UNFRIENDED: DARK WEB Review

“The greatest myth of our times is that technology is communication.”

 

 

 

Kita tahu sekarang udah jaman komputer salah satunya adalah dari ketika kita nonton film aja dialog filmnya “Eh udahan dong internetannya, ada film baru nih, yuk nonton, seru!” Yang kita tonton pun tak jauh-jauh dari layar komputer juga. Chat orang-orang dijadikan tontonan. Jokes aside, film yang ceritanya dibangun seluruhnya berdasarkan perspektif komputer seorang tokoh sebenarnya sungguh impresif. Pintar, menjadikan layar komputer sebagai alat untuk bercerita; membangun dunia dengan lapisan misteri, juga karakter, dari penggalan-penggalan komunikasi menjadi rangkaian aksi. Buktinya Unfriended (2015), Searching (2018), meski masih punya ‘glitch’ dan masalah penceritaan di sana-sini, film-film bergimmick komputer itu tak pelak udah sukses bikin kita tersedot ke dalam ceritanya.

Dan sekarang, Unfriended dibuat sekuelnya, dengan maksud mengeksplorasi dunia siber dengan lebih dalam. Dari segi konsep, Unfriended masih lebih baik dan konsisten karena film tersebut berani untuk mempercayai penonton mampu menangkap semua yang berusaha untuk mereka ceritakan dengan tidak ‘mengkhianati’ gimmick layarnya sendiri. Layar komputer itu tidak akan di-zoom, karena sesuai dengan dunia nyata, ketika kita membuka laptop atau komputer, kita akan membuka banyak hal sekaligus. Kita dengar musik, kita buka video, kita chatting, kita buka google untuk mencari informasi atau gambar-gambar lucu sebagai penunjang bahan obrolan; layar komputer kita naturally akan tumpuk menumpuk. Mata kita sudah terbiasa untuk melihat mana yang perlu dilihat. Unfriended tidak memisahkan kita dari sensasi melihat layar tersebut, begitu juga pada film keduanya ini. Unfriended: Dark Web malah mencoba untuk melangkah ke zona realita itu dengan lebih jauh lagi. Tidak lagi kita akan melihat aspek supernatural alias hal-hal goib di sini. Film mempersembahkan sebuah kengerian yang timbul ketika kita tercemplung ke dalam sesuatu yang tidak kita mengerti. Sesuatu yang ternyata lebih besar dari kelihatannya.

Kalian tahu gimana katanya kita hanya menggunakan sepuluh persen dari kekuatan maksimal otak? well yea internet juga begitu. Selain halaman penuh hoax, caci maki, propaganda ketakutan, challenge-challenge fun tapi pointless, dan jutaaan selfie produk keinsecuran diri tersebut, sebenarnya ada porsi lain dari internet yang tidak bisa kita masuki sembarangan, yang tidak bakal nemu meski tangan kita pegel ngetik Enter di mesin pencari, yang disebut dengan Deep Web. Dan jaringan Deep Web ini luas banget. Salah satunya adalah lapisan atau jaringan Dark Net; tempat segala informasi yang bikin bulu kuduk berdiri. Segala macam kejahatan bisa ditemukan di sini (tentu saja jika kita bisa masuk dulu ke Webnya), semuanya yang bisa kita pikirkan ada di sini. Juga sangat berbahaya, karena ini adalah tempat hang outnya para hacker. Unfriended: Dark Web menceritakan tentang gimana seorang pengguna internet biasa harus berurusan hidup-mati dengan lingkaran hacker dan kriminal di Dark Net.

suddenly, your hidden ‘funny’ files don’t matter anymore

 

Mencoba untuk berkomunikasi lebih baik dengan kekasihnya yang tuna rungu, Matias (Colin Woodell sebelumnya juga ikut bagian dalam film ‘layar komputer’, Searching) mengembangkan sebuah aplikasi chatting yang bisa langsung menuliskan apa yang ia sebut, lengkap dengan kamus bahasa isyarat. Tapi komputernya lemot. Jadi, Matias ini langsung semangat begitu dapat laptop baru yang lebih kenceng. Facetime mereka jadi lebih lancar, aplikasi buatannya juga langsung dites buat pacaran. Tak lupa pula laptop baru ini dipamerkan kepada geng sahabatnya sembari mereka bermain game lewat video-call. Tak lama, Game Night mereka berubah menjadi malam petaka. Pemilik lama laptop Matias muncul di facebook, meminta kembali laptopnya. Keadaan menjadi sulit lantaran Matias keburu tahu rahasia si pemilik lama, dan tanpa sengaja ia mencampuri urusan lingkaran bisnis si Pemilik Laptop yang berhubungan dengan penculikan wanita dan tindak kriminal mengerikan lainnya di Dark Net. Semua orang yang Matias sayangi ikut-ikutan terseret bersamanya.

Dalam lapisan terdalam dari aspek romansa Matias dengan pacarnya yang berbahasa isyarat, sebenarnya film bicara tentang masalah komunikasi. Kita menciptakan alat untuk mempermudah komunikasi; sosial media di internet, gadget, dan sebagainya, tapi itu tidak berarti komunikasi itu sendiri seketika menjadi lancar. Malahan terkadang, teknologi seperti mengeliminasi seni komunikasi itu sendiri. Komunikasi adalah soal kita untuk mau mengerti lawan bicara, effort yang berasal dari diri sendiri dan tak akan bisa diwakili oleh teknologi secanggih apapun.

 

Salah satu teman Matias ada yang diceritakan berasal dari Jakarta. Bahkan ada adegan cukup panjang dia bicara dengan bahasa Indonesia. Aku terkesan pada separuh bagian awal film ini, bukan exactly karena hal tersebut.. Penceritaan film ini diperkuat oleh uniknya hubungan Matias dengan pacarnya. Kita bisa melihat sebenarnya dia lumayan berusaha, dia sempat belajar bahasa isyarat (entah karena bego atau memang gak serius belajarnya adalah misteri berikutnya yang minta dipecahkan), kemudian dia beralih ke membuat aplikasi. Yang justru membuat pacarnya enggak senang. Dan dia sempat didiemin, chatnya gak dibales. Di sini tercipta ‘lingkungan’ yang menarik. Kita mungkin bisa teriakin saran ke mereka, tinggal ketik chat doang apa susahnya – tinggal baca, tapi mereka ingin benar-benar ‘berbicara’. Rintangan tak-terlihat ini menambah bobot banyak bagi karakter mereka. Yang sangat disayangkan, semakin Matias terjun ke Dark Web, cerita semakin jauh masuk ke zona thrillernya, film seolah melupakan aspek tersebut. Film hanya sibuk dan berusaha keras untuk menakuti kita.

Dan tidak pernah berhasil karena landasan untuk kita takuti itu nyatanya semakin jauh ke realita. Maksudku, bahkan film pertama yang ada elemen hantu balas dendam lewat laptop aja terasa lebih seram dan ‘nyata’. Karena story di belakangnya adalah tentang tragedi perundungan. Hal-hal terrible yang menimpa Laura Barns, kita percaya semua itu bisa (bahkan mungkin sedang) terjadi kepada murid sekolah manapun di dunia saat ini. Kejadian-kejadian seramnya lebih mudah dipercaya karena, ya, memang kejadian supranatural. Pada Dark Web, mereka memperlihatkan kepada kita masalah tentang kriminal di Dark Net – yang mungkin juga terjadi, who knows, tapi yang dilakukan oleh ‘antagonis’ di film ini tidak dibangun untuk bisa kita percaya bisa terjadi beneran. Ada mitos Chiron dan Sungai Styx (dari mitologi Yunani soal penyeberangan ke dunia orang mati) yang dijadikan simbol yang tidak menambah banyak bagi cerita. Yang dilakukan para Chiron juga tampak terlalu dibesar-besarkan, tidak plausible. Gimana mereka bisa muncul dengan tepat di waktu yang benar. Kita diharuskan percaya bahwa mereka hacker sehingga bisa melakukan berbagai hal yang nyaris gaib, bikin penampakan mereka ngeglitch dan sebagainya. It’s just.. para tokohnya begitu perfect dalam kerjaan mereka. Bahkan Matias saja mengetik dengan sangat lancar seolah tidak berpikir dahulu; aspek detil pada film pertama yang tidak kita temukan di sini.

Mungkin karena tokohnya cowok jadi lebih tegas dan gak baperan

 

 

Sebuah film hanya akan semenarik dan sebagus endingnya. Setelah menonton film ini, aku mencari tahu tentang endingnya. Ternyata, film ini dibuat dengan dua ending. Dan yang aku tonton sepertinya adalah versi yang lebih jelek. Aku gak mau bicara banyak karena bakal spoiler parah. Yang aku bisa bilang adalah, versi yang aku tonton, pada babak ketiganya banyak adegan kematian yang dibuat sekenanya. Kayak ada satu tokoh yang diam begitu aja di tengah jalan. I mean, come on, nenek-nenek yang gak bisa ngapalin password facebooknya sendiri aja juga tau kalo diem di tengah jalan bisa berakibat ditabrak mobil. Ending yang aku tonton semacam memperlihatkan ‘gambar besar’ dari apa yang sebenarnya terjadi. Fokusnya menjadi lebih ke dunia pada cerita ini sendiri ketimbang pada tokoh utamanya. Yang membuat plot si Matias menjadi tidak melingkar; tidak menutup. Dari apa yang kubaca pada artikel tentang dua ending film ini; versi yang lain – meski nasib para tokoh di akhir cerita tidak mengalami banyak perubahan; hanya ada satu berbeda secara signifikan – memberikan kesimpulan cerita yang lebih memfasilitasi plot karakter tokoh utama. Ada permainan kalimat yang cerdas sehubungan dengan dialog Matias dengan pacarnya di awal film yang dimunculkan kembali tentang gimana Matias menyesal tidak belajar bahasa isyarat lebih giat. Jadi ya aku kesel juga malah dapat film yang versi ending kurang kuat.

 

 

 

 

Lebih sebagai sebuah sajian thriller ketimbang horor. Menakjubkan gimana penceritaan film ini dibuat dengan sedekat mungkin dengan kenyataan. Perspektif layar komputernya tetap, dan masih, menjadi hal yang paling menarik. Tapi dari aspek kejadian mengerikannya, film banyak meminta kita untuk menahan rasa tidak percaya itu hingga ke titik film ini punya kredibilitas yang bahkan lebih rendah daripada film pertamanya yang tentang hantu main facebook.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for UNFRIENDED: DARK WEB.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Penasaran gak sih, kalo laptop atau komputer milik kalian jatuh ke tangan orang lain, kira-kira ada hal paling menakutkan yang bisa mereka temukan di dalamnya?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

 

MARROWBONE Review

“Shame is the feeling of being something wrong.”

 

 

Ibu membuat garis di lantai rumah tua yang berdebu. “Cerita kita dimulai dari sini” katanya. Dengan mantap ia membimbing keempat anaknya melangkahi garis tersebut sebagai simbol mereka memulai hidup yang baru. Dengan mengganti nama keluarga menjadi Marrowbone, mereka wujudkan keinginan mereka untuk hidup terasing. Jauh dari masa lalu. Malahan rumah gede yang mereka tempati sekarang jauh dari mana-mana. Tetangga terdekat mereka di bukit depan, satu jembatan jaraknya. Namun tak lama, Ibu meninggal dunia. Tragedi masa lalu pun sampai pula mengejar Jack dan tiga orang adiknya. Marrowbone sesungguhnya adalah cerita menyedihkan tentang kakak beradik yang berusaha untuk hidup tenang, tetapi terus diteror oleh ‘hantu’. Rumah tangga mereka terbangun atas dasar trauma dan rahasia, sehingga kita bisa saja membuang elemen hantu dalam narasi dan tetap saja film ini akan terasa sangat pilu.

ah, move on dari kenangan tidak pernah segampang melangkahi garis di lantai

 

Aku perlu menegaskan bahwa meskipun kerja paling baik dari Marrowbone adalah ketika film ini mengeksplorasi elemen supranatural, sesungguhnya kalian tidak akan mendapatkan horor sebenar-benarnya film hantu saat menonton ini. Menulis skenario drama seperti ini jelas bukan masalah besar bagi Sergio G. Sanchez yang sebelumnya turut ikutan menulis The Orphanage (2007) yang punya tone serupa dengan film ini. Tapi Marrowbone juga adalah debutnya duduk di kursi sutradara. Ketika bermain-main dengan build up, dengan mengarahkan para karakter, membuat rumah besar itu menjadi penuh misteri dengan segala bunyi-bunyi, cermin-cermin yang ditutupi, noda-noda tak terjelaskan di langit-langit, Marrowbone terlihat sangat efektif. Kita bisa ikut merasakan atmosfer dan suasananya. Ada sensasi terkungkung, ketakutan di layar sana yang menarik kita masuk.

Yang membuat kita betah mengikuti adalah penampilan akting dari para pemain yang masih pada muda-muda. Tokoh utama kita adalah Jack, si anak tertua. Sepeninggal Ibu, dia menjadi kepala keluarga. George Mackay butuh mengerahkan usaha yang esktra sebab perannya ini enggak hanya diwajibkan untuk tampil tertutup serba berahasia. Namun sekaligus juga bingung, ia ingin memenuhi wasiat ibunya, ingin melindungi adik-adiknya, tapi dia tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi – pada dirinya, pada sekitarnya. Dia juga punya saingan cinta yang membuat tokoh ini lebih berwarna lagi, dan bahkan range emosi  semakin meluas ketika cerita sampai ke titik pengungkapan. Adik-adik Jack, sebaliknya, tidak diberikan kesempatan melakukan banyak. Mereka bersembunyi dari ayah dan dilarang keluar rumah oleh Jack demi keselamatan mereka. Mia Goth dan alumni Stranger Things Charlie Heaton memang agak disayangkan kebagian porsi yang sedikit, tapi mereka deliver apa-apa yang diminta oleh naskah dengan baik.

Sama seperti yang ia lakukan dalam The Witch (2016), Split (2017), dan Morgan (2016), Anya Taylor-Joy mencuri sorotan dan menjadi elemen terbaik yang dipunya oleh film. Di pertengahan film, perannya agak berkurang. Anya bermain sebagai Allie, tetangga terdekat sekaligus pacar dari Jack. Dia keluar-masuk cerita, barulah di babak terakhir perannya kebagian tindakan gede, Secara konstan penampilan Anya di sini baik sekali. Emosional, tokohnya enggak bego, tokohnya memang satu-satunya yang enggak menyimpan rahasia, dan dia bermain sama jujurnya – amat meyakinkan. Akan tetapi, serealistisnya penampilan Anya, dia tetap tidak mampu membuat keseluruhan film tampak menarik dan meyakinkan. Misteri-misteri yang dimasukkan tidak pernah menjadi misteri, maksudku mereka membingungkan oleh alasan yang lain. Kita tahu apa yang terjadi. Kita hanya tidak tahu apakah memasukkan elemen itu adalah keputusan yang tepat untuk film ini.

Keluarga Jack mengasingkan diri sebagai reaksi dari perlakuan kejam sang ayah, dan ironisnya mereka juga berusaha melarikan diri dari social shame. Mereka kehilangan self respect. Mereka menjadi lunak. Tapi untuk hidup, mereka harus kuat. Ditekan oleh banyak hal seperti ini, malu, takut, keinginan untuk bertahan, bisa dengan gampang merusak seseorang, jika ia menjalani hidupnya sendirian. Inilah yang disadari oleh Jack dan Allie di akhir cerita, bahwa seberapapun parahnya keadaan, mereka harus mengusahakan untuk tidak merasa sendirian.

 

sembunyi di balik kain transparan, kayak twist film ini

 

 

Susah untuk menceritakan garis besar Marrowbone tanpa membeberkan terlalu banyak poin yang semestinya dirahasiakan. Film ini adalah film yang tulang punggungnya ada pada twist, dan film ini paham twist yang baik adalah twist yang merupakan satu-satunya terusan yang logis buat cerita, bukan sekedar belokan tajam untuk mengecoh.  Beberapa film ragu memberikan petunjuk karena mereka menyangka twist yang bagus itu adalah yang tak-tertebak. Jadi pada kebanyakan film kita tau-tau dikejutkan oleh pengungkapan seperti siapa yang ternyata siapa, yang jahat ternyata si yang paling pendiam, atau semacamnya yang tak pernah dibuild up. Film ini tidak mempermasalahkan twistnya yang mudah tertebak. Sejak peluru pertama ditembakkan dan kita lompat ke enam bulan kemudian di sepuluh menitan pertama, aku yakin banyak di antara kita yang sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi di bawah atap rumah Marrowbone. Film tetap pada track dan dia terus membangun suspens supaya ketika jawaban itu sudah di depan mata, kita dapat merasakan sensasi emosi yang gempita.

Gakpapa untuk sebuah film punya twist yang gampang ditebak, namun toh rasa malu itu tetap ada. Sama seperti kita yang sadar betul narsis itu udah lumrah, tapi kita kadang tetap merasa malu ngepost foto narsis sehingga kita memakai caption nyontek quote-nya Tere Liye supaya kita bisa jadi ada alasan bagus buat ngepost foto narsis. Trope-trope film lain, serta berbagai supplot serabutan, adalah laksana quote Tere Liye di foto selfie narsis bagi Marrowbone. Film ini melemparkan elemen cinta segitiga, rumah hantu, misteri pembunuhan, anak kecil yang paling peka sama yang goib-goib, ada juga blackmail soal duit, untuk menutupi twist yang sudah disiapkan. Dan tidak satupun yang tercampur dengan baik. Narasi menjadi amat berbelit. Mereka tidak membuat kita lupa terhadap twist, sama sekali tidak mengaburkannya, yang ada hanyalah elemen-elemen tersebut membuat film menjadi sesak dan tidak mencapai potensi suspens drama yang semestinya bisa dicapai.

 

 

 

Sejatinya ini adalah drama keluarga yang amat melankolis dengan dibayangi oleh lapisan supernatural. Mengeksplorasi tentang rasa bersalah, rasa malu, dan ketakutan. Punya tema, desain produksi, dan penampilan akting yang bakal menarik minat penggemar horor arthouse. Dibangun berdasarkan twist, membuat film ini pun ikut dilirik oleh penonton mainstream. Para aktor muda berusaha semampu mereka, sama seperti film ini berusaha sekuat tenaga untuk menutupi twist yang mereka tahu gampang ditebak. Jadinya, ada banyak elemen yang kita jumpai, yang hanya membuat plotnya convoluted. And it just doesn’t work. Banyak adegan yang kehilangan bobot karena kita gak sepenuhnya yakin itu hantu beneran, atau imajinasi, atau apakah mereka semua beneran ada di sana.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for MARROWBONE.

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We? We be the judge.