TRIANGLE OF SADNESS Review

 

“Beauty is a currency system like the gold standard”

 

 

Aku gak tau ternyata daerah kecil di pangkal hidung, di antara dua alis mata, punya nama tersendiri. Triangle of sadness. Segitiga kesedihan. Sepertinya itu istilah dari dunia permodelan, karena di lingkungan itulah istilah itu disebut pada film karya Ruben Ostlund ini. Seorang model pria yang lagi audisi, disuruh dengan ketus oleh juri untuk menghilangkan kerutan di triangle of sadness-nya. Suruhan yang malah bikin kerutan itu semakin banyak, sebab si model sendiri bingung. Dia juga baru dengar istilah tersebut hihihi. Itulah, Ruben mungkin memang sengaja menggunakan istilah tersebut sebagai judul internasional dari karya terbarunya, karena dia pengen kita juga berkerut. Mikir. Bukan mikir soal gimana lolos audisi model, melainkan mikir mengenai gender dan social role di masyarakat modern. Segitiga dalam Triangle of Sadness salah satunya adalah cowok-cewek-harta. Film ini mengemas bahasan tersebut dalam komedi satir, diwarnai oleh kejadian dan terutama oleh karakter yang boleh jadi aneh, tapi yaaa, kok kayak nyata juga!

Atau bisa juga segitiga dalam film ini merujuk kepada chapter penceritaannya. Robert memang membagi ke dalam tiga chapter, yang kayak segitiga – dari setup, menanjak ke transisi di mana semua memuncak, terus kembali seperti kepada posisi set up namun dengan pembalikan. Model yang audisi tadinya hanyalah prolog, tapi dengan efektif melandaskan pokok masalah. Like, di bagian itu ada dialog soal aturan bahwa semakin mahal busana yang diperagakan, model harus pasang tampang yang semakin jutek juga. Cerita Triangle of Sadness juga lantas menelisik tentang gimana si model, Carl (perhatikan betapa konsisten si Harris Dickinson nampilin ekspresi triangle sadness di wajahnya), memandang perannya di dalam relationship. Secara garis besar, ini adalah tentang Carl dengan pacarnya, Yaya (rest in peace Charlbi Dean) – seorang model dan influencer yang jauh lebih populer daripada Carl sendiri. Ketika pertama kali melihat pasangan ini, kita udah dihadapkan pada debat kekinian yang somehow kocak. Tentang split bill. Bukan cuma di Twitter thread, ternyata masalah split bill cowok dan cewek memang universal ya.  Nah, Carl dan Yaya beres dinner di restoran fancy, tapi si Yaya belagak cuek sama tagihan di atas meja, sampai akhirnya ditegor oleh Carl yang bilang “Gue lagi yang bayar? Lah elo kemaren bilang mau bayarin yang sekarang”. Just like Carl dan Yaya yang dalam pembelaannya masing-masing mengatakan ini bukan soal duit, film ini juga berusaha mengestablish bahwa adegan ini bukan sekadar soal cowok harus bayarin. Melainkan soal equality dalam gender dan kelas sosial yang membuat masing-masing punya role atau tugas, dan hak masing-masing. Film ingin mengangkat pertanyaan apakah cowok dan cewek memang sama, dan berusaha menghadirkan jawaban versi mereka lewat portrayal yang digambarkan karakter-karakternya ini.

Si Yaya bintangnya pasti Taurus

 

Debat mereka gak dituliskan lewat saling bentak, tuding, hardik. Nadanya memang marah, tapi film ini bijak untuk tidak kayak film atau sinetron Indonesia yang taunya pasangan berantem itu ya harus adu jerit, kemudian lantas ada satu yang tertindas. Berlinanglah air mata. Cara kamera ngeframe, berpindah dari Carl ke Yaya, suasana dan musik yang dibuat seolah menahan napas melihat mereka berusaha melempar argumen tanpa melukai perasaan yang lain. Build up berupa celah kentara di masing-masing sisi argumen. Jelas, film ingin memfokuskan kita kepada perspektif mereka sama besarnya. Dari semua chapter, memang chapter pertama inilah yang paling grounded, dan aku pikir bagian inilah yang paling mudah konek kepada penonton. Sementara dua bagian lagi, bisa jadi agak mixed buat penonton yang merasa landasan grounded ini akan terhampar selamanya. Triangle of Sadness didesain sebagai komedi satir yang menggambar paham atau ideologi karakter, kelas sosial karakter, untuk membuat kita menyadari cela dan cacatnya. Karena itulah chapter kedua berkembang menjadi lebih komikal (meski gak pernah terlalu over) dan chapter terakhir bisa dibilang sebagai konklusi berupa nyaris terasa seperti skenario ‘what if’

Meskipun penjelasanku tentang film ini bisa terdengar ngejelimet dengan ideologi, kelas sosial dan sebagainya, tapi film ini sesungguhnya bermain di nada yang kocak. Alurnya gak ribet. Pun juga tidak pernah mempersimpel persoalan yang diangkat. Kayak, oke debat split bill Carl dan Yaya clearly debat dengan paham feminis – dengan klimaks Carl frustasi nyeletuk ‘bullshit feminism’ saat sambil berjalan menuju kamar, tapi film ini tidak untuk mengecam bahwa feminis mungkin salah. Ataupun ketika memperlihatkan orang-orang kaya sebagai worst people karena merasa udah kayak paling benar dan jumawa, dan terlihat kayak dengan jam tangan rolex bisa beli apa saja, film ini tidak lantas seperti menyerang dan mengolok-olok mereka. Seperti meniti pada garis balance, film ini kayak mau nampilin horrible person, tapi juga pengen liatin mereka juga gak seburuk itu. Puncaknya adalah pas di ending. Alih-alih menegaskan bahwa kalo situasi atau peran gender dan kelas sosial itu dibalik ternyata matriarki gak lebih baik daripada patriarki, film malah menjadikan itu sebagai open-ended.  Dengan tujuan supaya masing-masing penonton memikirkan kenapa kita percaya ending film ini menutup seperti yang kita sangka. Semua itu kembali ke soal perspektif gender dan sosial yang aku percaya jadi benang merah semua kejadian absurd film ini.

Semua orang berhak menikmati hasil yang mereka kerjakan. Ya beberapa orang kerja keras untuk jadi kaya. Tapi beberapa orang bisa juga kaya tanpa melakukan apa-apa, atau kaya dengan melakuin something horrible. Kenapa bisa begitu? karena kita memandang kecantikan sebagai privilege. Sebagai alat tukar untuk mendapatkan sesuatu, range from sesimpel food hingga ke kekuasaan. Karakter-karakter dalam Triangle of Sadness sering sekali bicara tentang kerjaan mereka. Apa yang telah mereka lakukan sehingga sekarang mereka pantas mendapatkan suatu kuasa. Kelas sosial ini dibenturkan oleh film dengan perspektif dari gender. Makanya film ini sebenarnya kompleks, di balik kejadian yang tampak absurd dan artifisial.

 

Jadi nanti cerita di chapter kedua adalah si Carl dan Yaya liburan di kapal yatch mewah, bersama milyuneran lain. Bedanya mereka berdua ada di sana karena job Yaya sebagai influencer. “We mostly get free stuff” jawab Carl ketika ditanya oleh juragan pupuk dari Rusia yang lagaknya udah kayak pemimpin mafia. “Kecantikan yang membayar semua” kekeh si juragan pupuk menanggapi jawaban Carl. Chapter keduanya ini kalo diliat-liat sebenarnya memang cuma transisi, ‘dalih’ film untuk membawa Carl dan Yaya ke situasi yang merupakan pembalikan dari kondisi mereka di awal. Situasi di chapter terakhir adalah kapal mereka diterjang badai dan diserang pembajak, sehingga sebagian kecil penumpang terdampar di pulau. Mereka harus survive di pulau dengan menegakkan aturan kelompok tersendiri. Aturan yang ditetapkan oleh ibu-ibu janitor kapal, yang mendeklarasikan diri sebagai kapten karena cuma dia yang bisa nyari ikan, masak, dan kebutuhan survival lainnya. Itulah plot atau alur film. Beda titik A dan titik B ‘cuma’ pembalikan posisi. What if mereka hidup di sistem matriarki. Pembelajaran karakter terjadi saat mereka menyadari (atau tepatnya pura-pura tidak menyadari) bahwa mereka saat berada di posisi B ternyata melakukan hal yang berkebalikan dengan paham yang mereka argumenkan di titik A. Yaya yang mengaku gak benar-benar looking for love, relationshipnya bareng Carl hanya berdasar atas kebutuhan yang sama, ternyata akhirnya cemburu juga. Carl yang not feeling konsep dunia glamor mereka di mana kecantikan jadi semacam alat tukar, ternyata malah menjadikan dirinya ‘jaminan’ supaya mereka dapat makanan dengan ‘sleeping with the boss‘. Sementara dialognya memang tidak benar-benar subtil , karakternya kayak parodi, dan kejadiannya komikal, ternyata film ini menjalin plot yang tersirat sempurna di balik semua. Kepentingan kenapa semua itu dibuat seperti demikian, benar-benar terasa jadinya.

Segitiga kesedihan juga bisa berarti cinta segitiga Yaya, Carl, dan si janitor dengan ending yang (sepertinya) tragis

 

Penulisan yang tajam sudah bisa terlihat dari bagaimana film mempersembahkan chapter kedua yang sebenarnya cuma transisi. Distraksi konyol, kalo boleh dibilang, dari chapter pertama yang grounded dan chapter ketiga yang kejadian pembalikannya bikin kita takjub dan tertantang di saat bersamaan. Bagian mereka di kapal itu adalah bagian saat film menempuh resiko terbesar. Mereka membuat Carl dan Yaya agak ‘tersingkir’ karena mau melandaskan perspektif orang-kaya. Menyiapkan set up untuk bahasan kelas sosial. Kapal besar yang adalah ruang tertutup, dijadikan film tempat bermanuver untuk memuat banyak celetuka konyol dan gambaran sosial itu sendiri. Di sela-sela itu, film masih menyempatkan diri untuk menyisipkan perbandingan dengan konsep Marxisme, komunis, lewat karakter kapten kapal yang tak kalah ajaib (Woody Harrelson memang kocak mainin karakter chaos macam gini). Patriarki yang gak strict, kelas atas yang merakyat (makannya burger, bukan makanan fancy kayak tamu lain). Namun bahkan karakter nyantai macam ini pun ada flawnya. Chapter di kapal would also involving muntah dan kotoran, yang diperlihatkan tanpa malu-malu. Hillarious, memang. Tapi ya, bisa terasa tasteless dan literally bikin penonton ilang selera nonton ini. Tapi di samping segala resiko itu, film berhasil memuatnya menjadi kejadian konyol yang masih inline dengan konteks, sekaligus menghantarkan plot ke tempat berikutnya.

 




Jika tahun lalu ada Don’t Look Up, maka tahun ini, film Robert Ostlund jadi ekuivalen dari film tersebut.  Komedi satirnya yang telak membuat film ini pun seperti kayak hanya menyenggol yang sudah jelas, dengan komedi yang nyaris terlampau konyol, dan dialog yang tajam tapi gak subtil. Kubilang, kedua film ini hanya terlampau dekat dan nekat. Secara naskah, mereka sesungguhnya berada pada kelas yang tak bisa dipandang sebelah mata. Film ini, punya desain naskah tersendiri. Yang merayap dengan sukses merangkai semua kejadian dan bahasannya menjadi satu event yang bermakna. Nilai plus cerita dengan setting dunia model dan lingkungan jet set ini buatku adalah walau sarkasnya telak dan tajam, tapi kalo diliat-liat, dipikir-pikir, film masih manage untuk berada di posisi yang seimbang. Konklusinya diserahkan kepada kita untuk memikirkan kenapa kita berkesimpulan endingnya seperti itu. Bagaimana kita sendiri memandang gender role dan sosial.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for TRIANGLE OF SADNESS

 




That’s all we have for now.

Bagaimana pandangan kalian soal pembalikan gender role yang dilakukan film ini di chapter terakhir?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BODIES BODIES BODIES Review

 

“Sometimes your dearest friend whom you reveal most of your secrets to becomes so deadly and unfriendly…”

 

 

Bersahabat berarti kita tahu baik-dan-boroknya perangai sobat-sobat sekalian. Tolerate them, just like they tolerate us – at some degree. Nah, batasan degree inilah yang menarik. Berbagai cerita telah mengeksplor apa yang terjadi kepada satu grup pertemanan saat dark secret masing-masing dibongkar, dihamparkan keluar. Udah jadi kayak trope tersendiri. The ‘revealed secrets’ trope. Serial sitcom Community, misalnya, punya tiga episode dengan trope ini. Karena memang menarik mengulik karakter melalui rahasia terdalam mereka, dan tentunya juga membuat relationship mereka jadi semakin berwarna. Namun, belum banyak yang menggali trope ini lewat lensa horor atau thriller. Itulah hal fresh yang dibawa oleh Bodies Bodies Bodies garapan Halina Raijn. Yang dalam prosesnya, juga balik menyajikan sesuatu yang baru terhadap perspektif dan juga trope lain, yakni, whodunit itu sendiri.

Kata Bodies Bodies Bodies merujuk kepada permainan yang dilakukan oleh geng karakter di film ini. Mereka berkumpul di rumah gede, merayakan kembalinya Sophie dari rehab. Di luar lagi badai, jadi mereka mengisi waktu dengan permainan yang mirip kayak Werewolf atau Among Us. Mereka akan berusaha menebak satu ‘killer’. Dan saat itulah tuduh-tuduhan itu semakin menjadi. Dari dialog-dialog kita bisa mendengar bahwa ada rekah-rekah kecil – tapi serius – di balik keakraban mereka. Kehadiran orang baru seperti Bee, pacar baru Sophie, juga tidak banyak membantu. Ketegangan menjadi benar-benar memuncak menjadi horor saat salah satu dari mereka ditemukan tewas dengan luka sabetan pada leher. Ada ‘killer beneran’ yang menginginkan mereka semua mati satu persatu. Kita lantas melihat geng ini semakin hancur as semua mulai saling serang dengan fakta-fakta kelam demi mencari siapa pembunuh di antara mereka.

Anak Borat main film thriller!!

 

Yang nonton film ini mengharapkan whodunit standar, bakal either surprise berat atau malah kecewa parah. Dan itu bukan salah penonton, melainkan karena memang itulah resiko yang diambil oleh film ini. Misteri siapa pelakunya, apakah pelakunya ada di antara mereka atau ada orang lain (ada satu anggota geng yang menghilang sedari awal cerita dimulai) memang dibangun penuh tensi dan misteri. Namun di balik tensi dan mayat-mayat bersimbah darahnya, Bodies Bodies Bodies sebenarnya terutama diniatkan sebagai satir. Sindiran buat perilaku komunikasi sosial seperti yang diperlihatkan oleh karakter-karakternya. Sophie dan gengnya adalah anak-anak orang kaya, trendi, mereka ini istilahnya anak gaul banget. Bahkan karakter utama kita, Bee, walaupun berasal dari luar circle, dia foreigner di antara yang lain, gak share lifestyle yang sama, tapi tetap punya ‘gaya’ sosial yang serupa. Salah satu dialog yang jadi diulang saat Sophie muncul bersama Bee di rumah itu adalah persoalan anak-anak yang lain surprise melihat Sophie beneran dateng karena selama rehab Sophie tidak pernah membalas grup chat di Whatsapp. Ya, karakter-karakter di cerita ini merepresentasikan Generasi Z. Anak-anak muda yang secara konstan bergaul di internet, sosial media. Karakter-karakter di sini punya podcast, bicara dengan kamus ala anak-anak woke di Twitter, dan cari pacar di dating app. Furthermore, film ngasih lihat sedikit perbandingan antara generasi mereka dengan generasi yang sedikit lebih tua lewat karakter Greg. Outsider seperti Bee, karena adalah pacar tinder si Alice, salah satu teman geng Sophie.

Rahasia buruk mereka semua berkenaan dengan betapa fake-nya mereka terhadap masing-masing. Satu adegan menunjukkan mereka nari TikTok bareng, lalu ada juga adegan lain yang nunjukin mereka berargumen soal apakah satu orang karakter beneran suka sama podcast karakter yang satunya. See, dari karakter-karakternya saja film ini sudah divisive. Sebagian penonton akan merasa relate sama permasalahan sosial ‘kekinian’, sebagian penonton lagi akan jengkel. Aku termasuk yang sebagian kedua. Buatku mereka semua annoying,  candaan mereka gak masuk ke aku, aku tahu kalo aku seatap dengan circle seperti mereka itu aku pasti sudah cabut daritadi. Aku hanya bisa relate sama game bodies bodies bodies mereka karena.. well, karena game. Selebihnya aku hanya seperti benar-benar menonton saja. Nah, ketika seorang yang gak care dan gak relate bisa betah menonton, itu sebenarnya sudah ‘prestasi’. Bahwa di balik itu, film ini punya ‘sesuatu’. Dan ‘sesuatu’ itu bukan hanya soal misteri whodunit atau misteri bunuh-bunuhannya saja, melainkan juga pesan di dalamnya. Relate atau tidak, suka atau tidak dengan revealing di endingnya (mungkin lebih tepatnya, merasa ‘tertipu’ atau tidak) gagasan film ini adalah sesuatu yang beresonansi dengan kita yang hidup di masa sekarang. Film hanya membungkusnya dengan rapi ke dalam misteri whodunit dan karakter-karakter annoying.

Memikirkan tujuannya sebagai satir untuk pergaulan Gen Z, film ini sebenarnya cukup ‘keras’. Banyak dialog yang benar-benar menyindir tajam betapa insignifikan hal yang merasa jadi masalah buat mereka. Gen Z yang nonton kayaknya bakal tersentil. Like, sebegitu pentingnyakah orang harus balas chat Whatsapp sehingga dia datang saja dianggap ‘tiba-tiba’ dan dianggap sombong sama teman satu geng. Atau soal podcast, segitu pentingnyakah kita harus suka sama konten yang dibuat teman kita untuk populer di sosmed. Ini kayak gue like punya lu, lu like punya gue, karena harus saling menghargai usaha bikin konten. Atau juga soal bahasan toxic, dan istilah-istilah itu. Film dengan blatant menyebut anak jaman sekarang menggunakan istilah-istilah trending just because it is trend, dan padahal sebenarnya mereka tidak punya pendapat personal soal permasalahan yang bersangkutan. Bagian-bagian mencekam ketika lampu mati dan mereka harus berjalan dalam gelap hanya dengan bantuan cahaya dari layar hp seperti menguatkan gagasan film soal betapa anak muda sudah merasa gede dan ‘aman’ hanya dengan melihat lewat gadget. Ultimately, ending filmlah yang ngasih toyoran paling kuat. Film rela whodunitnya jadi ‘agak laen’ supaya gagasan dan sindiran tersebut benar-benar nonjok.

Yang film ini ingin tunjukkan adalah betapa lemahnya pertemanan dan bahkan relationship yang didasari oleh bagaimana orang bertindak di internet. Yea, sesama teman mungkin bisa khilaf dan keeping secret lalu membocorkan rahasia, tapi dengan perilaku bersosial media sekarang, semua itu terasa lebih rapuh. People will have no idea how to act genuinely ketika berhadapan langsung, dan bakal ended up hurting each other more. Yang baru saja kita lihat adalah kisah bagaimana sekelompok Gen Z menghancurkan koneksi, menghancurkan diri mereka sendiri karena ketika bertemu, mereka tidak bisa bonding secara natural melainkan jadi merasa saling ekspos satu sama lain

Mungkin karena settingnya seringkali gelap, tapi si Emma ini sekilas-kilas tampak mirip Mawar de Jongh

 

Horor atau thriller biasanya suka membunuh karakter yang paling likeable atau simpatik, you know, untuk menaikkan tensi dramatis. Untuk karakter utama, kematian karakter likeable ini biasanya diset sebagai pukulan berat. Malangnya bagiku, karakterBodies, Bodies, Bodies yang likeable – yang mikir pakai logika dan gak berdialog pake istilah-istilah kekinian –  juga dibuat mati, yang berarti aku ditinggal bersama karakter-karakter annoying, dengan situasi kematiannya yang juga sama-sama annoying. Karena dari adegan kematiannya itulah aku sadar bahwa karakter utama film ini juga tidak akan diniatkan untuk belajar inline dengan penonton. Bahwa karakter utamanya juga bergerak dalam design tipikal karakter Gen Z. Itulah yang jadi bahan koreksi untukku pada film horor keluaran A24 ini. Karakter utamanya, si Bee, tidak benar-benar punya pembelajaran yang kuat, melainkan hanya dijadikan sadar, dan dia itu tetap adalah bagian dari kerapuhan relasi.

Maria Bakalova sebenarnya memerankan Bee dengan sesuai. Dia mengerti kebutuhan naskah, paham kapan harus mengundang simpati, kapan harus bertingkah sus, kapan harus cerdik, dan mainly itu dilakukannya dengan ekspresi. Sama seperti si Amanda Stenberg yang jadi Sophie, jago dan ngertinya juga dalam memainkan ekspresi. Design karakter mereka saja yang ngambil resiko. Kayak si Bee,  momen dia membunuh karakter likeable satu-satunya, adalah momen kita meragukan dirinya sebagai tokoh utama. Momen ketika tokoh utama tidak bertindak seperti penonton jika mereka ada di posisi yang sama. Karena kita tidak bisa melihat alasan dia harus membunuh. Bee hanya berubah dari yang tadinya cinta, overly kalo boleh disimpulkan sesuai aksinya, ke jadi takut sama pacarnya. Ini bukan plot yang kuat untuk karakter utama. Sehingga karakternya malah jadi kurang kuat punya alasan untuk ada di sana, melainkan hanya sebagai pasangan dari karakter lain. Film tidak mengeksplorasi banyak siapa dirinya. Aku malah mikir, kalo karakter Bee gak ada, ceritanya jadi hanya tentang Sophie yang balik dari rehab untuk menjalin pertemanan lagi dengan teman-teman gengnya – film ini masih bisa jalan. Gagasan dan sindiriannya masih bisa juga tersampaikan tanpa harus lewat sudut pandang Bee. So yea, Maria Bakalova memainkan Bee dengan hebat, hanya saja Bee ini kurang kuat sebagai karakter. Hampir seperti dia ada karena film butuh romance, dan butuh dua orang untuk moment final.

 

 




Aku gak nyangka bisa betah juga nonton film yang karakternya benar-benar annoying semua dan gak relate. Mungkin itulah kekuatan dari cerita. Kekuatan dari naskah. Film ini benar-benar punya sesuatu untuk dikatakan, dan mendesign ceritanya untuk memenuhi itu. Menempuh banyak resiko, di antaranya membuat bangunan misteri whodunit jadi punya ‘surprise’ yang might not working well buat penonton. Untukku, endingnya worked great, design atau konsepnya bisa dimaklumi karena film ini mengincar ini sebagai satir. Yang kurang hanya pembangunan karakter utamanya, yang gak benar-benar dieksplor. Cerita dan fungsi film menurutku masih bisa jalan tanpa dia
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for BODIES BODIES BODIES

 




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian society generasi kekinian memang akan menghancurkan dirinya sendiri?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



[Reader’s Neatpick] – THE MAN FROM EARTH (2007) Review

 

“Ternyata segala sesuatu punya lebih dari satu sudut pandang.” – Fajarudin Ilmi, yang bisa disapa di akun sosmed @fajar_vin

 

 

Sutradara: Richard Schenkman
Penulis Naskah: Jerome Bixby
Durasi: 1jam 27menit

 

 

Teman-teman sesama dosen dan profesor di universitas pada heran. Kenapa Profesor John Oldman, yang brilian, baik hati, dan terutama masih muda itu mendadak mengajukan pensiun dan mau segera pindah dari kota. Maka di hari kepindahannya, mereka beramai-ramai ke rumah John. Membantu pindahan, ngucapin selamat tinggal, dan tentu saja menanyai langsung alasan semuanya. John sendiri memang tampak enggan menjawab, membuat kesan misterius semakin membesar. Para teman-teman terus mendesak. Dan John akhirnya memberikan jawaban, tapi bukan dalam bentuk pernyataan yang bisa dengan mudah diterima. Tidak ada satupun orang-orang pintar dan berpendidikan tinggi di rumah yang kini nyaris kosong oleh perabot itu siap, ataupun ikhlas, mendengar cerita dari John yang melatarbelakangi kenapa dia harus pindah dari sana. Cerita yang menjungkirbalikkan berbagai keilmuan, mulai dari catatan sejarah bahkan hingga agama. Karena apparently, nama belakang John jadi literal karena pria ini mengaku sebagai manusia yang benar-benar sudah tua; dia sudah hidup selama 14 ribu tahun!! 

 

“Aku suka film ini karena unik. Memberikan pengalaman dan perspektif baru dalam berbagai hal khususnya sejarah dan agama.  “

“Unik banget, bener deh. Tadinya, ngeliat dari posternya, kupikir ini cerita sci-fi dengan alien-alien gitu. Ternyata satu-satunya yang ‘alien’ di film ini adalah bahwa dia begitu berbeda dari fantasi ilmiah lainnya. Filmnya minimalis banget. Gak ada aksi, nyaris ada plot. Vibe-nya pun gak mewah – gak ada polesan. Ini produksi 2007 tapi rasanya kayak show yang bahkan lebih jadul jadi. Gak ada nama-nama besar, yang kukenali paling cuma si Candyman, yang jadi salah satu profesor sahabat John. Adegan-adegan film ini hanya bersetting di satu ruangan kecil, hanya sekelompok orang yang berbincang-bincang. “

“Film ini bisa jadi motivasi atau acuan bagi yang mau berkarya dengan anggaran minimalis. Untuk bisa bikin film bagus nggak harus dengan budget fantastis! Nggak jarang aku ketemu film indie yang terasa orisinil atau feel-nya ngena dan berpikir “Kalo film ini digarap studio besar yang seringnya disusupi kepentingan-kepentingan tertentu khususnya selera pasar, apa mungkin filmnya masih sama?”

“Saat nonton, aku langsung teringat sama film 12 Angry Men, klasik dari tahun 1957, yang isinya juga cuma orang ngobrol dan berdebat. Tapi ngikutinnya terasa nikmat. Kalo ibarat menyantap makanan, nonton film-film kayak begini tuh rasanya bener-bener kenyang. Also, jadi bukti bahwa suatu film itu yang penting memang bahasannya. Like, film boleh punya fantasi setinggi langit, world-building keren, atau aksi-aksi laga ataupun horor yang dahsyat, but in the end yang bakal nyantol ke penonton adalah apa yang dipermasalahkan. Apa yang diperbincangkan. Film kayak The Man from Earth ini membawa kita langsung ke percakapan. Walaupun dengan konteks sains yang kuat, tapi karena dibentuknya sebagai percakapan antarteman, jadinya mengundang banget.” 

“Biar penonton nggak bosen nontonin orang ‘ngobrol doang’ menurutku tensi harus dijaga dan topiknya jangan sampai dibiarkan bercabang terlalu jauh dari bahasan awal. Juga harus ada karakter yang mewakili orang awam yang nggak terlalu paham sama topik atau istilah-istilah yang digunakan. Film ini, nggak sedetik pun aku sempet bosen. Biarpun kubilang karakter-karakternya dua-dimensi, tapi pertanyaan atau pernyataan yang mereka sampaikan hampir semuanya tepat. Seolah aku bisa ngomong ke mereka, “Eh, abis ini tanyain ini, dong.” dan benar aja mereka ngomonginnya itu. Misalnya pas obrolan sudah masuk ranah agama.

“Pengen rasanya ikut ngobrol bareng mereka ya hahaha.”

“Pastilah pengen. Yang paling mencengangkan ya sudah pasti tentang alkitab. Scene paling memorable adalah saat John mengklaim dirinya adalah Yesus (mungkin baiknya ‘Yesus’-nya disensor biar nggak spoiler :D) sampai-sampai Edith menangis. Alasan kenapa memorable; scene itu yang paling emosional. Seluruh emosi dibendung sepanjang durasi dan ditumpahkan di sana, diwakili oleh Edith.”

“Gak perlulah kayaknya disensor, itungannya udah klasik nih film, udah di luar aturan spoiler-spoileran. Lagipula, seperti yang kita bahas, yang paling mengundang di sini itu bukan apa yang mereka bahas. Tapi pembahasannya itu sendiri. Percakapan yang muncul benar-benar menggugah pikiran. Karakter teman-teman John kan sebenarnya dibentuk film cuma sebagai sanggahan-sanggahan ilmiah. Sebenarnya, secara karakter, mereka ini kurang ‘hidup’lah istilahnya, Mereka cuma perspektif lain dari keilmuan yang menambah serunya percakapan”

“Sayangnya, di sinilah kelemahan terbesar film ini. Karakter-karakternya terasa template. Sebagian besar ucapan dan tindakan mereka hanya untuk mewakili penonton. Tapi kalo harus milih, aku pilih Dan. Karena kalo aku di sana mungkin reaksiku bakalan mirip dia. Kok malah kontradiktif, ya? :D”

“Mungkin lebih tepatnya bukan template, tapi perspektif keilmuan yang kita tahu memang benar demikian adanya. Jadi percakapan mereka sebenarnya satu cerita tapi dibantah sama ilmu biologi, sejarah, psikologi, agama. Mereka bukan Dan, Edith, dan lain-lain. Tapi keilmuan. Bukan exactly karakter. Kekurangan film memang di sini, tapi pinter sih membuat situasinya seperti itu. Karena bahasan yang menyangkal sejarah dan agama seperti yang disebut John, kalo gak ditanggapi dengan kepala yang settingnya keilmuan juga, pasti bakal jadi menyinggung, kan. Coba bayangkan kalo John cerita tentang asal usul hidupnya, cerita tentang ‘belakang layar’ agama, kepada orang-orang di pasar. Udah babak belur dipukuli massa pasti dia.”

“Orang berpendidikan (bukan tingkat pendidikan tapi intelektualitas) akan mendahulukan logika daripada emosi. Karena banyak yang mereka pertaruhkan; nama baik, gelar, jabatan, persahabatan, dsb, bila mereka salah menanggapi suatu masalah berdasarkan emosi. Menurutku, secara film, pembahasannya juga nggak menyinggung, setidaknya masih dalam batas wajar. Apalagi ini konteksnya fiksi. Mungkin akan beda cerita kalo formatnya dokumenter. “

“Tapi kalo dibikin dengan format dokumenter mungkin juga filmnya gak bakal nyampe status cult kayak gini. Sebagai dokumenter, mungkin dia bukan hanya menyinggung tapi malah bisa-bisa jadi benar-benar boring. Ini terutama karena – sejalan juga dengan salah satu tema yang dibawa film – orang-orang cenderung untuk tidak langsung welcome sama ide yang berbeda dari yang telah dipercaya. Dalam hal ini adalah kebenaran. Film ini memberikan pandangan yang thoughtful dengan mengguncang reality kita. Kalo formatnya dokumenter, aku yakin orang akan menyangka ini beneran (saking powerfulnya) dan bakal dapat hate luar biasa. Tapi mungkin itu karena aku berpikir sebagai orang di jaman sekarang, jaman yang lebih baperan. Menurutku, film ini dibuat pada waktu yang tepat. Aku yakin di zaman sekarang, film ini akan susah untuk diloloskan untuk produksi. Pertama karena gak ada yang terkenal. Kedua karena bahasannya jadi terlalu sensitif di iklim sosial sekarang. Nah, bahkan dibuat di waktu yang kayaknya gak sesensitif sekarang, film ini tetap didesign dengan benar-benar memainkan emosi. Segala percakapan menarik, dengan reaksi yang mewakili walaupun karakternya ‘gak hidup’ itu sesungguhnya juga terbantu dari bagaimana film ini membungkusnya dengan konsep obrolan saat pindahan tersebut. Like, daya tarik yang bikin aku betah ngikutin film ini adalah dari cara film mengarahkan supaya penonton enggak langsung percaya atau enggak langsung gakpercaya sama omongan John. Ada build up, yang berbuah bukan saja perbincangan semakin dalam, tapi juga reaksi-reaksi terguncang para pendengar di ruangan itu yang terasa real dan mewakili”

“Film menurutku berusaha netral. Dengan enggak memaksa John memperlihatkan foto dirinya di Papua dan John nggak mau masuk laboratorium, film berusaha bilang “jangan langsung percaya aja sama John.” Tapi juga dengan membuat karakter John begitu simpatik, kita dibuat mikir juga “apa iya orang sebaik ini tukang bohong?”
Tapi aku pribadi sih percaya sama John. Aku ingin spesifik pada scene saat John bilang semua yang dia bilang itu bohong. Mereka marah karena sudah percaya sama John dan merasa dikhianati baik secara emosional maupun intelektual. Mereka menghargai dan mempercayai John yang merupakan teman baik mereka, sekalipun yang John katakan bertolak belakang dengan yang selama ini mereka pelajari dan ajarkan. Jadi, ibaratnya mereka sudah mengkhianati teman mereka (pengetahuan dan keyakinan) demi John, tau-taunya John mengkhianati mereka (dengan bilang itu semua cuma iseng).
Awalnya aku pengen bilang Edith yang paling terguncang. Tapi setelah dipikir lagi, pas John bilang itu semua cuma pura-pura, Edith malah sebenarnya lega. Menurutku Dan lah yang paling terguncang karena dia yang sedari awal paling berkepala dingin, menganggap serius dan mempercayai John.”

“Bener, itu juga menunjukkan dari perbincangan yang bersifat stoic, pada akhirnya film berhasil menyusupkan elemen personal. Karakter-karakter lain, seperti yang sudah disebut, akhirnya bisa juga kita merasa relate. Sisi personal ini terutama disematkan film kepada John dan salah satu karakter yang nanti berkaitan secara pribadi dengan dirinya. Ini jadi heart – jadi nyawa yang merayap di balik bahasan. Yang actually juga jadi pay off yang cukup menyentuh di akhir. Lebih gampang sebetulnya membuat film ini berakhir open ended, dengan misteri John tak terungkap, tapi film berani memilih dan dia membuat karakterisasi John jadi terwujud di akhir. Makanya John kita identifikasi sebagai karakter utama, meskipun bangunan atau struktur film ini gak persis sama dengan film biasanya. John menggerakkan cerita dan walau aneh, tapi seperti teman-temannya kita bisa terkoneksi juga dengannya. Film bahkan sempat membahas John sebagai parent kan. Film gak lupa menganggap dia sebagai manusia biasa yang bersosial. Dia memilih pindah-pindah itu aja udah relate”

“Sebenarnya pengecut sih. Tapi memang itu pilihan yang sulit dan pilihannya nggak banyak bagi John. Tapi dari sekian ratus istri dan anak John, masa nggak ada yang open minded dan bisa dia percayai rahasianya? Kenapa John cerita ke teman2nya, aku percaya yang dia katakan “Aku ingin mngucapkan selamat tinggal sebagai diriku yang sebenarnya, bukan sebagai diriku yang kalian kira.”.”

“Memang tampak sebagai pengecut tapi itu kevulnerablean yang manusiawi. Kita juga pasti pernah mangkir karena gak enak harus jelasin. Itulah, at least, kita tentu pernah berada di posisi seperti John, ingin mengatakan suatu fakta tapi gak benar-benar bisa membuktikan fakta tersebut. Juga di posisi sebaliknya, apa coba yang bisa kita anggap sebagai kebenaran? Apakah penting untuk membuktikan sejarah, atau bahkan ajaran agama, sebelum menganggapnya sebagai kebenaran? Ini kan jadi koneksi dramatis antara kita dengan film itu”

” I guess, semua orang pernah mengalami hal itu. Gimana ya, susah juga kalo nggak ada bukti. Mungkin bisa ya pakai sumpah, bisa pakai nama Tuhan atau orang yang kita hormati atau sayangi. Dan ya, menurutku penting mengetahui kebenaran tentang sesuatu sebelum mempercayainya. Setuju nggak, sejarah ditulis oleh pemenang dan oleh sebab itu detailnya seringkali bias?
Apalagi agama, kalo cuman warisan orang tua, ‘kesenggol’ dikit udah goyah, kan?”

“Nah, deep memang film ini. Di luar pokok-bahasan mereka, film ini menyuguhkan pilihan buat kita lewat gambaran kondisi John dan orang-orang sekitarnya. Mana yang lebih penting; menyampaikan kebenaran apa adanya meskipun sulit dipercaya, atau membuat orang percaya akan sesuatu sehingga membuat sesuatu itu jadi kebenaran yang disetujui bersama? Beres nonton, aku makan dan makananku gak kerasa karena ngunyahnya sambil mikirin pertanyaan-pertanyaan seperti itu yang bermunculan”

“Wah, ini mirip ending The Dark Knight saat Komisaris Gordon harus ‘memfitnah’ Batman. Wkwkwk. Tapi aku berprinsip “Kebenaran yang pahit tetap lebih manis dari kebohongan yang manis.””

“Berarti lebih baik – dan mungkin bisa persoalan bisa lebih simpel – kalo kita menyampaikan apa adanya saja ya, meskipun itu menantang dan gak sejalan dengan kebenaran yang diyakini orang. See, yang paling manusiawi di film ini buatku adalah dengan kepintaran berpuluh ribu tahun pun John gak lantas jadi si paling bijak. Kalo aku hidup selama itu mungkin bakal banyakan stressnya. Aku bisa habis seribu tahun mikirin hidup abadi itu kutukan atau anugrah hahaha”

“Seperti kata Linda, “Bila dengan tubuh sehat, itu sebuah berkah. Kesempatan untuk terus belajar. “

“Kalimat yang bijak sekali. Jadi, ngasih skor berapa nih untuk The Man from Earth?”

“Sebelum ngasih skor, aku mau ngasih pro dan kontranya dulu. Biar ada alasannya gitu kalo dinilai orang lain skornya ketinggian atau terlalu rendah. Pro:  -Eksposisi dengan istilah-istilah ilmiah atau event-event sejarah mudah dimengerti. Film paham mana istilah yang penonton sudah tahu, mana yang perlu sedikit penjelasan, dan mana yang perlu lebih detail. – Tensi dijaga supaya penonton nggak bosen tapi emosinya nggak dibiarkan meledak terlalu awal untuk menghindari kesan anti klimaks. – Dengan tema ‘pinggir jurang’, aku sebagai penonton nggak merasa jadi bodoh atau merasa dibodohi atau merasa apa yang aku yakini jadi ternistakan. Malah aku merasa diajak untuk melihat ‘di luar kotak’. “Ternyata segala sesuatu punya lebih dari satu sudut pandang.” Kontra: -Pengkarakterannya terasa template dan terasa ada di sana hanya untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan penonton dan menjawabnya. -Aku akan ngasih nilai lebih kalo Nabi Adam dan banjirnya Nabi Nuh dibahas, meski itu akan membuat pembahasan tentang agama jadi terlalu mendominasi. Pengen tau aja sudut pandang tentang ‘manusia perama’ dari orang yang sudah hidup ribuan tahun sebelumnya.  Juga tentang banjir besar. Apakah John ikut naik bahtera atau cuma pernah dengar berita tentang banjir di tempat lain atau bahkan nggak tau sama sekali. Mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan yang dimiliki film, aku kasih skor 7.5 Aku nggak heran kalo skor kita beda dan penilaian kita malah bertolak belakang. Aku cuma seorang penikmat film yang ingin berbagi. “Ini lo, ada film yang unik dan beda, seru deh.”

“Penilaian yang detil! Iya ya, seru juga kalo John cerita soal nabi-nabian, gimana experience dia pas banjir bandang. Wah, kalo dia beneran ada pasti udah diculik, disekap, ditanya-tanyain terus tentang banyak hal hahaha… Skor kita agaknya gak beda. Pertama aku menemukan film ini cukup kaku dan aneh. Kemudian aku tersedot sama diskusi dan cerita mereka. Lalu tersadar bahwa aku ngikutin itu semua karena penceritaan dramatis yang merayap di balik bahasan dalem tersebut. Ini storytelling unik yang pada akhirnya worked out sebagai tayangan yang cukup emosional dan dramatis. Istilahnya tu, gak perlu jadi nerd atau geek dulu buat nikmati film ini. Yang jelas, harus open minded aja. Seperti John yang menantang realita dan keilmuan teman-temannya, film ini juga menantang realita dan sedikit ilmuku tentang apa itu film. Jadi, aku ngasihnya 7.5 dari 10 bintang emas juga!!”

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat mas Fajar udah merekomendasi dan berpartisipasi untuk mengulas film di sini. Film ini benar-benar pengalaman from earth yang terasa out of the world. Terima kasih udah meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan seabreg. 

 

Buat para Pembaca yang punya film yang ingin dibicarakan, yang ingin direview bareng – entah itu film terfavoritnya atau malah film yang paling tak disenangi – silahkan sampaikan saja di komen. Usulan film yang masuk nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

GHOST WRITER 2 Review

 

“People find meaning and redemption in the most unusual human connections”

 

 

“Kalo saya cuma dianggap dukun, buat apa saya nulis?” Aku suka banget kalimat yang diucapkan Tatjana Saphira dalam Ghost Writer 2. Karakter yang ia perankan, si Naya, sekarang tenar berkat novel yang ia tulis bersama hantu. Nah itulah masalahnya, tenarnya itu bukan oleh sebab yang ia harapkan. Orang-orang hanya melihat dirinya sebagai paranormal. Sebagai dukun. Sebagai orang yang bisa bicara dengan hantu. Bukan sebagai penulis yang mampu membuat cerita yang bagus. Di jaman branding dan popularitas seperti sekarang, enggak susah untuk menerka bahwa yang dialami Naya beresonansi kepada banyak orang. Sekarang mau bikin Youtube aja harus ada gimmicknya, dan kalo satu gimmick atau satu ciri khas kena, maka ya gak boleh pindah. Harus bikin sesuai dengan itu terus-terusan.  Like, beneran ada loh di kita penulis ataupun kreator yang ‘bertahan’ pake gimmick-gimmick cenayang karena memang lakunya harus seperti itu. Dalam perfilman, kita juga lihat gimana seringkali seorang aktor memainkan tipe peran yang sama melulu di setiap film yang ia mainkan.  Gatau apakah mereka menjerit juga dalam hati seperti Naya atau tidak. Makanya, pembahasan ini terasa lebih ‘rich’ lagi karena muncul dari film horor komedi, yang actually mempertahankan komika untuk terus bermain sebagai karakter lucu. Menarik untuk menyimak gagasan seperti apa yang disuarakan Muhadkly Acho, yang gantiin Bene Dion Rajagukguk sebagai sutradara. Karena Ghost Writer 2 ternyata bahkan lebih ‘rich’ lagi, dengan turut membahas drama hubungan keluarga antara anak dengan ibu!

Naya ceritanya memang mau nikah sama Vino, yang sekarang sudah merambah jadi bintang film. Bukan aktor FTV lagi. Hanya saja, ibunya Vino tampak ada kurang sreg sama relationship anaknya. Karena banyak masalah itulah, Vino jadi banyak pikiran, gak konsen saat take adegan action yang mengharuskannya melompati atap gedung. Vino kepleset, dan hidupnya game over. Naya langsung hancur, apalagi mereka abis berantem sebelum kejadian naas itu. Tapi sedihnya Naya gak lama, karena Vino balik dalam wujud hantu. Dan kini mereka mencari cara untuk menenangkan Vino supaya bisa terus dengan damai ke alam baka. Jadi mereka salin bantu. Selain bantuin Naya membereskan tulisan seriusnya, Vino percaya satu lagi caranya untuk ‘terus’ adalah dengan membantu satu sosok hantu mengerikan yang kerap meneror Naya dan adiknya!

Kolab dengan iblis

 

See, this is what I’m talking about. Horor bukan hanya soal penampakan genjreng-genjreng. Bukan hanya soal bunuh-bunuhan brutal. Harus ada journey paralel di dalam diri karakternya, sebagai bentuk menghadapi horor tersebut. Ghost Writer 2 boleh jadi bakal ‘dituduh’ sebagai gak-pure. Lebih sebagai drama yang ada hantunya. Tapi eksistensi film seperti ini membuktikan bahwa genre horor gak selamanya jadi kasta terendah yang laku bukan karena bagus, yang bahkan pembuatnya sendiri malu diasosiasikan sebagai pembuat horor seperti yang dirasakan Naya. Film ini ngasih lihat bahwa dalam horor pun karakterisasi dan journey  mereka (baca: NASKAH!) itu penting, dan itu udah jadi urusan dan tanggungjawab pembuat film untuk berkreasi semaksimal mungkin menjalin cerita seram, gimmick, dan gagasan sehingga bisa enak dan bergizi untuk ditonton. Naya, Vino, adik Naya, teman adiknya, sedari film pertama karakter-karakter ini sudah merebut perhatian kita karena mereka ditulis dengan kedalaman, mereka punya range, naskah mengeksplorasi ketakutan mereka lebih dari sekadar takut ngeliat setan (reaksi takut mereka actually diarahkan untuk komedi).

Aspek horor dimainkan dengan kreatif. Mulai dari aturan koneksi hantu dengan manusia, hingga ke kemampuan dan batasan hantu dimainkan dengan variasi yang membuat film semakin bikin penasaran untuk disimak. Sekaligus juga menjadikannya menghibur. Ini bukan cerita horor biasa yang ada hantu jahat, ada adegan-adegan menakutkan dari kemunculan hantu mengganggu manusia,  terus para karakter harus menguak misteri dan cari cara untuk membuatnya pergi. Aspek terkuat film ini justru adalah drama, dan wisely film menjadikan itu sebagai pondasi.  Adegan-adegan terbaik film ini datang bukan dari penampakan hantu yang ngagetin. Melainkan dari karakter yang menumpahkan isi hatinya dengan sangat emosional kepada karakter lain. Scene di akhir yang ,melibatkan Ibu Vino dan Naya (and later, Vino) totally bikin satu studio saat aku menonton terdiam. Kayaknya semua menghayati, semua merasa kena ledakan emosi yang merenyuhkan dari Widyawati yang aktingnya satu tingkat di atas yang lain. Selain adegan tersebut, aku juga suka sama montase yang dilakukan film di awal-awal saat memperlihatkan Naya ‘hancur’ karena kematian Vino, ada satu momen ketika Naya duduk di depan TV, enggak nonton apa-apa melainkan hanya layar yang penuh ‘semut’. Kemelut perasaannya terasa banget.

Aku suka karakter Naya di sini, karena lingkupnya benar-benar digali. Film memperlihatkan masalah di dunia profesionalnya, di kehidupan romantisnya, hingga ke kehidupan keluarga saat Naya harus dealing with adik yang justru pengen membuat konten-konten Youtube bergimmick horor. Belief Naya digali, tantangan untuknya terus dinaikkan. Karakter ini ‘sibuk’, sampai hampir seperti tak ada waktu baginya untuk ngurusin soal hantu, sampai Vino datang membuatnya jadi lebih personal bagi Naya. Vino bahkan ditulis lebih dalam lagi dibandingkan dengan karakternya di film pertama. Kita bakal melihat apa yang dilakukannya di masa lalu, hubungannya dengan ibu. Deva Mahenra di sini gak lagi mainin karakter yang hanya tampak awkward. Persona dari karakternya digali, bahkan aku merasa cerita kali ini lebih cocok sebagai cerita dirinya. Like, harusnya dia yang tokoh utama. Seiring durasi berjalan, film memang terasa kayak ‘pindah’ dari Naya ke Vino. Soal idealisme menulis jadi terpinggirkan, karena memang Naya harus berurusan dengan hantu, yang juga mendadak diungkap punya konflik yang lebih gede. Resolusi kisah Vino actually lebih terasa earned. Lebih kuat ketimbang persoalan menulis Naya, yang terasa kayak dikasih reward dengan cara yang dibikin kayak kebetulan. Also, sisi Naya membuat usaha-usaha yang mereka ambil jadi konyol. Misalnya, pas mereka sepakat membantu si hantu seram dengan bikin konten di Youtube, usaha yang mereka lakukan untuk mencari satu tempat tertentu cuma merefresh komen. Mungkin relevan dengan jaman sekarang, tapi merefresh kolom komen enggak tertranslasikan sebagai usaha yang greget dalam sebuah pengalaman sinema.

Yang kayak gini nih yang bikin aku merasa era kekinian kita enggak asik untuk dijadikan periode cerita film

 

In the end, keseluruhan permasalahan Vino yang seputar keluarga tampak lebih urgen, lebih paralel dengan sosok hantu mengerikan. Walaupun memang tanpa Naya, hantu-hantu itu gak bakal bisa menyelesaikan urusan mereka.

Untuk menjawab galau kreatifnya Naya, film menyediakan jawaban/gagasan yang dikaitkan dengan kebutuhan manusia untuk terkoneksi. Permasalahan koneksi ini ditonjolkan film lewat bagaimana para hantu seperti Vino bisa dilihat manusia yang memegang benda-benda yang punya makna bagi si hantu. Bahwa mereka masih terkoneksi dengan hidup, dengan manusia, dan mereka butuh untuk deal with that connection. Jadi seaneh apapun cara kita konek dengan orang, yang terpenting adalah bagaimana koneksi itu bisa ada karena itulah yang membuat keberadaan kita bermakna. Naya berdamai dengan tipe tulisan yang ia kerjakan karena dia belajar yang terpenting adalah dia bisa konek dengan pembaca.

 

Dari tiga kepaduan; drama, horor, dan komedi, memang jadinya aspek komedi film ini yang tampak paling lemah. Atau seenggaknya, yang mengganggu tempo cerita. Dari segi kreasi, memang juga kreatif. Komedi diangkat lewat beberapa cara. Ada yang dari sketsa yang difungsikan sebagai jembatan dari adegan satu ke adegan lain.  Ada yang berupa celetukan yang mengomentari posisi karakter di titik cerita sekarang (cara yang juga sudah dilakukan sejak film pertamanya), lalu komedi yang benar-benar nyatu ke cerita – entah itu dari reaksi karakter, ataupun dari opini dan sikap mereka yang kocak. Itu semuanya fine dan memang menghadirkan ciri khas tersendiri buat film ini. Tapi kalo itu dilakukan dengan ‘mengorbankan’ pengembangan yang lain, membuat tempo cerita jadi sedikit terhambat, maka certainly I will have problem with that.

Daripada ngasih waktu untuk sketsa, kan lebih mending dipakai untuk benar-benar liatin backstory Vino dengan ibunya. Linear, gak usah lagi pakai flashback seperti yang dilakukan film ini. Flashback yang kumaksud di sini adalah soal Vino dan ibunya, yang tidak dilakukan linear oleh film melainkan lewat ujug-ujug revealing. Kalo flashback soal backstory si ‘hantu jahat’ sih, mungkin memang tidak bisa tidak (problemku untuk ini cuma.. c’mon, tau-tau ada sindikat jual organ, kayak di luar dunia cerita banget – permasalahannya gede sendiri) Anyway, yang jelas, penceritaan bisa lebih rapi kalo enggak kebanyakan komedi yang sebenarnya gak benar-benar menambah untuk cerita. Lagipula sebenarnya komedi sudah cukup terwakili dari aksi dan reaksi karakter. Tokoh sentral kayak Naya dan Vino (apalagi adik Naya dan temannya) dapat porsi ngelawak yang sudah efektif masuk ke dalam cerita. Karenanya, komedi mereka lantas jadi natural. Deva Mahenra punya comedic timing dan delivery dan persona yang bikin ngakak tanpa harus jadi lebay. Yang klop tektokan dengan Naya-nya Tatjana yang harus put up with situation. Sehingga sebenarnya gak perlu lagi sering-sering balik ke sketsa-sketsa yang kepanjangan.

 

 

 

 

Pembahasan ceritanya banyak, genrenya aja ada tiga; drama horor komedi, certainly ini bukan film yang gak punya tantangan untuk dibuat. Makanya ini perlu banget kita apresiasi, lantaran sudah cukup berhasil memadupadankan semua menjadi satu petualangan misteri yang menghibur dengan gaya dan karakter-karakternya yang nyantol. Kali ini protagonis utama agak sedikit kalah urgen ketimbang pasangannya, tapi film berjuang untuk tetap membuat protagonis sebagai sentral. Overall aku lebih suka film keduanya ini dibandingkan yang pertama. Formulanya sebenarnya hampir sama, tapi di film kali ini karakter dan bahasannya lebih dalam dan personal. Satu lagi hal yang dipertahankan film, hanya kalo yang ini menurutku harusnya dikurangi sedikit, yaitu porsi komedi sketsa dan komedi celetukannya. Mengganggu tempo dan membuat film jadi harus pakai flashback untuk adegan yang mestinya bisa runut.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GHOST WRITER 2

 

 



That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang gimmick, seperti Naya yang nulis tapi harus nulis horor dan berlagak dukun terus? Apakah menurut kalian tidak mengapa seorang seniman (aktor atau penulis dsb) terus mengerjakan yang populer saja?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 


MEN Review

 

“No one can send you on a guilt trip without your permission”

 

 

Sebagai cowok, tak bisa kupungkiri, tuntutan untuk tampil ‘kuat’ itu seringkali memang ada. Bahkan dalam bentuk terkecil, lingkup sehari-sehari sekalipun, cowok sedapat mungkin diharapkan untuk tidak menunjukkan kelemahan. Tidak memperlihatkan sisi ke-vulnerable-an. Mau itu kenalan atau berdebat, cowok harus memulai duluan, dan harus dapet the last word. Kalo dibales, lawan terus. Cowok juga pantang nunggu disuruh, harus langsung take action. Permisi? Gak perlu izin-izinan. Cowok harus bisa ambil inisiatif duluan. Tuntutan-tuntutan sosial seperti itu memupuk ego para cowok. Hingga ke titik gak sehat cowok harus terus menunjukkan dominasinya. Walaupun mereka tahu mereka yang salah, walaupun mereka tahu mereka yang ngarep, mereka yang butuh, cowok akan melakukan apapun untuk assert the dominance.  Akar konflik utama dalam Men, horor simbolik terbaru Alex Garland basically adalah cowok yang mengemis untuk dimengerti oleh ceweknya, tapi karena dia cowok, maka ia menunjukkan itu dengan membuat semuanya jadi toxic, menyengsarakan, dan mengerikan bagi semua orang. Terutama bagi ceweknya.

Cewek yang dimaksud bernama Harper (diperankan oleh Jessie Buckley yang benar-benar ngasih gambaran seseorang yang terluka dalam secara emosional). Harper menyewa rumah untuk beberapa hari di pedesaan di Inggris.  Niatnya sih dia mau healing, karena baru saja mengalami ‘perceraian’ yang dahsyat dengan suami. Mereka bertengkar, Harper ngancem pergi, dan si suami ngancem akan bunuh diri kalo Harper pergi. And he did it. Harper menyaksikan raut hopeless suaminya saat pria itu terjun dari atap apartemen. Adegan peristiwa itu yang terus terbayang di benak Harper sehingga dia berlibur ke desa untuk menghilangkan semua itu. Namun orang-orang di desa itu tampak gak beres. Semua pria yang Harper temui di sana, mulai dari empunya rumah, polisi, anak remaja, hingga pendeta (kesemuanya diperankan oleh aktor yang sama, Rory Kinnear) cenderung mempersalahkan dirinya. Mengjudge dia atas hal-hal yang ia lakukan, termasuk perihal kematian suami. Keadaan menjadi semakin menakutkan bagi Harper tatkala seorang pria misterius tanpa-busana muncul di halaman rumah sewaannya.

Seolah dia adalah Adam, yang ingin menuntut tanggung jawab dari Harper yang jadi Hawa

 

Rural atau Folk Horror yang efektif selalu menggali lebih dalam daripada sekadar orang kota berkunjung ke desa yang ternyata mengerikan. Walaupun memang tak sedikit juga horor yang bekerja cuma sampai pada level desa dipandang sebagai tempat yang angker, atau kuno, dan sebagainya, tetapi sesungguhnya yang namanya horor selalu berasal dari dalam. Untungnya, Alex Garland paham hal tersebut. Dalam Men ini, Garland tidak membuat film dangkal yang horornya berasal dari luar. Ya, orang di desa yang dijumpai oleh Harper bertingkah aneh, kurang ajar, dan menyeramkan. Tapi benarkah demikian? Garland mengangkat pertanyaan tentang itu dengan membuat pria-pria tersebut diperankan oleh aktor yang sama. Apakah ceritanya mereka semua kembar? Tentu tidak. See, yang namanya film selalu adalah soal perspektif. Maka, Garland mengarahkan kita untuk melihat orang yang melihat mereka semua sebagai orang yang sama. Kita difokuskan kepada Harper. Perempuan yang berkunjung demi melupakan traumanya. Trauma inilah yang sebenarnya jadi sumber horor yang dirinya alami selama di sana. Trauma inilah yang harus dia resolve, yang harus ia konfrontasi supaya benar-benar bisa ‘sembuh’. Dengan itulah, Men menjelma menjadi rural horor yang efektif karena dia menggali horor bersumber dari emosional karakter utamanya.

Garland menggunakan kontras untuk menguarkan perasaan terasing. Desa yang hijau dan tampak sungguh hidup kayak lokasi negeri dongeng dapat jadi tempat yang begitu terpencil rasanya bagi Harper. Rumah nyaman dapat jadi creepy dan berbahaya saat dirinya sendirian, Selain itu, banyak simbol-simbol, metafora, yang digunakan Garland untuk menggambarkan keadaan horor yang menghantui Harper. Salah satu simbol yang ia gunakan adalah simbol agama. Begitu Harper sampai di rumah sewaan di desa di menit-menit awal cerita, Garland sudah langsung menanamkan pohon dan buah apel di layar. Dengan segera menekankan antara persamaan antara Harper yang memetik apel tanpa ijin dengan Hawa. Poin Garlan di sini adalah bahwa perempuan dipersalahkan. Poin yang jadi Harper’s belief sebagian besar durasi.

Memahami film ini memang agak tricky. Apalagi membuatnya, aku yakin. Kenapa? Karena ini adalah cerita yang mencoba membahas relasi antara laki-laki dan perempuan, antara maskulin dan feminim, yang ceritanya dibuat oleh laki-laki, tapi mengambil sudut pandang perempuan. Bahkan, aku mereview ini saja ngeri. Takut terdengar seperti mansplaining perasaan yang dialami oleh perempuan dalam posisi Harper. Perempuan yang merasa dipersalahkan. Yang dituduh telah menyebabkan suaminya bunuh diri. Dia percaya dia gak salah, bahwa suaminya mati karena pilihan sendiri. Bahwa mereka bertengkar karena suaminya semakin toxic. Begitu banyak film yang membahas mengenai perempuan di dunia yang didominasi oleh racun maskulinitas pria, yang mencoba mengangkat sudut pandang perempuan sebagai korban dan membuat semua karakter pria sebagai misoginis brengsek. Film-film itu biasanya membuat protagonis perempuan yang gak-punya salah dan keseluruhan film menunjukkan bagaimana dunia terbentuk menjadi tempat berbahaya bagi perempuan. Film Men ini tidak seperti itu. Di sini letak tricky-nya. Tentu, film ini tidak meleng dari perangai pria yang lebih suka menyalahkan perempuan daripada ngakuin ke-vulnerable-an sendiri, tapi Men juga berani mengangkat bagaimana perempuan juga tidak sepenuhnya benar. Karenanya, salah-salah film ini bisa terlihat sebagai kelitan pria bahwa sebenarnya mereka gak bersalah.  Harper memang punya salah. Dia merasa dihantui seperti itu (mendengar gema suaranya aja dia jadi takut sendiri) tentu karena dia merasa bersalah terhadap sesuatu. Nah, penggalian terhadap itulah – realisasi Harper terhadap salahnya apa – itulah yang berusaha dihadirkan film yang have no choices menceritakannya dengan simbol-simbol dan penggambaran membingungkan. Semata karena film ingin respek terhadap sudut pandang yang berusaha digambarkan.

‘Kesalahan’ Harper cuma dia membiarkan dirinya kena guilt trip dari suami, dan kemudian dari para pria di desa, dengan terus avoiding confrontation. Hanya setelah dia mau duduk membicarakan masalah dengan para horor di akhir cerita itulah, Harper akhirnya menemukan kedamaian. Bahwa dia kini yakin dirinya sepenuhnya tidak-bersalah, tidak ada lagi ruang keraguan. Yea, Harper mungkin mematahkan hati suaminya (digambarkan lewat para pria di desa yang patah kaki dan tangan terbelah karena ‘ulah’ Harper membela diri) tapi bukan dirinya yang membuat suaminya bunuh diri. Dengan menunjukkan ‘kesalahan’ Harper, film ingin memperlihatkan bahwa most of the time perempuan bisa terus dipersalahkan hanya karena sikap pria yang tak terkonfrontasi.

 

Adegan hamil paling disturbing!!

 

Jika penampilan eerie Kinnear yang begitu luas rangenya itu belum berhasil bikin kalian takut, jika segala kilasan imaji-imaji patung nan surealis belum bikin kalian merinding, jika gema suara Harper belum bisa bikin kalian merapatkan kepala ke dalam selimut, well, Men masih punya satu senjata-horor lagi.  ‘Senjata’ yang berhasil bikin film ini jadi salah satu horor tergila. Garland juga menyiapkan elemen body-horor ke dalam cerita. Menjelang akhir kita akan disuguhkan pemandangan disturbing ketika si pria telanjang misterius melahirkan seorang pria, dan pria itu melahirkan pria lain yang dijumpai Harper di desa. Siklus melahirkan yang terus berulang. Membayangkan adegan cowok melahirkan aja udah bikin makan malam serasa mau melompat keluar. Film ini punya berkali-kali melahirkan bukan bayi tapi manusia dewasa, lengkap dengan darah dan cairan ketuban, dan ditambah ngeri pula dengan ‘lubang’ lahir yang berbeda-beda. Ada yang menyeruak dari punggung, ada yang dari mulut, ugh! Benar-benar horrifying! Semengerikan makna yang dikandungnya. Bahwa cowok di mana-mana sama, dan mereka seperti itu karena turun-temurun dibesarkan dengan pandangan – atau juga tuntutan – untuk menjadi toxic seperti yang sudah kujelaskan di pembuka ulasan.

Ngomong-ngomong soal makna, film Men yang sedari awal enak untuk dikulik dan dipikirkan mendadak terasa kayak cuek di akhir. Simbol dan kejadian-kejadian sureal diarahkan untuk menjadi ambigu dalam usaha film untuk tak terlihat menyalahkan karakter perempuannya. Ambigu, sampai-sampai di akhir cerita penonton malah jadi tidak yakin apakah semuanya nyata atau tidak. Jika ini tidak nyata, tapi toh film memperlihatkan bekas-bekas kejadian. Tapinya lagi jika nyata, film memperlihatkan banyak hal yang mengundang pertanyaan bagaimana bisa itu semua beneran terjadi tanpa ngasih jawabannya. Semuanya tampak seperti dilempar sebagai open interpretation, walaupun di titik akhir itu kita bisa menyimpulkan makna dan gagasan cerita. Menurutku pilihan ini dapat membuat penonton jadi bingung dan merasa tidak ada pay-off. Dan aku gak yakin ini film membuat pilihan yang benar dalam mengakhiri ceritanya.

 

 

Dari rural horor ke body horor, sesungguhnya film ini adalah gambaran horor yang surealis dari tantangan /kesulitan yang harus dihadapi perempuan dalam kehidupan sehari-hari. Makanya film ini terasa disturbing luar dalam. Luarnya penuh imaji yang aneh dan benar-benar bikin gak nyaman. Dimainkan dengan luar biasa sehingga nuansa creepy itu benar-benar terdeliver. Sementara dalamnya sukses bikin kita tercenung, merenungkan relasi perempuan dan laki-laki yang kian gak-sehat. Film berusaha respek dan tidak ikut menyalahkan satu pihak, sehingga pada akhirnya memilih untuk menjadi ambigu. Dan dengan menjadi itu, film sedikit kehilangan powernya. But in the end, film ini tetap salah satu penceritaan horor yang menohok. Terasa beneran seram karena mengangkat hal dari dalam. Hal yang memang beresonansi dengan permasalahan mendasar manusia. Women and men.
The Palace of Wisdom gives 7.5  out of 10 gold stars for MEN

 

 

That’s all we have for now.

Menonton film di atas, apakah ada terbersit dalam hati untuk merasa kasian kepada laki-laki tokoh ceritanya? Bagaimana pendapat kalian tentang si pria-hijau-telanjang?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

THOR: LOVE AND THUNDER Review

 

“The saddest thing about betrayal is it never comes from your enemies”

 

 

Dikhianati itu memang gak enak. Rasanya nyelekit banget. Bayangkan kita sudah menaruh harapan kepada orang,  kita sudah begitu percaya mereka akan either memegang rahasia, menepati janji, atau selalu ada saat dibutuhkan, tapi ternyata mereka tidak menganggap harapan dan kepercayaan kita kepada mereka sebagai sesuatu yang berharga. Di situlah letak sakitnya; yang disebut berkhianat itu pelakunya bukan musuh yang kita benci. Tapi justru orang yang kita sayang, Yang kita percaya. Penguasa, misalnya. I hate to get political saat ngomongin superhero yang harusnya fun, tapi sepertinya memang itulah yang sedikit disentil oleh Taika Waititi dalam projek Thor kedua yang ia tangani; Thor keempat – Love and Thunder. Origin karakter penjahat utama di film ini ia hadirkan sebagai seseorang yang merasa dikhianati oleh dewa yang ia puja. Bahwa dewanya tidak menolong saat sedang kesusahan. Bahwa dewa hanya mau dipuja. Sehingga si karakter bersumpah untuk membasmi semua dewa di dunia. Tentu saja ini jadi cikal konflik yang menarik, karena protagonis yang kita semua sudah kenal di cerita ini adalah Thor, yang juga seorang dewa.

Namun Thor bukan dewa sembarang dewa. Thor telah melalui begitu banyak. Seperti yang dinarasikan oleh si monster batu Korg (disuarakan langsung oleh pak sutradara) lewat adegan eksposisi yang merangkum perjalanan karakter Thor dari tiga film sebelumnya, Thor adalah dewa yang ngalamin naik-turunnya kehidupan. Dia bukan dewa agung yang duduk di singgasana emas sambil makan anggur. Thor adalah dewa superhero yang berjuang menyelamatkan dunia. Thor pernah terpuruk hingga badannya gemuk. Thor pernah kehilangan sahabat, saudara, keluarga, dan bahkan pacar. Jika ada dewa yang bisa menaruh simpati kepada Gorr (nama karakter yang  dendam kepada para dewa itu) maka Thor-lah dewanya.

Setting dan latar cerita film ini sebenarnya sudah perfect. Lupakan dulu multiverse dan karakter Marvel lain (tim Guardians of the Galaxy yang sempat muncul sebagai penyambung film ini dengan sebelumnya pun akan segera menyingkir), Thor Empat ini kembali kepada sebuah cerita yang berdiri di dalam franchisenya sendiri. Film ini hadir dengan stake gede yang personal, yaitu pemusnahan para dewa (termasuk Thor) sekaligus mengangkat pertanyaan bukankah sebaiknya memang para dewa penguasa lalim itu musnah saja? Sebelum membahas itu lebih lanjut, film menghadirkan satu aspek menarik lagi buat Thor. Supaya Thor (Chris Hemsworth tampak makin prima – physically and mentally – mainin karakter ini) semakin tergali tidak cuma sebatas bereaksi terhadap tindakan Gorr, dia dibuat berkonfrontasi dengan Jane Foster (Natalie Portman, welcome baaacccckkk!) yang kini punya kekuatan dan atribut serupa si Dewa Guntur, lengkap dengan senjata lama milik Thor yakni Palu Mjolnir. So in a way, film dengan gaya tuturnya yang kocak ini turut menggali gimana Thor merasa ‘dikhinati’ oleh senjata lamanya yang kini memihak mantannya.

Need more Darcy. Darcy is the GOAT!

 

Meski berusaha untuk hadir sebagai kisah sendiri (another classic adventure of Thor!) tapi memang terasa film ini sedikit kerepotan dengan karakter-karakternya. Dalam pengembangannya, Thor terasa jadi kurang sepadan dengan Gorr, dalam artian journeynya tidak benar-benar paralel. Pun sedari awal, alur film ini bergerak lewat keputusan dan aksi dari Gorr, yang posisinya adalah penjahat. Film ini mirip sama Avengers Infinity War (2018), yang Thanos, penjahatnya lebih cocok sebagai karakter utama sementara para karakter superhero bereaksi terhadap tindakan yang ia lakukan.  Di sisi lain, aspek ini mengindikasikan satu hal positif. Yaitu film ini – seperti halnya Infinity War – punya karakter villain yang ditulis dengan solid. Aspek yang langka dalam genre superhero secara keseluruhan. Penjahatnya gak sekadar pengen nguasain atau bikin hancur dunia. Melainkan, ngasih sesuatu untuk kita pikirkan. Dalam hal ini adalah soal penguasa.  Secara karakterisasi, Thor memang kalah ‘kuat’. Selain hanya lebih berupa bereaksi, pembelajaran yang ia alami pun kurang nendang dan kurang sejalan. Bagi Thor yang aware sama konflik yang mendera Gorr, perkembangan karakter cuma di awal dia show off sendiri dan nanti di akhir cerita dia jadi lebih luwer berteam work. Termasuk di antaranya membagi kekuatan dengan anak-anak – yang kuakui ini jadi aspek yang seru dan memuaskan karena aku sudah lama minta ini kepada film-film superhero hiburan. Libatkan anak-anak. Bikin mereka ngerasain jadi superhero itu seperti apa. Anyway, pembelajaran Thor intinya adalah learn to trust, dia juga gak insecure lagi sama Jane dan Mjolnir yang jadi superhero, yang fungsinya kayak cuma ngasih lihat bahwa ada Dewa yang ‘bener’.

Makanya Thor justru lebih cocok dengan penjahat sampingan yang muncul di film ini. Dewa Zeus (portrayal yang kocak dari Russel Crowe hihihi)  Pemimpin para dewa seluruh mitologi itu ternyata seorang yang pengecut dan memikirkan keselamatan golongannya sendiri. Permasalahan Thor dengan Zeus justru seperti disimpan untuk film berikutnya. Interaksi mereka masih dibiarkan terbatas, Zeus hanya muncul di satu sekuen. Setelah itu, Thor kembali fokus ke permasalahan dengan Gorr si God Butcher. Nah, justru Jane Foster yang jadi Mighty Thor yang ternyata lebih paralel dengan permasalahan Gorr; mereka sama-sama mortal yang dapat kekuatan. Tapi menggunakannya dengan berbeda. Jane yang mengidap kanker, beralih kepada kekuatan dewa untuk jadi obat. Penyakitnya tidak sembuh, melainkan jadi makin parah, tapi dia tetap berusaha kuat dan memilih untuk menggunakan sisa waktunya menjadi superhero. Bertarung bahu-membahu dengan Thor. Beda dengan Gorr yang seketika kecewa dengan dewa, dan menggunakan kutukan yang mengonsumsi dirinya dengan kekuatan bayangan itu untuk membunuh dan balas dendam. Walau motivasinya kayak Kratos di game God of War original, karakter Gorr sebenarnya deep. Christian Bale tahu ini dan memainkan karakternya yang perlahan semakin meng-zombie itu (bentukannya jadi mirip Marylin Manson!) dengan tone menyeramkan sekaligus menyedihkan.

Adegan Thor ke tempat jamuan para dewa, menjelaskan duduk perkara Gorr dan meminta bantuan, tapi malah dilepehin dan disuruh duduk tenang aja di situ seperti menyentil penguasa yang gak peduli sama rakyat. Yang ternyata hanya menjadikan rakyat sebagai sacrifice, yang bukan saja membiarkan tapi justru balik menyalahkan rakyat. Yang taunya cuma minta dilayanin dan dipuja. yang antikritik. Yang gak bertanggungjawab sama sekali terhadap kekuasaan yang dimiliki. Kalau diliat-liat kondisinya  mirip terjadi kepada rakyat Indonesia waktu pas harga minyak naik, dan rakyat malah disuruh jangan sering-sering pakai minyak goreng. 

 

Memang at the heart, permasalahan yang disentil Taika di film ini bukan permasalahan sepele. Ada orang yang marah sama Dewa (yang dalam konteks karakter tersebut adalah Tuhan) sehingga berontak dan memburu dewa. Menggunakan anak-anak dalam prosesnya. Yang juga kalo ditarik relasinya ke kita, dewa di sini bisa berarti penguasa. Pemerintah yang tak bertanggungjawab kepada rakyat meskipun janji duduk di atas sana sebagai pemimpin dan wakil rakyat. Lalu ada juga soal relasi asmara yang complicated antara Thor dengan Jane. Kalo film ini digarap Indonesia aku yakin jadinya bakal superhero yang muram dan dark lagi. Itulah hebatnya Taika Waititi, dan Marvel Studios for the matter. Karena mereka selalu bisa membuatnya ke dalam penceritaan yang ringan. Tanpa mengurangi bobot gagasan atau temanya sendiri. Thor: Love and Thunder tetap hadir dengan humor receh yang timbul dari karakter bertingkah norak (supaya mereka tetap grounded) kayak waktu di Thor: Ragnarok (2017). Tentu ini tantangan yang gak gampang. Taika Waititi toh tidak sepenuhnya berhasil meleburkan dua tone kontras. Film ini sedikit tertatih ketika berusaha menyampaikan hal yang serius dengan nada konyol.  But in the end, film ini masih termasuk golongan film yang menghibur. Yang ringan. Yang masih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak lewat bimbingan orang tua.

Bayangkan pekikan kedua kambing raksasa Thor kalo mereka tahu beberapa hari lagi Idul Adha

 

Taika bukannya gak aware, sutradara yang gaya humornya unik ini bijak untuk tidak terus-terusan ngepush tingkah norak dan receh karakter. Porsinya memang sedikit dikurangi ketimbang Ragnarok. Taika mengalihkan komedinya kepada cara menuturkan. Sebenarnya film ini banyak bagian eksposisi. Nah, Taika menghandle itu dengan dijadikan gimmick komedi. Kadang dia membuatnya sebagai tontonan pertunjukan, kadang dia juga membuatnya sebagai cerita api-unggun, you know, bergaya narasi paparan oleh Korg, ataupun dia memainkan eksposisi ke dalam montase genre. Kayak ketika menjelaskan hubungan masa lalu antara Thor dan Jane, film membuatnya ke dalam narasi situasi dalam rom-com. Sentuhan-sentuhan ini jadi memperkaya range komedi yang bisa dilakukan oleh film Thor. Membuat filmnya sendiri jadi terus menarik. Sehingga walaupun kadang tonenya timpang, atau recehnya just not work, film ini masih terus mengalir dalam bercerita.

 

 

 

 

Ini merupakan film stand-alone MCU pertama yang mencapai film keempat, dan berhasil terasa tetap fresh. Progres tokoh utamanya terasa. Eksplorasi ceritanya terus berkembang dan berhasil terjaga dalam konteks dunia itu saja. Yang adalah permasalahan dunia dewa-dewa.  Sekali lagi Taika Waititi berhasil membuat mereka grounded dengan permasalahan yang relevan. Gaya komedi, arahan colorful, musik rock, dan karakter-karakternya masih tetap ajaib, membuat film semakin menghibur. Personal favoritku adalah film ini melibatkan anak-anak dalam cerita dan aksinya. Sedikit issue pada tone karena cerita bermuatan cukup serius, tapi tidak benar-benar mengganggu. Struggle sebenarnya film ini ada pada membuat bagaimana Thor bisa tetap relevan di cerita ini. Karakterisasinya kalah kuat, tapi film berhasil ngasih sedikit perkembangan pada Thor sekaligus menjadikannya hook ke petualangan classic berikutnya!
The Palace of Wisdom gives 7.5  out of 10 gold stars for THOR: LOVE AND THUNDER

 

 

That’s all we have for now.

Setujukah kalian penguasa di negeri kita udah kayak dewa?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

SING STREET Review – [2016 RePOST]

 

“Arts are the very human way of making life more bearable.”

 

 

 

Salah satu perasaan paling menyenangkan sedunia, salah satu momen paling penting dalam hidup, adalah saat menemukan orang yang memiliki kesukaan yang sama dengan kita, the ones who share our obsessions. You know, yang effortlessly saling mengerti, yang bisa jadi lawan bicara berjam-jam soal suatu ide. People who you want to ‘make an art’ with.

 

Masa remaja Connor diisinya dengan dengerin musik, yang awalnya disebabkan lantaran Connor (sukar dipercaya kalo ini adalah debut film dari Ferdia Walsh-Peelo, saking compellingnya!) ingin meredam suara berantem kedua orangtuanya. Hidup pada jaman Duran-Duran (aaa Lupus bangeett!) mulai memperkenalkan konsep musik video, Connor sebenarnya enggak tahu apa-apa soal musik selain sebagai pelarian. Permainannya pas-pasan, dia bahkan enggak familiar dengan aliran musik, pengetahuannya sebatas yang hanya ia dengar dari omongan abangnya, Brendan (peran Jack Reynor ini sedikit mengingatkan kepada kehangatan uniknya tokoh Jack Black di School of Rock). Karena masalah ekonomi, Connor dipindahsekolahkan ke public school yang menjunjung erat nilai-nilai Katolik. Di sekolah yang semua muridnya cowok tersebut, sepatu warna coklat Connor enggak boleh dipake; harus hitam! Life is such a prison bagi Connor. Awalnya, Connor cuma seadanya, cuma se-existnya aja. Dia enggak melakukan apa-apa terhadap hidupnya. He’s just go with it; Ayah ibu berantem; dia bikin jadi lagu, Bully datang; “I’ll just take the punch.”

Momen pertama kita mulai merasakan ‘api’ di dalam diri Connor adalah ketika dia memberanikan diri mendekati cewek yang selalu berdiri di beranda rumah seberang sekolah mereka. Connor ngajak kenalan, dan turns out si cewek kece adalah seorang model. Apa akal Connor agar bisa kenal lebih akrab dan dapetin nomer Raphina (aura misterius yang natural dari Lucy Boynton) yang setahun lebih tua itu? Connor bilang dia lagi mencari model untuk video clip band mereka. Masalahnya adalah, there was no band!

Bikin musik itu ternyata sama dengan bikin film. Adalah sebuah proses yang required us untuk menemukan orang-orang yang sevisi. Proses yang enggak gampang, tapi sangat menyenangkan. Apalagi begitu sudah ketemu yang bener-bener ‘klik!”. Mau tahu apa lagi yang sama seperti demikian? Mencari jodoh.

 

Lewat film ini, beberapa di antara kita mungkin akan bernostalgia, beberapa akan pengen jadi anak band, beberapa akan reflecting so hard dan ujungnya baper. Maksudku, film ini sukses bekerja dengan baik dalam beberapa tingkatan. PUNYA BANYAK ELEMEN CERITA, yang kesemuanya dikonstruksi very tight, diceritakan dengan well-thought dan highly coherent. Sebagai period piece, Kota Dublin di Irlandia pada tengah 80an terhidupkan dengan baik. Kita lihat anak-anak muda di sana, Connor dan temen-temennya, follows tren musik yang terus berkembang. Mereka juga terinspirasi dari film. Amerika sebagai kiblat, dan London adalah tempat yang ingin mereka tuju. Bahkan Synge Street, sekolah mereka, worked greatly sebagai simbol penjara, sebagai tempat penting yang menempa kreasi dan pemasok bahan bakar pribadi Connor. Setting waktu dan tempat ini actually terintegrasi sempurna ke dalam cerita.

“Drive It Like You Stole It” is my favorite!

 

Penggemar musik jelas akan terhibur. Selain memberikan referensi beberapa pemusik yang udah jadi ikon, film ini juga membuat kita berdendang dengan lagu-lagu original yang asik punya. This is a fun, easy listened to, musical film. Menulis sebuah lagu, mendiskusikan nada-nadanya, mencari – aku enggak tahu istilahnya dalam musik – ‘lead’ atau ‘hook’ yang jadi appeal buat lagu itu, kemudian membuat video klip, ngumpulin properti, mereka adegan; rangkaian proses memproduksi musik yang mungkin enggak semua kita tahu tersebut tergambarkan luar biasa menyenangkan oleh film ini. Dan perjalanan musik band mereka sungguh asik untuk disimak. Menyebut diri sebagai aliran futurist, anak-anak Sing Street berevolusi dari Duran-Duran yang funky ke The Cure untuk kemudian akhirnya found their own beat. Dari yang tadinya untuk mengimpress Raphina, Connor realized musik adalah senjata terkuatnya untuk mengekspresikan diri.

Ini drama komedi yang kodratnya adalah film sedih, it tugs so many our heart strings. Namun arahan film ini mencegahnya untuk bermuram durja. Arahannya membuat cerita ini bersemangat tinggi! Tidak mellow berlebih. Kita bisa menikmati film ini sebagai kisah cinta remaja. The really sweet one, kalo boleh kutambahkan. Setiap anak cowok pasti ngimpi punya pacar yang keren. Begitu juga Connor. Tapi baginya, Raphina adalah kenyataan. Charm antarkedua tokoh ini worked magically. Kedua pemeran menyuguhkan penampilan akting yang supergrounded, dan terasa teramat real. Natural. Kita bisa rasakan cinta yang genuine tumbuh, tak hanya pada Connor dan surprisingly – bahkan mengejutkan buat dirinya sendiri – pada Raphina. Namun apa enaknya cinta tanpa konflik, maka film ini menulis dengan menarik  soal ‘beda dunia’ mereka dan berhasil membuat kita jadi sangat peduli sama nasib hati Connor. Lagu The Riddle of the Model hanyalah salah satu cara film ini mendeskripsikan relationship mereka di tahap-tahap awal. Membuat kiita mengantisipasi the bad outcome, we care for them, we want so much for them to be together in the end.

happy-sad

 

Pemusik basically adalah pemberontak. Kita juga bisa melihat film ini sebagai drama pembebasan diri dari sebuah sistem. Connor memakai riasan ke sekolah, meniru dandanan Simon Le Bon, David Bowie. Bukan hanya the looks, Connor mengimplementasikan juga attitude mereka ke dalam dirinya sendiri. Dia bahkan berakhir dengan nama panggung, Cosmo. Nama yang memiliki arti luar angkasa, as opposed to dunia sempit tempat ia tinggal.
Sebagai sebuah karakter, pertumbuhannya yang demikian ini membuat Connor begitu compelling. Kita sungguh terinvest kepada karakternya. Kita turut dibikin penasaran ke mana dia akan melangkah setelah ini, karya yang bagaimana lagi yang akan ia hasilkan, akankah dia sukses atau hanya akan berakhir seperti abangnya.

Yang membawa kita kepada cara ketiga melihat film ini. Sebagai drama persaudaraan kakak-beradik yang sangat emosional. Semua orang di sekitar Connor adalah individu-individu yang meninggalkan mimpi mereka karena, well, hidup harus realistis. Kayak saudara cewek Connor yang dulunya hobi melukis, namun setelah gede ia berhenti dan tekun belajar biar nilai di sekolah bagus. Abang Connor, Brendan, on the other hand, memilih dropout dari kuliah untuk mengejar cita-citanya sebagai pemusik. Sayangnya, sampai Connor remaja, Brendan belum berhasil meraih mimpinya itu. Namun sosok Brendan adalah guru bagi Connor. He listens and hang on to Brendan’s every words. Prinsip Brendan ‘kerjakan impianmu’ jadi semacam mantra yang membimbing Connor. As a character, Brendan ditulis dengan sangat kuat dan interesting. Dia sudah melewati banyak hal, endure so many hard things – kegagalan – di masa lalu. Dia ada pada titik hidup di mana pikirannya sudah begitu terbuka, dia mendukung semua orang yang punya mimpi, bahkan jika mimpi itu adalah menjadi karyawan. Baginya, Connor sudah lebih dari sekedar adik; Connor adalah dirinya waktu masih muda.
And this creates a great conflict di dalam dirinya. Ada adegan di mana Brendan beneran menumpahkan segala emosinya kepada Connor karena Brendan tidak ingin Connor gagal, while deep inside it also hurt him karena ia tidak mau ditinggal sukses. Ia akan kehilangan arti jika Connor gets his dream come trueHigh note pada hubungan antara Connor dan Brendan ini ditulis dengan sangat indah.

Bagian terbaik dari sebuah film adalah bagian endingnya. Dan film yang terbaik adalah film dengan banyak elemen yang saling berlapis. Sing Street punya kedua kualitas di atas. Each of its stories berkumpul manis di akhir, pada lokasi yang disimbolkan oleh lautan lepas. Aku enggak mau spoiler banyak, namun perasaan accomplished, perasaan bebas, tergambar dengan megah. Setiap akhir film adalah suatu awalan yang baru, dan yes kita bisa merasakan gamangnya Connor menghadapi apa yang ada di hadapannya.

 

 

I enjoy every seconds of it. Tidak ada nada sumbang dalam film ini. It was beautifully written. It has heart and soul. Penceritaan yang sangat kreatif. Dialog-dialog membuat kita gatel pengen mengutipnya. Karakter-karakternya terflesh out dengan sempurna, bahkan temen-temen anggota band — the brothers of the same cause – dan bully langganan Connor mendapat jatah ‘hati’ yang cukup. It was highly well-performed. Cerita remaja yang bittersweet. Penuh great humor, pula. Dengan lagu-lagu yang catchy, yang menyuarakan ambisi Connor, ketakutannya, romantic feelings, his growing pains, akan tetapi membuat film ini tidak terasa pretentious. Malahan, lebih sebagai sebuah suara harapan yang menginspirasi benak-benak muda yang beruntung sudah menontonnya.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for SING STREET.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners
and there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.

 

 

FANTASTIC BEASTS: THE SECRETS OF DUMBLEDORE Review

 

“Losing something is the only way to show you how important it was”

 

 

Fantastic Beasts seharusnya adalah proyek yang ajaib. Dan pada awalnya memanglah ajaib! Bayangkan sebuah buku pelajaran yang konsepnya lebih cocok disebut sebagai katalog, diubah menjadi kisah hidup ‘pengarangnya’ sepanjang karir mengumpulkan hewan-hewan fantastis.  Dijadikan cerita petualangan yang mungkin the easy way to do it adalah dengan membuatnya jadi kayak Pokemon, dengan pesona dunia sihir Harry Potter. Namun, empunya cerita ternyata punya misi yang lebih besar. Begitu sekuel Fantastic Beasts tayang di 2018, jelas sudah makhluk-makhluk sihir itu ternyata hanya tunggangan untuk sebuah greater good. Tapi greater good menurut penulisnya, loh. J.K. Rowling pengen mengembangkan lebih dalam sejarah dunia Harry Potter yang telah kita kenal. Dan sebagaimana para karakternya yang berusaha mencapai greater good dengan mengorbankan banyak hal, Rowling sendiri rela untuk menulis-ulang role dunia, mengubah-ngubahnya, membuat kita para fans mempertanyakan ulang informasi yang sudah kita dapatkan dari Harry Potter sebelumnya. Franchise Fantastic Beasts tak lagi terasa sebagai petualangan yang ajaib, melainkan sebagai sebuah perbaikan statement yang ambisius, Jadi, aku menonton film ketiganya (dari lima yang sudah direncanakan) yang masih digarap David Yates ini  dengan maksud untuk mencari jawaban atas dua pertanyaan. Seberapa besar lagi peran karakter utama – si Newt Scamander – dipinggirkan demi episode karakter lain. Dan seberapa besar lagi kehancuran yang dibuat film ini kepada nama Dumbledore.

Jawaban untuk pertanyaan yang pertama agak sedikit menggembirakan. Eddie Redmayne gak lagi sekadar bengong-bengong gugup di latar, gabut nungguin apa lagi yang harus dilakukan oleh karakternya, Newt Scamander. Makhluk-makhluk ajaib yang ia kumpulkan juga gak lagi cuma jadi penghias. Fantastic Beasts ketiga berusaha untuk kembali membuat cerita yang tentang hewan sihir, alih-alih cerita yang  hanya menampilkan mereka. Hewan sihir kembali diintegralkan ke dalam plot. Makhluk kuda bersisik yang disebut Qilin jadi rebutan Newt dengan gengnya si Grindelwald. Lantaran Qilin yang langka ini punya kemampuan untuk melihat hati penyihir. Qilin hanya akan bungkuk hormat kepada penyihir berhati mulia lagi bijaksana. Grindelwald pengen punya Qilin karena di dunia sihir lagi masa pemilu. Apparently, penyihir di masa hidup mereka memilih pemimpin internasional dengan cara voting. Qilin ingin digunakan Grindelwald, katakanlah, untuk semacam kampanye. Untuk jadi bukti dirinya pantas jadi pemimpin. Cerita film ini berkutat seputar Newt Scamander dan teman-temannya berusaha menggagalkan Grindelwald mendapatkan semua Qilin. Apa lagi kalo bukan dengan bantuan Dumbledore. Dumbledore dan Grindelwald udah kayak Prof X dan Magneto – jika dua mutant itu saling cinta. Mereka saling ngumpulin orang-orang kepercayaan, dan perang di antara kedua penyihir yang saling respek ini berlangsung lewat kelompok mereka.

 

So yea, exactly like Prof X – Magneto

 

 

Secara pengembangan mitologi dunia dan masukin cerita Newt ke dalam sejarah Dumbledore-Grindelwald, Fantastic Beasts ketiga ini memang terasa masih bego dan maksa. Tapi paling tidak, adegan-adegannya lebih enjoyable. Aku prefer lebih banyak adegan konyol seperti Newt jalan kepiting ketimbang eksposisi dunia politik sihir yang menjemukan. Dumbledore yang masih belum bisa turun tangan langsung melawan Grindelwald karena perjanjian darah yang mereka lakukan saat masih muda, membantu dengan cara khas dirinya sendiri. Potterhead pasti familiar dengan gaya Dumbledore tersebut, karena hal yang sama juga penyihir itu lakukan kepada trio kesayangan kita yang disuruh berburu Deathly Hallows. Di Fantastic Beasts kali ini, Dumbledore memberikan benda-benda khusus kepada Newt dan teman-temannya – tanpa penjelasan, dan mereka disuruh melakukan tugas masing-masing. Keseruan nonton film ini datang dari melihat bagaimana fungsi benda-benda tersebut terkuak seiring tugas yang terlihat random (baik bagi kita, apalagi bagi karakter cerita yang melakukannya). Jacob, misalnya. Fan-favorit karakter yang diperankan Dan Fogler ini dikasih tongkat sihir palsu oleh Dumbledore. Apa yang Jacob lakukan dengan tongkat itu bakal jadi salah satu pemantik komedi, dan pada gilirannya juga jadi alat yang membawa karakter ini kepada konsekuensi yang cukup tragis.

Lalu si Newt sendiri. Ia disuruh untuk memberikan koper ajaibnya yang berharga (karena berisi semua hewan sihir, termasuk satu lagi Qilin yang tersisa) kepada karakter penyihir cewek yang ceroboh. Kita bisa melihat dengan jelas Newt agak-agak gak rela, tapi jika kita jadi anak buah Dumbledore pertanyaannya akan selalu apakah kita benar-benar percaya dia atau tidak. ‘Blind faith’ orang-orang kepada Dumbledore memang jadi salah satu pesona dari karakter ini sejak dari franchise Harry Potter (ada konflik yang didedikasikan untuk mempercayai Snape yang dipercayai oleh Dumbledore). Itulah yang coba diulang kembali oleh film Fantastic Beasts ketiga ini. Elemen ini membuat film berhasil jadi sedikit lebih ringan. Enggak melulu jenuh oleh bahasan politik dan intrik dunia sihir. Cerita film ini memang masih terlampau too much (meski udah durasi dua setengah jam), tapi tidak terlalu terasa sesak. Kali ini terasa lebih punya ritme. Lebih kayak screenplay ketimbang novel yang divisualkan. Kehadiran penulis naskah memang langsung berasa. Tidak lagi Rowling menulis skrip sendirian, kali ini dia dibantu oleh Steve Kloves yang dulu jadi penulis naskah untuk film-film Harry Potter. Aku pribadi sih ngarepnya; ke depannya si Rowling enyah aja. Mending dia nulisin novel Fantastic Beasts lagi aja. Baru novelnya ‘disihir’ jadi skenario oleh scripwriter beneran. That’s how Harry Potter berjaya, kan. Tapi yah, mungkin sudah ogah balik berlama-lama seperti itu. Studio dan Rowling udah jadi males dan terus menggeber.

Akibatnya, baru di titik pertengahan ini, film ketiga Fantastic Beasts udah kerasa lifeless. Ini cerita tentang dunia sihir tapi tanpa sihir penceritaan.  Petualangan tadi, makhluk-makhluk magical, beberapa adegan di Hogswarts, bahkan akting-akting para pemeran tampak bagus sendiri-sendiri tapi tidak lantas jadi sebuah experience yang asik untuk disimak. Development karakter Newt hanya dipoint out dengan gamblang. Tidak jadi sebuah journey karakter yang mengalir. Film jadi kayak rentetan poin-poin dan statement belaka. Oh mereka harus nunjukin hewan ajaib. Oh mereka harus lihatin Dumbledore cinta ama Grindelwald. Oh mereka harus masukin quote-quote bijak dari Dumbledore. Oh mereka harus berikan diversity. Film cuma ingin memuat itu. Makanya sekalipun narasi bicara tentang cinta, pengorbanan, ataupun kehilangan, feeling tersebut gak nyampe. Malahan keseluruhan film ini terasa gak tulus, melainkan hanya seperti sebuah mesin pengungkap kejadian saja. Karakter penyihir internasional – yang jadi kandidat pemimpin – malah gak dapat dialog ataupun karakterisasi. Mereka cuma berdiri di sana sebagai simbol cerita film ini melingkupi belahan dunia lain.

Tema yang paralel pada karakter-karakter film ini adalah soal mengenali cinta lewat kehilangan. Newt harus pisah dengan Tina (yang btw direduce perannya dari heroine cewek ke karakter yang cuma muncul di akhir), dan dengan kopernya. Dumbledore yang harus bergulat dengan perasaannya terhadap Grindelwald yang jadi penyihir jahat. Dan bahkan Aberforth (adik Dumbledore) juga dapat bahasan yang serupa. Yakni mereka harus belajar bahwa kehilangan dan berpisah jalan bukan berarti hilangnya rasa cinta. Melainkan justru memperbesar karena baru dengan kehilangan sesuatulah kita jadi menghargai betapa pentingnya sesuatu tersebut.

 

Yang membawa kita kepada jawaban atas pertanyaanku yang kedua. Dumbledore. Film kedua berakhir dengan satu pengungkapan stupid soal Credence ternyata adalah keluarga Dumbledore. Kupikir film ketiga bakal banyak membahas tentang bagaimana sebenarnya hubungan Credence dengan Albus. Kembali ke persamaan dengan Prof X dan Magneto tadi, kupikir Credence paling enggak bakal semacam Juggernaut dan Prof X. Yang jelas, dari film kedua berakhir, seolah film ketiga bakal bahas keluarga ini lebih dalam. Tapi ternyata enggak. Albus Dumbledore gak banyak beda perannya dengan di film kedua. Credence hanya bertingkah galau sepanjang waktu (peran karakter Ezra Miller ini actually tetap gak bertambah dibanding sebelumnya) Peran Grindelwald juga tak banyak mendorong kemajuan franchise ini. Selain soal dia mau jadi pemimpin dunia, tidak banyak porsi cerita yang dialamatkan kepadanya. Walaupun basically Grindelwald yang kali ini punya pendekatan yang berbeda. Mads Mikkelsen yang menggantikan Johnny Depp memainkan Grindelwald yang lebih grounded. Dia tetap kejam tapi lebih ‘kalem’, sehingga terlihat lebih berbahaya.

Film ini punya Mikkelsen yang menghembuskan nyawa baru bagi sisi dramatis karakternya, dan di sisi satunya punya Jude Law sebagai Albus Dumbledore yang juga bermain sama manusiawinya, tapi yang berhasil dihasilkan film dari keduanya ini hanyalah “puff” angin kosong. Cerita tidak memberikan mereka lebih banyak waktu untuk berinteraksi. Sekalinya berduel, mereka juga tidak diberikan sesuatu yang wah. Aku paham film bisa jadi memang pengen menyimpan pertemuan epic itu untuk film terakhir. Tapi ya seenggaknya di film ini kasih sesuatu ‘teaser’lah. Yang bikin kita pengen melihat lebih banyak. Kedua aktor tersebut udah kayak memohon diberikan momen yang emosional, lihat saja akting mereka. Tapi film cuek bebek. Perihal cinta antara keduanya, film lebih memilih untuk membuat Dumbledore menyembut dengan gamblang “Because I love you” Gak ada subtlety, gak ada dinamika emosi, gak ada seni. Gak ada hati. Bagiku film ini kayak supaya J.K. Rowling punya kesempatan untuk membuktikan dirinya memang mendesain Dumbledore dan Grindelwald sebagai pasangan sedari awal. That scene seolah lebih penting untuk si Rowling ketimbang untuk para karakter cerita itu sendiri.

 

Dan mereka masih tetap kekeuh memperlihatkan Minerva McGonagall memang sudah mengajar di Hogwarts

 

 

Last straw bagiku adalah film kayak enggak mau capek-capek untuk membangun dunia dan komunitas sihir di era tersebut. Film banyak berjalan-jalan ke negara lain, tapi gak banyak perbedaan antara penyihir di Inggris dengan yang di Jerman, misalnya. They look all the same. Sama-sama kayak Muggle. Film ini udah kayak spy action biasa, kalo tongkat sihir diganti pistol atau pedang, potongan adegan film ini bisa diselipin ke dalam adegan King’s Man, and no one will notice. Inilah satu hal yang paling aku gak suka dari franchise Fantastic Beasts sedari awal; penyihirnya banyak yang berpakaian muggle, dengan sempurna. Dumbledore yang nyentrik – dan kalo lagi ‘nyamar’ jadi muggle selalu pakai kombinasi pakaian yang norak – di film ini dandan sharp dress semua. Bahkan di lingkungan Hogwarts dia memakai setelan necis muggle. Udah seri ketiga tapi film belum berhasil menjawab kenapa. Kenapa Dumbledore di Harry Potter seolah gak ngerti fashion muggle tapi di film ini yang timelinenya sebelum era cerita Potter, Dumbledore bisa kok berpakaian ‘normal’. Yang paling lucu adalah si Grindelwald. Dia yang begitu membenci muggle, pengen menghabisi muggle dari muka bumi, malah berpakaian ala muggle.

Aku gak ngerti kenapa film mengabaikan soal pakaian, karena justru pakaian itulah salah satu faktor yang bikin dunia sihir itu seru di Harry Potter. Pakaian mengingatkan kita bahwa kita berada di dunia sihir. Makanya film ini jadi semakin bland.  Udahlah penceritaannya standar, gak ada keajaiban dan gairah storytelling. Visualnya pun gak ajaib. Karakter-karakternya didesain dengan sama boringnya. Kecenderungan narasi untuk lebih membahas politik, dan ngasih statement sok relate (Grindelwald kayak presiden yang pengen membuat dunia sihir great again!), membuat setiap film Fantastic Beasts terasa sangat melelahkan. Film ketiga ini enggak terkecuali.

 

 

 

Meskipun lebih enjoyable karena mengembalikan sisi adventure yang fun, tapi film ini tetap penuh oleh hal-hal yang maksa. Tema politik kekuasannya dibahas hanya ala kadar, sehingga hanya jadi memberatkan. Perkembangan karakter disampaikan ala kadarnya. Begitu juga dengan bahasan konflik. Banyak yang dilanjutkan sekenanya, kayak persoalan Queenie yang tau-tau masuk kelompok jahat di film kedua. Sehingga di akhir, film ini kayak gak ada bedanya kalopun urutannya ditempatkan sebagai film kedua. Film tidak punya banyak kesempatan untuk berkembang dengan penuh wonder dan keajaiban karena fokus pada memperlihatkan statement-statement.  Seperti yang dilakukan oleh Grindelwald, film ini juga mencoba menghidupkan kembali franchise yang mestinya sudah mati di film kedua dan memaksanya untuk mengeluarkan feeling.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for FANTASTIC BEASTS: THE SECRETS OF DUMBLEDORE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang franchise Fantastic Beasts sejauh ini? Apakah kalian masih penasaran menunggu kelanjutannya?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DRIVE MY CAR Review

“Silence is a universal language”

 

 

Utangku mengulas nominasi Best Picture Oscar 2022 tinggal satu ini, yakni film Drive My Car. Dari urutan, sebenarnya film ini bukan yang terakhir aku tonton dari sepuluh nominasi tersebut. Aku hanya, agak kesulitan menuntaskan tontonan drama berdurasi tiga-jam-kurang-semenit ini. Yea, durasi tersebut benar-benar kerasa di film ini. Ceritanya berjalan kaku, karakternya menjaga jarak bukan hanya kepada karakter lain, tapi juga kepada kita yang nonton. Meskipun kita udah tahu momok yang menghantui perasaannya, namun perasaan diskonek itu tetap ada. Baru kemudian aku menyadari, storytelling demikian ternyata memang disengaja, karena itulah ‘bahasa’ film ini. Dan bahasa actually jadi salah satu tema mencuat di dalam narasi. Sekarang setelah aku sudah bicara dengan ‘bahasa’ yang sama dengan film karya Ryusuke Hamaguchi ini, aku bisa bilang tepat film kuulas paling belakangan, karena objectively, sebagai bahasan karakter, this is indeed the best for the last.

Walau gak punya ketertarikan sama kendaraan apapun, I know for a fact bahwa ada cowok yang benar-benar sayang ama mobilnya. Sayang dalam artian menganggap mobil itu sebagai sesuatu yang sangat personal. Ayahku adalah salah satunya; beliau protektif banget sama mobil. Gak mau sembarangan ngasih ijin kepada orang-orang, bahkan kepada saudara, untuk mengendarai mobilnya. Di dalam kendaraan itu, ayah punya aturan sendiri. My dad is already a strict person, tapi di dalam mobil, dia bisa lebih keras lagi. Dari ngidupin mesin hingga buka jendela aja ada ‘tata kramanya’. Belajar nyetir pakai mobil itu udah jadi siksaan mental tersendiri bagiku. Jadi aku tahu, sebuah mobil bisa berarti sedemikian personal bagi pemiliknya.

Dari ‘fenomena’ semacam itulah, karakter dan cerita Drive My Car berangkat. Seorang aktor dan sutradara teater bernama Yusuke punya kebiasaan berlatih dialog di dalam mobil merahnya, selama perjalanan ke tempat bekerja. Namun Yusuke hidupnya semakin banyak masalah. Anaknya meninggal, istri yang selingkuh tapi belum sempat (baca: tega) ia konfrontasi meninggal, kini sebelah matanya pun punya masalah pandangan. Kontrak proyek teater terbaru yang ia terima, mengharuskan Yusuke untuk ke luar kota dengan diantar oleh sopir. Yusuke harus diantar ke mana-mana. Kebayang dong, perasaan Yusuke saat harus menyerahkan kuncinya kepada seorang wanita muda tak-dikenal bernama Misaki. Ternyata itu justru jadi healing yang mujarab. Bagi kedua pihak! Karena Misaki ternyata sama ‘pendiam’nya, sama-sama memendam kecamuk duka dan kehilangan dan rasa bersalah, seperti Yusuke.

carDrive-My-Car-1
Untung mobil merahnya bukan si jago mogok

 

Mobil dalam cerita ini tersimbolkan sebagai personal space. Di dalam mobilnya Yusuke punya ‘ritual’. Dia latihan dialog dengan suara rekaman istrinya. Dialog dari teater yang ia pilih merepresentasikan permasalahannya dengan sang istri. Secara fisik, gambaran mobil itu pun merepresentasikan kekhususan bagi Yusuke. Di jalanan dia tampak distinctive dengan warna merah, dan setir kiri (as opposed to setir kanan kayak di Indonesia). Yusuke kan juga ‘berbeda’ seperti itu. Dia lebih kalem dibandingkan orang-orang lain.

Film ini punya lapisan yang begitu banyak dari penyimbolan terkuat sehingga adegan-adegan terkuat dalam film justru adalah momen-momen Yusuke di dalam mobil. Khususnya saat dia berdiam diri di kursi belakang, dengan Misaki di kursi pengemudi menyetir dengan sama diamnya, suara yang kita dengar cuma suara istri Yusuke dari rekaman kaset yang terus diputar. Momen-momen ketika kedua karakter sentral terhanyut dalam pikiran dan perasaan masing-masing. Tapi dari situ jualah mereka terkoneksi. Bukan sebagai pasangan, tidak sesederhana orang tua dengan anak muda, lebih dari semacam ayah-anak. Melainkan manusia terluka dengan manusia terluka. Alasan Yusuke menerima Misaki sebagai supir – meskipun awalnya menolak – bukan saja semata karena cara nyetir Misaki cocok sama dirinya, atau Misaki bisa merawat mobil. Melainkan karena mereka bicara ‘bahasa’ yang sama. Mereka share personal space yang sama karenanya. Deepernya hubungan seperti ini yang membuat film ini menjadi menarik.

Relasi Yusuke dengan karakter lain, serta peran mobil di cerita ini menunjukkan seberapa pentingnya personal space bagi hubungan antarmanusia. Space tersebut tidak bisa begitu saja dimasuki. Enggak gampang bagi kita untuk mengizinkan orang masuk, kecuali ketika kita sudah menemukan bahasa yang sama. Dalam film ini, silence jadi bahasa universal, Yusuke dan Misaki jadi terkoneksi olehnya. Yang juga membuat Yusuke selanjutnya lebih mudah berkoneksi dengan orang lain. Sebagaimana yang kita lihat di adegan paruh akhir, saat Yusuke berdialog dengan ‘antagonis’ di dalam mobilnya, yang berujung membuat dia balik melihat sesuatu yang lebih daripada yang ia kira dari si ‘antagonis’

 

Adegan-adegan latihan teater lebih lanjut menekankan persoalan ‘bahasa’ yang jadi topik penting dalam relasi karakter film ini. Yusuke diceritakan sebagai sutradara yang unik, ciri khasnya adalah menggunakan dialog multi-bahasa untuk karakter-karakter dalam pertunjukan teaternya. Ada yang berbahasa Inggris, Korea, Malaysia, dan termasuk Indonesia. Karakter-karakter tersebut berbahasa masing-masing, tapi mereka saling mengerti. Para aktor teater yang memerankannya pun dicasting oleh Yusuke, aktor yang memiliki bahasa ibu berbeda-beda. Jenius banget sebenarnya Yusuke, pertunjukan teaternya jadi semakin menarik. Orang-orang berbeda bahasa tapi bisa saling mengerti, karena mengalami emosi yang sama. Film menarik kontras dari kreatif Yusuke di panggung tersebut dengan gimana dia aslinya. Bahwa Yusuke di luar seorang sutradara teater, ternyata justru bicara dengan bahasa ‘diam’. Kita lihat dia gak pernah marah. Melihat istrinya selingkuh aja, dia gak langsung meledak. Tapi awalnya diam Yusuke memang dia tidak terkoneksi dengan orang lain. Salah satu faktor yang menjadi pembelajaran bagi karakter ini selain Misaki adalah produsernya yang orang Jepang, yang benar-benar bisa multi-language, yang mau belajar bahasa isyarat untuk bisa berkomunikasi dengan perempuan terkasihnya.

carDRIVE_MY_CAR_banner_660x320b
Judul film ini sebenarnya bisa berarti ‘Speak My Language’

 

Jadi jika bahasa dan komunikasi perasaan begitu penting bagi film ini, bagaimana dengan bahasa penyampaian film ini sendiri sebagai media komunikasi pembuatnya dengan kita para penonton? Well, now that’s a great question.

Durasi tiga jam memang melelahkan, kebanyakan film akan berusaha meminimalisir ‘damage’ dari durasi tersebut dengan mempercepat tempo, menggunakan banyak cut, dan ada juga yang memasukkan banyak aksi atau komedi atau apapun yang bikin cerita bernada ringan. Drive My Car guoblok kalo memasukkan hal-hal tersebut. Which is why film ini cerdas. Film ini tahu apa yang ia buat. Bahasa yang digunakan film ini adalah bahasa yang sama dengan yang digunakan oleh karakternya. Distant secara emosional. Cerdas memang berarti tidak mau mengambil resiko. Film mempertaruhkan penonton kasual bakal bosan, demi menghantarkan cerita yang benar-benar true mewakili emosi karakternya. Obat dari momen-momen ‘berat untuk ditonton’ film ini adalah sinematografi yang kece. Adegan-adegan yang disyut dengan menawan. Mulai dari set panggung teater hingga ke tempat-tempat yang dikunjungi, semuanya dibikin menarik di mata. Bahkan adegan reading teater ataupun di dalam mobil, adegan yang lokasinya sempit dan monoton dibuat bergeliat oleh kreasi subtil.

Resiko terbesar tentu saja adalah menjadikan ini cerita sepanjang itu. Karena film ini kan adaptasi dari cerita pendek. Cerita aslinya sebenarnya lebih pendek daripada ini. Pak Sutradara ngestretch materinya. Ini yang aku kagum. Sutradara menolak menggunakan flashback! Sutradara-sutradara lain mungkin akan stick to the original (apalagi kalo ini dibikin oleh Hollywood!). Cerita dimulai ketika Yusuke disuruh pake supir, dan kemudian baru akan sesekali terflashback ke masa lalu untuk melihat kenapa dia begitu muram, untuk melihat suara siapa sebenarnya yang ada di rekaman. Drive My Car buatan Hamaguchi ini tidak begitu, dia malah memulai dari masa-masa Yusuke bersama istrinya. Relationship unik mereka yang saling berbagi cerita di manapun (atau abis ngelakuin hal apapun). Cukup lama film berkutat di sini, ‘the real’ story baru dimulai di babak kedua. 

Downsidenya, Drive My Car jadi tampak tidak memenuhi yang diperlihatkan di babak awalnya. Penonton bisa merasa kecele karena dari babak awal itu mengira Drive My Car adalah cerita rumah tangga. Mengira ini adalah kisah perselingkuhan (yang lagi naik daun lagi di jagat tontonan negara kita). Menantikan adegan suami mengonfrontasi istrinya yang selingkuh, yang berkaitan dengan grief mereka terhadap putri yang telah tiada. Tentu penonton tidak salah mengharapkan itu karena film dimulai dengan memperlihatkan rumah tangga mereka, yang tampak baik-baik saja. Ketika bahasan sebenarnya tiba, film jadi kayak berbeda, dan inilah yang bikin film beneran tampak panjang buat beberapa penonton. Tapi dengan penceritaan linear seperti demikian, film nunjukin efek yang lebih kuat secara emosional. Karena dengan begini, kita mengerti siapa dan apa masalah yang menghantui protagonisnya. Penonton bisa langsung tenggelam di sana, membuat film ini jadi lebih powerful. Panjang, memang, tapi aku gak yakin Drive My Car bakal jadi semenohok ini jika bagian awal tersebut ditrim. Kita malah akan sibuk bolak-balik flashback aja nanti.

 

 

 

Apparently, film ini adalah salah satu favorit untuk memenangkan Best Picture Oscar. Aku bisa memahami kenapa banyak penonton film alias sinefil yang suka. Karena di atas gambar-gambar yang cakep, memang film ini bercerita dengan bahasa seni. Menilik perasaan manusia dengan sentimentil serta mendetil. Ada banyak lapisan dalam bangunan ceritanya. Sementara bagiku, aku merasa film ini terlalu personal untuk agenda Academy tahun ini. Aku respect film ini mengambil resiko besar dengan penceritaan panjang. Berani memilih untuk tidak pakai flashback dan linear saja. Meskipun itu membuat filmnya yang didesain distant dan kaku jadi semakin susah untuk konek secara emosi.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for DRIVE MY CAR.

 

 

 

That’s all we have for now.

Diam dan mobil yang love language si Yusuke kepada sesama manusia. Apa love language kalian?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

WEST SIDE STORY Review

“Hate cannot drive out hate; only love can do that”

 

 

Belakangan ini kita memang diberkahi banyak banget film musikal yang keren-keren. Annette (2021) yang menekankan kepada sisi absurd seninya. Tick, Tick…Boom! (2021) yang melekat berkat relate personal ceritanya. Ada begitu banyak pilihan musikal yang bagus, yang mampu membuat aku yang gak fans musik jadi jatuh cinta. Tapi dari semua, West Side Story garapan Steven Spielberg-lah yang paling pas untuk mengenakan mahkota. Karena film ini benar-benar goes for the big! Baik itu performance, musical numbers atau adegan musikalnya, produksi, hingga ke pesan, semuanya spektakuler. Spielberg ngedirect film ini dengan kemegahan yang cuma dia yang bisa. Dan itu berarti luar biasa karena film ini sendirinya sebenarnya adalah sebuah remake dari musikal yang enggak ‘kecil’. Spielberg membuat cerita ini lebih besar dan lebih relevan lagi!

Materi aslinya terinspirasi dari kisah Romeo dan Juliet. Namun alih-alih perseteruan keluarga, kisah cinta Tony dan Maria di West Side Story berada di tengah-tengah seteru dua kelompok etnis pemuda yang berbeda. Manhattan 1957 itu tempat tinggal yang jadi rebutan oleh penduduk imigran yang sudah turun temurun tinggal di sana. Di satu sisi ada kelompok Inggris, dengan geng Jet. Dan di sisi lain ada warga Puerto Rico dengan kelompok Shark. Dua kelompok ini terus saja berantem, cari ribut. Persaingan memenuhi kebutuhan hidup yang layak membuat kedua kelompok saling benci. Tapi tidak Tony dan Maria. Bertemu di pesta dansa (sementara geng masing-masing lagi rebutan lantai dansa), Tony yang mantan anggota Jet dan Maria yang adik dari ketua Shark jatuh cinta pada pandangan pertama. Mereka bermaksud hidup bersama, pergi dari kota dan start fresh. Tentu saja, kedekatan mereka berdua dijadikan alasan baru bagi Jet dan Shark untuk ribut. Dan kali ini benar-benar bakal ada nyawa yang jadi korban.

westsideDF_12072_R12_COMP
Rumbling, rumbling~~

 

Namanya juga musikal, semua permasalahan film ini diceritakan lewat lagu. Set drama di kota dilandaskan lewat adegan musikal di opening. Alasan Jet nyari ribut, juga lewat musikal. Bahkan pas sekuen berantem pun juga ada gerakan-gerakan seperti balet (sebelum akhirnya film ini nunjukin berantem yang cukup violent). Dari nonton West Side Story inilah aku jadi mikir, bahwa keberhasilan sebuah film memang gak pernah sesederhana ‘horor yang penting harus bisa bikin takut’, ‘komedi yang penting harus lucu,’ ataupun ‘romansa yang penting harus bisa bikin baper’. Karena dengan begitu berarti ‘musikal berarti harus bisa bikin ikut nyanyi’. Nah dengan logika itu, sampai kapanpun aku gak akan pernah nemuin musikal yang bagus karena aku yang gak suka musik gak akan pernah nyanyi menonton musikal. Dan kalo aku – kalo kita – menilai film dengan subjektivitas sesederhana fungsi tersebut, ya kitalah yang rugi. Kita gak akan tahu film bagus bahkan kalo film itu tayang di depan hidung kita. Dari musikal segrande West Side Story inilah kita bisa sadar bahwa meskipun kita gak konek dengan liriknya, atau dengan musiknya, atau bahkan dengan bahasanya, sebuah film masih akan tetap bagus dan itu dinilai dari objektivitas teknik film itu dibuat, cerita film itu ditulis, seperti apa gagasannya disampaikan. Bagaimana craft film dalam memuat isi kemudian menampilkannya ke dalam genre masing-masing, di situlah sebenarnya penilaian film bagus atau tidak. 

Dan West Side Story benar-benar dibuat dengan epik. Setiap adegannya, mau itu musikal ataupun pas ngobrol biasa, berwarna oleh detil, penempatan kamera, dan bahkan bloking orang-orangnya saja seperti bermakna. Adegannya tu gak pernah sekadar nari-nari rame-rame di tengah jalan. Saking banyaknya adegan bagus yang benar-benar nonjolin craft dan visi dari si filmmaker, aku bisa bikin listicle khusus di dalam tubuh ulasan ini. ‘Dua-puluh Adegan Terepik dalam West Side Story, Nomor Lima Bakal Bikin Kamu Ikutan Joget!’ Ya, bukan lima, bukan delapan. Dua puluh itu aja kayaknya belum semua deh yang keitung. Kamera dan perhatian Spielberg lewat bercerita visual mengangkat setiap adegan musikal menjadi momen-momen ajaib yang kita rugi kalo sampai ngedip and miss it. Adegan nyanyi di gang gelap, lalu Tony loncat ke kubangan, kamera lantas menyorot dari atas; memperlihatkan pantulan berpuluh-puluh lampu dari jendela lewat riak-riak kubangan tersebut, maaan siapa sih yang bisa kepikiran membuat adegan seperti itu. Shot-shot film ini memang sangat imajinatif, gak ada yang standar. Dua geng saling bertemu di dalam gudang yang gelap; Spielberg mempesona kita dengan menggambar dari bayangan kedua kubu. Lalu ada juga sekuen panjang saat adegan masuk ke ruang dansa. Kameranya kayak melayang gitu aja, nempel di tubuh lalat kali hahaha. Buatku, film seperti beginilah yang menantang – sekaligus menginspirasi. Film, yang saat menontonnya kita langsung penasaran mereka ngerekamnya seperti gimana, kameranya gimana. Kok bisa? 

Akhirnya ya kita yang nonton jadi merasa dapat lebih banyak daripada sekadar lirik atau irama yang catchy. Kita ujung-ujungnya jadi mengapreasiasi musikal itu secara keseluruhan. Aku paling suka adegan nyanyi Amerika, dan adegan nyanyi di dalam ruangan kantor polisi. Selain itu, dengan pengadeganan dan penampilan menawan seperti itu, perhatian kita juga jadi terpusat pada cerita. Hampir seperti kita gak butuh lagi sama dialog. Mungkin ini jugalah yang dimengerti oleh film, sehingga Spielberg tidak menampilkan subtitle untuk dialog-dialog dalam bahasa Spanyol. Spielberg melalukan ini demi respek terhadap karakter dan bahasa itu sendiri, tapi dia toh juga tidak mempersulit atau meminta terlalu banyak kepada penonton. Perhatikan saja adegan-adegan berbahasa Spanyol itu. Selalu hanya keluar dalam adegan yang konteksnya sudah terlandaskan dengan baik. Selalu punya weight ke dalam karakterisasi dan plot itu sendiri. Ketiadaan subtitle ini justru jadi penanda utama bahwa film ini telah demikian baik bercerita lewat visual dan penampilan atau juga musiknya.

Colorfulnya pengadeganan didesain kontras dengan kelamnya cerita. Aku nonton film ini duluan daripada film aslinya, aku gak tau sebelumnya ini ceritanya bakal seperti apa. Dan aku surprise juga saat menyaksikan ujung cerita film ini. Aku gak expect kalo film yang udah dibuat untuk penonton modern ini berani membuat sekelam itu. Mungkin inilah kenapa West Side Story kurang laku (selain karena musikal memang kurang perform untuk penonton kita). Modern audience kan gak bisa dikasih ending yang conflicted. Pengennya yang jelas. Happy, atau sedih. Kalo bisa sih yang happy aja. Gak boleh di antara keduanya. West Side Story berakhir tragis dengan cinta yang terpisah oleh kematian, tapi punya undertone yang optimis ke arah kehidupan yang lebih baik untuk semua orang di kota. This ending will hit alot.  Dan aku senang karena film ini mengambil resiko dengan ending seperti itu. Film ini telah melakukan cukup banyak penyesuaian – ada hal-hal yang dibikin berbeda dengan versi aslinya – tapi untungnya tidak diubah sesuai kesukaan penonton modern. Malah kalo dipikir-pikir, ending versi ini memang lebih menohok.

westside-side-story-trailer-
Si Maria mirip-mirip Susan Sameh gak sih?

 

Seperti pesaingnya di Best Picture Oscar, Coda (2021), film West Side Story juga melakukan remake yang melakukan perubahan positif dalam hal representasi. Spielberg tak lagi menggunakan aktor kulit putih yang dimake-up coklat, melainkan benar-benar menggunakan aktor latin untuk karakter-karakter Puerto Rico. Feels film ini jadi semakin otentik, selain juga respek sama ras yang diangkat. Soal casting ini memang benar-benar dimanfaatkan sebagai isi karakter. Ariana DeBose yang berkulit lebih gelap misalnya, diset untuk memerankan Anita yang nanti terlibat dialog soal kulit itu dengan sesama Puerto Rico, terkait konteks bagaimana prioritas Amerika kepada warganya. Terus, ada karakter yang benar-benar merepresentasikan trans-people, sementara film aslinya tahun 60an belum berani banget menampilkan. Lalu ada juga aktor yang gak sekadar jadi cameo dari film original, tapi diberikan peran yang dramatis terkait dia memerankan peran terdahulu dengan peran sekarang. Tapi yang paling penting soal cast ini adalah, Spielberg benar-benar ngedirect mereka untuk menghasilkan performa yang sama luar biasanya.

Masalah rasis yang jadi akar konflik film ini digambarkan dengan kompleks, dan jadi masalah yang terstruktur karena begitulah pondasi tempat tinggal daerah mereka. Tapi kalo mau disederhanakan, sebenarnya ini adalah masalah hate. Kebencian. Makanya hubungan cinta antara Tony dengan Maria jadi simbol penyelamat mereka semua. Mereka cuma harus bisa melihatnya. Walau kadang cara untuk sadar itu bisa demikian tragis.

Honestly, pas pertama kali nonton aku mikir film ini – terutama karena endingnya – agak problematis. Like, kenapa kulit putih mati jadi seperti savior. Bukankah, aku sempat mikir, lebih cocok dengan penonton modern kalo dibikin yang jadi ‘penyelamat’ itu adalah karakter cewek. Setelah dipikir-pikir, dikaitkan dengan arc Tony dan Maria, the whole ending ternyata memang harus terjadi seperti yang film ini lakukan. Tidak ada jalan lain yang lebih powerful.

 

Tony yang diperankan oleh Ansel Esgort di versi ini diberikan journey yang lebih dramatis. Backstorynya – mengapa dia keluar dari Jet, kenapa dia bisa punya hubungan baik dengan pemilik toko yang orang latin – benar-benar melandaskan arc penebusan diri. Benar-benar memperlihatkan Tony mencoba menjadi pribadi yang lebih baik, tapi tidak segampang itu berkat kuatnya pengaruh seteru dan hate tadi di kota. Arc si Tony baru akan melingkar sempurna dengan ending film ini, karena itulah penebusan dirinya yang sebenarnya. Bukan dengan pergi menumbuhkan cinta di tempat lain. Kota ini juga harus diresolve masalahnya. See, di sinilah letak kekuatan naskah West Side Story. Kota mereka juga jadi karakter tersendiri. Yang bakal ngalamin pembelajaran, melalui nasib dua karakter sentral. Maria, diperankan oleh Rachel Zegler dengan memukau meski ini adalah film pertamanya, punya arc tentang innocence lost. Maria adalah simbol atau perwujudan dari value positif; polos, penuh mimpi, optimis. Karakter Maria ini jadi makin penting saat ending itu, karena lewat dialah karakter-karakter di kota melihat apa yang telah mereka lakukan terhadap kota yang harusnya adalah tempat penuh harapan dan mimpi.

 

 

 

Ah, film yang indah. Baik itu pesannya, experience menontonnya, serta penampilan akting dan musikalnya (yang btw, bener-bener dinyanyikan oleh pemainnya). Dunianya terasa hidup, setiap adegan pantas banget untuk kita pelototin. Setiap scene terasa epik dan spektakuler. Everything about this movie feels grande. Aku harus menahan diri nulisnya, karena kalo gak, bakal panjang banget. Karena semuanya bisa dibahas mendalam. Semuanya punya makna. I’m okay film ini yang dipilih Oscar untuk mewakili genre musikal dibandingkan film yang lain. Bukan hanya karena nama Steven Spielberg. Pak sutradara berhasil membuktikan nama besanya bukan sekadar legenda. Tapi juga karena film ini terasa urgen meskipun dia adalah remake. Aku senang karena actually di line up Best Picture Oscar tahun ini, ada dua film remake yang tampil demikian kuat melebihi film original mereka.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for WEST SIDE STORY.

 

 

 

That’s all we have for now

Sayang sekali film ini flop di bioskop kita. Menurut kalian kenapa film musikal enggak perform dengan baik bagi penonton Indonesia?

Share pendapat kalian di comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA