Tags

, , , , , , , , , , ,

“Compassion isn’t about solutions.”

 

 

Berkah bisa berubah menjadi kutukan yang menggerogoti diri jika seseorang terlalu ‘tamak’ terhadapnya. Teknologi misalnya, dari yang tadinya memberikan banyak kemudahan, jika kita gunakan dengan tidak bertanggung jawab, justru mendatangkan mudarat; deteriority of humanity. Kecantikan juga gitu, orang yang terobses malah akan menjadi ‘mengurung’ diri sendiri dalam usaha menjaga kecantikan itu terus terjaga. Bukan berarti kita tidak boleh melestarikan berkah. Berkah dan kutukan, sejatinya adalah pilihan, seperti yang dengan fasih dibicarakan oleh film Gifted. Kita semestinya bisa dengan bijak melihat seorang yang punya bakat jauh di balik kelebihannya tersebut.

 

 

Frank dipanggil ke ruang kepala sekolah. Ponakan kecilnya, Mary, berulah di sekolah. Di hari pertamanya, anak tujuh-tahun itu mengejutkan seisi kelas dan eventually Mary adalah anak jenius, apalagi soal matematika. Mary memang lebih suka sekolah privat ketimbang sekolah umum karena, tentu saja kurikulum standar belajar sekolah biasa terasa lamban oleh gadis cilik ini. Dan ketika ditanya tentang teman, “Aku tidak bisa berteman dengan idiot” keluh Mary. Makanya, ketika ditegur kepsek lantaran Mary literally matahin idung seorang bully di sekolah, Frank malah sedikit senang. Meski yang dilakukan Mary salah, Franks bangga anak asuhnya itu berani membela yang lemah. Frank ingin menumbuhkan rasa kasih sayang di dalam diri Mary. Dia menolak tawaran Kepsek yang ingin memindahsekolahkan Mary ke sekolah khusus anak berbakat, “I would rather you dumb her down, if that makes her a good person,” aku Frank.

Di situlah di mana tokoh Frank yang diperankan dengan luar biasa gentle oleh Chris Evans menjadi sangat menarik. Mary bukan anak kandungnya, Mary adalah anak dari kakaknya yang juga sangat berbakat dalam matematika (in fact, jago matem ini udah warisan turun temurun dalam keluarga mereka). Membesarkan Mary adalah salah satu dari permintaan terakhir kakak kepadanya, jadi dia berusaha untuk menghargai permintaan-permintaan tersebut sekaligus menyadari tanggung jawab membesarkan anak paling pintar di dunia ada pada pundaknya. Frank mencoba untuk melihat dari berbagai sudut, dia mempertimbangkan pendapat banyak orang – mulai dari guru Mary, ataupun dari tetangga mereka, bahkan dari ibunya sendiri. Konsern utama Frank tentu saja dia ingin agar si anak tetap tersenyum dan membuatkannya sarapan, memenuhi segala kebutuhan. Dia ingin yang terbaik, dan dia ditantang ketika ada pihak yang mempertanyakan “yang terbaik buat siapa?”

Octavia Spencer main di film tentang anak cewek yang jago matematika, di mana kita pernah lihat itu sebelumnya?

 

Gifted mengacung-ngacungkan pertanyaan di depan muka kita yang menatapnya dengan terpesona; bisakah seorang jenius mendapatkan hidup normal. Bisakah seorang gadis cilik yang enggak benar-benar ingin diperlakukan sebagai the next Albert Einstein memilih untuk pergi ke pantai, memelihara kucing, nonton UFC dengan pamannya, dan just bermain dengan teman-teman, you know, just being a little girl dan menikmati hidup.

Ini adalah film yang benar-benar tentang karakter. Tidak ada ledakan ataupun aksi di sini. And I really like that about this movie. Semua adegannya hanya ngobrol atau berjalan, namun film ini menanganinya dengan amat efektif. Setiap scene rasanya padet. Ambil contoh ketika kita melihat Frank dan Mary di pantai, kita cuma melihat siluet mereka yang dilatarbelakangi oleh matahari terbenam, tapi pergerakannya sangat playful. Mary literally manjatin Frank, sembari mereka bertukar dialog yang sungguh asik serta menantang untuk diikuti. Mereka bicara tentang Tuhan, tentang kepercayaan. TENTANG PILIHAN. Totally ngedefinisikan film itu sendiri. Gifted sebenarnya bukan film pertama yang membahas tentang masalah anak jenius, tapi yang membuat film ini berbeda terutama adalah penampilan dan perspektif ceritanya. Jika kebanyakan biasanya hanya memfokuskan kepada perang hak asuh, maka film ini lebih kepada menjawab pertanyaan anak jenius bisa kok mendapat kedua hal; being genius dan menjadi anak kecil pada saat bersamaan.

Jejeran castnya tergolong kecil, namun sukses berat bawain cerita sehingga terasa gede. Yang PALING MEMESONA JELAS ADALAH HUBUNGAN YANG TERBANGUN ANTARA FRANK DENGAN MARY. Relationship mereka terasa sangat otentik. Padahal kedua tokoh ini bukan exactly ayah dan anak. The way mereka mengerti satu sama lain, tukar menukar percakapan, bahkan saat mereka ‘berantem’, lovable banget. Kocak. Penuh hati. Nyata.

Dan pemeran Mary, Mckenna Grace, oh wow adek ini mencuri pertunjukan! She’s star in the making, liat aja!! Entah mau jadi anak jenius yang ngambek, yang tau dia spesial namun gak demen sama ide dan peraturan dari sang nenek yang juga jenius, ataupun jadi anak kecil yang ingin bermain-main, Mckenna selalu deliver dengan meyakinkan. Di adegan sedih, dia juga berhasil bikin aku ngerasa “aww kasiaaann”. Ketika kita melihat penampilan bagus dari aktor cilik, biasanya kita langsung ngecap image peran tersebut kepada mereka. Sesungguhnya hal demikian itu nyusahin buat si aktor sendiri, mereka bakal dapat job ngisi peran yang itu-itu melulu. Macaulay Culkin aja mati-matian nyari peran yang bukan ‘anak-kecil-nakal-yang-adorable’ selepas perannya di Home Alone (1990). You know, bahkan aktor kayak Dwi Sasono aja, kita masih ngakak ngeliat dia tampil serius di Kartini (2017) atau ketika dia jadi dokter di Critical Eleven (2017), image Mas Adi begitu kuat melekat – padahal dia bukan aktor anak-anak. Akan tetapi, sepertinya hal ini tidak akan jadi masalah buat Mckenna Grace. Penampilannya di film ini just sooo good dan punya rentang luas sehingga can really break the mold untuk dia melakukan peran yang berbeda di film-film berikutnya.

variabel yang gaada di film Indonesia: tokoh dan aktor cilik yang menarik

 

Setiap kali hendak menonton film drama kayak gini, aku selalu khawatir. Takut nanti ceritanya terlalu melodramatis. Takut filmnya terlalu cengeng. Marc Webb sepertinya diberkahi kemampuan untuk mengolah drama dengan just right, kecuali di beberapa bagian menjelang akhir. Kayak di 500 Days of Summer (2009), Marc Webb keliatan seperti berada di rumah dengan penceritaan dramatis. Dia tahu takarannya. Problem dalam film ini muncul, eh bukan muncul, ding. Film ini tahu arah ceritanya, this movie embraces it. Problem film ini adalah pilihannya untuk mengambil sudut pandang yang tidak di tengah. Film ini adalah jawaban, kita harus respek ama keputusan ini. Mungkin film inilah jawaban yang benar. Namun, ketika ada yang benar, maka pasti ada yang salah. Dan pihak yang ‘salah’ dalam cerita ini, terlihat seperti tokoh jahat, a villain. Menurutku ini hanyalah cara gampang menuliskan sebuah film drama. Ada tokoh yang terlalu tanpa-hati. Aspek ini membuat film jadi predictable, dan personally aku pikir tokoh kayak nenek si Mary gak mesti dibuat sebagai tokoh jahat.

Terkadang, jika kita punya kelebihan, kita suka tidak sadar ada satu variable yang kehidupan kita; kasih sayang.Dan compassion tidak sama dengan matematika; ini bukan soal solusi. Ia adalah soal memberikan cinta sebanyak yang kita punya.

 

Film ini juga jatuh ke dalam ketagori cerita yang melibatkan proses pengadilan, di mana ada adegan di depan hakim, urusan legalisasi hak asuh anak, dan sebagainya. Singkat kata, dalam film ini ada elemen yang bakal bikin kita bosan. Bagian yang kita ingin untuk cepat berlalu sehingga kita bisa melihat porsi Mary dengan Frank lebih banyak. Adegan courtroom dalam film ini muncul sewaktu-waktu untuk nonjolin pihak baik dan jahat, untuk membakar api konflik keluarga yang jadi tantangan bagi Frank. Again, menurutku ini adalah cara textbook yang paling gampang untuk melanjutkan cerita.

 

 

 

Di luar adegan-adegan peradilan, ini adalah cerita yang sangat asik untuk dinikmati dengan banyak penampilan akting yang fantastis. Perspektif tokoh utamanya sangat menarik. Hubungan antara Frank dengan Mary begitu real dan menyentuh. Dialog-dialognya kadang kocak, kadang benar-benar bikin hati kita ketarik-tarik. Kecuali di bagian akhir, film ini sukses menjadi enggak terlalu dramatis. I love this movie, kuharap banyak orang yang tertarik untuk menontonnya sebab kisah drama antara anak yang spesial dengan orang yang truly menyayanginya ini dapat benar-benar menginspirasi orang-orang. Entah itu mendorong untuk mengajarkan compassion dan cinta, atau membuat orang ingin bikin film, atau belajar matematika hhihi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for GIFTED.

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We? We be the judge.

Advertisements