WWE Hell in a Cell 2022 Review

 

 

 

Bicara soal hell, WWE sedang dalam keadaan semacam hell of a trouble. WWE punya dua flagship brand yang bisa dibilang sebagai pondasi, tapi sekarang satu kaki pondasi tersebut literally enggak sekuat kaki lainnya. Mulai dari ada yang cedera, ada yang minta cuti bentar, hingga yang bermasalah sehingga mengeluarkan diri sendiri, brand Smackdown kini tampak tak sesolid yang biasanya. Ketimpangan ini terasa menjelang live premium event Hell in a Cell yang akhirnya didominasi oleh partai-partai dari brand Raw. Dengan turut absennya superstar paling hot – si Undisputed Champion Roman Reigns – WWE berusaha menjadikan acara ini sebagai kesempatan untuk mendorong wajah-wajah yang lebih fresh. Terutama, WWE ingin memaksimalkan push untuk superstar yang baru saja kembali ke perusahaan ini (sejak setelah enam tahun bergulat untuk perusahaan rival). Cody Rhodes diset bukan saja sebagai bintang-sampul pada poster, melainkan juga dijadikan vocal point dari Hell in a Cell. Spot main event sudah disediakan untuknya. Namun mimpi buruk memang baru saja dimulai bagi WWE. Menjelang jam tayang, Cody Rhodes dikabarkan mengalami cedera saat latihan. The show must go on, WWE berusaha menyulap cedera tersebut menjadi storyline – menaikkan stake untuk storyline Cody Rhodes – kita masuk menonton ini enggak tahu seberapa parah atau apa yang bakal dilakukan oleh WWE. Dan setelah beres nonton tiga jam lebih acara ini, aku cuma bisa bilang: That was one hell of a show!

Di titik ini, aku merasa udah kayak kaset rusak. Entah sudah berapa kali rasanya aku menuliskan soal ragu mau nonton karena WWE tidak demikian berhasil membuild up acara secara keseluruhan, tapi setelah beres kok ternyata memuaskan juga. It’s the superstars. Para pegulat WWE sepertinya memang selalu berusaha menampilkan yang terbaik meskipun ‘lapangan bermain’ mereka enggak sebebas yang diharapkan. Sikap positif dan profesional seperti inilah yang harusnya dijaga. Kita tiru dan kita dukung untuk terus dipertahankan. Seberapapun kesal dan gak suka sama kantor – manajemen, aturan, atau apapun neraka yang tercipta dari lingkungannya- pada akhirnya semua kembali kepada team work, dan yang paling penting adalah mendorong diri untuk menjadi yang terbaik apapun tantangannya. Pertandingan-pertandingan di Hell in a Cell kali ini, kalo dibaca sekilas, jujur aku tak terhype sedikit pun. Tapi nama-nama yang tertera di sana, baik yang sudah terestablish maupun yang baru mencuat, sama-sama berjuang untuk memberikan yang maksimal. Dan effort kolektif mereka itulah yang mengangkat acara ini.

Ini tentang berjuang menaklukkan neraka

 

 

Tengok Kevin Owens dan Ezekiel (alias Elias). Mereka terlibat dalam salah satu storyline terbego yang pernah dipikirkan oleh tim kreatif WWE. Storyline tentang Elias yang comeback dengan tanpa-jenggot dan pakaian berbeda, mengaku bernama Ezekiel, dan memperkenalkan diri sebagai adik dari Elias, dan Kevin Owens – being a sane person he is – enggak percaya. Sinetron Indonesia yang hobi bikin plot orang-kembaran aja kalah dungu sama cerita ini! Tapi kedua superstar ini membuat storyline tersebut super menghibur. Mereka membuat role yang unik. Mereka berhasil membuat kita bersimpati dan mendukung Ezekiel meski kita sama-sama tahu Owens jelas-jelas benar, Dan match mereka di acara ini lebih dari sekadar match komedi. Malahan, match ini malah tampak lebih serius dari yang diniatkan. Itu karena kita sudah demikian terinvest oleh karakter-karakter mereka. Sama halnya dengan Madcap Moss dan Happy Corbin. Berawal dari a rather comedic pairing, Moss dan Corbin (satu-satunya partai dari brand Smackdown yang ngisi acara ini) sukses membawa storyline mereka ke dalam salah satu match yang paling ‘hardcore’ di sini. Transformasi karakter Moss dimainkan dengan meyakinkan dan dia membuktikan dirinya sudah bisa ‘lepas’ dari Corbin, baik secara storyline maupun secara real-sebagai-performer. Moss kini tampak credible sebagai superstar solo, dan aku penasaran apa yang bakal dikasih WWE untuk dirinya ke depan.

Sebaliknya, Omos si raksasa dari Raw yang mau dipush gede-gedean itu masih tampak biasa-biasa saja. Perkembangannya agak sedikit lebih lambat. Bahkan ceritanya kini tampak mulai bergeser ke arah konflik antara Hurt Business ketimbang tentang ngepush dirinya. Beruntung Omos bekerja satu storyline dengan orang-orang yang profesional. Handicap match antara Omos dan MVP melawan Lashley memang masih terasa seperti di level show mingguan, tapi paling enggak aksi-aksinya tampak legit. Semua yang terlibat memainkan peran dan fungsinya dengan baik. And I’m still hype untuk ngeliat Lashley kembali memburu sabuk kejuaraan!

Ngomong-ngomong soal kejuaraan, Hell in a Cell 2022 cuma punya dua championship match. Yang kedua-duanya tampak menjanjikan sebagai proyek masa depan. Pertama, kejuaraan Women brand Raw. Triple threat antara tiga fan favorite; Becky Lynch, Asuka yang baru returned, dan Bianca Belair yang makin ke sini makin nunjukin bahwa dia memang pantas disebut superstar, Partai mereka ini pas banget ditempatkan sebagai pembuka. Aksinya intens, storytelling dan psikologinya dapet, begitu juga range sekuen yang mereka bertiga lakukan. Match kejuaraan jenis ramean seperti triple threat biasanya digunakan WWE untuk memperpanjang napas feud, sekaligus melindungi superstar. Entah itu dari terlalu banyak bergerak (berkaitan dengan protek perihal cedera), maupun dari menelan kekalahan yang bakal merusak momentum. Partai perempuan ini memang agak sedikit terlalu jelas dilakukan untuk memenuhi fungsi tersebut, but it doesn’t stop the superstars to make it very entertaining. Aku suka akhiran match yang semacam membuat Becky dan Bianca seperti circled back ke masing-masing. Kedua,  United States Championship antara Theory melawan Mustafa Ali. Inilah dua bintang muda yang lagi digadangkan WWE, khususnya si Theory. Match mereka di acara ini enerjik, penuh aksi-aksi dengan gerakan yang easily jadi (dan juga reference ke) move favorit. Keliatan keduanya lapar untuk membuktikan diri. Sepertinya yang menahan lajunya match ini adalah Ali yang masih dalam proses ‘hukuman’ oleh WWE.  Ali dulu sempat vokal menyuarakan protes, menuntut untuk dapat spot televisi, dengan nada yang ‘kalo gak mau pake gue mending pecat gue aja’. Kita gak tau di belakang panggung seperti apa; apakah Ali dipush asal harus dihukum dulu apa gimana, yang jelas match yang berlangsung di hometownnya ini adalah kesempatan bagi Ali untuk ngasih yang terbaik, dan dia tahu itu.

Tapi dedikasi yang paling nekat memanglah milik Cody Rhodes. Yang walaupun diberitakan cedera, tetap muncul dan bertanding. Awalnya, demi melihat Cody muncul kayak sehat-sehat aja, kupikir berita cedera itu cuma bo’ongan. Like, storyline yang berusaha dipantik WWE di menit-menit terakhir karena acara mereka kurang hype dan stake. Lalu Cody yang sudah di atas ring, sudah di dalam kandang merah, membuka jaket American Nightmare-nya. Aku terdiam. Komentator terdiam. Semua penonton di arena terdiam. Bahkan tukang sol sepatu yang tadinya ribut di luar rumah juga ikut terdiam (mungkin dia kebetulan keselek hihihi). Dada sebelah kanan Cody merah menghitam. Lebam yang menunjukkan pendarahan di dalam sebab otot yang terlepas. This man memilih tetap bertanding dengan kondisi seperti itu.

Adrenaline in my soul, gendang nyaring ditepak~

 

 

Selama nonton gulat, kayaknya baru kali ini aku nyaksiin hal seperti itu. Kayaknya baru kali ini nuansa disturbing yang real itu menguar, membayangi pertandingan besar. Stake-nya ternyata jadi beneran! Semua penonton tahu Hell in a Cell bukan partai sembarangan, banyak hal yang bisa ‘salah’ terjadi di dalam kerangkeng dan stipulasi tanpa-diskualifikasi itu. Seketika match yang bukan untuk sabuk kejuaraan, yang merupakan kali ketiga dari trilogi Cody-Rollins ini, mendadak jadi terasa amat sangat penting.  Ditambah pula dengan hal kecil yang dilakukan oleh Seth Rollins; datang bergulat dengan kostum polkadot persis kostum khas mendiang ayah Cody, the legendary American Dream Dusty Rhodes. Jadi dengan build up yang mapan, stake yang tinggi, dan set up yang sangat dramatis, pertandingan mereka berjalan dengan even more ‘surprise’. Cody basically bertarung dengan satu tangan, sementara Rollins tampak mengincar kelemahannya (alias dada yang memar jadi kayak lampu kedap-kedip merah di dada Ultraman), dan itu baru phase pertama match. Menit-menit berikutnya menjadi lebih gila lagi. Bukan hanya pake senjata (sledgehammer jadi poin penting narasi dalam partai ini), tapi match ini sendiri juga sempat berubah menjadi match lain saat Cody dan Rollins setuju untuk mengikat diri mereka dengan tali. It’s a bullrope match inside hell in a cell! Respek banget buat Cody yang ngepush kemampuan dirinya yang tengah cedera. Juga buat Rollins yang terbukti jadi salah satu pegulat paling safe untuk dijadikan lawan, sementara tetap bisa memancing heat dari ulah-ulah yang nge-heel abis.

Downside tak terelakkan adalah nambah lagi superstar yang cedera. Dan kali ini Raw juga kena. Cedera Cody Rhodes bisa dipastikan makin kumat, dia hampir pasti bakal rehat panjang. Kuharap gak terlalu ‘panjang’ sehingga mencederai juga momentumnya. Selain Cody, AJ Styles juga ternyata cedera di tengah-tengah pertandingan 6-Man Tag Teamnya melawan tim Judgment Day pimpinan Edge. Kepala Styles sempat bocor, ada beberapa detik wajahnya tampak bersimbah darah setelah melakukan moves di dalam ring, dan sampai akhir match Styles gak terlihat lagi. I hope Styles gak cedera serius (‘cuma’ sobek). However, soal match mereka, sesial-sialnya paling enggak ada tiga superstar muda yang terpush hebat di sini. Rhea Ripley, Damian Priest, dan Liv Morgan. Mereka tampak bisa mengimbangi Finn Balor, AJ Styles, dan Edge yang lebih berpengalaman dalam aksi tim. Match ini seharusnya bisa lebih fun. Secara pribadi, aku lebih suka jika mereka melakukan ini di dalam kandang hell in a cell (konteks dan temanya padahal sudah cocok). But I guess WWE sendiri masih ‘meraba-raba’ soal superstar cewek compete with superstar cowok. Akibatnya mereka masih bermain di aturan bullshit cowok cuma boleh nyerang cowok, cewek cuma boleh nyerang cewek. Aku percaya superstar bakal berusaha yang terbaik apapun situasi yang diberikan, tapi untuk beberapa hal seperti ini aku berharap WWE mau meninjau ulang aturan-aturan mereka  yang agak terlalu mengekang kreativitas.

 

 

 

 

Semua orang berjuang dalam kurungan neraka personal masing-masing. Semua orang berusaha keluar dari sana dengan cara yang terbaik. WWE hampir berhasil melakukannya dengan terbaik, di acara ini. Hampir berhasil mengubah kesulitan dari situasi menjadi sesuatu yang menguntungkan untuk storytelling produk yang mereka lakukan. Karena Hell in a Cell pada akhirnya berhasil jadi tontonan dengan match-match yang walaupun enggak hebat, tapi solid dalam bercerita. Momen yang gak akan terlupa, momen yang bakal jadi highlight dalam sejarah adalah Cody Rhodes memilih untuk tetap bertanding meski cedera, dan bersama Seth Rollins berhasil menyuguhkan pertandingan yang beneran terasa gede, personal, dan juga seru. The Palace of Wisdom menobatkan Cody Rhodes lawan Seth Rollins di Hell in a Cell jadi MATCH OF THE NIGHT.

MOTN

 

 

 

 

Full Results:

1. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bianca Belair mempertahankan sabuk dari Asuka dan Becky Lynch
2. HANDICAP 2-ON-1 Bobby Lashley mengalahkan tim Omos dan MVP
3. SINGLE Kevin Owens ngalahin Ezekiel
4. SIX-PERSON MIXED TAG TEAM The Judgment Day menang atas tim AJ Styles, Finn Balor, dan Liv Morgan
5. NO HOLDS BARRED Madcap Moss akhirnya balas dendam ke Happy Corbin
6. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Theory bertahan dari Mustafa Ali
7. HELL IN A CELL Cody Rhodes menang untuk ketiga kalinya melawan Seth Rollins

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

WrestleMania 38 Review

wmFPWWHb1UYAAgGFl
Dua malam paling ‘stupendous’ itu telah usai. Ngomong-ngomong, apa sih artinya ‘stupendous’? Kalo dari kamus sih, kata tersebut memiliki arti “menakjubkan, hebat, raksasa”. Dan memang begitulah ternyata adanya. WrestleMania 38 yang dilangsungkan di stadion AT& T, Dallas, Texas memang terasa begitu gede. Heboh. Super spektakuler. Begitu banyak kejutan untuk disoraki, begitu banyak pertandingan untuk dijingkrak-jingkraki, begitu banyak momen untuk diselebrasi! Semuanya merata disebar selama dua malam berturut-turut, masing-masing berdurasi sekitar 4 jam dan total 7 pertandingan. Bayangin gimana gak serak tuh suara yang pada nonton langsung di arena. Aku yang nonton livestream di pagi pertama puasa (yang biasanya masih nyenyak molor karena masih jadwal tidur masih beradaptasi dengan sahur) langsung dibuat melek oleh keseruannya. Mata udah gak peduli lagi cuma dipejemin dua jam. Ke’stupendous’an itu pun tak lantas sirna. Walau acaranya udah masuk ke buku sejarah dengan gemilang, ternyata masih ada satu pertandingan lagi untuk kita simak. Kita urusi. Because that’s what we do in the Palace of Wisdom; kita ngereview yang telah kita tonton. Jadi apa dong satu pertandingan yang masih nyisa itu?

Pertandingan siapa yang paling hebat di antara Malam Kesatu vs. Malam Kedua WrestleMania 38!

Pembagian acara menjadi dua malam ini bermula dari bencana yang berjudul WrestleMania 35 (2019). Bencana bukan exactly karena buruk, tapi karena begitu melelahkan bagi semua orang yang ada di sana (kita yang nonton di rumah sih enjoy-enjoy aja). Dua-belas pertandingan, delapan jam, terutama bikin lelah para penonton. Dampaknya, di paruh akhir, energi itu sudah habis. Keseruan match gak lagi bisa diapresiasi maksimal karena udah pada capek. Maka demi mengantisipasi keadaan itulah, tahun depannya WWE mengubah konsep WrestleMania menjadi dua malam, yang dipertahankan hingga sekarang. Keputusan tersebut tentu saja disambut bukan saja pro, tapi juga kontra.
Kebanyakan kontra datang dari fanatik dan penjaga kemurnian wrestling yang percaya bahwa WrestleMania sebagai acara puncak tahunan WWE haruslah tetap dibikin sakral. Dalam artian, tidak perlu menjadi sepanjang itu. WrestleMania harusnya sesuai dengan jargonnya – showcase for the immortal. Yang berarti yang berhak tampil, ya yang udah berhasil mencapai atau mendekati status ‘immortal’ tersebut. Spot pertandingan di WrestleMania harusnya diisi oleh yang superstar yang benar-benar pantas, oleh cerita yang benar-benar sudah dibuild up. Jadi para kontrarian melihat WrestleMania 35 sebagai awal dari WWE telah menggadaikan kesakralan tradisi WrestleMania itu sendiri. Pertandingannya terlalu banyak, sebagian besar tampak seperti filler yang gak perlu. Mengubah konsepnya menjadi dua malam berarti WWE tak lagi fokus merangkai sesuatu yang immortal, melainkan jadi bikin apapun untuk memenuhi kuota belasan pertandingan yang dibagi dua. Nah, kekhawatiran akan WrestleMania jadi ‘perayaan cuma-cuma’ itu jadi makin menjadi-jadi demi melihat susunan pertandingan yang sudah disiapkan WWE untuk WrestleMania 38 kali ini. Tiga pertandingan seleb, sementara tidak ada kejuaraan menengah seperti Intercontinental atau U.S. Lebih banyak nama-nama ‘aneh’, sementara talent beneran yang lebih populer (dan tentu saja yang belum dipecat) dianggurin.
Jujur aku sendiri juga gak kehype oleh overhype yang dilakukan WWE terhadap susunan match medioker mereka. Aku tertarik, paling cuma sama tiga match, di luar main event title unification juara lawan juara Brock Lesnar lawan Roman Reigns. Tapi WWE ternyata mengejutkan kita semua, baik itu yang pro ataupun yang kontra. Matches yang tampak lemah di atas kertas tadi disulap jadi suguhan yang bervariasi positifnya. Ada yang menghibur banget, ada juga yang klasik banget. Para seleb yang bertanding sebagai bintang tamu pun sukses menampilkan ‘gulat hiburan’ dalam versi mereka sendiri. Kalo disuruh milih mana yang paling bagus dan yang paling kusuka, well, yuk kita langsung breakdown aja, malam mana dari WrestleMania 38 yang paling oke.

wm00331-16490490187380-1920
Don’t let Mark Henry’s son stop you!

WrestleMania 38 Night ONE

wmcody-rhodes-wrestlemania-38
Malam Kesatu disusun berdasarkan satu hal. Kejutan. Hal yang paling diantisipasi dan diperbincangkan oleh fans di bulan-bulan awal tahun 2022 ini, dijanjikan akan diungkap di sini. Siapa yang bakal ngelawan Seth Rollins. Leading up to this show, intensitas semakin gede karena berseliweran nama-nama yang tampak sama mungkinnya untuk dipilih WWE sebagai kejutan. Mulai dari Undertaker yang tega banget bilang “Never Say Never” pada penutup pidato Hall of Fame-nya (yang efektif sekali bikin fans gak bisa tidur), hingga ke Shane McMahon yang di detik-detik terakhir masih dijadikan kecohan oleh Seth Rollins yang nyebut “Time is money!”. Aku sendiri sebenarnya gak nyangka WWE bakal berbaik hati ngasih yang actually benar-benar diinginkan fans. But there he is. Cody Rhodes yang diberitakan hengkang dari kompani gulat sebelah (yang turut ia bangun sendiri) akhirnya beneran muncul di atas panggung. Lengkap dengan attribut, musik, dan persona American Nightmare yang dibangunnya di kompani pesaing WWE tersebut. Malam Kesatu bakal memorable oleh momen ini. Ada banyak layer untuk dikupas dari peristiwa kembalinya Rhodes saja.
Kejutan gede berikutnya adalah Stone Cold Steve Austin. Semua sudah tahu Austin bakal muncul di Kevin Owens Show, Owens nantangin dan jelek-jelekin Austin (dan Texas). Tapi gak ada yang mengantisipasi legend dengan riwayat cedera leher, lutut, dan banyak lagi ini bakal turun kembali bergulat. And that’s what exactly happened. Tadinya aku memang merasa susunan match acara ini aneh. Kenapa Talk Show jadi main event. Itu hanya akan membuat acara ini seperti bersambung, tanpa penutup yang real. Keanehan tersebut terjawab ketika Austin menyetujui tantangan Owens untuk bertarung di NO HOLDS BARRED!! Bukan single match biasa, melainkan match tanpa-aturan.  Salut lihat Austin; ini adalah pertandingan pertamanya setelah 19 tahun (dan juga jadi pertandingan terakhir) dan dia buktiin dia benar-benar pantas disebut legend. Matchnya ini, katakanlah gak cengeng. Austin actually took bumps. Dia disuplex ke lantai, bayangin! Tentu saja ini juga berarti salut buat Kevin Owens yang udah buktiin dirinya dipercaya untuk nampil sefisikal itu terhadap legenda yang punya cedera.

wmFPY-E2UXsAMNgLE
Bayangkan kalo tampil di Indonesia, Owens bakal dicekal karena menghina kota, dan Stone Cold dicekal karena minum bir di depan orang puasa.

Susunannya match malam pertama terasa kurang penting, dan banyak yang gimmick dan yang gak penting, tapi kualitas pertandingannya tidak mengecewakan. Di luar ekspektasi semua. Aku bahkan happy dengan match Happy Corbin, karena at least ada rekor yang dipecahkan. Drew McIntyre jadi orang pertama yang kick out dari finisher End of Days. Match Rhodes lawan Rollins jangan ditanya, mereka bermain spam finisher tapi dengan intensitas yang benar-benar kebangun. Rhodes juga diberikan waktu luang untuk ngebangun karakternya sekarang, hingga nostalgia dengan karakter dan orang terpenting dalam karirnya. Bahkan match si YouTuber Logan Paul juga gak kalah seru. Paul earns viewer respects karena sanggup keep up dengan gulat hiburan gaya WWE. Paul mainin heel dengan gemilang. Dia niruin Eddie Guerrero coba, lancang kan. Tapi keren. Yang aneh dari tag teamnya bareng Miz lawan Keluarga Mysterio cuma setelah akhiran saat Miz tau-tau turn heel ke dirinya. Kejuaraan Tag Team yang membuka acara ini sebenarnya juga berpotensi seru, cuma sayang kemalangan menimpa Rick Boogs yang kakinya cedera beneran sehingga match tersebut terpaksa dicut short.
So far, match terbaik adalah Bianca Belair melawan Becky Lynch. Cerita tentang redemption Belair terbangun dan tersampaikan sempurna. Laganya berjalan dengan pace mantap, banyak close call, dan aksi-aksi keren. Bahkan entrance mereka asik punya semua. Berbeda sekali dengan kejuaraan cewek satu lagi antara Ronda Rousey dengan Charlotte Flair yang terkesan chaotic karena kayak terburu-buru. Banyak botch. Kegedean ego, dan fakta bahwa ini adalah match yang gak ada satu orang pun yang minta untuk terjadi.

WrestleMania 38 Night TWO

wmWWE-WrestleMania-38-Edge-Entrance-1024x581
Sekilas susunan Malam Kedua tampak lebih solid dan somehow lebih serius dibandingkan Malam Kesatu. Tapi nyatanya, Malam Kedua gak mau kalah. Malahan sekalinya seru-seruan, Malam Kedua tampil lebih hura-hura loh!
Oh how I enjoyed match Sami Zayn lawan Johnny Knoxville, lebih daripada yang seharusnya. Karena itu bukan wrestling. Lebih seperti live action kartun Tom & Jerry, tapi memang begitu menghibur. Semua ‘perabotan’ Jackass keluar. Mulai dari kru hingga alat-alat prank konyol mereka. I got huge “Called it” moment tatkala sempat mikir di match ini mereka haruslah pakai adegan Wee Man datang bantuin Knoxville dari bawah ring, Hornswoggle style! Dan itu beneran kejadian. Wee Man also body slam Zayn hahaha. Party Boy juga muncul, begitu-begitu dia pernah tanding lawan Umaga. Meskipun yah, dihajar babak belur juga pastinya. Point is, ini jadi match hardcore terkocak yang bisa kita dapatkan di era kekerasan di televisi harus diperhalus. Match ini dengan gemilang memenuhi konteks dan fungsinya. Karena tentu gak bakal ada yang ngarepin Knoxville main di match yang serius.
Bukan berarti selebriti alias orang di luar pegulat gak bisa nyuguhin match wrestling yang kece. Logan Paul udah buktiin di malam pertama, dan di malam kedua ada Pat McAfee. Footballer yang baru banting stir menjadi pegulat. Pertandingannya melawan Austin Theory – anak baru juga – tidak tampak hijau. Melainkan sebuah cerita menggapai mimpi yang seru dan menghibur. Yang tampak hijau justru Omos. Raksasa yang lagi dapat push gede-gedean, dan di sini dia ditandingkan melawan Bobby Lashley. Omos keliatan banget masih ‘kasarnya’ dan butuh banyak latihan dalam penguasaan ring. Matchnya dengan Lashley tampak clumsy, Lashley seharusnya dibikin kayak jadi underdog di sini, tapi itu sama sekali gak kerasa berkat kecanggungan Omos, bahkan dalam bergerak.
Pat McAfee dan Austin Theory statusnya jadi makin terangkat dengan kehadiran Vince McMahon himself di pinggir ring. Menjagokan anak emasnya – Theory. Pemilik WWE itu kayak gak mau ketinggalan have fun, karena ujug-ujug dia juga turun bertanding. Kupikir nobody saw that coming. However, aku mendapat momen “Called it!” kedua saat berpikir pasti bakal kocak kalo Stone Cold ada di Malam Kedua ini, silaturrahmi sama Vince yang ‘kawan lama’nya. As soon as I’m done thinking that, musik kaca pecah itu muncul, dan datanglah Stone Cold Steve Austin!! Bisa ditebak arena langsung ikut pecah oleh sorak sorai. Agak sedikit terharu juga, ini 2022, Austin dan Vince masih berlaga menghibur kita semua.

wmIMG_6733-scaled
Kita semua tahu adegan ini bakal berujung apa hihihi

Pada akhirnya Malam Kedua jadi ‘receh’ juga. Dua kejuaraan tag team yang masing-masing melibatkan multiple team, terlalu cepat dan rusuh untuk jadi kejuaraan yang solid. The right teams win, tapi agak kurang terasa karena tempo yang cepat tersebut. Padahal ada momen Sasha Banks keluar dari kutukan selalu-kalah di WrestleMania. Dua match yang digadangkan bakal dahsyat, gak perform sesuai perkiraan. AJ Styles lawan Edge yang berusaha tampil klasik, justru jadi terasa lamban karena out of place dengan rest of the cards yang tempo matchnya luar biasa cepat semua. Storyline-nya pun ternyata masih kayak belum tuntas, karena match ini dijadikan awal dari sesuatu yang baru untuk Edge, yang tampil kayak Dracula di game Castlevania.
Yang bisa dibilang paling mengecewakan adalah main eventnya. Lesnar dan Reigns. Padahal dengan pembalikan role; Lesnar baik dan Reigns jahat, feud mereka bener-bener ter-refresh dengan pembawaan karakter masing-masing. Aku suka sekali gimana Lesnar ikut merebut mic dan memperkenalkan dirinya sendiri, sambil ngeledek gaya Reigns dan Paul Heyman. Namun sayang, WWE tidak mengubah apa-apa dalam match mereka. Tetap berupa saling spam finisher. Tidak ada match metodikal yang bercerita. Tidak match klasik seperti Styles-Edge. Receh juga enggak. Hanya itung-itungan finisher yang biasa. Akhirannya pun terasa ujug-ujug, karena gak ada yang ngarepin matchnya bakal begitu lagi. Dari build up yang dahsyat, dari cerita yang udah chapter kesekian, dari stake yang tinggi, penonton ngarepin sesuatu yang benar-benar epik. WWE enggak ngasih itu di akhir Malam Kedua.
WWE ternyata masih bisa menarik sesuatu keseruan dari apa yang tampak biasa-biasa aja, bahkan malah meragukan. WrestleMania 38 ini jadi buktinya. Tapi untuk menyimpulkan, ya Malam Kesatu terasa lebih hebat. Kalo disuruh memilih delapan match saja dan menjadikan WrestleMania ini sebagai satu show, maka dengan melihat bagaimana pertandingan tersebut dilakukan oleh WWE, maka aku akan banyak memilih pertandingan di Malam Kesatu. That is THE night. Dan matchnya, sampai Malam Kedua berakhir, ternyata pendapatku masih tetap. Bianca Belair vs. Becky Lynch tetap yang paling solid, paling aksi, paling bercerita. Kejuaraan Perempuan RAW itulah Match of the Stupendous Nights. 
Full Results:
FIRST NIGHT
1. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos bertahan dari Shinsuke Nakamura dan Rick Boogs
2. SINGLE Drew McIntyre mengalahkan Happy Corbin
3. TAG TEAM The Miz dan Logan Paul menang atas Rey dan Dominik Mysterio
4. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bianca Belair jadi juara baru ngalahin Becky Lynch
5. SINGLE Cody Rhodes muncul jadi misteri opponent dan ngalahin Seth Rollins
6. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Juara Bertahan Charlotte Flair ngalahin Ronda Rousey
7. NO HOLDS BARRED Stone Cold Steve Austin menghajar Kevin Owen

8. BONEYARD The Undertaker mengubur AJ Styles

SECOND NIGHT
1. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT Tim RK-BRO Randy Orton dan Riddle masih juara atas Street Profits dan Alpha Academy 
2. SINGLE Bobby Lashley unggul dari Omos
3. ANYTHING GOES Johnny Knoxville bikin Sami Zayn babak belur
4. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP FATAL FOUR WAY Sasha Banks & Naomi merebut sabuk dari Queen Zelina & Carmela, Natalya & Shayna Baszler, dan Rhea Ripley & Liv Morgan
5. SINGLE Edge mengungguli AJ Styles
6. TAG TEAM Sheamus dan Ridge Hollang (bareng Butch) menang atas New Day Kofi Kingston dan Xavier Woods
7. SINGLE Pat McAfee mengalahkan Austin Theory

8. SINGLE Vince McMahon balik mengalahkan Pat McAfee
9. WWE & UNIVERSAL CHAMPIONSHIP WINNER TAKES ALL Roman Reigns jadi Undisputed Champion ngalahin Brock Lesnar

That’s all we have for now.
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

WWE Elimination Chamber 2022 Review

 

Welcome back, Alexa Bliss!!

Sama seperti blog ini, Alexa Bliss juga udah cukup lama gak keliatan di skena gulat. Menurut komentar si Michael Cole, terakhir kali Alexa bertanding itu adalah bulan September tahun lalu. That was Extreme Rules, where Charlotte destroyed her doll, dan itu seharusnya mengakhiri gimmick-pinjaman Alexa. Yah, setidaknya begitulah harapan penonton. Belakangan ini, Alexa muncul di segmen-segmen terapi, dan sekali lagi seperti mengindikasikan dia bakal kembali ke persona dirinya yang dulu. Match Elimination Chamber bakal jadi ajang comeback yang tepat untuk Goddess Alexa Bliss, mengingat dengan gimmick inilah doi pernah memenangkan match kandang barbar ini. So I was excited (begitu pula dengan ribuan penonton di Jeddah yang terdengar jelas menyorakkan namanya) 

Excitement dari antisipasi return ini ternyata bukanlah satu-satunya yang bikin orang penasaran sama Elimination Chamber cewek. Buktinya, begitu Alexa muncul – ternyata dengan tetap memakai gimmick ‘fiend/lilly’ (yang btw menang award Worst Gimmick 2022 dari Wrestling Observer Newsletter) – yang kuasumsikan tetap dipilih karena lebih gampang untuk ngikutin aturan kostum cewek di Jeddah, penonton tetap berapi-api. Match tersebut tetap dapat banyak sorakan riuh-rendah. Semua orang excited melihat semua superstar yang bertanding. Alexa, Bianca, Doudrop, Nikki, Rhea, dan Liv semuanya seperti punya kans yang sama besar untuk menang dan menantang juara Becky Lynch di WrestleMania kelak. Matchnya sendiri terasa sangat cepat – mungkin inilah match Chamber dengan catatan waktu teringkas – penuh aksi, drama yang cukup, dan setiap karakter mendapat kesempatan untuk memainkan kekhasan mereka. Ketika Alexa dan Bianca, dua superstar yang aku jagokan di match ini, jadi final-two; aku merasa seperti pemenang. The night is young (meskipun kita yang di Indonesia nonton streamingnya tengah malam buta!) dan aku benar-benar punya firasat bagus untuk acara ini.

Ayunan adalah sebuah privilege

 

Bicara tentang acara ini sendiri, Elimination Chamber 2022 merupakan Elimination Chamber yang pertama yang go international. Diadain di Arab, dan actually inilah kali kedua aku nonton premium live-event (istilah baru untuk PPV) WWE yang diadakan di Arab. Tahu dong, beberapa tahun belakangan ini WWE mulai rutin ngadain show di negara para sultan tersebut. Tapi gak ada satupun yang menarik buat kutonton. Entah itu Crown Jewel, Super Showdown, atau bahkan Greatest Royal Rumble, semuanya terasa seperti house-show yang ‘diromantisasi’. Yang semua pertandingannya terasa seperti filler anime, you know, yang storylinenya gak ngaruh. Acara-acara WWE yang diadain di negara ini udah kayak pesenan para sultan, siapa yang bertanding, siapa yang bakal dimenangin; hanya untuk menyenangkan tuan rumah yang udah membayar mahal. Dan ini easy-money bagi WWE, karena apapun yang tayang nanti, penonton yang jarang-jarang ngeliat para superstar tanding live itu bakal tetap terhibur dan terkagum-kagum. TLDR, sudah jelas hanya ‘sebatas’ bisnis saja.

Tapi kali ini beda. Elimination Chamber sudah lama diposisikan sebagai salah satu jalan menuju WrestleMania, yang berarti pertandingan yang diadakan harus benar-benar punya efek untuk acara tersebut ke depannya. Merujuk ke komentator sekali lagi, Elimination Chamber membentuk WrestleMania. Penantang dan juara yang bakal berlaga di acara gulat terbesar itu benar-benar ditentukan di sini. WWE tentu paham pentingnya acara ini, dan mereka benar-benar menekankannya. And by God, mereka berhasil membuat Elimination Chamber di Jeddah tidak lagi terasa seperti show hura-hura.

Menempatkan match sepenting Roman Reigns melawan Goldberg di partai pertama adalah langkah yang sukses mengukukuhkan kesan spektakuler acara ini. Ketika ‘big boss’ beserta kejuaraan yang bakal jadi partai utama WrestleMania muncul duluan (dan ini actually adalah kali kedua berturut-turut mereka tampil sebagai pembuka) penonton akan ‘membaca’ bahwa penutup acara nanti pastilah raksasa hebohnya. Dan seketika hype itu terlandaskan. Acara ini dimulai dengan sangat kuat. Bahkan Goldberg tampak prima dan menyuguhkan yang terbaik yang ia bisa (dalam level ‘renta’nya yang sekarang).

Goldberg, you’re next!!! —in line for retirement.

 

Kesan show-penting memang berhasil dipertahankan. Match Drew lawan Madcap Moss yang basically adalah bathroom break terasa penting dan sayang untuk dilewatkan. Begitu juga dengan partai tag-team cewek yang jelas-jelas diadain supaya Ronda Rousey dan Charlotte gak gabut menjelang WrestleMania. Narasi kedua partai ‘esktra’ ini tampak matang. Hingga ke kostum superstar cewek yang diatur juga dimainkan oleh WWE ke dalam karakter dan plot pertandingan. Jadi jangankan soal membentuk acara berikutnya, acara ini sendiri sudah punya bentuk khas sehingga menontonnya jadi punya keseruan tersendiri.

Ada tiga pertandingan cewek yang dilangsungkan di sini. Semuanya digarap penuh respek dan juga alot of fun. Namun dari ketiganya, yang paling pecah adalah partai antara Lita melawan juara bertahan Becky Lynch. Crowd clearly loves Lita. Dan superstar legend itu menyambut cinta tersebut dengan respek luar biasa kepada penonton. Dilihat-lihat, si Lita ini cocok sih nampil di situ. Apalagi ada bagian dari musik entrancenya yang terdengar kayak musik Arab haha.. but in all of the seriousness, Lita melawan Becky adalah partai yang paling ‘bercerita’ malam ini. Secara aksi, memang masih ada sloppy di kanan-kiri. Ini bisa dimaklumi mengingat Lita memang bukan lagi pegulat aktif – dan enggak selincah waktu muda lagi. Di sini dia menunjukkan betapa dia pantas menjadi legend. Dan itu bukan semata karena dia adalah bintang attitude era, ataupun bukan semata karena aksinya, melainkan karena dia adalah pencerita yang hebat. Ada momen-momen ketika kita percaya bahwa Lita mungkin saja membawa pulang sabuk si Becky. Delivery cerita seperti ini tentu bukan karena satu orang saja. Becky telah sukses membangun karakter yang kuat, tapi tidak pernah mendominasi. Inilah juga kenapa champion cewek Raw adalah championship single terseru di WWE sekarang. Kompetitornya tidak terbatas untuk beberapa orang. Juaranya tidak dibuat harus lebih unggul dibanding yang lain. Kalo urutan match di acara ini menempatkan Chamber cewek setelah kejuaraan ini – dalam artian, kita tidak langsung menghubungkan Bianca pasti nuntasin urusan dengan Becky – niscaya semua penonton bakal benar-benar tersold out Lita yang bakal jadi juara baru. Sebegitu hidupnya kompetisi kejuaraan ini.

Sebaliknya, acara ini justru terhitung gagal membuat match yang benar-benar penting, match yang jadi profil utama acara, menjadi penting. Gagal membuatnya tampak urgen. Elimination Chamber cowok, yang dari nama-nama pesertanya tampak seru, malah jadi yang paling datar dan paling nge-cheat dilakukan oleh WWE. Kompetisi itu tidak diciptakan. Tidak seperti Becky Lynch yang tampak setara, Brock Lesnar dibikin jauh di atas yang lain. Brock Lesnar bahkan menghabisi dua mantan-juara dunia lain dengan gampang seolah mereka anak baru seperti Austin Theory. Padahal dengan enam superstar, ada begitu banyak cerita atau bookingan yang bisa diambil sebagai proses menuju kemenangan Brock Lesnar. Teksnya padahal udah ada disebutin di sana loh. ‘Ini adalah Chamber pertama bagi Lesnar’, mereka sebenarnya bisa saja menggali ini sebagai kekurangan Lesnar dibanding yang lain, sebagai celah untuk membuat persaingan mereka menjadi sederajat, yang tentunya bakal bisa bikin match berjalan lebih seru. Tapi enggak, WWE membuat ini tetap singkat. Lesnar menghajar semua superstar seolah dia dimainkan sama bocah di rental PS yang nge-full-in smek dan membuat peserta lainnya kosong.

Tentu saja melihat Lesnar membabi buta, kali ini dengan sentuhan karakter komikal, adalah hal yang juga tergolong seru. Tapi akan lebih seru lagi kalo match ini benar-benar dipersembahkan sebagai ‘pertandingan’. Bukan cuma ‘Lesnar destroys everybody’, alur yang sudah dilakukan berkali-kali. Dan bicara tentang hancur, WWE pulled out some really strange storyline untuk Bobby Lashley. Superstar yang harusnya mempertahankan gelar di sini, tereliminasi gitu aja setelah pod miliknya hancur dan dia – storyline wise – cedera kena puing-puing kaca (plastik). Dan ‘insiden’nya tersebut bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Lesnar, orang yang actually menantang sabuknya one-on-one.

Storyline cedera langsung invalid kalo dilakukan setelah ada superstar yang sakit beneran tapi tetap lanjutkan match

 

 

 

Elimination Chamber akhirnya jadi acara yang aneh. Match-match secondary fun dan terasa penting karena benar-benar dibentuk. Sementara match utamanya justru sederhana, predictable, dan terasa membuang waktu untuk ditonton. Ini adalah salah satu show WWE modern yang paling singkat, tapi durasi sesungguhnya bukan jadi alasan. WWE hanya tidak mau memberikan kompetisi untuk superstar-superstar terpilih. And sikap WWE ini bisa berujung kepada hal yang jauh lebih buruk, seperti ketika mereka basically meniadakan kejuaraan tag team di acara ini. Ujug-ujug dibikin no contest!! Dan acara ini memang membuktikan, hal tersebut berdampak buruk kepada elemen-elemen lain di dalam acara. Hanya memberikan hiburan gampangan, sementara potensi entertainment sebenarnya enggak digali. Aku nonton ini tengah malam, tapi gak sekalipun merasa ngantuk, yang berarti ini acaranya gak bikin bosan kayak Royal Rumble bulan kemaren. Certainly, ini adalah yang terbaik dari show-show yang pernah dilakukan WWE di Arab Saudi. Tapi sesungguhnya ini bisa jadi jauh lebih baik. The Palace of Wisdom menobatkan Becky Lynch versus Lita sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

 

Full Results:

1. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Roman Reigns mempertahankan sabuk dari Goldberg
2. WOMAN’S ELIMINATION CHAMBER Bianca Belair memenangkan hak menantang Raw Women’s Champion di WrestleMania
3. TAG TEAM Ronda Rousey dan Naomi mengalahkan Charlotte dan Sonya DeVille
4. SINGLE Drew McIntyre menghajar Madcap Moss
5. RAW WOMAN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch tetap juara ngalahin Lita
6. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP batal tanding, why even mention this…
7. WWE CHAMPIONSHIP MAN’S ELIMINATION CHAMBER Brock Lesnar jadi juara baru

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

WWE Royal Rumble 2022 Review

Awal tahun 2022 menyimpan kejutan buat penggemar WWE seantero Indonesia. There’s some rumbling about the Rumble. Ya, acara WWE dikabarkan bakal resmi tayang di platform streaming Disney+Hotstar, dan Royal Rumble 2022 bakal jadi acara premiernya. Berita gembira ini bukan datang tanpa drama. Setelah sempat rame di sosmed, pemberitaan soal penayangan tersebut hilang dari dunia maya. Link-link beritanya jika diklik hanya membawa ke halaman kosong. Setelah sempat suudzon sama Peacock/Hulu sebagai distributor resmi WWE di Amerika, aku pun bersorak histeris ketika Disney+Hotstar merilis poster dan trailer Royal Rumble. Yang berarti kabar penayangan itu ternyata beneran, dan kita-kita penggemar WWE tidak perlu susah-susah lagi subscribe Network ataupun memupuk dosa dengan menonton di link bajakan. Kita akhirnya bisa ikut seru-seruan nonton WWE secara live, gak perlu lagi takut-takut mantangin sosmed dan kena spoiler.

rumblebrock-lesnar-wwe-royal-rumble
Sekarang, kita bisa ngasih spoiler duluan!

 

 

Yang jelas, kejadian ini kudu dirayakan. Iya dong. Tahun ini resmi didistribusikan di Indonesia, siapa tahu tahun depan WWE bakal ngadain show live di GBK. WWE kembali melirik pasar Indonesia, yang telah berani nge-ban mereka sejak 2006. Maka, aku, yang sudah sekitar empat bulan ini absen nonton dan mengulas WWE – sebagai bentuk ngambek tayangan WWE kualitasnya jongkok di tempat (yaiyalah mana ada jongkok sambil jalan-jalan) – memutuskan untuk comeback. More hype than ever. Tapi juga more judgemental than ever. Karena kini aku udah seperti penggemar baru. Aku hanya tahu sebagian kecil storyline. Aku gak banyak tahu pemain-pemain baru. Antisipasiku gak memuncak untuk surprise-surprise. Aku jadi membayangkan diriku ini sebagai orang yang baru nonton WWE, orang yang lihat di platform kesayangan mereka ada acara gulat, dan coba menjajalnya. Aku ingin mencoba menjawab apakah WWE Royal Rumble ini bisa tampil menarik/punya appeal buat penonton casual, entah itu yang udah lama gak nonton WWE atau yang sama sekali belum pernah menonton. Apakah jika ini benar-benar pertama kalinya aku nonton WWE, acara ini bisa membuat aku suka.

So yea the stakes are high. And so does the opening match. Roman Reigns melawan Seth Rollins. Kurasa penonton awam cukup familiar dengan dua nama ini. Karena memang mereka adalah salah dua dari nama terbesar yang dipunya WWE era modern. Keduanya kharismatik. Keduanya sama-sama hebat di atas ring, baik itu beraksi maupun bercerita sebagai karakter. Benar saja, pertandingan mereka memperebutkan sabuk juara di acara ini akan sangat menghibur bagi mata manapun yang melihatnya. Bagi penonton yang setidaknya tahu riwayat mereka, match ini adalah tentang riwayat tersebut. Yang circled back ke masa kini. Reigns dan Rollins yang dulu satu tim tapi pecah karena Rollins berkhianat. Alur pertandingan kali ini merefleksikan itu semua, dengan poetic justice berupa role yang bertukar. Rollins tampil dengan musik dan pakaian tim lama mereka saja sudah cukup untuk bikin penggemar menggelinjang. Bagi penonton baru, match ini menarik karena aksinya bakal penuh drama. Ini adalah perfect hook buat ke partai berikutnya.

Pertandingan Royal Rumble cewek. Ya, bagi yang belum tahu: WWE sekarang memang sudah punya mode pertandingan-pertandingan besar yang dilangsungkan khusus untuk pegulat wanita. Yang seringkali gak kalah serunya ama versi cowok. Seperti Royal Rumble Cewek kali ini. Buatku, para superstar cewek berhasil menyuguhkan laga yang lebih menghibur. Ada lebih banyak nostalgia juga, buat penonton lama. Aku ngakak ketika musik sirene annoying berkumandang dan muncullah si Ivory dalam balutan dress putih yang tertutup rapat. Kontan saja aku terflashback ke jaman 2000an saat tim Right to Censor sering banget muncul jadi buzzkill. Dan gak cuma nostalgia. Ada lebih banyak momen-momen yang memanfaatkan karakter dari superstar yang ikut bertanding. Seperti saat Molly Holly yang datang gimmick superheronya bertemu dengan Nikki A.S.H. yang juga menggunakan gimmick superhero di era modern. Dan ngomong-ngomong soal kostum, interaksi antara Sasha Banks yang berdandan mirip Sailor Moon dengan Melina yang bergaya just like her legendary gimmick juga super duper fun.

WWE selalu jago dalam menampilkan surprise. Streamku sempat macet di menjelang akhir pertandingan Cewek ini. Bener-bener berhenti di itungan ketiga saat countdown kemunculan the next peserta Rumble. Dan begitu streamingnya lancar lagi, aku sudah mendengar lagu “I don’t give a damn about my reputation!” Seketika itu juga aku langsung berdiri jingkrak-jingkrak di sofa. Ronda Rousey balik dan langsung bikin geger arena. Rousey juga sempat diberikan momen bekerja sama dengan Shayna Baszler, sahabatnya di dunia real-fight, yang kusayangkan cuma WWE gak membuat mereka sebagai the final two. 

rumble960
Charlotte harusnya dapat treatment yang sama dengan Muhammad Hassan di Royal Rumble 2005; dikeroyok sampai tereliminasi oleh para superstar lain

 

Memang, belakangan ini WWE gak benar-benar kuat dalam bidang membangun antisipasi. Ini actually adalah salah satu alasan kenapa aku sempat berhenti menonton. WWE used to be great at both surprise and anticipation. Tapi sekarang, misalnya contoh Rousey ataupun Rollins yang ujug-ujug datang mengenakan gimmick The Shield tadi, WWE hanya kuat di menjaga kejutan saja. Membangun antisipasi semakin sering dinomorduakan. Bukti yang paling terasa di match ini adalah soal Mickie James. Juara dari perusaahan gulat sebelah, Impact, yang diundang untuk bertanding di Royal Rumble. Kejadian sebesar ini – WWE akhirya membuka ‘pintu terlarang’ dan mengakui ada gulat lain selain mereka – direveal begitu saja di sosial media. Tidak ada pembangunan antisipasi lanjutan. Dan saat match, Mickie James walaupun diperlakukan dengan penuh hormat sebagai juara, hanya seperti berada di sana. Padahal sebenarnya di atas ring saat itu ada Women’s Champion WWE. Tapi intensitas ataupun interaksi mereka tidak pernah digali. WWE menganggap kejadian ini cuma bagus untuk suprise di sosmed aja, mereka enggak melihat potensi storyline dari situasi tersebut. 

Antisipasi dan surprise. Keduanya sebenarnya tidak bijak untuk dipisahkan. Seperti countdown Royal Rumble itu sendiri. Mereka perlu untuk menghitung mundur dari sepuluh, supaya antisipasi terhadap siapa superstar yang bakal masuk bertanding, sehingga kemunculan tersebut dapat menjadi kejutan yang maksimal. 

 

Ini berdampak kepada pertandingan Royal Rumble Cowok. Mickie James yang nyebrang brand itu jadi dianggap sebagai bentuk dari antisipasi kejutan yang lebih besar oleh penonton. Itulah sebabnya kita mulai berspekulasi sendiri. Jangan-jangan nanti ada superstar Impact lain di partai cowok. Jangan-jangan ada superstar dari acara gulat lain. Tentu saja itu semua hanya ekspektasi kita. Pertandingan tersebut jadi kita tonton dengan mengharap surprise yang kita percaya atau kita adakan sendiri. Tau dong apa yang terjadi jika terlalu banyak berharap? Pertandingan Royal Rumble Cowok jadi terasa menjemukan. Tidak ada surprise (at least, tidak ada surprise yang kita harapkan) Ini membunuh momentum pertandingan tersebut. Pertandingan yang memang sedari awal sudah datar, berlubang botch (aduh Kofi Kingston riwayatmu kini) dan hampir sangat-sangat obvious hasil akhirnya bakal seperti apa. Aku menonton ini vibenya udah kayak Royal Rumble 2004. Cuma sekadar “oh” dan “meh”.

Pertemuan singkat AJ Styles dengan Robert Roode at one point of the match jadi penawar buat penonton. Komentator juga ngomporin pake kalimat “There are massive ‘impact’ between these two”. Para superstar memang terlihat bersenang-senang, apalagi banyak juga dari mereka yang baru pertama kali tampil. Tapi kupikir mereka belum benar-benar konek ke penonton. Aku yang udah lama gak nonton mau gak mau memperhatikan musik entrance. Banyak musik-musik baru, bahkan pemain lama juga musiknya ternyata udah ganti. Berganti menjadi sesuatu yang terdengar generic dan gak membantu untuk karakterisasi mereka. Soal antisipasi ini, Johnny Knoxville did a better job dalam membangun build up kemunculan Jackass ketimbang yang dilakukan oleh WWE haha.

rumble17587459
Kenapa Knoxville jadi mirip sama si Noob Noob dari kartun Rick and Morty?

 

Aku sebenarnya udah excited banget untuk pertandingan antara Brock Lesnar melawan Bobby Lashley. Apalagi video promo perseteruan mereka yang diputar sebelum match benar-benar seperti diedit untuk menguatkan narasi bahwa ini adalah pertemuan impian, pertarungan antara dua powerhouse yang udah buktikan diri di ajang kompetisi bela diri beneran tingkat dunia. Namun antisipasi ini tidak bertemu dengan hasil akhir yang memuaskan. Jauh lebih intens videonya ketimbang actual match. Maklum sih, WWE juga punya kepentingan (selalu punya kepentingan) untuk memajukan narasi atau storyline. Kita cuma bisa berharap ke depannya (soon in near future) Lesnar dan Lashley bisa bertemu kembali dalam pertandingan yang lebih serius. 

 

 

 

Jadi, untuk menjawab pertanyaanku sendiri: Royal Rumble ini sebenarnya tepat sekali untuk memperkenalkan kembali WWE kepada penonton di Indonesia. Banyak kejutan dan nostalgia yang sudah disiapkan. Aku bisa bayangin penonton bakal excited melihat Edge tag-teaman dengan istrinya, ngeliat anak Mysterio sekarang sudah jadi high flyer mumpuni ngikutin jejak bapaknya, ngeliat Jackass, ngeliat drama dan aksi, tertarik untuk pengen tahu kelanjutan story, serta bersorak melihat beragam superstar lama yang muncul menghibur untuk satu malam. Tapi aku tak yakin acara ini saja cukup untuk menggaet penonton yang sama sekali baru. Masih penasaran, mungkin. Tertarik untuk sesekali ngikutin, mungkin. Tapi benar-benar ngefans, susah juga. Wong fans benerannya aja masih jauh dari kata puas menyaksikan ini. The Palace of Wisdom menobatkan Women’s Royal Rumble sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

Full Results:

1. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Seth Rollins menang tapi gak juara karena Roman Reigns kena diskualifikasi
2. 30-WOMAN ROYAL RUMBLE Ronda Rousey comeback dan langsung menang
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch tetap juara ngalahin Doudrop
4. WWE CHAMPIONSHIP Juara Bertahan All Mighty Bobby Lashley menang atas Brock Lesnar
5. MIXED TAG TEAM Edge dan Beth Phoenix menghajar The Miz dan Maryse
6. 30-MAN ROYAL RUMBLE Brock Lesnar masuk di nomor 30 dan menang!

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

Extreme Rules 2021 Review

 

Sejujurnya, aku gak mengerti kenapa WWE masih mempertahankan Extreme Rules sebagai salah satu acara pay-per-view mereka. Karena dari tahun ke tahun sudah jelas. Mereka gak bisa untuk benar-benar menjadi “Extreme” seperti dulu.

Acara Extreme Rules tercatat bermula di tahun 2009. Tapi sebenarnya, sejarahnya mundur beberapa tahun ke belakang. Tepatnya di tahun 2005. Saat WWE membuat ppv khusus untuk reuni ECW; acara gulat yang terkenal dengan ke-hardcore-annya. Acara saat itu diberi nama “One Night Stand”. Begitu ECW ditetapkan sebagai brand kecil-kecilan di major show WWE (bersama Raw dan Smackdown) di tahun 2007, One Night Stand dijadikan ppv milik brand tersebut. Nah, di tahun 2009, WWE, yang telah menapaki rute acara PG (Bimbingan Orangtua), secara resmi mengganti istilah ‘hardcore’ dengan ‘extreme rules’. Sehingga One Night Stand yang konotasinya juga enggak PG tersebut, diganti namanya. Jadi Extreme Rules juga. Tapi dengan konsep yang tetap sama. Semua pertandingan di acara tersebut punya stipulasi atau aturan-aturan yang ekstrim. Last Man Standing, Tables, TLC, No Holds Barred, hingga ke stipulasi unusual seperti ‘Yang Kalah Dicukur Rambutnya’ dan last year’s ‘Eye for an Eye’ match.  Seiring perkembangan; seperti WWE yang memilih untuk membuat lebih banyak ppv berdasarkan match tertentu (kayak, ppv TLC yang basically sama-sama extreme, karena di situ jenis pertandingannya seputar tangga, meja, dan kursi) dan keadaan zaman itu sendiri, konsep Extreme Rules semakin tergerus. Tahun kemaren, WWE masih bisa memainkannya ke dalam tema horor. Namun kita bisa melihat dan merasakan taraf ekstrim-nya itu semakin berkurang. Malah berkembang ke arah konyol – Eye for an Eye tadi matchnya ternyata tidak segarang judulnya.

Dan tahun ini, Extreme Rules benar-benar terasa hampa. Dari enam match yang ditampilkan, yang ada stipulasinya cuma dua. Itupun cuma Triple Threat dan Extreme Rules. You know, stipulasi yang biasa ada. Di Extreme Rules tahun-tahun awal, match Extreme Rules single itu jarang loh – dulu itungannya itu standar dari yang paling standar. But now, Extreme Rules jadi stipulasi main event. Buatku, ya sayang banget. Padahal kalo dijual dengan stipulasi keren, match-match di acara ini pasti menarik. Bayangkan kalo Uso lawan Street Profits (dengan cerita Montez Ford balas dendam abis cedera rusuk) diadakan dalam Tables Match. Atau Charlotte dan Alexa, yang bawa-bawa boneka dalam feud mereka, diadain dalam Dollhouse Match, or something. Dan, ada juga EST balas dendam sama The Man, c’mon masa mereka ga bisa nemuin stipulasi keren sesuai dengan tema feud tersebut!

Jadi, tahun ini ppv Extreme Rules bukan hanya mengecewakan. Tapi juga kurang menjanjikan. Udah gak cocok sama namanya. Mestinya diganti aja. Lucky for us, some fans on internet took liberty to correct this.

xtremeones-en-los-combates-de-WWE-Extreme-Rules
Ah, that’s more like it

 

Normal Rules sangat-sangat reguler, sampai-sampai juara WWE kita yang baru aja dikasih tanding dalam sebuah pertandingan tag team reguler. Big E yang akhirnya ngecash in koper MITB ke Almighty Bobby Lashley (yang sudah cukup lama mendominasi Raw dengan tangan dingin), finally memenuhi keinginan dan ekspektasi para fans. Big E yang momentumnya lagi berapi-api itu, sama sekali tidak terjadwal untuk bertanding di ppv ini. Instead, WWE mengadakan tag team dadakan untuknya seolah malam ini cuma malam-malam biasa di hari Senin. Dari sini saja sudah kelihatan, bahwa WWE sendiri tidak menganggap ppv ini begitu spesial. They are not even trying

Yang keliatan berusaha keras itu hanya superstar-superstarnya saja. Kalo saat nonton ini ternyata kita terhibur, dan matchnya ternyata cukup seru, itu karena aksi dan penampilan hebat para superstar. Big E, New Day, AJ Styles, Uso, Street Profits, Jeff Hardy, Sheamus, Damien Priest, Finn Balor, dan lain-lain yang tampil, mereka semua adalah profesional yang memberikan tidak kurang sedikitpun. Walaupun pertandingan mereka di sini, gak banyak bedanya dengan biasa mereka lakukan di Raw atau Smackdown, tapi mereka masih keliatan menggali sesuatu yang belum pernah kita lihat. Di balik akhiran match yang berupa roll up kentang, kita disuguhkan hiburan aksi counter mengcounter (serta komedi Sheamus niruin Jeff Hardy). Di balik tag team match standar, kita dibikin seru-seruan oleh hot tag dan permainan psikologi injury. Tekanan untuk tampil menghibur memang bersandar pada superstar, dan aku merasa dinamikanya di sini memang setimpang itu. Para superstar disuruh bermain terbaik, tapi WWE sendiri (yang belakangan ini udah nunjukin mereka bisa memecat siapa aja kapan saja dengan alasan ‘budget cut’) tidak pernah menjual acara ini di luar sebagai acara B, yang bahkan hasil akhirnya aja sudah mereka ‘spill’ sendiri dengan mengiklankan match card acara lain yang bakal berlangsung sebulan lagi. 

xtremeRules_SheamusPriest-6cf6871eee18a57e3645431d3acb9a91
Saking stressnya superstar, jadi banyak botch tuh!

 

Acara ini hebat… sebagai background noise. Kayak, kalo kita lagi sibuk tapi gak mau sepi, maka acara bisa diputar untuk menghiasi suasana. Cukup sesekali aja dilirik, pas lagi ada yang seru, atau pas superstar favorit kita lagi nampil. Dan memang persisnya begitulah keadaan WWE sekarang. Gak lebih sebagai background noise di tengah bangkitnya skena gulat-hiburan. Di sana-sini, acara gulat lain sibuk menampilkan terobosan. Bikin riak dengan entah itu berita hiring, ataupun match-match dahsyat. Tapi WWE masih bergeming. Mereka seperti menolak percaya bahwa mereka sekarang punya kompetitor. Mereka ngegarap show, tetap dengan mindset tidak ada kompetisi. Sehingga hasilnya, ya, acara mereka jadi seperti Normal Rules. Terasa tidak signifikan. Tidak penting dan tidak relevan lagi untuk diikuti.

Coba kita lihat. Hal penting yang terjadi dalam Normal Rules cuma dua. Rematch Becky Lynch dengan Bianca Belair (yang berujung dengan kembalinya Sasha Banks) dan Lily si boneka misterius yang RIP (alias disobek-sobek oleh Charlotte). Selain itu, dengan tidak adanya pergantian juara, tidak adanya gerak maju storyline, dan dengan akhiran yang sebenarnya sudah kita ketahui, match dalam acara ini semuanya tidak ada kepentingan lagi. Di sinilah WWE itu salah. Mereka harusnya membuat stipulasi untuk mengangkat derajat pertandingan-pertandingan tersebut. Setidaknya bikin mereka unik sehingga ada kepentingan untuk ditonton. Tapi kan, tidak. Dibiarkan hampa. Tinggal superstar sendiri yang sibuk cari cara dan melakukan yang terbaik. Dan bahkan dua yang penting itu, bisa jadi berujung jadi biasa-biasa aja di tangan penanganan WWE yang cuek bebek sama kompetisi. Kembalinya Sasha bisa saja berujung jadi another Triple Threat. Sedangkan Lily yang robek, bisa jadi hanya penting di hari ini. Besoknya dilupakan. Karena WWE memang cenderung untuk gak-kontinu seperti itu. Lihat saja stori Alexa dan Fiend. Yang bolong-bolong karena WWE gak ngerti cara bikin storyline mereka. 

Beneran deh, WWE kayak benar-benar gak tau cara mengembangkan cerita dan karakter supernatural. Mereka kayaknya udah lupa. Undertaker has cast some really big shadow. Bray Wyatt malah dipecat di tengah-tengah karakter yang lagi hangat-hangatnya. Alexa Bliss gak jelas juntrungannya – setelah kalah dari Charlotte di sini apakah dia bakal jadi manusia biasa lagi, atau malah semakin ‘gila’. Dan Demonnya, Finn Balor. Maaan, The Demon benar-benar dibuat insignifikan.

Satu-satunya hal ekstrim yang hadir pada acara ini adalah betapa extremely insignificant-nya semua hal yang ada di dalam durasi nyaris tiga-jam ini.

 

Seperti yang sempat disinggung tadi, match Demon lawan Roman Reigns aja gak dipush. Malah di-devaluate oleh WWE dengan ngiklanin Reigns melawan Lesnar untuk Title Match di Arab. Bukan hanya itu, leading up ke Normal Rules ini, Reigns malah dibuat sibuk meladeni Big E dan New Day ke Raw. Balor ditinggal gitu aja. Dan si Balor ini udah dicuekin sedari SummerSlam kemaren, di mana dia seharusnya adalah penantang tapi kemudian diambil alih oleh John Cena. Match Reigns melawan Demon Balor dijadikan main event di Normal Rules, meskipun kita semua sudah tahu siapa yang bakal menang. Sekali lagi, ini harusnya jadi tugas WWE untuk menyiapkan kejutan di match tersebut. Supaya ada sesuatu yang bisa kita dapat dari menontonnya. Dalam kata lain, keberhasilan match ini tergantung dari alur atau kejutan yang sudah disiapkan oleh WWE. Bagaimana mereka membuat kekalahan Demon Finn Balor menarik, tapi tetap respek sama karakternya, dan juga tidak membuat Roman Reigns terlihat lemah atau pengecut. Jika WWE benar-benar peduli sama acara ini, jika WWE mengenali kompetisi itu ada, pastilah mereka akan menyiapkan storyline yang keren, menyiapkan aksi seseru yang mereka bisa. Like, push superstar sedikit lebih jauh in sense of apa yang bisa atau tidakbisa mereka lakukan/tampilkan. Tau dong apa yang dipilih WWE sebagai penutup dan konklusi untuk match yang sebenarnya sudah tidak perlu kita tonton lagi ini?

It was shit!!

Demon Balor jatuh dari atas turnbuckle karena talinya copot. Izinkan aku meminjam kata-kata Randy Orton sebentar. “Stupid! Stupid! STUPID!!” Dikeroyok oleh Bloodline jelas lebih respekful buat Demon Balor ketimbang jatuh sendiri kayak gini.

xtremewwe-finn-balor-demon-extreme-rules-finish
Bukan hanya Lily yang RIP di acara ini

 

Selama ini kita percaya ungkapan yang bilang bahwa gak ada superstar yang lebih besar daripada WWE. Bahwa WWE-lah yang meng-create superstar. Tapi kali ini, di acara Normal Rules ini, keliatannya adalah superstar yang berusaha mati-matian mengangkat WWE (also, mati-matian menjaga pantat sendiri supaya gak dipecat). Karena pada ppv yang sialnya kita telah tonton ini, sama sekali tidak terasa keinginan WWE untuk mengangkat lebih. Melainkan sekadar, melangsungkan acara saja. Mereka bahkan tidak mau susah-susah untuk live it up to the name of the show. Pertandingannya tetap terasa seru, ya karena WWE sekarang memiliki superstar kelas profesional. WWE boleh saja berpikir mereka adalah perusahaan gulat nomor satu, yang menghasilkan superstar keren dari produk yang keren. But I do believe, WWE sekarang gak punya produk yang bagus. Mereka cuma punya superstar keren. Dan seharusnya mereka lebih memperhatikan superstar-superstar tersebut dengan memberikan mereka playground yang lebih asyik dan memancing penampilan maksimal. The Palace of Wisdom sebenarnya menolak untuk memilih karena WWE sendiri kayak gak berusaha, tapi demi menghormati para superstar, kami tetap memilih dan menobatkan Bianca Belair dan Becky Lynch sebagai MATCH OF THE NIGHT

 

 

Full Results:

1. TAG TEAM The New Day mengalahkan AJ Styles, Omos, dan Almighty Bobby Lashley
2. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP The Usos bertahan dari The Street Profits
3. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte Flair tetap juara ngalahin Alexa Bliss
4. UNITED STATES CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT Juara Bertahan Damien Priest menang atas Sheamus dan Jeff Hardy
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Bianca Belair menang DQ dari Juara Becky Lynch saat Sasha Banks datang ikut campur
6. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP EXTREME RULES Roman Reigns retains over The Demon Finn Balor

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

SummerSlam 2021 Review

 

Pekan menjelang 21 Agustus merupakan pekan paling heboh bagi penggemar olahraga hiburan pro-wrestling. Ya, meski diawali dengan kembalinya CM Punk ke ring promosi gulat sebelah (setelah tujuh tahun absen karena merasa getir dan makan ati sama bisnis yang ia geluti ini), tapi WWE sebenarnya memegang kunci untuk mengapitalisasi keriuhan penonton/penggemar gulat yang terbakar kembali semangatnya. Akan sangat gampang bagi WWE untuk menyambung euforia tersebut dengan suguhan dan kejutan yang lebih keras lagi, sebab 21 Agustus sudah dimiliki oleh mereka. SummerSlam yang sudah lama dijargonkan sebagai ‘Pesta Terbesar di Musim Panas’ tak pelak akan dihadiri oleh penonton gulat yang enggak sabar, bukan saja untuk melihat kelanjutan/puncak dari beberapa match yang supergede (dream matches kalo boleh dibilang), namun juga enggak sabar untuk melihat langkah counter dari WWE kepada promosi gulat saingannya tersebut.

Antisipasi membendung gede, dan kini semuanya terserah kepada Vince McMahon dan pasukannya!

summerb9b90cc46d000557-600x338
And yet, they still did this

 

Dan dalam sense menutup pekan heboh musim panas, WWE memang melakukannya dengan gemilang. Partai Utama SummerSlam ini adalah pertandingan impian antara dua anak-emas, dengan didasari oleh storyline yang benar-benar mumpuni. Setidaknya kali ini pertemuan antara Roman Reigns dengan John Cena (fresh from The Suicide Squad!) clear dalam peran mana yang baik, mana yang jahat. Reigns dalam selang waktu yang cukup lama meneror Smackdown dengan reign kejuaraan yang licik, tapi juga kuat. Mengakar kepada pandangan sinisternya soal kepala keluarga. Ini mendapat tantangan yang luar biasa ketika John Cena, de facto leader dari generasi pegulat WWE era modern, kembali untuk memberi Roman Reigns pelajaran. Cerita pertemuan kedua nama gede ini aja udah exiciting. Ini kayaknya pertama kalinya, sejak waktu yang lama, aku nonton partai utama starring John Cena dengan semangat. Aku bahkan excited sama kaos baru John Cena yang mash up ama game Mario Bros 3!

Bahkan kesalahan WWE mengadakan stipulasi yang membuat pertandingan mereka jadi ketebak hasil akhirnya (“Jika Reigns kalah, dia keluar dari WWE” – iye iyein aja WWE membiarkan hottest superstar mereka hengkang) hanya mengurangi sedikit keseruan match ini. Match yang udah kuat mengakar karena tiga hal. Storyline yang udah mengakar kuat. Roman Reigns yang aksi dan karakter-work nya semakin kuat serta believable. Serta John Cena yang ngehype jalannya pertandingan dengan pendekatan seolah dia sedang akting dalam film laga! Serius, perhatiin deh Cena di match ini aktingnya ‘lebay’, misalnya ketika dia menyadari itungan wasit dan bergegas menarik tubuh Reigns yang tepar abis kebanting di meja komentator ke atas ring. Besides tiga hal itu, ada satu lagi yang disimpan WWE sebagai kejutan paripurna. The Return of Brock Lesnar!! Ini arena pecah. Hype itu di ubun-ubun ketika Lesnar datang right to Reign’s face. Reign yang langsung ditarik mundur oleh Paul Heyman; ya, Paul Heyman yang sebelum ini kita semua kenal sebagai advokat untuk Lesnar. The Drama!!!

summer841504508
Bray Wyatt ternyata enggak dipecat. Tapi difusionkan dengan Brock Lesnar!!

 

Partai lain yang bikin excited dan dilakukan dengan benar oleh WWE adalah Seth Rollins lawan Edge. Feud yang apinya dimulai sejak tujuh tahun yang lalu. Saat batang leher Edge berada dalam belas kasihan pijakan kaki Rollins. The Architect didn’t pull the trigger, dan di pertandingan ini, Rollins bersumpah dia akan melakukannya. Di lain pihak, Edge mengakui kejadian tersebut membuatnya masuk ke tempat gelap dalam dirinya. Tempat gelap yang sudah lama dia tinggalkan. Dan kita dapat lagu entrance The Brood yang serem itu menghiasi seteru mereka ini! Keren adalah satu kata yang kupakai untuk menggambarkan konflik mereka. Edge yang menggunakan kalimat pertama yang ia ucapkan di atas ring WWE untuk mengintimidasi Rollins menambah banyak kepada bobot cerita mereka. Eksekusi matchnya dilakukan dengan perfect. Sejak dirinya clear untuk beraksi lagi, Edge sebelum ini selalu berusaha membuktikan diri. Match-match dia semuanya kepanjangan. Kali ini tidak. Edge tampak lebih fokus kepada yang actually bisa dia lakukan ketimbang membuktikan diri. Dan hasilnya sebuah match yang seru dan intens. Rollins di sini bertugas sebagai algojo; dia terus mengincar leher belakang Edge. Match mereka jadi ada ritme dan tensi, dan purpose. Inilah yang membuatnya enjoy untuk diikuti. Kita peduli sama setiap gerakan, bantingan, dan counter yang dilakukan.

Keseruan dan physicality match ini diikuti ketat oleh pertandingan Damian Priest melawan Sheamus. Ini melampaui ekspektasiku. Pertandingan mereka nyaris kayak pertandingan gede yang dibuat oleh acara NXT. Mereka saling bergantian mengenai lawannya dengan gerakan-gerakan yang terlihat sakit. Aksinya memang tak sempurna, karena sesekali kita temukan gerakan yang timingnya kurang pas. Either Sheamus tampak menunggu terlalu lama, atau Priest kagok dikit sebelum nyerang. Tapi kalo mengingat ini adalah dua orang berbadan gede yang berantem, kekagokan dan semua itu tadi malah menambah ke aspek realisme yang dipertontonkan. Pertandingan mereka ini terasa seperti yang gak diniatkan untuk bagus, tapi Sheamus dan Priest give it all and make it good.

Dua pertandingan Tag Team yang dijadwalkan mestinya mencontoh hal tersebut. Kejuaraan Tag Team dari Smackdown adalah soal keluarga, sedangkan yang dari Raw adalah soal persahabatan. Mereka sama-sama punya tema, sama-sama melibatkan tim yang sudah terbukti sanggup bikin penonton melotot menatap. Namun kedua pertandingan tersebut hanya berakhir secukupnya. Asal sudah memenuhi fungsi saja. Orton dan Riddle memuaskan penonton lewat kerja sama mereka menumbangkan Omos (dan AJ Styles). Kembar Uso membuktikan mereka bisa kembali kompak sehingga bisa memberi pelajaran pada duo ayah-anak Rey dan Dominik. Match mereka gak pernah terasa lebih besar daripada itu. Aksi dan alurnya pun standar-standar aja.

Itulah, WWE di sini punya kesempatan untuk all-out melakukan counter yang heboh. Mereka punya penutup yang keren, tapi perjalanan menuju klimaks tersebut tidak benar-benar digarap dengan baik. WWE masih pada formula selang-seling antara pertandingan bagus dengan pertandingan cooling-down. Tapi kali ini, cooling downnya agak sedikit kebanyakan. WWE memang punya counter-measure, tapi mereka meletakkannya ke tangan yang salah.

 

Aku yakin gak satupun dari lima puluh ribu penonton di arena itu yang kepikiran bahwa Goldberg lawan Lashley ternyata akan berat di drama. Apalagi drama yang ‘protagonis’nya adalah Goldberg. Dan anaknya. Yang masuk gitu aja, dan gak bisa akting! See, kecenderungan WWE (yang lama-lama bisa jadi penyakit) adalah mereka lebih memilih menampilkan kejutan dibandingkan mengambil langkah yang benar tapi telah diduga oleh penonton. WWE tu kayak alergi menuruti keinginan penonton. Kita ingin Lashley menang dari Goldberg, dalam match yang ‘beneran match’. WWE memberikan match yang ternyata tak lebih dari cutscene dalam video game, Lashley memang menang tapi matchnya gak penting, melainkan cuma untuk memperpanjang story. Sebenarnya ini bagus untuk membangun karakter beringas Lashley, tapi bahkan untuk itu saja pun WWE kayak ngasal aja. Editing Lashley unleash kursi, misalnya, direkam dengan frantic alias terlalu banyak cut. Dramanya jadi gak kenak.

Gulat itu mesti imbang, akting dan aksi. Showmanship dan in-ring skill. Dalam match Jinder Mahal lawan Drew McIntrye kita akan melihat gimana parahnya kalo keseimbangan tersebut gak ada. Matchnya jadi datar sekali. Seteru itu mestinya personal buat Mahal dan Drew, apalagi karena mereka dulunya satu tim. Tapi personal itu sama sekali gak kelihatan dalam pertandingan mereka. Melainkan cuma bag-big-bug yang bahkan gak seru-seru amat. Karena keduanya gagal dalam menceritakan. To their defense, mungkin mereka berdua juga bingung sama psikologi match karena WWE juga gak bener dalam ngedevelop feud tersebut. WWE malah membuat inti dari masalah mereka adalah soal rusak-rusakin barang. Beda lagi kasusnya dengan Alexa Bliss lawan Eva Marie. Dua superstar ini harusnya adalah karakter yang hebat di akting. Mereka seharusnya membuktikan permainan akting mereka bisa membuat pertandingan mereka menarik, menutup kekurangan di departemen aksi. BUT, akting mereka di sini ternyata gak kalah buruknya. Apalagi Eva Marie. Tidak ada intensitas dalam cerita yang mereka sampaikan. Bliss mencoba sekuat tenaga, tapi ternyata dia berakting ngomong sama boneka masih lebih menarik dan meyakinkan dibandingkan dia berakting sama Eva Marie. 

summerbliss-lilly-e1629597888172
Jangan-jangan kerusakan teknis yang terjadi sana-sini di arena itu adalah ulah Lilly?!!

 

Ngomong-ngomong soal superstar cewek, di sinilah SummerSlam yang paling failed. WWE once dikenal sebagai promotion dengan divisi cewek terbaik. WWE seperti menyangka di situlah kesempatan mereka menjegal pesaing, sayangnya justru dalam upaya mempertahankan itu, WWE jadi terjegal sendiri. WWE jadi gak berani ngambil resiko, dan memilih untuk menyerahkan kembali kepada superstar seperti Charlotte, dan Becky Lynch (Ya, Becky returns di acara ini), superstar yang sudah terbentuk, untuk menjadi ujung tombak. Cara pengembalian kepada Charlotte dan Becky itulah yang dilakukan salah oleh WWE.

Dua kejuaraan cewek dalam acara ini sama-sama membuat superstar muda yang butuh untuk dipush dan dibentuk, kalah dalam cara yang merusak momentum karakter mereka. Pada Raw, Nikki A.S.H kalah clean, dia tap out kepada Charlotte, padahal itu pertandingannya adalah Triple Threat. Umum kita ketahui, pertandingan Triple Threat biasa diadakan untuk melindungi sang juara. Supaya title bisa pindah, tanpa membuat sang juara bertahan terlihat lemah. Yang juara itu gak kalah dipin atau submit. Nah, di match SummerSlam ini, Charlotte bukan saja mengalahkan Nikki yang juara bertahan, dia juga membantai Rhea Ripley – another young star in the making. Ini overpush yang keterlaluan.

Tapi yang lebih parah adalah, kejuaraan cewek di Smackdown. Sebagai pengganti Sasha Banks yang entah karena Covid atau apa, Bianca Belair harus melawan penantang baru. Tadinya yang datang adalah Carmella, tapi kemudian muncul Becky Lynch. Penonton pun ke-hype. Bianca setuju untuk melawan Lynch. Bianca Belair yang baru-baru ini dapat penghargaan atas matchnya di WrestleMania, yang dipush gede-gedean sebagai EST saat feud dengan Bayley, yang bisa ngangkat dua orang sekaligus, dibikin kalah disucker punch dan dimanhandle oleh Becky Lynch dalam 20 detik saja (jika kita anggap kata-kata Michael Cole sebagai kebenaran, maka nama jurus baru Becky Lynch yang mirip jurus The Rock itu adalah The Manhandle Slam). Booking yang sangat mencederai karakter Bianca. WWE, sekali lagi, seperti alergi menuruti keinginan penonton – melihat match beneran antara EST melawan The Man, yang bisa saja mereka bikin saat itu. Tapi enggak. WWE memilih cara yang paling merugikan pemain barunya. Heck, ada Carmella juga di sana, mereka bisa saja bikin ini Triple Threat dan membuat Lynch ngepin Carmella instead. Dari cara kejadiannya berlangsung, Lynch seperti diniatkan untuk jadi heel. Tapi, dengan membuatnya mengorbankan superstar yang lebih butuh untuk ‘dijaga’, yang jadi heel di sini – di mata penonton – justru adalah bookingan WWE itu sendiri.

 

 

 

 

Dalam situasi persaingan yang semakin ketat, WWE seharusnya mengambil langkah yang lebih bijak dalam memperlakukan bintang-bintangnya. SummerSlam mau tak mau akan dipandang sebagai langkah counter dari WWE kepada pesaing. Setidaknya jadi langkah untuk menunjukkan WWE really care about karakter, dan produk mereka secara overall. Kejutan-kejutan memang menyenangkan. Tapi dalam konteks WWE, kejutan bisa berarti superstar favoritmu bisa kalah atau malah dipecat kapan saja. SummerSlam ini udah benar-benar kayak mencerminkan situasi WWE seputar bagaimana mereka menghandle olahraga hiburan ini. Mereka butuh untuk berhenti melempar dadu, dan menjadi benar-benar serius. Dari sekian banyak match di sini, yang benar-benar enjoyable untuk wrestlingnya hanya, dua atau tiga match. Selebihnya datar, enggak spesial, bahkan gak sedikit yang gak jelas poinnya apa – both di dunia hiburan dan di dunia olahraga-hiburan. Untuk pertandingannya sendiri, Edge melawan Seth Rollins kunobatkan sebagai sebagai Match of the Night.

 

 

 

Full Result:

1. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Riddle dan Randy Orton jadi juara baru ngalahin AJ Styles dan Omos
2. SINGLE Alexa Bliss menang dari Eva Marie 
3. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Damien Priest merebut sabuk Sheamus
4. SMACKDOWN TAG TEAM CHAMPIONSHIP Jimmy and Jey Uso bertahan dari Rey Mysterio dan Dominik
5. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP Becky Lynch ngesquash juara bertahan Bianca Belair
6. SINGLE Drew McIntrye defeat Jinder Mahal
7. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP TRIPLE THREAT Charlotte jadi juara lagi, ngalahin Nikki A.S.H dan Rhea Ripley
8. SINGLE Edge mengungguli Seth Rollins 
9. WWE CHAMPIONSHIP The All Mighty Bobby Lashley menang karena Goldberg cedera
10. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Roman Reigns tetap juara menang atas John Cena

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 


We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

Money in the Bank 2021 Review

 

Sebagai manusia kita ngertilah soal keselamatan dan resiko. Sedapat mungkin, kita biasanya nyari yang resikonya paling kecil, like, kalo lagi nyebrang kita akan cenderung untuk milih nunggu ampe benar-benar kosong sebelum menyeberang daripada harus berjalan cepat-cepat di antara seliweran kendaraan dengan resiko tertabrak. Makanya, gak banyak dari kita yang bisa ikut main-main saham. Dalam investasi keuangan, ada yang namanya risk dan reward, dengan prinsip semakin tinggi resiko, maka rewardnya pun akan semakin gede pula. Kenapa kita ngomongin ini di artikel gulat? Karena WWE punya pertandingan yang juga berhubungan dengan ‘money’ dan prinsip risk-reward tersebut.

Pada Money in the Bank – sebagaimana yang diberitahukan dengan epik oleh video pembuka acara ini – resiko itulah yang menjadi reward. Ketika kalian harus bersaing dengan tujuh superstar lain, berebut naik tangga untuk meraih koper berisi kontrak kejuaraan, mau tak mau kalian harus mengambil semua resiko. Cedera, luka, patah tulang, semua itu akan menjadi reward, bersama dengan kesempatan emas. 

 

Inilah kenapa Money in the Bank selalu jadi jaminan seru (kecuali mungkin MITB tahun lalu yang lebih mendekati ke arah lucu). Hampir dipastikan, kita bakal mendapat aksi-aksi seru karena para superstar akan ngegas melakukan apa saja dengan tangga-tangga tersebut untuk memastikan lawan-lawannya tetep bobok cantik di lantai. Faktor lain yang bikin seru adalah bahwa biasanya pemenang pertandingan ini tidak terduga. Bahkan jika bisa diduga pun, pemenang MITB biasanya selalu adalah superstar fresh alias wajah baru dalam title pictures. Karena memang konsep MITB difungsikan sebagai ‘tangga’ untuk menaikkan talent papan tengah menjadi superstar papan atas. Main Eventer. Dan dua faktor seru itulah yang persisnya kita dapatkan dalam dua pertandingan MITB pada acara Money in the Bank kali ini. 

Nikki A.S.H (Almost Super Hero) memenangi partai MITB cewek dalam sirkumtansi yang bener-bener cocok dideskripsikan sebagai ‘tak-terduga’. Bukan saja karena gimmicknya yang sekarang ternyata lebih dianggap serius ketimbang gimmick ‘cewek edan’ dia yang dulu, tapi juga karena kemenangan Nikki – cara match ini berakhir – terasa sangat berbeda sekali. People surely will be divided by this. Kalian bakal either suka, atau enggak. Kemenangan Nikki terasa kayak playful take dari skenario yang mungkin pernah kita ucapkan saat nonton drama MITB. You know, sekali dua kali mungkin kalian pernah ‘capek’ juga ngeliat superstar ngambil koper kelamaan dan sibuk ganti-gantian manjat, sehingga kalian bilang “Langsung ambil aja kek”. Kemenangan Nikki terasa kayak seperti itu. Hebatnya, in the end, momen itu tetep terasa spesial. Karena keseluruhan match-nya sendiri memang enggak keren-keren amat. In fact, partai MITB cewek ini tampak lebih soft. Impact dari aksi-aksinya banyak yang ditolong oleh cut camera. Ironisnya, WWE mungkin gak mau ngambil resiko lebih banyak terhadap superstar cewek dalam waktu Bayley cedera cukup lama ini. Tapi dalam cahaya yang lebih positif, aku percaya dalam partai pembuka show ini – yang juga berarti partai pembuka dari acara yang akhirnya bisa ditonton langsung oleh fans ini – WWE pengen ngepush karakter ketimbang aksi. Makanya kita lihat Liv Morgan dan Alexa Bliss, yang sama-sama fans favorite, diberikan kesempatan bersinar dengan character-work mereka. Begitu juga dengan Tamina dan Natalya yang perlu untuk membangun kharisma sebagai juara tag-team.

mitbd3cb7ed531b58f17-600x338
WWE mengganti penyebutan Nikki menjadi Nikki A.S.H karena Nikki Ash kedengarannya kayak Nikki pan(sensor)

 

Sebaliknya pada partai MITB cowok yang muncul belakangan, barulah fans mendapat apa yang sudah lama diinginkan. Single push untuk Big E! Fans sudah lama menunggu gebrakan besar seperti ini sejak Big E dipisah dari tim New Day. Tapi dari yang terlihat di acara ini, aku punya dugaan kalo chapter Big E dengan rekan-rekan New Day bakal punya lanjutan sedikit. Aku akan ngomongin nanti, sebentar lagi, saat bahas match Kofi Kingston dengan Bobby Lashley.  For now, match MITB partai cowok ini sendiri juga sangat seru. Penuh oleh sekuen di mana kedelapan superstar akan berusaha naik tangga bergantian, menyerang dengan moves gede bergantian, dan setiap sekuen tersebut selalu diakhir dengan ‘punchline’ yang benar-benar keras. Salut buat Kevin Owens yang paling banyak kebagian jadi receiving end ‘punchline-puncline’ tersebut. Pertandingan ini juga dipakai untuk meneruskan storyline antara Drew Mcintyre dengan Jinder Mahal (yang bukan peserta match) sehingga jadi punya layer dan kedalaman. Pertandingan ini bahkan terasa extend ke luar sebab WWE menggunakan sket komedi sebelum pertandingan ini dimulai. Sket yang berfungsi untuk memperkuat karakterisasi beberapa superstar yang akan berlaga, yang nantinya menambah konteks adegan saat mereka beneran berantem di ring. Sket komedi itu berupa Riddle dan Shinsuke Nakamura, bersama Rick Boogs, ngerock bareng nyanyiin lagu tema Randy Orton, dengan Kevin Owens ‘terpana’ – ngeliatin sambil kayak, “Ini lawan gue nanti? ckckck” – di belakang mereka. I genuinely laughed at that scene.

Demi menyambut fans kembali ke arena, WWE tampak lebih bermurah hati. Mereka sudah mempersiapkan fans untuk pulang dengan excited dan bergembira. Karena tiga match terakhir acara ini berlangsung dengan sangat menghibur. MITB cowok yang penuh aksi-aksi tadi, lalu match Rhea dan Charlotte yang kuat banget di storytelling (ugh yea, aku gak nyangka aku harus bilang suka sama match yang ada Charlotte-nya) dan main event antara Reigns lawan Edge yang penuh drama. Plus WWE punya kejutan di akhir match tersebut.

Ada begitu banyak development dari awal hingga ke akhir pertandingan Rhea Ripley melawan Charlotte. Konteks seteru mereka dilandaskan dengan gemilang oleh video package, dan kemudian pertandingannya sendiri sudah seperti film! Alur match mereka udah kayak ada babak-babak tersendiri. Dari Rhea yang confident, ke Charlotte yang lebih ‘senior’ mulai menghormatinya, ke keduanya sama-sama desperate, dan berakhir pada low point pada kedua karakter, dengan karakter yang lebih licik berhasil memenangkan pertandingan. Aku gak suka sama Charlotte – is not even gak suka karena heelnya dia bagus – Aku juga berpikir Charlotte gak perlu nambah angka kejuaraan. Tapi both Charlotte dan Rhea bercerita dengan baik di sini. Mereka melakukannya dengan excellent sembari beraksi dengan sangat-sangat kuat. Aku selalu suka dengan pertandingan yang bercerita dengan baik, seperti ini. Dan kedua superstar berhasil. Pertandingan mereka benar-benar terlihat seperti kejuaraan tingkat elit. Not even chant “We want Becky” dari penonton membuat mereka slow the match down.

Main event, however, akan membuat kita bernostalgia sama pertandingan di era Attitude dan Ruthless Agression. Karena punchlinenya adalah drama seperti yang biasa kita lihat pada WWE jaman 2000an. Interferensi curang, wasit yang gak sengaja terjatuh, berantem brutal hingga ke pinggiran ring, susul menyusul finisher. Paruh akhir Edge melawan Roman Reigns superseru! Perfect match untuk partai terakhir, kejuaraan pula. Tapi match ini punya dua masalah. Pertama, paruh awalnya lambat banget. Dengan cerita mereka yang sudah memanas, seharusnya pertandingan dimulai dengan langsung ngegas aja. Kedua adalah durasi yang kepanjangan. Pertandingan Edge, sejak dia kembali berlaga di atas ring, selalu punya masalah ini. Edge no doubt punya passion tak tertandingi terhadap gulat. Kita tahu dia cinta sama bisnis ini, dan dia rela ngambil resiko supaya bisa terus melakukan apa yang ia cintai ini. Sehingga, menurutku, Edge sebenarnya tidak perlu lagi untuk membuktikan semua itu. Dia enggak perlu untuk melakukan match yang ekstra panjang. Kita semua respek Edge, dan percaya dia lebih dari sekadar “pemain lama yang balik nongol sesekali”. But I do think there’s an ‘ego’ here. Sama kayak nulis, yang kadang-kadang sebenarnya kepanjangan dan kita perlu untuk mengedit diri sendiri. Aku pikir, Edge juga perlu untuk ‘mengedit’ pertandingan yang hendak ia lakukan seperti demikian.

mitblashmitb-1000x600
New Day perlu bikin game sendiri sebagaimana Bobby Lashley perlu untuk nge-squash Kofi Kingston di sini

 

Dua pertandingan lagi yang belum kusebut sebenarnya enggak jelek, cuma memang adalah low-point dari acara ini. Kejuaraan Tag Team antara A.J. Styles dan Omos melawan Viking Raiders seharusnya bisa jadi kontes yang brutal, tapi yang kita lihat hanyalah match yang kikuk.  Secara formula, tag team ini solid. Tapi karena sebagian besar Omos-lah yang ada di driver seat, maka kekikukan itu kentara. Omos benar-benar mengintimidasi saat dia diam, dan saat dia dalam mode menyerang. Namun begitu dia harus ngesell gerakan lawan, Omos ini hampir sama ‘anggun’nya dengan Great Khali. Dia mestinya bisa mengimprove ini dengan diberikan kesempatan untuk mengeksplor sisi vulnerable karakternya. Jangan melulu diberikan tugas untuk ngesquash.

Berbeda dengan Lashley lawan Kofi Kingston, yang memang harus dibuat sebagai squash. Kofi harus dihajar habis-habisan di sini, karena ini adalah cerita Lashley tentang dia yang membuktikan dirinya tidak berubah menjadi soft. Ini adalah push bagi Lashley, untuk mempersiapkan dirinya menghadapi Goldberg, seperti yang sudah diberitakan. Membuat Lashley sedikit kepayahan melawan Kofi aja bakal membuat kredibilitas partai gede itu turun. Lashley butuh untuk benar-benar tampak kuat. Kita toh berharap Lashley yang bakal menang atas Goldberg, kan? Dibantainya Kofi juga membuka peluang untuk satu lagi storyline, yakni Big E. Seperti yang sudah kusinggung dikit di atas. Saat kemenangan MITB Big E, komentator sempat menekankan bahwa Big E bisa menantang juara brand yang ia pilih. Mengingat Reigns bakal sibuk dengan John Cena yang made a very surprising and welcome return, Big E bisa saja mampir ke Raw untuk ‘menyelamatkan’ teman-temannya. Benturan physical antara Lashley dan Big E certainly akan membantu kedua-duanya untuk menjadi karakter yang lebih kuat.

mitbe8a705f436ba6b7a-1200x675
ICONIC!!

 

 

2021 benar-benar tahun yang aneh. Aku gak nyangka bakal senang lihat John Cena balik, bakal gak marah lihat Charlotte menang sabuk lagi, dan aku gak nyangka bakal bilang match yang involving A.J. Styles adalah match yang paling lemah dalam satu acara WWE. But hey, mungkin ini justru menunjukkan betapa standar Money in the Bank 2021 memang tinggi! Storyline demi storyline fresh terset up dengan baik untuk membuat kita excited menunggu SummerSlam, ada Seth Rollins-Edge, Roman Reigns-John Cena, Alexa Bliss-Nikki, possible Big E-Lashley, dan bahkan Jinder Mahal-Drew McIntyre. Untuk penilaian, well, meskipun Charlotte dan Rhea certainly lebih kuat, tapi karena aku gak suka Charlotte dan ini seharusnya subjektif, maka aku menobatkan Money in the Bank cowok sebagai MATCH OF THE NIGHT.

 

 

Full Results:

1. WOMEN’S MONEY IN THE BANK LADDER MATCH Nikki A.S.H mengungguli Alexa Bliss, Liv Morgan, Asuka, Zelina Vega, Tamina, Natalya, Naomi
2. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP Juara bertahan A.J. Styles dan Omos mengalahkan Viking Raiders
3. WWE CHAMPIONSHIP Almighty Bobby Lashley menghajar Kofi Kingston 
4. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte merebut sabuk dari Rhea Ripley
5. MEN’S MONEY IN THE BANK LADDER MATCH Big E dapat koper ngalahin Riddle, Ricochet, Seth Rollins, Kevin Owens, Shinsuke Nakamura, John Morrison, Drew McIntyre
6. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Roman Reigns retain atas Edge

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

Hell in a Cell 2021 Review

 

Terhitung hingga ulasan ini beres ditulis, ada empat puluh delapan pertandingan Hell in a Cell yang telah diselenggarakan oleh WWE sejak pertama kali diciptakan 24 tahun yang lalu. Dari otak Jim Cornette-lah pertandingan kandang neraka ini berasal. Cornette melakukan ‘lempar batu sekali, dua burung kena’ saat menciptakan itu.

Konsep Hell in a Cell ini originally bukan sebagai gimmick pertandingan semata, melainkan juga untuk memperkenalkan karakter baru. Idenya adalah mereka ingin munculin karakter baru yang seram dan kuat di luar batas wajar manusia sebagai counterfeit dari karakter Undertaker. Musuh-abadi dari pegulat dengan kekuatan supernatural tersebut. Jadi membangun situasi untuk mendukung ‘ilusi’ karakter baru tersebut, supaya penonton dalam sekali lihat bisa langsung percaya bahwa monster ini adalah ancaman yang legit untuk Undertaker. Jadi, mereka membuat kandang, menempatkan Undertaker dengan Shawn Michaels (juara saat itu yang suka bermain curang dengan dibantu oleh rekan-rekannya) untuk bertanding di dalam, dan ngebuild up kandang tersebut sebagai struktur kuat yang akan menjamin tidak akan ada yang bisa mengganggu dua superstar yang bertanding di dalamnya. Dan datanglah Kane. Monster dengan topeng, dengan lampu merah redup dan ilustrasi api seolah dari neraka. Mencabik pintu kandang dengan gampangnya. The rest are history. Cornette sukses berat membentuk Kane, dan Hell in a Cell itu sendiri sebagai yang akan diingat oleh penonton selamanya.

Kenapa aku malah membahas kejadian berpuluh tahun lalu alih-alih langsung ngereview pay-per-view yang baru saja kita saksikan? Well, tentu saja untuk membandingkan. Yang tentu saja berkaitan erat dengan menilik keadaan produk WWE sekarang ini. Hell in a Cell jadi studi kasus yang menarik, karena jelas sekali dari sejarahnya tersebut, pertandingan ini benar-benar dibangun dengan konsep yang baik. Pertandingan WWE di tahun segitu benar-benar terkonsep dengan baik. Di era modern ini, sebaliknya, Hell in a Cell hanya terasa sebagai environment. Gimmick tanpa ada bobotnya. Malah, Hell in a Cell berubah menjadi pay-per-view yang selalu ada setiap tahun; tidak lagi dilangsungkan karena kebutuhan skenario. Kayaknya langka sekali sekarang ada match Hell in a Cell yang benar-benar memanfaatkan struktur kandang itu sendiri, entah itu untuk storyline seperti yang dilakukan Jim Cornette pada awalnya, atau sekadar untuk hardcore-hardcorean seperti yang dilakukan oleh Undertaker dan Mick Foley.

Beruntungnya kita, dalam acara yang disebut sebagai pay-per-view terakhir yang berada dalam kandang Thunderdome ini (bulan depan WWE akan kembali tampil di depan penonton di dalam arena), dua match Hell in a Cell yang diberlangsungkan sangat mewakili HIAC di era kekinian dan di era lampau!

 

Pertama adalah main eventnya; Drew McIntyre lawan Almighty Bobby Lashley. Pertandingan Hell in a Cell mereka sangat terkonsep. Udah kayak match di jaman dulu itu. Di sini, kandang itu benar-benar kembali difungsikan sebagai ‘penangkal gangguan’. Dibuild-upnya adalah supaya Lashley tidak bisa dibantu oleh MVP, manajernya. Karena stake McIntyre juga dibuat gede; ini adalah kesempatan terakhirnya untuk menantang kejuaraan. Jika dia kalah, maka dia tidak bisa lagi menantanng kejuaraan ini selama masih dipegang oleh Lashley. See, ada desain di baliknya, ada stake dalam cerita. Inilah sebabnya kenapa partai ini berhasil membuat aku tertarik untuk nonton lagi. Not gonna lie, belakangan ini memang minatku untuk ngikutin Raw dan Smackdown berkurang jauh. Aku bahkan gak bergairah untuk mengulas WrestleMania Backlash bulan lalu – karena aku benar-benar benci sama namanya hahaha… Cerita Lashley dan McIntyre – walaupun pertandingan mereka kerap diulang-ulang – tak pelak membuat aku penasaran juga sama eksekusi konsepnya.

hiac20210620_HIAC_Bliss-c1b03933a430ade45d9cf464e2be6a43
Di samping itu, aku juga tertarik sama Bayley-Bianca, Alexa Bliss, dan Roman-Mysterio (yang sayangnya dicancel dari acara)

 

For the most part, the match was really great. Cerita dan konsep itu dengan cepat dipick up oleh kedua superstar yang memainkan ‘tarian’ dengan tempo cepat. Dan, katakanlah, brutal. Karena memang banyak menggunakan senjata-senjata, seperti kursi, kendo stick, meja, steel step, dan lain-lain. Mereka juga mainnya keras banget, jadi semakin terasa urgennya pertandingan ini. Terutama bagi McIntyre yang berhasil bikin dia kelihatan perlu banget untuk menang. Konsep Hell in a Cell itu dimainkan dengan baik saat ternyata justru McIntyre-lah yang membuat kandang itu bisa ‘dijebol’ oleh MVP. Sayangnya, cerita yang dimainkan di sini mulai terasa payah saat masuk ke pilihan ending. Dan inilah salah satu penyakit dari penulisan WWE jaman sekarang ini.

Mereka tau mereka punya talent-talent yang luar biasa. Mereka terbukti bisa memanfaatkan talent tersebut untuk match yang seru. Namun seringkali match akan berakhir kentang karena WWE gak punya visi storyline yang jelas. Mereka hanya mengulang formula yang sama. Sehingga banyak match WWE jadi terkesan jelek, berkat ending yang tidak memuaskan. McIntyre dan Lashley udahan lewat pin yang simpel. Begitu juga dengan Cesaro dan Seth Rollins yang matchnya kita saksikan cukup seru. The right person is winning, hanya saja cara kalahnya selalu entah itu terasa tidak konklusif, atau tidak membantu apa-apa terhadap superstar yang kalah.   

Contoh terparah dari kasus ini dapat kita lihat pada pertandingan antara Rhea Ripley melawan Charlotte. Man. Aku gak ngerti kenapa WWE terus saja memprotek Charlotte padahalnya harusnya mereka ngepush Rhea, si juara, yang actually disukai oleh penonton. Dalam match ini keliatan banget, Charlotte dibikin kuat sementara Rhea tampak seperti orang yang seperti berusaha keras untuk membuktikan diri berada di level Charlotte. Storyline kayak gini oke saat Rhea baru debut tahun lalu. Tidak sekarang. Match mereka berakhir awkward oleh DQ yang seolah Rhea terdesak banget. Partai mereka ini harusnya jadi final buat feud mereka, dengan dilangsungkan di Hell in a Cell. Tapi kita semua tahu, alasan match ini tidak di dalam kandang dengan aturan no-dq itu adalah karena WWE enggan membuat Charlotte kalah bersih.

hiacbobby-lashley-drew-mcintyre-hell-in-a-cell
Paduka Anak Emas sendiri sering membuktikan bahwa dirinya tak lebih pantas untuk dipush dibandingkan orang lain.

 

Partai Hell in a Cell kedua (meskipun lebih tepatnya pertama, karena jadi partai pembuka) tidak punya konsep. Persis kayak HIAC modern kebanyakan. Hanya pertandingan dengan senjata, di dalam kandang. Kandangnya tidak digunakan maksimal, paling cuma untuk benturin-benturin musuh dan dipanjat-panjat dikit. Namun toh, pertandingan ini tetap asik untuk diikuti karena Bayley (I called her ‘Lady Loki of WWE’) dan Bianca Belair benar-benar sudah matang dalam permainan karakter masing-masing. Terutama Bayley, karakternya sudah fleksibel banget. Sehingga, kalah pun gak bakal melukai karakternya. They know this dan benar-benar bermain sesuai keunggulan masing-masing. Kita melihat penggunaan rambut Belair dalam cara yang lumayan kreatif. Begitu juga dengan taktik heel Bayley yang gak kalah kreatifnya. Jika ini bukan Hell in a Cell, aku akan berikan nilai tinggi untuk match ini. Really. Satu-satunya hal bego di sini cuma Michael Cole yang sekali lagi membuktikan dia ngomentari match itu sambil baca skrip doang. Bayley belum ngambil double kendo stick aja, si Cole udah bilang duluan hahaha…

 

 

WWE memang masih jadi tempat tujuan jika kita mencari hiburan gulat yang gak sekadar aksi, tapi juga kuat di karakter. Cuma memang, nonton WWE ini kudu siap sebel aja. Karena bookingannya yang seringkali menurunkan nilai match-match yang tadinya sudah bagus. WWE bagus dalam gimmick match, tapi mereka terlalu cuek dan gampang banget mengorbankan konsep dan gulat itu sendiri. Match Alexa Bliss dan Shayna Baszler misalnya, it’s nothing melainkan cuma untuk nunjukin Alexa kini punya ilmu hipnotis/merasuki orang. Dua HIACnya ada yang kuat di konsep, tapi eksekusi malesin, dan ada juga yang menghibur tapi gak ada konsep. Pada akhirnya memang, gulat standar (tapi dimainkan dengan penuh passion dan chemistry) seperti yang disuguhkan – berkali-kali kepada kita – oleh Sami Zayn dan Kevin Owens lah yang menjadi MATCH OF THE NIGHT

 

 

Full Results:

1. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP HELL IN A CELL Bianca Belair bertahan sebagai juara atas Bayley
2. SINGLE Seth Rollins mengalahkan Cesaro
3. SINGLE Alexa Bliss ngalahin Shayna Baszler
4. SINGLE Sami Zayna beat Kevin Owens
5. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Charlotte menang DQ dari juara bertahan Rhea Ripley
6. WWE CHAMPIONSHIP HELL IN A CELL Almighty Bobby Lashley tetap juara mengalahkan Drew McIntyre 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

WrestleMania 37 -Night II Review

Meskipun ditambahin belakangan – alias ceritanya tak terasa berkembang natural karena seperti diubah dari rencana awal, tapi perseteruan antara Roman Reigns dengan Edge dengan Daniel Bryan tak pelak merupakan storyline terflesh-out yang dipunya oleh WrestleMania 37 secara keseluruhan. This is what we invested in the most. Pertandingan mereka ini benar-benar pantas mendapat posisi sebagai pertandingan terakhir. Sebagai main event. Main event di antara main event, kalo perlu. Makanya, WWE menempatkan ini pada Malam Kedua. Dan bicara soal storyline, pertandingan-pertandingan pada Malam Kedua ini memang punya cerita yang lebih terbentuk. Sebut saja seteru Randy Orton dengan The Fiend yang sudah dibangun sejak tahun lalu. Apollo Crews dengan Big E, yang bahkan sudah melewati satu pergantian arahan karakter dalam pengembangannya. Yang komedi seperti cerita teori konspirasi Samy Zayn aja cukup terbuild up. 

WrestleMania 37 Malam Kedua ini, di atas kertas, jadi terasa lebih solid. Padat oleh feud yang bukan cuma gede di nama-nama pemainnya. Apalagi, dengan absennya cuaca buruk yang mengganggu teknis, Malam Kedua diharapkan banyak penonton lebih baik daripada Malam Kesatu. Dan garis standar itu sudah diset dengan cukup tinggi oleh Malam Kesatu, yang sukses menghibur dan heboh walaupun sempat mengalami delay dan berbagai gangguan.

 

Nyatanya, Malam Kedua ini secara kualitas hiburan, dimulai dengan cukup bergelombang. Alias kurang begitu baik. Match horor antara Orton melawan The Fiend yang udah bikin penasaran banyak orang, ternyata enggak benar-benar sebuah match. Setidaknya, bukan dalam sense match yang punya akhir atau penyelesaian untuk feudnya. Match ini ternyata hanya jembatan untuk development berikutnya dari cerita The Fiend. Namun mengatakannya mengecewakan pun bagiku sebenarnya tidak tepat. Karena aku sudah punya dugaan, atau tepatnya kecurigaan. Karena selama ini pandemi ini match dari The Fiend selalu mengandalkan cut-cut teatrikal. Match dan storyline The Fiend yang karakternya supernatural itu didesain khusus untuk masa-masa arena enggak ada penonton. Sehingga WWE bisa bebas bereksperimen dengan trik-trik editing. Sedangkan, WrestleMania 37 sudah diisi kembali oleh penonton. Tanda tanya besar itu jadi muncul; bagaimana WWE melakukan match dan menyambung trik The Fiend ke depannya. Nah, inilah yang ternyata beneran jadi fokus oleh WWE. Orton melawan The Fiend di malam ini terasa sangat bland, karena basically tidak ada hal baru yang bisa mereka lakukan. Sehingga pilihan bagi WWE adalah menyingkat pertarungan, membuat penonton tetap hype dengan efek-efek pada entrance (The Fiend yang terbakar jadi sembuh, Alexa Bliss dengan kotak Jack-in-the-box gede), dan ‘mengganti’ arahan match pakai kejutan atau katakanlah twist dari segi cerita. Alexa Bliss mendistract Fiend, muncul lengkap dengan mahkota duri dan darah hitam mengalir deras dari keningnya.

wm9d0744c6-alexa-bliss-turns-on-the-fiend-as-randy-orton-wins-at-wrestlemania-37
Kenalin, Alexa iBliss

 

Adalah pilihan yang aneh dari WWE untuk menempatkan kejuaraan Tag Team Cewek sesudah pertandingan yang basically cuma promo-drama tersebut. Bukan apa-apa. Hanya saja aku tidak bisa mengingat ada penonton atau fans yang benar-benar minta pertandingan antara Shayna dan Nia, melawan Natalya dan Tamina. Heck, pertandingan ini adalah sambungan dari Malam Kesatu di mana Natalya dan Tamina memenangkan hak untuk menantang juara bertahan. Jadi pada dasarnya, build up pertandingan ini cuma satu hari. Permulaan yang benar-benar rough. WWE harus melakukan kerja ekstra keras membangun simpati kita kepada dua veteran, dua anak legend, dua superstar yang biasanya cuma jadi batu loncatan. WWE bahkan berusaha membuat kita peduli sama seteru antara Nia Jax dengan Tamina, yang pernah jadi rekanan tag team. In fact, Tamina-lah di sini yang dipush sebagai ‘tokoh utama’. And boy, sungguh kerja keras yang nyaris mustahil. Tapi bukan berarti tanpa hasil. WWE justru sebenarnya hampir berhasil dengan push dadakan ini. Aku toh tertarik juga menontonnya. Yang bikin match ini jadi datar, pada akhirnya adalah ke-sloppy-an eksekusi dari superstar.  Aksi di pertandingan itu rangenya mulai dari kayak ngebotch hingga serangan yang benar-benar telak (ampe bikin bibir berdarah!), karena low-key ngebotch itu hihihi….

Show ini pick up the pace setelahnya. Tiga single-match; Satu pertandingan papan-tengah, dan dua kejuaraan mid-card disusun beruntut untuk memastikan kita mendapat tontonan gulat yang berkualitas. Riddle dan Sheamus menyuguhkan kontes fisik yang absolutely entertaining dengan spot-spot gede nan berbahaya. Pertandingan mereka diakhiri dengan penyelesaian menggunakan kombinasi gerakan yang unik. Riddle pun ngesold dampaknya dengan meyakinkan. Dia terduduk bersandar di pembatas arena dengan mulut berdarah. Penilaianku untuk Riddle adalah oke. Pribadinya mungkin memang terlalu ‘sok-berattitude’ seperti yang dikabarkan, tapi sejauh ini dia tampak mau bekerja sama jika itu menyangkut aksi di dalam ring. Dan buatku, itu dulu yang penting.

Kevin Owens dan Sami Zayn, sudah bermain di  level khusus mereka sendiri. Mereka sudah begitu saling mengenal sehingga chemistry dan kekompakan (dalam pertengkaran) itu sudah natural. Mereka di sini berhasil membuat pertandingan yang sepertinya tadinya diniatkan untuk ‘komedi’ menjadi pertarungan legit. Dengan tentu saja tidak sedikitpun mengurangi nilai ‘menghibur’nya. Mereka berhasil membuat pertandingan mereka terasa spesial. Really, mereka gak butuh si Youtuber itu. Logan Paul memang gak menambah banyak untuk pertandingan ini. Dia gak terjun beraksi kayak Bad Bunny yang bikin orang surprise di Malam Kesatu. Surprise pada Malam Kedua ini justru datang di akhir pertandingan antara Big E dengan Apollo Crews. Match mereka dibikin singkat – bahkan mungkin terlalu singkat untuk live up to the name pertandingan Nigeria Drum Fight. Tapi pertandingan ini berfungsi sebagai bridge untuk melanjutkan feud, dan melakukan fungsi itu lebih baik dan memuaskan ketimbang pertandingan Orton dan Fiend di awal. 

wm20210411_WM37_RiddleSheamus_Alt--d0b0152d9fbd8df8a571af53ada17bf6
Sangat keras untuk sebuah pertandingan yang masalah utamanya adalah otoped.

 

Tapi acara ini dengan cepat kehilangan sensasi ‘big moment’nya. Match-match tersebut seru, tapi terasa normal. Semakin ke sini, aku semakin lupa sedang menyaksikan WrestleMania. Hal ini makin terasa pada match Kejuaraan Cewek dari brand Raw. Asuka melawan Rhea Ripley. Dua superstar dengan karakter yang cukup brutal (dibandingkan dengan average karakter superstar cewek yang lain), menyuguhkan pertandingan yang cukup keras, tapi rasanya datar. Kurang bumbu. Absennya cerita seteru yang compelling itu terasa banget di sini. Bahkan penampilan live rock yang mengiri entrance Rhea enggak berhasil mengangkat sensasi pada match ini. Tadinya kupikir ini merupakan kekurangan bagi acara. Namun lantas muncul kemungkinan baru. Bagaimana jika ternyata memang didesain seperti itu oleh WWE. Bagaimana jika WWE sengaja mengurangi intensitas match-match single yang actually bikin penonton penasaran tersebut. Tujuan apa? Supaya main event acara ini benar-benar sukses terasa gede. Bagaimana jika WWE memang sengaja menyimpan seluruh energi kita untuk pertandingan terakhir tersebut.

Ini tentu saja bukan perkiraan liar. Bertahun-tahun nonton WWE memang sudah terbukti, bahwa bukan rahasia umum lagi mereka seringkali mendesain urutan pertandingan untuk goal mempush up pertandingan utama. Menempatkan pertandingan cewek di antara dua pertandingan kejuaraan dunia, misalnya. Untuk kasus WrestleMania 37 ini, yang main eventnya sudah ‘tercemar’ oleh rewrite, yang udah berubah menjadi Triple Threat alih-alih Single Match (pertandingan satu-lawan-satu dipercaya sebagai lebih bergengsi), yang acaranya sendiri sudah dibagi dua dengan beberapa pertandingan filler ditempatkan di Malam Kesatu, jadi masuk akal kalo partai-partai yang berpotensi ‘steal the show’ harus dinerf oleh WWE sendiri. Seperti yang udah kusebut di atas, Roman Reigns dan Edge dan Daniel Bryan perlu untuk dipush-ulang, perlu untuk dikuatkan posisinya. This is the number one story right now. Sedangkan kita tahu, match tersebut mulai banyak dibecandain. Mulai banyak beredar meme soal Daniel Bryan memasukkan dirinya sendiri di dalam perkelahian apapun

wmEyPuUwYWEAEFy52
Kayak ini

 

Dan yang paling lucu ini:

wm168720053_1424098071281278_3347199088636487312_n

 

WWE ingin memastikan bahwa pertandingan tersebut tetap terasa berkelas. Dan mereka melakukan apapun yang mereka bisa. Dan mereka berhasil. Acara ini bergerak dengan tempo yang didesain oleh WWE. Main event pertandingan ini berhasil mengembalikan sensasi ‘big moment’ tersebut. Pertandingan tersebut berhasil mencuatkan cerita dramatis dari tiga superstar yang pulih dari sakit mereka, dan kini berebut spotlight. Tidak ada babyface cemen di sini. Tidak ada antagonis komikal di sini. Semua karakternya tampil dan berkembang dengan balance. Kita dengan gampang jadi peduli. Aksi-aksi mereka pun terdeliver dengan dahsyat. Baik Reigns, Edge, maupun Bryan semua bertanding seperti ini pertandingan terakhir mereka. Segitu emosionalnya pertandingan ini! Terdeliver dengan baik kepada kita karena kita sudah begitu siap, kita tidak lelah oleh berondongan keseruan. Dan kita meninggalkannya dengan semangat dan euforia gegap gempita. Ah, beginilah rasanya sebuah WrestleMania!!

 

 

 

Jadi, kalian bertanya bagaimana perbandingan Malam Satu dengan Malam Dua Wrestlemania 37? Well, jika kita melihat dari segi kualitas pertandingan satu persatu, Malam Kedua punya lebih banyak pertandingan seru nan berbobot. Tapi jika kita lihat secara overall sebagai sebuah acara hiburan, maka Malam Kesatu-lah yang membawa pulang piala. Sepertinya insiden badai dan segala ‘kekacauan’ yang menyertainya telah menjadi hal menguntungkan bagi Malam Kesatu. Karena jadi seperti mencuatkan dirinya sebagai sesuatu yang khusus. Apalagi karena itu adalah benar-benar pertama kalinya penonton bisa nonton kembali di stadion. Malam Kedua sedikit kurang terasa spesial karena WWE ingin memastikan main event mereka – setelah dua malam dan beragam match seru – tetap terasa spesial dan penonton enggak capek, jadi WWE sengaja menurunkan intensitas di tengah. Namun bagaimana pun juga, Kejuaraaan Universal antara Roman Reigns melawan Daniel Bryan melawan Edge berhasil menjadi Match of the Night. Of the Nights, malah, kalo boleh digabungkan.

 

 

 

Full Result:

1. SINGLE Randy Orton def. The Fiend Bray Wyatt
2. WOMEN’S TAG TEAM CHAMPIONSHIP Shayna Baszler dan Nia Jax berhasil bertahan dari Natalya dan Tamina 
3. SINGLE Kevin Owens ngalahin Sami Zayn
4. UNITED STATES CHAMPIONSHIP Sheamus merebut sabuk Riddle
5. INTERCONTINENTAL CHAMPIONSHIP NIGERIAN DRUM FIGHT Apollo Crews jadi juara baru mengalahkan Big E
6. RAW WOMEN’S CHAMPIONSHIP Rhea Ripley menghentikan reigns Asuka
7. UNIVERSAL CHAMPIONSHIP Roman Reigns kembali keluar sebagai juara atas Edge dan Daniel Bryan

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

WrestleMania 37 -Night I Review

 

 

Mengutip jargon superstar paling ‘nyetrum’ dalam sejarah olahraga-hiburan:

Finally…, the crowds have come back, to, Wres-tle-Maniaaaaaa!!!

Tentu saja, penonton-langsung di arena sangat vital perannya dalam acara hiburan seperti WWE. Makanya, malam kesatu dari WrestleMania 37 ini jadi malam bersejarah. Malam ini menandakan satu tahun perjuangan WWE sebagai show orang-orang bergulat untuk tetap mengudara tanpa penonton di arena, dan bahwa perjuangan itu kini usai sudah. Penonton sudah diperbolehkan hadir, tentu saja dengan mematuhi protokol kesehatan. Dan untuk menyambut mereka semua, sudah barang tentu WWE harus menghadirkan sesuatu yang spesial. Kata sambutan dari Vince McMahon himself (dengan jejeran ‘cast’ dan pengurus berbaris bersamanya), dan sebagai pertandingan yang paling pertama haruslah pertandingan yang dahsyat. Sudah barang tentu, musik pertama yang penonton dengar itu haruslah musik milik seorang pejuang yang benar-benar didukung.

Drew McIntyre merupakan satu-satunya pegulat di locker room itu yang paling pantas mendapat kehormatan tersebut. McIntyre sudah membopong WWE di pundak kekarnya selama pandemi, selama sepi penonton. Performa McIntyre yang sepanjang tahun itu sebagai juara dunia telah memastikan penonton enggak pindah channel. Sehingga make sense sekali – dan sama sekali tidak merendahkan kasta Kejuaraan WWE itu sendiri – McIntyre membuka malam kemenangan WWE atas pembatasan penonton tersebut. Dan teori tersebut memang langsung terbukti mujarab. Penonton di arena langsung sorak sorai (melupakan delay badai yang sempat menghambat acara) saat entrance teatrikal Drew McIntyre. Pertandingan McIntyre melawan Bobby Lashley pun memang sudah dinanti-nanti. Dua powerhouse ini saling hajar, saling banting, saling menunjukkan dominasi – membuat alur pertandingan jadi semakin menarik. Ini adalah salah satu pertandingan pembuka terbaik yang kita lihat dalam dua tahun belakangan. Perfectly signaling that WWE is really back in business.

wmEyooiWEXAAcGRVr
 Bisakah kita melupakan dua special host yang awkward itu dan hanya menikmati set panggung yang menakjubkan?

 

Seperti tahun sebelumnya, WrestleMania kali ini juga diadakan dalam dua malam. Ini membuat WWE punya banyak ruang untuk diisi dengan penampilan lebih banyak superstar. Dan bisa lebih fokus dalam menyusun pertandingan-pertandingannya. Namun tentu saja itu juga mendatangkan pertanyaan-pertanyaan baru yang harus dengan segera ditetapkan oleh WWE sebelum berkembang menjadi masalah. Dua malam itu, apakah berarti acara WrestleMania ini dibagi dua. Like, ketika kita bikin film panjang banget, lalu filmnya kita bagi dua jadi part 1 dan part 2, ditayangkan di waktu berbeda, yang ketika dinilai oleh kritikus, maka penilaiannya akan menganggap dua bagian itu sebagai dua film yang berbeda. Apakah WrestleMania ini juga seperti demikian; apakah pertandingan terakhir di malam kesatu ini bukanlah Main Event yang sebenarnya. Apakah seharusnya aku ngereview satu kali saja nanti setelah malam kedua beres.

Tidak seperti sebelumnya, WWE kini sudah siap untuk memastikan. Kedua malam tersebut bukan part satu dan part dua. Officially, WWE menyebutnya sebagai “WrestleMania 37 Saturday” dan “Wrestlemania 37 Sunday”. Yang menandakan bahwa kedua partai terakhir pada masing-masing malam tersebut adalah benar sebagai Main Event. Dan ini adalah langkah yang adil banget, karena seingatku baru sekali ini dua pemenang Royal Rumble (pemenang cowok dan pemenang cewek) bener-bener dihadiahi posisi main event. Pada malam kesatu ini, yang jadi main event adalah perebutan gelar Smackdown Women’s Champion antara Sasha Banks melawan Bianca Belair. Match yang memang harus disolidifikasi sebagai main event, karena muatan statusnya sebagai pencetak sejarah. Sasha dan Bianca adalah untuk pertama kalinya dua superstar kulit-hitam yang berlaga sebagai main event, yang berlaga memperebutkan kejuaraan tertinggi (sesuai divisinya)! Sebuah feat yang harus dicatat ke dalam history… em, mungkin dalam kasus ini tepatnya ‘herstory’.

Dan match mereka benar-benar terdeliver sebagai pertandingan penutup yang begitu bergengsi. Sejak Bianca didraft ke Smackdown, pertemuannya dengan Sasha sudah jadi dream-match buatku. Aku bersorak ketika Bianca menang Royal Rumble, dan setelahnya, kuakui ketertarikanku terhadap pertandingan mereka ini semakin berkurang. WWE did not do great job dalam ngebuild up cerita seteru mereka. Actually, hampir semua pertandingan atau rivalry di acara WrestleMania 37 ini punya masalah serupa. Terbayang keren, tapi build upnya kurang dari ‘lumayan-memuaskan’. Mungkin WWE sengaja, mungkin WWE ingin nunjukin ke kita kelebihan superstar masa kini. Para superstar kekinian begitu unggul di aksi ring, mereka gak benar-benar butuh build up! Sasha dan Bianca ngedeliver match yang superseru, match yang benar-benar bercerita banyak hal. Mulai dari pembuktian ESTnya Bianca, hingga ke cerita tentang bagaimana Sasha bisa dijuluki sebagai The Boss. Sasha yang terus mengincar rambut Bianca, perfectly membangun rambut tersebut sebagai senjata pamungkas, adalah sentuhan yang manis dalam alur pertandingan ini.

wm159487363_20361268393
Pasti pedih-pedih pas mandi

 

Untuk urusan mini-build up seperti begitu, memang tim WWE jago sekali. Di sini kita juga melihat gimana perfectnya WWE ngetease hal-hal seperti UFOnya Cesaro ke Seth Rollins, pembalasan dendam Braun buat Shane si tukang bully, dan aksi gulat Omos, bahkan aksinya si seleb Bad Bunny. WWE benar-benar tahu apa yang ingin kita lihat, kemudian ngeshape itu perlahan-lahan. Narasi yang diangkat adalah bahwa Rollins benci banget dipermalukan sama jurus puter-puternya Cesaro, jadi gerakan tersebut hanya benar-benar dilakukan di saat yang tepat. WWE tahu kita semua gak mau lihat Braun melawan Shane, jadi mereka membentuk match tersebut sebagai pesan moral, yang dilakukan dengan cukup kreatif lewat pertandingan di dalam kandang. Sampai di detik akhir sebenarnya aku masih kesal kenapa harus New Day lagi yang nampil di WrestleMania, tapi kemudian aku sadar bahwa itu semua adalah soal Omos saat komentator mulai menyebut bahwa yang dilakukan Omos di sini adalah pencapaian debut terbesar dalam beberapa tahun terakhir. New Day suka ngereference Dragon Ball, well, di match ini, Kofi dan Xavier Woods persis kayak Gohan dan Krillin yang dihajar bolak-balik oleh Nappa. Dan Bad Bunny… man, WWE sepertinya benar-benar sudah mulai selektif terhadap seleb yang bakal mereka ‘kasih ijin’ bertanding. Meskipun dari luar tampangnya snob dan gak-meyakinkan, Bad Bunny benar-benar punya move loh! Pertandingan tag teamnya bersama Damian Priest melawan Miz dan Morrison (original Dirt Sheet!) termasuk yang paling menghibur malam ini. Priest gak banyak tampil – dia lebih kayak abang yang jagain adiknya – dan sebagian besar aksi dilakukan oleh Bad Bunny sendiri. Termasuk gerakan Bunny Destroyer yang bikin takjub semua orang di arena!!

WWE mungkin memang sudah berhasil menaklukan corona (terbukti dari banyak juga penonton di arena yang masker mereka ‘kelupaan’ dipasang), tapi bukan berarti sudah tidak ada masalah. Acara ini sebenarnya sempat terdelay oleh cuaca buruk. Sekitar tiga-puluh menit di awal, arena sempat dikosongkan menunggu hujan berpetir reda, dan WWE mengisi durasi dengan wawancara demi wawancara impromptu. Keprofesional kru diuji. Namun sepandai-pandainya Jeff Hardy meloncat, sesekali bakal keselimpet juga. Botch-botch teknis secara sporadis terjadi. Mandy Rose yang jatuh terjerembap saat berjalan di ramp yang tampaknya masih belum kering dipel, suara mic yang gak stabil, announcer yang salah sebut nama pemenang – mungkin karena lagi rusuh di belakang sana. Hal-hal seperti itulah. First-half show ini terasa agak messy, tapi bisa dimaklumi. Meskipun sebenarnya aku cukup penasaran, apakah delay 30 menit itu menyebabkan beberapa match harus dipotong durasinya? Apakah karenanya, para superstar harus memodifikasi match yang sudah mereka latih sebelumnya untuk menyesuaikan waktu kembali? Jika iya, tentunya ini menambah nilai bagi keprofesionalan mereka semua. 

wmBayley
Acara ini butuh lebih banyak Bayley

 

Yang mengganggu buatku sebenarnya lebih ke presentasi acara. Ada satu match yang terasa mengganjal. Seperti gak klop dengan konteks acara ini. Konteks berupa bahwa malam kesatu ini sama pentingnya dengan malam kedua nanti. Match itu adalah pertandingan tag team turmoil divisi cewek. Stipulasi pertandingan tersebut adalah pemenangnya akan menantang juara Tag Team Nia Jax dan Shayna Baszler pada malam kedua esok. Sehingga ada kesan ‘naik level’ di sini. Ada kesan antara acara ini memang bersambung ke malam berikutnya, atau kesan bahwa acara ini belumlah puncak. Dan ini mengganggu karena acara dengan main event sebersejarah Bianca lawan Sasha itu haruslah dianggap sebagai acara yang sama pentingnya – tidak ada tingkat. Pertandingan Tag Team Turmoil itu sendiri menarik, walaupun gak bagus. Menarik karena akhirannya seperti Natalya melakukan pilihan di luar script. Dia batal nge-Sharpshooter, dan ngetag Tamina. Menyuruh partnernya itu untuk mem-‘finish her’ lawannya. Natalya memberikan kemenangan pin kepada Tamina.

 

Malam Kesatu WrestleMania 37 ini adalah show yang hebat. Penonton yang hadir benar-benar adalah bagian dari show, karena sekarang nonton WWE jadi seru kembali. Berisi match-match menghibur, bahkan ada yang di luar dugaan. Matchnya seru, terangkat dari build-up dan cerita feud mereka yang biasa-biasa aja. Setidaknya ‘rasa spesial’ itu hadir di sini. Di awal, sempat terkendala teknis karena cuaca buruk. Tapi hal yang menjadi satu-satunya kritikanku di sini adalah persoalan match ‘bersambung’ yang bentrok dengan niatan untuk membuat malam ini sebagai pagelaran penting yang punya main event sendiri. Untuk pertandingannya sendiri, aku menobatkan Sasha Banks melawan Bianca Belair, The Boss vs. EST of WWE sebagai Match of the Night.

See you at Night II!

 

 

 

Full Result:

1. WWE CHAMPIONSHIP Bobby Lashley bertahan dari Drew McIntyre
2. NO.1 CONTENDER TAG TEAM TURMOIL Natalya dan Tamina mengalahkan The Riott Squad, Carmella dan Billie Kay, Naomi dan Lana
3. SINGLE Cesaro ngalahin Seth Rollins
4. RAW TAG TEAM CHAMPIONSHIP AJ Styles dan Omos merebut sabuk dari The New Day
5. STEEL CAGE Braun Strowman ngasih pelajaran ke Shane McMahon
6. TAG TEAM Bad Bunny dan Damian Priest menang atas The Miz dan John Morrison
7. SMACKDOWN WOMEN’S CHAMPIONSHIP bianca Belair jadi juara baru ngalahin Sasha Banks

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.