THE LOST DAUGHTER Review

“There’s no way to be a perfect mother and a million ways to be a good one.”

 

Yang namanya ibu tidak akan meninggalkan anak yang telah susah-susah mereka lahirin ke dunia. Natural bagi seorang ibu untuk selalu berusaha menjaga dan merawat anaknya. Ketika kau menjadi seorang ibu, kau akan rela mendahulukan kepentingan anakmu di atas segalanya, termasuk sesuatu untuk dirimu sendiri. Maka dari itulah, sesekali akan ada masanya bagi seorang ibu merindukan waktu-waktu mereka bisa melakukan hal untuk diri sendiri, merindukan kebebasan dan kesempatan untuk mengejar – dan hanya mengejar – keinginan sendiri. Me-time akan sangat berharga bagi ibu; momen ketika mereka enggak harus mikirin tanggungjawab kepada anak. Ibu harusnya gak boleh merasa malu atau merasa bukan ibu yang baik dengan menginginkan waktu me-time tersebut. 

Paragraf tersebut, bukanlah kata-kataku. Aku cowok, aku gak akan pernah bisa benar-benar tahu apa yang dialami. yang dirasakan, atau yang diinginkan oleh seorang ibu. Ulasan ini bukanlah tulisan yang berisi pendapatku – seorang cowok – yang ngajarin bagaimana harusnya cewek menjadi seorang ibu. Melainkan pendapatku soal apa yang sedang berusaha dikatakan oleh Maggie Gyllenhaal ketika dia mengadaptasi novel karya Elena Ferrante menjadi debut penyutradaraan film-panjang pertamanya. Karena film The Lost Daughter memang diceritakannya dengan cara yang membuat penonton geleng-geleng sambil garuk-garuk kepala. Kinda susah dipahami arahnya ke mana, susah merasa simpati kepada karakter utamanya. Namun kita juga akan gampang merasakan ada kesedihan mendalam di balik cerita. And no doubt, film ini bakal bikin kita menemukan rasa hormat yang lebih gede kepada seorang ibu. Hampir seperti perasaan takut, malah. Takut mereka memilih menjadi seperti Leda, sang karakter utama cerita.

Leda bilang dia punya dua orang anak. Bianca dan Martha. Usia anak-anaknya itu kini sudah 25 dan 23 tahun. Tapi begitu ditanya lebih lanjut tentang mereka, Leda gak bakal menjawab. Dia malah bakalan seperti break-down, dan lantas pergi meninggalkan penanya kebingungan di tempat. Sekilas, profesor literatur itu memang seperti orang yang gak ingin diganggu. Tidak nyaman beramah tamah dengan orang lain. Leda liburan ke pantai Yunani, bermaksud menyelesaikan tulisannya sambil rileks. Tapi pantai itu ternyata ramai, oleh acara dari keluarga besar yang sepertinya berpengaruh di sana. Konsentrasi Leda lantas hinggap kepada seorang ibu muda bersama anak perempuan kecilnya. Leda terus menatap mereka, matanya menerawang, dan kita akan terflashback ke masa muda Leda merawat dua orang anak yang juga sama bocahnya. Leda pun menemukan dirinya semakin terinvolved kepada ibu muda dan anak itu, ketika boneka si anak hilang. Dan ternyata ada di dalam tas Leda.

daughtere1640644060913
Apakah boneka tersebut ada spiritnya?

 

Kasarnya, this is one complicated bitch. Karena Leda ini adalah yang pribadi yang, bukan exactly tertutup – karena di momen pribadinya kita akan digambarkan perihal yang ia rasa lewat adegan-adegan masa lalu, melainkan lebih tepatnya ya yang ribet untuk alasan yang gak jelas. Kita gak tahu kenapa Leda melakukan apa yang ia lakukan. Namun itu bukan karena dianya yang enjoy at being difficult dan kasar dan gak sensitif sama orang. Bahkan dirinya sendiri enggak tahu kenapa dia melakukan hal yang ia lakukan. Mencuri boneka anak kecil itu misalnya. Leda tidak dapat menjelaskan kenapa dia melakukan itu. Arahan Maggie membuat hampir seperti Leda meminta tolong kita untuk menjelaskan apa yang salah kepadanya. Karena memang ada sebagian diri Leda yang, katakanlah, begitu egois. In that sense, kita bisa bilang Leda ini adalah protagonis sekaligus antagonis dalam ceritanya sendiri. Inilah yang membuat kita akhirnya betah duduk mengawali journey-karakternya selama dua jam. Tabah menahan karakternya yang penuh cela, bahkan sebagai narator saja dia agak susah dipercaya. Sebab deep inside, kita konek kepadanya sebagai manusia yang tak sempurna. 

Ini juga jadi bukti betapa luar biasanya akting Olivia Colman yang jadi Leda di kurun sekarang, Leda yang sudah 48 tahun dan memikul segitu banyak beban, dan penyesalan, meskipun dia percaya dia berhak melakukan pilihan yang ia lakukan di masa muda. Menyambung karakter yang awalnya dihidupkan dengan tak kalah meyakinkan dan penuh konflik oleh Jessie Buckley, yang jadi Leda muda. Yang ultimately tentu saja merupakan bukti betapa Bu Sutradara punya mata yang personal menggambarkan kecamuk perasaan dan emosi seorang perempuan yang menempuh motherhood. Maggie tidak pernah bercerita dengan statement. Dia tidak pernah menggambarkan perasaan itu dengan utuh. Tidak pernah memberikan jawaban atas ‘misteri’ karakter. Karena itu akan membuat ceritanya menjadi ngejudge perihal perbuatan Leda. Film ini bukan hadir untuk ngejudge. Maggie ‘hanya’ memperlihatkan kepada kita betapa mengukung dan bikin capeknya tanggung jawab menjadi seorang ibu. 

Kalian tahu potret ibu dalam keluarga utuh yang sempurna? Ibu bagai matahari, cintanya tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali? The Lost Daughter bilang itu adalah kondisi yang terlalu ideal, mustahil tercapai. Karena ibu juga manusia. Jadi, film ini hadir sebagai antitesis dari ibu sempurna tersebut. Antitesis yang menyebut bahwa meskipun ibu tidak mungkin sempurna, seorang ibu punya banyak pilihan untuk menjadi ibu yang baik. Dan Leda, kita akan lihat akhirnya memilih menjadi ibu-tak sempurna, ibu yang benar-benar manusiawi, yang seperti apa.

 

Jujur, selama ini aku memang kesal sama cerita yang tokoh ibunya merasa pantas diri mereka mendapat me-time. Atau bahkan lebih dari itu, kayak, ibu yang merasa berhak untuk ninggalin anak karena sebagai manusia mereka juga punya mimpi yang harus dikejar. Kehadiran anak yang biasanya diceritakan produk dari ‘kecelakaan’ atau tidak suka sama suka, dianggap sebagai penghambat. Cerita kayak Dara di Dua Garis Biru (2019) atau ibunya si Ali di Ali & Ratu Ratu Queens (2021), aku ujungnya hanya melihat mereka sebagai orang yang selfish. Karena memang film-filmnya pun tidak mengeksplorasi lebih dari sekadar bahwa sosok ibu adalah manusia first, yang punya keinginan, dan yang mau dimanusiakaan. The Lost Daughter ini beda. Maggie menggali lebih lanjut. Dia tahu satu-satunya cara untuk menggali ke dalam itu adalah dengan menaikkan volume seekstrim mungkin. Makanya film ini akan terasa sangat tanpa ampun. Meninggalkan kesan yang juga jauh lebih dalam.

daughterl-intro-1634594864
Lebih dalam dari sekadar nonton Olivia Colman berakting jadi ibu-ibu nyebelin

 

Alih-alih statement gamblang, Maggie menghidupkan adegan-adegannya dengan simbol, situasi yang kontras oleh kiasan. Yang membuat film ini jadi semakin dalam dan penuh makna. Pada awalnya, Leda memang tampak seperti turis yang menikmati liburannya di pantai. Tapi buah-buahan yang disediakan di kamarnya yang luas itu, busuk. Malam hari, jangkrik masuk. Lampu mercusuar bikin Leda harus menutupi mukanya dengan bantal. Pantai yang sepi ternyata ramai. Bioskop, ternyata penontonnya berisik. Tempat itu seperti menyerang Leda. Lagi jalan aja dia bisa terluka kejatuhan buah pinus. Belum lagi pandangan dari keluarga besar yang sepertinya keluarga mafia, keluarga yang sempat ribut dengan Leda, keluarga yang boneka anaknya dicuri oleh Leda. Keadaan Leda yang sekarang seperti menunjukkan bahwa tidak ada yang sempurna. Bahwa mimpi kita akan keadaan senyaman liburan pun pada akhirnya akan dibenturkan dengan kenyataan yang seringkali pahit. Dan kita ya harus dealt with it

Semua itu tidak terlihat oleh Leda. Karena dia begitu fokus mengejar passion, mengisi hidupnya dengan hal-hal yang telah terenggut setelah punya anak. Leda muda memperlihatkan bagaimana dia akhirnya sampai kepada keputusan, dia mulai merasa bebas, dan keadaan Leda yang sekarang adalah kontras yang memeriksa dia yang sudah mendapat yang ia mau, tapi kenapa dia tidak tampak begitu bahagia. Leda merindukan anak-anaknya. Leda sendirian. Leda gak enjoy di situ. Notice judul film ini tunggal (daughter alih-alih daughters) padahal anak Leda dua orang, dan bahwa anak kecil yang sempat ilang juga gak lama kemudian ketemu? Judul sebenarnya merujuk kepada Leda. Dialah anak hilang yang dimaksud oleh cerita. Hilang karena tidak bisa memastikan di mana tempatnya berada. Leda adalah ibu, dia mau jadi ibu, tapi tak mau memikul tanggungjawab sebagai ibu.

Makanya dia mencuri boneka itu. Dari sudut pandangnya, kita paham bahwa Leda menganggap boneka sebagai ganti anak. Dia ingin merawat dan membersihkan boneka yang udah dicorat-coret dan penuh air itu. Dia ingin merasakan kembali jadi ibu dengan merawat anak. Dan boneka adalah anak yang tepat untuk Leda karena merawat boneka tidak perlu tanggungjawab yang besar. Leda bisa menyayangi boneka kapan dia bisa saja, saat senggang aja, saat dia gak capek dan gak banyak kerjaan. Sementara dari yang kita lihat, sebagai inner-needs dari Leda yang tak kunjung ia sadari, boneka itu adalah kesempatan kedua baginya. Dia butuh untuk menyelamatkan boneka itu karena si ibu muda dan anaknya telah membuat Leda teringat kepada dirinya dengan anaknya waktu masih kecil; anaknya yang telah mencorat-coret boneka yang ia berikan, boneka yang harusnya dirawat karena boneka adalah mainan yang mengajarkan tanggung jawab menjadi seorang ibu sejak dini kepada anak perempuan. Leda muda membuang boneka yang telah dirusak yang mengawali gerahnya dia ngurus anak; Leda tidak ingin ibu dan anak kecil yang ia lihat di pantai mengalami masa depan yang sama dengan dirinya, dulu dan sekarang. Bahwa merawat boneka dan kemudian merusak atau meninggalkannya itu adalah hal yang ia lakukan dan diam-diam ia sesali.

Demikianlah kompleksnya karakter Leda. Dia paham pentingnya dan indahnya menjadi seorang ibu, tapi sekaligus juga dia tidak tahan dengan tanggungjawabnya. Ending film ini poetic sekali dalam menggambarkan hal tersebut. Leda yang terluka, terhuyung keluar dari mobil, pergi ke pantai. Terbaring di antara pasir dan pantai. Menunjukkan dia telah belajar, tapi tetap tidak mampu memilih. Matikah dia di akhir itu? Film membuat sangat ambigu. Tapi, at that point, aku udah kasihan sama Leda. Aku berharap dia meninggal saja, karena dengan begitu dia bisa lepas dengan benar-benar bahagia. 

 

Hiruk pikuk emosi paling manusiawi dari seorang ibu digambarkan dengan lantang oleh film ini. Bahasannya mengonfrontasi pemikiran, tapi tidak pernah diniatkan sebagai sesuatu yang judgmental. Sehingga pada akhirnya film ini akan membekas lama. Tragis dan ‘ngerinya’ walaupun benar-benar dibahas dari sudut pandang yang sangat personal, akan menguar kepada kita semua. Dan yea, film ini bakal membuat kita lebih menghargai pilihan perempuan menjadi seorang ibu. Perempuan menjadi sempurna dengan memiliki anak, tapi tidak ada yang namanya ibu yang sempurna. Film menunjukkan itu semua kepada kita, lewat perjalanan karakter yang juga dimainkan dengan luar biasa.
The Palace of Wisdom gives 8.5 out of 10 gold stars for THE LOST DAUGHTER.

 

 

That’s all we have for now

Apakah menurut kalian semua ibu punya perasaan yang sama dengan Leda? For boys: kira-kira apa yang bisa kita lakukan supaya ibu atau istri tidak sampai jadi seekstrim gambaran Leda?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

CAPONE Review

“… and guilt eats away at your sanity”
 

 
 
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Seberkuasanya -sepowerful apapun – bos mafia, suatu saat ia pasti akan menua dan ringkih dan jadi tak-berdaya jua. Al Capone, salah satu kriminal paling terkenal dalam sejarah, adalah salah satu bukti bahwa manusia tidak bakal ‘kuat’ selamanya. Drama biografi Capone, arahan sutradara Josh Trank, jadi rekaman seperti apa hari-hari terakhir sang kepala gangster selepas keluar dari penjara. Hari-hari terburuk, bahkan dalam seumur hidupnya yang penuh darah dan sengketa. Film ini akan memperlihatkan perjuangan Al Capone melawan dementia; perjuangan yang tak bisa ia menangkan.
Sungguh sebuah konsep yang menarik. Bukan sekadar tentang pensiunan yang berusaha menangkap kembali sisa-sisa glory. Bukan sekadar tentang orang tua yang mencicipi petualangan-muda untuk terakhir kali. Capone menawarkan kolam-baru untuk kita selami. Kita dibawa melihat sosok Al Capone dalam kondisinya yang paling rendah. Tinggal bersama keluarganya di rumah besar di Florida, Capone – yang dipanggil Fonse  – mulai kesusahan untuk mengingat berbagai hal, bahkan orang-orang di sekitarnya. Umur Fonse belum lagi lima-puluh, tapi dampak penyakit neurosyphillis yang bertahun-tahun ia derita membuat orang ini tampak sangat renta. Istrinya aja jadi kelihatan jauh lebih muda. Fonse bergerak tertatih, berbicara kayak zombie lagi menggerutu, dalam berdiam diripun ia menemukan masalah karena tidak lagi bisa mengendalikan pengeluaran; alias dia bisa muntah, ngompol, atau malah ngebom kapan dan di mana saja. Yang paling mengkhawatirkan adalah, Fonse mulai melihat halusinasi. Realita dan kenangannya melebur menjadi satu. Dia mulai melihat yang tidak orang lain lihat, dia mulai percaya pada hal yang nonexistent. Ini membawa bahaya bagi dia dan keluarga sebab Fonse menyebut dia menyimpan uang jutaan dolar di tempat yang tak mampu ia ingat, dan beberapa orang – termasuk polisi yang diam-diam mengawasinya – tidak ingin melewatkan kesempatan jika ternyata omongan Fonse tersebut benar adanya.

Dibacanya bukan “Fon-se'” loh ya

 
Jadi, ya, ini bukan tipikal film mafioso. Capone didesain supaya lebih humanis, maka itu berarti film ini dapat menjadi lebih kelam, depress, dan… menjijikkan. Film ini cukup bernyali, doesn’t want to be easy. Bagi Trank yang udah ‘sukses’ nge-tank Fantastic Four (2015), film ini boleh jadi proyek come-back atau penebusan diri. You know, Capone sejatinya ia jadikan pembuktian ia sedang kembali ke jalan yang benar. Film-film padet seperti ini, however, butuh untuk kuat dalam tiga hal supaya bener-bener jadi tontonan bergizi dan nikmat untuk dicerna. Pertama, segi ceritanya itu sendiri. Kedua, penampilan akting. Dan ketiga, cara penyampaian alias cara bercerita alias storytelling-nya. Tidak satupun dari ketiga aspek itu yang berhasil dimaksimalkan oleh Trank. Sehingga Capone pada akhirnya berakhir menjadi sebuah kekecewaan, karena buatku film ini sudah punya modal gede yakni konsepnya yang menarik.
Membahas ketiga aspek itu satu persatu, aku akan mulai dengan aspek cerita. Actually, di sini pencapaian Capone yang paling lumayan. Film mengestablish setidaknya dua hal penting yang berhubungan langsung dengan apa yang dirasakan oleh Fonse. Soal uang dan keluarga. Plot sampingan soal sekelompok orang yang mengincar uang yang ia simpan dan soal anak yang ia rahasiakan mengikat menjadi satu sebagai motivasi Fonse; ia tidak mau dua-duanya ketahuan karena ia tidak percaya siapapun. Terlebih sekarang, parnonya membesar karena efek dementia. Namun dementia itu bukan pelaku-utama, melainkan hanya berperan sebagai membesarkan. Journey Fonse sepanjang film sebenarnya adalah soal dia mencari akar dari parno alias ketakutannya yang berlebihan. Sebagai penonton, kita akan melihat ke dalam Fonse. Seringkali kita akan ditempatkan sebagai dirinya, ikut mengalami halusinasi dan mimpi-mimpinya.
Dan di dalam situlah kita akan mendapati si guilt ini, si Perasaan Bersalah. Semua halusinasi Fonse penting karena masing-masingnya merupakan episode dari beban seorang manusia yang berprofesi sebagai bos kriminal. Dia harus membunuh sahabat sendiri. Dia harus melakukan berbagai kejahatan. Di menjelang babak ketiga ada sekuen panjang Fonse balik ke masa lalu. Kita memasuki ini bukan sebagai Fonse yang gagah, melainkan sebagai Fonse yang tidak ingat pernah melakukan, sehingga ia melihat perbuatannya dari cahaya yang baru; cahaya yang lebih mudah bagi kita untuk merelasikan diri kepadanya. Kalian yang pernah nonton dokumenter Jagal atau The Act of Killing (2012), kalian akan menemukan kemiripan antara inner-journey Fonse dengan Anwar Congo yang jadi sudut pandang utama dalam dokumenter tersebut. Pembeda yang paling utama di antara keduanya adalah tanda-tanda penyesalan. Yang menjadi penting karena menentukan apakah penonton bakal bersimpati atau tidak kepada si tokoh utama, seberapapun horrible perbuatan mereka terdahulu. Fonse dalam Capone tidak punya luxury untuk merasakan hal tersebut, karena keadaan fisik dan terutama mentalnya yang tidak lagi memungkinkan.

Rasa bersalah mengerus pikiran dan akal sehat sedikit demi sedikit. Ketika melakukan perbuatan mengerikan di masa lalu, seseorang akan terus kepikiran, dan secara tidak sadar mengambil tindakan preventif untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi. Dan proses ‘pencegahan’ ini bergantung kepada pribadi masing-masing. Jika kita seperti Al Capone, yang hidup dari bisnis ilegal, yang dikelilingi sama seringnya oleh keluarga, anak buah, musuh, realita yang kita ciptakan untuk berlindung akan menjadi sama berbahayanya dengan yang mestinya kita cegah. Bahkan lebih.

 
Kita susah merasakan simpati kepada Fonse, meskipun tokoh ini ngompol, stroke, ngisep wortel alih-alih cerutu, ketakutan dan kebingungan sepanjang waktu, karena film membuatnya vulnerable seperti itu hanya karena dia sakit. Kita tidak sekalipun diperlihatkan perasaan genuine menyadari kesalahan. Drama film ini hanya datang dari Fonse yang sakit dan orang-orang tersayang yang setia padanya berusaha dealing with this, sementara Fonse makin curigaan dan liar kepada mereka. Sebuah film memang seharusnya tidak membuat tokohnya memohon untuk simpati kita, tetapi menjadikan si tokoh tersebut tidak pernah tampak sebagai manusia utuh – just this walking disease yang harus kita pedulikan karena banyak orang yang sayang ama dia – malah jadi kayak nyalahin penyakitnya ketimbang kontemplasi. Semua itu menjadi bertentangan dengan gagasan film mengenai kesalahan masalalu terus menghantui, karena karakternya bergerak karena penyakit. Membahas Fonse sekiranya bisa lebih baik jika dialihkan melalui sudut pandang tokoh lain, seperti istrinya yang mendapat porsi yang lumayan gede, tapi film ini pun gagal memberikan tokoh-tokoh seperti sang istri ini plot yang lebih berarti. Storyline mereka diperkenalkan, untuk kemudian diantepin gitu aja.

Hey, what’s up, Doc?

 
Perihal penampilan akting, akan berhubungan erat dengan aspek storytelling. Karena aktinglah subjek vokal yang menyampaikan cerita. Dalam cerita yang dalem membahas kejiwaan manusia, anehnya film di awal-awal memperlihatkan Fonse nyaris seperti parodi. Adegan openingnya malah kayak komedi kakek dan anak yang punya atmosfer kelam. Dan pembawaan Tom Hardy memainkan Fonse sama sekali tidak membantu. He was so over-the-top. Hardy memberikan suara yang komikal kepada Fonse. Jika tidak sedang bengong mengisap cerutu (dengan liur menetes ke dagu!) atau bergumam gak-jelas, Fonse akan ‘menyalak’ dengan suara yang seperti Moe Szyslak sedang audisi menjadi Goblin di bank Harry Potter. Dengan make up ‘penuaan’ yang terlihat kasar dan ‘Scarface’ yang gak-konsisten (make-up Johnny Knoxville jadi kakek-bangsat di Jackass tampak lebih meyakinkan), banyak tindakan yang dilakukan oleh Fonse yang jatohnya konyol alih-alih mengundang cemas dan menarik simpati kita kepadanya. Misalnya seperti ia tiba-tiba mengenakan pakaian wanita saat diam-diam berangkat pergi memancing. Dalam sekuen laga terakhir, Hardy mencoba sebaik yang ia bisa untuk menghasilkan sesuatu yang bukan cengiran dari penampilannya sebagai Fonse yang mengamuk dengan senapan mafia yang terbuat dari emas, menembaki orang sambil mengenakan piyama dan popok.
Hasil yang ditimbulkan selalu jauh dari harapan. Film seperti tidak benar-benar paham bagaimana menghormati penyakit yang mereka angkat. Ketika alur mulai memasuki ranah halusinasi mendominasi Fonse, treatment yang diambil film untuk membuat kita dapat membedakan mana yang nyata mana yang bukan adalah dengan memperlihatkan kekonyolan atau sesuatu yang dilebih-lebihkan. Sehingga penyakit itu tidak terasa mencengkeram lagi. Namun tentu saja dementia bukanlah penyakit yang hilarious. Melainkan menakutkan. Memiliki kerabat yang perlahan melupakan kenyataan, melihat atau percaya sesuatu yang mengerikan yang sebenarnya tidak ada, mestinya adalah pengalaman yang disturbing, mencemaskan. Masa-masa sebelum kakek tutup usia, beliau sering nunjuk-nunjuk dan bicara pada sosok tak-terlihat dan memperkenalkannya kepada kami sebagai kerabat yang sudah tiada, buatku adalah masa yang mengerikan, hanya dengan mengingatnya saja. Seorang tua yang halu dan membahayakan orang, dementia dalam film Capone beberapa kali terasa seperti memancing kelucuan, yang mungkin saja tidak disengaja, but it did feel that way – bahwa kadang film kayak lupa penyakit tersebut adalah masalah serius.
Adegan halusinasi dalam film ini memang diniatkan sekontras yang kita lihat. Kadang film terasa kayak dalam dunia yang dibangun David Lynch. Lengkap dengan adegan musikal yang creepy. Tapi kita tahu, Lynch tidak menjahit adegan dengan abrupt. Whereas in Capone, demi menguatkan sensasi linglung dan kebingungan seperti yang dirasakan Fonse, editing yang digunakan dengan sengaja cepat. Konstruksi adegan dengan sengaja dibuat saling tindih, dalam sense waktu. Sehingga perspektif menjadi gak jelas. Akan sering kita temui sekuen yang ternyata cuma ada di kepala Fonse. Namun sekuen tersebut ditampilkan begitu elaborate, dalam artian, kita melihat adegan seorang tokoh di suatu tempat, melakukan hal privet, tanpa ada Fonse di sana. Yang berarti gak masuk-akal adegan tersebut bisa terpikirkan oleh Fonse. Itu bukan kenangannya. Dan aneh sekali kalo dia membayangkan adegan tersebut di dalam kepalanya karena enggak ada sangkut paut langsung dengan dia. Jadi gak-jelas apakah adegan tersebut adalah real ‘kayfabe’ dari runutan cerita yang ditarik ke masa kini, atau cuma imajinasi. Film dapat jadi membingungkan seperti demikian.
 
 
 
Film ini menjadi susah untuk ditonton. Namun bukan karena dia berhasil menggambarkan dementia atapun karena membuat kita peduli terhadap tokoh kriminal sehingga melihatnya dalam cahaya simpati. Film ini sukar karena tidak tepat dalam banyak hal. Penceritaannya sering menyimpang jadi unintentionally hilarious. Tokoh utamanya dibawakan ke arah yang membuatnya nyaris jadi seperti parodi. Alur pun tidak membahas dalam, cenderung melewatkan dan tidak sampai tuntas menggali sudut yang sebenarnya menarik. The whole concept of this movie is intriguing. Jika tayang di bioskop, tentu film ini bakal jadi kandidat kuat masuk daftar kekecewaan terbesarku tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for CAPONE.

 

 
 
That’s all we have for now.
Masalah ‘harta karun’ Al Capone yang sampai sekarang masih belum ditemukan, apa kalian punya mengenai hal tersebut? Apakah itu hanya legenda? Jika tidak, kenapa kira-kira hingga kini uang berjuta-juta itu belum berhasil ditemukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE RHYTHM SECTION Review

“When you dance to your own rhythm, life taps it toes to your beat”
 

 
 
Blake Lively yang kutahu adalah makhluk magnificent yang memancarkan aura bidadari yang lembut, bahkan saat ia berdarah-darah berhadapan dengan hiu. Ia adalah tipe yang kau impikan untuk jadi kakak perempuanmu. Namun aku tak mengenali Lively lagi di film The Rhythm Section ini. Ia jadi kumal banget. Begitu broken sehingga aku gak yakin bakal membukakan pintu jika ia datang bertamu. Aku akan memilih untuk bersimpati padanya dari balik tembok, hoping for the best dia kembali ke jalan yang benar. Namun film ini akan memaksa kita untuk berada di balik kepalanya, atau paling tidak di sebelahnya – menggenggam tangannya – melewati segala aksi balas dendam yang ia kira bakal memberinya ketenangan jiwa.
Tahulah kita bahwa Lively di sini bukanlah Lisa sang junkie PSK. Melainkan dia adalah Stephanie Patrick, mahasiswi teladan yang hidupnya menukik tajam setelah seluruh keluarganya – ayah, ibu, kakak, adik – tewas dalam sebuah kecelakaan pesawat. Steph yang last minute urung ikut naik pesawat technically selamat, tapi dia sebenarnya juga korban. “Kau hanya belum mati saja“, kata reporter yang menemukan Stephanie. Sang reporter sedang menginvestigasi kasus kecelakaan tersebut karena itu ternyata bukan kecelakaan biasa. Melainkan teror bom yang ditutupi. Pembuat bomnya masih bebas berkeliaran. Dalangnya masih di luar sana, bersembunyi di balik nama alias. Mengetahui hal ini, Steph bangkit, memungut dirinya sendiri dari nestapa untuk mencari pelaku. Menorehkan cerita balas dendam sendiri. Bekerja sama dengan sekumpulan orang di pihak si reporter, Steph meminta untuk dilatih menjadi assassin. Namun balas dendam tidak segampang yang dikira, khususnya ketika berhadapan dengan organisasi tersembunyi. Dan ketika dirimu sendiri juga bersembunyi di balik sesuatu yang bukan dirimu.

Jadi assassin wanita yang kuat supaya bisa dikirim misi ke sana kemari oleh pria

 
Paling baik bagi kita untuk tidak mengharapkan film thriller yang penuh laga seru saat menonton film ini. Karena The Rhythm Section diarahkan oleh sutradara perempuan Reed Morano untuk menyanyikan nada yang berbeda. Film ini adalah jeritan hati dari Stephanie, sepanjang waktu kita akan diminta untuk melihat ke dalam Stephanie. Semua adegan laga akan di-examined dari sudut pandang dan perasaannya. Pemberantasan teroris dan politik kriminal di baliknya tidak akan dibahas jika Stephanie tidak meluangkan emosi terhadapnya. Kamera akan strictly melayang di depan wajahnya. Akan ada banyak sekali adegan Stephanie ‘berhenti’, close up ke wajah, dan kita menyelam masuk ke flashback memorinya. Di sinilah peran Blake Lively menjadi sangat penting. She’s the perfect personification untuk tokoh Stephanie yang terlihat ‘keras’ di luar tapi begitu lembek dan rapuh di dalam. Kita akan menemukan simpati menatap lekat-lekat wajah Lively, dan semakin broken tokohnya ini efek yang dihasilkan semakin kuat.
Stephanie pada masa-masa nelangsanya adalah penampilan terbaik dari film ini. Setiap kali dia berada di fase jatuh, gagal, seperti gak punya harapan, dan menyesali kepergian keluarganya, di sinilah film bersinar. Berkat penampilan akting dan struggle genuine yang dikeluarkan. Film paham cara menonjolkan ini semua. Misalnya pada adegan Steph dilatih bertarung satu lawan satu. Morano memerintahkan kameranya untuk merekam aksi dalam single take tanpa-putus, dan mereka membuat adegan ini berlangsung di ruangan sempit. Laga pada adegan ini gak ada flashy-flashy-nya, tapi begitu memukau karena dengan efektif merekam kefrustasian dan usaha Stephanie untuk menjadi jago berkelahi. Ada transformasi karakter yang tampak genuine sepanjang adegan laga yang gak-sempurna ini. Dan adegannya, seperti semua adegan laga dalam film ini deliberately dibuat amatir karena penting bagi kita untuk dapat melihat Stephanie gak mampu untuk menjadi Petra, persona assassin yang harus ia isi.
Setelah semua latihan, dia berenang di danau yang dingin itu, coba tebak apa yang Stephanie lakukan pada misi pertamanya menghabisi orang? Stephanie babak belur dihajar oleh penjahat di kursi roda. Pada bagian-bagian Stephanie jadi penyusup dalam misi membunuh lingkaran tersangka terorislah film berpotensi menjadi sangat membosankan. Dia gak keren kayak John Wick. Dia enggak mematikan kayak Atomic Blonde. She can’t do shit kayak Jackie Chan. Melainkan, misi Stephanie nyaris selalu gagal karena dia terperangkap dalam pikiran dan emosinya sendiri. Rencananya selalu kacau. Film juga membuat on-point soal Stephanie balas dendam karena tindakan teroris membunuh orang tak berdosa, tetapi saat bertindak sebagai assassin, justru Stephanie sendiri yang membuat banyak orang tak berdosa turut menjadi korban. Setiap rencana yang gagal itu membuahkan damage yang berlebihan, yang memberatkan nuraninya sendiri.
Ini sebenarnya merupakan fresh take dalam genre action. Jika kebanyakan seringkali menampilkan tokoh cewek yang membalas dendam dan langsung jago, The Rhythm Section ini berani memperlihatkan ‘kenyataan’, bahwa gak semudah itu menjadi seorang pembunuh. Manusia biasa gak bisa latihan instant untuk menjadi secakap CIA. Terutama, ini cocok dengan gagasan film soal Stephanie yang berusaha mencari comfort dengan kabur dari dirinya. Pertama dia menciptakan Lisa, sebagai alasan untuk mengasihani diri sendiri, berkubang di jalanan. Kemudian dia tertarik untuk menjadi Petra, assassin wanita yang terkenal sangar. Film juga memunculkan tokoh antagonis yang paralel dengan kondisi Stephanie; yang berlindung di balik persona U17, bedanya hanya si antagonis berhasil memanfaatkan identitas tersebut.

Untuk bisa menembak dengan jitu, Steph harus mendengarkan irama jantung dan napasnya. Film bicara soal setiap makhluk punya ritmenya sendiri, dan itulah yang harus didengar oleh masing-masing. Kita harusnya menari dalam irama sendiri, dan ini maksudnya adalah untuk stay true to who you are. Steph gagal sebagai Petra, dia nista menjadi Lisa. Langkahnya baru mulus, dia lebih berjaya saat mengenali dendamnya sebagai Stephanie, putri dari keluarga Patrick yang mengasihani diri dan berani untuk mengubah itu semua.

 

Jantung adalah drum, napas adalah bass… dan mulut adalah riff gitar “tininiw tinininiiiwww”!

 
Film sayangnya tidak cukup bijak untuk mendengarkan gagasannya sendiri. Alih-alih bergerak dalam irama yang menjadi keunikannya, film mengambil banyak keputusan editing dan bercerita yang aneh. Yang bukan-dia-banget. Pemilihan musiknya, for instance, sangat misleading. At heart, ini adalah cerita yang muram. Gagasannya membutuhkan sang tokoh untuk menjadi ‘bego’ dalam setiap misi, entah itu gagal atau ketahuan dan kabur. Supaya ia lantas memikirkan tindakan yang ia lakukan, mempertimbangkan kembali approachnya dalam balas dendam. Namun film malah memperdengarkan kepada kita musik-musik penyemangat, tak ubahnya film laga yang tokohnya keren dan gak-annoying karena sebentar-bentar flashback. Kesalahan besar saat menonton adalah menciptakan ekspektasi lalu hidup dalam ekspektasi tersebut, membuat film terasa jelek karena gak sesuai dengan harapan kita. Dalam kasus film ini, si film sendiri yang mendorong kita untuk berharap sesuatu yang keren. Padahal cerita dan design yang ditetapkan jauh dari semua itu.
Kemudian soal editing gambar dan kamera. The Rhythm Section sebenarnya punya adegan keren, kayak di Extraction (2020), yakni kejar-kejaran mobil yang seolah single take. Bedanya di film ini, kamera menetap di sebelah Steph yang lagi mengemudikan dengan panik, sambil sesekali nge-pan untuk memperlihatkan kerusuhan di belakang, samping, ataupun depan jalanan. Sekuen adegan yang keren, hanya saja terlalu goyang untuk dapat benar-benar dinikmati. In fact, kebanyakan adegan close up dalam film ini terlalu shaky sehingga fungsinya sebagai penghantar kita merasakan langsung emosi tokoh ini jadi buyar. Belum lagi saat dialog, film menggunakan teknik splicing cut ke momen lain – yang merupakan cara film supaya bisa merangkum banyak plot poin dan kejadian karena cerita ini merupakan adaptasi dari novel yang punya lebih banyak ruang untuk bertutur – yang pada akhirnya jadi flat out confusing. Serta merenggut kita dari perasaan ikut terbonding sama para tokoh. Itulah sebabnya kenapa tokoh-tokoh lain tidak terasa nempel dan kita tidak peduli amat dengan mereka. Relasi Stephanie dengan mereka tidak berkembang dengan normal, dan tidak diberikan waktu yang cukup. Film hanya memuat sebanyak mungkin dan mencoba melakukannya dengan bergaya.
 
 
 
Pendekatan film ini terhadap genre thriller laga balas dendam dengan protagonis cewek sebenarnya cukup segar. Tokoh kita berubah dari mengasihani diri sendiri menjadi berani dan mengkonfrontasi masalah langsung sebagai dirinya. No more pretending. Tidak lagi berkubang dalam nestapa. Namun untuk belajar semua itu banyak kegagalan yang harus dilewati. Dan fase kegagalan ini dapat dengan mudah tertranslasi kepada penonton sebagai laga-yang-membosankan, juga annoying karena tokohnya terlihat bego. Film sendirinya seperti ragu terhadap ritmenya, bimbang untuk menjadi muram dan depressing seperti yang dilalui oleh tokohnya, maka memilih beberapa elemen untuk ‘menceriakan suasana’, but it’s not working karena malah membawa penonton semakin jauh ke bagaimana sebenarnya film ini. Buatku, nonton ini seperti mendengarkan cerita teman mengenai seberapa keren dirinya, tapi aku tidak merasakan hal yang sama.
The Palace of Wisdom gives 4 out of 10 gold stars for THE RHYTHM SECTION.

 

 
 
That’s all we have for now.
Tidak ada yang mudah jika kita melakukan sesuatu untuk diri kita, tapi melakukannya dengan standar orang lain. Stephanie tidak gagal jadi assassin, dia hanya gagal menjadi Petra.
Apakah kalian setuju bahwa menjadi diri sendiri itu jauh lebih susah dan lebih membutuhkan keberanian daripada menjadi orang lain?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

THE LODGE Review

“All the stress and misery of life comes from fear of loss”
 

 
 
Orang bunuh diri gak bisa ke surga! Itulah hal yang paling dikhawatirkan oleh Mia, gadis cilik yang ibunya meninggal akibat menembak kepala sendiri karena ditalak cerai. Tapi enggak ada orang yang paham ama ketakutan Mia tersebut. Tidak ayahnya yang mau menikah dengan wanita muda yang pernah jadi pasien konseling sendiri. Tidak pula abangnya, Aidan, yang marah lantaran ayah mereka karena memilih cewek “psikopat” penyintas dari sekte bunuh diri. Notice ‘bunuh diri’ muncul dua kali? Kejadian menjadi mengerikan ketika dua agen atau pihak-yang-bersinggungan dengan ‘bunuh diri’ ini bertemu. Mia dan Aidan actually diajak oleh ayah mereka untuk berlibur bareng Grace, si calon ibu tiri yang cakep, untuk saling mengakrabkan diri. Namun begitu ayah pergi, meninggalkan mereka bertiga di vila di tengah badai salju menjelang Natal, kejadian tak-terjelaskan mulai terjadi. Pemanas yang mati. Waktu yang seperti tak bergerak hari demi hari. Makanan dan barang-barang lenyap, termasuk boneka Mia yang didandani mirip ibunya, dan obat anti-stress Grace yang masih dealing dengan trauma survivalnya. Apakah ini kegilaan yang menerpa? Atau hantu dari masa lalu? Ataukah dugaan Aidan memang benar; bahwa mereka bertiga sebenarnya sudah meninggal.

Meninggalkan keluarga di tempat terpencil tanpa mobil di tengah salju, sungguh bukan teknik parenting yang jitu

 
 
Film ini mengingatkanku kepada The Turning (2020). Ada banyak kesamaan pada dua film ini, hampir seperti mereka berkompetisi satu sama lain. Basically, kedua film sama-sama mengambil lingkungan tertutup dengan cerita wanita muda mengasuh dua anak. Karakteristik tiga tokoh sentral ini pun mirip. Anak cewek yang menggunakan boneka sebagai emotional crutch. Remaja cowok yang sayang pada keluarga, tapi juga bisa terkesan sedikit bandel. Dan creepy. Pada kedua film terdapat adegan yang melibatkan remaja cowok, wanita muda, dan kamar mandi. Lalu tentu saja ada karakter wanita muda yang diharapkan harus bonding dengan kedua anak, sementara dia sendiri punya trauma pada masa lalu – dia punya ketakutan personal atas sesuatu yang menjadi asal usulnya, dan tokoh ini akan menapaki downward spiral menuju ke kegilaan. Untungnya, meskipun juga banyak mengandalkan adegan mimpi untuk menyampaikan momen-momen horor, The Lodge enggak menipu kita dengan satu sekuens full kejadian-yang-tidak-beneran-terjadi kayak di The Turning. Naskah dan arahan duo sutradara Severin Fiala – Veronika Franz hadir dengan sama-sama artsy namun sedikit lebih baik. Sedikit.
Inceran dari cerita horor ‘terjebak’ ini tentu saja adalah keambiguan. Film ingin menempatkan kita pada perasaan bingung yang sama dengan yang dirasakan oleh tokoh cerita. Misteri dari apa yang sebenarnya terjadi, ditambah dengan sensasi kehilangan kewarasan menjadi goal dari kengerian film ini. Berkaca dari horor-horor klasik, The Lodge paham cara meraih itu semua. Yakni dengan pembangunan atmosfer. Inilah yang dilakukan dengan indah oleh arahan film. Suasana menakutkan, sensasi berada di tengah-tengah keganjilan, dihadirkan dengan begitu ‘bergaya’ oleh kamera. Tone warna juga turut andil menciptakan kesan yang bukan hanya suram, warna-warna dingin itu menimbulkan kesan sebuah dunia kelabu yang kita enggak pasti apakah hanya sebuah fantasi atau kenyataan.
Secara estetik, film ini sepertinya pengen dimirip-miripin ama Hereditary (2018), sebab The Lodge juga menarik perhatian kita terhadap perbandingan perspektif dunia nyata dengan dunia boneka. Adegan pembuka film ini juga memparalelkan rumah boneka dengan rumah nyata, yang eventually akan diperlihatkan bahwa rumah boneka Mia punya interior yang sama dengan interior vila keluarga tempat mereka terjebak nanti. Boneka-boneka di dalam situ berada pada posisi khusus, yang nantinya bakal ‘menjadi kenyataan’ saat para tokoh beneran berada di posisi seperti yang sudah diramalkan. Sedari awal film sudah menjebak kita ke dalam misteri, ke dalam ketidakpastian – sebagai hook agar kita terus terpaku di tempat duduk, bertanya-tanya di dalam hati benarkah ada kekuatan supernatural atau semua itu hanya bukti bahwa ada pihak yang telah merencanakan perbuatan mengerikan di villa nanti. Misterinya ini sangat menarik, sepanjang durasi film akan terus membawa kita kembali ke perbandingan rumah boneka tadi – digunakan sebagai transisi adegan – sebagai petunjuk di tengah-tengah beragam distraksi yang sayangnya lebih mendominasi. Yang kumaksud dengan distraksi di sini adalah elemen horor lainnya, seringkali bagian dari karakter, yang tidak benar-benar membuahkan apa-apa selain bikin kita bingung mencari pegangan pada perspektif utama.
Dalam horor, perspektif adalah hal yang krusial. Kita hanya bisa peduli pada tokoh jika sudut pandang terfokus pada dirinya, sebab horor membahas ketakutan personal. Kita harus mengerti trauma, atau tragedi, atau hal yang menurut si tokoh mengerikan, dan ini bisa dicapai jika kita enggak sering teralihkan oleh horor dari orang lain, kecuali ketakutan mereka menyangkut hal yang sama. The Lodge tidak pernah memutuskan perspektif ini. Hal teraneh yang dimiliki oleh cerita ini bukanlah barang-barang yang hilang mendadak, sekte sesat, ataupun perilaku si ayah yang ngajak liburan kemudian malah pulang buat bekerja. Melainkan, hal teraneh di cerita adalah sudut pandang yang mendadak berubah dari Mia ke Grace.
“Jadi maksudmu kita nonton mereka nonton internet sia-sia belaka?”

 
 
Babak pertama sepertinya sudah menetapkan ini adalah cerita dari sudut Mia, kita melihat keluh kesahnya. Kita mengerti ‘ancaman’ dari sudut pandang Mia adalah Grace; sosok wanita muda yang at the time kita ditanamkan informasi bahwa dia ‘psikopat’, dia somehow bisa survive dari sekte di usia 12 tahun, lantas dia yang masih kecil itu merekam mayat-mayat bunuh diri di sekte. Babak awal ini menempatkan Grace dalam cahaya misterius, film bahkan mengadegankan momen perkenalan Mia dengannya dengan membangun narasi “siapa wanita ini, bisakah ia dipercaya. Film bermain-main dengan rasa penasaran Mia atas wajah si Grace (wajah cakep Riley Keough akan diporsir untuk berbagai emosi dan kegilaan). Untuk kemudian pada babak kedua, kita dijauhkan dari Mia dan sudut pandangnya. Kita direnggut dan kemudian malah ditempatkan di posisi Grace. Dengan cepat, semua perspektif Mia tadi rontok bagi kita karena sekarang kita melihat sudut Grace. Seorang survivor yang masih trauma sama adat-adat agama – ia bergidik saat doa makan malam, ia takut melihat salib dan lukisan Bunda Maria (sepertinya, mungkin aku salah mengenali objek lukisan tersebut). Namun Grace sungguh berusaha untuk hidup normal. Dan tantangan bagi Grace bukan cuma trauma, melainkan juga kenyataan bahwa dua anak ini kehilangan ibu mereka gara-gara dia. Ada rasa bersalah yang menghantui. Serta tentunya berat bagi Grace untuk berusaha membangun hubungan saat seisi rumah mengingatkan penghuninya pada orang yang posisinya sedang berusaha Grace isi.
Teorinya, dua perspektif itu dihadirkan supaya kita bisa mengerti konflik kedua belah pihak. Namun kenyataannya, malah membuat kita memilih harus simpati kepada siapa, dan akan butuh waktu lama untuk kita memutuskan sehingga pada saat itu justru kita terdetach dari mereka semua. Film ini meminta kita untuk mengkhawatirkan keselamatan Mia dan abangnya karena orang asing ini bisa saja berbahaya. Lalu berputar arah, film jadi meminta kita untuk lebih bersimpati kepada si orang asing. Untuk kemudian berputar kembali. Setelah kita mulai mendukung tokoh ini – dan berpikir “tau rasa kalian anak-anak ngeselin!” – film malah mengembalikan kita kembali kepada Mia dan abangnya. Dari sudut mereka, sebagai penutup, kita dikasih peringatan untuk tidak mempermainkan orang yang punya masalah kejiwaan.

Satu-satunya keparalelan yang konsisten pada kedua pihak – anak dan Grace – yang diperlihatkan oleh The Lodge adalah bahwa mereka sama-sama takut akan kehilangan koneksi terhadap hal yang dikasihi. Mia terlalu dekat dengan boneka. Grace butuh obat untuk percaya dia sudah sembuh. Teror sebenarnya datang dari dalam diri masing-masing pihak. Membuat mereka takut dan gak percaya kepada hal di luar. Ketakutan inilah yang menghambat tumbuhnya cinta di antara mereka. Konklusinya memang ironis; semakin kita takut kehilangan, kita justru akan kehilangan lebih banyak hal.

 
Dilihat dari kedua sudut itu, cerita film ini jatohnya insulting. Jika kita percaya ini adalah cerita peringatan untuk anak-anak, film ini gagal karena tidak memberikan kesempatan kepada tokoh anaknya untuk melihat orang dari sisi lain. Babak kedua film ini completely dari sudut Grace, kitalah yang dibuat mengerti, bukan dua anak itu. Mereka tidak belajar. Bagi sudut pandang mereka, mereka hanya menyesal karena Grace jadi ‘ngamuk’ dan ada beberapa kejadian di luar rencana mereka. Jika kita percaya ini adalah cerita psikologis seorang yang mengalami kejadian buruk di masa lalu sehingga mentalnya terganggu, film ini juga gagal karena orang tersebut dibuat kalah dalam berjuang. Yang menyampaikan kepada kita bahwa, ya, orang gangguan mental memang berbahaya, trik anak kecil saja sanggup untuk ‘menghancurkan’ mereka.
 
 
 
Karena itulah, maka film ini buatku terasa sempit, padahal sudut pandangnya lebih dari satu. Elemen horornya jangan ditanya. Ada soal pandangan soal bunuh diri. Ada soal ritual atau praktik agama. Ada soal relasi dengan orangtua. Ada soal keadaan mental juga. Namun film membuat kita frustasi. Semua itu hanya pernak-pernik. Kita mengharapkan banyak dari ambiguitas yang dihadirkan, hanya untuk menemukan jawaban yang sangat simpel dari topik paling simpel yang ada pada film ini. Dan film meminta kita untuk mengoverlook semua hal gak make sense dari perbuatan yang ditampilkan. Sehingga meskipun banyak visual dengan suasana yang bikin ngeri (shot favoritku adalah pas menjelang akhir; Grace duduk dengan spektrum cahaya di belakang kepalanya, sehingga dia kayak juru selamat) hal paling aneh dan bikin bergidik pada film ini justru adalah pilihan yang mereka, seperti mengganti-ganti sudut pandang.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for THE LODGE.

 

 
 
That’s all we have for now.
Kebayang gak sih kalo pas karantina gini, kalian mengalami hal yang sama seperti Grace dan Mia.. hiii… Jadi apakah kalian punya kiat tertentu untuk mengisi waktu bersama adik atau si kecil?
Bagaimana menurut kalian cara terefektif untuk menumbuhkan kepercayaan dari orang jika kita ingin menggantikan posisi orang yang mereka sayangi?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

AD ASTRA Review

“In space, no one can hear you cry”

 

 

Diartikan “Ke bintang”, Ad Astra pantas kita sebut sebagai film road fantasi yang sangat filosofis. Elemen-elemen road-trip dapat kita jumpai dalam film ini, hanya dengan skala yang sangat besar (skala jutaan tahun cahaya!). Tujuan tokoh film ini bukan sebatas suatu kota atau tempat yang jauh. Melainkan luar angkasa; ke planet terjauh yang sanggup dicapai oleh manusia. Tapi selayaknya cerita-cerita road-trip, ini adalah cerita pencarian melihat ke dalam diri. Semakin jauh kita mencari, akan semakin dalam kita menyelami personal. Karena perjalanan bukan soal tujuan, melainkan tentang proses berjalan itu sendiri.

Yang dicari oleh astronot paling macho dari Amerika bernama Roy ini adalah kebenaran soal ayahnya. Ayah yang telah lebih dulu menjadi astronot terhebat dan sudah lama menghilang dalam salah satu misi mencari keberadaan alien pintar demi kesejahteraan manusia. Bagi Roy, however, si ayah sudah ‘menghilang’ semenjak ia masih kecil; masih bukan apa-apa. Dalam salah satu musibah di perbatasan orbit, Roy mengetahui sang ayah ternyata masih hidup di suatu tempat di planet Neptunus. Dicurigai ayah Roy-lah yang bertanggungjawab atas peristiwa surge medan listrik yang mengacaukan teknologi hingga ke Bumi. Jadi Roy menerima misi ini. Sepertinya hanya Roy yang bisa berkomunikasi dengan ayahnya – dan kita tahu Roy punya banyak pertanyaan personal untuk sang ayah terkait hubungan mereka dan dirinya sendiri.

Kulari ke Kawah Bulan

 

Bukan perkara mudah yang dihadapi oleh sutradara James Gray dalam menangani cerita sci-fi luar angkasa yang epik digabung dengan cerita tokoh yang amat personal semacam ini. But he did it, Ad Astra is a really well-made movie. Visualnya terlihat menakjubkan, seolah kita benar-benar berada di luar angkasa. Menyaksikan bola biru dari atas sana lewat film ini membuatku merasa semakin menyesal dulu enggak mengejar cita-cita jadi astronot. Elemen fantasi dikeluarkan lewat gambaran film ini tentang masa depan manusia. Menyenangkan – dan memberi harapan at some degree – menyaksikan bulan sudah menjadi tempat tujuan wisata umat manusia. Salah satu set piece yang paling seru di film ini adalah keadaan di bulan, lengkap dengan toko-toko sehingga sudah seperti mall. Sementara film juga memberikan informasi bahwa ada tempat di bulan yang tidak bisa dieksplorasi karena kita hanya melihat satu sisi bulan saja pada kenyataannya. Pembangunan seperti ini yang membuat dunia Ad Astra tampak realistis meskipun ceritanya lebih mudah untuk kita percaya sebagai visualisasi isi kepala dan kontemplasi hati tokoh utamanya.

Musik film ini pun terasa begitu menyentuh. Dengungan angkasa, bunyi-bunyi teknologi, menguatkan atmosfer begitu kecil dan sendirinya seorang manusia di alam semesta. Dalam sense ini, aku merasa film ini berhasil membuat diriku membenci – bahkan takut – dengan luar angkasa. Space adalah sesuatu yang selama ini jadi sumber fantasi geek kita, dan Gray membuat planet-planet dan galaksi menjadi tempat yang suram. Karena begitulah yang dirasakan oleh tokoh utama. Dan film dengan suksesnya mengedepankan sudut pandang si Roy ini dengan konstan. Kita hanya melihat yang ia lihat. Kita merasakan apa yang ia rasa. Penampilan Brad Pitt sebagai Roy membungkus semua elemen – visual, penokohan – yang dihadirkan oleh film dan menghidupkannya sehingga kita terus menyaksikan film ini. Sesekali menguap mungkin, karena tempo cerita yang lambat. Namun kita akan susah untuk berpaling karena gaya tarik penampilan Pitt dan indahnya gambar bergerak itu terasa lebih kuat daripada gaya tarik bumi yang menyuruh kepala kita untuk nunduk dan tidur. I don;’t know, Pitt boleh jadi dapat dobel nominasi di Oscar tahun depan untuk perannya di film ini dan di Once Upon a Time… in Hollywood (2019)

Inti cerita ini terletak pada psikologi karakter si Roy. Dia yang seperti menutup diri demi pekerjaannya bertindak sebagai telaah soal maskulinitas yang disampaikan oleh gagasan film. Kita mendengar Roy bergumam bahwa senyum dan tawa hanya sekedar saja sebagai pelengkap sempurnanya sandiwara. Eh sori, itu lirik lagu Pance kecampur. Tapi memang, kurang lebih sama seperti begitu deh yang diucapkan Roy. Penting bagi Roy untuk menampilkan persona luar yang keren karena dia adalah astronot hebat.’Mitologi’ seorang Roy adalah denyut jantungnya selalu stabil di angka rendah, apapun kondisi yang sedang terjadi padanya. Roy harus hebat karena dia adalah anak bapaknya – yang juga seorang astronot hebat. Roy yang ditinggalkan oleh ayah yang ia idolakan sangat ingin mengejar jejak sang ayah, sehingga secara tak sadar ia telah menjadi ayahnya. Jauh dari setiap orang di Bumi yang cinta kepadanya. Semakin Roy terbang jauh di atas sana, perasaan kesepian Roy ini semakin besar. Kita melihat dia tak pernah sepenuhnya konek dengan orang-orang yang ia temui dalam perjalanan ke Neptunus. Film lokal Pretty Boys (2019) yang tayang di minggu yang sama dengan film ini, juga membahas soal anak laki-laki yang pengen membuktikan sesuatu kepada ayahnya, dan dia tak sadar sudah menjadi seperti ayahnya. Kalian mungkin ingin menonton film tersebut untuk membandingkan pendekatan yang dilakukan oleh kedua film ini terhadap tokoh seperti demikian – terutama karena genre yang berbeda, yang satu diceritakan lebih ke komedi yang ringan, sedangkan film yang ini lebih ‘berat’ dan penuh filosofi.

Manusia membuat kesalahan. Manusia adalah makhluk tak sempurna yang kadang rakus, tamak, ataupun bisa takut. Perjalanan Roy ke planet nun jauh membawanya semakin dekat dengan sang ayah dalam sense Roy haruslah menjadi astronot sempurna untuk bisa sampai ke sana. Tapi di balik itu, dia juga semakin menemukan rasa kemanusiaan yang selama ini jauh darinya. Dan saat dia melimpah oleh semua itu, Roy menyadari dia sendirian. Tidak ada yang mendengar tangisnya, karena dia jauh – di Neptunus dan di hati orang-orang. Itulah yang menjadi momen pembelajaran bagi Roy. Dia tak lagi mencari jalan keluar. Melainkan jalan pulang ke Bumi, kembali kepada orang-orang tak-sempurna yang mencintainya.

 

While pertemuan dengan ayah menjadi puncak pembelajaran buat Roy, yang mengantarkan kita pada momen keren seperti ketika ayahnya meminta supaya Roy melepaskan ‘hook’nya dari dirinya. Namun seperti pada film-film road-trip, tokoh-tokoh lain yang ditemui oleh Roy hanya berfungsi untuk membuka pandangan baru baginya. Untuk membuat Roy melihat lebih jauh ke dalam dirinya. Karena ini adalah cerita yang berpusat pada personal Roy, maka tidak ada tokoh lain yang benar-benar berarti dan memiliki kedalaman. Dialog mereka hanya berupa eksposisi, ataupun seacra gamblang memberikan gambaran yang sesuai dengan pembelajaran berikutnya yang harus disadari oleh Roy.

Kejadian yang dialami Roy dalam perjalanannya terlihat random dan seperti meniru elemen-elemen film lain. Atau mungkin malah sengaja sebagai tribute karena film angkasa luar punya banyak referensi yang populer. Roy terlibat kejar-kejaran mobil ala Mad Max di bulan. Di lain waktu dia berkutat survive dari monyet laboratorium angkasa. Semua hal tersebut tampaknya bisa dijadikan fokus film yang lebih menarik dan mainstream. Tapi Ad Astra tidak tertarik karena ini adalah cerita kontemplasi. Semua kejadian menarik itu kita tinggalkan karena Roy perlu merenung dan bicara dalam hati memproses semua itu, memparalelkannya dengan yang harus ia pelajari

menakjubkan manusia berperang hingga ke luar angkasa

 

Narasi voice-over Roy juga akan sering kita dengar. Menjelaskan beberapa hal. Mengajukan pertanyaan. Menunjukkan apa yang harus kita lihat. Memang seringkali terdengar sebagai eksposisi berlebih, yang terlalu menuntun kita untuk mengetahui apa yang Roy pikirkan padahal adegan sudah memberikan gambaran yang mencukupi bagi kita membuat kesimpulan sendiri. Tapi semua itu bisa dimengerti karena voice-over tersebut adalah bagian dari karakter Roy. Voice-over adalah cara film untuk menunjukkan emosi Roy kepada kita karena tokoh ini menolak untuk menampilkannya pada awal cerita. Semakin menuju akhir, narasi ini frekuensinya akan semakin berkurang dan kita dibiarkan melihat sendiri emosi Roy. Kita diminta untuk bersabar sedikit karena ini adalah resiko kreatif yang dipilih oleh film.

Sama seperti ketika kita diminta untuk menahan ketidakpercayaan kita untuk beberapa kejadian di dalam film. Menurutku, bagian ini yang susah. Tidak semua hal sci-fi dan aturan dunia modern itu yang berhasil digambarkan oleh film. Sehingga ada momen-momen ketika kita mengangkat alis. Buatku, momen di sepuluh menit pertama saat Roy terjatuh dari perbatasan orbit ke tanah, selamat dengan parasut yang sudah bolong – sungguh-sungguh susah untuk dipercaya. Masa iya denyut jantungnya gak pernah naik? Masa ada air mata di tempat yang tak ada gravitasi? Masa dia gak kebakar atmosfer? Momen tersebut secara sempurna mengeset tone dan antisipasi pada apa yang kemungkinan terjadi di sepanjang film. Namun tak pelak, membuat aku susah untuk memastikan apakah semua kejadian nantinya benar-benar terjadi atau hanya visualisasi dari sebuah kontemplasi. Dan perasaan tak pasti yang dihadirkan tersebut cukup ‘mengganggu’ saat aku menyaksikan film yang memang kejadian-kejadian yang dialami Roy didesain sebagai akar dari pemikiran dia nantinya.

Ini membuat filmnya jadi pretentious. Dialog dalam-hati yang play-by-play dengan kejadian yang akan dialami, seperti dipas-paskan. Dan kejadian-kejadian itu pun terasa acak. Progres cerita film ini tidak benar-benar natural. Penceritaan untuk cerita semacam ini mestinya bisa dilakukan dengan lebih berkreasi lagi. Kucumbu Tubuh Indahku (2019) jika tidak dilakukan dengan narasi tokoh langsung ke kamera di setiap awal bagian yang membuatnya terasa episodik, bakal punya runutan penceritaan yang mirip dengan Ad Astra ini. Dan menurutku, langkah ekstra yang dilakukan Kucumbu untuk mempresentasikan ceritanya inilah yang kurang pada Ad Astra. Film ini bercerita dengan lempeng dan tak banyak kreasi dalam menyampaikan sehingga terasa lebih dibuat-buat ketimbang cerita yang alami.

 

 

Kejadian-kejadian yang kontemplatif yang ditemui sepanjang durasi film membuat ini seperti cerita road movie yang sungguh filosofis. Kemegahan luar angkasa tergambarkan dengan sangat baik ke layar lebar. Menonton ini, dan melihat (serta mendengar) Bumi dari angkasa luar, membuatku teringat akan epiknya bioskop dan film sci-fi waktu aku masih kecil dulu. Sense ruang film ini sangat menonjol. Karena kita juga dibawa menyelam ke dalam sisi personal tokoh utamanya. Dan film benar-benar kuat menghadirkan sudut pandang tersebut. Sehingga perasaan sendirian itu, terutama kecilnya diri di luar angkasa, semakin kuat terasa. Film ini membuatku yang tadinya pernah bercita-cita terbang ke bulan, yang selalu excited dengan cerita luar angkasa, menjadi takut – menjadi benci sama luar angkasa tersebut. Karena mengingatkanku pada kesendirian dan kesepian. Hingga aku selesai menulis ulasan ini, aku masih belum yakin apakah perasaan yang timbul tersebut pujian atau kritikan terhadap film ini.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for AD ASTRA.

[Reader’s Neatpick] – THE PRODIGY (2019) Review

“..yang saya tidak sukai adalah film yang horornya dikarenakan ada unsur gaib. Film ini? Daaaamn brooo..!!! asyuuuu~~~”Ida Bagus Arindra Dirasthya, atau biasa dipanggil Garonk.

 


Sutradara: Nicholas McCarthy
Penulis Naskah: Jeff Buhler
Durasi: 1jam 32menit

 

Sarah dan suami tercinta dikaruniai seorang anak yang heterochromia. Tenang, itu bukan nama penyakit. Melainkan istilah untuk orang yang bola mata kiri dan kanannya berbeda warna. Keistimewaan Miles, begitulah Sarah menamai anaknya, ternyata tidak berhenti sampai di sana. Miles yang masih kecil menunjukkan kepintaran yang bermil-mil jauh lebih maju dari ukuran anak-anak sebayanya. Saking pinternya, Miles ini ngingaunya pun pake bahasa asing! Enggak perlu waktu lama untuk naluri keibuan Sarah mendeteksi ada yang enggak beres pada diri Miles, yang kadang tampak totally seperti orang yang berbeda. Memang semengerikan dan misterius beginikah perilaku seorang anak jenius, atau jangan-jangan nilai dan prestasi Miles tersebut ternyata didongkrak oleh suatu wujud supernatural?

“Maka, The Prodigy menjelma menjadi horor yang lumayan spesial. Sampai-sampai sahabatku yang satu ini, Garonk yang sedari jaman kuliah sudah dikenal sebagai orang yang anti banget nonton horor, ternyata nonton filmnya. Bahkan nonton lebih duluan daripada aku! So that makes this review kinda special too. Karena kita akan membahas film horor dari sudut pandang penonton yang gak suka film horor.”

“Saya bukannya tidak menyukai film horor. Yang saya tidak sukai adalah film yang horornya dikarenakan ada unsur gaib. Semisalnya karena hantu. Karena saya ga suka hal yang tidak bisa ditelaah lebih jauh. Tapi tidak berlaku untuk jenis science fiction yaah, karena walau kita tau itu fiksi, tapi masih dekat (nyerempet) dan bisa ditelaah lebih jauh juga dekat sama penjelasan ilmiah. Berbeda sama tipe hantu, saya mau mikirin lebih malah jauh ga nyampe dan jadi ga masuk akal, mau nyari sebab-akibat dan alasan-alasannya sepertinya tidak sampai di kepala.”

“Jadi lebih karena alasan gak ilmiah, gak keilmuan, ya”

“Alasan lainnya takut juga sih hahaha.. Itulah makanya sebelum saya tonton, sudah jadi kebiasaan saya untuk bertanya dahulu. Atau membaca preview film apakah ini horor karena hantu atau lainnya. Saya tidak anti sama spoiler.. hehehe, karena tahu info film yang akan ditonton itu seperti kita sudah siap dan tidak kaget untuk menjalani ujian ;p Setelah tahu infonya, tanya lagi menurut individu apakah worth untuk ditonton, karena kalo dari preview itu kan dia sifatnya persuasif.”

“Sebenarnya semua horor – yang bagus loh ya, bukan yang dibuat ngejar setoran – bermain di ranah keilmiahan, Ronk. Tepatnya tuh di psikologis manusia. Tentang bagaimana reaksi dan kondisi emosi seseorang ketika berhadapan dengan kehilangan, misalnya. Tren horor barat sekarang berpusat di kejiwaan seorang ibu. The Babadook (2014) yang tentang single-mom yang diserang kecemasan menempuh hidup dan duka pada saat yang bersamaan. Hereditary (2018) bicarakan kegelisahan seorang mama yang merasa tidak mampu mengendalikan, memberikan yang terbaik untuk keluarganya, karena dia sendiri punya masa lalu kelam dari keluarganya. Bird box (2018), A Quiet Place (2018)dua-duanya soal ibu yang mengambil alih posisi kepala keluarga. Berbeda sekali dengan horor lokal yang malah menjadikan ibu sebagai sosok hantu, horor barat menggali insting maternal yang begitu manusiawi. The Prodigy ini, kan, juga begitu. Tema besarnya adalah ketakutan orangtua, khususnya ibu, akan anak mereka yang berbeda dengan anak-anak normal.” 

“Mengerikan… menegangkan sih lebih tepatnya. Sepertinya saya sendiri juga jika punya anak yang jenius; awal-awal tentu saja senang. Tapi itu juga selama jenius masih dalam tahap wajar di usianya. Kalo terlalu jenius banget mungkin saja saya juga takut. Orangtua takut bisa saja karena nantinya sang anak akan sulit beradaptasi di lingkungan di masa mendatang, dia akan jadi anti sosial. Juga acuh sama lingkungan. Jika dia jenius masih dalam tahap yang wajar sesuai umurnya, tentu saya juga akan perlakukan anak saya secara berbeda menyesuaikan dengan kecerdasannya sehingga dia bisa lebih terarah. Peran orang tua seperti biasa, mengarahkan.”

“Sutradara McCarthy setuju tuh, Ronk. Makanya film benar-benar ia arahkan untuk fokus di reaksi horor Sarah akan perilaku Miles. Film ini enggak kemana-mana dulu, dia langsung ngasih tahu kita bahwa si anak itu memang ‘bermasalah’. Horor-horor lain mungkin akan menguatkan misteri, membuat kita ikutan menebak bareng Sarah sebenarnya anaknya kenapa. Tapi pada film ini, kita dari awal sudah tahu lebih dulu daripada Sarah. Teknik inilah yang disebut sebagai DRAMATIC IRONY. Dengan membuat kita tahu lebih banyak daripada tokoh utama, film ingin kita menilai aksi-aksi yang diambil oleh sarah. Mendramatisasi sejauh apa yang akan dilakukan oleh orangtua untuk mengusahakan yang terbaik kepada anaknya. Supaya waktu kita tidak habis untuk mempertanyakan anaknya baik atau jahat. Agar kita langsung melihat poin bahwa sesuatu yang luar biasa jahat, masihlah sebuah anak bagi seorang ibu. Dramatisnya jadi benar-benar kerasa saat Sarah memutuskan untuk membunuh seorang wanita yang merupakan satu-satunya korban yang selamat dari pembunuh-berantai yang merasuki tubuh Miles.”

“Benar juga. Semua orangtua tidak ada yang tidak mencintai anaknya. Saya rasa sih tindakan sarah, memastikan si anak tidak ada flaw di masa kecilnya, jadi lebih baik si ibu saja yang berkorban daripada anaknya yang akan dicap sebagai pembunuh. Lebih baik dia sendiri yang menjadi pembunuh. Sarah ingin berusaha menjadi orangtua yang baik, tapi keadaannya yang membuat tindakan yang perlu dilakukan menjadi sedikit melenceng dari orangtua seharusnya.”

“Paling enggak, Sarah adalah orangtua yang lebih baik daripada suaminya. Sarah lebih mikirin anak, sedangkan si suami lebih fokus untuk membuat diri tidak lebih buruk dari ayahnya ya hahaha”

“Namun saya ga tau apakah pada akhirnya ini menjadi ending yang baik. Ga bisa menilai, tapi menurut saya sih karena rasa cinta yang besar pada anak dan keinginan agar si pembunuh tidak memanfaatkan badan anaknya, hanya saja waktunya tidak tepat. Poor Sarah.”

“Nah, kalo soal ending, menurutku jadi kurang memuaskan. Karena kita udah dibangun untuk percaya Sarah akan melakukan apa saja untuk anaknya, jadi masuk akalnya buatku adalah Sarah harus melakukan ‘banting-stir’ yang ekstrim dalam mewujudkan hal tersebut. Aku lebih suka kalo film berakhir dengan Sarah membunuh Miles. Akan lebih dark juga, tidak ada hal yang lebih kelam di dunia selain orangtua yang harus terpaksa membunuh buah hatinya sendiri. Aku percaya film ini mengerti akan hal itu, tapi sepertinya studionya agak takut, jadi kita gak jadi dapat ending itu. Malah diganti sama adegan yang menurutku kebetulan semata, mengurangi intensitas yang sudah dibangun film, meski lebih gak-dark. Mungkin juga produser mengincar kemungkinan sekuel. Tapi aku pikir film ini akan bisa jadi lebih keren kalo endingnya gak seperti yang kita tonton.”

“Daaaamn brooo..!!! asyuuuu~~~ Kalo saya sih, yang paling berkesan adalah Miles. Adegan dimana Miles asli (jiwa sang anak) berusaha melawan untuk tidak diambil alih dan sempat memberikan clue pada si doktor. Juga saat jiwa si pembunuh sudah punya rencana yang matang dan langsung menyatakan rencana briliannya agar si doktor mengatakan bahwa regresi yang dilakukan tidak berhasil.” 

“Setuju, adegan doktor ama Miles itu keren tuh! Akting pemainnya mantep-mantep. Colm Feore yang jadi doktor berhasil meyakinkan tanpa overakting kayak tokoh-tokoh penegah yang biasa. Takutnya ketika diancem itu natural. Taylor Schilling yang jadi Sarah juga dapetlah emosi dramatisnya. Yang jadi Miles, si Jackson Robert Scott, jago juga mainin dua jiwa.”

“Yang paling menarik tentu saja Miles dengan dua jiwa donk.”

“Dua jiwa, mata yang berbeda warna, adegan setengah wajah Miles dalam kostum halloween. Film ini kental sama unsur dualisme; Spiritual dan sains. Innocent dan guilty. Kematian dan kehidupan. Film menghubungkan semua itu dengan konsep reinkarnasi.” 

“Konsep reinkarnasi sudah tampak sedari adegan pertama, adalah di mana momen kematian dan kelahiran memiliki timing yang bersamaan (slightly), sehingga soul atau jiwa yang berpindah tidak dalam masa tunggu tapi langsung punarbawa atau tumimbal. Alias jiwa turun langsung kembali kedunia pada badan kasar yang baru dilahirkan. Konsepnya sudah dilakukan film dengan benar, menurut kepercayaan agama saya. Saya di sini mungkin tidak akan mengutip dari mantra (ayat) di kitab suci, tapi saya jelaskan dengan bahasa saya saja (kalau curious dan mau detail bisa di cari sendiri, atau tanya ke orang dengan kapasitasnya ya hehehe saya cuma bisa kasi penjelasan dasar saja)”

Kelahiran kembali / Reinkarnasi / Punarbawa / Punarbhava (seperti itu kita menyebutnya) merupakan salah satu dari lima dasar keyakinan hindu yang kita percaya (Panca Sradha), mungkin seperti Rukun Iman buat saudara-saudara Muslim seingat saya (tolong dikoreksi, karena saya tidak selalu hadir di pelajaran agama Islam waktu sekolah dulu). Jadi kelahiran kembali ini dikarenakan atma (jiwa) masih membawa karma dari perbuatan (baik/buruk) yang telah dilakukan pada masa lampau. Dan untuk melepas dari reinkarnasi dan mencapai moksa (kebebasan dari ikatan duniawi), dalam kehidupannya seseorang perlu melakukan perbuatan baik, meningkatkan pengendalian diri & spiritual dan melepas dari keinginan keduniawian, sehingga ia terbebas dan kembali kepada pencipta yang menjadi kebahagiaan tertinggi.

 

“Waaah, kalo begitu film ini risetnya cukup detil juga ya sepertinya. Kejadiannya lumayan mendekati kebenaran pada konsep Agama Hindu di dunia nyata. Jangan-jangan footage tentang kasus anak kecil yang punya ingatan di kehidupannya yang dahulu sebagai seorang pilot yang ada di film itu contoh reinkarnasi beneran kali ya.” 

“Saya tidak mengetahui dengan pasti tapi yang saya pernah dengar info bahwa ada seorang anak yang (sepertinya) memiliki ingatan saat kehidupannya yang terdahulu. Dia bisa tahu tempat tinggal bahkan mengingat kerabat dan keluarganya. Saya tidak tahu bagaimana dia punya kenangan dari masa sebelumnya, tapi jika benar; Ya, ini bisa jadi contoh dari reinkarnasi.”

“Menarik sekali. Prodigy ini ternyata memang cukup solid. Trope evil kid yang dimiliki ceritanya bisa membungkus dengan rapi tema tentang ketakutan orangtua, juga ada elemen reinkarnasi yang terkonsep dengan benar sebagai panggung cerita. Kalo mereka berani dari awal sampai akhir, aku akan ngasih lebih tinggi, tapi pilihan ending film ini buatku cukup signifikan ‘mengurangi’ penceritaan secara keseluruhan.”

“Ahaha. Oke kok filmnya. Saya ngasih 7.5 dari 10 kali ya.”

“Aku ngasih 6/10 aja deh. Semoga ke depan ada ‘reinkarnasi’ cerita ini yang lebih berani hhahaha”

 

 

 

That’s all we have for now.
Terima kasih buat Ida Bagus Arindra Dirasthya alias Garonk (twitter @gus_arind) udah mau berpartisipasi bahas film ini, membuka mata sekali tentang konsep reinkarnasi. Aku rekomen banget loh film-film yang aku sebut di atas. Siapa tahu dirimu yang tadinya gak suka hantu-hantuan secara umum malah bisa jadi penelaah film horor.

Bagaimana jika kalian nantinya punya anak yang jenius seperti Miles, apakah kalian akan takut? Apakah kalian akan memperlakukannya secara spesial?

 

Buat yang punya film yang benar-benar ingin dibicarakan, silahkan sampaikan saja di komen, usulan film yang menarik nanti akan aku hubungi untuk segmen Readers’ NeatPick selanjutnyaa~

Buat yang pengen dengar lebih banyak soal film dan krisis ilmu pengetahuan, bisa simak video Oblounge featuring aktor senior Slamet Rahardjo ini yaa:

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

27 STEPS OF MAY Review

“It is not our fault but it is still our responsibility.”

 

 

Ketika ditinggal mati seseorang yang dicintai, kita bisa berpegang kepada prinsip lima-tahap dari Kubler-Ross untuk meniti kembali kestabilan emosional yang kita rasakan. Namun bagaimana jika yang mati itu adalah diri kita sendiri? Bagaimana jika suatu trauma mengerikan terjadi kepada diri kita, meninggalkan luka fisik dan luka jiwa sebegitu dalamnya, sehingga menewaskan siapa diri kita sebelumnya? Lima langkah, tujuh, atau malah dua-belas sekalipun tidak akan cukup untuk menuntun kita melewati proses penyembuhan. May dalam film 27 Steps of May, yang mengalami kekerasan seksual di usia belia, butuh waktu delapan tahun! Sutradara Ravi L. Bharwani mengerti bahwa bergulat dengan trauma personal adalah urusan alami yang sangat sulit bagi para korban. Sebuah bagian dari perjalanan kehidupan yang tidak bisa diburu-buru, tidak bisa dikemas menjadi tahapan-tahapan yang seolah menyederhanakan. Karena dealing with personal trauma, grief atas sesuatu peristiwa melecehkan yang terjadi kepada kita, tidak bisa dijadikan simpel. Melainkan sesuatu yang kompleks, yang sakitnya dapat menjalar hingga ke orang-orang terdekat.

Makanya, 27 Steps of May berjalan dengan deliberately slow. Film ini ingin kita menyelami apa yang dirasakan, terutama, oleh May. Cerita akan memposisikan kita ke dalam sepatu (berkaos kaki panjang) May. Bertahun-tahun setelah dia direnggut ke dalam gang, kehidupan May (jebolan Gadis Sampul Raihaanun Soeriaatmadja bakal jadi kontender kuat dalam penghargaan-penghargaan film tahun ini) tak pernah lagi semeriah pasar malam di adegan pembuka. Dia tak pernah keluar dari kamarnya. Tempat dia mengerjakan pembuatan boneka-boneka princess. Tempat dia melakukan bunyi ‘ceplok ceplok’ yang ternyata adalah berolahraga lompat tali. Dunia May sekarang adalah kamar putih yang nyaris berisi. Bahkan ayahnya sendiri hanya masuk ke sana saat mengantar meja untuk kerja May. Kamera akan membawa kita masuk ke dalam momen-momen paling rahasia dari wanita yang menutup dirinya ke dalam isolasi. Yang memilih ‘curhat’ dengan torehan pisau silet tatkala sekelebat trauma tertrigger lewat ke ingatannya. Film ingin membuat kita merasakan diskoneksi yang serupa dialami oleh May ketika dia duduk diam di meja makan bersama ayahnya. Itulah satu-satunya waktu ketika May mau meninggalkan kamarnya. Selebihnya dia mendekam, bahkan harus ditarik paksa keluar saat ada rumah tetangga yang kebakaran. Kemudian hal yang seperti datang dari dunia David Lynch terjadi kepada May. Dinding kamarnya berlubang dan wanita ini menemukan ada yang tinggal di balik dinding tersebut. Seorang pesulap. Laki-laki.

mungkin dia mau ngajarin rahasia sulap sebuah tongkat yang bisa membesar?

 

 

Honestly, begitu tokoh pria tukang sulap yang diperankan jenaka-tapi-misterius oleh Ario Bayu ini muncul, aku sempat khawatir. Aku enggak mau film malah meromantisasi posisi May sebagai korban dengan kehadiran si Pesulap, cerita akan kehilangan gagasannya jika membuat May diselamatkan oleh Pesulap. Untungnya 27 Steps of May sepertinya sudah punya langkah-langkah riset sendiri. Film ini sangat menghormati tokoh yang ia ceritakan. May sendirilah yang eventually memilih untuk memanjat masuk ke dalam lubang di dinding. Tak sekalipun dia menjadi pasif dan tampak membutuhkan pertolongan. Elemen sulap sendiri – sebagai peristiwa ajaib yang tak terduga – juga berperan dalam menambah bobot pembelajaran yang terjadi kepada May. Film ini tahu persis bahwa korban-korban kekerasan seperti May bukan saja berkembang menjadi orang yang penuh rasa takut, yang menutup diri, yang cenderung menyakiti diri sendiri, melainkan juga merasa kehilangkan kendali. Inilah akar dari proses trauma May, yang membuat dia menjadi seperti dirinya sekarang – yang menyetrika baju dengan hati-hati, yang memakan hanya makanan putih, yang disiplin terhadap waktu. Dia ingin mengembalikan kontrol, kendali atas dirinya sendiri. Itu juga makanya May tertarik mempelajari sulap; sebagai perwujudan dari ia ingin bisa mengendalikan peristiwa ajaib yang ia lihat.

Wanita, ataupun pria, yang jadi korban kekerasan seksual adalah mereka yang dipaksa untuk melakukan sesuatu di luar kemauan mereka. Mereka kehilangan kendali atas diri sendiri, dan perasaan tersebut akan terus berlanjut setelah kejadian. Jadi mereka berusaha untuk mengembalikan kendali yang hilang tersebut. Inilah yang terjadi kepada May, yang kegiatan hidupnya seketika menjadi rutin yang itu-itu melulu. Mengembalikan kontrol ini jadi salah satu tema berulang yang dapat kita lihat pada film.

 

Selain May, film ini juga tentang ayahnya. Ayah May (rasa-rasanya baru sekali ini aku melihat Lukman Sardi memainkan tokoh sedevastating ini) menafkahi mereka dengan bekerja sebagai petinju. Tapi setelah tragedi yang menimpa May, sang ayah bukan lagi bertinju secara profesional, melainkan untuk pelampiasan emosi semata. Jika May menyalurkan sakitnya dengan menyakiti diri sendiri, Ayah May resort ke menyakiti orang lain. Dia juga, pada dasarnya ingin mengembalikan kendali kepada keluarganya, karena dia tidak tahu harus apa. Kita melihat si ayah justru merasa aneh tatkala May melakukan sesuatu di luar kebiasaan pada pertengahan film. Kita merasakan kontras keheningan May dengan dentuman dan hantaman dan teriakan adegan-adegan bertinju sang ayah. Jika kalian ingin tahu apa yang terjadi kepada Iron-Man saat skip lima tahun di awal film Avengers: Endgame (2019); Ayah May ini bisa dijadikan pendekatan yang cocok. Karena si ayah memang persis seperti Tony Stark dalam kondisi kejiwaan yang terburuk. Kedua tokoh ini sama-sama bergerak dalam sistem untuk mengendalikan. Bedanya hanya ayah May tidak punya resolusi untuk balik ke masa lalu dalam upaya mengendalikan kembali ‘kekalahan’ keluarganya. Dan si ayah enggak bisa ngamuk gitu saja kepada May yang menutup diri darinya seperti Iron-Man ngamuk kepada rekan-rekan superheronya.

May dan ayahnya berusaha menyetir hidup mereka kembali seperti sedia kala. Namun tanpa ada yang berani mengungkapkan – tak ada sistem yang mensupport mereka berdua selain keheningan di antara mereka, tanpa mereka sadari mereka justru menyakiti orang lain dan diri mereka sendiri. Dan inilah yang sebenarnya berusaha dikomunikasikan oleh film. Bahwa sesungguhnya ini adalah perjuangan May untuk berkomunikasi dengan ayahnya, begitu juga sebaliknya. Mengingatkan kepada korban perlunya untuk membuka komunikasi, dan kepada keluarga korban untuk menjadi pendukung. Dua tokoh ini terisolasi oleh trauma. Ada adegan ketika May terbata hendak berteriak mengatakan sesuatu kepada ayahnya, tetapi dia belum sanggup. Hal ini membuat ayahnya semakin merasa bersalah dan merasa tak mampu melindungi anaknya. Sebaliknya, kesalahan sang ayah adalah belum menyadari bahwa anaknya butuh lebih dari sekedar presence. Tidak cukup hanya duduk diam di sana. Ayah May malah semakin salah ketika dia malah menyalurkan emosinya sendiri ke dalam ring, jauh dari May. Yang malah membuat May makin merasa sendirian, terbukti dengan seringnya kita diperlihatkan adegan May duduk menunggu kepulangan ayahnya di meja makan.

Kita tidak bisa mengendalikan semua baik-baik saja. Bukan salah kita jika semuanya berubah menjadi tidak baik-baik saja. Kita butuh saling support. Karena kita bertanggung jawab untuk hidup terus sambil menyembuhkan diri. Jangan lagi tambahkan luka yang tak-perlu.

 

“sakit berarti ada yang gak ngalir”, makanya biarkanlah semua mengalir kecuali diare

 

 

Melihat apa yang terjadi kepada May dan ayahnya akan membuat kita mengerti apa yang dirasakan oleh korban-korban kekerasan yang bikin trauma. Film benar-benar meluangkan waktu untuk menekankan perasaan tersebut. Beberapa adegan cukup disturbing, secara terang-terangan memperlihatkan May melukai dirinya sendiri. Sekelebat adegan perkosaan juga tampil intens. Ayah May juga sama menyayat hatinya ketika pria ini menerima begitu saja pukulan dari lawannya di dalam arena. Semua orang dalam film ini memberikan penampilan yang sungguh menyentuh. Film ini mampu berkata banyak tanpa perlu sering-sering membuka suara. Bahkan editingnya saja bisa memberikan jawaban sehingga seolah kita sedang berdialog langsung dengan film ini. Seperti saat kamera memperlihatkan luka di wajah ayah May, dan detik berikutnya kita diperlihatkan dia beraksi dalam ring tinju.

Tapi tentu saja tidak ada film yang sempurna. Walaupun sengaja tampil slow-burn dan banyak adegan yang seperti putus-putus antara May dengan ayahnya. Paruh pertama film ini  terasa lebih panjang daripada paruh keduanya. Aku pikir bisa saja ada beberapa adegan yang dihapus supaya menjadikan pace lebih terjaga. Tapi on second thought, tiap-tiap adegan film ini terasa seperti napas, sehingga jika dihilangkan satu denyut film ini bakal keskip satu beat, dan malah bisa saja semakin merusak temponya. Jadi, kupikir pace atau tempo di awal ini adalah resiko penceritaan. Dan satu lagi, aku juga akan lebih suka kalo si Pesulap itu dibuat lebih ambigu; mungkin angkat diskusi apakah dia ada di dalam kepala May saja atau tidak. Toh film sudah membuktikan lebih baik bagi para tokoh jika pria tersebut tidak ada di momen resolusi akhir May. Menjadikan dia beneran ada justru membuat tokoh ini terjebak dalam semacam trope ‘manic pixie dream boy’.

 

 

 

Aku setuju kalo ada yang bilang film ini adalah film Indonesia terpenting, terbaik, sejauh tahun 2019. Semua yang terpampang di layar itu tampak begitu sarat makna dan gagasan. Cerita dengan percaya diri menghembuskan setiap detik napas dan denyut nadinya dalam setiap langkahnya. Yang membuat kita turut merasakan diskoneksi, membuat kita membayangkan seperti apa trauma di dalam sana. Perasaan terkurung itu begitu kuat, entah itu dalam kamar putih bersih ataupun di dalam ring yang riuh dan kumuh. Dan memang itulah yang dilakukan oleh film-film terbaik; membuat kita merasakan suasana, atmosfer, perasaan, tanpa perlu berlebihan mengorkestrasinya. Film ini bakal jadi kekuatan, support-sistem tersendiri, bagi penonton yang mungkin pernah mengalami kekerasan seksual ataupun trauma personal lainnya.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for 27 STEPS OF MAY.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Apakah kalian punya langkah-langkah sendiri dalam menghadapi trauma atau grief atau kesedihan yang mendalam? Menurut kalian kenapa dalam film ini pelaku kekerasan kepada May tidak pernah menjadi penting lagi?

Tell us in the comments 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

 

 

 

 

 

GLASS Review

“You are what you believe yourself to be.”

 

 

Sembilan-belas tahun! Dengan waktu selama itu, Glass bisa saja adalah salah satu film bertema buku komik, yang paling ditunggu-tunggu oleh pecinta film dan nerd di seluruh. Termasuk. Dan ia bahkan bukan tipikal film superhero yang mengandalkan bak-bik-buk serta CGI. Kalian salah beli tiket kalo ngarepin aksi penuh ledakan dan monster-monster, dewa-dewa, alien, manusia berjubah beterbangan. Karena ini adalah buah pikiran M. Night Shyamalan, yang demen membengkokkan ekspektasi baja kita semua, lantas memecahkannya berkeping-keping, for better or worse. Malahan, dengan beraninya film terang-terangan menampilkan tulisan “A True Marvel”, seolah menantang gagasan kita mengenai apa sih ‘pahlawan super’ itu sebenarnya.

Alih-alih main fisik, sedari awal trilogi ini memfokuskan kepada kejiwaan manusia. Hampir tidak ada adegan aksi di Unbreakable (2000), malahan sebagian besar adalah tentang David Dunn yang harus ‘mengikhlaskan’ dirinya punya kekuatan tidak-bisa-terluka dan actually menggunakan kekuatan itu untuk kebaikan orang banyak. Sebagai antagonis dari Dunn adalah Elijah Price yang menyebut dirinya sebagai Mr. Glass, penggemar – bahkan ahli – buku komik lantaran banyaknya waktu yang ia habiskan membaca sebagai ganti dirinya yang tidak boleh banyak bergerak karena kondisi tulang tubuhnya yang begitu rapuh. Twist yang dihadirkan oleh film pertama yang dielu-elukan sebagai masterpiece dari Shyamalan adalah bahwa ambisi villain, alias penjahat, tidak melulu menghancurkan superhero. Bahwa ada satu orang yang rela menimbulkan petaka bagi masyarakat hanya demi mencari, membangkitkan, superhero beneran. Ke-grounded-an elemen superhero dari dunia Unbreakable secara mengejutkan diteruskan ke Split (2016). Nobody saw this coming. Tidak ada yang menyangka Kevin yang punya dua-puluh-empat personalita berbeda itu hidup di universe yang sama dengan Dunn dan Mr. Glass. Hingga menit-menit terakhirnya, Split tampak seperti thriller membalut studi psikologis tentang manusia yang ‘kabur’ dari trauma mendalam ke dalam kepalanya, melahirkan identitas-identitas berbeda sebagai pertahanan. Jadi, ya, aku sudah tahu Glass juga bakalan lebih banyak ngobrolnya ketimbang berantem. Antisipasi memang sudah membuncah, pembahasan apa yang bakal diangkat oleh penutup trilogi ini; hal mind-blowing apa yang sudah dimatangkan Shyamalan begitu lama untuk kita semua.

Anya-Taylor Joy masih balita loh ketika Unbreakable tayang di bioskop

 

 

Babak pertama Glass sungguh-sungguh keren. Menakjubkan rasanya diperkenalkan kembali kepada Dunn; kita melihat seperti apa hidupnya setelah bertahun-tahun, gimana dia sekarang bekerja sama dengan anaknya. Dengan segera mereka menemukan tempat Kevin menyekap orang-orang yang ia culik, kemudian wow! aku tak menyangka bakal secepat itu melihat Dunn dan The Beast (identitas Kevin yang paling buas) adu kekuatan. Mereka berdua ketangkep oleh polisi dan diasingkan ke sebuah rumah sakit. Dunn, Kevin, dan juga Mr. Glass yang lumpuh dikarantina di dalam ruangan mereka masing-masing di sana.

Sampai di sini, film mengambil waktu untuk membawa kita menyelami pokok pikiran yang tema cerita. Buat beberapa penonton, babak kedua ini bisa berubah menjadi membosankan. Tetapi perbincangan mereka dengan dokter yang diperankan oleh aktris American Horror Story, Sarah Paulson, sebenarnya sangat menarik. Kita diperlihatkan pula banyak treatmen-treatmen filmmaking yang membuktikan bahwa Shyamalan memang tahu apa yang sedang ia buat. Dan tentu saja, akting dari pemain-pemain lain membuat mataku betah untuk menontonnya. Meskipun memang, kuakui, ada sedikit rasa “loh kok ke arah sini?” yang mengganjal saat bincang demi bincang itu bergulir. Bangunan cerita yang dipilih Shyamalan buat Glass toh lumayan aneh. Dua film sebelumnya dimanfaatkan untuk mengukuhkan semesta dunia cerita ini adalah dunia superhero. Namun babak kedua film ini, kita diperlihatkan ‘debat’ antara si dokter yang percaya apa yang dialami oleh Dunn, Glass, dan Kevin bukanlah kekuatan superhero melainkan kekuatan normal yang bisa dimiliki oleh semua orang. Si dokter berusaha meyakinkan mereka bahwa pikiran merekalah yang membuat mereka percaya penyakit mereka adalah anugrah yang luar biasa. Yang tercipta dari permasalahan ini terasa seperti antiklimaks dua film sebelumnya. Babak ketiga diisi oleh Shyamalan dengan banyak twist, yang masuk akal dan ditanam dengan properly, hanya saja kurang nendang, kalah jauh jika dibandingkan dengan twist dua film sebelumnya. Hal ini disebabkan karena kelokan-kelokan cerita pada Glass tidak benar-benar membawa kita ke ‘tempat’ yang baru.

Kita sanggup melakukan apa saja jika kita percaya mampu melakukannya. Kau adalah sesuatu yang kau percaya itu dirimu. Begitu kuatnya kekuatan pikiran. Orang lain tidak akan bisa menegasi  apa yang kau percaya sekalipun kepercayaan itu hanyalah sebuah fantasi. Glass mengaitkan hal ini dengan mitologi superhero dalam buku komik. Tokohnya percaya hal yang mereka baca di komik, bahwa komik punya landasan kebenaran yang dibuat berdasarkan pengalaman nyata. Komik dijadikan bukti keberadaan superhero, sehingga mereka yang punya sedikit kelebihan percaya mereka juga superhero. Di lain pihak, rasionalisasi bisa kita terapkan pada hal apapun begitu kita sudah percaya terhadap ‘lawan’ dari suatu hal. Yang menarik terutarakan oleh film ini adalah, justru orang yang paling tak percaya-lah yang sebenarnya paling mempercayai apa yang ingin ditentangnya.

Tidak ada pahlawan atau penjahat, semua itu bisa berganti dengan mudahnya. Yang ada hanya pikiran dan usaha kita terhadapnya.

 

jangan-jangan semua orang gila di RSJ sebenarnya adalah superhero dan kita semua bersalah udah menahan mereka

 

 

Meskipun film ini meninggalkan kesan yang kurang nendang dan praktisnya di bawah harapan banyak orang, bukan berarti tidak ada yang bisa kita nikmati selama durasi dua jam lebih tersebut. Malahan, film ini buatku loveable banget. Teknisnya memang tingkat super semua. Perspektif kita didesak oleh kamera yang seringkali mengambil posisi orang-pertama. Ini tidak akan menjadi masalah terutama jika yang kita lihat adalah Kevin alias The Horde. Melihat James McAvoy berganti peran dalam hitungan jentikan jari (atau dalam film ini literally on a flip of the switch) sudah merupakan anugerah tersendiri, yang membayar lunas tiket bioskop kita. Pindah-pindah persona dan gaya bicara seperti itu tampak sangat mudah dilakukan olehnya. Hubungan yang terjalin antara Kevin dengan Casey tampak manis sekaligus devastatingBruce Willis dan Samuel L. Jackson juga menyuguhkan permainan yang sama solidnya, meskipun peran mereka enggak begitu banyak bercakap. Aku suka gimana Shyamalan memberikan treatment warna kepada setiap kemunculan tiga tokoh ini. Dunn hampir selalu disertai dengan warna hijau yang melambangkan kehidupan yang dilindungi olehnya. Kevin dengan warna kuning dan pala botak membuatnya tampak seperti pendeta, yang kultus oleh agenda penyelamat versinya sendiri. Glass dengan warna ungu sebagai simbol yang diagungkan, royalti, karena dia percaya dialah ‘tuhan’ – pencipta dari superhero. “Bukan limited edition. Aku menulis origin story,” akunya dengan bangga. Dalam adegan interogasi, Shyamalan mendudukkan tiga tokoh ini di dalam ruangan pink untuk menunjukkan kepada kita kepercayaan mereka mulai memudar. Keraguan apakah mereka superhero atau cuma orang sakit mulai membesar.

Kebiasaannya membuat cerita twist menjadikan Shyamalan begitu peka terhadap detil-detil. Dengan cermat ia melandaskan banyak hal, menyisipkan informasi demi informasi. Membuat adegan flashback menjadi menyenangkan dengan perlakuan khusus yang begitu diperhatikan olehnya. Maka dari itu, aku jadi sedikit geram ketika ada beberapa aspek dalam cerita yang ‘luput’ olehnya; yang harusnya bisa dieksekusi dengan lebih masuk akal dan gak konyol. Seperti lampu-lampu di kamar Kevin; dia dijaga oleh lampu sorot yang dipasang di dekat pintu masuk supaya ketika ada apa-apa – Kevin memunculkan The Beast atau identitas lain yang berbahaya untuk melarikan diri – lampu otomatis menyala, menyilaukan mata, dan memaksa identitas berbahaya itu kembali masuk dan bertukar dengan identitas lain yang lebih ramah. Tentu, aspek ini memberikan kita momen-momen menakjubkan dari akting McAvoy, namun juga benar-benar bego. Kevin bisa dengan gampang meloloskan diri; dia cukup menutup mata, atau menyarungkan matanya ke pakaian atau sarung bantal ala film Bird Box (2018). Kenapa tidak sekalian aja mereka membuat semua ruangan berisi lampu seperti ruangan Dunn yang penuh oleh keran air.

Sama seperti Avengers: Infinity War (2018), Glass adalah cerita dengan banyak tokoh yang membuat kita bingung siapa tokoh utamanya. Dan sama mengejutkan seperti Infinity War yang ternyata adalah tentang kebenaran versi Thanos, film ini memang dibuat sebagai episode untuk Mr. Glass. Hanya saja tidak gampang membuat cerita di mana penjahatnya memegang kendali, terutama jika kau berniat untuk punya twist dalam ceritamu. Inilah sebabnya kenapa Dunn diberikan porsi yang sedikit, dia bahkan gak punya arc. Kevin Wendell Crumb terlihat lebih cocok sebagai tokoh utama – ia dimunculkan duluan, dia punya arc, porsinya lebih banyak – tapi dia pun tidak melakukan pilihan yang relevan dengan tema cerita. Semua penjahat butuh superhero, semua hal dalam film ini dilakukan oleh Mr. Glass. Twist sebenarnya dalam film ini adalah di mana tepatnya posisi Mr. Glass. Apa dia penjahat atau superhero. Dia protagonis atau antagonis. Dan cerita yang seperti ini hanya berani dilakukan oleh sutradara seperti Shyamalan yang enggak pernah betul-betul peduli terhadap angka box office.

 

 

 

 

Film ini adalah suplemen yang bergizi untuk penggemar komik superhero, terutama di masa-masa di mana cerita fantasi tentang pahlawan dan penjahat berlomba-lomba menghadirkan sudut pandang yang baru. Buat penggemar film pun ada begitu banyak yang bisa bikin jatuh hati dalam film ini. Sinematografi, akting, tema, treatment, film ini benar dibuat oleh orang yang punya visi. Meskipun visi itu kadang membuat kita kecele. Tak kalah banyaknya hal yang mestinya bisa dirapihkan oleh film ini, tapi film masih bekerja di dalam konteksnya. Twistnya – yang kurang nendang – tetap sebuah kelokan yang logis dan solid. Kita boleh jadi sedikit kecewa karena menunggu lama, tapi kita tidak perlu punya kekuatan super melenturkan tubuh, enggak perlu sebegitu long reachnya, untuk memaksa diri menyukai film ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for GLASS.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Komik adalah media cerita yang paling sering diremehkan. Apa pendapat kalian tentang komik, dan cerita superhero secara universal?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017

THE MISEDUCATION OF CAMERON POST Review

“The question is not how to get cured, but how to live”

 

 

 

Hal paling tak-terduga yang pernah ditanyakan seorang cewek kepadaku adalah “Kak, suka gak lihat bokep lesbi?”

Gak pernah jelas bagiku pertanyaannya itu bersifat jebakan atau bukan, like, mungkin dia berusaha cari tahu apa aku pervert or something, tapi yang jelas pertanyaan sederhana tersebut seperti lubang yang menganga sebagai jalan masuk pertanyaan-pertanyaan ‘deep thoughts‘ untuk dibahas.

Kenapa pria begitu suka nonton bokep, bahkan ketika aksi yang dilihatnya berupa cewek-dengan-cewek yang dipercaya sebagai sesuatu yang gak bener. Apakah industri porno juga ngikutin selera pasar; apakah ‘pasarnya’ itu laki-laki. Ketika membicarakan adegan lesbi, ada gak sih penontonnya yang kritis, like, mungkin gak sih ada cewek yang nonton, trus memprotes adegan lesbian ternyata enggak seperti itu kenyataannya di dunia nyata? Seberapa beda seks dipandang oleh laki-laki dengan oleh perempuan?

 

Tak bisa dipungkiri industri perfilman masih didominasi oleh laki-laki. Jadi, selama ini kita melihat adegan skidipapap, dalam film beneran maupun film biru, sebagian besar didepiksi melalui ‘mata-mata lelaki’. Meskipun film yang baik biasanya hanya menampilkan adegan dewasa yang paralel dengan tema atau gagasan besar yang ingin disampaikan, tapi fokusnya tetap berpusat kepada kesenangan dan fantasi pihak pria. Bahkan Blue is the Warmest Color (2013), film Perancis tentang romansa dua wanita itu, yang dapat banyak nominasi dan menang banyak award itu, tetap saja masih terkurung dalam bingkai sudut pandang lelaki. Pemain wanitanya sendiri melaporkan merasa seperti seorang tunasusila saat merekam adegan seks enam-menit yang membuat film tersebut ‘terkenal’ (klik ini buat artikelnya)

Baru saat menonton The Miseducation of Cameron Post, aku merasa selama ini sudah ‘salah edukasi’ dalam menilai seni dari adegan-adegan dewasa pada film. Digarap oleh sutradara perempuan, Desiree Akhavan, adegan panas dalam film ini (kita akan melihat banyak aksi cewek-dengan-cewek) enggak sekadar ‘panas’, aku yang cowok bisa merasakan keragu-raguan, keberantakan, kespontanan yang ditakutkan menjadi penyesalan yang menguar kuat dalam setiap pertemuan seksual. Dan sepertinya memang seperti demikianlah realita erotika di mata wanita.

Dengan sama realnya, film ini membahas tentang kejiwaan Cameron Post yang mendapat halangan dalam mengeksplorasi seksualitas dirinya, karena yang Cameron rasakan merupakan hal terlarang dalam agama. Cameron yang yatim piatu dikirim oleh tantenya ke rehab khusus untuk remaja Kristen yang mengalami penyimpangan orientasi seksual setelah Cameron ketahuan sedang ‘pacaran’ bersama sobat ceweknya. Di sana Cameron tak ubahnya pasien yang harus segera disembuhkan dari penyakit yang mematikan. Dengan set-upnya ini, film akan bermain di antara satir dengan drama yang tulus, menempatkan kita ke dalam batas pandang Cameron yang dipaksa menerima bahwa apa yang ia rasakan adalah hal yang salah. Meskipun udah banyak menampuk peran-peran kontroversial, pernah bermain sebagai anak kecil kasar, penyihir remaja, hingga vampir muda yang tak bakal tua, Cameron termasuk tokoh paling ‘dewasa’ yang pernah dimainkan dengan gemilang oleh Chloe Grace Moretz.

Cowok di sekitar Chloe bisa-bisa insecure semua melihat betapa meyakinkannya orgasme yang ia terima di film ini

 

 

Sebuah film enggak harus punya gagasan yang sesuai dengan yang kita setujui untuk dapat dinikmati. Film enggak musti politically correct. Karena toh kita bisa saja setuju ama pendapat yang diusung oleh orang lain, dan tidak mengubah pendapat milik kita sendiri. Yang penting adalah bagaimana film tersebut mengutarakan idenya. Buah pikiran utama yang dibahas oleh film ini adalah soal apakah homoseksual sebuah penyakit, sebuah disorder. Film punya jawabannya sendiri atas pertanyaan tersebut, dan dia mengungkapkannya dengan begitu menawan.

“Tidak ada yang namanya homoseksual,” kata ibu kepala pembimbing Cameron yang galaknya membuat dirinya ekivalen dengan Hitler si pemimpin Nazi, “Tentunya kita tidak membiarkan pengguna narkoba mengadakan pesta obat, bukan?” dengan tegas film menekankan bahwa menyukai sesama jenis bukan saja sakit yang harus disembuhkan, melainkan juga kriminal yang harus dibasmi. Karakter si Ibu dan antek-antek pusat rehabilitasi yang dijadikan antagonis oleh film ini memang bisa terlihat sebagai satu dimensi, dan jadi masalah buat sebagian penonton yang menginginkan kedalaman yang lebih. Tetapi kita harus ingat mereka adalah bagaimana Cameron memandang mereka. Cameron, si gadis remaja, di satu sisi juga digambarkan tidak terbuka kepada mereka. Dan ini bukan kelemahan naskah, melainkan kekuatan lantaran penulisannya benar-benar menilik dari sudut pandang remaja yang merasa disudutkan. Yang merasa bimbang karena tidak tahu pasti apakah emosi yang ia rasakan akan mendapat dukungan. Melihat interaksi Cameron dengan pembimbingnya, seperti melihat interaksi betulan antara remaja dengan orang dewasa. Remaja akan berahasia, akan mendengarkan apa kata yang lebih tua, dan melawan dalam diam – sebagai remaja kita toh sering merasa orang yang tua dari kita tampak ‘sok tahu’ ketika sedang menasehati. Seolah mereka merasa mereka yang paling benar. Perasaan itu tergambar sempurna lewat naskah dan akting yang luar biasa.

Hal mengerikan yang terjadi kepada Cameron selama dia diasramakan adalah gimana semakin hari, dia yang tadinya merasa enggak bersalah, toh jadi kemakan juga; dia mulai cemas dan mempertanyakan gimana kalo dia memang salah; gimana kalo yang ia rasakan memang perasaan yang salah. Dia mulai takut; karena dorongan seksual bercampur insecure yang lagi dan semakin gede-gedenya, setiap malam Cameron bermimpi ena-ena, dan ini berbahaya karena bagaimana jika desahannya terdengar oleh pengawas yang secara random mengecek kamar. Melihatnya begitu, kita turut merasa was-was. Karena film juga memperlihatkan bahwa pihak rehab juga sebenarnya tidak tahu apa yang mereka lakukan. Yang mereka sebut mengobati hanyalah menyuruh Cameron dan teman-temannya mengisi sendiri ‘gunung es’ yang menjadi sumber masalah penyimpangan orientasi mereka. Dan kita melihat Cameron dan teman-temannya mengisi dengan ngarang. Mereka asal saja menaruh hal-hal seperti sering nonton sepakbola bersama ayah, sering membantu ibu, terlalu suka berolahraga, sebagai akar masalah yang disetujui oleh pihak rehab. Momen saat Cameron menumpahkan emosinya di babak akhir terasa sangat kuat karena begitu menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi di sana.

Bahwa homoseksual tidak bisa disembuhkan dengan paksa. Yang ada hanyalah, remaja itu dipaksa untuk membenci diri mereka sendiri, membenci sedemikian besar, sehingga mereka ingin mengubah siapa dirinya. Dan itu bukanlah cara yang sehat. Memang bukan lobotomi yang dilakukan oleh rehabilitasi God’s Promise, namun practically sama saja dengan mencuci otak. Bukan menyembuhkan yang seharusnya ditanyakan, melainkan bagaimana hidup dengan ‘sehat’

 

Orangtua yang menonton diharapkan menjadi bisa mengerti terhadap apa yang sedang dialami oleh anak remaja yang mengalami masalah (kalo masih mau disebut masalah) seperti Cameron. Seperti keluarga Dursley yang takut Harry Potter mewarisi kemampuan sihir ayah-ibunya; you just can’t beat that shit out of them. Ada proses, ada pendekatan. Salah-salah, orang tersayang kita bisa-bisa berakhir menjadi seperti salah satu teman Cameron di asrama. Salah satu yang menarik dalam cerita memang bagaimana Cameron memperhatikan teman-teman di asrama yang sama-sama dipaksa meyakini mereka terjangkit ‘kebingungan gender’. Agak sedikit disayangkan kita tidak bisa melihat karakter-karakter berwarna itu (ada satu teman Cameron yang keturunan Indian dan dia dikatain punya dua jiwa – cowok dan cewek – bersemayam di dalam tubuhnya) lebih banyak karena film hanya memberi kita informasi sebanyak yang diketahui oleh Cameron. But when it’s sweet, it’s sweet, you know.

adegan favoritku adalah ketika remaja-remaja itu nyanyiin “and I say hey yeah, yeah, yeah, yeah” di dapur

 

 

 

Berada di sisi remaja, namun tampak diniatkan lebih besar teruntuk orangtua. Meskipun tidak memberikan jalan keluar yang benar-benar terang, namun orangtua diharapkan menarik kesimpulan untuk membiarkan para remaja mengekpresikan, mengalami sesuatu, dan merasa bersalah karenanya. Berikan remaja kesempatan untuk belajar, dan mencari ‘kesembuhan’ terbaik untuk diri mereka. Karena dibuat oleh wanita, dan bicara tentang remaja wanita, segala aspek dalam film ini terasa real. Dan tidak sekalipun menghindar darinya. Satu-dimensi pihak antagonis tidak akan mengurangi film terlalu banyak, karena dia tetap bermain dalam sudut pandang protagonisnya. Dan I don’t mind it either, sebelum ini kita dapat Udah Putusin Aja! (2018) yang juga tentang seorang remaja cewek diinstitusikan (ke pesantren), tapi film itu jatohnya konyol karena enggak keep it real dengan tokoh otoriter yang dibuat rada bloon demi komedi dan ‘menghaluskan nada’. Lagipula, institusi bersifat rehab yang ‘kejam’ itu toh masih ada, sama seperti masalah Cameron si remaja 90an yang juga masih relevan, makanya film ini jadi begitu penting.
The Palace of Wisdom gives 8 out of 10 gold stars for THE MISEDUCATION OF CAMERON POST.

 

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.
Jika bukan penyakit, apakah menurut kalian homoseksual itu sebuah pilihan?

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We got PIALA MAYA for BLOG KRITIK FILM TERPILIH 2017