IF: IMAGINARY FRIENDS Review

 

“We grow old because we stop playing”

 

 

Orang dewasa sudah lupa caranya menjadi anak-anak. Atau mungkin lebih tepatnya, orang dewasa ‘terpaksa’ melupakan caranya menjadi anak-anak. Karena ketika sudah dewasa, kita harus berhadapan dengan banyak realita kehidupan. Dan memang realitanya; hidup itu cepat dan keras. Menuntut tanggung jawab besar, serta kita harus bersiap menyongsong begitu banyak perpisahan. Saat dewasa, sudah tidak ada lagi waktu untuk bermain-main. Maka lantas kita merasa jadi dewasa itu berarti kudu serius, enggak boleh kekanakan. Sutradara John Krasinski punya kontra-argumen soal ini.  Bahwa jadi dewasa bukan berarti harus melupakan sisi kanak-kanak yang kita punya. Belakangan banyak membuat horor, Krasinski kali ini mengeksplorasi dunia imajinasi penuh fantasi dengan nada yang ringan dan hangat untuk tontonan keluarga. Dia pun kembali menapaki sisi playful dirinya yang kita kenal ketika dia sebagai seorang aktor yang meranin karakter ikonik, Jim, yang suka ngeprank dalam serial The Office (2015). Ya, Krasinski pertama-tama tampak ingin menampakkan bahwa dirinya sendiri belum lupa. Lalu kemudian lewat IF ini, Krasinski mengajak kita untuk belajar bagaimana caranya kembali menjadi anak-anak.

IF bicara tentang Imaginary Friends – ‘teman khayalan’ yang mungkin kita semua punya saat masih anak-anak. Saat kita masih suka mengkhayal tentang robot, dinosaurus, Goku, ataupun kuda poni. Jangan sampe ketuker ya antara IF dengan Imaginary (2024), karena keduanya memang sama-sama tentang teman khayalan, tapi tentu saja pendekatannya berbeda. Krasinski sebenarnya juga jago membangun dunia horor, hanya kali ini dia lebih memilih untuk bangun dunia fantasi yang lebih ‘magical’. Jadi IF ini bercerita tentang anak perempuan bernama Bea yang membantu para monster-monster imaginary friends untuk mencari anak-anak baru sebagai teman bermain. Monster-monster itu kesepian karena anak-anak yang menciptakan mereka udah pada gede dan melupakan mereka. Bea bergabung bersama Calvin, pria yang tinggal di kamar di lantai atas apartemennya, bekerja sebagai semacam biro jodoh untuk klien mereka; monster-monster yang kini tinggal di tempat rahasia yang hidup berkat imajinasi anak-anak manusia. Tadinya tempat itu boring, kayak rumah panti jompo, karena dibangun dari imajinasi Calvin yang sudah dewasa. Tapi semenjak Bea bergabung, tempat itu jadi lebih ceria,  lebih fantastis!

review if
‘Bea’ as in ‘Be-a-kid again!’

 

Kreativitas dari desain dunia dan monster imaginary friendsnya itulah yang jadi salah satu yang bikin film ini menyenangkan. Di tempat para monster tadi misalnya, logika yang dipakai film ini persis kayak old-cartoon’s logic. Yaitu tempat yang begitu imajinatif, sehingga akal sehat kita gak berlaku di dalam sana. Kita hanya bisa terkesima bernostalgia ke masa kecil saat menonton kartun, masa ketika lokasi ajaib itu terasa sangat menakjubkan, bukannya annoying bagi kita. Para monster yang dihadirkan juga beragam, desain 3Dnya mentok-mentok, ada yang makhluk berbulu besar dengan style ala Monster Inc, ada yang kayak kupu-kupu tapi ala kartun klasik Disney, ada yang random kayak monster gelembung ataupun yang wujudnya segelas air putih dengan satu kubus es (my favorite!), ada juga yang totally aneh berupa monster yang tak-kelihatan. Si Calvin sampe ngedumel anak macam apa yang membayangkan teman yang tak bisa dilihat, hihihi.. Namun di situlah aku sadar alasan desain segala-gaya tersebut.  Karena monster-monster itu terlahir dari khayalan anak-anak, maka otomatis wujud mereka pun begitu beragam, sesuai dengan personality dan lingkungan yang membentuk imajinasi si anak. Makanya nanti kita ikut merasa seru dan penasaran menebak siapa kira-kira anak original dari masing-masing monster. Film pun lantas semakin meriah karena pengisi suara monster-monster tersebut basically cameo dari nama-nama besar, ‘teman-teman’ John Krasinski, yang sering juga castingnya mereference kepada inside joke tertentu sehubungan karir para aktor atau juga clue tentang siapa sebenarnya si karakter.

John Krasinski sendiri pernah bilang filmnya ini seperti film Pixar live-action. Mungkin karena tampilannya yang mencampurkan dunia nyata, manusia asli, dengan karakter-karakter animasi dengan desain beragam tadi.  Serta karena IF juga berfokus kepada drama karakternya. Of course, sekali lihat, tema teman khayalan yang dilupakan ini bikin kita teringat sama Bing Bong di Pixar’s Inside Out (2015) Cerita IF memang terasa seperti berakar pada salah satu adegan paling bikin mewek di film tersebut, yaitu ketika Bing Bong si teman khayalan, merelakan dirinya dilupakan. Tapi kalo dilihat-lihat muatan dan ceritanya keseluruhan, IF juga bisa terlihat kayak versi lebih ringan dari gabungan antara The Boy and the Heron (2023) dengan The Sixth Sense (1999). Nah lo?

Mirip karena Bea ngalamin hal yang mirip dengan Mahito. Sama-sama harus berdamai dengan kematian ibu. Bea yang menginjak usia dua-belas tahun itu tumbuh jadi anak yang hardened oleh kematian tersebut. Dia yang tadinya cheerful dan penuh imajinasi – seperti yang terceritakan lewat footage opening yang perfectly set up keluarga Bea – kini mengikhlaskan hidupnya tak bakal seceria dulu. Bea siap mental untuk hidup yang lebih ‘real’. Bea merasa dirinya sudah bukan anak kecil, dia gak mau lagi menengok gambar-gambar karyanya waktu kecil. Despite ayahnya terus ngajak bercanda dengan beragam practical jokes, Bea yang sekarang ini tidak pernah seceria dulu. Karena deep inside, Bea khawatir kehilangan lagi. Bea khawatir ayahnya yang sakit jantung bakal menyusul ibu. Film dengan tangkas menceritakan perasaan Bea; meskipun di awal pace sedikit agak lambat tapi kita akan mengerti dengan cepat, dan tone film tidak sampai jatuh terlalu depress. Kehadiran monster-monster IF dengan segera mengisi baik itu perasaan khawatir Bea, maupun tone film sehingga kembali ceria. Para monster dan tempat yang hanya bisa dilihat oleh Bea dan Calvin menjadi panggung dinamis tempat film perlahan mendevelop karakter Bea. Berangsur gadis kecil ini kembali menjadi ‘anak-anak’. Dengan membantu para monster menemukan anak sebaagi pasangan bermain, Bea menemukan kembali penyadaran bahwa hidup harus diwarnai oleh cerita-cerita. Di sinilah hati film menunjukkan wujudnya. Terenyuh sekali rasanya melihat usaha Bea demi para monster, melihat para monster konek kembali dengan anak mereka. Hingga ke momen ada salah satu karakter yang Bea gak nyadar sebenarnya karakter itu adalah teman khayalan, dan membantunya berarti membantu dirinya sendiri.

Kita berhenti bermain bukan karena kita sudah tua. Sebaliknya, kita tua justru karena kita memutuskan untuk berhenti bermain. Kita tumbuh tua dan menyedihkan karena telah melupakan kebahagiaan yang kita anggap hanya bisa dimiliki saat anak-anak. Padahal sebenarnya tidak ada yang menghalangi kita untuk hidup dengan lepas dan ceria seperti masih kecil dulu. Kita tidak harus lupa ataupun menunda bahagia ketika hidup got real.

 

Bukti orang dewasa lupa rasanya jadi anak-anak dapat kita lihat pada film anak-anak. Yang seringkali antara punya karakter anak yang terlalu kaku dan bertingkah exactly kayak orang dewasa yang sedang berpura-pura jadi anak kecil (kayak, mana ada anak kecil nyebut kuburan sebagai ‘areal pekuburan’) ataupun film anak yang terlalu memanis-maniskan – membuat orang dewasa di sekitarnya blo’on ataupun tidak berani memberikan konsekuensi nyata kepada karakter anaknya. Or worse, karakter anak cuma dijadikan korban karena mereka yang paling gampang dikasihani. John Krasinski setidaknya membuktikan dia tidak lupa bagaimana jadi anak-anak. Dia tidak takut untuk berkreasi dengan pengarahan dan kamera. Pun, dia tahu persis bagaimana posisi protagonis ceritanya. Anak kecil yang sudah siap menjadi dewasa karena kehilangan, tapi sebenarnya belum benar-benar siap. Bea tampak natural, dia beneran tampak seperti gimana anak seumuran itu – anak yang merasa dirinya dewasa tapi belum – bertindak. Nge-cast Cailey Fleming yang memang sebearnya lebih tua dibanding umur karakternya membuat Fleming jadi tampak effortless ngasih aura dewasa di balik keinnocenant Bea. Chemistry-nya dengan Ryan Reynolds yang jadi Calvin (dengan dinamika standar orang dewasa penggerutu dengan anak yang lebih loose) juga terasa cukup natural.

Temanku dulu kok begini, tapi kini tak nampak lagi

 

Namun bahkan John Krasinski yang punya perhatian pada world-building dan pesona utamanya sepertinya memang berada pada persona kekanakan (sebagai Ayah Bea di sini, dia persis kayak Jim  di serial The Office) belum sepenuhnya lancar bercerita di dunia fantasi petualangan. Aplikasi horornya ke cerita anak-anak baru seujung kuku Guillermo del Toro. Karena naskah dan arahan IF pada akhirnya berbelok lebih ke galian dramatisasi terhadap kenangan masa kecil, terhadap kembali teringat pada masa kecil, ketimbang pendalaman. Secara emosi memang berhasil, tapi masih ada pembeda tegas antara bentukan cerita IF dengan cerita anak Pixar maupun dongeng del Toro. Film punya konsekuensi – Bea boleh jadi tidak akan bahagia lagi kalo nanti ayahnya meninggal, tapi film ini urgensinya masih kurang. Stake-nya masih kurang. Sebuah film memang gak harus ada villain atau antagonis, tapi itu bisa dilakukan jika ceritanya bisa establish stake dari sekitar protagonis. IF kurang nendang karena batasan atau pertaruhannya kurang ditekankan. Like, para monster dibuat tidak menghilang jika dilupakan oleh anak yang menciptakan mereka. Mereka cuma terlantar di tempat rahasia bersama-sama. Sehingga jikapun Bea gagal membantu, terasa tidak begitu jadi soal. Perkara Bea takut kehilangan ayahnya; film ini pun kurang karena incaran relasi antara father-daughter kurang mendapat screen time, dan perjuangan Bea membantu monster tidak diparalelkan dengan Bea, mungkin misalnya, menyelamatkan ayahnya. Atau mungkin membantu ayahnya ketemu sama monster IFnya semasa kecil. Instead, relasi utama terbagi dua, yaitu satu lagi antara Bea dengan Calvin. Tapi karena relasi mereka ini konsepnya adalah revealing yang mengharukan, maka mereka juga tidak benar-benar ada naik turun. Krasinski pada akhirnya terasa terlalu sibuk mengarahkan agar ceritanya tidak berakhir seperti modelan biasa, sehingga ceritanya ini kurang terasa nendang.

 

 




Komedi dan drama yang jadi hati film ini memang mampu mengena. Kreasinya juga cukup sukses bikin kita terpana, membuat kita kembali juga kepada kenangan masa kecil. Mengingat betapa bahagia dulu di masa itu, serta orang-orang yang ada di masa itu bersama kita sehingga masa itu rasanya bahagia sekali. Lewat sudut pandang anak yang cope with family loss, bahasan dunia teman khayalan ini pengen dibuat mature, hanya saja ternyata eksplorasinya tidak sedalam itu. Film akhirnya lebih mengandalkan kepada dramatisasi dari ketemunya para monster dengan anak-anak teman bermain mereka. World building yang menakjubkan itu akhirnya terasa kurang komplit, karena urgensi cerita masih kurang terasa. Film ini jadinya terasa sama dengan para monster khayalan; cute dan loveable, namun untuk penilaian, dia samanya dengan nama protagonisnya. Bea, alias dalam bahasa Inggris dibaca ‘B’
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for IF: IMAGINARY FRIENDS

 

 




That’s all we have for now.

Pernahkah kalian punya teman khayalan? Di umur berapa kalian mulai menyadari dan melupakan teman tersebut?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL


GODZILLA MINUS ONE Review

 

“He who fights and runs away may live to fight another day.”

 

 

Dunia memang terlalu besar untuk ditinggali sendiri, manusia harus belajar untuk hidup harmoni bersama makhluk lain. Begitulah pretty much konsep dari film-film creature atau monster. Godzilla pun lahir dengan latar belakang yang serupa. Dinosaurus-like, monster raksasa, dianggap sebagai setengah-dewa penghancur setengah-dewa pelindung Bumi dari monster/kaiju lain. Manusia dalam cerita monster seperti Godzilla harus co-exist dengan makhluk yang terganggu oleh polusi atau teknologi tak-bertanggungjawab yang kita ciptakan. Lucunya,  dunia perfilman juga ternyata terlalu besar untuk ditinggali oleh satu jenis film Godzilla. Kita harus belajar untuk hidup harmoni dengan tipe-tipe film tersebut. Ada film Godzilla yang cheesy, yang isinya monster raksasa saling bertarung, dengan karakter manusia sok asik for the sake of ‘entertainment’ (misalnya Godzilla X Kong baru-baru ini), dan ada juga film Godzilla yang lebih ‘serius’. Karya Takashi Yamazaki ini masuk ke dalam tipe kedua. Godzilla Minus One tidak semata bersandar pada aksi monster yang ridiculously gede, melainkan berfokus kepada kisah kemanusiaan yang hidup menyertainya. Minus One pada judulnya merujuk kepada keadaan manusia Jepang yang luluhlantak oleh perang, dan mereka masih harus berhadapan dengan kemunculan Godzilla yang set them more far back, karena monster ini justru muncul saat manusia-manusia itu berusaha membangun hidup dari nol.

Untuk meng-emphasize poin keadaan hidup di bawah garis nol tersebut lebih jauh, Godzilla Minus One memanggil protagonis kepada Shikishima, seorang pilot tempur pesawat bunuh diri, yang mangkir dari misinya di akhir Perang Dunia II. Shikishima berdalih ada yang rusak di pesawatnya sehingga dia mendarat di pulau untuk reparasi oleh teknisi militer di sana. Di pulau itulah, malamnya, Shikishima pertama kali bertatap muka dengan Godzilla. Monster itu menyerang pulau, dan sekali lagi Shikishima mempertontonkan kepengecutannya dengan tidak sanggup menembak Godzilla dengan senjata di pesawat. Sejak itu, Shikishima hidup dengan rasa bersalah menggerogoti hati. Cerita Godzilla Minus One berpusat pada Shikishima yang tinggal di puing bekas rumah orangtuanya, bersama seorang perempuan asing dan anak kecil yang butuh pertolongan. Shikishima menampung mereka, mereka hidup bersama, tapi Shikishima tidak mau menganggap ataupun menjadikan mereka sebagai keluarga. Karena Shikishima belum selesai dengan ‘perang personalnya’. Godzilla di cerita Shikishima bertindak sebagai perwujudan yang harus dikalahkan oleh Shikishima dalam journey personalnya. Shikishima bekerja jadi penyapu ranjau di laut, dan di sanalah kesempatannya bertemu sekali lagi dengan Godzilla. Bertekad untuk tidak lagi kabur, Shikishima sekarang berniat untuk benar-benar mengorbankan dirinya, demi masa depan tanpa Godzilla.

reviewGodzillaMinusOne
Sudah perang, diserbu Godzilla pula

 

Biasanya nonton film monster kayak Godzilla ini kita suka kesel kalo Godzilla-nya hanya muncul sebentar. Tapi hal tersebut tidak pernah menjadi masalah pada film ini. Godzilla-nya memang hanya muncul sebentar saja (paling cuma belasan persen dari total durasi dua jam), dan sebagian besar cerita membahas tentang kehidupan manusia, tapi film tidak pernah terasa membosankan karena bahasan manusanya benar-benar berbobot. Manusia di film ini tidak seperti pada Godzilla X Kong: The New Empire, misalnya, yang cuma sok eksentrik dan dialog-dialog one-liner yang sok asik. Manusia di film ini adalah hati, bahasannya grounded, real, dan kita akan benar-benar peduli dengan mereka. Dialog film ini tidak berisi mumbo-jumbo teknologi yang harus dicari oleh tim manusia untuk mengalahkan Godzilla atau monster lainnya. Tidak ada tempo supercepat ala Hollywood yang terkesan kayak memburu-burukan cerita yang hampa supaya cepat sampai ke bagian monster raksasa. Godzilla Minus One adalah bahasan karakter yang meluangkan waktu untuk membawa kita menyelami karakternya. Kita dibuat peduli sama Shikishima yang bercela. Kita dibuat ingin dia hidup berkeluarga melupakan rasa bersalahnya, tapi sekaligus kita juga pengen dia berhasil mengalahkan rasa bersalah itu tanpa mempertaruhkan keluarganya.

Memang, tidak semua orang menganggap kabur dari battle adalah perbuatan membanggakan. Apalagi orang yang dibesarkan dengan prinsip harga diri dan pride tinggi seperti Shikishima, sang prajurit Jepang. Negara di mana bunuh diri demi perjuangan dipandang sebagai hal terhormat.  Sepertinya inilah salah satu gagasan yang diusung film terhadap budaya negaranya tersebut. Bahwa bunuh diri, kendati terhormat, bukan lantas jadi satu-satunya bentuk mulia perjuangan.  Bahwa ada satu aspek lain yang tak kalah pentingnya, yaitu survive supaya bisa terus melanjutkan perjuangan. Journey Shikishima dan karakter lain di film ini merupakan penyadaran terhadap hal tersebut, bahwa nyawa berharga bukan untuk dikorbankan, melainkan untuk diperjuangkan.

 

Sehingga sebenarnya yang jadi antagonis di dalam cerita ini bukanlah semata Godzilla. Melainkan prinsip mengorbankan diri yang telah jadi tradisi di negara itu sendiri. Para manusia harus ‘mengalahkan’ prinsip tersebut sebelum bisa mengalahkan Godzilla. Makanya film ini terasa lebih membesar lagi. Perjuangan manusia-manusia Jepang dalam menghalau Godzilla, digambarkan sebagai perjuangan kolektif masyarakat. Situasi negara setelah Perang Dunia II dijadikan panggung yang mempush warga untuk segera melakukan tindakan sendiri, karena negara tidak bisa langsung turun tangan. Kita lihat veteran perang seperti Shikishima berembuk untuk menyusun siasat mengalahkan Godzilla, kita lihat ada percikan drama sehubungan dengan pilihan mereka untuk kembali mempertaruhkan nyawa, mempertanyakan apakah kali ini untuk negara atau bukan. Bagi mereka ini sudah bukan lagi soal patriotisme, melainkan hal yang lebih personal. Film bahkan menyebut betapa ‘cerahnya’ wajah para pejuang ketika mereka bekerja di kapalPerundingan siasat ini nyatanya lebih menarik dan lebih kita mengerti ketimbang misalnya obrolan tetek bengek sci fi yang biasa kita temui pada Godzilla versi Hollywood. Film Jepang ini paham untuk membuatnya tetap pada gagasan dan tema, sehingga bahkan ketika tersempil paparan untuk majunya plot pun, film ini tidak terasa terbebani.

Notice gak gimana Godzilla menggigit, tapi sama sekali tidak pernah memakan manusia?

 

Dan ketika beneran sudah memperlihatkan aksi-aksi manusia berusaha survive dari monster raksasa, film ini pun tetap bertaring.  Efek visual nya memang tidak mentereng, spektakelnya memang tidak bombastis, tapi bukan berarti yang disajikan film ini hiburan B-Class. Justru, demi menyeimbangkan dengan cerita yang grounded, visual film ini dibuat dengan sense realisme yang tinggi. Lihat saja adegan ketika kapal rongsok penyapu ranjau yang dinaiki Shikishima dan tiga rekannya dikejar oleh Godzilla. Feelingnya intense banget, padahal yang kelihatan dari Godzilla itu cuma duri-duri di punggung dan puncak kepalanya. Terakhir kali ngerasain kayak gitu di film creature, ya pas film Jaws yang hiunya irit, tapi dread dan impact keberadaannya menguar dari karakter manusia. Build up Minus One inipun gak ada minus-minusnya, mereka membangun kemampuan Godzilla lalu kemudian ngasih punchline sedemikian rupa. Ketika Godzilla hendak menembakkan nuklirnya, misalnya, kita diperlihatkan gimana tubuhnya ‘ngecharge’ dan kemudian ketika dia menembak, efeknya begitu dahsyat. Sehingga ketika next sequence kita melihat Godzilla ‘ngecharge’ lagi, kita ikut khawatir akan dampak yang bisa ditimbulkan. Sound dan musiknya juga bekerja dengan sangat efektif membangun suasana. Baik itu di malam hari, di laut, ataupun di kota, film ini berani dan selalu punya cara unik dalam menampilkan Godzilla. Beberapa adegan mungkin ada yang tampak terlalu ‘anime’, tapi itu hanya karena perbedaan gaya atau pendekatan khas Jepang dengan film Godzilla versi Hollywood yang biasa kita saksikan.

 

 




Clearly, Godzilla yang satu ini dikepalai oleh orang-orang yang paham betul bagaimana membuat fantasi kaiju raksasa bisa co-exist dengan cerita dengan penokohan dan bahasan yang berbobot. Yang membuat film ini jadi luar biasa bagus adalah cara mereka menghadirkan manusia dan Godzilla di dunia yang sama dengan kepentingan yang saling tak tergantikan, sementara juga mengambil resiko dengan tidak benar-benar bersandar kepada spektakle monster dalam menyuguhkan kisahnya. Cerita bertapak pada manusia dengan perspektif dan identitas lokal yang kuat, tentang posisi mereka pada situasi terendah setelah perang, dan Godzilla jadi brutal force yang menguji pandangan hidup mereka. For di antara mereka masih ada yang belum tuntas dengan ‘perangnya pribadi’. Ketika menyuguhkan Godzillanya, film ini juga tidak main-main. Craft mereka menghidupkan Godzilla di dunia Jepang 1940an pantes banget diganjar awards – dan memanglah film ini layak menjadi film Godzilla pertama yang memenangi piala Oscar untuk Visual Efek Terbaik. Yang membuat, film ini bukan saja berhasil menjadi sajian fantasi sci-fi, tapi sekaligus berhasil sebagai period piece perang! Melihat Godzilla di film ini bukan sekadar seru karena besar, dan epic karena pertarungannya dahsyat. Tapi, yang lebih penting, melihat Godzilla di sini, perasaan kita akan tergugah. Takjub dan takut bergulir menjadi satu. Mungkin seperti menonton film inilah rasanya melihat Godzilla sungguhan; beautiful, majestic, tapi juga begitu menakutkan sampai menggetarkan hati.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for GODZILLA MINUS ONE.

 

 




That’s all we have for now.

Menurut kalian apakah makna Godzilla sebagai simbol bagi lingkungan ataupun kepercayaan masyarakat?

Silakan share di komen yaa

Yang pengen punya kaos film lebaran Siksa Kubur versi My Dirt Sheet bisa pesen di sini yaa (ada 2 model, loh!) https://www.ciptaloka.com/+mydirtsheet/

Bagi kalian  melewatkan di bioskop, atau pengen nonton ulang Killers of the Flower Moon, film ini bisa ditonton di Apple TV. Kalian bisa subscribe dari link ini yaa https://apple.co/3QWp4Yp

Get it on Apple TV
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA and BEST BOOK REVIEW HORROR & THRILLER EDITION ON TWINKL



THE BOOGEYMAN Review

 

“Now you will know why you are afraid of the dark…”

 

 

Monster di dalam lemari. Meskipun bentuknya berbeda-beda tergantung kepercayaan dan lingkungan masing-masing, toh ternyata anak-anak di seluruh belahan dunia punya ketakutan yang sama. Kita semua takut sama sesuatu yang mengintai dari balik kegelapan. Yang membuat kita lebih suka tidur dengan lampu menyala, dan will never ever  in million years mengintip kolong tempat tidur. Kita percaya ada sesuatu di dalam hitam pekat itu, ada apapun momok yang kita takuti. Menurut kepercayaan rakyat kita, ada yang namanya wewe gombel, misalnya. Hantu perempuan yang suka menculik anak kecil yang ‘nyasar’ ke tempat gelap. Jangankan anak biasa seperti kita, anak-anak penyihir aja takut Boogeyman, kok. Buktinya di Harry Potter, J.K. Rowling menulis yang namanya Boggart; makhluk yang suka ngumpet di dalam benda-benda seperti lemari dan menjelma menjadi hal yang paling ditakuti oleh orang yang melihatnya. Lain lagi menurut penulis horor nomor satu, Stephen King, Di dalam benaknya, Boogeyman atau momok punya akar yang lebih personal. Ketakutan turun-temurun terhadap kegelapan dimainkannya di ranah psikologis saat dia menulis cerita The Boogeyman. Kisah seorang ayah yang ke terapi, mengaku tiga anaknya dibunuh oleh ‘monster dari dalam lemari’. Penulisan King yang begitu detil, tapi juga begitu misterius, mengangkat kesan mendua –  bahwa mungkin si ayah itulah pelaku sebenarnya. Bahwasanya Boogeyman bisa jadi hanyalah produk dari kepala yang penuh stress dan jiwa yang tertekan. Kisah tersebut kita dapatkan muncul dalam adegan film The Boogeyman yang diadaptasi oleh sutradara Rob Savage. Tapi alih-alih fokus menggali itu, Rob mencari lubang galian yang baru. Lubang tempat dia bisa menonjolkan momok itu lebih sebagai makhluk fisik di atas cerita psikologis tentang kehilangan.

Dengan kata lain, The Boogeyman yang kita saksikan merupakan adaptasi yang bisa dibilang sangat lepas. Rob membuat karakter baru, menciptakan persona baru dari karakter yang sudah ada. Salah-salah, yang dia buat ini bisa jatoh sebagai fan-fiction, alih-alih adaptasi. But hey, aku gak bilang film ini jadi jelek hanya karena gak memfilmkan actual story dari Stephen King. Afterall, dari keberadaan Boogeyman itu sendiri kita tahu bahwa kita semua punya ketakutan yang sama, hanya bentuk atau perwujudannya saja yang berbeda. Jadi yah, kalo mungkin menurut pembuat film ini, bentuk yang lebih beresonansi buat penonton kekinian adalah yang lebih genjar-genjer dan physically seperti ini, ya mari kita nilai film ini sesuai bentuk itu sendiri.

Momok monster di dalam lemari juga bisa jadi cerita lucu, misalnya yang dibuat oleh Pixar

 

Dosa film ini sebenarnya ‘cuma’ jadi generik. Secara cerita, The Boogeyman gak benar-benar groundbreaking. Kayak udah banyak cerita kehilangan yang seperti ini. Jadi, therapist yang ada di cerita pendek aslinya, di sini dikembangkan punya keluarga. Dua orang anak perempuan, yang satu masih kecil, yang satu lagi sudah SMA. Keluarga ini kehilangan sosok ibu yang tewas kecelakaan. Kehilangan tersebut lantas membekas pada anak-anaknya, terutama pada tokoh utama cerita, si cewek remaja, Sadie. Yang di adegan pembuka kita lihat nekat ke sekolah pakai baju milik sang ibu. Perfectly ngeset gimana dia menolak untuk melupakan sosok tersayangnya itu. Namun itulah yang justru jadi jalan masuk bagi Boogeyman ke rumah mereka. Dibawa oleh Lester Billings dalam adegan yang diangkat dari cerita aslinya, si Boogeyman yang merasakan grief yang besar di rumah Sadie, jadi kerasan. Tiap malam Boogeyman datang dari sudut-sudut gelap, mengganggu Sadie dan adiknya. Menggunakan rasa kehilangan mereka untuk meneror. Udah kayak kucing aja, si Boogeyman ini senang bermain-main dengan mangsa sebelum melahap mereka.

Teror yang dihadirkan dari si momok ini sebenarnya cukup seru. Apalagi di awal-awal, saat film belum serta merta menunjukkan sosoknya. Melainkan hanya lewat suara. Si Boogeyman bisa meniru suara orang, dan sebagian besar adegan seram didatangkan dari gimana satu karakter ‘dikecoh’ oleh suara yang ia sangka suara keluarganya. Si Sadie dengan suara ibunya, misalnya. Film The Boogeyman masih seram, saat bermain dengan konsep begini. Ketika hanya suara, dan sosok monsternya masih tak jelas terlihat oleh kita. Yang paling sering dapat adegan seram sih sebenarnya adik si Sadie, si Sawyer (diperankan oleh aktor cilik Vivien Lyra Blair dengan – intentional or not – cukup kocak). Ada sekuen dia harus keluar dari kamar dengan penerangan hanya dari lampu bulan kesayangannya. Atau ketika adegan dia harus terapi untuk menghilangkan ketakutannya akan gelap. Saat adegan-adegan tersebut, kita hanya diperlihatkan sekelebat dari si monster, sehingga ruang kita berimajinasi masih ada. Misterinya jadi kerasa mengerikan. Sayangnya, film ini bertujuan bikin si Boogeyman literally jadi monster yang harus dikalahkan kayak di film-film horor creature. Sehingga film butuh untuk mereveal wujudnya, dan hilanglah sudah semua kemisteriusan yang jadi sumber keseraman itu. Desain si Boogeyman agak kurang menyeramkan bagi kita, yang lebih takut ke hantu-hantuan. Tapinya lagi, aku bisa membayangkan makhluk hitam berkaki banyak seperti itu sangatlah mengerikan bagi anak-anak barat yang memang di sana, ketakutan pada laba-laba jadi ketakutan yang umum.

Saking sering lucu, aku malah ngira si adek nangis karena kakaknya salah cabut gigi yang sakit

 

Padahal monster Boogeyman di dalam film ini sebenarnya masih mengandung makna penyimbolan. ‘Dosa’ film sebagai sajian generik monster mengerikan sebenarnya gak harus jadi ‘big deal’ jika film mampu menguatkan penyimbolan tersebut. Atau seenggaknya gak membuat perhatian kita melulu tertuju pada makhluk yang gak lagi universally mengerikan. Keadaan si Sadie, ‘drama’ dia harusnya tetap jadi poin vokal. Keberadaan si monster sebenarnya berkaitan erat dengan yang dirasakan oleh Sadie.  Kita bisa lihat Sophie Thatcher memainkan karakter itu sebagai orang yang penuh duka. Dia sampai berusaha memanggil arwah ibunya. Maka, monster itu sebenarnya adalah duka yang tak tersalurkan dengan baik. Dia tidak bisa membicarakan masalahnya dengan ayah – yang memilih untuk tampak tegar karena sebagai therapist dia tidak boleh terlihat rapuh oleh orang lain. Secara metafora, Sadie lebih memilih berada dalam kegelapan duka, daripada melupakan sang ibu. Keluarga Sadie memilih untuk menyimpan masalah itu di dalam ‘lemari hati’ masing-masing. Pembelajaran Sadie adalah untuk meluapkan dan melupakan, supaya bisa move on. Yang diparalelkan oleh film dengan cahaya atau api sebagai cara mengalahkan Boogeyman. Sadie harus membakar si monster, yang berujung dia juga membakar habis benda-benda yang mengingatkannya kepada ibu.

Jadi itulah kenapa kita takut gelap. Gelap merepresentasikan hal-hal yang tidak kita ketahui, ataupun sesuatu yang berusaha kita sembunyikan, dan kita terlalu takut untuk melangkah ke dalamnya, meskipun jika melangkah itu dilakukan untuk menyalakan lampu. Film ini suggests cara untuk berani dengan kegelapan bukanlah dengan melatih diri di dalam kegelapan itu, melainkan berani untuk menyalakan api. Melawannya.

 

Harusnya film ini lebih banyak bermain di ranah horor yang lebih grounded tersebut. Mengangkat hal-hal seram dari gimana Sadie yang memilih untuk berkubang dalam kenangan kepada ibu, menjalani harinya. Adegan-adegan dia di sekolah, membuat keputusan yang salah saat berinteraksi dengan temannya – sadar atau tidak; harusnya adegan itu yang jadi pilar karena di situlah dampak dari sikapnya terwujud. Bahwa Boogeyman bagi Sadie bisa muncul di mana saja sudut-sudut gelap dia berada, karena figuratively, Sadie membawa kegelapan itu bersamanya. Di hatinya. Serta gimana hal tersebut berdampak bagi orang sekitarnya. Pada adik dan ayahnya misalnya. Horor yang seperti itu akan lebih gampang relate kepada kita daripada horor yang berubah jadi semacam mencari tahu cara mengalahkan monster laba-laba. Beberapa adegan di babak akhir film ini memang jadi lebih mirip action dalam film monster ketimbang horor. Jauh dari ruh materi aslinya. Sejujurnya, satu-satunya yang membuat film ini masih terasa kayak cerita Stephen King adalah film cukup bijak untuk membuat beberapa adegan dari reference cerita asli. Selebihnya, ya film ini terasa kayak usaha orang yang mencoba mengekspansi cerita King, tapi dengan kemampuan ala kadar. Like, there’s no way Stephen King bikin cerita dengan teman-teman sekolah tapi hanya digunakan untuk drama pembullyan tanpa bahasan hubungan yang lebih padat. Film ini mestinya lebih memperdalam lagi bahasan yang ia tambahkan, dan gak cepat settle ke masalah mengalahkan monster.

 




Sebagai adaptasi, film ini bergerak dengan bebas dan eventually menceritakan kisah di luar materi aslinya. Menambahkan karakter dan memindahkan pusat eksplorasi cerita. Walau melakukan itu dengan tetap respek dan banyak callback ke cerita asli, tapi film ini memang jauh dari ruh aslinya. Horornya dibuat jadi semacam mengalahkan monster; sebenarnya masih oke karena tetap didesain sebagai simbol grief dari yang dirasakan karakter. Akan tetapi bahasannya kurang mendalam karena film sengaja mengambil bentuk yang lebih generik. Kepentingannya berubah menjadi ‘apa makhluk ini sebenarnya’. Jawabannya memang punya layer simbolik, tapi film sekali lagi berusaha mengalihkan kita dari itu ke ya literal monsternya. Yang bahkan gak tampak seseram itu. Karena sebenarnya yang seram kan justru di makna keberadaannya. Film kurang dalam menggali ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for THE BOOGEYMAN

Kalo mau bias dan tetap kecewa karena gak sesuai cerita aslinya sih, aku menganggap film ini adaptasi yang cukup lucu. Karena film ini gak mau ‘sedalam’ aslinya, maka ceritanya diringankan. Tapi juga gak mau terlalu ringan, maka dielevated dikit. Kenapa ribet muter-muter seperti itu hahaha

 




That’s all we have for now.

Baru SMP, aku berani tidur di kamar sendirian dengan lampu dimatikan. Aku jadi sangat penakut saat itu terutama karena film The Sixth Sense. Boogeyman ku adalah kalo-kalo ada hantu muntah di balik selimut hahaha… Bagaimana dengan kalian? Apakah dulu kalian juga takut gelap? What is your Boogeyman back then?

Share  di comments yaa

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 



A QUIET PLACE PART II Review

“A person’s most useful assets are a heart full of love, an ear ready to listen, and a hand willing to help others. “

 

Monster yang memburu manusia lewat sekecil apapun suara yang mereka dengar, sehingga untuk bisa survive, manusia haruslah bergerak dalam diam. Konsep yang jenius sekali untuk sebuah cerita horor. Perjuangan untuk tidak bersuara sama sekali itu mampu menciptakan ketegangan yang genuine, yang easily menular kepada kita para penontonnya. Membuka banyak sekali ruang untuk pembangunan thriller yang seru. Bagi para aktor, konsep ini juga jadi tantangan yang menarik; karena mereka dituntut untuk berakting dengan hening, untuk berdialog lewat ekspresi dan bahasa tubuh atau malah bahasa isyarat sekalian. Visual storytelling haruslah sangat kuat di sini. Dan sutradara John Krasinski sukses berat mengeksekusi semua itu dengan baik. Semua pencapaian itu sudah diraih oleh Krasinski sejak film A Quiet Place pertama tahun 2018. Di film kedua ini, Krasinski memang berhasil mempertahankan prestasinya tersebut dengan gemilang. For once again, kita dibawanya pacu jantung di dunia senyap yang penuh monster.

Namun, supaya review ini juga gak berulang – biar gak sama dengan film pertamanya itu – pertanyaannya adalah, apa dong hal berbeda yang ditawarkan oleh Krasinski dalam film kedua kali ini?

quiteA-QUIET-PLACE-2-Trailer-2020-2-17-screenshot-1024x576
Kalo produsernya alay, film ini akan berjudul ‘2 Quiet Place’

 

Krasinski membuat film kedua ini lebih besar, lebih cepat, lebih chaos, dan tentu saja lebih keras!

Beberapa yang sudah baca mungkin masih ingat di review film A Quiet Place pertama aku menulis soal alasan film tersebut tidak dimulai dari saat musibah monster pertama kali muncul, melainkan dari hari ke-89, saat keluarga Abbott sudah mulai menerapkan sistem bertahan sendiri. Karena film pertama tersebut fokusnya pada karakter, pada keluarga yang harus menyelesaikan masalah mereka bersama-sama. Tidak perlu untuk memperlihatkan hiruk pikuk massa, karena film membatasi diri pada satu keluarga itu saja. Nah, di film kedua ini barulah Krasinski menggunakan opening kejadian Day 1 musibah monster bisa terjadi. Kita melihat adegan Keluarga Abbott bersama seisi penghuni kota yang tadinya aman-aman saja berubah seketika panik ketika ada sesuatu yang seperti meteor jatuh melintasi langit mereka. Adegan opening yang dieksekusi dengan menakjubkan tersebut, ternyata juga efektif sekali. Karena sesungguhnya punya beberapa fungsi. Salah satunya ya sebagai penanda bahwa cerita kali ini adalah kelanjutan dari Keluarga Abbott, tapi dengan skala yang lebih besar.

Bahwa kali ini juga adalah tentang dunia yang mereka tempati. Tentang kemanusiaan yang keluarga tersebut merupakan bagian darinya. Film kedua ini langsung melanjutkan cerita pada film pertama. Emily Blunt beserta anak-anaknya; Millicent Simmonds, Noah Jupe, dan seorang bayi, pergi dari rumah mereka yang sudah tak lagi aman. Mereka menyusur hutan dalam usaha mencari orang atau pertolongan, karena mereka telah melihat api unggun dari kejauhan. Berbekal alat survival dan senjata pamungkas untuk mengeksploitasi kelemahan monster yang mereka ‘temukan’ di film pertama, Keluarga Abbott ini akan segera mengetahui keadaan dunia mereka sesungguhnya. Bahwa mungkin masih ada kelompok-kelompok manusia yang bertahan. Dan ngerinya, beberapa dari kelompok itu bisa saja lebih berbahaya daripada monster-monster itu.

Jadi fokus cerita kali ini bukan semata pada keluarga Abbott, melainkan juga pada manusia secara keseluruhan. Ada perbincangan soal manusia yang tersisa di dunia mereka, sudah tidak tertolong. Atau lebih tepatnya, sudah tidak pantas lagi untuk ditolong. The audience will soon to see why, tapi film kemudian mengangkat pertanyaan yang menarik dari pilihan yang diambil oleh karakternya. Anak sulung keluarga Abbott yang diperankan dengan – I mean, like a pro! – oleh Millicent Simmonds telah memutuskan untuk mengambil resiko pergi ke pulau. Bukan hanya untuk mencari keselamatan, melainkan karena terutama dia yakin akan bisa mengalahkan monster-monster dan menyelamatkan semua orang. Walaupun itu berarti dia harus mengambil resiko mengorbankan alat bantu pendengarannya. Film ini secara keseluruhan memang terasa tampil lebih ringan (lebih mirip blockbuster biasa daripada film pertamanya) tapi elemen cerita yang diangkatnya tersebut membuatku cukup terharu. Aku tahu film ini sebenarnya direncanakan untuk tayang tahun lalu, sebelum pandemi. Tapi menontonnya sekarang, apa yang terjadi di cerita itu ternyata mirip dengan situasi yang kita hadapi.

Situasi covid yang terus bertahan hingga saat ini. Seperti monster-monster di film ini yang menuntut semua orang harus diam tak-bersuara supaya mau selamat, pandemi coronavirus juga merupakan situasi yang membuat kita harus tergantung sama orang untuk ikut patuh menjaga protokol kesehatan. Tapi kan semakin hari, orang-orang semakin acuh. Semakin banyak yang malas pakai masker. Semakin banyak yang gak-percaya. Ini menciptakan gap pada masyarakat. Yang satu mencela pihak lainnya. Film ini bisa berfungsi sebagai pengingat bahwa semua orang pantas untuk diselamatkan, bahkan orang yang paling covidiot sekalipun. Bahwa kita tidak akan bisa selamat dari wabah ini, jika kita tidak saling menyelamatkan. 

Diam itu emas. Tapi benar juga kata tagline poster film ini. Diam itu enggak cukup. Kita tidak bisa menyelamatkan siapapun hanya dengan berdiam. . Jika film pertamanya dulu membahas tentang pengorbanan demi menyelamatkan keluarga, maka film kedua ini adalah tentang menyelamatkan atau membantu orang lain, walau sekilas mereka seperti tak pantas untuk diselamatkan. Padahal bagaimanapun juga kemanusiaan itu masih perlu untuk diselamatkan. Dan itu ditunjukkannya dari karakter yang rela mengorbankan miliknya demi keselamatan orang lain.

 

Adegan opening film ini juga difungsikan untuk memperkenalkan karakter baru yang diperankan oleh Cillian Murphy. Karakternya sebagai teman dari keluarga Abbott saat dunia masih damai itu punya peran yang besar. Dialog dan relasinya dengan putri sulung Abbott jadi kunci dan actually adalah yang membawa narasi soal ‘manusia perlu/tidak perlu diselamatkan’ tadi. Karakter ini juga sepertinya dibangun sebagai pengganti sosok ayah bagi keluarga Abbott nantinya. Ada beberapa adegan yang mengarah ke sini, seperti saat karakter Emily Blunt meninggalkan cincinnya di kuburan suami, yang bisa ditafsirkan sebagai pertanda move-on. Ataupun ketika pertengahan film hingga akhir, karakter sentral film ini terpisah menjadi dua kelompok. Noah Jupe dan bayi dengan Emily, Simmonds dengan Murphy. Ini seperti mirroring adegan pembuka ketika keluarga tersebut sempat terpencar jadi dua kelompok yang sama, only, of course, Simmonds bersama ayahnya instead of Murphy.

quietmaxresdefault
Sayang, musuh bebuyutan keluarga ini, si paku biadab, enggak tampil lagi

 

‘Pemisahan kelompok’ tersebut bukan saja memastikan semua karakter mendapat porsi horor masing-masing (termasuk sang bayi!), tapi juga memang pada akhirnya membawa efek yang sangat amat positif bagi keseruan aksi kejar-kejaran melawan monster – seperti yang juga sudah ‘terinfokan’ oleh adegan pembuka. Film akan sering memparalelkan, ngematch cut kan, aksi dari kedua grup yang terpisah. Misalnya seperti ketika satu grup dikejar-kejar monster di stasiun radio, sementara grup satunya sedang terjebak di dalam brankas keselamatan, dengan monster menunggu sambil mencakar-cakar di pintu. Aksi-aksi terpisah ini didesain dengan kesamaan-kesamaan khusus, sehingga saat berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, terasa semakin seru dan tidak ada beat aksi yang terlepas dari kita. Suspens dan ketegangan itu jadi bisa tetap terjaga. Sehingga tak heran jika nanti ada karakter yang menjerit, kita akan ikutan menjerit padahal di bioskop sama-sama gak boleh berisik hihihi

Jika ada satu lagi fungsi adegan opening film ini, maka mungkin itu adalah sebagai bridge yang menyamarkan pertumbuhan aktor. Film ini kan alurnya langsung menyambung film pertama, sedangkan jarak kedua film ini cukup jauh untuk membuat aktor-aktor cilik bertambah gede dengan cukup signifikan. Menampilkan adegan opening yang dishot dalam keadaan sekarang, membuat kita tidak membandingkan dua aktor cilik pada kedua film. Sehingga lebih mudah mempertahankan ‘ilusi’ bahwa film ini langsung dimulai beberapa waktu setelah film pertama berakhir.

Ngomong-ngomong soal berakhir, kayaknya memang hanya di adegan akhir alias ending saja aku merasa gak sreg sama film A Quiet Place Part II. Treatment akhirannya sebenarnya mirip juga ama film pertama; didesain kinda abrupt sehingga lowkey jadi cliffhanger untuk (siapa tau) sekuel. Tapi film pertama terasa lebih emosional, lebih terasa seperti penyelesaian. Mereka sudah menyelesaikan masalah di rumah, dengan kehilangan ayah, dan sekarang sudah saatnya babak baru. Film kedua ini, endingnya kurang mewakili perasaan seperti begitu. Hanya terasa seperti mereka kini sudah tahu pasti cara mengalahkan monster, sudah tahu ‘posisi’ mereka dalam perang melawan monster ini, dan dua pejuang sudah ter-establish. Journey mereka kurang terasa emosional. Malahan yang benar-benar punya inner journey di sini adalah karakter Cillian Murphy, yang mengubah cara pandangnya.

Sebagian besar keluarga Abbott di sini justru malah lebih dangkal. Mereka di sini ‘hanya’ dikejar, kaget, terluka, atau melakukan beberapa hal bego (yang untungnya tidak pernah bener-bener dieksploitasi melainkan sebatas kegugupan karakter). Tidak benar-benar ada eksplorasi, terutama pada karakter Emily Blunt dan Noah Jupe. The latter malah nyerempet annoying karena banyak ngelakuin wrong things. Kita juga tidak melihat hal baru dari para monster. Hanya ada sekilas perihal origin mereka. Tapi monster yang kita lihat di sini tidak banyak perbedaan penggalian dengan yang di film pertama. Film masih bermain aman dengan menempatkan mereka di tengah-tengah. Tidak sebagai karakter, dan tidak pula hanya sebagai sebuah spectacle. Mungkin karena mengincar sekuel lagilah maka film kali ini memutuskan untuk bungkam mengenai monster-monster tersebut.

 

 

 

Memang, bintang sebenarnya film ini adalah sutradaranya. John Krasinski berhasil menceritakan soal manusia yang harus tak-bersuara dikejar monster ini sebagai cerita yang simpel dan stay true sebagai dirinya sendiri, namun berskala luas. Konsep unik tersebut sekali lagi berhasil dia eksekusi menjadi horor yang efektif, yang terus-terusan membuat kita takut menarik napas. Adegan openingnya menjadi adegan paling penting, dan tak pelak merupakan salah satu opening horor terbaik sepanjang tahun ini. Film ini keren, tapi jika dibandingkan dengan film pertama, aku tidak berpikir ini jatohnya lebih baik. Buatku, lebih seperti, film pertama itu Krasinski bermain di horor yang lebih senyap dan lebih emosional, dan dia sukses. Dan kini, dia mencoba bermain di volume yang lebih keras dan lebih ke seru-seruan. Dan dia sama suksesnya.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for A QUIET PLACE PART II

 

 

That’s all we have for now.

Apakah bagi kalian ada orang-orang tertentu di dunia ini yang tak pantas diselamatkan, atau mendapat pertolongan? Orang-orang seperti apa itu kira-kira?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

MONSTER HUNTER Review

“I know what I’m capable of; I am a soldier now, a warrior. I am someone to fear, not hunt.”
 

 
 
Paul W. S. Anderson bersama istrinya, Milla Jovovich, kembali berkolaborasi dalam projek tontonan hiburan dengan apa yang sepertinya telah disepakati untuk menjadi misi mulia mereka; mencoba menghancurkan video game ke dalam film-film adaptasi. Dan setelah Resident Evil, target buruan mereka kali ini adalah seri Monster Hunter. Game yang cukup simpel, tapi menarik karena penuh imajinasi; player bermain sebagai pemburu monster-monster beraneka ukuran dan rupa. Film yang dihasilkan oleh Paul ini ternyata lebih simpel lagi.
Ceritanya tentang Kapten Artemis yang, bersama tim kecilnya, masuk ke dalam sebuah portal. Mereka tiba di dunia baru. Dunia yang sejauh mata memandang cuma hamparan pasir. Tapi meskipun putih, pasir itu enggak innocent. Karena pasir itu jadi habitat monster besar dan bertanduk, yang disebut Diablos. Kapten Artemis berusaha membawa mereka semua keluar dari tempat berbahaya itu hidup-hidup. Namun dunia baru ini ternyata monsternya bukan cuma satu. Satu-satunya peluang Artemis bisa bertahan hidup terletak pada pemuda misterius bersenjata panah dan pedang besar, yang dari kejauhan membantu mereka.
That’s it. That’s the story. Film ini gak punya ending. Enggak punya resolusi. Ceritanya dibiarkan berakhir di tengah-tengah pertempuran. Apalagi kalo bukan demi mengincar sekuel. Langkah yang sangat meragukan. Karena, bagaimana mungkin kita merasa ingin melihat kelanjutan film ini jika dalam melanjutkan menonton si satu film ini sampe durasi abis aja rasanya sungguh luar biasa berat?

Monster yang desainnya paling males adalah monster berupa gabungan dinosaurus dan naga

 
Selain melihat Milla Jovovich berduel melawan monster-monster raksasa – beberapa kali dia berlari menyerang mereka head on gitu aja – tidak ada lagi hal menghibur yang benar-benar bisa kita nikmati dalam film ini.
Kalo kalian mengira film yang diadaptasi dari game bertema dunia monster akan berisi petualangan menegangkan yang penuh imajinasi dan fantasi awesome, maka kalian benar. Film fantasi haruslah seperti begitu. Paul W.S. Anderson-lah yang salah ketika dia malah mengadaptasi game yang punya banyak penggemar itu ke dalam tontonan yang bukan saja terasa seperti perwujudan dari game itu sendiri, tetapi juga dibuat dengan cara yang menghalangi kita untuk bersenang-senang dengan aspek-aspek fantasinya. Alih-alih mengeksplorasi dunia, dia malah membuat kita sebagian besar durasi (tepatnya satu jam lebih) terjebak bersama karakter sentralnya di dalam dunia yang isinya pasir dan batu-batu doang. Lupakan world-building, dalam film ini yang kita tonton hanya Artemis yang keluar dari  ‘kandang’ monster satu, masuk ke ‘kandang’ monster berikutnya. Aksi demi aksi terus diporsir. Sehingga jadi bosan. Pegangan kita kepada karakter – yang jumlah death countnya rapidly naik kayak jumlah pasien positif Covid di negara kita – cuma dialog-dialog sok lucu dan sifat mereka yang sok keren.
T-t-ttunggu dulu, Mas My Dirt Sheet.. Lah kan katanya itu filmnya penuh oleh aksi demi aksi, tapi kok Mas juga bilang filmnya masih membosankan?
Begini, adik-adik. Itu jawabannya simpel aja. Yakni karena Anderson tidak tahu cara bercerita dengan benar lewat adegan-adegan aksi. Oke, mungkin dia tahu, hanya dia enggak peduli dengan cara yang benar. Anderson sudah kepalang nyaman di dunianya sendiri, di dunia yang ia pikir menghibur itu adalah dengan menyajikan aksi-aksi dengan begitu banyak cut-cut cepat, yang selalu berujung dengan momen sepersekian detik slow-motion, untuk kemudian disambung lagi dengan cut-cut cepat lainnya. Sepuluh menit nonton ini aja aku udah capek oleh adegan aksi yang tersusun oleh banyak sekali cut. Dan karena aksi-aksi yang disyut seperti demikian terus menerus dilakukan, maka capek itu berubah menjadi bosen dan tidak lagi peduli. Cut-cut cepat dalam adegan aksi itu justru membuat adegan susah untuk diikuti, sehingga aksi-aksi yang ditampilkan itu jadi gak ada efeknya buat kita. We don’t care because we can’t really see what happens.
Dalam film ini ada Tony Jaa, aktor laga tersohor yang tentu saja jago melakukan stunt-stunt keren. Di sini Jaa juga banyak beraksi, malah ada adegan fighting one-on-one dengan Jovovich. Tapi kasiannya, Anderson merasa stunt yang dilakukan Jaa sendiri itu masih kurang keren dan kurang menghibur bagi kita. Sehingga setiap kali Jaa beraksi, Anderson menggunakan cut-cut cepat tadi dengan niat untuk memperheboh aksi Jaa. Namun alhasil tentu saja hal tersebut malah bikin aksinya jadi enggak enak dilihat. Cut-cut cepat itu dilakukan oleh orang normal yang gak sok asik untuk menutupi, entah itu ketidakmampuan aktor, atau efek praktikal lainnya. Ketika mereka punya aktor yang mumpuni banget dalam berlaga, orang normal yang gak sok asik, enggak akan menggunakan teknik cut. Mereka mempercayakan kepada aktornya. Anderson ini memang lain dengan yang lain. Bukan hanya pada adegan-adegan aksi melawan monster ataupun pada aksi dikejar monster. Cut-cut cepat digunakan oleh Anderson dalam hampir semua pengadeganan, termasuk ketika karakter lagi ngobrol atau lagi berjalan dan menemukan sesuatu. Shot muka Artemis – cut – pindah ke muka si anu – cut – wide shot daerah – cut – shot muka orang yang lagi rolling eyes – cut – shot muka yang lagi bicara. Adegan senormal itu aja direkam dengan frantic banget. Sehingga udahlah karakternya tipis, apa yang mereka omongkan dan rasakan itu pun jadi enggak nyampe ke kita.
Film ini sesungguhnya mengandung bibit hubungan emosional yang bisa dikembangkan dan menjadi hati seluruh cerita. Yakni hubungan antara Artemis dengan karakter Hunter yang diperankan oleh Tony Jaa tadi. Karakter dari dua dunia ini bertemu, tadinya mereka tampak musuhan alias saling tidak percaya, tapi keadaan memaksa mereka untuk team up. Dan akhirnya menjadi teman. Mereka jadi saling belajar. Yang tak-biasa dari komunikasi mereka adalah keduanya tidak saling mengerti bahasa masing-masing. Jadi mereka pake bahasa isyarat, trying to understand each other. Momen-momen mereka belajar mengenal satu sama lain, mestinya bisa emosional. Tapi penghalang untuk sampai ke sana itu banyak. Pertama, editing edan tadi. Kedua, dialog yang cringe. Anderson membuat kedua karakter ini bonding salah satunya adalah lewat makanan, tepatnya; coklat. But the way he does it adalah dengan membuat mereka antara seperti dalam iklan produk coklat, atau seperti sedang memparodiin adegan Si Ikan Gila Coklat dalam kartun SpongeBob.

Artemis belajar banyak hal dari Hunter yang berjuang seorang diri. Belajar ngalahin monster raksasa, belajar menggunakan senjata yang belatinya bisa mengeluarkan api, dan terutama adalah belajar menemukan kembali makna menjadi seorang pejuang. Makna menjadi seorang tentara. Bahwa seharusnya dialah yang berburu, bukan yang diburu.

 

“Coklaaaaaatttttt!!!”

 
Jika Kapten Artemis terlempar dari dunianya dan terjebak di dunia lain, maka Anderson sang sutradara sendiri sesungguhnya juga sedang menapaki dua dunia. Yakni dunia film dan dunia video game. Bedanya, Kapten Artemis belajar untuk bisa survive di dunia yang baru, dia melakukan penyesuaian, dan meningkatkan kemampuan diri. Ironis, Anderson tidak melakukan ini. Ketika dia menyadap dari dunia video game, dia mengambil elemen-elemen sekadar untuk para gamer mengenali materi asli ketika sudah menjadi film nanti. Kita melihat desain monster, dan desain senjata film ini yang serupa dengan yang ada di game. Namun, selebihnya Anderson gak melakukan penyesuaian apapun. Dia hanya bermain pada apa yang sudah ia nyaman aja. Cerita film ini tidak dia susun ke dalam formula atau struktur ‘dunia film’ yang sebenarnya. Makanya film Monster Hunter ini rasanya ganjil banget.
Tigaperempat bagian dihabiskan dengan gak jelas, film monoton dan gak ada world-building. Di babak ketigalah, baru eksplorasi itu mulai dilakukan. Kita melihat dunia yang lebih besar, dengan pengenalan lebih banyak karakter yang unik dan menarik. Stake yang meningkat. Dan kemudian film habis, diniatkan seperti sedang ‘bersambung’. Keseluruhan babak tiga film tadi itu terasa lebih pantas sebagai awal masuk babak kedua – atau setidaknya ada di midpoint. Supaya build up di sini bisa tuntas di babak ketiga nanti. Tapi dalam film ini strukturnya tidak seperti itu. Babak satunya terasa distretch – kita melihat adegan yang itu-itu melulu dan development relationship karakter yang cringe, dan ketika sudah masuk babak baru, film habis. Rasanya tu seperti babak ketiga film ini adanya nanti di sekuel. Ya, kurang lebih film ini bentukannya miriplah sama Benyamin Biang Kerok yang sukses jadi film paling mengecewakanku di tahun 2018 dulu.
 
 
Film-film adaptasi video game dapat reputasi buruk ya karena pembuat film yang salah nerjemahin dunia seperti Anderson di sini. Pembuat film yang udah salah, tapi asik sendiri di zona nyamannya, dan kayak gak mau berubah dan gak peduli ama kritikan. Padahal sedari Resident Evil, persoalan cut-cut cepat dan editing frantic sudah selalu jadi masalah langganan film-film karyanya. Di titik ini, setelah menonton film yang sama sekali tidak menghibur dan hanya bikin capek ini, aku cuma bisa berharap film-film adaptasi video game yang udah diset menyusul rilis di tahun ini dibuat oleh orang yang benar-benar punya cerita dan gaya dan kecintaan terhadap game dan film itu sendiri.
The Palace of Wisdom gives 1 out of 10 gold stars for MONSTER HUNTER
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Apakah menurut kalian game-game modern – yang cutscene-nya bahkan bisa sangat sinematik – masih perlu untuk diadaptasi menjadi film?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SHADOW IN THE CLOUD Review

“War is to man what maternity is to a woman.”
 

 
 
Udah lama gak ngeliat Chloe Grace Moretz dalam peran cewek badass, sehingga Shadow in the Cloud garapan Rosanne Liang ini terasa jadi pengobat rindu. Moretz bukan hanya beraksi di atas pesawat yang sedang mengudara, dalam aksi fantasi perang dunia ini, karakter yang ia perankan akan menghajar bokong monster-monster maskulinitas!
Moretz berperan sebagai Maude Garrett yang menyatakan dirinya mendapat surat perintah untuk ikut dalam misi pesawat The Fool’s Errand. Pesawat yang isinya cowok semua itu tidak begitu saja percaya kepadanya. Mereka meremehkan Garrett, semua. Well, kecuali Quaid yang tampak respek dan bersedia menjaga tas bawaan Garrett di dock atas sementara Garrett sendiri ditempatkan di stasiun senjata bagian bawah pesawat oleh Kapten. Dari situlah masalah muncul. Di bawah sana, Garrett melihat sesuatu di badan pesawat – dan juga di balik awan. Pesawat mereka terancam bahaya diserang oleh dua hal berbeda. Dan tak satu orang pun yang percaya pada Garrett. Stake semakin tinggi bagi protagonis kita, sebab tas yang sedang dijaga oleh Quaid di atas tadi ternyata adalah berisi sesuatu paling berharga yang harus dijaga Garrett dengan nyawanya sendiri!

Dengarkanlah kata-kata perempuan, walau kadang ribet

 
Now, the movie itself is actually pretty bizzare. Ada perbedaan tone cerita yang benar-benar drastis. Film ini banyak menggunakan musik-musik techno/elektronik yang kekinian, yang mentok banget dengan setting dunia 1940an yang kita lihat. Belum lagi, film sering menampilkan visual dengan warna-warna neon, yang juga kontras dengan environment pesawat yang tampak kuno, dan ringkih. Benturan-benturan ini menciptakan kesan ‘dreamlike’, seperti sebuah fantasi. Sementara itu, melalui kontras modern dengan jadoel itu, bawah sadar kita juga dibuat mengerti kalo ini adalah kisah fantasi yang menyuarakan hal kekinian. Ini adalah soal perempuan dalam dunia pria.

Film bermaksud untuk memperlihatkan kepada kita hal-hal seperti bagaimana perempuan diperlakukan, prejudice apa yang seringkali menimpa, dan betapa merawat anak saja dapat menjadi begitu perjuangan bagi perempuan. Dalam kata lain: film ingin memperlihatkan perang seperti apa dialami oleh perempuan masa kini, dan betapa kadaluarsa sesungguhnya ‘perang’ tersebut. 

 
Paruh pertama film ini dengan paruh keduanya udah kayak dua film yang berbeda. Aku biasanya suka banget dengan film-film yang bahkan si film itu sendiri mengalami perubahan. Kriteria film yang kukasih skor 9 biasanya seperti demikian. Misalnya Jojo Rabbit (2020) yang awalnya cerita di camp terus berubah jadi cerita semacam ‘stranger on attic’ lalu berubah lagi jadi cerita perang. Atau Inside Out (2015) yang berubah dari cerita di ruang kendali menjadi cerita petualangan. Shadow in the Cloud pada paruh pertama adalah cerita yang sangat contained. Hanya berisi dialog-dialog, dengan situasi yang menarik. Garrett sendirian di turret bawah. Terkunci. Terpisah dengan lawan ngobrolnya; para kru pria yang berada di bagian atas pesawat. Mereka ngobrol lewat radio internal pesawat. Aku genuinely suka bagian ini. Aku suka setnya; yang menggambarkan betapa terkucil, terkurung, dan rendahnya perempuan ditempatkan oleh pria-pria toksik. Aku juga suka sama dialog mereka, dan cara dialog tersebut dimainkan. Dimulai dari Garrett yang mencuri dengar para kru ngelecehin dia, hingga ke akhirnya mereka berdebat dan Garrett put them in their place saat mengungkap kepandaian dan pengalaman mereka ternyata tak jauh berbeda – bahkan Garrett lebih superior. Akting Moretz pun ternyata lebih ‘cakep’ di bagian drama berdialog-dialog ini.
Tapi kemudian, sembari Garrett melakukan lompatan ke luar pesawat, film juga melakukan lompatan yang tak kalah jauhnya. Sekarang ceritanya berubah menjadi action thriller/horor yang luar biasa impossible. Dan bagiku, film ini langsung terjung bebas. Menubruk permukaan bumi, terbakar, dan meledak hingga tak bersisa. Ketika elemen Gremlin dimunculkan, film ini masih bisa ditolerir.  Tonenya sedari awal sudah diset sebagai sebuah fantasi, sehingga tak masalah jika ternyata monster kayak Gremlin ternyata beneran ada. Gremlin itu pun masih cocok jika dimasukkan ke konteks maskulinitas karena makhluk antagonis itu bisa dilihat sebagai perwujudan dari sifat-sifat jelek para lelaki. Karena mitos Gremlin aslinya memang muncul sebagai kambing-hitam keteledoran manusia merawat kendaraan seperti pesawat, you know, ‘kendaraan pria-pria’. Gremlin disebutkan sebagai makhluk seperti goblin yang merusak peralatan, sehingga menyebabkan kecelakaan, padahal aslinya ya karena memang kendaraannya gak terawat aja. Seperti pesawat yang dinaiki Garrett. Jadi, Gremlin ini bukan masalah, adegan Garrett menghajar Gremlin di babak akhir juga cukup memuaskan walaupun pengadeganannya bego. Yang bikin malesin itu adalah aksi-aksi lain yang dibuat begitu heboh sehingga tak masuk akal. Aksi-aksi seperti Garrett yang jatuh, keluar dari pesawat, terlontar masuk kembali karena imbas ledakan pesawat musuh yang hancur. Konyol!
Aksi-aksi seperti begitu malah membuat kita jadi menertawakannya. Garrett bergelantungan, merayap di luar pesawat sembari membawa tas kulit yang ia jaga biar gak jatuh. Pesawat-pesawat musuh yang gak pernah menembakinya, tapi selalu sukses menembak kru cowok di dalam pesawat – tepat pada saat punchline dialog mereka yang terkesima melihat aksi Garrett. Gremlin yang muncul ngajak berantem, tapi luar biasa mematikan terhadap kru laki-laki lain. Aksi-aksi konyol itu dengan cepat menjadi annoying, karena kita sadar bahwa satu-satunya alasan adegan itu terjadi adalah karena ingin menunjukkan kehebatan Garrett sebagai seorang perempuan. Agenda feminis salah kaprah yang ditunjukkan oleh film ini. Garrett yang di awal sudah benar ditampilkan sebagai seorang yang bercela dengan motivasi dan muslihatnya sendiri, kini berubah ditampilkan sebagai seorang yang lebih baik daripada siapapun di sekitarnya. Garrett ini bisa semua, mulai dari mekanis pesawat, pilot, penembak, dan petarung. Tentara beneran aja jarang yang bisa semua skill kayak gitu. Semua elemen di luar dirinya pun lantas diperlemah demi menguatkan tokoh ini. Ledakan yang tak membunuh, malah menjadi pegas penyelamat. Peluru-peluru yang senantiasa meleset.. Garrett bahkan bisa ‘berteleport’ mengejar Gremlin. Semua ke-lebay-an ‘perempuan-hebat’ itu membuat film ini jadi tak pantas lagi menyandang narasi pemberdayaan yang jadi gagasan utamanya.

This is the close we can get to an action-feminazi!

 
Padahal kalo memang mau bikin cerita yang menghormati perjuangan perempuan di medan perang, kenapa tidak bikin cerita yang lebih real aja misalnya tentang salah satu pilot cewek Perang Dunia II yang fotonya dipajang oleh film ini di kredit penutup. Kenapa harus memilih cerita yang berujung menjadi aksi tak masuk akal yang hanya seperti menuding dan mengecilkan nilai perjuangan.
Sebenarnya film ini sudah mengeset ‘nada dasar’ ceritanya supaya kita enggak kaget dengan perubahan drastis di tengah-tengah. Tapi, film ini melakukan itu dengan demikian aneh. Klip video kartun perang ditampilkan di layar, memperlihatkan soal Gremlin dan pesawat, dengan adegan over-the-top khas kartun. Sebenarnya ini cukup, kalo ditempatkan dengan benar. Film ini anehnya, membuat opening itu seperti terpisah dari cerita utama. Kita tidak melihat karakter menonton klip tersebut atau apa. Karena setelah klip itu, kita lantas disambut oleh kredit studio dan logo-logo yang terlibat produksi film ini. So, bahkan sedari mau mulai aja film ini udah gak make sense. Penulisannya janggal. Garrett sendiri pun tak mendapatkan plot yang benar. Tidak ada pengembangan pada karakternya, melainkan hanya pengungkapan demi pengungkapan; revealing demi revealing. Garrett dibikin sudah benar dan kuat sedari awal. Tidak ada pembelajaran pada karakternya. Tentu saja, sekali lagi karena film berkutat pada agenda tokoh feminis yang salah kaprah.
 
 
Aku menonton ini malam hari tanggal satu Januari. Dan belum genap 24 jam, tapi 2021 udah ngasih kekonyolan dan agenda yang makin annoying. Film ini bukan tontonan yang tepat untuk mengawali tahun yang semestinya penuh harap dan penyembuhan. Karena film ini memperlihatkan perjuangan dalam sebuah fantasi yang semu. Bukannya empowering, malah menggelikan. Tadinya kupikir film ini unik, pemainnya pun berjuang akting dengan sepenuh hati, tapi naskahnya ternyata asik sendiri. Sebenarnya gak masalah jika film tampil sebagai aksi thriller/horor yang konyol, but not like this. Tidak dengan karakter dangkal dan adegan yang menyangkal logika hanya untuk membuat karakternya terlihat kuat.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for SHADOW IN THE CLOUD.
 
 

 

That’s all we have for now.
Bicara soal perang dan perempuan, apakah menurut kalian etis bagi suatu negara untuk mengirimkan perempuan-perempuannya berperang? Bagaimana dengan perempuan-perempuan pahlawan di jaman dahulu?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

THE KID WHO WOULD BE KING Review

“United we stand”

 

 

Membela teman yang di-bully dan pada gilirannya tidak mengadukan apa-apa – kepada ibunya, kepada guru, kepada orang dewasa – tentang hal tersebut lantaran ia enggak mau perpecahan semakin besar karena mengungkit masalah; mungkin itu sebabnya Alex (Louis Ashobourne Serkis, temuan baru sang sutradara) mampu mencabut pedang Excalibur dari batu. Alex, seorang anak dua-belas tahun di era modern Britania Raya, telah menunjukkan sikap dan semangat yang tak-pelak dihargai oleh seorang kesatria seperti Raja Arthur dalam legenda. Kesetiaan, keberanian, pendirian untuk menegakkan persatuan sebagai prioritas utama. Kalian tahulah; sikap-sikap kepahlawanan.

Pedang Excalibur yang ia dapatkan mengingatkan Alex pada buku cerita yang seingatnya dulu diberikan oleh Ayah kepadanya. Tapi tidak sebatas rasa rindu yang diberikan oleh pedang tersebut. Masalah juga. Alex diserang oleh makhluk seperti zombie kesatria yang datang menyala bara api dari dalam tanah. Berkat informasi dan gemblengan dari seorang penyihir yang mengambil wujud anak muda berbodi kutilang (paling tidak sampai dia bersin, yang mengubah wujudnya menjadi seekor burung hantu), Alex mengerti bahwa dirinya terpilih sebagai Arthur masa modern. Tugas yang harus ia lakukan adalah mengalahkan Morgana, penyihir jahat berwujud monster yang ingin merebut Excalibur dan memecah belah dunia saat gerhana bulan empat malam lagi tiba. Untuk itu, Alex musti mengumpulkan Ksatria Meja Bundar versi dirinya sendiri, dari teman maupun lawan, dan berkelana bersama mencari sosok Ayah yang diyakini Alex adalah Raja Arthur yang sebenarnya.

Alex dan keadaan sosial tempatnya tinggal dijadikan perbandingan menarik terhadap kode-kode kekesatriaan tradisional oleh film ini. Sebagai cara mereka mempertanyakan ke mana perginya nilai-nilai luhur tersebut. Namun misi utama film ini sebenarnya adalah memperlihatkan dongeng kesatria kepada anak-anak seusia Alex yang mungkin sudah terlalu disibukkan (kalo tidak mau disebut dimanjakan) dengan kemudahan dan kenyamanan. Dalam film ini kita akan melihat Alex dan teman-temannya bertualang, dan bukan monster-monster perut bumi itu yang mengancam keutuhan mereka – melainkan kenyataan bahwa begitu gampangnya kelompok mereka terpisah; begitu banyaknya hal-hal yang membuat mereka terpecah.

Anak-anak jaman sekarang disebut lemah dan manja bukan exactly karena fisik dan tenaganya. Bukan karena mereka gendut kebanyakan duduk main gadget. Melainkan karena keogahan mereka untuk bersusah payah main keluar, mencari teman beneran, dan bersama-sama melakukan sesuatu yang mereka percaya. Anak-anak sekarang hanya kurang bersemangat menunjukkan sikap-sikap kesatria yang mungkin tak mereka sadar mereka miliki.

chivalry is not dead, Superman is

 

Film ini dibuka dengan sekuen animasi yang menawan yang memaparkan kisah Raja Arthur yang melandasi petualangan Alex. Babak penutup film ini pun tak kalah menariknya; ketika Alex dan teman-teman menjadikan sekolah sebagai benteng pertahanan – mereka mengenakan baju zirah, dengan pedang-pedang, menyulap papan gym menjadi kuda-kuda gauntlet, dan memasang jebakan untuk pasukan monster yang datang menyerbu. Pertempuran dalam film ini selalu berat oleh CGI tapi cukup memuaskan untuk dilihat, terlebih pertempuran terakhir yang melibatkan anak-anak berterbangan ke sana kemari berusaha mendaratkan monster terbang yang mengerikan. Pembuka dan penutup; itulah momen-momen terbaik yang bisa diusahakan oleh film ini. Sementara bagian di antaranya; bagian yang punya porsi paling lama – mengingat film ini berdurasi dua-jam, begitu datar sehingga hampir membosankan jika kita tidak dibawa keliling dataran Inggris yang punya pemandangan menawan.

Bukan sebab karena penulisannya – The Kid Who Would Be King ditulis dengan struktur yang bener. Kita dengan jelas dapat melihat motivasi Alex, kita melihat tantangan yang harus ia hadapi, kita melihat dia menyimpulkan apa yang harus ia lakukan, kita melihat dia belajar tentang apa yang harus ia lakukan, kita juga menyaksikan bagaimana dia mengambil jalannya sendiri. Hanya saja, Alex tidak pernah tampil benar-benar menarik. Untuk mencolok saja, dia butuh jaket merah sementara teman-teman di sekitarnya memakai jaket berwarna gelap. Selain bergantung kepada buku cerita yang berfungsi sebagai petunjuk baginya – yang merupakan aspek yang dibutuhkan dalam formula cerita semacam ini, Alex tidak punya kebiasaan yang membuat dirinya menarik. Kita tidak tahu hobinya apa. Aku akui, Alex ini adalah tipe anak baek-baek yang aku biasanya ledekin di sekolah, bukannya aku termasuk tukang bully, tapi sama-sama tahulah, akan ada satu anak pendiem di setiap sekolah yang jadi bahan candaan anak-anak lainnya. Anak itu adalah si Alex, dan Bedders – sohib Alex. Tidak ada yang unik dari kedua anak ini. Saat ‘berantem’ dengan para ksatrianya, Alex akan membuat kita menguap dengan kata-kata ‘sok baik’nya yang membuat kita memohon mereka langsung saja jotos-jotosan.

Bicara soal dialog, film ini membuat adegan animasi keren di pembuka itu menjadi tidak berguna, karena apa-apa yang sudah dijelaskan dengan visual menarik tetap saja diulang kembali saat para tokoh mengucapkan dialog-dialog eksposisi. Film seharusnya memfokuskan dialog untuk pengembangan karakter saja, tidak perlu lagi menjabarkan tentang dunia Arthur. Atau malah, animasi pembuka itu enggak usah ada aja sekalian. Memilih, hanya itu yang harus dilakukan, enggak susah kok.

Sekali-kali Patrick Stewart akan muncul untuk membuat kita berpikir film ini penting

 

Adegan yang lebih banyak gerakan – seperti mereka latihan berantem melawan pohon, melatih anak-anak untuk menjadi prajurit, kejar-kejaran dengan monster – masih mampu untuk menghibur kita. Aku jadi menunggu-nunggu gerakan tangan annoying yang dilakukan oleh Merlin yang flamboyan sebab aku tahu bakal ada sihir dan keasikan menonton akan sedikit terangkat oleh keajaiban. Beberapa lelucon juga sanggup menghadirkan cekikikan di sana-sini. Aku suka sindiran yang film ini lakukan terhadap ayam goreng fast-food, paling enggak sampai film ini memutuskan untuk menjelaskan sindiran tersebut lewat omongan. Yang mana semakin menunjukkan sutradara Joe Cornish tidak sepede sebelumnya saat dia menggarap Attack the Block (2011) thriller alien yang begitu segar dengan arahan yang berhasil membuat perjuangan anak-anak remaja yang tak berkekuatan khusus – sama seperti The Kid Who Would Be King ini – sangat mencengkeram sehingga termasuk ke dalam Top-8 film favoritku tahun itu.

Ketimpangan antara penulisan struktur naskah dengan pengarahan ini semakin terlihat ketika pada setelah sekuens false-resolution, film menjadi seperti berakhir dan kembali dimulai. Seperti ada sekat yang memisahkan, yang membuat petualangan yang sebelumnya tidak lagi berarti meskipun sebenarnya kita paham ada pembelajaran yang dikenai kepada tokoh utama, ada kepentingan dalam perjalanan sia-sia yang mereka semua lakukan. Namun seperti yang aku tulis di atas, babak terakhir yang menarik ketimbang pertengahan yang bahkan ternyata mereka hanya mengejar hal yang basically tak ada – ada pembangunan yang runtuh seketika sehubungan dengan siapa ayah Alex – membuat kita berpikir seharusnya film ini fokus saja di sekolah. Jika ada yang menjanjikan petualangan aksi medieval dengan anak sekolah sebagai tokohnya, maka tentu hal unik yang kita pikirkan adalah membawa aksi tersebut ke lingkungan mereka, atau mungkin membawa mereka ke zaman yang bersangkutan. Benar-benar membentrokkan mereka. Bukannya malah membawa mereka jalan-jalan sebagian besar waktu.

 

 

 

 

Terasa lebih bermain aman ketimbang sebelumnya, Cornish membuat film fantasi anak-anak ini kurang menantang. Ia seperti tidak begitu mengimbangi bangunan naskah yang ditulis dengan baik. Film ini kurang exciting. Meski ia berhasil menjalankan fungsinya sebagai dongeng kekinian yang membandingkan moderen dengan tradisional dalam rangka menjunjung tinggi nilai persatuan. This is an okay film. Aman dan berbobot ditonton bersama keluarga. Hanya dengan sedikit terlalu banyak aspek-aspek yang datar, seperti hubungan Alex dengan ibunya, dengan teman-temannya yang lain, and heck, Alex barely has anything to do with Morgana, yang mestinya bisa dieksplorasi dengan lebih emosional lagi.
The Palace of Wisdom gives 6 gold stars out of 10 for THE KID WHO WOULD BE KING.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Coba tanyakan kepada diri sendiri, apakah kalian mampu mencabut Excalibur dari batu?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

GOOSEBUMPS 2: HAUNTED HALLOWEEN Review

Write as well as you can and finish what you start.

 

 

 

Kalo ada film yang bisa kumaafkan memakai fake jumpscare, maka film itu haruslah memiliki kata Goosebumps pada judulnya. Sebab dari buku-bukunya, Goosebumps memang banyak memakai adegan serem yang berkonsep ‘ternyata cuma salah lihat atau dikagetin sama teman’. Bahkan tak jarang kita akan menemukan satu buku Goosebumps yang aktual monsternya hanya muncul di bagian akhir, sedangkan sebagian besar isinya berisi sang tokoh ‘salah sangka’ melihat monster. Mungkin saja aku terdengar sedikit bias terhadap judul ini. Tapi sebagai pembelaan, susah untuk tidak memandang tinggi guru yang udah ngajarin kita banyak hal.

Dan buatku, Goosebumps tak ubahnya buku pelajaran, dan R.L. Stine adalah gurunya.

 

Menginspirasiku untuk menggunakan imajinasi dan menuliskannya di kertas kala aku masih SD (baca juga Delapan Buku Goosebumps Paling Serem Favoritku), aku senang melihat gimana Goosebumps menjelma menjadi sebuah film yang mengumpulkan semua makhluk seram itu dan actually menceritakan mereka punya beef ama R.L. Stine. Film Goosebumps (2015) sangat menyenangkan, dan suprisingly gak jelek. Aku suka gimana film membangun ceritanya berputar kepada R.L. Stine dan kaitannya dengan pekerjaannya sebagai penulis cerita horor anak-anak. Sekuelnya ini, meski aku sedikit kecewa karena tokoh sang pengarang – R.L. Stine hanya muncul di menjelang akhir (dan mau-tak-mau kita harus mengakui peran Jack Black cukup besar menghidupkan tokoh ini), masih ada sangkut pautnya dengan kegiatan menulis. Dalam kapasitas horor fantasi yang fun, ceritanya seperti berusaha meraih anak-anak untuk mengeluarkan imajinasi mereka – baik itu melalui tulisan, ataupun projek karya ilmiah di kelas – tanpa harus takut gagal. Yang terutama menarik bagiku adalah film ini bermain dengan ide ‘gimana jika penulis seikonik R.L. Stine mengalami writer’s block‘ yang ultimately film ini berusaha memberi jawaban terhadap pertanyaan ‘apa yang harus kita lakukan kalo kita gak tahu harus menulis apa?’

Sarah (Tokoh Madison Iseman ini memang terlalu ‘tua’ untuk ukuran protagonis cerita Goosebumps) bingung musti nulis apa untuk esai pendaftaran universitas. Topik mengenai rasa takut harus ia jabarkan, namun otaknya nge-blank. Halaman Word nya komputernya tetap kosong. Ide memang kadang datang dari sumber yang tak terduga. Sonny (Jeremy Ray Taylor mirip Jack Black cilik), adik Sarah, yang membuka usaha bersih-bersih sampah menemukan ‘harta karun’ saat dia dan temannya menerima job untuk membersihkan sebuah rumah tua. Yang ternyata adalah bekas rumah R.L. Stine. Mereka menemukan buku yang terkunci dan boneka ventriloquist yang mendadak muncul saat buku tersebut dibuka – kita semua tahu siapa boneka itu! Slappy yang mereka bawa pulang, dengan segera menimbulkan kekacauan di kota. Slappy menghidupkan seluruh kostum monster dan dekorasi halloween demi membangun keluarganya sendiri. Keluarga yang tak pernah ia dapatkan lantaran R.L. Stine, sama seperti Sarah, tidak mampu menyelesaikan cerita yang ia tulis. Sekarang Sarah dan Slappy mesti berlomba ‘menuliskan’ ending dari buku horor R.L. Stine yang terlupakan tersebut.

“buku kok dikunci?” hah, anak sekarang belum pernah megang diari sih ya

 

Resep cerita yang bagus adalah terdapat keparalelan antara motivasi para tokohnya, protagonis dan antagonis menginginkan hal yang sama namun mereka punya pandangan dan cara yang berbeda dalam mencapainya. Goosebumps 2: Haunted Halloween, nun jauh di dalam sana, punya aspek tersebut. Sarah seorang creative writer muda yang ingin bisa menyelesaikan tulisan tentang apa yang ia takuti. Sonny yang ingin bisa menyelesaikan proyek kelasnya. Dibentrokkan dengan Slappy, tokoh cerita khayalan, yang ingin cerita dirinya tidak menggantung. Aspek menarik dalam narasi film ini sayangnya tertutup oleh elemen monster-monster, yang enggak konyol sih, hanya saja terlihat remeh karena tidak terasa digarap dengan serius. Seperti tidak ada passion dalam arahannya. Mereka hanya tampak ingin menyelesaikan proyek sekuel ini dan tidak benar-benar memperhatikan – atau mungkin juga enggak sreg – dengan material ceritanya. You know, karena menyelesaikan sesuatu yang sudah dimulai itu adalah hal yang penting. Film ini seperti terjebak dalam konundrum yang ia ciptakan sendiri, sehingga berujung kepada hasil akhir yang membuat kita berpikir “kenapa jadinya malah begini?”

Ingat ketika masih kecil selalu dibilangin “makan harus dihabisin, kalo enggak nanti nasinya nangis?” Well, kalo cerita horor enggak diselesaikan, maka Slappy akan sedih dan bikin sendiri cerita versi dirinya. Dan – mengutip buku – Slappy will fight dirty. Jangan takut untuk menuntaskan apa yang sudah kita mulai.  Tanggung jawab bukanlah rintangan, bukanlah momok. Kita tidak disebut gagal karena salah. Kita gagal karena tidak menyelesaikan.

 

Efek CGI pada film ini terlihat seperti penurunan dari efek pada film yang pertama. Dan bahkan pada film pertama efeknya tidak benar-benar luar biasa. Ada rasa terburu-buru jika kita melihat gimana film kali ini bergulir. Banyak adegan yang kurang rapi, efek yang belum clear benar. Budget sepertinya memang menunjukkan ‘suara’nya di sini. Pada adegan-adegan seperti Slappy di kaca mobil, Gummy Bear yang menyerang manusia, efeknya terasa seperti film televisi. Dan itu bisa jadi adalah pujian terhebat yang bisa kita kasih buat film ini; film televisi untuk keluarga yang begitu menyenangkan. Perfectly fine to watch, tidak menurunkan IQ kita sekeluarga. Nostalgia penggemar bukunya juga tidak akan tercoreng. Tapi mainly, itu karena film ini tidak melakukan banyak hal sebanyak yang mestinya ia lakukan.

Selalu seru melihat monster berkeliaran sekeliling kota. Akan tetapi, selain sebagai upaya untuk memperlihatkan kembali monster-monster klasik Goosebumps, menyatukannya dengan tradisi halloween, kita tidak melihat banyak alasan lain monster-monster tersebut ada di sana. Keberadaan mereka tidak terasa spesial, lantaran mereka enggak benar-benar ngapa-ngapain dengan tokoh utama kita. Kita bisa menonton ini dengan membuang bagian tengahnya – ngeskip ke ‘markas’ Slappy dan tetap mengerti isi cerita. Yang dilakukan Slappy cukup mengerikan, terutama buat anak kecil; sebenci apapun kita menyangka terhadap keluarga, kita tidak mau kejadian buruk menimpa keluarga. Kedatangan R.L. Stine sendiripun sebenarnya tidak terlalu penting, tapi menurutku karena film ‘salah menempatkan’ posisi tokoh ini. Dia bisa saja masuk lebih awal, dan memberikan lebih banyak peran dan makna daripada sekedar paparan jawaban. Tapi kupikir, sekali lagi ini masalah budget, jadi film tidak bisa mendapatkan Jack Black untuk waktu yang lebih lama.

siapa yang menelepon Sonny nyuruh bersihin rumah Stine tak pernah disinggung lagi hingga akhir

 

 

Ken Jeong turut bermain di film ini. Dan perannya juga tidak banyak berperan dan menambah bobot dalam cerita. Dia bermain sama persis dengan peran-perannya di film lain. Sebagai tetangga Sarah dan Sonny yang terobsesi banget dengan ngedekor rumah untuk acara halloween – laba-laba raksasa buatannya jadi monster paling keren yang dihidupin Slappy – aku mengira dia bakal punya peran yang lebih besar. Tapi sama seperti pada Crazy Rich Asians (2018)Ken Jeong ada untuk sesekali menyiramkan lelucon.

 

 

 

Hampir setiap kesempatan, film mengambil keputusan yang seperti tidak berfaedah apa-apa. Malah ada satu subplot tokohnya yang lebih cocok sebagai cerita seri buku karangan R.L. Stine yang lain, Fear Street (versi remaja dari Goosebumps). Romansa remaja pada dasarnya tak punya tempat dalam halaman Goosebumps. Film ini sesungguhnya bisa melakukan lebih banyak, hanya saja arahannya seperti tidak punya passion dan sekedar ingin menyelesaikan cerita. Pun begitu, ini bukan film yang jelek dan ngasal total. Aku suka aspek tentang menulis yang dikandungnya. Elemen monsternya pun cukup seru dan bisa merangkul semua anggota keluarga yang menontonnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for GOOSEBUMPS 2: HAUNTED HALLOWEEN.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa yang biasanya kalian lakukan ketika mengalami Writer’s Block? Pernahkan kalian merasa pengen menyerah dalam melakukan sesuatu? Apa yang kalian lakukan saat itu, did you actually finish what you’ve done, atau meninggalkannya? 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

 

VENOM Review

“Love is a positive, symbiotic, reciprocal flow between two or more entities.”

 

 

Eddie Brock menjadi jurnalis investigasi terkenal tidak dengan berobjektif-ria melaporkan fakta yang bisa dibaca orang di tempat lain. Dia mengungkap sesuatu yang (mungkin) disembunyikan, membangun pendapat dan penilaian pribadinya, melakukan riset terhadap suatu cerita, kemudian mempersembahkannya sebagai berita. Brock ‘memeras’ urusan orang demi keuntungannya, begitulah cara dia menegakkan kebenaran. Jurnalis kayak Brock ini pasti punya banyak musuh, bahkan orang terdekat pun bisa terluka olehnya. “You’re pathologically self absorbed!” pungkas pacarnya ketika Brock membawa dirinya ikutan dipecat lantaran Brock melanggar batas dalam suatu sesi wawancara dengan ilmuwan ternama. Ternyata, pathologically self absorbed tersebut sungguh foreshadowing apa yang bakal terjadi kepada Brock. Sebuah (atau seekor?) parasit luar angkasa terserap masuk ke dalam dirinya, mengubah Brock menjadi monster mengerikan; sesuatu yang selama ini hanya dikatakan orang mengenai dirinya.

Dunia lebih butuh jurnalis-jurnalis monster seperti Eddie Brock, yang menghadirkan berita yang menggigit disertai dengan investigasi rumit sehingga data-datanya kumplit, as opposed to berita yang hanya nyari sensasi – untuk kemudian diketahui ternyata hoax

 

Kita suka Venom lantaran tokoh ini brutal, ya selera humornya yang terkadang aneh, ya aksi berantemnya sangar. Jadi keputusan membuat film ini dengan rating PG-13 cukup membuatku menjulurkan lidah. Tapi, ya, bisalah kita pahami karena boleh jadi mereka ingin mengolaborasikan Venom dengan Spider-Man dan superhero Marvel yang lain di kemudian hari. Jadi, tone-nya harus diseragamin ringan. Dan demi memikirkan kemungkinan ini, kedua mataku terbelalak lebar. Mungkinkah mereka bisa bersatu – Venom actually adalah yang pertama dari Marvel Universe garapan Sony, sedangkan Spidey sudah bersarang di Marvel Cinematic Universe milik Disney? Venom dan Spider-Man tidak bisa untuk tidak tampil bersama, but how they could pull it off – apakah bakal ada dua Spider-Man?? Skenario terburuk adalah franchise Spidey versi Andrew Garfield yang failed dihidupkan kembali oleh Sony karena film Venom ini atmosfernya deket banget dengan film Amazing Spider-Man tersebut.

kurang lebih begini juga tampangku memikirkannya

 

 

Kekhawatiranku itu harus ditunda dulu karena film ini sudah dimulai. Tapi enggak lama sih, karena dari adegan pembukanya saja kita langsung bisa menerka betapa plotnya bakal se-basic yang bisa kita dapatkan dari cerita superhero – meskipun Venom sebenarnya tidak benar-benar pahlawan, dia lebih dekat sebagai antihero. Perusahaan jahat membawa organisme alien ke Bumi untuk suatu rencana pemusnahan umat manusia, yang tentu saja menjadi senjata makan tuan lantaran organisme itu gagal untuk mereka kendalikan. Eddie Brock berusaha mengungkap tindak yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. Yang membawanya langsung kepada salah satu organisme yang disebut Symbiote. Brock dan si Symbiote yang menjadikannya inang belajar untuk bersatu. Atas nama para pecundang alam semesta, mereka berusaha mengalahkan rencana jahat dan menyelamatkan dunia.

Ada banyak bualan dan berbagai bentuk pseudo-science yang tidak pernah tampak menarik barang satu kali pun. Kita tidak perlu berlama-lama dibuai oleh cerita origin. Mereka punya kesempatan untuk mengarang cerita origin baru yang menarik, yang berbeda dari komik, tapi yang berhasil mereka rangkai merupakan cerita yang begitu usang yang bahkan anak kecil yang sudah nonton superhero dua tahun terakhir bisa mengarang cerita lebih bagus dari ini. Karena yang kita ingin lihat sebenarnya adalah bagaimana Eddie Brock belajar untuk kompakan dengan Venom di dalam tubuhnya. Dan bahkan aspek tersebut pun terasa cukup biasa, lantaran baru-baru ini kita sudah disuguhkan pengalaman serupa tentang bagaimana manusia berkompromi dengan chip komputer yang mengendalikan tubuhnya dalam film Upgrade (2018)

pada akhirnya aku hanya ingin melihat apakah Brock jadi memberi makan si kucing atau tidak

 

Elemen Brock melihat dengan ngeri saat Venom mengambil alih tubuhnya, menyerang dan bahkan menyelematkan dirinya dengan sulur-sulur berotot, that’s one fun element yang sayangnya tidak mendapat perhatian lebih dari pembuat film. Tidak benar-benar menggali sesuatu yang baru, terlebih karena kita baru saja menonton Upgrade. Film Venom hanya mengandalkan CGI untuk menghasilkan efek pertempuran yang fantastis. Sementara pada Upgrade kita melihat permainan kamera, yang disertai dengan koreografi yang benar-benar diperhatikan; film ini biayanya gak gede. Lucunya, membandingkan dua film tersebut, kita justru melihat Venom yang seperti murahan – semuanya tampak gampangan pada Venom karena simply mereka punya budget yang gede. Tidak ada usaha untuk menampilkan pengalaman yang melampaui batas. Dan ya, Venom itu hitam, menampilkan aksinya dalam langit malam bukanlah usaha yang menarik. Taruh dia sebagian besar berantem di siang hari, kontraskan wujudnya dengan sekitar, nah itu baru menarik.

Tom Hardy adalah aktor yang hebat, gak ada yang bakal mendebat kalo kita bilang begini. Hanya saja sebagai baik sebagai Eddie Brock ataupun Venom sekalipun, tidak banyak hal spesial yang ia lakukan. Hardy membawakan dengan meyakinkan transformasi Brock dari sebelum kenalan ama Venom ampe dia bergabung dengan parasit itu. Kita bisa melihat pengaruh Venom mengonsumsi tubuhnya. Kita juga mendengar mereka menjalin hubungan ‘kerja sama’ antara sesama pecundang. Tapi elemen cerita ini hanya berlaku satu arah. I mean, susah untuk melihat monster sekeren itu sebagai pecundang di planetnya tanpa membayangkan betapa kocaknya pem-bully-an yang mungkin terjadi di planet asal mereka. Yang bisa bikin kita percaya adalah betapa ‘jinak’nya Venom di film ini terasa. Salah satu adegan paling manis film ini datang dari Venom mengingatkan Brock untuk minta maaf kepada pacarnya. Namun terkadang, Venom yang jinak ini seperti penantian yang tak memuaskan. Baru pada mid-point kita melihat Brock embracing hidupnya sebagai inang Venom. Alih-alih melihat yang ganas-ganas dari struggle Brock berkompromi dengan Venom – belajar mengenainya, mereka bisa saja membuat Venom menyantap apapun, apa aja dehyang membuat Brock dan kita semua trauma, namun yang kita dapatkan adalah adegan Brock dan Venom, dengan cara yang konyol, menakut-nakuti tetangga yang main musik dengan keras karena dia membuat Venom lemah.

Cinta mestinya adalah hubungan simbiosis yang positif. Kita tidak harus merasa tak lengkap, kehilangan identitas, atau bahkan menyalahkan pasangan karena setelah bersama kita merasa bukan diri kita yang sebenarnya. Memang, kadang kita perlu untuk mengattach diri kepada tumpuan hati, so to speak. Yang harus diingat adalah ketika kita merasa ada kebutuhan emosional yang tak terpenuhi, tetaplah dependen terhadap diri sendiri, toh it’s not like your other half suck the life out of you.

 

Sudah lama kita enggak melihat keseluruhan wajah Tom Hardy dalam film, you know, biasanya dia akting kelihatan mata doang. Mungkin ini cuma aku, tapi di film ini aku melihat Hardy kalo ngomong dan membangun ekspresi mirip-mirip Reza Rahadian haha. Bicara soal kemiripan dengan Reza, aku pikir meskipun ini gak separah Reza dan Benyamin Biang Kerok (2018), tapi apa yang terjadi sama Tom Hardy di Venom ini adalah taraf yang cukup rendah baginya; Diambil menjadi bagian dari universe yang mengincar nama dan tidak benar-benar memanfaatkan potensinya, ini bukan simbiosis yang menguntungkan bagi Hardy.

 

 

 

 

Eddie Brock dan symbiote Venom akhirnya memang bisa bersatu, manusia ini bisa berkompromi dengan monster pelahap kepala manusia. Tapi bukan mereka saja yang harus diseimbangkan. Tone kekerasan dan komedi brutal dari fitrah karakter Venom, dimaksudkan untuk merasuk mulus dalam tubuh yang PG-13.  Hubungan emosional dan koneksi efek visual juga mestinya disejajarkan. Namun, untuk dua pasangan tersebut, film gagal meraih titik seimbang. Film ini mestinya ambigu untuk menjadi menarik, karena itulah yang membuat tokoh Venom sendiri begitu digemari sebagai antihero dari Spider-Man. Hanya saja, selain interaksi yang menyenangkan, kita akan lebih banyak melihat ketidakjelasan dalam bentuk adegan berantem.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for VENOM.

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Pernahkah kalian merasa dirugikan dalam suatu hubungan; baik pacaran ataupun pertemanan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE PREDATOR Review

“Never capture what you can’t control.”

 

 

Monster pembunuh dari luar angkasa berkunjung lagi ke Bumi, siap untuk berburu manusia. Mereka hadir dengan kekuatan yang sudah berevolusi; lebih pintar, lebih ganas, lebih gede, dengan senjata dan teknologi yang lebih mematikan pula. Tapi jangan khawatir. Sekumpulan pria macho yang dapat memadamkan rokok dengan lidah sudah siap untuk menghadapi alien tersebut. Mereka akan menunjukkan bahwa makhluk seberbahaya itu tidaklah mengerikan. Melainkan lucu.

The Predator ternyata bukanlah sebuah reboot ataupun prekuel. Ceritanya adalah lanjutan, pengembangan dari semesta Predator (1987) di mana kita melihat salah satu penampilan terbaik dari Arnold Schwarzenegger. Film lanjutannya ini meng-acknowledge kejadian pada film-film sebelumnya, tidak ada yang elemen yang dihapus. Sutradara Shane Black yang actually juga ikutan main pada film yang pertama tahu persis trope-trope yang membuat franchise ini digemari, sebagai sebuah film monster 80an. Sampai di sini, penggemar Predator menghembuskan napas lega, Akan tetapi, ada sesuatu yang dilakukan oleh Shane Black terhadap arahan bercerita, sebagai bagian dari misinya mengembangkan mitos dan dunia Predator. Sesuatu yang mungkin mengecewakan bagi para penggemar. Seperti The Nun (2018) yang lebih mirip sebuah petualangan misteri ketimbang horor mencekam, The Predator digarap oleh Black dengan menjauh dari akar horornya. Hampir tidak ada jejak keseraman yang muncul pada film ini. The Predator tampil sebagai aksi petualangan melawan monster yang penuh oleh lelucon-lelucon. Yang mana paling tidak membuatnya lebih baik dari The Nun yang tampil setengah-setengah.

brb nyari lengan korban yang ngacungin jempol

 

 

Satu-satunya adegan paling mengerikan dalam film ini adalah ketika ahli biologi yang diperankan oleh Olivia Munn berusaha melarikan diri dari Predator yang mengamuk di lab. Dia berusaha bersembunyi tetapi pintu ruangan hanya terbuka setelah melewati proses dekontaminasi. Jadi, dia musti buka baju dulu, di-scan segala macem dahulu, sementara si Predator di ruangan kaca di sebelah sudah semakin mendekat. Kita tidak akan menemukan suspens selain pada adegan tersebut. Film benar-benar berkonsentrasi untuk komedi dan adegan-adegan aksi yang berujung dengan tubuh yang terpotong. Shane Black memang sengaja melakukan itu semua; menomor-duakan aspek horor. Sepertinya dia punya ide lain terhadap franchise Predator, sebagimana tokoh di film ini yang punya pendapat berbeda terhadap penyebutan istilah Predator. Ada running jokes tersemat dalam cerita soal selama ini kita salah menyebut para alien tersebut sebagai Predator. Karena Predator tersebut enggak exactly predator. Mereka pemburu. Mereka membunuh bukan untuk hidup, melainkan untuk bersenang-senang. Mereka tidak memangsa manusia. Dalam film ini dijelaskan alasan Predator membunuh yang ternyata lebih sophisticated dari sekedar insting bertahan hidup. Ini sebenarnya mencerminkan visi dan arahan Shane Black untuk ke depannya. Jika kita lihat ending film ini, bukan sekedar asal nembak jika kita sampai berteori manusialah yang akan menjadi predator bagi Predator.

Bukan tanpa alasan jika manusia disebut sebagai predator paling berbahaya. Enggak cukup dengan memakan apa saja yang bisa dimakan untuk bertahan hidup, membuat kita predator segala resipien; jumlah mangsa paling banyak. Kita terkadang suka ‘memangsa’ sesuatu di luar kemampuan kita. Manusia ingin menangkap semuanya, lihat betapa tamaknya teknologi dan alien diperebutkan oleh tokoh-tokoh film ini.

 

 

Dimulai dengan pesawat asing crashing down, yang mengingatkan kita kepada Predator pertama, dan tentu saja dengan The Nice Guys (2016); buddy-komedi garapan Black yang kocak abis. Sama seperti film tersebut, The Predator juga punya tokoh anak jenius yang memegang peranan penting. Tapi tidak seperti film tersebut, The Predator  punya plot yang sedikit terlalu ribet untuk dirangkai. Narasi film ini lebih terasa seperti rangkaian-rangkaian kejadian alih-alih sebuah kesatuan cerita yang kohesif. Tokoh utama kita adalah Quinn McKenna seorang sniper yang diperankan oleh Boyd Holbrook. Dialah yang pertama kali menemukan pesawat alien yang jatuh saat sedang bertugas di hutan. Pemerintah tentu saja berusaha menutupi kejadian tersebut, Quinn ditangkap dan dikirim ke penjara karena menolak untuk tutup mulut. On the way, Quinn bergabung dengan tentara-tentara ‘sinting’ yang lain, untuk mengalahkan alien yang Quinn tahu bakal datang mencari benda yang ia ambil dari rongsokan pesawat. Yang tak diketahui Quinn adalah benda tersebut justru dikirim pos ke depan pintu rumahnya. Dan jatuh ke tangan Rory, anaknya. See, Jacob Tremblay di sini adalah anak berkebutuhan khusus yang bisa menyusun bidak-bidak catur yang berserakan ke posisi sebelum permainan diganggu. Armor dan benda-benda berkilat itu dimainkan oleh Rory layaknya video game. Bahkan helm alien tersebut ia kenakan sebagai kostum Halloween. Tanpa menyadari bahwa dia baru saja mengirim sinyal memberitahu Predator langsung ke alamat rumahnya.

kalo gak mau dilihat orang, pake topeng astronot aja, dek

 

 

Film ini adalah rangkaian kejar dan kabur-kaburan yang melibatkan banyak talenta, dialog dan momen kocak, serta sosok Predator yang kostumnya keren. Keputusan memakai orang alih-alih komputer memang jarang sekali menjadi keputusan yang jelek untuk film monster seperti ini. Enggak semua yang kita lihat adalah CGI, walaupun memang efek menjadi penyedap utama buat film ini. Shot, cara mati, pertempurannya, seru untuk diikuti. Pemandangan Predator yang tak-terlihat terguyur oleh darah  membuatku bertepuk tangan. Selera komedi film ini sangat klasik, nuansa monster 80annya sangat kuat. Ada satu tokoh yang bilang “I will be back” yang langsung disamber ama temennya “No, you won’t”. Dan ini lucunya meta banget. Hanya saja, di luar segala referensi dan one-liner itu, enggak banyak yang bikin kita ter-attach sama tokoh-tokohnya. Sangat susah buat kita bersimpati pada apa yang mereka hadapi, lantaran mereka sendiri tidak pernah tampak ketakutan. Mereka bercanda saja sepanjang waktu. Malah ada satu tokoh yang karakternya literally disebutin suicidal. Dan dia menyebut itu dengan tampang bangga. Jadi ketika dia benar-benar memilih untuk mati, kita enggak ada sedih-sedihnya.

Sepertinya film berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh Taika Waititi pada franchise Thor. Taika melihat potensi komedi pada Thor, dan menggadangkan aspek tersebut, tapi Taika tidak mengecilkan porsi yang lain. Thor dan para karakter tetap dibuat emosional, dan actually tema ceritanya adalah bahwa dewa juga manusia. The Predator mencoba untuk berevolusi, Black melihat potensi komedi pada franchisenya, dan benar-benar banting setir ke arah sana. Sisi kemanusiaan karakter lupa diperhatikan. Jangankan horor, emosi yang lain pun tidak dapat kita rasakan. Ada satu tokoh yang belum pernah menyakiti orang seumur hidupnya. At one point of the story, terbunuhlah orang olehnya. Tapi film tidak membawa kita untuk menyelami perasaannya; tidak ada penyesalan, sedih, tidak ada rasa bersalah, atau malah tidak ada rasa senang ataupun mungkin lega. Film ini berpindah begitu cepat seolah kejadian-kejadian yang mereka lewati sudah tidak penting lagi karena, hey, itu Predator yang harus mereka kalahkan sudah muncul kembali.

Ada perbincangan soal menjadi ‘alien’ di planet sendiri. Predator normal dan Quinn sebenarnya berbagi perjalanan yang serupa, bahwa mereka adalah orang asing. Mereka adalah pelarian. Karena mereka tidak setuju ataupun bertentangan dengan pemerintah, dengan sebuah kesepakatan. Jadi mereka memilih cara mereka sendiri, dengan harapan mengubah hal menjadi lebih baik karena mereka tahu that they know better. Makanya pertempuran terakhir dengan Super Predator yang pada dasarnya adalah ‘polisi’ para predator menjadi sangat personal bagi Quinn. Aspek ini terlihat digunakan sebagai alasan kenapa Black membawa The Predator menjadi full action dan less-horor. Karena dia ingin berevolusi. Bahwa dia tak segan untuk menjadi berbeda di dunianya sendiri. Babak ketiga film ini memang seperti sebuah tindakan yang berkelit dari potensi horor, terasa sekali gimana film yang sadis ini enggak mau tampil menyeramkan. Drawback dari keputusan kreatif ini adalah film tidak bisa bercerita dengan baik, narasinya tidak terasa berkembang dengan alami.

Alih-alih berevolusi, apa yang dilakukan oleh Shane Black terhadap film ini malah lebih seperti ilmuwan gila yang sedang menjahit makhluk Frankeinstein. Ya, film ini makhluk tersebut; penuh jahitan.

 

 

 

 

Dengan semua materi dan talenta yang ia punya, Shane Black menyuguhkan kepada kita petualangan aksi yang kocak dan sadis dengan sosok monster, tapi tidak pernah diniatkan untuk terasa menyeramkan. Keputusan yang aneh, memang. Tapi aku tidak bisa bilang aku kecewa, karena aku sebagai penonton yang tumbuh dengan monster-monster cheesy 80-90an, sangat menikmati lelucon film ini. Tapinya lagi, kesenangan pribadi kita terhadap suatu film tidak lantas menyematkan predikat bagus terhadap film tersebut. Ada banyak aspek yang lemah pada film ini, narasinya yang tidak padu, plot yang tipis, karakter yang tampak tidak tahu emosi lain selain ngelucu. Untuk menyederhakannya; film ini terasa artifisial. Dia seperti memakai banyak armor secara serabutan. Yang menunjukkan betapa lemah ia sesungguhnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE PREDATOR.

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apa sih kekuatan dari franchise Predator menurut kalian? Apa film Predator favoritmu?Apakah dengan membuatnya jadi kehilangan unsur seram dan total komedi Shane Black sudah membunuh franchise ini?
Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017