidak sekalipun menampilkan adegan ‘reenactment’ atau apalah namanya. Spotlight tetap pada cerita korban, dan bagaimana yang mendengar harus percaya, karena itulah bukti yang mereka punya, mendengar itulah satu-satunya cara suara korban ini sampai ke telinga publik. Tanpa judgment lain.

Beberapa kali, aku duduk menatap layar, menggigit kuku dengan bimbang. She Said banyak menggunakan adegan reka-ulang. Setiap kali ada korban yang diwawancara, kita juga melihat adegan rekayasa kejadian si korban saat semua itu terjadi. Film ini akan jatuh eksploitatif jika memperlihatkan the exact moments pelecehan. Tapi tidak pernah, tidak satupun, momen tersebut digambarkan – dipertontonkan kepada kita. Alhasil, film ini jadi lebih powerful. Messagenya pun tersampaikan dengan anggun.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SHE SAID

 




TAR Review

Tod Field berhasil mengecoh banyak orang. Aku juga kecele. Kirain Lydia Tar adalah orang beneran, dan film ini adalah biopik. Ternyata enggak. Tar is completely fiction. Mengapa banyak orang bisa kemakan promo dan menganggap Tar kisah nyata? Jawabannya simpel. Karena Tar meskipun karakternya ‘ajaib’ tapi ceritanya grounded dan permasalahannya juga relevan. Orang bisa jatuh dari posisinya hanya karena berita, sudut pandang sepihak.

Yang menakjubkannya adalah Tar bicara semua itu lewat dunia yang gak familiar, setidaknya buatku. Aku mana paham soal kerjaan konduktor musik, mana ngeh soal seni musik klasik, mana open sama soal-menyoal sponsorhip dan politik untuk sebuah pagelaran konser musik klasik – I don’t even know if I’m using the right words!! Namun directing dan actingnya begitu precise, kita tidak bisa untuk tidak tersedot ke dalam dunia ceritanya. Sekuen ketika Lydia ngajarin anak muridnya yang gak mau mainin musik dari Bach karena si komposer terkenal misoginis, bener-bener akan buka mata kita tentang soal menjadi ‘woke’. Kalo kita masih bertanya-tanya gimana caranya misahin seseorang dengan karyanya, maka dialog Lydia pada adegan tersebut bisa dijadikan tutorial.

Ya, of course, nyawa Tar ada pada karakter utamanya. Ada pada pemerannya, Cate Blanchett. Mannerism-nya, sedikit keangkuhan tapi kita tak bisa menegasi kebrilianan karakter ini, menguar kuat dari penampilan akting Blanchett. Dia juga menunjukkan range luar biasa, saat cerita sampai pada titik terendah Lydia. Enggak semua momen film ini diniatkan serius dan berat, justru kebalikannya. Film ini tampak berusaha memanusiakan karakternya, sehingga kita dapat satu adegan musikal performance yang kocak berjudul Apartment for Sale. Weird Yankovic aja ampe kalah ‘sinting’ dari Lydia!!

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for TAR

 

 

 

THE BANSHEES OF INISHERIN Review

Sepintas, dua pria dewasa berantem diem-dieman sampai bakar-bakar rumah terdengar seperti sesuatu yang lucu. Sutradara Martin McDonagh juga memang meniatkan hal tersebut sebagai premis yang lucu sebagai pemantik drama. Tapi aku tahu aku tidak bisa membawa diriku untuk tertawa. Sebab buatku The Banshees of Inisherin hits too close to home. Alias nyaris amat relate sekali.

Film yang dishot secara cantik ini sungguhlah bicara tentang hal yang tragis. Naskah dan arahannya bener-bener tau cara menggarap tragedi menjadi komedi dengan efektif. Komedi di sini bukan untuk mengurangi impact tragedinya, melainkan jadi bangunan perspektif yang kokoh. Like, orang memang bisa sekonyol dan sekeras kepala Padraic ketika mereka tiba-tiba diantepin seperti demikian. Kita seringkali tidak sadar bagaimana orang memandang diri kita. Other people would find us annoying, too much, or… dull, dan kita seperti Padraic tidak bisa melihat itu sendiri. Kita butuh orang lain yang ngasih tau. Dan setelah itu, kita butuh something yang membantu kita mencerna dan mempercayai hal tersebut. Film ini bekerja dengan tone dan perspektif yang kuat dalam menggambarkan keadaan tersebut. Yang membuatnya lantas menjadi bahasan eksistensi, dan mutual respek. yang efektif. Seberapa tangguh kita menghadapi penolakan. Makanya salah satu adegan paling keren di film ini adalah saat ada anak muda yang nembak cewek yang lebih tua. Scene tersebut, udahlah maknanya nyess, tapi juga dimainkan dengan luar biasa oleh Barry Keoghan. I feel for everyone in this movie.

Lihat bagaimana Padraic masih saja melanggar padahal Colm sudah mengancam bakal memotong jarinya sendiri jika Padraic masih nekat bicara kepadanya. Aku terhenyak menonton ini. Aku dulu pernah ngejar ‘pertanggungjawaban’ orang yang ngedieminku, seperti Padraic ngejar Colm. Namun baru melalui film inilah aku ngerti apa yang sebenarnya ‘terjadi’ saat itu.  Film ini benar-benar hits hard.

Sekarang aku pengen bakar rumah.

The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for THE BANSHEES OF INISHERIN

 

 

 

THE BIG 4 Review

Mungkin, mungkin kalo aku masih SMP atau lebih muda lagi, aku bakal suka sama action komedi pertama Timo Tjahjanto ini. Karena The Big 4 adalah film simpel with nothing but aksi kocak, karakter ngelawak, dan kata-kata serapah. Yang paling bisa diapresasi dari film ini adalah melepaskan pemain dan karakter mereka dari belenggu jaim, sehingga kita semua dapat momen-momen gila mulai dari penjahat jago salsa, ariel mermaid joget, hingga ke grown man jatuh cinta sama senjata api. Tambahkan itu dengan adegan-adegan aksi yang benar-benar digarap playful. Jadilah entertainment. Gak perlu nontonnya pake otak.

Satu-satunya cara film ini jadi sesuatu adalah dengan literally ngasih sesuatu yang unik, khas dirinya sendiri. Kenapa? karena to be honest, tahun ini saja kita sudah dapat film semacam RRR dan Bullet Train yang membuktikan action absurd, konyol masih bisa dilakukan dengan naskah yang mumpuni. Bahwa ‘entertainment’ bisa dilakukan tanpa harus ninggalin otak di dalam lemari. Tanpa menciptakan kotaknya sendiri, The Big 4 hanya akan jadi batas bawah dari kelompok action absurd tersebut. Apalagi mengingat film ini memang tidak punya apa-apa lagi. Plotnya standar cerita geng ‘seperguruan’ kayak cerita-cerita film HongKong. Development karakternya gak ada karena ini adalah film yang naskahnya dikembangkan lebih dengan ‘ternyata’ ketimbang journey. Dan akting yang generik komedi-action (akting Abimana cukup mengejutkan, tho)

Film ini toh punya modal untuk jadi franchise aksi komedi yang benar-benar gokil. Semoga kalo dilanjutkan, filmnya digarap dengan jauh lebih baik lagi

The Palace of Wisdom gives 4 gold star out of 10 for THE BIG 4

 

 

 

THE FABELMANS Review

Tahun 2022 kita dapat dua film dari Steven Spielberg. Nikmat mana lagi yang mau kita dustakan.

Serius.

The Fabelmans terutama dan utama sekali, membuat kita semakin terinspirasi untuk bisa membuat film yang bagus. Secara ini adalah cerita yang diangkat dari keluarga dan masa kecil Spielberg himself. Film ini lebih impactful buatku ketimbang Licorice Pizza dan Belfast, dua film yang juga dari kisah hidup sutradaranya masing-masing, dan dua film itu jelas bukan film ecek-ecek. The Fabelmans terasa melampaui keduanya karena storytelling yang amat personal dari Spielberg dapat kita rasakan menguar dari adegan demi adegan. Mari bicara tentang adegan-adegan Sammy membuat film kecil-kecilan. Kita melihat dia sedari kecil suka dan bereksperimen dengan kamera. Film dengan keren membuild up kecintaan Sammy terhadap sinema dengan memperlihatkan reaksinya yang selalu terbayang adegan kecelakaan kereta api yang ia tonton di bioskop (awalnya dia takut masuk bioskop). Ini kan obsesi sebenarnya, tapi Spielberg yang paham selangkah tentang bercerita lewat perspektif anak kecil, menghandle itu semua dengan begitu… pure! Ketika gedean dikit, Sammy membuat film koboi untuk diputar di depan teman-teman sekelas. Momen dia menemukan cara untuk ngasih efek ledakan ke pita filmnya, maaannn, momen-momen kayak gini yang kumaksud ketika kubilang film ini menginspirasi. Dan lantas kita diperlihatkan dengan dramatis gimana film yang dibuat Sammy selalu sukses mempengaruhi, selalu menimbulkan kesan mendalam, kepada siapapun penontonnya. Aku pengen bisa kayak gitu!

Bagian itulah yang digunakan Spielberg untuk memasukkan konflik. Sammy menyelesaikan urusannya dengan tukang bully di sekolah. Sammy yang pertama kali menyadari ibunya enggak cinta dengan ayahnya. Lewat kerjaan dia membuat film, mengedit adegan.  Ya, at heart film ini cukup tragis dengan konflik keluarga. Tapi semua itu diceritakan film ini lewat tutur yang beautiful. Lewat akting yang cakep pula. Mulai dari Paul Dano, Seth Rogen, Michelle Williams, cameo David Lynch, serta Gabrielle LaBelle dan aktor muda lainnya (mataku khususnya tertuju kepada Julia Butters – terakhir kali lihat dia adu akting dengan DiCaprio di Once Upon a Time in Hollywood) Spielberg memang masterful dalam ngedirect. Semua visinya seperti mengalir deras ke karakter-karakter. The Fabelmans benar-benar film tentang magic of a movie!

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE FABELMANS

 

 




That’s all we have for now

Dengan ini rampung sudah reviewku untuk tahun 2022. Film-film yang sudah tertonton tapi belum direview akan kumasukkan ke penilaian 2023, jika ada. Yang jelas; Nantikan bulan depan ada Daftar Top-8 Movies tahun ini, serta My Dirt Sheet Awards yang akhirnya kuadain kembali.

Thanks for reading.

Selamat tahun baru semua. Enjoy cinema!

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



GLASS ONION: A KNIVES OUT MYSTERY Review

 

“Rippling water shows lack of depth”

 

 

Orang kaya kalo gak jahat, ya pembual. Banyak film telah mengestablish soal karakter tersebut, tapi Rian Johnson dalam Glass Onion membawa soal tersebut lebih tegas lagi. Bertindak sebagai kasus berikutnya dalam petualangan detektif Benoit Blanc, Glass Onion didesain oleh Johnson sebagai sindiran untuk milyuner-milyuner banci-tampil yang kita kenal di era teknologi canggih sekarang ini. Gimana kalo mereka sebenarnya gak sepintar image yang mereka tampilin? Gimana kalo sebenarnya mereka cuma bayar ide milik orang lain? Gimana kalo sebenarnya, mereka gak punya bakat apa-apa selain ya, bakat ‘jual-obat’; omong gede dan tampilan meyakinkan? Makanya film ini juga serta merta lucu ketika membahas karakter tersebut dan orang-orang yang nempel kepadanya. Yang enjoyable pada sekuel Knives Out (2019) ini bukan lagi misteri pembunuhannya. Honestly, buatku kasus dan si detektif itu sendiri adalah titik lemah dalam penulisan film kali ini. Melainkan, yang menyenangkan dari film ini adalah saat melihat jaring-jaring pertemanan mereka yang tampak erat itu mengelupas sendiri dan menampilkan sesuatu yang ternyata begitu rapuh. Persis seperti glass onion itu sendiri.

Set up-nya sih memang murder mystery banget. Sekelompok orang diundang oleh milyuner ke villa keren di sebuah pulau. Surat Undangannya gak tanggung-tanggung; kotak gede berisi rangkaian puzzle. Yang kalo berhasil dipecahin, maka di dalamnya ada undangan personal. Keren banget kan. Makin kagumlah orang-orang ini dengan si milyuner (eventho emak-emak saja bisa mecahin puzzle-puzzle tersebut) Tapi yah, karena actually mereka semua adalah teman segeng, teman lama yang sama-sama bikin bar sebelum masing-masing berhasil jadi orang gede, mereka tetap datang. Termasuk Andi, yang sudah keluar dari grup lantaran ada cekcok di masa lalu. Yang jelas. pusat kelompok mereka memang adalah si milyuner tech tersebut. Miles, yang sukses berat dengan perusahaan Alpha hingga sekarang dia ‘membantu’ teman-temannya dalam berbagai rupa. Miles telah merancang game misteri-pembunuhan sebagai hiburan di pulau. Tapi ternyata, terjadi pembunuhan-beneran. Salah seorang terbunuh, diduga keracunan. Untungnya bersama mereka hadir detektif Benoit Blanc – meskipun Miles sendiri mengaku tidak mengundang. Blanc harus menguak hubungan antara masing-masing mereka untuk mengetahui bukan hanya siapa pelaku, tapi juga apa sebenarnya kasus ini.

Puzzle-puzzle itu bikin aku teringat belum purchase game Mystery Case Files edisi tahun ini

 

Tapi Rian Johnson seperti tidak mau terjebak di penggarapan murder mystery yang itu-itu melulu. Whodunit yang sekadar mengungkap siapa pelakunya. Terutama, dia tidak mau film kali ini terasa seperti replika dari film yang pertama. Sure, ada beberapa ‘resep’ yang dipakai kembali. Kayak, jejeran cast yang ‘rame’. Selain Daniel Craig yang kembali untuk memerankan detektif yang dandy dan punya aksen tersendiri, Glass Onion punya segudang aktor lagi yang total meranin karakter dengan tipe dan kekhasan masing-masing. Batista di sini jadi tipe nerd unik yang got big, dia kayak golongan yang gak percaya covid dan percayanya pada hak megang pistol. You know, karena film ini nyindir orang kaya, maka otomatis juga berarti film ini membidik kelas sosial atas lainnya, seperti politisi. Karakter Kathryn Hahn literally senator cewek yang tampaknya cuma punya kepedulian terhadap citra dan elektabilitasnya untuk pemilu. Selain mereka juga ada scientist yang diperankan Leslie Odom Jr., dia ini kayak manut aja sama Miles. Kate Hudson malah meranin model, yang pikirannya zonk banget ampe bisa-bisanya ngira sweatshop itu pabrik tempat bikin sweat pants. Ada banyak lagi karakter yang tak kalah unik dan cameo yang tak kalah bikin kita excited. Malah ada juga satu karakter yang cuma numpang tinggal di tempat itu dan sesekali muncul di background untuk komedi singkat. Sampai sekarang aku masih bingung kenapa ada karakter itu, kepentingannya apa. Cuma, ya, maklum sih untuk bikin lucu aja haha..

Vibe dan tone pun masih basically mirip film pertama. Hanya tentu saja, yang namanya sekuel tentu pengen tampil lebih besar daripada film pertama. Apalagi cerita kali ini konteksnya tentang orang yang beriak tapi tak dalam. Maka panggung cerita dibikin lebih mentereng. Bangunan tempat mereka tinggal sangat mewah. Mulai dari mobil kinclong, glass onion raksasa, sampai lukisan Mona Lisa asli, dipajang oleh Miles. Kesan dilebih-lebihkan ini membuat film terasa semakin kocak. Dan menonton semua itu sambil menunggu kasus apa yang bakal terjadi, rasanya cukup fresh. Film ini masih belum bikin kita bosan meskipun tahun ini ada Bodies Bodies Bodies  (2022) yang juga cerita misteri pembunuhan dengan sindiran kelas sosial yang actually lebih solid dalam bercerita. Film Glass Onion begitu khawatir mengulangi rutintas cerita yang sama. Hal tersebut seems like a big no buat Johnson, sehingga dia mati-matian berusaha mencari cara yang unik untuk menampung misteri pembunuhan dan terutama sindiran kelas sosial. Johnson enggak sadar, dengan begitu dia justru terjebak dan sendirinya membuat sesuatu yang juga seperti glass onion yang ia simbolkan.

Indonesia mengenal pepatah air beriak tanda tak dalam untuk mengumpamakan orang yang gede omong doang tapi isi otaknya kosong. Orang barat gak kenal pepatah tersebut. Makanya film ini menggunakan simbol glass onion, ornamen mentereng dari kaca yang tampak begitu kompleks, namun semua orang yang melihat sebenarnya tahu benda itu kosong. Begitulah film ini mendeskripsikan milyuner teknologi seperti Miles. Bahwa semua kemewahan dan kecanggihan itu hanya ilusi, dan itu tidak terbatas kepada barang-barang. Karena film juga memperdengarkan itu lewat dialog. Miles menggunakan istilah-istilah ‘keren’ dalam speech-nya, padahal penggunaannya tidak tepat. Ironi lantas didatangkan dari dia yang merasa hebat sebagai disruptor, ternyata sendirinya segampang itu dihancurkan karena deep inside, dia gak punya pondasi apa-apa.

 

Glass Onion tidak bercerita dengan struktur tiga-babak tradisional. Pembunuhannya baru terjadi di mid-point cerita – seperti Death on the Nile (2022) – tapi Johnson tidak lantas melanjutkan ke sekuen tiga-babak berikutnya. Karena di ceritanya ini mid-point bukanlah point-of-no-return seperti pada struktur biasa. Melainkan, justru dijadikan point saat cerita mulai bergerak return ke awal. Sekuen ‘taktik baru’ film ini literally perspektif baru yang kita lihat pada Detektif Blanc, sebab di titik itu kita dibawa kembali saat dia masih di rumah, menerima undangan, dan ternyata dia sudah punya rencana tersendiri. Ternyata dia datang ke pulau itu tidak se-‘orang baru’ yang kita dan karakter lain sangka. Glass Onion seperti terbagi atas dua bagian. Sejam pertama kita masuk ke circle Miles bareng-bareng Blanc, kita sama-sama dengannya berusaha menyimak siapa orang-orang di sana. Lalu sejam kedua, kita hanya menonton Blanc, kita terlepas karena ternyata dia juga punya rahasia. Cerita Blanc kali ini bahkan bukan tentang dia mecahin kasus pembunuhan. Aku malah mendapat kesan Blanc ada di sana hanya untuk mencari bukti bahwa Miles memang salah dan dia memang pelaku pada malam itu. No aku salah. bahkan bukan Blanc yang menemukan buktinya. Dia cuma di sana untuk mengulur waktu dan karena dia dituliskan cerdas, saat mengulur waktu tersebut dia menemukan jawaban atas misteri pembunuhan.

Blanc doing nothing kayak impostor di game Among Us yang ia mainkan di awal

 

Aku mulai merasa aneh saat Blanc mengenyahkan gitu saja pertanyaan soal kenapa karakter korban itu mati, dengan jawaban untuk tahu itu harus diotopsi dulu. Like, maan, aneh banget seorang detektif tapi kayak gak mikirin lebih lanjut ketika ada orang yang mati kayak kecekek setelah minum, di antara kelompok orang yang ia tahu punya motif untuk saling menyakiti. Ini kalo cerita Detektif Conan, si Conan pasti langsung ngendus-ngendus korban, gelas; meriksa apapun yang bisa jadi identifikasi untuk racun. Nyelediki di mana, dari mana, dan kapan naro racunnya. Soalnya kan bahaya kalo itu memang racun dan korbannya salah-incar. Apalagi kalo ternyata itu racun yang belum ia tahu. Fokusnya pasti mencari tahu senjata pembunuhannya apa, Tapi Benoit Blanc gak peduli semua itu. Naskah memang punya alasan untuk membuat Blanc tidak ‘tertarik’ soal tersebut, namun itu juga lantas membuat Blanc terlihat seperti detektif yang kurang cakap. Kalo dia langsung nyeledikin, pastilah senjata pembunuh yang ternyata sepele itu langsung ketahuan dan pembunuhan lain dan kejadian-kejadian berikutnya tidak perlu terjadi. Film bisa langsung masuk ke babak tiga, dan tamat. Maka dari itulah, aku nyadar; bukan Blanc-nya yang gak cakap. Blanc jadi tampil sembrono kayak gitu karena naskahnya lah yang masih anak bawang dalam menggarap misteri sekaligus sindiran. Naskah yang tidak lagi benar-benar peduli sama misteri, melainkan cuma pengen masukin sindiran ke milyuner saja.

Struktur berlapis kayak bawang yang dilakukan Johnson tadi sebenarnya dilakukan untuk menutupi kelemahan cerita pembunuhan. Like I said, kalo dalam situasi normal, detektif seperti Blanc akan bisa menebak apa yang terjadi di ruang TKP itu. Cerita ini tidak punya puncak dalam misteri pembunuhannya. Konflik dan misterinya justru pada siapa sebenarnya si Andi. Itulah yang diusahakan untuk terceritakan secara dramatis oleh struktur cerita film ini. Apakah dia berhasil untuk itu? Aku bilang, untuk ngasih kejutan-kejutan dan bikin kita tetap melek; ya berhasil. Tapi struktur begini tidak ngasih apa-apa untuk development karakter. Blanc tidak mengalami pembelajaran apa-apa (bandingkan dengan Poirot di Death on the Nile yang sambil mecahin kasus, dia juga makin mengerti bahwa cinta membuat orang rela melakukan apa saja). Blanc mengaku dia payah dalam ‘dumb game’, dan sampai akhir dia tetap payah, karena tidak memecahkan kasus sedari pertama. Yang dilakukan Blanc di sini seperti kebalikan dari detektif lain. Blanc menebak cara membunuhnya, dari pelaku yang sudah ia curigai sebelumnya. Bukan dari menyelidiki kasus lalu menyimpulkan pelaku.  Miles juga tidak kelihatan sadar kesalahan. Karakter lain tetap seperti mereka di awal, begitu tidak bisa berlindung di balik orang, mereka ninggalin orang itu. Dan Andi, well, she’s got her revenge. That’s all. Jadi ya, setelah layer-layer dan gaya bercerita wah-wah dan sindiran untuk milyuner tersebut, film ini benar-benar kosong juga ternyata di tengahnya bagi para karakter.

 

 




Bukti satu lagi film ini tidak care sama misterinya adalah kita juga dibuat bisa langsung tahu kalo pelakunya adalah Miles. Film dengan berani memperlihatkan momen-momen penting pembunuhan. Penonton yang terbiasa menatap layar dengan total, gak perlu jeli-jeli amat, akan langsung bisa melihat keterangan Miles itu gak sesuai kenyataan. Terlebih film ini tayangnya bukan di bioskop, jadi adegan-adegan tersebut langsung bisa dikonfirmasi ulang. So in the end, jika misteri tersebut sedari awal tidak pernah diniatkan sebagai misteri, yang ditonton pada film ini sebenarnya cuma sindiran buat orang-orang kayak Miles saja. Sindiran yang dilakukan cuma dengan gaya. Tanpa development karakter manapun – sebanyak itu karakternya padahal. Detektifnya aja tak lagi tampak demikian hebat selesai film ini. Tampaknya film ini melakukan itu awalnya karena tidak mau misteri pembunuhan yang itu-itu melulu. Tapi mereka tidak memperhitungkan, bahwa film tentang sindiran kelas sosial pun sudah banyak yang melakukan. Like, Triangle of Sadness (2022) melakukan sindiran kepada orang kaya lebih baik dan kocak karena ada development dan meskipun tajam tapi gak lupa untuk diseimbangkan. Bodies Bodies Bodies melakukan gubahan misteri dengan lebih solid, juga dengan pesan sosial yang tak kalah kocaknya. So yea, film ini meluangkan banyak untuk gaya, mengorbankan karakter dan bahkan genre awalnya sendiri. tapi gak benar-benar mencapai hal baru. Just another smart-entertainment selama dua jam saja.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GLASS ONION: A KNIVES OUT MYSTERY

 

 




That’s all we have for now.

Kenapa sih orang kayak Miles terbukti bisa lebih sukses daripada yang beneran punya keahlian? Apakah dunia memang lebih menghargai penampil daripada pemikir?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



CEK TOKO SEBELAH Review – [2016 REPOST]

 

“No legacy is so rich as honesty.”

 

cektokosebelah-poster

 

It’s about time ada yang buat film tentang kehidupan pemilik toko sembako!

Hahaha seriously, kita bisa menemukan toko-toko yang jual jajanan kebutuhan sehari-hari tersebut di mana-mana. Rumahku practically dikelilingi oleh mereka sampai-sampai panggilannya berubah dari “kedai acong” dan “kedai si Gu” menjadi sesimpel “kedai belakang” dan “kedai depan”. Namun entah apa sebabnya tidak ada yang berani bikin cerita yang berpusat di lingkungan toko-toko kecil tersebut, I dunno – mungkin sejak warung Mak Nyak, padahal mereka begitu dekat dengan keseharian. Orang lebih tertarik sama film yang berjalan-jalan ke luar negeri. Jadi itulah sebabnya mengapa aku masuk ke studio dengan harapan yang cukup tinggi buat film ini. This could be a very interesting movie, dengan ide yang sederhana (namun ngena!), yang benar-benar dialami oleh pemilik toko di luar sana.

Cek Toko Sebelah pun tidak melewatkan kesempatan untuk berdekat-dekat ria dengan penonton. Setiap dialog, setiap adegan, setiap jokes terasa sangat lokal. Tidak susah untuk kita mengerti, tidak sukar bagi kita untuk merasa akrab dan erat dengan apa yang kita saksikan di layar. Kata orang, “it’s funny because it is true!”, Cek Toko Sebelah did a great job dalam menjaga dirinya tetap relevan dengan isu-isu yang berkembang di masyarakat. Film ini menempatkan KOMEDI SEBAGAI KOMODITI DAGANGAN PERTAMA, DAN DRAMA KELUARGA SEBAGAI JUALAN KEDUA sekaligus sebagai penggerak narasi.

 “kalo gak percaya, cek toko sebelah!”

“kalo gak percaya, cek toko sebelah!”

 

Mari bicara soal drama keluarganya duluan.

Koh Afuk yang mulai sakit-sakitan ingin terus melanjutkan usaha toko yang sejak dahulu ia lakukan bersama almarhum sang istri. Bagi Koh, toko ini punya sentimental value yang luar biasa. Dari antara dua putranya, Koh Afuk mempercayakan toko ke tangan anak bungsu, Erwin. Dan di sinilah Cek Toko Sebelah mengeksplorasi sisi dramatisnya. Erwin adalah pemuda yang lagi sukses-suksesnya di kantor, he has a great life going on; sebentar lagi dia bakal dapat promosi dan dipindahtugaskan ke Singapura. So obviously, Erwin dan pacarnya yang kece rada enggan disuruh ninggalin semua itu demi duduk nyatetin bon utang di toko keluarga. Keputusan Koh Afuk juga menimbulkan percikan api di dalam diri Yohan, anak tertua di keluarga. Yohan merasa left out so bad. Padahal secara keadaan hidup, Yohan dan istrinya lebih membutuhkan toko untuk menyokong his own family.

Sembari cerita berlanjut, kita akan mengerti alasan di balik kenapa Koh Afuk lebih mempercayakan tokonya kepada Erwin. At it’s heart, film ini bercerita banyak tentang masalah-masalah yang umum timbul dalam keluarga; pemasalahan sepele menyangkut trust, kerelaan, yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan duduk baik-baik dan bicara. Film ini mencoba untuk menelaah problematika ini, yang justru terkadang bikin kita geram. Seringkali terbit rasa kesalku nonton ini karena realized apa yang tejadi kepada mereka bisa dengan segera beres jika Yohan mau ngomongin baik-baik keinginannya; jika Erwin dengan tegas untuk berkata “tidak” sedari awal.

Ada masing-masing sisi dari Erwin dan Yohan yang cukup terasa relatable buatku. Oh I’ve been there before. Aku tahu nyelekitnya enggak dipercaya oleh orang-orang yang sangat ingin kau pinjamkan pundak kepada mereka. Aku juga mengerti gimana beratnya untuk menolak permintaan dari orang yang kita cintai. And unfortunately, baik bagi Erwin dan aku, we learned in a hard way gimana ‘berpura’ menuruti kehendak demi nyenengin hati turns out adalah tindakan yang lebih menyakitkan. Inilah masalah terbesar dalam setiap keluarga; kita tidak terbuka dalam berkomunikasi. Dan lucunya, kita bertindak demikian dengan alasan menghindari konflik. Tanpa sadar bahwa itu justru membuat hal menjadi bagai api di dalam sekam.

 

Dan kemudian, ada sisi komedi.

Ada sejumlah anekdot segar dengan delivery timing yang oke yang bakal sukses bikin kita terpingkal. Sepertinya keputusan memakai para komika adalah tindakan yang tepat bagi film ini. There are some running-in jokes diintegralkan ke dalam narasi, yang actually punya pay-off dan really worked. Film ini akan memberikan kita hiburan yang konstan in terms of lawak-lawakan. Ketawaku paling keras datang pada adegan saat seorang satpam melakukan semacam mediasi antara Yohan dengan Erwin. Sebagai pembanding; kalo kalian suka nonton serial Scream Queens, kalian akan kebayang persisnya gimana humor dalam film ini bekerja. Over-the-topnya mirip, dengan lebih sedikit karakterisasi, sayangnya. Film ini juga memasukkan cerita persaingan antar-toko, untuk memperjelas struggle yang dialami oleh toko Koh Afuk, yang eventually membawa kita kepada salah satu adegan lovable yang really funny yang melibatkan dua pemilik toko yang ‘bersaing’.

 

Ayo siapa di sini yang udah sekolah tinggi-tinggi malah disuruh jagain legacy orangtuanyaa??

Namun begitu, aku tidak bilang Cek Toko Sebelah adalah film yang benar-benar hebat. It stands out sebagai film yang berani mengangkat topik original yang unconventional. Menghibur, iya. Dramatis, sering juga. Hanya saja tidak pernah tone tersebut terasa sejalan. Kurang mulus. Tone dan arahannya didn’t work for me. Setengah-pertama film – di mana kita akan melihat rangkaian adegan Erwin yang bekerja di toko yang diceritakan dengan menyerupai gaya montage – berat oleh unsur komedi, sementara dramanya baru datang setelah pertengahan. Film kerap pindah cut antara keadaan Erwin di toko dengan keadaan Yohan yang galau atau antara Koh termenung di toko dengan Yohan yang main kartu dengan teman-teman, dan setiap perpindahan adegan membuat kita terlepas dari emosi yang sudah terbangun di adegan sebelumnya. Membuat setiap sekuens rather episodic.

Kita tidak menyaksikan actual interaksi sodara antara dua tokoh sentral, Erwin dan Yohan, sampai ayah mereka jatuh sakit di tengah cerita. Di mana mereka kemudian bekerja sama, leads us ke sebuah resolusi yang terasa abrupt karena kita merasakan hubungan mereka, ataupun device untuk resolusinya, tidak diset-up properly. Isu terbesarku adalah dengan karakter Erwin. Yea, film ini menggunakan tiga tokoh yang berjalan paralel, akan tetapi hanya Erwin seoranglah yang tidak punya stake yang bener-bener bikin kita peduli kepadanya. Ditambah lagi, karakternya sendiri memang digambarkan kinda jerk, yang bagiku terlihat kayak rip-off serabutan dari karakter Schmidt di serial New Girl. Dia seorang yang selfish, but dia ngedraw a line soal gak mau bohong. And yet transisinya menjadi peduli kepada toko tidak pernah kelihatan. I mean, apa journey karakter si Erwin di sini?

 “Makasih ya”/ “Kok makasi? Kita gak ngapa-ngapain kok” EXACTLY

“Makasih ya”/ “Kok makasi? Kita gak ngapa-ngapain kok” EXACTLY!!

 

Ernest Prakasa menyabet banyak penghargaan penulisan skenario untuk filmnya Ngenest di tahun 2015 adalah salah satu yang bikin aku penasaran sama film Cek Toko Sebelah. I think skenarionya kali ini rada convoluted, tho. But, dari performancenya sebagai pemeran Erwin lah, Ernest terasa paling kurang. Literally, dia dengan sukses outperformed by any other casts, bahkan oleh komika-komika dan peran komikal mereka. Penampilan Erwin begitu forced, adegan yang nampilin dia dengan pacarnya sungguh susah untuk dinikmati. With that being said, penampilan terbaik di film ini datang dari Dion Wiyoko yang berperan sebagai Yohan dan aktor asal Malaysia Chew Kin Wah yang memainkan tokoh Koh Afuk. Karakter dan journey mereka lebih compelling sebagai tokoh utama. Pun mereka berdua memainkan range emosi masing-masing dengan seamless. Momen saat mereka berdua menjelang akhir film punya weight emotional yang kuat karena mereka memainkan peran dengan benar-benar contained.

 




Menawarkan adegan menghibur secara konstan. At times, menyenangkan. Meski begitu, aku tidak bisa bilang suka banget sama arahan narasi film ini, yang meski tak konvensional namun terasa konyol buat inti ceritanya. It feels a bit too orchestrated, tho. Bahkan segmen behind the scenes di closing credit kayak scripted. Padahal film ini berangkat dari premis yang begitu grounded. Komedinya kocak akan tetapi aku juga tidak bisa bilang film ini diselamatkan oleh komedinya. It work best when it tries to capture the dramatic side of its story. Film ini sepertinya aware dengan kelemahan resolusi-real yang dimiliki oleh ceritanya – as in nothing would happen jika mereka mau membicarakannya baik-baik sedari awal – jadi ia menyamarkannya dengan lanjut menjadi sedikit over-the-top. Dan untuk karakterisasinya, tidak banyak yang dijual selain pada tokoh Yohan dan Koh Afuk.
The Palace of Wisdom gives 7 gold stars out of 10 for CEK TOKO SEBELAH.

 




That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.



CEK TOKO SEBELAH 2 Review

 

“Never be ashamed of where you came from; Who your family is.”

 

 

Masih ingat Erwin yang menolak diwarisi toko kelontong oleh ayahnya, karena pengen berkarir di Singapura? Begini keadaannya sekarang; Erwin terduduk galau. Dia mendapat ultimatum keras dari ibu calon mertua. Kalo cinta dan masih mau menikahi Natalie, Erwin harus merelakan untuk tidak mengambil kerjaan di Singapur. Harus tetap stay di Indonesia. Tapi itu juga akan berarti dia telah membuat ayahnya – yang sudah merelakan toko keluarga demi mendahulukan anak-anaknya – kecewa. Ernest Prakasa menempatkan karakter yang ia perankan  dalam posisi yang sulit, sebagai kait emosi dalam sekuel Cek Toko Sebelah. Tanpa kehilangan warna komedi yang menghiasi latar dan karakter-karakternya, drama keluarga Tionghoa ini ternyata masih berlanjut, dengan permasalahan ‘permintaan orangtua’ yang lebih berat. Sampai bawa-bawa soal gender dan kelas sosial segala, saat keluarga Erwin yang sederhana ditemukan dengan tuntutan keluarga Natalie yang dikepalai oleh ibu yang powerful nan kaya raya.

Dari CTS jadi CRS; Crazy Rich Sebelah

 

Sementara Erwin bergulat dengan permintaan ibu Natalie, Yohan dan istrinya yang galak, Ayu (Dion Wiyoko dan Adinia Wirasti reprised their role, dengan penambahan muatan drama) harus berhadapan dengan permintaan baru dari ayah mereka. Koh Afuk meminta anak sulungnya itu untuk segera punya momongan. Agaknya, Koh Afuk yang sudah pensiun dari ngurusin toko itu merasa kesepian. Pengen main-main ama cucu. Masalahnya adalah, Ayu belum siap untuk punya anak. Sehingga ini memancing tensi di antara keluarga mereka. Apalagi ketika Koh Afuk dengan sengaja ngide supaya temannya menitipkan anak kepada Yohan dan Ayu. Kehadiran Amanda dan kameranya (Widuri Puteri, penampilan singkat dan berkesan) diharapkan ngasih perubahan suasana di rumah Yohan dan Ayu. Buatku, permasalahan keluarga Yohan terasa lebih menohok. Perspektif Ayu yang ditonjolkan di persoalan gak mau punya anak ini ngasih muatan emosional yang kuat terhadap tema yang menjadi benang merah keseluruhan cerita Cek Toko Sebelah 2. Yakni tentang tidak malu terhadap keluarga sendiri. Jika pada cerita Erwin, permasalahan tersebut tercermin secara gamblang; di hadapan ibu camer yang kaya, Erwin terdesak dan terpaksa bohong mengenai ayahnya yang kini pensiunan yang gak ada kerjaan dan mengenai abangnya yang pernah berurusan dengan substance terlarang, maka pada Ayu hal tersebut tercermin jadi suatu sudut pandang di level yang berbeda. Karena keluarga Ayu got real dark, dan ini scarred her for life.

Kita tidak bisa memilih di mana dan dari siapa kita lahir. Beberapa orang terlahir berkecukupan, sementara beberapa lagi lahir dalam kekurangan. Beberapa lahir dalam keluarga yang menyayangi, beberapa lahir basically sama saja kayak tanpa sosok orangtua. Tapi alih-alih malu, akar tersebut sebaiknya dijadikan pijakan untuk menjadi orang yang lebih baik. Seperti orangtua kita yang punya alasan tersendiri, kita juga mestinya punya alasan untuk jadi lebih baik. 

 

Memang, seperti film pertamanya, Cek Toko Sebelah 2 juga dikembangkan dengan multi-perspektif. Erwin, Koh Afuk, dan karakter lain punya cerita atau masalah sendiri. Tentu saja ini membuka ruang yang luas untuk eksplorasi karakter tersebut. Membuat mereka punya momen masing-masing, baik itu yang ringan maupun yang emosional. Kayak, kita jadi bisa melihat gimana hubungan Erwin dan Natalie yang sweet dan lucu terjalin. Karakter Natalie sudah ada sejak film pertama, namun baru di film ini personalitynya diperlihatkan mendalam. Dan Laura Basuki adalah pilihan yang lebih dari cukup, as in, Laura Basuki bener-bener menghidupkan karakter ini, jadi natural, berkat range aktingnya. Natalie di sini bisa menimpali awkwardnya Erwin dengan berbagai feeling, bisa unyu kayak anak remaja, bisa juga serius kayak orang dewasa pacaran beneran. Chew Kinwah juga mampu membawa Koh Afuk tetap dinamis, meskipun di film kali ini perannya cukup ‘berkurang’, dalam artian screen time maupun ya, literally gak banyak banget yang dilakukannya di sini selain gelisah Yohan belum punya anak dan Erwin bohong mengenai dirinya. But when he did, impact emosionalnya bakal gak kalah gede.

Dari semua karakter, yang mau aku khususkan di sini adalah antagonisnya. Si Ibu calon mertua,  yang diperankan oleh Maya Hasan. Penulisan karakternya keren. Antagonis sebenarnya tidak bisa begitu saja disederhakan sebagai penjahat. Antagonis lebih tepatnya adalah lawan dari protagonis; orang yang menjadi rintangan dari karakter utama cerita. Dan dalam cerita yang bagus protagonis versus antagonis bukanlah soal benar lawan salah, baik lawan jahat. Melainkan soal perbedaan prinsip, standpoint. Belief.  Antagonis yang hebat membuat kita mengerti standpointnya. Membuat kita paham dia bisa berpikir seperti itu darimana. Dengan kita paham si antagonis, maka otomatis kita jadi mengerti betapa dia jadi sebenarnya rintangan buat protagonis. Jadi hambatan yang bakal memaksa protagonis untuk berubah, memikirkan ulang pilihannya. Nah si mama Natalie ini persis demikian. Kita bisa melihat dia nyusahin Erwin dengan syarat-syarat dan campur tangan di segala urusan, tapi kita juga tahu dia ada benarnya. Omongan si tante soal keadilan dan tindakannya setelah tahu Erwin bohong, kita tidak melihat itu sebagai tindakan seorang yang jahat, walaupun kita tahu dia bakal bikin ‘hero’ kita sengsara. Aku memang lantas teringat sama ibu mertua di Crazy Rich Asians (2018). Sosok matriarkal yang sama powerfulnya. ‘Kebenciannya’ terhadap Rachel yang ia sangka gold-digger, terus mendorong si protagonis untuk menunjukkan bahwa ia orang yang tepat untuk anak si ibu. Membuat protagonis mengembangkan diri. Dan puncaknya adalah adegan mahyong yang menyabet Best Movie Scene di My Dirt Sheet Awards 8Mile (2018). Point is, dinamika antagonis dan protagonis membuat narasi jadi ada gonjang-ganjing sampai akhirnya punya konklusi yang terasa earned bagi semua orang. Saat journey mereka berakhir dan mereka melihat dengan lebih baik sekarang. Cek Toko Sebelah 2 harusnya bisa mencapai ketinggian emosi yang sama. Atau mungkin malah lebih, mengingat ada lebih banyak karakter dan masalah.

Erwin masih beruntung, seenggaknya calon mertuanya gak kayak mertua di Bajaj Bajuri hihihi

 

Aku terus menunggu ‘adegan mahyong’ versi Cek Toko Sebelah 2. Menunggu momen Erwin menunjukkan perkembangan, dan stand up for himself. Owning semua kesalahan sekaligus memperlihatkan dia sudah jadi orang yang lebih baik. yang paling pantas untuk Natalie. Dan adalah salah si ibu untuk tidak melihat semua itu. Tapi yang actually kita dapatkan adalah Erwin balik badan dan ‘kabur’ dari si ibu. Momen pembelajaran ternyata ada pada karakter si Ibu dan Koh Afuk. Dua orangtua yang tadinya meminta suatu hal. Kan jadi lucu. Film ini dibuka oleh sekuen dua anak muda yang bertemu lalu jadian , tapi resolve masalah di akhir adalah karakter lain. Like, kalo pembelajarannya memang pada orangtua, maka cara atau struktur bercerita film ini enggak sesuai dengan tujuan tersebut. Sebab dengan membuatnya seperti begini, justru yang tertampilkan adalah karakter utama kita – si Erwin – dan pasangannya – enggak ada problem. Enggak ada pembelajaran. Erwin ninggalin semua orang aja bisa beres dengan gampang.

Multi-stori atau multi-perspektif dituliskan oleh Ernest dengan lebih baik pada film Cek Toko Sebelah yang pertama. Di film itu ketiga karakter sentral selain punya masalah, tapi juga punya development masing-masing. Mereka diberikan stake masing-masing. Karir, cinta, dan warisan. Pada saat penyelesaian, ketiganya terasa ‘ngelingker’, terasa telah menjadi pribadi yang lebih baik ketimbang saat di awal cerita. Sedangkan pada film sekuelnya ini, terasa kayak dibagi-bagi. Yang punya stake adalah Erwin. Yang punya development atau perubahan adalah Ayu dan Ibu Natalie. Yang resolve semuanya Koh Afuk. Ini juga membuat keseluruhan narasi seperti terkotak-kotak episode. Oh awalnya episode kenalan Erwin ama Natalie. Terus pindah dulu ke episode Yohan dan Ayu mengasuh Amanda. Terus ke episode pernikahan. Tiap episode punya puncak dan penyelesaian sendiri. Enggak mengalir bareng-bareng.

Soal jokesnya, aku gak mau bilang banyak. Yang jelas gaya joke khas film-film Ernest tetap dipertahankan. For better and worse. Better, karena sekarang sudah lebih mulus masuk ke narasi utama. Worse, karena beberapa adegan lucu-lucuan tersebut not really add anything to the story. Misalnya kayak candaan soal pikun di sepuluh menit pertama film. Candaan yang sangat elaborate. Perlu diingat, sepuluh menit pertama krusial bagi film karena di periode itu film bakal mati-matian ngeset tone, stake, motivasi protagonis, serta tentang apa sih cerita mereka. Sehingga ketika ada candaan panjang yang membahas soal pikun, seolah film sedang mengeset permasalahan pikun sebagai yang bakal dihadapi oleh karakter. Tapi ternyata tidak. Pikun itu ternyata hanya sebatas candaan selewat, seperti banyak lagi nantinya candaan selewat yang menambah-nambah durasi. I mean, sungguh waktu yang aneh untuk memasukkan candaan, sementara sepuluh menit pertama mestinya digunakan untuk ngeset yang lebih penting. So yea, agak disayangkan penulisan film ini agak menurun dibanding yang pertama. Padahal secara penceritaannya sendiri, Ernest banyak menggunakan teknik-teknik baru. Seperti main di editing seperti jump cut, juga main di kontras warna seperti memberikan warna yang lebih kinclong saat di adegan-adegan orang kaya dan lebih oren saat di adegan lebih sederhana.

 




Setelah Teka-Teki Tika (2021) yang kayak api kebakaran hutan alias naskahnya merambat ke mana-mana, jadi besar secara liar, Ernest Prakasa slowly bangkit dan kembali ke yang bikin dia bercokol di perpetaan film tanah air pada awalnya. Yaitu cerita keluarga yang grounded. Dengan warna yang memberikan identitas kepada karakter dan dunia ceritanya. Sekuel ini berhasil menyambungkan cerita, mengekspansi karakter-karakter yang sudah dikenal lewat permasalahan baru. Multi-storinya membuat dunia cerita menjadi lebih kaya, memuat karakter lebih banyak dan lebih kuat personality. It has moments, hanya saja struktur berceritanya sedikit penurunan dibandingkan film pertama yang lebih ngalir. Film kedua ini dibentuk dengan lebih episodik, dan dibagi-bagi. Karakter antagonisnya dituliskan kuat, tapi protagonisnya tidak diberikan hal yang sama. Yaah, mungkin itu ‘sebelah’ yang dimaksud film ini. Pembangunannya sebelah-sebelah hihi
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for CEK TOKO SEBELAH 2

 

 




That’s all we have for now.

Bagaimana menurut kalian soal cowok yang actually punya penghasilan di bawah ceweknya, kayak Erwin dan Natalie?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA