PAMALI Review

 

“Sometimes superstitions can have a soothing effect, relieving anxiety about the unknown and giving people a sense of control over their lives.”

 

 

Pernah sekali aku main game Pamali. Nyaliku langsung ciut pas diketawain kuntilanak dari atas atap. Aku ambil kunci di dinding, dan membuat karakter game itu keluar dari pagar rumah secepat kilat.  Ya, prestasiku memang tidak membanggakan untuk urusan game dengan sudut-pandang first-person. Bawaannya takut kena jumpscare melulu. Makanya, begitu tahu game ini diadaptasi menjadi film layar lebar, aku girang. Karena akhirnya aku akan bisa mengexperience misteri cerita yang katanya diangkat dari mitos-mitos lokal atau takhayul khas Indonesia. Sutradara Bobby Prasetyo memang bekerja sedekat mungkin dengan materi aslinya, menghidupkan misi membersihkan rumah angker untuk dijual tersebut ke dalam sebuah cerita drama pilu, surrounding rumah yang jadi berhantu. Meski memang tidak berhasil menjadi sedalam ataupun senendang drama horor seri ‘Haunting of’ kayak yang di luar itu, namun yah, paling tidak film Pamali cukup bisa menjadi cerita pengantar mimpi buruk. At least, bisa jadi pilihan untuk membuka musim Halloween tahun ini.

Sama seperti pada chapter gamenya, kita akan ngikutin karakter bernama Jaka yang kembali ke rumah masa kecilnya yang sudah lama tidak dihuni. Rumah di pedesaan ini hendak dijual, sudah ada yang menawar, sehingga Jaka harus memastikan rumah tersebut cakep dan layak huni. Di sinilah letak masalahnya. Rumah Jaka keadaannya jauh dari layak-ditinggali. Bukan karena berantakan dan listriknya mati, melainkan karena rumah tersebut dibayangi oleh ruh kakak Jaka.  Tapi Jaka belum ingat ini. Karena dia sudah tidak tinggal di sana sejak umur enam tahun, maka cowok itu cuek aja ngajak istrinya yang tengah hamil turut serta nginap dan membersihkan rumah itu selama tiga hari. Pengalaman mereka selama di sanalah yang perlahan membawa ingatan buruk kembali ke Jaka.

The White Lady enjoys AEW’s National Scissoring Day

 

Keunikan yang jadi ciri khas yang membuat game Pamali populer, bahkan hingga di kalangan gamer horor luar negeri, adalah banyaknya skenario konsekuensi tindakan yang dilakukan para pemain selama tiga malam membersihkan dan mengungkap misteri di rumah tersebut. Pemain diberikan kebebasan penuh. Bisa beneran beresin rumah sambil memecahkan misteri lewat membaca beragam catatan yang ditemukan, atau mau kayak aku yang langsung cabut dan gak jadi jual rumah pun bisa. Game akan memberikan beragam ending tergantung pilihan tindakan pemain. Sebagian besar dari cabang ending itu berasal dari sikap pemain terhadap pamali itu sendiri. Kita bisa menyingkirkan sesajen, yang mengakibatkan hantunya bakal marah, misalnya. Kita bisa membuang gunting, yang nantinya bakal berujung roh jahat berdatangan. Atau sebaliknya, pemain bisa memilih untuk jadi orang paling percaya takhayul sedunia dengan patuh sama pamali-pamali dan mendapat good ending. Nah, ruh Pamali ada di sana. Ini bukan hanya cerita tentang tragedi keluarga salah satu karakternya, tapi juga memuat bagaimana pamali itu sendiri bisa menjadi bagian dari misteri.

Ketika tertranslasikan jadi film, pilihan-pilihan yang free dilakukan oleh pemain dibentuk ke dalam karakteristik karakter cerita. Film Pamali menambah karakter, bukan hanya Jaka, tapi jadi ada Rika istri Jaka, lalu ada Cecep yang bantu menjaga rumah. Merekalah yang nanti akan kita lihat melakukan hal-hal, entah itu melanggar pamali, atau menekankan kepentingan respek terhadap benda-benda atau kegiatan tertentu. Film cukup bijak untuk tidak membuat hal menjadi annoying, membuat karakter skeptis yang bertingkah sompral atau semacamnya. Sompral sendiri memang jadi ‘gaya humor’ dalam gamenya, tapi film ini, berusaha membuat duo karakter sentral sebagai karakter yang berpikir logis dahulu, sebelum kemudian akhirnya mulai ‘terganggu’ oleh pamali, Sebelum akhirnya mereka mulai memikirkan dan terkena dampak pamali-pamali. Dengan melakukan seperti ini, film masih menapak di ground yang balance. Tidak hadir dengan menyuruh penonton ikutan superstitious, dan juga tidak menampik itu keras-keras. Perhatian penonton malah lebih diarahkan kepada karakter-karakter dari backstory juga dihidupkan oleh film. Menjadi orang-orang yang kita tonton alih-alih hanya membaca tentang mereka. Pamali tidak sekadar ingin membuat penonton takut, tapi juga pilu. Tidak seperti film horor biasanya yang baru mereveal siapa sebenarnya hantu di babak akhir, Pamali membuat kita langsung dibuat mengikuti perjalanan sedih karakter hantunya. Sejalan dengan pengalaman mengerikan ataupun catatan yang dibaca oleh Jaka ataupun istrinya, kita akan langsung dibuat flashback ke kehidupan Nenden sebelum ia jadi hantu.

Teknik begini membuat Pamali jadi salah satu horor Indonesia dengan cerita yang paling ter-flesh out. Karena ada begitu banyak waktu yang diberikan untuk kita mengenal karakter-karakternya. Dari yang awalnya mungkin meragukan ‘kecerdasan’ Jaka membawa istrinya yang hamil nginap di antah berantah, kita jadi peduli sama kesusahan yang harus mereka lewati bersama. Kita terinvest sama keselamatan karakter yang diperankan Putri Ayudya. Kita pengen tahu lebih banyak kenapa Marthino Lio bisa gak ingat sama kejadian masa kecil, dan kita jadi pengen lihat terus. Kepada Nenden yang jadi hantu juga, maan, Taskya Namya sukses menghidupkan karakter tragis ini, baik pas jadi manusia ataupun hantu. Suara tawanya saja bisa menghasilkan kesan yang berbeda. Yang jelas, suara tokek itu kalah seram begitu suara kekeh khas sejak dari versi gamenya terdengar jadi backsound adegan.

Hidup memang terkadang mengerikan. Like, perempuan hamil seperti Rika saja masih harus ikut membersihkan rumah kosong, supaya mendapat perbaikan nasib. Karena hidup berurusan dengan resiko-resiko seperti itulah, aturan-aturan muncul di masyarakat. To protect their own. Aturan-aturan yang akhirnya jadi sebuah pamali, sesungguhnya hanyalah reaksi manusia untuk saling melindungi, khususnya ketika dalam hidup ada begitu banyak hal yang tidak bisa diatur oleh manusia. 

 

Resiko film hadir seperti ini adalah dapat terasa ‘berat’ di cerita. Untuk memperingan ini, biasanya pembuat film akan berusaha mencari cara menceritakan backstory dan kejadian seram di present day dengan intensitas yang semakin naik, jika tidak bisa semakin unik. Karena jika tidak, penonton akan bosan. Cerita akan cepat menjadi repetitif karena penonton pasti akan berusaha mengaitkan apa yang terjadi di masa lalu dengan kejadian sekarang, lebih cepat dari yang dilakukan film. Di sinilah kekurangan film Pamali. Tidak berbuat banyak untuk meningkatkan pace ataupun intensitas cerita. Sehingga tiga malam yang dilalui Jaka dan istrinya terasa sangat dragging. Film benar-benar membuatnya terasa seperti video game. Setelah setiap malam akan ada ruangan baru yang bisa dijelajahi untuk membuka informasi baru. Ruangan ultimate yang harus dibuka adalah kamar Nenden. Hanya saja, sebagai film, excitement dari eksplorasi tentu saja sudah berganti menjadi eksposisi. Jadi dalam film ini, ruangan-ruangan itu terbuka untuk sebuah eksposisi baru. Yang terbuka setelah sejumlah eksposisi kita cerna. Makanya nonton ini bisa jadi suntuk. Film kurang menghiasi diri dengan adegan-adegan seram. Instead, film berusaha menggunakan humor sebagai change of pace. Yang mungkin masih bisa berhasil, kalo film melakukannya dengan tidak setengah-setengah.

Jadi terngiang-ngiang lagu gula jawa

 

Sebenarnya film memberikan porsi komedi dengan natural, lewat karakter Cecep yang diperankan oleh Fajar Nugra. Karakter ini tampak kayak warga lokal yang pengen beramah tamah, Tapi kemudian menjadi ‘aneh’ tatkala film memberikannya tugas untuk menyembunyikan tentang Nenden. Tingkah lucunya yang berusaha mengelak dari pertanyaan kemudian menjadi annoying karena gak benar-benar ada alasan kenapa dia gak mau cerita. Film hanya melakukannya untuk ngelama-lamain durasi. Karena kalo dia cerita, urusan jadi beres, padahal mestinya Jaka dan istrinya harus tiga hari ada di rumah itu (supaya sama ama gamenya). Nah, aspek mengulur-ngulur gak jelas ini yang bikin film makin tersendat di pertengahan babak kedua.

Yang paling bikin aku gak abis pikir adalah demi mengulur itu, film sampai membuat si Cecep membawa tukang listrik dan tukang kunci di hari yang berbeda, padahal tukang listrik dan tukang kuncinya diperankan oleh aktor yang sama! (Iang Darmawan) Ini kan lantas jadi menimbulkan pertanyaan bagi kita yang nonton. Film memancing ‘keanehan’ gak jelas yang sebenarnya gak ada fungsi apa-apa bagi misteri cerita. Like, dengan satu orang jadi dua karakter yang beda, tentu kita akan mempertanyakan apakah ceritanya dia memang kembar, atau malah apa mereka pengen nipu, atau apa kan? Pada akhirnya keputusan mengulur plot poin ini bikin penonton terdistraksi, kepada hal-hal yang mungkin sebenarnya trivial. Film harusnya bisa mengisi durasi dengan lebih padat dan tak mengulur-ngulur. Bikin saja Jaka langsung berurusan dengan memori masa kecilnya, kembangkan sepanjang durasi, daripada hanya dimunculkan di malam terakhir. Terutama, gak semua elemen narasi film harus dibikin benar-benar sama dengan di game. Jaka dan istrinya tidak harus nunggu tiga malam, baru semuanya memuncak. Malahan, ketika kita bicara film, himpitan waktu justru adalah hal yang diincar untuk meningkatkan stake dan intensitas. Jika dibikin dalam satu malam saja, mungkin bakal bisa bikin horor di film ini jadi lebih urgen – sehingga jadi lebih seram. Kita gak harus berlama-lama ngikutin kisah yang malah jadi terasa boring dan repetitif.

 




Horor Indonesia memang membanggakan, setidaknya sudah sering direcognize oleh luar, baik itu film maupun video game. Film ini salah satu yang ada karena sukses video game. Ceritanya berhasil memuat ruh dan karakteristik versi gamenya dengan baik. Hanya saja, seperti halnya adaptasi-adaptasi yang lain, ‘terpaku harus sama dengan game’ pada akhirnya jadi batu sandungan film ini. Karena pengen sama banget, film ini jadi mengulur-ngulur bahasan. Sehingga apa yang tadinya adalah sebuah cerita tragedi keluarga yang pilu, dan terflesh out, malah terasa jadi kisah yang membosankan dan repetitif, Padahal film ini punya karakter hantu dan desain musik serta suara yang horor abis. Namun tidak banyak adegan-adegan horor yang fresh dan nendang sebagai pengisinya. Film ini harusnya bisa jadi memorable, terutama karena ini baru film adaptasi game horor kedua yang dipunya Indonesia, akan tetapi karena penceritaannya yang tidak banyak menaikkan intensitas, film ini malah jadi datar dan takutnya hanya akan jadi another horror movie yang nangkring di bioskop.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for PAMALI

 




That’s all we have for now.

Apakah pamali dan takhayul itu perlu disingkapi dengan respek?

Share pendapat kalian  di comments yaa

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA



SONIC THE HEDGEHOG 2 Review

“Be a hero, and they will notice your bad”

 

 

Jadi pahlawan itu enggak gampang. Kita gak bisa seenaknya ke sana kemari nolongin orang. Tanggung jawabnya berat. Dokter aja nih ya, gak bisa menyuntik orang gitu aja; mereka harus dapat consent dulu dari calon pasien. Kalo calon pasien keberatan dan menolak suntik atau minum obat, gak bisa dipaksakan walau si dokter tahu semuanya hanya demi kesehatan si orang itu sendiri. Dokter yang memaksa, justru akan ditanggap enggak etis. Sonic memang bukan dokter. Sonic adalah landak biru, yang di film keduanya ini kebetulan lagi punya permasalahan yang sama ama dokter-dokter yang lagi kebingungan gimana caranya menolong orang yang keberatan divaksinasi.

Sonic pengen jadi pahlawan di kota Green Hills. Dia ingin menggunakan kekuatannya untuk menolong orang-orang yang telah menerima dirinya tinggal di sana, sebagai bagian dari keluarga. Tapi Sonic ini so bad at being good hero. Tengok apa yang terjadi ketika dia berusaha menangkap perampok bank. Jalanan porak poranda. Gak ada yang bilang terima kasih padanya. Malahan, di rumah, Sonic dinasehati oleh Sheriff Tom yang udah jadi bapak angkatnya. Makanya Sonic bingung, niatnya kan cuma ingin menolong. Dalam sekuel ini, sutradara Jeff Fowler membuat Sonic seperti seorang anak muda yang penuh semangat, optimis, dan enerjik, tapi masih harus belajar untuk lebih ‘dewasa’ dalam bersikap. Fowler membuat Sonic relatable bagi target baru penontonnya. Anak muda toh sering merasa dirinya gak nakal, tapi tetap aja yang dilakukannya tampak selalu salah. Film enggak mau hanya membuat Sonic untuk penggemar lama yang tentu saja sekarang sudah tua-tua, mengingat Sonic ‘terlahir’ ke dunia dalam bentuk game di tahun 1991. Cara Fowler berhasil. Karakter Sonic di film ini jadi gak hanya fun untuk ditonton, gak hanya seru untuk ajang nostalgia para gamer, tapi juga berisi oleh permasalahan yang membuat penontonnya serasa sama ama Sonic.

With that being said, film juga berhasil membuat Sonic yang beberapa detik setelah Tom pergi ke Hawaii langsung berpesta berantakin rumah – ampe mandi gelembung di ruang tengah segala! tidak jatoh sebagai makhluk yang menjengkelkan. Sonic justru jadi karakter yang lucu berkat flaw-pandangan yang ia miliki.  Terlebih karena Sonic memang dibentuk  sebagai karakter dengan celetukan-celetukan dan sikap yang kocak. Attitude seperti Sonic memang sudah banyak kita temui, apalagi di era superhero harus punya snarky comment belakangan ini. Tapi setidaknya suara Ben Schwartz terdengar menyegarkan setelah melulu mendengar karakter seperti itu dengan suara Deadpool.

sonicimage
Sonic and the legend of the ten rings.

 

Cerita Sonic 2 menawarkan konflik dan petualangan yang lebih besar – dan lebih meriah – dibandingkan film pertamanya yang tayang tahun 2020 lalu. Kalo diliat-liat, cerita kali ini diadaptasi dari game kedua dan ketiga. Karakter sidekick dan rival Sonic – Tails yang bisa terbang dengan ekornya dan Knuckles si pejuang Echidna – dimunculkan di sini lewat situasi yang tak tampak dipaksakan. Tails nyusul ke Bumi untuk memperingatkan Sonic tentang bahaya, sementara Knuckles datang karena berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh penjahat utama, Dr. Robotnik, yang masih dendam ama Sonic karena telah mengasingkan dirinya ke planet ‘piece of shittake’. Robotnik memang punya peranan besar di dalam narasi, hampir seperti dialah yang tokoh utama. Semua kejadian karena ulah dirinya. Jadi ketika Sonic di rumah seorang diri, Robotnik yang telah menciptakan alat di planet jamur, berhasil memanggil orang yang bisa membantunya keluar dari sana. Orang itu adalah Knuckles, yang memang lagi mencari Sonic terkait legenda Zamrud yang menimpa klan Echidna. Robotnik dan Knuckles bekerja sama, sementara Sonic dan Tails mulai bergerak mencari Zamrud legenda karena gak mau batu permata sakti itu jatuh ke tangan penjahat. Petualangan video game mereka pun dimulai!

Kontras protagonis dan antagonis langsung terlihat. Sonic, pengen jadi pahlawan, tapi dianggap mengacau. Robotnik, punya niat jahat, tapi dapat teman yang salah mengira intensi dirinya baik. Ini semua terjadi exactly karena Sonic ‘baru’ sebatas pengen jadi – pengen dianggap – pahlawan. Robotnik ‘sukses’ karena dia yang pure jahat, bertingkah seperti penjahat. Menipu, memanipulasi. Sonic perlu seperti itu. Belajar untuk bertingkah seperti pahlawan, alih-alih pengen disebut pahlawan. Untuk itulah Sonic perlu tahu dulu seperti apa sih pahlawan itu. Perlu tahu bahwa pahlawan mengutamakan dan bertindak demi orang lain.

 

Film ini super fun memperlihatkan petualangan tersebut. Aksi-aksinya disisipin banyak elemen video game, mulai dari snowboarding hingga ke setting labirin yang memang salah satu setting stage ikonik dalam video game. Dengan karakter yang lebih banyak, film ini juga mulai semakin mengembrace sisi cartoonish yang dipunya. Setiap keunikan karakter ditonjolkan, seheboh mungkin, film gak lagi ngerem-ngerem untuk membuat aksinya grounded atau apa. Menonton ini buatku memang terasa lebih dekat dengan Sonic versi serial kartun. Suara Colleen O’Shaughnessey yang jadi si Tails aja vibe-nya udah kartun banget. Idris Elba yang nyuarain Knuckles juga punya sisi kartun tersendiri dari sikap dan reaksi karakternya yang baru pertama kali ada di Bumi. Fish-out-of-waternya kocak, dan sendirinya juga kontras yang klop dengan karakter Sonic yang lebih ‘ringan-mulut’.

Vibe kartun semakin diperkuat oleh penampilan the one and only Jim Carrey yang luar biasa over-the-top dengan permainan intonasi dan mimik ekspresi. Kali ini porsi Robotnik lebih banyak. Dia muncul duluan sebagai prolog, dia punya banyak momen-momen menyusun rencana, dia punya transformasi. Penampilannya yang lebay mode bakal annoying jika kita melihatnya dalam tone dunia yang lebih serius ataupun lebih grounded. Aku merasa ada simbiosis mutualisme antara Jim Carrey dengan film ini, like, Carrey bisa sepuas-puasnya ‘menggila’, dan film bisa fully embrace super fun yang ada pada game maupun kartun Sonic. Mau itu aksi sendiri maupun interaksi dia dengan karakter-karakter video game, dia bikin kita gak bosan duduk selama dua jam. Makanya juga, Jim Carrey jugalah satu-satunya karakter manusia yang bener-bener worked out di sini. Cuma dia karakter manusia yang terlihat berada di dunia yang sama dengan karakter-karakter video game.

Karakter manusia lain, termasuk Tom, kayak dipaksakan. Ketika mereka melucu dan berlebay ria, enggak klik. Film memang bukan hanya menyorot petualangan si Sonic. Tadinya, pas di awal Tom dan istrinya pergi, aku udah lega. Kupikir itu cara film nge-ditch karakter mereka. Kupikir film akan fokus ke Sonic aja, dan 48 jam mereka di Hawaii itu jadi batas waktu (sebagai penambah intensitas) petualangan Sonic. Tapi ternyata enggak. Sering film membuat kita melihat ke suasana Tom di Hawaii, di tempat pernikahan sahabat istrinya. Pernikahan tersebut ternyata tidak seperti kelihatannya, ada major plot point juga di sini. Film yang tadinya mengasyikkan jadi membosankan ketika pindah ke bagian manusia-manusia ini. Mentok banget rasanya ketika setelah seru-seruan berseluncur di gunung salju, kita dibawa pindah melihat petualangan dua perempuan berusaha menyusup ke dalam hotel, mencoba lucu dengan reaksi terhadap alat-alat canggih. Sonic dan yang lain – yang beneran seru tadi – totally absen. Film harusnya membuang semua di pernikahan tersebut, membuang semua manusia yang tidak bernama Robotnik, supaya cerita makin seru dan gak perlu jadi dua jam. I mean, kita beli tiket Sonic yang pengen lihat Sonic. Mana ada pembeli tiket film ini yang peduli sama acara pernikahan itu asli atau bukan, mana peduli penonton sama apakah mempelainya beneran cinta atau enggak.

Sonic-2-header
Operation Wedding itu kayaknya judul film yang lain deh

 

Kita mengerti Tom ada di cerita untuk mendaratkan Sonic, dia sebagai sumber pembelajaran. Juga untuk membuat film beresonansi sebagai cerita keluarga – karena Sonic dan Tom serta istrinya memang benar adalah keluarga unik, yang jadi fondasi cerita sedari film pertama. Hanya saja pembelajaran dari Tom sudah dimunculkan di awal. Narasi film kedua ini berjalan dengan formula Sonic bakal berkembang karena belajar dari masing-masing karakter lain. Dia melihat nasehat Tom di awal itu benar dari apa yang ia alami bersama Tails, Knuckles, dan juga Robotnik. Tidak perlu lagi sering kembali ke Tom, ke pesta pernikahan, apalagi ke memperlihatkan Tom diterima oleh mempelai pria di sana. Film masih kesusahan untuk melepaskan karakter manusia, sehingga pada akhirnya memberikan mereka tempat yang sebenarnya merusak tempo dan menghambat jalannya narasi. Menjelang babak ketiga, jadi ada banyak kejadian, ada banyak pihak yang terlibat, terasa kacau.

Daripada memperlihatkan itu, lebih baik membuild up sisi vulnerable Sonic. Karena memang itulah yang kurang. Sonic hanya sebatas kalah kuat ama Knuckles. Tapi selebihnya, Sonic bisa dengan gampang menjalani petualangannya. Dia dengan gampang melewati jebakan. Dia dengan gampang kabur dari kejaran. Dia bahkan dengan gampang menang kontes menari di bar. Yang sempat diperlihatkan oleh film adalah soal Sonic gak bisa berenang (kontinu dari film pertama), tapi rintangan ini pun enggak pernah benar-benar jadi soal, karena Sonic akhirnya bisa melewatinya dengan tak banyak usaha atau kesulitan.

 

 

 

Rasa-rasanya gak banyak perbedaan review kali ini dengan review film pertamanya. Karena memang enggak begitu banyak perbedaan yang dihadirkan dalam sekuel ini selain penambahan karakter (dan kumis Robotnik!) Tapi dengan begitu, feelsnya memang gedean yang sekarang ini. Film ini super menghibur sampai bagian yang membahas para manusia di pesta pernikahan itu datang. It’s just lebay yang boring karena aktor yang lain gak bisa mengejar tone kartun over-the-top yang sudah dilandaskan oleh Jim Carrey. Kehadiran mereka jadi memperlambat dan mengusik tone. Film ini baik-baik saja dengan embrace sisi cartoonish. Yang berarti film ini sebenarnya hanya perlu Robotnik, Knuckles, Tails, dan Sonic saja. You know, karakter-karakter yang memang ada di video gamenya. Tapi jika melihat bigger picture, franchise Sonic memanglah berita yang cukup baik untuk kiprah film-film adaptasi video game dalam sejarah perfilman.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SONIC THE HEDGEHOG 2.

 

 

 

That’s all we have for now.

Katanya, ini bakal jadi film terakhir Jim Carrey. Bagaimana pendapat kalian tentang karir Jim Carrey dalam film-film komedi? What did he bring to that table? Apa film Jim Carrey favorit kalian?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

UNCHARTED Review

“Trust is always earned, never given”

 

 

Tiga-puluh menit ke dalam film, Tom Holland sudah terlempar terjun bebas dari ketinggian sebanyak tiga kali. Dan kali ini dia gak pakai topeng superhero laba-laba untuk membantunya mengatasi suasana. Holland di sini adalah remaja cowok biasa – dengan tangan sedikit lebih lihai untuk mencopet barang-barang orang, dunianyalah yang kali ini agak sedikit tak biasa. Dunia berisi teka-teki harta karun untuk dipecahkan, petualangan yang seringkali mengacuhkan hukum fisika. Plus berisi begitu banyak twists and turns karena membahas soal rasa percaya di antara para karakter cerita. Sutradara Ruben Fleischer memang seperti memastikan kepada kita bahwa Holland beraksi di dunia yang superseru, bahwa Uncharted memang bakal semengasyikkan video game sumber adaptasinya. Hanya saja, tantangan film ini berat. Mengingat track-recordnya, film-film adaptasi video game itu sendiri susah untuk kita kasih kepercayaan.

Uncharted merupakan film pertama dari PlayStation Productions, studio dari Sony yang bakal bikin film-adaptasi dari konten-konten video game PS populer. Ini sepertinya bisa naikin sedikit rasa percaya kita. Sebab ya, game-game modern memang sudah jauh lebih sinematik ketimbang game di era 90an. Video game sudah benar-benar dikembangkan mitologi dan cerita dunianya sendiri. Ditambah dengan studio yang kini meniatkan konten game tersebut bisa dijadikan film, maka mungkin ke depan adaptasi ke layar lebar ini bukan hanya bisa lebih ‘mirip’ tapi juga game dan filmnya bisa saling melengkapi sebagai satu franchise judul. Seperti film Uncharted ini, ceritanya diset sebagai prekuel dari game pertamanya yang keluar tahun 2007. Nathan Drake (dipanggil Nate) belum lagi seorang pemburu hartakarun, dia masih ‘bocah’ yang masih dalam tahap baru masuk alias baru belajar dunia yang ternyata penuh tipu daya tersebut.

Tadinya Nate bekerja di bar, memesona para pembeli dengan atraksi menuang minum dan attitude yang cute lalu mencopet mereka. Sampai ketika Victor Sullivan datang. Mengekspos aksi nyopet Nate, lalu mengajak cowok ini bergabung mencari kapal harta karun. Seperti yang dulu dilakukan abang Nate yang kini udah gak ada. Sully yang mengenal abang Nate pun jadi semacam mentor bagi Nate. Interaksi dua karakter ini jadi sentral, yang kerap bicara soal mempercayai ataupun soal ngasih kepercayaan sama orang lain. Dalam pencarian, mereka bertemu karakter-karakter lain, dan cepat saja garis antara lawan dan kawan semakin mengabur.

Also, featuring Antonio Banderas yang karakternya deserves more good writing

 

Penampilan akting para pemain mendaratkan film aksi petualangan ini. Duo Tom Holland dan Mark Wahlberg sebagai front center yang cukup memainkan emosi. Dalam cerita yang lain, Nate akan mudah saja untuk menganggap Sully sebagai pengganti kakaknya, dan team up mereka akan berjalan mulus. Tapi Uncharted mengusung tema trust, dan itu membuat relationship kedua karakter ini jadi semakin dramatis. Film gak memberikan kepada kita sebuah tim yang solid dengan cuma-cuma. Nate bakal ngelewatin banyak kejadian yang membuat dia tidak segampang itu menaruh kepercayaan, walaupun sebenarnya ia pengen bekerja sama. Konflik mereka berdua digali dari tujuan yang berbeda. Nate pengen nemuin harta itu demi kakaknya, sedangkan Sully ya cuma pengen emasnya saja. Timing komedi Wahlberg membantu film ini mencapai nada ringan yang diinginkan, jadi umpan yang bagus untuk character-work si Holland. Karakter Sully yang sengaja dibikin sering ‘berjarak’ juga membantu mendorong tema tersebut semakin mencuat di dalam narasi. Karakter pendukung yang lain, seperti Chloe yang diperankan Sophia Ali, juga diberikan inkonsistensi yang sama seperti Sully. Mereka membantu, tapi terlihat setengah-setengah. Momen bekerja sama selalu elemen yang membuat seorang karakter punya peran yang lebih kecil. Semua itu dilakukan supaya kita mempertanyakan apakah mereka bisa dipercaya atau tidak.

Tapi begitu kita menoleh kepada Nate, tokoh utama yang harusnya juga merasakan keraguan, si Nate ini juga dimainkan dengan inkonsistensi. Sure, Holland memainkannya dengan simpatik, very likeable, tapi dia gak clear. Like, ngeliat Tom Holland memainkan karakternya ini, enggak jelas perasaan dia terhadap satu karakter seperti apa. Setelah jelas-jelas dikhianati satu karakter, Nate di adegan berikutnya masih tampak kalem aja. Atau bahkan ketika Sully menyebut Nate suka sama Chloe, Holland gak benar-benar nunjukin gimana sih sukanya Nate ama si Chloe itu. Jadi film ini mengatakan kepada kita sesuatu, tapi gak diikuti oleh ‘pembuktiannya’. Sehingga ngikutin plot si Nate ini jadi membingungkan. Apa yang ia pelajari di sini? Apakah ini tentang dirinya belajar untuk tidak mempercayai orang, atau dirinya belajar supaya bisa jadi dipercaya orang. Film seperti ingin menunjukkan bahwa Nate akhirnya belajar ‘aturan dan cara main’ di dunia para pemburu harta, dia seperti akhirnya bisa nipu juga. Tapi bukankah sedari awal Nate ini sudah tukang tipu kecil-kecilan juga? Maka Plot si Sully malah lebih jelas. Karakter Sully malah lebih kelihatan ada perkembangan dibandingkan Nate. Film gak berhasil membuat Nate sebagai karakter yang urgen di sini, dia masih di bawah bayang-bayang abangnya, dia gak punya perkembangan yang jelas.

Seperti halnya respek, trust juga gak diberikan cuma-cuma. Untuk bisa percaya ama orang, dan juga sebaliknya untuk bisa dipercaya orang, kita butuh mendapatkan rasa itu terlebih dahulu. Itulah sebabnya kenapa trust lebih berharga daripada harta karun manapun di dunia.

 

Kenapa sih film-film aksi petualangan belakangan ini banyak yang pake banyak twist dan turn? Yang aku tonton setahun ini ada Jungle Cruise, Red Notice, dan sekarang Uncharted – yang benar-benar menggunakan trust sebagai tema supaya jadi punya alasan untuk memainkan banyak twist mengejutkan serta character turn dari baik ke jahat ke baik lagi (emangnya si Big Show di WWE!). Seolah itulah yang bikin film ini jadi menarik. Padahal twistsnya juga don’t even make sense!! Like, hellooo.. action adventure mestinya sajian utamanya ya di aksi atau laga petualangannya. Apalagi Uncharted ini dari video game. Ditargetkan untuk pemain game yang pengen menonton versi filmnya. Serunya sebuah game itu datang dari memainkannya. Player seperti beraksi langsung, mereka adalah karakter itu. Maka versi filmnya harusnya menguatkan sense penonton ikut beraksi seperti saat mereka memainkan game. Aspek player dan aksi inilah yang susah tersadur ketika sebuah game dijadikan film. Susah bukan berarti seimpossible itu. They just have to make action sequences yang lebih menarik penonton masuk. Menyandarkan kepada twist dan turn hanya membuat penonton ‘menonton’. Filmlah yang jadi bermain-main dengan penonton. Ini udah jadi sedemikian berbeda dengan game, yang pemainlah yang memainkan cerita.

Ada yang mau ikut naik kapal pinisi sasongong?

 

Padahal film ini punya set action pieces yang gak tanggung-tanggung. Aksi babak final yang melibatkan ‘kapal terbang’ juga gak kalah uniknya. Tetapi sekuennya sendiri dilakukan dengan generik. Bagaimana aksinya dimainkan, masih terasa kayak sesuatu yang sudah sering kita lihat dalam film action sebelumnya. Mereka tidak melakukan banyak hal segar selain bergantung kepada CGI. Again, kita hanya menonton. Makanya aksi paling asik di film ini buatku adalah di tengah-tengah. Yakni saat Nate dan kelompoknya memecahkan teka-teki kunci salib menyusur bawah tanah kota. Nah di aksi seperti inilah, penonton yang gamer yang jadi target utama film ini bisa benar-benar terlibat. At least, bisa ikut berusaha memecahkan sandi atau petunjuk, bisa terinvest secara emosional setiap kali jebakan/perangkap tak sengaja teraktifkan. Seharusnya ada lebih banyak adegan seperti ini. Seharusnya adegan teka-teki yang actually dilakukan film ini dilakukan dengan lebih elaborate lagi, gak hanya cuma bingung sebentar lalu tinggal masukkan ke lubang kunci.

Kurang eksplorasi. Inilah sumber kejatuhan utama film ini. Punya konflik karakter yang sebenarnya bisa dramatis, tapi dilakukan dengan generik. Begitu pula dengan sekuen aksi-aksinya. Bahkan bangunan narasinya pun dilakukan dengan menjemukan. Standar dimulai dari adegan aksi yang wah, kemudian flashback ke beberapa waktu sebelumnya. Cerita berjalan dari flahsback waktu tersebut sampai nanti akhirnya kita ketemu kembali dengan adegan opening tadi. Sesungguhnya ini adalah upaya supaya film jadi tontonan yang menarik. Mereka kayak aware kalo materi ceritanya masih datar. Jadi mereka berusaha mengimprove penceritaan dengan susunan cerita dan sebagainya. Sama juga seperti ketika film memasukkan banyak twist dan character turn. Mereka menyangka itulah yang bikin filmnya seru. Mereka nyangka cukup masukin soal pemantik api yang susah menyala untuk meningkatkan ketegangan. Mereka lupa, film ini dari video game. Mereka harusnya ngajak penonton ikut bermain-bermain juga di sini, yang berarti aksi-aksilah yang seharusnya dibikin lebih menarik. Petualangannya. Teka-tekinya. Karakterlah yang juga harusnya dibikin lebih clear agar konek dengan penonton sebagai ganti gamer memainkan karakternya.

 

 

Buatku film ini bakal jadi total boring jika bukan karena penampilan akting, khususnya dua aktor sentralnya. Kayak karakter ceritanya yang masih setengah-setengah dalam mempercayai orang, film ini pun masih tampil setengah-setengah. Mau serius ke karakter, takut gak laku. Mau full over-the-top, juga kayaknya takut. Bahkan mau jadi full seperti gamenya, seperti ragu-ragu. Masih banyak poin dari apa yang membuat game itu seru yang miss dilakukan oleh film. Yang mereka ikuti hanya simpelnya plot poin game. Yang tentu saja tidak tertranslasikan bagus ke dalam sinema. Cerita film ini maju dengan simpel. Oh karakter dipukul dari belakang, pingsan, lalu dia bangun dan ada karakter lain siap menjelaskan hal-hal untuk ‘misi’ selanjutnya. Udah kayak poin-poin objektif game, enggak seperti eksplorasi untuk memajukan narasi. Sehingga film ini masih belum mendapat kepercayaan kita sepenuhnya soal game bisa diadaptasi menjadi film yang bagus.  
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for UNCHARTED

 

 

 

That’s all we have for now

What’s your favorite Uncharted game? 

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY Review

“Love brings you home”

 

Untuk urusan film adaptasi video game, kita para nerds bisa lebih ganas daripada zombie. Kita akan bergerombol memadati bioskop, lalu pulang dengan jalan terseok. Menggerutu. Mengerang. “Argghh apaan gak seru! Jauh banget ama video gamenya!!” Seri Resident Evil dari Paul W.S. Anderson secara konstan terus bigger and bigger sebagai ganti dari mengusung cerita original yang berbeda dengan seri gamenya. We hated those movies. Lebih mirip mindless action flick ketimbang survival horor. Jadi demi menjawab erangan fans dan kecintaannya sendiri terhadap franchise ini, seperti Claire Redfield di dalam cerita yang pulang ke kota asalnya, sutradara Johannes Roberts memulangkan kembali film Resident Evil. Dia mereboot seri film ini dengan mengeset cerita balik ke akar video game originalnya. Mencuatkan elemen survival horor. Membangun atmosfer kelam. Membuat suasana yang persis dengan game. Menghadirkan nama-nama yang sudah dikenal baik. Roberts benar-benar membuat sesuatu yang kita minta. Tapi aku keluar dari teater dengan tetap mengerang. Dia membuat semuanya sama dengan game, kecuali karakternya.

“WUARRRGGHHH!!!”

reidentcreepy-new-nightmare-trailer-for-resident-evil-welcome-to-raccoon-city
Welcome to Cringe City

 

Sekarang aku jadi kangen ama Alice dan Resident Evil-nya Anderson. Yea mereka gak bagus, tapi setidaknya ada energi di baliknya. Resident Evil: Welcome to Raccoon City ini mirip game, ceritanya lebih horor, tapi ternyata malah bland. Bahkan ledakannya aja terasa hampa. Semuanya sama dengan game yang udah dimainkan ternyata punya kelemahan tersendiri, yakni menjadikan jalan cerita tak lagi punya hook. Sehingga film harus bergantung kepada karakter-karakter. Dan pada mereka itulah, film ini tersungkur paling keras.

Roberts menggabungkan elemen cerita pada dua game pertama (Resident Evil dan Resident Evil 2) ke dalam seratus menit. Penonton yang punya nostalgia sama game-game tersebut bakal kesengsem berkaca-kaca saat melihat lokasi dan skenario yang udah dikenal, terhidupkan ke dalam film ini. Claire Redfield yang kembali ke Raccoon City untuk bertemunya abangnya, Chris. Sementara Chris – beserta rekan-rekannya – dikirim menyelidiki mansion di hutan. Rumah gede tempat tim yang dikirim sebelum mereka tidak mengirimkan kabar apa-apa. Claire menemukan ada yang gak beres di kota mereka. Penduduknya berubah menjadi beringas, ingin memakannya. Jadi Claire pergi ke kantor polisi. Di sana dia akan team up dengan Leon si polisi anak baru. Sampai akhirnya mereka menelusuri jejak Umbrella Corporation yang merupakan dalang dari zombie outbreak di kota.

Kalian tahu dong meme Leonardo DiCaprio yang duduk nunjuk layar (dari adegan film Once Upon a Time in Hollywood)? Yea, that’s us for the majority of this Resident Evil movie. Banyak adegan, maupun dialog, yang mereferensikan hal-hal populer dari gamenya. Seperti adegan zombie botak yang lagi makan berbalik pelan menghadap kamera, atau ketika ada adegan mecahin puzzle di piano, atau ketika term “Jill’s sandwich” diucapkan. Dan bukan hanya dari dua game itu saja, Roberts meluaskan librari nostalgianya kepada versi remake dan versi alternatif yang hadir di konsol game lain. Sebagai pembungkus dari semua itu, Roberts menggunakan atmosfer horor yang dicomotnya dari horor-horor 80an. Suasana ala horor John Carpenter, ditambah aksi survival dari zombie yang bisa muncul menyerang dari mana saja, film ini tampak sudah punya model atau formula yang oke sebagai sebuah sajian horor yang menghibur. Aku bisa membayangkan kalo penonton yang gak pernah main gamenya akan bisa lebih menikmati suasana menyeramkan dan misteri kota Raccoon. Terutama penonton horor mainstream, karena film ini memang juga memasukkan elemen horor yang seperti hantu-hantuan sebagai pengeset mood alias sebagai pembuka. Sementara penonton nerd yang main gamenya bakal lebih menikmati lewat sajian nostalgia, karena kita tahu seberapa tipis cerita, apa yang bakal terjadi di balik semuanya.

Resident Evil bicara tentang kota yang menjadi korban dari perusahaan yang tidak bertanggungjawab. Sekali lagi rakyat jadi tumbal bagi perbuatan orang kaya. Elemen lebih gelapnya menyangkut anak-anak turut dijadikan bahan percobaan. Dari konteks itu, berkembanglah berbagai game, film, yang terus lebih besar. Sehingga franchise ini butuh reset. Sayangnya, bahkan setelah direset dengan penuh passion dan cinta terhadap seri ini pun, Resident Evil ini gagal melihat apa yang seharusnya digali lebih dalam untuk membuat ceritanya jadi horor survival kemanusiaan yang sebenarnya.

 

Dengan segera penonton baru dan penonton nerd ini akan jadi akur. Alias ama-sama kehabisan hal menarik yang bisa dinikmati di sini. Sama-sama gak punya pegangan untuk bertahan. Cerita tipis – yang bahkan tidak benar-benar memenuhi fungsi sebagai prekuel karena tidak membahas mendalam soal perusahaan korup yang menjadikan satu kota sebagai tempat buangan limbah eksperimen yang dilakukan dengan tidak bertanggungjawab – juga tidak dibackup dengan karakterisasi yang menarik. Claire si karakter utama tidak banyak beban emosional. Motivasinya kembali ke kota yang ia benci (dan in a way, ia takuti) adalah untuk bertemu dengan abangnya, dan itu terpenuhi dengan cepat. Enggak ada tantangannya, enggak ada dramanya. Setelah itu, Claire hanya ada di sana untuk bereaksi dengan kejadian-kejadian, sembari terflashback ke masa kecil. Dia juga dibikin jago banget, beberapa kali menyelamatkan Leon yang entah kenapa dibikin sebagai total joke di sini. Dua karakter utama game Resident Evil 2 dikasih dinamika yang sangat basic dan boring, bahkan pemainnya tampak bosan memainkan karakter mereka. Dan Chris serta yang lainnya, just generic. Gak ada motivasi personal sama sekali. Cringe malah, karena cuma mencoba melawak dan menyumpah serapah saat keadaan menjadi mengerikan.

Perubahan karakter memang jadi sumber utama blandnya film ini. Aku akan menyebut hal yang tidak berani disebut banyak orang, terutama kritikus karena permasalahannya memang sensitif; mereka mengganti sosok karakter-karakter yang sudah kita kenal menjadi sama sekali berbeda. Jill, diganti dari blonde white girl, menjadi perempuan berkulit gelap berambut ikal. Leon, diganti jadi keluar dari stereotipe jagoan amerika. Pergantian itu apalagi kalo bukan supaya karakter film ini beragam. Supaya gak kulit putih semua. Sebenarnya bukan masalah digantinya, melainkan karena naskah tidak memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka adalah karakter tersebut. Film hanya memparadekan nama mereka setiap kali ada dialog. Menyebut-nyebut nama walaupun kita udah tahu mereka itu siapa, seolah cuma nama itulah identitas mereka.

reidentevillcome-to-raccoon-city-terbaru-rilis-layar-id
All I see is bunch of NPCs saking kosongnya karakter mereka

 

Ketika karakter yang sudah dikenal (dari game, dan/atau dari film sebelumnya) diubah, penonton perlu diintroduce ulang kepada mereka. Dan itu gak bisa hanya dengan nama saja. Apalagi mereka adalah karakter utama dalam video game. Karakter yang diperankan oleh pemain, menempuh banyak petualangan bersama. Sehingga pemain yang bakal jadi penonton mereka dalam film, mengenal mereka, mengidentifikasi diri sebagai bagian dari mereka. Mengganti karakter mereka begitu saja, merampok penonton dari identifikasi ini. Mereka jadi asing, gak konek lagi. Filmlah yang harus menyambung ini kembali. Jill, Leon, bahkan Chris dan Claire – empat yang kita mainkan sebagai diri kita di game, tidak dibuild up dengan proper oleh film ini. Mereka hanya ditampilkan. Menyebut nama. Ditambah dengan penampilan yang dibuat sama sekali berbeda. Gak heran kenapa kita gak konek sama mereka. Mereka basically adalah nobody, tanpa background story, tanpa karakterisasi untuk kita pegang.

Melihat mereka di film ini, aku jadi berpikir kalo Paul W.S. Anderson justru telah memilih cara yang tepat. Mengambil karakter lain di luar game sebagai karakter utama. Membentuknya sebagai protagonis dan perwakilan dari kita. Kemudian baru menampilkan karakter-karakter yang sudah kita kenal di game. Dengan begitu, berarti Anderson bisa dengan lebih bebas membangun cerita dan dunia sendiri, dengan tidak ‘mengganggu’ karakter-karakter original. Taktik yang sama digunakan oleh Mortal Kombat (2021), menghadirkan karakter baru sebagai fokus kita untuk mendekatkan diri, sementara bisa lebih bebas menampilkan karakter-karakter ikonik, tidak perlu mengubah atau membangun ulang mereka. Karena ya memang pasti susah membangun karakter seperti Jill, Leon, Claire, Chris yang empat-empatnya jagoan utama sekaligus dalam satu film. Suicide Squad 2016 sudah membuktikan itu adalah hal yang nyaris mustahil.

Waktu kecil, aku terblown away oleh klip live-action intro game Resident Evil pertama. Waktu itu rasanya nambah serem banget ke petualangan nanti, dan juga kayak bikin gamenya semakin… real? Haha, kalo ditonton sekarang sih klip itu kerasa banget cheesy-nya. Efeknya keliatan banget disamarin oleh warna hitam putih. Tadinya aku berharap film Welcome to Raccoon City ini paling enggak bisa ngasih feel yang sama, tentunya dengan scare dan efek praktikal yang lebih meyakinkan. Turns out, efek dalam film ini kadang oke, kadang lebih cheesy daripada klip tersebut. Akting karakternya pun begitu, malah lebih cringe mengingat mereka aktor yang lebih profesional. Yang paling bikin aku kecewa ya, ternyata nonton film ini gak terasa apa-apa. 

 

 

 

Baik versi sebelumnya maupun versi yang ini, semuanya punya kekurangan besar masing-masing. Versi yang ini meski punya atmosfer dan elemen horor seperti (gerak kamera dan penggunaan cahaya) yang lebih seram, yang lebih mendekati estetik gamenya, hadir dengan sangat datar. Karakter-karakternya tidak bisa kita kenali. Mereka direduce jadi pelontar one-liner dan template konyol. Tidak ada motivasi personal. Mereka cuma berlarian mencari jalan keluar, bereaksi pada kejadian. Tidak belajar darinya. Ceritanya memang tidak membahas mendalam. Penggabungan cerita dua gamenya tidak mulus. Dan banyak hal yang konyol. Kejadian yang ditempatkan sebagai inciting incident di sepuluh menit awal aja sebenarnya udah cukup untuk meruntuhkan film ini. Mana ada zombie yang melipir ilang gitu aja padahal ada dua mangsa potensial lagi berdiri di jalanan di dekatnya. But hey, kita zombie kalo udah soal film adaptasi game. Kita akan terus memenuhi bioskop sambil meneriakkan hal yang ingin kita santap tapi tidak kunjung diberikan oleh filmnya. “Braaaaiiiiinnn!!”
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Ada gak sih sutradara yang pengen kalian lihat ngedirect Resident Evil? How you think he/she will make things different for the movie?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MORTAL KOMBAT Review

“If you have the fear of losing the game even before starting it, then you will never be able to win the game.”

 

Video game dianggap sebagai mainan untuk anak-anak. Sampai game Mortal Kombat hadir di tahun 1992. Game bergenre fighting ini beda ama yang lain. Setiap serangan yang mengenai karakter-karakternya yang bermodel manusia beneran (plus beberapa monster) dimeriahkan oleh tumpahan darah merah yang kental. Game ini bahkan menggebah pemain untuk benar-benar menghabisi lawan mereka. Dan menyediakan banyak pilihan sadis untuk melakukan hal tersebut. Sebut saja Brutality; yakni menghajar lawan yang sudah tak berdaya bertubi-tubi sampai tubuh mereka meledak dan kita dihujani tulang belulang mereka. Animality; karakter jagoan pemain bisa berubah menjadi hewan dan memangsa musuh mereka. Yang paling digemari tentu saja adalah Fatality. Beragam kesadisan yang dijual sebagai ‘keren!’ bisa kita perintahkan untuk dilakukan oleh karakter di dalam video game. Mulai dari menarik lepas kepala (atau jantung) lawan, hingga membelah tubuh mereka bagai buah duren. Gemparlah orangtua. Game yang mereka sangka inosen di ruang main anak mereka ternyata menampilkan pembunuhan yang dramatis! Mortal Kombat adalah alasan dari terbentuknya sistem sensor dalam dunia pervideogamean. Sensor berupa rating ESRB (pengelompokan berdasarkan umur dengan penjelasan seperti berisi kekerasan, darah, dan sebagainya) harus diberikan untuk setiap video game yang dirilis. Sebegitulah populernya game yang ‘menjual’ kesadisan ini. Hingga sekarang, Mortal Kombat sudah berkembang biak menjadi delapan-belas judul berbeda, yang bahkan merambah genre di luar fighting.

Formula kesuksesan game Mortal Kombat sudah jelas. Orang-orang sudah tahu apa yang mereka ‘beli’ ketika mereka ngeluarin duit untuk benda berjudul Mortal Kombat. Mereka maunya itu. Lagi dan lagi. Bego kalo ada yang bikin Mortal Kombat, tapi memisahkannya dengan Fatality dan darah dan segala kekerasan fantasi lainnya.  Sutradara Simon McQuoid jelas bukan orang bego. Dia justru jelas seorang penggemar berat Mortal Kombat, yang respek dengan Mortal Kombat. Dan dia juga adalah seorang kreator yang tahu persis apa yang sedang ia jual. Lah, darimana kita tahu Simon McQuoid adalah semua itu? Tentu saja dari film reboot Mortal Kombat yang ia hasilkan!

Kalian tahu kan, gimana biasanya film dari adaptasi video game selalu menambah atau malah menghilangkan elemen dari game (seringkali justru elemen yang bikin gamenya menarik) sehingga jadi jauh banget dari ‘rasa’ game yang jadi materialnya. Gimana biasanya film tersebut terlalu ‘dimanusiakan’ sehingga jadi kebanyakan ngarang. Well, McQuoid di film Mortal Kombat ini tetap setia dan menampilkan elemen cerita dengan benar-benar sesuai sama lore dalam video game. Ini jelas merupakan fans-service yang luar biasa gede dan memanjakan bagi para penonton yang menggemari Mortal Kombat. Karakter-karakter yang ia munculkan dalam film ini, tampilan, bicaranya, dan berkelahinya dibuat semirip mungkin dengan video game.

mortalmk1200x
Yang paling sadis adalah fatality dari lembaga sensor Indonesia

 

Bola api Liu Kang? Ada. Tendangan sepedanya? Check! “Your soul is mine”-nya Shang Tsung? You bet! Hampir semua istilah dan gerakan yang bikin kita bernostalgia sama gamenya, ada semua. Brutality dan Fatality yang ikonik, semuanya ada, memuaskan haus darah penggemarnya. Di film ini kadang beberapa karakter malah seperti mengomentari pertarungan mereka sendiri dengan jargon-jargon khas seperti ‘finish him’ ataupun ‘flawless victory’. Budget film ini enggak gede, tapi dimainkan dengan maksimal untuk mewujudkan looks yang otentik dengan perpaduan yang pernah kita lihat di video game. Yang paling memukau tentu saja efek jurus es milik Sub-Zero. Film sepertinya memang menginvest lebih banyak untuk Sub-Zero, dan itu adalah investasi sangat memuaskan. Film ini tidak sekalipun tampak ‘murahan’. Kalopun sesekali ada efek dari jurus ataupun efek makhluk CGI yang terlihat masih kasar, tidak sampai mengganggu dan terlihat masih klop dengan tone film secara keseluruhan. Tidak pernah sekonyol efek dalam Mortal Kombat: Annihilation (sekuel dari film Mortal Kombat original)

Sebelum film ini, memang Mortal Kombat sudah pernah diadaptasi. Melahirkan dua film. Film keduanya – si Annihilation yang kusebut barusan – gatot alias gagal total. Film itu cheesy abis, aktingnya over-the-top, dengan efek yang banyak disebut orang kayak dibikin pake efek microsoft seadanya. Film originalnya – Mortal Kombat (1995), however, cukup bagus. Mendapat sambutan hangat dari fans. Karakter-karakter yang ditampilkan, walaupun aktingnya gak bagus-bagus amat, berhasil jadi ikonik (terutama si Shang Tsung!). Itu berkat penulisan yang berusaha keras membangkitkan semangat video gamenya. Film tersebut populer salah satunya juga karena musiknya. Mortal Kombat abis!! Jadi, film itulah yang jadi tolak ukur bagi Mortal Kombat buatan McQuoid. Dan memang, di film terbaru ini McQuoid memfokuskan kepada hal yang kurang dieksplorasi oleh film tersebut. Karakterisasi.  McQuoid memberikan banyak waktu untuk menampilkan relasi antarkarakter, yang berarti McQuoid memperhatikan development karakternya. Mortal Kombat sebagai game fighting yang sudah dua-puluh-sembilan tahun aral melintang melintas konsol dan arcade, tentulah punya karakter yang banyak. Di sinilah tantangan bagi McQuoid. Dia harus menyelam dalam-dalam sebagai fans untuk mengetahui mana yang benar-benar perlu untuk digali, dan memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyusun kepingan-kepingan karakter itu ke dalam narasi film yang utuh.

Dan dia berhasil. Meskipun dari segi penampilan akting, masih bisa lebih baik lagi, tapi karakter-karakter tersebut langsung konek ke fans. Liu Kang dan Kung Lao misalnya. Film mampu mencuatkan mereka, sehingga walaupun di sini peran mereka bukanlah utama seperti pada gamenya, tapi kesan yang ditampilkan berhasil menguatkan kedua sepupu ini. Relasi yang mencuri perhatian berikutnya adalah antara Sonya dan Kano. Hiburan ringan banyaknya datang dari sini, aku pribadi suka lihat betapa miripnya Jessica McNamee dengan Sonya Blade di game jadul. Tapi terutama yang terutama jadi hiburan itu adalah Kano yang dimainkan oleh Josh Lawson dengan aura yang ngingetin aku sama karakter Mick Taylor di franchise thriller Australia, Wolf Creek. Film memainkan Sonya dan Kano dengan irama ‘teman-atau-lawan’ yang sangat menarik. Fans Mortal Kombat mungkin bisa menebak ke mana arah Kano nanti, tapi ternyata temanku yang bukan gamer, yang awam sama mitologi dan lore Mortal Kombat, mengaku surprise juga dengan perkembangan Kano di sini. Ini membuktikan build up dan swerve yang dilakukan oleh film ini berhasil membuat penonton peduli. Jadi, film ini ternyata mampu bekerja dengan baik untuk penonton yang awam. Gak harus tau gamenya untuk menikmati ini.

Relasi yang mencuri perhatian tentu saja adalah antara Scorpion dengan Sub-Zero. Di penggalian mereka inilah film terbaru ini menang telak dari film original. Di situ dua ninja ini ditampilkan sebagai anak buah yang bahkan gak ada dialog yang berarti. Di film ini, mereka benar-benar difungsikan sebagai ikon – persis seperti pada gamenya. Dua karakter yang paling banyak digemari ini diberikan porsi yang lebih gede di antara karakter lain. Sub-Zero digambarkan sangat kuat – membunuh Hanzo dan keluarga, menghancurkan dua lengan Jax, menyerang kota dengan hujan salju tajam – seolah dialah musuh utama di film ini. Scorpion juga tak kalah kuat, dia ditampilkan seperti tokoh utama di sini. Keputusan film untuk meng-cast Hiroyuki Sanada sebagai Scorpion dan Joe Taslim kita (kitaaa??) sebagai Sub-Zero adalah keputusan yang tepat, sebab keduanya sama-sama mencuatkan penampilan mereka. Dua aktor yang bisa beladiri, ditaruh di tengah, dan mereka memikul film ini lewat akting dan aksi berantem sama kuatnya. Untuk Joe Taslim, aku harap film ini bakal mengukuhkan namanya. By the looks of it, franchise reboot ini bakal setia dengan game, jadi sedikit spoiler untuk penggemar Taslim; Meskipun Sub-Zero memang bakal berganti, tapi Taslim masih mungkin akan kembali di sekuel, karena karakter yang ia perankan ini bakal hidup kembali dengan kekuatan dan nama baru. Kita hanya bisa berharap film ini tetap memakai Taslim dan tidak menggunakan CGI untuk karakter barunya tersebut.

mortalmaxresdefault
Apa kata Scorpion kepada Sub-Zero yang galau keingetan mantan? “GET OVER HER!”

 

Jadi, jika semua karakter dan jurus dan lorenya persis dengan game, lantas tindak adaptasi yang dilakukan film ini apa dong? Jawabannya adalah protagonis baru. Protagonis original yang khusus ada di film ini. Cole Young (diperankan oleh Lewis Tan) dijadikan sebagai sudut pandang utama yang kita ikuti, nyaris sepanjang durasi. Setelah adegan opening yang memperlihatkan pertarungan dua karakter ikonik di jaman dahulu, cerita akan membawa kita melompat ke masa kini. Melihat kehidupan profesional Cole Young yang mantan petarung MMA. Dia kini menafkahi keluarga dengan bertarung di arena underground. Tapi dia selalu kalah. Kita melihat Cole ternyata Juara Terpilih untuk Bumi dalam turnament Mortal Kombat berikutnya. Cole yang masih belum ngeh apa-apa dan bahkan belum punya kekuatan super, bergabung dengan pasukan Bumi, dan memulai pelatihannya di Kuil Raiden. Masalahnya adalah, pasukan Otherworld ShangTsung tidak mau ramalan soal Bumi akan memenangkan turnamen ke sepuluh ini jadi kenyataan. Sehingga Jadi, Otherworld main curang dan menyerang para Terpilih sebelum turnamen dimulai. Termasuk Cole dan keluarganya.

Cole selalu kalah karena dia menerima saja serangan yang diberikan. Pelatih meledeknya sebagai ‘human punching bag’. Anaknya kerap mengingatkannya ‘kalo pake uppecut pasti menang’ (reference kocak ke game Mortal Kombat; pukulan uppercut punya damage yang paling gede). Dia terlalu khawatir untuk bertahan demi keluarganya, dia jadi kalah sebelum bertanding. In a way, Cole serupa dengan Shang Tsung di cerita ini, yang menyerang di luar aturan hanya karena takut pasukannya kalah di turnamen nanti. Tapi, tidak seperti Shang Tsung, Cole akhirnya sadar apa makna mempertahankan yang sebenarnya, dan itulah yang jadi sumber Arkana bagi dirinya.

Menempatkan penonton di sudut pandang Cole ternyata efektif. Semua lore Mortal Kombal bisa dijelaskan tanpa membuang banyak waktu untuk introduksi dan origin story yang kepanjangan. Kita tidak perlu lagi melihat gimana Liu Kang jadi kuat atau semacamnya. Karakter-karakter video game yang sudah kita kenal itu sudah menempati posisi mereka masing-masing. Fokus growthnya tetap pada Cole, yang bersama kita berusaha memahami apa yang terjadi. Cole tidak digambarkan semata sebagai outsider. Ada backstory yang menghubungkan dia dengan semua lore tersebut, sehingga dia jadi punya alasan untuk berada dan berlaga bersama jagoan-jagoan favorit kita sejak lama. Hanya saja memang dari segi karakterisasi, Cole ini masih kurang terflesh out. Menarik menunggu kekuatan Arcananya muncul, kita penasaran apa kekuatan yang dipunya oleh Cole. Tapi selama menunggu tersebut, Cole ini mulai kehilangan keunikan. I mean, it’s so easy lupa kalo dia bukan Johnny Cage (karakter original Mortal Kombat yang tidak dimunculkan di film ini). I mean, perannya di cerita itu kayak gak ada beda kalo dia dikasih nama Johnny Cage, bahkan beberapa karakter menjuluki Cole sebagai ‘pretty boy’. Mirip ama gimmick Cage yang seorang bintang film tampan. Stake Cole dan keluarganya juga masih standar. Film actually terlalu sibuk menempatkan dia sebagai fish-out-of-water ketika berlatih bersama petarung lain, sehingga tidak ada ruang tersisa untuk mengembangkan keluarga dan bahkan misteri siapa Cole sebenarnya tidak banyak mendapat build up. Hanya sesekali saja sekelebat bayangan muncul di benak Cole, mengingatkan kita kepada tie in antara Cole dengan karakter lain. 

Film ini juga masih kurang rapi dalam memanfaatkan ruang dan pembangunan adegan. Masih ada yang tampil awkward dan seperti berseliweran. Misalnya seperti ketika masing-masing jagoan berantem dengan musuh, lalu tiba-tiba jagoan yang satu kalah dan berteriak memanggil jagoan lain. Si jagoan lain lagi berantem juga, dan kemudian beres cepet-cepet dan berlari ke tempat yang butuh pertolongan. Ini rangkaiannya terlalu kaku sehingga kurang enak dari segi pengalaman sinematik. Urutan dan rangkaian kejadian seperti ini mestinya bisa lebih diperhalus lagi. Ini ibaratnya seperti menggunting pinggiran, film ini melakukannya dengan terlalu menyudut sehingga jadi tampak kaku secara keseluruhan.

 

 

Sebenarnya ini termasuk adaptasi video game yang berhasil. Benar-benar setia dengan sumber materinya. Identitas dan role itu tetap dijaga. Berusaha untuk punya cerita yang grounded, enggak sekadar menyuguhkan aksi yang seru. Dan film ini memang punya aksi seru dan menghibur. Sadis, tapi menghibur. Penggemar gamenya pasti puas. Yang belum pernah main gamenya, bisa-bisa jadi kepengen nyobain main, kayak temenku. Satu-satunya film ini bisa disebut sebagai adaptasi yang jelek, adalah jika kita menyaksikannya sebagai penonton bioskop Indonesia. Karena apparently lembaga sensor di sini tidak mengerti konteks, dan malah memotong adegan kekerasan/fatality pada film yang diadaptasi dari video game yang populer dan beridentitas pada kekerasan/fatality tersebut. Aku bilang, film ini belum ‘flawless victory’. Jika sutradaranya sudah punya pengalaman lebih banyak (khususnya pada laga), pastilah bisa jadi lebih bagus dengan penulisan dan pengadeganan yang lebih rapi. For now, sudah cukup bagus dan menghibur. Yang jelas, aku menantikan sekuelnya. And I know you do too.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for MORTAL KOMBAT.

 

 

That’s all we have for now.

Kenapa menurut kalian Fatality dan jurus-jurus sadis Mortal Kombat begitu digemari?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

MONSTER HUNTER Review

“I know what I’m capable of; I am a soldier now, a warrior. I am someone to fear, not hunt.”
 

 
 
Paul W. S. Anderson bersama istrinya, Milla Jovovich, kembali berkolaborasi dalam projek tontonan hiburan dengan apa yang sepertinya telah disepakati untuk menjadi misi mulia mereka; mencoba menghancurkan video game ke dalam film-film adaptasi. Dan setelah Resident Evil, target buruan mereka kali ini adalah seri Monster Hunter. Game yang cukup simpel, tapi menarik karena penuh imajinasi; player bermain sebagai pemburu monster-monster beraneka ukuran dan rupa. Film yang dihasilkan oleh Paul ini ternyata lebih simpel lagi.
Ceritanya tentang Kapten Artemis yang, bersama tim kecilnya, masuk ke dalam sebuah portal. Mereka tiba di dunia baru. Dunia yang sejauh mata memandang cuma hamparan pasir. Tapi meskipun putih, pasir itu enggak innocent. Karena pasir itu jadi habitat monster besar dan bertanduk, yang disebut Diablos. Kapten Artemis berusaha membawa mereka semua keluar dari tempat berbahaya itu hidup-hidup. Namun dunia baru ini ternyata monsternya bukan cuma satu. Satu-satunya peluang Artemis bisa bertahan hidup terletak pada pemuda misterius bersenjata panah dan pedang besar, yang dari kejauhan membantu mereka.
That’s it. That’s the story. Film ini gak punya ending. Enggak punya resolusi. Ceritanya dibiarkan berakhir di tengah-tengah pertempuran. Apalagi kalo bukan demi mengincar sekuel. Langkah yang sangat meragukan. Karena, bagaimana mungkin kita merasa ingin melihat kelanjutan film ini jika dalam melanjutkan menonton si satu film ini sampe durasi abis aja rasanya sungguh luar biasa berat?

Monster yang desainnya paling males adalah monster berupa gabungan dinosaurus dan naga

 
Selain melihat Milla Jovovich berduel melawan monster-monster raksasa – beberapa kali dia berlari menyerang mereka head on gitu aja – tidak ada lagi hal menghibur yang benar-benar bisa kita nikmati dalam film ini.
Kalo kalian mengira film yang diadaptasi dari game bertema dunia monster akan berisi petualangan menegangkan yang penuh imajinasi dan fantasi awesome, maka kalian benar. Film fantasi haruslah seperti begitu. Paul W.S. Anderson-lah yang salah ketika dia malah mengadaptasi game yang punya banyak penggemar itu ke dalam tontonan yang bukan saja terasa seperti perwujudan dari game itu sendiri, tetapi juga dibuat dengan cara yang menghalangi kita untuk bersenang-senang dengan aspek-aspek fantasinya. Alih-alih mengeksplorasi dunia, dia malah membuat kita sebagian besar durasi (tepatnya satu jam lebih) terjebak bersama karakter sentralnya di dalam dunia yang isinya pasir dan batu-batu doang. Lupakan world-building, dalam film ini yang kita tonton hanya Artemis yang keluar dari  ‘kandang’ monster satu, masuk ke ‘kandang’ monster berikutnya. Aksi demi aksi terus diporsir. Sehingga jadi bosan. Pegangan kita kepada karakter – yang jumlah death countnya rapidly naik kayak jumlah pasien positif Covid di negara kita – cuma dialog-dialog sok lucu dan sifat mereka yang sok keren.
T-t-ttunggu dulu, Mas My Dirt Sheet.. Lah kan katanya itu filmnya penuh oleh aksi demi aksi, tapi kok Mas juga bilang filmnya masih membosankan?
Begini, adik-adik. Itu jawabannya simpel aja. Yakni karena Anderson tidak tahu cara bercerita dengan benar lewat adegan-adegan aksi. Oke, mungkin dia tahu, hanya dia enggak peduli dengan cara yang benar. Anderson sudah kepalang nyaman di dunianya sendiri, di dunia yang ia pikir menghibur itu adalah dengan menyajikan aksi-aksi dengan begitu banyak cut-cut cepat, yang selalu berujung dengan momen sepersekian detik slow-motion, untuk kemudian disambung lagi dengan cut-cut cepat lainnya. Sepuluh menit nonton ini aja aku udah capek oleh adegan aksi yang tersusun oleh banyak sekali cut. Dan karena aksi-aksi yang disyut seperti demikian terus menerus dilakukan, maka capek itu berubah menjadi bosen dan tidak lagi peduli. Cut-cut cepat dalam adegan aksi itu justru membuat adegan susah untuk diikuti, sehingga aksi-aksi yang ditampilkan itu jadi gak ada efeknya buat kita. We don’t care because we can’t really see what happens.
Dalam film ini ada Tony Jaa, aktor laga tersohor yang tentu saja jago melakukan stunt-stunt keren. Di sini Jaa juga banyak beraksi, malah ada adegan fighting one-on-one dengan Jovovich. Tapi kasiannya, Anderson merasa stunt yang dilakukan Jaa sendiri itu masih kurang keren dan kurang menghibur bagi kita. Sehingga setiap kali Jaa beraksi, Anderson menggunakan cut-cut cepat tadi dengan niat untuk memperheboh aksi Jaa. Namun alhasil tentu saja hal tersebut malah bikin aksinya jadi enggak enak dilihat. Cut-cut cepat itu dilakukan oleh orang normal yang gak sok asik untuk menutupi, entah itu ketidakmampuan aktor, atau efek praktikal lainnya. Ketika mereka punya aktor yang mumpuni banget dalam berlaga, orang normal yang gak sok asik, enggak akan menggunakan teknik cut. Mereka mempercayakan kepada aktornya. Anderson ini memang lain dengan yang lain. Bukan hanya pada adegan-adegan aksi melawan monster ataupun pada aksi dikejar monster. Cut-cut cepat digunakan oleh Anderson dalam hampir semua pengadeganan, termasuk ketika karakter lagi ngobrol atau lagi berjalan dan menemukan sesuatu. Shot muka Artemis – cut – pindah ke muka si anu – cut – wide shot daerah – cut – shot muka orang yang lagi rolling eyes – cut – shot muka yang lagi bicara. Adegan senormal itu aja direkam dengan frantic banget. Sehingga udahlah karakternya tipis, apa yang mereka omongkan dan rasakan itu pun jadi enggak nyampe ke kita.
Film ini sesungguhnya mengandung bibit hubungan emosional yang bisa dikembangkan dan menjadi hati seluruh cerita. Yakni hubungan antara Artemis dengan karakter Hunter yang diperankan oleh Tony Jaa tadi. Karakter dari dua dunia ini bertemu, tadinya mereka tampak musuhan alias saling tidak percaya, tapi keadaan memaksa mereka untuk team up. Dan akhirnya menjadi teman. Mereka jadi saling belajar. Yang tak-biasa dari komunikasi mereka adalah keduanya tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Jadi mereka pake bahasa isyarat, trying to understand each other. Momen-momen mereka belajar mengenal satu sama lain, mestinya bisa emosional. Tapi penghalang untuk sampai ke sana itu banyak. Pertama, editing edan tadi. Kedua, dialog yang cringe. Anderson membuat kedua karakter ini bonding salah satunya adalah lewat makanan, tepatnya; coklat. But the way he does it adalah dengan membuat mereka antara seperti dalam iklan produk coklat, atau seperti sedang memparodiin adegan Si Ikan Gila Coklat dalam kartun SpongeBob.

Artemis belajar banyak hal dari Hunter yang berjuang seorang diri. Belajar ngalahin monster raksasa, belajar menggunakan senjata yang belatinya bisa mengeluarkan api, dan terutama adalah belajar menemukan kembali makna menjadi seorang pejuang. Makna menjadi seorang tentara. Bahwa seharusnya dialah yang berburu, bukan yang diburu.

 

“Coklaaaaaatttttt!!!”

 
Jika Kapten Artemis terlempar dari dunianya dan terjebak di dunia lain, maka Anderson sang sutradara sendiri sesungguhnya juga sedang menapaki dua dunia. Yakni dunia film dan dunia video game. Bedanya, Kapten Artemis belajar untuk bisa survive di dunia yang baru, dia melakukan penyesuaian, dan meningkatkan kemampuan diri. Ironis, Anderson tidak melakukan ini. Ketika dia menyadap dari dunia video game, dia mengambil elemen-elemen sekadar untuk para gamer mengenali materi asli ketika sudah menjadi film nanti. Kita melihat desain monster, dan desain senjata film ini yang serupa dengan yang ada di game. Namun, selebihnya Anderson gak melakukan penyesuaian apapun. Dia hanya bermain pada apa yang sudah ia nyaman aja. Cerita film ini tidak dia susun ke dalam formula atau struktur ‘dunia film’ yang sebenarnya. Makanya film Monster Hunter ini rasanya ganjil banget.
Tigaperempat bagian dihabiskan dengan gak jelas, film monoton dan gak ada world-building. Di babak ketigalah, baru eksplorasi itu mulai dilakukan. Kita melihat dunia yang lebih besar, dengan pengenalan lebih banyak karakter yang unik dan menarik. Stake yang meningkat. Dan kemudian film habis, diniatkan seperti sedang ‘bersambung’. Keseluruhan babak tiga film tadi itu terasa lebih pantas sebagai awal masuk babak kedua – atau setidaknya ada di midpoint. Supaya build up di sini bisa tuntas di babak ketiga nanti. Tapi dalam film ini strukturnya tidak seperti itu. Babak satunya terasa distretch – kita melihat adegan yang itu-itu melulu dan development relationship karakter yang cringe, dan ketika sudah masuk babak baru, film habis. Rasanya tu seperti babak ketiga film ini adanya nanti di sekuel. Ya, kurang lebih film ini bentukannya miriplah sama Benyamin Biang Kerok yang sukses jadi film paling mengecewakanku di tahun 2018 dulu.
 
 
Film-film adaptasi video game dapat reputasi buruk ya karena pembuat film yang salah nerjemahin dunia seperti Anderson di sini. Pembuat film yang udah salah, tapi asik sendiri di zona nyamannya, dan kayak gak mau berubah dan gak peduli ama kritikan. Padahal sedari Resident Evil, persoalan cut-cut cepat dan editing frantic sudah selalu jadi masalah langganan film-film karyanya. Di titik ini, setelah menonton film yang sama sekali tidak menghibur dan hanya bikin capek ini, aku cuma bisa berharap film-film adaptasi video game yang udah diset menyusul rilis di tahun ini dibuat oleh orang yang benar-benar punya cerita dan gaya dan kecintaan terhadap game dan film itu sendiri.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for MONSTER HUNTER
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian game-game modern – yang cutscene-nya bahkan bisa sangat sinematik – masih perlu untuk diadaptasi menjadi film?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SONIC THE HEDGEHOG Review

“Home is something you run toward”
 

 
 
Lari film live-action dari tokoh video game ikon perusahaan Sega ini memang sempat diperlambat sedikit. Tadinya akan ditayangkan tahun 2019 yang lalu, akan tetapi begitu materi promosi pertama keluar; mereka nampilin penampakan Sonic yang desainnya jauh banget berbeda dari desain karakter yang asli, film lantas dicerca habis-habisan oleh fans. Sutradara baru Jeff Fowler menunjukkan bahwa ia benar-benar peduli dengan proyek yang ia tangani dengan mendesain ulang rupa Sonic menjadi seperti yang sudah kita kenal. Film ini mundur hingga ke 2020, dan berkat tindakan berdedikasi dari studio dan pembuatnya itulah kita mendapat sajian komedi dan aksi dari video game yang bukan sekadar ‘menguangkan nostalgia’ melainkan benar-benar menghibur. Dan dijamin tidak akan ada lagi keluhan dari penggemarnya mengenai karakter si Sonic ini sendiri, meskipun kisahnya sedikit berbeda dengan versi game (namanya juga adaptasi)
Sepanjang sepuluh tahun masa hidupnya, Sonic si landak biru elektrik (beneran bisa nyetrum!) disuruh untuk terus berlari. Supaya enggak kelihatan oleh musuh-musuh yang mengejarnya dari planet asal. Jika ketahuan, Sonic harus melempar cincinnya untuk membuka portal, berteleport kabur ke tempat lain. Kini Sonic bersembunyi di Bumi, di kota kecil bernama Green Hills (sayup-sayup terdengar sorakan nostalgia pemilik konsol Sega). Di tempat inilah Sonic merasa sangat kerasan. Dia merasa akrab dengan para penghuni, meskipun hanya dengan ‘mengintip’ aktivitas mereka setiap hari. Sonic kesepian. Dalam galaunya, Sonic gak sengaja bikin mati lampu seisi kota. Kekuatan listriknya tercium oleh pemerintah, yang mengirim ilmuwan mesin edan, Dr. Robotnik untuk memburu Sonic. Mau gak mau Sonic harus segera meninggalkan ‘rumah’, hanya saja saat jatidirinya ketahuan oleh seorang polisi lokal favoritnya yang bernama Tom, Sonic kehilangan cincin teleportasi yang begitu esensial untuk keselamatannya.

Pelari Film

 
Jika bagi Robotnik yang superpintar semua orang tampak sangat bego, maka bagi Sonic yang ngebut semua orang tampak bergerak lamban. Bahkan nyaris seperti diam di tempat. Film bermain-main dengan aspek kecepatan Sonic. Kita melihat berbagai aplikasi dari kekhususan Sonic dalam berbagai adegan dengan range mulai dari lucu-lucuan kayak adegan kartun – Sonic bisa berlari ke Samudra Pasifik untuk kemudian balik lagi karena menyadari ia gak bisa berenang, dalam beberapa detik – hingga ke adegan berantem yang fun ala Quicksilver di MCU dan X-Men atau ala Dragon Ball ketika Sonic marah dan mengumpulkan kekuatan listrik dari bulu-bulu landaknya yang tajam. Ada pembelajaran yang dilalui oleh Sonic, seperti dalam game yang setiap levelnya membuka ability/kemampuan baru untuk kita pelajari demi eksplorasi lebih luas dan mengalahkan musuh yang lebih tangguh. Film berusaha keras menempatkan Sonic yang supercepat ke dalam situasi yang membuatnya tidak bisa begitu saja menjadikan kecepatan sebagai jawaban.
Aku gak begitu gandrung main game Sonic. Terutama karena waktu kecil aku gak punya Sega; I’m more of a Nintendo and PlayStation boy, jadi aku jarang memainkan gamenya. Aku lebih mengenal Sonic lewat serial kartunnya yang dulu sempat tayang di televisi. Dan bahkan dengan sebegitu saja, film ini berhasil membawaku mengarungi euforia nostalgia. Banyak sekali referensi-referensi yang ditabur ke dalam film ini. Semuanya dilakukan dengan seksama, sepenuh hati, misalnya momen sepatu Sonic. Timingnya juga diperhatikan, seperti penggunaan sound-sound di game pada momen cerita yang pas. Film ini membuat detil kecil itu berarti. Sonic sendiri juga lucu sekali. Sifatnya bisa dijadikan teladan bagi anak-anak yang nonton, sedangkan sikapnya yang polos-tapi-cerewet membuatnya jadi seperti sahabat impian bagi anak-anak. Ben Schwartz menghidupkan karakter ini dengan kehangatan natural khas tokoh pahlawan anak. Makanya nonton filmnya jadi lebih menyenangkan meskipun Sonic harus berbagi porsi dengan tokoh manusia. Tokoh Robotnik alias Eggman yang terkenal nyentrik dan ‘bermulut ringan’ sudah paling pas dimainkan oleh the one and onlyJim Carrey. Tentu, tokoh ini ia mainkan dengan over-the-top; Carrey actually melakukan banyak improvisasi gerakan dan perkataan, karena begitulah penjahat dalam film kartun. Sonic the Hedgehog tidak berusaha menjadi sesuatu yang bukan dirinya. Inilah yang membuatnya mencuat. Lebih menyenangkan ketimbang Pokemon Detective Pikachu (2019)yang entah apa sebabnya memilih menggunakan tokoh utama yang gak suka Pokemon… honestly, sampe sekarang aku masih heran sama film itu.
Mengadaptasi semesta kartun, Hollywood punya kebiasaan ‘memaksakan’ ada tokoh manusia, supaya penonton bisa lebih mudah relate. Seringnya adalah tokoh manusia itu tetap kalah menarik karena toh kita menonton bukan untuk melihat mereka, kan sebenarnya. Kita pengen menyaksikan Sonic, atau Pikachu, atau Smurf, hidup. Dalam film ini, tokoh manusia yang dimaksud adalah si polisi Tom yang diperankan karismatik oleh James Marsden. Walaupun aksi dan cerita tetap berpusat pada Sonic, film berhasil membuat Tom tetap menarik. Hal ini tercapai berkat penulisan tokohnya yang punya motivasi yang berkonflik pandangan Sonic. Konfliknya ini beda jenis dengan konflik Sonic dengan Robotnik; yang lebih in-the-face, berfungsi sebagai ancaman yang bikin anak kecil greget menontonnya. Konflik Sonic dengan Tom bersifat lebih emosional, ia berperan dalam pembangunan karakter; aspek yang lebih diapresiasi oleh penonton yang lebih dewasa. Sonic mendambakan kehidupan menetap, punya rumah, gak harus pindah, meskipun practically ia bisa ke mana saja asal ia mau, dia lebih memilih untuk tinggal di Green Hills sebab dia yang selama ini menonton kehidupan di sana sudah merasa begitu terattach dan menjadi bagian dari kota. Sedangkan Tom, polisi muda di kota kecil yang kehidupannya biasa-biasa saja, sudah sangat siap pindah ke tempat yang lebih menantang di mana ia bisa menjadi penyelamat beneran. Dua pandangan ini bertemu dalam mobil yang menuju San Fransisco, mereka berdebat, dan akhirnya menjadi teman baik karena masing-masing pendapat saling mengisi satu sama lain.

Dalam game Sonic, level disebut dengan istilah Zone. Dalam film Sonic, ‘Zone’ inilah yang persoalan Sonic. Zone as in safe zone, atau mungkin comfort zone. Sekilas, gagasan film terdengar aneh. Tom seperti mewakili perjuangan keluar dari comfort zone, sudah jadi rahasia umum untuk sukses kita harus berani keluar dari zona nyaman. Sonic seperti menentang ini, Sonic seperti menyugestikan untuk berkubang di zona nyaman.  Tapi sebenarnya bukan itu masalahnya, film lebih bicara soal zona aman. Yakni rumah. Ketenangan domestik. Sonic, Tom, dan kita semua semestinya tetap terus berlari demi mencari rumah. Keluar dari zona nyaman kalo perlu demi mencari ini. Tempat, di mana pun itu, yang berisi orang-orang yang kita sayangi.

 

saking cepatnya, Sonic bisa main baseball, jadi dua tim, menghidupkan banyak karakter sendirian

 
Secara plot, however, malah justru si Sonic yang perubahannya lebih sedikit ketimbang Tom. Polisi ini berubah jadi gak ingin pindah karena dia menyadari yang ia butuhkan. Sedangkan Sonic di akhir cerita memang mendapatkan yang ia inginkan, ia menyadari tak perlu pindah planet. sembari tetap butuh berlari mencapai yang ia inginkan tadi. Film belum benar-benar melingkar ketika membahas plot Sonic. Penyebabnya adalah karena kita hanya melihat Sonic pindah satu kali. Dia tidak lagi dikejar-kejar musuh aslinya selain pada adegan awal. Ini membuat Sonic tidak punya rutinitas yang bakal berubah di akhir cerita, karena yang kita lihat adalah Sonic di Bumi, harus pindah, lalu resolusi adalah dia diterima di Bumi — tidak ada breaking rutinitas (dari nyaman di Bumi kembali ke Bumi) seperti pada formula naskah biasanya.
Dan bukan sekali itu saja – tidak lagi membahas pengejar di awal – film melupakan hal yang mereka angkat. Babak satu berakhir pada poin yang cukup menegangkan bagi kedua karakter. Sonic diburu Robotnik, dan Tom; masuk berita dan dianggap sebagai teroris yang menghalangi pemerintah. Aspek Tom sebagai teroris ini tidak dapat follow-up lagi pada naskah, kita tidak melihat dia kesusahan masuk ke mana-mana, dia tidak kelihatan seperti orang yang dicari oleh negara. Pengejar mereka tetap satu, Robotnik. Tentu, ada dalih bahwa pemerintah juga sebenarnya tidak suka dengan Robotnik – mereka bisa bisa saja tidak percaya dan cap teroris itu disiarkan langsung oleh Robotnik sendiri – tapi dengan ditonton oleh orang banyak di televisi, seharusnya ada reaksi yang lebih genuine dari plot poin ini. Namun alih-alih itu, babak kedua film dihadirkan dengan cheesy, penuh selipan tren dan budaya-pop, bahkan untuk film yang esensialnya adalah kartun minggu pagi. Kita malah melihat mereka bersenang-senang di bar, menuhin bucket list Sonic yang ingin melakukan hal-hal normal dengan cara edan. Pada beberapa momen film menjadi bahkan kelewat cheesy, yakni saat mereka menggunakan iklan sponsor seperti restoran Olive Garden sebagai punchline.
 
 
 
Meskipun begitu, ada banyak cara yang lebih buruk dalam mengisi hari bersama si kecil, atau menghibur masa kecilmu; nonton film anjing yang anjingnya CGI misalnya. Setidaknya film ini lebih berdedikasi dan menghormati tokoh Sonic itu sendiri. Ceritanya menutup dengan teaser sekuel yang menggugah. Aksi dan interaksi antartokohnya menyenangkan. Beberapa cheesy karena film ini memang berada di jalur kartunnya. Punya bejibun referensi terhadap game, dan budaya pop masa kini sebagai penyeimbangnya. Jadilah film ini sangat menghibur, meski dengan naskah yang belum maksimal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 gold stars out of 10 for SONIC THE HEDGEHOG

 
 
 
That’s all we have for now.
Desain Sonic sempat diganti karena netijen protes. Bagaimana kalian memandang fenomena ini? Baikkah jika penonton punya kontrol besar terhadap suatu karya? Haruskah pembuat film mendengar protes bahkan sebelum filmnya jadi? Atau apakah semua ini hanya taktik jualan sedari awal?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

JUMANJI: THE NEXT LEVEL Review

“Life was meant for big adventures and good friends”
 

 
Saat sekuel dari video game yang kita suka rilis, kita excited mengharapkannya punya konsep yang familiar, punya karakter yang sudah kita kenal, namun dengan level-level yang lebih luas dan lebih menantang. Jumanji: The Next Level persis seperti demikian. Film ini hadir dengan konsep dan rule yang kurang lebih sama dengan film sebelumnya, Jumanji: Welcome to the Jungle (2017). Karakter-karakter yang sudah sukses menghibur kita, baik karakter ‘asli’ maupun karakter avatar (in-game) mereka, semua hadir kembali. Dengan petualangan, cerita, dan bahkan pemeranan yang dinaikkan levelnya. It is more… wild!
Geng Spencer kini hidup di kota yang berbeda-beda. Persahabatan mereka mungkin masih seerat dahulu – bersama-sama menempuh petualangan hidup-mati dalam dunia video game akan cenderung membuatmu akrab dengan temanmu – namun selayaknya anak remaja, LDR mau tidak mau membuat Spencer insecure. Ia canggung bertemu dengan Martha. Jadi ketika liburan natal ini geng mereka sepakat pulkam dan temu-kangen di kafe bekas kepunyaan kakek Spencer, pemuda ini semakin galau. Dia merasa perlu untuk mengumpulkan kepercayaan diri dengan… menjadi Dr. Bravestone lagi. Spencer nekat masuk ke dalam video game Jumanji yang sudah rusak itu seorang diri. Martha, Bethany, dan Fridge yang mencemaskan Spencer mencoba menyusul. Membantu Spencer menyelesaikan game berbahaya yang sudah pernah mereka tuntaskan. Namun kerusakan Jumanji membawa kekacauan. Mereka masuk ke dunia Jumanji secara random; as in Kakek Spencer yang grumpy, Eddie, dan mantan sahabatnya yang ngeselin, Milo, terseret ikut bermain alih-alih Bethany yang tertinggal di rumah. Dan dunia game di dalam Jumanji yang harus mereka ‘kalahkan’ kali ini; totally dunia yang berbeda. Dunia yang jauh lebih luas dan lebih berbahaya ketimbang sekadar hutan belantara.

“At least, that time I was still black” Jangan ngeluh dong, kamu Jack BLACK sekarang

 
Yang paling lucu dan menarik dari konsep Jumanji modern adalah pemeranannya. Di dalam dunia game, mereka punya tubuh yang berbeda, tapi sangat sesuai dan dengan tepat mencerminkan keunggulan dan kelemahan pribadi masing-masing. Para aktor yang memerankan tubuh dalam-game tokoh film ini – disebut avatar – mendapat tantangan untuk bermain di luar kebiasaan, misalnya Jack Black yang memerankan seorang gadis stereotype dumb-blonde yang terjebak dalam tubuh pria urakan tambun yang jago baca peta. Komedi sebagian besar memang datang dari sini. Dan pada Jumanji: The Next Level soal avatar ini semakin kocak lagi, karena sangat random. The Rock Dwayne Johnson kocak parah ketika dia harus memerankan kakek-kakek sakit pinggang yang mendadak punya tubuh begitu kuat dan segar bugar. Dia memainkan Danny DeVito yang jadi kakek cranky yang terjebak di tubuh pria berotot. Sejak hari-hari emasnya di ring gulat, sisi komedi terbaik The Rock selalu adalah bermimik pongah, dengan permainan suara saat talk-trash ke orang-orang. Dalam Jumanji baru ini, Rock kembali dapat kesempatan untuk menggali sisi komedinya tersebut. Jack Black kebagian peran yang annoying, tapi penguasaan komedinya membuat segala keluh kesah yang ia lontarkan jadi pancingan dan punchline yang kuat. Karen Gillan tidak banyak mendapat perubahan – remaja yang masuk ke tokoh avatarnya masih tetap remaja yang sama dengan film pertama. Namun bukan berarti itu karena Gillan tidak punya range akting sebaik lawan mainnya. Gillan diberi satu adegan menjadi ‘tokoh lain’, dan dia memerankan peran komedi itu dengan flawless.
Aku masih ingat menuliskan “Sebagian besar pemeran dalam film ini diberikan kesempatan untuk bermain-main dengan peran yang sangat unik, kecuali Kevin Hart.”  pada ulasan film pertama, sebab memang yang paling boring adalah Kevin Hart karena dia practically memainkan dirinya sendiri, leluconnya selalu sama di mana pun ia berada; selalu mengejek fisik dirinya sendiri. This is not the case pada film kedua. Hart menjadi Danny Glover, dia seperti memparodikan gaya bicara tokoh Glover yang begitu lamban. Ini fresh untuk ukuran komedi Hart. Tek-tokan dia dengan The Rock jadi pemancing gelak utama. Tokoh Milo yang bersemayam di avatar Hart punya hubungan persahabatan yang menarik dengan Eddie yang di dalam Bravestone The Rock. Mereka dulu partner dan sekarang Eddie bahkan tidak sudi ngobrol dengan Milo. Bukan hanya komedi, drama berhati pun hadir dari interaksi mereka. Surprise performance buatku datang dari Awkwafina. Aku bahkan gak tahu sebelumnya bahwa dia bermain di film ini – aku gak lihat trailer dan materi promosi. Bikin terenyuh di The Farewell (2019), Awkwafina kembali menunjukkan taring di zona nyamannya, yakni komedi. Dia juga dapat dua lapis akting, dan perannya yang paling kocak adalah ketika avatarnya dimasuki oleh… ah, kupikir ini bakal jadi spoiler jadi baiknya kalimat itu tidak kulanjutkan. Nick Jonas juga kembali kebagian peran, and he’s the weakest link, yang paling bosenin di antara semua kerusuhan positif tadi.

Petualangan dalam dunia Jumanji mengajarkan pada tokoh-tokoh untuk melihat kelemahan dan kekuatan rekan tim mereka. Jika kita punya masalah dengan sahabat, habiskanlah waktu lebih banyak bersama mereka. Utarakan maksud, utarakan arah. Cari tahu kembali apa yang membuat kita saling dekat pada awalnya. 

 
Sebenarnya bukan cuma Kevin Hart, ada beberapa perbaikan lain yang dilakukan oleh film ini. Aku kutip lagi kekurangan film pertama terkait perspekif ‘cutscene video game’ yang kutulis di review: “Tokoh utama kita juga melihat cutscene ini. Namun, terdapat juga beberapa adegan cutscene yang memperlihatkan tokoh penjahat sedang mempersiapkan pasukan, dan tokoh utama kita sama sekali enggak tahu tentangnya.” Dalam film kedua, tidak ada lagi cutscene seperti begitu. Perspektif dibuat setia, dari tokoh-tokoh yang sedang menghidupi video game, kita tidak lagi melihat adegan yang tidak dilihat oleh para tokohnya. Kemudian berkaitan dengan avatar dan pesan film; aku di review film pertama menuliskan: “Maka semestinya film membuat mereka tidak lagi menggunakan nama avatar saat film mencapai akhir. Seharusnya mereka dibuat berhasil atas nama diri mereka sendiri.” Di film kedua ini, mereka semua pakai nama asli tokohnya. Tokoh yang diperankan The Rock hanya beberapa kali di-refer sebagai Bravestone, dan nama avatar Awkwafina disebutkan sebagai device komedi. Jadi, film kedua ini benar-benar berusaha untuk menjadi lebih baik daripada film pertama. Setidaknya kekurangan pada film pertama yang aku tulis tidak lagi ditemukan pada sekuel ini.

Hayo kalian baca reviewku ya?

 
Untuk urusan visual, film ini tampak lebih mahal. Duit keuntungan box office mereka yang luar biasa tahun lalu menunjukkan efeknya di departemen ini. CGI dan efek komputernya terlihat lebih luwes dan meyakinkan. Adegan-adegan aksi juga lebih menegangkan. Tokoh-tokoh kita banyak dikejar-kejar, dengan ‘panggung’ yang bervariasi. Mulai dari gurun pasir hingga serangkaian jembatan gantung. Konsep nyawa video game – mereka masing-masing punya tiga nyawa yang berarti cuma punya tiga kali kesempatan untuk ‘mengacau’ – dibuat lebih berbobot daripada sekadar stake yang menambah ketegangan cerita. Ada kalimat yang aku suka sekali di film ini yakni nasehat kakek kepada Spencer “Don’t lose everything when you fail. You still got a life.” Benar-benar merefleksikan keadaan mereka, mengingatkan untuk tidak down ketika gagal karena kesempatan masih ada. Apalagi jika masih muda.

Actually, bukan masalah masih muda atau sudah tua. Kakek Spencer, Eddie, pada awalnya begitu cranky karena dia merasa tua, waktunya sudah habis, dan tidak ada lagi kesempatan untuk berubah. But there’s still a life. Menjadi tua berarti masih ada waktu. Untuk bertualang. Untuk stage yang berikutnya. Dia masih punya kesempatan memperbaiki hidup yang sama besar dengan kesempatan cucunya.

 
 
Segala excitement film ini terasa mengempis pada babak terakhir, saat film memutuskan untuk mengembalikan mereka ke kondisi semula – ke kondisi film pertama. Ini adalah keputusan terburuk yang diambil oleh sutradara Jake Kasdan sepanjang durasi film. Kita melihat begitu banyak hal segar, dan kemudian dia seolah membuat kita menonton kembali film pertama. Karen Gillan kembali menari sambil berkelahi. The Rock kembali memerankan tokoh laga serba bisa yang baik hati alias boring. Also, pertarungan bossnya benar-benar lemah. Film mengembalikan mereka seperti pada film pertama seolah film tidak mampu mencari jalan keluar yang baru. Para tokoh seharusnya belajar meng-embrace avatar mereka, seperti yang sudah berhasil mereka lakukan pada film sebelumnya. I mean, kalo kita main video game, kita toh harus mampu mengendalikan banyak tokoh – enggak hanya melulu memainkan satu tokoh yang sama.
Empat avatar ini sejatinya masih sama, yang berbeda hanya ‘jiwa’ yang menghidupi mereka. Aksi dan tantangan sebelum babak terakhir menarik karena kita melihat pendekatan berbeda yang diambil oleh ‘jiwa’ yang memasuki avatar tersebut. Lebih menarik melihat ini, bahkan ketimbang melihat trait baru yang ditambahkan oleh film yang malah membuat tokoh-tokoh dan rintangan seperti terprogram. Malahan ada satu yang gak benar-benar ter-establish, yakni kemampuan berbicara dengan hewan. Yang sepertinya hanya bekerja pada hewan tertentu karena mereka tetap saja dikejar-kejar oleh burung unta, kera mandril, dan kuda nil. Kenapa tidak bernegoisasi saja dengan hewan-hewan buas tersebut.
Selain arc tokoh Danny DeVito, arc tokoh-tokoh yang lain terasa sama saja dengan arc mereka pada film pertama. Namun ada satu tokoh yang arc-nya benar-benar mencengangkan, dan film mengabaikan begitu saja konsekuensi dunia nyata dari pilihan yang diambil oleh tokoh tersebut.
 
 
 
Sebagai sekuel, film ini sukses terasa lebih besar dan lebih heboh daripada film pertamanya. Dan memang beginilah seharusnya sebuah level adventure yang baru. Tokoh-tokoh yang familiar, tapi dengan rintangan yang baru, dan penambahan yang memang berarti. Film pun berusaha menjadi lebih baik, dia memperbaiki kesalahan terdahulu. Memperkuat keunggulan dan keunikan yang sudah dimantapkan. Namun pilihan di akhir film benar-benar fatal. Para tokoh dan arc mereka terasa sama lagi dengan film yang lalu. Sehingga babak akhir jadi jatuh membosankan. Keasikan nonton ini bakal tergantung masing-masing; jika kalian lebih suka film yang babak akhirnya strong, film akan sedikit mengecewakan namun bakal segera terpulihkan karena di akhir banget ada teaser yang menggugah nostalgia. Jika kalian enggak begitu mempermasalahkan, film ini akan jadi hiburan dari awal sampai selesai.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for JUMANJI: THE NEXT LEVEL.

POKEMON DETECTIVE PIKACHU Review

“The absent are never without fault, nor the present without excuse.”

 

 

 

Setiap anak pengen punya Pokemon. Kecuali Tim Goodman. Selidiki punya selidik, sifat keterkurangtertarikannya itu ternyata berkat ayahnya yang seorang detektif. Tim tumbuh menjadi pemuda yang antipati terhadap monster-monster lucu tersebut lantaran sang ayah lebih memilih menghabiskan banyak waktu memecahkan kasus-kasus bersama pokemon di kota ketimbang bareng dirinya. Keabsenan berubah menjadi misteri yang memanggil Tim untuk datang ke kota Ryme tempat ayahnya bekerja. Setelah sebuah kecelakaan besar, ayah Tim beneran menghilang. Jasadnya tidak pernah diketemukan. Satu-satunya harapan yang mengisyaratkan beliau mungkin masih hidup adalah pokemon partnernya, Pikachu, selamat dari kecelakaan tersebut. Pikachu yang memakai topi ala Sherlock Holmes itu bergerak lincah, sehat, berbicara lancar, mengajak Tim untuk bekerja sama memecahkan misteri. Tunggu. Berbicara?

Pikachu yang satu ini, bukan cuma listriknya loh yang menyengat

 

 

Pokemon Detective Pikachu secara teknis adalah adaptasi dari video game Pokemon berjudul Great Detective Pikachu yang rilis di Jepang tahun 2016 buat konsol handheld Nintendo 3DS. Jika boleh kutambahkan, film ini mengadaptasi game pokemon yang paling boring di antara game-game pokemon lain. Pokemon menjadi fenomena pop-culture yang dahsyat, ia punya serial anime yang sampai sekarang masih berlanjut, ia punya game kartu, Nintendo sendiri punya countless game pokemon RPG yang semuanya tentang anak yang keliling dunia menangkap pokemon, melatihnya untuk ditandingkan dengan pokemon peliharaan tokoh-tokoh lain. Kita bisa bilang pokemon ini adalah sabung ayam versi lebih cute dan lebih keren. Tak perlu lulus sekolah detektif untuk kita bisa melihat kesuksesan game mobile Pokemon Go-lah yang membuat film live-action ini menjadi kenyataan. Studi film tahu bahwa pokemon ini ada pasar yang menguntungkan. Kecanduan dari menangkap berbagai macam pokemon, kemudian melatih mereka untuk menjadi lebih kuat, berevolusi menjadi  even better, kemudian ngeclaim bragging right mengalahkan trainer yang lain, itulah inti yang menyebabkan pokemon menjadi begitu hits. Jadi, keputusan mereka malah mengangkat film dari game yang tanpa aksi, hanya berkeliling mencari petunjuk, memang cukup aneh buatku.

Berlawanan dengan pertanyaan yang diusung oleh film mengenai kenapa Tim bisa mengerti perkataan Pikachu, melihat film ini pertanyaan yang muncul di benakku malahan adalah apakah pembuatnya mengerti perkataan/permintaan para penggemar?

 

Tapi hey, paling enggak film ini mengerti cara memvisualkan para pokemon tersebut dengan benar, baik itu sesuai dengan bentuk maupun kemampuan yang sama persis dengan versi game dan animenya.

Sutradara Rob Letterman yang sebelumnya berhasil menghidupkan monster-monster mengerikan dalam Goosebumps (2015) memang mengerti untuk tidak mengkhianati penggemar secara visual. Pokemon benar-benar tampak hidup, seperti layaknya binatang di dunia nyata. Kita seolah bisa merasakan halusnya bulu Pikachu, keras dan bersisiknya badan Charizard, hanya dengan melihat mereka. That’s how good the visual in this movie. Di samping alasan nostalgia, kupikir kenapa pokemon-pokemon dalam film ini lebih didominasi oleh generasi pertama (yang muncul di kartun dulu) padahal secara timeline, film ini mengacknowledge generasi pertama itu sebagai masa lalu adalah karena desain pokemon-pokemon jadul lebih kelihatan cocok dengan dunia nyata ketimbang pokemon generasi baru yang kelihatan lebih seperti mainan ketimbang makhluk beneran. Untuk beberapa menit awal, kita akan dimanjakan oleh imajinasi hidup bersama pokemon, melihat pokemon di alam liar.

Tapi kemudian film seperti menyempitkan dunianya. Kita diajak masuk ke dalam kota Ryme – kota megapolitan yang visualnya juga luar biasa grande – di mana pokemon-pokemon itu dipasangkan dengan manusia. Literally, satu manusia masing-masing punya partner satu pokemon. Kayak konsep digimon. Meskipun toh seru juga melihat kerjasama manusia dan pokemon, seperti pemadam kebaran dengan barisan Squirtle, tapi keajaiban yang kita lihat di luar kota seperti menguncup. Ryme seperti tiruan yang aneh dari kota Zootopia. Dunia di dalam kota ini juga tidak pernah benar-benar dijelaskan cara kerjanya seperti apa. Apakah partner pokemon diassign sesuai pekerjaan, atau boleh bebas memilih, misalnya. Keseruan menangkap pokemon liar digantikan oleh melihat pokemon berjalan bersisian dengan manusia. Ketika film membawa kita mengikuti Tim dan Pikachu ke arena pertarungan underground, ataupun ketika ada sekuen aksi yang berhubungan dengan kekuatan pokemon, itulah saat sebenar-benarnya hiburan terasa. Aku berharap adegan seperti demikian jauh lebih banyak porsinya. Tapi di lain pihak, aku toh tidak bisa memberikan nilai 3 buat film ini hanya karena aku tidak mendapat pokemon yang aku inginkan. Kita tidak bisa ‘mengajarkan’ kepada film mana cerita pokemon yang benar, pembuat film sah-sah saja jika ingin mengangkat cerita pokemon dari gagasan dan versi pilihan mereka.

That being said, mari kita lihat bagaimana film ini memperlakukan ceritanya.

Jargonnya bukan “Gotta catch ’em all” lagi karena poligami itu enggak baik

 

Cerita film ini tepatnya adalah cerita buddy-cop dengan Pikachu dan Tim sebagai pusatnya. Bagian terbaik film ini jelas adalah suara Ryan Reynolds dalam tubuh mungil berwarna kuning berekor zig-zag. Meskipun kadang-kadang suara dan tubuh itu mentok banget, namun Pikachu yang dibawakan Reynolds akan jarang sekali membuat kita krik..krikk.. oleh komedinya. Aku terbahak keras ketika Reynolds menyanyikan lagu tema serial kartun Pokemon. Misteri yang Pikachu dan Tim hadapi sih sebenarnya enggak begitu membuat penasaran, tapi kita mendapat banyak momen humor jenaka darinya. Misalnya ketika Pikachu dan Tim menginterogasi Mr. Mime. Elemen investigasi film ini memang tidak digambarkan serius-serius amat, malahan cenderung ‘mudah’. Tidak ada teka-teki cerdas yang harus mereka pecahkan. Tidak ada petunjuk-petunjuk tersembunyi yang harus mereka temukan. Pikachu juga tidak pernah benar-benar menemukan kesulitan dari amnesia yang ia derita akibat kecelakaan. Mereka tidak benar-benar memecahkan misteri, sebab film mengandalkan hologram canggih sebagai device eksposisi yang secara praktis menihilkan tantangan kedua tokoh.

Fokus diniatkan kepada tokoh manusia. Film membuat Tim sebagai tokoh yang bisa kita sebut sebagai anti- dari tokoh-tokoh utama Pokemon sebelum ini. Dia enggak mau punya partner pokemon. Kebohongan personal/Lie yang ia percaya adalah dia tidak butuh pokemon, yang berakar dari Luka masalalu/Wound ditinggal oleh ayahnya. Perjalanan inner Tim adalah soal dia yang ‘terpaksa’ mandiri harus menyadari bahwa dia sebenarnya butuh banget sosok yang mensupport dirinya. Ini berkebalikan dengan tokoh-tokoh di serial dan movie anime yang seringkali harus belajar untuk percaya kepada kemampuan diri sendiri, bahwa mereka bukanlah bukan siapa-siapa tanpa pokemon, bahwa kehadiran partner pokemon adalah bukti kekuatan mereka sendiri. Dengan kata lain, film ini sebenarnya menarik karena punya tokoh yang melawan pakem semesta pokemon itu sendiri. Pokemon Detective Pikachu ingin menonjolkan drama antarmanusia dengan pokemon sebagai asesorisnya. Masalahnya adalah; tokoh-tokoh manusianya ini tidak pernah dibuat lebih menarik daripada para pokemon.

Tim merupakan tokoh yang sangat menjemukan, sekaligus ngeselin. Dan itu bukan semata karena permainan akting bland Justice Smith yang semakin kebanting dipasangkan dengan Reynolds, melainkan juga karena tuntutan naskah. Ini tentang Tim mencari ayahnya, arc tokoh Tim ini secara garis besar bergerak dari dia yang tadinya tidak peduli sama sang ayah berubah menjadi peduli. Untuk menggambarkan hal tersebut, kita dapat tokoh yang sebagian besar waktu tidak benar-benar termotivasi. Pada menjelang pertengahan, bukan saja Tim tidak tahu di mana ayahnya yang mungkin saja telah mati, dia juga tidak peduli. Ini membuat kita juga susah peduli sama tokoh ini. Dalam cerita pokemon, film malah memberikan kita tokoh utama yang gak suka pokemon, yang enggak peduli dia punya partner atau tidak – sesungguhnya itu adalah problem yang nyata buat cerita. Kita tidak benar-benar bersama si tokoh utama, karena aku yakin semua yang nonton film ini suka ama pokemon, atau paling tidak menonton karena pengen melihat pokemon. Tim, dia sebodo amat ama pokemon. Tokoh ini tidak memandang pokemon dengan ketertarikan. Satu tokoh manusia yang lumayan menarik buatku adalah Lucy, jurnalis magang yang pengen menguak misteri hilangnya ayah Tim demi karirnya sendiri. Tapi itupun menarik sepertinya karena aku agak bias lantaran si Kathryn Newton ini orangnya manis banget.

Dan cerita tentang anak dan ayah ini pun pada akhirnya lebih menimbulkan kecanggungan ketimbang menawarkan kedalaman. Tidak banyak yang bisa kita gali. Tim, meskipun pandangannya terhadap ayah sudah berubah, namun kita tetap tak bersimpati karena di akhir cerita dia masih bukan seperti kita-kita. Tim tetap tidak punya partner pokemon, dan dia masih tidak peduli sama hal tersebut. Hubungannya dengan Pikachu akan menjadi sangat awkward, karena sebagaimana yang diperlihatkan oleh film ini, semua perjalanan itu sebenarnya adalah tentang Tim dengan ayahnya. Menurutku akan jadi sentuhan yang bagus jika film ini mempasangkan Tim dengan Cubone yang berusaha ia tangkap di awal cerita.

 

 

 

 

 

Dibuat untuk mewujudkan imajinasi penggemar Pokemon tentang dunia di mana manusia dan pocket monster hidup berdampingan. Visualisasi mosnter-monsternya keren. Pikachu-nya lucu, meski mungkin lucunya berbeda dengan yang dibayangkan. Sekuen aksinya seru, dan literally kita pengen nambah (karena porsinya minim). Para penggemar pokemon akan menikmati film ini, asalkan bisa berpikiran terbuka terhadap pilihan yang dilakukan oleh film. Pokemon-pokemon yang dipimpin oleh Pikachu itu tetap menjadi bagian terbaik film, hanya saja cerita berpusat kepada tokoh manusia – terutama ayah dan anak – yang tidak pernah ditampilkan lebih atau malah semenarik tokoh pokemonnya. Enggak akan gampang untuk kita mengatakan “I choose you!” kepada film ini karena ia menghadirkan tokoh utama yang membosankan.
The Palace of Wisdom gives 5 gold stars out of 10 for POKEMON DETECTIVE PIKACHU.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Menurut kalian apa makna ketidakhadiran seorang ayah dalam sebagian besar hidup anaknya? Apakah film ini menawarkan solusi soal keabsenan seorang ayah yang menjadi tema/inti utama cerita? Apakah menurut kalian Tim akan bertemu dengan ayahnya jika kecelakaan di awal cerita tidak terjadi? Apakah kalian punya solusi sendiri mendekatkan anak dengan ayahnya?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

DREADOUT Review

“Cell phones are the lifeline for teenagers”

 

 

 

Bayangkan menjadi anak sekolah di jaman berteknologi tinggi seperti sekarang. Apa yang paling kalian takutkan sedunia? Kalian punya teman-teman keren yang siap membantu ngebully orang-orang yang membuat kalian sebal (atau iri). Kalian punya follower setia yang siap menaikkan mood dan begitu mencintai kalian sehingga kalian enggak perlu repot-repot untuk mencintai mereka balik. Tempat angker pun kalian jadikan tempat hiburan untuk menaikkan popularitas. Kalian bisa menaklukan apapun dengan internet supercepat dalam genggaman. Satu-satunya yang kalian takutkan adalah, jika kalian lupa membawa smartphone!

DreadOut, semenjak dari video gamenya, mengusung metafora yang bagus soal betapa anak usia SMA sangat bergantung kepada telepon genggamnya untuk bisa menyintas hari-hari mereka.

 

Mengambil periode sebelum kejadian dalam cerita video gamenya yang meledak di kalangan gamer internasional, film DreadOut membawa kita berkenalan dengan masa lalu Linda (dilempar-lempar, ditarik-tarik, tidak hanya secara emosi Caitlin Halderman dipush bermain fisik) yang bekerja di mini market setelah jam sekolahnya selesai. Kita diperlihatkan karena lelah bekerja itulah Linda sempat daydreaming mengenai kejadian sewaktu kecil. Film menjanjikan para penggemar mengenai asal-usul ‘kekuatan’ Linda, dan adegan pembuka diniatkan sebagai tindakan penebusan janji tersebut. Apakah itu cukup atau tidak, you’d be the judge, lantaran film tidak akan membahas lebih jauh. Cerita terus melaju membawa Linda – yang sebenarnya enggan – untuk ikut bersama kakak-kakak kelas yang jauh lebih tajir dan populer darinya ke sebuah apartemen kosong. Uang dijadikan motivasi oleh Linda, yang menyimbolkan keinginannya untuk bertahan hidup. It’s a good thing Linda punya mental ini, sebab geng mereka bakal dengan segera terancam keselamatannya oleh sesuatu di dalam sana. Mereka menemukan kulit ular, kertas bergambar mengerikan, dan simbol besar di lantai kamar apartemen. Linda pun panik saat dia melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh teman-temannya. Beberapa bait tulisan yang begitu dibaca membuat Linda dan temannya tercebur ke dalam kolam yang terhubung dengan dunia di mana pocong bisa mengejar mereka dengan celurit.

Hayo yang lagi nonton di pojokan, itu Takut atau Kesempatan?

 

Smartphone adalah ‘senjata’ yang digunakan Linda, protagonis dalam film adaptasi game DreadOut, untuk mengalahkan hantu-hantu yang menyerangnya secara fisik. Bukan kamera antik yang disepuh oleh batu-batu roh seperti dalam game Fatal Frame. Melainkan gadget teknologi mutakhir yang memancarkan flash. Tanpanya, Linda dan teman-teman sudah barang tentu akan celaka. Film menunjukkan kemenangan dalam bergantung kepada hape. Ilmu pengetahuan menang telak atas klenik dan mitos yang-membudaya dalam film garapan Kimo Stamboel ini. Anak-anak sekolah itu bukan saja berhasil membuka pintu portal ke dunia lain, mengusik Kebaya Merah, mencuri keris pusaka miliknya, mereka memberikan perlawanan yang cukup berarti meskipun mereka tidak pernah benar-benar mengerti apa yang sedang mereka alami. Untuk sebuah prekuel, dan possibly episode pertama dari dunia yang katanya luas ini, tidak banyak mitologi yang digali.

Tentu saja hal tersebut bisa menjadi hal yang mengecewakan buat para penggemar. Film ini punya kesempatan seperti sebuah kertas yang benar-benar kosong; film bisa menuliskan apapun, menambah kedalaman cerita, memperpanjang aturan dunianya, mengekspansi tokoh-tokohnya, tapi film hanya ‘menulis’ sedikit sekali. Seolah ada garis pembatas yang pantang dilanggar. Dan bahkan Linda dan teman-temannya berani untuk melanggar batas wilayah yang diijinkan oleh penjaga gedung. Film seperti punya ide-ide yang jauh lebih gila, namun tidak semuanya bisa mereka wujudkan. Tidak banyak jenis hantu yang muncul. Pun adegan aksinya terasa agak nanggung, mengingat kiprah sang sutradara di film-filmnya sebelum ini. Jelas, ini masalah batasan umur. Bayangkan jika mereka terus dengan adegan penggal kepala alih-alih potong pergelangan tangan. DreadOut tampil agak jinak dengan efek-efek komputer yang dipasang lebih dominan – sekali lagi, technology triumphs! 

Tetapi bukan berarti film kehilangan sentuhannya. DreadOut berhasil menginkorporasikan gaya khas sang sutradara dengan gaya yang sudah mendarahdaging sebagai cap-dagang gamenya. Menggunakan pergerakan kamera seperti yang kita jumpai dalam Upgrade (2018), Kimo menambahkan intensitas ke setiap lemparan-lemparan yang dikenai kepada para tokohnya. Pergerakan yang aktif dan terasa penuh energi ini membuat kita bisa langsung tahu dengan sekali lihat bahwa film ini ditangani oleh orang yang biasa bermain di ranah aksi thriller yang sadis. Sama halnya dengan musik, suara, dan atmosfer, sekali dengar (dan sekali lihat) para penggemar video gamenya bisa langsung konek bahwa mereka sedang menyaksikan dunia yang sama dengan yang beberapa tahun lalu mereka mainkan. Film mempertahankan apa yang membuat game ini fenomenal; gameplaynya. Bagaimana hantu bisa dikalahkan dengan masuk ke mode layar handphone. Ada beberapa scene yang memperlihatkan Linda memberanikan diri melihat ke layar hapenya, dan ada juga beberapa di mana ia hanya ‘asal’ jepret karena begitu ketakutan. Mengingatkanku kepada diriku yang mulai serabutan jika hantu yang muncul ternyata terlalu mengerikan.

Bahkan buat yang bukan penggemar pun, film turut memberikan service. Komedi dengan gaya candaan yang gak terlalu in-the-face akan membuat kita terhibur. Dan untuk alasan tertentu, film akan menampilkan Jefri Nichol bertelanjang dada.

Dengan rambut dikuncir, Caitlin jadi mirip Ariana Grande ya

 

Game DreadOut sendiri menjadi populer, sebagian besar disebabkan oleh seorang youtuber luar yang meng-upload video dia memainkan game ini, dan itu kocak banget. Aku dulu sempat kepikiran untuk melakukan hal yang sama, karena memang saat memainkannya, ada saja reaksi kocak yang timbul oleh tantangan dan pengalaman yang diberikan. Aku masih ingat ketika aku mulai khawatir ketika baterai hape si Linda sudah tinggal setengah. Actually, aku sempat menanyakan hal ini kepada produser filmnya saat diundang dinner bareng cast, “Apakah nanti di film akan ada adegan Linda panik karena hapenya kehabisan baterai?” karena itu akan menambah lapisan kenyataan dan ketegangan, tetapi pertanyaanku hanya dijawab dengan tawa. Sayangnya, memang, ternyata film tidak membahas ‘masalah teknis’ seperti ini. Sisi vulnerable dari kekuatan Linda tidak mereka eksplorasi. Linda tidak pernah benar-benar terpisah dari senjatanya tersebut. Hapenya bahkan sempat tercebur dan that thing is still working just fine.

Linda dalam film juga tidak banyak diberikan ‘pikiran’ sama halnya seperti Linda pada game, dan ini buatku menjadi masalah. Saat bermain video game, gak papa jika tokoh kita adalah jenis tokoh yang ‘silent’, yang lebih banyak diam, yang tidak tahu apa yang terjadi, karena kitalah yang sebenarnya menjadi tokoh cerita. Pemain yang melakukan pilihan, pemain yang bereaksi. Beda dengan tokoh pada film; protagonis utama kudu tahu apa yang ia lakukan, kita harus mengerti keputusan yang dia ambil berdasarkan apa. Semakin lama, semakin melelahkan melihat Linda berlarian ‘tak tentu arah’, so to speak, well actually Lindanya hapal banget arah karena lokasi film ini enggak begitu luas meskipun seharusnya adalah hutan, karena kita tak punya pegangan apa-apa selain dia ingin menyelamatkan diri. Naskah yang baik adalah naskah yang memberikan dua problem buat tokoh utamanya; problem di luar dan problem di dalam dirinya sendiri. Teror dalam film ini terasa terus bergulir, dan kita tak melihat di mana kesudahannya. Portal itu terbuka menutup sekena keperluan naskah. Kocaknya, kabur dari gerbang yang terkunci lebih susah daripada masuk ke alam gaib, pada film ini.

Dan tidak menolong pula tokoh-tokoh yang lain dibuat begitu menjengkelkan. Film meninggalkan sahabat Linda, Ira, di belakang. Membuat kita stuck dengan tokoh-tokoh yang dialognya seputar berbuat iseng, dan mencari sinyal. Malahan ada satu yang kerjaannya menggebah Linda dan teman-teman untuk masuk dan melanggar batas – clearly he’s up to something. Film tidak memberikan kita ruang untuk mempedulikan teman-teman Linda ini. Jikapun ada keberhasilan, maka film berhasil membuild-up kekesalan kita sehingga nanti begitu hantu muncul dan satu persatu mereka disiksa, kita akan merasakan puas tak terkira.

 

 

Cukup bangga rasanya Indonesia punya film adaptasi video game, yang menunjukkan seberapa jauh negara ini berkembang dalam dunia perfilman dan pervideogame-an. Sebagai sebuah survival horor, film ini menunaikan tugasnya dengan loud-and-clear. Kita melihat makhluk-makhluk menyeramkan, menyerang remaja-remaja tak berdaya yang hanya bisa mempertaruhkan nyawa dengan hape mereka. Film ini punya gaya sendiri yang menjadikannya unik. Sayang, pada penulisan-lah DreadOut paling terhambat dan kemudian jatuh terjengkang. Film tidak mengambil kesempatan mengeksplorasi dirinya sendiri lebih jauh. Seperti mereka terjebak antara portal ‘memuaskan orang banyak’ dengan portal ‘tidak membuat kecewa gamers penggemarnya’. Dan selalu bukanlah hal yang baik terjebak di antara dua hal.
The Palace of Wisdom gives 4.5 out of 10 gold stars for DREADOUT.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Linda menggunakan hapenya untuk bertahan hidup dari hantu-hantu. Kalian gimana, bisakah kalian hidup tanpa hape?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017