SRI ASIH Review

 

“The best fighter is never angry”

 

 

Waktu mewawancarai Sri Asih tempo hari (videonya bisa ditonton di sini), aku bertanya kenapa penting bagi film-film jaman sekarang untuk menampilkan karakter perempuan yang badass. Pevita Pearce dan Jefri Nichol kompak menjawab bahwa karena sudah bosan melihat pria-pria terus yang berantem dan jadi jagoan. Aku setuju dengan jawaban mereka. Perempuan bisa kok jadi jagoan. Setelah sekian lama selalu ditampilkan sebagai ‘dayang-dayang’ yang fungsinya untuk diselamatkan oleh pahlawan cowok, sekarang sudah waktunya untuk menampilkan keberdayaan perempuan. Film, khususnya genre superhero, harus aware karena inilah medium yang tepat untuk menyimbolkan hal tersebut. Like, tahun ini saja Marvel sudah membuat terobosan dengan mulai memperkenalkan ‘versi cewek’ dari  masing-masing karakter superhero laki-laki yang mereka punya. Perempuan mampu membela diri, menghajar orang jahat dan menyelamatkan dunia. Ini haruslah diperlihatkan dalam konten yang lebih daripada sekadar memperlihatkan perempuan bisa lebih jago daripada lelaki.

Dalam soal itulah aku agak kurang setuju dengan bagaimana Sri Asih garapan Upi menampilkan dan mengembangkan sosok karakter superhero perempuannya. Where do I start?

Alana punya origin story yang bisa dibilang paling aneh di antara superhero-superhero lain yang aku tahu, lokal maupun mancanegara. Alana tidak ditempa oleh tragedi. Dia seperti dilahirkan dengan kekuatan karena ibunya actually ngidam melihat gunungapi saat mengandung baby Alana. Seperti ada koneksi antara kekuatan api dengan dirinya semenjak masih bayi. Gunung Merapi seperti tahu kehadiran Alana yang keturunan Sri Asih, sehingga memuntahkan asap panas, Kedua orangtua Alana lantas meninggal dunia dalam peristiwa naas setelah mereka kabur dari letusan gunung. Alana jadi dibesarkan di panti asuhan, dan sejak kecil dia mimpi didatangi oleh Dian Sastro.. eh, Dewi Api! Mengenai kekuatannya, kita tidak diperlihatkan gimana Alana bisa mengendalikan atau dia sendiri tahu persisnya gimana. Karena sejak kecil dia sudah cakap berantem. Dia menghajar tukang bully di panti. Alana kecil lantas diadopsi oleh ibu-ibu yang ternyata adalah agen profesional underground fighter. Kali berikutnya kita melihat Alana, dia udah gede dan jadi fighter yang menghajar lawan-lawan cowok. See, jadi Alana ini adalah tipe karakter chosen one, tapi kita tidak pernah diperlihatkan dia belajar atau berjuang untuk menggunakan kekuatannya. Alana ini kayak Mulan yang versi live-action; yang sudah jago. Dan kesamaan itu otomatis jadi red flag.

Padahal Sri Asih mestinya bawa red selendang hihihi

 

Kenapa red flag, karena kalo sudah jago begitu, maka apa dong yang harus dipelajari oleh si protagonis? Journey apa yang harus ditempuh oleh karakter utama sebagai plot yang bisa kita simak. Mulan live-action adalah bukti kegagalan naskah mengeksplorasi cerita keberdayaan perempuan, dengan membuat karakternya sudah hebat dan gak punya pembelajaran. Beda dengan cerita film animasinya. film versi modern itu hanya seperti memperlihatkan si Mulan lebih jago dari siapapun, terutama laki-laki. Sri Asih sebenarnya masih punya ruang untuk menggali, film ini tidak sepenuhnya ngesok membuat Alana jagoan seperti yang dilakukan film Mulan kepada karakter pahlawan legendanya. Film Sri Asih sebenarnya masih membuka ruang untuk pengembangan dengan membuat Alana harus belajar mengendalikan amarahnya. Diceritakan meskipun Alana adalah keturunan Sri Asih, tapi jika dia membiarkan diri terbakar oleh rasa marah, maka kekuatan pengrusak dari Dewi Api – musuh dari Sri Asih – yang akan menguasainya. Jadi Alana, dengan bantuan teman-temannya, berusaha mengendalikan amarah.

Marah memang sebaiknya tidak ditahan-tahan. Marah jika disalurkan dengan baik, maka juga bisa jadi kekuatan – dan justru menyehatkan. Lihat saja Gohan di Dragon Ball. Kuncinya adalah di penyaluran. Alana harusnya membaca bukunya Lao Tzu. Karena founder Taoisme itu mengajarkan seorang pejuang haruslah tidak mempertontonkan amarah. Karena seorang pejuang bisa menang jika berpikir dengan tenang, membuat keputusan dengan melihat semua dengan jelas. Semua itu hanya bisa dilakukan ketika hati dan kepala tidak sedang terbakar oleh emosi.

 

Naskah harusnya berkutat di sini. Di pergulatan personal Alana dengan dirinya. Dengan amarahnya. Masalah pada naskah Sri Asih adalah it gets too ambitious. Durasi dua jam jika memang fokus kepada karakter Alana, luar – dalam, bukan soal dia mengalahkan lawan dalam caged fight saja, tentulah akan menghasilkan cerita yang lebih grounded. Cerita superhero yang lebih menginspirasi buat penonton, karena bagaimanapun juga manusia menonton film hakikatnya adalah untuk menyimak perjalanan seseorang dalam usaha menjadi orang yang lebih baik. Wonder Woman pertama (2017), misalnya. No wonder film itu jadi salah satu cerita superhero buku-komik terbaik – superhero wanita pula! sebab mengeksplorasi kenaifan Diana Prince yang menganggap manusia itu innocent. Film itu tahu sisi vulnerable Diana, dan sepanjang durasi dimanfaatkan untuk menggali hal tersebut. Diana ditempatkan di zona perang, dan sebagainya. Bagi Alana, sisi vulnerable itu adalah rage. Rasa marah. Formulanya sebenarnya bisa sama dengan Wonder Woman. Namun, naskah ambisius film ini membuat pembahasan soal itu melompat-lompat. Karena ada banyak lagi hal-hal di luar personal Alana yang hendak dibahas.

Kita bahkan gak pernah yakin si Alana ini jadi gampang marah karena apa. Masa iya karena sering mimpi api? Dari sebelumnya dia menang telak di dalam arena, kita lantas melihat Alana tanding gak stabil karena guncangan amarah. Tau-tau dia jadi disebut punya masalah kontrol emosi saja. Pengembangan soal Alana ini jadi semakin terasa choppy karena naskah tampak lebih tertarik nunjukin elemen cerita yang lebih berbau politik dengan segala kekelamannya. Orang kaya yang memandang rendah orang miskin. Polisi yang tidak memihak rakyat. Dan tentu mereka-mereka adalah cowok yang sebagian besar brengsek. Ada lebih banyak durasi yang digunakan untuk dengan gamblang menyebut cowok lawan cewek, ketimbang durasi yang disediakan untuk Alana confront emosinya. Like, kupikir dia bakal susah menjelma sebagai Sri Asih karena begitu banyak amarah. Tapi ternyata persoalan itu selesai dengan gampang. Alana tinggal menari tradisional dalam sebuah ritual untuk menerima/membangkitkan kekuatan Sri Asih. Enggak tau juga kapan dia belajar tariannya. Persoalan kostum juga sama sekelebatnya. Sudah tersediakan!

“Darimana mereka bisa tahu ukuran gue…?!” cue musik DHUAR DHUAR!!!

 

Sama halnya dengan Gundala (2019), film pertama dari Bumi Langit Universe, naskah Sri Asih dengan cepat membesar dari yang tadinya serius dalam ranah personal, menjadi seperti serius tapi semakin mendekati konyol. Serum amoral kini digantikan posisinya oleh tumbal mistis 1000 jiwa, dengan rakyat penghuni rusun miskin jadi calon korbannya. Buatku lucu sekali si tumbal mistis ini begitu spesifik sehingga kentara banget maksanya. Seribu jiwa harus dibunuh bersamaan. Like, emangnya siapa yang ngitung. Kalo kurang atau lebih satu, apakah si penjahat harus ngulang lagi ngumpulin seribu jiwa yang lain. Dan itu keadaannya jelas kurang satu, karena Tangguh – teman dari masa kecil Alana – sebagai salah satu penghuni rusun sudah tidak ikut terjebak karena ada di markas bareng Alana. Motif penjahat serta karakter jahatnya sendiri juga jadi tidak terestablish dengan baik, saking banyaknya yang mau diceritakan. Berpindah dari yang tadinya cowok kaya yang asshole abis ke sosok mistis dari mitologi ke seorang yang diniatkan sebagai revealing yang mengejutkan. Alias twist. Dan twist ini, sodara-sodara, justru bikin satu-satunya perspektif menarik yang digali oleh cerita, jadi kayak terbuang gitu aja. Karena tidak lagi berarti, toh ternyata si karakternya beneran jahat!

So yea, Sri Asih adalah tipikal film yang menganggap dirinya sangat serius sehingga semua dialognya jadi intense. Karakter yang ngucapinnya juga, kayak orang paling misterius dan serius-you-don’t-wanna-mess-with-me semua. Kalo butuh sedikit mencairkan suasana, film akan membuat Alana dan Tangguh ‘berubah’ jadi karakter dengan dialog ala Marvel sebentar. Tapi sebagian besar waktu, film ini punya dialog-dialog superintens, yang bahkan lebih intens daripada sekuen berantem superheronya.  Kalo mau diurutin bagian intensnya, nomor satu adalah dialog-dialog, kedua adalah berantem martial arts di arena fight, dan ketiga berantem superhero. Yang aku suka adalah berantem martial arts ala UFC yang grounded.  Tapi itu juga mungkin karena pengaruh Pevitanya, karena kita tahu dia menjalani ‘transformasi’ untuk peran ini – peran yang bisa dibilang di luar kebiasaannya, jadi kinda like melihat Pevita yang berantem. Kita jadi ada ketegangan ekstra, karena ada sedikit believe ni si Pevita yang jadi Alana bisa kalah. Camera worknya juga dibuat dramatis di adegan berantem yang ini. Beda dengan ketika sudah jadi full superhero. Karena sudah jagoan banget, kita udah ngerasa kayak mustahil Sri Asih kalah melawan gerombolan penjahat cecunguk yang senjatanya cuma pistol. Shot-shotnya pun sudah mulai pakai efek komputer kayak Sri Asih atau musuhnya beterbangan. Kesannya tidak sereal dan grounded lagi. Sehingga ya jadi kurang seru, gak peduli semirip apapun genjreng-genjreng musiknya dengan tema Wonder Woman.

 




Si Sri Asih memang ‘badass’. Aku setuju kita juga gak boleh ketinggalan menampilkan cerita dengan superhero perempuan, yang punya daya, bisa menyelamatkan dunia, dan bisa mengalahkan kelemahannya sendiri. Sosok Alana juga berhasil dihjdupkan dengan cukup ikonik oleh Pevita – yang aku yakin ke depan akan terus dipanggil orang sebagai Sri Asih berkat perannya di sini. Hanya saja, sebagai cerita, film ini sesuatu yang masih berantakan. Alurnya jadi lebih peduli sama hal yang lebih ambisius, alih-alih journey personal karakter perempuannya. Plot si protagonis jadi kayak lompat-lompat perkembangannya. It was just ‘bad’. Karakternya jadi kayak sudah jago aja. Dia kayak benar sedari awal. Makanya filmnya jadi kayak soal cewek bisa lebih jago daripada cowok saja.  Namun sukurnya, film ini masih menyisakan ruang untuk Alana sedikit belajar (meskipun tidak digarap maksimal oleh naskah) sehingga, yah lumayan lah,  tidak sampai segagal Mulan.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SRI ASIH

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian siapa yang menang duel antara Sri Asih lawan Wonder Woman?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



BLACK ADAM Review

 

“Sometimes it’s better to let people handle their own problems”

 

 

The Rock dijuluki sebagai The People’s Champion. Di sisi lain, The Rock menyuguhkan penampilan terbaik saat berperan sebagai heel/antagonis. Bahkan, sebagai babyface/protagonis pun, The Rock adalah seorang heel yang dahsyat untuk para antagonis. Kenapa aku malah mengungkit peran Dwayne Johnson di jaman dia masih bergulat di atas ring?  Karena dalam Black Adam garapan Jaume Collet-Serra, Dwayne seperti dikembalikan ke akar WWEnya tersebut. Karakter Black Adam originally adalah seorang penjahat, dan dia juga adalah Champion di antara bangsanya. Makanya, karakter ini dan Dwayne Johnson tampak begitu klik. Aku pergi menonton film superhero DC ini dengan sedikit harapan melihat Dwayne kembali ke persona lamanya, seenggaknya barang sedikit. You know, sudah mulai jenuh gak sih melihat Dwayne dapat peran template cowok jagoan berbadan kekar yang gitu-gitu melulu, yang rumornya bahkan dikontrak untuk tidak boleh tampak lemah apalagi kalah. Black Adam, memang memberikan aktor ini sesuatu yang bisa dibilang keluar dari kebiasaan yang belakangan. Hanya saja film ini kelupaan mengembalikan satu hal yang juga merupakan trait The Rock. Kharisma.  Di film ini, Dwayne sebagai Black Adam is all about action, tapi diberikan karakterisasi yang minim perkembangan, selain cuma “ternyata dia begini”

Jadi Black Adam aslinya bernama Teth-Adam. Juara Shazam pilihan para Wizard lima ribu tahun yang lalu. Dia ditunjuk setelah berani mengobarkan semangat revolusi pada bangsanya, bangsa Kahndaq, yang diperbudaq. Fast forward ke masa sekarang, bangsa negara fiktif itu ternyata masih belum merdeka. Tanah mereka kini dijajah oleh sindikat kriminal yang disebut Intergang yang mencari mahkota Sabbac, relik berkekuatan super yang disembunyikan oleh Teth-Adam di masa lalu. Makanya, supaya bangsanya selamat, Adrianna dan kelompok kecilnya berusaha menemukan mahkota itu terlebih dahulu. In the process, Adrianna membebaskan Teth-Adam. Bangsa Kahndaq modern yang mengenal Sang Juara lewat legenda, langsung mengelu-elukan makhluk super itu sebagai pahlawan yang bakal membebaskan mereka semua. Teth-Adam memang pelindung bangsa, hanya saja dia menegakkan keadilan dengan caranya sendiri. Cara yang membuat pasukan Justice Society pimpinan Hawkman harus datang dari jauh untuk campur tangan mengamankan Teth-Adam yang justru dianggap sebagai monster perusuh.

Si Adidaya yang selalu ikut campur urusan tetangga

 

Kepada genre superhero, film ini sebenarnya menawarkan cerita yang tak biasa. Mengangkat penggalian baru dengan sedikit mengubah Black Adam yang aslinya total villain menjadi lebih seperti anti-hero. Hero, tapi aksinya bikin gerah superhero yang lain.  Jadi si Adam ini punya sense of justice sendiri. Dia percaya yang namanya penjahat, penjajah, ya mestinya dibunuh. Kinda like ketika masyarakat udah geram ama hukum yang bertele-tele, terus lebih milih penghukuman ‘netijen’. Teth-Adam sendiri sebenarnya gak pernah mengakui dirinya pahlawan. Dia hanya mau bangsanya gak tunduk dan pasrah lagi. Dia maunya revolusi.  Seteru paling seru di film ini justru datang dari konflik antara Adam dengan Hawkman, pemimpin geng Justice Society yang datang untuk menangkap dirinya jika tidak mau bekerja sama. Jika Teth-Adam masih terus membunuh. Basically Hawkman di sini bertingkah seperti polisi moral, yang mencoba mengatur bagaimana cara menjadi pahlawan yang benar. Cara film ini menampilkan ‘cara’ Teth-Adam menghukum penjahat versus reaksi Hawkman seringkali jadi kocak. Walaupun konteksnya cukup dark, film berhasil menampilkan dalam nada yang cukup ringan sehingga menghibur melihat konflik paham antara Adam dengan Hawkman. Teth-Adam bukan saja tidak suka diatur, dia juga tidak suka melihat ada bangsa lain yang datang mengusik tanah airnya. Bagi Teth-Adam, Justice Society tak ada bedanya ama Intergang, sama penjajah yang mau ikut campur.

Bangsa Kahndaq cuma ingin merdeka. Mengatur sendiri urusan mereka. Menyelesaikan sendiri masalah mereka. Namun sejarah bangsa ini mencatat, sedari dulu mereka dijajah dan dicampuri oleh penguasa ataupun pihak dari luar yang lebih kuat. Makanya ketika Justice Society datang ke sana untuk menangkap sosok pahlawan bagi bangsa Kahndaq, keadaan menjadi semakin kacau. Inilah yang mestinya diperhatikan. Bahwa seringkali sebaiknya kita tidak mencampuri urusan pihak lain yang tidak ada sangkut-pautnya dengan kita.

 

Menurutku tema cerita Black Adam ini menarik sekali, terutama karena datang dari negara yang terkenal suka ikut campur urusan negara orang lain. Bukan satu dua kali Amerika mengirimkan bala tentara ke negara-negara yang tengah berkonflik, untuk berperang dengan agenda membantu perdamaian. Bukan satu dua kali pula, Teth-Adam di film ini balas ngotot ke Hawkman untuk tidak ikut campur dan membiarkan dirinya dan bangsa Kahndaq mengenyahkan sendiri masalah mereka. Tadinya kupikir film ini sendiri akan memihak kepada Teth-Adam dan bangsa Kahndaq. Kupikir pembuat film ini akan berani menyentil negara mereka. Namun makin  ke sini dinamika itu tidak diubah. Hawkman dan Justice Society tidak mengubah pandangan mereka soal mencampuri urusan, mereka tetap memandang Adam sebagai monster yang harus dikerangkeng. Sekalipun akhirnya film menunjukkan Black Adam sadar dirinya memang pahlawan di balik segala dosa-dosa personal dan Adrianna beserta para rakyat Kahndaq diberikan kesempatan untuk berjuang membela tanah mereka, tapi tetap diperlihatkan mereka harus dibantu oleh pihak asing, yakni si Justice Society. Dan meskipun film menyebut Black Adam adalah white knight yang dibutuhkan, tapi pada kenyataannya cerita film ini literally membuat Doctor Fate dari Justice Society, dengan helm super, seolah kesatria berbaju zirah yang menggiring mereka kepada taktik keselamatan. Yang lucunya, tidak perlu dilakukan; Masalah tidak akan menjadi segede di akhir itu – mahkota Sabbac tidak akan jatuh ke tangan penjahat – jika Justice Society tidak pernah datang dan ikut campur dan membiarkan Adam membereskan urusan dengan caranya tersendiri sedari awal.

Setidaknya kali ini The Rock jauh-jauh dari template lingkungan hutan

 

Itulah tanda film ini punya masalah pada naskah. Alih-alih fokus mengembangkan bagaimana Teth-Adam di dunia modern, berusaha mengsort out urusan personalnya – pilihannya di masa lalu, membuat Teth-Adam belajar apa itu arti menjadi pahlawan,  film malah membagi perhatian kita kepada karakter superhero dari luar. Tau-tau kita dijejalin banyak karakter superhero. Ada Hawkman, Dr. Fate, Cyclone, Smasher. Karakter-karakter yang di atas kertas otomatis lebih menarik dibanding Adrianna dan putranya. Relationship antara Teth-Adam dengan kelompok Adrianna – relasi antara leluhur yang dianggap pahlawan dengan rakyat jadi terpingkirkan. Bahasan relasi itu masih ada, sebagai benang utama cerita, tapi tidak diceritakan dengan pengembangan. Melainkan hanya lewat revealing demi revealing, ‘ternyata’ demi ‘ternyata’. Karena film membagi porsi tadi. Progres cerita terutama datang dari pilihan Hawkman and the gank, dan Adam bereaksi terhadap itu. Poin-poin film jadi bergantung kepada karakter luar. Buatku menonton film ini jadi persis seperti yang dirasakan rakyat tertindas bangsa asing. Kenapa yang ditonton jadi malah disetir oleh orang-orang ini?

Mungkin masih bisa dimaafkan jika mereka-mereka itu benar-benar digali. Mind you, mereka ini bukan karakter yang pernah muncul di film lain sebelumnya, melainkan yang sama sekali baru. Yang juga butuh introduksi solid. Masalahnya, dengan begitu banyak karakter, semuanya jadi terasa instan saja. Para karakter superhero punya trait  dan kekuatan khusus, dan hanya dimensi itulah yang ditampilkan. Tak membantu pula beberapa di antara mereka mengingatkan kita kepada karakter superhero DC lain, bahkan kepada karakter superhero sebelah. The Rock jadi kena imbasnya. Sisi komedi hingga sisi humanis yang tampak diniatkan untuk karakter ini jadi tidak bisa mencapai maksimal karena cerita terus saja membawa kita kembali kepada seteru Hawkman dengan Teth-Adam. The Rock di sini jadi hanya marah dan berguyon di sela-sela menghajar musuh. Padahal yang sebenarnya dibutuhkan lebih banyak adalah The Rock bersama anak Adrianna, Teth-Adam menyelami fungsinya hadir di sana. Jadi tidak ada di antara mereka yang konek ke kita secara emosi. Film ini hanya aksi dan eksposisi, dengan sedikit komedi untuk mengikat kita kepada karakter. Kita tidak nyambung ke mereka melainkan hanya lewat unsur-unsur luar yang artifisial. Oh, si Cyclone cakep. Oh, si Smasher lucu. Oh, si Adam ngeyel kalo dibilangin. Actionnya juga sebenarnya imersif, bangunan-bangunan yang hancur karena ulah Teth-Adam ‘menyelamatkan’ dunia dijadikan integral ke dalam plot, namun karena ke karakter-karakter sendiri kita gak masuk, maka ya jadinya kita hanya sebatas melihat aksi saja.

 

 




Padahal dengan tema yang menarik, karakter anti-hero dan superhero yang menantang pemahaman terhadap konsep kepahlawanan, film ini harusnya bisa jadi sesuatu yang diperbincangkan. Teth-Adam yang tampak dibuild untuk menjadi penjahat besar seharusnya bisa dibuat benar-benar dramatis. Marvel sejauh ini baru Civil War yang benar-benar menggali di daerah moral antar-pahlawan itu sendiri. Sedangkan, film-film DC kalo kita lihat sepertinyalebih sering bermain-main dengan perspektif hitam-putih. Pahlawan-penjahat. Mereka lebih sering menjadikan cerita dengan villain sebagai perspektif utama. Bahkan superheronya saja juga diberikan pilihan yang menantang moral (we’re looking at you, Wonder Woman 2) Eksekusinya saja yang seringkali melempem. Film The Rock ini juga salah satu yang kurang nendang. Film ini malah menyesakkan diri dengan superhero lain. Tidak benar-benar membuat karakter judulnya mendapat eksplorasi yang mendalam. Batman lawan Superman, Justice League lawan ‘dark’ Superman, aku hanya berharap jika nanti Black Adam lawan Superman benar-benar terasa seperti clash epic alih-alih pertemuan yang ‘main aman’ seperti sebelumnya. Dan to be honest, harapanku itu mengecil melihat film ini belum apa-apa sudah mengesampingkan banyak penggalian karakternya. 
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for BLACK ADAM




That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian Hawkman dan Justice Society di film ini memang telah lancang mencampuri urusan negara orang?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 



THOR: LOVE AND THUNDER Review

 

“The saddest thing about betrayal is it never comes from your enemies”

 

 

Dikhianati itu memang gak enak. Rasanya nyelekit banget. Bayangkan kita sudah menaruh harapan kepada orang,  kita sudah begitu percaya mereka akan either memegang rahasia, menepati janji, atau selalu ada saat dibutuhkan, tapi ternyata mereka tidak menganggap harapan dan kepercayaan kita kepada mereka sebagai sesuatu yang berharga. Di situlah letak sakitnya; yang disebut berkhianat itu pelakunya bukan musuh yang kita benci. Tapi justru orang yang kita sayang, Yang kita percaya. Penguasa, misalnya. I hate to get political saat ngomongin superhero yang harusnya fun, tapi sepertinya memang itulah yang sedikit disentil oleh Taika Waititi dalam projek Thor kedua yang ia tangani; Thor keempat – Love and Thunder. Origin karakter penjahat utama di film ini ia hadirkan sebagai seseorang yang merasa dikhianati oleh dewa yang ia puja. Bahwa dewanya tidak menolong saat sedang kesusahan. Bahwa dewa hanya mau dipuja. Sehingga si karakter bersumpah untuk membasmi semua dewa di dunia. Tentu saja ini jadi cikal konflik yang menarik, karena protagonis yang kita semua sudah kenal di cerita ini adalah Thor, yang juga seorang dewa.

Namun Thor bukan dewa sembarang dewa. Thor telah melalui begitu banyak. Seperti yang dinarasikan oleh si monster batu Korg (disuarakan langsung oleh pak sutradara) lewat adegan eksposisi yang merangkum perjalanan karakter Thor dari tiga film sebelumnya, Thor adalah dewa yang ngalamin naik-turunnya kehidupan. Dia bukan dewa agung yang duduk di singgasana emas sambil makan anggur. Thor adalah dewa superhero yang berjuang menyelamatkan dunia. Thor pernah terpuruk hingga badannya gemuk. Thor pernah kehilangan sahabat, saudara, keluarga, dan bahkan pacar. Jika ada dewa yang bisa menaruh simpati kepada Gorr (nama karakter yang  dendam kepada para dewa itu) maka Thor-lah dewanya.

Setting dan latar cerita film ini sebenarnya sudah perfect. Lupakan dulu multiverse dan karakter Marvel lain (tim Guardians of the Galaxy yang sempat muncul sebagai penyambung film ini dengan sebelumnya pun akan segera menyingkir), Thor Empat ini kembali kepada sebuah cerita yang berdiri di dalam franchisenya sendiri. Film ini hadir dengan stake gede yang personal, yaitu pemusnahan para dewa (termasuk Thor) sekaligus mengangkat pertanyaan bukankah sebaiknya memang para dewa penguasa lalim itu musnah saja? Sebelum membahas itu lebih lanjut, film menghadirkan satu aspek menarik lagi buat Thor. Supaya Thor (Chris Hemsworth tampak makin prima – physically and mentally – mainin karakter ini) semakin tergali tidak cuma sebatas bereaksi terhadap tindakan Gorr, dia dibuat berkonfrontasi dengan Jane Foster (Natalie Portman, welcome baaacccckkk!) yang kini punya kekuatan dan atribut serupa si Dewa Guntur, lengkap dengan senjata lama milik Thor yakni Palu Mjolnir. So in a way, film dengan gaya tuturnya yang kocak ini turut menggali gimana Thor merasa ‘dikhinati’ oleh senjata lamanya yang kini memihak mantannya.

Need more Darcy. Darcy is the GOAT!

 

Meski berusaha untuk hadir sebagai kisah sendiri (another classic adventure of Thor!) tapi memang terasa film ini sedikit kerepotan dengan karakter-karakternya. Dalam pengembangannya, Thor terasa jadi kurang sepadan dengan Gorr, dalam artian journeynya tidak benar-benar paralel. Pun sedari awal, alur film ini bergerak lewat keputusan dan aksi dari Gorr, yang posisinya adalah penjahat. Film ini mirip sama Avengers Infinity War (2018), yang Thanos, penjahatnya lebih cocok sebagai karakter utama sementara para karakter superhero bereaksi terhadap tindakan yang ia lakukan.  Di sisi lain, aspek ini mengindikasikan satu hal positif. Yaitu film ini – seperti halnya Infinity War – punya karakter villain yang ditulis dengan solid. Aspek yang langka dalam genre superhero secara keseluruhan. Penjahatnya gak sekadar pengen nguasain atau bikin hancur dunia. Melainkan, ngasih sesuatu untuk kita pikirkan. Dalam hal ini adalah soal penguasa.  Secara karakterisasi, Thor memang kalah ‘kuat’. Selain hanya lebih berupa bereaksi, pembelajaran yang ia alami pun kurang nendang dan kurang sejalan. Bagi Thor yang aware sama konflik yang mendera Gorr, perkembangan karakter cuma di awal dia show off sendiri dan nanti di akhir cerita dia jadi lebih luwer berteam work. Termasuk di antaranya membagi kekuatan dengan anak-anak – yang kuakui ini jadi aspek yang seru dan memuaskan karena aku sudah lama minta ini kepada film-film superhero hiburan. Libatkan anak-anak. Bikin mereka ngerasain jadi superhero itu seperti apa. Anyway, pembelajaran Thor intinya adalah learn to trust, dia juga gak insecure lagi sama Jane dan Mjolnir yang jadi superhero, yang fungsinya kayak cuma ngasih lihat bahwa ada Dewa yang ‘bener’.

Makanya Thor justru lebih cocok dengan penjahat sampingan yang muncul di film ini. Dewa Zeus (portrayal yang kocak dari Russel Crowe hihihi)  Pemimpin para dewa seluruh mitologi itu ternyata seorang yang pengecut dan memikirkan keselamatan golongannya sendiri. Permasalahan Thor dengan Zeus justru seperti disimpan untuk film berikutnya. Interaksi mereka masih dibiarkan terbatas, Zeus hanya muncul di satu sekuen. Setelah itu, Thor kembali fokus ke permasalahan dengan Gorr si God Butcher. Nah, justru Jane Foster yang jadi Mighty Thor yang ternyata lebih paralel dengan permasalahan Gorr; mereka sama-sama mortal yang dapat kekuatan. Tapi menggunakannya dengan berbeda. Jane yang mengidap kanker, beralih kepada kekuatan dewa untuk jadi obat. Penyakitnya tidak sembuh, melainkan jadi makin parah, tapi dia tetap berusaha kuat dan memilih untuk menggunakan sisa waktunya menjadi superhero. Bertarung bahu-membahu dengan Thor. Beda dengan Gorr yang seketika kecewa dengan dewa, dan menggunakan kutukan yang mengonsumsi dirinya dengan kekuatan bayangan itu untuk membunuh dan balas dendam. Walau motivasinya kayak Kratos di game God of War original, karakter Gorr sebenarnya deep. Christian Bale tahu ini dan memainkan karakternya yang perlahan semakin meng-zombie itu (bentukannya jadi mirip Marylin Manson!) dengan tone menyeramkan sekaligus menyedihkan.

Adegan Thor ke tempat jamuan para dewa, menjelaskan duduk perkara Gorr dan meminta bantuan, tapi malah dilepehin dan disuruh duduk tenang aja di situ seperti menyentil penguasa yang gak peduli sama rakyat. Yang ternyata hanya menjadikan rakyat sebagai sacrifice, yang bukan saja membiarkan tapi justru balik menyalahkan rakyat. Yang taunya cuma minta dilayanin dan dipuja. yang antikritik. Yang gak bertanggungjawab sama sekali terhadap kekuasaan yang dimiliki. Kalau diliat-liat kondisinya  mirip terjadi kepada rakyat Indonesia waktu pas harga minyak naik, dan rakyat malah disuruh jangan sering-sering pakai minyak goreng. 

 

Memang at the heart, permasalahan yang disentil Taika di film ini bukan permasalahan sepele. Ada orang yang marah sama Dewa (yang dalam konteks karakter tersebut adalah Tuhan) sehingga berontak dan memburu dewa. Menggunakan anak-anak dalam prosesnya. Yang juga kalo ditarik relasinya ke kita, dewa di sini bisa berarti penguasa. Pemerintah yang tak bertanggungjawab kepada rakyat meskipun janji duduk di atas sana sebagai pemimpin dan wakil rakyat. Lalu ada juga soal relasi asmara yang complicated antara Thor dengan Jane. Kalo film ini digarap Indonesia aku yakin jadinya bakal superhero yang muram dan dark lagi. Itulah hebatnya Taika Waititi, dan Marvel Studios for the matter. Karena mereka selalu bisa membuatnya ke dalam penceritaan yang ringan. Tanpa mengurangi bobot gagasan atau temanya sendiri. Thor: Love and Thunder tetap hadir dengan humor receh yang timbul dari karakter bertingkah norak (supaya mereka tetap grounded) kayak waktu di Thor: Ragnarok (2017). Tentu ini tantangan yang gak gampang. Taika Waititi toh tidak sepenuhnya berhasil meleburkan dua tone kontras. Film ini sedikit tertatih ketika berusaha menyampaikan hal yang serius dengan nada konyol.  But in the end, film ini masih termasuk golongan film yang menghibur. Yang ringan. Yang masih bisa dinikmati oleh penonton anak-anak lewat bimbingan orang tua.

Bayangkan pekikan kedua kambing raksasa Thor kalo mereka tahu beberapa hari lagi Idul Adha

 

Taika bukannya gak aware, sutradara yang gaya humornya unik ini bijak untuk tidak terus-terusan ngepush tingkah norak dan receh karakter. Porsinya memang sedikit dikurangi ketimbang Ragnarok. Taika mengalihkan komedinya kepada cara menuturkan. Sebenarnya film ini banyak bagian eksposisi. Nah, Taika menghandle itu dengan dijadikan gimmick komedi. Kadang dia membuatnya sebagai tontonan pertunjukan, kadang dia juga membuatnya sebagai cerita api-unggun, you know, bergaya narasi paparan oleh Korg, ataupun dia memainkan eksposisi ke dalam montase genre. Kayak ketika menjelaskan hubungan masa lalu antara Thor dan Jane, film membuatnya ke dalam narasi situasi dalam rom-com. Sentuhan-sentuhan ini jadi memperkaya range komedi yang bisa dilakukan oleh film Thor. Membuat filmnya sendiri jadi terus menarik. Sehingga walaupun kadang tonenya timpang, atau recehnya just not work, film ini masih terus mengalir dalam bercerita.

 

 

 

 

Ini merupakan film stand-alone MCU pertama yang mencapai film keempat, dan berhasil terasa tetap fresh. Progres tokoh utamanya terasa. Eksplorasi ceritanya terus berkembang dan berhasil terjaga dalam konteks dunia itu saja. Yang adalah permasalahan dunia dewa-dewa.  Sekali lagi Taika Waititi berhasil membuat mereka grounded dengan permasalahan yang relevan. Gaya komedi, arahan colorful, musik rock, dan karakter-karakternya masih tetap ajaib, membuat film semakin menghibur. Personal favoritku adalah film ini melibatkan anak-anak dalam cerita dan aksinya. Sedikit issue pada tone karena cerita bermuatan cukup serius, tapi tidak benar-benar mengganggu. Struggle sebenarnya film ini ada pada membuat bagaimana Thor bisa tetap relevan di cerita ini. Karakterisasinya kalah kuat, tapi film berhasil ngasih sedikit perkembangan pada Thor sekaligus menjadikannya hook ke petualangan classic berikutnya!
The Palace of Wisdom gives 7.5  out of 10 gold stars for THOR: LOVE AND THUNDER

 

 

That’s all we have for now.

Setujukah kalian penguasa di negeri kita udah kayak dewa?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

SATRIA DEWA: GATOTKACA Review

 

“The battle line between good and evil runs through the heart of every man.”

 

 

Kancah superhero dikuasai oleh pasukan-pasukan super dari dunia Marvel dan DC. Adik-adik kita lebih familiar sama Batman, Superman, Iron Man, Spider-Man, Captain America berkat gencarnya invasi komik-komik tersebut ke berbagai media pop-culture, salah satunya tentu saja sinema. Padahal Indonesia, yang punya beragam budaya, tentu berarti juga punya segudang materi cerita super yang gak kalah imajinatif. Cuma memang belum tergali aja. Salah satunya adalah kisah pewayangan. Epos hasil asimilasi budaya Jawa dan India itu tentulah sangat cocok untuk dijadikan cerita superhero. Kita gak usah capek-capek membayangkan, karena sekarang memang beneran sudah ada yang mengangkat itu menjadi franchise superhero. Mulai dari komik, mereka siap merambah ke sinematik universe ala superhero barat. Dan kini film pertama dari Satria Dewa Studio sudah resmi tayang. Sutradaranya gak tanggung-tanggung, Hanung Bramantyo! Mengadaptasi kisah Gatotkaca ke dalam setting yang lebih modern. Aku punya harapan besar sama film ini, terlebih karena sebelumnya sudah ada superhero lokal yang diangkat sebagai sinematik universe studio lain. Menurutku film Gundala (2019) itu terlalu gelap dan ambisius. Aku mengharapkan Gatotkaca ini bisa hadir dengan lebih grounded, lebih fokus ke cerita kepahlawanan, yang secara umum lebih bisa diterima. Kalo Gundala dari BumiLangit diibaratkan versi DC dari superhero Indonesia, maka kompetisi ini barulah lengkap jika Satria Dewa dengan Gatotkacanya menjadi padanan Marvel bagi superhero Indonesia. Turns out, kedua jagat superhero lokal ini adalah DC. And not even the good version of DC!

First of all, SU yang jadi kategori umur film Gatotkaca ini gak benar-benar cocok karena di sepuluh menit pertama kita melihat anak kecil dibacok dan dilempar hingga tewas. Adegannya basically terjadi on-screen jika bukan karena warna yang gelap dan editing yang buruk, Dari menit-menit pembuka yang crucial bagi sebuah film itu, Satria Dewa: Gatotkaca melandaskan dirinya sebagai cerita yang kelam, dengan pembahasan yang tak kalah kompleks dan dewasa. Kesan pertamaku saat menyaksikan film ini adalah bahwa dirinya terasa seperti tidak dibuat dengan niat menjadi SU, tapi baru kemudian film utuhnya disesuaikan supaya bisa tayang untuk kategori Semua Umur. Dan buatku, ini jadi sinyal S.O.S pertama. Bahwa film ini mungkin punya masalah’ tidak benar-benar punya power untuk berdiri sesuai dirinya sendiri.

Hihihi pahlawan paling tak konsisten: Otot kawat, tulang besi, nama? kaca!

 

Origin Gatotkaca diceritakan sebagai kisah seorang anak yang ditinggal oleh ayahnya. Yuda (Rizky Nazar sebenarnya tampak fresh dan sangat cocok untuk dijadikan idola baru anak-anak) dan ibunya sedari kecil buron, untuk alasan yang Yuda belum tahu sepenuhnya. Yang ia tahu adalah mereka berpindah-pindah (sempat tinggal di hutan), dan kini ibunya mulai kehilangan ingatan akibat dari kehidupan yang chaos dikejar-kejar oleh kelompok orang yang gak ia tahu siapa. Bukan hanya hidup Yuda, tapi film memberikan dunia yang benar-benar di ambang kerusuhan sebagai panggung cerita. Pandemi, serta kematian orang-orang pintar nan berprestasi nyaris setiap hari. Sahabat Yuda jadi korban terkini. Dibunuh saat acara wisuda di kampusnya. Saat mengusut jejak yang ditinggalkan oleh sahabatnya itulah Yuda bertemu beberapa teman yang membuatnya jadi mengetahui benang merah dari semua kejadian. Bahwa beberapa manusia punya gen Pandawa dan Kurawa. Bahwa gen-gen tersebut melahirkan kekuatan super, dan peperangan Kurawa dan Pandawa sudang di ambang mata. Dan bahwa dirinya ternyata memegang kunci rahasia kekuatan pusaka yang diburu oleh Kurawa. Yuda ‘cuma’ harus belajar menggunakan kekuatan dan menguak misteri sang ayah.

Aspek yang menonjol dari Gatotkaca adalah word-buildingnya. Cerita mengeksplorasi sehingga threat yang merundung Yuda bisa benar-benar terasa personal, sekaligus juga terasa sebagai permasalahan global yang mengancam dunia. Berita orang-orang jadi korban senantiasa menjadi latar, membuat Yuda yang harus terus bergerak merasakan bahaya di mana-mana. Downside dari cerita dengan dunia-khusus dan karakter utama yang sama gak taunya dengan kita tentu adalah soal eksposisi. Film butuh banyak adegan eksposisi, karena ada banyak yang harus dijelaskan. Apa itu Pandawa. Apa itu Kurawa. Apa yang diinginkan para penjahat. Apa legenda di balik semua. Banyak pokoknya, durasi dua jam film ini sebagian besar akan terasa padat oleh adegan-adegan eksposisi. Film actually berjuang untuk menyampaikan masing-masingnya. Penyampaian eksposisi tersebut dilakukan cukup variatif. Ada yang langsung diobrolkan oleh karakter. Ada yang lewat flashback. Ada yang lewat animasi bergaya komik. Sebagian ada yang efektif bercerita, tapi sebagian ada juga yang konyol. Misalnya kayak penjelasan dari karakter yang tak bisa bicara; dilakukan lewat adegan flashback, dengan narasi audio dari si karakter! Hihihi lucu kita mendengar suara hatinya.  Penggunaan banyak eksposisi ini ultimately memang membuat film menjadi jenuh, dan pasti akan sangat memberatkan untuk ditonton oleh anak-anak. Which is why aku bilang film ini tampak seperti tidak diniatkan untuk rating Semua Umur in the first place.

Juga, bagian-bagian eksposisi itu sangat berpengaruh kepada tempo cerita. Babak kedua akan terasa sangat ngedrag karena kita akan berselang-seling dari aksi, montase interaksi karakter, dan paparan-paparan. Membuat film jadi tersendat. Padahal, interaksi karakter Yuda dengan teman-teman seperjuangannya itulah satu-satunya yang bikin hidup film ini, maka harusnya ini yang difokuskan oleh film. Bagaimana Yuda dan teman-teman akhirnya bekerja sebagai tim, bagaimana mereka mengungkap semua. Karakter mereka toh memang menarik. Jadi di tengah nanti Yuda akan bertemu dengan geng superhero yang markasnya menyamar di balik toko barang antik. Ada jagoan pemanah, ada anak kecil yang pinter gadget and stuff, ada ibu-ibu yang punya kekuatan ajaib. Ada juga perempuan bernama Agni yang tak kalah jagoan, dan temannya yang comedic relief (namun annoying). Serta profesor, yang sayangnya sebagian besar porsinya juga untuk eksposisi. Sebagai kompensasi  dari tempo cerita yang lambat, film menggunakan dialog yang cepat-cepat. Yang justru jadi problem berikutnya. Karena penyampaian yang cepat-cepat itu membuat sebagian besar dialog film ini tak-tertangkap. Mau itu obrolan ringan untuk bercanda, hingga ke dialog yang membawa plot, semuanya terasa terucap begitu saja. Jangankan untuk perkataan itu meresap, para aktor saja kayaknya tidak punya waktu untuk benar-benar menunjukkan rasa sesuai dengan yang mereka ucapkan. Alhasil, karakter mereka semua tampak awkward. Tampak sibuk sendiri. Ngeluh sendiri, curhat sendiri, ngelucu sendiri. Tidak banyak yang bisa ditangkap untuk bisa diresapi.

Konsep Pandawa dan Kurawa yang diciptakan film ini sebenarnya menarik. Setiap orang bisa terlahir dengan gen Pandawa  atau gen Kurawa; gen yang jadi blueprint sikap melindungi atau merusak/mengambil. Tapi itu tidak lantas membuat seorang Kurawa pasti orang jahat, maupun sebaliknya. Membuatku sedikit teringat sama Zootopia (2016) dengan karakter berupa hewan predator dan hewan mangsa tapi tidak lantas mengotakkan mereka menjadi mana yang jahat, mana yang baik. Melalui konsep ini, film Gatotkaca seperti ingin menyampaikan bahwa pada manusia yang terpenting adalah pilihannya. Pilihan untuk menjadi orang baik atau orang jahat, despite desain yang digariskan untuknya. Perang besar itu mungkin bukan Baratayuda, melainkan perang di dalam masing-masing orang dalam menentukan ke arah mana ia hendak melangkah. Kebaikan atau kejahatan.

 

Walaupun diceritakan dalam perspektif yang kuat, dibalut romansa yang benar-benar diberikan alasan kenapa pada akhirnya si karakter jadi jatuh cinta (enggak instantly fall in love karena sama-sama cakep), tapi karakter utama kita tidak benar-benar punya perkembangan. Yuda kebanyakan hanya bereaksi. Dia belajar tentang Pandawa Kurawa, dia belajar menggunakan kekuatan, dia mencoba menyelamatkan Agni, dia mendengar kejadian yang sebenarnya. Kejadian yang terjadi juga terus dibikin personal, dibikin berkaitan langsung dengan dirinya. Hanya saja tidak terasa membawa perubahan dari pandangan dia ataupun dari bagaimana dia bersikap terhadap suatu nilai tertentu, atau apapun. Selain jadi jagoan, Yuda gak punya perkembangan yang berarti. Dia cuma literally dari orang yang kalah berantem mulut sama influencer menjadi orang yang berhasil menyelamatkan dunia dengan menunda kebangkitan jenderal Kurawa. Tadinya kupikir persoalan ada Pandawa yang jahat dan ada Kurawa yang baik itu akan langsung berkaitan dengan dirinya. Like, biasanya kan karakter utama yang mengalami krisis identitas. Namun ternyata permasalahan itu diangkat untuk membangun reveal mengejutkan; oh penjahatnya ternyata si anu. Ngomong-ngomong soal penjahatnya itu, ya, penokohannya jadi lemah. Karena diniatkan untuk surprise, kita gak melihat perspektif penjahatnya. Kita tahu misi dan tujuan mereka dari eksposisi. Film harusnya membuat karakter Yayan Ruhian lebih menonjol sebagai penjahat utama, alih-alih ‘bos kedua’. Karena actually karakter yang diperankan Yayan ini lebih compelling dan beneran tampak cocok menghidupi cerita.

Setelah nonton aku ngerti kenapa banyak yang meledek film ini dengan meme “Saatnya menggatot!”

 

Ada dua jenis adegan berantem dalam film ini. Berantem CGI, saat Yuda sudah bisa beneran berubah menjadi Gatotkaca (which is happened di bagian terakhir film, kasian banget anak kecil nungguinnya pasti lama hihihi). Agak sedikit gelap, tapi CGI-nya looks good, gerakannya tampak mulus. Gatotkaca dan musuhnya kelahi sambil terbang, mirip banget ama adegan berantem di udara dalam Dragon Ball Z. Serang, teleport, kejar dengan kecepatan tinggi. Berantem yang kedua adalah adegan dengan jurus yang lebih grounded. Adegan berantem yang seperti ini yang paling banyak. Sayangnya, aku gak tahu apakah untuk memfasilitasi gerakan terbatas dari aktornya, atau karena apa,  tapi berantem film ini disyut dengan cara yang membuat kita mustahil mengikuti apa yang terjadi di layar. Mau itu tempatnya gelap atau terang, berantem ini diambil film dari berbagai sudut dan disatukan dengan editing yang supercepat. Gak kelihatan lagi siapa mukul siapa. Beberapa adegan juga tampak keskip-skip, kayak ada tonjokan yang gak diliatin melainkan langsung ke efek pukulannya, dan sebagainya. Ini mengganggu sekali. Koreografi berantem yang aku yakin seru itu jadi sia-sia karena sama sekali jadi gak keliatan.

Demi memperkuat tema perwayangan, selain menyebut istilah-istilah cerita dalam dunia wayang, film juga actually menggunakan Punakawan (karakter Petruk, Bagong, Gareng, Semar) sebagai transisi cerita. Hal yang sebenarnya sangat fresh (membuatku jadi teringat sama film-film jaman dahulu yang pada pakai adegan transisi sebagai ‘rehat’ durasi yang panjang), kalo saja bagian ngelawak ini tidak difungsikan sebagai iklan yang sangat-sangat in the face. Honestly, sepanjang film memang banyak shot-shot yang berupa product placement. Jadi aku mencoba maklum. Hey, ini adalah film pertama dari proyek universe gede, mereka pasti butuh banyak sponsor. Lagian, film luar pun banyak yang masukin produk. Ya, asalkan masih tampak natural, ini masih bisa dioverlook. Namun tidak lagi saat film benar-benar menyisihkan waktu beberapa menit untuk membuat adegan iklan, yang mereka lakukan ke dalam transisi Punakawan tadi. Ini amat sangat melukai film yang bahkan sudah gak enak pada temponya sedari awal. Adegan yang mestinya bisa gampang dicut dari keseluruhan film ini, membuat kita benar-benar terlepas dari cerita. Benar-benar tampak seperti tempelan yang mengganggu. Dan ini jadi bukti mutlak bahwa Gatotkaca sebagai film gak punya power. Diatur oleh iklan. Aku sedih mikirin sebuah karya harus merendah seperti ini hanya karena mereka mau jadi universe. I mean, harusnya kalo Gatotkaca memang berkaca pada superhero luar seperti Marvel, mereka harusnya bisa melihat kesuksesan sinematik universe bergantung kepada film-film pertama yang grounded dan sederhana. Yang kuat di bangunan cerita dan karakter, sehingga penonton pengen lebih dan mengharapkan ada lanjutan yang lebih bagus. Inilah yang harusnya dipentingkan, alih-alih menempatkan iklan sebanyak-banyaknya untuk menjamin universe itu beneran bisa dibuat.

 

 

Cerita film dengan word-building yang menarik ini sebenarnya dramatis. Penuh kehilangan, tantangan dan segala macam. Namun karena disampaikan lewat dialog yang cepat, pengadeganan yang cepat, dan editing yang brutal, feeling dari adegan-adegannya gak ada yang kena ke kita. Gak ada yang nyampe. Pace film yang sering tersendat oleh paparan, dan iklan-iklan, membuat semakin susah untuk merasa enjoy dalam menonton film ini. Dan no, it is not materi untuk tontonan semua umur. Gak peduli gimana kerasnya usaha mengedit untuk membuatnya ringan dan harmless. Ini cerita fantasi dengan konsekuensi naas, membahas dunia hitam dengan cara yang kelam. Aku berharap besar sama film superhero Indonesia, tapi sekali lagi aku merasa kecewa. Akankah ada film superhero yang benar-benar bisa menyelamatkan genre superhero di perfilman Indonesia?
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SATRIA DEWA: GATOTKACA

 

 

 

That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah film superhero itu harus Semua Umur? Atau apakah itu hanya salah kaprah penonton dan pembuat film di Indonesia? Kenapa orang-orang masih banyak yang menganggap film superhero adalah untuk anak-anak?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS Review

 

“To be content doesn’t mean you don’t desire more, it means you’re thankful for what you have and patient for what’s to come”

 

 

Bukankah sudah kubilang bahwa cerita seorang ibu paling baik diapproach sebagai horor? I mean, toh memang di antara horor-horor bagus yang beredar, cukup banyak mengangkat tema bagaimana sih psikologis atau perasaan perempuan sebagai ibu. Bahkan mungkin setengah dari horor yang kita bahas di blog ini adalah horor tentang ibu. Marvel Studio pun tampaknya sependapat. Begitu sudah jelas sekuel Doctor Strange (2016) akan melingkupi saga Wanda Maximoff yang merasa kehilangan keluarga/anaknya, Marvel lantas mendapuk Sam Raimi untuk duduk di kursi sutradara.

Raimi terkenal lewat trilogi The Evil Dead (1981-1992). Gaya horornya yang seram-dan-menghibur-secara-bersamaan (gak percaya? coba tonton salah satu horor modernnya; Drag Me to Hell) cukup banyak jadi panutan oleh filmmaker. Namun begitu, ini bukan kali pertama Raimi menangani proyek superhero. Film Spider-Man Sony tahun 2002 yang punya dua sekuel itu kan, Raimi yang garap. Dia telah sukses mengimplementasikan gaya horornya ke dalam format superhero, sesuai kebutuhan. Tapi proyek tersebut terhenti setelah Raimi merasa gak puas oleh campurtangan studio di film ketiga. Makanya sekuel Strange kali ini jadi big deal. Marvel pastilah ngasih kebebasan yang luas bagi Raimi untuk mengkreasikan gayanya, sehingga sutradara ini mau aja untuk kembali ke ranah superhero. Setelah kutonton (akhirnya! yang nyebelin dari masa liburan ialah kupasti telat nonton sebab bioskop penuh), benar saja. Kita udah dapet film superhero dengan rating Dewasa yang penuh adegan sadis, tapi Doctor Strange in the Multiverse of Madness ini menawarkan sesuatu yang lain. Benar-benar ngepush PG-13 dengan cerita ibu yang jadi jahat hanya demi bersama anaknya, lengkap pake zombie, orang terpotong dua, dan kepala meledak!

Multiverse of Madness literally jadi MOM (ibu) kalo disingkat!

 

 

“Was there any other way?” adalah kalimat yang jadi kunci tema pada narasi. Apa ada cara lain, tanya Wanda kepada dirinya sendiri yang terus memimpikan dua putra ciliknya, cara lain untuk bisa bersama mereka. Multiverse yang jadi judul film inilah cara tersebut. Jadi cerita film ini intinya adalah tentang Wanda yang berusaha mendapatkan kekuatan untuk pindah-semesta. Wanda memburu satu-satunya makhluk di seluruh alam semesta yang bisa menyebrang semesta sesuka hati. Makhluk berupa perempuan remaja bernama America Chavez. Nyawa remaja tersebut ada dalam bahaya karena Wanda yang semakin gak sabar menjadi semakin terbenam dalam kejahatan.  Di dalam tidur melihat Chavez dikejar monster bersama dirinya yang tampak agak lain, Strange awalnya mengira itu cuma mimpi buruk. Tapi kemudian Chavez beneran muncul. Strange kini harus melindungi Chavez, yang tentu saja membuat Wanda jadi menganggapnya musuh. Wanda ngamuk, Kamar-Taj diporakporanda, orang-orang jadi korban, Strange dan Chavez terpaksa kabur ke semesta lain guna mencari kitab yang bisa mengimbangi kekuatan Wanda yang udah total jadi Scarlet Witch dengan buku sihir jahat DarkHold!

Dari sinopsis singkat tadi itu aja udah kelihatan. Berlawanan dengan kalimat kunci tadi, there is no other way, cerita seperti ini didirect bukan oleh Raimi. Dia adalah orang yang tepat untuk menghidupkan dunia penuh sihir, karakter berkekuatan aneh, dan segala universe yang ajaib. Aku suka gimana Raimi tampak gak tertarik sama cameo-cameoan. Mungkin fans akan berpikir liar melihat ada kata Multiverse, you know, kebanyakan mungkin akan berpikir bahwa ini bakal jadi kesempatan emas untuk memunculkan banyak surprise character. Sialnya bagi mereka, Multiverse menurut Raimi adalah sebuah lapangan bermain yang luas. Tempat dia bisa memasukkan gaya bercerita horor ringan-tapi-seramnya. Raimi memilih fokus kepada memvisualkan hal yang grounded dari cerita fantastis yang dipercayakan kepadanya. Dan dia gak tanggung-tanggung dalam visualisasinya. When it moves, semua bergerak cepat tapi kita bisa merasakan sensasi horor di sana sini. Gak ragu dia memasukkan elemen jumpscare; eksistensi jumpscare di superhero ada sudah cukup ngagetin! Adegan aksinya walau gak frontal pakai darah, tapi tetap bikin ngilu karena brutal datang secara subtil. Kamera akan ngezoom ke wajah untuk nunjukin intensitas karakter. Elizabeth Olsen yang jadi Wanda dapat banyak momen untuk menunjukkan permainan akting dan dialog ekspresifnya, dan semuanya dimanfaatkan maksimal. Dari Avenger terkuat yang bikin kita merasa aman dia berubah jadi bikin kita merasakan teror. Adegan Wanda nyerang Kamar-Taj intens banget. Asap yang datang menyelimuti pasukan good guys, ngasih kekelaman yang langsung kerasa sunyi-sunyi berbahaya kepada kita. Voldemort harusnya konsultasi ke Wanda dulu sebelum dia menyerang Hogwarts. Olsen could go dari bikin kita simpati, ke ‘njir gila lo ye?’, ke bikin kita pengen ikutan kabur (bayangin dikejar penyihir ngamuk yang lari terseok berdarah-darah dengan rambut terurai!) ke bikin kita merasa kasihan lagi dengan amat sangat mulus.

Arahan Sam Raimi membuat film ini lebih dari sekadar watchable, berkat sensasi superhero-tapi-horornya itu. Arahannya justru mengangkat film dengan naskah yang sebenarnya agak minimalis ini. Multiverse of Madness paling kompleks dalam membahas Wanda alias Scarlet Witch. Sementara tokoh utamanya, si Doctor Strange itu sendiri, pembahasannya sama minimalisnya seperti protagonis dalam The Northman (2022) yang baru kureview sebelum ini. Untungnya memang Strange enggak segabut Newt Scamander di film kedua Fantastic Beasts (2018). Keberadaan Strange di dalam cerita masih tampak penting. Dia gak cuma buat nolong si Chavez. Melainkan ada keparalelan yang coba ditarik antara dirinya dengan Wanda. Mereka sama-sama orang yang punya kehilangan di semesta mereka. Jika Wanda pengen hidup bersama anaknya lagi, maka Strange ini, well untuk gambaran; kita melihat dia datang ke nikahan mantan. See, orang yang udah move on pasti gak bakal ke nikahan mantan (padahal karena gak diundang hihihi) kan? eh atau karena udah move on makanya datang?..  Stephen Strange datang. Inilah yang sepertinya mau dijadikan konflik dirinya sepanjang cerita. Sepertinya ingin ditunjukkan bahwa Strange berlagak nyante dan udah move on padahal belum. Keberadaan Multiverse yang bisa dikunjungi dengan cara tertentu jadi nawarkan kemungkinan baru bagi hidupnya. Dia bisa saja seperti Wanda, pindah hidup ke universe yang lebih bahagia. Ke universe yang ia lihat di mimpi-mimpi indahnya, maybe. Nah minimalisnya naskah adalah konflik Strange yang diniatkan itu tidak pernah tercuatkan maksimal. Tentu, konfrontasi dia dengan mantan di universe lain ada, tapi resolusi dirinya tidak tampak memuaskan. Bilang “aku cinta kamu di semua semesta” gak benar-benar ngasih perkembangan yang berarti kepada karakternya. Apalagi jika dibandingkan dengan development Wanda di akhir cerita; saat dia menyadari yang ia lakukan kepada anak-anaknya di semesta lain sebenarnya.

Konsep bahwa mimpi sebenarnya adalah jendela ke kehidupan kita di semesta yang lain, memang menggiurkan. Honestly, aku langsung merasa relate dan sempat mendukung Wanda demi mengenang mimpi-mimpi indah. Kalo bisa, akupun mau pindah hidup ke semesta where ‘you’ still talk to me, atau ke semesta aku punya teman gaib, atau ke semesta Max masih hidup dan kucing-kucingku semua bisa ngomong. I don’t blame Wanda for wanting that life. Tapi kemudian di akhir, film ini hits me hard. Film ini bicara tentang bagaimana merasa content walau kita merasa ada yang kurang dari hidup. Bahwa cukup itu bukan berarti puas dengan yang kita punya. Bukan pula harus berjuang mengejar untuk mendapatkan apa yang gak kita punya. Melainkan, merasa cukup berarti juga berdamai dengan kesalahan yang kita lakukan dan lantas optimis untuk perbaikan.

 

Plot Wanda tetap terasa lebih kuat menghidupi cerita sementara plot yang lain struggle untuk relevan kepada tema. Yang paling disayangkan jelas plot si anak baru, America Chavez. Diperankan dengan energik dan pesona tersendiri oleh Xochitl Gomez, karakter ini jarang dieksplor. Backstorynya hanya dipaparkan di satu momen, lalu persoalan dia gak bisa mengendalikan kekuatan pindah-universenya beres dengan nasihat/semangat singkat dari Strange. Sayang banget. Apalagi jika kita menoleh ke Wanda, kayak, semuanya udah ada di sana padahal. Anak yang nyari ibunya – ibu yang mau anaknya; seharusnya ada sesuatu yang bisa dipantik dari Chavez dan Wanda. Tapi interaksi manusiawi antarmereka aja nyaris gak ada, let alone ada percakapan personal. Mereka sebagian besar tergambar sebagai pemburu dan buruan. Hanya di penyelesaian saja seperti ada pengertian antara kedua karakter ini.

Stephen Universe lol “Scarlet, America, and Wong, and Stephen!~”

 

 

Maka kayaknya bener juga sih kalo ada yang bilang cocoknya ini jadi WandaVision 2 aja. Multiverse of Madness selain berat ke Wanda, juga kurang stabil untuk bisa berdiri sendiri. Penonton yang gak nonton serial WandaVision mungkin bisa mengerti keinginan seorang ibu untuk bersama anaknya, tapi keseluruhan konteks Wanda-jadi-jahatnya gak bakal utuh didapat. Soal konsep Multiverse, juga sama. Aku sendiri gak nonton serial What If dan Loki. Alih-alih itu, modalku mengerti multiverse di sini adalah nonton serial kartun Rick & Morty yang juga punya bahasan multiverse yang sama kompleks. Bahwa berbagai versi diri kita ada, exist di dunia. Ada kita yang jahat, ada yang baik, ada yang mirip, ada yang mukanya beda, ada yang versi makhluk lain. Kemungkinan versi masing-masing orang tak terbatas. Di satu sisi memang jadi tontonan yang menarik, bikin penasaran melihat versi-versi itu. Namun di sisi lain, konsep multiverse juga bisa jadi bumerang. Salah satunya adalah soal kematian.

Kematian satu karakter gak akan jadi persoalan lagi jika ada multiverse. Satu karakter yang mati, tapi dia itu masih hidup (dan banyak versi) di semesta-semesta lain. Di episode Rick & Morty malah kedua karakter utamanya membunuh versi diri mereka gitu aja, karena mereka udah messed up di semesta sendiri jadi mereka pindah hidup ke semesta yang paling mendekati kenormalan versi mereka. Pada akhirnya, stake film jadi gak ada lagi. Kita bakal casual aja melihat karakter mati karena toh nanti ada versi lain yang muncul di film/serial lain. Para karakter bisa diperankan oleh aktor yang sama, bisa juga tidak, di setiap semesta. Ini bukan teori atau gimana ke depan, loh. Melainkan langsung terasa buktinya di film Multiverse of Madness ini.

Dalam satu rangkaian adegan (yang aku yakin ini adalah permintaan studio, karena tone di sini benar-benar berbeda dari keseluruhan film) diperlihatkan Doctor Strange bertemu sama tim Illuminati. Ada Captain Marvel universe lain, Captain Carter, Mordo, Richards Fantastic Four, Black Bolt, dan Prof. X! (satu-satunya waktu saat penonton yang menanti cameo bersorak hihihi) Karakter-karakter yang sebenarnya berperan besar dalam universe atau cerita masing-masing, di film ini kayak muncul seadanya saja. Nantinya, mereka akan bertarung dengan Scarlet Witch. And they just dead. Matinya seru sih, cuma ya itu. Mati. Gak banyak pikiran di baliknya. Mereka mati gitu aja karena sudah dalam multiverse plot armor. Setiap karakter kini mati pun tak apa. Mereka bisa ‘direvive’ kapan saja sesuai kemauan studio. Kita yang nonton melihat kematian mereka pun jadi datar aja, demi menyadari itu semua. Nonton keseluruhan film jadi gak ada greget. Strange mati pun kupikir gak bakal ngaruh banyak karena toh ada infinite number of him yang bisa dimunculkan oleh studio. Satu-satunya yang bikin kita bisa peduli adalah si Chavez (dia cuma satu-satunya di semesta) dan melihat development si Wanda (itupun bagi penonton yang ngikutin serialnya).

 

 

 

Visi dan gaya unik sutradara adalah hal yang benar-benar dibutuhkan oleh sinematik universe yang sudah berjalan begitu lama seperti MCU. Kita bisa membuktikan itu pada film ini. Terasa benar bagaimana arahan Sam Raimi yang bermain kreasi horor di ranah superhero, mengangkat film ini jadi pengalaman seru yang berbeda. Aku benar-benar suka pada apa yang ia lakukan dalam menghidupkan naskah yang kurang balance dan cukup minimalis ini ke layar lebar. Ya, weakest part dari film ini sebenarnya bukan arahan Raimi yang di luar kebiasaan Marvel. Melainkan pada naskahnya. Karakter utamanya kalah solid penulisannya dibandingkan dengan karakter antagonis. Karakter baru yang dihadirkan juga tidak didalami. Dan juga, naskah film ini ngasih kita pe-er yang banyak kalo mau mengerti dan lebih enjoy menonton. Beruntung arahannya tadi sangat keren. This is truly ketika yang horor-horor jadi pahlawan!
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for DOCTOR STRANGE IN THE MULTIVERSE OF MADNESS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang multiverse? Apakah konsep multiverse bikin satu film lebih menarik, atau malah membingungkan? Apakah kalian gak keberatan sama untuk mengerti satu film kita harus nonton sejumlah serial dan film lain dulu?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

MORBIUS Review

“Health is a human right, not a privilege”

 

 

Makhluk menyeramkan dijadikan simbol pahlawan memang agak-agak mengherankan, tapi plausible untuk dilakukan. Buktinya? Batman yang berlambang kelelawar dengan modus operandi mengincar rasa takut di malam hari sukses juga jadi salah satu superhero paling ikonik di seluruh dunia. Counter Marvel untuk karakter DC Comic tersebut adalah Morbius. Gak tanggung-tanggung, kekuatan Morbius berhubungan bukan dengan kelelawar biasa, melainkan kelelawar penghisap darah, yang literally membuatnya menjadi vampir. While the origin story dari Morbius sebenarnya lebih cocok sebagai cerita penjahat, sutradara Daniel Espinosa justru diembankan untuk membuat film ini jadi cerita pahlawan. Orang yang menghisap darah manusia demi kemampuan untuk berbuat kebaikan jelas jadi konsep yang menarik, genrenya filmnya otomatis akan menyerempet ke horor. Nyatanya, film Morbius ini memang menghisap, tapi lebih seperti Dementor ketimbang vampir. Film ini menghisap excitement kita saking boringnya. 

Espinosa kesusahan untuk mengimbangi tuntutan naskah membuat Morbius menjadi pahlawan. Set up karakternya tampak sebagai bagian paling mudah yang berhasil Espinosa lakukan. Morbius adalah seorang dokter yang mendedikasikan dirinya untuk mencari kesembuhan dari penyakit-penyakit, karena dirinya sendiri mengidap penyakit darah yang langka. Penyakit yang mengharuskan dirinya pakai tongkat untuk berjalan. Penyakit yang membuat dirinya – dan sahabatnya, Milo – sedari kecil dibully. Penyakit yang gak ada obatnya. See, Michael Morbius bisa banget dapat simpati. Dia dokter pintar yang ramah – ada adegan dia dekat dengan pasien anak-anak, yang mau cari perfect cure untuk mengobati bukan saja dirinya dan sahabat, tapi juga seluruh umat manusia. Namun ketika elemen yang lebih gelap dari cerita ini tiba, Espinosa kehilangan segala keseimbangan. Michael menemukan cara menyatukan DNA manusia dengan kelelawar, dia mencoba serum ciptaannya kepada dirinya sendiri. Sekarang dia berubah menjadi vampir superkuat yang dahaganya akan darah manusia nyaris tak-terkendali. Di titik yang mulai seru tersebut (bayangkan konflik luar-dalam, konflik moral, konflik dengan sahabat yang menerpa Michael), film ini justru gagap dalam eksplorasi. Ini cerita orang yang mau jadi hero tapi harus relakan dirinya sebagai anti-hero, yang tidak tampil seunik itu.

morbiusl-intro-1646070476
This film do sucks!

 

Plot point naskah Morbius memang terasa seperti cerita villain, atau setidaknya cerita anti-hero. Memang sih, ada usaha membuat Morbius jadi pahlawan, cerita tidak melulu membahas konflik personal. Ada bagian dia menumpas kejahatan publik, seperti persoalan sindikat uang palsu. Atau lihat ketika film membuat korban-korban pertama yang dimangsa oleh Morbius adalah security yang bukan orang baek-baek. Tapi in terms of development, cerita Morbius mengambil poin-poin cerita orang yang berdegradasi. I mean, blueprintnya mirip cerita The Fly, malah. Ilmuwan yang mencoba eksperimen untuk kebaikan yang lebih besar, tapi malah mengubah hidupnya menjadi less and less human. Saga seseorang yang menyadari ambisi pribadi pada akhirnya mendatangkan petaka, bahwa dia harus meluruskan niatnya. Kalo gak mau jauh-jauh, kita bisa bandingkan Morbius yang asalnya ada karakter dari dunia cerita Spider-Man ini mirip ama Lizardman. Itu loh, musuh Spider-Man yang tadinya dokter yang bereksperimen dengan cicak demi mengobati lengannya, lalu malah berubah menjadi manusia kadal. Karakter yang telah muncul di film The Amazing Spider-Man (2012), film Spider-Man yang dibuat oleh Sony, seperti Morbius ini.

So yea, ultimately aku merasa film Morbius terjebak dalam jaring-jaring cinematic universe buatan Sony. Kreatifnya terhambat karena apparently Sony hanya tahu satu cara membuat cerita tentang orang yang menjadi monster, dan hanya tahu satu cara untuk membuat cerita tentang monster yang jadi protagonis atau anti-hero utama. Sehingga jadilah Michael Morbius sebagai karakter template. Originnya standar cerita villain. Lalu untuk membuatnya sebagai superhero, film simply mempaste-kan elemen-elemen Venom (also a Sony universe). Ya, pergulatan inner Michael dengan kekuatan vampir yang membuatnya jadi monster pemangsa manusia dilakukan dengan dangkal dan sederhana, sehingga nyaris gak banyak berbeda dengan Eddie Brock yang bergulat dengan Venom yang sesekali sosoknya muncul ke ‘permukaan’ tubuh Brock. Dalam film Morbius, wajah Michael akan kerap menjadi seram ala vampir lengkap dengan mata merah dan taring-taring tajam untuk menandakan dia kesusahan menahan dahaga atau kekuatan vampirnya. Film bahkan ngakuin persamaan tersebut dengan membuat Michael menyebut “Aku Venom” kepada seorang penjahat yang ketakutan. Studio mungkin menyangka sengaja ngakuin kemiripan dengan menjadikannya candaan itu bakal membuat film ini terdengar pintar. It is not. Malah jadi kayak kreasi yang malas.

Bedanya dengan Venom cuma di Morbius gak ada banter dialog yang lucu (yang bikin Venom menghibur memang cuma interaksi antara Eddie dan simbiote di dalam tubuhnya) – Michael gak berdialog dengan darah vampirnya – dan di Morbius efek CGI lebih parah. Sosok wajah versi vampir para karakter terlihat murahan. Malah lebih kayak vampir low budget, yang lebih works out sebagai film komedi yang sengaja bikin CGI kasar. Aku gak ngerti kenapa film ini enggak menggunakan efek prostetik saja untuk menghidupkan sosok vampir. Padahal mengingat film ini berbau horor, efek prostetik yang praktikal jelas jadi pilihan yang lebih tepat dalam menghidupkan creature-nya. Lihat The Fly (terutama yang versi Cronenberg). Lihat Malignant yang berhasil jadi horor campy dengan paduan efek praktikal dan digital. Morbius adalah cerita seorang manusia bertransformasi menjadi vampir buas, tapi semua transformasi crucial bagi karakter terjadi off-screen. Film ini melewatkan banyak momen-momen body horror yang harusnya menguatkan karakter yang menghidupi cerita mereka.

Adegan aksi tentu saja jadi ikut kena getahnya. Pertarungan-pertarungan di Morbius sama sekali tidak bisa untuk diikuti lantaran film bergantung terlalu banyak kepada CGI. Kita gak bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas, semua cepat – karakter melayang ke sana ke mari, mencakar-cakar liar dengan efek bayangan afterimage atau aura di sekeliling mereka. Pada momen-momen ‘krusial’ sebelum serangan mendarat, film menggunakan slow motion. Yang tetap gak ngefek apa-apa selain membuat dua vampir yang bertarung tampak cheesy dan konyol not in a good way.

morbius-2-1024x576
At least Twilight punya adegan main baseball dengan lagu Muse, Morbius punya apa?

 

Jared Leto gak banyak ngapa-ngapain di sini selain pasang tampang kayak orang sakit, dan menggeram-geram saat jadi vampir. Momen yang mengharuskan dia untuk menggali ke dalam karakternya gak pernah bertahan lama. Film terus saja kembali entah itu ke eksposisi mumbo jumbo sains, atau ke elemen-elemen template, atau ke porsi laga yang completely unwatchable. Leto memainkan Morbius yang berawal dari dokter yang pede bakal bisa menemukan obat/solusi ke dilema moral dari penemuannya. Dan stop sampai di sana. Gak kuat lagi terasa perubahan atau perkembangan karakternya. Bagian ketika dia nanti jadi menerima kenyataan dan mencoba menggunakan kutukannya menjadi kekuatan jadi samar dan lemah karena tertutupi oleh film yang malah mencuatkan motivasinya untuk menyetop sahabatnya saja. Setelah midpoint karakter yang diperankan Leto jadi kalah mencuat. Motivasi penjahat film ini justru lebih kuat dan lebih clear.

Gagasan cerita sebenarnya cukup menarik. Dan sebenarnya cukup relevan ditonton di masa-masa kehidupan kita masih dibayangi oleh Covid. Karena lewat konflik dua karakter sentralnya, film ini mengangat diskusi soal kesehatan apakah sebuah hak atau sebuah privilege sebagian orang saja. Jawaban yang disuguhkan film ini dari akhiran perjuangan Morbius cukup dark, dan it could be true reflecting our society. 

 

Relasi yang jadi inti cerita adalah antara Michael dengan sahabat masa kecil senasib sepenanggungannya di panti, Milo (Matt Smith pun berusaha memanfaatkan setiap screen timenya untuk menghasilkan karakter yang menarik). Mereka harus terpisah karena Michael dikirim ke sekolah khusus untuk mengembangkan bakat dan kepintarannya, sementara Milo yang terus menunggu janji Michael untuk kembali (dan membawa obat kesembuhan mereka) perlahan menjadi bitter dengan dunia yang meremehkan mereka. Saat Michael ketakutan dengan efek obatnya dan berusaha menghilangkan itu, Milo justru melihat ini sebagai kesembuhan yang luar biasa. Keduanya jadi berantem karena beda pandangan. Hubungan inilah yang mestinya terus digali, dengan seksama dengan detil. Rajut persahabatan dan konflik mereka sehingga benar-benar berarti dan jadi stake bagi karakter, sehingga kita bisa mempedulikan mereka lebih dari sekadar “Oh si Milo lebih kuat karena mau menyantap darah asli, bukan sintesis kayak Morbius”. Ya, film ini hanya memperlihatkan ala kadarnya. Melompat periode waktu seenaknya. Persahabatan dan konflik mereka gak ada ritmenya. Pertemuan pertama Leto dan Smith yang kita lihat ternyata udah bukan dalam konteks mereka akhirnya bertemu setelah sekian lama. Sense mereka itu sahabat dekat gak kerasa karena film memperlakukan persahabatan mereka sama kayak Michael ketemu karakter-karakter lain.

Film malah membagi fokusnya dengan soal romance si Michael dengan karakter dokter perempuan. Yang juga sama-sama kurang tergalinya. Bedanya, soal ini dibiarkan di permukaan karena film ingin menjadikannya hook buat sekuel. Ya, kembali ke permasalahan utama. Film Morbius terjebak di jaring-jaring cinematic universe. Alih-alih bikin cerita yang benar-benar mendarat dan selesai – apa yang terjadi dengan pacarnya, bagaimana status buron Michael setelah final battle, apa arti semuanya bagi Michael – studio lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan punchline berupa teaser untuk film berikutnya. Kita juga melihat karakter dari Disney-Marvel muncul dalam sebuah situasi yang membingungkan. Pada akhirnya, itulah yang tampak lebih penting bagi film ini. Bagaimana membangun universe superhero versi sendiri. Karakter, relasi, dan dilema moral mereka tak lebih seperti sekelabat kepak kelelawat saja.

 

 

 

Makanya film ini terasa lifeless. Padahal kalo digali, dia bisa jadi pahlawan baru yang benar-benar menarik dengan genre horor, aksi supernatural, dan dilema karakter yang grounded. Nyatanya film mengabaikan semua kreasi untuk craft experience yang biasa-biasa aja. Malah cenderung membosankan. Terlalu bergantung ke CGI yang dibuat ala kadar, karakter yang template antihero sederhana (hanya karena mereka bingung membuat superhero ke dalam cerita villain), dan plot origin yang basi. Jika ini adalah jawaban terbaik yang bisa disuguhkan Marvel untuk DC dengan Batmannya, well, Marvel perlu memikirkan ulang lagi rencana dan cara mereka menghandle karakter-karakter supernya. 
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MORBIUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kesehatan itu hak atau privilege?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 
 

 

THE BATMAN Review

“Vengeance is not the point; change is.”

 

Perdebatan ‘superhero dark atau harus colorful’ antarkubu fans bakal makin sengit dengan tayangnya film Batman terbaru ini. Pasalnya, si Batman itu sendiri memang sudah punya begitu banyak versi, mulai dari yang ringan, yang extremely comical, yang aneh, hingga yang ‘so serious‘. Jadi Batman benar-benar cocok mewakili perdebatan tersebut. Salah satu penyebab kenapa Batman jadi salah satu tokoh pahlawan super paling populer dan ikonik sehingga terus dibuatkan cerita ini adalah karena dia easily salah satu yang paling grounded. Dia gak punya kekuatan super. ‘Cuma’ punya jubah hitam dan alat-alat mahal. Makanya Batman ini fleksibel, bisa dibuat either way. Dan bagus atau enggaknya memang tergantung dari bagaimana pembuat meracik itu semua. Nah, The Batman garapan Matt Reeves ternyata berhasil nyetak begitu banyak skor dengan hadir sebagai kisah yang superkelam, dengan tetap memegang kuat ruh sebagai epik kesuperheroan. Film ini udah kayak cerita detektif dengan misteri kasus yang rumit, dengan penekanan yang kuat kepada sisi personal sang karakter, tapi di saat bersamaan juga menunjukkan perjuangan dalam menyelamatkan kota dan banyak orang. Jadi dengan kata lain, The Batman ini sukses hadir dengan memberikan warnanya tersendiri.

Jika dalam menjadi superhero itu kita anggap sama seperti pertumbuhan orang menjadi dewasa, maka film ini bisa dibilang adalah cerita coming-of-age Bruce Wayne sebagai seorang pahlawan. Diceritakan, dia baru dua tahun jadi Batman. Dia masih dalam proses ‘mencari jati diri’, pahlawan seperti apa dia untuk Gotham. Opening film ini bahkan dimulai dari Bruce yang menarasikan diarinya. Bruce percaya dia adalah pahlawan vengeance. Setiap malam, begitu sinyal lampu menyala, dia keluar. Menakuti para kriminal di jalanan dengan auranya. Dan menjatuhkan pukulan-pukulan balas dendam itu kepada mereka semua. Bagi Bruce, setiap kriminal di kota adalah orang yang telah membunuh orangtuanya. Bruce jadi pahlawan atas dasar ini; balas dendam demi meneruskan legacy kebaikan orangtuanya. Batman memang jadi ditakuti, oleh kriminal dan juga oleh orang-orang yang ia tolong. Polisi-polisi pun gak respek sama dia. Kecuali Gordon, yang membawanya ikut memecahkan kasus dan jadi kayak partner bagi Batman. Ketika mereka berhadapan dengan rangkaian kasus pembunuhan orang-orang penting di Gotham, eksistensi superhero Batman ditantang. Puzzle demi puzzle dari Riddler yang ia pecahkan membawanya pada rahasia kelam menyangkut kota, hingga warisan sebenarnya dari orangtuanya.

batman1d9b29573ce687ddd08151eb85c91af2ce5c563-16x9-x0y250w7684h4322
Teka-Teki Tikus

 

Kita gak bisa misahin Batman dari Gotham, karena kota tersebut akan selalu jadi bagian dari karakter Batman. Pak sutradara benar-benar mengerti akan hal ini. Maka kota Gotham tersebut juga ia hidupkan sebagai karakter. Bukan hanya lewat tampilan dan sudut-sudut pengambilan kamera – yang mana dilakukan dengan menakjubkan, seram rasanya berada di malam hari di tengah kota Gotham modern yang kelam dan sering hujan, tapi juga jadi bagian penting di dalam narasi. Rangkaian kasus yang ditangain Batman dirancang untuk membawa karakter ini menyelam ke dalam jaring-jaring politik gelap yang praktisnya menggerakkan kota Gotham. Dari mafia seperti Penguin (aku masih gak percaya kalo itu adalah Colin Farrel!!) hingga ke wali kota, dari klub rahasia hingga ke kantor polisi, korupsi itu udah kayak turun temurun di Gotham. Inilah yang bikin The Batman terasa begitu immersive. Dunianya benar-benar hidup. Kita merasakan setiap karakter yang tampil punya kepentingan berada di sana. Bukan sekadar seperti kepingan puzzle. Batman gak akan ngumpulin mereka di ruangan, dan memaparkan jawaban teka-teki dan menunjuk ke satu orang ‘kaulah pelakunya!’ Penjahat film ini bicara tentang membuka kedok kota, dan misteri pembunuhan dalam film ini sendirinya adalah ‘kedok’ untuk banyak lagi lapisan yang menyusun narasi film ini.

Enggak sekalipun aku merasa film ini kayak produk-yang-lain dari suatu jagat universe. The Batman terasa seperti cerita sendiri, bukan hanya di franchise Batman, tapi juga di cinematic universe keseluruhan. Inilah kekuatan sutradara yang gak kutemukan dalam film-film superhero modern yang kebanyakan kayak template. Tentu ada sejumlah callbacks ke film-film Batman terdahulu yang bisa ditemukan oleh superfans, tapi di film ini setiap aksi, setiap shot, terasa spesial dan ekslusif untuk cerita ini. Reeves benar-benar mengarahkan semuanya dengan visi. Dengan teramat sangat dramatis, pula. Dia bisa menguatkan kesan kelam dan brutal walaupun harus bergulat dengan rating 13+, yang berarti dia berhasil menggunakan ‘restriksi’ tersebut untuk keuntungan penceritaannya. Selalu ada cara efektif yang ia temukan untuk menyamarkan aksi-aksi sadis. Fokus blur, permainan kamera, atau bahkan membiarkannya terjadi off-screen (hampir semua adegan pembunuhan sadis oleh Riddler dilakukan di luar kamera), film menyerahkannya kepada imajinasi penonton. Dan memang lebih efektif dilakukan seperti begitu.

Off-screen bukan berarti film ini takut dan luput merekam emosi. Misalnya saat Batman kalap nonjokin wajah penjahat. Hasil gebukannya memang gak diliatin, tapi ‘prosesnya’ direkam dengan steady. Kamera diam aja memperlihatkan emosinya si Batman. Beberapa aksi berantem yang lebih fluid pun juga dilakukan tanpa goyang berlebihan. Batman dengan Catwoman (Zoe Kravitz level coolnessnya tinggi yaw), misalnya, aku justru lebih ngerasain ‘tensi’ di antara mereka saat lagi berantem ketimbang ngobrol. Adegan aksi paling dahsyat yang dipunya film ini adalah saat kejar-kejaran mobil bersama Penguin. Reeves juga sukses bikin Batmobile jadi kayak karakter sendiri – seperti makhluk buas yang mengintai dari balik kegelapan dan menerkam. Dan di akhir balap maut itu ada shot yang sangat keren dan memorable dari sudut pandang si Penguin. Ngomong-ngomong soal itu, film ini memang beberapa kali menggunakan pov shot dari berbagai karakter. Yang semuanya selalu berhasil menguatkan perspektif, karena didukung dengan visual maupun suara. Napas berdegup si Riddler, reaksi paniknya Penguin, ataupun hanya bunyi-bunyi derap kaki Batman dari dalam kegelapan pekat yang dilihat oleh kriminal yang ketakutan. Momen-momen itu menghiasi film sehingga mustahil ngantuk dan bosen menyaksikannya walau durasi memang panjang dan melelahkan.

Perspektif merupakan kata kunci di sini. Pandangan Batman mengenai memberantas kejahatan dibenturkan dengan pandangan maniak si Riddler terhadap keadilan jadi pusat yang menggerakkan cerita. Dan yah, tibalah saatnya menilai penampilan Robert Pattinson sebagai Batman dan Bruce Wayne. Kayaknya cuma dia yang meranin Batman dan Bruce sebagai orang yang sama – I mean, gak kayak Batman-Batman lain yang selalu ada beda sedikit dengan versi Bruce mereka. Maksudku di sini bukan Rob bermain jelek, kesamaan tersebut memang jadi konteks karakter Batman/Bruce yang ia perankan. Karena di titik ini Bruce gak pedulikan soal menyamarkan diri. Bruce di film ini justru pengen dirinya itu Batman ‘selamanya’. Dia lebih nyaman menjadi Bruce yang mengenakan topeng, dia merasa kuat dan lebih pegang kendali. Di film ini memang porsi Robert lebih banyak bermain sebagai Batman. Sedikit sekali saat dia jadi Bruce, dan di momen-momen sebagai Bruce, karakternya lebih banyak diam. Hanya menatap orang-orang. Malah ada satu adegan yang memperlihatkan Bruce dengan riasan mata yang luntur abis pake topeng, sehingga dia kayak sedih dan kuyu banget. Ekspresi Rob lebih kuat saat Bruce menjadi Batman. Segala mannerism – cara dia berjalan, dia memandang, hingga pandangan matanya berkata lebih banyak tentang Bruce sebagai Batman itu kepada kita.

batmandownload
Batman Rob punya sparkle… not in literal way

 

Revenge is an act of passion. Makanya aksi balas dendam bukanlah inti dari perjuangan kita menuntut keadilan. Harusnya inti dari perjuangan tersebut adalah perubahan apa yang kita timbulkan. Balas dendam gak akan mengubah banyak hal. Inilah yang harus dipelajari oleh Batman, yang masih terus galau dan dihantui keinginan membalaskan dendam orangtuanya kepada kriminal-kriminal di kota.

 

Aku benar-benar suka ama grounded film ini membuat ceritanya jadi semacam kasus misteri. Batman udah jadi kayak detektif, like he should be in the first place. Dia menggunakan kecerdasan, dan juga teamwork. Entah itu dengan Alfred, dengan Catwoman, ataupun dengan Gordon. Riddler yang over-the-topnya udah kuat merekat berkat penampilan Jim Carrey, di film ini juga jadi sangat grounded diperankan oleh Paul Dano. Riddler di sini jadi seperti serial killer yang mungkin bisa terjadi di dunia nyata kita. Seru aja ngeliat adegan-adegan memecahkan petunjuk dan teka-teki, meski Batman yang pintar itu agak jarang ngajak-ngajak. Dia sekali lihat bisa langsung tahu jawabannya. Tapi at least, dia ngeshare jawaban dan alasan kenapa itu jawabannya kepada kita. Dan mostly, teka-teki si Riddler adalah permainan kata yang lucu. Seperti soal ‘thumbnail drive’ ataupun ketika dia nanya ‘kalo seorang pembohong meninggal, dia ngapain?’ Jawabannya bikin aku ketawa, karena ‘He lie still’ berarti dua; dia tetap berbohong atau dia diam tak-bergerak. Lucu-lucu kecil seperti demikian jadi sangat diapresiasi karena The Batman ini memang gak pake dialog-dialog one-liner konyol. Satu lagi yang bikin cekikik ringan adalah Penguin yang karena tangan dan kakinya diikat, jadi berjalan kayak burung penguin beneran hihihi

Untuk mengembalikan fitrah film ini sebagai superhero (dan bukan film detektif) – juga karena pada titik itu karakter Batman yang semakin galau belum mendapat pembelajaran – maka setelah sekuen false resolution, Reeves menuliskan konflik menyelamatkan kota dari bencana besar ke dalam naskahnya. Batman harus menyelamatkan banyak penduduk, menyetop final wave of bad guy, untuk membuktikan dia bukan pribadi yang sama dengan dia di awal cerita. Bahwa pandangannya sudah sedikit berubah, dan bagaimana pengaruh perubahan tersebut kepada masyarakat; kepada kota. The Batman sah saja dikeluhkan kepanjangan, namun film ini masih tetap memperhatikan penulisan. Pembabakan dilakukan dengan clear di akhir. Dan perlu aku tekankan, sedikit lebih clear dibandingkan saat awal-awal babak kedua. Masalah yang tersisa adalah soal si Riddler yang rencananya semakin tidak grounded dan terlihat enggak lagi sesuai dengan bagaimana dia memperlakukan rencananya di awal.

 

 

Superhero detektif yang personal, sekaligus penuh aksi-aksi seru, dengan banyak karakter dan penampilan akting yang asik di baliknya. Kegelapan di sini bukan lagi soal cara bercerita, melainkan jadi karakter tersendiri. Kekuatan film ini memang pada karakter tersebut. Mampu menghidupkan lewat perspektif maupun visual. Bahkan suara. Aku gak memperhatikan musik, tapi desain suara film ini yang memang gak banyak dialog melainkan lebih detail menghidupkan suasana lewat suara, sungguhlah bikin kita terbawa suasana. Teka-tekinya fun. Jembatan antara cerita detektif dengan cerita superheronya memang kurang mulus, tapi banyaknya pencapaian storytelling dan teknis lain yang bisa dinikmati could easily outweighed kekurangan kecil itu. Aku yakin the only way film ini flop adalah kalo orang-orang pengen banget ngeliat Robert Pattinson memenuhi janjinya dan main film xxx.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE BATMAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana film superhero yang ideal menurutmu?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

ETERNALS Review

“Love is the capacity to take care, to protect, to nourish.”

 

Bayangkan awal tahun bikin film yang menang Oscar, lalu di penghujung tahun yang sama bikin superhero yang paling membosankan se-cosmic raya, lol that’s some range. Eternals adalah jawaban kenapa Taika Waititi bisa demikian sukses saat menggarap superhero dewa dalam balutan full-komedi receh. Karena cerita tentang ultimate being yang mendalami makna menjadi manusia memang harus mendaratkan karakter-karakternya menjadi pada level yang sama dengan penonton. Membuat mereka berlaku komedi adalah salah satu caranya. Dengan begitu kita akan lebih mudah melihat mereka sebagai bagian dari kita. Sehingga kita jadi peduli menyelami kompleksnya konflik dan karakter mereka. Eternals yang menunjuk Chloe Zhao sebagai sutradaranya, however, pengen tampil sebagai cerita pahlawan dengan muatan filosofis. Eksistensi dan kemanusiaan. Dengan bahasan yang ‘berat’ dan karakter yang ditampilkan sebagai dewa di atas kita, Zhao berusaha mendaratkan Eternals dengan tema cinta. Tapinya lagi menonjolkan cinta-cinta sementara pada sepuluh karakter kompleks itu ada bahasan menarik yang dibahas harus sekilas karena bakal ‘ketinggian’, hanya berujung membuat film ini jatuh sebagai drama bucin antara karakter-karakter kaku yang ingin mencegah kiamat terjadi di dunia.

Jadi jauh sebelum Avengers terbentuk, jauuuh sebelum peradaban manusia terbentuk, bumi kedatangan sepuluh makhluk abadi buatan Celestial. Makhluk-makhluk ini dikirim untuk melindungi bumi dari makhluk monster bernama Deviant yang memangsa manusia. Sersi adalah salah satu dari makhluk pelindung bumi itu, dan dialah karakter utama kita. Sersi instantly jatuh cinta sama planet dan kehidupan di dalamnya. Dan setelah sekian lama hidup di bumi, Sersi dan teman-teman memang ngajarin manusia dan punya pengaruh besar dalam peradaban (sebagian mereka kayfabe-nya jadi origin kisah dewa-dewi), meskipun mereka punya aturan enggak boleh mencampuri urusan ‘pribadi’ makhluk bumi. Mereka hidup bersama di antara manusia, sehingga jadi tumbuh rasa peduli. Kepedulian ini lantas jadi konflik personal, berbenturan dengan purpose yang dirancangkan buat mereka. Maka perpecahan pun terjadi. Sersi dan teman-teman berpisah dan hidup masing-masing. Namun sekarang, Deviant yang lebih kuat dan mampu menyerap kemampuan Eternals. Membunuh pemimpin Sersi. Para Eternals harus berkumpul kembali untuk melenyapkan ancaman ini, hanya untuk mengetahui bahwa ancaman sebenarnya justru adalah diri mereka sendiri. Karena kenyataan pahit terkuak untuk Sersi; Eternals sebenarnya dikirim ke Bumi untuk memastikan kehancuran planet tersebut sesuai pada waktunya.

eternals1593996-9-fakta-tentang-sosok-sersi-di-eternals
Sersi sampai di kita jadinya Dewi Padi

 

Yea, sepuluh karakter diperkenalkan sekaligus dalam satu movie memang udah red flag. Sudah begitu banyak contoh cerita ‘team’ yang gugur dan berakhir sebagai nilai merah karena gagal mengeksplorasi karakter tersebut dengan berimbang. Baru-baru ini ada satu yang berhasil, James Gunn, tapi itupun lagi-lagi karena penggunaan komedi untuk mendaratkan. But hey, Eternals hadir dengan durasi yang jauh lebih panjang dari cerita ‘team’ sebelum ini. Dua jam setengah durasi seharusnya bisa menghimpun perspektif, development, dan range masing-masing karakter. Seharusnya…

Buatku yang menarik adalah karakter Kingo, Phastos, dan Druig. Kingo ‘menyamar’ hidup sebagai legenda Bollywood, dia punya kecintaan sama film, dan for some reason Kingo sepertinya adalah superhero pertama yang menolak muncul dalam final battle. Kumail Nanjiani udah jadi berotot gitu tapi karakternya malah gak mau bertarung di akhir, it is really weird. Phastos really conflicted saat manusia mulai berperang antarsesama, karena dia merasa bertanggungjawab; dialah yang membantu manusia menciptakan alat-alat sederhana. Sementara Druig, benar-benar benci melihat manusia berperang. Druig yang bisa mengendalikan pikiran straight up melanggar aturan, membentuk komunitas masyarakat sendiri sesuai kehendaknya. Tiga karakter menarik ini nyatanya dipinggirkan karena tokoh utama kita adalah Sersi. Yang konflik utamanya adalah cinta. Sersi jatuh cinta sama manusia. Sersi dicintai sama Ikarus, Eternal yang bisa terbang. Sementara Ikarus dicintai sama Sprite, Eternal yang gak bisa gede. Mereka juga punya teman Eternal yang sering menggila, dan Eternal yang bersedia selalu melindunginya karena cinta. Film Eternals menonjolkan segala drama kebucinan ini, sebagai usaha untuk membuat para karakternya ‘manusia’

Chloe Zhao ingin mengeksplorasi gagasan soal melindungi hal yang kita cinta. To protect; itulah yang membuat manusia, manusia. Para karakter Eternal menyadari mereka ingin melindungi karena mereka punya rasa cinta, dan itu membuat mereka menjadi manusia yang sama dengan yang mereka lindungi. Itu memberikan tujuan yang sebenarnya bagi eksistensi mereka yang menyedihkan. Furthermore, Chloe memastikan para karakter benar-benar diverse. Sehingga aksi saling melindungi, saling cinta itu semakin bermakna karena melalui berbagai perbedaan dan menyatukannya.

 

Dengan pesan kemanusiaan di balik narasi klise kehancuran bumi, Eternals sesungguhnya cerita yang punya bobot dan penting untuk kita tonton. Bukan sekadar aksi-aksi flashy superhero. Hanya saja Zhao tidak benar-benar memanfaatkan karakternya selain sebagai boneka penyambung pesan. Dia tidak berhasil membuat karakter tersebut hidup. Harusnya Zhao menonton serial kartun Steven Universe. Serius. Eternals ini sama persis plotnya dengan kartun anak-anak tersebut. Baru tahun kemaren aku melahap kelima season Steven Universe, aku juga bikin playthrough lengkap video gamenya di channel Youtube. Sehingga plotnya masih segar teringat, dan saat nonton Eternals, aku merasakan deja vu. Para Eternal adalah Crystal Gem di kartun Steven. Pasukan yang dikirim ke bumi untuk mengalahkan monster, tapi kemudian merasa betah dan tertarik hidup bersama manusia bumi. Celestial adalah Diamond, higher entity yang mengirim mereka. Bahkan senjata/kekuatan mereka pun mirip sama Crystal Gem. Long story short, Crystal Gem ini juga akhirnya mengetahui rencana penghancuran bumi, dan seperti Eternal mereka juga harus melawan sesuatu yang bakal bangkit dari dalam inti bumi. Druig adalah Steven, yang punya kemampuan pikiran untuk melakukan sesuatu terhadap makhluk yang bakal bangkit tersebut. Tema di balik plot itupun sama. Tentang cinta yang dirasakan. Eksplorasi eksistensi diri, melindungi yang dicintai, kebebasan untuk menjadi diri sendiri. Steven Universe bahkan memuat tema LGBT dengan lebih mendalam daripada Eternal yang hanya sekadar menyebut dan nunjukin ciuman. Kartun tersebut menyimbolkannya sebagai kekuatan (fusion).

Inilah yang kumaksud ketika Zhao harusnya nonton serial ini terlebih dahulu. Karakterisasi dan penyampaian tema dilakukan oleh serial tersebut lebih mendetil dan dalam dan menyentuh ketimbang yang ia lakukan pada Eternal. Karakter-karakter seharusnya tidak didefinisikan oleh aksi bucin mereka saja. Mereka harus hidup. Sersi menjadi boring karena teman-temannya yang lain memasak, main film, jadi orangtua. Sersi sibuk tenggelam sendiri. Film fokusnya malah ke karakter-karakter seperti Sersi ini. Namun bahkan karakter yang menarik pun kalo udah ngumpul bareng mereka cuma berbaris, menatap sok keren ke satu titik. Dalam cerita soal merayakan emosi dan vulnerability manusia, para karakternya gak pernah sepenuhnya tergambar seperti manusia.

eternals-richard-madden-gemma-chan-2
To be fair, Steven Universe punya lima season untuk ngembangin karakter. Maka film Eternals ini cocoknya jadi serial juga.

 

Walau durasi sudah ekstrapanjangpun, film ini tetap terasa sesak dan penuh berjejelan oleh informasi dan eksposisi. Timeline dalam narasi actually melintang sepanjang sejak awal waktu. Kejadian mereka tersebar dalam periode-periode peradaban manusia. Film ini menggunakan alur bolak-balik antara kejadian di masa sekarang untuk memajukan plot, dengan kejadian di masa lalu untuk mendalami backstory kejadian (mereka pisahnya gimana, mereka ada masalah apa, dsb) Dengan cara memuat seperti begitu, praktisnya tidak ada lagi tempat untuk benar-benar mengembangkan kehidupan karakter. Akibatnya lagi, karakter ‘setua’ itu kayak sama aja mau itu kita melihat mereka di periode tahun berapapun. Yang paling gak bertumbuh itu adalah karakter Makari. Ini sayang sekali. Superhero deaf pertama MCU, berkekuatan bisa lari secepat kilat, tidak diberikan apa-apa oleh film. Dia hanya nunggu di ‘pesawat’. Hanya dimunculkan di menjelang akhir. Dia di masa lalu ama yang sekarang benar-benar gak ada bedanya. Kalo anak sekarang bilangnya ‘nolep banget’

Film ini tenggelam dalam filosofis dan pembicaraannya sendiri sehingga gagal melihat hal-hal menarik yang bisa diangkat dari karakter. Mereka punya Angelina Jolie sebagai Goddess of War – Angelina-frickin’-Jolie!! Dan hal menarik bagi film ini buat karakternya cuma namanya Thena, bukan Athena. Nama itu terus diulang-ulang. Film tidak tertarik menggali personal karakter ini – fungsi dia sebagai wakil karakter mental illness sudah dipenuhi dengan just exist there. Film tidak tertarik ngasih adegan aksi yang memfokuskan Jolie kembali beraksi. Film tidak tertarik ngasih adegan aksi. Period. Kenapa aku bilang begitu? Karena adegan-adegan berantem film ini basic banget. Gak ada yang wah. Sepuluh kekuatan special itu gak pernah jadi terasa seperti experience berantem yang out-of-the-world, yang seru. Zhao kayak sebodo amat ama template aksi superhero yang udah disiapkan studio. Hanya ada satu kayaknya, satu adegan berantem yang memperlihatkan kerja sama efektif, like, combo kekuatan super karakter mengalahkan lawan. Padahal mereka ini digambarkan gak benar-benar kuat on their own. Mereka harus bekerja sama. Ini seharusnya kesempatan ngerancang kombo-kombo spektakuler. Tapi film ini cuma kayak ‘hmm meh..!”

Satu-satunya hal menarik di film ini adalah bagaimana sepertinya Marvel telah membuka ‘pintu terlarang’. Seperti WWE yang tau-tau ngajak superstar dari perusahaan gulat sebelah (Impact) untuk tanding di acara mereka, Eternals tau-tau menyebut Batman dan Superman – dua karakter superhero dari studio sebelah – di dalam narasi. Nyebut nama-nama Avengers kan udah biasa tuh, film-film Marvel selalu ‘ngiklanin’ mereka, terutama kalo si film ini gak langsung bersangkut paut banget dengan kejadian Avengers. Nah menariknya kali ini, Batman dan Superman juga disebut dengan gamblang. Marvel mengacknowledge keberadaan superhero lain di dunia mereka. Apakah ini mengisyaratkan Marvel sudah open untuk crossover yang lebih menggemparkan? Bagaimana menurut kalian? Share pendapat kalian di komen yaa

 

 

Seharusnya dengan adanya sepuluh karakter superhero dewa berarti ada sepuluh kali kesempatan lebih banyak bagi film ini untuk menghasilkan sajian yang sepuluh kali lebih dahsyat daripada biasanya. Tapi nyatanya, film ini jadi kayak sepuluh kali lebih membosankan. Karakter-karakternya cuma baris berpose sok keren. Karakter utamanya bucin, maka melodrama cinta-cintaan itulah yang jadi fokus utama.Total bleergh buatku adalah adegan Ikarus dibikin memenuhi takdir namanya, dengan konteks dia malu udah berbuat jahat dan gak dicintai lagi sama kekasihnya. Hal-hal semacam ini yang mengesampingkan hal-hal menarik yang actually dipunya oleh beberapa karakter lain. Udah dikasih durasi panjang, tapi tetap saja film ini tidak terisi dengan efektif. Film bahkan lupa punya monster antagonis yang bisa meniru kemampuan dan berkembang jadi lebih kuat dan manusiawi. Karakter itu lenyapnya dengan gampang aja. Dikembangkan dengan tidak imbang. Ini superhero yang gak tertarik sama aksi, melainkan lebih kepada filosofi eksistensi. Mending nonton kartun Steven Universe aja deh. 
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for ETERNALS

 

 

 

 

That’s all we have for now

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SPIDER-MAN: NO WAY HOME, ENCANTO, RED NOTICE, PASSING, VENOM: LET THERE BE CARNAGE, THE KING’S MAN, ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS, dan BUKAN CERITA CINTA (THIS IS NOT A LOVE STORY) Mini Reviews

Resurgence bioskop di paruh akhir 2021 memang melegakan, tapi juga membuatku kewalahan. Antara rilisan bioskop, platform, screening khusus film festival, dengan kerjaan edit video dan nulis lainnya, semuanya jadi “too many things but so little time” buatku. Maka kupikir sudah saatnya untuk mengembalikan salah satu segmen blog ini yang pernah kulakukan di 2014-2015 (yea blog ini sudah setua itu haha), yaitu segmen Kompilasi Mini Review!

Jadi, inilah ulasan film-film baru yang kalian rekues di komen itu, yang udah kutonton tapi selalu tertunda nulis ulasannya, berkumpul di satu artikel. Sekaligus sebagai penutup; last entries untuk penilaian periode 2021 di My Dirt Sheet.

ENCANTO Review

Sampai sekarang aku masih susah percaya kalo Maribel Madrigal di Encanto ini adalah ‘orang yang sama’ dengan Detective Rosa Diaz yang ketus di serial komedi Brooklyn Nine-Nine. But hey, inilah testament dari kualitas voice-acting seorang Stephanie Beatrice. Sebagai Maribel, dia jadi gadis ceria, suka bernyanyi, yang tampak optimis. Nun jauh di dalam, Maribel merasa sangat perlu untuk selalu membuktikan dirinya sebagai bagian dari keluarga Madrigal yang penuh keajaiban. Karena cuma dialah, dari seluruh keturunan neneknya, yang tidak lahir dengan kekuatan spesial.

Di balik visual yang juga sama ajaibnya – menghibur setiap mata yang menonton – Encanto bicara tentang makna menjadi spesial itu sendiri. Pembahasan yang tentu saja penting untuk penonton anak-anak. Dan orang dewasa tentunya. Karena orang dewasa inilah yang biasanya suka nuntut yang macem-macem untuk anak mereka. Cerita Encanto difokuskan kepada keluarga ini saja, tidak ada penjahat atau makhluk yang harus dikalahkan, dan bahkan tidak ada petualangan keluar. Tapi bukan di situlah kekurangan Encanto. Karena departemen adventure tersebut sudah dihandle oleh elemen magic. Rumah keluarga mereka juga ajaib, bisa memuat dunia/tempat lain.

Yang membuat Encanto yang cakep ini terasa kurang greget adalah tidak pernah mencapai note-tinggi. Dengan kata lain, semuanya agak berakhir terlalu kentang. Magicnya tidak pernah terlalu besar. Adegan-adegan musikalnya juga tidak pernah tampak terlalu memorable atau benar-benar refleksi cerita. Melainkan lebih sering sebagai eksposisi. Kekuatan para karakter juga gak unik-unik amat. Bahkan elemen Protagonis yang gakpunya superpower juga sudah cukup banyak kita temui, apalagi di anime. Filmnya enak dipandang, imajinatif, meriah, kuat identitas, punya pesan bagus, hanya sendirinya terasa normal-normal saja.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ENCANTO.

ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS Review

Escape Room yang ceritanya bland banget dan aktingnya pun standar orang baca naskah itu, bisa ada sekuelnya karena menawarkan dunia yang terlihat bakal bigger, dan konsep death trap berupa game yang lebih fun, less berdarah-darah, sehingga lebih mudah diakses oleh lebih banyak lapisan penonton. Dan sutradara Adam Robitel tampaknya memang sudah merancang semuanya untuk menjadi seperti itu. Film kedua ini malah didesainnya menjadi semacam teka-teki sendiri.

To be honest, aku gak suka (dan gak peduli untuk sampai mau mereview) film pertamanya, tapi toh aku tertarik juga nonton yang kedua. Karena film ini actually dibuat dalam dua versi. Yang tayang di bioskop ama yang tayang di platfom streaming punya perbedaan signifikan pada opening dan ending. Yang membuat franchise ini kayak jadi punya dua jalan yang berbeda. Jadi aku menonton keduanya. Dan memang, kedua versi itu menawarkan thrill yang berbeda, dari konklusi yang berbeda. Namun menurutku, tetap tidak berpengaruh apa-apa terhadap kualitas film ini secara keseluruhan.

Karakternya tetap generic, aktingnya ada peningkatan sedikit, tapi masih seringkali annoying untuk ditonton. Film kayak meniru konsep pertandingan para juara di Hunger Games, tapi tidak berhasil ngasih konteks kenapa harus para juara. Film  jarang sekali balik ke kenyataan bahwa peserta kali ini pernah menang; mereka masih seringkali bego gak jelas. Malah ada satu karakter yang dibikin gak bisa ngerasain sakit, untuk alasan dan kegunaan pada cerita yang sepele. Game-gamenyalah yang jadi penawar utama kebosanan. Set piecenya masih dibangun dengan sangat niat. Aku paling suka bagian pas di ruangan yang diset kayak isi dalam sebuah bank. And that’s all about it.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS.

THE KING’S MAN Review

Produser, penulis, dan sutradara – si Matthew Vaughn – bermaksud ingin lebih bebas berkreasi dalam proyek prekuel ini. Dia cuma perlu mengestablish awal keberadaan agency beserta muasal karakter-karakter yang sudah kita kenal baik. Dan selebihnya, dia ingin mencoba sesuatu yang lebih dari spy-action komedi. Hasilnya, The King’s Man jadi banyak film sekaligus. Ada drama perang. Ada trik-intrik politik. Film ini jadi agak penuh sesak, sukar dilihat arahnya ke mana. Kebanyakan penonton hanya kecewa karena enggak terasa seperti franchise yang sama. Barulah saat elemen spy-action komedi yang familiar bagi kita datang, film ini kembali terasa menghibur.

Keseimbangan adalah kunci. Dan di situlah persisnya film ini kesandung. Bagian awal fokus kepada hal-hal yang ternyata gak perlu. Pada karakter yang ternyata bakal “hilang”. Karena film memutuskan sudah saatnya menjadi komedi seperti sedia kala. Sehingga momen-momen dramatis itu jadi tidak mendarat. Film mungkin bermaksud untuk membuild up. Tapi tidak pernah melakukannya dengan proper. Seperti ada satu sekuen komedi seputar menipu Rasputin dengan menggodanya. Build upnya ternyata hanya membuahkan adegan yang aku bisa mengerti akan dipandang menyinggung oleh sekelompok orang.

Ya, di sini ada Rasputin. Ada karakter-karakter sejarah beneran yang lain juga. Setting sebelum Perang Dunia I cerita ini memang ditarik dari kejadian sejarah kita. Film lantas membentuknya menjadi versi mereka sendiri, yang actually diadaptasi dari komik. Jadi, The King’s Man sebenarnya sedang bermain-main dengan sejarah fiktif dan sejarah nyata. Seharusnya konsep ini yang fokus dikembangkan sedari awal. Seharusnya inilah sumber fun sesungguhnya. Tapi nyatanya, selain action yang fluid dan paham ngasih punchline, yang membuat kita terhibur di sini cuma Rasputin. Dan – sialnya – saat ada karakter di seruduk kambing. 

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE KING’S MAN.

PASSING Review

Tadinya kupikir film ini bakal pretentious. Pakai warna hitam-putih for no reason selain pengen terlihat kayak estetik film jadul. Tapi kemudian debut Rebecca Hall sebagai sutradara ini floored me. Passing ternyata berarti dua. Pertama soal perempuan kulit-hitam yang ‘menyamar’ hidup sebagai kulit putih. Dan kedua, passing yang berarti seperti pada ending menyedihkannya nanti.

Menyamar di sini bukan dalam artian pake make up atau bedak, atau menipu dengan sengaja. Melainkan karena karakternya punya warna kulit yang lebih terang sehingga dianggap putih. Terms ini juga menguatkan tema film yakni di balik warna kulitnya semua orang adalah sama. Mereka bisa passing ya karena – selain warna kulit – tidak ada perbedaan antara sesama manusia, tidak ada yang unggul di atas yang lainnya. Tema tersebut diolah ke dalam drama persahabatan dua orang perempuan, dan di sinilah letak kecemerlangan sutradara.

Hall mau menyelami karakter. Film akan mengambil waktu, memperlihatkan reaksi setenang dan sekecil mungkin. Setiap percakapan dalam film ini, dialognya menguarkan karakter. Hall mau menggali sudut pandang sehingga semuanya ya jadi hitam-putih alias abu-abu. Tidak ada sugarcoating, tidak ada agenda. Kita melihat kejadian dari karakter utama Irene, yang mulai gerah sama kelakuan sahabatnya yang udah lolos jadi kulit putih tapi masih suka ikut keluyuran ke gathering kulit hitam, stealing all the spotlights. Dan film bicara blak-blakan lewat ekspresi dan sorot mata karakternya itu. Sebagai perbandingan, baru-baru ini aku nonton Backstage (2021), di situ ada karakter yang juga nanti jadi kayak iri sama karakter lain, tapi film seolah menghindari dari membahas. Melainkan hanya menampilkan saja. Hampir seperti filmnya gak mau kita merasakan negatif feeling dari si karakter utama. Film Passing gak peduli sama ‘memuliakan’ karakter seperti itu. Hall tahu dia sedang menceritakan manusia, jadi dia benar-benar mengulik perasaan manusia. Maka dari itu, film ini jadi drama yang sangat beresonansi.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PASSING.

 

RED NOTICE Review

Satu kata yang paling cocok menilai film ini. Mubazir.

Kalian punya tiga aktor versatile – drama bisa, komedi bisa, action bisa – tiga aktor yang lagi hit-hitnya. Tapi kalian hanya menggunakan aktor-aktor itu untuk namanya saja. Tidak benar-benar memberikan mereka sesuatu yang baru, atau bahkan tidak memberikan mereka karakter dan actual cerita. Film ini mecahin rekor Netflix, karena ya dimainkan oleh The Rock, Gal Gadot, dan Ryan Reynolds. Film ini ditonton, tapi aku yakin seratus persen gak ada satupun dari kita yang merasa dapat apa-apa darinya. Hanya hiburan kosong. Ibarat snack, film ini snack yang isinya angin doang.

Porsi aksinya? Red Notice hanya melakukan ulang aksi-aksi yang sudah pernah ada dalam film action sebelumnya. Pun, film ini tidak melakukan hal yang lebih baik dari film-film itu. Tidak menambah perspektif ataupun sensasi baru. Melainkan melakukannya dengan, kayak malas-malasan. Adegan di scaffold bangunan di awal itu misalnya. Aku bisa menyebut setidaknya dua film action lain yang sudah lebih dahulu melakukan itu dengan jauh lebih baik (Rush Hour 2 dan Shang-Chi). Red Notice, udahlah actionnya gak baru, film pun tidak memberikan karakter untuk dimainkan oleh para aktor gede itu. Film hanya menyuruh mereka jadi ‘diri sendiri’, atau at least jadi diri mereka yang paling menjual kepada penonton. Tidak satu kalipun saat menyaksikan film ini aku merasa peduli ataupun mengkhawatirkan mereka. Karena yang mereka lakukan di sini ya cuma menjalankan aksi-aksi aja dengan lucu-lucuan. Gak ada stake, gak ada rintangan. Seolah film takut gak laku kalo karakternya tampak susah dalam melakukan aksi.

Huh, judul film ini harusnya Red Flag aja. Biar siap-siap untuk yang terburuk saat hendak menontonnya.

The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for RED NOTICE.

SPIDER-MAN: NO WAY HOME Review

Bicara tentang film yang mau bikin senang penonton… Penutup trilogi ‘Home’ Spider-Man ini adalah juaranya! Konsep multiverse akhirnya fully dijalankan, dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesenangan penonton. Tiga Peter Parker bahu-membahu melawan musuh-musuh terkuat dalam film-film mereka selama ini. Interaksinya, nostalgianya. Film juga paham, punya selera komedi yang bagus, sebab kita akan tergelak melihat beberapa kali mereka saling becandain universe masing-masing. Aku sama sekali belum pernah merasakan pengalaman nonton film serame ini. Udah kayak lagi nobar Smackdown! Penonton ngecheer, tepuk tangan, tertawa bersama. Experience yang luar biasa.

Hebatnya, konsep multiverse itu bukan cuma dipasang sebagai cheap way untuk bikin penonton senang saja. Drama film ini actually datang dari pemanfaatan cerita tentang multiverse itu. Di sinilah untuk pertama kalinya Peter Parker Tom Holland harus mengambil keputusan dan bertanggungjawab sendiri. Di sinilah dia baru menyadari penuh resiko dan apa artinya menjadi seorang superhero bagi kehidupan dirinya. Dia pengen nyembuhin para penjahat, memang tampak kayak keputusan bego. Tapi Peter memang masih naif, dia harus benar-benar paham bahwa menjadi superhero itu bahaya, dan betapa pilihan seseorang benar-benar membentuk siapa mereka. Bagaimana dengan Peter-Peter lain dan karakter dari dunia lain? Mereka semua dihadirkan kembali dengan arc masing-masing. Semua bakal dapat pembelajaran, dapat second chance. Semakin menambah bobot drama muatan film ini.

Kekurangan film ini buatku hanyalah beberapa pengadeganan masih terasa seperti template. Kreasi atau katakanlah arahan sutradara belum tampak ciri khasnya, padahal sudah tiga film. Ada beberapa adegan yang awkward, kayak para penjahat berdiri diam gitu aja (kayak nunggu giliran) sementara karakter lain sedang ngobrol. Adegan aksinya juga heavy CGI, dan tidak sering diperlihatkan seperti karakter yang mengalami pembelajaran saat berkelahi itu. Hanya berupa aksi-aksi keren semata.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SPIDER-MAN: NO WAY HOME

THIS IS NOT A LOVE STORY (BUKAN CERITA CINTA) Review

Hidden gem di perfilman Indonesia. Tidak banyak yang bicarain soal film ini, padahal dia dapat award di Jakarta Independen Film Festival 2021 dan masuk short list FFI tahun itu. Aku juga tadinya gak aware. Cuma setelah bete dan kecewa berat nonton Aum! (2021), kami nyetel film ini, dan aku bilang aku jauh lebih suka ama film yang ini!

Ceritanya tentang seorang pemulung yang menemukan perempuan di truk sampah. Perempuan berkursi roda itu ternyata masih hidup, cuma tidak bisa bicara dan tidak mau bergerak. Sepertinya trauma. Maka, si pemulung membawa perempuan itu ke rumah. Tadinya ngarep ada yang nyariin dan dia bakal dapat duit imbalan. Tapi lewat berhari-hari gak ada yang nyariin. Si pemulung akhirnya tetap merawat dan mereka jadi akrab dengan cara mereka sendiri. Man, penampilan akting dan arahannya semua terlihat natural. Gak ada yang dibuat-buat. Gak ada drama yang dipancing-pancing dengan over. Sesuai judulnya, ini bukan cerita si cowok pemulung nanti jadi jatuh cinta. It was more than that. Ini bentuk cinta yang lain. Nonton ini kayak nonton kehidupan asli, dan kita jadi ikut peduli dengan kehidupan mereka. Sidi Saleh juga menambahkan lapisan berupa keinginan pemulung untuk jadi aktor, yang memperdalam bahasan dan karakter cerita.

Dijadikan 3 jam pun kita akan tetap betah menontonnya. Namun film mulai goyah saat keperluan untuk mengungkap misteri siapa perempuan itu datang. Gaktau sih, menurutku sebenarnya gak usah dijawab juga gak apa-apa. Ketika dijawab, justru akan jadi datar. Film juga kayaknya sadar, maka mereka memilih jawaban yang vague. Yang malah bikin akhiran film menjadi lebih tidak memuaskan lagi. Di samping akhiran dan elemen misterinya tersebut, This Is Not A Love Story adalah drama kehidupan yang solid, menarik, dan sederhana. Pure bercerita.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THIS IS NOT A LOVE STORY

VENOM: LET THERE BE CARNAGE Review

Venom dan Carnage adalah karakter yang dimaksudkan sebagai counter dari Spider-Man. Mereka adalah sisi jahat dan keliaran dan chaos. Dan fun. Tapi semenjak film pertamanya, Venom enggak pernah benar-benar fun. Ada sisi menghiburnya, tapi gak seberapa. Gak seperti yang dibayangkan. Maka di sekuel ini, Andy Serkis ingin melipatgandakan semua. Dan hasilnya adalah kebisingan yang nyaris bisa aku nikmati.

Fun dalam film ini adalah ribut-ribut bertengkar bahas makan ayam atau makan manusia. Berantem ngambek-ngambekan. Udah kayak ditulis oleh anak-anak untuk anak-anak. Sony kayak ingin berusaha keras biar bisa kayak Marvel, tapi pada akhirnya hanya ‘menyakiti’ karakter-karakternya. Carnage direduce dari serial killer menjadi… serial killer yang gak ngelakuin hal yang unik. Sia-sia aja pakai Woody Harrelson, yang udah pengalaman jadi pembunuh dalam film. Tom Hardy di sini juga kayak berusaha keras untuk tampak vulnerable, dia pengen jauh-jauh dari kehidupan Venom, namun pada akhirnya jadi bucin juga. Karena film actually juga membahas tentang hubungan cinta. Sampai-sampai ada juga yang menghubungkan Venom dan Eddie Brock sebagai relationship queer. LOL. Itulah yang terjadi kalo film yang benar-benar ngasih pegangan; Penonton bakal menggapai, meraih apapun dengan liar untuk jadi pegangan.

Film ini mau bicara banyak tapi bangunan ceritanya sendiri begitu sederhana. Dan pada akhirnya mereka tetap bertumpu pada aksi. Yang memang lebih menghibur daripada film pertamanya. Kali ini pencahayaannya gak gelap-gelap amat. Mereka berusaha sebisanya ngasih adegan berantem dua monster pemakan manusia menjadi tetap seru dengan rating sensor PG-13. Adegan paling penting film ini saja sebenarnya hanya adegan extra saat kredit penutup, yang sekarang terbukti cuma bait kosong saja.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VENOM: LET THERE BE CARNAGE

 

That’s all we have for now

Dengan ini, berakhirlah sudah penilaian untuk 2021. Jangan lupa cek Youtube My Dirt Sheet untuk Rapor Film Caturwulan III, yang bakal ngasih insight soal penilaian dan periode akhir. Dan setelah itu, tungguin juga daftar TOP-8 MOVIES 2021 yang bakal publish segera di blog ini.

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SHANG-CHI AND THE LEGEND OF THE TEN RINGS Review

“Its richest bequest. Its golden inheritance”

 

 

Menonton Shang-Chi, aku sejenak lupa kalo ini merupakan film superhero. Cerita tentang ‘warisan’ keluarga, bisnis yang ala gangster-gangsteran, adegan berantem yang benar-benar menonjolkan martial arts. Untuk beberapa saat, aku merasa sedang nonton film-film Kung-fu! Sampai aku menyadari yang di layar itu bukan Jackie Chan ataupun Jet Li. Melainkan bintang laga masa kini (calon legenda di depan) Simu Liu, bintang komedi dengan range drama yang belum gagal membuatku kagum Awkwafina, dan naga beserta makhluk-makhluk mitologi dari visual komputer. This is indeed a Marvel movie. Film hiburan yang paling cocok ditonton sambil makan popcorn, dengan petualangan CGI grande, dan dialog yang sama renyahnya ama popcorn itu tadi. Namun sutradara Destin Daniel Cretton jelas sekali ingin mengarahkan ini ke dalam perspektif yang lebih unik. Ke dalam karakter yang lebih representatif. Dan ‘jurus-jurus’ yang ia kerahkan sukses membuat Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings mencapai keseimbangan hiburan dengan sajian berbobot. Mengembalikan film superhero Marvel ke yin-yang  yang selama ini terlupakan

sangchi-chi-iron-fist-1
Padahal tadinya aku ‘sangchi’ bakal bagus, takut kayak Mulan

 

 

Belajar dari kritikan yang menghajar live-action Mulan (2020), film Shang-Chi yang juga mengusung karakter beretnis dan mitologi yang mengacu kepada referensi budaya Cina, berlaku lebih hati-hati dan respect terhadap representasinya tersebut. Yang pertama langsung terdengar adalah bahasa. Karakter dalam film ini tidak sekonyong-konyong berbahasa Inggris semua. Sepuluh menit pertama actually full dialog Mandarin, lalu setelah nanti setting membawa cerita berada di tempat yang lebih diverse, bahasanya akan mengikuti keberagaman tersebut. Film ini lebih peka sama di mana dan siapa. Penggunaan bahasa Inggris pun jadinya tidak terasa dipaksakan. Karakter kita hidup di San Francisco, tapi bahasan mengenai mereka merupakan bahasan yang mendalam, menggali hingga ke akar leluhur dan legenda. Karena pada intinya narasi Shang-Chi memang berinti kepada keluarga.

Ketika kita pertama kali bertemu dengan Simu Liu, karakter yang ia perankan dipanggil dengan nama Shaun. Dia bekerja sebagai tukang parkir valet, bersama sahabatnya Katy (karena terlalu banyak nonton Steven Universe, aku jadi merasa suara Awkwafina mirip sama suara si Amethyst). Mereka berdua ini orangnya nyante banget. Gak kayak sahabat mereka yang orang-cina-kesayangan-keluarga banget, Shaun dan Katy lebih suka berkaraoke dan nyaman sama kerjaan mereka yang dianggap tidak memenuhi standar keluarga. Sebenarnya, ada alasan bagus – yang rahasia! – kenapa Shaun menikmati hidupnya seperti itu. Begini, keluarga Shaun bukanlah keluarga standar seperti keluarga Katy. Ayah Shaun tidak lain tidak bukan adalah The Mandarin, pendekar penguasa, pemegang senjata sepuluh cincin yang legendaris, pemimpin kelompok Ten Rings yang sudah mencatat lembar kelam sejak beribu tahun lalu. Shaun, nama sebenarnya Shang-Chi, sejak kecil dilatih ayah jadi assassin, demi membalaskan dendam kepada pembunuh ibu. Shaun kabur dari kehidupannya tersebut. Meninggalkan ayahnya, adiknya, dan siapa dirinya yang sebenarnya. Tapi sebagaimana yang disaksikan oleh Katy dan kita, Shaun terendus oleh ayahnya, dan dia dipaksa pulang. Karena menurut ayah, ibu masih hidup. Terpenjara di tanah legenda. Shang-Chi harus kembali dan menghadapi semua yang pernah ia tinggalkan. 

Sekarang mungkin kalian sedikit mengerti kenapa aku malah ngerasa kayak nonton film Kung-fu saat nonton film ini. Naskahnya benar-benar fokus kepada konflik dalam keluarga pemimpin organisasi hitam! Shang-Chi adalah cerita tentang seorang anak yang kabur dari kehidupan itu karena dia gak sudi menapaki jalan tersebut. Mana ada cerita original dari superhero Marvel yang seruwet dan sedalam ini, at least sejak Winter Soldier? Dan naskah berhasil berkelit dari membuat Shang-Chi tampak seperti karakter sok suci yang membosankan. Karena pertanyaan yang berkecamuk di dalam dirinya adalah apakah saya pengecut telah kabur? Keluarga yang jadi sentral cerita ini ditulis dengan detil dan relatable. Semuanya jadi pendukung yang menambah banyak pembelajaran bagi karakter Shang-Chi. Ada adik perempuan Shang-Chi, yang merasa diremehkan oleh ayah, dan ditinggalkan oleh Shang-Chi, sehingga tumbuh menjadi pemimpin organisasinya sendiri. Ada ibu Shang-Chi yang dirancang sebagai karakter paling berpengaruh, yang mendaratkan dan merekatkan keluarga ini. Kematiannya jadi titik balik karena sebegitu berperannya Ibu bagi mereka semua. 

Film sempat nge-poke fun Shang-Chi yang kabur tapi ganti namanya malah ‘cuma’ jadi Shaun (ganti nama kok mirip). Namun jika kita melihat on deeper level, keputusan nama tersebut melambangkan keraguan karakter ini. Yang ditakutkan oleh Shang-Chi adalah dia bakal jadi penerus ayahnya, karena itulah yang budaya keluarga mereka. Tapi ia juga adalah ‘warisan’ ibunya.  Kebingungannya akan itulah yang membuatnya kabur. Yang harus dipelajari Shang-Chi dalam kisah ini adalah bahwa anak gak bisa kabur. Melainkan mewarisi baik dan buruk keluarga. Shang-Chi harus mengembrace, dan memantapkan apa yang nanti ia wariskan berikutnya. 

 

Dan tentu saja, ada ayah Shang-Chi. Pria yang dikenal dengan banyak nama, karena reputasinya yang mengerikan. Tapi dia settle dengan nama The Mandarin, karena baginya filosofi di balik nama itu cukup ‘lucu’ (akan ada dialog eksposisi yang menceritakan tentang ini, dikemas dalam bentuk bincang-bincang santai di meja makan). Diperankan oleh ikon Hong Kong, Tony Leung yang jago kung-fu dan drama, The Mandarin boleh jadi adalah salah satu dari sedikit sekali penjahat-Marvel yang punya karakter paling compelling. Paling manusiawi. Secara simpel kita bisa bilang dia adalah karakter jahat yang bersedia jadi orang baik atas nama cinta. Secara lebih kompleks – cara yang diterapkan oleh film ini – The Mandarin adalah karakter yang berakar pada tradisi, norma pejuang, kebanggaan, kehormatan, kekuatan (practically sifat-sifat yang dilambangkan oleh legenda kesepuluh cincin). Dia bukan karakter yang jahat licik pengen menguasai dunia. Kita akan melihatnya lebih sebagai sosok ayah yang sudah terluka banyak, tapi juga sangat keras. Kita bersimpati, sekaligus merasa takut kepadanya. Film ini bekerja terbaik saat memperlihatkan hubungan atau konflik yang mengakar begini antara anggota keluarga ini. Sutradara tahu di situlah – pada grounded-nya itulah – letak kekuatan yang dimiliki film ini, maka ia berusaha sebisa mungkin untuk mencapai itu saat men-tackle elemen yang lebih fantasi.

sangchiScreen-Shot-2021-06-25-at-10.31.21-AM
Sialnya, aku menyangchikan film ini tidak di bioskop

 

 

Tanpa banyak ba-bi-bu lagi, Shang-Chi punya sekuen-sekuen berantem terbaik yang pernah kusaksikan sepanjang Marvel Cinematic Universe berlangsung. Ketika film Marvel yang lain banyak berseru-seru ria dengan aksi superhero, sebagian besar porsi laga film Shang-Chi berlangsung dengan gaya berantem Kung-fu. You know, berantem yang tampak plausible meskipun memang masih sangat bergantung kepada efek CGI, stuntmant, dan kerja kamera serta editing. Seenggaknya, sebagian aktor di sini memang punya pengalaman beladiri, pembuatnya pun tampak memahami seni itu dan tau cara terbaik dalam merekamnya. Jadi mereka semua tau apa yang harus dilakukan. Favoritku adalah adegan berantem di dalam bis, sekuennya dari awal-tengah-hingga akhir is pure excitement dan joy. Sekuen itu muncul di babak awal, dan film terus menaikkan game mereka untuk aksi-aksi ini. Kita bakal melihat berantem di pondasi bambu (kayak di Rush Hour 2), dengan kamera yang aktif ‘melayang’ ke sana kemari, memastikan cerita lewat berantem itu sampai dengan gemilang. Di menjelang akhir, kita akan disuguhkan adegan berantem yang kita saksikan lewat cermin di dalam ruangan. Kamera akan berputar 360 derajat, kita akan melihat tubuh beterbangan, dengan sensasi direction yang diajak bermain-main, bergantian antara pantulan cermin dengan tidak. Ketika memang harus aksi satu-lawan-satu, film ini pun gercep dengan perspektif. Menghasilkan gerak yang dinamis sesuai gerakan berantem, tanpa pernah menjadi memusingkan. Ketika harus fantasi pun, pertarungan akan tetap terasa berbobot. Aksi-aksi seperti pertarungan Dragon Ball itu ternyata bisa kok dibikin dengan indah dan meyakinkan!

Setelah semua itu, makanya babak ketiga film ini jadi kurang greget. Setelah pertempuran kung-fu satu lawan satu, aksi berantem yang interaktif dengan settingnya, dan jurus-jurus yang sepertinya mungkin untuk dilakukan (hanya dipercantik/dibikin makin intens oleh efek komputer), di babak akhir film mengembalikan semua itu ke fantasi superhero. Pertarungan dengan naga-naga, dan makhkluk CGI. Seketika aku merasa kehilangan banget. Akhiran yang diniatkan untuk besar-besaran tersebut justru jadi terasa menutup film dengan… kecil. Dengan biasa. Tidak ada lagi excitement dari drama karakter, karena semuanya berubah menjadi “kalahkan monster sebelum dunia jadi kacau itu!” Meskipun tetapi dilakukan dengan kualitas teknis luar biasa, tapi tetap saja jika dibandingkan dengan perjalanan-karakter yang sudah kita tempuh bersama sedari awal, film ini tetap terasa berakhir dengan sedikit underwhelming.

 

 

 

Tapi ya, mau bagaimana. Tidak mungkin juga itu dihilangkan, dan meminta film untuk tetap dengan berantem ‘sederhana’. Karena afterall, ini adalah entry berikutnya dari jagat sinema superhero. Film ini terikat untuk menjadi fantastis seperti yang kita lihat di akhir. Film ini terikat oleh kebutuhan untuk ‘menjual’ dunia yang lebih besar, untuk ‘ngetease’ ke film superhero yang akan datang. Film ini terbebani oleh tuntutan menyampaikan eksposisi dan flashback. Maka, yang harus kita apresiasi di sini adalah upaya film untuk menjadi seunik dan seberkarakter mungkin, di sela kebutuhan-kebutuhan tersebut. Toh film berhasil, kita telah dibuatnya terhanyut oleh konflik keluarga yang pelik dan  menyentuh. Kita telah dibuatnya peduli sama karakter-karakter. Mulai dari pendamping atau sidekick, hingga ke antagonis, semuanya berhasil dibuat berbobot. Kita juga telah dibuat terkesima oleh dunia dan aksi-aksi yang mewarnainya. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 ten rings, eh 10 gold stars! for SHANG-CHI AND THE LEGENDS OF THE TEN RINGS

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apa yang biasanya kalian pilih untuk lakukan jika ada tindakan atau keputusan dari orangtua yang tidak kalian setujui?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA