MILLY & MAMET Review

“You just can’t make everyone happy”

 

 

Dalam sebuah adegan manis yang berhubungan dengan brownis coklat, kita akhirnya mengetahui gimana ceritanya si cupu Mamet bisa sampe jadian ama – bahkan memperistri – cewek terkocak di geng AADC, Milly.

Prolog film ini bukan saja dengan tepat mengisi babak kosong antara film AADC Pertama dengan Kedua sehingga penasaran kita terjawab, melainkan juga dengan lancar menyambungkan rasa – mengikat nyawa. Seolah tiga film ini memang dibuat sebagai kesatuan oleh orang yang sama. Mira Lesmana enggak salah pilih mempercayakan semesta Cinta untuk dikembangkan cabangnya kepada Ernest Prakasa. Di bawah helm kreatif Ernest (dalam film ini tokoh yang diperankan oleh Ernest literally pake topi yang bertulisan slogan-slogan lucu yang kreatif), Milly & Mamet menjelma menjadi cerita komedi drama mengenai persoalan yang dihadapi oleh orangtua muda. Untuk seterusnya setelah kredit pembuka bergulir kita akan melihat masalah seputar pekerjaan dan gaya hidup yang dialami oleh Milly dan Mamet; seorang suami yang ingin membahagiakan istri dan anaknya dan seorang istri yang berusaha menjaga suami dan anaknya, sembari terus berjuang untuk tidak melupakan kebutuhan dirinya sendiri. Kita akan melihat bagaimana Mamet seharusnya menyadari bahwa dirinya bukan coklat; dia tidak akan bisa; dia harus berhenti untuk berusaha membuat senang semua orang.

Mamet mamen

 

 

Secara mengejutkan, film memang bakal banyak bicara tentang makanan. Porsi dan peran makanan di film ini malah cukup besar untuk kita menjadi sah-sah saja menyebutnya sebagai pesaing Aruna & Lidahnya (2018) dalam kontes film masak-memasak. Makanan yang mempertemukan, yang menjadi bagian dari konflik, dan eventually menjadi solusi. Mamet, setelah lulus SMA, punya mimpi untuk membuka restoran sendiri. Dia menjadi begitu ‘perhatian’ terhadap dunia kuliner setelah sempat bereksperimen mencari resep brownis yang enggak menyebabkan diabetes untuk mendiang ayahnya. Tapi untuk separuh pertama, kita akan jarang melihat Mamet memasak lantaran dia bekerja di perusahaan konveksi milik ayah Milly. Persimpangan bagi Mamet kemudian muncul dalam bentuk tawaran mendirikan restoran sehat, di mana Mamet ditampuk untuk menjadi kepala chefnya. Alexandra, diperankan oleh Julie Estelle, adalah seorang sahabat lama yang membawa Mamet bersalaman dengan ‘The Devil’. Karena begitu Mamet pindah bekerja ke sana, konflik rumah tangga mulai muncul. Dari Milly, istri yang insecure suaminya kerja bareng orang lain ke senti.. eh salah, ke Mamet, suami yang insecure istrinya ikutan kembali kerja sehingga telat pulang ke rumah mengurus anak mereka.

Sebagai Generasi Milenial, Mamet adalah perwujudan dari penyakit yang bersarang pada Generasi Milenial itu sendiri. Selain naif akut, dia juga orangnya ‘pasrah’ banget. Kita mengerti beban yang ia tanggung, sebagai suami dan seorang ayah, yang membuatnya tidak bisa begitu saja mengejar apa yang dia mau. Tapi melihatnya begitu ‘pasif’ dan tau-tau meledak marah, cukup menyiksa kesabaran buatku. Sebagai perbandingan, kita bisa melihat gimana sikap Miles Morales terhadap pilihan yang ia ambil pada Spider-Man: Into the Spider-verse (2018)Morales dengan sengaja menjawab pertanyaan ujian dengan memilih jawaban yang salah supaya ia dikeluarkan dari sekolahnya; karena dia merasakan gak nyaman pada hatinya saat bersekolah di sana. Beda dengan Mamet yang satu generasi lebih tua; Mamet yang kurang berminat kerja di konveksi, tidak melakukan apa-apa karena dia berpikir dia akan membantu mertua, istrinya, dan banyak orang dengan tetap bekerja di sana. Namun begitu dia melakukan kesalahan ketika dia merasa sudah melakukan hal yang benar, dia didamprat oleh pak mertua – di depan bawahan, di depan istri yang sampe berlinang air mata, barulah ia berontak minta keluar. Ini kesannya manja sekali alih-alih membuat keputusan. Mamet menghabiskan sebagian besar waktu menjadi ujung dari bahan candaan, dia tidak melihat apa yang ‘salah’ di sekelilingnya, bahkan justru Milly yang lebih banyak melakukan ‘aksi’

Namun begitu, jika dibandingkan, secara penulisan karakter memang lebih mendingan Mamet, sih. Dia punya progres. Arcnya dibuat menutup, cara dia memandang hidup di awal cerita akan berbeda dengan di akhir cerita. Kita melihat sifat Mamet-yang-lama pada dirinya perlahan terkikis; ada proses pendewasaan. Berbeda dengan Milly yang sudah tidak tampak seperti Milly yang kita kenal. Aku bukan bicara soal penampilan akting Sissy Priscillia kurang baik dibandingkan Dennis Adhiswara, keduanya diberikan kesempatan men-tackle range emosi yang sama luas, dan masing-masing berhasil melakukannya. Hanya saja karakter Milly seperti kurang tereksplor dibandingkan Mamet. Di film ini, Milly terasa pintar. Adegan kocak ketika dia ngobrol dengan asisten rumah tangganya, tampak seolah seperti melihat Milly berbicara dengan dirinya dulu; yang lemot, yang telmi, yang suka ngasal kalo ngomong. Kita tidak melihat proses perubahannya – di awal dengan di akhir, karakter Milly tidak banyak berubah padahal justru dia yang banyak menggerakkan narasi. Antara Milly dan Mamet; terasa seperti plotnya ada pada Mamet, sedangkan aksinya bagian Milly. Aku merasa dua tokoh ini seperti satu tokoh utama yang dibagi ke dalam dua tokoh. Film bisa saja menggali kecemburuan Milly berdasarkan dirinya menyadari ia lemot sedangkan Alex adalah cewek yang pintar, tapi tidak dilakukan karena Milly di film ini sudah bukan Milly yang dulu. Dan buatku mengecewakan kita tidak diperlihatkan progres karakternya sebanyak progres Mamet; padahal mereka berdua diniatkan sebagai tokoh utama.

Nyenengin semua orang enggak akan membuat kita bahagia. Usaha tersebut justru akan berbalik, membuat kita merasa kesepian, merasa kalah, merasa tidak diperhatikan oleh orang lain. Alih-alih mencoba membuat banyak orang bahagia sehingga mereka senang kepada kita, bahagiakan dulu diri sendiri. Tentukan apa yang membuatmu bahagia, dan ambil pilihan demi bergerak ke arah sana.

 

Milly dan Mamet tadinya adalah karakter pendukung yang berfungsi sebagai pemantik kelucuan dalam dunia Ada Apa dengan Cinta. Sissy dan Dennis, praktisnya, bukan pemain baru dalam mendeliver komedi. Aku malah paling suka Sissy ketika dia berperan sebagai Olga dalam serial Olgamania yang diadaptasi dari buku karangan Hilman. Di serial itu Sissy ngocol banget, cocok ama karakter Olga. (Dan buat hiburan personalku, aku senang sekali melihat hubungan antara Sissy, Olga, dan Lupus di menjelang akhir pada adegan dengan lagu Sheila on 7 yang dulunya jadi theme song serial Lupus hihi)

Film Milly & Mamet yang dibuat sebagai komedi romansa jelas bukan ranah asing bagi Sissy ataupun Dennis, aku yakin kedua aktor ini sanggup menyampaikan drama dan lelucon dengan sama baiknya. Tapi film ini, sebagaimana film-film Ernest sebelumnya, tetap mengotakkan bagian drama dengan komedi tersebut. Keputusan ini membuatku bingung. Film tetap memberikan porsi komedi kepada tokoh-tokoh pendukung, yang banyak banget; ada banyak karakter satu-dimensi yang hanya untuk pemantik tawa. Padahal ada banyak adegan yang gak urgen banget dikasih ke Komika, misalnya, mereka bisa saja memberikan porsi ‘ngefans berat ama food reviewer’ kepada tokoh Mamet – toh bisa menambah range dan karakter si Mamet sendiri. Adegan-adegan dengan Komika dan bintang tamu, justru mengganggu pace cerita, menciptakan sekat dengan drama, sehingga tone cerita jadi terasa kurang nyampur. Film seharusnya lebih mulus mencampurkan sehingga komedi bisa didatangkan dari tokoh-tokoh yang krusial. I mean, kurang lucu apa coba adegan Milly sok ikut ngereview makanan dengan adegan Sari lagi pesen minum?

Apa yang kamu lakukan ke saya itu, Garing!

 

Seperti generasi milenial yang angkuh, penyadaran yang dialami oleh tokohnya mengandalkan kepada pihak lain yang ternyata lebih ‘salah’. Film melakukan treatment yang baik dan melingkar sebenarnya, kita juga melihat penggunaan komedi yang pas, hanya saja elemen jalan keluar berupa ada orang lain yang lebih salah ketimbang aktual penyadaran yang didorong oleh inner karakter membuat penyelesaian film ini tidak terasa impactful. Seperti jika sebuah komedi yang punchlinenya kurang kuat. Karena kan sebenarnya ‘anatagonis’ dalam inti cerita ini bukanlah orang lain, melainkan ego dan pilihan si dua tokoh ini sendiri.

 

 

 

Saat menonton, mungkin sebagian kalian sudah ada yang kepikiran “kenapa mereka gak melakukan itu saja” dan ternyata pikiran kalian tadi memang dilakukan oleh penyelesaian cerita. Salah satu ‘kekurangan’ yang datang dari ketika kita yang sudah bisa melihat struktur cerita menonton film yang dibuat oleh penulis yang juga paham ama struktur cerita adalah kita bisa mengetahui ujung cerita bakal seperti apa. Untuk hal demikianlah andil sutradara dibutuhkan; untuk membuat cerita tetap menarik. Film ini strukturnya terang, dengan stake yang sebenarnya enggak terlalu kuat, namun arahannyalah yang membuat film terasa biasa saja. tetap terasa on-off karena drama dengan komedi di sini masih lebih sering kekotaknya ketimbang bercampur. Film ini memang secara keseluruhan adalah peningkatan dari garapan Ernest sebelumnya. Dia memberikan sentuhan tersendiri pada tokoh-tokoh yang sudah dikenal. Namun, Ernest sebagai sutradara butuh untuk melepaskan diri dari konsep atau formula cerita komedi yang selama ini ia gunakan, dan mencoba melakukan hal yang baru. Jika tidak, ia hanya akan menjual barang yang gitu-gitu saja di toko yang dibangunnya dengan penuh passion.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for MILLY & MAMET.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya mimpi yang belum terwujud hingga sekarang karena terhalang masalah kenyataan? Sejauh apa kalian menyimpang dari apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan dengan apa yang sekarang kalian lakukan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

ASIH Review

“None of us wants to be reminded that dementia is random, relentless, and frighteningly common.”

 

 

 

Kuntilanak itu bernama Asih. Tapi pada saat masih hidup, dia bernama Kasih. Kenapa perubahan namanya itu penting banget untuk dikasih tahu dalam cerita, aku juga tidak tahu. Malahan, tadinya aku mengira spin-off dari semesta Danur (adapatasi dari cerita Risa Saraswati) ini akan membahas banyak mengenai origin si Asih, kayak, kita akan melihat kehidupan dia semasa masih manusia, lebih jauh mengungkap siapa dirinya sebelum peristiwa naas yang ‘mengubah’ dirinya menjadi hantu. Tapi ternyata informasi lebih dalam tentang Asih paling penting menurut film ini adalah bahwa nama aslinya bukan Asih. Jadi, kita tidak melihat Asih semasa hidup lebih banyak dari apa yang sudah kita lihat di film pertama Danur: I Can See Ghosts (2017).

Kisah tragis Asih menjelang kematian dan tie-in-nya dengan Danur pertama diputer kembali di menit-menit awal, membuat penonton yang baru pertama kali menonton semesta kisah ini mengerti apa yang harus dihadapi. Buat penonton yang ketiduran di menit awal tersebut, film akan mengulang flashback penjelasan siapa Asih di sekuen pengungkapan. Tujuh-puluh-delapan menit durasi cerita akan terasa semakin singkat lagi berkat ‘usaha’ mereka menjalin satu cerita yang utuh. Jadi, ini adalah cerita tentang Asih saat dia masih jadi ABH. Pada tahu ABH gak? Sama kayak ABG, namun ‘Gede’nya diganti dengan ‘Hantu’. Baru seminggu dia menjadi hantu, Asih menyerang keluarga pasangan Citra Kirana dan Darius Sinathrya yang lagi bersiap menyambut kelahiran bayi Amelia. Tak bisa kita sangkal memang, Shareefa Daanish sungguh menyeramkan dengan dandanan setan. Enggak butuh efek sound yang menggelegar sebenarnya, jika kita sudah punya penampakan Danish yang lagi in-character sebagai hatu. Tapi di samping fakta bahwa dia adalah hantu, dan hantu kudu mengganggu orang yang masih hidup, kita tidak pernah benar-benar diajak menyelami konflik personal para tokohnya; akar yang menjadi penyebab kejadian-kejadian dalam film ini terjadi.

Asih mungkin kurang asi, atau salah asuhan.

 

Mitos, pamali, superstition, apapun namanya, tahun 1980 adalah masa keemasan bagi kepercayaan gaib semacam itu. Tidak banyak yang mempertanyakan, apalagi menentang. Suasana ini dijadikan panggung cerita oleh film. Ari-ari bayi yang harus dikubur dengan cara tertentu di pekarangan rumah, bunyi ciap-ciap anak ayam di malam hari, elemen-elemen mistis ini dimasukkan ke dalam cerita demi membangun suspens. It is interesting. Dan cukup berhasil menguarkan keseraman. Film juga membuat ‘aturan’ sendiri, seperti diceritakan jika kita mendengar bunyi pukulan ronda yang jumlah ketukannya lebih satu dari pukul berapa malam itu, maka itu berarti bukan karena si Penjaga Malam sudah pikun. Melainkan itu sebagai tanda ada makhluk halus tak-diundang yang berada di sekitar daerah tersebut. Eventually, ketika bunyi pukulan tiang itu beneran terdengar oleh tokoh film, kita bakal ikutan menghitung ketokannya sambil menahan napas.

Tingkatan tertinggi yang bisa dicapai oleh film ini adalah mereka sebenarnya bisa membuat Asih sebagai cerita tentang ketakutan orang tua terhadap kepikunan (senile). Kita melihat tokoh nenek yang sudah mulai pikun merasa kesulitan menangani kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya. Nenek ini bingung, satu kali dia mandi lupa mengambil handuk. Kali berikutnya dia merasa sudah memindahkan bayi ke teras, tapi ternyata bayi beserta kereta dorong (yang dalam nada polos yang kocak ia sebutkan lebih tua daripada usianya) tersebut masih mandi matahari yang panas di halaman rumah. Terduga pikun atau bukan ini actually menciptakan friksi dengan anggota keluarga lain, khususnya tokoh Citra Kirana. Dan menurutku bisa dikembangkan menjadi bagaimana jika orang yang muda juga mulai merasa dirinya pikun alias dementia. Film ini punya potensi menjadi sangat cerdas memparalelkan hantu dengan dementia, dia bisa memiliki sudut pandang yang unik dengan menggali aspek tersebut. Tapi film tidak mengacuhkan aspek cerita ini, karena film hanya mengincar nilai hiburan.

Menurunnya kemampuan mengingat atau istilah seramnya kehilangan ingatan secara perlahan adalah salah satu hal paling menakutkan yang bisa menimpa manusia. Lebih mengerikan daripada menjadi hantu. Buktinya, kita percaya, hantu ada karena mereka masih penasaran sebab terpisah oleh sesuatu yang ia sayangi. Yang berarti bahkan sebagai hantu sekalipun, kenangan atau ingatan itu masih ada; kita mau percaya bahwa ingatan adalah satu-satunya yang dipunya oleh hantu. Kengerian dementia lebih besar daripada itu karena kita bisa lupa pada apa yang kita cinta, bahkan saat kita masih hidup.

 

 

Selain tokoh si nenek yang barely punya karakter. Karakternya adalah kepikunannya, tokoh-tokoh yang lain tampil total polos. Tokoh Citra Kirana hanya seorang ibu yang mengkhawatirkan keselamatan putri yang baru lahir. Tokoh Darius Sinathrya adalah suami yang tidak percaya kepada kekhawatiran istrinya. Si bayi pada ujungnya akan diculik, seperti pada cerita-cerita horor Awi Suryadi sebelumnya. Dan tentu saja, ada paranormal misterius, dan nanti akan ada tokoh utama yang kesurupan. Pretty basic, dengan struktur cerita yang ala kadar, plot yang kosong. Tapi nilai hiburan film ini memang meningkat. Dalam artian, film mulai mengembrace kekonyolan yang ada, mereka kini tampak mengincar status “so bad, it’s good”. Eksposisi dilakukan dengan komedi. Adegan satpam dengan penjual nasi goreng itu tak ada kepentingan dan kelanjutan selain untuk membuat kita tertawa sembari mereka menjelaskan info seputar mitos menyeramkan. Adegan para tokoh berpegangan di meja makan adalah adegan paling kocak seantero semesta Danur. Menginteferensi tone, memang, tapi film sesungguhnya sudah membangun selera humornya yang aneh ini sedari awal-awal cerita. Selain lelucon, kita juga akan diajak bermain-main dengan jumpscare yang kali ini timingnya lebih diatur dan volumenya lebih dinaikkan lagi.

aku harap bayinya gak masuk angin malem-malem dimandiin di luar.

 

Dan segitulah batas kengerian film ini. Loud dan ngagetin. Sebagian besar adegan seram berawal dari seseorang yang merasa melihat orang lain lagi lewat di lorong rumah. Atau mereka merasa ada yang ganjil gitu aja ketika lagi nyuci atau lagi sembahyang. Dan mereka lanjut teriak-teriak mencari penghuni rumah yang lain. Kejadian begini sungguh amat lemah, usaha yang minimal sekali dalam memancing kengerian dalam film horor. I mean, masih mending jika setting cerita adalah di hutan dan para tokoh tersesat sehingga mereka teriak mencari rekannya. Perlu diingat, Asih mengambil tempat di dalam lingkungan sebuah rumah, yang bahkan tidak terlalu besar. Terus-terusan melihat orang dewasa penghuni berteriak-teriak mencari orang yang bahkan enggak hilang di lingkungan ‘sempit’ tersebut seolah mereka bocah kecil yang nyasar di mall memanggil emaknya, sungguhlah sebuah pengalaman yang jauh dari menyeramkan.

Coba tebak apa yang terjadi begitu si tokoh menemukan orang yang ia cari?

Yup, dialog menjemukan “Ibu tadi lewat sana?” “Enggak kok.” Dan kita supposedly merasa merinding menyaksikan percakapan mereka yang begitu-begitu melulu seperti demikian. Jeng-jeng! 

 




Adegan ngagetin yang dimaksudkan sebagai adegan seram -> eksposisi yang disamarkan dengan komedi -> development karakter berupa tokoh yang tadinya tak percaya menjadi percaya. Begitulah siklus penceritaan film ini. Buat yang belum pikun, film ini terasa enggak benar-benar unggul dari dua film Danur sebelumnya; ceritanya masih kosong, nyaris tanpa plot. Menakjubkan dengan durasi begini singkat betapa banyak flashback dan pengulangan adegan disuguhkan, seolah filmnya kesulitan mengisi durasi. Tapi paling tidak, arahannya mulai berani mengembrace aspek konyol, demi misi mereka membuat film untuk hiburan hantu-hantuan.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ASIH.

 




That’s all we have for now.
Jika hantu ada karena ingatannya, maka apakah orang yang terkena dementia atau malah hilang ingatan tidak akan bisa menjadi hantu? 

Bagaimana reaksi kalian jika disuruh melupakan suatu hal yang berharga seperti Asih yang harus melupakan tentang anaknya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017



THE NUN Review

“Prayer without action is powerless”

 

 

 

Berdoa itu ada waktunya. Sudah kewajiban manusia untuk menyempatkan diri untuk berterima kasih kepada Sang Pencipta. Tuhan tidak akan pernah bosan sering-sering kita panggil. Tuhan justru senang jika kita sering mengingat-Nya, meminta kepada-Nya. Namun, berdoa setiap waktu hingga lupa untuk berusaha, sama saja dengan ngobrol ama foto kecengan di wallpaper laptopmu, tapi gak pernah berusaha ngajak jalan. Kalo gak diusahakan, ya selamanya keinginan itu gak bakal terwujud. Seperti suster-suster di biara terkutuk di film The Nun; mereka lupa bahwasanya berdoa dan berusaha itu kudu seimbang. Ada waktunya untuk bertindak, melakukan perjuangan terhadap suatu hal yang diminta, alih-alih berlutut sampai pagi.

Nun jauh bahkan sebelum boneka Annabelle dibuat, terdapat sebuah biara di pedalaman Romania. Biara yang dijauhi penduduk bahkan oleh kuda-kuda mereka, itu terkutuk untuk alasan yang jelas; gerbang neraka terbuka di bawahnya. Iblis bernama Valak enjoy aja keluar masuk dari sana, berpakaian ala biarawati, mengambil satu-persatu Wanita Suci Kekasih Tuhan yang berdoa meminta perlindungan darinya. Tidak ada yang actually bergerak untuk menghentikan Valak. Sampai ketika seorang Pastor dari Vatikan diutus untuk menyelidiki apa yang terjadi di biara tersebut, barulah Valak mendapat perlawanan yang berarti. Si Pastor datang bersama biarawati muda yang bahkan belum mengucapkan sumpahnya. Tindakan merekalah yang menyebabkan misteri biara tersebut perlahan terkuak. Irene, sang biarawati, pun akhirnya menunjukkan tindak pengorbanan yang sesungguhnya, yang merupakan pukulan telak kepada Valak. Dibantu oleh seorang pria lokal penyuplai makanan yang dipanggil Frenchie, mereka berusaha menemukan senjata pamungkas demi menutup kembali Gerbang Neraka, menahan Valak kekal di dalam sana.

semoga yang di belakangku cuma bayangan pohon natal

 

Doa kita gak bakal dikabulin kalo gak dibarengi dengan usaha. Siapa sih yang mau ngasih sesuatu ke orang yang kerjaannya ngeluh dan beratap nestapa sepanjang waktu. Ther Nun akan mengajarkan kita untuk bangkit dan mengambil tindakan, untuk diri kita sendiri serta untuk orang lain. Karena dari perjalanan Irene, kita pun akan belajar satu-dua hal tentang pengorbanan yang dengan ikhlas kita lakukan atas nama perubahan ke arah yang lebih baik.

 

 

The Nun seperti menantang untuk berdiri tegak tatap sombong ketakutan kita terhadap setan. Yea, film ini exist berkat kepopuleran Valak, hantu suster dari universe The Conjuring yang debut di seri keduanya. Siapa yang bisa lupa kemunculan Valak yang berjalan dari dinding ke pigura lukisan untuk kemudian nongol di mimpi-mimpi buruk kita. Film The Nun ini, akan membawa kita untuk benar-benar berhadapan dengan hantu pawang ular yang tampangnya mirip Marilyn Manson pake kerudung tersebut. Setting cerita memang dibuat se-creepy mungkin. Hal-hal ganjil kita temukan di awal-awal cerita, darah di tangga yang kian hari bertambah alih-alih mengering, pemandangan pekarangan yang penuh kuburan bernisan salib gede, suara krincing-krincing lonceng dari setiap kuburan, semua itu ditujukan untuk membangun kengerian kita – supaya kita menantikan kemunculan Valak dengan mengkeret di tempat duduk masing-masing. Hanya saja, kita malah jadi penasaran. Alih-alih mengekspansi mitologi Valak – yang mana semestinya itu yang disajikan film ini sebagai alasan untuk mengetahui origin si iblis – film malah memfokuskan ke misteri biara itu sendiri. Penjelasan mengenai Valak hanya disebutkan dalam satu adegan tokoh Pastor membaca informasi di sebuah kitab. Selebihnya, film adalah pencarian Darah Kristus untuk menyegel Gerbang, dengan Valak dan hantu-hantu lain muncul entah itu untuk mengganggu ataupun memberi petunjuk.

Tempat gelap, pintu-pintu yang menutup dan mengunci sendiri, ’teka-teki’ dari hantu penghuninya. Menonton film ini seperti sedang menyaksikan orang bermain wahana Escape Room, kalian tahu, kesan yang ada malah seru. Seramnya jadi nomor dua. Dengan hantu yang bisa kalah dengan ditembak senjata api, film juga seperti lebih ke aksi ala film-film zombie. Tidak ada ‘peraturan’ yang jelas soal setan dalam film ini. Kenapa mereka bisa terluka oleh peluru biasa, apakah mereka setan yang berdarah daging, like, apakah mereka dibangkitkan oleh suatu kekuatan jahat ataukah mereka berupa jejak yang ditinggalkan jiwa di dunia (Ya, aku mengutip Snape). Pada satu sekuen kita diperlihatkan mayat yang sudah mengeriput seperti mumi, lalu mayat tersebut bangkit menyerang Irene dan kita melihat wujud si setan tidak lagi keriput, ia seperti sosok yang bicara kepada Irene di adegan sebelumnya. Dan kemudian si setan kalah dengan dibakar. Tidak benar-benar jelas dalam film ini apa yang sebenarnya mereka hadapi. Pertempuran terakhir dengan Valak pun malah jatohnya lucu. Memang sih, gak jatoh sekonyol Scooby Doo, tapi lebih dekat ke arah sana ketimbang horor dramatis yang menyentak urat ketakutan kita.

“they don’t want Nun, they don’t want Nun”

 

Film ini mengikat dengan baik ke permulaan film The Conjuring (2013), dan sayangnya itulah hal terbaik yang berhasil diraih oleh The Nun. This is like a throw-away movie, yang ada hanya untuk mengisi ruang yang sebenarnya pun tak ada pengaruhnya jika dibiarkan kosong. Melihatnya kembali, sekilas, memang bisa tampak mengesankan gimana film ini ternyata adalah cerita lengkap dari satu adegan di film sebelumnya. Tapi dari kacamata pembuat, ya semua aspek sebenarnya bisa dipanjang-panjangin. Enggak benar-benar susah mengarang cerita dari satu aspek minor dari sebuah film panjang, dan menarik satu cerita baru dari sana. Cerita The Nun sendiri pun sebenarnya bukan cerita yang kompleks, sangat sederhana, malah. Jadi, hal terbaik yang dilakukan oleh film ini juga sebenarnya enggak berarti banyak. Mereka hanya menarik background baru, tokoh-tokoh baru, dan bahkan yang baru-baru itu enggak berhasil dikembangkan dengan maksimal.

Taissa Farmiga didaulat untuk memerankan Suster Irene yang ditunjuk oleh Vatikan sebagai orang yang harus dibawa Pastor Burke menyelidiki Biara Terkutuk. Kita memang dikasih tahu Irene ini punya Penglihatan; dia bisa melihat dan berkomunikasi dengan makhluk halus – sama seperti Burke. Tapi kita tidak pernah tahu kenapa Vatikan secara khusus memilih dia, yang bahkan belum mengucap sumpah. I mean, dari sekian banyak suster, masa iya cuma dia yang bisa Melihat? Seharusnya ada alsan khusus, namun alasan Irene menjadi tokoh film tersebut masih merupakan misteri hingga akhir cerita. Aku suka Taissa, menurutku dia hebat di American Horror Story, dia sudah jago bermain horor – in fact, Taissa menang Unyu op the Year berkat penampilannya di serial ini. Di The Nun, dia juga enggak bermain jelek. Sayangnya, tokoh yang ia perankan di sini setengah-matang.

Taissa adalah adik dari Vera Farmiga, pemeran Lorraine di semesta Conjuring, mereka secara natural obviously mirip – jadi pasti ada sesuatu yang diniatkan dari castingnya kan? Membuat kita berasumsi jangan-jangan tokoh mereka sebenarnya adalah orang yang sama. Tapi toh hal tersebut juga tidak masuk akal, there’s no way Irene dan Lorraine adalah orang yang sama. Yang satunya suster, pengorbanan adalah arc tokohnya, jadi mustahil jika nanti setelah dewasa dia menikah, terlebih mengganti nama. Irene akan membuang arc-nya jika dia menikah. Tidak ada indikasi tokoh majornya punya hubungan dengan tokoh utama semesta cerita, membuat Irene semakin terasa random lagi untuk berada di sana.

 

 

 

 

Kurangnya latar belakang tokoh – si Pastor punya penyesalan sehubungan dengan pekerjaannya di masa lalu, selain itu kita tidak banyak tahu, membuat kita sulit untuk peduli ketika mereka berada di dalam bahaya. Terlebih, setiap keputusan yang dibuat oleh para tokoh benar-benar klise dan bego; Mereka akan berpencar di setiap kesempatan. Film ini memang bukan jawaban jika kita berdoa “Oh Tuhan, tunjukkanlah hamba film yang bagus”.  Ada banyak kekurangan yang mestinya enggak diulang lagi, kita hanya harus ambil tindakan untuk mengenalinya. Satu-satunya cara untuk kita bisa menikmati film ini adalah dengan menganggapnya sebagai petualangan misteri. Karena film ini lebih kepada seru, dan konyol, ketimbang seram. Bahkan jumpscarenya enggak bikin kaget.
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for THE NUN.

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa kita perlu untuk mengenal siapa Valak – apakah kita benar-benar butuh untuk menonton film ini? Apa kira-kira hubungan Irene dengan Lorraine? 

Kalo ketemu hantu, kira-kira kalian akan berdoa atau langsung ambil langkah seribu?

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

SABRINA Review

“Revenge may be wicked, but it’s natural.”

 

 

 

‘Rocky Horror Picture Show’ sepertinya akan mendapat tambahan arti. Jika lawas, kita mengenal kata itu sebagai judul film cult klasik bergenre musical horror. Maka bukan tidak mungkin di era kekinian, mendengar kata tersebut orang-orang jaman now pada langsung kepikiran Rocky Soraya dan rentetan horror sadis buatannya dalam seri The Doll yang dimulai sejak 2016. Sabrina, entry teranyar dari seri ini, hadir dengan cap dagang yang sama; boneka berisi setan dan tusuk-tusukkan hingga potongan anggota badan. Jualan yang ampuh. Seri ini sudah semakin mantap menyemen jalan menuju status cult klasik miliknya sendiri. Meski aku heran juga kenapa boneka ugly-not-creepy kayak Sabrina dibeli oleh banyak anak kecil dalam film ini.

ayo rolling-eyes bersama Sabrina

 

Setelah dua kali sukses, The Doll dan The Doll 2 (2017) mendapat sambutan hangat dari both kalangan penggemar body horror dan mainstream, Rocky dan timnya di rumah produksi Hitmaker Studios tampaknya menjadi semakin gede kep… gede hidung menangguk keberhasilan yang serupa. Tetap bercokol di lingkungan keluarga – yang membuat cerita film ini somewhat relatable – mereka mulai mengekspansi sudut pandang cerita. Sabrina tidak lagi sekedar membahas gimana boneka yang tampangnya kayak versi kartun Luna Maya bermata besar berambut keriting ini menjadi medium entitas jahat yang mengganggu satu keluarga. Ini juga adalah tentang pertempuran ilmu putih dan roh hitam. Malahan, begitu ambisiusnya cerita, status film ini menjadi agak ‘kabur’; pembuatnya bilang ini spin-off, meskipun secara jelas cerita merupakan kelangsungan dari kejadian di The Doll 2. Either way, sesuatu yang mengerikan bakal terjadi, dan tokoh ahli supranatural yang sudah kita kenal di dua film sebelumnya, harus segera menghentikan. Tak peduli meski nyawa mereka sendiri yang sekarang menjadi incaran.

Aku sendiri lebih suka menganggap ini sebagai sekuel karena memang ceritanya terasa lebih besar. Tapi tentu saja lebih besar bukan berarti lebih baik. Aku sempat bingung juga siapa sih tokoh utama di film ini. Seharusnya memang Laras, si paranormal. Hanya saja untuk sebagian besar pertengahan pertama – also the heart in the story – kita akan melihat Maira berusaha menata keluarga barunya. Dia menikah dengan anak pemilik pabrik mainan yang memproduksi boneka Sabrina yang baru. Pasangan ini mengangkat anak bernama Vanya, yang actually adalah keponakan dari Aiden, suami Maira. Kita juga bisa melihat cerita dari sudut pandang Vanya yang bersikap dingin kepada orangtua angkatnya, karena Vanya masih mengenang dan sulit melepaskan sosok ibu kandungnya yang telah tiada. Vanya dan Maira punya hubungan yang cukup menarik; mereka sama-sama kehilangan orang yang mereka cintai. Maira tadinya berpikir Vanya yang lebih suka main boneka dan ngobrol sendiri punya masalah yang sama dengan dirinya di film terdahulu; halu bahwa ibunya (anak dalam kasus Maira) masih hidup. Little did she know, Vanya mengontak dan memanggil roh ibunya lewat permainan anak-anak. Hantu ibu Vanya ini mulai menimbulkan masalah, karena dia sepertinya cemburu Maira mendekati anaknya. Or so we thought. Tapi hal menjadi lebih mengerikan lagi. Iblis yang dipanggil oleh Vanya ternyata punya masalah personal dengan Laras, paranormal kenalan Maira. Cerita kemudian berpindah ke si Iblis Baghiah dan Laras, dan bagaimana Laras harus mengalahkan makhluk halus yang haus tubuh manusia tersebut.

Ini adalah cerita tentang sosok-sosok yang dibesarkan oleh keinginan untuk balas dendam. Di film ini kita akan melihat seberapa jauh dan mengerikannya balas dendam bisa terwujud, jika kita memang berniat untuk melakukannya. Atau bagaimana kesumat itu bisa diredam dengan willing to let go

 

 

Cerita semakin tak terkendali menjelang babak ketiga. Udah susah untuk bisa kita pedulikan. Semua kejadian berbelok dan masuk sekena pembuatnya saja. Ada yang involving senjata mustika. Ada twist yang berhubungan dengan soal persaingan internal keluarga pebisnis mainan. Elemen-elemen cerita ini sebenarnya terikat dengan rapat. Plot pun menutup dan film ini bisa berdiri sendiri. Momen menarik buatku adalah ketika Laras sempat ragu apakah akan mengambil pisau atau kalung daun kelor untuk memusnahkan Baghiah; ini adalah momen ketika dia memilih apakah harus membalas dendam secara langsung atau tidak, karena iblis itu sudah menghancurkan keluarganya sejak film-film yang lalu. Mengenai twistnya, THE CLUE WAS ON THE NOSE, if you know what I’m speaking. Pada dasarnya, drama film ini akan terasa dangkal kurang terdevelop, karena memang porsi yang lebih menarik sudah mereka ceritakan di The Doll 2. Sekaligus juga terasa membingungkan karena jumlah cerita dan elemen-elemennya banyak dan semua ditulis setengah hati, dengan karakter yang lemah.

Ada adegan ketika Vanya mau masuk ruangan yang gelap, tapi dia takut. Dia mencoba menghidupkan lampu, sayangnya saklar terlalu tinggi. Jadi dia masuk saja gelap-gelap. Ini adalah contoh gimana malasnya ngembangin cerita sehingga mengorbankan karakter. Naskah butuh si anak masuk ke ruangan yang gelap; banyak hal yang bisa dilakukan untuk jadikan rintangan – kita perlu melihat usaha si anak karena dia adalah karakter yang seharusnya kita pedulikan. Tapi enggak, Vanya malah terlihat bego gak bisa ngidupin lampu; sebagai hasil dari adegan ini. Satu lagi; di bagian akhir ada pengungkapan yang memperlihatkan semua kejadian mengerikan itu terjadi karena ada satu tokoh yang membayar dukun untuk memanggil setan. Actually, setannya yang membeberkan hal ini. Kemudian kita lihat si tokoh ditangkap polisi, sebagai penyelesaian. Dan ini membuatku berpikir; atas dasar apa polisi menangkap orang yang secara fisik tidak pernah menyentuh, apalagi melukai, korban? Bisakah hukum menahan orang yang ke dukun atau bahkan dukunnya sendiri jika tidak ada bukti mereka melakukan kejadian, katakanlah, pembunuhan? Mungkin kita bisa berkilah ‘ini cuma film’ namun mengambil penyelesaian termudah itu sesungguhnya mendangkalkan cerita lantaran mereka bisa mengeksplorasi gimana nasib si tokoh dengan lebih baik – dan in turn, membuat tokohnya jadi lebih dalem dari sekadar twist device

Paruh terakhir toh bisa saja memuaskan untuk penggemar horror sadis yang tak peduli melihat hal yang sama berkali-kali. Sara Wiijayanto sukses tampil intens, seteru Laras dengan Baghiah, melibatkan banyak orang berdarah-darah tak pelak ada highlight dari film ini. Kalo kalian bertanya kenapa hantunya musti repot ngerasuki orang, membunuh pakai pisau, padahal sebenarnya dia tinggal membanting dengan kekuatan gaib, maka jawabnya adalah karena persoalan sudah begitu personal, hantunya ingin memberikan rasa sakit sebanyak mungkin. Dan juga karena ditusuk pisau aja masih bisa hidup, gimana mau dibanting.

Begitu juga dengan Luna Maya yang dengan berani menjajal semua. Dia jadi wanita yang berusaha memenangkan hati anak angkatnya. Dia kesurupan jadi setan pencabut nyawa. Dia dikubur hidup-hidup. Dia dilempar hingga punggungnya menabrak rak sehingga dahinya terluka. Make up dan efek darahnya hebat. But the filmmakers need to put a new spin into their product. Dan jelas ‘spin’ yang dimaksud di sini bukan spin dari game Pencil Charlie. Serius deh, adegan-adegan permainan memanggil arwah ini digarap dengan begitu malas sehingga dengan begonya kita menatap shot yang sama sampai lima kali. Masa iya mereka gak bisa memfilmkan pensil menuju kata ‘yes’ dengan arah atau sudut yang berbeda. Shoot yang ngezoom pintu setiap kali pindah adegan juga sama overusednya. Awalnya memang terlihat keren, tapi diulang begitu-begitu terus ya jadi bosen.  Ini menjadi bukti bahwa pembuat film ini memang suka mengulang memakai sesuatu yang menurut dia bagus dan cukup berhasil. Film ini kita mendapat banyak adegan yang mirip, beat-to-beat poin adegan nyaris kayak film sebelumnya. Dan betapa lucunya melihat begitu banyak yang kesurupan di film ini, dan semuanya jadi berhidung gede. Ini udah kayak Truth or Dare (2018) di mana yang kesurupan senyum aneh semua.

Kalo lagi main game fighting, pembuat film ini pastilah selalu memakai tokoh yang sama untuk menang, dengan mengeluarkan jurus yang itu melulu – tak lebih dari tendang bawah. I mean, penting untuk menemukan formula keberhasilan – jurus dalam video game adalah formula-formula tersebut, dan tak kalah pentingnya untuk menemukan cara-cara baru untuk mengeksekusi formula tersebut. Karena menggunakan jurus yang sama terus menerus akan membuat orang belajar menemukan kelemahan kita. Dan tentu saja; membosankan.

yang belum pernah kita lihat sebelumnya di film ini adalah Luna Maya berhidung gede

 

Dengan minimnya kemauan untuk mengembangkan cerita, dialog-dialog terdengar kaku karena sebagian besar berisi eksposisi. Sedari awal saja kita sudah dikasih kado-kado berupa penjelasan dan latar belakang cerita.  Film merasa perlu untuk menjelaskan setiap detil kecil. Cara dobrak pintu, misalnya. “Kalo saya bilang ‘dobrak’, kamu dobrak yang keras.” Enggak semua hal musti diucapkan. “Kalo tiga dari jawabannya ada yang salah, berarti hantunya palsu.” Enggak semua kesimpulan musti dijabarin. Malahan, dialog Luna Maya saat menemui Laras pada dasarnya sama aja ama ngerangkum plot yang sudah dilewati. Dan setelah semua ekposisi yang enggak perlu tadi, mereka malah ninggalin yang mestinya mereka jelasin. Tokoh yang diperankan Jeremy Thomas, kita tak tahu apa-apa tentang tokoh yang cukup signifikan ini. Backstorynya hanya dideliver dalam satu kalimat bahwa dia adalah rekan kerja Laras yang dulu, and that’s it. Gimana kita mau peduli, coba, yang ada malah curiga.

 

 

 

Maira, Aiden, Vanya.
Marah. Edan. Paniang.
Itulah yang kurasakan saat menonton ini. Marah karena mereka tidak melakukan apa-apa yang baru, semua yang kulihat di sini tak ubahnya adegan-adegan yang kulihat pada film kedua. Bahkan shot-shot yang digunakan pada film ini pun repetitif. Edan, lantaran kekuatan film ini terletak di kenekatannya tampil berdarah-darah, dan mereka terus mengepush kualitas ini. Dan paniang, pening oleh banyak hal ‘bego’ yang tak terjelaskan, juga oleh naskahnya yang begitu convolute – tiba-tiba ada yang berubah, tiba-tiba ada elemen yang dijejel masuk – mereka seharusnya menulis cerita dengan lebih tight; jika memang pengen memperkenalkan ini sebagai spin-off buat saja dari sudut pandang Laras, misalnya. Buat penonton yang baru menyaksikan ini, tanpa menonton film sebelumnya, kalian bisa saja menjadi fan baru yang kepincut dan penasaran pengen nonton prekuel-prekuelnya. Tapi buat penonton yang sudah ngikutin, jenuh pasti datang, karena kita pengen melihat aplikasi gimmick seri ini dalam sajian yang fresh.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SABRINA.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

OCEAN’S 8 Review

“Let something be its own thing”

 

 

Sejujurnya aku ngeri. Aku tidak akan pernah bisa mengerti sejauh mana cewek rela terjun demi mendapatkan apa yang mereka mau – dalam kasus Debbie Ocean, ingin mengambinghitamkan cowok yag menjebloskannya ke penjara. Maksudku, tentu kita sukar sekali misahin unsur feminisme pada jaman kekinian, semuanya tentang pemberdayaan sekarang ini; namun Ocean’s 8 yang notabene adalah versi cewek dari Ocean’s Eleven tanpa tedeng aling-aling memperlihatkan tokoh-tokohnya memanfaatkan ketidaksamarataan gender sebagai senjata utama. “Cowok diperhatikan orang, cewek enggak.” kurang lebih begitu kata Debbie yang merupakan adik dari Danny dari tokoh utama trilogi asalnya. “untuk sekali ini kita ingin semua orang tidak memperhatikan kita” dia menutup rapat rencana perampokan permata geng cewek mereka, dengan isyarat keras kenapa tidak ada laki-laki di dalamnya.

Bergantung kepada sikap kesatria para pria yang segan masuk ke dalam kamar mandi wanitalah, Debbie merancang rencana perampokan permata di acara Met Gala itu dari bilik sel isolasi saat masih di dalam penjara. Ocean’s 8 bercerita dengan mengambil sudut pandang seorang wanita yang di dalam dirinya sudah mengalir darah penipu ulung. Yang tentu saja diback-up dengan kemampuan infiltrasi, penyamaran, dan berbahasa yang luar biasa. Dengan cepat kita dibuat tahu sejempolan apa kehebatan si Debbie ini. Dijual sebagai spin-off, sesungguhnya film ini bertindak sebagai sekuel dari trilogi rebootan filmnya Frank Sinatra; ceritany merupakan kelanjutan dari timeline cerita garapan Steven Sodenbergh, bertempat di ‘dunia’yang sama, dan Ocean’s 8 berhasil setidaknya mengimbangi trilogi tersebut dalam segi gaya dan keasyikan menonton.

Bukan karena keglamoran dan hingar bingar pesta dengan segala perhiasannya yang membuat mereka tertarik untuk melakukan perampokan berencana, melainkan karena mereka tahu persis bagaimana perangkap feminisme dalam dunia glamor itu bekerja di dunia nyata

 

 

Semua hal pada film ini, mulai dari perencanaan hingga actual heist – bahkan aftermath nya pun tampak sangat mewah. Dari kacamata sutradara Gary Ross, kita bisa paham kenapa film ini punya kepentingan untuk tampil ngepas ama trilogi pendahulunya. Jika kita menonton semua film dalam franchise ini berurutan, kita tidak akan menemukan ketimpangan yang mencolok. Karena dia benar-benar bekerja dengan mengikuti formula yang sudah ada. Keasyikan menonton film ini terutama datang dari jajaran castnya, obviously. Hampir-hampir mereka semua adalah papan atas Hollywood. Sandra Bullock dan Cate Blanchett begitu luar biasa charming dan fantastis. Chemistry para pemain meyakinkan sekali, tidak ada titik lemah dalam departemen akting. Mereka semua tampak fabulous dari segi akting maupun penampakan. I mean, wardrobe film ini benar-benar niat , seperti menyaksikan fashion show yang berselera tinggi. Anne Hathaway cakep banget, aku suka melihat duonya dengan tokoh Helena Bonham Carter di sini. Tadinya yang menghawatirkan buatku adalah Rihanna, karena dia yang punya jam terbang akting yang paling kurang di antara nama gede yang lain. Namun untungnya film tampak mengerti akan hal tersebut, jadi mereka memainkan Rihanna ke dalam peran yang tepat; tokohnya adalah seorang hacker jalanan yang gak suka banyak bicara. Rihanna sukses memerankannya, dia tidak mewujudkan kekhawatiranku menjadi kenyataan. Aku sudah suka Sarah Paulson sejak American Horror Story season 2, dan setiap kali dia tampil di layar dia membawa rasa bangga dan tidak pernah mengecewakan.

bisa jadi referensi baju baru abis lebaran nih buat cewek-cewek hihi

 

 

Segala kecantikan, keglamoran, dan kekerenan dan keseruan teaming up tersebut tampaknya digunakan untuk membuat mata kita silau. Untuk mengelabui kita dari ‘perampokan’ sebenarnya yang dilakukan oleh film. Aku enggak membenci, malahan sangat terhibur olehnya, tapi fakta bahwa film ini sesungguhnya tidak menawarkan apa-apa yang baru di baliknya – tidak ada kepentingan sepertinya selain untuk meneruskan franchise sukses – membuatku tak tanggung-tanggung kecewa. Apa yang mestinya sebuah lanjutan, dengan gimmick gender flipping dan semua itu, malah terasa tak lebih dari sebagai sebuah remake. Film ini meniru apa-apa yang dilakukan Soderbergh pada Ocean’s Eleven (2001) nyaris beat per beat. Lihat saja adegan pembukanya; Sandra Bullock menghadap kamera, ia sedang ditanyai mengenai apa yang akan ia lakukan jika dibebaskan oleh petugas kepolisian yang hanya kita dengar suaranya, persis seperti pada film pertama. Ocean’s 8 tidak tampak berusaha menjadi film sendiri, mereka basically mengembangkan film ini dari kerangka poin cerita yang sama dengan film pertama, hanya mengganti pemeran pria dengan wanita. Menukar uang dengan permata.

Ada banyak teknik zoom dan wide shot panjang sama seperti yang dilakukan Soderbergh. Meskipun teknik demikian bukan semata cap dagang Soderbergh, tapi mengingat film ini adalah produk keempat dari sebuah franchise, kita dibuat untuk mau tak mau melihat bagaimana film ini begitu keras berusaha untuk tampil mengikuti alih-alih menjadi diri sendiri. Jika kita punya perombakan besar-besaran, dengan cast dan bahkan crew yang sudah begitu berbeda, membuat hasil akhirnya sebagai produk yang gitu-gitu aja buatku tak bukan adalah sebuah kesia-siaan. Paling enggak, seharusnya mereka membuat film ini tidak sedemikian gampang untuk dibandingkan dengan film yang pertama – terlebih dengan segala versi cowok dan versi cewek ini.

Sekuen perampokan permata di Met Gala memang akan selalu seru, namun tidak disuguhkan sesuatu yang baru. Bahkan tidak ada stake yang benar-benar membuat kita peduli di sana. Kita tahu mereka akan berhasil, kita hanya duduk di sana ngikutin dengan merasa senang. Seperti yang sudah kita rasakan berkali-kali. Akan jauh lebih menarik jika ada intensitas dalam sekuen tersebut ketimbang sekadar melihat orang berseliweran sambil tersenyum berahasia dan sesekali melihat kameo bintang-bintang. Film ini kurang bumbu penjahat yang menyakinkan, halangan yang terasa benar-benar mampu untuk menggagalkan rencana mereka. Semuanya tampak begitu gampang buat mereka, dan di titik ini aku udah enggak begitu pasti entah hal hal tersebut dikarenakan tokohnya memang dibuat terlalu pinter atau filmnya sendiri yang dibuat dalam mode easy karena tokoh-tokohnya cewek semua.

atau mungkin pembuat filmnya memang ingin film ini di-ignore seperti kata Debbie

 

Sebuah film spin-off atau sekuel sebaiknya berani untuk digarap menjadi berdiri sendiri, tidak lantas meniru. Sepertinya memang kita harus membiarkan sesuatu menjadi dirinya sendiri. Karena semua udah ada tempatnya masing-masing. Cewek ya jadi cewek aja, cowok pun sebaiknya jadi cowok aja. Jangan jadi sesuatu yang bukan diri kita.

 

 

 

Setiap kali aku nonton film kayak gini, rasanya selalu aneh, lantaran ini sebenarnya termasuk dalam film yang susah dikategorikan ke dalam rating angka. Film ini dibuat dengan estetika yang benar; strukturnya enggak ngaco, pemain-pemainnya bekerja dengan baik dan luar biasa meyakinkan. Bahkan penampilan mereka pun bagus, bajunya kece-kece. Ini adalah film yang menyenangkan, namun menyenangkan yang sama yang sudah kita rasakan paling enggak tiga kali. Tuntutan untuk menjadi lebih baik, menjadi hal yang baru akan selalu ada, dan film ini gagal memenuhi kedua hal tersebut. Baik dan menyenangkannya hanya dalam batasan meniru yang sudah ada. Hingga menimbulkan pertanyaan, kalo begitu kenapa film ini mesti ada? Dan saat pertanyaan tersebut kita sadari ada di benak kita, uang di dompet sudah keburu hilang, karena film semacam ini adalah heist gemerlap yang sebenarnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for OCEAN’S 8.

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017