FANTASTIC BEASTS: THE SECRETS OF DUMBLEDORE Review

 

“Losing something is the only way to show you how important it was”

 

 

Fantastic Beasts seharusnya adalah proyek yang ajaib. Dan pada awalnya memanglah ajaib! Bayangkan sebuah buku pelajaran yang konsepnya lebih cocok disebut sebagai katalog, diubah menjadi kisah hidup ‘pengarangnya’ sepanjang karir mengumpulkan hewan-hewan fantastis.  Dijadikan cerita petualangan yang mungkin the easy way to do it adalah dengan membuatnya jadi kayak Pokemon, dengan pesona dunia sihir Harry Potter. Namun, empunya cerita ternyata punya misi yang lebih besar. Begitu sekuel Fantastic Beasts tayang di 2018, jelas sudah makhluk-makhluk sihir itu ternyata hanya tunggangan untuk sebuah greater good. Tapi greater good menurut penulisnya, loh. J.K. Rowling pengen mengembangkan lebih dalam sejarah dunia Harry Potter yang telah kita kenal. Dan sebagaimana para karakternya yang berusaha mencapai greater good dengan mengorbankan banyak hal, Rowling sendiri rela untuk menulis-ulang role dunia, mengubah-ngubahnya, membuat kita para fans mempertanyakan ulang informasi yang sudah kita dapatkan dari Harry Potter sebelumnya. Franchise Fantastic Beasts tak lagi terasa sebagai petualangan yang ajaib, melainkan sebagai sebuah perbaikan statement yang ambisius, Jadi, aku menonton film ketiganya (dari lima yang sudah direncanakan) yang masih digarap David Yates ini  dengan maksud untuk mencari jawaban atas dua pertanyaan. Seberapa besar lagi peran karakter utama – si Newt Scamander – dipinggirkan demi episode karakter lain. Dan seberapa besar lagi kehancuran yang dibuat film ini kepada nama Dumbledore.

Jawaban untuk pertanyaan yang pertama agak sedikit menggembirakan. Eddie Redmayne gak lagi sekadar bengong-bengong gugup di latar, gabut nungguin apa lagi yang harus dilakukan oleh karakternya, Newt Scamander. Makhluk-makhluk ajaib yang ia kumpulkan juga gak lagi cuma jadi penghias. Fantastic Beasts ketiga berusaha untuk kembali membuat cerita yang tentang hewan sihir, alih-alih cerita yang  hanya menampilkan mereka. Hewan sihir kembali diintegralkan ke dalam plot. Makhluk kuda bersisik yang disebut Qilin jadi rebutan Newt dengan gengnya si Grindelwald. Lantaran Qilin yang langka ini punya kemampuan untuk melihat hati penyihir. Qilin hanya akan bungkuk hormat kepada penyihir berhati mulia lagi bijaksana. Grindelwald pengen punya Qilin karena di dunia sihir lagi masa pemilu. Apparently, penyihir di masa hidup mereka memilih pemimpin internasional dengan cara voting. Qilin ingin digunakan Grindelwald, katakanlah, untuk semacam kampanye. Untuk jadi bukti dirinya pantas jadi pemimpin. Cerita film ini berkutat seputar Newt Scamander dan teman-temannya berusaha menggagalkan Grindelwald mendapatkan semua Qilin. Apa lagi kalo bukan dengan bantuan Dumbledore. Dumbledore dan Grindelwald udah kayak Prof X dan Magneto – jika dua mutant itu saling cinta. Mereka saling ngumpulin orang-orang kepercayaan, dan perang di antara kedua penyihir yang saling respek ini berlangsung lewat kelompok mereka.

 

So yea, exactly like Prof X – Magneto

 

 

Secara pengembangan mitologi dunia dan masukin cerita Newt ke dalam sejarah Dumbledore-Grindelwald, Fantastic Beasts ketiga ini memang terasa masih bego dan maksa. Tapi paling tidak, adegan-adegannya lebih enjoyable. Aku prefer lebih banyak adegan konyol seperti Newt jalan kepiting ketimbang eksposisi dunia politik sihir yang menjemukan. Dumbledore yang masih belum bisa turun tangan langsung melawan Grindelwald karena perjanjian darah yang mereka lakukan saat masih muda, membantu dengan cara khas dirinya sendiri. Potterhead pasti familiar dengan gaya Dumbledore tersebut, karena hal yang sama juga penyihir itu lakukan kepada trio kesayangan kita yang disuruh berburu Deathly Hallows. Di Fantastic Beasts kali ini, Dumbledore memberikan benda-benda khusus kepada Newt dan teman-temannya – tanpa penjelasan, dan mereka disuruh melakukan tugas masing-masing. Keseruan nonton film ini datang dari melihat bagaimana fungsi benda-benda tersebut terkuak seiring tugas yang terlihat random (baik bagi kita, apalagi bagi karakter cerita yang melakukannya). Jacob, misalnya. Fan-favorit karakter yang diperankan Dan Fogler ini dikasih tongkat sihir palsu oleh Dumbledore. Apa yang Jacob lakukan dengan tongkat itu bakal jadi salah satu pemantik komedi, dan pada gilirannya juga jadi alat yang membawa karakter ini kepada konsekuensi yang cukup tragis.

Lalu si Newt sendiri. Ia disuruh untuk memberikan koper ajaibnya yang berharga (karena berisi semua hewan sihir, termasuk satu lagi Qilin yang tersisa) kepada karakter penyihir cewek yang ceroboh. Kita bisa melihat dengan jelas Newt agak-agak gak rela, tapi jika kita jadi anak buah Dumbledore pertanyaannya akan selalu apakah kita benar-benar percaya dia atau tidak. ‘Blind faith’ orang-orang kepada Dumbledore memang jadi salah satu pesona dari karakter ini sejak dari franchise Harry Potter (ada konflik yang didedikasikan untuk mempercayai Snape yang dipercayai oleh Dumbledore). Itulah yang coba diulang kembali oleh film Fantastic Beasts ketiga ini. Elemen ini membuat film berhasil jadi sedikit lebih ringan. Enggak melulu jenuh oleh bahasan politik dan intrik dunia sihir. Cerita film ini memang masih terlampau too much (meski udah durasi dua setengah jam), tapi tidak terlalu terasa sesak. Kali ini terasa lebih punya ritme. Lebih kayak screenplay ketimbang novel yang divisualkan. Kehadiran penulis naskah memang langsung berasa. Tidak lagi Rowling menulis skrip sendirian, kali ini dia dibantu oleh Steve Kloves yang dulu jadi penulis naskah untuk film-film Harry Potter. Aku pribadi sih ngarepnya; ke depannya si Rowling enyah aja. Mending dia nulisin novel Fantastic Beasts lagi aja. Baru novelnya ‘disihir’ jadi skenario oleh scripwriter beneran. That’s how Harry Potter berjaya, kan. Tapi yah, mungkin sudah ogah balik berlama-lama seperti itu. Studio dan Rowling udah jadi males dan terus menggeber.

Akibatnya, baru di titik pertengahan ini, film ketiga Fantastic Beasts udah kerasa lifeless. Ini cerita tentang dunia sihir tapi tanpa sihir penceritaan.  Petualangan tadi, makhluk-makhluk magical, beberapa adegan di Hogswarts, bahkan akting-akting para pemeran tampak bagus sendiri-sendiri tapi tidak lantas jadi sebuah experience yang asik untuk disimak. Development karakter Newt hanya dipoint out dengan gamblang. Tidak jadi sebuah journey karakter yang mengalir. Film jadi kayak rentetan poin-poin dan statement belaka. Oh mereka harus nunjukin hewan ajaib. Oh mereka harus lihatin Dumbledore cinta ama Grindelwald. Oh mereka harus masukin quote-quote bijak dari Dumbledore. Oh mereka harus berikan diversity. Film cuma ingin memuat itu. Makanya sekalipun narasi bicara tentang cinta, pengorbanan, ataupun kehilangan, feeling tersebut gak nyampe. Malahan keseluruhan film ini terasa gak tulus, melainkan hanya seperti sebuah mesin pengungkap kejadian saja. Karakter penyihir internasional – yang jadi kandidat pemimpin – malah gak dapat dialog ataupun karakterisasi. Mereka cuma berdiri di sana sebagai simbol cerita film ini melingkupi belahan dunia lain.

Tema yang paralel pada karakter-karakter film ini adalah soal mengenali cinta lewat kehilangan. Newt harus pisah dengan Tina (yang btw direduce perannya dari heroine cewek ke karakter yang cuma muncul di akhir), dan dengan kopernya. Dumbledore yang harus bergulat dengan perasaannya terhadap Grindelwald yang jadi penyihir jahat. Dan bahkan Aberforth (adik Dumbledore) juga dapat bahasan yang serupa. Yakni mereka harus belajar bahwa kehilangan dan berpisah jalan bukan berarti hilangnya rasa cinta. Melainkan justru memperbesar karena baru dengan kehilangan sesuatulah kita jadi menghargai betapa pentingnya sesuatu tersebut.

 

Yang membawa kita kepada jawaban atas pertanyaanku yang kedua. Dumbledore. Film kedua berakhir dengan satu pengungkapan stupid soal Credence ternyata adalah keluarga Dumbledore. Kupikir film ketiga bakal banyak membahas tentang bagaimana sebenarnya hubungan Credence dengan Albus. Kembali ke persamaan dengan Prof X dan Magneto tadi, kupikir Credence paling enggak bakal semacam Juggernaut dan Prof X. Yang jelas, dari film kedua berakhir, seolah film ketiga bakal bahas keluarga ini lebih dalam. Tapi ternyata enggak. Albus Dumbledore gak banyak beda perannya dengan di film kedua. Credence hanya bertingkah galau sepanjang waktu (peran karakter Ezra Miller ini actually tetap gak bertambah dibanding sebelumnya) Peran Grindelwald juga tak banyak mendorong kemajuan franchise ini. Selain soal dia mau jadi pemimpin dunia, tidak banyak porsi cerita yang dialamatkan kepadanya. Walaupun basically Grindelwald yang kali ini punya pendekatan yang berbeda. Mads Mikkelsen yang menggantikan Johnny Depp memainkan Grindelwald yang lebih grounded. Dia tetap kejam tapi lebih ‘kalem’, sehingga terlihat lebih berbahaya.

Film ini punya Mikkelsen yang menghembuskan nyawa baru bagi sisi dramatis karakternya, dan di sisi satunya punya Jude Law sebagai Albus Dumbledore yang juga bermain sama manusiawinya, tapi yang berhasil dihasilkan film dari keduanya ini hanyalah “puff” angin kosong. Cerita tidak memberikan mereka lebih banyak waktu untuk berinteraksi. Sekalinya berduel, mereka juga tidak diberikan sesuatu yang wah. Aku paham film bisa jadi memang pengen menyimpan pertemuan epic itu untuk film terakhir. Tapi ya seenggaknya di film ini kasih sesuatu ‘teaser’lah. Yang bikin kita pengen melihat lebih banyak. Kedua aktor tersebut udah kayak memohon diberikan momen yang emosional, lihat saja akting mereka. Tapi film cuek bebek. Perihal cinta antara keduanya, film lebih memilih untuk membuat Dumbledore menyembut dengan gamblang “Because I love you” Gak ada subtlety, gak ada dinamika emosi, gak ada seni. Gak ada hati. Bagiku film ini kayak supaya J.K. Rowling punya kesempatan untuk membuktikan dirinya memang mendesain Dumbledore dan Grindelwald sebagai pasangan sedari awal. That scene seolah lebih penting untuk si Rowling ketimbang untuk para karakter cerita itu sendiri.

 

Dan mereka masih tetap kekeuh memperlihatkan Minerva McGonagall memang sudah mengajar di Hogwarts

 

 

Last straw bagiku adalah film kayak enggak mau capek-capek untuk membangun dunia dan komunitas sihir di era tersebut. Film banyak berjalan-jalan ke negara lain, tapi gak banyak perbedaan antara penyihir di Inggris dengan yang di Jerman, misalnya. They look all the same. Sama-sama kayak Muggle. Film ini udah kayak spy action biasa, kalo tongkat sihir diganti pistol atau pedang, potongan adegan film ini bisa diselipin ke dalam adegan King’s Man, and no one will notice. Inilah satu hal yang paling aku gak suka dari franchise Fantastic Beasts sedari awal; penyihirnya banyak yang berpakaian muggle, dengan sempurna. Dumbledore yang nyentrik – dan kalo lagi ‘nyamar’ jadi muggle selalu pakai kombinasi pakaian yang norak – di film ini dandan sharp dress semua. Bahkan di lingkungan Hogwarts dia memakai setelan necis muggle. Udah seri ketiga tapi film belum berhasil menjawab kenapa. Kenapa Dumbledore di Harry Potter seolah gak ngerti fashion muggle tapi di film ini yang timelinenya sebelum era cerita Potter, Dumbledore bisa kok berpakaian ‘normal’. Yang paling lucu adalah si Grindelwald. Dia yang begitu membenci muggle, pengen menghabisi muggle dari muka bumi, malah berpakaian ala muggle.

Aku gak ngerti kenapa film mengabaikan soal pakaian, karena justru pakaian itulah salah satu faktor yang bikin dunia sihir itu seru di Harry Potter. Pakaian mengingatkan kita bahwa kita berada di dunia sihir. Makanya film ini jadi semakin bland.  Udahlah penceritaannya standar, gak ada keajaiban dan gairah storytelling. Visualnya pun gak ajaib. Karakter-karakternya didesain dengan sama boringnya. Kecenderungan narasi untuk lebih membahas politik, dan ngasih statement sok relate (Grindelwald kayak presiden yang pengen membuat dunia sihir great again!), membuat setiap film Fantastic Beasts terasa sangat melelahkan. Film ketiga ini enggak terkecuali.

 

 

 

Meskipun lebih enjoyable karena mengembalikan sisi adventure yang fun, tapi film ini tetap penuh oleh hal-hal yang maksa. Tema politik kekuasannya dibahas hanya ala kadar, sehingga hanya jadi memberatkan. Perkembangan karakter disampaikan ala kadarnya. Begitu juga dengan bahasan konflik. Banyak yang dilanjutkan sekenanya, kayak persoalan Queenie yang tau-tau masuk kelompok jahat di film kedua. Sehingga di akhir, film ini kayak gak ada bedanya kalopun urutannya ditempatkan sebagai film kedua. Film tidak punya banyak kesempatan untuk berkembang dengan penuh wonder dan keajaiban karena fokus pada memperlihatkan statement-statement.  Seperti yang dilakukan oleh Grindelwald, film ini juga mencoba menghidupkan kembali franchise yang mestinya sudah mati di film kedua dan memaksanya untuk mengeluarkan feeling.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for FANTASTIC BEASTS: THE SECRETS OF DUMBLEDORE.

 

 

 

That’s all we have for now.

Bagaimana pendapat kalian tentang franchise Fantastic Beasts sejauh ini? Apakah kalian masih penasaran menunggu kelanjutannya?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SONIC THE HEDGEHOG 2 Review

“Be a hero, and they will notice your bad”

 

 

Jadi pahlawan itu enggak gampang. Kita gak bisa seenaknya ke sana kemari nolongin orang. Tanggung jawabnya berat. Dokter aja nih ya, gak bisa menyuntik orang gitu aja; mereka harus dapat consent dulu dari calon pasien. Kalo calon pasien keberatan dan menolak suntik atau minum obat, gak bisa dipaksakan walau si dokter tahu semuanya hanya demi kesehatan si orang itu sendiri. Dokter yang memaksa, justru akan ditanggap enggak etis. Sonic memang bukan dokter. Sonic adalah landak biru, yang di film keduanya ini kebetulan lagi punya permasalahan yang sama ama dokter-dokter yang lagi kebingungan gimana caranya menolong orang yang keberatan divaksinasi.

Sonic pengen jadi pahlawan di kota Green Hills. Dia ingin menggunakan kekuatannya untuk menolong orang-orang yang telah menerima dirinya tinggal di sana, sebagai bagian dari keluarga. Tapi Sonic ini so bad at being good hero. Tengok apa yang terjadi ketika dia berusaha menangkap perampok bank. Jalanan porak poranda. Gak ada yang bilang terima kasih padanya. Malahan, di rumah, Sonic dinasehati oleh Sheriff Tom yang udah jadi bapak angkatnya. Makanya Sonic bingung, niatnya kan cuma ingin menolong. Dalam sekuel ini, sutradara Jeff Fowler membuat Sonic seperti seorang anak muda yang penuh semangat, optimis, dan enerjik, tapi masih harus belajar untuk lebih ‘dewasa’ dalam bersikap. Fowler membuat Sonic relatable bagi target baru penontonnya. Anak muda toh sering merasa dirinya gak nakal, tapi tetap aja yang dilakukannya tampak selalu salah. Film enggak mau hanya membuat Sonic untuk penggemar lama yang tentu saja sekarang sudah tua-tua, mengingat Sonic ‘terlahir’ ke dunia dalam bentuk game di tahun 1991. Cara Fowler berhasil. Karakter Sonic di film ini jadi gak hanya fun untuk ditonton, gak hanya seru untuk ajang nostalgia para gamer, tapi juga berisi oleh permasalahan yang membuat penontonnya serasa sama ama Sonic.

With that being said, film juga berhasil membuat Sonic yang beberapa detik setelah Tom pergi ke Hawaii langsung berpesta berantakin rumah – ampe mandi gelembung di ruang tengah segala! tidak jatoh sebagai makhluk yang menjengkelkan. Sonic justru jadi karakter yang lucu berkat flaw-pandangan yang ia miliki.  Terlebih karena Sonic memang dibentuk  sebagai karakter dengan celetukan-celetukan dan sikap yang kocak. Attitude seperti Sonic memang sudah banyak kita temui, apalagi di era superhero harus punya snarky comment belakangan ini. Tapi setidaknya suara Ben Schwartz terdengar menyegarkan setelah melulu mendengar karakter seperti itu dengan suara Deadpool.

sonicimage
Sonic and the legend of the ten rings.

 

Cerita Sonic 2 menawarkan konflik dan petualangan yang lebih besar – dan lebih meriah – dibandingkan film pertamanya yang tayang tahun 2020 lalu. Kalo diliat-liat, cerita kali ini diadaptasi dari game kedua dan ketiga. Karakter sidekick dan rival Sonic – Tails yang bisa terbang dengan ekornya dan Knuckles si pejuang Echidna – dimunculkan di sini lewat situasi yang tak tampak dipaksakan. Tails nyusul ke Bumi untuk memperingatkan Sonic tentang bahaya, sementara Knuckles datang karena berkaitan dengan aksi yang dilakukan oleh penjahat utama, Dr. Robotnik, yang masih dendam ama Sonic karena telah mengasingkan dirinya ke planet ‘piece of shittake’. Robotnik memang punya peranan besar di dalam narasi, hampir seperti dialah yang tokoh utama. Semua kejadian karena ulah dirinya. Jadi ketika Sonic di rumah seorang diri, Robotnik yang telah menciptakan alat di planet jamur, berhasil memanggil orang yang bisa membantunya keluar dari sana. Orang itu adalah Knuckles, yang memang lagi mencari Sonic terkait legenda Zamrud yang menimpa klan Echidna. Robotnik dan Knuckles bekerja sama, sementara Sonic dan Tails mulai bergerak mencari Zamrud legenda karena gak mau batu permata sakti itu jatuh ke tangan penjahat. Petualangan video game mereka pun dimulai!

Kontras protagonis dan antagonis langsung terlihat. Sonic, pengen jadi pahlawan, tapi dianggap mengacau. Robotnik, punya niat jahat, tapi dapat teman yang salah mengira intensi dirinya baik. Ini semua terjadi exactly karena Sonic ‘baru’ sebatas pengen jadi – pengen dianggap – pahlawan. Robotnik ‘sukses’ karena dia yang pure jahat, bertingkah seperti penjahat. Menipu, memanipulasi. Sonic perlu seperti itu. Belajar untuk bertingkah seperti pahlawan, alih-alih pengen disebut pahlawan. Untuk itulah Sonic perlu tahu dulu seperti apa sih pahlawan itu. Perlu tahu bahwa pahlawan mengutamakan dan bertindak demi orang lain.

 

Film ini super fun memperlihatkan petualangan tersebut. Aksi-aksinya disisipin banyak elemen video game, mulai dari snowboarding hingga ke setting labirin yang memang salah satu setting stage ikonik dalam video game. Dengan karakter yang lebih banyak, film ini juga mulai semakin mengembrace sisi cartoonish yang dipunya. Setiap keunikan karakter ditonjolkan, seheboh mungkin, film gak lagi ngerem-ngerem untuk membuat aksinya grounded atau apa. Menonton ini buatku memang terasa lebih dekat dengan Sonic versi serial kartun. Suara Colleen O’Shaughnessey yang jadi si Tails aja vibe-nya udah kartun banget. Idris Elba yang nyuarain Knuckles juga punya sisi kartun tersendiri dari sikap dan reaksi karakternya yang baru pertama kali ada di Bumi. Fish-out-of-waternya kocak, dan sendirinya juga kontras yang klop dengan karakter Sonic yang lebih ‘ringan-mulut’.

Vibe kartun semakin diperkuat oleh penampilan the one and only Jim Carrey yang luar biasa over-the-top dengan permainan intonasi dan mimik ekspresi. Kali ini porsi Robotnik lebih banyak. Dia muncul duluan sebagai prolog, dia punya banyak momen-momen menyusun rencana, dia punya transformasi. Penampilannya yang lebay mode bakal annoying jika kita melihatnya dalam tone dunia yang lebih serius ataupun lebih grounded. Aku merasa ada simbiosis mutualisme antara Jim Carrey dengan film ini, like, Carrey bisa sepuas-puasnya ‘menggila’, dan film bisa fully embrace super fun yang ada pada game maupun kartun Sonic. Mau itu aksi sendiri maupun interaksi dia dengan karakter-karakter video game, dia bikin kita gak bosan duduk selama dua jam. Makanya juga, Jim Carrey jugalah satu-satunya karakter manusia yang bener-bener worked out di sini. Cuma dia karakter manusia yang terlihat berada di dunia yang sama dengan karakter-karakter video game.

Karakter manusia lain, termasuk Tom, kayak dipaksakan. Ketika mereka melucu dan berlebay ria, enggak klik. Film memang bukan hanya menyorot petualangan si Sonic. Tadinya, pas di awal Tom dan istrinya pergi, aku udah lega. Kupikir itu cara film nge-ditch karakter mereka. Kupikir film akan fokus ke Sonic aja, dan 48 jam mereka di Hawaii itu jadi batas waktu (sebagai penambah intensitas) petualangan Sonic. Tapi ternyata enggak. Sering film membuat kita melihat ke suasana Tom di Hawaii, di tempat pernikahan sahabat istrinya. Pernikahan tersebut ternyata tidak seperti kelihatannya, ada major plot point juga di sini. Film yang tadinya mengasyikkan jadi membosankan ketika pindah ke bagian manusia-manusia ini. Mentok banget rasanya ketika setelah seru-seruan berseluncur di gunung salju, kita dibawa pindah melihat petualangan dua perempuan berusaha menyusup ke dalam hotel, mencoba lucu dengan reaksi terhadap alat-alat canggih. Sonic dan yang lain – yang beneran seru tadi – totally absen. Film harusnya membuang semua di pernikahan tersebut, membuang semua manusia yang tidak bernama Robotnik, supaya cerita makin seru dan gak perlu jadi dua jam. I mean, kita beli tiket Sonic yang pengen lihat Sonic. Mana ada pembeli tiket film ini yang peduli sama acara pernikahan itu asli atau bukan, mana peduli penonton sama apakah mempelainya beneran cinta atau enggak.

Sonic-2-header
Operation Wedding itu kayaknya judul film yang lain deh

 

Kita mengerti Tom ada di cerita untuk mendaratkan Sonic, dia sebagai sumber pembelajaran. Juga untuk membuat film beresonansi sebagai cerita keluarga – karena Sonic dan Tom serta istrinya memang benar adalah keluarga unik, yang jadi fondasi cerita sedari film pertama. Hanya saja pembelajaran dari Tom sudah dimunculkan di awal. Narasi film kedua ini berjalan dengan formula Sonic bakal berkembang karena belajar dari masing-masing karakter lain. Dia melihat nasehat Tom di awal itu benar dari apa yang ia alami bersama Tails, Knuckles, dan juga Robotnik. Tidak perlu lagi sering kembali ke Tom, ke pesta pernikahan, apalagi ke memperlihatkan Tom diterima oleh mempelai pria di sana. Film masih kesusahan untuk melepaskan karakter manusia, sehingga pada akhirnya memberikan mereka tempat yang sebenarnya merusak tempo dan menghambat jalannya narasi. Menjelang babak ketiga, jadi ada banyak kejadian, ada banyak pihak yang terlibat, terasa kacau.

Daripada memperlihatkan itu, lebih baik membuild up sisi vulnerable Sonic. Karena memang itulah yang kurang. Sonic hanya sebatas kalah kuat ama Knuckles. Tapi selebihnya, Sonic bisa dengan gampang menjalani petualangannya. Dia dengan gampang melewati jebakan. Dia dengan gampang kabur dari kejaran. Dia bahkan dengan gampang menang kontes menari di bar. Yang sempat diperlihatkan oleh film adalah soal Sonic gak bisa berenang (kontinu dari film pertama), tapi rintangan ini pun enggak pernah benar-benar jadi soal, karena Sonic akhirnya bisa melewatinya dengan tak banyak usaha atau kesulitan.

 

 

 

Rasa-rasanya gak banyak perbedaan review kali ini dengan review film pertamanya. Karena memang enggak begitu banyak perbedaan yang dihadirkan dalam sekuel ini selain penambahan karakter (dan kumis Robotnik!) Tapi dengan begitu, feelsnya memang gedean yang sekarang ini. Film ini super menghibur sampai bagian yang membahas para manusia di pesta pernikahan itu datang. It’s just lebay yang boring karena aktor yang lain gak bisa mengejar tone kartun over-the-top yang sudah dilandaskan oleh Jim Carrey. Kehadiran mereka jadi memperlambat dan mengusik tone. Film ini baik-baik saja dengan embrace sisi cartoonish. Yang berarti film ini sebenarnya hanya perlu Robotnik, Knuckles, Tails, dan Sonic saja. You know, karakter-karakter yang memang ada di video gamenya. Tapi jika melihat bigger picture, franchise Sonic memanglah berita yang cukup baik untuk kiprah film-film adaptasi video game dalam sejarah perfilman.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for SONIC THE HEDGEHOG 2.

 

 

 

That’s all we have for now.

Katanya, ini bakal jadi film terakhir Jim Carrey. Bagaimana pendapat kalian tentang karir Jim Carrey dalam film-film komedi? What did he bring to that table? Apa film Jim Carrey favorit kalian?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

DEATH ON THE NILE Review

“Loving someone means you will do anything for them”

 

Istri raja-raja Fir’aun di Mesir Kuno dikubur hidup-hidup di dalam piramid bersama jasad suami mereka. Pastilah mereka berteriak ketakutan di dalam sana. Namun hal paling seram dari itu adalah beberapa dari istri tersebut ada yang rela melakukan hal tersebut. Demi cintanya kepada suami. Salah satu karakter dalam sekuel film detektif dari buku Agatha Christie, Death on the Nile, menceritakan legenda sejarah tersebut Hercule Poirot. Detektif yang mendengarkan dengan alis mengernyit di atas kumis spektakuler miliknya. Kasus yang ia tangani di atas kapal mewah di sungai Nil ternyata membawa tantangan tersendiri, karena kasus tersebut paralel dengan istri-istri Fir’aun. Kasus yang berhubungan dengan hal yang tidak dimengerti oleh Poirot. Cinta.

Sosok detektif ini memang dikenal sebagai pribadi yang dingin, tajam-logika, suka menyombongkan kepintaran dan kemampuan analisisnya. “Aku gak pernah salah” katanya mantap dalam salah satu adegan. Kita semua sudah melihat sisi unggul detektif tersebut di film pertamanya, Murder on the Orient Express (2017). Pada film kedua ini, Kenneth Branagh, yang jadi sutradara sekaligus pemeran Hercule Poirot, berusaha menggali sisi yang lebih manusiawi dari karakter. Poirot sekarang jadi punya layer. Perasaan kesepiannya dieksplorasi. Masa lalunya digali. Adegan opening film ini bukan hanya berfungsi untuk ‘lucu-lucuan’ soal origin kumisnya yang ikonik. Melainkan juga ngeset kenapa Poirot menjadi seperti sekarang. Poirot diceritakan punya relationship yang kandas, sehingga dia tidak bisa mengerti ketika menjumpai perbuatan yang seperti rela melakukan apapun demi cinta. Perbuatan yang menjadi kunci kasus pembunuhan yang harus ia pecahkan.

Mengenai kasus pembunuhan itupun, kini dilakukan oleh film dengan lebih banyak pembangunan. Durasi dua jam film ini enggak habis di misteri pemecahan kasus saja. Film mengambil waktu untuk mendevelop setting dan latar di belakang kasus tersebut. Diceritakan saat Poirot menikmati liburan di Mesir, dia bertemu sahabatnya dari film pertama, Bouc. Bouc yang diundang ke pesta perayaan pernikahan temannya yang ‘horang kayah’ mengajak Poirot serta. Ternyata Poirot pernah bertemu dengan dua mempelai beberapa minggu sebelumnya. Dan dalam pertemuan itu Poirot tahu bahwa Simon, si pengantin cowok seharusnya bertunangan dengan perempuan lain. Di situlah letak awal masalahnya. Mantan pacar Simon ternyata beneran ngekor mereka. Menyebabkan istri Simon, Linnet, terusik sehingga meminta sang detektif untuk ikut ke acara mereka di kapal yang berlayar di sungai Nil. Linnet merasa gak aman, karena selain mantan pacar suaminya, Linnet merasa semua tamu pesta yang adalah kerabat dan sahabatnya itu mengincar harta dirinya. Pembunuhan itu baru terjadi di midpoint cerita, sekitar satu jam setelah opening. Poirot harus memeriksa satu persatu hubungan para karakter, harus menganalisa hal yang bertentangan dengan pengalaman cintanya sendiri yang minim. Intensitas makin tinggi ketika jumlah korban terus bertambah. Death on the Nile bukan saja soal kasus, tapi juga soal pembelajaran bagi detektif jagoan ini.

nilegal-gadot-starrer-death-on-the-nile-banned-in-kuwait-001-1068x561
Ooo dari film ini ternyata muasal meme ‘fill the nile with champagne’ si Gal Gadot

 

Buatku, Death on the Nile jadi lebih fun. Poirot yang sekarang ini tidak lagi kubandingkan dengan Poirot versi film jadul, karena dengan tambahan layer alias galian, Branagh seperti sudah ‘sah’ menciptakan Poirot versi dirinya sendiri. Poirot Branagh punya sisi dramatis yang menyenangkan untuk disimak, entah itu keangkuhannya sebagai detektif paling hebat atau kevulnerable-an sebagai manusia yang paling kurang pengalaman dalam hal relationship. Poirot di film ini selain penuh ego, juga kadang terlihat canggung. Dia bahkan enggak senyaman itu berada di atas kapal. Panggung tertutup kali ini menjadi salah satu ‘kelemahan’ bagi Poirot yang menyebut kapal bukan salah satu cara bepergian favoritnya. Dan itu semua membuat karakternya manusiawi. Film tidak lagi seperti mendewakan Poirot. Dua belas karakter suspect pun tak lagi seperti karakter latar yang ada hanya untuk ngasih atau sebagai petunjuk misteri. Mereka kini punya backstory dan relationship, yang semuanya harus ditelusuri oleh Poirot. Bahkan sebelum kasus pembunuhan terjadi. 

Sebanyak itu karakter, eksposisi memang tak terhindarkan. Sekuen pengenalan karakter tetap penuh dialog, kita dilihatin satu orang, yang apa-apa tentangnya dijelaskan lewat dialog yang ngasih tahu siapa mereka ke Poirot. Kalikan itu hingga dua belas. Film ini bisa sangat terbebani jika hanya bergantung kepada eksposisi tersebut. Untungnya, film ini sedikit lebih luwes. Melihat para karakter dari mata elang Poirot, berarti kita juga melihat mereka lewat sesuatu yang tersirat. Yang hanya ditunjukkan oleh kamera. Kebiasaan mereka, apa yang mereka bawa, inilah cara film membuat kita ikut curiga dan berpikir bersama Poirot. Sehingga ngikutin cerita yang cukup padat ini jadi selalu menyenangkan. Adegan interogasi, misalnya, di film ini diperlihatkan Poirot menginterogasi masing-masing tersangka pembunuhan dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang langsung dikonfrontasi, ada yang diajak duduk makan kue, ada yang ditanyai kayak interogasi resmi polisi. Dari adegan interogasi saja, film sudah membangun karakter Poirot dan karakter yang sedang ditanya sekaligus. Menunjukkan kepahaman Poirot dalam dealing with karakter mereka, serta membuka sedikit lebih banyak lagi tentang karakter yang lain.

Karena lebih berlayer itu, maka penampilan akting para pemain turut serta jadi lebih asyik untuk diikuti. Film ngasih role yang tepat kepada aktor, dan mereka bermain untuk efek yang maksimal. Gal Gadot bermain sebagai karakter penuh kharisma seperti Cleopatra, tapi dia di sini gak dibikin sesempurna Wonder Woman. Dia gak cuma melakukan hal yang biasa Gal Gadot lakukan. Film ini literally ngambil waktu satu jam untuk bikin kita naik-turun mengamati para karakter itu sikap mereka seperti apa. Menanamkan relationship yang harus disibak oleh Poirot. Untuk melakukan itu, setiap aktor harus bermain sama berlayernya. Favoritku di antara semua adalah karakter Jacqueline yang diperankan oleh Emma Mackey (aku gak akan bohong – aku sempat ngira dia adalah Margot Robbie lol) Mantan tunangan Simon yang terus muncul gangguin orang pesta. Banyak banget percikan emosi datang dari karakter ini. Poirot aja bahkan bisa dibilang banyak belajar dari dia.

Mantan mau-maunya datang karena diundang. Mantan terus datang tanpa diundang. Siapa pun yang pernah jatuh cinta pasti setuju manusia bisa jadi senekat dan segakmikirin diri sendiri itu kalo udah menyangkut perasaan cinta sama seseorang. Tentunya itu seperti yang ditunjukkan oleh film ini, dapat menjadi hal yang positif maupun negatif. Poirot pengen kekasihnya mau stay demi dirinya apa adanya, tapi di sisi lain dia juga melihat ada orang yang ngotot stay dan itu tidak berujung kepada hal yang baik. Cinta memang pengorbanan dan kompromi, tapi seharusnya ada batas untuk itu semua.

nileFilmReview-DeathontheNile-WBOX-021122-01
Aku cinta makanan, but small food scares me

 

Tapi bagai pedang bermata dua, padatnya cerita dan kasus yang gak langsung muncul itu dapat juga dianggap oleh penonton sebagai cerita film yang lambat. The worst casenya film ini dianggap membosankan di paruh awal karena penonton pengen langsung ke kasus, dan mereka gak benar-benar peduli sama drama karakter. Afterall, motif cinta memang sudah terlalu sering digunakan. Untuk kritikan soal ini, aku setuju pada beberapa bagian. Cerita latar atau cerita personal karakter memang perlu dikembangkan tapi mungkin tidak sepanjang itu. Mestinya bisa lebih diperketat lagi. Supaya enggak kemana-mana. Kayak, opening yang nunjukin Poirot muda di medan perang. Aku tidak merasa harus banget cerita awal itu di medan perang. Tema konsekuensi tak-terduga, tema kekasih yang pergi karena tidak menerima diri apa adanya, bisa saja diceritakan dengan setting yang lain. Bukan apa-apa, setting perang di awal malah seolah misleading, karena film ini nantinya kan gak bakal balik ke persoalan perang. Jadi enggak harus sedetil itu di awal. Cukup ngeliatin sesuatu terjadi pada fisik Poirot tanpa menimbulkan dua seting/tone yang berbeda di dalam cerita. 

Dan ngomong-ngomong soal tone, aku suka sekuel ini mempertahankan tone ringan, quirky, dengan sprinkle-sprinkle komedi. Visualnya juga dibuat tetap megah. Film kedua ini menampilkan pemandangan Mesir yang menakjubkan, kebanyakan digunakan sebagai transisi adegan. Lingkungan cerita menjadi hidup. Kita gak pernah lupa ini cerita ada di mana. Kepentingan kenapa harus Mesir itu juga diestablish lewat keparalelan yang kusebut di awal review. Cuma, ada beberapa kali film ini bablas. Menampilkan hal yang tidak perlu terkait, katakanlah, ‘stereotipe’ Mesir. Yang tidak benar-benar ngaruh ke cerita. Kayak misalnya, adegan Gal Gadot kena jumpscare sama ular. Easily adegan tersebut bisa dipotong. Atau paling tidak, waktunya digunakan untuk melihat lebih banyak ke dalam Poirot. Karena di film ini masih ada beberapa hal yang dilakukan oleh Poirot yang kita gak tahu. Yang berarti film masih melepas-pasang kita kepada si tokoh utama.

 

 

 

Dibandingkan film pertamanya, aku lebih suka sekuel ini. Menurutku ini lebih fun, lebih banyak bermain dengan karakter. Tidak hanya menganggap mereka sebagai kepingan puzzle dalam misteri whodunit. Malahan, film ini memang baru menjadi whodunit di pertengahan akhir. Awalnya padat oleh backstory dan drama karakter. Yang diniatkan untuk menarik kita semakin masuk. Aku suka perkembangan karakter Poirot, dan kurasa Branagh sudah sah mengembangkan karakter ini sebagai visinya, sebagai versinya. Aku certainly gak sabar pengen lihat petualangan Poirot berikutnya. Namun aku sadar yang biasanya aku sebut fun itu boring untuk sebagian penonton. Karena fun di sini adalah banyak obrolan karakter. Maka film ini masih terasa bisa diperbaiki sedikit lagi. Masih banyak yang bisa ‘ditrim’ untuk menjadi lebih efektif. Setidaknya untuk membuat ceritanya lebih cepat menjelma kepada yang menjadi alasan penonton membeli tiketnya sedari awal.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for DEATH ON THE NILE

 

 

 

That’s all we have for now

Seberapa jauh kalian rela bertindak demi sesuatu yang dicinta? Di mana kalian meletakkan garis antara cinta dengan obsesi tak-sehat?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SCREAM Review

“Fandom can’t have nice things”

 

 

Franchise Scream bisa segede ini karena misteri whodunnit-nya selalu dibarengi oleh humor meta dan sindiran untuk film dan trennya saat itu. Scream original adalah satir untuk genrenya sendiri. Scream 2 menyindir horor sekuel. Scream 3 berisi celetukan gimana Hollywood membuat franchise dari tragedi nyata. Scream 4 menyentil soal reboot atau remake. Bahkan Scream versi serial juga memuat komentar soal adaptasi ke serial tv. Maka sebagai penggemar berat, aku excited sekali nungguin tentang apa Scream kelima ini. Terutama setelah mereka mutusin untuk mencopot angka-lima dan hadir dengan judul Scream saja- ngikutin horor-horor klasik yang dimodernisasi dengan sekuel yang gak ada angka, confusing everyone. Apakah Scream lima sengaja menyindir ini?

Yang jelas, sekuel terbarunya ini memang kayak berusaha memancing reaksi fans banget. Apalagi pas ditonton. Wuih. Mulai dari mengejek horor kekinian yang lebih drama, sampe ke misteri dalam ceritanya sendiri yang buatku tampak so easy. Scream 5 ini actually adalah Scream pertama yang bisa aku tebak dengan benar siapa pelakunya, siapa yang bakal mati. In fact, aku sudah menerka sejak adegan para karakter bertemu di rumah sakit di awal cer.. See, inilah yang hendak dilakukan oleh Scream 5. Film ini ingin bicara langsung kepada para penggemar setianya. Film menggebah kita entah itu untuk protes, atau untuk menyombongkan diri. Aku hampir saja jatuh ke lubang jebakannya itu. Karena Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillet memang merancang film ini sebagai sindiran untuk fandom dengan segala ke-toxic-annya.

screamGFhXkEyXkFqcGdeQXVyMTkxNjUyNQ@@._V1_
Satu-satunya yang kusayangkan adalah Samara Weaving gak jadi dicast, padahal dia bisa fun banget mainin putri Billy Loomis

 

 

Sebagai Scream pertama yang tidak didirect oleh kreatornya langsung (RIP Wes Craven!) Scream 5 memang memikul beban yang berat. Tudingan dan ancaman dari penggemarnya pasti langsung menghujam. Awas kalo gak menghormati ruh franchisenya! Awas kalo jadi cash-grab doang! Dan memang bukan Scream saja yang mengalami itu – both peremajaan franchise dan reaksi-reaksi fans. Hal tersebut udah jadi kayak tren baru di Hollywood.  Franchise-franchise gede seperti Halloween, punya banyak sekuel sehingga udah melenceng ke mana-mana. Kini banyak dari mereka yang dihidupkan kembali. Dibuat ulang sebagai sekuel langsung dari original, mematikan sekuel-sekuel terdahulu. Itu adalah trik yang dilakukan supaya gampang laku dan terutama tidak mengkhianati para fans originalnya. That’s the keyword. Scream, on the other hand, adalah satu-satunya dari franchise-franchise gede seperti itu yang memang hadir selalu sebagai sindiran meta. Sutradara Matt dan Tyler jeli melihat itu. Mereka paham ada sesuatu di balik apa yang mereka sebut (lewat karakter ceritanya) sebagai ‘rekuel’. Sesuatu yang pantas untuk dibahas, dikomentari, dan mereka mengolah itu ke dalam mitologi dunia Scream yang mereka ekspansi. Mereka menatap balik para fans. And they give all of us the wink that we deserved.

Tidak ada opening dalam franchise Scream yang bertindak sepenting opening Scream kelima. Bukan sekadar untuk horor pembunuhan pertama yang ngeset mood dengan bintang muda berakting jauh dari elemen nyaman mereka, ataupun sekadar untuk nostalgia ke original, melainkan opening kali ini sudah berbobot oleh informasi yang memuat gagasan sekaligus hook ke cerita utama nantinya. Ini juga kali pertama korban di adegan opening selamat dari maut. Gadis yang ditelpon lalu diserang Ghostface itu adalah Tara (Jenna Ortega kupikir lebih punya kharisma kuat sebagai tokoh utama). Kini dia di rumah sakit dijenguk oleh geng–oops 90an banget, sekarang istilahnya adalah sirkel! Di antara sirkel Tara itu ada sobat karibnya Amber (langsung kujatuh cinta sama penampilan Mikey Madison), Wes (Dylan Minnette jadi karakter untuk tribute ke Wes Craven), si kembar Mindy dan Chad, serta Liv. Kakak Tara yang sudah lama meninggalkan kota Woodsboro pun hadir demi memastikan keselamatan adiknya. Semua orang yang ada di ruangan itu in some way punya hubungan dengan karakter-karakter dari Scream original. Yang membuat mereka semua menjadi target dari si Ghostface yang baru – dan also, semuanya adalah tersangka utama. Semua, termasuk Sam kakak Tara yang datang bersama pacarnya. Sam (Melissa Barrera looks though enough) merasa sepertinya semuanya berhubungan dengan rahasia yang ia simpan. Rahasia bahwa sebenarnya dia adalah putri dari Billy Loomis, sang original killer. 

Tugas mengisi dunia dengan karakter baru sudah terestablish dengan baik. Ini benar-benar seperti cerita baru, tapi dengan tie-in kuat terhadap cerita original. Film menggali drama dari karakter utama baru dan karakter-karakter lama. Dan drama-drama tersebut tidak tumpang tindih. Mainly karena film tidak malu untuk mengakui bahwa sudah saatnya untuk move on. Trio Sidney – Gale – Dewey dihadirkan, tidak merebut spotlight, tapi tetap dengan momen-momen heartfelt. Aku suka film ini menggali relationship Dewey dan Gale dengan lebih grounded dan make sense ketimbang pada sekuel sebelumnya. Momen kecil seperti Dewey yang berkata akan menelepon Gale tapi kemudian hanya meng-sms saja membuat karakter-karakter semakin bersinar. Sedangkan pada karakter utamanya, Sam, dikembangkan urusan yang lebih psikologikal. Drama personal seorang keturunan serial-killer. Sam, di saat-saat sendirian, akan sering melihat ayahnya. Bicara dengan sosok ayahnya. Ini menambah percikan dan bobot di dalam misteri yang dipunya oleh cerita. Karena ultimately inilah yang dijadikan motif utama. Ghostface di film ini ingin menulis fan-fiction tentang anak dari Billy Loomis dan Sidney. Fan-fiction yang menurutnya bakal bisa jadi film yang lebih hebat daripada sekuel-sekuel Stab yang semakin ngaco.

Screamcreen-Shot-2021-10-12-at-9.04.11-AM
Sementara di sini fans masih ribut soal beda fanfic dengan AU

 

 

Di sinilah letak keluwesan Scream sehingga bisa terus bicara sebagai sindiran meta. Selain aturan-aturan film horor, Scream juga punya film-dalam-film. Sejak Scream kedua diceritakan tragedi Sidney Prescott menjadi begitu viral sehingga diberitakan, dibukukan, dan difilmkan. Film kayfabe ini berjudul Stab dan merupakan cerminan ekstrim dari film Scream itu sendiri. By now, Stab udah 8 sekuel, dan sekuel terakhirnya benar-benar flop. Mirip seperti Scream 4 yang juga gak sukses, bedanya di film kelima ini diceritakan Stab 8 sudah seperti cerminan dari horor modern kita. Di jaman kita sekarang, horor ‘fun tapi cerdas’ bukan lagi yang seringan Scream. Melainkan yang berat-berat, yang lebih dramatis, seperti The Witch, Hereditary, The Babadook, It Follows. Film yang bagus banget, tapi kurang laku karena ya enggak sefun Scream. Scream 5 berusaha menjadi balance. 

Supaya film ini menarik untuk ditonton oleh penonton kekinian, mereka membuat drama yang cukup berbobot, sementara tetap mempertahankan pesona 90an yang jadi ruh franchise Scream, yang jadi pemancing nostalgia. Akan tetapi, seperti yang mereka prediksikan terjadi kepada Stab 8, film ini tahu fans original bakal ada aja yang protes karena menganggap terlalu berbeda. Jadi film ini menyindir mereka duluan. Fans-lah yang dijadikan pembunuh dalam cerita ini. Fans tersebut mengira tahu apa yang mereka mau, dan berusaha mengambil kendali. Fans ingin membuat cerita sendiri, dan menjadi pembunuh berantai demi itu. Di satu adegan ada Dewey merasa terluka oleh kata-kata seorang karakter; that’s how toxic fans in our life kill menurut film ini. Sebenarnya, film sedang meneriakkan bahwa fans sendirilah yang merusak apa yang mereka suka, bagi diri mereka sendiri dan bagi semua orang.

Itulah sebabnya kenapa fandom gak akan pernah bisa mendapatkan nice things. Karena mereka gak pernah puas, selalu ada aja yang diprotes. Dan itu gak sebatas film, kita akui saja, fandom di mana pun – wrestling, buku, musik, sepakbola, bahkan agama, memang cenderung jadi seganas ini. Terutama kalo ada ‘anak baru’ maka makin beringas lah mereka menunjukkan kefanatikannya dengan segala “harus begini, harus begitu”.

 

 

Bukan hanya pada narasinya saja. Celetukan ini juga menguar dari penceritaan film. Misalnya pada elemen horornya. Fans suka banget sama jumpscare. Film horor baru seperti Hereditary dan kawan-kawan tadi bagi mereka gak seram, karena gak ada jumpscare yang seru. Maka film ini bermain-main dengan itu. Ada sekuens karakter seorang diri di dalam rumah. Dia membuka segitu banyak pintu dan lemari. Dan setiap kali pintu-pintu itu dibuka, film akan menaikkan intensitas musik, seolah ada sesuatu yang bakal mengejutkan muncul begitu pintu itu diayunkan tertutup kembali. Jumpscare yang udah diantipasi itu tidak pernah datang. Barulah kemudian di saat yang paling tidak diduga, film memunculkan kejutan. Yang terasa jadi lebih efektif. Jadi film ini cerdas sekali, memanfaatkan sindiran menjadi efek seram yang lebih kuat.

Film menelisik toxic fandom ini lebih lanjut. Kedalaman komentarnya itulah yang membuatku suka sekali sama film ini. Ke-toxic-an itu dikaitkan film kepada kegemaran kita terhadap menyebarkan hal-hal negatif yang berlawanan dari yang kita sukai. Ada yang janggal sedikit, digoreng ramai-ramai. Ada yang berbeda sedikit, dibahas berhari-hari. Itu juga sebabnya kenapa komentar sarkas dan ulasan menghina lebih banyak dibaca. Kita menikmati hal-hal negatif, karena itu juga membuat hal yang kita sukai semakin tervalidasi. Dan pada akhirnya kita jadi lebih suka melaporkan kenegatifan. Period. Maka dari itulah, film ini bagiku seperti berakhir dengan poetic justice. Karena Gale Weathers-lah yang menyadari duluan. Semua horor di dunia mereka itu berasal dari dia yang jurnalis, lebih memilih melaporkan tragedi, memberitakan kejadian berdarah, menceritakan serial killer kepada publik. Cerita Sidney, Stab, jadi punya banyak penggemar for the wrong reasons. “I’m not gonna write about this” kata Gale di ujung durasi Scream 5. Gale benar. Jangan kasih minyak ke negativity. Jangan kasih viral perbuatan jahat, bego, kasar, dan sebagainya.

 

 

 

Ternyata film ini misterinya lebih gampang ditebak bukan karena bangunannya kurang kuat. Kita-lah yang sudah terlampau cinta sama franchisenya, kitalah yang sudah demikian mengerti dengan konteksnya. Kita adalah penggemarnya, dan film ini bicara tentang penggemarnya harusnya menikmati apa yang kita cintai. Boleh kritik, tapi jangan jadi toxic. So here goes mine. Dengan segala antisipasi itu, film ini masih mampu tampil menghibur. Membawa ruh franchisenya, respek sama franchisenya. Menghadirkan cerita dan karakter baru yang terikat kuat pada karakter original. Bercerita dengan drama yang balance; dengan drama itu sendiri serta dengan aspek horor. Film dengan muatan sebanyak ini berpotensi jadi boring atau sukar dimengerti, tapi muatan sindiran dan komentar serta aksi misteri whodunnit-nya membuat film tetap menarik dari awal sampai habis. Film ini berikan perkenalan yang cukup, serta proper send off untuk certain character. Dan kita menyambut semua itu dengan suka ria. Plus, I love Amber. 
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SCREAM

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah kalian punya tips menjadi fan yang baik dan enggak jadi toxic?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SING 2 Review

“Go big or go home”

 

 

Koala Buster Moon telah menyelamatkan teater di kota kecilnya. Dia melakukannya dengan menyelamatkan bakat-bakat di sana lewat kompetisi bernyanyi. Johnny si gorila, Rosita si ibu babi, Ash si landak rocker, Gunter si babi energetik, Meena si gajah pemalu; Buster Moon membantu mereka semua menemukan suara masing-masing. Sekarang, bertahun-tahun menikmati kesuksesan kecil mereka, Mr. Moon siap untuk mengejar kesuksesan yang lebih besar. Dia pengen mereka manggung di kota, di panggung yang lebih ternama. Dan semenjak seorang (err… tepatnya seekor) kritikus ngelepehin pertunjukan teater mereka, Moon jadi makin napsu untuk membuktikan diri. Nekat saja, dia memboyong para talent andalannya ke kota. Masuk gitu aja ke audisi di depan produser gede Jimmy Crystal si serigala putih yang ruthless, dengan persiapan yang minim. Bakatnya sendiri; sepik-sepik, memang berhasil membuat mereka dilirik. Dikasih slot mempersembahkan pertunjukan sendiri. Tapi pertaruhannya berat. Apalagi Buster Moon sama sekali belum nulis apa-apa tentang show musikal sci-fi yang ia janjikan, ataupun sama sekali tidak mengenal dan bisa menjamin singa rocker legendaris yang telah lama mengasingkan diri bisa hadir dan manggung bersama mereka semua!

Sutradara dan penulis naskah Garth Jennings paham ke mana harus melihat ketika ingin mengangkat cerita tentang dunia pertunjukan. Cerita tentang bakat dan menggapai mimpi digunakannya sebagai pondasi dalam film Sing yang pertama (2016) Di film sekuelnya ini, Jennings membangun cerita dari perjuangan ‘menjual’ bakat, bagaimana mengapitalisasi kesempatan. Sing 2 punya celetukan-celetukan kecil soal bisnis pertunjukan. Dan sebagai orang yang gak in-touch sama lagu-lagu populer (apalagi lagu kekinian), tema bisnis pertunjukan itulah yang lebih mudah untuk kunikmati saat menonton animasi hewan-hewan anthropomorphic ini. 

singsing-2
P.T. Barnum dunia satwa

 

Sebagai kreator, sebagai produser, Buster Moon selalu punya jiwa oportunis yang bisa membuat dia kadang tampak sebagai orang jenius, dan kadang juga tampak sebagai produser nekat yang gak-bener. Moon berjalan di antara garis ini, dan somehow suara Matthew McConaughey terasa cocok untuk menghidupkan karakter yang ada di posisi kayak gini. Cukup berwibawa dan terdengar genuinely care untuk jadi leader, dengan sedikit ‘nada’ ngambang yang membuatnya terdengar ‘berbahaya’, in sense that he is talk first. Moon jadi protagonis yang dapat kita pedulikan pada akhirnya karena dia adalah karakter yang terus ngepush kesempatan untuk dirinya sendiri, dan juga demi orang lain. Dia ada di situ untuk memastikan bakat-bakat terdengar dan menampilkan pertunjukan hebat. Kita bisa relate karena tentu kita juga pengen didengar. Di film ini, Moon juga mewakili kita yang memang sering harus berkompromi jika ingin ‘nampil’. Di samping permasalahan Moon harus live it up janji-janji palsunya (janji yang terpaksa ia ucapkan hanya supaya mereka bisa nampil), Sing 2 juga menyeletuk soal titipan studio. Seperti misalnya, Moon harus ngecast anak produser ke dalam pertunjukan teaternya walaupun si anak itu gak bisa akting.

Karena sekarang udah kayak, bakat itu gak penting lagi. Yang penting adalah marketable. Pihak studio akan menilai talent dari apakah ada dari mereka yang bisa diuangkan. Membuatku jadi teringat sama permasalahan kontes-kontes nyanyi/bakat. Peserta akan bela-belain audisi walaupun antrinya panjang sekali. Hanya supaya kemampuan mereka dinilai oleh segelintir juri sebagai bagian dari acara tivi. Acara yang sudah jadi rahasia umum ada storyline dan segala macamnya. Those shows are never just about talent searching. Mereka sebenarnya hanya mau menjual cerita lucu, cerita sedih, atau cerita keberhasilan dari peserta untuk show televisi. Ratings. Bakat dibisnisin. Mereka seharusnya bernyanyi saja, rekam sendiri saja, sepuas hati. Bikin band sendiri. Terus main dan asah kemampuan. Enjoy talent sembari mempertajamnya. Inilah yang berusaha dilakukan oleh Moon. Dia ingin ngasih tempat untuk talent-talent, tapi harus berhadapan dengan studio yang mengecilkan mereka.

Tentu memang benar, to make it big, we cannot sell ourselves short. Kita harus ngepush, menantang diri sendiri. Nampil di panggung yang lebih besar, so to speak, harusnya dijadikan tantangan untuk menjadi lebih baik. 

 

Padahal mengusung tema itu, tapi film ini kasiannya tampil ironis. Studionya clearly enggak mau ‘memberatkan’ film dengan penggalian itu. Studionya clearly hanya melihat Sing pertama sukses berkat cover lagu-lagu populer. Maka, Sing 2 hadir juga lebih fokus ke lagu. Karakter-karakternya jadi sekadar diadakan saja. Mereka diberikan plot tipis, dengan journey ke arah pembelajaran yang sama singkatnya.

Johnny, misalnya, dia harus belajar menari, di bawah ajaran koreografi profesional yang strict. In the end, semuanya ya salah si pengajarnya. Rosita, merasa tersingkirkan ketika dia digeser dari peran utama, karena dia yang takut ketinggian tidak sanggup melakukan adegan terjun bebas dan terbang di luar angkasa. Konflik pribadi/psikologisnya ini tidak dibereskan lewat pengembangan yang bertahap. Melainkan beres gitu aja dalam satu adegan. Meena punya masalah beradegan romantis, karena dia belum pernah pacaran. Belum kenal cinta. Solusi naskah untuk ini ya gampang aja. Tau-tau di luar ada gajah simpatik, jatuh cintalah Meena. Gunter, dan Moon, mereka nulis cerita on the way, dengan Gunter dengan kocak selalu mengubah-ubah situasi pada narasinya setiap saat. Mereka tidak punya momen kompromi atau apapun yang mengisyaratkan pembelajaran team work atau semacamnya. Permasalahan Moon menggarap show dari ide spontan dibuat terlalu gampang, they just made it. Sehingga pokok tema yang diangkat di awal jadi gak kena. Permasalahan studio ‘jahat’, sehingga kini mereka mengorbitkan diri sendiri, menjadi terlalu sederhana. Dengan sedikit, bahkan nyaris tidak ada pembelajaran yang dialami. Setidaknya, tidak ada yang mengajak penonton terinvolved.

singintro-import
Yang namanya Gina bukan si gajah, tapi Suki si kritikus lol

 

Cukup banyak diberikan porsi adalah tentang Ash yang berusaha membujuk Calloway – si singa legendaris – untuk kembali manggung. Relationship mereka ini bakal jadi hati film, jika memang dibahas lebih mendalam. Ash sudah seperti berkonfrontasi dengan dirinya dari film sebelumnya, dan Calloway juga punya konflik yang mudah menyentuh emosi kita semua. Namun bagian yang harusnya bisa jadi plot utama kedua film ditampilkan terlalu telat. Dan walaupun cukup banyak, tapi melihat dari bagaimana bagian mereka diposisikan – seringkali seperti selipan di antara adegan-adegan persiapan show – sepertinya studio memang menolak untuk menonjolkan ini. Sama seperti persoalan plot masing-masing karakter tadi, studio seperti gak mau penonton lebih fokus ke meresapi drama-drama itu. Studio maunya penonton nyanyi-nyanyi aja.

Bukannya mau nuduh, hanya saja, memang jadi terasa seperti studio gak percaya kalo penonton anak-anak akan bisa menyelami perasaan karakter. Dan bukan hanya film ini, banyak film lain yang seperti merasa mereka perlu ‘melindungi’ penonton (dan bukan hanya anak-anak!) dari real emotion. Film Backstage baru-baru ini contohnya. Seolah real emotion itu momok yang bikin film jadi berat. Seolah real emotion itu bahaya untuk hiburan penonton. Padahal kalo dipikir-pikir, ngasih cerita yang soulless kayak gini, yang hanya berisi lagu-lagu supaya happy, justru lebih mengkhawatirkan. Menumbuhkan penonton yang gak mau memikirkan perasaan for the sake of hiburan.

Salah satu kritikanku untuk film pertama Sing adalah kurang banyak lagu original. Film ini ‘menjawab’ itu dengan melipatgandakan jumlah lagu-lagu populer. Sebenarnya enggak masalah jika lagu-lagu itu adalah penampilan para karakter di panggung show mereka. It’s okay kalo gimmick franchise ini memang pertunjukan musikal dari karakter hewan yang mengcover lagu asli dari dunia kita. Aku suka kok, final show film ini. Terutama pas Halsey nyanyiin lagu Could Have Been Me. Dibikinnya lagu rock itu jadi kayak pop, yang buatku masih keren dan worked (walau greget dari lirik “Wrrraapped in your regret” dari vokalis The Struts tetap tak-bisa tergantikan). Akan tetapi, film kali ini juga lebih banyak menggunakan lagu cover untuk adegan-adegan yang gak perlu ada lagunya. Nyaris setiap ada adegan baru, film akan memutar lagu populer. Mereka juga bermaksud lucu-lucuan dengan penempatan lagu-lagu itu. Tapi ya jadinya annoying sekali. Film udah jadi kayak klip musik ketimbang cerita.

 

 

Lagu-lagu selingan itu jadinya mendistraksi. Karena memang untuk distraksi itulah film memasukkan banyak sekali mereka. Film gak mau penontonnya merasa berat atau bosan oleh cerita. Apalagi ini film anak dengan tema bisnis atau panggung hiburan. Jadi film merasa perlu untuk masukin musik populer sepanjang waktu. Lagipula bukankah lagu-lagu pop itu yang bikin film pertamanya laku? See, ironis film ini sendiri lebih mikirin jualan. Menjadikan bakat menyanyi dan desain karakternya yang lucu tidak sekalian sebagai penghantar cerita dengan real emotion. Film ini bisa menjadi keduanya secara berimbang, tapi memilih untuk jadi dangkal. Jadi nyanyi-nyanyian nostalgia semata. Cerita dan pembelajaran karakternya dibiarkan sederhana saja.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SING 2.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana menurut kalian tentang ajang-ajang pencarian bakat di televisi?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SPIDER-MAN: NO WAY HOME, ENCANTO, RED NOTICE, PASSING, VENOM: LET THERE BE CARNAGE, THE KING’S MAN, ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS, dan BUKAN CERITA CINTA (THIS IS NOT A LOVE STORY) Mini Reviews

Resurgence bioskop di paruh akhir 2021 memang melegakan, tapi juga membuatku kewalahan. Antara rilisan bioskop, platform, screening khusus film festival, dengan kerjaan edit video dan nulis lainnya, semuanya jadi “too many things but so little time” buatku. Maka kupikir sudah saatnya untuk mengembalikan salah satu segmen blog ini yang pernah kulakukan di 2014-2015 (yea blog ini sudah setua itu haha), yaitu segmen Kompilasi Mini Review!

Jadi, inilah ulasan film-film baru yang kalian rekues di komen itu, yang udah kutonton tapi selalu tertunda nulis ulasannya, berkumpul di satu artikel. Sekaligus sebagai penutup; last entries untuk penilaian periode 2021 di My Dirt Sheet.

ENCANTO Review

Sampai sekarang aku masih susah percaya kalo Maribel Madrigal di Encanto ini adalah ‘orang yang sama’ dengan Detective Rosa Diaz yang ketus di serial komedi Brooklyn Nine-Nine. But hey, inilah testament dari kualitas voice-acting seorang Stephanie Beatrice. Sebagai Maribel, dia jadi gadis ceria, suka bernyanyi, yang tampak optimis. Nun jauh di dalam, Maribel merasa sangat perlu untuk selalu membuktikan dirinya sebagai bagian dari keluarga Madrigal yang penuh keajaiban. Karena cuma dialah, dari seluruh keturunan neneknya, yang tidak lahir dengan kekuatan spesial.

Di balik visual yang juga sama ajaibnya – menghibur setiap mata yang menonton – Encanto bicara tentang makna menjadi spesial itu sendiri. Pembahasan yang tentu saja penting untuk penonton anak-anak. Dan orang dewasa tentunya. Karena orang dewasa inilah yang biasanya suka nuntut yang macem-macem untuk anak mereka. Cerita Encanto difokuskan kepada keluarga ini saja, tidak ada penjahat atau makhluk yang harus dikalahkan, dan bahkan tidak ada petualangan keluar. Tapi bukan di situlah kekurangan Encanto. Karena departemen adventure tersebut sudah dihandle oleh elemen magic. Rumah keluarga mereka juga ajaib, bisa memuat dunia/tempat lain.

Yang membuat Encanto yang cakep ini terasa kurang greget adalah tidak pernah mencapai note-tinggi. Dengan kata lain, semuanya agak berakhir terlalu kentang. Magicnya tidak pernah terlalu besar. Adegan-adegan musikalnya juga tidak pernah tampak terlalu memorable atau benar-benar refleksi cerita. Melainkan lebih sering sebagai eksposisi. Kekuatan para karakter juga gak unik-unik amat. Bahkan elemen Protagonis yang gakpunya superpower juga sudah cukup banyak kita temui, apalagi di anime. Filmnya enak dipandang, imajinatif, meriah, kuat identitas, punya pesan bagus, hanya sendirinya terasa normal-normal saja.

The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for ENCANTO.

ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS Review

Escape Room yang ceritanya bland banget dan aktingnya pun standar orang baca naskah itu, bisa ada sekuelnya karena menawarkan dunia yang terlihat bakal bigger, dan konsep death trap berupa game yang lebih fun, less berdarah-darah, sehingga lebih mudah diakses oleh lebih banyak lapisan penonton. Dan sutradara Adam Robitel tampaknya memang sudah merancang semuanya untuk menjadi seperti itu. Film kedua ini malah didesainnya menjadi semacam teka-teki sendiri.

To be honest, aku gak suka (dan gak peduli untuk sampai mau mereview) film pertamanya, tapi toh aku tertarik juga nonton yang kedua. Karena film ini actually dibuat dalam dua versi. Yang tayang di bioskop ama yang tayang di platfom streaming punya perbedaan signifikan pada opening dan ending. Yang membuat franchise ini kayak jadi punya dua jalan yang berbeda. Jadi aku menonton keduanya. Dan memang, kedua versi itu menawarkan thrill yang berbeda, dari konklusi yang berbeda. Namun menurutku, tetap tidak berpengaruh apa-apa terhadap kualitas film ini secara keseluruhan.

Karakternya tetap generic, aktingnya ada peningkatan sedikit, tapi masih seringkali annoying untuk ditonton. Film kayak meniru konsep pertandingan para juara di Hunger Games, tapi tidak berhasil ngasih konteks kenapa harus para juara. Film  jarang sekali balik ke kenyataan bahwa peserta kali ini pernah menang; mereka masih seringkali bego gak jelas. Malah ada satu karakter yang dibikin gak bisa ngerasain sakit, untuk alasan dan kegunaan pada cerita yang sepele. Game-gamenyalah yang jadi penawar utama kebosanan. Set piecenya masih dibangun dengan sangat niat. Aku paling suka bagian pas di ruangan yang diset kayak isi dalam sebuah bank. And that’s all about it.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for ESCAPE ROOM: TOURNAMENT OF CHAMPIONS.

THE KING’S MAN Review

Produser, penulis, dan sutradara – si Matthew Vaughn – bermaksud ingin lebih bebas berkreasi dalam proyek prekuel ini. Dia cuma perlu mengestablish awal keberadaan agency beserta muasal karakter-karakter yang sudah kita kenal baik. Dan selebihnya, dia ingin mencoba sesuatu yang lebih dari spy-action komedi. Hasilnya, The King’s Man jadi banyak film sekaligus. Ada drama perang. Ada trik-intrik politik. Film ini jadi agak penuh sesak, sukar dilihat arahnya ke mana. Kebanyakan penonton hanya kecewa karena enggak terasa seperti franchise yang sama. Barulah saat elemen spy-action komedi yang familiar bagi kita datang, film ini kembali terasa menghibur.

Keseimbangan adalah kunci. Dan di situlah persisnya film ini kesandung. Bagian awal fokus kepada hal-hal yang ternyata gak perlu. Pada karakter yang ternyata bakal “hilang”. Karena film memutuskan sudah saatnya menjadi komedi seperti sedia kala. Sehingga momen-momen dramatis itu jadi tidak mendarat. Film mungkin bermaksud untuk membuild up. Tapi tidak pernah melakukannya dengan proper. Seperti ada satu sekuen komedi seputar menipu Rasputin dengan menggodanya. Build upnya ternyata hanya membuahkan adegan yang aku bisa mengerti akan dipandang menyinggung oleh sekelompok orang.

Ya, di sini ada Rasputin. Ada karakter-karakter sejarah beneran yang lain juga. Setting sebelum Perang Dunia I cerita ini memang ditarik dari kejadian sejarah kita. Film lantas membentuknya menjadi versi mereka sendiri, yang actually diadaptasi dari komik. Jadi, The King’s Man sebenarnya sedang bermain-main dengan sejarah fiktif dan sejarah nyata. Seharusnya konsep ini yang fokus dikembangkan sedari awal. Seharusnya inilah sumber fun sesungguhnya. Tapi nyatanya, selain action yang fluid dan paham ngasih punchline, yang membuat kita terhibur di sini cuma Rasputin. Dan – sialnya – saat ada karakter di seruduk kambing. 

The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for THE KING’S MAN.

PASSING Review

Tadinya kupikir film ini bakal pretentious. Pakai warna hitam-putih for no reason selain pengen terlihat kayak estetik film jadul. Tapi kemudian debut Rebecca Hall sebagai sutradara ini floored me. Passing ternyata berarti dua. Pertama soal perempuan kulit-hitam yang ‘menyamar’ hidup sebagai kulit putih. Dan kedua, passing yang berarti seperti pada ending menyedihkannya nanti.

Menyamar di sini bukan dalam artian pake make up atau bedak, atau menipu dengan sengaja. Melainkan karena karakternya punya warna kulit yang lebih terang sehingga dianggap putih. Terms ini juga menguatkan tema film yakni di balik warna kulitnya semua orang adalah sama. Mereka bisa passing ya karena – selain warna kulit – tidak ada perbedaan antara sesama manusia, tidak ada yang unggul di atas yang lainnya. Tema tersebut diolah ke dalam drama persahabatan dua orang perempuan, dan di sinilah letak kecemerlangan sutradara.

Hall mau menyelami karakter. Film akan mengambil waktu, memperlihatkan reaksi setenang dan sekecil mungkin. Setiap percakapan dalam film ini, dialognya menguarkan karakter. Hall mau menggali sudut pandang sehingga semuanya ya jadi hitam-putih alias abu-abu. Tidak ada sugarcoating, tidak ada agenda. Kita melihat kejadian dari karakter utama Irene, yang mulai gerah sama kelakuan sahabatnya yang udah lolos jadi kulit putih tapi masih suka ikut keluyuran ke gathering kulit hitam, stealing all the spotlights. Dan film bicara blak-blakan lewat ekspresi dan sorot mata karakternya itu. Sebagai perbandingan, baru-baru ini aku nonton Backstage (2021), di situ ada karakter yang juga nanti jadi kayak iri sama karakter lain, tapi film seolah menghindari dari membahas. Melainkan hanya menampilkan saja. Hampir seperti filmnya gak mau kita merasakan negatif feeling dari si karakter utama. Film Passing gak peduli sama ‘memuliakan’ karakter seperti itu. Hall tahu dia sedang menceritakan manusia, jadi dia benar-benar mengulik perasaan manusia. Maka dari itu, film ini jadi drama yang sangat beresonansi.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for PASSING.

 

RED NOTICE Review

Satu kata yang paling cocok menilai film ini. Mubazir.

Kalian punya tiga aktor versatile – drama bisa, komedi bisa, action bisa – tiga aktor yang lagi hit-hitnya. Tapi kalian hanya menggunakan aktor-aktor itu untuk namanya saja. Tidak benar-benar memberikan mereka sesuatu yang baru, atau bahkan tidak memberikan mereka karakter dan actual cerita. Film ini mecahin rekor Netflix, karena ya dimainkan oleh The Rock, Gal Gadot, dan Ryan Reynolds. Film ini ditonton, tapi aku yakin seratus persen gak ada satupun dari kita yang merasa dapat apa-apa darinya. Hanya hiburan kosong. Ibarat snack, film ini snack yang isinya angin doang.

Porsi aksinya? Red Notice hanya melakukan ulang aksi-aksi yang sudah pernah ada dalam film action sebelumnya. Pun, film ini tidak melakukan hal yang lebih baik dari film-film itu. Tidak menambah perspektif ataupun sensasi baru. Melainkan melakukannya dengan, kayak malas-malasan. Adegan di scaffold bangunan di awal itu misalnya. Aku bisa menyebut setidaknya dua film action lain yang sudah lebih dahulu melakukan itu dengan jauh lebih baik (Rush Hour 2 dan Shang-Chi). Red Notice, udahlah actionnya gak baru, film pun tidak memberikan karakter untuk dimainkan oleh para aktor gede itu. Film hanya menyuruh mereka jadi ‘diri sendiri’, atau at least jadi diri mereka yang paling menjual kepada penonton. Tidak satu kalipun saat menyaksikan film ini aku merasa peduli ataupun mengkhawatirkan mereka. Karena yang mereka lakukan di sini ya cuma menjalankan aksi-aksi aja dengan lucu-lucuan. Gak ada stake, gak ada rintangan. Seolah film takut gak laku kalo karakternya tampak susah dalam melakukan aksi.

Huh, judul film ini harusnya Red Flag aja. Biar siap-siap untuk yang terburuk saat hendak menontonnya.

The Palace of Wisdom gives 2 out of 10 gold stars for RED NOTICE.

SPIDER-MAN: NO WAY HOME Review

Bicara tentang film yang mau bikin senang penonton… Penutup trilogi ‘Home’ Spider-Man ini adalah juaranya! Konsep multiverse akhirnya fully dijalankan, dan dimanfaatkan sepenuhnya untuk kesenangan penonton. Tiga Peter Parker bahu-membahu melawan musuh-musuh terkuat dalam film-film mereka selama ini. Interaksinya, nostalgianya. Film juga paham, punya selera komedi yang bagus, sebab kita akan tergelak melihat beberapa kali mereka saling becandain universe masing-masing. Aku sama sekali belum pernah merasakan pengalaman nonton film serame ini. Udah kayak lagi nobar Smackdown! Penonton ngecheer, tepuk tangan, tertawa bersama. Experience yang luar biasa.

Hebatnya, konsep multiverse itu bukan cuma dipasang sebagai cheap way untuk bikin penonton senang saja. Drama film ini actually datang dari pemanfaatan cerita tentang multiverse itu. Di sinilah untuk pertama kalinya Peter Parker Tom Holland harus mengambil keputusan dan bertanggungjawab sendiri. Di sinilah dia baru menyadari penuh resiko dan apa artinya menjadi seorang superhero bagi kehidupan dirinya. Dia pengen nyembuhin para penjahat, memang tampak kayak keputusan bego. Tapi Peter memang masih naif, dia harus benar-benar paham bahwa menjadi superhero itu bahaya, dan betapa pilihan seseorang benar-benar membentuk siapa mereka. Bagaimana dengan Peter-Peter lain dan karakter dari dunia lain? Mereka semua dihadirkan kembali dengan arc masing-masing. Semua bakal dapat pembelajaran, dapat second chance. Semakin menambah bobot drama muatan film ini.

Kekurangan film ini buatku hanyalah beberapa pengadeganan masih terasa seperti template. Kreasi atau katakanlah arahan sutradara belum tampak ciri khasnya, padahal sudah tiga film. Ada beberapa adegan yang awkward, kayak para penjahat berdiri diam gitu aja (kayak nunggu giliran) sementara karakter lain sedang ngobrol. Adegan aksinya juga heavy CGI, dan tidak sering diperlihatkan seperti karakter yang mengalami pembelajaran saat berkelahi itu. Hanya berupa aksi-aksi keren semata.

The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for SPIDER-MAN: NO WAY HOME

THIS IS NOT A LOVE STORY (BUKAN CERITA CINTA) Review

Hidden gem di perfilman Indonesia. Tidak banyak yang bicarain soal film ini, padahal dia dapat award di Jakarta Independen Film Festival 2021 dan masuk short list FFI tahun itu. Aku juga tadinya gak aware. Cuma setelah bete dan kecewa berat nonton Aum! (2021), kami nyetel film ini, dan aku bilang aku jauh lebih suka ama film yang ini!

Ceritanya tentang seorang pemulung yang menemukan perempuan di truk sampah. Perempuan berkursi roda itu ternyata masih hidup, cuma tidak bisa bicara dan tidak mau bergerak. Sepertinya trauma. Maka, si pemulung membawa perempuan itu ke rumah. Tadinya ngarep ada yang nyariin dan dia bakal dapat duit imbalan. Tapi lewat berhari-hari gak ada yang nyariin. Si pemulung akhirnya tetap merawat dan mereka jadi akrab dengan cara mereka sendiri. Man, penampilan akting dan arahannya semua terlihat natural. Gak ada yang dibuat-buat. Gak ada drama yang dipancing-pancing dengan over. Sesuai judulnya, ini bukan cerita si cowok pemulung nanti jadi jatuh cinta. It was more than that. Ini bentuk cinta yang lain. Nonton ini kayak nonton kehidupan asli, dan kita jadi ikut peduli dengan kehidupan mereka. Sidi Saleh juga menambahkan lapisan berupa keinginan pemulung untuk jadi aktor, yang memperdalam bahasan dan karakter cerita.

Dijadikan 3 jam pun kita akan tetap betah menontonnya. Namun film mulai goyah saat keperluan untuk mengungkap misteri siapa perempuan itu datang. Gaktau sih, menurutku sebenarnya gak usah dijawab juga gak apa-apa. Ketika dijawab, justru akan jadi datar. Film juga kayaknya sadar, maka mereka memilih jawaban yang vague. Yang malah bikin akhiran film menjadi lebih tidak memuaskan lagi. Di samping akhiran dan elemen misterinya tersebut, This Is Not A Love Story adalah drama kehidupan yang solid, menarik, dan sederhana. Pure bercerita.

The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for THIS IS NOT A LOVE STORY

VENOM: LET THERE BE CARNAGE Review

Venom dan Carnage adalah karakter yang dimaksudkan sebagai counter dari Spider-Man. Mereka adalah sisi jahat dan keliaran dan chaos. Dan fun. Tapi semenjak film pertamanya, Venom enggak pernah benar-benar fun. Ada sisi menghiburnya, tapi gak seberapa. Gak seperti yang dibayangkan. Maka di sekuel ini, Andy Serkis ingin melipatgandakan semua. Dan hasilnya adalah kebisingan yang nyaris bisa aku nikmati.

Fun dalam film ini adalah ribut-ribut bertengkar bahas makan ayam atau makan manusia. Berantem ngambek-ngambekan. Udah kayak ditulis oleh anak-anak untuk anak-anak. Sony kayak ingin berusaha keras biar bisa kayak Marvel, tapi pada akhirnya hanya ‘menyakiti’ karakter-karakternya. Carnage direduce dari serial killer menjadi… serial killer yang gak ngelakuin hal yang unik. Sia-sia aja pakai Woody Harrelson, yang udah pengalaman jadi pembunuh dalam film. Tom Hardy di sini juga kayak berusaha keras untuk tampak vulnerable, dia pengen jauh-jauh dari kehidupan Venom, namun pada akhirnya jadi bucin juga. Karena film actually juga membahas tentang hubungan cinta. Sampai-sampai ada juga yang menghubungkan Venom dan Eddie Brock sebagai relationship queer. LOL. Itulah yang terjadi kalo film yang benar-benar ngasih pegangan; Penonton bakal menggapai, meraih apapun dengan liar untuk jadi pegangan.

Film ini mau bicara banyak tapi bangunan ceritanya sendiri begitu sederhana. Dan pada akhirnya mereka tetap bertumpu pada aksi. Yang memang lebih menghibur daripada film pertamanya. Kali ini pencahayaannya gak gelap-gelap amat. Mereka berusaha sebisanya ngasih adegan berantem dua monster pemakan manusia menjadi tetap seru dengan rating sensor PG-13. Adegan paling penting film ini saja sebenarnya hanya adegan extra saat kredit penutup, yang sekarang terbukti cuma bait kosong saja.

The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for VENOM: LET THERE BE CARNAGE

 

That’s all we have for now

Dengan ini, berakhirlah sudah penilaian untuk 2021. Jangan lupa cek Youtube My Dirt Sheet untuk Rapor Film Caturwulan III, yang bakal ngasih insight soal penilaian dan periode akhir. Dan setelah itu, tungguin juga daftar TOP-8 MOVIES 2021 yang bakal publish segera di blog ini.

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

HALLOWEEN KILLS Review

“… and that fear turns them into monsters.”

SURAT DARI MICHAEL MYERS

 

Dear Penduduk Haddonfield,

Sebagai putra daerah yang udah meneror kota kesayangan kita empat puluh tahun lamanya, saya akhirnya merasa senang. Harapan saya sih pengen bisa sedikit bangga juga sama kalian. Kalian tidak lagi cuma berdiam diri di rumah masing-masing, menunggu saya yang dalam perjalanan mencari Laurie Strode, untuk mampir dan membunuh kalian sekeluarga. Kini kalian berkumpul dan dengan berani menyusun rencana untuk balik memburu saya. Sebenarnya, dulu sudah ada juga sih yang nekat membentuk pasukan seperti itu. Tapi film Halloween 4 yang bercerita tentang itu, beserta sekuel-sekuel yang lain, udah dianggap enggak ada oleh trilogi terbaru buatan David Gordon Green. Tapi saya masih ingat kok. Dulu itu skalanya kecil. Sekarang, wuih, hampir semua dari kalian yang turun ke jalan. Saya kan jadi gak perlu repot-repot lagi!

Sebelum lanjut, saya mau mengucapkan terima kasih kepada tim pemadam kebakaran kota. Karena telah menyelamatkan saya dari dalam jebakan kobaran api di basement rumah Laurie. Coba kalo pemadam kebakaran tidak datang. Pastilah topeng William Shatner kesukaan saya hangus terbakar. Untung mereka datangnya cepet, topeng saya cuma rusak setengah, dan itu jadinya malah tampak lebih keren. Sebagai rasa terima kasih, saya sudah berikan para pemadam kebakaran itu tiket satu-arah ke alam barzah. 

halloween-kills-michael-myers-fire-survival
Sambutan hangat di kampung halaman

 

Yang jelas, Laurie Strode pasti tidak menyangka jebakan briliannya di film Halloween 2018 bakal berakhir sia-sia. Bukan saja dia gagal menghabisi saya, tapi dia juga kehilangan rumah. Padahal rumah itu sakral loh. Seperti yang akhirnya kalian duga, bagi saya rumah adalah segalanya. Saya akan selalu kembali ke sana. Tidak peduli rumah tersebut sudah dihuni orang lain. Ya tinggal bunuh saja. Pokoknya saya harus bisa menatap jendela di kamar kakak saya. Kalo kalian ingin menyakiti saya, harusnya kalian bakar saja rumah saya. Ah, tapi kalian mungkin tidak kepikiran ke sana. Padahal lihat saja Laurie, sekarang dia gak punya rumah. Dia jadi lemah. Dia malam itu tidur di rumah sakit. Enggak bisa ikut berburu saya, bareng kalian. Aksi Laurie di sini cuma menghajar seorang dokter. Random banget. Jujur saya kecewa juga sih. Soalnya meskipun sekarang kalian jadi jagoan semua, lawan saya jadi banyak, tapi enggak ada yang sekuat Laurie. Bahkan anak dan cucu Laurie saja pun, tetap tidak sekuat dirinya. Saya gak dapat lawan yang sepadan di sini. 

Saya pengen banget ngunjungin Laurie di rumah sakit. Biar persis kayak film Halloween jadul kita yang kedua. Tapi yang ke rumah sakit, justru orang lain. Saya bahkan gak kenal siapa. Kayaknya bukan orang kota kita, deh, guys. Yang bikin saya makin kesal adalah kok bisa-bisanya kalian semua menyangka orang asing itu saya. Ayolah. Orang asing bertubuh kecil, setengah botak, tua, penakut, dan gak bisa naik mobil itu? Sayaa?? Mirip dari Hong Kong!! Oke, mungkin kalian memang tidak tahu atau tidak ingat wajah saya yang sebenarnya seperti apa. Dan mungkin kalian sudah jadi sebegitu takut dan marahnya sampai-sampai gak berpikir jernih. Tindakan kalian malah lebih monster daripada saya loh. Saya mana pernah ngeroyok orang tak-bersalah. Saya membunuh orang tak-bersalah satu-lawan-satu. Nasib si orang itu jadi naas di tangan kalian. Serupa ama nasib orang yang juga dituduh sebagai saya di film Halloween 4.

Itu satu lagi yang bikin saya jengkel. Pak Sutradara pengen bikin cerita baru, dan menganggap kisah saya dan Laurie yang segitu banyak versinya itu tidak ada, tapi dia tetep masukin hal-hal yang membuat saya bernostalgia. Saya kan jadi bingung. Harus flashback atau tidak. Masa lalu saya beberapa dibuat ulang, pake efek yang mulus sekali seolah beneran cerita lama. Lalu masa lalu itu ditambah-tambah. Yang sudah ada diruntuhkan, serpihannya dipake untuk cerita baru. Tapi bagi saya, itu kan tetap cerita lama. Makanya bingung. Laurie kan dibuat jadi bukan adik saya. Lah terus kenapa saya kejar-kejar. Saya juga punya perasaan, tau Pak! Nanti deh, setelah kelar nulis surat ini, saya akan nyamperin beliau.

Sekarang saya mau menyapa teman-teman lama saya dulu. Perawat yang dulu ternyata tidak sampai terbunuh oleh saya. Dan tiga anak kecil, Tommy Doyle, Lindsey Wallace, Lonnie Elam. Dulu mana mau saya menyakiti anak kecil. Yang saya kejar itu ya babysitter-babysitter mereka yang kurang ajar. Yang sikapnya ngingetin saya sama kakak saya. Anak kecil dulu saya biarkan lari. Sekarang aja yang aneh, saya disuruh membunuh satu anak kecil oleh Pak Sutradara. Mungkin biar kalian makin marah kali, ya, sama saya. Tapi Tommy, Lindsey, dan Lonnie sekarang juga sudah bukan anak kecil. Mereka udah gede dan hebat-hebat semua. Mereka bertiga kan, pemimpin kalian? Mereka bertiga kan yang nyuruh kalian untuk bergabung, menyorakkan “Evil Dies Tonight”, memburu saya padahal juga ujung-ujungnya yang jadi tewas terpotong-potong ya kalian-kalian juga. Saya agak kasihan juga sama kalian, makanya mayat-mayat itu saya dandani pake topeng-topeng. 

Halloweenss
Biar gak keliatan sedih-sedih amat.

 

Tau gak, kenapa kalian walaupun ramean tapi tetap gagal? Banyak korban-korban saya yang seperti begini nih: Ketika ketakutan dan dalam bahaya, mereka bukannya kabur, tapi malah berjalan ke arah saya bersembunyi. Kan bego sekali ya. Coba kalo mereka pintar. Pastilah segera kabur dan mencari pertolongan. Kalo kalian pinter-pinter, kalian pasti gak bakal ngeroyok saya begitu saja. Kalian pasti tahulah kalo saya ini manusia berkekuatan supranatural yang gak segampang itu mati. Kalo kalian pinter, kalian pasti sudah membakar saya, menabrak saya, atau mungkin kalian akan mengikat anggota tubuh saya ke kendaraan berbeda dan menarik maju sampai tubuh saya putus-putus. Tapinya kalian semua masih begitu takut dan marah untuk bisa berpikir. Saya senang kalian akhirnya pasang aksi. Menjadikan cerita yang cukup baru. Tapi mbok ya, pinter-pinter dikit lah. Tau-tau malah ribut di antara kalian sendiri, ngejar orang yang jelas-jelas bukan saya, megang pistol aja gak bener! Atau mungkin memang kalian sebenarnya bukan apa-apa selain penambah jumlah korban. Enggak ada tuh satupun dari kalian yang punya motivasi di luar kejadian di malam itu. Kalian yang penyintas juga gak keliatan punya kehidupan lain. Masih mending saya. Paling tidak, motivasi saya jadi terjawab pas akhir cerita. Saya merasa kayak Thanos di film Avengers Infinity War. Sayalah jagoannya di sini.

Jadi, ya, saya kangeeen banget ama Laurie. Kalian jaga Laurie dan keluarganya yang tersisa baek-baek ya. Biarlah Laurie istirahat dan menyembuhkan luka-lukanya terlebih dahulu. Sementara kalian juga sambil belajar mempertahankan diri yang bener. Nanti di film terakhir trilogi ini, di kali berikutnya kita bertemu, saya mengharapkan perlawanan yang seru. Itung-itung buat pemanasan sebelum ketemu Laurie. Jangan kayak kali ini lagi. Kita gak mencapai apa-apa di cerita yang sekarang ini. Banyak dari kalian yang mati sia-sia loh. Palingan cuma buat adegan-adegan mati yang kreatif aja. Matinya kalian di sini itu cuma jadi hiburan loh. Kasian amat.

Saya kasih 3 dari 10 bintang emas deh, untuk perjuangan kalian di HALLOWEEN KILLS.

 

 

Sekian dulu, surat pesan dari saya. Semoga bisa diambil hikmahnya.

Happy Halloween semuaa

 

 

 

Hormat saya, Michael Myers

 

V/H/S/94 Review

“It was a simpler time”

 

 

Kaset video atau VHS memang adalah dinosaurus, jika dibandingkan dengan beragam gadget berteknologi tinggi yang bisa mudah dimiliki dalam genggaman setiap orang.  Kualitas gambarnya yang bersemut-semut kalah jauh ama kejernihan HD. Suaranya yang berdesir (dan kadang terdengar bindeng) bukan apa-apa deh dibandingkan dengan kualitas audio di jaman sekarang. Tapi VHS punya keunggulan sendiri. Tidak ada menu yang rumit, tidak ada loading screen yang annoying, tidak ada software updates. Gak ada iklan! Saat kita ingin merekam, tinggal pasang kamera dan rekam. Saat mau nonton, tinggal masukin ke video dan tonton. VHS akan selalu dapat tempat di hati orang-orang yang pernah mengalami langsung masa keemasannya.

Kita bisa bilang itu karena sentimen nostalgia. Tapi sebenarnya yang dirindukan darinya adalah karena VHS terasa mewakili kehidupan di tahun 80-90an. Hidup yang lebih simpel dan bahagia.

 

Sekarang, semuanya udah overproduce. Terlalu banyak polesan. Bikin video youtube aja sekarang harus benar-benar seperti profesional. Enggak cukup dengan gambar dan suara berstandar tinggi. Harus dilengkapi pake efek dan edit-edit yang mentereng. Makek software editing yang ketinggalan satu versi update-an aja, kita bisa diketawain. Gak usah jauh-jauh, aku bahkan merindukan tahun 2000an ketika video-video yang ada di youtube masih berupa home video sederhana. Yang produksinya lebih mirip video VHS ketimbang buatan stasiun televisi. Kenapa? Karena video-video rumahan tersebut terasa lebih real. Lebih jujur. Karena itulah, kehadiran V/H/S/94 ini, yang franchisenya seperti sudah mati lantaran V/H/S: Viral (2014) yang flop, jadi angin segar buatku. Aku udah jenuh sama film-film yang terlalu sibuk berlomba untuk menjadi besar, baik dari segi visual, efek, cerita, hingga twist. Terutama film hororSebab sesungguhnya, ‘real dan jujur’ itulah yang jadi situasi penentu kualitas cerita horor. Situasi menakutkan yang dialami oleh karakter harus benar-benar beresonansi kepada kita. Ketika mereka diganggu hantu, misalnya, perasaan bersalah atau perasaan duka yang dilambangkan oleh peristiwa menakutkan itu harus sampai ke kita. Film harus mampu membuat kita mengerti perasaan tersebut, dan in turn bisa relate dan percaya kita bisa saja mengalami perasaan serupa; thus make us scare.

Banyak horor modern yang gagal menyampaikan ‘real dan jujur’ tersebut, karena mereka terlalu fokus ke membuat spectacle horor. Ke membuat wahana rumah hantu – alias wahana kaget-kagetan. Ke merangkai plot rumit dengan twist, yang justru sebenarnya mengalihkan kita dari esensi cerita. Ke membuat hantu tampak senyata mungkin, padahal justru menjauhkan kita dari ceritanya. Dua film V/H/S original yang tayang pada tahun 2012 dan 2013 – enam tahun setelah berakhirnya era VHS, dan di tengah maraknya genre found footage modern – mengerti hal tersebut. Paham bahwa culture horor berkembang justru saat VHS lagi hits-hitsnya. Maka film itu mengembalikan penonton kepada masa tersebut. Mengatakan, ‘ini loh habitat natural found footage itu’. Sehingga kedua film V/H/S pertama tersebut jadi sukses dan digemari, baik bagi yang rindu era VHS hingga bahkan oleh penonton yang gak really aware sama ‘kekuatan’ konsep videonya. 

vhs_195562848_7810f16b-65d9-4068-8375-2722a80af17c-superJumbo
VHS reborn!

 

 

Mengikuti (dan melanjutkan) konsep terdahulunya, V/H/S/94 hadir sebagai antologi horor pendek yang digarap oleh filmmaker-filmmaker yang udah dikenal sebagai ‘pemain lama’ pada genre horor brutal nan berdarah-darah. Simon Barrett, Chloe Okuno, Ryan Prows, Jennifer Reeder, and our own Timo Tjahjanto. Masing-masing horor pendek tersebut didesain berupa tontonan kaset video jadul. Estetik yang dipakai dan dipertahankan di sini adalah sudut pandang orang-pertama, dengan layar yang bersemut, suara yang berdesir, dan kamera goyang-goyang. Ada lima cerita lepas, yang salah satunya difungsikan sebagai perekat atau tubuh utama film ini. Yakni tentang sekumpulan pasukan S.W.A.T yang menyerbu markas sebuah cult. Di sana mereka menemukan banyak hal-hal mengerikan, termasuk empat video yang juga bakal kita tonton.

Cerita favoritku adalah Storm Drain karya Chloe Okuno. Seorang reporter dan kameramennya sedang meliput sebuah urban legend tentang makhluk setengah tikus setengah manusia yang hidup di gorong-gorong. Kita dibuat melihat aktivitas meliput mereka lewat kamera si kameramen. Konsep low-quality dan pov dimainkan dengan pintar di sini. Lingkungan gelap yang mereka lewati terasa semakin mencekam lewat pandangan mata kita yang terbatas. Horor itu akan benar-benar terasa ketika Okuno memperlihatkan sekelebatan makhluk di dalam sana. Untuk membuat kita tetap tertarik, Okuno membuat karakter-karakternya berbobot. Ada motivasi, dan nantinya ada hal yang menjadi ‘antagonis’ dari motivasi tersebut. Napas pendek segmen ini jadi terasa begitu berarti. Set up, pengungkapan, bahkan aftermath cerita tidak disampaikan terburu-buru. Sama sekali tidak ada niat dari segmen ini untuk membuat cerita menyusur tempat gelap yang semata untuk mengagetkan penonton. Kalian bisa melihat betapa respek dan fokus ke berceritanya si pembuat dari cara ia membuild up dan memberikan pay off kepada makhluk legenda yang dicari oleh karakternya. Segmen ini bahkan dilengkapi oleh klip-klip iklan ala 90an, yang menambah kesan real television footage.

Konsep sederhana dari video itu dijadikan lebih sederhana lagi oleh cerita The Silent Wake, garapan Simon Barrett. Di malam berbadai itu, acara pemakaman seorang pemuda misterius terpaksa ditangguhkan. Perempuan penyelenggara, terpaksa tetap menunggu di sana, kalo-kalo ada pelayat yang datang. Eksekusi konsep segmen ini pun dilakukan dengan luar biasa. Kita hanya melihat dari tiga kamera, dua statis yang terpasang di ruangan, dan satu kamera mobile yang dipegang oleh si perempuan. Perpindahan view dari ketiga itulah yang excellent. Tempo dan irama horor terbangun maksimal dari sana. Karena sebenarnya, cerita ini standar banget, bahkan elemen seramnya juga. Mati lampu, peti mati bergerak sendiri, ada suara-suara, wujud setan yang over-the-top bloody. Perpindahan sudut kamera dan cut-to-cutnya lah yang membuat cerita ‘jaga mayat’ ini bekerja efektif. Sebagai kontras dari cerita ini, ada Terror garapan Ryan Prows. Lebih banyak karakter. Ruang lebih luas. Dan bahkan ada ledakan. Sekelompok kulit putih rasis berkumpul, menyempurnakan rencana mereka yakni sebuah mengembangkan ‘senjata rahasia’ untuk memurnikan Amerika. Secara cerita, film Terror ini sebenarnya gak maksimal untuk cerita pendek. Ini terlihat dari ending yang terasa terburu-buru, tidak terasa berkembang dengan sempurna. Tapi paling tidak, segmen ini masih setia mengikuti konsep 90an dengan video low-quality dan bahkan adegan-adegan bego yang khas sekali seperti konten home video yang tidak profesional.

Ketiga film tersebut membangun konsep dan setia pada tema. Lalu datanglah The Subject karya anak bangsa. Aku gak tahu, but lol, Timo yang Safe Haven karyanya masihlah entry terbagus seantero franchise V/H/S/, seperti gak dapet memo di sini. Alih-alih bikin low-quality, dia malah bikin visual mentereng, kayak film digital biasa. Kayak film yang dibuat dengan kamera di masa sekarang, bukan 90an. Timo cuma nambah filter frame kamera dan catatan waktu 94 (dan kemudian editor film mati-matian menambah efek grain). Ceritanya yang mirip-mirip Hardcore Henry pun terasa futuristik.  Seorang ilmuwan gila menculik beberapa orang, dan mengubah mereka menjadi makhluk hibrid manusia-mesin. Kekacauan terjadi tatkala markas si ilmuwan digrebek polisi di bawah pimpinan Donny Alamsyah. Semua horor di tempat itupun lepas. Imajinasi dan ide cerita memang sungguhlah liar dan perfect untuk cerita horor, apalagi Timo di sini seperti mengajak kita berdialog soal semakin menyatu dengan teknologi tidak lantas membuat manusia kehilangan hati. Yang bagiku di sini, itu berarti film ini berargumen denganku soal film yang wah bisa juga punya hati kayak film-film yang sederhana. Masalahnya, film segmen ini tidak pernah menempatkan hati pada ceritanya. Melainkan sebuah spectacle yang luar biasa. Udah kayak aksi-aksi video game. Apalagi makhluk horor hibrid itu juga terlalu kinclong. Aku mengharapkan efek atau kostum yang grotesque, yang perpaduan manusia dan mesinnya itu bikin kita benar-benar mual ala makhluk Cronenberg. Tapi tidak. Timo membuat mereka terlalu ‘bersih’. Akting kaku dan  over-the-top sebenarnya juga dijumpai pada segmen atau cerita yang lain. Namun karena yang lain mempertahankan kesan video amatir nan jadul, akting tersebut jadi passable. Pada The Subject ini, sebaliknya, jadi malah mengganggu. Sebagai single story, aku bukannya tidak suka. Aku juga enjoy. Tapi sebagai bagian dari antologi dengan konsep tertentu, this entry just feels very out of place.

VHSTheSubject1-RT-1024x582-1 - Copy
Greatest shooter of all time, menembak lewat punggung kameramen

 

 

Entry terburuk, however, jatuh kepada segmen yang jadi tubuh utama film ini. Dan ini tidak mengherankan sih. Batu sandungan seri V/H/S selalu pada bagian segmen tubuh utama. Film ini pun kewalahan ketika harus mengikat segmen-segmen cerita yang saling tak berhubungan itu ke dalam satu film utuh. Cerita penyergapan oleh pasukan S.W.A.T itu berakhir gak jelas. Dan bahkan lebih ‘kempes’ ketimbang ending segmen Terror. Build up mayat-mayat mengenaskan (dengan bola mata tercungkil keluar) dan misteri berbagai boneka dan salib terbalik, tidak mendapat pay off sama sekali. Malah seperti diabaikan. Instead, kita malah mendapat penutup standar “oh ternyata si anu jahat”. Sambung-menyambung ceritanya pun terasa melompat-lompat. Inilah yang harus diperhatikan lagi oleh franchise ini untuk di kemudian hari. Mereka harus menemukan cara atau narasi yang lebih natural untuk menconvey konsep video-video yang sudah jadi ciri khas.

 

 

 

Untuk sebagian besar waktu aku menikmati menonton film ini. Tidak sejelek film ketiga franchise ini, walau juga bukan film yang benar-benar kuat. Aku benar-benar mengapresiasi konsep video low quality dan cerita sederhana tapi horor over-the-top dan berdarah-darah yang mereka usung. Menjadikannya kontras yang sangat menarik. Tapi memang, naturally, horor antologi seperti ini akan punya masalah balancing dan penyatuan, yang oleh film ini pun masih tetap tidak bisa tertuntaskan dengan maksimal.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for V/H/S/94

 

 

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian sekarang ini kita memang telah terlalu overproduce terhadap konten sehingga kehilangan elemen ‘real dan honest’ di dalamnya?

Share with us in the comments yaa

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

CANDYMAN Review

“We need to define gentrification as separate from the process of displacement”

 

Awalnya, Candyman diciptakan sebagai horor tentang mitos. Ia merupakan gabungan dari legenda-urban Bloody Mary (panggil namanya di depan cermin berulang kali!) dan The Hookman (pembunuh bertangan kait-tajam). Cerita original Candyman menyebut, sosok Candyman akan muncul di belakang siapapun yang menyebut namanya lima kali di depan cermin “Candyman.. Candyman.. Candyman.. Candyman.. (kalian sambung sendiri, aku ogah!)”, lalu mengoyak tubuh mereka dari ujung ke ujung.

Tentu saja film originalnya tersebut sukses menjadi cult-horror, namun bukan karena terbangun atas unsur mitos yang fun dan oleh kesadisan berdarah-darah semata, melainkan juga karena kengerian gagasan yang dibicarakan sebagai tema yang menyelimuti cerita. Candyman bicara terutama tentang ketimpangan sosial antara si hitam dan si putih. Bahasan yang – to no one surprise – masih relevan dan penting untuk dibicarakan di masa sekarang, nyaris tiga-puluh-tahun kemudian. Sutradara Nia DaCosta dan produser Jordan Peele jeli melihat ini. Mereka tahu horor ketimpangan sosial itu masih berlanjut meskipun keadaan seperti sudah dipoles untuk mengesankan perbaikan. Candyman 2021 mereka hadirkan dengan turut memoles mitos dan legenda dalam cerita franchise horor ini supaya lebih cocok untuk memuat problematika injustice yang dihadapi saat ini.

candyman2992287039
Nyanyi lagu Candyman Aqua saat cuci muka di depan cermin masuk itungan nge-summon Candyman gak ya? Duh, gawat….

 

 

Film ini dengan cueknya mengabaikan film-film Candyman terdahulu, kecuali film originalnya yang rilis tahun 1992. Cabrini-Green (kompleks apartemen ghetto alias hunian warga kulit-hitam di Chicago) yang jadi lokasi begitu banyak pembunuhan sadis terkait Candyman, sudah dibangun ulang, diremajakan. Kini jadi kompleks yang cukup elit untuk kalangan seniman. Sejarah kelamnya ikut terkubur. Sampai ketika Anthony McCoy (peran mimpiburuk bagi Yahya Abdul-Mateen II karena intens dan beragamnya horor yang harus ia lakoni), yang lagi berjuang mencari ide untuk installment seni di galeri mendatang, mendengar tentang legenda Candyman. Anthony tadinya hanya tertarik untuk menjadikan Candyman sebagai karya seninya, tapi riset-risetnya tentang itu justru menguak kembali mitos kelam di daerah tersebut. Yang berarti satu hal; Candyman juga ikut bangkit, dengan kesadisan yang sama untuk menempuh tujuan dan bentuk yang sedikit berbeda. 

Naskah film ini dikerjakan bareng oleh Peele, DeCosta, dan Win Rosenfield. Mereka mengambil cerita film pertama sebagai landasan, dan kemudian berhasil mengikatkan cerita asli tersebut ke dalam naratif yang mereka kembangkan. Meskipun ada sedikit yang berubah, atau mungkin tepatnya disesuaikan untuk fit pada narasi yang mereka bikin, tapi film ini tetap menghormati apa yang sudah dilandaskan. Kejadian di film pertama jadi urban-legend baru pada dunia film kedua ini. Karakter-karakternya jadi sosok legenda. Malahan, ada karakter yang sama dimunculkan kembali; ada karakter yang di film pertama masih bayi, di sini akan dijumpai sebagai karakter yang berperan dalam cerita. Untuk karakter utamanya sendiri, si Anthony, well.. Pada review Fear Street Trilogy (2021) sebelum ini, aku sudah menekankan betapa pentingnya bagi cerita untuk mengeset kepentingan tokoh utama yang membuat dia pantas untuk berada di dalam cerita. Horor di dalam cerita harus benar-benar berkenaan, kalo tidak personal, bagi dirinya. Film Candyman terbaru ini tidak punya masalah dalam hal tersebut. Karena Anthony betul-betul digarap sebagai titik sentral. Kita bisa bilang horor film ini berputar di sekelilingnya. Tadinya aku SangChi — eh itumah film Marvel… tadinya aku sangsi karena Anthony ‘hanya’ baru saja mendengar urban-legend Candyman dari karakter lain. Tapi ternyata film berhasil memberikan Anthony purpose dan andil dan keterikatan yang kuat. Bukan saja baginya ini personal karena dia telah memilih Candyman untuk dijadikan proyek seni, tapi juga karena semua itu diungkap berkaitan dengan masa lalu Anthony. Kejadian di film ini jadi sungguh-sungguh berarti baginya, yang membuat kita jadi peduli dan jadi berarti juga bagi kita.

Mitologinya terkait banget, namun juga tidak benar-benar perlu untuk menonton film pertamanya bagi penonton yang belum pernah menyaksikan. Karena film ini sudah menyiapkan beberapa bagian eksposisi yang menuturkan apa yang terjadi sebelumnya. Dan penjelasan itu dilakukan dengan kreatif. Dari segi visual, film menceritakan itu lewat gaya animasi seperti wayang (alias berupa boneka bayangan). Lalu dari segi ceritanya sendiri, film melakukannya dengan variasi, seperti pertama-tama diceritakan sesuai dengan bagaimana kejadian tersebut dipandang oleh masyarakat kulit-hitam sekarang, lalu baru kemudian diceritakan bagaimana kejadian itu sebenarnya terjadi. Jadinya, walaupun cukup banyak eksposisi, tapi tidak terasa membosankan. Karena memang dari segi gaya, film ini melakukan perombakan yang bahkan mencuat di antara genre horor itu sendiri. Like, ada adegan pembunuhan yang dilakukan sembari film ngezoom out – selagi kita dibuat menjauh dari ruangan tempat pembunuhan itu berlangsung. Kita dibiarkan menyipitkan mata berusaha melihat apa yang terjadi. Dan ini menambah misteri dari sosok Candyman itu sendiri. Sosok yang dalam film ini ditampilkan beraksi lewat pantulan-pantulan di cermin. Pembunuhan di galeri seni jadi terasa benar-benar berkreasi saat film hanya membiarkan Candyman bisa kita lihat lewat cermin.

Indikasinya tentu saja adalah bahwa Candyman dipersembahkan sebagai refleksi dari situasi ketimpangan itu sendiri. Anthony melihat dirinya menjadi Candyman di cermin, Anthony mengerang ketika sengatan lebah di tangannya menyebar, membentuk kulit bolong-bolong kayak sarang lebah. Body horor seperti demikian juga merupakan cerminan yang memperkuat gagasan film ini tentang si Candyman. “He’s not a man” Melainkan situasi atau sesuatu yang dirasakan yang terpersonifikasi menjadi makhluk horor. Anthony menjadi Candyman berarti Anthony perlahan mulai merasakan situasi tersebut, perlahan paham bahwa dia perlu mengambil tindakan atas situasi tersebut.

candymanc3MjljZGI3MGQzXkEyXkFqcGdeQXVyMTE4Nzk0MzE4._V1_
Tadinya aku kira sedang nonton versi bajakan karena credit pembuka film ini diberi font terbalik atau mirrored.

 

Sekarang saatnya kita berjingkat memasuki ranah spoiler. Apa sebenarnya makna dari Candyman. Bagaimana film mengembangkan mitologi Candyman dari film pertama menjadi bentukan yang sekarang, menjadi sosok horor yang membawa semangat keadilan bagi masalah ras.

Dalam film pertama, Candyman adalah entitas – atau katakanlah hantu – yang hidup sebagai mitos. Aslinya dia adalah anak seorang budak yang disiksa sampai mati karena ketahuan jatuh cinta sama wanita kulit putih. Candyman bangkit untuk memastikan cerita ketimpangan yang ia alami terus tersampaikan. Dia kembali setiap kali ada orang yang menganggapnya tidak nyata, dan bermain-main dengan ‘mantra pemanggilannya’. Rekam jejak nasib naas orang kulit hitam tetap hidup selama mitos Candyman hidup. Sesuai dengan yang diperlihatkan film baru ini, setiap kali ada korban ketimpangan, mereka akan berubah menjadi versi berikutnya dari Candyman. Namun, keberadaan Candyman mengalami peyorasi. Di opening film diperlihatkan ada orang hitam yang dikeroyok oleh polisi kulit putih karena dia dituduh sebagai pelaku yang mencelakai anak-anak lewat permen berisi silet. Si orang tadi mati dan menjadi Candyman, tapi orang-orang malah mengingatnya bukan sebagai korban hakim polisi, melainkan dari sesuatu yang tidak ia lakukan. Inilah yang jadi motivasi dalang dalam cerita film baru ini. Dia ingin mengembalikan Candyman kepada ‘fungsi’ terdahulu. Karena si dalang tahu yang sebenarnya terjadi pada si Candyman terakhir. Bahwa ini masih masalah kulit putih menghakimi kulit hitam hanya karena warna kulit yang berbeda. Sistem, tidak peduli sudah dipercantik, tetap busuk seperti demikian di dalamnya. Jadi sekarang si dalang, menggunakan Anthony yang membangkitkan Candyman, berusaha menciptakan Candyman baru untuk tujuan tersebut. Memberantas racial injustice yang merayap di balik kemajuan zaman, di balik gentrifikasi tempat tinggal mereka.

Bangunan bisa direnovasi. Brand bisa di-rebrand. Reputasi bisa diperbaiki. Bahkan sejarah bisa ditulis ulang. Orang-orang bisa lupa akan kejadiannya yang sebenarnya jika tidak ada yang namanya legenda. Peristiwa yang turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut. Film Candyman memperlihatkan bahwa legenda itulah yang seharusnya tidak boleh hilang. Karena sebelum mereka dikesampingkan menjadi mitos, mereka memuat yang paling dekat yang kita sebut sebagai kebenaran. Dan dalam sistem yang timpang, yang memandang ras satu lebih mulia atau lebih nestapa, sedang terjadi ‘gentrifikasi’ untuk menutupinya. Candyman, di film ini telah berubah menjasi sosok pelindung, sosok yang memastikan bahwa permasalahan racial injustice masih ada – di mana-mana.

 

Jadi, ya, film yang disebut sebagai ‘spiritual sequel’ ini lebih fokus pada satu gagasan. Tidak seperti film originalnya yang hanya menjadikan Candyman sebagai sosok mitos yang pengen eksistensinya selalu dibicarakan orang, dijadikan “writing on the wall”. Candyman yang baru ini mengaitkan mitos tersebut lebih jauh, mencerminkannya dengan realita sehingga film ini bisa lebih berbobot untuk jadi sesuatu yang dipikirkan. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, film baru ini malah jadi terasa kurang kompleks. Jangkauan film pertama ternyata lebih luas. Selain tentang ras, film itu juga bicara tentang dinamika gender dan kelas. Dan tentang rasnya itu sendiri, film tersebut lebih… apa ya, mungkin lebih balance tapi kurang tepat juga. Begini, pada film pertama Candyman menyerang siapapun yang mengucapkan namanya lima kali. In fact, Candyman khusus tampil di Cabrini-Green, kepada sesama kulit hitam. Dia jadi momok di sana. Candyman tidak peduli menumpahkan darah tak-bersalah. Film pertama itu berakhir dengan protagonis kulit putih yang balik mendapat prejudice sebagai black-hater, dan kemudian dia mendapat respek kembali dari komunitas minoritas tersebut. Bahkan diperlihatkan cewek yang bukan kulit hitam bisa juga kok jadi Candyman. Film itu terasa ‘whole’. Sedangkan pada film baru ini, Candyman hanya menyerang kulit putih. Candyman kini punya agenda untuk menegakkan keadilan. Dia tidak lagi membunuhi semua orang yang ada di ruangan (ada beberapa kali adegan Candyman tidak menyentuh orang kulit hitam yang ada saat dia beraksi)

Tentu, masalah polisi rasis, dan timpang ras secara umum adalah masalah serius yang perlu mendapat concern, dan kita semua perlu aware demi dunia yang lebih baik. Tapi dalam konteks conversations sebagai muatan film, Candyman baru ini terasa lebih sempit. Percakapannya terbatas jika dibandingkan Candyman original yang observasinya dari dua sisi. Film ini terlalu berusaha memberikan arti kepada sosok Candyman – bahwa dia harus melambangkan suatu gerakan atau agenda – sehingga bahkan elemen-elemen karakter lain jadi kurang mendapat porsi. Padahal karakter pacar Anthony punya backstory yang menarik; tentang hubungannya dengan adik, dengan ayahnya, juga soal pekerjaan dan perspektifnya sendiri. Menjelang akhir, memang ada seperti pergantian karakter utama – dari Anthony ke pacarnya ini, dan film kurang mulus pada transisi ini karena baik si pacar maupun Anthony selama durasi adalah nomor dua (dan tiga). Nomor satunya tetap bahasan Candyman. Dan itu kayak beating the dead horse, kita paham filmnya udah set Candyman sebagai penghukum orang putih yang cenderung rasis, jadi kenapa tidak expand the conversations a little more.

 

 

 

Bicara soal gentrifikasi, film ini sendiri juga melakukan perbaikan dalam beberapa hal yang ada pada film originalnya. Kesadisan masih tetap ada, tapi kali ini, nuansa film terlihat mewah dan stylish dengan gaya-gaya bercerita (bahkan gaya-gaya saat adegan pembunuhan) yang membuat film ini mencuat dari jenis horor pembunuh-hantu yang biasa. Ceritanya berhasil menyambungkan dengan film pertama sebagai landasan. Tapi juga dengan beberapa penyesuaian. Mitologi sosok ikoniknya juga diperbaiki sedikit, supaya sesuai dengan narasi yang diagendakan. Film ini punya gagasan, dan fokusnya pada gagasan tersebut membuat film sedikit terlalu banyak berusaha memberikan makna kepada sosok itu. Sehingga bahasannya jadi terbatas. Tidak sekompleks film originalnya.
The Palace of Wisdom gives 5.5 out of 10 gold stars for CANDYMAN.

 

 

 

 

That’s all we have for now

Bagaimana pendapat kalian tentang perubahan Candyman seperti yang digambarkan pada film ini? Film Candyman mana yang lebih kalian sukai?

Share with us in the comments yaa

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

 

THE SUICIDE SQUAD Review

“Everyone in life has a purpose”

 

The Suicide Squad dibuka dengan sebuah swerve. Dan kemudian untuk menit-menit seterusnya, hingga durasi kelar, sutradara dan penulis naskah James Gunn benar-benar mendedikasikan seluruh urat bersenang-senang dan denyut kreatif yang ada dalam hati dan kepalanya untuk menjadikan film serupa wujud dari karakter-karakter di dalam ceritanya, yang bukan orang baik-baik. Karakter-karakter yang beberapa di antaranya bahkan gak cukup baik sebagai kriminal super. Tapi justru itulah poinnya. Film ini, juga bukan film baik-baik. Namun dengan mengembrace sisi ‘bad’ tersebut, Gunn berhasil mengerahkan ‘pasukannya’ ini untuk menyelesaikan misi yakni menghibur kita, para penontonnya, dengan aksi dan komedi yang benar-benar super.

Not-so-direct-sequel ini adalah kelanjutan cerita dari proyek kelompok rahasia ‘korbanin napi untuk membereskan kerjaan kotormu’ yang digagas oleh officer Amanda Waller (Mata bulat penuh rahasia Viola Davis kembali menghidupkan karakter ini). Kali ini dia punya tugas baru untuk para napi-super di dalam tahanan. Menghentikan Proyek Starfish yang misterius di Pulau Corto Maltese yang penuh oleh tentara musuh. Bloodsport (Idris Elba menggantikan Will Smith’s Deadshot) ditunjuk sebagai pemimpin – dari kelompok penjahatsuper yang aneh-aneh. Demi sang anak, Bloodsport yang mematikan dan cukup handal – dia dipenjarakan karena menembak Superman dengan peluru kryptonite – harus rela digabungin ama hewan yang ia benci, yakni tikus. Sebab tikus-tikus itu adalah ‘senjata andalan’ rekan setimnya, Ratcatcher 2 (karakter Daniela Melchior ini bersalah atas mencuri hati kita!) Supervillain lain yang dipaksakan kepada Bloodsport untuk rekan tim adalah Peacemaker (John Cena bilang karakternya adalah Captain America versi douchebag), seorang pria bersenjata polka dot (jangan ngetawain Polka-Dot Man yang dimainkan David Dasmaltchian dengan aneh-tapi-charming kayak Neil di serial komedi Inggris The Inbetweeners), dan seoran-ehm, seekor makhluk setengah hiu yang kekuatannya berupa nafsu untuk memangsa manusia (disuarakan oleh Sylvester Stallone). Oh ya, Harley Quinn yang udah semakin luwes oleh Margot Robbie juga akan bergabung bersama mereka di tengah misi, membawa lebih banyak chaos dan warna-warni.

Tim orang-orang gak beres tersebut harus patuh sama perintah Waller yang bisa meledakkan kepala mereka kapan saja dari jauh. Tapi kemudian pemahaman mereka ditantang oleh kenyataan yang mereka temukan tentang Proyek Starfish yang super fishy. Bloodsport dan rekan-rekan harus memilih apakah mereka memang orang jahat tak-berguna atau mereka bisa jadi pahlawan.

suicidemaxresdefault
Aku akan bilang kepada anak-anakku kelak, bahwa ini adalah geng Jackass

 

Tapi bukan tim Bloodsport-lah yang kita lihat pertama kali. Inilah swerve yang aku maksud di pembuka tadi. Demi pembuka yang gak boring kayak Suicide Squad tahun 2016, Gunn siap untuk melanggar banyak aturan. Gunn totally memperlihatkan kita karakter lain, membentuknya seolah itulah karakter utama, membuat dia tergabung ke dalam tim penjahat super yang kocak dan absurd, dan lantas meledakkan mereka semua begitu saja. Darah mereka dipakai untuk membentuk ejaan judul. Aku tahu, sebenarnya normal sebuah film punya sekuen prolog seperti demikian. Seperti Scream yang memperlihatkan aktor muda yang lagi naik daun kayak Drew Barrymore di awal, yang kemudian ternyata hanya untuk membunuhnya sebagai pengantar. Di The Suicide Squad ini, Gunn berniat untuk menyambut kita dengan gemilang. Langsung ke pusat chaos, absurd, dan stake bahwa karakter-karakternya di sini bukanlah tipikal protagonis film superhero yang biasa – mereka semua either adalah orang jago tapi jahat, atau orang jahat tapi bego, dan mereka semua bisa mati tanpa terkecuali. Gunn tahu sebenarnya dia cukup dengan memperlihatkan kegagalan tim pertama, tapi Gunn tidak gentar untuk melangkah lebih jauh. Insting kreatifnya membuat dia mengambil keputusan untuk menjadikan film ini juga ‘jahat’ – gak peduli sama aturan. Jadi Gunn lanjut dengan menanamkan kecohan ‘karakter utamanya ternyata bukan dia’ tersebut. Kecohan yang efektif dan menghibur, walaupun memang jika dipandang lewat lensa penulisan itu bukanlah hal yang benar.

Dan setelah pembuka itu, instantly aku tahu sedang berurusan dengan apa. Sebuah film aksi komedi yang bakalan ‘susah’ untuk dinilai. Di opening tersebut Gunn telah sukses memberi isyarat dan melandaskan kehebohan seperti apa yang ia incar. Film ini akan gagal jika Gunn tidak berhasil mengfollow up opening tersebut dengan semakin banyak dan semakin gila lagi aksi dan semua-semuanya. Yang juga berarti bahwa keberhasilan film ini ditentukan dengan seberapa banyak lagi Gunn berani untuk melakukan hal-hal yang ‘gak bener’ dalam bangunan filmnya. Jadi, dengan memahami itu semua, aku bertanya pada diri sendiri. Apakah aku akan menilai film ini hanya dengan sebagai hiburan, atau menilainya dari seberapa banyak kesalahan yang sengaja diambil. Kreativitas yang ditonjolkan oleh Gunn, alih-alih usaha untuk menjaga film tetap stay di jalur kebenaran, memberiku pilihan ketiga. Menilai film ini dari kreasi yang dilakukan Gunn dalam mengolah hal-hal ‘gak bener’ yang harus ia lakukan dalam bangunan filmnya.

Cerita dengan karakter sebanyak ini cenderung untuk memerangkap sutradara ke dalam momen-momen pengembangan karakter yang gak imbang, ataupun dilakukan dengan tampak terpaksa; menyelipkan adegan-adegan ngobrol di antara aksi-aksi. Yang kaitannya dengan eksposisi. Film itu akan tampak terbagi oleh aksi dan penjelasan yang boring. Gunn melempar begitu saja karakter-karakternya kepada kita. Mengutamakan untuk memperlihatkan langsung apa yang karakter-karakter itu lakukan daripada lebih banyak menjelaskan origin. Dialog-dialog set up film ini cepat, sambar menyambar. Visualnya dibikin unik, mencolok dan berwarna bukan hanya untuk pamer, melainkan sebagai penguat karakter itu sendiri. Ketika momen-momen lambat itu betul-betul diperlukan, Gunn juga gak sekadar memberitahu kita, atau juga tidak sekadar flashback. Dia melakukannya lewat visual unik juga. Dia menggunakan jendela bus sebagai ‘jendela’ untuk melihat ke masa lalu karakter yang sedang diceritakan. Dia bahkan memindahkan sudut pandang, membuat kita masuk ke pandangan certain character supaya kita bisa langsung merasakan keanehan dirinya yang kocak (I love the ‘mom jokes’ di film ini!). Dengan membiarkan kita melihat sekaligus mendengar tentang mereka; mengexperience mereka, maka karakter-karakter dalam film ini bisa dengan mudah terkenang. Akan susah bagi kita untuk memilih siapa favorit, karena masing-masing mereka ternyata sudah kita pedulikan. Mereka bukan hanya komentar-komentar lucu, bukan hanya aksi-aksi keren. Mereka gabungan keduanya.

Adegan-adegan aksinya tentu saja sangat kreatif juga. Gunn tidak perlu khawatir menampilkan aksi yang impossible ataupun aksi yang klise kayak gedung runtuh, karena dia sudah berhasil melandaskan karakter dan dunia tersebut. Semua karakter berhasil dicuatkan pesonanya, dan itulah yang digunakan untuk memperkuat adegan-adegan berantem mereka. Salah satu hal keren yang dilakukan oleh film adalah memperlihatkan adegan berantem lewat pantulan helm. Aku sudah pernah melihat yang seperti ini di opening game Resident Evil 3 di PS satu; saat zombie bikin kacau kota diperlihatkan lewat pantulan di kaca helm polisi. Tapi aku belum pernah lihat adegan berantem yang bekerja efektif dari pantulan semacam itu di film sebelumnya. Satu lagi hal penting yang dimengerti oleh film ini adalah timing. Baik itu timing delivery dialog komedi maupun timing visual komedinya. Walaupun fast-paced dan kadang ceritanya balik bentar ke beberapa menit sebelumnya, karena banyak sekali karakter dan kejadian, film ini selalu tahu kapan harus ‘mengerem’. Kita tidak pernah dibiarkan bingung mengikuti ceritanya. Tulisan-tulisan konyol (dan keren) sebagai penanda bab/misi akan sering kita jumpai menuntun kita. Ini juga menghadirkan feels kayak sedang baca komik. Saat ceritanya balik sebentar pun akhirnya tidak terasa sebagai jeda atau sesuatu yang redundant, melainkan kita malah senang karena terasa seperti waktu tambahan untuk menyimak aksi karakter.

suicidesmaxresdefault
John Cena kabarnya di peran ini menggantikan Dave Bautista; rivalnya dalam storyline gulat

 

 

Ngomong-ngomong soal dunia gulat, aku selalu kepikiran Marvel dan DC ini kayak WWE dan AEW. Yang satu produk yang lebih ke hiburan keluarga, sementara satunya lebih mengincar ke penonton yang remaja/dewasa. Perbandingan itu semakin kentara melihat kerja Gunn di film ini. Gunn tadinya menyutradarai film Marvel, lalu dipecat, dan pindah bikin DC. Dan dia membuat film yang jauh lebih edgy di DC. Ini kan sama banget kayak superstar ex WWE yang dipecat, kemudian masuk ke AEW, dan merasa bebas, secara kreatif, untuk bermain dalam match yang lebih ‘brutal’. Gunn membuat The Suicide Squad penuh oleh aksi-aksi yang fun, as in penuh darah dan potongan tubuh yang melayang ke sana ke mari. King Shark makan orang aja ditampilin gak malu-malu. Afterall, karakter-karakter itu toh memang orang jahat. Kalo Suicide Squad pertama hanya mengingatkan kita lewat dialog yang setiap beberapa menit sekali menyebut “we are bad guy”, maka film kedua ini just having fun dengan karakter-karakter tersebut. Malah ada adegan tim Bloodsport membunuhi orang-orang tak bersalah, dan later mereka cuma salting dan bercanda gak mau mengakui perbuatannya. Dan maaan, sebagai penonton gulat yang sudah lama meminta John Cena untuk kembali jadi karakter jahat; film ini somehow terasa refreshing. Cena hillarious jadi karakter yang menjunjung perdamaian, tapi gak peduli siapa korban yang harus ia akibatkan demi perdamaian itu tercapai. Mungkin inilah yang terdekat yang bisa kita dapat kalo Cena masuk ke AEW?

Sepertinya karena itulah film ini jadi ngena. Karakter-karakternya terasa dalem. Ratcatcher 2 definitely favorit dan jadi hati di film ini. Pilihan yang para karakter buat setelah mengetahui kenyataan sebenarnya jadi terasa lebih bermuatan. Dan sebagai bigger picture, film ini memberikan kita sesuatu untuk dipikirkan. Cerita-cerita superhero DC dibuat dark dan gritty, kita butuh untuk melihat pahlawan dalam keadaan terbawah mereka, untuk menunjukkan perjuangan dan pengorbanan yang mereka lakukan. Sebaliknya, cerita penjahat seperti The Suicide Squad ini justru paling tepat ternyata dibuat konyol dan menghibur, meskipun tujuan arcnya juga sama; untuk melihat apa yang mereka perjuangkan. Jadi kenapa formulanya seperti itu? Apakah itu merefleksikan kalo baik itu boring, dan jahat lebih fun? Apakah membuatnya lebih ringan membuat kita jadi lebih mudah untuk mendekatkan diri melihat kenapa seseorang menjadi jahat?

Share pendapat kalian di komen yaa

 

Yang dilakukan film ini tidak lain hanya memperlihatkan bahwa orang-orang rendahan seperti para kriminal tersebut – yang bahkan beberapa gak kuat-kuat amat – sebenarnya juga punya kegunaan. Seperti juga ‘kesalahan-kesalahan’ yang ada pada film sebenarnya punya purpose.

 

 

 

 

Embracing bad side tidak hanya dilakukan oleh karakter-karakternya, tapi juga dilakukan untuk membentuk film ini. Namun film ini bukanlah proyek bunuh diri. Film ini melakukan hal yang gak benar, dan kemudian berkreasi dari hal tersebut. Dan dia menjadi sajian yang menghibur dan seru dan sangat asik karenanya. Kita dapat action, blood, lovable karakter, dan begitu banyak momen-momen memorable. Aturan dibuat untuk dilanggar. James Gunn melakukannya dengan passionate, mengerahkan kreasi terbaik yang ia mampu dari sana. Ia mencapai yang terbaik, meskipun naskah yang all-over-the-place, karakter yang gak dalem-dalem amat, dan struktur yang bolak-balik. Aku gak akan bandingin ini lebih lanjut sama film yang pertama, karena perbedaannya cukup jauh. Gak perlu tanya malaikat untuk tau siapa juaranya. Ini actually feels like a movie. Pembuatnya peduli sama cerita. Peduli sama karakter. Dan peduli sama kreasi.
The Palace of Wisdom gives 7.5 out of 10 gold stars for THE SUICIDE SQUAD.

 

 

 

That’s all we have for now

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA