MINI REVIEW VOLUME 15 (SINDEN GAIB, THE ANIMAL KINGDOM, ORION AND THE DARK, NO WAY UP, SUNCOAST, #OOTD: OUTFIT OF THE DESIGNER, NIGHT SWIM, MEMORY)

 

 

Februari kita boleh saja mengecewakan karena 14 Februari yang bikin ‘blue’, namun kompilasi edisi kali ini meski dominan biru juga, at least bakal bikin terhibur juga. Karena itulah hebatnya film. Tidak perlu ‘bagus’ untuk menghibur. Tapi juga jangan salah, daftar ini juga memiliki beberapa film yang sukses jadi bagus dan menghibur. Mari kita lihat satu-satu

 

 

#OOTD: OUTFIT OF THE DESIGNER Review

Debut penyutradaraan aktor Dimas Anggara ini menawarkan sesuatu, tapi berakhir menjadi sesuatu yang lain.

Dari gimana ceritanya dimulai, film ini tampak seperti kisah mahasiswi desainer di luar negeri yang ingin menyelesaikan pagelaran fashion yang mencuatkan nilai budaya tanah air, sebagai tugas akhir kuliah. Aku menikmati, sebenarnya, cerita di awal-awal ini. Karena walau bukan film fashion pertama, tapi setting dan perspektifnya toh memang menarik. Melihat Nare-nya Jihane Almira berusaha mencari ide, bersosialisasi dengan teman-teman modelnya, menjalin romansa dengan fotografer. It is a nice change of pace-lah, meskipun secara arahan belum tajem karena adegannya banyak yang masih terasa kayak sekadar lintasan klip berlatar bagus (Lagu latar yang itu-itu melulu bakal bikin kita either ngakak atau jengkel setengah mati). Tapi kita peduli karena challenge yang harus dikerjakan protagonis menarik, sementara soal latar belakang keluarga antara dia dengan cowoknya juga dibuild up seolah bakal jadi konflik utama nantinya.

Ternyata, konflik utama film romance ini bakal beda lagi. Hubungan mereka mendapat tantangan ketika Nare ‘bablas’ saat mabok di pesta. Bahasan atau penanganan konfliknya sebenarnya gak buruk, menurutku lumayan sudut pandang baru juga dari bagaimana Nare menghandle situasinya. Like, kalo yang menimpa dia terjadi di dalam negeri, pada karakter yang lifestylenya ketimuran, mungkin choice actionnya bakal beda. Jadi, poin plus sebenarnya adalah film ini bener-bener ngasih sudut pandang asimilasi dari Nare yang orang Indonesia tapi punya cara pandang yang lebih, katakanlah, barat. Cuma, ya itu, film ini kayak masih banyak sekrup yang longgar. Dari naskahnya juga masih melebar sehingga jadi kayak dua cerita dalam satu, alih-alih melebur dengan mulus.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #OOTD: OUTFIT OF THE DESIGNER

 

 

MEMORY Review

Orang yang gak bisa lupa, bertemu dengan orang yang pelupa. Kalo ini film komedi, mungkin premisnya cukup segitu. Tapi yang dibuat oleh Michael Franco bukan komedi, jadi seolah premis tadi dia kasih layer terus. Dan jadilah sebuah kisah cinta paling menyembuhkan yang bisa kita tonton tahun ini. Seorang perempuan yang masih dibayangi trauma dari kekerasan seksual yang dia alami waktu kecil, bertemu dengan pria dengan gangguan dementia.

Cara film menangani yang diderita oleh masing-masing karakter, benar-benar subtil tapi lantang. Aku gak ngerti gimana ungkapannya yang tepat haha.. tapi di sini kita sekali lihat karakternya Jessica Chastain, kita tahu dia punya trauma dan itu bikin efek gak enak ke kehidupannya sekarang, ke orang-orang sekitarnya sekarang. Film gak ragu menggali ke keluarga, tapi juga gak lancang dalam melakukannya. Timing penceritaannya begitu pas. Pertama kali Sylvia itu dan Saul ketemu, aku sampe rasanya gak sanggup nonton karena di awal itu Sylvia yakin Saul adalah kakak senior yang dulu pernah melecehkan dirinya di sekolah. Dan akar trauma Sylvia bahkan bukan peristiwa di sekolah. Film ini ngehandle segitu besar dan banyaknya raw emotions. Dan perlahan emosi-emosi itu digodok, dileburkan, diademkan

Makanya ngeliat relationship mereka terbentuk tu rasanya healing banget. Walau mungkin kita gak ngalamin yang tepatnya terjadi kepada karakter, tapi kita bisa ikut merasakan healing-nya mereka, have found each other like that. Nonton film ini kayak ngeliat kayu bakar kebakar api, tapi perlahan apinya padam, dan berangur kayu tersebut tumbuh lumut dan daun-daunnya menghijau kembali.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for MEMORY

 

 

 

NIGHT SWIM Review

Keluarga pindah ke rumah baru, rumah tersebut ada kolam renang – yang perfect buat terapi kaki ayahnya, dan buat tempat bersantai dua anaknya – tapi ada sesuatu pada air di kolam tersebut yang menarik orang-orang tenggelam ke dalamnya.

Cerita horor keluarga yang sebenarnya simpel. Level enjoyablenya setara-lah dengan cerita-cerita horor di buku Goosebumps. Namun sutradara Bryce McGuire ternyata menemui kesulitan mengembangkan horor ini, kesulitan membuat bagaimana kolam tersebut seram tanpa membuat adegan-adegannya terasa repetitif dan makin ke sini semakin kayak mengada-ada. Jika kita melihat drama keluarga di baliknya, kita bisa melihat sumber masalah dari penceritaan film ini. Sudut pandangnya. Bayangkan jika The Shining tokoh utamanya bukan Jack Torrance. Bayangkan jika kita hanya melihatnya sebagai orang yang jadi gila dan pengen membunuh keluarganya, tanpa benar-benar kita dibuat menyelami kenapa dia bisa begitu. Kayak ‘skenario’ itulah Night Swim bekerja. Film ini anehnya, justru berpindah dari galian sudut pandang ayah ke ibu, begitu ayah mulai berperilaku aneh.

Jadi kentara kenapa film ini horornya gak kerasa, malah cenderung membosankan. Karena siapa juga yang bisa membuat tiga orang ‘dikerjai’ oleh kolam renang, tanpa membuatnya jadi itu-itu melulu. Penggalian harusnya datang dari karakter Ayah. Horor harusnya datang dari konflik dia yang ingin sembuh dan tertarik nurutin ‘kata-kata’ kolam, tapi tradenya keselamatan keluarga.

The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for NIGHT SWIM.

 

 

 

NO WAY UP Review

Satu lagi film horor/teror di air, dan sayangnya film yang satu ini juga enggak bagus. But at least, Claudio Fah tahu dia sedang bikin cerita yang konyol, sehingga film hiu ‘masuk’ pesawat ini berjalan mantap di garis standar rendahnya tersebut.

Karena bagaimana pun situasinya, dimangsa hiu tetaplah sebuah kejadian mengerikan yang gak ada satu orang pun yang mau terjadi kepadanya. Menambahkan setting pesawat yang tenggelam – dengan beberapa korban masih hidup dan harus segera berenang ke permukaan sebelum pesawat beneran terjun ke dasar – hanya akan menambah hal-hal tidak masuk akal yang harus dilandaskan Fah sebagai pembuat film kepada kita. Ya pada intinya, sebenarnya film ini sama kayak pesawat di air itu. Udah gak ketolong. Sutradarnya cuma bisa ngasih something supaya kita sedikit lebih betah.

Dan apa yang dia kasih? background karakter yang sebenarnya menarik – protagonis anak presiden, yang liburan  sama temen-temen, tapi bawa-bawa bodyguard. Ada anak kecil sama kakek neneknya yang veteran di medan perang. Dua karakter itu berusaha dijadikan simpatik, sementara karakter-karakter lain tipikal karakter annoying yang berusaha ngelucu, atau teriak-teriak ribut sepanjang waktu. Bare mininum, yang akhirnya tercoreng dan gak jadi menarik juga karena annoying. Dan bahasan karakter yang dangkal.

The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for NO WAY UP




ORION AND THE DARK Review

Seorang anak kecil, bisa takut gelap. Takut bicara di depan kelas. Takut menyapa anak yang disukai. Takut jatuh dan terluka saat bermain. Takut dimarah orangtua. Banyak deh pokoknya hal yang bisa bikin takut anak-anak. Dan Orion and the Dark, supposedly adalah cerita petualangan yang bakal ngajarin anak untuk menumbuhkan keberanian dengan menghadapi rasa takut, bukan menghindarinya. Sementara itu, aku rasa fair juga kalo kita bilang, orang dewasa juga bisa ngalamin ketakutan yang sama (karena rasa takut saat kecil itu belum ‘sembuh’) Jadi mungkin itulah sebabnya film adaptasi karya Sean Charmatz ini kayak bingung, dirinya untuk anak kecil atau orang dewasa.

Aku senang sekali kreativitas film ini. Konsep kegelapan adalah makhluk, bahwa dunia malam penuh oleh makhluk-makhluk lain yang bekerja menjaga kestabilan alam dan bikin manusia tidur untuk istirahat, bahwa malam atau siang punya fungsi masing-masing, dan sama pentingnya, digambarkan menjadi karakter-karakter yang sangat imajinatif. Yang aku kurang sreg adalah bangunan cerita film ini. Film seperti pull the rug ketika di akhir babak pertama, cerita Orion adalah kisah yang sedang diceritakan Orion dewasa kepada putrinya. Like, kenapa gak sedari awal saja di set up ada anak perempuan yang sedang ‘dibacain’ cerita oleh Orion. Film ini pun jadi semacam mendua kayak OOTD tadi, apakah ini beneran tentang anak yang takut gelap, atau tentang orang tua yang sedang berusaha bonding dengan anaknya lewat mengarang cerita bersama.

Bahasan-bahasan itu memang akhirnya diikat juga oleh film sebagai satu bangunan cerita. Tapi tetap saja, untuk bercerita kisah untuk orang tua dan anak ini, Orion and the Dark memilih cara yang paling ribet – dan justru menyuapi penonton dengan pertanyaan yang diejakan oleh karakter, ketimbang berimajinasi dan berpikir kritis sendiri.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for ORION AND THE DARK.

 

 

 

SINDEN GAIB Review

Ada adegan ketika para sinden melantunkan Lingsir Wengi – yang sudah lama dikenal jadi tembang pemanggil kunti –  tiba-tiba sosok Ayu yang kerasukan Mbah Sarinten langsung menyanyikan Soro Wengi. Aku ngerasa adegan tersebut adalah sebuah statement dari Faozan Rizal, bahwa inilah ‘lagu hantu’ terbaru. Bahwa film ini adalah perkenalan kita dengan sosok mistis yang bisa jadi ikon horor terbaru.

And yea, they could be. Penampilan Sara Fajira cukup memorable juga dalam membawakan karakter yang unik ini. Makhluk gaib dan manusia dalam raga yang sama. Mereka cuma butuh cerita yang lebih solid. Karena film yang katanya diangkat dari kisah nyata Ayu ini seperti terkena ‘penyakit’ yang sama dengan film-film lain yang diangkat dari cerita orang asli. Terlalu ‘mengistimewakan’ si sosok. Dalam artian, cerita jadi kurang menyelami, melainkan hanya sebatas sosok itu menarik karena hal yang ia lakukan.

Kita gak dilihatkan siapa Ayu sebelum dia kesurupan, kita gak tahu journey personal dia apa. Kita gak tau apa peristiwa kesurupan Mbah Sarinten bagi dirinya, mereka memilih ‘bekerja sama’ di cerita hanya karena ada faktor luar. Alih-alih menggali karakter unik ini, film malah pindah fokus ke drama tiga orang yang datang menyelidiki dan hendak menolong kasus Ayu kesurupan. Film cuma menjadikan karakter unik Ayu sebagai sarana untuk peristiwa-peristiwa horor yang standarlah dilakukan oleh film horor pada umumnya. Jadi menurutku film ini benar-benar sebuah missed opportunity dalam penggalian sosok yang berpotensi jadi ikon baru.

The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for SINDEN GAIB.

 

 

 

SUNCOAST Review

Menarik sekali gimana Laura Chinn menceritakan hubungan antara remaja perempuan dengan ibunya dalam Suncoast ini. Kita tahu anak cewek dan ibu seringnya udah kayak tinggal menunggu waktu berantem. Sylvia di film Memory tadi, juga ‘berantem’ dengan ibunya. Dan berantem mereka ini selalu adalah soal komunikasi yang gak kena. Makanya cerita keluarga kayak itu bakal mengaduk-aduk emosi.

Yang bedanya, di Suncoast mereka gak lantas ribut. Doris tetap nurut apa kata ibunya, yang memang terlalu occupied oleh keadaan anak laki-laki – abang Doris – yang sakit, katakanlah dalam state tinggal nunggu waktu.  Ibunya terus menyuruh Doris ini itu, ngelarang ngapa-ngapain. Ibunya ditulis nyerempet-nyerempet garis annoying, tapi seperti Doris, kitapun gak bisa sepenuhnya membenci si ibu. Karena kita tahu keadaan emosional mereka. Doris enggak meledak karena dia punya ‘pelampiasan’ yakni berteman dengan geng keren di sekolah, dan punya teman curhat berupa Woody Harrelson yang ceritanya selalu mengingatkan dia untuk mensyukuri hidup.

Suncoast kayak cerita sehari-hari, menyenangkan melihat karakter dan penampilan akting mereka yang ‘supel’ dan gak dibuat-buat, dan juga sedikit intens karena kita tahu kesedihan dan pertengkaran itu bisa ‘meledak’ kapan saja. Di antara film-film di kompilasi volume ini, menurutku film ini yang paling bergizi untuk ditonton bareng keluarga. Muatan dan pesan soal ‘cherish yang ada bersama kita’ sangat berharga. Kekurangannya cuma, sometimes kejadian film ini terasa terlalu dipas-pasin biar seru.

The Palace of Wisdom gives 6.5 gold star out of 10 for SUNCOAST.

 

 

 

THE ANIMAL KINGDOM Review

Dari anak perempuan dan ibunya, kita beralih ke koneksi antara anak laki-laki dengan ayahnya. The Animal Kingdom bertempat di dunia yang penduduknya terkena wabah misterius; yakni tiba-tiba, perlahan-lahan mulai berubah menjadi random animal. Dan karena belum ada obatnya, perubahan tersebut berbahaya bagi masyarakat. Para penderita jadi dijauhi. Mereka ditangkap untuk diteliti. Karakter sentral adalah Emile dan ayahnya, yang pindah ke kota kecil yang lebih dekat dengan facility tempat ibu yang kena wabah hendak diobati. Tapi si ibu lepas bersama sejumlah pasien lain. Mereka sembunyi di hutan. Dan Emile, mulai merasakan gejala dirinya berubah jadi serigala.

Karya Thomas Cailley ini terasa unik tapi sekaligus kayak belum maksimal. Unik karena dunia yang dia gambarkan begitu solid. Society yang ngeshun ‘animal people’. Orang-orang yang terpinggirkan. Kita bisa ngegrasp gagasannya soalnya how to treat each other equally. Elemen fantasy-nya pun terasa oke, karena makhluk setengah manusia dan setengah hewan itu tergambar meyakinkan. Struggle mereka pun meyakinkan, kita dibuat bisa merasakan pergulatan insting hewan mereka dengan kemanusiaan yang masih tersisa di dalam diri mereka. Gimana seseorang berusaha berpegang kepada kemanusiaannya, itulah yang paling utama ditonjolkan oleh film ini

Sehingga cukup sering, drama sentral antara Emile dan ayahnya tertahan, dan baru agak lama dibahas lagi. In a sense, maksudku adalah film ini masih agak terlalu bloated. Belum bekerja secara precise. Bahasan dan dunianya terlalu ‘luas’ sedangkan penceritaannya bergerak lebih ke arah kontemplatif. Dua hal itu membuat film terasa punya banyak rongga yang mestinya bisa diisi dengan sesuatu yang lebih menggenjot percakapan kita dengan filmnya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE ANIMAL KINGDOM.

 




 

 

That’s all we have for now

Lima volume mini-review tayang tiap bulan berturut. Mungkin karena semangat tahun baru, but I must warn you, bulan depan dan April mungkin review gak bisa sebanyak ini. Karena kalo mudik, aku jarang bisa nonton film hahaha.. So, kesempatan ini aku gunakan untuk mengucapkan selamat menuju bulan puasa hahaha

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 14 (SOCIETY OF THE SNOW, SELF RELIANCE, NAPOLEON, WONKA, SOUND OF FREEDOM, EILEEN, NEXT GOAL WINS, MAESTRO)

 

 

Kompilasi pertama di tahun 2024 ini disusun sebagai semacam penebusan rasa bersalahku buat film-film Indonesia yang tahun lalu cukup sering dicuekin. Maka, bulan Januari ini, film-film Indonesia yang dapat review full, sementara film impornya dikumpulin untuk edisi iniii. Here they are!

 

 

EILEEN Review

Udah cukup lama gak nemu trope Manic Pixie Dream Girl, eh tau-tau muncul dalam film garapan William Oldroyd, dan ini bukan romance atau something yang fun. Melainkan sebuah thriller psikologis!

Gak banyak yang ngomongin soal film ini, padahal ceritanya lumayan intriguing, dengan ending yang dibikin open perihal akhir dari dua karakter sentralnya. Atau mungkin satu karakter? Di situlah menariknya. So it’s about perempuan muda bernama Eileen, yang gak pernah kemana-mana karena harus ngurus ayahnya; pensiunan sheriff yang kasar dan paranoid, perempuan yang meskipun kerja di penjara tapi hidupnya datar dan bosenin. Sampai penjara tempatnya bekerja kedatangan psikolog baru; Rebecca. Perempuan yang lebih dewasa, lebih berani, lebih luwes, ah betapa menariknya si pirang itu di mata Eileen. Rebecca clearly perwujudan dari hidup ‘impian’ Eileen, relasi mereka benar-benar digali namun dengan underline ambigu dan cukup dark. One thing right yang dilakukan oleh film dalam relasi mereka adalah dengan establish bahwa Eileen bukanlah sudut pandang yang reliable.

Banyak adegan yang caught me off guard, Eileen tiba-tiba menembak kepalanya sendiri, lalu aku baru nyadar adegan itu cuma yang dibayangkan oleh Eileen dan yang dia lakukan sebenarnya berbeda total. Hal-hal kayak gini yang bikin menarik karena kita seperti berjalan di dalam kepala Eileen. Kepala yang punya banyak dark dan deep thought. Tapi di sisi lain, aku bisa melihat kenapa film ini score audiens Rotten Tomatoes-nya rendah. Simply, tidak akan memuaskan jika cerita tidak ngasih kejelasan yang lebih clear dari karakter-karakternya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for EILEEN

 

 

MAESTRO Review

Honestly ini satu film di akhir 2023 yang sengaja kulewat karena kelihatan tipe Oscar bait, biografi berat, method acting, dan banyak ngobrolnya. Tapi ternyata baitnya itu banyak juga yang kena masuk nominasi-nominasi penting di Oscar. Jadi sekarang aku punya PR berat harus nonton film karya Bradley Cooper ini.

Dan setelah nonton, aku rasa aku punya pendapat aneh soal film ini. I know ini adalah cerita tentang komposer legendaris Leonard Bernstein, tentang karir dan kehidupan cintanya. Tapi kok rasanya lebih menarik jika dibahas dari sudut pandang istrinya – yang diperankan oleh Carey Mulligan? Karena istrinya ini yang kayak lebih banyak menanggung drama perihal suaminya yang openly kepada kerabat juga suka lelaki. Konflik internal Leonard memang diselami, gimana dia merasakan efek hampa dari rumah tangganya terhadap performanya menggubah musik. Tapi karena juga dibangun dia seorang genius, dan dia gak pernah benar-benar memilih, cerita dari sudut pandangnya ini jadi lebih kerasa kayak momen-momen untuk showcase ‘bagaimana menjadi seorang Leonard Bernstein’ saja ketimbang beneran sebuah journey karakter.

Makanya film ini jadi terkesan pretentious. Dengan segala treatment hitam putih dan segala macam, film ini masih terasa bermain di area luaran dari kehidupan karakter titularnya.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for MAESTRO

 

 

 

NAPOLEON Review

Satu lagi biografi yang masih bermain di luaran. Karya Ridley Scott ini supposed to be epic, tapi malah kayak skip-skip kisah perjuangan Napoleon Bonaparte tanpa banyak menyelami tokohnya sebagai karakter dengan segala kericuhan emosi manusiawi.

Napoleon yang di medan perang gagah naik kuda putih, di rumah tangga ‘galau’ karena pengen punya anak, tapi istrinya yang suka selingkuh, tidak bisa memberikannya anak. Yang diincar film ini sebenarnya kita bisa mengerti; film ingin mengontraskan gimana Napoleon di medan perang, dengan ketika dia di rumah. Dan tentunya juga gimana ketika dua itu bersatu. Apa yang bakal diprioritaskan oleh pejuang yang cinta tanah airnya tersebut. Namun permasalahan utama datang dari pijakan siapa Napoleon itu sendiri. Kita tidak pernah diajak mengenal dia terlebih dahulu. Kita hanya tahu dia orang ambisius, yang punya strategi dan also flawnya tersendiri. Kita tidak melihat ke dalam, kenapa dia bisa menjadi seambisius itu.

Aku gak pernah terlalu mempermasalahkan keakuratan sejarah, kostum, atau malah bahasa sekalian. Karena aku sendiri juga gak paham, dan kurang banyak baca. Hanya, ketika karakternya tidak bisa kita ikuti, ketika kita hanya disuruh lihat kehebatan dan kejatuhannya, film jadi masalah karena hanya kayak cerita kosong. Hiburan nonton film yang durasinya panjang banget ini cuma adegan-adegan perangnya saja. Adegan perang di salju buatku lumayan memorable.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for NAPOLEON.

 

 

 

NEXT GOAL WINS Review

Dari kisah nyata tim sepakbola American Samoa yang bukan hanya gak pernah nyetak gol, tapi juga terkenal lantaran pernah kalah dengan skor lebih dari 30 – kosong lawan Australia. Aku bahkan bukan penggemar sepakbola, tapi aku tetap nonton karena tau ini buatan Taika Waititi, jadi aku ngerti ngarepin humor yang seperti apa. Dan aku memang beneran terhibur menyaksikannya sampai habis.

Humor khas Waititi udah kayak acquired taste. Waititi mendaratkan karakter sebagai manusia dengan membuat mereka bertingkah konyol dan norak. Terkadang konsep ini susah diterima oleh penonton, terutama ketika manusia yang jadi subjek cerita diambil dari misalnya tokoh nyata, atau sesuatu yang dipandang lebih serius. Waititi pernah mencupukan drakula, menorakkan Dewa Asgard, pernah mengkonyolkan ideologi nazi, dan kali ini dia mengkarikaturkan perjuangan atlet sepakbola. Buatku ini gak masalah. Yang perlu diingat adalah dia tidak melakukan itu untuk semata meledek, tapi untuk membantu kita melihat karakternya di level yang menapak. Hati di balik ceritanya masih terasa serius. Kayak di film ini.

Secara plot, memang ini formula standar tim/karakter underdog yang bakal berjaya di pertandingan/kompetisi. Mereka menang sebagai bentuk menjadi diri yang lebih baik, yang ‘dipelajari’ selama latihan dan menjalani hubungan persahabatan bersama. Tapi dengan konsepnya, Taika Waititi bisa membuat ‘match puncak’ cerita ini punya penceritaan yang berbeda. Dan konsep penceritaan itu works, karena karakter-karakternya lebih mudah untuk kita dekati. Protagonis utama film ini adalah pelatih kulit putih yang dikirim untuk melatih tim samoa, awalnya sebagai hukuman. Bagi si pelatih, ini juga adalah journeynya menemukan peace terkait sepakbola dan hubungannya dengan putrinya. Taika Waititi juga ngasih pendekatan baru sehubungan dengan relasi putrinya tersebut. Jadi, kelihatan usaha untuk tidak membuat cerita ini kayak white savior story, dengan bahasan ke grup sepakbola dan protagonis sama-sama berjuang memperbaiki diri. Menurutku sebenarnya film ini bisa lebih banyak lagi bermain di arahan yang kuat, dan mestinya bisa benar-benar lepas dari formula bangunan cerita yang sudah seperti ada standarnya.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NEXT GOAL WINS.

 




SELF RELIANCE Review

C’mon. Ada Anna Kendrik, ada Jake Peralta, dan ini film dibuat oleh Nick Miller! Of course, I’m gonna watch it and like it!!!

Bias aside, kupikir komedi-thriller debut penyutradaraan Jake Johnson ini dosanya cuma satu. Kurang aneh. Pembelajaran karakternya terlalu on the nose diakui oleh si tokoh utama. Sepanjang ngikutin cerita menguak itu, kayak, kita ngarepin kekonyolan yang lebih wah, tapi film seperti menahan diri. Hampir seperti agak sedikit terlalu mengasihani karakter utamanya. Atau mungkin, Jake gak mau terlalu absurd pada film pertamanya ini, jadi merasa kudu jaim dikit.

Padahal dari ceritanya aja udah gak biasa. Pria bernama Timmy kesepian yang bosan sama hidupnya (bukan bosan hidup loh) terpilih ikut game dark web aneh berhadiah uang yang banyak. Selama sebulan dia akan jadi buruan, orang-orang akan membunuhnya, jika dia tidak bersama orang lain. Jadi Timmy berusaha meyakinkan kerabat untuk terus bersamanya. Dia sampai membayar gelandangan untuk basically jadi bayangannya ke mana-mana. Premis yang menggelitik. Karakter-karakternya ajaib, mulai dari keluarga Timmy yang gak percaya, sampai pemburu-pemburu dengan ‘cosplay’ unik. Yang paling bikin ku ngakak adalah ‘ninja-ninja’ tim produksi dark web yang ngikutin Timmy tanpa disadari. Bahasan yang dikandung di balik itu semua sebenarnya juga sama menariknya, tema utamanya adalah soal hubungan kita dengan orang lain – kepercayaan, ketergantungan, dan sebagainya. Menurutku film ini berhasil ngehandle bahasan tersebut dengan baik di balik karakter dan situasi yang gak biasa.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SELF RELIANCE.

 

 

 

SOCIETY OF THE SNOW Review

Kita tahunya cerita tentang tim rugby Uruguay yang pesawatnya jatuh di pegunungan Andes 70an adalah cerita yang cukup sensasional. Horor, kalau boleh dibilang. Karena mereka survive berminggu-minggu itu dengan terpaksa jadi kanibal. Makan daging dari teman-teman mereka yang gugur lebih dulu. Sutradara Spanyol J.A. Bayona mengadaptasi buku yang menceritakan kisah survivor, menjadi film yang tidak menjual horor keadaan tersebut, melainkan film yang dengan respek menyelami keputusasan personal dari yang masing-masing para penyintas kejadian tersebut alami.

Lihat saja gimana film menceritakan soal makan mayat itu sendiri. Dilema moral yang dialami para karakter terasa bahkan lebih menusuk daripada angin salju mematikan yang harus mereka tahan. Dulu Hollywood pernah bikin film dari kisah ini. Film Spanyol ini melakukan banyak hal lebih baik dari yang dilakukan oleh film tersebut. Film ini benar-benar membangun para survivor sebagai satu tim. Kita melihat mereka sebelum, saat, sesudah kejadian naas tersebut. Karenanya, kita dibuat merasakan langsung naik turun dan penderitaan mereka. Cara film membalancekan porsi, serta juga tone cerita juga sangat apik. Jelas ini bukan cerita satu tim yang bisa diapproach dengan komedi seperti yang dilakukan Waititi di Next Goal Wins tadi, tapi film ini paham untuk tidak serta merta menjual tragedi dari tim ini. Hubungan erat mereka yang terjalin semakin erat dipotret benar seperti dari sudut pandang anak muda. Momen-momen kayak mereka menikmati secercah cahaya mentari terasa sama kuat dan menggetarkannya dengan momen mereka harus meringkuk saling menghangatkan badan di tengah dinginnya malam.

Yang dilakukan sedikit aneh oleh film ini menurutku cuma naratornya. Berbeda dengan film Alive buatan Hollywood tahun 1993 dulu, film ini gak punya karakter utama yang jelas. Narator yang ‘bicara’ kepada penonton actually adalah tokoh yang enggak survive, tewas di pertengahan cerita. Mungkin ini disadur langsung dari bukunya. Menurutku, paling baik jika kita menganggap karakter utama film ini adalah mereka semua sebagai satu tim. Bukan sebagai perseorangan. Walau, sangat jarang sekali ada naskah yang mengtreat sudut pandang utama seperti begitu.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold stars out of 10 for SOCIETY OF THE SNOW.

 

 

 

SOUND OF FREEDOM Review

Film ini bukannya tanpa kontroversi. Meski maksudnya baik. Sutradara Alejandro Monteverde mengangkat isu perdagangan anak, crime serius yang berlangsung – ngerinya – di berbagai belahan dunia. Lewat film ini dia ingin supaya kepala-kepala kita lebih serius menoleh ke persoalan ini. Betapa mengerikannya bagi orangtua untuk kehilangan anak. Sindikat dan tindak kriminal ini harus segera diberantas hingga ke akar-akarnya. Dan ultimately jangan sampai ada anak lain yang jadi korban.

Masalahnya film ini easily fall ke jebakan cerita yang seperti diacknowledge Taika Waititi di Next Goal Wins tadi. Bahwa ceritanya bakal jadi kayak glorifikasi white savior belaka. Lubang jebakan inilah yang tidak diberhasil terhindari sepenuhnya oleh penceritaan Sound of Freedom. Alih-alih mencuatkan awareness kita terhadap kasus perdagangan anak, film yang diangkat dari penyelamatan nyata ini hanya seperti mengadegankan ulang dengan fokus cerita kepada keberhasilan si karakter utama, polisi kulit putih, memenuhi janjinya kepada ayah korban. Walaupun si protagonis ini reflect so hard soal dia juga sebagai ayah, dan bisa saja itu terjadi kepadanya, tapi film ini memang tampak seperti terlalu Hollywood dengan aksi penyelamatan heroik dan sebagainya. Seolah itulah jualan utamanya.

Belum lagi gambaran penculikan anak, dan keadaan anak-anak yang jadi korban itu divisualkan terlalu sering dan terlalu gamblang. Yang sebenarnya gak perlu. Seperti yang kusebut waktu review Like & Share (2023), kita tidak perlu ‘melihat’ langsung untuk bisa bersimpati.

The Palace of Wisdom gives 4 gold star out of 10 for SOUND OF FREEDOM

 

 

 

WONKA Review

“Oompa, Loompa, doompa-dee-doI’ve got another review for youOompa, Loompa, doompa-dee-deeIf you are wise, you’ll listen to me”

Hahaha enggak ding. Aku suka aja sama lagu Oompa Loompa, baik itu di versi film original maupun versi film Tim Burton. Such a classic characters, Willy Wonka dan Oompa Loompa. Ketika ada film barunya, digarap oleh Paul King yang udah sukses ngasih dua film Paddington yang penuh fantasi dan komedi, aku dilanda ekspektasi dan kebingungan sekaligus. Wonka versi mana yang bakal diikutin. Turns out, film ini seperti berhasil mengambil jalan tengah dalam mempersembahkan kisah Willy Wonka waktu masih muda. Dan film ini pun dengan gemilang mengadaptasi karakter-karakter unik – yang di film-film terdahulu bisa kita perdebatkan ‘sedikit usil atau memang secretly jahat’ – ke dalam sebuah penceritaan magical dan kini terasa lebih bersahabat. Lezat!

Seperti coklat, what’s not to like dari film ini? Paling mungkin si Wonka-nya sendiri, yang tampak agak terlalu optimis dan terlalu baik. Film ini ceritanya tentang Wonka yang tiba di kota, bermaksud membuka toko coklat sendiri. Tapi buka usaha itu gak gampang. It’s about rebutan pasar. Bisnis vs. idealis. Wonka ketipu dan kini dia malah harus menebus dirinya kerja di laundry, never to make chocolate again. Bersama teman-teman yang tersentuh oleh coklat dan keajaibannya, Wonka berjuang membangun tokonya sendiri. Karakter Wonka ini toh punya vulnerable dan misi personalnya sendiri. Dia pengen penuhin janji kepada ibu. Dan ini yang mendaratkan karakter yang punya segudang coklat ajaib itu. Kemudahannya membuat coklat, keajaiban-keajaiban sulapnya, itu bukan exactly yang ingin dibahas oleh film. Struggle seorang seperti Wonka-lah yang jadi menu utama.

Tone sebagai hiburan keluarga terasa kuat, adik-adik yang baru kenal akan terhibur karena di sini juga banyak musical numbers yang sama ajaibnya, sementara kakak-kakak yang pengen nostalgia akan seseruan melihat gimana awal Wonka bisa kerja sama ama Oompa Loompa

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for WONKA.

 




 

 

That’s all we have for now

Januari memang kerasa panjang banget. Dengan mini review ini, berarti ada total 14 film yang berhasil direview bulan ini. Awal yang bagus untuk 2024. Semoga bisa bertahan di sekitaran ini untuk ke depan yaa hahaha

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 13 (13 BOM DI JAKARTA, SALTBURN, MAY DECEMBER, PRISCILLA, THE FAMILY PLAN, DREAM SCENARIO, THANKSGIVING, THE HUNGER GAMES: THE BALLAD OF SONGBIRDS & SNAKES)

 

 

Batch terakhir sebelum ngisi rapor buat nyusun daftar Top-8 Movies of 2023, who’s excited? Dengan Volume ini, pr-ku rampung, dan semoga bisa liburan dengan tenang. Karena film-film di Volume ini bener-bener aku kejar tayang nonton! (eh, apa ‘kejar nonton’ aja kali istilahnya, ya?) Tapi sebagai penutup tahun, film-film ini ngasih experience yang ‘wah’ juga. So sebelum liburan dimulai, mari kita langsung saja ‘hajar’ dengan ulasan!!

 

 

13 BOM DI JAKARTA Review

Wow Volume 13, pembukanya film 13 Bom haha.. Anyway, tahun lalu sukses dengan action heist, Angga Dwimas Sasongko kini kembali dengan tawarkan action yang lebih gede. ‘Film action Indonesia terbesar tahun ini” begitu bunyi tagline di posternya. Kurang gede apa coba. Pasalnya, tahun lalu itu ‘kebetulan’ saja film Mencuri Raden Saleh disukai karena ngasih genre yang tergolong baru di film kita. Filmnya sendiri, seperti yang kuulas di sini, sebenarnya overrated lantaran naskahnya lemah. Pada 13 Bom di Jakarta terulang lagi kelemahan yang sama (kalo gak mau dibilang lebih parah). Actionnya sangat gede dan elaborate, tapi tanpa atau dengan sedikit sekali hal yang make sense soal kenapa action itu bisa sampai terjadi atau dipilih oleh karakter ceritanya.

Menarik sebenarnya, persoalan yang diangkat film ini. Soal terorisme, yang enggak terjebak di dalam lingkaran agama. Melainkan lebih ke celetukan sosial tentang gambaran keadaan ekonomi masyarakat. Jadi ceritanya sekelompok teroris tak dikenal mengancam Jakarta dengan 13 bom yang akan diledakkan satu per satu jika tuntutan mereka tak dipenuhi. Para teroris gak mau duit tunai, mereka meminta duit digital. Krypto. Bitcoin. Sehingga dua pemuda pemilik start-up bitcoin yang dipakai oleh teroris jadi terseret ke dalam kasus. Dicurigai, nyaris jadi korban. Kesalahan pertama naskah film ini adalah tidak dengan clear menunjuk siapa karakter utama. Apakah pemuda start-up. Apakah pimpinan teroris. Apakah agen perempuan di Badan Anti-Teroris yang somehow selalu ‘dilawan’ oleh partner cowoknya. Atau apakah pemimpin dari pasukan antiteroris itu sendiri. It would be much better jika film sedari awal mengarahkan ini sebagai cerita dari banyak perspektif.

Actionnya sendiri enggak jelek, tapi arahannya agak-agak cheesy. Film ini, aku bilang, kayak kalo Michael Bay trying to make film Nolan. Like, Bay mau bikin action explosive tapi dengan ‘kecerdasan’ ala Nolan. Hasilnya, film ini jadi snob yang berusaha kelihatan jago, berusaha terdengar pinter. Dengan ‘twist’ standar soal ada karakter yang sebenarnya jahat, dan scheme teroris yang sekilas tampak massive. Tapi kok ya dipikir-pikir sangat unnecessary. Like, kenapa musti 13 bom kalo ternyata si teroris sudah menyusupkan orang yang bisa dengan gampang langsung melancarkan ‘bom pamungkas’.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for 13 BOM DI JAKARTA

 

 

DREAM SCENARIO Review

Karya Kristoffer Borgli ini bikin aku ngakak begitu menyadari bahwa komedi horor ini sebenarnya kayak dream counterpart dari yang dibahas oleh Budi Pekerti (2023). Film ini bahkan ada menggunakan istilah ‘pendagogy’ as opposed to Budi Pekerti yang judul internasionalnya adalah ‘andragogy’

Kenapa kusebut dream counterpart? Karena unlike di Budi Pekerti yang karakter gurunya jadi dimusuhin satu kota gara-gara videonya viral di sosial media, Dream Scenario bercerita tentang dosen yang diantagoniskan semua orang karena si dosen (yang diperankan dengan brilian oleh Nicholas Cage, yang tau betul timing dan pembawaan antara akting ‘nyata’ dengan ‘sureal’) for some reason, muncul dalam mimpi orang-orang. Jadi dosen ini dijauhi karena hal yang bahkan tidak ia lakukan hahaha… Dia yang tadinya menikmati perhatian semua orang karena dia jadi terkenal muncul di mimpi orang-orang sebagai bystander yang doing nothing, jadi stress saat mimpi orang-orang itu semakin aneh. Di mimpi mereka, si dosen jadi pembunuh!

Sebenarnya ini gambaran perilaku manusia yang jenius sekali sedang dilakukan oleh naskah. Tentang gimana kita, manusia pelaku media sekarang, suka kemakan khayalan sendiri. Kita mengelukan berlebihan orang yang tidak benar-benar kita kenal – karena tren tertentu, misalnya – dan lantas kita terganggu sendiri saat ‘image-image’ tentang orang tersebut, yang kita ciptakan sendiri secara kolektif, menjadi semakin liar. Kita menciptakan ‘dream scenario’ sendiri, dan menelannya bulat-bulat sebagai fakta. Kita kegocek ‘fakta impian’ kita sendiri. Buatku film ini berhasil menceritakan itu lewat kehidupan karakter yang bukan hanya terseret, tapi juga tetap ada pembelajaran dalam dirinya. Lapisan di balik karakterisasi dan situasi yang ia alami – aku gak bilang sampai demikian kompleks – tapi berhasil tersusun menjadi sebuah hiburan surealis. Bakal langka banget film kayak gini.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DREAM SCENARIO

 

 

 

MAY DECEMBER Review

Dari komedi berlapis satu ke komedi berlapis yang lain. May December karya Todd Haynes ranahnya bukan sureal, tapi lebih ke drama psikologis dengan undertone yang sebenarnya dark. Sekilas, kayak kisah inosen seorang aktris yang ingin mendalami peran. Peran yang sedang dirisetnya itulah letak darknya. Dia memerankan seorang perempuan yang menikah dengan ‘daun muda’, yang jauh banget rentang usianya. Mereka menikah karena melakukan hal yang basically, itungannya udah tindak kriminal. Tante-tante kepada seorang anak SMP. Jadi, si aktris ini, Elizabeth, selama beberapa waktu hidup di keseharian keluarga ‘bermasalah’ tersebut, Gracie dan suaminya yang kini sudah dewasa, dan mereka punya tiga anak yang sudah masuk usia kuliah. Demi method acting, si Elizabeth ingin mengenal kehidupan Gracie, supaya dia bisa memerankannya nanti dengan lebih baik, lebih mengerti tentang apa yang dilalui Gracie. Karena, katanya, dia ingin bikin film yang tidak menjudge kehidupan Gracie dan keluarga.

Nonton ini bikin kita sadar bahwa there’s no way kita bisa mengerti kehidupan orang. Urusan orang, seharusnya jadi urusan mereka sendiri. Walaupun memang di film ini kita melihat Elizabeth jadi katalis bagi orang-orang di sekitar Gracie – terutama suaminya – untuk bisa melihat apa yang sudah ia lewatkan di dalam hidup. Mungkin inilah yang paling keren dilakukan oleh film. Membuka luka, memaksa karakter melihat luka, tapi bukan untuk disalah-salahin. Film ini menceritakan imbang, semuanya dikembalikan kepada karakter masing-masing. Bagi yang kelewat batas, mereka akan jadi seperti Gracie dan Elizabeth.  Dua orang yang bukan cuma ‘dimiripin’ secara fisik, tapi sebenarnya punya ‘masalah’ yang sama. Sama-sama terlalu naif, dan menggunakan kenaifan itu sebagai defense. Film berakhir ketika masing-masing mereka dihadapkan kepada akibat dari kenaifan tersebut.

Natalie Portman dan Julianne Moore. Man. Di sini akting mereka beneran ada berlapis-lapis. Susah kita menunjuk garis mana ketika Natalie jadi Elizabeth sebagai Elizabeth, mana ketika jadi Elizabeth try to be Gracie. Mana batas aktingnya. Mana batas Gracie bohong dan mana yang dia beneran sudah nerimo.  Aku selalu punya soft spot buat film yang nunjukin adegan-adegan belakang layar bikin film, dan ending film ini buatku adalah one of the best yang nunjukin gimana seorang aktris berusaha berakting karena sudah merasa sudah ngerti karakternya, tapi kemudian dia ragu sendiri.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for MAY DECEMBER

 

 

 

PRISCILLA Review

Kadang aku takjub sendiri ama yang namanya kebetulan. Like, kompilasi ini kan urutannya berdasarkan abjad, tapi ternyata bisa nyambung. Tadi dari komedi berlapis, kini nyambung dari cerita relationship dengan minor satu ke yang lain. Film tentang Priscilla yang waktu masih sekolah, kebetulan, bertemu dengan orang yang kenal dengan Elvis Presley, dan mengajaknya ketemu Elvis. Sehingga Elvis jadi jatuh cinta kepada Priscilla. Sofia Coppola membuat ini sebagai biografi yang benar-benar menelisik romansa kompleks yang dirasakan seorang Priscilla ketika berhubungan dengan salah satu manusia paling tersohor di jagat dunia hiburan.

The respect is there. Kepada kedua sosok. Tapi yang paling bersinar tentu saja adalah karakter Priscilla. Yang benar-benar diselami. Ini particularly menarik, karena di awal tahun ini kita sudah melihat mereka dari sudut pandang cowok di biografi Elvis. Menarik kedua buatku adalah karena yang jadi Cilla adalah Cailee Spaeny, yang awal muncul di film yang lebih mainstream kayak Pacific Rim atau Bad Times at the El Royale. Di sini dia main bagus bangeett. Bukan mau bilang pasangan Elvis-Cilla bukan ‘mainstream’, loh. Cumak memang filmnya ini diarahkan bukan sebagai tontonan sensasional, melainkan lebih ke sebuah selaman terhadap tokoh figur itu sebagai sebuah karakter cerita. Film enggak main gampang, menuding Elvis sebagai predator atau manipulatif, misalnya. At least, di film ini dia diperlihatkan menegaskan Cilla untuk melanjutkan sekolah dulu. Perasaan Cilla sebagai seorang gadis biasa yang punya pacar superstar, yang berkecamuk oleh gairah, oleh insecurity. itu yang difokuskan oleh film.

Tapi juga sebagaimana film-film dari tokoh nyata, dari kehidupan mereka. ada aspek-aspek cerita yang enggak benar-benar klop untuk dimasukkan ke alur film. Ada beberapa hal yang mestinya bisa dibikin lebih dramatis atau gimana, tapi enggak bisa karena ‘bukan begitu kejadian aslinya’. Film ini buatku sering terkendala di hal-hal seperti begitu. Naik turun alurnya enggak bisa benar-benar diatur ke flow atau struktur film. Kadang konfliknya muncul, ilang lama, lalu muncul lagi. Gitu-gitu.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PRISCILLA

 




SALTBURN Review

Ingat tadi aku ngomongin soal kebetulan di urutan kompilasi ini? Well, yah, yang jadi Elvis di Priscilla adalah Jacob Elordi. Tahun ini dia main di tiga film lagi selain itu. Tebak satu judul film lainnya. Yup. Saltburn karya Emerald Fennell ini. But while Jacob Elordi di sini masih punya vibe superstar kayak Elvis, toh bintang sebenarnya di Saltburn adalah Barry Keoghan. Aktor satu ini, gila, dia tuh udah kayak spesialis karakter awkward gak ketebak tapi sekaligus juga tampak berbahaya. He was born for this role, for this story.

Saltburn juga actually sebuah dark comedy, yang benar-benar menekankan kepada kelamnya itu sendiri. Keoghan di sini jadi Olliver, maba (mahasiswa baru) yang cupu. Awalnya film ini tampak seperti kisah Olliver yang berusaha memberanikan diri untuk masuk ke circle karakternya si Elordi. Kita melihat cowok jangkung itu melalui gaze-nya Olliver, kita pikir ada cinta ‘terlarang’ di sana. Tapi perlahan gaze dan sikap Ollie tersebut menjadi semakin intens. Dari gairah menjadi semacam ingin memiliki. Ingin menguasai. Transformasi film lewat karakter utamanya itulah yang jadi kehebatan, sekaligus juga kelemahan pada film ini.

Secara penampilan akting, seperti yang disebut tadi, Keoghan terutama sangat fenomenal. Dia total banget. Adegan-adegan creepy dia hantam tanpa canggung. Film ini punya banyak ‘WTF’ momen. Nekat banget mereka bikin adegan kayak gitu. Kelemahan yang hadir dari cara bercerita ini adalah karakter si Ollie itu sendiri tidak punya growth. Dia tipe karakter ‘ternyata’. Kita tidak menyelam kepada siapa sebenarnya dirinya. Dia tidak punya development, melainkan sebuah revealing yang membuat kita melihat dia ternyata bukan seperti di awal. Perubahan dia bukan karena terdevelop tapi karena aslinya dia disimpan untuk ‘kejutan’ cerita. Jadi secara teknis, sebagai film, Saltburn is not really good, tapi sebagai tontonan, dia menghibur dan nawarin suatu kegelapan dengan perspektif tak biasa.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SALTBURN

 

 

 

THANKSGIVING Review

Origin film ini begitu menarik. Thanksgiving tadinya cuma fake trailer, segmen pendek dalam film horor Grindhouse tahun 2007. Cuma parodi dari skena horor gore yang dibuat oleh Eli Roth. Tapi fans tertarik melihat konsep pembunuh yang kayak jadi saingan Halloween tersebut. Permintaan fans akhirnya terkabul, Eli Roth benar-benar membuat film Thanksgiving. Dan aku agak kecewa sama hasilnya.

Mungkin karena bias dari pengaruh originalnya yang vibe-nya beneran low budget dan rough dan konyol tapi seru. Film actualnya ini terasa tidak memenuhi harapan. Sure, momen-momen yang ada di fake trailer, kayak pembantaian saat pawai, dimunculkan. Satir soal perilaku konsumtif orang Amerika terkait ‘tradisi’ Black Friday yang mengalahkan esensi sebenarnya dari Thanksgiving, juga ada. Gore-nya yang over the top dengan kematian-kematian sadis yang unik, juga berhasil menghiasi film menjadi nilai jual. Tapi overall, film ini terasa kosong. Karakter-karakternya cuma ada di sana untuk berusaha survive, menduga-duga siapa pelaku. Sementara naskahnya juga ke sana kemari ngasih red herring supaya pelakunya gak ketebak. Akhirnya film ini pun terasa jadi either terlalu Scream, terlalu I What You Did Last Summer. Terlalu gak really spesial karena toh sudah banyak thriller whodunit yang menjual hal serupa

Kalo dibilang membosankan sih, enggak. Cuma ya, biasa aja. Mendingan nonton Saltburn tadi sekalian. Kejutan dan momen WTF nya lebih membekas.

The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for THANKSGIVING

 

 

 

THE FAMILY PLAN Review

My ultimate guily pleasure of the year hahaha… Komedi keluarga karya Simon Cellan Jones ini enggak bagus-bagus amat, tapi aku terhibur menontonnya. Enggak ngerasa bosan meskipun formulaic, dan bahkan konsepnya yang gabungin liburan keluarga dengan aksi assassin enggak dikembangkan dengan maksimal. Aku terhibur karena lucu aja melihat Mark Wahlberg jadi ayah yang sekilas kayak suami rumahan banget ternyata punya masa lalu tak terduga. Dia mantan assassin yang punya banyak musuh. Dia berhenti dari kerjaannya, dan sekian tahun ‘menyamar’ jadi pria biasa-biasa saja, sampe kemudian identitasnya kelacak dan dia terpaksa kabur. Membawa keluarganya yang tak tahu apa-apa, dengan dalih mau ngajak roadtrip.

Menurutku film ini mungkin bisa lebih mudah diterima penonton kalo dibikin sebagai animasi, kayak Boss Baby. Karena memang film ini seperti berjalan di garis antara gak make sense dengan cerita yang grounded tentang hubungan keluarga. Para karakter sentral, Mark dan keluarganya bermain di porsi yang pas, tapi harus diakui melihat mereka sebagai manusia ‘beneran’ membuat penonton bisa kesulitan memaklumkan banyak hal. Misalnya, bayi yang tahu rahasia ayahnya. Film tidak bisa maksimal melandaskan konsep yang diniatkan. Ketika bagian action, tidak bisa terlalu ‘gila’. Ketika bagian yang grounded, terasa gak klop. Jadinya film ini terasa setengah-setengah. Makanya, mungkin kalo dibikin sebagai animasi, mereka bisa meningkatkan aksi mustahil dan hati grounded yang dimiliki oleh naskahnya.

The Palace of Wisdom gives 5.5 gold star out of 10 for THE FAMILY PLAN

 

 

 

THE HUNGER GAMES: THE BALLAD OF SONGBIRDS & SNAKES Review

Hunger Games sering dibandingkan dengan Harry Potter, dan kupikir, film prekuelnya ini sukses bikin malu franchise Harry Potter yang film prekuelnya begitu maksa sehingga tidak terasa ditulis dengan proper. The Ballad of Songbirds & Snakes actually memang diangkat dari novel prekuel (bukan buku spin-off non-cerita yang dikembangkan serabutan) dan penulisannya kelihatan memiliki bobot. Karena di adaptasi karya Francis Lawrence ini kita benar-benar dikasih lihat development dari seorang Coriolanus Snow sebelum ia menjadi presiden yang ruthless.

Sering heran kok di luar sana banyak contoh mahasiswa aktivis ketika jadi ‘orang gede’ ternyata korup juga? Nah, journey Snow di film ini basically seperti itu. Kita melihat Snow dari yang awalnya dia mahasiswa pintar, yang actually peduli sama tribute dalam permainan Hunger Games. Kita melihat background dia dari keluarga macam apa. Apa yang dia inginkan. Dan bagaimana pada akhirnya dia memutuskan pilihan, bagaimana dia menjadi sampai seperti yang kita kenal di cerita Hunger Games original.  Inner journeynya tersebut yang membuat film ini layak ditonton. Hubungannya dengan Lucy Gray jadi heart of the story. Tak lupa film juga menyiapkan referensi ke Hunger Games-nya Katniss di sana-sini, supaya penonton merasakan gejolak nostalgia dari something yang familiar. Dan memang film ini berhasil menghadirkan vibe yang selaras dengan film-film Hunger Games sebelumnya. Desain produksinya total menghadirkan dunia itu kembali. Prekuel ini memang terasa seperti fondasi dari kejadian di film yang sudah kita kenal.

Tapi dari novel juga membawa sedikit sandungan bagi film ini. Durasi yang amat panjang, karena film terasa seperti pengen sama dengan novel, at least secara urutan. Dan ini membuat dirinya sebagai film, terasa agak aneh. Karena film ini kayak dua film yang disatukan. Bagian hunger gamesnya, dan bagian aftermath dari hunger games tersebut. Bagian yang satu terasa lebih menarik dibanding bagian lainnya. Menurutku harusnya cerita bisa lebih digodok lagi, bangunan ceritanya bisa lebih dimainkan lagi, supaya kesan terbagi dua ini bisa lebih mengabur. Supaya film bisa berjalan lebih mulus, dan penonton tidak diberikan momen untuk terlepas dari cerita yang disajikan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THE HUNGER GAMES: THE BALLAD OF SONGBIRDS & SNAKES

 




 

 

That’s all we have for now

Dengan ini, resmilah, review tahun 2023 sudah tutup buku. Film-film 2023 yang tayang setelah post ini terbit akan kuanggap sebagai film tahun 2024 (jika direview), dan itu at least ada dua film yang kayaknya memang gak tayang di kita jadi terpaksa nunggu digitalnya tahun depan. Akhir tahun nantikan rapor film 2023 di twitterku @aryaapepe dan menyusul beberapa hari setelahnya, tentu saja, daftar Top Movies 2023 di blog ini. Sampai ketemu tahun depan!

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 12 (PAST LIVES, THE CREATOR, THE ROYAL HOTEL, WHEN EVIL LURKS, A HAUNTING IN VENICE, HELL HOUSE LLC ORIGINS THE CARMICHAEL MANOR, FIVE NIGHTS AT FREDDY’S, SISTER DEATH)

 

 

Bagian kedua dari kompilasi yang harusnya jadi edisi halloween. I gotta say, halloween tahun ini memang banyak film horor yang menyenangkan, bahkan yang bukan horor ternyata bisa ngasih goosebumps yang sedap. Highlight untuk Volume 12 ini; mereka semua – kecuali satu – really surprised me. Film-film ini punya sesuatu yang bikin aku “hey, ini gak biasanya ada di tipe film seperti ini!”. Meskipun gak semuanya aku suka, tapi masing-masing ngasih sesuatu yang di luar ekspektasi. Cuma satu film yang ‘di luar ekspektasi’nya berada dalam kotak ‘mengecewakan’. Film yang manakah itu? Yuk langsung cari tahu di mini review di bawah iniii!!

 

 

A HAUNTING IN VENICE Review

Misteri detektif digabung dengan misteri supernatural. Sesuka-sukanya aku sama penggabungan itu ketika terjadi pada beberapa kasus di komik Detektif Conan, tapi untuk urusan di film Hollywood mainstream, aku toh merasa skeptis juga. Takut jadi ngandelin fake jumpscare doang. Takut gaya dan charm Hercule Poirot di film ketiga ini ‘kalah’ oleh adegan-adegan horor yang dimasukkan dengan paksa. Sayang banget kalo sampe begitu, karena satu hal yang bikin film-film Poirot ini delightful, ya, kekhasan Poirot yang dibawakan penuh kharisma oleh Kenneth Branagh

Sir Branagh yang juga duduk di kursi sutradara, untungnya tahu untuk tidak ‘menjual jiwa filmnya kepada setan industri’. Well, at least, gaya film ini tidak berubah sama sekali. Elemen supernatural dimainkan dengan bijaksana, cukup untuk memberikan pojn tambahan dan ngasih variasi kepada kasus. Film ini tetap menitikberatkan kepada misteri kasus, dan karakter-karakter yang terlibat (yang tentu juga membuat film ini jadi showcase akting spektakuler) – terutama lanjutan dari journey karakter Poirot. Pembahasannya sebenarnya gak baru, tapi seru aja melihat Poirot harus struggle dengan logika dan kepercayaannya terhadap supernatural. Keraguan Poirot juga lantas terdeliver kepada kita dari arahan yang sukses membuat rumah besar tempat lokasi pembunuhan tertutup itu sekaligus jadi rumah hantu, seperti di film-film horor.

Not bad sebagai pembuka Volume ini. Tapi juga enggak spesial-spesial amat sehingga aku gak nyesal nontonnya nunggu di platform aja

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for A HAUNTING IN VENICE

 

 

FIVE NIGHTS AT FREDDY’S Review

Dari dulu aku gak ngerti di mana letak seramnya seri game Five Nights at Freddy’s. Konsep game jumpscarenya sih aku paham, cuma, karakter-karakter animatronicnya. Aku gagal paham seramnya di mana. ,Makanya aku heran kok anak-anak pada suka. Tapi kalo soal filmnya, aku bisa maklum kenapa garapan Emma Tammy ini laku. Simpel. Mereka benar-benar bikin Freddy dan kawan-kawan hidup. Bukan sebagai CGI tapi beneran sebagai robot ‘pembunuh’.

Yang bikin aku takjub adalah ceritanya. It’s so easy membuat film ini sebagai cerita tentang penjaga yang harus melewatkan malam-malam sepi di ‘rumah’ Freddy, dan dia akan diganggu. Film ini ternyata gak mau segampang itu. Mereka menyiapkan cerita personal tentang abang yang terus-terusan dirundung rasa bersalah atas adiknya yang hilang saat mereka masih kecil. Film ini mencoba memperdalam mitologi-dunia dengan konsep mimpi untuk mencari jawaban atas masa lalu. Coba ngasih stake dengan urusan hak asuh adik. Coba mengrounded-kan lagi dengan bahasan tentang orang tua. It is kinda ambitious, untuk ukuran film adaptasi game horor untuk anak-anak.

Namun meski usaha elevasinya harus kita apresiasi, toh film ini akhirnya terpuruk karena tone yang sangat tak berimbang. Enggak simpel, tapi juga jadi agak ribet buat penonton anak. Level kekerasan yang juga tinggi, meski dibuat tanpa darah berlebih. Elemen hantu yang gak pernah terasa seram, karena clash out dengan misteri grounded. Tapinya lagi yah, bahkan Matthew Lillard enggak bisa menyelamatkanku dari kebosanan menonton ini

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for FIVE NIGHTS AT FREDDY’S

 

 

 

HELL HOUSE LLC ORIGINS: THE CARMICHAEL MANOR Review

Atau bisa juga judulnya jadi Hell House: Five Nights at Carmichael’s haha.. Nah, film inilah perwujudan ‘konsep gampang’ dari yang kubilang di review Freddy tadi. Bikin karakter bermalam di tempat berhantu. Mereka ngerekam kegiatan, jumpscare-jumpscare, and call it a day. Tapi yah, at least Stephen Cognetti sudah tahu persis apa yang mau ia buat. Dia menyempurnakan yang ia tahu, dan film ini overall jadi lebih menghibur.

Hell House LLC adalah seri horor mokumenter found footage, aslinya merupakan sebuah trilogi seputar bangunan bekas hotel, yang jadi tempat cult yang pengen buka gerbang neraka. Film pertamanya asli seru dan aku suka banget. Tentang sekelompok orang yang bikin wahana rumah hantu di bangunan tersebut. Film keempat ini hadir dengan maksud memperdalam mitologi cult di tempat berhantu lain. Secara presentasi, film ini ingin kembali ke vibe film pertama, yakni dengan footage-footage yang lebih ‘genuine’ dan drama karakter di balik misteri horornya.

Dan memang, penceritaan film ini berhasil tampil lebih baik daripada film kedua dan ketiga, dan mendekati film pertama. Hanya saja untuk urusan kengerian dan atmosfer, gagal mengimbangi keberhasilan film pertama. Manekuin-manekuin badut yang jadi ikon franchise ini tetap seram, tapi penampakan dan hantu-hantunya tampil sangat blak-blakan. Membuat atmosfer dan detil-detil horor yang terekam kamera, yang jadi senjata utama franchise ini jadi kehilangan ketajaman. Ceritanya pun drag dengan annoying, karena film kesusahan mencari alasan logis untuk karakter-karakter ini mau bertahan selama empat malam di rumah itu. Rintangan yang membuat mereka harus tinggal juga tidak kuat. Jatohnya, karakter utama di film ini jadi sangat annoying dengan alasan-alasannya untuk tidak angkat kaki dari situ.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for HELL HOUSE LLC ORIGINS: THE CARMICHAEL MANOR

 

 

 

PAST LIVES Review

Dua sahabat masa kecil yang saling suka tapi harus berpisah negara, lalu saat dewasa mereka bertemu kembali, harusnya berakhir jadian karena sudah takdir, kan? Kan? KAN??

Past Lives debut sutradara Celine Song bicara dengan sangat anggun dan dewasa soal takdir antara hubungan dua anak manusia, yang saking anggunnya hati kita yang nonton akan menghangat betapapun naas akhir ceritanya. Past Lives is not like any other ‘CLBK’ stories. Karena ini bukanlah semata cerita tentang dua orang yang bertemu kembali berusaha dealing dengan closure atas perasaan mereka, film ini membahas dengan kompleks tanpa meninggalkan faktor-faktor lain. Tempat. Waktu. Dan another person. Faktor-faktor yang berperan sangat besar dalam ‘perubahan’ seseorang. Yang mestinya memang tidak bisa dihilangkan begitu saja. Film ini bicara tentang kehidupan; yang ditinggalkan, yang datang, yang bertahan, yang telah lewat, dan banyak lagi begitu kompleksnya. Hasilnya, Past Lives jadi dialog-dialog dan keputusan karakter yang bakal bikin kita ikut berkontemplasi.

Film ini sendiri kayak punya awareness terhadap jebakan-jebakan cerita serupa. Maka film mendesain karakternya sedemikian rupa, sehingga bisa agak meta. Karakternya dibikin sebagai penulis, dan ada dari yang mereka aware kalo kisah mereka ada di dalam cerita, maka dia akan berada di posisi orang yang menghalangi cinta masa kecil pasangannya. Cara film menggeliat keluar dari jebakan, membuatnya masuk ke dalam bahasan cerita, dan actually semakin memperdalam para karakter sebagai manusia, menurutku ini merupakan penulisan yang sangat cemerlang. Sedikit ‘koreksi’ dariku cuma maybe sebagai film, cerita ini bisa lebih dramatis lagi jika diambil dari sudut pandang karakter yang lebih ‘aktif’ – dalam artian yang lebih banyak mengalami pembelajaran.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for PAST LIVES

 




SISTER DEATH Review

Semoga kalian belum jengah sama cerita suster hantu, karena suster horor karya Paco Plaza ini actually lumayan worth to watch,

Dengan backdrop setelah perang sipil di Spanyol tahun 40an, film ini actually memberikan banyak waktu untuk ceritanya berkembang. Suster Narcissa tadinya ke biara yang sekarang jadi sekolah khusus anak perempuan untuk mengajar, tapi tempat itu sebenarnya membutuhkan kekuatan Narcissa sebagai ‘Holy Girl’. Karena di situ sedang dihantui oleh spirit, yang punya kisah tragis. Yang agak mengganggu buatku adalah adegan horor berupa mimpi, yang cukup kebanyakan. Padahal sebenarnya adegan-adegan horor yang ditampilkan film ini seram semua. Karena ceritanya slow, build up horornya jadi enak. Menjadikan horor itu cuma mimpi, membuatku terlepas dari kengerian dan dunia film.

Padahal cerita dan misteri yang dimiliki film sangat compelling. Aku bahkan gak nyadar kalo ini adalah sebuah prequel dari film horor tahun 2017. Judulnya Veronica. Aku bahkan belum pernah nonton film itu. Tapi saking tightnya bangunan cerita, film Sister Death ini jadi kokoh berdiri sendiri. Sekuen finalnya juga cukup keren, para karakter dibikin seolah berada di masa kini dan masa lalu sekaligus, menghasilkan trik horor yang unik. Dan si Suster Narcissa itu sendiri, man di akhir itu dia dibikin ‘menderita’ fisik dan mental. Sosok protagonis dengan mata mengalir darah jelas akan terpatri jadi salah satu bahan mimpi buruk kita di kemudian hari.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for SISTER DEATH

 

 

 

THE CREATOR Review

Epik sci-fi war dari Gareth Edwards ini udah kayak Star Wars versi lebih grounded. Gimana enggak, ceritanya ngambil setting masa depan saat manusia klaim perang terhadap hal yang mereka ciptakan untuk kemudahan hidup, robot dan A.I. Untuk menambah kompleks, ini bukan sekadar manusia vs. robot, melainkan ada sisi abu-abunya. Ada pihak manusia yang memihak A.I. – yang menganggap robot-robot itu punya perasaan dan layak hidup. Ada pihak manusia yang menganggap mereka teknologi berbahaya yang harus dimusnahkan, dan manusia yang membantu robot mereka anggap tak ubahnya teroris. Kebayanglah, manusia dari bangsa mana yang dengan entengnya bilang yang tak sependapat mereka sebagai teroris. Film ini memang sedekat itu.

Visual film ini oke punya. Dunianya terbangun dengan detil, New Asia dengan padi-padi dan berbagai bahasa yang akurat. Robot-robotnya seamless hadir di tengah-tengah manusia. Karakter-karakternya juga ‘hidup’ dengan masalah personal merayap di balik konflik global cerita. Protagonis cerita, Joshua, adalah tentara yang masuk ke wilayah musuh dan harus meng-escort seorang anak robot ke tempat sosok dengan alias Nirmata yang diduga mengembangkan senjata rahasia. Like I said, epik sci-fi war ini harusnya memang sangat epik dengan cerita dan skala (dan durasi!) sebesar itu.

Nyatanya, film ini membosankan dan uninspiring. Karena penulisan yang teramat lemah dan praktisnya tidak ada hal baru. Cerita film ini terasa seperti recycle dan gabungan dari beberapa cerita perang dan sci-fi yang pernah ada.  Sehingga cerita film ini tidak pernah terkesan spesial. Hampir seperti pihak-pihak di balik film ini takut ngasih sesuatu yang benar-benar original, sehingga mereka memaksa film ini harus punya banyak elemen-elemen yang sudah pernah ada di cerita lain.

The Palace of Wisdom gives 6  gold stars out of 10 for THE CREATOR

 

 

 

THE ROYAL HOTEL Review

Sutradara Kitty Green kembali bersama aktris Julia Garner menghadirkan thriller dan horor ‘nyata’; teror yang dialami perempuan di tempat kerja. Sama seperti The Assistant (2020), skor audiens The Royal Hotel di Rotten Tomatoes jeblok. Karena memang horor/thriller yang ‘dijanjikan’ berbeda dengan yang penonton harapkan. Ketika penonton film mengharap kejadian sadis berdarah, tragedi dramatis yang physically mengguncang protagonis, monster-monster, hantu, ataupun psikopat sakit jiwa, filmmaker Australia yang di film ini juga pulang ke negara asalnya ini malah menghadirkan ketakutan yang tak bisa terlihat langsung. Yang tidak langsung terbuktikan oleh action. Tapi ketakutan itu ada, dirasakan benar oleh protagonisnya.

Sudut pandangnya memang dari cewek, tapi sebagai cowok pun, aku nonton ini masih merasakan horor tersebut nyata. Karakter sentral di cerita ini adalah dua perempuan muda, turis, yang harus membayar masa hukuman dengan jadi pelayan bar di kota tambang kecil di pelosok Negara Kanguru. Mendengar di mana mereka ditempatkan saja sudah otomatis bikin merinding. Dua perempuan itu akan berada di tengah kelompok laki-laki yang butuh ‘hiburan’. Things won’t go well. Karena jujur saja, aku tahu gimana cowok kalo udah bergerombol seperti itu, karena bahkan aku pernah guilty catcalling dan godain cewek saat sedang ngumpul sama teman-teman di kampus dulu. Hal yang dianggap cowok “ah, cuma dibecandain doang” itulah yang digambarkan jadi siksaan psikologis bagi karakter Julia Garner. Perasaan terancam berada di tengah sana saat gak ada satupun cowok yang tampak baik-baik saja. Mau itu si mulut besar, si ngeres, ataupun si pendiam yang tampak respek, garis batas itu bisa tau-tau roboh

Dua karakter perempuan ngasih cara pandang yang berbeda, antara ‘mereka kurang ajar sama kita’ dan ‘it’s okay, we’re just having fun’, digunakan film untuk mengeksplorasi lebih jauh lagi, pandangan tersebut bisa bikin narasi berimbang, yang lantas jadi bikin suasana semakin ngeri lagi. Ultimately, film take a strong stand, meskipun memang konfrontasi penyadaran antara kedua karakter ini harusnya bisa lebih kompleks lagi

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold star out of 10 for THE ROYAL HOTEL

 

 

 

WHEN EVIL LURKS Review

Bukan ‘where’, tapi ‘when’ yang dijadikan poin utama oleh horor orang kesurupan dari Argentina ini. Sutradara Demian Rugna dengan tegas ingin menilik apa reaksi manusia jika daerah mereka membusuk oleh pengaruh setan. Apa aksi yang diambil oleh manusia yang katanya punya society yang terbangun oleh aturan dan keimanan. Jawabannya, menurut yang tergambar oleh film ini; aturan dan keimanan/kepercayaan itu runtuh nyaris seketika.

Ya karenanya When Evil Lurks jadi sebuah horor mencekam yang benar-benar banal. Iblis dari roh penasaran berjalan di muka bumi sambil ngemil otak manusia. Orang kesurupannya bukan semata anak kecil menyumpah serapah, melainkan literally sebuah abomination, gumpalan nanah dan kotoran yang sekarat. Busuk, berdarah-darah. Siap untuk melahirkan setan berikutnya. Hewan-hewan peliharaan jadi beringas, tidak lagi mengenal tuannya, yang by the way juga telah siap melempar keluar semua kemanusiaan demi menyelamatkan diri dan keluarga. Ini adalah horor yang brutal. Sadis, jijik, najis, ngumpul jadi satu penceritaan bikin miris. Film ini bukan saja bukan untuk yang gak kuat iman, tapi juga bukan sajian untuk yang gak kuat perut. Ada satu adegan di film ini yang benar-benar bikin terpekik kaget, karena rasa-rasanya belum ada yang nekat bikin adegan kayak gitu bahkan di film horor sadis sekalipun.

In other words, harusnya ini adalah horor yang sangat menghibur. Tapi aku gak bisa menyukainya. Lantaran satu hal. Protagonis yang annoying. Aku mengerti penulisannya didesain seperti itu untuk memperlihatkan dia pendosa, bahwa dia sama dengan kita yang just try to save keluarga sementara gak benar-benar tahu harus berbuat apa. Hanya saja sayangnya dia tertranslasikan ke layar sebagai karakter yang ribut teriak-teriak dan memilih keputusan-keputusan bego yang aku yakin kita gak akan memilih pilihannya. Like, ada satu adegan dia nyaris putus asa kesusahan menjebol panggung. Lalu anak kesurupan iblis bilang ada kapak di ruangan sebelah. Tanpa pikir panjang, tanpa mendengarkan larangan paranormal yang tahu banyak dan telah sukses menunjukkan jalan kepadanya, dia ngikut saja perkataan si anak iblis. Resulting kerugian nyawa yang sangat besar di pihak manusia. Maan, I just can’t follow character like that. Aku berharap film ini punya karakter yang lebih menarik dan simpatik.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for WHEN EVIL LURKS

 




 

 

That’s all we have for now

In case belum jelas mana satu film yang mengecewakan itu adalah The Creator. Aku kecewa banget. Bahkan Five Nights at Freddy’s aja ngambil resiko lebih banyak ketimbang film tersebut. Yang bikin tambah kesel, dan khawatir, adalah bahwa dia film original. Ngeri aja kalo film original epik kayak gitu kurang diminati. Bioskop dan studio hanya akan melihatnya sebagai kegagalan materi, sehingga yang original bakal makin dipandang tidak menguntungkan. Padahal pengembangannya saja yang sangat main aman. Film harusnya lebih berani, apalagi kalo sudah punya materi yang unik. And by the way, sudah hampir penghujung tahun dan aku belum dapat film yang skornya 8.5. Alamak!!

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 11 (V/H/S/85, NO HARD FEELINGS, STRAYS, TOTALLY KILLER, BLUE BEETLE, PET SEMATARY BLOODLINES, THEATER CAMP, CONCRETE UTOPIA)

 

 

Harusnya sih ini edisi halloween. Tapi ternyata yang belum kutonton dan kuulas ada berbagai genre!! Jadilah aku kumpulin aja semua seperti biasa, dan ya, inilah edisi kesebelas. Dan mungkin kita akan segera bertemu di edisi berikutnyaaa

 

 

BLUE BEETLE Review

It has its charms. I mean, pusat di balik cerita superhero robot kumbang ini adalah keluarga latin, yang struggle dengan keadaan ekonomi. Dan karena berasal dari keluarga latin, kejadian seputar protagonisnya menjadi superhero pun jadi punya ‘warna’ yang berbeda. Jika biasanya superhero merahasiakan yang terjadi kepadanya dari keluarga, maka Blue Beetle berubah persis di depan ayah, ibu, adik, paman, dan neneknya sekaligus. Masalah Blue Beetle juga adalah masalah keluarganya. Bahkan ada sekuen saat justru si superhero yang kekuatannya bisa menciptakan senjata apapun yang ia bayangkan (dia pakai Buster Sword kayak Cloud di FF VII!!) yang harus diselamatkan oleh keluarganya.

Ada momen-momen lucu dari sini. Dan tentunya juga momen seru. Jika sutradara Angel Manuel Soto diberikan kreasi penuh, aku yakin film ini harusnya bisa lebih kuat lagi pada identitas dan perspektif keluarga tersebut. Sayangnya film Blue Beetle bermain aman. Tidak mau mengambil terlalu banyak resiko dengan menjadikan ini film superhero mexico. Film ini bangunan superheronya amat sangat template. Korporat jahat, pasukan militer super, villain yang kekuatannya sama dengan si superhero – only bigger dan badder. Ujung-ujungnya, nonton ini aku tetap merasa bosan. Durasi dua jam lebih itu kerasa banget karena meskipun identitasnya unik tapi yang mereka lalui, plot ceritanya, kejadiannya, terasa seperti yang udah sering kita tonton.

Jika semua studio film superhero modern main aman seperti begini, maka gak heran penonton terkena ‘superhero fatigue’

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BLUE BEETLE

.

 

 

CONCRETE UTOPIA Review

Bencana yang dipotret sutradara Tae-hwa Eom dalam Concrete Utopia bukan exactly runtuhnya tanah karena gempa. Melainkan soal runtuhnya kemanusiaan. Potret yang sangat powerful, dan bikin merinding. Digambarkan manusia bisa seketika turn on each other, saling serang gak peduli sama yang lemah, kalo urusannya udah tentang tempat tinggal. Demi menduduki suatu tempat. Lihatlah ke luar jendela, dan kita akan lihat bentuk konkrit dari yang disimbolkan oleh film ini.

Di cerita ini penduduk satu-satunya apartemen yang masih berdiri berusaha survive, bertahan di apartemen, membentuk komunitas dan aturan-aturan sendiri. Sumber makanan, obat-obatan, dan air yang sedikit membuat mereka tega mengusir pendatang yang ingin mencari perlindungan. Padahal di masa sulit seharusnya manusia bekerja sama. Gak peduli dari mana dia berasal. Film ini nunjukin dengan ironis bahwa pemimpin mereka apartemen sebenarnya juga seorang pendatang. Orang luar yang membunuh seorang penghuni apartemen sebelum bencana datang.

Eksekusi ceritanya luar biasa. Kita dibuat terus menyimak gimana komunitas ini bekerja, dengan ironi tadi membayangi di baliknya.  Akan ada banyak sekali adegan-adegan yang menghasilkan perasaan yang kontras. Terkadang memang terasa over, tapi semuanya masih bekerja dalam satu kesatuan bangunan-dunia yang senada. Dan kupikir, cara film ini mengakhiri ceritanya pun terasa puitik. Benih-benih harapan itu mereka tebar, sehingga api harapan itu masih terasa hangat.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for CONCRETE UTOPIA

 

 

 

NO HARD FEELINGS Review

Ternyata Jennifer Lawrence bisa juga jadi Girl on Fire di film komedi! No Hard Feelings terasa bergelora dan penuh energi chaotic berkat penampilan komedik Jen-Law. Dia gak ragu untuk tampil total!!

Karakter yang dia mainkan, Maddie, memang bukan tipe yang mudah untuk kita kasihani. Orangnya keras kepala, cuek, dan bukan exactly tipe kakak cewek yang anggun. Sikapnya itu kemudian dibenturkan saat Maddie kepepet duit. Maddie menerima lowker dari pasangan kaya yang lagi mencari ‘pacar bayaran’ untuk anak cowok mereka yang udah mau kuliah tapi sampai sekarang belum punya pacar karena ansos dan introvert banget.

Dari sinilah komedi romantis karya Gene Stupnitsky ini jadi laen. Rootnya dari awkwardness yang timbul dari seorang tante-tante mencoba mendekati daun muda. Beberapa adegan awal cenderung hard to watch, dalam artian ngenes, tapi di situlah poin dagang film ini. Relationship dua karakter sentral berkembang, bukan lagi dari perasaan romantis yang dibuat-buat, tapi jadi genuine hubungan yang saling mendewasakan. Rasanya sudah jarang kita dapat suguhan ringan, tapi juga nekad serta nyeleneh.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for NO HARD FEELINGS

 

 

 

PET SEMATARY: BLOODLINES Review

Kok ya aku jadi agak kasian sama Stephen King. Tahun ini dua ceritanya dikembangkan menjadi film yang benar-benar sebuah adaptasi lepas. Dan kedua film itu tidak benar-benar bagus. Pertama, The Boogeyman, yang malah melanjutkan cerita asli King dengan karakter-karakter baru. Dan sekarang, Pet Sematary: Bloodlines, yang mengambil posisi sebagai prekuel dari cerita asli; thus film ini mengarang bebas dari karakter-karakter yang sudah ada. Sedikit banyak mengubah mereka. Sesuatu yang sama sekali tidak perlu.

Sebenarnya sutradara Lindsey Anderson Beer masih respek. Dia berusaha mengarahkan dan menuliskan cerita ini semirip mungkin dengan vibe cerita-cerita King. Kota kecil dengan penghuni yang turun temurun menempatinya dijadikan pusat cerita. Karakter-karakter penghuninya – Judd muda dijadikan protagonis cerita – berusaha dikembangkan. Premis tanah yang semua makhluk yang dikuburkan di dalamnya bakal balik jadi makhluk jahat, coba diperdalam. Dipersonalkan. Film ini nyaris setengah berhasil melakukan itu semua.

The best thing yang bisa kubilang untuk film ini adalah dia seperti fan-fic yang bland. Sampai ke aspek horornya pun nanggung. But it’s okay. Masih bisa jadi tontonan pengisi waktu-lah, sebenarnya. Namun semua itu diperparah oleh hal-hal yang diretcon. Hal-hal yang beda ama materi aslinya. Jadinya film ini konyol aja, jadi kayak ngada-ngada.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PET SEMATARY: BLOODLINES

 




STRAYS Review

Ngomong-ngomong soal pets, nah ini baru film tentang hewan peliharaan yang benar-benar serasa seperti sebuah perjalanan liar!

Paling tepat ya menyebut komedi garapan Josh Greenbaum ini sebagai film anjing. Karakternya 95% live-action anjing, dan tingkah mereka pun benar-benar anjing. Sepertinya memang film ini terutama memparodikan film-film tentang anjing peliharan yang kebanyakan bicara tentang persahabatan anjing dengan manusia. Di film ini, yang ditekankan adalah persahabatan antara sesama anjing, dan mereka mau balas dendam sama owner yang sudah menelantarkan si karakter utama. Dan para anjing dan komedi di sini vulgar dan raunchy abis. Ini bukan tipe film yang diputar untuk ditonton bareng keluarga.

Tapi bukan berarti film ini enggak punya hati. Yang dialami Reggie sebagai anjing peliharaan, sebenarnya menyedihkan. Pemiliknya sebenarnya gak suka sama dia. Tapi Reggie terjebak dalam somekind of toxic relationship yang membuat dia merasa pemiliknya akan sayang, kalo dia nurut. Udah dibuang pun, dia ngerasa pemiliknya lagi ngajak main. Reggie dealing with perasaan ini yang jadi bobot dramatis film. Karena bahkan kita manusia bisa terjebak toxic relationship. Tonenya boleh aja agak random, tapi film ini lebih dari sekadar komedi jorok – yang sebenarnya juga berusaha dijustify oleh film dengan menjadikan dirinya sebagai parodi film anjing. Bahwa anjing itu ya, anjing. Dan manusia bisa lebih anjing lagi,

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for STRAYS

 

 

 

THEATER CAMP Review

Agak susah mutusin film ini satir tentang komunitas camp teater, atau surat cinta terhadap mereka. Tapi boleh jadi, inilah bentuk tertinggi dari sebuah passion dan kecintaan; mampu menertawakan sekaligus menceritakannya dengan penuh hangat. Theater Camp karya Molly Gordon dan Nick Lieberman akan ikut membuat kita jatuh cinta, meskipun kita bukan teater geek seperti mereka.

Karena pada hatinya, film tentang influencer yang terpaksa menjalankan summer camp teater milik ibunya ini bicara tentang hal yang relate. Yakni tentang tempat bagi anak-anak – bagi orang-orang yang not really fit in di kehidupan sosial yang ‘normal’. Tentang orang-orang yang menemukan rumah dan keluarga, dan mereka harus menyelamatkan rumah mereka bersama-sama. Duh, lagu ‘Camp isn’t Home’ yang jadi adegan musikal pamungkas film ini sukses bikin emosiku jumpalitan.

Banyak karakter di cerita ini. Permasalahan mereka punya benang merah yaitu dilema antara stay di sana atau tidak. Antara bertahan di passion dan mengejar mimpi, atau ‘menyerah’ kepada realita. Film mengambil posisi yang sangat berimbang, tidak menghukum, mengolok pilihan manapun. Semuanya diserahkan kepada penonton, untuk ikut memilih. Komedi film ini juga dituliskan dengan mumpuni. But I do think, film ini bisa menjangkau lebih banyak penonton lagi jika eiher durasinya dipanjangin supaya penonton in general bisa  mengenal masing-masing mereka lebih lama, atau fokusnya agak dirapatkan ke satu karakter secara khusus.

The Palace of Wisdom gives 7.5  gold stars out of 10 for THEATER CAMP

 

 

 

TOTALLY KILLER Review

Premis film ini ngingetin aku sama filmnya si Taissa Farmiga, The Final Girls (2015) – duh, jaman2 masih ngereview di Path haha. Kalo di film tersebut protagonis ceweknya tersedot ke film slasher tahun 80an yang dibintangi ibunya dan berusaha mencegah karakter ibunya mati, sedangkan di karya Nahnatchka Khan ini, ceritanya tentang protagonis cewek remaja yang kembali ke masa lalu untuk menggagalkan rencana seorang pembunuh berantai yang membunuhi ibu dan teman-teman ibunya di SMA. Kedua film tersebut sama-sama mengandalkan referensi film 80an sebagai bumbu di balik bunuh-bunuhan. Tapi di Totally Killer, referensi yang digunakan gak sebatas pada film horor.

Dari Back to the Future ke Halloween ke film-film remajanya John Hughes, Totally Killer bakal totally bikin kita tetep have fun bernostalgia sambil jejeritan, dan ikut menebak-nebak pembunuh seperti saat nonton Scream. Toh naskah film ini gak cuma berisi referensi sana-sini. Kecerdasan penulisan ditunjukkan dari konsep time travel dan gimana mereka menggunakan kesempatan itu untuk membandingkan dengan kocak antara remaja jaman dulu dengan remaja jaman sekarang.

Gimana Jamie heran di 80an orang-orang pada selow ngata-ngatain orang, sekolah yang pengamanannya nyante. Apa-apa gak ribet kayak di 2023. Tapi sekaligus juga memperlihatkan ke kita gimana selownya orang jaman dulu sama ternyata bisa berdampak pada anak jaman sekarang. Film ini did a great job ngangkat diskursus soal kebiasaan sosial pada dua era berbeda – meskipun ini sebenarnya horor komedi yang dibuat sebagai tontonan ringan. Ini lantas  terefleksi juga kepada film. Film jaman sekarang, seperti film ini sendiri, cenderung harus jadi ribet dibandingkan horor jaman dulu yang cukup bunuh-bunuhan saja. Pertanyaannya dioper ke kita nih sekarang, jaman mana yang lebih baik?

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold star out of 10 for TOTALLY KILLER

 

 

 

V/H/S/85 Review

Franchise V/H/S/ tampaknya sudah resmi jadi staple penggemar horor setiap halloween. Tahun ini mereka ngeluarin lagi, dan tema besar kali ini adalah video-video horor, snuff film, dan rekaman ganjil dari tahun 1985.

Sebagai antologi cerita, at least V/H/S/ semakin kreatif dalam menampilkan atau menempatkan lima horor pendek. Kali ini film ini bermain-main dengan urutan. Ada cerita yang displice jadi dua bagian supaya kita makin penasaran. Dan karena cerita-cerita ini random, nonton film ini ada sensasi masuk ke something unknown yang menambah minat kita ngikutin sampai habis.

Lima horor pendek dalam film ini sendiri, menurutku tidak terlalu seram. Sebagian besar gak benar-benar ngasih sesuatu yang baru juga, meskipun memang mereka berusaha menghadirkan kesan cerita itu memang direkam tahun 85. Kayak cerita tentang virtual reality, yang dihadirkan dengan gaya monolog seseorang lagi perform di teater. Komedi atau satir cerita tersebut works karena dibuat (dan ditonton) oleh yang tau sekarang teknologi ada di mana, dan gimana masyarakat menggunakannya. Pada akhirnya segmen cerita ini adalah showcase horor gore yang memang jadi ciri khas horor 80an.

Ada juga segmen yang bermain-main dengan premis Pet Sematary – yang di tahun 85 itungannya masih novel horor yang baru booming. Sekelompok pemuda pemudi main di danau, lalu mereka ditembaki seseorang misterius, dan yang mati di danau bisa hidup kembali, kayak di cerita Pet Sematary. Segmen ini sebenarnya sangat fun, tapi sayangnya terlalu singkat. Apalagi bagian keduanya, yang melibatkan satu keluarga dengan perayaan sinting. Terlalu singkat, membuat kita pengen lebih. Segmen Rory yang dijadikan pembungkus semua cerita, juga terlalu singkat padahal kisah creature-nya sudah bikin penasaran.

Segmen favoritku adalah Dreamkill, yang melibatkan seorang detektif yang berusaha memecahkan kasus aneh. Serangkaian kasus pembunuhan yang serupa dengan video-video rekaman yang ia tonton seminggu sebelumnya. Kayaknya jarang segmen di V/H/S/ yang ngasih horor surealis kayak gini. Sedangkan segmen yang paling tak kusuka adalah God of Death, terinspirasi dari gempa Mexico di tahun 85. Buatku segmen ini kepanjangan dan annoying kameranya bikin pusing.

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for V/H/S/85

 




That’s all we have for now

Empat film horor dari list ini menurutku sangat cocok untuk dijadikan maraton horor tahun ini.  Bahkan Concrete Utopia bisa ditambahkan, mengingat basically itu adalah horor kemanusiaan yang relevan dengan keadaan sekarang. Bagaimana dengan kalian, apa list tontonan halloweenmu tahun ini? Share di komen yaa

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 10 (WAKTU MAGHRIB, THE PASSENGER, HOME FOR RENT, BIRD BOX: BARCELONA, ZOM 100: BUCKET LIST OF THE DEAD, RUBY GILLMAN TEENAGE KRAKEN, COBWEB, THEY CLONED TYRONE)

 

 

Edisi kesepuluh Mini-Review ini isinya udah kayak pesta di musim panas. Mulai dari zombie hiu ke cewek laba-laba, dari mermaid jahat ke kloningan korporat, dari orang kesurupan ke psikopat hingga ke sekte-sekte sesat. Meriah! I’ve had fun nontoninnya, dan sekarang saatnya mengulas merekaa!!

 

 

BIRD BOX: BARCELONA Review

Bird Box: Barcelona adalah sekuel, yang tidak banyak memberikan jawaban baru atas fenomena khusus yang ia angkat sebagai cerita. Dunia masih tetap ‘kiamat’ oleh keberadaan sesuatu yang membuat setiap orang bunuh diri jika mata mereka melihat cahaya di luar. Sehingga film ini memang bisa bikin penonton yang ingin tahu kelanjutan atau penyelesaian masalah itu jadi kecewa.

Aku pun pastinya bakal menutup mata juga loh kalo saja sutradara Alex dan David Pastor benar-benar tidak punya tawaran baru. But they did have one. Enggak gede, memang, namun buatku sudah cukup untuk membuka sesuatu yang baru dalam experiencing dunia cerita mereka. Hal yang beda kali ini itu adalah perspektif. Kali ini bukan tentang seorang ibu yang memegang teguh harapan dan kepercayaan untuk membawa anak-anaknya ke tempat keselamatan. Melainkan tentang seorang ayah yang ingin melihat keluarganya lagi. Protagonis kali ini bukan orang baek-baek yang pengen survive. Melainkan salah satu anggota cult yang percaya tugas mereka adalah membimbing sebanyak mungkin orang untuk melihat ‘keindahan’ mematikan. Journey protagonis dalam menyadari kesalahannya yang bikin film ini menarik. Gimana nanti dia berinteraksi dan belajar dari calon korbannya.

Mungkin lebih tepat kalo kita menganggap film ini bukan sebagai sekuel, tapi sebagai companion saja dari film pertamanya. Elemen-elemennya memang berulang dan gak banyak development baru. Tapi kalo dibandingkan dengan film pertamanya, journey protagonis kali ini lebih menarik dan menantang.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BIRD BOX: BARCELONA

.

 

 

COBWEB Review

Horor ‘makhluk yang tinggal di dalam dinding rumah’ selalu punya pesona tersendiri. I think it’s because kita semua setidaknya pernah sekali seumur hidup kebayang yang enggak-enggak ketika mendengar bunyi derit rumah. Perfect banget buat jadi elemen cerita horor. Melihat ke belakang, film kayak Housebound (2014) atau The Boy (2016), cerita tentang seseorang di balik dinding ini bisa sukses karena faktor surprise di dalam ceritanya, tapi sekaligus juga punya kendala yang sama; bagaimana memasukakalkan orang bisa hidup sekian lama di balik tembok. Mari kita lihat cara sutradara Samuel Bodin menghandle soal itu dalam Cobweb

Again, film ini punya langkah awal yang bagus dari perspektif utama. Anak kecil yang mendengar suara di balik dinding rumah, tapi orangtuanya gak percaya. Dari sini drama horornya berjalan. Enggak dibuat ambigu dan menantang, tapi horornya dirancang untuk hiburan mainstream yang efektif, dari sikap orangtua yang mencurigakan. Membangun ke arah pengungkapan siapa di balik dinding, untuk kemudian diubah film menjadi sajian horor kedua, yakni horor creature. Yang di sinilah buatku film jadi kayak kesangkut sendiri pada jaring horor yang mereka buat.

Walau memang paruh akhirnya jauh lebih seru, tapi bagian itu juga lebih generik. Aku gak tahu apakah karena itu film jadi berusaha membuat si makhkluk jadi bombastis, atau mereka cuma pengen beda, tapi hasilnya film ini jadi konyol dan mungkin lebih tepat kalo dibuat sebagai horor komedi. Film seperti tidak bisa memilih makhuk horornya, apakah manusia atau hantu. Jadi mereka membuatnya basically kayak gabungan keduanya. Perspektif karakternya pun jadi tidak terpakai lagi, padahal diceritakan makhluk itu adalah saudara dari si karakter utama. Maka endingnya pun terasa jadi flat.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for COBWEB

 

 

 

HOME FOR RENT Review

Tiga tahun belakangan aku gak terkesan sama horor Thailand. Dua yang tayang, dengan hype besar dan populer itu, actually melempem dari segi cerita karena hanya dibuat sebagai wahana jumpscare. Ekspektasiku buat horor Thailand lagi agak rendah, makanya karya Sophon Sakdaphisit menarik telak buatku!

Ini sudah bukan lagi soal ekspektasiku. Home for Rent memang punya cerita yang kuat di balik sajian horor tentang sekte misterius. Cerita orangtua yang berkubang duka begitu dalam, sehingga rela melakukan sesuatu di luar nalar dan bahkan membahayakan keluarganya. Berkisah tentang film ini actually agak susah, karena satu lagi ‘fitur’ yang dipunya oleh film ini adalah mencacah ceritanya ke dalam beberapa sudut pandang. Kita akan berpindah melihat satu kejadian yang sama, dari sudut karakter yang berbeda. Fitur storytelling yang beresiko, tapi juga punya kelebihan yakni membuat pengungkapan misteri jadi berbobot karena ditambatkan kepada perspektif karakter.

Home for Rent terbukti menggunakan cara bercerita seperti itu tidak untuk menutupi dangkalnya bahasan. Melainkan ya ketajaman naluri sutradara untuk membuat cerita dramatis, sekaligus memperkaya cerita dan misteri lewat lapisan sudut pandang. Perpindahan sudut pandang itu juga tak membuat siapa karakter utama jadi tidak jelas. Naskah tetap tegas, Development dan journey dramatis tetap pada Ning, si ibu, sebagai karakter utama.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for HOME FOR RENT

 

 

 

RUBY GILLMAN, TEENAGE KRAKEN Review

Jika kraken adalah makhluk laut dengan lengan atau tentakel banyak, maka Ruby Gillman, Teenage Kraken adalah film dengan banyak sekali cabang-cabang yang mengingatkan kita kepada film lain. Yang bikin aku sedikit kecewa adalah kisah tentang makhluk mitos yang menyamar jadi manusia, hidup seperti manusia, ini harusnya kisah yang benar-benar original. Namun sutradara Kirk DeMicco dan Faryn Pearl seperti tidak bisa memutuskan.

Beberapa dari kalian mungkin akan menyebut ini kayak Turning Red (2022). Mungkin ada juga yang memiripkan ini seperti Luca, atau malah Harry Potter. Mungkin film ini memang mengincar kemiripan itu. Karena to be honest, Ruby Gillman bekerja paling kocak saat menjadi parodi. You know, gimana mereka membalikkan status jadi kraken baik dan mermaid jahat. Gimana mereka menggambarkan sosok si jahat itu. Desainnya yang playful dan ngasih komedi tersendiri. Kekecewaanku memang akhirnya terobati dari gimana film ini membentuk para karakternya. Mereka semua terasa mencuat di balik cerita yang not really interesting dan berjuang untuk mengapung sebagai sesuatu yang berbeda. Sebagai tontonan untuk keluarga, tentu saja film ini merupakan alternatif yang baik. Dengan segala pesan ibu-anak perempuan dan persahabatannya. Selain itu, film ini juga punya elemen action yang bikin penonton cilik semakin betah menanti akhir kisahnya

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for RUBY GILLMAN, TEENAGE KRAKEN

 




THE PASSENGER Review

Terlalu sering kita mendengar nasehat untuk tidak melihat siapa orangnya, tapi lihatlah apa yang dikatakan olehnya. Nasehat yang jelas agak ganjil karena bayangkan kalo kita dilarang menyerobot antrean oleh seorang koruptor, misalnya. Nonton The Passenger karya Carter Smith akan terasa ganjil seperti begitu karena di film ini kita akan melihat protagonis yang sedang dibantu untuk membereskan masalah personal di dalam hidupnya, oleh seorang ‘teman’ yang baru saja membunuhi orang-orang di diner tempat mereka bekerja.

The Passenger adalah road trip intens, bukan oleh aksi-aksi, melainkan oleh dinamika karakternya. Seorang pria muda yang begitu helpless dan terguncang oleh yang ia perbuat di masa lalu sampai-sampai seseorang yang berbahaya, meledak-ledak, tergerak untuk membantunya. Tahun lalu, ada film Piggy (2022) yang mirip seperti ini, cewek korban bully dan body shaming, dikasihani oleh pembunuh psikopat. Tapi film tersebut berkembang jadi thriller bunuh-bunuhan generik. The Passenger mengembangkan ceritanya dengan lebih berfokus kepada drama. Dua karakter sentral dimainkan dengan sangat meyakinkan, emosi mereka terasa raw, rough, tapi memang itulah yang dibutuhkan oleh cerita. Film ini berhasil membuatku bercakap-cakap dengan layar, berusaha ngobrol dengan para karakter. Di satu sisi, kita ingin Bradley melarikan diri dan selamat, tapi di sisi lain kita juga ingin dia menemukan keberanian untuk mengkonfrontasi masa lalunya, dan satu-satunya cara ya lewat Benson yang tak pernah jauh dari pistolnya.

Bukan siapa yang benar-siapa yang salah, siapa yang jahat-siapa yang baik yang ingin dicapai oleh film. Karena dua karakternya itu akan menjadi sesuatu yang lebih dekat dari sahabat tapi juga begitu berjarak seperti musuh paling bebuyutan. Jalinan kuat dan unik yang perlahan terbentuk inilah yang bikin kita betah nonton sampai beres.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE PASSENGER

 

 

 

THEY CLONED TYRONE Review

Nah ini baru unik, seru dan kocak juga! Cara mereka ngambil judul aja udah demikian menarik, jika kita lihat konteks ceritanya. Dari luarnya, They Cloned Tyrone seperti cerita ala Groundhog Day, hanya lebih ‘gila’. Jadi si Fountaine ngerasa hidupnya rada-rada berulang gitu. Tapi bukan karena dia masuk time loop. Fountaine sebenarnya telah tewas, tapi dia terbangun seperti biasa di kamar, dan kembali menjalani rutinitasnya sebagai drug dealer seperti gak ada apa-apa. Aslinya, Fountaine sudah dikloning, dan dia baru tahu akan apa yang sebenarnya terjadi dari interaksinya dengan unlikely allies.

Di dalam, They Cloned Tyrone sebenarnya sebuah komentar sosial. Juel Taylor dalam debut penyutradaannya ini bikin sesuatu yang bisa berdampingan dengan horor-horornya Jordan Peele. Karena sesungguhnya film ini juga punya concern terhadap eksploitasi warga kulit hitam. Bukan cuma Fountaine yang dikloning, hampir semua orang di lingkungan mereka ternyata jadi bahan percobaan perusahaan kulit putih yang punya markas di bawah tanah. Waralaba ayam goreng, produk pengecat rambut, hal-hal yang mereka tonton iklannya di TV ternyata adalah alat untuk ‘mengendalikan’ mereka. Semua itu dibikin oleh film sebagai simbol bagaimana stereotipe yang tersemat pada warga kulit hitam sebenarnya tak lebih dari sebuah eksploitasi

Bibit misteri dan komedi tumbuh dengan asik. Trio sentral (John Boyega, Jamie Foxx, dan Teyonah Parris) bikin cerita makin seru dengan enerji dan personality mereka masing-masing. Film ini bisa sangat menghibur. Problem sedikit ada pada pacing pada cerita yang secara natural punya beberapa pengulangan, juga karena bentukannya yang berupa pemecahan misteri. Film pada beberapa kesempatan masih terlihat struggling untuk menjaga pace, menurutku kalo film bisa lincah dalam tempo dan komedi, tentu penceritaannya lebih nonjok lagi.

The Palace of Wisdom gives 6.5  gold stars out of 10 for THEY CLONED TYRONE

 

 

 

WAKTU MAGHRIB Review

Untuk beberapa waktu, horor karya Sidharta Tata ini jadi film Indonesia paling laris di 2023. Dan setelah ditonton, aku bisa paham kenapa film ini menghasilkan kesan dan pembicaraan yang baik. Waktu Maghrib dengan cerdik menjadikan ceritanya berpusat pada karakter anak, tapi dengan horor yang tetap brutal. Konteks ceritanya pun diambil yang ‘dekat’ dengan penonton, kepercayaan bahwa waktu maghrib adalah waktu tabu untuk keluar rumah.

Saat nonton ini, aku kepikiran Forbidden Siren, game horor tentang warga di sebuah desa yang dilarang keluar rumah saat sirine berbunyi di malam hari, yang tetap nekat ya berubah jadi zombie berdarah-darah. Desain horor film ini mirip dengan itu (I think it would be cool kalo suara sirine diganti suara adzan maghrib). Bahasan tentang orang takut ke mesjid karena setan maghrib tentu bakal menarik jika digali. Tapi Waktu Maghrib ternyata hanya memperlihatkan soal itu sekilas. Naskah dan arahannya seperti bergelut pengen menceritakan apa, dan akhirnya memilih jalan yang generik. Waktu Maghrib tak lagi membahas ketakutan tersebut, melainkan jadi literally sosok setan yang membuat anak-anak bunuh diri. Jadi tebak-tebakan misteri siapa yang sebenarnya jahat.

Ketika satu anak mati, cerita pindah ke anak lain. Perspektif berpindah-pindah yang dilakukan Waktu Maghrib tidak sebaik yang dilakukan oleh Home for Rent. Karena di Waktu Maghrib, tokoh utamanya gak pernah jelas. Tidak ada karakter yang mengalami development, karena cerita hanya tentang selamat dari hantu. Plotnya hanya tentang ‘oh ternyata’. Motivasi dan mitologinya enggak berkembang dengan baik. Suasana desanya tidak pernah tergambar detil, padahal set upnya sebenarnya menarik. Kita tahu film ini not follow through idenya sendiri, saat film bahkan gak mampu gambarin suasana maghrib itu dengan genuine.

The Palace of Wisdom gives 3 gold star out of 10 for WAKTU MAGHRIB

 

 

 

ZOM 100: BUCKET LIST OF THE DEAD Review

Yang aku gak suka dari film ini cuma judulnya. Selebihnya, film ini such a blast! Idenya segar banget. I know for a fact, kalo ini dibikin oleh Hollywood, maka judulnya pasti adalah Zombie Shark, atau Zombie Shark Hero.

Sutradara Yusuke Ishida sebenarnya ngambil setting zombie apocalypse cuma untuk perumpamaan. Karyawan yang kerja pagi pulang malam, nurut-nurut saja sama bos yang toxic berlindung di balik istilah keluarga, atau terus ‘ngedoktrin’ mereka bahwa mereka bukan apa-apa tanpa kerjaan ini, dianggap sebagai zombie. Kalo sedang tidak dikejar zombie, maka si Akira Tendo, karakter utama kita itulah yang jadi zombie korporat. Dia justru tampak lebih hidup saat membasmi zombie-zombie beneran, karena cuma di saat itulah dia bisa menjadi dirinya sendiri. Akira sampai bikin list sendiri, kegiatan-kegiatan yang ingin dia lakukan mumpung sempat karena dia bisa gak masuk kerja sebab dunia dilanda wabah zombie. Akira dan listnya jadi kontras yang menarik pada genre zombie yang biasanya karakter utama justru si kikuk yang harus jadi jagoan dan punya list berupa aturan yang gak boleh dilanggar kalo mau selamat di dunia zombie. Akira dan listnya malah hidup bersenang-senang saat ada zombie. Yang paling ngakak ya ketika film ini gambarin siapa lawan Akira sebenarnya. Siapa musuh karyawan-karyawan kecil. Ya, corporate shark. Film menggambarkannya jadi literally hiu zombie, Hiu dengan kaki-kaki zombie. Design makhluk horor yang sungguh jenius hahaha. Vibe over-the-topnya masuk dan gak pernah jadi annoying ataupun bikin film jadi bablas receh

Film ini bekerja terbaik ketika mengumpamakan hal tersebut. Vibe cerianya di saat horor sebenarnya jadi ironi yang lucu. Stake di cerita ini bukan dari nyawa Akira yang bisa menghilang kalo dia kena gigit zombie. Melainkan, kita lebih khawatir kalo Akira kembali jadi budak di kantor. Journey Akira juga dipenuhi oleh karakter-karakter manusia yang bakal membantunya menyadari bahwa dia jadi zombie begitu urusan kerjaan dan bosnya tiba. Bagian serunya buatku ya di babak awal, dan di babak akhir. Babak keduanya sedikit generik, meski memang perlu untuk ngebuild up relasinya dengan karakter lain. Kalo film fokus di perumpaman, cerita tidak dipanjang-panjangin oleh kejadian Akira dan gengnya di luar sana dengan zombie-zombie generik, maka film ini akan lebih enak ditonton.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for ZOM 100: BUCKET LIST OF THE DEAD

 

 





That’s all we have for now

Kita sudah di paruh akhir 2023, dan aku sudah mulai bisa melihat calon-calon yang bakal masuk Top-8 ku untuk tahun ini. Gimana dengan kalian? Apakah kalian punya rekomendasi film 2023 yang mungkin terlewat olehku, dan kalian merasa film itu pantas dapat skor 8? Silakan share di komen.

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 9 (SISU, RENFIELD, DEAR DAVID, GUY RITCHIE’S THE COVENANT, AIR, A MAN CALLED OTTO, KNOCK AT THE CABIN, CREED III)

 

 

Masa liburan memang biasanya blog ini kosong. Apalagi pas mau-mau lebaran. Wuih, jangankan nulis di depan komputer, menonton film aja aku jarang. Pengennya main video game sepanjang waktu hehehe… Alhasil seringkali aku balik ke realita, dengan pe-er seabrek. Kayak sekarang ini. Begitu banyak film yang dianggurin. Sebagian belum ditulis, sebagian belum kelar ditonton. Jadilah sepanjang bulan Mei ini aku kayak anak sekolah yang ngebut belajar sampai larut malam. Delapan film inilah yang akhirnya terpilih untuk ku kompilasi jadi mini-review volume ke-sembilan!

 

 

 

AIR Review

Sebagai anak nongkrong 90an, kata ‘Air Jordan’ memang cukup familiar buatku, walau aku bukan penggemar sepatu ataupun olahraga basket. Karena waktu itu, Air Jordan memang terkenal banget. Sepatu paling keren di dunia. Sehingga dijadikan guyon. Kalo anak-anak kampung seperti kami beli sepatu baru, pasti tuh sepatu langsung diinjak di tempat sama teman-teman yang lain sambil mereka bersorak “Wuih, sepatunya Air Jordan!!”

Baru di umur seginilah, berkat film Air karya Ben Affleck, aku paham ‘kekerenan’ Air Jordan. Bahwa itu adalah sepatu yang khusus dibuat Nike untuk Michael Jordan. Sepatu yang benar-benar diperjuangan supaya bisa dikenakan oleh calon mega atlet basket itu. Film ini dirancang memang bukan untuk membahas gimana Michael Jordan menciptakan kerjaan endorse, tapi lebih kepada cerita tentang Nike yang mengambil resiko besar. Gambling dengan stake yang begitu besar. Matt Damon’s Sonny, tokoh utama cerita, bahkan mempertaruhkan rumahnya, keluarganya. Stake, itulah yang benar-benar jadi kunci pada film ini. Kita melihat para karakter terus mengorbankan something yang terus membesar, karena mereka percaya pada si Michael Jordan. Film yang arahannya tidak cakap, akan ngelantur kemana-mana, tapi Air tetap pada jalur. Film ini sendirinya mengambil resiko dengan tidak ngecast Michael Jordan. Dalam film, karakternya cuma disorot dari belakang – tanpa dialog berarti dan tidak pernah jadi fokus kamera. Supaya ceritanya tetap pada perjuangan Sonny, pada gambling yang ia lakukan demi perusahaan.

Kekuatan Air berikutnya ada pada akting. Monolog si Sonny saat membujuk Jordan, jelas jadi highlight. Viola Davis juga jadi presence yang dominan meski screen timenya gak banyak. Dan aku juga terhibur sama Chris Tucker, ni orang kocak tapi jarang banget main film! Air dengan mudah jadi cerita dengan drama yang menghibur dan satisfying. Meskipun, dari segi penulisan, aku pengennya film ini lebih menggali Sonny sebagai person lagi. Plot karakternya yang sering ditegor kurang olahraga lebih dipertegas. Karena menurutku film ini kadang agak ‘rancu’ sudut utama di sini adalah Sonny, atau perusahaan Nike secara keseluruhan.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for AIR

.

 

 

A MAN CALLED OTTO Review

A Man Called Otto karya Marc Forster ini semacam kebalikan dari Air. Karena film justru berangkat dari gak ada stake. Otto ceritanya udah mau mengakhiri hidup. Tanpa teman dan kerabat, dia yang baru saja pensiun merasa urusannya di dunia udah rampung semua. Menyusul istrinya yang udah duluan ‘pulang’. Tapi kemudian tetangga barunya menggedor pintu. Kerap minta bantuan, menginterupsi  Otto yang hendak bunuh diri dengan segala macam urusan sepele.

Perlahan, dramatic irony dan emotional feeling itu terbendung. Kita yang tadinya ngerasa cerita ini gak ada stake, akan terattach dengan Otto sehingga kini kita gak pengen dia bunuh diri. Kita bisa melihat bahwa Otto yang kesepian itu ternyata sangat berarti bagi tetangga-tetangganya (dan juga seekor kucing gelandangan). Bahwa masih ada alasan untuknya hidup di dunia. Journey emosional film ini terletak pada kita ingin Otto melihat alasan itu juga, Kita ingin pria tua penggerutu ini melihat bahwa dia sebenarnya gak kesepian. Film gak berhenti sampai di situ karena babak ketiga film ini bahkan bakal lebih kerasa lagi. Feeling serene, peaceful tapi tak pelak sedih, berhasil tercapai, membungkus film jadi perjalanan manis. Tom Hanks juara banget jadi Otto. Clearly, kisah adaptasi ini lebih tepat untuknya karena akhirnya kita yang muda-muda ini bisa lihat bukti betapa legendnya akting drama Tom Hanks. Sesekali film akan membawa kita ke masa muda Otto – untuk memperdalam bahasan cinta – dan karena aktornya beda, kadang akting di bagian flashback ini kerasa jomplang. Membuat kita pengen cepat-cepat balik lagi ke masa Otto yang sekarang.

However, yang paling menarik dari film ini tentu saja adalah gambaran kehidupan bertetangganya. Dan kupikir film ini bakal punya dampak esktra buat penonton modern yang gak ngalamin lingkungan tempat tinggal seperti ini.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A MAN CALLED OTTO

 

 

 

CREED III Review

Ketika Michael B. Jordan bilang dalam menggarap aksi film ini dia terinspirasi banyak anime, dia enggak bohong. Dan dia melakukan itu bukan hanya untuk gaya-gayaan, tapi karena dia tahu bahwa Creed III butuh pengadeganan yang khusus untuk mendeliver pukulan-pukulan emosional yang didera oleh karakternya.

Mana lagi coba film tinju yang bikin adegan saat bertinju, dua karakternya tau-tau ada di tengah ring dalam arena kosong melainkan oleh kabut-kabut psikologis. Dan suara yang kita dengar cuma suara mereka bertinju. Sungguh adegan antara dua orang yang sangat personal dan ngasih banyaklayer ketimbang bikin mereka bertinju seperti biasa. Creed III memang gak main-main soal film ini mau memfokuskan kepada karakter Adonis. Masa lalunya memang benar-benar dikonfront lewat banyak hal, yang puncaknya ya menjelma sebagai sahabat yang dulu pernah ia tinggalkan. Dengan kata lain, dalam Creed III terada ada banyak pertarungan, saking berlapisnya cerita.

Yang jadi permasalahan banyak orang dari film ini, termasuk bagiku adalah, mereka sama sekali tidak menampilkan Rocky. Padahal cerita Adonis berkaitan erat dengan Rocky. Heck, perjuangan Damian basically sama dengan perjuangan Rocky, bedanya Damian ini dipenuhi rasa cemburu. Bisa dibilang, Damian adalah Dark Rocky. Aku mengerti kenapa film memutuskan untuk gak menampilkan karakter Rocky dalam kisah yang pure tentang background Adonis. Alasannya sama dengan ketika Air memutuskan untuk gak full nampilin Michael Jordan. Supaya fokusnya tetap pada Adonis. But come on, bahkan Air saja bisa nemuin cara ‘cantik’ dalam menampilkan Michael Jordan. Rocky mestinya bisa tetap tampil dalam kapasitas dan treatment seperti demikian. Menge-cut dirinya secara keseluruhan justru bikin aneh cerita, karena hampir tidak terasa seperti kelanjutan normal franchise ini

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for CREED III

 

 

 

DEAR DAVID Review

Dulu pernah ada serial TV berjudul Aliens in America, yang salah satu episodenya tentang si karakter yang ketahuan suka menggambar vulgar tokoh-tokoh di dalam novel tugas sekolah. Sekolah jadi gempar, sampai buku-buku bacaan siswa diperiksa. Si karakter merasa bersalah, merasa ada yang gak beres dengan dirinya yang selalu mikir jorok, sehingga ayahnya akhirnya memberi penjelasan bahwa semua itu normal dan itu bukan salahnya. Penyelesaian dan pembahasan serial konyol dua-puluh-dua menit itu bahkan terasa lebih grounded dan manusiawi ketimbang Dear David karya Lucky Kuswandi.

Kenapa aku sampai tega bilang begitu? Karena Laras yang ketahuan mengarang cerita vulgar tentang teman sekelasnya, dalam Dear David, tidak pernah dibikin berkonfrontasi dengan gairahnya tersebut. Laras tau-tau di akhir film langsung mantap menyebut itu bukan salah dia, karena sebagai remaja dia punya gejolak. Sedangkan bagian tengah film, dihabiskan dengan ngalor-ngidul membahas hal-hal yang gak benar-benar paralel dengan tema tersebut. Tidak ada interaksi yang mengajarkan Laras atas masalahnya. Saking kemana-mananya, banyak penonton yang merasa tersinggung dan menganggap film ini tidak peka. Dengan malah membuat karakter korban jadi bucin pengen pacaran, misalnya. Padahal jika dilihat konklusi di akhir, film ini sebenarnya menunjuk antagonis pada sekolah. Yang tidak pernah mengayomi korban, tidak pernah melindungi murid, tidak benar-benar menganggap serius yang terjadi pada muridnya, melainkan hanya peduli pada citra sekolah. Tapi itu pun tidak pernah dibangun dengan mulus, cerita tidak langsung fokus kepada masalah itu.

Mungkin film ingin seperti slice of life. Menceritakan keseharian anak-anak di sekolah itu, dan bagaimana mereka bertindak saat ada kasus Laras. Antagonis sekolah bisa mencuat dari sana. Tapi kupikir, untuk mencapai ini, film harus meringankan tone-nya sedikit. Dear David took itself very seriously, sehingga sikap-sikap khas remaja karakternya tadi jadi tampak sebagai kekurangpekaan film.

The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for DEAR DAVID

 




GUY RITCHIE’S THE COVENANT Review

Utang budi dibawa mati. Drama perang yang diangkat Guy Ritchie dari kisah-kisah tentara selama Perang Afganistan mencoba menggali bagaimana persahabatan yang begitu kuat bisa tumbuh antara tentara dengan seorang penerjemah lokal. Jake Gyllenhaal jadi sersan John Killey yang nyawanya diselamatkan oleh Dar Salim’s Ahmed, penerjemah yang tadinya kurang ia percaya. Jake dan Salim punya chemistry yang kuat, interaksi karakter mereka selalu menarik untuk disimak. Masalah pada film yang banyak shot survival tembak-tembakan keren dan efek psikologisnya kena ini buatku adalah porsi John ‘berhutang’ actually lebih exciting ketimbang porsi dia mencoba membayar kebaikan Ahmed – yang mana harusnya ini yang dijadikan sorotan utama.

Jadi film ini seperti terbagi atas dua cerita. Pertama saat pasukan John dibantai oleh pasukan Taliban, sehingga tinggal John dan Ahmed saja yang berusaha survive. Sampai akhirnya John tertembak, dan Ahmed menggotongnya, berjalan berhari-hari ke markas Amerika terdekat, tanpa ketahuan Taliban. Bagian kedua adalah tentang John – kini sehat wal afiat di rumahnya di Amerika – berusaha mencari keberadaan Ahmed yang jadi buronan Taliban sejak menyelamatkan dirinya. Bagian kedua ini tidak bisa se-wah bagian pertama, meski nanti John memang kembali ke afganistan, dan mereka jadi buron berdua. Bagian pertama, aksi dan interaksi saat elaborate. Intensnya terasa. Sedangkan pada bagian kedua yang lebih emosional, film tidak pernah yakin untuk fokus ke sana, sehingga bagian ini terasa setengah-setengah.

Bahasan film ini relevan dan penting. Menurutku cuma konsep penceritaannya saja yang mestinya bisa lebih dimainkan lagi karena, untuk kasus film ini, menceritakan dengan linear terasa kurang maksimal.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for GUY RITCHIE’S THE COVENANT

 

 

 

KNOCK AT THE CABIN Review

Kita selalu kepikiran M. Night Shyamalan setiap kali dengar kata ‘plot-twist’. Kita selalu expect film-filmnya bakal punya somekind of surprise di akhir. Jadi, inilah kejutan yang ditawarkan Shyamalan pada Knock at the Cabin; tidak ada twist! Film ini ‘serius’ berbincang tentang cinta dan pengorbanan, lewat keadaan yang diset untuk terus membuat kita menebak-nebak.

Empat orang tak dikenal menyatroni kabin di tengah hutan, tempat seorang anak kecil dan dua ayahnya berlibur. Empat orang yang dipimpin oleh Batista itu memang berusaha tampak ramah, tapi mereka punya maksud kedatangan yang mengerikan. Mereka menyandera keluarga tersebut. Mereka bilang dunia sedang kiamat, dan cara menyetopnya adalah salah seorang dari keluarga bahagia di kabin itu harus mengorbankan diri. Bayangkan harus memilih antara bahagia tapi orang lain sengsara, atau berkorban – kehilangan satu orang yang kita cintai – supaya semua orang bahagia. Film ini akan memenuhi pikiran kita dengan pertanyaan-pertanyaan. Kesanku nonton ini persis kayak waktu dibentak dan ditanya-tanya senior pas ospek kuliah dulu. Stakenya tinggi, kita merasa tahu ke mana arah semuanya, tapi tetap kita terdiam dalam keraguan. Such power yang dimiliki oleh penceritaan film ini.

Batista sekali lagi nunjukin dia bukan sekadar mantan pegulat yang cari nafkah lain. Karena highlight film ini salah satunya ada pada aktingnya. Di sini dia bakal bawain monolog-monolog, serta juga ada aksi-aksi, dengan permainan emosi yang harus ditahan. Secara akting dan isi, film ini keren. Namun menurutku cerita seperti ini kurang mampu bertahan lama sebagai film panjang yang contained, karena hal bisa terasa repetitif di akhir. Poin-poin yang ditekankan dapat menjadi cringe setelah semua yang disangka oleh penonton ternyata tidak terbukti. Apalagi karena memang film kurang menggali protagonis ataupun karakternya – since mereka semua sebenarnya  ‘cuma’ sebagai konsep, sebagai ‘contoh kasus’ saja.

The Palace of Wisdom gives 6  gold stars out of 10 for KNOCK AT THE CABIN

 

 

 

RENFIELD Review

Relasi antara bos dan karyawan memang bisa jadi begitu toxic. Bos akan terus menjanjikan naik pangkat atau semacamnya, tapi gak pernah delivered. Karyawan yang sudah jadi bergantung, mau nuntut juga susah. Malah digaslight. Mau keluar apalagi. Chris McKay menyimbolkan relasi toxic itu ke dalam hubungan antara Familiar dengan masternya, Drakula. Ini jadi kocak, karena memang di cerita vampir-vampiran, jokes biasanya selalu datang dari Familiar – manusia pengabdi selalu dijanjikan bakal dijadiin vampir, tapi mana ada bos yang mau karyawannya jadi bos juga hahaha

Duet dua Nicolas jadi kunci film ini. Nicolas Cage, sekali lagi nunjukin betapa dia begitu komit dalam peran apapun. Di sini, dia ngasih performance yang sungguh menghibur sebagai Drakula. Seram dan jahat, iya. Tapi dia juga paham assignment, bahwa si Drakula ini adalah bos dari karyawan yang berusaha nuntut hak. Satunya lagi, Nicholas Hoult juga tampak simpatik, sebagai Familiar dia terasa familiar. Akrab. Alias gampang relate. Kecerdasan naskah ini ngasih perlambangan, ngarang pengadeganan, membuat film menjadi kocak menghibur. Bahkan ketika adegan aksi yang penuh gore over-the-top datang. Tetap seru.

Sayangnya film ini kebanyakan main-main. Persoalan polisi dan kelompok mafia pada akhirnya terasa jadi pengganggu dalam cerita Drakula dan abdinya. Membuat sudut pandang jadi ke mana-mana, tanpa ada ujung yang benar-benar ngefek ke cerita utama. Karakter polisi si Awkwafina buatku malah jatohnya jadi annoying, film jadi kayak mencoba too hard untuk membuat si polisi dan si Renfield jadi pasangan yang kocak dan sweet.

The Palace of Wisdom gives 5.5 gold star out of 10 for RENFIELD

 

 

 

SISU Review

Salah satu aspek menarik dari John Wick original adalah ketika dia dianggap Baba Yaga. Ketika semua orang-orang dunia hitam itu gemetar membicarakan nama dan reputasinya. Sisu karya Jalmari Helander membawa aspek ini ke level berikutnya.

Sisu bisa dibilang istilah Finlandia untuk momok semacam Baba Yaga. Sisu berarti keberanian, determinasi, tak kenal menyerah, tak bisa mati. Karakter utama kita, seorang bapak-bapak, mantan tentara yang kini hidup sebagai penambang emas. Ketika satu-satunya sumber nafkah itu direbut oleh Nazi yang bertemunya di jalan pulang, bisa dipastikan balas dendam gila akan terus terjadi. Bahkan tentara Nazi gemetar ketika tahu siapa sebenarnya bapak, yang bahkan gak pernah bicara, yang terus mengejar mereka itu. Jalmari Helander memang juga sekalian membawa ‘balas dendam gila’ ke level berikutnya.

Luar biasa memuaskan, melihat aksi-aksi gore brutal yang disajikan film. Inilah yang sepertinya diincar; supaya penonton melihat Nazi kocar-kacir secara mengenaskan. Aksi-aksi tak-masuk akal menghiasi adegan-adegan Sisu yang temponya dijaga cepat. Dan memang menghibur. Tapi ketika hal-hal tak masuk akal diletakkan kepada cara-cara si bapak bisa terus hidup walau sudah digantung atau semacamnya, film tak lagi menyenangkan. Malah jadinya lebay yang merampas kita dari stake cerita. Konsep Sisu yang tak-bisa mati membuat film bebas ngadain banyak cara supaya si bapak bisa tetap hidup, akhirnya membuat keseluruhan film jadi mati konyol bagiku. Tone dramatis yang dibangun film jadi seperti terlupakan. Aku malah perlahan jadi lebih tertarik sama karakter pemimpin Nazi, yang motivasi dan tantangan dan stakenya benar-benar ada – tak dilindungi oleh plot nonsense yang bikin karakternya tak lagi manusiawi.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SISU

 

 




That’s all we have for now

Kita sudah mulai masuk caturwulan kedua 2023, tapi ternyata aku belum menemukan film yang pantas mendapat nilai di atas 8. Gimana dengan kalian? Apakah kalian punya rekomendasi film 2023 yang mungkin terlewat olehku, dan kalian merasa film itu pantas dapat skor 8? Silakan share di komen.

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 8 (THE WHALE, AFTERSUN, ALL QUIET ON THE WESTERN FRONT, NOKTAH MERAH PERKAWINAN, ELVIS, INFINITY POOL, WOMEN TALKING, BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER)

 

 

Normalnya, bulan Januari-Februari di bioskop itu agak adem ayem, karena biasanya film yang tayang di awal tahun itu ya tipe film yang ga rame enough untuk tayang di musim-musim liburan. Tapi di blog ini, bulan-bulan tersebut biasanya justru yang paling sibuk. Karena waktu tersebut merupakan last chance buat nontonin film-film yang kelewat di tahun sebelumnya, serta ngejar nontonin film-film yang masuk nominasi Oscar. Tahun yang sudah-sudah, blog ini entrynya paling banyak ya di bulan-bulan awal tersebut. Untuk itulah aku bersyukur bikin segmen Mini-Review.  Karena sekarang ku punya slot khusus untuk film-film itu, sehingga gak perlu kayak kebakaran jenggot lagi ngejar ngulasnya. Jadi, inilah Mini-Review pertama di 2023, yang di antaranya berisi tiga nominasi Best Picture Oscar yang baru saja ketonton!

 

 

 

AFTERSUN Review

Jika dirancang dengan baik, struktur penceritaan dapat mengangkat feeling yang terkandung di dalam narasi menjadi berkali-kali lipat lebih emosional. Aftersun, debut sutradara Charlotte Wells ini contohnya. Kisah seorang perempuan yang mengenang masa-masa liburan bersama sang ayah saat ia masih kecil, tidak diceritakan Charlotte dengan sedatar pakai flashback. Charlotte benar-benar paham dengan apa yang sedang ia sampaikan, dia punya visi yang kuat, sehingga tindak mengenang-masa tertentu itulah yang ia wujudkan lewat struktur dan gaya bercerita.

Nature dari kenangan yang episodik, dan much more dreamy dari reality itulah yang benar-benar divisualkan oleh film. Dijadikan hook emosional juga tatkala kenangan yang diambil itu dibentrokkan dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Di sinilah ketika film sekali lagi berhasil menjelma dengan luar biasa emosional. Sophie yang berumur 11 tahun lagi liburan di Turki bareng ayah, mereka ke pantai, main game, kenalan sama orang baru, berenang – semua yang manis-manis itu ditangkap oleh film lewat estetik, kamera, warna, bahkan suara yang kontras dengan sesuatu yang membayangi. Melalui interaksi mereka, keingintahuan kita tentang ini sebenarnya cerita tentang apa menemukan pegangan pada sesuatu yang lebih naas. Bahwa ini anak yang sedang menelisik ulang, sedang berusaha mengenali lebih dekat siapa sosok ayahnya, lewat kenangan yang bisa jadi satu-satunya yang ia punya tentang sang ayah.  Keputusan film untuk tidak ‘meneriakkan’ yang merundung Sophie saat dewasa, lantas menghantarkan kita pada apa yang menurutku membagi dua penonton film ini. Tidak puas karena tidak ada finality yang jelas. Atau tercenung merasakan aftertaste getir yang luar biasa kuat.

Namun di luar itu semua, aku yakin penonton bakal satu suara soal betapa hangat dan manis (tapi tragisnya) hubungan ayah dan anak itu tergambar. Chemistry antara Paul Mescal dan Frankie Corio tak pelak jadi pesona utama yang bikin kita semua peduli dan menyimak sampai habis.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for AFTERSUN

.

 

 

ALL QUIET ON THE WESTERN FRONT Review

Semua film perang basically adalah propaganda anti-perang. Mereka menyampaikan itu dalam berbagai cara, ada yang menelisik propaganda untuk terjun perang itu sendiri, ada yang langsung mengajak penonton mengalami langsung suasana perang, ada yang mengeksplorasi dampak setelah perang, dan lain-lain. Intinya film-film itu akan menunjukkan betapa perang adalah sebuah horor kemanusiaan. Edward Berger dalam film perang adaptasi-novel ini, semacam menggunakan semua cara tersebut. All Quiet on the Western Front sungguh bakal jor-joran  membuat kita melihat horornya perang, dan membiarkan kita terhenyak dalam keheningan di ending, saat semua dar-der-dor dan dag-dig-dug dan asap tembakan itu hilang dari layar.

Momen yang buatku paling nohok adalah saat film actually memperlihatkan gimana para anak muda yang bersemangat jadi tentara itu sebenarnya gak tahu apa-apa, gak nyadar bahwa medan perang ternyata begitu mengerikan. Kontras antara yang mereka rasakan sebelum berangkat, dengan saat sudah berlarian diberondong peluru itulah yang buatku terasa baru di film ini. Sebagian besar dari karakter film ini ketakutan setengah mati! Kemudian emosi itu semakin menjadi-jadi tatkala kita melihat mereka sebenarnya tahu bahwa pihak lawan juga sama takut, sama tak berdaya, dan mungkin sama menyesalnya, tapi mereka tetap harus saling bunuh. Itulah yang buatku paling spesial dari film ini.

Sehingga bagian-bagian yang over-the-top kayak potongan tubuh di atas pohon, mayat-mayat dan sebagainya, teriakan dan desain musik yang agak trying too hard biar seram, terasa tidak lagi benar-benar diperlukan. Film ini sudah berhasil di momen-momen kecil yang menguarkan perasaan para pemuda di medan perang. Gimana mereka menikmati makan angsa colongan, untuk kemudian dikontraskan dengan kejadian di medan perang. Untuk film yang punya kata Quiet pada judul, narasinya sendiri agak terlalu banyak nge-generate noise yang menurutku bisa lebih diefektifkan lagi. But still, film ini tepat menembak sasarannya. Perang itu mengerikan!

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ALL QUIET ON WESTERN FRONT

 

 

 

BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER Review

Kepergian Chadwick Boseman certainly ninggalin lubang menganga di hati para penggemar dan kolega-koleganya, dan ini juga tercermin pada franchise superhero yang ia tinggalkan. Lubang menganga dari kepergian karakter T’Challa sebagai protagonis di Black Panther terasa begitu susah untuk ditutup, membuat sekuel yang digarap oleh Ryan Coogler secara naratif terasa berantakan. Rewrite yang mereka lakukan buat karakter-karakter yang ditinggalkan terasa banget membekas, jadi rajutan kasar pada overall sajian filmnya.

Wakanda Forever bekerja terbaik ketika mendalami soal kematian T’Challa. Gimana dampaknya bagi Ramonda yang jadi naik tahta lagi. Bagi Shuri yang merasakan grief sekaligus menyalahkan diri sendiri atas kematian sang abang. Dan pada rakyat Wakanda lainnya. Aku pikir harusnya film menahan diri dan berkutat dulu pada masalah ini. Bikin Wakanda Forever sebagai complete tribute, bagi sang karakter, sekaligus aktornya. Tapi mungkin karena agak segan cashin’ in cerita dari real tragedi, atau mungkin karena film ini bagaimana pun juga adalah roda-gigi dari proyek yang gak bisa segampang itu diubah rancangannya, maka Wakanda juga langsung mentackle sekuel sebagai aksi superhero. Hasilnya mungkin kedua kepentingan itu masih bisa terikat, tapi menghasilkan bentukan yang weird dan terutama agak maksa bagi karakter pengganti superhero utama, si Shuri.

Durasi lebih dari dua jam setengah nyatanya gak cukup untuk bikin naskah superpadet ini rapi. Kita masih akan sering berpindah dari Shuri, ke karakter lain, membuat development Shuri jadi tidak terasa benar-benar earned. Ada aspek dari dirinya yang jadi kayak dilupakan, makanya relasi Shuri dengan Namor tidak pernah benar-benar terasa genuine. Namor pun terasa kayak penjahat random yang aksinya gak benar-benar fit in ke dalam narasi keseluruhan, rencananya terlihat aneh. There’s so much going on. Makanya aku lebih suka Quantumania yang lebih contained dan terarah.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for BLACK PANTHER: WAKANDA FOREVER

 

 

 

ELVIS Review

Yang unik dari biografi karya Baz Luhrman ini – selain karakter titularnya yang punya aksi nyentrik di panggung – adalah perspektif cerita. Kita tidak melihat cerita ini dari si Elvis himself, melainkan dari seorang Colonel Tom Parker. Manager sang Raja Rock ‘n Roll. Dan meskipun itu jadi modal film ini untuk bisa langsung netapin motivasi karakter itu sebagai penggerak cerita, dalam perkembangannya perspektif itu tidak pernah benar-benar jadi utama melainkan hanya terasa jadi excuse supaya cerita bisa ‘melayang’ dari satu titik di kehidupan dan karir Elvis ke titik lainnya, tanpa benar-benar mendalami kehidupan itu sendiri.

Padahal Austin Butler sudah benar-benar ‘serius’ menjelma jadi Elvis. Gaya bicara, mannerism, bahkan dandanannya terlihat lebih natural dan inviting ketimbang riasan over yang malah seringkali nutupin kecemerlangan akting Tom Hanks. Tapi film lebih memilih untuk merayakan teknis yang artifisial. Permainan montase dan editing terasa terlalu banyak, dan at times lebih glamor daripada gimana subjek (atau di sini jadi objek?) diperlihatkan oleh ceritanya sendiri. Permasalahan di karir seperti di-cancel TV karena aksi panggung yang seloroh, pandangan rasis waktu periode itu, dan lain sebagainya, tidak terasa benar-benar punya penyelesaian yang saklek. Hubungan naik-turun antara Elvis dan Colonel pun – karena ini supposedly cerita dari Colonel – tidak begitu memuaskan meskipun kita sudah berhasil tersedot untuk peduli.

Tapi di balik confused-nya diriku terhadap penceritaan dan fokus film ini, toh tak bisa dipungkiri juga film ini jadi punya energi luar biasa nyetrum. Dan mungkin inilah tujuannya. Membuat suatu presentasi yang seperti punya ruh Elvis itu sendiri. Sehingga ketika penonton menyaksikannya, film ini lebih dari sekadar menuturkan ulang kisah hidup si Bintang. Melainkan live-and-breath his personality.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for ELVIS

 




INFINITY POOL Review

Nama Cronenberg memang tidak akan mengkhianati ekspektasi kita, karena Infinity Pool karya Brandon Cronenberg mungkin memang enggak se-jijik film bokapnya, tapi tetaplah sebuah pengalaman horor yang bikin badan jumpalitan saking aneh dan nekat konsepnya.

Film ini dimulai dengan premis yang sangat menarik. Penulis dan istrinya liburan di resort, mereka kemudian berteman dengan sesama turis, mereka have fun together, lalu uh-oh mobil mereka gak sengaja menabrak orang lokal hingga tewas. Si penulis, yang nyetir, dihukum mati oleh polisi setempat. Nah, hukuman matinya itulah tempat kegilaan konsep Brandon berada.  Ada sesuatu soal kelas sosial yang ingin dibicarakan di sini. Daerah turis yang melihat wisatawan sebagai kantong duit, dan turis yang merasa punya duit berarti bebas melakukan apapun; interaksi itulah yang membentuk konsep aneh cerita film ini.

Jadi aku menunggu. Nunggin buah apa yang bakal kita petik dari Penulis dan teman-teman kayanya sengaja berbuat onar karena mereka punya duit untuk membayar program clone.  Jadi yang dihukum mati adalah clone mereka, sementara mereka sendiri bebas ngelakuin apa saja termasuk kriminal. Tapi ternyata loop yang dimaksud pada judul, memang hanya repetisi. Dengan cepat keseruan tindak mereka jadi datar ketika tidak ada ujung, tidak ada konsekuensi nyata. Film kayak pengen bahas drama dari eksistensi, like, siapa tau si Penulis yang asli justru sudah mati – ketuker ama kloningan. Tapi enggak. Pengen bahas konflik antara Penulis dengan istrinya, juga enggak pernah benar-benar ke arah sana. Pada akhirnya yang kunikmati bahkan bukan gore-nya, namun kegilaan Mia Goth sebagai Gabi yang ternyata jauh lebih sinister dari kelihatannya. Calon adegan favorit tuh, Mia Goth teriak-teriak di babak ketiga hihihi

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for INFINITY POOL

 

 

 

NOKTAH MERAH PERKAWINAN Review

Film yang paling banyak direkues nih, untuk diulas. Tapi aku baru bisa menontonnya saat tayang di Netflix. Dan I’m sorry to say, karya Sabrina Rochelle Kalangie ini might be jadi runner up kalo akhir tahun kemaren aku jadi publish daftar Top-8 Film Paling Overrated 2022

Kita udah bahas gimana Aftersun dan Elvis melakukan sesuatu dengan cara berceritanya sehingga film itu jadi terangkat jadi something else. Aftersun menjadi lebih emosional dan genuine, sedangkan Elvis jadi punya perspektif unik sebagai landasan narasi. Noktah Merah juga berusaha membuat nature datar dari cerita rumah tangga yang sus ada perselingkuhan punya spark, dengan sedikit ‘mengacak’ perspektif. Tapi strukturnya itu tidak berbuah apa-apa selain perspektif yang aneh (kalo gak mau dibilang kacau). Film ini narasinya dibuka oleh karakter ‘pelakor’. Seolah dia karakter utama. Dia curhat kepada karakter lain soal dia cinta sama pria yang beristri, tapi yang kita lihat sebagai ‘cerita’ dari dia itu tidak pernah mewakili perspektifnya. Kita melihat drama biasa, yang actually di luar perspektif sang karakter. Cerita ini lebih cocok kalo membuat sang istri jadi karakter utama, jika perspektif istri yang jadi utama. Karena semua masalah itu sepertinya ada di kepala karakter ini. Walaupun nanti si pelakor dan istri bertemu, tapi perspektif para karakter ini gak pernah melingkar, karena cerita resolve (tau-tau) dari persoalan anak. Naskah film ini jadi benar-benar choppy setelah usaha untuk membuat penceritaannya bergaya.

Momen emosional film pun hanya bersandar pada dialog-dialog banal istri dan suami yang saling meledak. Sementara untuk momen-momen yang ‘diam’, yang diserahkan kepada kita untuk merasakan masalah atau emosi, film ini gak benar-benar punya. Karena dengan perspektif yang gak kuat, momen-momen tuduhan istri atau momen yang bisa jadi-masalah, ya hanya terlihat seperti kekeraskepalaan sang istri, atau suami yang ‘melarikan diri’. Momen-momen yang mestinya genuine feeling itu jadi hanya annoying.

The Palace of Wisdom gives 4 gold stars out of 10 for NOKTAH MERAH PERKAWINAN

 

 

 

THE WHALE Review

The Whale is beautiful. Sedih, sih, memang. Tapi beautiful, Aku jeles. See, aku orangnya masa bodo dan sering dikatain hidup di dunia sendiri, jadi iri adalah satu rasa yang paling gak relate buatku, tapi ya, aku berhasil dibuat Darren Aronofsky merasa iri kepada Charlie, pria yang really let himself go sampai membahayakan dirinya sendiri.

Aku iri karena Charlie masih bisa begitu optimis kepada orang lain, meskipun dirinya telah menyerah kepada dirinya sendiri. Loh? Iya, di situlah kompleksnya cerita film ini. Aku ingin seperti Charlie yang percaya bahwa masih ada cinta dan kepedulian pada semua orang, bahwa people incapable of not caring. Mereka cuma harus jujur kepada diri sendiri. Dan kepercayaan Charlie tersebut benar. Man, aku hampir nangis di ending. The Whale bukanlah cerita tentang orang yang gendut kemudian meratapi nasibnya. Justru sebaliknya, film ini adalah tentang orang yang sudah tahu dirinya tak tertolong, tapi dia percaya cinta itu ada, dan mencoba menolong orang-orang terdekatnya untuk menemukan hati mereka. Makanya karakter Charlie ini begitu kontras. Di kala sendiri kita melihat his destructive behavior terhadap diri sendiri, makan segitu banyak sampai jantungnya berontak. Gak mau ke dokter karena dia nyimpan duit untuk putrinya. Yang grew up membenci dirinya. Ada begitu banyak adegan yang hard to watch, hingga ke perilaku putri Charlie (Sadie Sink sukses jadi anak paling nyakitin sedunia akhirat) Tapi film bersikukuh untuk kita melihat Charlie tanpa belas kasihan, melihat Charlie menyerap itu semua sebagai hukuman diri, dan menumpahkan cintanya di balik itu semua. Tanpa harap kembali. Itulah bentuk dia dealing with grief dan rasa bersalahnya.

Drama di satu tempat tertutup, with nothing but dialog dan raw emotions. Ini adalah cerita seorang pria yang nothing to lose, melainkan punya banyak untuk dibagi kepada dunia yang bahkan terlalu jijik untuk memandangnya. Brendan Fraser juara banget di sini, kalo bukan karena persona dan pemahamannya terhadap Charlie, karakter dan film ini gak bakalan worked seindah – dan semenyedihkan – ini.

The Palace of Wisdom gives 7.5 gold star out of 10 for THE WHALE

 

 

 

WOMEN TALKING Review

Sebagai nominasi Best Picture Oscar, Women Talking karya Sarah Polley memang benar bicara tentang hal yang relevan, dengan cara yang menggugah pikiran dan hati kita sekaligus. Mengenai perjuangan perempuan, yang masih saja terus seperti berada di posisi jahiliyah di mata kuasa lelaki. Untuk itu saja, film ini mampu bikin kita tetap melek, pasang telinga, menyimak apa yang mereka permasalahkan. Untuk ikut mencari apa yang sebaiknya dilakukan. Untuk ikut peduli sama masalah ini, lebih dari soal feminis tapi jadi soal kemanusiaan pada dasarnya.

Perempuan-perempuan dalam film ini berembuk setelah sekali lagi, salah satu dari mereka terbangun dalam keadaan sudah tak-perawan. Dibius pake obat bius sapi. Diperkosa oleh laki-laki, sekampung sendiri. Para perempuan itu mendiskusikan apakah mereka akan tetap tinggal di koloni, dan berontak melawan. Atau pergi dari sana. Sebagian besar durasi film yang warna dan settingnya juga dibikin kayak kisah jadul ini membahas tentang debat para perempuan, mikirin pro dan con dari dua pilihan tersebut. Dan demi Tuhan – oh aku bakal dirujak ngatain ini – film ini jadi boring karenanya. Debat mereka repetitif, dan terasa seperti percakapan yang mengawang-awang ketimbang solving problem.

If anything, aku teringat dan jadi membandingkan ini sama 12 Angry Men (1957). Yang kayaknya kukasih 8 atau bahkan 9 kalo mau direview. Percakapan pada film itu terasa benar-benar lock dan punya weight dan pada gilirannya emosional untuk disimak, karena ironisnya punya dasar logika yang kuat. Orang bilang cowok naturally lebih pakai logika ketimbang perasaan, but no, justru masalah di cerita itu muncul ketika para juri pria itu mendakwa tersangka dengan perasaan. Prasangka. Dengan judgmental. Mereka, para cowok, juga harus belajar melihat dengan logika. Dan di situlah letak mengawang-awangnya Women Talking. Argumen-argumen mereka terasa seperti perbincangan logis yang diputar-putar oleh perasaan. Sehingga masalah itu enggak selesai-selesai. Mungkin memang itu tujuannya. Memperlihatkan bahwa bagi wanita, semuanya susah, apa-apa pasti dijudge, bahkan di antara mereka sendiri. Di sini protagonisnya karakter optimis juga kayak Charlie di The Whale, dia dihamili tapi masih percaya pada potensi dia akan memaafkan sang pelaku, siapapun itu. Sehingga keputusan yang mereka ambil dari sikap-sikap kayak gini jadi terasa emosional dan penting.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for WOMEN TALKING

 

 




That’s all we have for now

Dengan ini semua film nominasi Best Picture Oscar sudah kureview, silakan follow akun twitterku di @aryaapepe karena biasanya menjelang Oscar aku suka bikin prediksi di sana hehehe

Thanks for reading.

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 7 (TAR, THE BANSHEES OF INISHERIN, DECISION TO LEAVE, THE FABELMANS, THE BIG 4, SHE SAID, RRR, HOLY SPIDER)

 

 

Wow, mini-review kali ini gede banget! Lihat saja film-filmnya. Salah-salah, artikel ini bisa disangka daftar film terbaik 2022. Secara banyak kontender Oscar! Sabaarr, daftar terbaikku masih belum keluar. Justru baru akan dikeluarkan setelah mini review ketujuh ini. Mini-review yang berisi batch terakhir dari film-film tahun 2022 yang kutonton dan kuulas. Tahun ini memang dahsyat, maka paling tepat kalo berakhir dengan membahas film-film yang dahsyat juga. Inilah, Mini-Review Edisi Desember, edisi penutup tahun 2022!

 

 

 

DECISION TO LEAVE Review

You named it; si kaya dengan si miskin, anak geng satu dengan geng lawannya, vampir dengan mangsanya, cerita forbidden love selalu seksi. Park Chan-wook mendorong ini lebih jauh lagi dengan menghadirkan romansa antara detektif dengan perempuan yang harusnya ia tangkap. Relationship dua karakter sentral inilah yang bikin kita semakin mantap memutuskan untuk enggak leave saat menonton Decision to Leave. Kebayang dong, gimana susah dan impossiblenya situasi mereka untuk bersama. Apa yang si detektif pertaruhkan untuk bersama dengan perempuan tersebut. Dan film ini gak mau kasih kendor. Semua layer ia isi dengan bobot. Pembahasan soal guilt, obsesi, dinamika rumah tangga dimasukkan oleh Park Chan-wook seolah penyair yang sedang menyempurnakan sajak puisinya dengan rima. Seperti itulah persisnya Decision to Leave. Thriller romance yang puitis.

Aku sempat mikir, film ini kayak berangkat dari anekdot ‘gadis di pemakaman’ yang mungkin kalian sudah pernah juga mendengar. Itu loh, anekdot yang nyeritain seorang wanita yang ngeliat cowok ganteng di pemakaman ibunya, lalu beberapa hari kemudian si wanita membunuh adiknya, dengan harapan bisa ketemu lagi dengan si cowok ganteng. Anekdot itu dikenal sebagai tes psikopat. Dan persis kayak itulah karakter si perempuan love interest detektif di film ini lama-kelamaan. Aku merasa pembunuhan kedua sengaja ia lakukan karena tau si detektif tinggal di daerah yang sama. Saking cintanya orang bisa melakukan hal yang psiko, bahkan si detektif juga menyerempet ‘gak-waras’ saat dia melindungi perempuan yang ia cinta tersebut.

Decision to Leave bisa sangat berat untuk ditonton karena pilihan-pilihan karakternya. Juga karena film memilih bercerita dengan cara yang, not exactly bolak-balik, tapi juga gak lurus. Honestly, aku sempat bingung juga nontonnya. Dibingungkan oleh, I’m sorry to say this, pemainnya kayak mirip-mirip semua. Aku harus nonton ini dua kali. Dan begitu udah tahu gambaran besarnya, aku mulai bisa ‘mengenali’ siapa yang siapa. Dan juga mulai lebih bisa mengapresiasi kejeniusan cara film ini dalam menceritakan bagian penyelidikan ataupun flashback; dengan meleburkan present dan past sehingga seolah karakter cerita itu langsung berada di sana.

 

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for DECISION TO LEAVE

.

 

 

HOLY SPIDER Review

Dari cerita kriminal satu ke kriminal lainnya. Hanya saja there will be no love dalam film yang diangkat sutradara Ali Abbasi dari kasus kriminal nyata di kota Iran ini. Malahan, kesan setelah nonton Holy Spider beneran terasa seperti abis melihat laba-laba. Shock, ngeri. Merinding. Jijik.

Menit-menit awal dibuild up sebagai proses perjuangan jurnalis perempuan menulis dan mengungkap kasus pembunuhan berantai PSK di jalanan kota Mashhad. Perjuangan, as in, di daerah muslim seperti itu gerak perempuan seperti Rahimi jelas terbatas. Pertama, perempuan berambut pendek itu harus menutup aurat. Kedua, di sistem yang mengharuskan laki-laki sebagai pemimpin, tentu saja manusia-manusia lelakinya bisa kebablasan power dan Rahimi harus berurusan mulai dari polisi yang balik melecehkan dirinya hingga ke kerjaannya yang dipandang sebelah mata bahkan oleh keluarga korban. Cerita fiksi mungkin akan berakhir happy.  Orang yang jahat akan kalah, dan heroine kita dapat reward. Namun Holy Spider bukan fiksi. Sutradara kita mengambil materi asli bukan untuk lantas mengubahnya menjadi dongeng pengantar tidur. Holy Spider benar-benar akan menelisik keadaan di sana, mengangkat pertanyaan kenapa ini bisa terjadi, dan kemudian membenturkan Rahimi dengan si pelaku kejahatan.

Bagian yang membahas dari sisi pelaku, inilah paruh cerita yang bener-bener bikin kita shock. Gimana si pelaku malah dianggap pahlawan. Gimana keluarga pelaku malah bangga terhadap ayahnya. Film tidak melakukan ini dengan sengaja supaya dramatis, melainkan justru mengajak kita menelisik apa yang salah dengan society dan cara pandang mereka terhadap ajaran agama. Satu momen yang bikin aku percaya film ini dibuat dengan niat yang benar adalah ketika memperlihatkan pelaku kelimpungan ketika istrinya pulang padahal di ruang keluarga, dia baru saja membungkus mayat korban dengan karpet.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for HOLY SPIDER

 

 

 

RRR Review

Aku paling jarang nonton film India, but when I do, film yang kutonton karena katanya bagus itu, biasanya memang bagus. Termasuk RRR karya S.S. Rajamouli ini.

Pikirku aku telah melihat semuanya. Oh cerita dua cowok – yang begitu sama namun  juga begitu berbeda; membuat keduanya jadi kayak ‘good friends better enemies’ – yang dibuild up menuju pertarungan keduanya, kupikir akan berakhir ya di berantem. Namun momen berantem itu sudah muncul jauh sebelum durasi habis. Apalagi yang dibahas? Naskah film ini benar-benar menuntaskan cerita hingga ke sudut-sudut latarnya. Inilah yang bikin film India kayak RRR ini begitu megah, begitu besar. Durasi sepanjang itu bukan hanya digunakan untuk adegan-adegan aksi yang panjang. Bukan hanya untuk adegan-adegan nari yang konyol (toh film ini berhasil memasukkan adegan nari-nyanyi menjadi suatu kepentingan kultural) Tapi bahasan ceritanya juga. Film ini kayak, Goku-Bezita yang dikembangkan oleh berjilid-jilid komik Dragon Ball, dibahas tuntas dan bahkan lebih deep oleh film ini dalam sekali duduk pada Bheem dan Ram.

Dan soal actionnya, man. Film ini gak ragu untuk jadi over the top, tapi gak pernah terasa receh. Action-actionnya gak masuk akal, tapi karena landasan karakternya begitu kuat, kita jadi no problem ngesuspend our disbelief. Kita menikmati itu semua sebagai rintangan, sebagai kait drama yang harus dikalahkan oleh para karakter. Film ini buktiin kalo jadi over-the-top, gak musti harus berarti kehilangan otak dan hati.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for RRR

 

 

 

SHE SAID Review

Enggak beberapa lama setelah nonton Like & Share (2022) yang menurutku terlalu gamblang bicara soal numbuhin empati pake ‘lihat, dengar, dan rasakan’, aku menonton film temannya si ucup ini(“Si Sa-id” hihihi). Dan garapan Maria Schrader ini mengonfirmasi pernyataanku soal empati enggak harus pakai ‘lihat’. Cukup ‘dengar dan rasakan’

Diangkat dari kisah nyata perihal terungkapnya kasus pelecehan seksual dan abuse yang dilakukan oleh produser Harvey Weinstein kepada aktris-aktris selama beberapa tahun, She Said gambarin perjuangan tim jurnalis untuk meliput kasus tersebut. Kesusahan dan rintangan yang mereka temui, sebagian besar datang dari korban yang tidak berani mengakui. Yang sudah terikat hukum yang memihak kepada kubu yang lebih berpower. Yang aku suka dari film ini, yang bikin kita in-line dengan protagonis, adalah gak sekalipun film ini bercerita dengan eksploitatif terhadap korban. Tidak seperti Like & Share yang merasa perlu untuk memperlihatkan adegan diperkosa sampai dua kali supaya kita berempati sama karakter korban, She Said tidak sekalipun menampilkan adegan ‘reenactment’ atau apalah namanya. Spotlight tetap pada cerita korban, dan bagaimana yang mendengar harus percaya, karena itulah bukti yang mereka punya, mendengar itulah satu-satunya cara suara korban ini sampai ke telinga publik. Tanpa judgment lain.

Beberapa kali, aku duduk menatap layar, menggigit kuku dengan bimbang. She Said banyak menggunakan adegan reka-ulang. Setiap kali ada korban yang diwawancara, kita juga melihat adegan rekayasa kejadian si korban saat semua itu terjadi. Film ini akan jatuh eksploitatif jika memperlihatkan the exact moments pelecehan. Tapi tidak pernah, tidak satupun, momen tersebut digambarkan – dipertontonkan kepada kita. Alhasil, film ini jadi lebih powerful. Messagenya pun tersampaikan dengan anggun.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SHE SAID

 




TAR Review

Tod Field berhasil mengecoh banyak orang. Aku juga kecele. Kirain Lydia Tar adalah orang beneran, dan film ini adalah biopik. Ternyata enggak. Tar is completely fiction. Mengapa banyak orang bisa kemakan promo dan menganggap Tar kisah nyata? Jawabannya simpel. Karena Tar meskipun karakternya ‘ajaib’ tapi ceritanya grounded dan permasalahannya juga relevan. Orang bisa jatuh dari posisinya hanya karena berita, sudut pandang sepihak.

Yang menakjubkannya adalah Tar bicara semua itu lewat dunia yang gak familiar, setidaknya buatku. Aku mana paham soal kerjaan konduktor musik, mana ngeh soal seni musik klasik, mana open sama soal-menyoal sponsorhip dan politik untuk sebuah pagelaran konser musik klasik – I don’t even know if I’m using the right words!! Namun directing dan actingnya begitu precise, kita tidak bisa untuk tidak tersedot ke dalam dunia ceritanya. Sekuen ketika Lydia ngajarin anak muridnya yang gak mau mainin musik dari Bach karena si komposer terkenal misoginis, bener-bener akan buka mata kita tentang soal menjadi ‘woke’. Kalo kita masih bertanya-tanya gimana caranya misahin seseorang dengan karyanya, maka dialog Lydia pada adegan tersebut bisa dijadikan tutorial.

Ya, of course, nyawa Tar ada pada karakter utamanya. Ada pada pemerannya, Cate Blanchett. Mannerism-nya, sedikit keangkuhan tapi kita tak bisa menegasi kebrilianan karakter ini, menguar kuat dari penampilan akting Blanchett. Dia juga menunjukkan range luar biasa, saat cerita sampai pada titik terendah Lydia. Enggak semua momen film ini diniatkan serius dan berat, justru kebalikannya. Film ini tampak berusaha memanusiakan karakternya, sehingga kita dapat satu adegan musikal performance yang kocak berjudul Apartment for Sale. Weird Yankovic aja ampe kalah ‘sinting’ dari Lydia!!

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for TAR

 

 

 

THE BANSHEES OF INISHERIN Review

Sepintas, dua pria dewasa berantem diem-dieman sampai bakar-bakar rumah terdengar seperti sesuatu yang lucu. Sutradara Martin McDonagh juga memang meniatkan hal tersebut sebagai premis yang lucu sebagai pemantik drama. Tapi aku tahu aku tidak bisa membawa diriku untuk tertawa. Sebab buatku The Banshees of Inisherin hits too close to home. Alias nyaris amat relate sekali.

Film yang dishot secara cantik ini sungguhlah bicara tentang hal yang tragis. Naskah dan arahannya bener-bener tau cara menggarap tragedi menjadi komedi dengan efektif. Komedi di sini bukan untuk mengurangi impact tragedinya, melainkan jadi bangunan perspektif yang kokoh. Like, orang memang bisa sekonyol dan sekeras kepala Padraic ketika mereka tiba-tiba diantepin seperti demikian. Kita seringkali tidak sadar bagaimana orang memandang diri kita. Other people would find us annoying, too much, or… dull, dan kita seperti Padraic tidak bisa melihat itu sendiri. Kita butuh orang lain yang ngasih tau. Dan setelah itu, kita butuh something yang membantu kita mencerna dan mempercayai hal tersebut. Film ini bekerja dengan tone dan perspektif yang kuat dalam menggambarkan keadaan tersebut. Yang membuatnya lantas menjadi bahasan eksistensi, dan mutual respek. yang efektif. Seberapa tangguh kita menghadapi penolakan. Makanya salah satu adegan paling keren di film ini adalah saat ada anak muda yang nembak cewek yang lebih tua. Scene tersebut, udahlah maknanya nyess, tapi juga dimainkan dengan luar biasa oleh Barry Keoghan. I feel for everyone in this movie.

Lihat bagaimana Padraic masih saja melanggar padahal Colm sudah mengancam bakal memotong jarinya sendiri jika Padraic masih nekat bicara kepadanya. Aku terhenyak menonton ini. Aku dulu pernah ngejar ‘pertanggungjawaban’ orang yang ngedieminku, seperti Padraic ngejar Colm. Namun baru melalui film inilah aku ngerti apa yang sebenarnya ‘terjadi’ saat itu.  Film ini benar-benar hits hard.

Sekarang aku pengen bakar rumah.

The Palace of Wisdom gives 8.5 gold stars out of 10 for THE BANSHEES OF INISHERIN

 

 

 

THE BIG 4 Review

Mungkin, mungkin kalo aku masih SMP atau lebih muda lagi, aku bakal suka sama action komedi pertama Timo Tjahjanto ini. Karena The Big 4 adalah film simpel with nothing but aksi kocak, karakter ngelawak, dan kata-kata serapah. Yang paling bisa diapresasi dari film ini adalah melepaskan pemain dan karakter mereka dari belenggu jaim, sehingga kita semua dapat momen-momen gila mulai dari penjahat jago salsa, ariel mermaid joget, hingga ke grown man jatuh cinta sama senjata api. Tambahkan itu dengan adegan-adegan aksi yang benar-benar digarap playful. Jadilah entertainment. Gak perlu nontonnya pake otak.

Satu-satunya cara film ini jadi sesuatu adalah dengan literally ngasih sesuatu yang unik, khas dirinya sendiri. Kenapa? karena to be honest, tahun ini saja kita sudah dapat film semacam RRR dan Bullet Train yang membuktikan action absurd, konyol masih bisa dilakukan dengan naskah yang mumpuni. Bahwa ‘entertainment’ bisa dilakukan tanpa harus ninggalin otak di dalam lemari. Tanpa menciptakan kotaknya sendiri, The Big 4 hanya akan jadi batas bawah dari kelompok action absurd tersebut. Apalagi mengingat film ini memang tidak punya apa-apa lagi. Plotnya standar cerita geng ‘seperguruan’ kayak cerita-cerita film HongKong. Development karakternya gak ada karena ini adalah film yang naskahnya dikembangkan lebih dengan ‘ternyata’ ketimbang journey. Dan akting yang generik komedi-action (akting Abimana cukup mengejutkan, tho)

Film ini toh punya modal untuk jadi franchise aksi komedi yang benar-benar gokil. Semoga kalo dilanjutkan, filmnya digarap dengan jauh lebih baik lagi

The Palace of Wisdom gives 4 gold star out of 10 for THE BIG 4

 

 

 

THE FABELMANS Review

Tahun 2022 kita dapat dua film dari Steven Spielberg. Nikmat mana lagi yang mau kita dustakan.

Serius.

The Fabelmans terutama dan utama sekali, membuat kita semakin terinspirasi untuk bisa membuat film yang bagus. Secara ini adalah cerita yang diangkat dari keluarga dan masa kecil Spielberg himself. Film ini lebih impactful buatku ketimbang Licorice Pizza dan Belfast, dua film yang juga dari kisah hidup sutradaranya masing-masing, dan dua film itu jelas bukan film ecek-ecek. The Fabelmans terasa melampaui keduanya karena storytelling yang amat personal dari Spielberg dapat kita rasakan menguar dari adegan demi adegan. Mari bicara tentang adegan-adegan Sammy membuat film kecil-kecilan. Kita melihat dia sedari kecil suka dan bereksperimen dengan kamera. Film dengan keren membuild up kecintaan Sammy terhadap sinema dengan memperlihatkan reaksinya yang selalu terbayang adegan kecelakaan kereta api yang ia tonton di bioskop (awalnya dia takut masuk bioskop). Ini kan obsesi sebenarnya, tapi Spielberg yang paham selangkah tentang bercerita lewat perspektif anak kecil, menghandle itu semua dengan begitu… pure! Ketika gedean dikit, Sammy membuat film koboi untuk diputar di depan teman-teman sekelas. Momen dia menemukan cara untuk ngasih efek ledakan ke pita filmnya, maaannn, momen-momen kayak gini yang kumaksud ketika kubilang film ini menginspirasi. Dan lantas kita diperlihatkan dengan dramatis gimana film yang dibuat Sammy selalu sukses mempengaruhi, selalu menimbulkan kesan mendalam, kepada siapapun penontonnya. Aku pengen bisa kayak gitu!

Bagian itulah yang digunakan Spielberg untuk memasukkan konflik. Sammy menyelesaikan urusannya dengan tukang bully di sekolah. Sammy yang pertama kali menyadari ibunya enggak cinta dengan ayahnya. Lewat kerjaan dia membuat film, mengedit adegan.  Ya, at heart film ini cukup tragis dengan konflik keluarga. Tapi semua itu diceritakan film ini lewat tutur yang beautiful. Lewat akting yang cakep pula. Mulai dari Paul Dano, Seth Rogen, Michelle Williams, cameo David Lynch, serta Gabrielle LaBelle dan aktor muda lainnya (mataku khususnya tertuju kepada Julia Butters – terakhir kali lihat dia adu akting dengan DiCaprio di Once Upon a Time in Hollywood) Spielberg memang masterful dalam ngedirect. Semua visinya seperti mengalir deras ke karakter-karakter. The Fabelmans benar-benar film tentang magic of a movie!

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE FABELMANS

 

 




That’s all we have for now

Dengan ini rampung sudah reviewku untuk tahun 2022. Film-film yang sudah tertonton tapi belum direview akan kumasukkan ke penilaian 2023, jika ada. Yang jelas; Nantikan bulan depan ada Daftar Top-8 Movies tahun ini, serta My Dirt Sheet Awards yang akhirnya kuadain kembali.

Thanks for reading.

Selamat tahun baru semua. Enjoy cinema!

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



MINI REVIEW VOLUME 6 (SMILE, BARBARIAN, PEARL, BULLET TRAIN, PIGGY, HELLRAISER, PINOCCHIO, THE WOMAN KING)

 

 

Atau bisa juga dibilang ini adalah Mini-Review edisi Halloween! Gimana enggak, bulan kemaren hampir semua film yang keluar dalah film horor, aku sampai kelimpungan nonton, nulis dan edit video reviewnya hihihi. But yea, halloween tahun ini jadi sangat berkesan. Karena memang filmnya sebagian besar bagus-bagus. Kalo saja aku punya waktu lebih dari 24 jam sehari, pastilah film-film di sini kubikinin full-reviewnya. Sayangnya gak ada Peri Biru yang datang mengabulkan permintaanku, sehingga jadilah Mini-Review Volume Keenam ini untuk dibaca oleh kalian yang setia nanyain “mana nih review-reviewnyaa?”!

 

 

 

BARBARIAN Review

Barbarian garapan Zach Cregger adalah dua kejadian struktur yang tak-biasa. Pertama, struktur rumah airbnb yang ada dalam kisah horor ini. Basement bangunan tersebut bukan saja menyimpan ruang rahasia, melainkan lorong panjang tersembunyi seperti labirin, tempat sesosok deformed creature tinggal. Kedua, struktur narasinya. Barbarian yang awalnya mengisahkan Tess, cewek yang menginap di airbnb, tapi rumah itu sudah ditempati oleh penyewa lain (mereka berdua bakal aware ada penghuni satu lagi di bawah sana dalam cara yang mengerikan!) ternyata di tengah durasi juga akan bercerita tentang AJ, cowok terkenal pemilik rumah tersebut, yang pengen menyepi ke sana tapi menemukan ada sesuatu yang aneh yang tidak ia tahu sebelumnya.

Struktur tak-biasa yang dimiliki film ini, pertama memberikan pengalaman horor two-in-one yang cukup seamless (meskipun ceritanya sempat terjeda). Misteri yang melatarbelakangi horor dalam Barbarian jadi punya cara reveal yang unik, memberikan kejutan-kejutan yang tak pernah terasa lebih besar daripada gagasan yang diusung. Kedua, struktur tak-biasa itu walau memberi kita momen untuk terlepas dari cerita saat switch karakter, ternyata juga membuka ruang untuk perspektif yang lebih luas. Dan itulah yang diincar film ini dengan resiko tukar-karakter tersebut.

Bahwa gagasan soal gender perspektif-lah yang ingin dikuatkan. Film ingin bukan saja memperlihatkan bagaimana cowok dan cewek memandang dunia dengan begitu berbeda karena situasi juga meng-treat mereka berbeda, tapi juga membuat kita mengerti bahwa sesungguhnya hal tersebut adalah horor. Tolak banding perempuan dan laki-laki (yang satu bisa seenaknya merasa dirinya baik dengan semena-mena ngatur, sementara yang satunya lagi harus toughen up karena seems like tidak ada tempat aman di dunia bagi mereka) itulah yang membuat Barbarian sebagai horor yang menarik. Karena perspektif itu bukan saja dari Tess dan AJ, melainkan juga dari si creature dan dalang di balik semua.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for BARBARIAN.

.

 

 

BULLET TRAIN Review

Ada masa ketika aku merasa diri sebagai orang paling sial di muka bumi. Email yahoo-ku dulu jaman sekolah literally ‘the most unlucky man’. Guru-guru, dan dosen, ampe ketawa-ketawa membacanya. Disuruh ganti, kutak mau. Aku sial, and proud of it. Duh, coba kalo David Leitch udah bikin Bullet Train pada masa itu!

Di balik fast-pace action di ruangan sempit atau terbatas dan sejumlah karakter unik yang kocak – yang membuat film ini jadi paket hiburan yang seru dan benar-benar menyenangkan – ada filosofi tentang memandang hidup pada narasi. Ladybug yang diperankan oleh Brad Pitt juga merasa dirinya sial. Sepanjang perjalanan di dalam kereta peluru itu, Ladybug yang jadi agen bayaran, rebutan koper dengan geng kriminal, agen saingan, dan pihak-pihak lainnya, dan mereka semua bicara tentang takdir. Tapi manusia adalah beragam karakter, sehingga hidup biarpun lurus seperti rel, manusia bukanlah kereta api yang cuma ngikut rel. Kita melihat begitu banyak ‘perubahan’ dari karakter-karakter. Dinamika mereka membuat film ini semarak dan hanya jadi semakin seru.

Film ini saking kreatifnya dalam menekankan bahwa mereka semua ditakdirkan di sana, bahwa sial atau untung hanyalah tergantung kita – manusia yang gak bisa melihat gambaran besar – memaknainya, membuat semacam flashback introduksi untuk setiap karakter. Yang bahkan botol mineral saja ada fungsi dan pengenalannya! Hihihi

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for BULLET TRAIN

 

 

 

HELLRAISER Review

Dari beberapa remake/sekuel modern horor ikonik yang tayang musim halloween kemaren, Hellraiser  adalah yang paling enjoyable, dan terlihat benar-benar dapet inti horor dan respek kepada versi originalnya. David Bruckner mengerti bahwa Hellraiser dan para Cenobite adalah soal manusia dapat menjadi begitu tamak, sehingga dengan pain atau derita saja bisa kecanduan. Di sini, Bruckner memperlihatkan journey seorang perempuan yang kecanduan alkohol untuk menyadari dan berjuang keluar dari neraka dunia yang sedang ia gali sendiri. Dan ya, itu adalah perjuangan berat penuh godaan dan berdarah-darah.

Tantangan untuk film ini adalah membuat protagonis dari karakter seperti demikian. Film tidak berhasil sepenuhnya melepaskan karakter dari label annoying dan mudah untuk dipedulikan, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Riley yang diperankan oleh Odessa A’Zion adalah protagonis horor yang bagus, and she will win us over. Bicara soal karakter, Cenobite adalah ikon dari Hellraiser, dan kali ini Bruckner menghidupkan mereka dengan bahkan lebih ngeri lagi. Desainnya benar-benar juara. Aku suka gimana film membuat para Cenobite seperti menyimbolkan manusia yang mengenakan derita mereka. Cenobite di sini gak lagi pakai pakaian berbahan kulit, kulit sendirilah yang seolah jadi pakaian. Lihat saja ‘rok’ si Pinhead, itu kulit tersayat. Jamie Clayton juga dapet banget memainkan persona Pinhead sebagai khas dirinya sendiri.

Soal desain dan horor (body horor) memang film ini peningkatan. Kostum dan efek praktikal dimainkan dengan mulus bersama efek komputer yang digunakan sebagai penunjang. Salah satu adegan yang masih terbayang olehku adalah ketika salah satu karakter ditusuk lehernya pakai jarum, dan kita akan melihat gambar dari sudut dalam kerongkongan si karakter. Ngilu!!

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for HELLRAISER

 

 

 

PEARL Review

Masih ingat nenek jablay antagonis di film X sekitaran paruh-awal tahun ini? Sesuai judulnya, Pearl adalah film yang menceritakan backstory si nenek yang namanya Pearl itu. Tapi yang paling penting adalah, Pearl merupaka pertunjukan kehebatan Mia Goth sebagai bintang horor!

Banyak film yang ngangkat tokoh jahat atau pembunuh sebagai protagonis, namun failed malah bablas ngasih simpati sehingga karakter itu jadi tampak tidak jahat lagi. Sutradara Ti West lebih bijak dari film-film tersebut. Pearl di balik keluguan gadis desa yang nyaris kayak anak kecil itu no doubt adalah seorang yang jiwanya ‘agak laen’. Tentu, kita relate ke Pearl soal betapa dia pengen mengejar mimpi; Pearl merasa terkurung di rumah peternakan, dia percaya bisa jadi bintang film terkenal, tapi simpati kita tidak pernah lebih dari itu. Salah satu film yang berhasil menggarap perspektif tokoh pembunuh sebagai karakter utama adalah Henry: Portrait of a Serial Killer (1986), di film itu dramatic irony-nya adalah kita dibuat merasakan yang dirasa oleh calon korban. Kita berpikir mungkin Henry enggak jahat, untuk kemudian di ending film menegaskan orang seperti apa dirinya. Nah, film Pearl memang tidak sampai membuat kita  seperti korban, atau malah menyalahkan korban Pearl. Dramatic irony yang dikeluarkan oleh film ini adalah kita merasa sayang melihat talent dan mimpi polos tersebut harus ada di dalam tubuh dan jiwa dan mental yang sudah beyond repair. Makanya adegan-adegan seperti monolog dan senyum panjang di kredit itu sangat powerful. Pearl bukan hanya membunuh orang tua dan sahabatnya. Pearl membunuh ke-innocent-an dirinya.  Dan glimpse dari itu nongol saat monolog dan senyum tersebut.

Itu juga sebabnya kenapa Mia Goth harus diganjar award tahun ini, apapunlah itu awardnya. Penampilannya sebagai Pearl luar biasa. Selain monolog, dan senyum kredit, yang aku yakin bakal jadi ikonik tersebut, Goth tackle banyak lagi adegan keren, seperti adegan nyanyi saat audisi dan di peternakan. Range yang sungguh luar biasa!

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PEARL

 




PIGGY Review

Premis drama horor/thriller karya Carlota Pereda ini menarik. Sara si anak tukang daging dibully oleh remaja sepantarannya karena berat badan. Sara jadi nutup diri, gak pede. Yang akhirnya datang membela Sara bukan orangtua ataupun sahabat, melainkan adalah seorang pria asing, yang ternyata adalah serial killer.

Piggy jelas menyasar soal bullying. Film Spanyol ini mengeksplorasi gimana pembullyan pada remaja bisa demikian parah dan kasarnya, sehingga berdampak mengerikan bukan saja kepada psikologis korban, namun juga jadi mengacaukan moral korban. Film ini ingin membuat kita merasa Sara berhak marah dan memilih untuk melakukan apa yang ia lakukan. Konflik batin pada Sara inilah yang mestinya kita perhatikan. Jadi diceritakan Sara sebenarnya melihat teman-temannya diculik oleh si serial killer, tapi karena mereka semua jahat kepadanya, maka Sara memilih diam. Tidak lapor ke polisi. Tidak menceritakan ke orangtua. Film bahkan dengan berani mengangkat Sara justru jadi punya hubungan romantis dengan si pembunuh yang telah ‘baik hati’ memberikan dirinya pakaian tatkala teman-teman menyembunyikan bajunya. Saking trauma dan jahatnya pembullyan, Sara sampai dibuat lebih simpati sama serial killer!

Ini pesan dan narasi yang sungguh kuat konfliknya. Melihat Sara terus didera pergulatan personal mengenai apakah yang ia lakukan adalah benar, menghasilkan perasaan yang juga memakan kita dari dalam. Sayangnya, menurutku film kurang ketat menjaga naskah dan arahan. Piggy jadi kurang nendang karena seperti mau mengarah ke satu hal lain yang lebih ekstrim, tapi balik lagi ke hal lain yang lebih grounded. If anything, film ini tampak seperti urungkan horornya, karena masih ingin sopan kepada si subjek. Singkatnya, film ini agak menahan diri sehingga impactnya jadi kurang kuat.

The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for PIGGY

 

 

 

PINOCCHIO Review

Anak kecil juga tahu, Pinokio adalah dongeng yang ngajarin untuk gak boleh bohong, dan bahwa anak manusia haruslah rajin belajar dan membantu serta menghormati orangtua. Disney, however, dalam usaha minimalnya untuk nyari duit sembari terlihat woke, mengubah cerita si boneka kayu sedemikian rupa, sehingga pesan moral yang jelas tersebut jadi hilang entah ke mana. Pinocchio versi live-action yang digarap Robert Zemeckis hanya menang di visual, sementara dari sisi cerita, film ini ngasih moral yang ngawang lewat pembelajaran karakternya.

Bayangin, Pinokio di film ini menggunakan hidungnya yang memanjang untuk membebaskan diri. Jadi, dia sengaja bohong supaya idungnya sampai menggapai kunci kurungan yang digantung di sebelah pintu. Alih-alih ngajarin supaya anak mengakui kesalahan dan belajar jadi lebih baik dari kesalahan tersebut (dengan tidak mengulangi), film ini membuat Pinokio sebagai tokoh yang tidak punya salah. Dia mau sekolah, tapi sekolahnya yang gak mau nerima dia karena dia berbeda. Pinokio tidak tampak tertarik bersenang-senang di Negeri Nikmat. Dan malah di akhir, Pinokio enggak lagi masalah harus soal jadi anak manusia. Film mengaburkan pembelajaran dengan masukin soal ‘jadi diri sendiri’ yang salah kaprah.

Secara kreativitas, film ini juga kosong sebenarnya. ‘Live-action’nya gak benar-benar live action, karena jam-jam mainan yang lucu-lucu itu saja masih efek komputer. Those are things yang mestinya bisa dibikin beneran oleh studio dengan duit sekenceng Disney. Pinocchio versi baru ini sebenarnya hanya mengulang shot-shot dari film animasi klasiknya, dengan sedikit mengubah dan menambah sana-sini. Peri Biru diubah, tapi hanya muncul satu kali. Ada beberapa karakter baru juga, tapi yaah, tidak menambah banyak untuk bobot narasi. Dan Tom Hanks, maaan, kasian banget main di sini untuk bemper jualan saja. Masih lebih ‘live-action’ Pinokio versi Ateng-Iskak, deh!

The Palace of Wisdom gives 2 gold stars out of 10 for PINOCCHIO

 

 

 

SMILE Review

Sehabis nonton, aku sadar senyum di wajahku sirna sudah. Sebab Smile ternyata gak sebagus itu. Kuakui aku tertarik melihat trailernya. Adegan orang jalan ke mobil tapi kemudian kepalanya jungkir balik sold me untuk menonton film ini. Dan ternyata memang cuma adegan itu yang benar-benar fresh di seantero film ini buatku.

Karena ternyata Smile yang bicara tentang kutukan berantai misterius hanya punya trik-trik jumpscare. Sutradara Parker Finn menyiapkan cerita yang memang didesain untuk bisa memuat banyak jumpscare. Seorang shrink wanita menyaksikan pasiennya tersenyum lalu bunuh diri, dan setelahnya dia mengalami semua yang dicurhatin oleh si pasien sebelum tewas. Orang-orang yang tersenyum mengerikan. Kejadian-kejadian tak terjelaskan. Film ini sebenarnya telah menyelam ke dalam horor psikologis saat si karakter utama mengalami semua peristiwa ganjil yang entah beneran terjadi atau hanya ada dalam kepalanya. Tapi film hanya menggunakan itu sebagai tempat buat meletakkan jumpscare. Bahasan psikologis tentang trauma tak benar-benar digali, selain menyebut bahwa trauma akan terus berulang.

Investigasi seputar misteri kutukannya pun tidak memuaskan. Karena tidak benar-benar diperlihatkan sumber kutukan, dan bagaimana itu bisa mengait kepada trauma personal karakter. Bisa dibandingkan dengan investigasi kutukan pada film Ring. Menguak misteri kutukan video Ring, mengarahkan protagonis kepada Sadako, dan dia resolve urusan personal berbarengan dengan misteri Sadako berusaha diselesaikan. Dalam Smile, semua itu kayak pointless, karena hubungan-hubungannya tidak diestablish dengan jelas. Nonton film ini jadinya ya hanya menikmati kejutan jumpscare saja.

The Palace of Wisdom gives 5 gold star out of 10 for SMILE

 

 

 

THE WOMAN KING Review

Aku keingetan Barbarian saat nonton The Woman King. Bukan karena judul Barbarian lebih cocok disematkan kepada film tentang perlawanan suku tribal Afrika terhadap penjajah kulit putih, melainkan karena The Woman King juga seperti dua cerita dalam satu, namun dilakukan dengan lebih nyatu. Tidak ada keraguan, The Woman King adalah tentang karakter Viola Davis, si Miganon alias kapten pasukan warrior perempuan Agojie, yang mengusung gagasan bahwa dalam berjuang kita harus ingat untuk siapa kita berjuang.

Meskipun juga bercerita dari sudut Nawi, gadis desa yang menolak dikawinkan sehingga diserahkan ayahnya kepada Raja untuk jadi ‘tentara’, sutradara Gina Prince-Bythewood tetap mengembalikan semua kepada perspektif Miganon Nanisca sebagai tokoh utama. Pemimpin pasukan itu belajar banyak dari Nawi yang masih polos sehingga masih melihat jelas mana kawan mana lawan. Nanisca bukan hanya tangguh di luar, tapi di dalam dia sudah ‘mengeras’ berkat begitu banyak derita yang ia pendam sehingga perjuangannya membela bangsa jadi perang tanpa-rasa. The Woman King, di balik aksi-aksi berantem yang begitu grounded itu, ternyata punya hati dan jiwa yang kuat mengakar. Film ini juga tidak niat mengadu-adu cowok lawan cewek semata, karena gak ada tuh di sini bentukan kayak cowok jahat, cewek baik dan teraniaya. Semuanya dibikin balance. Dalam kelompok Nanisca, ada raja – cowok – yang gak dibuat bego atau culas. Ada cowok sesama pejuang yang gak lantas kalah jago. Kevulnerable-an menguar kuat di balik ketangguhan. Gak banyak film yang berani dan bisa menampilkan dua sisi ini sekaligus. The Woman King berhasil menghanyutkan kita ke dalam dinamika keduanya.

Gina tidak mengarahkan The Woman King ke nada yang serius ala-ala The Northman. Gina melihat urgensi dari cerita yang ia angkat ini, dan dia mau semuanya dengan mudah tersampaikan. Jadilah film ini dibuat dengan nada yang bisa dibilang agak ngepop, menggunakan trope yang mudah mencapai penonton. Tapi tidak sampai membuat The Woman King terkesan easy. Film ini tetap terasa epik. Karakter-karakternya terasa big dan tetap akrab, ceritanya tetap tampak penting tanpa menjadi ribet. Pengembangan karakter dan sekuen aksinya berjalan seimbang. Ini film epik paket lengkap, yang sayang tidak banyak dibicarakan orang.

The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE WOMAN KING

 

 




That’s all we have for now

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA