JURASSIC WORLD DOMINION Review

 

“We are doomed to coexist”

 

 

Dinosaurus adalah soal ukuran. Dan film terakhir dari trilogi Jurassic World ini percaya bahwa bigger is better.  Maka mereka membuat durasi yang superpanjang, dengan dinosaurus besar-besar yang jumlahnya banyak, dengan karakter manusia yang lebih banyak pula. Bahkan judulnya. Dominion, yang berarti kekuasaan besar. Akan tetapi, ada kata ‘minion’ yang terkandung di dalam kata tersebut. You know, minion, berarti antek, atau bisa juga makhluk-makhluk kecil annoying di animasi anak-anak itu. Nah sayangnya, walaupun digadang-gadangkan sedemikian rupa – yang membuat film ini tak ayal memang cocok sebagai hiburan mainstream –  justru persis seperti minion itulah film ini terasa. Sutradara Colin Trevorrow yang kembali menangani film ini (setelah absen di film kedua, Jurassic World Fallen Kingdom) tidak banyak ngasih apa-apa kepada karakternya, selain untuk nostalgia. Ceritanya pun tampak hanya berpengaruh sedikit terhadap keseluruhan premis besar soal manusia dan hewan purba yang mereka hidupkan kembali. Kayak berputar-putar di tempat saja.

Padahal film keduanya berakhir dengan hook yang bikin penasaran. Dengan taman hiburan dan suaka yang terus saja gagal dan hancur, kadal-kadal raksasa kini hidup berdampingan dengan manusia. Sekuen eksposisi pada pembuka film ketiga ini memang memperlihatkan montase kehidupan manusia dan dinosaurus, beserta problem yang hadir. Hanya saja ini adalah problem yang sudah ada, yang sudah diangkat dari film sebelumnya – bahkan sejak Ian Malcolm dan Alan Grant dan Ellie Sattler memprotes yang dilakukan oleh John Hammond. Jadi naturally kupikir Jurassic World terakhir ini akan benar-benar memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bisakah manusia hidup bersama dinosaurus. Haruskah. Kupikir, jawaban tersebut akan diberikan film ini dengan benar-benar menelisik dan mengeksplorasi segala permasalahan ketika manusia dan dinosaurus berbagi planet kecil yang sama. Bagaimana dengan hewan-hewan. How will everything work. Sekelebat dari pembahasan dinosaurus di dunia manusia itu dihadirkan oleh film ini. Ya sekelebat.

Ini adalah masalah pertamaku buat arahan Trevorrow, sejak Jurassic World pertama. Kameranya seperti tidak mengerti apa sih yang bikin wow dari dinosaurus. Trevorrow di film pertama, dan di film ketiga yang kembali ia tangani ini, masih sibuk meniru Spielberg tanpa menyadari kenapa Jurassic Park pertama bisa demikian mencengangkan. Dia cuma tahu satu hal. Dinosaurus itu besar. Dan cuma itulah yang ia lakukan setiap kali dinosaurus dimunculkan. Makhluk besar yang memenuhi layar. Brachiosaurus yang selebar itu ditampilkannya begitu saja, dia tak peduli kepala si dinosaurus sudah hampir kepotong frame. Bandingkan dengan gimana Steven Spielberg memperlihatkan dinosaurus berleher panjang itu pertama kali. Bukan hanya besarnya yang diinformasikan. Melainkan betapa majesticnya kehadiran makhluk itu bagi manusia yang melihat. Elemen inilah yang absen dari film dinosaurus karya Trevorrow. Saat Spielberg akan menggunakan musik, gerak kamera, serta perspektif dari reaksi manusia untuk mempertegas skala alias perbandingan yang ingin diceritakan, Trevorrow hanya menampilkan gitu aja. Tidak ada gaya khas ataupun sudut pandang yang diperkuat. Jurassic World Kedua bahkan menampilkan dinosaurus dengan lebih baik, karena paling tidak film tersebut berhasil menangkap esensi saat memproyeksikan makhluk itu ke dalam elemen thriller. Begitu banyak adegan dengan dinosaurus ditampilkan pada film ketiga ini, tapi semuanya tampak mentah dan enggak majestic. Sedari opening, adegan paling awal banget aja, aku udah mengerang. Pak sutradara kita gak berubah. Adegan kapal menangkap ikan di laut, diserang dinosaurus air supergede. Kandang penangkap ikan diturunkan ke air, terus diangkat – sudah berisi tangkapan. Dan kemudian “Roaaarrr!” dinosaurus muncul. Literally begitu aja film menampilkannya. Gak ada build up dan segala macam. Di tengah nanti ada adegan karakter nyelam di kubangan berlumpur, dengan dinosaurus pemangsa berdiri tepat di atasnya. Bagian mengendus airnya sih dapet seram dan skalanya, tapi sebagian besar waktu termasuk pas pembuka adegannya, kamera hanya merekam dengan datar. Final battle nantinya melibatkan tiga predator puncak dengan karakter manusia sentral berlarian di tanah sekitar mereka, tapi pertempuran ini sangat biasa. Gelap, cepat, dan gak grande kayak pertempuran di film-film sebelumnya. Gak ada trik teknis apa-apa selain CGI dan animatronik.

T-Rex lawan Giganotosaurus lawan…. Edwardscissorshandsaurus?

 

Kehidupan dinosaurus di dunia manusia pun seperti itu. Disyut dengan normal-normal aja. Dinosaurus dalam film ini diposisikan hampir seperti saat kita melihat makhluk-makhluk planet yang bentuknya lucu-lucu di background adegan film Star Wars. Udah kayak sehari-hari. Mungkin memang karena itu pointnya. Mungkin karena sekarang ceritanya dunia sudah empat tahun ditempati dinosaurus, maka keberadaan mereka jadi biasa aja. Jadi aku mencoba maklum dan mulai memusatkan perhatian kepada karakter manusia. Sebab jika dinosaurus di cerita ini mulai tidak spesial, maka tentulah keistimewaan itu terletak pada pihak satunya lagi – pihak yang coexist bersama dinosaurus di dalam narasi film ini – manusia. ZONK! Turns out, karakter manusia dalam film ini nyaris gak punya plot dan digarap sama datarnya.

Basically film ini punya dua cerita. Pertama cerita tentang Owen dan Claire – pasangan protagonis trilogi ini – yang kini tinggal bersama di pegunungan Sierra Nevada, mencoba untuk melindungi si gadis cloningan, Maisie. Gadis yang sudah mulai remaja itu tentu gak suka ‘dikandangin’, dan dia yang juga tengah krisis identitas, susah menerima harus hidup bersama ‘papa – mama’ bohongannya. Also, hutan belakang rumah mereka, Blue si ‘Petlociraptor’ ternyata bisa punya anak, by herself. Dan kini ada pihak yang mengintai dari balik pepohonan. Mencoba menculik Maisie, dan anak si Raptor. Kedua, cerita  yang dikhususkan untuk menggelitik saraf nostalgia kita. Di belahan dunia lain ada wabah belalang raksasa, dan Ellie beserta Dr. Grant berniat untuk mengusut sumber wabah tersebut. Dua cerita ini akan berujung di suaka dinosaurus yang baru. Dan oleh kebetulan yang bikin plot sinetron dan ftv lokal kita gigit jari, karakter-karakter dari dua periode trilogi Jurassic bakal bertemu di tempat yang sama, dan bekerja sama untuk selamat dari tempat tersebut.

Dan oh yea, soal cloning nanti akan discrap oleh film ini, dan kita akan melihat origin Maisie yang bahkan lebih “meh”lagi.

Alih-alih plot yang grounded, film bikin kita boring dan sumpek oleh mumbo jumbo politik sains dan smuggling dan … oh my god, film ini ternyata menempatkan dirinya jadi film aksi ala espionage atau mata-mata. But I guess I can not complain much about it, karena justru porsi Owen dan Claire menguntit penculik dan berusaha menyusup ke dalam tempat ilmuwan segala macem itulah yang membawa kita ke satu-satunya momen Jurassic World Dominion yang keren dan bikin melek. Aksi kejar-kejaran di sepanjang kota sama velociraptor yang dijadikan senjata pembunuh oleh geng penjahat. Seru aja akhirnya kita melihat kontras yang dijanjikan oleh film. Melihat dinosaurus di habitat manusia. Bikin rusuh dan segala macem. Dan bagian ini tu baru terjadi sekitar satu jam lebih into the movie. Setelah selama itu gak dikasih asupan apa-apa, aksi gede seperti demikian memang jadi penghibur yang ampuh. Balik ke karakter, mereka semua memang gak dikasih banyak perubahan apa-apa. Relasi Owen dan Claire gak dikasih eksplorasi yang baru. Mereka pretty much orang yang sama dengan yang kita lihat  di akhir film kedua. Yang berubah dan punya plot sedikit memang cuma Maisie, tapi karakter yang diperankan Isabella Sermon ini pun tidak ditempatkan di kursi karakter utama. Bicara tentang itu, memang benar-benar kabur siapa yang dijadikan sudut pandang utama di sini. Peran Chris Pratt di sini lebih kecil, motivasi dia lucunya juga menyangkut soal memenuhi janji kepada raptor. Bryce Dallas Howard yang karakternya di sini merasa sebagai ibu, dan diberikan banyak momen aksi juga gak benar-benar punya perkembangan karena karakternya sedari awal sudah right the whole time.

And also, kenapa kelas Paleontologiku dulu gak pernah sekeren di film ini?

 

 

Yang paling kasian memang para karakter legend. Laura Dern, Sam Neill, Jeff Goldblum menyuntikkan sensasi familiar yang juga seringkali lucu, tapi mereka ada di sana gak lebih sebagai penjual nostalgia. Kayak kalo WWE tau-tau munculin superstar dari tahun 90an – gak disuruh gulat, gak disuruh aksi apa-apa, selain ngucapin catchphrase doang – untuk ngeboost rating acara. Tapi bahkan WWE lebih mending, karena sering juga superstar jadul tersebut dijadiin korban serangan superstar muda yang hendak dipush. Jurassic World Dominion bahkan gak punya nyali untuk membunuh salah satu dari mereka untuk menambah stake. Mereka cuma dihadirkan, sebagai karakter yang persis seperti yang diingat oleh para penggemar Jurassic Park. Selain tampang yang sekarang udah menua, mereka masih tampak sebagai karakter yang sama. Nah, inilah masalahnya. Karakter mereka gak ditreat sebagaimana karakter yang layak oleh film ini. Masa iya, udah berapa puluh tahun tapi mereka masih sama. Selain cerai, dan kini sudah cukup sukses dikenal banyak orang, development tiga karakter ini sebagai manusia yang menghidupi dunia cerita enggak ada. Makanya karakter mereka terasa datar.  Mereka gak punya plot, gak punya permasalahan baru. Film cuma butuh karakter ini ada supaya kita bisa nostalgia, maka mereka tidak ngasih apa-apa untuk pembangunan karakter ini. Interaksi mereka dengan karakter baru – yang tentu saja dibuat dengan mereka sebagai referensi – memang berhasil ngasih kekehan di sana sini. Tapi in the end, kita datang ke film untuk melihat cerita, bukan haha hehe reuni atau nostalgia semata.

Manusia disebut makhluk sosial, tapi justru paling banyak masalah dalam urusan hidup bersosial. Like, jangankan dengan dinosaurus seperti yang diangkat film ini, dengan hewan aja manusia bisa seenaknya mendominasi. Bisa seenaknya main gusur. Malahan, jangankan dengan hewan, dengan sesama spesies aja, kita manusia banyak menciptakan kotak-kotak supaya bisa saling bersitegang untuk perbedaan-perbedaan sepele. Maka, jika ada satu hal yang berhasil diperlihatkan oleh film ini maka itu adalah memang manusialah yang harus belajar untuk coexist bersama makhluk lain.  

 

 

Dengan karakter yang nyaris punya plot, dinosaurus-dinosaurus yang ditampilkan datar, dan bahasan yang muter di tempat, maka film ini sukses jadi sajian panjang paling membosankan yang bisa kita saksikan di bioskop tahun 2022. Eksistensi yang dipedulikan oleh film ini ternyata bukan antara manusia dengan dinosaurus, melainkan antara karakter baru dengan karakter lama. Film hanya peduli pada nostalgia dan menjadi besar, tanpa benar-benar mendalami dan mengeksplorasi hal-hal tersebut. Setelah nonton film ini aku jadi merasa gak rela kalo ini adalah akhir dari franchise Jurassic. Karena bagaimana pun juga, ini semua berawal dari Jurassic Park yang udah menginspirasi banyak dan masterpiece, maka sudah seharusnya seluruh karakter dan dunianya mendapat penutup yang jauh lebih layak daripada yang dilakukan oleh film ini.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for JURASSIC WORLD DOMINION

 

 

 

That’s all we have for now.

Ngomong-ngomong soal cerita yang berawal dari penangkaran dinosaurus, bagaimana pendapat kalian tentang kebun binatang secara moral ataupun secara tanggung jawab manusia yang harus hidup coexist dengan hewan?

Share  with us in the comments

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

MORBIUS Review

“Health is a human right, not a privilege”

 

 

Makhluk menyeramkan dijadikan simbol pahlawan memang agak-agak mengherankan, tapi plausible untuk dilakukan. Buktinya? Batman yang berlambang kelelawar dengan modus operandi mengincar rasa takut di malam hari sukses juga jadi salah satu superhero paling ikonik di seluruh dunia. Counter Marvel untuk karakter DC Comic tersebut adalah Morbius. Gak tanggung-tanggung, kekuatan Morbius berhubungan bukan dengan kelelawar biasa, melainkan kelelawar penghisap darah, yang literally membuatnya menjadi vampir. While the origin story dari Morbius sebenarnya lebih cocok sebagai cerita penjahat, sutradara Daniel Espinosa justru diembankan untuk membuat film ini jadi cerita pahlawan. Orang yang menghisap darah manusia demi kemampuan untuk berbuat kebaikan jelas jadi konsep yang menarik, genrenya filmnya otomatis akan menyerempet ke horor. Nyatanya, film Morbius ini memang menghisap, tapi lebih seperti Dementor ketimbang vampir. Film ini menghisap excitement kita saking boringnya. 

Espinosa kesusahan untuk mengimbangi tuntutan naskah membuat Morbius menjadi pahlawan. Set up karakternya tampak sebagai bagian paling mudah yang berhasil Espinosa lakukan. Morbius adalah seorang dokter yang mendedikasikan dirinya untuk mencari kesembuhan dari penyakit-penyakit, karena dirinya sendiri mengidap penyakit darah yang langka. Penyakit yang mengharuskan dirinya pakai tongkat untuk berjalan. Penyakit yang membuat dirinya – dan sahabatnya, Milo – sedari kecil dibully. Penyakit yang gak ada obatnya. See, Michael Morbius bisa banget dapat simpati. Dia dokter pintar yang ramah – ada adegan dia dekat dengan pasien anak-anak, yang mau cari perfect cure untuk mengobati bukan saja dirinya dan sahabat, tapi juga seluruh umat manusia. Namun ketika elemen yang lebih gelap dari cerita ini tiba, Espinosa kehilangan segala keseimbangan. Michael menemukan cara menyatukan DNA manusia dengan kelelawar, dia mencoba serum ciptaannya kepada dirinya sendiri. Sekarang dia berubah menjadi vampir superkuat yang dahaganya akan darah manusia nyaris tak-terkendali. Di titik yang mulai seru tersebut (bayangkan konflik luar-dalam, konflik moral, konflik dengan sahabat yang menerpa Michael), film ini justru gagap dalam eksplorasi. Ini cerita orang yang mau jadi hero tapi harus relakan dirinya sebagai anti-hero, yang tidak tampil seunik itu.

morbiusl-intro-1646070476
This film do sucks!

 

Plot point naskah Morbius memang terasa seperti cerita villain, atau setidaknya cerita anti-hero. Memang sih, ada usaha membuat Morbius jadi pahlawan, cerita tidak melulu membahas konflik personal. Ada bagian dia menumpas kejahatan publik, seperti persoalan sindikat uang palsu. Atau lihat ketika film membuat korban-korban pertama yang dimangsa oleh Morbius adalah security yang bukan orang baek-baek. Tapi in terms of development, cerita Morbius mengambil poin-poin cerita orang yang berdegradasi. I mean, blueprintnya mirip cerita The Fly, malah. Ilmuwan yang mencoba eksperimen untuk kebaikan yang lebih besar, tapi malah mengubah hidupnya menjadi less and less human. Saga seseorang yang menyadari ambisi pribadi pada akhirnya mendatangkan petaka, bahwa dia harus meluruskan niatnya. Kalo gak mau jauh-jauh, kita bisa bandingkan Morbius yang asalnya ada karakter dari dunia cerita Spider-Man ini mirip ama Lizardman. Itu loh, musuh Spider-Man yang tadinya dokter yang bereksperimen dengan cicak demi mengobati lengannya, lalu malah berubah menjadi manusia kadal. Karakter yang telah muncul di film The Amazing Spider-Man (2012), film Spider-Man yang dibuat oleh Sony, seperti Morbius ini.

So yea, ultimately aku merasa film Morbius terjebak dalam jaring-jaring cinematic universe buatan Sony. Kreatifnya terhambat karena apparently Sony hanya tahu satu cara membuat cerita tentang orang yang menjadi monster, dan hanya tahu satu cara untuk membuat cerita tentang monster yang jadi protagonis atau anti-hero utama. Sehingga jadilah Michael Morbius sebagai karakter template. Originnya standar cerita villain. Lalu untuk membuatnya sebagai superhero, film simply mempaste-kan elemen-elemen Venom (also a Sony universe). Ya, pergulatan inner Michael dengan kekuatan vampir yang membuatnya jadi monster pemangsa manusia dilakukan dengan dangkal dan sederhana, sehingga nyaris gak banyak berbeda dengan Eddie Brock yang bergulat dengan Venom yang sesekali sosoknya muncul ke ‘permukaan’ tubuh Brock. Dalam film Morbius, wajah Michael akan kerap menjadi seram ala vampir lengkap dengan mata merah dan taring-taring tajam untuk menandakan dia kesusahan menahan dahaga atau kekuatan vampirnya. Film bahkan ngakuin persamaan tersebut dengan membuat Michael menyebut “Aku Venom” kepada seorang penjahat yang ketakutan. Studio mungkin menyangka sengaja ngakuin kemiripan dengan menjadikannya candaan itu bakal membuat film ini terdengar pintar. It is not. Malah jadi kayak kreasi yang malas.

Bedanya dengan Venom cuma di Morbius gak ada banter dialog yang lucu (yang bikin Venom menghibur memang cuma interaksi antara Eddie dan simbiote di dalam tubuhnya) – Michael gak berdialog dengan darah vampirnya – dan di Morbius efek CGI lebih parah. Sosok wajah versi vampir para karakter terlihat murahan. Malah lebih kayak vampir low budget, yang lebih works out sebagai film komedi yang sengaja bikin CGI kasar. Aku gak ngerti kenapa film ini enggak menggunakan efek prostetik saja untuk menghidupkan sosok vampir. Padahal mengingat film ini berbau horor, efek prostetik yang praktikal jelas jadi pilihan yang lebih tepat dalam menghidupkan creature-nya. Lihat The Fly (terutama yang versi Cronenberg). Lihat Malignant yang berhasil jadi horor campy dengan paduan efek praktikal dan digital. Morbius adalah cerita seorang manusia bertransformasi menjadi vampir buas, tapi semua transformasi crucial bagi karakter terjadi off-screen. Film ini melewatkan banyak momen-momen body horror yang harusnya menguatkan karakter yang menghidupi cerita mereka.

Adegan aksi tentu saja jadi ikut kena getahnya. Pertarungan-pertarungan di Morbius sama sekali tidak bisa untuk diikuti lantaran film bergantung terlalu banyak kepada CGI. Kita gak bisa melihat apa yang terjadi dengan jelas, semua cepat – karakter melayang ke sana ke mari, mencakar-cakar liar dengan efek bayangan afterimage atau aura di sekeliling mereka. Pada momen-momen ‘krusial’ sebelum serangan mendarat, film menggunakan slow motion. Yang tetap gak ngefek apa-apa selain membuat dua vampir yang bertarung tampak cheesy dan konyol not in a good way.

morbius-2-1024x576
At least Twilight punya adegan main baseball dengan lagu Muse, Morbius punya apa?

 

Jared Leto gak banyak ngapa-ngapain di sini selain pasang tampang kayak orang sakit, dan menggeram-geram saat jadi vampir. Momen yang mengharuskan dia untuk menggali ke dalam karakternya gak pernah bertahan lama. Film terus saja kembali entah itu ke eksposisi mumbo jumbo sains, atau ke elemen-elemen template, atau ke porsi laga yang completely unwatchable. Leto memainkan Morbius yang berawal dari dokter yang pede bakal bisa menemukan obat/solusi ke dilema moral dari penemuannya. Dan stop sampai di sana. Gak kuat lagi terasa perubahan atau perkembangan karakternya. Bagian ketika dia nanti jadi menerima kenyataan dan mencoba menggunakan kutukannya menjadi kekuatan jadi samar dan lemah karena tertutupi oleh film yang malah mencuatkan motivasinya untuk menyetop sahabatnya saja. Setelah midpoint karakter yang diperankan Leto jadi kalah mencuat. Motivasi penjahat film ini justru lebih kuat dan lebih clear.

Gagasan cerita sebenarnya cukup menarik. Dan sebenarnya cukup relevan ditonton di masa-masa kehidupan kita masih dibayangi oleh Covid. Karena lewat konflik dua karakter sentralnya, film ini mengangat diskusi soal kesehatan apakah sebuah hak atau sebuah privilege sebagian orang saja. Jawaban yang disuguhkan film ini dari akhiran perjuangan Morbius cukup dark, dan it could be true reflecting our society. 

 

Relasi yang jadi inti cerita adalah antara Michael dengan sahabat masa kecil senasib sepenanggungannya di panti, Milo (Matt Smith pun berusaha memanfaatkan setiap screen timenya untuk menghasilkan karakter yang menarik). Mereka harus terpisah karena Michael dikirim ke sekolah khusus untuk mengembangkan bakat dan kepintarannya, sementara Milo yang terus menunggu janji Michael untuk kembali (dan membawa obat kesembuhan mereka) perlahan menjadi bitter dengan dunia yang meremehkan mereka. Saat Michael ketakutan dengan efek obatnya dan berusaha menghilangkan itu, Milo justru melihat ini sebagai kesembuhan yang luar biasa. Keduanya jadi berantem karena beda pandangan. Hubungan inilah yang mestinya terus digali, dengan seksama dengan detil. Rajut persahabatan dan konflik mereka sehingga benar-benar berarti dan jadi stake bagi karakter, sehingga kita bisa mempedulikan mereka lebih dari sekadar “Oh si Milo lebih kuat karena mau menyantap darah asli, bukan sintesis kayak Morbius”. Ya, film ini hanya memperlihatkan ala kadarnya. Melompat periode waktu seenaknya. Persahabatan dan konflik mereka gak ada ritmenya. Pertemuan pertama Leto dan Smith yang kita lihat ternyata udah bukan dalam konteks mereka akhirnya bertemu setelah sekian lama. Sense mereka itu sahabat dekat gak kerasa karena film memperlakukan persahabatan mereka sama kayak Michael ketemu karakter-karakter lain.

Film malah membagi fokusnya dengan soal romance si Michael dengan karakter dokter perempuan. Yang juga sama-sama kurang tergalinya. Bedanya, soal ini dibiarkan di permukaan karena film ingin menjadikannya hook buat sekuel. Ya, kembali ke permasalahan utama. Film Morbius terjebak di jaring-jaring cinematic universe. Alih-alih bikin cerita yang benar-benar mendarat dan selesai – apa yang terjadi dengan pacarnya, bagaimana status buron Michael setelah final battle, apa arti semuanya bagi Michael – studio lebih memilih untuk menyibukkan diri dengan punchline berupa teaser untuk film berikutnya. Kita juga melihat karakter dari Disney-Marvel muncul dalam sebuah situasi yang membingungkan. Pada akhirnya, itulah yang tampak lebih penting bagi film ini. Bagaimana membangun universe superhero versi sendiri. Karakter, relasi, dan dilema moral mereka tak lebih seperti sekelabat kepak kelelawat saja.

 

 

 

Makanya film ini terasa lifeless. Padahal kalo digali, dia bisa jadi pahlawan baru yang benar-benar menarik dengan genre horor, aksi supernatural, dan dilema karakter yang grounded. Nyatanya film mengabaikan semua kreasi untuk craft experience yang biasa-biasa aja. Malah cenderung membosankan. Terlalu bergantung ke CGI yang dibuat ala kadar, karakter yang template antihero sederhana (hanya karena mereka bingung membuat superhero ke dalam cerita villain), dan plot origin yang basi. Jika ini adalah jawaban terbaik yang bisa disuguhkan Marvel untuk DC dengan Batmannya, well, Marvel perlu memikirkan ulang lagi rencana dan cara mereka menghandle karakter-karakter supernya. 
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for MORBIUS.

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kesehatan itu hak atau privilege?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 
 

 

THE ADAM PROJECT Review

“Cherish every moment with those you love at every stage of your journey”

 

Hidup memang penuh penyesalan. Kalo tidak, kalimat pertanyaan “Apa yang bakal kalian ucapkan buat kalian di masa lalu?” tidak akan pernah terpikirkan. Kita semua pengen ketemu sama kita waktu masih muda, supaya bisa ngasih nasihat. Supaya mereka gak memilih jalan yang sama, bikin kesalahan yang sama. Hidup memang penuh penyesalan, kalo tidak, time travel tidak akan pernah kita impikan. Karena memperbaiki hidup seperti demikianlah yang jadi poin utama dari angan-angan bisa pergi ke masa lalu. Karya terbaru Shawn Levy literally mengambil konsep time travel dan pertanyaan tersebut sebagai tema cerita, dan Levy menggodoknya menjadi sajian laga sci-fi yang bukan saja seru, tapi juga grounded dan terasa manusiawi. Tuk memastikan dirinya gak bakal pengen balik ke masa lalu memperbaiki film ini, Levy memaksimalkan kadar hiburan film ini. Ia menyuntikkan dosis komedi dalam jumlah ‘mematikan’, dengan meng-cast Ryan Reynolds sebagai karakter utama. Membuat The Adam Project jadi semacam Reynolds show yang sudah amat familiar bagi kita. To the point jadi amat terlalu familiar, it could become stale.

adam-Sci-Fi-Dibintangi-Ryan-Reynolds
tbh, I fell like, aku yang masih kecil akan membunuhku dengan brutal begitu melihat jadi apa dirinya nanti.

 

Tentu saja, pergi ke masa lalu akan membawa masalah tersendiri. Cerita-cerita tentang time travel akan berkutat dengan hal-hal trivial yang menuntut kelogisan semisal bagaimana bisa terjadi, lalu soal efek kupu-kupu dari mengubah masa lalu, ataupun soal berapa versi diri kita yang ada – which leads to a multiverse. Makanay cerita-cerita time travel cenderung jadi ribet sendiri. The Adam Project gak mau pusing-pusing sama hal tersebut. Dengan singkat dan padat film ini menyebut time-travel exist sembari menepis kemungkinan multiverse (semua orang nantinya akan jadi amnesia atau semacamnya). Soal teknologi kefiksiilmiahannya memang tetap ada, kita masih bisa geek out dengan alat-alat flashy dan aksi heboh. Tapi kita tidak diminta untuk memikirkannya lebih lanjut. Film ingin kita langsung fokus ke permasalahan yang membayangi para karakter. Fokus ke gagasan yang dibawa. Karena itulah, on the plus side, The Adam Project gampang terasa grounded.

Peran Reynolds di sini bernama Adam Reed. Di tahun 2050, dia seorang pilot pesawat tempur yang oleh bosnya dikirim untuk misi time travel. Tapi Adam menemukan ada kejanggalan. Jadi dia bermaksud bergerak sendiri, tapi ketahuan dan diserang. Adam yang terluka terdampar di tahun 2022. Di situlah dia bertemu dengan dirinya yang masih dua-belas tahun. Kedua Adam, dengan segala kemiripan dan perbedaan mereka, bekerja sama menyelamatkan masa depan. Untuk itu, mereka harus ke masa lalu, meminta bantuan kepada bapak yang selama ini jadi sumber amarah Adam.

See, di balik hingar bingar dan mumbo jumbo sci-fi, film ini bicara tentang hubungan ayah dan anak lewat pergulatan personal yang digambarkan oleh interaksi antara Adam Gede dengan Adam Kecil. Keduanya kehilangan ayah, dan sedang dalam fase berbeda. Adam Kecil, di tahun 2022, masih sedih atas kematian bapaknya. Tapi Adam Gede, yang udah sekitar 40 tahun umurnya, tentu sudah outgrow that phase. Kesedihan Adam telah berubah menjadi kemarahan dan ketidaksukaan. Dia resent ayahnya gak pernah ada. Ayah yang bahkan setelah pergi pun, meninggalkan pe-er pelik untuknya. Adam Project, yakni proyek time travel yang jadi konflik-luar film ini, memang diciptakan oleh sang ayah. Interaksi Adam Gede dengan Adam Kecil boleh jadi lucu dengan banyak saling ejek dan remarks kocak, tapi sesungguhnya itu adalah momen-momen Adam membuka perspektif baru. Dua karakter ini saling belajar satu sama lain, yang tentu saja berarti Adam belajar lebih banyak melalui konfrontasi dengan dirinya sendiri, yang selama ini telah ia kubur oleh kemarahan. Film bicara soal kemarahan sebagai reaksi dari grief dan kesedihan itu lebih lanjut lagi dengan juga menilik sisi Adam Kecil, yang justru marahnya kepada sang ibu sebagai bentuk dari pelampiasan kesedihan.

Tema cinta dan kehilangan memang bergulir kuat, gak sekadar tempelan. Realisasi perlahan yang disadari Adam mengenai kemarahan dan mengantagoniskan orang sebenarnya adalah bentuk dari menutupi perasaan sedih atas kehilangan (marah memanglah emosi yang sekompleks itu), turut membawa dirinya kepada pembelajaran satu lagi. Yakni soal menghargai waktu yang ada. Menghargai orang-orang yang bersama dan mencintai kita di dalam setiap tahapan waktu yang kita lalui. Karena yah, kita tidak pernah tahu seberapa cepat waktu berjalan.

 

Warna ringan film ini sebagian besar datang dari penampilan akting. Reynolds seperti biasa memainkan seorang bermulut tajam; ini udah jadi trademarknya sekarang. Hiburan film memang datang dari dialog-dialog Reynolds dengan karakter lain. Terutama dengan Mark Ruffalo yang jadi ayahnya – Ruffalo sendiri sudah terbiasa dan jago juga dalam timing komedi gaya celetukan yang juga dilakukan oleh film-film Marvel. Komedi semacam ini diseimbangkan oleh akting Jennifer Garner sebagai ibu. Weakest karakter adalah perannya Zoe Saldana yang baru akan benar-benar ngefek di akhi. Serta pemeran antagonis Catherine Keener, yang karakterisasinya memang standar sekali. Tidak ada layer dalam motivasi penjahat-ala-kartun-minggu-pagi miliknya.

The elephant in the room adalah aktor cilik Walker Scobell yang luar biasa mirip Reynolds, memainkan Adam Kecil. Reaksinya ketemu dengan diri yang sudah dewasa, berotot, punya alat-alat canggih, juga kocak sekali. Persis kayak yang diharapkan kalo ada anak kecil yang melihat dirinya udah gede, rasa penarasan dan excitement-nya dapet. Tapinya lagi, Scobell memang hanya perlu menirukan Reynolds karena di sini si Reynolds sendiri memang tidak memainkan karakter. Reynolds yang seperti memainkan dirinya sendiri mempermudah Scobell. Gak perlu kayak Helena Bonham-Carter yang berakting jadi Emma Watson berakting jadi Hermione yang akting jadi Bellatrix di Harry Potter. Inilah kenapa aku gak benar-benar terkesan sama Adam Kecil. Aku gak bilang mudah dan semua orang bisa niruin Reynolds, tapi hanya gak ada lapisan aja. Dia niruinnya sama persis, ya mannerismnya, ya mimiknya, ya pace nyamber obrolannya. Mestinya Reynolds di sini bisa memberikan karakter yang ia perankan lebih sebagai karakter lagi, bukan sebagai dirinya.

ADAMb784gzy_lGR2CY_ZJOQdrvGjyvn-obZGA
Bayangkan jadi penonton live Hulk dan Deadpool adu mulut.

 

Jadi setidaknya ada dua kemudahan yang diambil film ini. Soal karakter Adam yang basically cuma Ryan Reynolds. Dan soal time travelnya tadi. Gak ribet dalam melandaskan teori dan logika-film. But wait, there’s more conveniences alias kemudahan. Adegan-adegan aksinya – yang btw melibatkan orang-orang yang bisa tak kelihatan – tidak pernah terasa menggebu. Heboh sih iya, tapi gak ada intensitas. Penjahatnya tetap mudah dikalahkan. Sekuen berantemnya pun gak wow banget, banyak elemen yang udah pernah kita lihat (termasuk senjata yang mirip Lightsaber, eventho film berusaha menyetir ini sebagai komedi dalam cerita). Selain itu, film memang banyak memasukkan referensi kisah time travel dan sci-fi lain. Sehingga semua itu jadi datar aja, plus juga karena kita gak benar-benar melihat stake. Tahun 2050 diserahkan kepada imajinasi kita, which is good, hanya saja keadaan di tahun itu juga dijadikan informasi pembanding. Adam ingin mencegah 2050 hancur, dan katanya tahun itu ‘bad’. Dengan demikian, dunia tahun 2050 itu sekarang jadi stake, dan kita jadi perlu melihat seperti apa dunia di masa depan itu supaya kita bisa peduli dunia yang sekarang gak jadi seperti itu. Film ngambil kemudahan dengan gak memperlihatkan, yang berakhir gak gampang bagi kita untuk peduli sama petualangan mereka. Kemudahan tersebut lantas jadi kelemahan.

Dan bicara soal kelemahan, ada satu logika yang aneh sekali dalam sains cerita. Okelah, mereka ngeset dan bikin logis time travel dengan cara simpel mereka sendiri. Yang kubicarakan ini adalah sains soal kenapa Adam Gede butuh Adam Kecil untuk bertualang. Diceritakan di sini adalah karena Adam Gede tertembak, dia terluka, sehingga pesawat mutakhirnya gak lagi mengenali DNA tubuhnya. Maka dia butuh Adam Kecil yang gak terluka. Dia butuh DNA yang ‘sehat’. Question is, bagaimana luka tembak dapat mengubah DNA seseorang? Aku bukan ahli DNA tapi kalo ada yang kupelajari tentangnya maka itu adalah DNA makhluk akan sama; Luka atau bahkan cacat (yang bukan dari lahir) enggak akan mengubah DNA. Kayak, kalo Animorphs menyadap DNA hewan yang luka, maka saat mereka berubah menjadi hewan tersebut, mereka akan jadi hewan yang sehat, bukan yang luka. DNA itu genetik, dan luka fisik tidak terimprint di sana. The Adam Project tidak berhasil menjelaskan kenapa pesawat tidak lagi mengenali DNA Adam Gede dengan logis. Sehingga poin sepenting Adam Kecil harus ikut jadi sangat lemah. The whole movie ternyata bergantung kepada logika selemah itu. Aku gak nyebut plot hole atau apa, tapi kalo kita peduli sama letak perban di kepala orang sakit dalam film-film, maka hal sepenting DNA ini juga harusnya jadi concern kita, sebab benar-benar berkaitan dengan cerita ini bisa berjalan atau tidak.

Tadinya aku pikir mungkin di akhir akan diungkap kalo soal DNA itu cuma bualan Adam semata, bahwa dia sebenarnya pengen Adam Kecil ikut, atau gimana kek. Atau kupikir bakal ada penjelasan lanjutan. Tapi gak ada. Ini hanyalah cara mudah berikutnya dari film untuk menjelaskan kenapa Adam Kecil harus ikut bertualang. Padahalnya lagi, soal DNA ini bisa dijelaskan dengan menyebut senjata masa depan memang dapat mengubah DNA, makanya kalo mati ditembak ini orang jadi hancur. Tapi, film gak nyebut apa-apa soal senjata tembak. Orang lenyap hanya disebut sebagai akibat dari mati di luar timeline/universe hidupnya yang asli. Lagi-lagi, kemudahan bercerita. Eh, tapi lama-lama kemudahan itu jadi tampak seperti kemalasan ya!

 

 

Kalo aku guru IPA atau sains, maka aku akan ngasih nilai merah untuk film ini. Karena penjelasannya terlampau sederhana hingga cenderung malas. Film hanya menjelaskan time travel, tapi tidak menjelaskan soal DNA yang mereka angkat. Tapi untungnya aku bukan guru. Aku hanya penonton yang menulis ulasan film. Maka aku menilai dari filmnya saja. Yang bercerita dengan menghibur, memastikan kita tidak beruwet-ruwet dalam konsep time travel, dan makin mendaratkan cerita dengan tema keluarga yang grounded. Tapi uh-oh, film ini masih juga terasa malas, karena sebagai aksi sci-fi, dia masih generik, lebih banyak masukin referensi daripada adegan original, dengan stake yang gak terasa. Bahkan kematian dalam cerita, gak pernah terasa sedih-sedih amat.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE ADAM PROJECT.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

Kalo berkesempatan ke masa lalu, tahun mana yang kalian tuju dan apa yang akan kalian katakan kepada diri kalian di tahun itu?

Share  with us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY Review

“Love brings you home”

 

Untuk urusan film adaptasi video game, kita para nerds bisa lebih ganas daripada zombie. Kita akan bergerombol memadati bioskop, lalu pulang dengan jalan terseok. Menggerutu. Mengerang. “Argghh apaan gak seru! Jauh banget ama video gamenya!!” Seri Resident Evil dari Paul W.S. Anderson secara konstan terus bigger and bigger sebagai ganti dari mengusung cerita original yang berbeda dengan seri gamenya. We hated those movies. Lebih mirip mindless action flick ketimbang survival horor. Jadi demi menjawab erangan fans dan kecintaannya sendiri terhadap franchise ini, seperti Claire Redfield di dalam cerita yang pulang ke kota asalnya, sutradara Johannes Roberts memulangkan kembali film Resident Evil. Dia mereboot seri film ini dengan mengeset cerita balik ke akar video game originalnya. Mencuatkan elemen survival horor. Membangun atmosfer kelam. Membuat suasana yang persis dengan game. Menghadirkan nama-nama yang sudah dikenal baik. Roberts benar-benar membuat sesuatu yang kita minta. Tapi aku keluar dari teater dengan tetap mengerang. Dia membuat semuanya sama dengan game, kecuali karakternya.

“WUARRRGGHHH!!!”

reidentcreepy-new-nightmare-trailer-for-resident-evil-welcome-to-raccoon-city
Welcome to Cringe City

 

Sekarang aku jadi kangen ama Alice dan Resident Evil-nya Anderson. Yea mereka gak bagus, tapi setidaknya ada energi di baliknya. Resident Evil: Welcome to Raccoon City ini mirip game, ceritanya lebih horor, tapi ternyata malah bland. Bahkan ledakannya aja terasa hampa. Semuanya sama dengan game yang udah dimainkan ternyata punya kelemahan tersendiri, yakni menjadikan jalan cerita tak lagi punya hook. Sehingga film harus bergantung kepada karakter-karakter. Dan pada mereka itulah, film ini tersungkur paling keras.

Roberts menggabungkan elemen cerita pada dua game pertama (Resident Evil dan Resident Evil 2) ke dalam seratus menit. Penonton yang punya nostalgia sama game-game tersebut bakal kesengsem berkaca-kaca saat melihat lokasi dan skenario yang udah dikenal, terhidupkan ke dalam film ini. Claire Redfield yang kembali ke Raccoon City untuk bertemunya abangnya, Chris. Sementara Chris – beserta rekan-rekannya – dikirim menyelidiki mansion di hutan. Rumah gede tempat tim yang dikirim sebelum mereka tidak mengirimkan kabar apa-apa. Claire menemukan ada yang gak beres di kota mereka. Penduduknya berubah menjadi beringas, ingin memakannya. Jadi Claire pergi ke kantor polisi. Di sana dia akan team up dengan Leon si polisi anak baru. Sampai akhirnya mereka menelusuri jejak Umbrella Corporation yang merupakan dalang dari zombie outbreak di kota.

Kalian tahu dong meme Leonardo DiCaprio yang duduk nunjuk layar (dari adegan film Once Upon a Time in Hollywood)? Yea, that’s us for the majority of this Resident Evil movie. Banyak adegan, maupun dialog, yang mereferensikan hal-hal populer dari gamenya. Seperti adegan zombie botak yang lagi makan berbalik pelan menghadap kamera, atau ketika ada adegan mecahin puzzle di piano, atau ketika term “Jill’s sandwich” diucapkan. Dan bukan hanya dari dua game itu saja, Roberts meluaskan librari nostalgianya kepada versi remake dan versi alternatif yang hadir di konsol game lain. Sebagai pembungkus dari semua itu, Roberts menggunakan atmosfer horor yang dicomotnya dari horor-horor 80an. Suasana ala horor John Carpenter, ditambah aksi survival dari zombie yang bisa muncul menyerang dari mana saja, film ini tampak sudah punya model atau formula yang oke sebagai sebuah sajian horor yang menghibur. Aku bisa membayangkan kalo penonton yang gak pernah main gamenya akan bisa lebih menikmati suasana menyeramkan dan misteri kota Raccoon. Terutama penonton horor mainstream, karena film ini memang juga memasukkan elemen horor yang seperti hantu-hantuan sebagai pengeset mood alias sebagai pembuka. Sementara penonton nerd yang main gamenya bakal lebih menikmati lewat sajian nostalgia, karena kita tahu seberapa tipis cerita, apa yang bakal terjadi di balik semuanya.

Resident Evil bicara tentang kota yang menjadi korban dari perusahaan yang tidak bertanggungjawab. Sekali lagi rakyat jadi tumbal bagi perbuatan orang kaya. Elemen lebih gelapnya menyangkut anak-anak turut dijadikan bahan percobaan. Dari konteks itu, berkembanglah berbagai game, film, yang terus lebih besar. Sehingga franchise ini butuh reset. Sayangnya, bahkan setelah direset dengan penuh passion dan cinta terhadap seri ini pun, Resident Evil ini gagal melihat apa yang seharusnya digali lebih dalam untuk membuat ceritanya jadi horor survival kemanusiaan yang sebenarnya.

 

Dengan segera penonton baru dan penonton nerd ini akan jadi akur. Alias ama-sama kehabisan hal menarik yang bisa dinikmati di sini. Sama-sama gak punya pegangan untuk bertahan. Cerita tipis – yang bahkan tidak benar-benar memenuhi fungsi sebagai prekuel karena tidak membahas mendalam soal perusahaan korup yang menjadikan satu kota sebagai tempat buangan limbah eksperimen yang dilakukan dengan tidak bertanggungjawab – juga tidak dibackup dengan karakterisasi yang menarik. Claire si karakter utama tidak banyak beban emosional. Motivasinya kembali ke kota yang ia benci (dan in a way, ia takuti) adalah untuk bertemu dengan abangnya, dan itu terpenuhi dengan cepat. Enggak ada tantangannya, enggak ada dramanya. Setelah itu, Claire hanya ada di sana untuk bereaksi dengan kejadian-kejadian, sembari terflashback ke masa kecil. Dia juga dibikin jago banget, beberapa kali menyelamatkan Leon yang entah kenapa dibikin sebagai total joke di sini. Dua karakter utama game Resident Evil 2 dikasih dinamika yang sangat basic dan boring, bahkan pemainnya tampak bosan memainkan karakter mereka. Dan Chris serta yang lainnya, just generic. Gak ada motivasi personal sama sekali. Cringe malah, karena cuma mencoba melawak dan menyumpah serapah saat keadaan menjadi mengerikan.

Perubahan karakter memang jadi sumber utama blandnya film ini. Aku akan menyebut hal yang tidak berani disebut banyak orang, terutama kritikus karena permasalahannya memang sensitif; mereka mengganti sosok karakter-karakter yang sudah kita kenal menjadi sama sekali berbeda. Jill, diganti dari blonde white girl, menjadi perempuan berkulit gelap berambut ikal. Leon, diganti jadi keluar dari stereotipe jagoan amerika. Pergantian itu apalagi kalo bukan supaya karakter film ini beragam. Supaya gak kulit putih semua. Sebenarnya bukan masalah digantinya, melainkan karena naskah tidak memberi mereka kesempatan untuk membuktikan diri bahwa mereka adalah karakter tersebut. Film hanya memparadekan nama mereka setiap kali ada dialog. Menyebut-nyebut nama walaupun kita udah tahu mereka itu siapa, seolah cuma nama itulah identitas mereka.

reidentevillcome-to-raccoon-city-terbaru-rilis-layar-id
All I see is bunch of NPCs saking kosongnya karakter mereka

 

Ketika karakter yang sudah dikenal (dari game, dan/atau dari film sebelumnya) diubah, penonton perlu diintroduce ulang kepada mereka. Dan itu gak bisa hanya dengan nama saja. Apalagi mereka adalah karakter utama dalam video game. Karakter yang diperankan oleh pemain, menempuh banyak petualangan bersama. Sehingga pemain yang bakal jadi penonton mereka dalam film, mengenal mereka, mengidentifikasi diri sebagai bagian dari mereka. Mengganti karakter mereka begitu saja, merampok penonton dari identifikasi ini. Mereka jadi asing, gak konek lagi. Filmlah yang harus menyambung ini kembali. Jill, Leon, bahkan Chris dan Claire – empat yang kita mainkan sebagai diri kita di game, tidak dibuild up dengan proper oleh film ini. Mereka hanya ditampilkan. Menyebut nama. Ditambah dengan penampilan yang dibuat sama sekali berbeda. Gak heran kenapa kita gak konek sama mereka. Mereka basically adalah nobody, tanpa background story, tanpa karakterisasi untuk kita pegang.

Melihat mereka di film ini, aku jadi berpikir kalo Paul W.S. Anderson justru telah memilih cara yang tepat. Mengambil karakter lain di luar game sebagai karakter utama. Membentuknya sebagai protagonis dan perwakilan dari kita. Kemudian baru menampilkan karakter-karakter yang sudah kita kenal di game. Dengan begitu, berarti Anderson bisa dengan lebih bebas membangun cerita dan dunia sendiri, dengan tidak ‘mengganggu’ karakter-karakter original. Taktik yang sama digunakan oleh Mortal Kombat (2021), menghadirkan karakter baru sebagai fokus kita untuk mendekatkan diri, sementara bisa lebih bebas menampilkan karakter-karakter ikonik, tidak perlu mengubah atau membangun ulang mereka. Karena ya memang pasti susah membangun karakter seperti Jill, Leon, Claire, Chris yang empat-empatnya jagoan utama sekaligus dalam satu film. Suicide Squad 2016 sudah membuktikan itu adalah hal yang nyaris mustahil.

Waktu kecil, aku terblown away oleh klip live-action intro game Resident Evil pertama. Waktu itu rasanya nambah serem banget ke petualangan nanti, dan juga kayak bikin gamenya semakin… real? Haha, kalo ditonton sekarang sih klip itu kerasa banget cheesy-nya. Efeknya keliatan banget disamarin oleh warna hitam putih. Tadinya aku berharap film Welcome to Raccoon City ini paling enggak bisa ngasih feel yang sama, tentunya dengan scare dan efek praktikal yang lebih meyakinkan. Turns out, efek dalam film ini kadang oke, kadang lebih cheesy daripada klip tersebut. Akting karakternya pun begitu, malah lebih cringe mengingat mereka aktor yang lebih profesional. Yang paling bikin aku kecewa ya, ternyata nonton film ini gak terasa apa-apa. 

 

 

 

Baik versi sebelumnya maupun versi yang ini, semuanya punya kekurangan besar masing-masing. Versi yang ini meski punya atmosfer dan elemen horor seperti (gerak kamera dan penggunaan cahaya) yang lebih seram, yang lebih mendekati estetik gamenya, hadir dengan sangat datar. Karakter-karakternya tidak bisa kita kenali. Mereka direduce jadi pelontar one-liner dan template konyol. Tidak ada motivasi personal. Mereka cuma berlarian mencari jalan keluar, bereaksi pada kejadian. Tidak belajar darinya. Ceritanya memang tidak membahas mendalam. Penggabungan cerita dua gamenya tidak mulus. Dan banyak hal yang konyol. Kejadian yang ditempatkan sebagai inciting incident di sepuluh menit awal aja sebenarnya udah cukup untuk meruntuhkan film ini. Mana ada zombie yang melipir ilang gitu aja padahal ada dua mangsa potensial lagi berdiri di jalanan di dekatnya. But hey, kita zombie kalo udah soal film adaptasi game. Kita akan terus memenuhi bioskop sambil meneriakkan hal yang ingin kita santap tapi tidak kunjung diberikan oleh filmnya. “Braaaaiiiiinnn!!”
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for RESIDENT EVIL: WELCOME TO RACCOON CITY.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Ada gak sih sutradara yang pengen kalian lihat ngedirect Resident Evil? How you think he/she will make things different for the movie?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

FINCH Review

“If you can’t explain it simply, you don’t understand it well enough”

 

 

Finch-nya Tom Hanks berharap robot buatannya bisa hidup layaknya manusia. Akan tetapi, tidak seperti Pak Tua Geppetto si Tukang Kayu, Finch tidak butuh Peri Biru untuk membuat keinginannya itu terkabul. Karena Finch adalah enginer robot yang handal. Dia telah membuat robot sederhana, sebelumnya. Dia hanya perlu step up his game, dan membuat robot cerdas yang bisa bicara, bergerak, dan berpikir. Dan, tidak seperti Geppetto yang membuat boneka kayu karena kesepian, Finch membuat robot bukan untuk cari teman. Finch memang sendirian (satu-satunya manusia di tengah mesin, perkakas rongsok, dan anjing peliharaan), tapi Finch tidak merasa kesepian. Finch justru nyaman dengan keadaannya. Satu-satunya alasan dia ingin menciptakan robot seperti manusia, adalah karena Finch merasa hidupnya sudah tak lama lagi, sehingga dia harus segera mencari pengganti. Pengganti siapa dan buat apa? Pengganti dirinya untuk menjaga anjing peliharaan kesayangannya.

finch202109211022-main.cropped_1632194537
Kayaknya aku butuh juga belajar bikin robot untuk jagain kucingku

 

 

Jika cerita tersebut terdengar datar bagi kalian, maka itu hanyalah karena aku memang belum menyebut settingnya. Di sini, aku ingin memperlihatkan bahwa setting suatu cerita ternyata memanglah sangat berperan. Sehingga tak jarang, setting tersebut menjadi bagian dari karakter dalam cerita. Gini, bayangkan cerita Finch itu bertempat di masa sebelum pandemi. Lalu coret itu, dan bayangkan cerita tersebut berada dalam situasi lockdown. Ya, narasi keseluruhan yang bermain dalam kepala kalian pastilah akan sangat berbeda – tentu saja akan ada perbedaan stake, tantangan, dan bukan tak mungkin juga perbedaan solusi. Bobot motivasi Finch mencarikan teman bagi anjingnya saja bisa berbeda antara saat dia bisa menemukan banyak manusia dengan saat harus bersusah payah untuk keluar rumah. Semua perbedaan tersebut dapat muncul hanya dengan mengganti situasi yang melatarbelakangi cerita. Sutradara Miguel Sapochnik enggak mau tanggung-tanggung. Dia menempatkan cerita Finch ke setting distopia.

Lapisan ozon Bumi sudah demikian parah (jadi kayak keju swiss, kata Finch) sehingga semua makhluk hidup yang terpapar sinar matahari, bakal kebakar seolah mereka adalah vampir. Situasi ini membuat kesendirian Finch beralasan, karena sejauh yang ia tahu (dan kita lihat) tidak ada manusia yang selamat. Situasi ini juga menghantarkan kita kepada kesehatan Finch. Lewat informasi visual, kita tahu dia terkena radiasi yang cukup parah. Dan di atas semua itu, makanan pun menipis. Situasi ini menciptakan stake yang menggencet. Yang membuat Finch harus bergerak setiap hari, mencari makanan di tempat-tempat terbengkalai, mempertaruhkan nyawa dengan keluar – ke tengah cahaya matahari – dengan pelindung baju UV yang sudah rombeng, menemukan tempat-tempat yang aman – bagi dirinya dan anjingnya – dari serangan badai berikutnya. So we see Finch is in a pinch situation. Situasi itulah yang enventually mengharuskan, mendesak, karakternya untuk membuat robot dan meletakkan kepercayaan yang ia tahu amat sangat berharga.

Setelah premis manusia membuat robot untuk menjaga anjing, membangun dunia yang memuat itu sekaligus menyediakan tantangan dan desakan yang kuat, tugas Miguel berikutnya adalah memberikan tema. Gagasan apa yang ingin ia sampaikan sebagai ruh dari konflik cerita. Ibarat jika bikin robot, sutradara Miguel kini harus memberikan robot itu baterai. Trust atau kepercayaan, dipilih olehnya sebagai ‘baterai’ tersebut. Dan ini berhasil jadi motor penggerak yang efektif. Pembelajaran tentang trust yang dilalui oleh para karakter; Finch sendiri, Jeff si Robot, dan Goodyear si anjing kesayangan (hanya tiga inilah karakter yang muncul dalam cerita) itulah yang membuat cerita jadi punya hati, yang membuat narasi film menjadi sedemikian berbobot sehingga film Finch bisa mencuat melebihi statusnya sebagai film distopia biasa yang menceritakan soal bencana umat manusia.

Robot itu diciptakan Finch sebagai makhluk cerdas, setia, punya daya tangkap luar biasa (meskipun sebenarnya terpaksa berjalan dengan kekuatan 72% dari potensi aslinya) supaya si robot tinggal meniru apa yang dilakukan Finch. Ngasih makan anjing, ngendarai mobil van, bikin shelter dan segala macamnya. Satu hal yang tidak bisa diprogramkan adalah, membuat robot itu dipercaya oleh Goodyear, sang anjing. Jadi, Finch dalam sisa umurnya harus mengajarkan si robot berlaku, supaya mendapat kepercayaan. Masalahnya, Finch sendiri adalah orang yang punya trust issue. Dari pengalaman masa lalu yang ia ceritakan kepada robot dalam berbagai kesempatan, kita paham bahwa Finch enggak percayaan sama orang, bahkan sebelum bencana matahari menimpa bumi. Dalam keadaan mereka yang sekarang, ketidakpercayaan Finch terhadap orang lain semakin besar. Bukannya tidak ada lagi manusia, namun kondisi manusia berebut untuk survive telah meruntuhkan sisa-sisa tembok kepercayaan di dalam diri Finch. Terlebih karena dia dan si anjing telah hidup sebagai saksi betapa jahatnya manusia saat kondisi memaksa mereka. Jadi, pertanyaan besar yang membuat interaksi karakter-karakter ini menarik adalah bagaimana bisa seseorang mengajari sesuatu hal kepada orang lain, saat dia sendiri tidak paham sama hal yang hendak ia ajarkan.

Tentu saja tidak bisa. Finch bahkan gak bisa menjelaskan makna trust dengan sederhana dan tepat, saat si robot bertanya. Finch hanya menjawab trust adalah trust. Dia either menjawab terlalu singkat, atau menjawab dengan cerita yang sangat panjang. Finch gak tahu, karena dia sendiri gak pernah percaya sama orang lain sebelumnya.  Inilah yang harus disadari oleh Finch, dalam waktunya yang terbatas. Finch sendirilah harus yang lebih dulu belajar memahami apa itu trust, bagaimana mempercayai orang lain kembali, sebelum ia berusaha mengajarkannya kepada Jeff si Robot.

 

Banyak penonton dan kritikus yang mengatakan film ini tidak original dan membanding-bandingkannya dengan film distopia lain, dan bahkan juga dengan film Tom Hanks lain, Cast Away (2000) hanya karena setting dan situasinya. Padahal sebenarnya, Finch ini pada intinya justru lebih mirip dengan Finding Nemo (2003). Si Finch adalah Marlin yang harus belajar untuk mempercayai Dory (dan eventually Nemo) – yang dalam film ini adalah Jeff si Robot. Akan ada adegan ketika Finch harus membuat keputusan, dan Jeff mengusulkan sesuatu tapi Finch menolak karena tak percaya. Akibatnya mereka berada pada tempat yang semakin parah. Tentu saja, film ini punya pesonanya tersendiri.

finch.ucmki3.image.qoh
Robotnya mirip mukak Deadpool, dan pas ngomong kayak lagi di Red Roomnya Twin Peaks

 

 

Sebagian besar, film ini ditopang oleh kepiawaian akting Tom Hanks. Aktor satu ini, batuknya aja meyakinkan! Hanks memainkan pria terluka luar dalam dengan power yang membuat kita tidak memandang karakternya dengan beriba-iba ria. Kita bisa melihat perjuangan dan desakan. Kita bisa melihat betapa dia tidak menyerah meskipun di lubuk hati dia pesimis sama dunia. Kita bisa merasakan dia hanya hidup untuk menjamin anjingnya berada di tangan yang benar. Hanks bersinar memainkan karakter ini, dia membuat akting dengan banyak dialog itu dengan berbagai range emosi itu tampak mudah. Momen-momen ketika dia ‘mendongeng’ untuk Jeff, aku merasa gak sabar dan ikutan duduk di sana mendengarkan cerita. Hanks gak butuh flashback, cukup dia bercerita aja, semua emosi yang diniatkan, semua pembelajaran yang dikandung, sudah tersampaikan kepada kita. Maka, tugas akting Caleb Landry Jones pun tak kalah berat. Dia harus bisa mengimbangi Hanks, sekaligus sebagai robot yang satu-satunya cara menunjukkan ekspresi dan perkembangan adalah lewat suara. Caleb berhasil terdengar seperti anak yang polos ke seorang yang penuh rasa optimis, hingga menyerempet ke komedi lewat kontras karakternya dengan Finch. Developmentnya semakin terasa saat film mendekati akhir. Jeff terasa sekali perbedaannya dengan saat di awal, kita merasakan progresnya dalam belajar menjadi semakin ‘manusiawi’.

Interaksi Finch dengan Jeff, Jeff dengan Goodyear, Finch dengan Goodyear menghantarkan kita melewati naik turunnya perasaan hangat, haru, intens, dan juga kocak. Film memang gak berniat menjadi sepenuhnya depressing. Malah, lebih banyak momen-momen ringan. Momen-momen yang lebih manusiawi. Mengingat ini cerita distopia dengan tokoh manusia dan robot dan hewan, maka pencapaian manusiawi tersebut jelas merupakan feat yang luar biasa. Saat menonton, seiring perjalanan yang dilakukan para karakter menuju Golden Gate Bridge (yang membuat film ini semacam road-trip movie) kita akan merasakan cemas, dan sedikit gak tega karena kita tahu cerita mengarah kepada Finch yang harus pergi. Alias mati. Bagi naskah, inilah yang dijadikan pertanyaan untuk dijawab di babak terakhir. Apakah usaha Finch berhasil?

Enggak banyak film yang berhasil tetap stabil saat ‘mencabut’ karakter utamanya saat cerita berlangsung. Kebanyakan langsung jatuh bebas, alias sudut pandangnya jadi kacau, dan tidak terjustifikasi kenapa karakter utama tersebut harus hilang atau diganti atau semacamnya. Contoh teranyar adalah The Medium (2021), horor Thailand yang bangunan ceritanya langsung runtuh saat karakter utama dibikin tewas dan ujug-ujug diganti oleh karakter dukun yang random. Finch adalah contoh yang berhasil. Suprisingly, film ini berhasil mencapai ending yang memuaskan meskipun karakter utamanya harus undur diri. Karena naskah benar-benar ditulis dengan matang. Keseluruhan babak terakhir adalah untuk menunjukkan keberhasilan Finch. Kita melihat aftermath dan apa yang ia ‘wariskan’ kepada Jeff. Masih ingat ketika di awal ulasan disebut setting sebagai bagian dari karakter? Seiring Finch belajar tentang trust, bahwa masih ada yang bisa diharapkan di muka bumi, situasi dunia cerita pun berubah. Membantu Finch menyadari semua itu. Gampang untuk overlook dan mengatakan film ini random tiba-tiba dunianya udah gak bahaya lagi. Sesungguhnya, film meminta kita untuk percaya bahwa ada yang mendasari semua itu. Bahwa sebenarnya yang diperlihatkan bahwa masih ada harapan. Sepeninggal Finch, cerita tidak berakhir karena lewat interaksi Jeff dan Goodyear film memperlihatkan bahwa perjalanan karakter Finch sudah melingkar sempurna. Jeff mendapat kepercayaan Goodyear karena Finch telah berhasil membuka hatinya untuk sebuah trust.

 

 

 

Buatku film robot ini hangat sekali. Action dan komedi dan ketegangannya tidak pernah berlebihan, melainkan fokus kepada cerita karakter. Perjalanan manusiawi yang harus ditempuh oleh karakternya. Sebagai road-trip, memang film ini adalah salah satu yang cukup langka, karena menunjukkan karakternya sampai di tujuan, bahwa tujuan itu sama berharganya dengan prosesnya. Secara terpisah film ini memang bisa terasa kurang original. Premisnya kayak sudah banyak. Settingnya apalagi. Namun secara gambaran besar, semua elemen di film ini berada pada tempat dan memenuhi fungsinya masing-masing. Dihidupi oleh tema yang menggugah dan penampilan akting yang memukau. Mata kita pastilah kelilipan pasir jika tidak melihat indahnya film ini. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for FINCH.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian termasuk yang susah mempercayai orang? Mengapa menurut kalian itu bisa terjadi?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TITANE Review

“Hard experiences may indeed make you tough.”

 

Titane adalah cerita tentang seorang perempuan yang cinta sama mobil. Itu adalah kalimat yang paling innocent dalam mendeskripsikan film karya sineas Perancis Julia Ducournau ini. Sebenarnya, Titane bukanlah cerita yang innocent. Ataupun bukanlah cerita yang normal. Cinta sama mobil yang kita kenal adalah, sikap orang yang merawat dengan seksama kendaraan yang punya nilai tertentu bagi dirinya. Orang yang membanggakan kendaraannya karena kendaraan tersebut entah itu irit, awet, atau mesinnya ‘bandel’. Ya, cinta yang normal-lah. Cinta sama mobil Titane berada dalam realm yang sama sekali berbeda. Perempuan tokoh utama film ini lebih suka mengekspresikan dirinya kepada mobil, ketimbang kepada manusia. Dia menari erotis di atas kap mobil. Hingga di satu titik, perempuan tersebut hamil. Oleh mobil.

Alih-alih air susu, dadanya mengeluarkan oli. Alih-alih ketuban, cairan hitam pekat-lah yang muncrat dari dalam tubuhnya. Di satu sisi, film ini memang cocok dimasukkan ke dalam kotak body-horror, berkat bertaburnya elemen-elemen edan ketakutan si karakter perempuan terhadap kondisi tubuhnya. Namun di sisi lain, di samping keanehan tersebut, sutradara Julia sesungguhnya kembali menghadirkan kepada kita kisah hubungan kekeluargaan yang hangat. Yang mengalun beriringan dengan tema-tema yang super relate dengan kemanusiaan. Seperti self-healing atas trauma, dinamika gender, dan kendali atas tubuh/hidup sendiri.

titane840_560
Kucumbu Mobil Indahku

 

Perempuan itu bernama Alexia. Waktu kecil, Alexia pernah kecelakaan mobil. Sehingga pelat baja harus ditanam di kepalanya. Tau tidak siapa yang pertama kali dipeluk dan dicium Alexia cilik begitu operasi perawatannya berhasil? Bukan, bukan ibu dan ayahnya. Mobilnya. Kecintaan tak-wajar Alexia sama mobil memang telah tumbuh sejak dini. Dan kerenggangannya dengan orangtua – terutama dengan ayahnya – besar kemungkinan adalah sumber dari segalanya. Setelah dewasa, Alexia bekerja sebagai penari stripper. Spesialis nari di mobil. Dirinya semakin berjarak dengan manusia-manusia lain. Malahan, saking canggungnya dengan manusia, Alexia punya kecenderungan untuk membunuh orang-orang di sekitarnya. Serius. Alexia jadi semacam serial killer! Di tengah pelariannya suatu ketika, Alexia menyamar menjadi putra dari seorang pemadam kebakaran. Putra yang hilang sejak kecil. Penyamaran Alexia membawanya bertemu dengan Vincent, sang pemadam kebakaran. Alexia tinggal bersama Vincent yang percaya dia adalah putranya. Film Titane lantas mulai berganti gigi. Masuk ke dalam cerita melodrama dua orang asing yang saling tidak menampilkan diri masing-masing, meski tak bisa dipungkiri, mereka saling membutuhkan.

Karena bicara tentang tubuh dan trauma itulah, maka film ini terasa seperti versi cewek dari Kucumbu Tubuh Indahku (2020) bagiku. Bagaimana tidak? Film ini juga menggunakan tubuh sebagai rekam jejak hidup yang dilalui oleh Alexia. Hidup yang penuh trauma. Lempeng baja di kepalanya itu merupakan bukti literal, catatan, atas trauma pertama yang menimpanya. Dan trauma itu membekas, seperti halnya lempeng baja yang terus bercokol di sana. Sebagai simbolisme, lempeng itu menunjukkan karakter dari Alexia. Perempuan yang tangguh. Atau mungkin lebih tepatnya, membuat dirinya tampak tangguh. Setiap pengalaman buruk, setiap trauma yang ia alami, membentuk dirinya semakin heartless. Semakin dingin. Semakin tak-perempuan. Di sinilah aspek gender mengambil peran dalam cerita. Memang masalah Alexia dan ayahnya tidak pernah disebutkan dengan gamblang, tapi aku tidak akan kaget kalo ternyata ayah lebih senang punya anak cowok ketimbang cewek. It would explain kenapa Alexia suka sama mobil. Teoriku, backstory cerita adalah, Alexia mencoba untuk memenuhi ekspektasi ayahnya tersebut, dan hasilnya adalah kekacauan hubungan ayah-anak yang kita lihat di film ini.

Jadi, seperti Juno dalam Kucumbu Tubuh Indahku, Alexia lantas menapaki hidup yang penuh trauma sembari tidak boleh menunjukkan kelemahan. Namun jika Juno berakhir harus menahan sisi feminimnya, Alexia yang kodratnya sudah cewek – harus menekan kemanusiaannya. Itulah sebabnya kenapa Alexia menjadi distant dengan manusia. Kenapa dia bisa jadi serial killer. Pelat baja adalah simbol sisi kemanusiaannya yang hilang. Dan kehamilannya oleh mobil, adalah simbol puncak hal tersebut. Dia hamil setelah melakukan pembunuhan yang, at least pertama kita lihat. Trauma atas peristiwa tersebut membuahkan kehamilan kepadanya. ‘Buah’ yang menunjukkan dia bukan lagi ‘manusia’. Sekaligus juga jadi tantangan terbesar, dia harus menghadapi kewanitaannya. Tebak ke mana cerita membawa Alexia berikutnya? Ya, Alexia yang tengah hamil (kecepatan hamilnya pun di luar kecepatan hamil normal) harus menekan perut buncitnya dengan suspender, karena dia harus menyamar sebagai laki-laki. See, semua simbolisme tadi itu comes together di paruh kedua cerita.

Secara teori, trauma yang kita rasakan, ‘diserap’ oleh tubuh. Semua yang kita alami, baik secara fisik maupun secara mental atau emosional, akan direkam dan disalurkan kepada tubuh. Maka ada benarnya juga perkataan yang mengatakan bahwa pengalaman keras dan trauma dapat membuat kita jadi lebih tangguh. Tubuh kita beradaptasi, membentuk pertahanan terhadap itu. Tapi sebagai manusia kita tidak hanya tubuh. Kita perlu penyaluran yang sehat terhadap trauma tersebut, penyaluran yang tidak membebani tubuh semata.

 

Jika kita memang menganggap film ini terdiri dari dua bagian cerita, maka bagian terbaik film ini adalah cerita di bagian keduanya. Ketika Alexia ‘terperangkap’ sebagai Adrien, putra yang telah lama hilang dari Vincent. Di sini adalah ketika semua yang dipercaya Alexia selama ini ditantang. Mau itu tentang bagaimana ayah kepada anaknya. Hingga ke tentang menjadi tangguh atau be a man itu sendiri. Selama ini, sebagai perempuan (dan penari stripper!), Alexia merasakan tatapan lapar para lelaki. Jadi dia berusaha untuk tidak menunjukkan kelemahan. Sebagai Adrien, Alexia merasakan ‘tatapan’ yang berbeda dari para lelaki. Dia experience something yang tak pernah ia rasakan, sekaligus juga sesuatu yang familiar. Dia belajar banyak tentang kendali tubuh dan ekspresi dari Vincent, karakter yang actually ditulis lebih beresonansi ketimbang dirinya sendiri. Vincent, kapten pemadam kebakaran yang dituntut untuk tampil macho, tapi punya sisi vulnerable sendiri. Yang di saat-saat pribadinya, kita tahu kapten itu tidak prima lagi. Secara teknis pun, film langsung jor-joran menghasilkan kontras dari berbagai aspek saat cerita mulai menapaki hubungan antara Alexia dengan Vincent. Warna-warna lembut di momen-momen maskulin, misalnya. Kontras-kontras itu menambah depth buat narasi yang sedang disampaikan. Ending saat keduanya mulai menerima diri mereka masing-masing adalah momen indah, sekaligus sedikit menyeramkan. Memang, relasi kedua karakter inilah yang jadi hati yang kita tunggu-tunggu sepanjang durasi.

titanedd
Cerita yang saking anehnya, aku jadi membaca judulnya pake logat anime “Ti-ta-neee~”

 

Bagian pertama film ini memang sukar untuk ditonton. Alexia benar-benar karakter yang sulit untuk disukai. Waktu kecil dia begitu annoying dengan menirukan suara mesin mobil (dia bertingkah annoying itu yang actually jadi penyebab dirinya kecelakaan) Dia tidak banyak bicara. Ekspresinya tak terbaca. Dia membunuh orang-orang, beberapa di antaranya adalah orang yang berusaha bersikap ramah kepadanya. Kita tak tahu apa yang ia pikirkan, dan apa motivasinya selain tidak ingin tertangkap polisi. Hal satu lagi yang kita tahu adalah bahwa Alexia gak pengen hamil. Apalagi adegan-adegan yang ditampilkan juga bukan buat konsumsi orang-banyak. Adegan pembunuhannya digambarkan cukup real sehingga bisa bikin perut bergejolak. Adegan body-horrornya juga cukup disturbing, dengan oli muncrat ke mana-mana. Bahkan adegan ketika dia ‘mendandani’ dirinya untuk menyamar sebagai cowok; jangan harap adegan itu seelegan adegan Mulan potong rambut sebelum berangkat ke training camp. Film ini penuh oleh gritty things yang hard to watch. Namun begitu, aku salut sama penampilan aktingnya. Yang meranin Alexia itu bukan aktor profesional. In fact, film ini adalah debut aktingnya. Agathe Rousselle ditemukan oleh tim Julia di sosial media, dan langsung digembleng akting. Turns out, permainan akting silent dan berekspresinya juara banget.

Julia basically menyandarkan bagian pertama kepada performance aktor baru ini. Rouselle diberi kesempatan, dan she kills it! Satu-satunya alasan kita enggak berdiri dan ninggalin film ini meskipun di pertengahan awal itu karakternya unlikeable dan situasinya weird as hell, adalah Rouselle menyuguhkan penampilan akting yang membuat kita relate kepada Alexia, karakternya. Kita merasakan yang Alexia rasakan, lewat tubuhnya. Ketika dia membunuhi seluruh penghuni rumah, kecuali satu orang yang berhasil, kita merasakan kelelahan yang ia rasakan. Kita merasakan tekanan dari kejadian tersebut.

 

 

 

Mesin film ini memang lama panasnya. Set upnya gak benar-benar melandaskan banyak, karena seperti ada penghalang kita dari si karakter utama. Ditambah pula dengan elemen horor dan adegan-adegan yang membuat film ini bukanlah sebuah tontonan yang bisa dengan mudah untuk diselesaikan. Tapi memang itulah yang jadi jualan utama. Sebuah pengalaman traumatis. Artistry, kreasi, dan semua kemampuan sinematik pembuatnya diarahkan untuk membuat pengalaman tersebut mencuat. Walaupun harus menjadi seaneh mungkin. Bahkan ketika hati cerita mulai kelihatan pun, film tidak menginjak pedal rem dalam membuat dirinya tampak sebagai sebuah mimpi buruk. Namun di lubuk hati, kita tahu masalah yang dihadapi karakter-karakternya adalah masalah kemanusiaan yang real. Kita tahu perasaan tersebut bisa jadi relatable. Film ini dapat standing ovation sembilan menit di Cannes. Jadi, dalam semangat film itu sendiri, sekarang aku minta kita semua untuk berdiri. Dan bilang “Brrrrmmm Breemm Brmmmm!!”
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for TITANE

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang film dengan elemen cerita yang aneh seperti film ini? Apakah bagi kalian keanehan tersebut jadi daya tarik atau malah jadi turn-off?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DUNE Review

“There is no greater jihad than to help the helpless”

 

Beberapa menyebut film ini sebagai Star Wars versi lebih serius. Ada juga yang menyebutnya sebagai Star Wars versi islami. Cerita tentang Imam Mahdi. Bagi pembaca novelnya, Dune adalah fiksi ilmiah yang paling ditunggu, karena mereka penasaran bagaimana cerita sepadat itu divisualkan ke dalam tayangan. Bagi David Lynch, Dune adalah pengingat kegagalan, sehingga ia bahkan tak tertarik nonton film baru ini. Bagi ‘film-twitter’, Dune adalah bahan ribut bulan ini. Dan akhirnya, tiba juga bagiku untuk menyumbang suara mengatakan Dune versi Denis Villeneuve ini adalah apa.

Waktu itu memang aku terlalu sibuk untuk ikutan keramean seputar artikel yang bilang orang yang ngantuk nonton Dune punya wawasan pas-pasan. Padahal semua itu gak ada hubungannya sama wawasan. Kubilang sekarang, mereka yang bosen, bahkan sampai ketiduran nontonin Dune versi baru ini, pastilah cuma orang-orang yang belum pernah nonton Dune yang versi David Lynch. Serius. Senada dengan Lynch sendiri, alasan aku juga enggak antusias menyambut Dune terbaru adalah karena aku punya mimpi buruk berkenaan dengan Dune 1984. Aku berusaha nonton lima kali, dan ketiduran enam kali!! Bukan karena film itu jelek – aku gak punya kapasitas bilang film itu jelek, karena selalu gagal menontonnya sampai habis – tapi karena film itu terbeban banget oleh eksposisi. Sepuluh menit pertamanya aja full-narasi eksposisi! Makanya, begitu akhirnya menonton Dune versi Denis, aku lega sekali karena film ini terasa jauuuuuuuuhhhhh lebih ringan. Denis meminimalisir semua eksposisi dan mitologi. Jika Dune memanglah awalnya dibuat untuk menjadi ‘saingan’ Star Wars, maka Dune versi 2021 ini adalah yang paling dekat untuk memenuhi fungsi tersebut. Film ini jauh lebih mudah untuk dinikmati ketimbang yang kalian dengar dikatakan oleh orang-orang.

DUNE4267631098
Film ini jadi bukti bahwa bisa kok sebuah adventure grande dibuat tanpa bumbu-bumbu humor one-liner yang cheesy

 

Aku ngerasa bisa relate sama usaha film ini dalam mengurangi eksposisi, karena di sini aku pun gak mau kalo review yang aku tulis akan terbaca sebagai gibberish – sebagai fafifuwasweswos omong kosong – oleh pembaca yang enggak ngerti sama istilah-istilah dalam semesta cerita Dune. Di sini, aku pun harus berusaha membuat supaya ulasan ini bisa semudah mungkin untuk diakses oleh general audience. Dan itu beneran susah! Diadaptasi dari novel karya Frank Herbert sepanjang 412 halaman, Dune punya dunia yang lore dan mitologinya penuh oleh istilah-istilah (dengan referensi kuat ke budaya dan peradaban Islam, sehingga wajar banyak yang nyebut ini sebagai Star Wars untuk sobat gurun), dan punya cerita penuh oleh intrik politik kerajaan-kerajaan atau kelompok-kelompok masyarakat, sementara juga tetap mempertahankan message mengenai lingkungan, sosial, dan kepercayaan sebagai tema yang membayangi gambaran besarnya. Ibarat minuman, Dune begitu kental. Susah untuk mengekstraknya menjadi konsumsi yang lebih ringan tanpa mengurangi esensi yang dikandungnya. Berikut usahaku menceritakan sinopsis dengan singkat, tanpa menyelam terlalu dalam ke istilah dan mitologinya:

Di dunia tahun 10191, planet gurun Arrakis jadi lahan tambang karena kandungan sumber dayanya. Penduduk asli planet tersebut, bangsa Fremen yang bermata biru, terjajah bertahun-tahun lamanya oleh bangsa penambang House Harkonnen. Demi mengatasi keadaan tersebut, Emperor mengutus House Atreides dari Planet Caladan. Tokoh utama cerita ini adalah putra mahkota House Atreides, Paul. Di bawah bimbingan ayahnya, Paul dididik secara militer dan dibimbing untuk jadi pemimpin yang baik, sebagai penerus kelak. Tapi Paul ternyata punya takdir satu lagi. Paul memiliki kekuatan ‘penglihatan’ dan ‘the voice’ (ala Jedi Mind Trick). Dia mungkin adalah messiah yang bisa menghentikan perang, menyatukan semuanya. Di saat Paul masih berkutat dengan tanggungjawab besar dan mimpi-mimpi yang menawarkan versi masa depan yang menyita perhatiannya, pengkhianatan besar terjadi!

See, basic banget! Menulisnya simpel begitu jadi terasa kayak cerita ‘The Chosen One’ yang biasaKurang lebih tantangan seperti itulah yang harus dijabanin oleh Denis di proyek ini. Denis gak mau filmnya berat, maka dia menceritakannya dengan sesimpel yang ia bisa. Dengan minim dialog. Dengan informasi-informasi dan penjelasan dibeberkan seperlunya. UIntungnya Denis punya senjata andalan, yang tentu saja tidak aku punya (siapalah saya…), yang penulis novel aslinya gak punya, dan yang bahkan gak bisa dimaksimalkan oleh David Lynch. Visual Storytelling.

Ketika harus memberitahu bahwa karakter yang diperankan Zendaya adalah orang Fremen yang cantik nan misterius, Denis menceritakannya lewat visual yang begitu striking. Mengontraskan warna mata, warna kulit, warna lingkungan. Memanfaatkan dukungan musik dan permainan kamera. Begitu kuat kesan dreamlike pada adegan yang memang berupa pandangan di dalam mimpi tersebut. Bandingkan saja dengan Dune versi lama, yang lebih memilih mengatakan semua itu kepada kita langsung lewat narasi voice-over, narasi suara hati yang bergema. Dune versi baru ini lebih elegan. Bicara banyak tanpa banyak bersuara. Denis tidak mau kita fokus membincangkan mitologi dan sebagainya. Denis mau kita menikmati spektakel visual yang ia hadirkan dengan maksimal. Dia ingin kita mengalami semua visual di planet fantasi ilmiah tersebut. Shot-shot wide yang kerap ia lakukan, ditujukan untuk menekankan sensasi epicness kepada kita. Entah itu ketika ada pesawat (yang sayapnya seperti sayap capung!) mendarat di tengah-tengah kerumunan, ketika serangan cacing tanah raksasa diperlihatkan dari atas lewat sudut pandang dua orang di atas pesawat, atau ketika ada badai pasir di latar belakang. Semuanya mengedepankan skala. Kita melihat manusia begitu kecil, cacing begitu besar, dan sebagaimana. Sense indera inilah yang membuat pengalaman menonton Dune jadi begitu memikat. Kita dimaksudkan untuk menyantap itu semua sebagai hidangan utama.

dune_worm_main
Visualnya edune!!

 

Film versi Lynch bahkan minim aksi. Tidak ada pertempuran berantem atau satu-lawan-satu di sana. Sementara, film baru ini seru lewat lebih banyak aksi, baik itu kejar-kejaran maupun berantem. Martial Art yang ditampilkan pun tampak plausible, dimainkan dengan menghibur ke dalam ‘gimmick’ alias lore yang dipunya oleh dunia cerita. Dune David Lynch, yang mementingkan narasi dan eksposisi semesta, tidak punya ruang yang lega untuk mengembangkan karakter. Paul di film itu tidak punya banyak fase-fase development. Malah karena begitu sempit, karakternya tampak seperti menerima status ‘imam mahdi’ itu begitu saja. Dia lantas jadi kayak dewa. Denis dalam film versinya ini punya ruang lebih banyak untuk membebaskan karakternya. Paul dikembangkan dengan lebih natural. Timothee Chalamet punya banyak waktu untuk menunjukkan jangkauan aktingnya. Ada lebih banyak momen humanis untuk karakternya membangun relasi dengan ibu yang jadi mentor ‘ilmu jedi’nya. Begitu juga momen-momen dengan karakter sahabatnya, yang tidak ada pada film versi Lynch yang strict ke Paul dan sang ayah saja. Arc-nya adalah tentang menerima tanggungjawab, dan Paul punya dua yang harus ia terima. Film menyulam ini dengan seksama, inilah yang dipastikan ada closingnya, sehingga nanti saat film memang harus bersambung ke part berikutnya, masih ada elemen yang menutup pada cerita.

Antara jadi pemimpin atau penyelamat. Antara sebagai penjajah atau penolong. Paul sesungguhnya telah memilih, tapi dia struggle dengan posisi dirinya untuk menempati pilihan tersebut. Perjuangan inner-nya yang menggambarkan makna jihad. Sebab jihad bukan semata berarti turun berperang. Melainkan berjuang, membawa diri sendiri, untuk menolong yang tak berdaya.

 

Ini sih sebenarnya yang jadi masalah. Dune 2021 terasa incomplete. Karena memang filmnya ternyata dibagi dua. Dan, marketingnya.. well, aku tau kurang bijak menilai film dari cara mereka memasarkan diri, tapi there’s something about it yang membuatku jadi mengaitkannya dengan pembuatan dan storytelling film ini sendiri. Dune tidak segera memasarkan diri sebagai Part One (they soft sell this instead), dan bagian keduanya disebutkan akan lanjut atau tidak bergantung kepada kesuksesan Dune yang sekarang ini. Jadi, film ini keadaannya semacam kayak game Final Fantasy. Ini adalah kesempatan ‘terakhir’ mereka membuktikan diri dengan ngasih yang jor-joran, karena ada kemungkinan ujung ceritanya gak bakal bisa lanjut ditampilkan. Tapi Dune tidak benar-benar rapi menutup episode ini. Arc paul memang  menutup, tapi development lain tidak digenjot. Istilah gampangnya, Dune ini tidak terlihat seperti didesain untuk bisa berdiri sendiri. Walaupun pembuatnya yakin mereka hanya punya kesempatan kecil untuk melanjutkan cerita, tidak terasa mereka put everything on the line. Jadi, effort meracik cerita di sini agak kurang maksimal.

Mereka literally cuma bergantung pada keberhasilan spektakel visual. Di luar itu, dan di samping usaha menutup arc Paul for now, tidak lagi ada substansi. Keputusan film untuk meminimkan informasi berbalik jadi bumerang. Kita jadi tidak masuk secara immersive ke dalam mitologi dunia. Film ini menjadi terlalu sederhana for its own good. Narasinya jadi kurang berbobot karena tidak membahas mendalam. Dari konteks bahasa, misalnya. Saat menonton Dune ini kita akan notice banyak istilah Islam, tapi dengan mengabaikan banyak lore, film ini sendiri jadi seperti mengesampingkan kepentingan kenapa istilah-istilah tersebut dipakai pada awalnya oleh novel. Tentu saja pertanyaan ‘kenapa’ yang baru jadi terangkat. Memang, kondisi politik dunia kita pun memang sudah berbeda, antara masa pembuatan novel Dune dengan masa filmnya dibuat ulang. Dan ini jadi menarik, apakah memang ada hubungannya dengan itu? Apakah menyebut Islam dan jihad sebagai asosiasi dari protagonis kulit putih tidak lagi ‘klik’ dengan situasi saat ini? Ini kan bisa jadi bahan tulisan lain yang menarik untuk diangkat. But for now, untuk kepentingan penilaian karya film, aku mencukupkan dengan mengatakan film ini agak terlalu kopong perihal substansi, dan memang hanya dibuat untuk spektakel saja.

 

 

 

Memang conflicted sih, aku jadinya. Aku percaya film adalah sulap kreasi. Film ini menawarkan teknik dan kreasi yang tidak kurang dari sebuah masterpiece. Namun aku juga percaya film harus punya bobot. Film ini, sekarang aku tidak begitu yakin. Apakah dia sengaja untuk hiburan visual saja, dan menyimpan semua bobot di bagian kedua. Atau apakah memang sengaja dibikin ringan dan sama sekali tak membahas yang lebih dalam. Apakah film justru mengandalkan kita untuk baca novelnya (atau baca thread di twitter, kalo kalian kebelet pengen cepet ‘smart’ tanpa baca bukunya) supaya mereka tak perlu banyak-banyak menjelaskan lagi – which is still bad, karena film haruslah bisa bercerita tanpa suplemen lain. Kalopun ada kesimpulan, maka itu adalah bahwa film ini membuktikan novel karya Herbert memanglah tidak-bisa-difilmkan.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for DUNE

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian perjuangan Paul adalah perjuangan Jihad?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

OLD Review

“The fear of old age disturb us, yet we are not certain of becoming old”

 

Pantai yang membuat orang-orang di dalamnya menua dengan cepat. Premis film terbaru M. Night Shyamalan ini memang menarik. Ia mengadaptasi cerita tersebut dari Sandcastle, graphic novel yang memorable karena menggali hal yang gak banyak dieksplor pada media tersebut; meditasi tentang kematian yang pasti akan datang. Ngomongin soal memorable, Shyamalan sendiri sangat diingat oleh penggemar film. Sebagai pembuat twist super-gak-ketebak. Twist ciptaan Shyamalan enggak cuma sekadar pengungkapan yang membelokkan film dengan drastis, melainkan bertindak sebagai membingkai ulang keseluruhan cerita. Film yang tadinya seperti cerita horor, ternyata cerita drama. Film yang tadinya seperti cerita survival, ternyata cerita superhero. Sedemikian dahsyatnya twist yang ia buat, enggak setiap saat film-filmnya disukai oleh semua orang. Kebanyakan cenderung membagi dua penonton. Suka. Dan benci.

Untukku, aku masih melihat Shyamalan sebagai salah satu inspirasi membangun atau mendesain cerita, meskipun gak semua filmnya aku suka. Beberapa filmnya memang malah konyol sekali. Dan Old kali ini, aku menemukan satu twist atau satu misteri yang aku yakin gak diniatkan oleh Shyamalan. Yaitu film ini harusnya adalah tentang orang-orang yang mendadak menjadi tua, tapi kenapa justru aku yang merasa telah kehilangan waktuku yang berharga saat menonton mereka.

old-2021-film-still-01
The twist is getting old fast.

 

Memasukkan twist ke dalam cerita pantai misterius, tak pelak adalah sebuah langkah yang overkill. Materi aslinya , si Sandcastle sendiri, sebenarnya memang tidak punya twist. Ceritanya berlangsung linear, senatural yang bisa dicapai pada cerita tentang orang yang bertambah tua setahun hanya dalam rentang setengah jam. Landasan cerita film Old pada awalnya memang cukup nurut pada cerita asli tersebut. Guy beserta istri dan sepasang anaknya yang masih kecil (6 dan 11 tahun) berlibur ke sebuah resort. Di sana mereka ditawari paket liburan privat ke pantai tersembunyi yang cantik dan bersih sekali. Besoknya, Keluarga Guy beserta beberapa keluarga atau pasangan turis lain berangkat ke sana (diantar oleh Syhamalan himself yang main jadi supir hihi)  Setelah beberapa saat bersenang-senang di pantai sepi kecuali oleh deburan ombak (yang membuatku semakin meratapi keadaan lockdown), Guy dan turis-turis lain mulai mendapati ada yang aneh. Mereka gak bisa keluar dari sana – setiap kali jalan lewat gua tempat masuk, mereka pasti terlempar dan pingsan di pinggir pantai. Mereka menemukan barang-barang bekas turis yang ditinggalkan begitu saja. Mereka juga menemukan mayat seorang wanita. Dan ketika Guy dan istrinya kembali untuk menenangkan anak-anak mereka, mereka mendapati anak-anak itu tidak lagi diperankan oleh Nolan River dan Alexa Swinton yang imut-imut, melainkan oleh Alex Wolff dan Thomasin McKenzie! Amit-amit? tentu tidak.. kalo perubahan jadi dewasa itu tidak terjadi hanya dalam rentang waktu beberapa menit!!

Di sinilah Old mulai menjauh dari Sandcastle. Tentu saja, dalam setiap film adaptasi, gagasan maupun gaya sutradara amat sangat diapresiasi kehadirannya untuk membuat film itu menjadi satu objek unik tersendiri. Tapi untuk kali ini, pilihan Shyamalan patut kita pertanyakan. Alih-alih membuat cerita yang fokus ke membahas persoalan menghadapi umur tua yang dipaksakan menjadi sangat cepat datangnya, membahas drama anak yang lantas tumbuh besar sementara orang tua mereka tumbuh.. tua, membahas ketakutkan manusia terhadap kematian yang memang bakal datang — you know, horor manusiawi seperti yang benar-benar menjadi sorotan pada materi aslinya, Shyamalan malah lebih banyak berkonsentrasi pada bagaimana menutup cerita dengan wah. Twist seperti apa yang bakal ia pakai untuk membuat cerita jadi logis, berdasarkan logika-dalam yang ia bangun. Sehingga ia mengarahkan penceritaan ke membuat kita ikut bertanya-tanya, tidak lagi untuk membuat kita berkontemplasi atau ikut merasakan situasi horor yang dialami oleh karakter-karakter. Penjelasan-penjelasan dan penyelesaian yang akhirnya disajikan oleh Shyamalan membuat pesan atau bahasan terkuat yang dimiliki oleh cerita ini jadi kehilangan power. 

Yang tentunya jadi counter-productive. Film ini harusnya lama berkutat di karakter-karakter. Anak 6 tahun yang tiba-tiba jadi remaja, penuh gelegak hormon. Orang dewasa yang tiba-tiba merabun. Ibu yang kehilangan anak. Cerita ini didesain untuk cerminan kita mengarungi peristiwa-peristiwa natural dalam kehidupan – kematian dan kehilangan. Penuaan. Sesuatu yang kita takuti. Film ini mengajukan keadaan ketika hal yang ditakuti tersebut semakin dipaksakan ke hadapan kita. Bagaimana kita menyingkapi kematian jika kita belum siap. Berapa lama yang kita butuhkan untuk siap. Semua yang thought-provoking itu lost in the shuffle saat film dengan kecepatan mantap membawa kita dari satu contoh peristiwa penuaan ke peristiwa lain. Menggiring kita dari satu contoh kasus ke kasus lain, begitu saja tanpa banyak waktu untuk membiarkan peristiwa tersebut tenggelam dan meresap.

Sebagai manusia, menjadi tua adalah hal yang menakutkan bagi kita. Tua identik dengan kematian, dengan kelemahan. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya menjadi tua adalah sebuah privilege. Yang tidak semua orang bisa mendapatkannya. Karena usia tidak ada yang tau. Bisa hidup sampai tua berarti kita diberikan anugerah untuk merasakan dan mengalami lebih banyak. Lebih lama. Makanya hal yang terjadi pada karakter di film Old ini sebenarnya adalah hal yang sangat mengerikan. Karena di pantai itu, mereka menjadi tua tanpa mendapat keuntungan atau privilige dari proses tua itu sendiri.

 

Secara visual pun begitu. Padahal ada begitu banyak hal-hal menarik yang terjadi. Ada karakter dengan tumor yang tumbuh dengan cepat. Ada karakter anak yang jadi remaja, kemudian dia hamil. Ada karakter satu lagi, yang punya kondisi kekurangan kalsium. Ada juga karakter yang diam-diam mengidap schizophrenia. Kondisi-kondisi itu mestinya digali, digunakan maksimal untuk menguatkan elemen horor pada film. Entah itu horor psikologis, maupun horor yang lebih eksplisit seperti body horror. Sekali lagi, modalnya ada. Rule di pantai itu adalah luka di tubuh akan cepat sembuh merapat kembali. Jadi kalo ada yang dioperasi, maka luka dia harus ditahan – dipegang oleh jari jemari orang-orang di sana. Kurang gross apa lagi coba. Tapi mungkin karena sensor rating atau apa, film ini gak mau jor-joran menjadi body horror ataupun nunjukin hal-hal  yang benar-benar bloody ataupun mengerikan. Hanya ada satu momen yang cukup ngeri, yaitu saat nampilin karakter yang tubuhnya ‘tergulung-gulung’. Selain itu ada juga beberapa yang memang diolah untuk advantage film, seperti memilih untuk tidak memperlihatkan mayat (diserahkan kepada imajinasi kita sehingga lebih seram), tapi pada sebagian besar hal, film seperti melewatkan kesempatan untuk berhoror ria. Ketika ada orang yang dibunuh karena ditusuk-tusuk oleh pisau kecil, misalnya. Seharusnya rule soal luka yang segera menutup itu dimainkan, karena pasti pembunuhannya bakal lebih sadis – karakter harus membunuh melawan kekuatan pulau yang menyembuhkan luka. 

Semuanya hanya menyentuh permukaan. Kejiwaan karakter memang tidak dibahas mendalam. Konflik atau drama pada keluarga Guy saja hanya diperlihatkan seadanya. Lewat momen-momen yang ditanam, tapi karena semua hal lainnya gak dalem, jadi terlihat sangat obvious. Dan parahnya juga terlihat kikuk. Aktual dialog karakter di film ini di antaranya ada yang semacam “Eh aku mau ngomong”, “Apa?”, “Nanti deh. Gajadi.” Dialog-dialog di sini banyak yang aneh kayak gitu. Karakter-karakernya seperti mengumumkan, ketimbang seperti ngobrol beneran. “Wah, sekarang aku merasa lebih baik”, coba ucapkan kalimat tersebut dengan nada antara senang tapi kondisimu memprihatinkan. Ya, gak natural. Begitulah dialog-dialog film ini terasa (dan kalimat contoh tadi juga beneran ada di film!). Tambahkan gerak kamera dan blocking yang sama anehnya; Shyamalan sering sekali menggunakan kamera memutar, memperlihatkan karakter-karakter yang berdiri kebingungan, posisi mereka seperti mengelilingi kamera. Kalo enggak memutar begitu, Shyamalan akan menyuruh kamera ‘berjalan’, sementara karakternya kayak berbaris ke samping, dengan posisi orang yang berikutnya selalu berada beberapa senti di belakang orang sebelumnya. It is just weird. Gerakan, posisi, dialog, semuanya kayak dibuat-buat. Mungkin pak sutradara bingung bagaimana merekam adegan di pantai kecil, jadi supaya gambarnya gak keliatan gitu-gitu melulu maka ia menggunakan blocking dan kamera movement yang aneh-aneh. 

Old-Movie
Bayangkan kalo si Trent nanya nama dan pekerjaan ke SJW. Hmm, bisa viral kau, Nak!!

 

Itu belum apa-apa dibandingkan penulisan karakternya sendiri. Dibuat simpel sekali. Karakter mereka adalah pekerjaan mereka. Istri Guy bekerja di museum, jadi nanti karakternya akan bicara soal skala waktu. Guy bekerja sebagai orang survei keamanan, jadi dia akan bicara soal statistik atau persentase keselamatan, like, nyuruh anak-anaknya berhenti berlarian dengan menyebut angka kecelakaan sebanyak sekian persen. Nice, orangtua memang gitu kok kalo bicara ama anaknya.. orangtua di dunia paralel haha! Geliat craft dan kreasi Shyamalan, bagaimanapun juga, masih keliatan. Karena dia menggunakan berbagai pekerjaan karakter tersebut sebagai cara para karakter bekerja sama, berusaha figuring out apa yang terjadi di pantai, dan bagaimana mereka bisa keluar dari sana. Dalam kata lain, pekerjaan mereka memang vital untuk diketahui. Hanya saja, cara mengetahuinya itu yang begitu simpel sehingga jadi eksposisi yang konyol. Jadi diceritakan, anak bungsu Guy yang bernama Trent punya hobi nanyain nama dan pekerjaan setiap orang dewasa yang ia jumpai, “Halo, siapa nama dan apa pekerjaan Anda?” Aku gak tau apakah itu dimaksudkan sebagai cute, atau memang ada anak di luar sana yang perangainya kayak gitu, tapi untukku, ya itu sungguhlah sebuah trait anak yang tak-lumrah. 

Shyamalan seperti berusaha keras memastikan narasinya logis. Jadi dia benar-benar menanamkan jawaban, menyimpan hal-hal penting, fenomena pantai tersebut pengen dia beri makna. Twist film benar-benar menjawab rapi semua itu. Kita akan tahu kenapa mereka dipilih ke pantai. Apa sebenarnya fungsi pantai itu. Siapa dalang di baliknya. Pertanyaan-pertanyaan itulah yang jadi concern terbesar film itu. Bukan lagi permasalahan karakter. Ada, tapi jadi nomor dua. Ketika film menemukan hal yang tak bisa mereka jawab, seperti kenapa rambut dan kuku tidak ikut tumbuh dengan cepat sedangkan seorang mayat bisa dengan cepat berubah menjadi tengkorak, atau bagaimana nanti jika ada bayi yang lahir di pantai, atau kenapa orang bisa pakai nama mobil sebagai nama-artis lol, maka film dengan cepat nge-gloss over. Hanya memperlihatkan dan tidak membahas lebih lanjut. Dengan sangat cepat, kayak takut penonton sadar dan mempertanyakan. Soal bayi itu aja, karena gak mau ribet, film membuat bayi itu mati gitu aja dengan alasan ‘kurang mendapat perhatian’. Udah kayak bayi tamagotchi!

See, concern film ini gak inline dengan concern kita, penonton mereka. Kita gak akan peduli sama pantai itu jika tidak diarahkan ke sana. Kita akan lebih peduli sama karakter-karakter. Sama apa yang terjadi kepada mereka. Sama perjuangan mereka untuk berusaha keluar, atau bertahan hidup di sana. Sama bagaimana mereka menyelesaikan masalah personal setelah belajar dari apa yang mereka alami selama di pantai. Akan lebih memuaskan untuk mengalami journey karakter, merasakan masalah mereka kemudian berefleksi, ketimbang mengetahui penjelasan apa sebenarnya yang terjadi di pantai itu. Dan kupikir juga toh lebih mudah menggali karakter yang manusiawi, ketimbang come up with story tentang pantai ternyata eksperimen tukang obat dan segala macem penjelasan-penjelasan yang dipaksakan.

 

 

 

Jadi ya, menurutku Shyamalan telah salah pilih sejak awal. Cerita film ini adalah cerita yang kuat pada permasalahan karakter. Yang harusnya diselami adalah persoalan anak yang semakin dewasa sementara orangtua semakin menua, ketakutan manusia akan kematian, soal hal yang tidak bisa kita kendalikan. Ini seharusnya adalah soal manusia melawan waktu. Tapi, Shyamalan dengan keahliannya meracik twist, membuat film ini sebagai kejadian yang harus dijelaskan kenapanya semata. Untuk melakukan itu, dia mengorbankan banyak hal. Dialog dan karakter yang natural, tone yang imbang, serta adegan horor yang harusnya bisa maksimal, di antaranya. Dan bahkan setelah semua yang sengaja dikorbankan tersebut, film tetap tidak bisa menjawab semua, karena masih banyak juga kita jumpai hal-hal yang tak terjelaskan, yang membuat kejadian-kejadian di film jadi terasa konyol.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for OLD.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Mengapa manusia takut sama menjadi tua?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

INFINITE Review

“Life is about reinventing yourself”

 

Apakah ada hal di dunia ini yang bisa kalian kerjakan, tanpa kalian yakin kenapa kalian bisa melakukannya? Misalnya seperti kalian ternyata bisa mencetak gol walaupun selama ini kalian belum pernah memegang bola. Atau kalian bisa langsung jago ngendarai sepeda walaupun baru satu kali latihan. Well, film Infinite buatan Antoine Fuqua bilang itu bukan karena bakat. Melainkan karena itu adalah keahlian yang kita bawa dari kehidupan sebelumnya. Infinite memang bicara tentang reinkarnasi. Konsep dasar yang jadi tulang punggung ceritanya adalah bahwa di dunia ini ada sekelompok orang yang terus-menerus lahir-kembali ke dunia, dan mereka membawa bukan hanya kemampuan yang telah dipelajar di sepanjang garis kehidupan mereka, melainkan juga beban atas hidup yang basically tak-terputus.

Konsep yang sebenarnya menarik banget untuk dijadikan cerita action sci-fi yang manusiawi. Namun sayangnya, film ini sendiri ternyata tak lebih dari sekadar reinkarnasi puluhan film-film action sci-fi; tanpa punya kemampuan spesialnya tersendiri.

Aku gak tahu apakah novel source-materi film ini memang bahasannya simpel, tapi yang jelas – yang kita lihat di film ini – memang Fuqua sepertinya lebih tertarik mendesain action pieces ketimbang berkutat dengan persoalan reinkarnasi dan permasalahan manusiawi yang dibawa olehnya. Ketika kita bertemu dengan Mark Wahlberg yang jadi Evan si tokoh utama, film seperti telah mencukupkan dirinya dengan narasi voice-over berisi eksposisi (bahwa di dunia cerita ini ada dua golongan orang yang bereinkarnasi; golongan jahat yang mencoba mengakhiri dunia supaya reinkarnasi juga berakhir, dan golongan baik yang mencoba menyetop golongan jahat) Yang dijanjikan film ini kepada kita lewat adegan pembukanya adalah aksi-aksi laga yang mustahil tapi fun. 

infiniteTrailer-infinite-2
Kapan lagi ngeliat Marky Mark nusuk pesawat pake pedang, kan?

 

 

Sisi baiknya memang adalah bahwa film ini enggak inkar janji. Penonton yang suka dengan sekuen-sekuen aksi heboh – yang nyerempet garis antara impossible dan dumb – bakal terhibur habis-habisan dengan yang ditawarkan Fuqua pada film ini. Evan ternyata adalah reinkarnasi dari seorang jagoan yang punya kepandaian cukup banyak, salah satunya adalah keahlian membuat pedang. Malahan di kehidupan terakhir sebelum Evan, si jagoan sedang dalam tahap mengembangkan kekuatan super ala superhero. Jadi, film ini punya begitu banyak taman bermain, mulai dari kejar-kejaran mobil, tembak-tembakan, bertempur pake pedang – either di atas jembatan atau di dalam pesawat yang berputar-putar, and I haven’t reach the punchline yet; melawan musuh berpistol ajaib! Aku langsung teringat sama adegan Cloud berantem lawan tiga clone Sephiroth di Final Fantasy VII Advent Children. Karena memang aksi di Infinite ini seru seperti itu.

Tapi begitu mengingat cerita yang dikesampingkan oleh sekuen-sekuen aksi tersebut, ya rasanya nonton film ini jadi kecewa juga. Evan selama ini tumbuh dewasa dengan mengira dirinya schizophrenia. Dia melihat mimpi-mimpi dan halusinasi tentang kejadian dan orang-orang yang tak ia kenal. Dia discover dirinya bisa melakukan hal-hal yang tak pernah ia pelajari. Film ini menyederhanakan konflik pelik itu dengan jawaban bahwa semua itu adalah memori dari kehidupan terdahulunya. Sehingga Evan yang sekarang ini hanyalah empty shell tempat si karakter jagoan bersemayam. Kepribadian atau karakter yang ia punya sebelum dia sadar dirinya adalah Treadway si jagoan, seperti menyatu begitu saja dengan kepribadian Treadway yang kita lihat di beberapa flashback; kalo gak mau dibilang kepribadian Evan itu menghilang. Film tidak menyelami persoalan kepribadian dan reinkarnasi lebih lanjut. 

Walaupun mengambil referensi kepada ajaran agama, tapi konsep reinkarnasi yang ada di sini dibikin simpel-simpel aja. Evan, maupun rekan-rekannya yang berjiwa imortal, tak pernah terlahir kembali sebagai tubuh yang bukan mereka. I mean, Treadway tidak pernah terlahir jadi cewek, atau temen cewek Treadway tidak pernah terlahir sebagai cowok sehingga dia dan pasangannya selalu jadi couple hetero. Melihatnya dari sini saja sudah cukup kelihatan betapa boringnya cerita film ini. Penggaliannya yang mentok variasi itu pun sebenarnya masih bisa jadi cerita menarik kalo karakter-karakter itu benar-benar digali. Tapi ternyata juga tidak. Film menghabiskan waktunya dalam menyadarkan ingatan Treadway yang bersemayam sebagai Evan alih-alih menjalin hubungan antara karakter-karakter yang terus berjuang bersama tersebut.

Melihat karakter yang berusaha menyadari apa yang bisa jago dia lakukan (not really berusaha malah, melainkan lewat alat canggih) tentu saja terasa hampa dibandingkan jika melihat karakter yang berjuang memperbaiki kesalahannya di masa lalu. Dan memang begitulah semestinya makna dari reinkarnasi. Hidup berkali-kali, berarti mati berkali-kali. Berarti karakter kita sudah melakukan banyak kesalahan berkali-kali. Mengalami kehidupan seperti itu harusnya jadi pembelajaran. Namun tidak ada hal tersebut kita lihat terjadi pada karakter-karakter film ini, yang terus saja dibuat mengalami nasib yang itu-itu melulu

 

Antagonis di cerita ini, misalnya, adalah mantan teman seperjuangan Treadway. Pandangannya terhadap kehidupan terus-menerus mereka menjadi berbeda karena somehow si antagonis tidak pernah mengalami fase ‘lupa’ saat dia terlahir. Dia langsung ingat akan semua masalah. Dan ini membuatnya sama manusia, dan sama kehidupan. Jika film ini menggali dan membawa kita menyelam bersama karakter ini – melihat bagaimana dia dan Treadway dan rekan-rekan lain feel tentang reinkarnasi untuk pertama kali, maka hubungan mereka akan lebih genuine. Tapi film malah tetap sibuk berkutat pada hal-hal gak make sense, supaya ceritanya tetap simpel. Alih-alih membahas kenapa si antagonis kemampuan reinkarnasinya berbeda, film malah memperlihatkan hal lain yang malah membuatnya jadi penjahat komikal. Kaya, punya banyak pasukan, dan segala macam. Motivasinya yang mestinya mendalam, dalam film ini malah terlihat seperti sesepele mencari ‘telur penghancur’.

infinitemark-wahlberg-infinite-01-700x400-1
He owns an awesome soul capturing weapon tho

 

Tentu saja aku bukannya mau bilang aku bisa bikin cerita yang lebih bagus atau apa. Menilai film tentu saja tetap melihat dari jadi apa film tersebut pada akhirnya. Dan itulah yang sedang berusaha aku sampaikan. Bahwa dengan menjadikan film ini simpel, dengan tidak mengacknowledge – apalagi membahas – hal-hal rumit dan menarik yang sebenarnya ada menempel pada cerita, maka film ini pada akhirnya hanya menjadi laga sci-fi generik yang gak ada bedanya dengan film-film sejenis. Identitas film ini adalah soal reinkarnasi, tetapi dari yang kita tonton sepanjang seratus menit durasi, film ini terasa sama aja dengan cerita orang yang hidup lama tapi lupa sama kekuatannya. Yang udah lumrah banget. The Old Guard-nya Charlize Theron yang tayang belum lama ini juga mirip-mirip kayak ini; sekelompok orang yang hidup ratusan tahun berjuang di dunia modern. Evan dan kawan-kawan basically immortal seperti karakter Theron di film tersebut. Dan persis di ‘basically‘ itulah film Infinite ini menempatkan dirinya.

Jadi, flaw film ini terutama adalah pada kegagalan menguarkan identitasnya. Cerita Evan ini bahkan mirip ama cerita Cole di Mortal Kombat kemaren. Evan bisa dengan gampang ‘diganti’ sebagai keturunan dari si pembuat pedang di Jepang, atau si Treadway, dan dia harus berlatih menemukan panggilan originnya, melawan kenalan di masa lalu yang terus abadi memburunya. Infinite perlu banget untuk memperkuat soal reinkarnasi yang dia punya. Karena tanpa itu, filmnya jadi gak spesial.

Aksi-aksi sensasional hanyalah bumbu yang juga dipunya oleh film-film sejenis, yang malah memang fokus ke arah sana. I mean, kenapa kita mau nonton kejar-kejaran mobil di sini jika di bioskop sedang tayang film franchise yang namanya udah segede gaban, kan. Gak ada lagi excitement kita saat mengikuti Infinite ini. Apa lagi yang dipunya film ini? Nama-nama gede? Well, bahkan Mark Wahlberg aja di sini tidak tampak antusias. Dialog karakternya datar dan minim excitement. Evan baru saja mengalami halusinasi paling menyirap darah seumur hidupnya, tapi reaksinya cuma, “Wow, that felt real”

Aku bilang, “Wow, this feels like a waste of time!”

 

 

 

Maaan, Juni ini kita dapat film jelek melulu. Film ini terlalu generik bahkan jika tujuannya memang hanya untuk menghibur. Kesempatan menang film ini hanya ada pada sekuen-sekuen aksi, itupun juga lombanya adalah heboh-hebohan aksi. Di baliknya benar-benar tidak ada apa-apa. Karena film telah memilih untuk mengesampingkan identitas, demi membuat dirinya tampil simpel. Tampil tidak berat. Kemungkinan pembahasan film ini sebenarnya bisa cukup dalam, dan katakanlah – endless. Tapi ironisnya, justru film ini membatasi dirinya sendiri. Dan sebagai salt to our wound, bagian akhir film akan memperlihatkan sebuah representasi yang ngasal dan apa adanya hahaha..
The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for INFINITE.

 

 

That’s all we have for now.

Jika bisa memilih, kalian pengen bereinkarnasi menjadi apa?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

AWAKE Review

“I believe it is by divine design that the role of motherhood emphasizes the nurturing and teaching of the next generation.”

 

Semakin dewasa, manusia akan semakin mengeluhkan bahwa dua-puluh-empat jam sehari itu ternyata tidak cukup. Waktu guru SMAku ceramah soal itu dulu, aku gak begitu ambil pusing. Aku gak relate kala itu. Tapi sekarang terbukti. Kini kepalaku sering pusing-pusing. Karena apa? Karena dua-puluh-empat jam sehari ternyata beneran gak cukup saat kerjaan kita sudah segitu banyaknya. Saat udah gede, dapat enam jam waktu tidur aja rasanya udah kayak menangin lotere. Apa itu tidur siang, melainkan hanyalah privilege yang dimiliki oleh anak kecil. Manusia jadi terlalu sibuk dan banyak kebutuhan hidup sehingga menggadaikan jam tidur. Padahal yang namanya manusia, kan, butuh istirahat. Recommendednya sekitar 7-8 jam sehari. Apa kalian tahu apa yang terjadi jika manusia kurang tidur?

Film terbaru Netflix, Awake garapan Mark Raso, memberikan gambaran yang mengerikan betapa perlunya tidur. Abis nonton ini kita akan sadar petuah paling powerful itu ternyata bukanlah petuah film Dono “Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang”. Melainkan seharusnya kata ‘tidur’lah yang menggantikan kata tertawa. Karena tanpa tidur, manusia akan kelelahan dan bisa mati. Namun ada yang lebih parah. Tidak tidur menyebabkan otak kacau. Disorientiasi. Ilusi. Kehilangan kemampuan berpikir kritis. Manusia akan berubah menjadi bar-bar dan bisa saling bunuh saking gilanya!!

awakesa
Tapi tenang, film ini justru akan jadi obat tidur yang ampuh.

 

Cerita Awake berkembang dari premis menarik bagaimana jika manusia tidak lagi bisa untuk tidur. Oh mereka mengantuk, capek, tapi tidak bisa masuk ke state of sleep. Mereka kehilangan kemampuan untuk tidur.  Itu karena, diceritakan, dunia terhantam solar flare or something. Seluruh alat elektronik mati. Termasuk jam internal manusia. Sehingga para manusia, termasuk tokoh utama cerita – Jill, hidup restless di tengah kegelapan. Suasana dengan cepat menjadi kacau begitu manusia-manusia yang mulai kelelahan dan kehilangan rasionalitas itu mengetahui bahwa ternyata ada satu orang yang masih bisa tertidur. Ingat ketika aku bilang tidur itu privilege anak kecil? Nah it was Matilda, putri Jill; satu-satunya orang yang somehow masih normal. Namun itu jugalah yang membuat Jill dan keluarganya berada dalam bahaya. Matilda menjadi rebutan. Kelompok relijius ingin mengorbankannya sebagai Sang Terpilih, sedangkan kelompok militer ingin menjadikannya eksperimen dalam usaha menemukan obat dari ‘pandemi’ tersebut. Jill memilih untuk kabur mencari keselamatan untuk putri dan seorang lagi putranya.

Saat memotret reaksi kelompok-kelompok manusia itulah film ini mencapai titik tertinggi. Awake memuat banyak hal subtil mengenai keadaan mental sosial dalam jangkauan variabel yang luas. Sebagian orang-orang dalam film ada yang berusaha berpikir jernih, ada yang kita lihat akhirnya menyerah karena mereka desperately butuh sesuatu yang membuat mereka merasa aman, dan bahkan ada juga orang-orang yang seperti memanfaatkan semua kekacauan yang terjadi. Kita mengerti film ini memuat potret yang berbobot saat kita sadar ceritanya cuma fantasi tapi kita percaya orang-orang di dunia nyata kurang-lebih akan benar-benar bertindak sesuai dengan yang tergambar di cerita. I mean, kayaknya gak perlu jauh-jauh kita membayangkan. Lihat sendiri saja gimana mentalitas sosial kita yang terbentuk oleh media (dalam keadaan pandemi atau tidak). 

Awake sepertinya memang ingin membuat kita terjaga dari seberapa dekat sebenarnya kita membuat generasi ini hancur hanya dalam beberapa waktu (bahkan jam?) saja. Persoalan gak bisa tidur itu ‘cuma’ lapisan pintar (untuk mengeset keadaan porak poranda lingkungan sosial) yang menyelubungi gagasan sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh film.  Yakni soal nurturing new generation. Kita akan bisa memahami lebih banyak tentang ini dengan melihat kepada Jill, protagonis cerita yang seorang single mother beranak dua. Mark Raso actually membuat Jill sebagai karakter yang padat. Dia punya backstory sebagai mantan tentara – seperti kebanyakan karakter tentara, Jill juga PTSD, dan inilah yang membuat Jill kecanduan obat yang telah merenggut suaminya. Kini Jill bekerja sebagai seorang satpam di rumah sakit, menghidup dua orang anak yang ia titipkan kepada ibunya, sebab karena kondisi ngobatnya dulu itu Jill dinilai tidak layak mengasuh anak. Backstory yang disebar sepanjang durasi ini membentuk saga Jill sebagai sebuah cerita tentang ibu yang kini harus merawat sendiri anak-anaknya, tidak lagi membiarkan mereka dirawat oleh orang lain.

Ini ditranslasikan oleh film sebagai kisah petualangan Jill memperjuangkan keselamatan kedua anaknya. Terutama Matilda yang diincar oleh banyak pihak. Film berusaha terus menggenjot perjuangan Jill dengan memberikannya rintangan termasuk serangan rasa kantuk, kelelahan, dan kesadaran yang terus memudar. Di tengah-tengah semua itu, Jill juga harus menjalin kembali hubungannya dengan Noah si putra pertama, dan mengajarkan survival kepada Matilda. Dengan efektif film ini memparalelkan perjuangan ibu mendidik anak dengan bagaimana generasi muda terbentuk dari sosial yang sekarang. Perjuangan yang tidak pernah tidur.

 

AWAKE_20190810_Unit_00312_R-2-750x400
Bengong ngeliat orang-orang halu merasa jadi titisan Titan

 

Dengan intensi baik seperti demikian, maka memang sayang sekali film ini jatuh ke tangan eksekusi yang buruk. Awake kenyataannya memang akan membuat kita tertidur pulas lebih cepat, sebab bertahan mengikuti petualangan Jill adalah tugas yang sangat menjemukan. Raso seperti terjebak dan kelimpungan sendiri pada tuntutan untuk membuat pengalaman nonton film ini sama-sama disorientating dan chaos. Raso jadi membuat film ini terasa sangat choppy. Terasa terputus-putus. 

Pada editingnya hal ini paling terasa. Ketika fenomena solar flare itu terjadi di awal-awal, sebenarnya cukup seru karena terjadi begitu mendadak. Mobil yang dikendarai Jill, bersama dua anaknya, tiba-tiba mati dan mereka jatuh ke danau. Setelah itulah, semua hal pada film ini mulai terasa disjointed. Anak yang beberapa detik lalu berenang di dekat Jill, tau-tau sudah ada di daratan, diselamatkan oleh polisi. Penduduk kota yang masih tampak kena mati lampu biasa, tau-tau besoknya langsung bikin sekte. Film ini butuh lebih banyak ruang supaya cerita itu berkembang. Raso tidak melakukan ini. Dia melanyau adegan-adegan di naskah tanpa benar-benar memperhatikan apa yang mestinya merekatkan kejadian-kejadian tersebut. Bahkan hal kecil seperti Jill dan anak-anaknya berhenti di hutan karena Matilda capek, dan lantas digendong oleh Jill. Di exactly adegan berikutnya? Mereka bertiga berlari dan tidak ada tanda-tanda capek dari Matilda.

Perlakuan editing yang tidak membuat adegan seperti berkesinambungan seperti ini pada akhirnya membuat adegan menjadi rancu ketika kesadaran Jill semakin berkurang. Dan ini bukan membuat adegan semakin surealis, melainkan semakin awkward. Contohnya adegan di perpustakaan. This feels very disjointed. Matilda yang tadinya masih tidur di mobil, ternyata ada di dalam librari. Jill lalu mengajarkannya menembak buku, pake pistol beneran. Matilda berlari ke luar. Muncul Noah dari dekat buku yang ditembak oleh Jill. Dan shot berikutnya, Matilda sedang tidur lagi di dalam mobil. Kelihatannya film meniatkan Matilda di librari tadi adalah halusinasi Jill, bahwa dia hampir menembak Noah karena lelah dan desperate. Tapi karena editing dan arahannya, adegan tersebut jadi membingungkan.

Dan tentunya juga membuat akting para pemain jadi sama anehnya. Mereka semua jadi terlihat kaku. Gina Rodriguez mencoba keraas untuk hit every notes pada karakter Jill yang punya range cukup luas. Secara garis besar cerita, dia oke. Transformasinya dari ibu pejuang ke orang yang benar-benar sudah lelah tampak meyakinkan. Tapi karena editing dan arahan, setiap scene baru yang melibatkan dia berkomunikasi dengan anak-anaknya, Gina jadi tampak kaku. Begitu pula dengan anak-anaknya. Aku tidak merasa mereka punya chemistry sebagai keluarga beneran. Aku tidak enjoy melihat mereka. Aku tidak merasakan apa-apa kepada mereka. Karakter yang paling enak ditonton justru adalah karakter minor, seorang napi yang kabur dan bergabung bersama keluarga Jill. Tapi bahkan karakter itu tidak mendapat justice karena juga ‘lenyap’ ditelan editing yang buruk. Pada adegan aksi di babak ketiga, antara cut dengan cut adegannya disambung dengan gak make sense dan tanpa arahan pandangan mata yang sesuai. Sehingga benar-benar tidak bisa kita nikmati. Malah membuat film terasa kaku dan, paling parah, terlihat fake.

Cerita film ini pun berakhir dengan tidak benar-benar memuaskan. You know, karena soal solar flare dan ‘gak bisa tidur’ hanya lapisan pemanis, maka film tidak menuntaskan soal itu hingga ke penyelesaian yang sebenarnya. Kita tidak diberikan jawaban kenapa fenomena itu terjadi. Kenapa hanya Matilda (dan satu wanita lagi) yang bisa tidur. Sebagai penyelesaian, film justru berusaha mengikatkannya lagi kepada gagasan soal generasi baru. Dan itu membuat film ini jadi punya ending yang…. kalian baiknya nonton sendiri karena buatku film ini gila banget hahaha.. Aku gak percaya film benar-benar membuat karakter anak-anak itu melakukan perbuatan itu kepada ibu mereka. Kalo yang diniatkan film adalah menyampaikan bahwa pada akhirnya justru generasi barulah yang kini harus ‘mengeset ulang’ generasi sebelum mereka, maan, film ini benar-benar punya selera humor yang gilak!

 

 

 

Ini nyatanya adalah satu lagi film yang punya potensi, yang punya premis dan gagasan menarik di baliknya, tapi eventually gagal dalam mengkomunikasikannya kepada kita para penonton. Dia jadi ribet sendiri sama gimmick lapisan ceritanya. Yang harus dibenahi oleh film ini ada banyak. Pertama dia harus benar-benar ngeset tone ke arah yang dark jika memang mau ceritanya berakhir dengan penyelesaian seperti yang mereka lakukan. Kedua, editing yang choppy mestinya bisa diperbaiki, karena yang mereka tampilkan di sini jadi tampak fake. Bahkan membuat akting pemainnya menjadi tampak kaku; sebagai keluarga pun mereka tampak tak nyaman.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for AWAKE.

 

 

That’s all we have for now.

Apakah kalian akan menyelamatkan anak sendiri? Atau apakah kalian akan menyelamatkan dunia? And how’s that become more of a choice ketimbang bisa dilakukan beriringan?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA