SRIMULAT: HIL YANG MUSTAHAL – BABAK PERTAMA Review

 

“Keep your eyes on the stars and your feet on the ground”

 

 

Grup lawak dulu ada banyak. Each of them had their own TV show. Dengan gaya lawakan masing-masing; bukan hanya antara satu grup lawak dengan grup lawak lain, tapi juga antaranggota dalam satu grup lawak sendiri. Meski bervariasi begitu, toh mereka punya kesamaan. Sama-sama digandrungi penonton. Candaannya selalu dekat dengan penonton. Salah satu grup lawak yang paling fenomenal adalah Srimulat. Seperangkat komedi asal Surakarta ini sudah ada bahkan sebelum stasiun televisi menjamur di tahun 90an. Illustrious career grup yang anggota pelawaknya banyak banget inilah yang coba diadaptasi oleh sutradara Fajar Nugros. Dijadikan hiburan sesuai dengan hashtag yang diusung. ‘SaatnyaIndonesiaTertawa’. Kalimat yang mengisyaratkan bahwa film ini dibuat untuk mengembalikan kita ke masa-masa tertawa bersama. Makanya alih-alih memperlihatkan struggle grup lawak yang sudah lewat keemasannya di masa kini seperti yang dilakukan oleh film Finding Srimulat di tahun 2013, kitalah yang diajak oleh Nugros ke periode Srimulat masih muda, masih aktif manggung dengan segala suka dukanya. I was so ready mencemplung ke kehidupan mereka, untuk menyimak gimana sih kisah mereka, seperti apa mereka aslinya. Dalam salah satu adegan ceritanya, karakter Basuki menasehati karakter Gepeng. “Karena jelek, maka harus lucu!” Sayangya, nasehat tersebut dijadikan literal pedoman oleh Nugros dalam mempersembahkan kisah grup legendaris ini.

Ternyata ceritanya tidak dimulai dari bagaimana Srimulat pertama kali bisa sampai terbentuk. Frame ‘Babak Pertama’ film ini ternyata dimulai dari Srimulat sudah terkenal di Jawa. Tarzan, Nunung, Asmuni, Timbul, Kabul, Basuki, Djudjuk sudah jadi bintang panggung. Kelompok seniman pimpinan Teguh Slamet Rahardjo ini siap menjadi lebih besar saat undangan untuk tampil di stasiun televisi tiba. Mereka diminta ke Ibukota, dan manggung di depan presiden Soeharto! Tapi ada satu masalah yang mengganjal Pak Teguh. Dia menemukan lawakan grupnya mulai gak lucu. Mulai stale. Adalah Aris alias Gepeng, anak dari salah seorang musik pengiring yang menyuntikkan candaan segar lewat celetukannya kepada Srimulat setiap kali nampil. Pak Teguh mempercayakan Gepeng untuk ikut bersama rombongan Srimulat ke Jakarta. Tentu saja ini jadi kesempatan emas bagi Gepeng untuk menggapai mimpinya sebagai anak desa yang sukses jadi pelawak di ibukota!

Aku baru tahu kalo Asmuni ternyata seperti Undertaker. Sama-sama ‘locker room leader!’

 

 

So essentially, film ini adalah cerita Gepeng membuktikan diri untuk dapat diterima oleh rekan-rekan pelawaknya yang udah lebih dulu punya nama (yang tidak berarti banyak begitu mereka semua tiba di Jakarta) dan berpengalaman manggung lebih banyak. Gepeng terutama disinisin ama Tarzan, yang merasa ‘senior’. Asmuni basically jadi semacam mentor bagi Gepeng, dan Basuki yang tampak seumuran dengannya jadi sahabat sekaligus jadi ally yang paling percaya dan mendukung Gepeng masuk menjadi bagian dari keluarga Srimulat. Karakter Gepeng diperdalam dengan sedikit lapisan asmara; dia naksir sama gadis betawi, Royani, anak pemilik kontrakan. Arc si Gepeng sebenarnya udah cukup kuat untuk jadi pondasi sebuah drama komedi, semacam tipe underdog story. Tapi tentu saja Srimulat bukan tentang Gepeng seorang. Seperti yang sudah kita sama tahu, Srimulat adalah grup lawak, jadi naturally ada banyak karakter yang menanti untuk digali. Untuk dibahas. Apalagi mereka semua ini adalah tokoh nyata, yang sudah ikonik penampilan, gaya, bahkan cerita hidupnya.

Hal pertama yang dilakukan Fajar Nugros dalam menghandle ini adalah menghimpun castnya. Menarik sekali pilihan pak sutradara soal cast ini. Salah satu concern-ku sama film Indonesia beberapa tahun terakhir ini adalah soal pengotakan cast, berdasarkan fungsi peran mereka. Banyak kita jumpai film yang membagi urusan komedi akan khusus dimainkan oleh komika atau komedian, sementara cerita utama – pemain utama – hanya mengurusi drama alias bagian-bagian yang serius. Bahkan seperti sudah ada bagian khusus, seperti Asri Welas atau Ence Bagus yang selalu kebagian mengisi peran minor untuk komedi. Ini kan jadi membatasi range para aktor. Bintang utama jadi harus kayak jaim melulu, bintang pendukungnya jadi receh terus. Dalam Srimulat ini, untungnya Nugros memberikan kepercayaan kepada aktor untuk bermain komedi. Bintang-bintang muda seperti Bio One, Zulfa Maharani, Elang El Gibran diberikan kesempatan untuk meggali akting komedi mereka. Masing-masing mereka killed their role perfectly. Bukan hanya mimik, Gibran beneran seperti Basuki muda (vokal dan gaya ngomongnya), dan Bio One berhasil menjaga karakternya lewat range yang tampak natural. I would love to see apalagi yang bisa dilakukan Zulfa sebagai Nunung muda, karena di film ini perannya masih agak terbatas. Dialognya masih terus-terusan either soal dia pengen nembang  atau soal running jokes singkatan anu kepanjangannya apa. Dan harus diapresiasi juga Zulfa dan Bio One menempuh transformasi fisik untuk mendukung penampilan akting mereka. Sungguh berdedikasi anak muda mau mengubah berat badan mereka demi peran.

Para aktor muda itu bermain bersama more established stars seperti Ibnu Jamil, Teuku Rifnu Wikana, Dimas Anggara, Morgan Oey, bahkan Rano Karno, yang juga dipersilakan menjenguk kembali sisi banyol yang mereka miliki. Refreshing aja melihat mereka bermain di peran yang berbeda dari biasanya. Terutama Morgan Oey yang paling jauh dari perannya yang biasa. Sementara aktor yang paling sering muncul dalam comedic role singkat, Erick Estrada, kebagian peran yang sebenarnya justru paling dalem secara emosional sebagai Tessy. Selain Gepeng, aku memang paling tertarik sama cerita Tessy alias Kabul. Naskah memang melingkupi proses kenapa seniman pria bernama Kabul itu memilih untuk jadi persona Tessy di atas panggung. Ada bagian cerita ketika para Srimulat harus mencari gaya atau ‘gimmick’ mereka masing-masing. Mereka semacam menempuh perjalanan terpisah. Bagaimana Tarzan bisa sampai memilih seragam tentara sebagai ciri khasnya, bagaimana Gepeng memilih haircut, kita bahkan dapat bagaimana ceritanya Paul bisa jadi punya kostum Drakula (for this reason, film ini juga punya sedikit elemen horor hihihi). Nah si Kabul, perjalanannya sebenarnya bisa sangat kompleks. Ini bukan saja soal dia memakai cincin batu akik di semua jari (kalah deh Thanos!) ataupun soal dia jadi bencong. Ada emotional core perihal Kabul merasa ‘terganggu’ sejak dilempari sepatu dan dianggap gak lucu oleh Pak Teguh di awal cerita. Aku sebenarnya pengen melihat ini lebih banyak termanifestasi sebagai actual storyline.

Masing-masing karakter pelawak di grup Srimulat datang ke Jakarta membawa mimpi. Mereka mau sukses. Jadi bintang seperti Titiek Puspa. Namun lessons yang harus mereka ingat adalah seniman harus selalu membumi. Impian boleh setinggi bintang di langit, tapi mereka harus tetap membaur. Seragam ABRI, waria, pembantu, majikan, bahkan hantu adalah sesuatu yang mereka pilih untuk tetap menapak dengan penonton. Dan tentu saja itu juga tersimbol pada tantangan utama yang harus mereka hadapi bersama di cerita ini. Tampil dengan full berbahasa Indonesia!

 

Langkah kedua adalah mempersembahkan cerita. Diniatkan sebagai ‘Babak Pertama’ (asumsiku ini Srimulat bakal jadi trilogi, but I might be wrong) film ini ternyata beneran kayak babak pertama dari film-panjang tiga babak. Pembahasannya memang menutup; film ini berakhir dengan tinggi seperti plot poin satu ngehook untuk masuk ke babak kedua. Setelah problem yang dipermasalahkan kelar, all lessons learned, dan grup protagonis kita mendapat angin kedua. It’s fine berhenti seperti ini. Malah, sebenarnya mereka gak perlu kasih Babak Pertama di judul. Mereka bisa aja ngasih judul Hil yang Mustahal tok, atau apa kek, untuk menegaskan ini cerita tentang Gepeng. The fact they feel the need to put ‘Babak Pertama’ out di judul justru membuat ‘bersambung’nya jadi kerasa. Mereka seperti gak yakin penonton bakal hook (padahal dunia dan karakternya sudah cukup terestablish) malah instead build around cerita yang bersambung seperti televisi.

Seperti yang kusinggung sedikit di pembuka, film ini enggak mau jadi serius. Dia memilih untuk jadi lucu aja. Poin-poin yang kusebutkan tadi disebar acak sepanjang durasi film yang nyaris dua jam. Pembahasannya enggak dibanyakin. Malahan hanya kayak terselip di antara begitu banyak sketsa-sketsa tingkah lucu khas lawakan Srimulat. Aku gak tahu para pelawak ikonik itu aslinya mereka gimana sehari-hari, boleh jadi mereka memang ngebanyol setiap waktu seperti yang diperlihatkan oleh film ini, tapi untuk sebuah sajian film aku mengharapkan karakter atau kejadian yang lebih menapak. Cerita film ini harusnya bisa punya range, dengan segala permasalahan Gepeng dan Tessy, dan karakter lain – jika diangkat. Tapi pada akhirnya film ini rangenya tetap kurang tergali karena banyakan komedi, yang beberapa adegan malah komedinya berulang. Ada running joke yang kocak dan timingnya tepat, kayak soal ‘minuman rasa lalat’, dan ada lebih sering lagi joke berulang yang tasteless. Misalnya, candaan ‘toilet’.  Oh film ini went overboard dengan lelucon orang boker.

Kita juga akan dapat satu momen multiverse hihihi

 

Bukan hanya para karakter Srimulat yang bertingkah ala lelucon panggung Srimulat di kehidupan sehari-hari. Karakter pendukung seperti pemilik kontrakan ataupun orang-pinter juga melakukan hal yang sama. Adegan terlucu film ini surprisingly datang dari saat geng Srimulat mengadukan perihal rumah angker kepada orang-pinter. Hal yang paling lucu dari gimana film mempersembahkan cerita mereka sebagai makhluk ajaib sehari-hari seperti ini adalah, adegan mereka melawak di atas panggung justru gak diperlihatkan. Hanya di-skip-skip. Kita gak lihat mereka di atas panggung seperti apa. Kita hanya diberikan informasi bahwa mereka mulai gak lucu, mereka mungkin butuh Gepeng supaya lucu, dan bapak presiden yang nonton mereka manggung tidak tertawa – sehingga semua orang dilarang ketawa (singgungan bagus, dan btw Soeharto-nya mirip banget ama yang asli!) Ini membuatku bingung. Kita melihat – dan tertawa bersama – Srimulat yang ngelucu sepanjang hari (dengan atau tanpa Gepeng), tapi begitu di atas panggung kita diarahkan juga untuk percaya lawakan mereka gak maksimal. Pak Teguh melempar dengan sepatu, Pak Presiden tak tertawa. Jadi agak rancu; apakah film ini ingin memperlihatkan mereka itu lucu atau tidak sebenarnya di bagian pertama ini.

 

 

 

Setelah berturut-turut nonton hal yang mustahil – alias film-film action dan fantasi barat – menonton Hil yang Mustahal memang terasa seperti nice change of pace. Film ini memang terasa lebih dekat. Aku tahu satu-dua hal tentang Srimulat (walau gak pernah benar-benar ngefans) dan film berhasil mengenai saraf nostalgia dan kenangan menyenangkanku perihal acara Srimulat dan juga era show komedi di televisi. Yang bikin aku terkesan di sini adalah penampilan akting (khususnya bintang muda yang gak jaim) dan nuansa jadul yang cukup terasa. Aku juga tertarik sama cerita Gepeng dan Tessy, yang sayangnya film enggak benar-benar build around it. Fokusnya lebih ke mengisi durasi panjang itu dengan komedi-komedi, yang sometimes go overboard. Jadi aku agak sedikit kecewa film ini ngambil rute ‘yang penting lucu’. Dan terutama karena mencuatkan diri sebagai babak pertama dari entah berapa babak. Padahal dari yang ingin disampaikan di sini, film bisa saja hadir sebagai cerita utuh. Dan memang berakhir sebagai closed story, hanya garapannya terlalu loose dan mengincar hook untuk bersambung, tidak seperti film.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for SRIMULAT: HIL YANG MUSTAHAL – BABAK PERTAMA

 

 

 

That’s all we have for now.

Apakah menurut kalian ada perbedaan antara pelawak jaman dulu dengan pelawak masa kini? Bagaimana dengan selera komedi masyarakat, apakah juga mengalami perubahan?

Share  with us in the comments 

 

 

 

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

 

 

KING RICHARD Review

“The odds will always favor the man with a plan”

 

 

 

Nominasi Oscar untuk tahun 2022 baru saja diumumkan. Dan seperti biasanya, ada aja yang diributin sama khalayak. Kenapa film anu yang masuk, kenapa film yang itu enggak masuk. Selalu ada kekecewaan. Tapi itu bagus, karena selama masih ada yang kecewa berarti subjektivitas menonton film itu masih ada. Kita belum menjadi robot yang seleranya samaaa semua. Subjektivitas itulah yang bikin film beragam, dan actually menciptakan persaingan yang memajukan perfilman. Dan soal subjektif; meskipun kalo ngereview film yang udah ditonton aku berusaha seobjektif mungkin, dalam hal memilih tontonan aku bisa jadi salah satu penonton paling bias sedunia. Banyak film yang gak mau kutonton hanya karena soal sepele seperti tweet sutradaranya, attitude aktornya, atau malah karena tingkah buzzernya. Nah, buatku, yang jadi permasalahan dari sepuluh film yang ada dalam daftar nominasi Best Picture adalah film King Richard. Kenapa? Karena aku simply gak suka ama Will Smith. Jadi aku males, aku gak mau nonton film-filmnya. Kecuali terpaksa. Dan dengan masuknya film ini di daftar nominasi, aku jadi terpaksa harus nonton. Harus ngereview. Dan, sebagai penilai yang harus seobjektif mungkin, kini aku terpaksa harus mengakui bahwa film ini memang layak masuk nominasi. Film biografi ini adalah drama yang menghibur, dan ya, penampilan akting Will Smith membuat karakter menjadi menarik dan asik untuk disimak, walau sedikit problematis.

Kira-kira seperti itulah yang juga kurasakan kepada Richard Williams. Aku gak suka karakter ini. Pria ini keras kepala, dia menuntut semua orang harus melakukan hal yang sesuai pertimbangan dan rencananya, tanpa mau menjelaskan atau berbagi pandangan soal rencana tersebut. Richard sudah punya rencana terhadap dua (dari lima) putrinya semenjak mereka masih kecil. Venus dan Serena ingin dia jadikan atlet tenis perempuan nomor satu di dunia. Menyadari tenis itu olahraga kulit putih, Richard tahu jalan bakal berliku bagi kedua putrinya. Tapi Richard ini sudah punya visi ke depan. Dia pun melatih, mendidik, hingga mengorbitkan putri-putrinya dengan caranya sendiri. Cara yang kadang tampak ekstrim. Hingga tak jarang Richard bentrok dengan pelatih yang sudah bersedia ngajarin mereka bermain secara profesional (tau-tau Richard bilang anak-anaknya gak bakal ikut turnamen kejuaraan!) dan bahkan bentrok dengan istrinya sendiri. 

Udah kayak orang India yang anaknya baru lahir udah ditetapkan harus jadi dokter

 

So yea, from certain point of view, Richard memang problematis. Film ini mengambil sudut pandang seorang patriarki, yang diperlihatkan bahwa berkat jasa-jasanya (termasuk kerasnya didikan dan keras kepala serta pilihan-pilihan anehnya) dunia dipertemukan sama dua atlet tenis perempuan paling hebat yang pernah ada. Like, kenapa bukan Venus atau Serena Williams aja yang diangkat. Kenapa bukan cerita perjuangan kedua atlet yang sudah dididik keras ini saja yang dijadikan sudut pandang utama. Karakter Richard Williams ini jika dimainkan oleh orang yang salah, jika ceritanya dikisahkan dengan cara yang salah, pastilah karakter dan film ini bakal dihujat. Namun dari menonton awalnya saja kita bisa tahu bahwa cerita ini berada dalam tangan-tangan yang tepat. Memang, belum lagi sebuah penceritaan yang sempurna. Tapi setidaknya King Richard mengangkat dengan respek, dan berhasil mencuri perhatian kita selama durasi dua jam setengah yang film ini minta.

Karakter yang gak aku suka, dimainkan oleh aktor yang gak aku suka, tapi nyatanya aku mulai merasakan sedikit simpati kepada perjuangan karakternya seiring cerita berjalan. Aku jadi ngerasa relate juga sama sikap Richard yang suka melakukan hal sesuai rencana. Kita pun mengerti pleadnya, mengerti kenapa dia sekeras dan sengotot itu mengarahkan hidup kedua putrinya yang masih kecil. King Richard memang bukan cerita kemenangan olahraga. Ini lebih kepada sebuah cerita tentang ‘kemenangan’ parenting dari orangtua, itupun jika parenting memang ada unsur kalah-menangnya. Richard, at least, berpikir begitu. Dia kalah jika anak-anaknya tidak mendapat hidup yang lebih baik. Karakter ini selain sebagai orang tua, diberikan layer personal. Richard sendiri adalah seorang, katakanlah, loser. “Ayah dihajar orang lagi!” seru anaknya kepada ibu, mengindikasikan ini bukan kali pertama ayah mereka babak belur. Naskah mengaitkan personal tersebut dengan akar, atau dari mana mereka berasal. Daerah tempat tinggal yang ‘keras’ dan penuh prasangka. Jadi film ini juga bicara tentang kesenjangan hidup terkait warna kulit atau ras.

Lapangan tenis yang bagus adalah yang keras supaya bola-bola hijau itu punya pantulan yang mantap. Begitulah analogi yang cocok untuk set up, latar, yang membentuk karakter-karakter yang menghidupi naskah film ini. Cerita berjalan terbaik ketika mengeksplorasi pribadi Richard. Ketika kita melihatnya sebagai orangtua yang mau melindungi anaknya. Sikapnya yang menarik putri-putrinya dari turnamen dan mau fokus ke pendidikan jadi bisa kita mengerti. Ketika jadi orangtua ini, Richard kelihatan punya flaw. Dia seringkali tampak susah melepaskan egonya, semacam dia mau jadi orangtua yang baik itu bukan seutuhnya demi anaknya, tapi demi dirinya sendiri. Yang bahkan dalam hal olahraga pun dia sebenarnya loser. Will Smith melakukan kerja maksimal dalam menghidupkan karakter ini. Menggunakan kepiawaiannya bermain di antara garis drama dan komedi, Smith membuat Richard tidak sampai menjadi annoying. Dia tetap tampak simpatik. Dan yang terutama, ya menghibur.

Manusia yang berencana, Tuhan yang menentukan. Pepatah itu tentu saja bukan nyuruh kita pasrah. Melainkan harus terus berusaha dengan hati ikhlas. Ikhlas bukan berarti pasrah. Karena ikhlas berarti tetap mengupayakan yang terbaik, meskipun pada akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Richard Williams pantas dijadikan panutan untuk hal ini. Dia memegang teguh apa yang ia percaya. Dia berjuang sekeras ia bisa. Dia memimpin keluarganya dengan mantap, tidak menunjukkan keraguan walau apapun kata orang.

 

Baru ketika membahas urusan olahraga tenis itulah, Richard terlihat menjengkelkan. Pilihan-pilihan konyolnya, atas nama stick to the plan, itu membuatnya jadi tampak selalu benar. Film tidak benar-benar membuat kita masuk kepada karakter ini soal rencana tersebut. Malah ada yang dia tampak ambigu, entah itu membual atau tidak. Seperti misalnya ketika seorang pelatih yang melihat video latihan Venus dan Serena hanya mau melatih Venus seorang. Richard tampak keberatan mendengar ini, tapi dia tidak bisa berbuat banyak. Kemudian Serena yang merasa left out, berlatih sendiri. Dan di bagian akhir film kita melihat ada adegan dialog antara Richard yang menenangkan Serena dengan menyebut dia memang merencanakan Serena untuk kehebatan yang lebih besar. Dan kita semua tahu seperti apa besarnya nama Serena Williams sekarang. Berkenaan dengan karir olahraga tersebut, Richard benar-benar seperti yang paling tahu. Semua orang seharusnya tidak meragukan dirinya. Dan ini jadi terlalu berlebihan. Membuat karakternya enggak lagi punya sisi dramatis yang membuat kita peduli seperti di bahasan keluarga tadi. I mean, bahkan ayah dalam Captain Fantastic (2016) saja tidak selalu dibuat ngambil keputusan yang benar perihal pendidikan anak-anaknya. Karakter ayah dalam film fiksi tersebut jadi terasa lebih real dibandingkan ayah di drama biografi ini.

Richard malah kayak lebih pinter daripada pelatih tenis beneran

 

Arahan film semakin gak konsisten. Antara drama orangtua atau ke kompetisi olahraga. King Richard ditutup seperti cerita olahraga; dengan satu big match. Mendadak cerita jadi tentang Venus melawan pesaing yang seperti pakai taktik curang. Venus yang udah bertahun-tahun absen dari pertandingan karena disuruh latihan dulu terus dan menikmati masa muda oleh ayahnya, harus membuktikan kemampuannya. Oleh karena sebagian besar waktu dihabiskan film untuk membuat keputusan ayah terhadap pelatihan anaknya itu benar, maka drama olahraga ini jadi gak kena. Kita gak merasakan intensitas dari Venus. Ataupun juga dari match itu sendiri (karena sutradara Reinaldo Marcus Green memang tidak benar-benar mempersiapkan diri dengan adegan olahraga tenis). Kamera lebih sering pindah ke reaksi Richard dan keluarga Venus yang menonton. Bahkan di saat dia seperti udah pasti mau menjadikan film ini berakhir dengan olahraga, Green tahu dia tidak bisa lepas dari karakter utamanya. Maka hasilnya tidak maksimal. Terasa datar. Bahkan dalam kekalahan, Richard tidak merasa kalah. Bola drama ada pada anaknya, tapi anaknya tidak pernah benar-benar digali sedari awal.

Momen-momen Richard dengan anaknya itulah yang kurang. Venus dan Serena Williams jadi totally pendukung, walaupun kondisi yang sebenarnya di dinamika mereka kan ayahnya yang mendukung anak. Film ini cukup lihai. Mereka memberikan momen kepada Venus untuk memutuskan sendiri hidupnya, sehingga tidak lagi kayak diatur terus. Tapi tetap saja pilihan tersebut sejalan dengan Richard. Tetep ayahnya ini benar. Karakter Richard Williams jadi benar-benar kayak ‘dilindungi’. Cerita ini bakal lebih hidup jika lebih banyak momen seperti istri Richard mengonfrontasinya, membuat Richard bergulat dengan dirinya sendiri di dalam hati. Interaksi emosional anaknya yang mulai punya hidup sendiri dengan Richard dan ‘rencana-rencananya’ perlu ditampilkan lebih banyak. Dan konfrontasi itu enggak mesti harus fisik. Ini satu lagi kekurangan dalam penceritaan. Film ini perlu lebih banyak menggambarkan hal-hal emosional yang tak-terucap, ketimbangkan mewujudkannya atau mengucapkan dengan langsung. Literally, film lebih memilih untuk membuat Richard kentut sebagai tanda enggak setuju sama tawaran investor.

 

 

Kalo dibalikin lagi ke perumpaan tenis, film ini ya benar-benar kayak high profile match. Punya hype dan orang excited dan no matter what bakal terhibur. Padahal sebenarnya penguasaan bolanya masih kurang. Film ini masih kurang yakin mau menceritakan ayahnya saja, atau juga mengangkat dua pemain tenis dunia. And it is really weird pada cerita keberhasilan dua atlet cewek yang merepresentasikan ras mereka, mereka tidak diberi banyak sorotan. Melainkan membuat parenting yang ortodoks dan patriarki sudut pandang utama, yang menjadi sumber keberhasilan, dan punya keputusan-keputusan yang ternyata selalu benar. Film ini menghibur, tapi aku bisa paham juga kalo nanti ada yang bilang film ini cuma jadi serve untuk membuat Will Smith bisa jadi smash hit di Oscar.
The Palace of Wisdom gives 6 out of 10 gold stars for KING RICHARD

 

 

 

That’s all we have for now

Menurut kalian seberapa besar jasa Richard untuk karir anak-anaknya? Bagaimana membedakan antara mendukung dengan mengatur di dalam parenting?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SPENCER Review

“A bird in a cage is not happy, even if you bought him a golden cage.”

 

 

 

Lady Diana dikenal sebagai sosok yang tragis. Peristiwa dan aftermath kematiannya yang naas jadi sensasi perbincangan berita di tahun 1997. Maka, sutradara Pablo Larrain yang sebelum ini menggarap biopik figur First Lady Jacqueline Kennedy yang tak kalah ‘sedihnya’ (Jackie), merasa tepat untuk membuat kisah hidup Diana sebagai sebuah cerita tragis pula. Larrain mengarahkan film Spencer sebagai cerita tentang perempuan yang bagai burung terkurung dalam sangkar emas. Bukannya mau nyamain cewek ama burung – apalagi perempuan yang begitu berpengaruh seperti Lady Diana si Princess of Wales, tapi memang Larrain menjadikan Spencer bukan sebagai biopik sejarah yang utuh. Melainkan sebagai sebuah fabel yang berdasarkan kepada tragedi nyata. Dongeng yang benar-benar terus mengedepankan ketaknyamanan hidup perempuan di dalam istana yang seperti penjara. Seolah terpenjara itulah yang membuat Diana bisa relate kepada kita.

Malanglah juga, buat penonton yang mungkin enggak tahu atau mungkin dulu masih terlalu muda untuk mengerti apa yang menimpa Lady Diana. Karena Larrain tidak tertarik untuk berlama-lama menjelaskan tragedi apa yang terjadi di kehidupan Diana Spencer, yang jadi anggota kerajaan Inggris. Informasi latar belakang seperti soal rumah tangga Diana dengan Pangeran Charles sedang genting karena ada rumor affair, atau keadaan di istana Sandringham, atau perihal eating disorder yang diderita Diana, akan langsung ditampilkan saja di dalam narasi yang ia susun berpusat pada minggu Natal di tahun 1991.

Plot Spencer berpusat kepada eksplorasi perasaan Diana terhadap keluarga dan aturan dan gaya hidup kerajaan yang harus ia jalani sebagai istri dari putra mahkota. Diana datang terlambat ke Sandringham. Meski sepertinya dia memang beneran nyasar, tapi kita bisa melihat Diana menikmati keterlambatannya itu. Menikmati momen-momen saat dia ada di luar sana. Alih-alih di dalam istana, yang jadwal buka kado hingga pakaian yang ia kenakan saja diatur. Dia gak bisa milih dress proper dan asesoris yang wajib ia kenakan setiap kali jamuan makan. Bahkan jamuan makan itu sendiri bisa jadi siksaan emosional untuk Diana. Bulimia yang ia derita bentrok dengan kewajiban makan dan berat badan yang harus ia patuhi. Tidak ada di ruangan itu yang tampak peduli kesehatannya. Diana justru tampang dipandang sebagai pelanggar aturan oleh keluarga kerajaan. Gak mau patuh. Kalung mutiara yang ia kenakan pun lantas menjadi simbol kekangan bagi dirinya.

spencer-kristen-stewart-as-princess-diana-lede
POW di bajunya itu singkatan Princess of Wales atau malah Prisoner of War?

 

Film ini disebut banyak orang sebagai sebuah masterpiece. Dan itu benar. Spencer adalah masterpiece dalam menggambarkan ketaknyamanan yang kerap mendera Lady Diana. Ambil adegan makan malam sebagai contoh. Kita melihat Diana masuk terlambat (sekali lagi) ke ruang makan. Mengenakan gaun hijau dan kalung mutiara yang sebenarnya enggan ia pakai. Kemudian prosesi makan malam mereka berlangsung dengan sangat kaku. Lengkap dengan pelayan-pelayan yang udah terlatih kayak militer. Mereka makan dalam diam, badan tegap, siku gak boleh nyentuh meja dan segala macam. Tapi, kita diperlihatkan ekspresi Diana, yang masih belum menyentuh sup hijaunya. Cara kamera merekam, editing yang dilakukan, plus permainan akting Kristen Stewart membuat kita merasakan sensasi tak nyaman. Kita seperti merasakan sejumlah pasang mata memelototi Diana. Konteks lain di sini adalah Diana punya ‘kebiasaan’ muntahin kembali makanannya, jadi dia justru diharapkan dengan tegas untuk tak melakukan itu lagi – meski dia tidak punya kendali atas penyakitnya itu. Kecemasan Diana ditangkap oleh film, dan kemudian digambarkan lewat adegan sureal berupa Diana merenggut lepas kalung mutiara yang ia kenakan. Mutiara-mutiara itu berjatuhan ke dalam mangkuk supnya, dan Diana memakan sup itu, lengkap dengan toping mutiara-mutiara yang keras. Adegan yang beberapa menit kemudian diungkap sebagai bayangan dari Diana tersebut benar-benar efektif dalam menunjukkan seberapa besar tekanan di situ bagi dirinya.

Ironis, Diana justru merasa lebih terkekang di rumah yang melindunginya seratus persen lewat aturan dan berbagai tata krama dibandingkan di luar, di tempat paparazi diketahui akan mengintai kemana pun dia pergi. Kungkungan ternyata jauh lebih bikin stress.

 

Gambar-gambar Spencer yang gorgeous sekali memang dimanfaatkan dengan seefektif itu. Sandringham bahkan udah kayak karakter tersendiri. Dengan build-up yang cermat terhadap bagaimana tempat mewah itu malah jadi seperti penjara. Kamera akan melayang memperlihatkan bentuknya yang tertutup. Lalu juga ada adegan demi adegan yang memperlihatkan betapa strict-nya di sana; bahkan urusan dapur saja benar-benar diawasi oleh pasukan khusus. Dan Diana ada di sana, sebagai presence yang mempertegas bukan hanya ‘kecantikan’ melainkan juga kontras keinginan untuk bebas dan kungkungan itu. Semua aspek penceritaan lewat visual tadi itu dimainkan sehingga saat adegan perasaan pembebasan diri di menjelang akhir, kita semua jadi ikut merasakan seberapa gemetarnya tangan Diana untuk merenggut kalung (kali ini beneran) dan betapa plongnya nanti emosinya terasa.

Ketika film-film tentang Lady Diana sebelum ini masih berusaha untuk tampil berimbang, Spencer tidak ragu untuk memihak. Tidak ragu untuk menunjuk antagonis. Diana ke dapur tengah malam aja, ditegor. Dia gak nutup gorden jendela aja lantas dimarahi, karena ternyata ada paparazi yang mengintai setiap saat bahkan saat dia berganti pakaian. Diana heran kenapa harus dia yang ‘kena’, seperti kalo di kita ada perempuan yang dilecehin maka yang disalahkan pasti si perempuan, bukan para cowok yang harusnya dilarang. Diana gerah harus mengikuti protokol dan gak bisa kemana-mana, gak bisa ngapa-ngapain sendirian. Memang, sebaliknya, bisa terdengar Diana-lah yang egois. Supaya gak keliatan seperti itu, maka naskah mencuatkan posisi Diana. Bahwa semuanya bermuara kepada concern Diana kepada anak-anaknya. Kekhawatiran Diana atas kesehatan mereka (Istana yang dingin, dan menolak gedein pemanas) serta perhatian saat ayah memaksa mereka ikut berburu burung. Ini jadi memperlihatkan Diana sebagai ibu yang baik di atas segalanya. 

spencer03042ce3-ede2-4c4e-ac72-18cad07ae5d0-SPENCER_by_Pablo_Larrain_courtesyNEON
Waktu kecil, aku punya teman yang ‘diledek’ ibunya mirip Lady Di

 

Aku gak tau aslinya Lady Diana seperti apa, tapi banyak yang bilang penampilan Kristen Stewart di sini mirip banget – bahwa Stewart menghilang ke dalam sosok Diana Spencer. Aku gak bisa konfirm soal itu, but I do have some opinions. Stewart memang berhasil nampilin sosok yang terkekang lahir dan batin. Dia ngomong aja suaranya kayak bisik-bisik, bahkan saat sedang adu argumen dengan koki atau pegawai di istana itu. Cara ngomong yang semakin memperkuat kesan bahwa perempuan ini saking merasa gak bebasnya, sampai bicara pun gak bisa lepas. Namun di sisi lain, lama kelamaan kok ya agak monoton juga. Somehow jadi terasa susah juga bagi kita untuk masuk ke dalam karakter ini, karena kita literally dan figuratively kurang bisa ‘mendengar’ yang berusaha ia keluarkan. Padahal kalo dia lepas aja, kayak waktu dia ngobrol di pantai bareng sahabat yang jadi pelayannya, karakter ini lebih mudah untuk kita ‘dekati’.

Ini jugalah yang jadi sedikit ganjelan buatku. Spencer terlalu lama menghabiskan waktu untuk menunjukkan Diana adalah korban sangkar emas. Diana nangis, Diana muntah, atau melakukan keduanya bersamaan – sambil pakai dress menakjubkan, Diana melukai diri sendiri. Intensitas yang terus naik untuk menunjukkan perasaan terkekang yang semakin besar. Film kekeuh banget nunjukin ketatnya si pihak antagonis sehingga Diana jadi hancur lebur. Tanpa pernah menonjolkan keberimbangan. Padahal tak sedikit juga pelayan atau pihak istana yang ngasih Diana nasihat dan nunjukin support kepadanya. Tapi she just cry dan segera balik ke mode ‘gue korban’. Aku bukannya gak berada di sisi Diana atau gimana, tapi aku melihat ada kecenderungan begini: dalam narasi yang ada elemen pelaku dan korban, kalo narasi itu pembahasannya fokus ke pelaku tanpa atau sedikit sekali menggali perspektif korban, pasti bakal dikecam. Namun sebaliknya, tidaklah mengapa kalo yang dibahas adalah perspektif korban doang. Pelaku tidak dikembangkan, melainkan justru kalo bisa harus terus diantagoniskan. Buatku ini kecenderungan yang mengkhawatirkan sih. Membuat film jadi kentara banget fokus nomor satu kepada agenda. Alias memihak tapi untuk kepentingan menggaet ‘marketing’ tertentu.

Dan Spencer ini aku hampir ngerasanya kayak begitu. Film ini membuat seolah Diana itu berada di tempat yang tidak ia mau. Seolah dia jadi tawanan di sana. Penonton yang sama sekali gak tahu siapa Diana boleh jadi akan menganggap Diana dipaksa menikah, atau mungkin malah ‘dijual’ kepada keluarga kerajaan. Padahal kan tidak. Diperlihatkan Diana bukan putri paman petani (bukan Diana yang di lagu Koes Plus!) Diana putri bangsawan Eropa. Rumahnya juga gede. Walaupun dia diperlihatkan memang hidup lebih bebas di masa kecil, tapi tentunya Diana tahu seperti apa lingkungan istana – apa yang ia masuki ketika menikah. Inilah yang harusnya diberikan konteks oleh film. Boleh mengantagoniskan satu pihak, tapi juga tetap gak elok jika protagonisnya selalu dipush entah itu selalu benar atau selalu dibuat menderita tanpa menggali kenapa dia bisa merasa begitu pada awalnya. Development karakter Diana terlalu sedikit karena film terlalu sibuk mengantagoniskan pihak satunya dan  terlalu sibuk membuat protagonisnya ini menderita.

 

 

 

Tampaknya memang perspektif itu yang diincar. Film ini sepertinya memang tidak berniat untuk menggali lebih dalam melainkan hanya berpusat kepada kecamuk emosional yang sekiranya terjadi di dalam diri seorang Lady Diana selama ia hidup sebagai istri Pangeran Charles dan anggota kerajaan. Ingat, sekali lagi film ini adalah fiksi yang berdasarkan tragedi nyata. Jadi tentunya build up tragedinya itu yang diimajinasikan di sini. Dan untuk menghasilkan perasaan tak-nyaman, terkukung, dan stress karakternya tersebut, film ini melakukannya dengan luar biasa. Hanya, buatku, film yang dua jam isinya ‘memamerkan’ seseorang di posisi korban, bukanlah tontonan yang, katakanlah menghibur, atau yang benar-benar terasa penting. They just so undeniably great at being that one-sided, rather self-absorbed story.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SPENCER

 

 

 

That’s all we have for now

Diana di kisah ini sering melihat vision dari cerita yang ia baca tentang Anne Boleyn yang dipenggal Raja Henry yang menolak menceraikannya. Menurut kalian apa makna cerita tersebut sampai begitu penting bagi Diana?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

TICK, TICK…BOOM! Review

Time is what we want most, but what we use worst”

 

 

Hidup itu berharga karena ada batasnya. Tanyai saja setiap vampir yang kalian tahu. Mereka pasti akan berkata hidup abadi itu membosankan. Karena tidak ada deadline, kau punya kesempatan sebanyak yang dimau. Tidak ada lagi urgensi di dalam hidup jika kita punya waktu yang tak terbatas di dunia. Heck, kita terpikir untuk pengen hidup seribu tahun lagi hanya karena kita tahu hidup ada masa kadaluarsanya. Jika kalian tidak punya kenalan vampir untuk memberitahu pentingnya waktu, maka kalian cukup menonton kisah hidup Jonathan Larson dalam biografi musikal Tick, Tick…Boom! yang merupakan debut penyutradaraan dari aktor, penyanyi, dan komposer Lin-Manuel Miranda.

Batas atau umur itulah yang sebenarnya memberikan excitement dalam hidup. Kita melakukan passion kita, mengejar impian kita, karena kita tahu kita mungkin tidak bakal dapat mencapai semua itu karena waktu kita bakal habis. Makanya kita semua pengen dapat tambahan waktu, padahal yang penting dari waktu tersebut bukanlah seberapa banyak yang kita punya. Melainkan apa yang kita lakukan untuk mengisinya.

 

Memang tepat bila disebut Miranda membuat film ini sebagai surat-cinta untuk pencipta teater musikal – yang disebut oleh karakter ceritanya sebagai “spesies yang terancam punah”. Cara bercerita yang digunakan Miranda ‘terdengar’ oleh kita sebagai sebuah ekspresi penuh rasa syukur dan cinta yang dipersembahkan kepada seni tersebut, dan kepada tokoh pembuat-pembuatnya. Khususnya kepada Jonathan Larson. Seorang sutradara teater musikal yang menelurkan karya fenomenal, tanpa pernah melihat karyanya tersebut dimainkan. Larson meninggal dunia pada malam sebelum show Rent ditampilkan. Agak tragis, tapi tak pelak sungguh menginspirasi. Tick, Tick…Boom! however, dihadirkan tidak berfokus kepada Rent karya Larson yang fenomenal itu, melainkan kepada sosok si Larson sendiri. Perjalanan yang ia tempuh sebelum ia bahkan punya, katakanlah, nyali untuk membuat Rent.

Menjelang ulangtahunnya yang ketigapuluh, Larson (peran musikal pertama bagi Andrew Garfield!) mulai galau. Krisis eksistensi menerpa dirinya. Larson merasa belum mencapai apa-apa. Dia yang kerja di diner, belum jadi orang. Mimpi-mimpinya di masa muda sama sekali belum kesampaian. Karya musikal yang ia ciptakan terus saja ditolak. Atau lebih parah, dicuekin. Bertekad untuk membuat sesuatu atas namanya, Larson kini memusatkan diri untuk proyek musikal rock, sci-fi, yang ia beri judul Superbia. Masalahnya, di proyek yang ia tahu bakal mengubah dunia itu, Larson justru merasa kesulitan. Dia gak mampu menulis babak kedua – babak paling penting – dalam musikal ciptaannya itu. Dalam kondisi ekonomi yang mulai menghimpit, sosial yang makin tercerai berai (bertengkar dengan pacar, dan ditinggal mati oleh teman-teman yang satu persatu direnggut HIV), dan umurnya sendiri yang ia pikir semakin kehabisan waktu, Larson berjuang menyelesaikan karyanya.

boomimage
Tik tik bum, bunyi bom waktu di dalam hati~

 

 

Untuk film pertamanya ini, Miranda mengadaptasi musical performance one-man show Larson sebagai pondasi dari drama musikalnya ini. Clearly, sang sutradara masih berpegang pada hal yang lebih dekat dengannya, yakni gaya teatrikal. And that’s okay, karena Miranda memang cukup berhasil bercerita dengan memadukan gaya teatrikal tersebut dengan gaya bercerita film. Kita melihat Larson tampil live di depan audiens, kemudian dia bercerita tentang lagu yang ia ciptakan dari kehidupannya itu. Cerita Larson tersebut lantas menjadi adegan drama yang kita tonton sebagai flashback. Dalam adegan-adegan drama itu pun nantinya Larson dan karakter-karakter lain akan sering burst out menyanyikan lagu, lengkap dengan koreografi dan set yang dibikin seolah sebuah live teater. Semua bingkai tersebut ditampilkan mulus. Lagu-lagunya catchy dan tampak dibawakan dengan natural. Lirik yang menggambarkan perasaan Larson saat itu pun mampu menghantarkan perasaan dengan lebih tepat, walaupun kesannya jadi fun. Misalnya musical number saat Larson terperangkap dalam kesibukan diner tempat dia bekerja di hari minggu. Atau adegan nyanyi saat dia ‘merayakan’ apartemen baru milik sahabatnya yang memilih kerja kantoran dengan melepaskan kerjaaan sebagai seorang aktor.

Tapi buatku, film ini paling the best saat berbingkai teater. Bagian musikal favoritku adalah ketika Larson dan penyanyi yang diperankan oleh Vanessa Hudgens melagukan momen-momen saat Larson dan pacarnya ribut soal kerjaan dan masa depan. Koreografinya unik sekali. Mereka duduk di atas kursi di depan panggung menghadap audiens. Sambil tersenyum mereka mendendangkan curhat. Semakin intens curhatnya, senyum mereka makin lebar, dan gerakan koreo mereka semakin cepat-cepat. It’s wild! Kalo sutradara tidak memilih untuk menyelang-nyelingi adegan musikal di teater itu dengan adegan drama Larson dan pacarnya berantem di rumah, kalo musikal itu disyut dengan benar-benar seperti adegan teater – without cut dan sebagainya – aku sudah pasti akan meloncat-loncat kayak anak kecil dihadiahi PS 5 oleh bapaknya yang galak. Namun tetap saja, tidak bisa dipungkiri bahwa yang disuguhkan oleh para aktor di film ini bukanlah akting sembarang akting.

Can we please stop dulu bicarain Spider-Man, dan fokus ke betapa luar biasanya Andrew Garfield dalam peran musikal pertamanya ini? Garfield adalah salah satu dari sedikit aktor yang kayaknya selalu ngasih aku surprise dari apa yang bisa ia lakukan terhadap perannya. I mean, waktu di Hacksaw Ridge (2016) aku surprise sama penampilan drama emosional yang ia tampilkan. Begitupun waktu di Silence (2017), dia kembali memberikan note yang distinctive dalam perannya. Sekarang di Tick, Tick…Boom! ini juga begitu. Dia berhasil menghidupkan sosok seniman larger-than-life. Dia menghajar setiap adegan musikal dengan penuh gelora. Bukan sebatas nyanyi dan tampil sedikit nyentrik, Garfield di sini juga harus mengenai nada-nada dramatis. Larson yang tenggelam dalam cipta karya sehingga bertengkar dengan orang-orang terdekatnya, akan dengan gampang terlihat sebagai pribadi egois. Tapi Garfield membuat kita bersimpati dengan karakternya ini. Membuat kita paham apa yang ‘tick‘ di dalam perasaannya. Penampilan akting Garfield membuat karakter ini semakin mudah untuk kita relasikan dengan kehidupan kita.

Siapa sih yang gak risau saat menemukan dirinya berkepala tiga tapi belum mencapai apa-apa. Aku rasa semua penonton butuh menyaksikan film ini, paling enggak sebagai guide memasuki usia tiga-puluh. Karena memang gak gampang, untuk menyadari bahwa hidup kita bukan semata terbatas, tapi sebanyak apapun waktu yang kita punya, segimana pun orang punya waktunya masing-masing, waktu itu gak akan berbuah apa-apa jika kita tidak mengisinya dengan hal yang kita cinta. Kisah hidup Jonathan Larson dalam film ini, kurang lebih, mengatakan tentang hal tersebut.

boomTherapy-in-Tick-Tick-Boom
Aku malah sempat kecewa saat masih hidup setelah usia 27, aku merasa gak cukup berbakat untuk sebanding sama the 27 Club artists.

 

 

Ada banyak hal yang bisa disukai dalam Tick, Tick…BOOM! kecuali pacarnya Larson. Urgh. Annoying banget. Dia sengaja banget nagih jawaban saat Larson lagi sibuk-sibuknya. Dia gak dateng saat show. Eh, pas shownya rame, dia baru muncul. Pacar apaan tuh. Tapi mungkin itulah mark keberhasilan dari karakter yang memang jadi inspirasi Larson ini. Kisah cinta mereka inilah yang harus dijadikan stake utama, karena narasi yang berangkat dari kisah nyata ini kan semua orang sudah tahu endingnya. Larson yang merasa dirinya diburu waktu, sendirinya, tidak akan lagi jadi cerita yang menarik jika film tidak menyelam ke dalam karakter-karakter yang punya peran dan menghidupi hidup Larson. Karakter-karakter itu, seperti pacar Larson dan juga sahabat masa kecilnya, memang ada dan disorot cukup banyak oleh cerita. Tapi permasalahan mereka tidak pernah dibahas lebih dalam dari sebuah adegan musikal berikutnya. Permasalahan dengan mereka berdampak kepada Larson, tapi film hanya memperlihatkan sebatas soal ‘terwujud sebagai lagu baru’

Bukan Larson saja yang terburu waktu. Demi menguatkan kesan deadline yang menghimpit, film ini sendiri akhirnya bercerita dengan nada yang seperti terburu-buru. Tidak pernah benar-benar diam sejenak untuk merenungi emosi ataupun berkontemplasi dengan karakternya. Seharusnya ada lebih banyak adegan seperti Larson berenang dan literally menyelam ke dalam pikirannya. Film ini, memperkenalkan kita dengan menarik kepada karakter-karakter dan masalah mereka, tapi tidak lantas mau keluar dari memperlihatkan para karakter sebagai manusia di luar yang kita lihat. Oh, ada teman yang terbaring kena HIV, Larson sedih, tapi setelah dijadikan satu lagu, masalah tersebut pindah juga ke masalah lain. Ke masalah untuk dinyanyikan berikutnya. Bisa jadi ini karena pondasi cerita adalah pertunjukan seni sehingga yang kita lihat juga masalah yang terkesan lompat-lompat seperti itu, tapi sebenarnya itu gak jadi soal jika film mau untuk melambat sedikit. Narasi tidak harus berjalan seperti diburu-buru. Kesan itu bisa dilayangkan lewat kerja kamera atau lewat editing saja.

 

 

 

Seneng sekali setidaknya ada tiga drama musikal bagus tahun 2021 ini. Meskipun aku gak suka musik, tapi aku selalu menyambut gempita film musikal karena biasanya emosinya memang menohok lebih dalam. Film ini misalnya. Fusion keren dari teater musikal dengan drama musikal. Penampilan akting yang mempesona dari Andrew Garfield turut mempermanis surat-cinta untuk seni teater dan salah satu seniman yang bekerja membuatnya, si Jonathan Larson itu sendiri. Ceritanya sungguh menginspirasi, super relatable, dan bakal bikin kita ikutan nyanyi dari hati. Pengennya sih film ini bisa sedikit lebih ‘tenang’ dan lebih berlama lagi menyoroti karakternya.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for TICK, TICK…BOOM!

 

 

 

 

That’s all we have for now

Jonathan Larson berjuang hingga akhir hayat atas nama seni. Menurut kalian apakah seni itu memang sesuatu yang pantas untuk diperjuangkan?

Share pendapat kalian in the comments yaa

 

 

Thanks for reading.

Remember, in life there are winners.
And there are losers.

 

 

 

We?

We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

JUDAS AND THE BLACK MESSIAH Review

“The most powerful weapon on Earth is the human soul on fire”
 

 
 
Pidato “Dream” Martin Luther King memang membawa pengaruh besar bagi pergerakan Civil Rights. Bibit-bibit perjuangan mulai tumbuh. Dan Amerika, menyandang racist status quo dengan bangga, terus memonitor gerakan-gerakan kulit hitam. That’s when they ‘found’ Fred Hampton. Messiah – Penyelamat – bagi kaum-kaum marginal, yang menggerakkan massa lewat berbagai program menghimpun persatuan dan protes demi protes antikekerasan. FBI sudah siap untuk mengangkat senjata, membasmi Partai Black Panther tempat Hampton bernaung di Chicago. Tapi tidak sebelum mereka membuat cerita ini benar-benar seperti kisah dalam Alkitab. Senjata rahasia FBI untuk melumpuhkan Black Panther adalah dengan menyusupkan seorang Judas – seorang pengkhianat – ke dalam barisan Fred Hampton.
Judas and the Black Messiah garapan Shaka King akan membawa kita melihat secara personal apa yang sebenarnya terjadi pada malam penyergapan dan pembunuhan Fred Hampton. Karena film ini akan memposisikan kita mengikuti Bill O’Neal, pemuda kulit hitam sekuriti khusus kepercayaan Hampton dan Black Panther, but also pemuda kulit hitam yang jadi informan FBI.

“I’m becom-, I’m becom-, I’m becomiiing
Judas in, Judas in my mind”

 
Dalam interogasi pertamanya dengan agen FBI yang bakal mempekerjakannya, kita mendengar sudut pandang menarik dari Bill O’Neal. Bahwa menurutnya badge atau lencana pengenal lebih menakutkan daripada pistol. Karena badge mengisyaratkan seseorang adalah bagian dari sesuatu yang besar, bahwa ada army yang siap mendukung di belakang mereka. Interogasi yang menjadi bagian dari pembuka film ini boleh jadi diniatkan untuk memperlihatkan alasan kenapa O’Neal sampai bisa atau mau jadi penyusup untuk FBI melawan gerakan rekan-rekan senasib seperjuangannya sendiri. Namun, kalimat yang O’Neal sebutkan perihal ‘badge dibandingkan pistol’ tersebutlah yang dengan sukses mengeset karakternya. Membuat kita bisa mengerti apa yang lebih bervalue bagi O’Neal, dan ini akan berdampak kepada pilihan-pilihannya nanti. Serta menambah bobot emosional dan drama ketika dia melihat dan mengexperience langsung ‘didikan’ Hampton. Dan ini semua itu bukan dilakukan oleh film untuk nge-justify his action later, melainkan untuk menanamkan konflik moral bagi tokohnya.
Karena lencana itu ternyata bukanlah ‘lambang’ polisi atau FBI. O’Neal salah. Perjuangan Hampton dan pemuda-pemuda kulit hitam lain bukanlah perjuangan bersenjata. Sure, mereka punya pistol dan senapan untuk membela diri, tapi setelah benar-benar berada di antara Black Panther, O’Neal bisa melihat bahwa Hampton – sebagaimana Martin Luther King – menggagas gerakan nonviolent.
Setiap kali ada film biografi dari sejarah atau dari peristiwa yang beneran terjadi ini pasti selalu ngeri. Ngeri karena yang dipotret oleh film tersebut, yang tercatat sebagai peristiwa atau masalah lampau, ternyata masih relevan – dan untuk kasus film ini – tampaknya masih hangat terjadi di masa kita menontonnya sekarang. Kita bisa relate karena cerita perjuangan para pahlawan kita juga bicara soal musuh paling mematikan itu ya, musuh dalam selimut. Pengkhianat dari orang sendiri. Sedangkan bagi orang Amerika tentu saja film ini masih relevan sekali dari segi masalah rasisme dan kesemena-menaan aparat. Hukum yang berlaku keras di depan nonkulit putih doang. Belum lama ini kita toh melihat serbuan Kapitol oleh kulit putih, tapi tidak satupun pelakunya mendapat hukuman yang keras. Banyak yang jadi berandai-andai kira-kira apa yang terjadi kalo para penerobos adalah kulit hitam.

Yang jadi sorotan dalam film ini adalah betapa cepatnya polisi mengangkat senjata dan bersiap-siap akan kemungkinan terburuk terhadap perjuangan kulit hitam, sekalipun perjuangan tersebut tidak benar-benar melibatkan tindak kekerasan. Pernah lihat foto polisi menodongkan senjata api ke wajah seorang bocah? Nah, bagaimana bisa polisi dan aparat yang bersenjata takut dan curiga terhadap warga yang tidak pegang apa-apa. Dari perjuangan Hampton, film ini menyugestikan bahwa semangat perjuangan orang yang merasa tertindas itu memang lebih kuat dan mematikan. Pistol bukan apa-apa dihadapannya. Makanya polisi pada ketakutan.

 
O’Neal kini bisa melihat the invisible badge of honor yang ‘dikenakan’ oleh Hampton, orang itu punya bala pengikut yang besar sekali jumlahnya. O’Neal melihat Hampton membuat gerakan pelangi; Hampton berjuang untuk mempersatukan kaum-kaum marginal tanpa peduli ras mereka apa. Dia berusaha menggaet penjuang Latino, bahkan orang-orang kulit putih yang dipandang sebelah mata oleh rezim pemerintah.
Frasa ‘O’Neal melihat’ akan terus berulang jika aku menceritakan seluruh babak kedua film. Karena memang begitulah penceritaan film ini dilakukan. Lewat mata O’Neal, karakter Fred Hampton yang kharismatik itu diperlihatkan kepada kita. Penampilan akting Daniel Kaluuya menjadikan karakter Hampton bahkan terasa lebih besar lagi. Setiap pidato yang ia bawakan, Kaluuya selalu membawakannya dengan lantang dan berapi-api. Film meluangkan waktu untuk memperlihatkan soal Hampton yang selalu lumayan gugup saat latihan pidato di kamar, dia gak menyadari bahwa dirinya seorang penyair – ada romance relationship yang terflesh out sehubungan dengan ini – yang sekaligus juga memperlihatkan kepada kita betapa people-person nya si Hampton. Kharisma itu melimpah ruah lewat penampilan Kaluuya. Ketika dia bicara, kita rasanya ikut terangguk-angguk mengamini apa yang ia katakan. Tokoh ini disebut oleh O’Neal sebagai orang yang sanggup menjual garam kepada siput, dan kita sama-sama tahu betapa mematikannya garam bagi siput. Persona Hampton – sebagai sosok Messiah – di sini memang perlu sekali untuk dibangun, supaya nanti dramatic irony yang dihasilkan juga semakin gede. Akibatnya tentu saja adegan pembunuhan dan tindakan atau pilihan yang diambil O’Neal terhadap si Messiah bakal terasa semakin emosional. Sutradara Shaka King menggenjot banget di elemen ini. So much, sehingga malah jadi masalah tersendiri.
Si Judas, yang jadi protagonis utama cerita, jadi kalah menarik. Karakter O’Neal yang diperankan dengan tak kalah meyakinkan oleh LaKeith Stanfield kurang tergali. Segala konflik moral dan latar belakang yang sudah diniatkan di awal tadi, belakangan jadi jarang dan tidak pernah benar-benar digali oleh film. Tindakan mata-mata yang ia lakukan tidak digambarkan film sebagai sesuatu yang benar-benar memakan dirinya dari dalam. Guilt itu gak kuat diperlihatkan. Ada momen-momen ketika O’Neal tampak mulai ragu dan dia udah gak mau lagi jadi mata-mata FBI, tapi kemudian dengan ‘gampangnya’ permasalahan tersebut dienyahkan. Kita melihat dia makan steak ditraktir oleh si FBI. Beres. Film tidak pernah clear soal apakah memang soal uang, atau bagaimana tepatnya moral O’Neal melihat perbuatannya sendiri. Film tidak menyelam lebih jauh ke karakter ini. Sebagian besar waktu dihabiskan untuk membangun Fred Hampton. Terkait itu juga, relasi O’Neal dengan Hampton pun kurang terflesh-out. O’Neal masuk Black Panther, naik pangkat dari supir ke kepala keamanan, diperlihatkan begitu saja. Kita tidak pernah lihat prosesnya. Kita tidak pernah melihat interaksi personal antara O’Neal dengan Hampton. Bagaimana dia bisa menjadi begitu terpercaya di mata Sang Messiah. Sempat ada momen ketika O’Neal dicurigai oleh anggota Black Panther yang lain, tapi momen itu pun ditampakkan dengan ringan dan ‘gampang’ usai, seperti momen-momen kemelut O’Neal yang lain.

Hayo yang kecele Black Panthernya bukan Wakanda angkat tangaan

 
Beberapa kali film ini menyelipkan adegan wawancara asli antara O’Neal beneran dengan televisi. Dan mendengar beberapa hal yang tokoh itu ucapkan, membuatku jadi bilang “Hey I wanna watch that part!” Seperti soal dia menyebut dia enggak dendam sama agen FBI yang menyuruhnya jadi mata-mata; malah ia menganggap agen itu sebagai mentor. Bagian-bagian yang memperlihatkan adegan seperti itulah yang harusnya juga dimuat oleh film ini. O’Neal dengan agen FBI dalam film ini, tidak digali relasi mereka. Tidak kelihatan O’Neal punya respek khusus terhadap orang tersebut. Film ini harusnya bisa bicara banyak tentang dilema moral O’Neal, terlebih karena kita tahu apa yang terjadi kepadanya (beberapa minggu setelah wawancara televisi yang rekamannya diperlihatkan di film ini, O’Neal bunuh diri). Akan tetapi, menonton film ini, tidak terasa kegundahan dan beratnya pilihan-pilihan tersebut bagi O’Neal. Penyesalan ataupun kegelisahannya hanya dipampang di permukaan. Aku enggak nonton wawancara utuh yang dicuplik film ini, tapi kita semua tahu jika wawancara tersebut ternyata lebih menarik dan emosional, maka tentu ada masalah yang serius dari naskah Judas and the Black Messiah ini.
 
 
 
Dalam ngebuild sosok Hampton, dan membangun emosi soal kejadian naas yang jadi puncak cerita, film ini memang piawai sekali. Menontonnya membuat kita merasa menyayangkan semua yang harus terjadi. Membuat kita berpikir, dan merasa ngeri betapa sedikitnya hal berubah; dulu dengan sekarang. Drama ini superb dalam menceritakan kejadian, tapi sedikit sekali bermain dalam lapisan karakter yang lebih mendalam. Yakni lapisan konflik moral. Sudut pandang dan konflik seorang Judas itu tidak pernah dibahas mendalam karena lebih banyak membahas sosok Messiah-nya. Seharusnya film ini bisa bicara lebih banyak tentang relasi antara kedua sosok ini.
The Palace of Wisdom gives 6.5 out of 10 gold stars for JUDAS AND THE BLACK MESSIAH.
 
 
 
 

 

That’s all we have for now.
Kenapa malah kelihatannya polisi yang takut sama warga padahal yang punya pistol justru mereka? Bagaimana kalian menafsirkan perilaku kasar polisi yang rasis?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

My Dirt Sheet Top-Eight Movies of 2020


 
Kita sudah pernah survive hidup di masa film-film impor telat bahkan dilarang masuk ke bioskop. Malah, abang atau kakak atau orangtua kita pernah ngalamin zaman bioskop yang film-filmnya gak ada yang terpuji. Dan siapa sangka, tahun 2020 ternyata datang beserta ancaman baru bagi para pecinta film; bioskop seluruh dunia harus ditutup demi memutus rantai pandemi! Bukan hanya film impor, film Indonesia pun tak ada yang bisa tayang di bioskop. Bukan hanya film-film bagus, film-film jelek juga harus terpisah dari penggemarnya.
Gak ada lagi yang namanya premier-premier. Gak ada lagi yang bisa nonton bareng. Tempat pemutaran alternatif juga perlahan tutup. Tapi untungnya kita hidup di masa internet yang terbilang cukup jaya. Masa di mana televisi sudah tergantikan oleh platform-platform streaming. Di era bioskop-tutup ini, streaming mencuat sebagai jawaban bagi dunia perfilman. Sebelum pandemi, kehadiran streaming memang sudah banyak, namun Studio/PH masih menomorsatukan bioskop. Karena di situlah pengalaman sinematik yang sebenarnya bisa terasa. Hanya saja, keadaan di 2020 membawa mereka terpaksa harus ‘menyerah’. Daripada film mereka mundur dan tak-tahu kapan bisa rilis karena kondisi pandemi yang tak kunjung menentu, kan. Film Trolls World Tour-lah yang pertama kali  alih-alih memundurkan tanggal tayang, memilih untuk tayang di platform. Dan praktisnya, memulai ‘new normal’ kebiasaan menonton.
Blog ini tentu saja merasakan pengaruh cukup drastis dari perubahaan ini. Pertama, tahun ini aku tidak mengeluarkan daftar ‘Kekecewaan Bioskop’; karena hanya caturwulan pertama yang film-filmnya masih di bioskop. Film-film yang tayang di platform juga banyak yang mengecewakan, sebenarnya, but I don’t feel right menyebut mereka sebuah kekecewaan – karena at least, mereka membuat industri film bisa bertahan, dan karena nonton di platform tidak terasa se-wah dan se-berjuang nonton di bioskop. Kedua, karena nonton di platform, aku jadi kebawa santai. Nonton jadi gak seurgen saat tayang di bioskop, yang perlu ngejar-ngejar sebelum filmnya turun, atau buru-buru beli tiket sebelum kehabisan atau simply sebelum spot kursi favorit diambil orang. Makanya reviewku mulai dari caturwulan kedua kemaren mulai telat-telat. Gak lagi se-on time biasanya. Malah saking banyak dan beragamnya tontonan yang bisa ditonton kapan saja, beberapa film jadi tak terulas. Tahun ini aku hanya mereview 119 film.
On the bright side, waktu nonton yang lebih senggang itu bisa kuisi dengan membuat review video. Ya, mulai tahun ini, youtube My Dirt Sheet sudah aktif ngereview film – dengan konsep sambil main video game! Ahahaha biar gak usah ribet ngurusin copyright tampilan trailer. Jadi yang belum subscribe, silakan lakukan hihihi…
Sisi positif lain dari new-normal nonton ini adalah kualitas yang kureview relatif meningkat. Karena filmnya sedikit, maka tak lagi rame oleh film-film medioker. List tahun ini sangat ketat!
 

HONORABLE MENTIONS

  • 1917 (jika film adalah sebuah experience, maka film ini nawarin experience perang terbaik di tahun ini)
  • Borat Subsequent Moviefilm (Borat kembali menyentil lewat komedi ‘pura-pura udik’, yang benar-benar sebagai reality check buat kita semua. Plus narasinya kini lebih berdrama. Very nice!!)
  • His House (persoalan hidup imigran dijadikan horor nyeni yang luar biasa manusiawi!)
  • Little Women (begini nih bikin film feminis yang gak agenda-ish; cantik dan respek!!)
  • Mank (penggemar sinema bisa belajar banyak dari film ini)
  • Nocturne (horor yang ngasih audio secreepy visual, menguatkan konflik psikologisnya)
  • Soul (film Pixar paling dewasa yang membahas filosofi keberadaan dengan ringan, lewat world-building yang kreatif!)
  • Sound of Metal (sound design luar biasa, cerita dan karakter manusiawi, akting juara, ending powerful — film ini punya semua!!)
  • Swallow (cara bertutur yang deep creep membuat cerita wanita memperjuangkan otonominya ini menjadi berkali lipat lebih thoughtful, naas, dan mengerikan)
  • The Assistant (pendekatan berceritanya realistis sekali sehingga film ini jadi luar biasa efektif menyampaikan gagasannya)
  • The Invisible Man (fenomenal opening dan fenomenal akting bikin thriller ini menjuarai caturwulan pertama film 2020)
  • The King of Staten Island (Kuat oleh sense of realism, film ini berhasil sebagai drama-komedi semi-otobiografi tanpa terpeleset menjadi sebuah parodi)
  • The Science of Fictions (film ini harusnya dikirim ke Oscar, harusnya menang Citra. Yang banyak!)
  • The Vast of Night (horor fenomena UFO dengan arahan yang sangat menarik dan menginspirasi buat filmmaker muda)
  • The Willoughbys (animasi dengan cerita yang unik, aku suka film ini mainly karena ada Alessia Cara ngisi suara karakter sentralnya!)

Tak lupa pula, Special Mention dihaturkan kepada film Vivarium yang ulasannya paling banyak dibaca tahun 2020 di blog ini.
 
Bersama dengan spoiler warning buat film-film yang masuk delapan-besar ini, aku juga ngingetin kalo daftar ini completely subjective. Ini not-exactly daftar film terbaik. Ini adalah delapan-besar film 2020 versi ku. Kesukaan-ku. Jadi isinya bisa berbeda dengan daftar versi kalian. Akan berbeda dengan daftar terbaik di web atau blog lain. Malah, daftar ini akan berbeda dengan Rapor Film My Dirt Sheet – karena penilaian rapor tersebut berusaha kubikin seobjektif mungkin.
So yea, inilah TOP-EIGHT MOVIES ANGKATAN CORONA!!
 
 

8. EUROVISION SONG CONTEST: THE STORY OF FIRE SAGA

Director: David Dobkin
Stars: Will Ferrell, Rachel McAdams, Dan Stevens, Pierce Brosnan
MPAA: PG-13 for crude sexual material including full nude sculptures, some comic violent images, and language
IMDB Ratings: 6.5/10
“IT WILL NEVER BE ENOUGH! I ONLY WANT TO HEAR JA JA DING DONG!”
Totally hiburan di tengah pandemi!
Ketika baru nonton ini, aku tahu ini bakal jadi cerita underdog dalam sebuah kompetisi. Seperti film-film serupa; ia ringan, formulaic, tapi bisa sedikit menginspirasi. Yang aku tidak tahu adalah… bahwa film ini ternyata luar biasa asik dan menghibur!
Ini film yang paling banyak aku tonton sepanjang. Bengong mau nulis apa lagi saat ngulas film? Aku berhenti dan setel film ini. Lagi pengen ngemil? Aku putar film ini sebagai teman ngunyah. Boring nunggu render-an video? Aku mainkan film ini dan dijamin tak akan bosan lagi. Well, sebenarnya filmnya sendiri banyak kekurangan. Ada bagian gajelas banget, yang gak aku suka di tengah, yakni adegan nyanyi bareng para juara eurovision beneran. Tapi bisa diskip dan nonton yang ada Lars dan Sigritnya aja. Karena memang keasikan film ini datang dari dua karakter sentral tersebut. Mereka lucu, mereka awkward, penampilan akting Rachel McAdams dan Will Ferrell kocak banget – and they sure can perform!
My Favorite Scene:
Adegan nyanyinya keren dan kocak semua. Aku suka Double Trouble, aku suka Ja Ja Ding Dong, aku bahkan suka lagu Running with the Wolves. Namun sebagai puncak, I’ll give the cake to Husavik.

“Gra-med-DIAAAA!!!”
 
 
 
 

7. THE TRIAL OF THE CHICAGO 7

Director: Aaron Sorkin
Stars: Eddie Redmayne, Joseph Gordon-Levitt, Sacha Baron Cohen, Michael Keaton
MPAA: R for language throughout, some violence, bloody images and drug use
IMDB Ratings: 7.8/10
“Let us make sure that if blood is going to flow, let it flow all over this city.”
Makjaaaaaangg!! Adegan persidangan di film ini adalah sidang terheboh yang pernah aku lihat di dalam film. Bahkan lebih bikin geram dibandingkan sidang yang pernah kutonton di televisi – dan aku udah lihat sidang kopi sianida dan sidangnya Steven Avery!
Film ini memang sukses mengaduk-aduk emosi. Debat sidang yang ada di film ini begitu sensasional. Dan begitu kita sadar bahwa adegan-adegan dalam sidang ini tuh beneran kejadian di dunia nyata karena film ini diangkat berdasarkan peristiwa beneran. Yah, meskipun yang namanya film, ada beberapa hal yang diubah alias didramatisasi. Namun demikian, film ini berhasil tampil tidak seperti parodi ataupun lebay. Malahan powerful dan mampu membuat kita berefleksi terhadap masa kini.
Aaron Sorkin berhasil membuat film ini sebagai tontonan yang seru, meskipun sebagian besar isinya adalah orang ngomong aja.
My Favorite Scene:
Punchline film ini di ending itu kuat banget. Tapi paling terbayang-bayang itu, yang paling bikin geregetan bahkan ketika filmnya udah beres, adalah kelakukan hakimnya.

 
 
 
 

6. BLACK BEAR

Director: Lawrence Michael Levine
Stars: Aubrey Plaza, Christopher Abbott, Sarah Gadon 
MPAA: R for language throughout, sexual content, drug use and some nudity
IMDB Ratings: 6.5/10
“Hey, I think feminism is fucked up.”
Aku suka nonton film. Aku suka nulis. Aku selalu ingin tahu bagaimana satu film itu ditulis – bagaimana film itu dibuat. Black Bear memuat hal tersebut. Karena film ini memvisualkan proses penulisan sebuah film – bagaimana ide-ide personal bisa ditarik untuk menjadi sebuah cerita, yang menghormati penonton dan penulisnya sendiri.
Film ini punya banyak kesamaan dengan film terfavoritku sepanjang masa, Mulholland Drive. Sama-sama aneh. Sama-sama nunjukin adegan syuting film (this is my soft spot for movies), sama-sama dihidupi oleh karakter yang nanti direveal sebagai orang yang bukan kita kenal sebelumnya. Sama-sama bikin bingung, tapi bingung yang membuat kita peduli karena ceritanya berakar pada konflik personal. Bedanya, Black Bear actually adalah berakhir dengan nada yang positif. Karena karakternya adalah penulis, dia menulis, maka yang ia lakukan sebenarnya adalah sebuah proses healing.
Black Bear disangga oleh penampilan akting yang luar biasa natural dari tiga aktor sentralnya. Kalo kalian belum ngefans sama Aubrey Plaza, kalian bakal jadi ngefans sama aktor ini. She’s weird, she’s funny. Dia nunjukin range emosi yang menakjubkan. Kalian perlu melihat Aubrey pada adegan ketika dia disuruh berakting pada bagian kedua cerita film ini. Tapi, untukku,
My Favorite Scene adalah:
Pas dialog debat soal feminis di cerita bagian pertama. Dialog film ini memang berisi banyak argumen yang menantang kita untuk diskusi, dan salah satunya – dialog dengan argumen paling menarik dan relevan – adalah ketika Aubrey harus memilih sikap di antara seorang suami yang berpikiran lebih tradisional dengan istri yang lebih ‘woke’, namun kedua orang ini sama-sama annoying.
 
 
 
 
 

5. RELIC

Director: Natalie Erika James
Stars: Robyn Nevin, Emily Mortimer, Bella Heathcote
MPAA: R for some horror violence/disturbing images, and language
IMDB Ratings: 5.9/10
“Do you ever get lonely out here by yourself?”
Dari sekian banyak horor bagus yang tayang di tahun 2020, aku memilih Relic sebagai favorit. Relic bukan hanya superseram, tapi juga sarat oleh makna. Dan ceritanya gampang untuk relate kepada siapa saja, karena kita semua punya orangtua – dan sendirinya akan menjadi orang tua.
Seluruh kejadian dalam film ini dirancang sebagai perumpamaan dari dampak demensia kepada si pasien, sekaligus juga kepada keluarganya. Nonton film ini akan bikin kita takut tua dan tinggal sendirian, sebegitu berhasilnya metafora itu diwujudkan oleh film. Perasaan mengerikan seperti ketika orang yang kita kenal berubah menjadi orang lain karena tidak lagi mengingat siapa kita, ataupun ketika kita mulai kehilangan ingatan itu satu persatu, inilah yang jadi bahan bakar horor cerita.
Dan semua itu berhasil berkat arahan yang visioner dari sutradara yang baru sekali ini bikin film. Cerita ini seperti personal baginya. Ending film ini juga jadi salah satu ending paling powerful yang bisa kita tonton di 2020. Tepuk tangan untuk Australia sekali lagi menelurkan sutradara horor yang hebat. I can’t wait to see Natalie Erika James’s next projects.
My Favorite Scene:
Ketika karakter dalam film ini mulai tersesat di dalam rumah mereka sendiri! Gila ini adegannya serem karena terasa banget panik dan mengukungnya rumah yang dibikin ‘bertambah ruangan’ itu.

 
 
 
 
 

4. THE PLATFORM

Director: Galder Gaztelu-Urrutia
Stars: Ivan Massague, Zorion Eguileor, Antonia San Juan
MPAA: TV-MA
IMDB Ratings: 7.0/10
“There are 3 kinds of people; the ones above, the ones below, and the ones who fall.”
Perfect banget ditonton saat awal pandemi kemaren. Nonton ini tuh jadi kejawab kenapa orang-orang pada sibuk menimbun masker (atau menimbun tisu toilet di luar negeri sana). Lebih universal lagi, menjawab kenapa yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin melarat.
Film ini berhasil menjelaskan itu lewat konsep dunia-cerita yang diciptakan dengan baik. Perlambangan di balik mekanisme platform dan lantai-lantainya itu benar-benar terasa mewakili keadaan di dunia kita. Ini adalah film yang penting bagi kemanusiaan, tapi sekaligus menjadikan film ini sangat susah untuk ditonton.
Darah, muntah, kotoran, kerakusan dan moral bobrok; itulah lima elemen dasar film ini. Secara simbolik maupun literal, film ini sungguh akan membuat kita mual.
My Favorite Scene:
Adegan yang menabrakkan persiapan masak sebegitu banyak dan enak makanan, dengan bagaimana makanan tersebut akhirnya dimakan

 
 
 
 
 
 

3. I’M THINKING OF ENDING THINGS

Director: Charlie Kaufman
Stars: Jesse Plemons, Jessie Buckley, Toni Collette, David Thewlis, Guy Boyd
MPAA: R for language including some sexual references 
IMDB Ratings: 6.6/10
“Other animals live in the present. Humans cannot, so they invented hope.”
Satu lagi film 2020 yang ngingetin sama Mulholland Drive, dan bahkan punya general-idea yang mirip. Film ini secara konflik juga mirip dengan Black Bear – tentang orang yang memutar ulang cerita hidup di dalam kepalanya. Tapi film ini menohok karena memperlihatkan kegagalan.
Aku lebih suka film ini karena lebih aneh, pengadeganannya lebih menekankan kepada hal sureal. Film ini juga banyak dialog, tapi gak akan bikin bosan karena surrounding dialognya itu yang menarik. Kita melihat tokoh-tokoh yang berubah namanya, bajunya — begitu unsettling, random, dan sedikit mengerikan.
Awalnya memang film ini terasa distant. Kita gak yakin tentang apa sebenarnya. Di sinilah letak pesona film. Kaufman merangkai dialog, karakter, adegan, dan penyimbolan dengan luar biasa detil sehingga tanpa disadari film ini akan berakhir dengan terasa begitu dekat. Begitu nyata. Kenapa jadi kayak iklan provider…
My Favorite Scene: Adegan balet di menjelang akhir itu sampai sekarang bikin aku kepikiran. Apakah ini kejadian yang sebenarnya? Apakah ini harapan si tokoh? Yang jelas begitu weird dan beautiful

 
 
 
 
 

2. JOJO RABBIT

Director: Taika Waititi
Stars: Roman Griffin Davis, Thomasin McKenzie, Scarlett Johansson, Taika Waititi
MPAA: PG-13 for mature thematic content, some disturbing images, violence, and language
IMDB Ratings: 7.9/10
“Not everyone is lucky enough to look stupid.”
Film yang berada di posisi limbo sebenarnya; keluar tahun 2019, tapi berkat Indonesia yang gak mau masukin film ini ke bioskop, aku baru bisa nontonnya di tahun 2020. Sering sih kondisi gini terjadi. Biasanya film-film limbo palingan hanya kumasukin ke ‘honorable mentions’. Namun Jojo Rabbit ini begitu bagus, sehingga sayang rasanya untuk tidak mencatatkan namanya di daftar top-eightku.
Bahkan, objectively, film ini tetap dengan nilai tertinggi di antara film-film 2020. Naskahnya keren banget. Mengadaptasi cerita ‘muram’ menjadi komedi satir, yang enggak pretentious. Film ini tetap terasa sangat penting, bicara tentang ‘sebarkan cinta, bukan kebencian’ di balik nada konyolnya itu. Ini menunjukkan permainan hati dan komedi yang sangat presisi dari pembuatnya.
Progresi ceritanya benar-benar menyenangkan untuk diikuti. Membuat film terasa padat, dan membuat kita merasa sayang ketika film berakhir karena gak mau berpisah dengan karakter-karakternya.
My Favorite Scene:
Film ini punya banyak adegan top. Kita minta sedih, ada. Lucu, ada (Yorki paling bikin ngakak!). Sweet pun ada. Weird, apalagi! Tapi seperti biasa, the best part adalah ending. Dan adegan di ending Jojo Rabbit seperti mewakili semua perasaan yang sudah memuncak dari filmnya.

 
 
 
 

Pandemi memang telah sukses mengubah skena nonton kita. Beda dengan bioskop, nonton streaming-an di hp atau laptop atau tv masing-masing membuat nonton terasa lebih spiritualis lagi.  Film-film pun ternyata banyak yang menggali eksistensi, merefleksi diri, dan sebagian lagi mengajak kita untuk menikmati hidup walau dalam keadaan tak-biasa.
Perubahan yang tampak jelas di daftar ini adalah, sudah sejauh ini tapi belum ada film superhero. Padahal biasanya, film superhero pasti nongol – setidaknya mengisi di ‘honorable mentions’. Dalam kondisi dunia di mana kita butuh pahlawan, apakah superhero malah absen dalam daftar tahun ini?

Siapkan terompet tahun baru kalian – karena inilah, FILM NOMOR SATU PILIHANKU DI TAHUN 2020!
*tiup terompet: “teteteret-teret-tenettereneett!!”
 
 
 
 
 

1. DA 5 BLOODS

Director: Spike Lee
Stars: Delroy Lindo, Jonathan Majors, Melanie Thierry, Chadwick Boseman
MPAA: R for strong violence, grisly images and pervasive language
IMDB Ratings: 6.5/10
“We fought in an immoral war that wasn’t ours for rights we didn’t have.”
In the wake of #BlackLivesMatter, Spike Lee menghadirkan film ini ke tengah-tengah kita.
Da 5 Bloods menggambarkan bagaimana persisnya menjadi serdadu kulit hitam yang disuruh berperang di Vietnam. Horor perang yang seumur idup gak ilang itu dipotret oleh Lee, disebar ke lima perspektif karakter, dan kita melihat seperti apa perang membekas ke dalam hidup mereka. Selipan flashback adegan perang, ditambah cuplikan klip perang yang nyata, membuat film ini dapat jadi disturbing untuk ditonton. Aku merinding sendiri nonton ini, bahkan lebih merinding daripada nonton film-film horor yang bagus-bagus itu.
Tapi jangan bayangkan arahan Lee kaku dan one-tone seperti film-film agenda-ish. Film ini tidak tampil murni mengerikan. Juga tidak murni menuding siapa-siapa. Ada hati yang begitu menguar soal persahabatan dan keluarga. Ada kelucuan yang dihadirkan. Film ini punya segalanya. Ia bermula dari petualangan dan berakhir ke action menegangkan.
Di film ini kita bisa melihat salah satu penampilan terakhir dari Chadwick Boseman (rip) – nonton film ini sekarang akan membuat Boseman semakin fenomenal lagi karena karakternya di sini begitu kharismatik, perfectly mirroring him in real life.
My Favorite Scene:
Monolog Delroy Lindo. That’s it. Aku angkat kupluk banget. Beautiful, daunting, kita takut dan kasihan melihatnya saat bersamaan. Jika aku yang punya, aku akan ngasih Oscar untuk Delroy di adegan ini.

 
 
 
 
 
So, that’s all we have for now.
Akhir 2020, bioskop mulai menggeliat bangun. Semoga pandemi segera berakhir. Semoga perfilman segera pulih. Semoga Indonesia gak terjebak dan ikut-ikutan dalam perang platform, karena pada titik ini perfilman kita belum sanggup untuk bersaing di sana – platform tidak banyak membantu perfilman kita dalam jangka panjang, melainkan hanya membuat film-film jadi cenderung seperti ftv. Semoga tahun 2021, kita sudah bisa menikmati ngejar-ngejar film di bioskop kembali!
Apa film favorit kalian di tahun 2020? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2021?
Share with us in the comments 
 
Remember, in life there are winners.
And there are…
… karena tahun 2020 ini gak ada Kekecewaan Bioskop, maka aku mau paradein losers lain. Ya kalian; Mulan, Tenet, Milea, dan…

We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.

RESISTANCE Review

“A good laugh heals a lot of hurts”
 

 
 
Terlahir sebagai orang Yahudi jelas bukan hal yang ingin kau gembar-gemborkan jika hidup di Perancis tahun 1940an. Dengan Gestapo ada di mana-mana, memang yang paling baik adalah menjaga kesehatan dengan – well, sama seperti kita sekarang -dengan memakai masker. Topeng. Nama palsu. Samaran. Marcel beneran merias wajahnya. Dia pasang ‘kumis-model-sikatgigi’ palsu. O tidak, dia tidak menyamar menjadi Hitler. Dia menjadi Charlie Chaplin. Dia tidak ingin membuat orang menderita. Dia ingin menjadi seperti idolanya; membuat orang tertawa.
Nama Marcel Marcaeu tercatat dalam sejarah bukan hanya sebagai seniman pantomim paling tersohor, melainkan juga sebagai seniman pantomim yang beneran ikut berjuang bersama gerakan Perlawanan Yahudi di Perancis. Film Resistance karya Jonathan Jakubowicz adalah cerita tentang perjuangan tersebut. Sebagai biografi sejarah, film ini memang tidak terlalu akurat karena menambahkan banyak bumbu-bumbu drama ke sekitar kehidupan Marcel. Tapi sebagai kisah kepahlawanan; film ini dengan tepat menggambarkan esensi perjuangan Marcel. And it is an unique one. Karena bagi Marcel, perjuangan itu bukanlah balik mengangkat senjata mengalahkan musuh. Menumbangkan mereka sebanyak mereka menumbangkan kita. Melainkan, berjuang berarti menyelamatkan sebanyak mungkin korban. Membangkitkan kembali semangat hidup mereka. Marcel Marceau tercatat sudah menyelamatkan ratusan anak-anak Yahudi korban Nazi, membawa mereka nyebrang ke perbatasan. Film ini tidak mengabaikan perjuangan tersebut. Sekaligus tidak lupa untuk menekankan, bahwa hal terpenting yang dilakukan Marcel si tukang pantomim – hal sesungguhnya yang ia lakukan dalam menyelamatkan kehidupan mereka – adalah telah membangkitkan kembali semangat hidup anak-anak tersebut dengan seni dan tawa.

Seni adalah eskapis, dan tawa adalah obat yang paling mujarab. Marcel menggabungkan keduanya, dan dengan itulah ia menolong banyak anak. Tawa membuat kita melupakan kebencian dan ketakutan. Tawa menutup luka-luka emosional. Tertawa bersama membuat kita lebih mudah merasakan empati terhadap orang lain. Itulah yang persisnya dibutuhkan oleh dunia, dan Marcel adalah master dari seni tersebut.

 
hiburan di kala duka

 
Jadi film ini memang sudah semestinya menyentuh saraf-saraf emosional kita dengan kehangatan yang dipancarkan oleh Marcel lewat usahanya berpantomim, menghibur hati para anak-anak yatim piatu korban Nazi emotionally, dan secara literal menyelamatkan mereka ke tempat yang aman. Misi film ini terang dan jelas. Melandaskan kecintaan Marcel terhadap profesinya, memperlihatkan konflik Marcel dengan ayahnya sehubungan dengan pilihan profesi alias passionnya tersebut – yang dianggap malu-maluin dan membuat kelaparan – serta tentu saja menguatkan hubungan Marcel dengan anak-anak yang ia lindungi serta hubungannya dengan Nazi yang jadi pendorong utama untuk menjadi lebih baik. Lika-liku Marcel secara personal haruslah diperdalam oleh film yang katanya biografi ini. Terlebih setelah ditetapkan bahwa Marcel berawal sebagai seorang yang mementingkan diri sendiri.
Durasi dua jam semestinya cukup untuk memadatkan itu semua. Namun entah kenapa, film seperti meme cowok yang berjalan bersama pacarnya, terpana menatap wanita lain. Alias, film ini seperti teralihkan perhatiannya membahas ke hal-hal yang seharusnya hanyalah pendukung bagi Marcel. Bahasan Marcel dengan ayahnya yang tukang daging misalnya, harusnya bisa lebih diperdalam, mengingat background sang ayah yang kompleks dan tak kalah mengejutkan. Yang tentu saja tak cukup dan terasa diburu-buru jika hanya dilakukan dalam lingkup satu babak cerita dan beberapa percakapan di antara mereka, seperti yang kita dapatkan dalam film ini.
Momen kunci yang menjadi hati cerita adalah relasi yang terbangun antara Marcel dengan anak-anak yang mereka jaga di penampungan. Pada beberapa waktu, film berhasil menghadirkan adegan yang benar-benar terasa genuine. Kekuatan pantomim berhasil menghubungkan hati para tokoh, digambarkan lewat pengadeganan yang menghanyutkan. Jesse Eisenberg tampak benar-benar berusaha mempersembahkan ‘the art of silence’ tersebut, meskipun sama seperti aksen frenchnya; performa Eisenberg goyah. Kita perlu lebih banyak adegan yang menceritakan Marcel berusaha berkomunikasi lewat pantomim. Terlebih jika tokoh Marcel sendiri memang seperti diniatkan untuk tampil sebagai orang yang cukup canggung dalam berkomunikasi langsung. You know, layaknya tipikal tokoh-tokoh yang diperankan oleh Eisenberg sebelum ini. Aku gak pernah yakin tokoh Marcel ini orangnya seperti apa. Saat ia bicara seringkali persona nerd dan social-awkward ala Eisenbergnya mencuat. Kemudian saat dia berpantomim, ketika aku yakin dia bakal magnificent, dia tetap sering tampak gak lepas dari gestur awkwardnya. Judgment kita soal performa pantomimnya masih belum bisa kuat, karena adegan berpantomim di film ini kurang banyak, sehingga kita jadi sukar menyimpulkan apa yang terjadi di sini. Apa ia benar-benar bermaksud melucu, apa anak-anak itu tertawa bersamanya, atau mereka menertawakannya.
Padahal pantomim mestinya adalah seni yang powerful nan beautiful. Ditambah dengan konteks perang, kekejaman Nazi dan mengerikannya perang, seharusnya semua bisa tersampaikan di sana. Tapi penampilan Marcel tidak pernah sedalam itu. Apalagi menyentuh ranah surealis. Film yang mengangkat seorang yang berpantomim, dan menyelamatkan orang-orang, tidak berhasil sepenuhnya untuk membuat kita konek kepada subjek ceritanya sendiri. Karena memang cerita tidak disusun untuk fokus ke sana. Film malah sepertinya tidak paham bagaimana menggali sisi dramatis yang genuine dari sana. Maka ditambahkanlah, dipusatkanlah, bumbu-bumbu yang dirancang untuk menjadi dramatis. Bumbu yang bahkan enggak ada di sejarah kehidupan tokoh aslinya. Bunch of time dihabiskan untuk mengedepankan kehidupan cinta Marcel dengan seorang tokoh fiktif, hanya untuk berakhir dengan tidak kemana-mana, selain film butuh sesuatu untuk ditangisi oleh Marcel (dan supposedly penonton). Film menghabiskan banyak waktu untuk tidak membuat kita fokus ke personal Marcel. Momen-momen penyadaran – dia yang tadinya selfish lalu berubah menjadi peduli dan sayang pada anak-anak – diceritakan terlalu cepat dan dengan tidak banyak kejadian penting. Ada loncatan periode di paruh awal film yang sungguh disayangkan karena mestinya digunakan untuk mengembangkan hubungannya dgn semua orang, sehingga perjalanan arcnya lebih kerasa.
Kita harusnya jadi punya respek lebih kepada pantomim setelah nonton ini

 
 
Bangunan ceritanya sendiri memang aneh. Pertama, menit-menit itu dipilih untuk memusatkan kita pada kesadisan Nazi. Kedua, cerita lompat ke saat aman, ada jenderal yang pidato di depan – menceritakan kisah Marcel (tontonan kita ceritanya adalah kisah yang diceritakan oleh jenderal ini. Setelah itu baru kita dibawa ke kehidupan Marcel. Bangunan penceritaan begini membuat yang bagian jenderal itu kayak tempelan. Dan opening film membuat kisah ini terset dalam tone yang berbeda. Seolah film ini adalah tentang kekejaman Nazi, bukan tentang orang yang berjuang dalam cara yang berbeda melawannya. Dalam film superhero, lumrah kita diliatin kebangkitan penjahat sebelum kita bahkan mengenal pribadi yang bakal jadi tokoh superhero. Ini dilakukan untuk membuild up tantangan yang bakal dihadapi oleh si hero. Membuat kita mencemaskan gimana kalo nanti dia yang sekarang ini ketemu sama si penjahat sadis tadi. Dalam cerita superhero, bercerita begini dapat bekerja dengan efektif karena si hero pada akhirnya memang akan beneran berinteraksi dan berhubungan langsung dengan kejahatan si penjahat. Resistance tampak mengincar efek ini. Yang sayangnya terasa setengah-setengah karena walaupun si Barbie Nazi berhasil dibuild up sebagai karakter yang jahat dan bengis (tidak ada yang mempertanyakan soal kekejaman Nazi di sini; itu seeksak satu tambah satu sama dengan dua), Marcel sebagai pahlawan tidak pernah merasakan langsung dan interaksinya dengan si Nazi yang ditampakkan justru interaksi humanis. Dampaknya hanya ke kita. Marcel tidak pernah benar-benar terasa ada yang dipertaruhkan.

Harusnya sekalian Marcel saja yang dibuat kabur saat Nazi menyergap persembunyian. Selain karena memberikan kepadanya kesempatan untuk merasakan bahaya, juga make more sense karena arcnya dia di awal memang seorang yang lebih mentingin diri sendiri. Sehingga bakal lebih dramatis ketimbang terjun nyelametin orang yang mau bunuh diri – yang jelas-jelas adalah adegan lebay yang diorkestrasi untuk memancing efek dramatis. Momen Marcel dan anak-anak itu diburu di gunung salju juga akan lebih berasa karena kali ini dia harus lari sambil menyelamatkan orang. Resistance pada akhirnya memang seperti jatuh pada perangkap biopic pahlawan; takut untuk memperlihatkan cela. Di saat tokoh jahat dengan leluasa diperlihatkan sebenar jahat karena gak bakal ada yang protes, tokoh baiknya dibiarkan untuk tidak dieskplorasi karena terbatas pada keinginan untuk menunjukkan yang baik-baiknya aja. Padahal pandangan Marcel terhadap Nazi, pandangan Marcel terhadap inti dari berjuang, pandangannya terhadap pantomim itu sendiri, itulah yang harus ditonjolkan. Jadi kita bisa melihat perubahan yang membuat kita menjadikan sang pahlawan itu inspirasi. Bukan sebatas apa yang ia lakukan. Namun cerita dan konflik di balik perjuangan. Konflik yang personal dan tumbuh natural, tentu saja. Bukan yang dirancang hanya untuk memenuhi struktur naskah.

 
 
 
Cerita mestinya fokus dulu pada pengembangan Marcel. Mulai dari Marcel, tidak perlu memperlihatkan ke kita kekerasan yang dihadapi anak-anak di awal. Bikin Marcel merasakan itu atau melihatnya langsung pada satu titik. Buang saja adegan dengan Jenderal yang bercerita itu; film ini gak butuh dua ‘intro’ yang hanya merusak tone dan bikin aneh bangunan cerita. Film ini punya potensi untuk menjadi indah dan menyentuh, dan untuk beberapa kecil bagian, film ini memang menyentuh. Melengkapi kisah powerful bertema Nazi dan anak-anak yang kita dapatkan di tahun 2020 ini. Sayangnya arahan malah membuat film ini jadi biopik yang hanya tok menyoroti kejadian, tanpa benar-benar mengeksplorasi. Tone cerita pun jadi setengah-setengah. Antara mau sadis atau enggak. Film ini seperti antonim dari pantomim itu sendiri; tidak indah, tidak nyeni, dan terlalu ribut oleh subplot-subplot yang diset untuk heboh. Bahkan untuk memahami tokoh dan pantomim itu saja, film ini masih seperti belum pasti.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for RESISTANCE.

 

 

 

That’s all we have for now.
Bagaimana pandangan kalian terhadap seni pantomim? Menurut kalian apa bedanya pantomim dengan badut?
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 

 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA

SHIRLEY Review

“Art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.” 
 

 
 
Biopik atau film biografi biasanya ‘terkekang’ untuk menjadi sebenar-benarnya sesuai dengan kenyataan. Seperti film dokumenter, film biopik juga dituntut akurat; beda sedikit aja beberapa pihak yang berkaitan dengan sang tokoh bisa-bisa tersinggung. Film memang bukan media pemberitaan/jurnalisme, tapi tetap saja diharapkan untuk menyajikan fakta-fakta. Yang tentu saja semua itu dilakukan sebagai penghormatan untuk tokoh yang sedang diceritakan. Namun bagaimana jika tokoh yang diceritakan begitu unik? Bagaimana jika bentuk penghormatan yang layak terhadapnya adalah merancang kisah hidupnya sesuai dengan cara dan gaya yang kita tahu ia suka? Ya, tokoh seperti Shirley Jackson; pengarang novel misteri yang karyanya sudah banyak diadaptasi jadi film horor (salah satunya adalah The Haunting of Hill House yang recently jadi serial ngehits di Netflix), tentu akan bete kalo kisah hidupnya diceritakan dengan biasa-biasa saja. Makanya sutradara Josephine Decker yang biasa ngegarap film-film ‘eksperimental’ membuat Shirley ini sebagai biopik yang lain daripada yang lain. Bukan saja genrenya menyerempet horor, ceritanya pun dibuat mengaburkan batas antara fakta dan fantasi.
Shirley diangkat dari masa kehidupan sang pengarang saat proses kreatif penulisan novel misteri Hangsaman, sekitar tahun 50an. Publicly known, Jackson mendapat inspirasi dari kasus menghilangnya seorang mahasiswi yang pergi hiking dan tak pernah kembali. Selain itu dan fakta bahwa Jackson tinggal bersama suaminya seorang profesor literasi di kampus, cerita film ini dikembangkan dengan banyak elemen fiksi. Protagonis utamanya justru adalah seorang tokoh fiktif bernama Rose yang pindah ke kota yang sama dengan Jackson, ikut sang suami yang mulai bekerja di kampus sebagai asisten Stanley, suami Jackson. Rose tadinya berniat sekalian kuliah di sana, tetapi Stanley menggunakan karisma dan kata-katanya untuk ‘membujuk’ Rose tinggal di rumah bersama Jackson. Sekadar bantu-bantu selama novel terbaru itu selesai ditulis. Rose dan suami diberikan kamar sendiri, bebas dari biaya sewa. Namun itu berarti Rose harus memasak, bersih-bersih, dan mengerjakan segala pekerjaan rumah yang lain. Sementara para pria bekerja di kampus, dan Jackson, di kamarnya, mengerjakan tulisan. Rose dan Jackson kemudian tumbuh hubungan yang aneh, as Jackson mulai membayangkan Rose sebagai tokoh utama cerita yang ia tulis.

write me like one of those french girl

 
Kinda like Persona (1966) atau Portrait of a Lady on Fire (2019), heart dari film ini adalah hubungan yang terjalin antara Rose dengan Shirley Jackson. Namun dengan konflik yang lebih kompleks, kalo gak mau dibilang ruwet. Pada Shirley ini kita enggak dengan gampang bisa menyimpulkan relasi yang tumbuh dari mereka; ini bukan soal pekerjaan kayak suster dengan pasien atau pelukis dengan model, jadi apakah ini soal penulis dengan penggemarnya, atau semacam hubungan mentorship, atau malah rasa saling suka, film tidak benar-benar memfokuskan kita kepada satu hal. Karena si Jackson ini sikapnya benar-benar aneh. Look, Jackson memang pribadi yang eksentrik. Pada adegan pesta di rumah saat kita melihat tokoh ini pertama kali, dia sedang mengobrolkan kepada tamu-tamu penggemar novelnya perihal dia gak excited berkenalan dengan suaminya. Jackson adalah seorang yang lebih suka mengurung diri di rumahnya yang tertutupi sulur-sulur tanaman daripada harus ngumpul-ngumpul ke luar. Jackson literally harus ditarik dari kasurnya setiap pagi oleh sang suami. Dia gak gampang akur sama semua orang, dan terhadap Rose sikapnya jauh lebih ‘labil’. Di satu kesempatan dia menjadi teman curhat bagi Rose, dan di kesempatan berikutnya dia membuka rahasia Rose perihal tengah mengandung bayi.
Berbeda dengan kebanyakan biopik yang ‘mengagungkan’ tokoh real yang jadi bintangnya, Shirley justru membuat Shirley Jackson menjadi hampir mustahil untuk disukai. Bukan sekali dua kali, dia membuat protagonis kita meninggalkan meja makan menahan tangis. “Aku penyihir” kata Jackson kepada Rose, dan suatu kali Rose pernah ditipunya; dipaksa makan jamur yang ia sebut beracun. Kita bisa merasakan ada penyiksaan mental di sini. Namun Rose tetap mau deket-deket sama Jackson, karena Jackson membawa pengaruh yang kuat dan somehow positif kepadanya. Berkat Jackson, Rose jadi lebih vokal mengekspresikan diri dan mengutarakan kecurigaan yang muncul di hati. In a way, sikap Jackson membantu Rose dealing with her own domestic problems. Kita juga susah menyimpulkan kenapa Jackson seringkali bersikap ekstra-tidak menyenangkan kepada Rose. Kita lihat dia punya rencana tersendiri dengan Stanley suaminya, tapi tetap tidak jelas apakah dia murni jahat atau dia beneran peduli atau bahwa dia sedang menempa Rose sehingga bersikap sesuai dengan tokoh utama dari novel yang sedang berusaha ia selesaikan.

If anything, lewat tokoh-tokohnya ini film ingin menunjukkan kepada kita kekuatan sebuah seni (dalam hal ini seni tulisan). Seni bisa membebaskan seperti Shirley yang terlepas dari tekanan Stanley begitu Rose hadir menjadi inspirasi baginya. Seni bisa membuka kebenaran seperti Rose yang mulai mengetahui banyak hal-sebenarnya dan berani mengungkapkan diri saat dia terlibat proses mengarang bersama Shirley. Film ini bercerita dengan tidak mengindahkan aturan, karena – sama seperti seni – film ini bermain dengan perasaan, bukan dengan moral.

 
Kekompleksan film ini juga hadir dari banyaknya aspek yang bekerja membangun ceritanya. Dia juga bicara tentang powerplay antara dua pria dan dinamika suami-istri dengan sama banyaknya. Kita bisa menarik isu tentang pemberdayaan perempuan dari cara salah satu tokohnya yang memanipulasi dan berpegang pada pandangan tradisional bahwa cewek harusnya ngurusin rumah tangga aja. There’s also a baby at play, kelahiran-rahasia yang dikontraskan dengan kematian misterius yang menyelimuti daerah tempat tinggal mereka; kasus yang jadi inspirasi Jackson menulis in the first place. Ini semua membuat film terasa berat dan membingungkan. Shirley adalah jenis film yang tidak bisa kita nikmati kalo kita menontonnya dengan niat melepaskan penat.
Tapi bukan berarti film ini tanpa hiburan. Penampilan akting yang luar biasa, misalnya dari Elisabeth Moss jelas jadi salah satu faktor yang membuat kita betah menonton film ini. Begitu unpredictable, begitu raw, begitu kasar kayak kertas amplas, namun tokoh ini sangat mengundang karena kita ingin tahu apa yang sebenarnya bekerja di balik kepalanya tersebut. Tantangan akting dalam film padet dan berani-tampil-unlikeable seperti ini tentu saja sangat berat. Dialog-dialog yang kita temukan persis seperti dialog yang umumnya ada pada novel; tidak konklusif, mengundang pertanyaan, dan memaksa kita untuk menggunakan imajinasi. Namun Moss mampu mendeliver semua itu dengan muatan emosi yang saklek. Kita kira dia sudah jempolan di The Invisible Man (2020)? Well, di film ini Moss membuktikan dia masih punya banyak untuk kita kagumi. Mengimbangi Moss adalah Odessa Young, sebagai Rose yang lebih ‘inosen’, naif, dan lebih gampang menuai simpati. Namun bukan berarti perannya kalah urgen. Rose adalah karakter yang sama kompleksnya, malahan dia punya tugas ekstra mengemban plot yang lebih luas rangenya, dan Young melaksanakan misinya ini dengan sempurna.

Film tentang penulis yang penulisannya mencerminkan penulisnya.

 
Belum lama ini serial animasi Rick and Morty Season 4 mengeluarkan episode ke-enam yang benar-benar mindblowing karena episode yang alurnya membingungkan tersebut practically adalah depiction dari proses-kreatif kreator acara tersebut dalam mencari cerita baru. Kenapa aku membahas soal itu di sini, karena Shirley juga melakukan hal yang sama. Menceritakan proses kreatif seorang penulis kepada kita. Kamera akan bergerak dengan aktif menangkap drama, no… tepatnya, menjadi bagian dari drama mereka. Menempel pada setiap momen dengan intens, bahkan ketika adegan dengan seenaknya mulai melakukan lompatan oleh jump-cut antara momen yang nyata dengan momen yang merupakan imajinasi penulisan Jackson. Membuat garis batas di antara keduanya seolah sirna. Membiarkan kita terpana menebak mana yang mana. Dalam kondisinya yang paling intens, film akan membuat kita bingung membedakan mana yang Rose asli mana yang Paula alias Rose pada novel. Imajinasi itu seperti tanpa batas, hanya disekat oleh interaksi nyelekit dari tokoh-tokohnya.
 
 
 
Seperti si Shirley Jackson, film ini enggak peduli dirinya bisa kita sukai atau tidak. Pilihan ini tentu saja bukan tanpa akibat. Babak ketiga film merupakan bagian yang seharusnya menjadi paling emosional dari keseluruhan. Dan emosi ini besar kemungkinan tidak akan sampai kepada penonton yang sudah memutuskan untuk menyerah kepada Shirley. Ia tidak membuat hal gampang buat kita menyukainya. Desain ceritanya terasa begitu kacau. Antara adegan proses mengarang, interaksi antartokoh sentral, dan tema-tema seperti seni, kreativitas, psikologi orang, dan bahkan soal senioritas, menonton ini sekiranya dapat menjadi seperti chores alih-alih.. tontonan. Aku sendiri mengumpakan film ini seperti puzzle. Yang tersusun atas kepingan yang unik-unik yang jumlahnya banyak banget. Sehingga menyusunnya enggak akan menyenangkan, lebih enak menikmati kepingannya sendiri-sendiri.
The Palace of Wisdom gives 7 out of 10 gold stars for SHIRLEY.

 

 
 
That’s all we have for now.
Shirley jelas punya cara unik dalam mencari inspirasi. Bagaimana dengan kalian, how far will you go dalam berproses kreatif? Apakah kalian punya cerita unik seputar mencari ilham?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

CAPONE Review

“… and guilt eats away at your sanity”
 

 
 
Sepandai-pandainya tupai melompat, pasti akan jatuh juga. Seberkuasanya -sepowerful apapun – bos mafia, suatu saat ia pasti akan menua dan ringkih dan jadi tak-berdaya jua. Al Capone, salah satu kriminal paling terkenal dalam sejarah, adalah salah satu bukti bahwa manusia tidak bakal ‘kuat’ selamanya. Drama biografi Capone, arahan sutradara Josh Trank, jadi rekaman seperti apa hari-hari terakhir sang kepala gangster selepas keluar dari penjara. Hari-hari terburuk, bahkan dalam seumur hidupnya yang penuh darah dan sengketa. Film ini akan memperlihatkan perjuangan Al Capone melawan dementia; perjuangan yang tak bisa ia menangkan.
Sungguh sebuah konsep yang menarik. Bukan sekadar tentang pensiunan yang berusaha menangkap kembali sisa-sisa glory. Bukan sekadar tentang orang tua yang mencicipi petualangan-muda untuk terakhir kali. Capone menawarkan kolam-baru untuk kita selami. Kita dibawa melihat sosok Al Capone dalam kondisinya yang paling rendah. Tinggal bersama keluarganya di rumah besar di Florida, Capone – yang dipanggil Fonse  – mulai kesusahan untuk mengingat berbagai hal, bahkan orang-orang di sekitarnya. Umur Fonse belum lagi lima-puluh, tapi dampak penyakit neurosyphillis yang bertahun-tahun ia derita membuat orang ini tampak sangat renta. Istrinya aja jadi kelihatan jauh lebih muda. Fonse bergerak tertatih, berbicara kayak zombie lagi menggerutu, dalam berdiam diripun ia menemukan masalah karena tidak lagi bisa mengendalikan pengeluaran; alias dia bisa muntah, ngompol, atau malah ngebom kapan dan di mana saja. Yang paling mengkhawatirkan adalah, Fonse mulai melihat halusinasi. Realita dan kenangannya melebur menjadi satu. Dia mulai melihat yang tidak orang lain lihat, dia mulai percaya pada hal yang nonexistent. Ini membawa bahaya bagi dia dan keluarga sebab Fonse menyebut dia menyimpan uang jutaan dolar di tempat yang tak mampu ia ingat, dan beberapa orang – termasuk polisi yang diam-diam mengawasinya – tidak ingin melewatkan kesempatan jika ternyata omongan Fonse tersebut benar adanya.

Dibacanya bukan “Fon-se'” loh ya

 
Jadi, ya, ini bukan tipikal film mafioso. Capone didesain supaya lebih humanis, maka itu berarti film ini dapat menjadi lebih kelam, depress, dan… menjijikkan. Film ini cukup bernyali, doesn’t want to be easy. Bagi Trank yang udah ‘sukses’ nge-tank Fantastic Four (2015), film ini boleh jadi proyek come-back atau penebusan diri. You know, Capone sejatinya ia jadikan pembuktian ia sedang kembali ke jalan yang benar. Film-film padet seperti ini, however, butuh untuk kuat dalam tiga hal supaya bener-bener jadi tontonan bergizi dan nikmat untuk dicerna. Pertama, segi ceritanya itu sendiri. Kedua, penampilan akting. Dan ketiga, cara penyampaian alias cara bercerita alias storytelling-nya. Tidak satupun dari ketiga aspek itu yang berhasil dimaksimalkan oleh Trank. Sehingga Capone pada akhirnya berakhir menjadi sebuah kekecewaan, karena buatku film ini sudah punya modal gede yakni konsepnya yang menarik.
Membahas ketiga aspek itu satu persatu, aku akan mulai dengan aspek cerita. Actually, di sini pencapaian Capone yang paling lumayan. Film mengestablish setidaknya dua hal penting yang berhubungan langsung dengan apa yang dirasakan oleh Fonse. Soal uang dan keluarga. Plot sampingan soal sekelompok orang yang mengincar uang yang ia simpan dan soal anak yang ia rahasiakan mengikat menjadi satu sebagai motivasi Fonse; ia tidak mau dua-duanya ketahuan karena ia tidak percaya siapapun. Terlebih sekarang, parnonya membesar karena efek dementia. Namun dementia itu bukan pelaku-utama, melainkan hanya berperan sebagai membesarkan. Journey Fonse sepanjang film sebenarnya adalah soal dia mencari akar dari parno alias ketakutannya yang berlebihan. Sebagai penonton, kita akan melihat ke dalam Fonse. Seringkali kita akan ditempatkan sebagai dirinya, ikut mengalami halusinasi dan mimpi-mimpinya.
Dan di dalam situlah kita akan mendapati si guilt ini, si Perasaan Bersalah. Semua halusinasi Fonse penting karena masing-masingnya merupakan episode dari beban seorang manusia yang berprofesi sebagai bos kriminal. Dia harus membunuh sahabat sendiri. Dia harus melakukan berbagai kejahatan. Di menjelang babak ketiga ada sekuen panjang Fonse balik ke masa lalu. Kita memasuki ini bukan sebagai Fonse yang gagah, melainkan sebagai Fonse yang tidak ingat pernah melakukan, sehingga ia melihat perbuatannya dari cahaya yang baru; cahaya yang lebih mudah bagi kita untuk merelasikan diri kepadanya. Kalian yang pernah nonton dokumenter Jagal atau The Act of Killing (2012), kalian akan menemukan kemiripan antara inner-journey Fonse dengan Anwar Congo yang jadi sudut pandang utama dalam dokumenter tersebut. Pembeda yang paling utama di antara keduanya adalah tanda-tanda penyesalan. Yang menjadi penting karena menentukan apakah penonton bakal bersimpati atau tidak kepada si tokoh utama, seberapapun horrible perbuatan mereka terdahulu. Fonse dalam Capone tidak punya luxury untuk merasakan hal tersebut, karena keadaan fisik dan terutama mentalnya yang tidak lagi memungkinkan.

Rasa bersalah mengerus pikiran dan akal sehat sedikit demi sedikit. Ketika melakukan perbuatan mengerikan di masa lalu, seseorang akan terus kepikiran, dan secara tidak sadar mengambil tindakan preventif untuk mencegah kejadian tersebut terulang lagi. Dan proses ‘pencegahan’ ini bergantung kepada pribadi masing-masing. Jika kita seperti Al Capone, yang hidup dari bisnis ilegal, yang dikelilingi sama seringnya oleh keluarga, anak buah, musuh, realita yang kita ciptakan untuk berlindung akan menjadi sama berbahayanya dengan yang mestinya kita cegah. Bahkan lebih.

 
Kita susah merasakan simpati kepada Fonse, meskipun tokoh ini ngompol, stroke, ngisep wortel alih-alih cerutu, ketakutan dan kebingungan sepanjang waktu, karena film membuatnya vulnerable seperti itu hanya karena dia sakit. Kita tidak sekalipun diperlihatkan perasaan genuine menyadari kesalahan. Drama film ini hanya datang dari Fonse yang sakit dan orang-orang tersayang yang setia padanya berusaha dealing with this, sementara Fonse makin curigaan dan liar kepada mereka. Sebuah film memang seharusnya tidak membuat tokohnya memohon untuk simpati kita, tetapi menjadikan si tokoh tersebut tidak pernah tampak sebagai manusia utuh – just this walking disease yang harus kita pedulikan karena banyak orang yang sayang ama dia – malah jadi kayak nyalahin penyakitnya ketimbang kontemplasi. Semua itu menjadi bertentangan dengan gagasan film mengenai kesalahan masalalu terus menghantui, karena karakternya bergerak karena penyakit. Membahas Fonse sekiranya bisa lebih baik jika dialihkan melalui sudut pandang tokoh lain, seperti istrinya yang mendapat porsi yang lumayan gede, tapi film ini pun gagal memberikan tokoh-tokoh seperti sang istri ini plot yang lebih berarti. Storyline mereka diperkenalkan, untuk kemudian diantepin gitu aja.

Hey, what’s up, Doc?

 
Perihal penampilan akting, akan berhubungan erat dengan aspek storytelling. Karena aktinglah subjek vokal yang menyampaikan cerita. Dalam cerita yang dalem membahas kejiwaan manusia, anehnya film di awal-awal memperlihatkan Fonse nyaris seperti parodi. Adegan openingnya malah kayak komedi kakek dan anak yang punya atmosfer kelam. Dan pembawaan Tom Hardy memainkan Fonse sama sekali tidak membantu. He was so over-the-top. Hardy memberikan suara yang komikal kepada Fonse. Jika tidak sedang bengong mengisap cerutu (dengan liur menetes ke dagu!) atau bergumam gak-jelas, Fonse akan ‘menyalak’ dengan suara yang seperti Moe Szyslak sedang audisi menjadi Goblin di bank Harry Potter. Dengan make up ‘penuaan’ yang terlihat kasar dan ‘Scarface’ yang gak-konsisten (make-up Johnny Knoxville jadi kakek-bangsat di Jackass tampak lebih meyakinkan), banyak tindakan yang dilakukan oleh Fonse yang jatohnya konyol alih-alih mengundang cemas dan menarik simpati kita kepadanya. Misalnya seperti ia tiba-tiba mengenakan pakaian wanita saat diam-diam berangkat pergi memancing. Dalam sekuen laga terakhir, Hardy mencoba sebaik yang ia bisa untuk menghasilkan sesuatu yang bukan cengiran dari penampilannya sebagai Fonse yang mengamuk dengan senapan mafia yang terbuat dari emas, menembaki orang sambil mengenakan piyama dan popok.
Hasil yang ditimbulkan selalu jauh dari harapan. Film seperti tidak benar-benar paham bagaimana menghormati penyakit yang mereka angkat. Ketika alur mulai memasuki ranah halusinasi mendominasi Fonse, treatment yang diambil film untuk membuat kita dapat membedakan mana yang nyata mana yang bukan adalah dengan memperlihatkan kekonyolan atau sesuatu yang dilebih-lebihkan. Sehingga penyakit itu tidak terasa mencengkeram lagi. Namun tentu saja dementia bukanlah penyakit yang hilarious. Melainkan menakutkan. Memiliki kerabat yang perlahan melupakan kenyataan, melihat atau percaya sesuatu yang mengerikan yang sebenarnya tidak ada, mestinya adalah pengalaman yang disturbing, mencemaskan. Masa-masa sebelum kakek tutup usia, beliau sering nunjuk-nunjuk dan bicara pada sosok tak-terlihat dan memperkenalkannya kepada kami sebagai kerabat yang sudah tiada, buatku adalah masa yang mengerikan, hanya dengan mengingatnya saja. Seorang tua yang halu dan membahayakan orang, dementia dalam film Capone beberapa kali terasa seperti memancing kelucuan, yang mungkin saja tidak disengaja, but it did feel that way – bahwa kadang film kayak lupa penyakit tersebut adalah masalah serius.
Adegan halusinasi dalam film ini memang diniatkan sekontras yang kita lihat. Kadang film terasa kayak dalam dunia yang dibangun David Lynch. Lengkap dengan adegan musikal yang creepy. Tapi kita tahu, Lynch tidak menjahit adegan dengan abrupt. Whereas in Capone, demi menguatkan sensasi linglung dan kebingungan seperti yang dirasakan Fonse, editing yang digunakan dengan sengaja cepat. Konstruksi adegan dengan sengaja dibuat saling tindih, dalam sense waktu. Sehingga perspektif menjadi gak jelas. Akan sering kita temui sekuen yang ternyata cuma ada di kepala Fonse. Namun sekuen tersebut ditampilkan begitu elaborate, dalam artian, kita melihat adegan seorang tokoh di suatu tempat, melakukan hal privet, tanpa ada Fonse di sana. Yang berarti gak masuk-akal adegan tersebut bisa terpikirkan oleh Fonse. Itu bukan kenangannya. Dan aneh sekali kalo dia membayangkan adegan tersebut di dalam kepalanya karena enggak ada sangkut paut langsung dengan dia. Jadi gak-jelas apakah adegan tersebut adalah real ‘kayfabe’ dari runutan cerita yang ditarik ke masa kini, atau cuma imajinasi. Film dapat jadi membingungkan seperti demikian.
 
 
 
Film ini menjadi susah untuk ditonton. Namun bukan karena dia berhasil menggambarkan dementia atapun karena membuat kita peduli terhadap tokoh kriminal sehingga melihatnya dalam cahaya simpati. Film ini sukar karena tidak tepat dalam banyak hal. Penceritaannya sering menyimpang jadi unintentionally hilarious. Tokoh utamanya dibawakan ke arah yang membuatnya nyaris jadi seperti parodi. Alur pun tidak membahas dalam, cenderung melewatkan dan tidak sampai tuntas menggali sudut yang sebenarnya menarik. The whole concept of this movie is intriguing. Jika tayang di bioskop, tentu film ini bakal jadi kandidat kuat masuk daftar kekecewaan terbesarku tahun ini.
The Palace of Wisdom gives 3 out of 10 gold stars for CAPONE.

 

 
 
That’s all we have for now.
Masalah ‘harta karun’ Al Capone yang sampai sekarang masih belum ditemukan, apa kalian punya mengenai hal tersebut? Apakah itu hanya legenda? Jika tidak, kenapa kira-kira hingga kini uang berjuta-juta itu belum berhasil ditemukan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.

#TEMANTAPIMENIKAH2 Review

“Unplanned moments are always better than planned ones.”
 

 
 
Namanya udah nikah, urusannya sudah bukan lagi siap atau tidak siap. Melainkan ‘harus siap’. Siap dalam mengubah kebiasaan. Siap dalam berhadapan dengan yang ‘terburuk’ dari teman hidup yang sudah dipilih. Terutama, siap untuk mengurungkan rencana hidup yang sudah disusun. Menjadi pasangan berarti kudu siap menerima kejutan-kejutan rumahtangga. Toh, lagipula hidup tidak akan pernah berjalan sesuai rencana, dan di situlah letak indah dan berharganya kehidupan.
Ayu dan Ditto belum benar-benar siap dalam menghadapi kehidupan baru mereka. Sekian lama menjadi sahabat akrab, hal menjadi sedikit kikuk pada awal-awal pernikahan mereka. Tapi kurang lebih, Ayu bahagia, karena hidup mereka tidak banyak berubah. Berkarir, jalan-jalan. Sampai datanglah karunia tak terduga itu. Ayu hamil. Kehidupan ia yang dulu, rencana-rencananya, jadi harus ditunda. Kalo enggak mau dibilang harus dikesampingkan begitu saja. Ayu stress. Terutama ia takut kehamilan ini akan mengubah total dirinya. Namun dengan berpikir demikian, ia sudah berubah. Kalo kata Ditto, Ayu sekarang berasa serigala. Keseluruhan durasi Teman tapi Menikah 2 ini akan membawa kita mengarungi hari-hari kehamilan Ayu yang dihiasi oleh pertengkarannya dengan Ditto, kecemasannya melahirkan sesar, dan manis yang nanti ia rasakan saat bingkisan karunia dari Pencipta itu hadir ke dunia.

Teman tapi Menyiksa

 
Hal terbaik dari film ini adalah penampilan akting Mawar Eva de Jongh yang memerankan Ayudia Bing Slamet. Dan ini ‘harga’nya mungkin cukup tinggi, karena film actually mengganti pemeran dari film pertamanya yang meraih lebih dari satu-juta-lima-ratus orang penonton. Film sampai melakukan reka ulang beberapa adegan di film pertama sebagai montase pembuka. Langkah ini menimbulkan tandatanya cukup besar karena biasanya jika sebuah film tergolong laku sampai mendorong hadirnya sebuah sekuel, maka pemain terutama pemain utama akan dipertahankan sebab penonton asumsinya sudah klop dengan mereka. Kalopun ada penggantian, maka akan lebih mudah mengganti semuanya misalnya dengan membuat cerita yang periodenya berjarak jauh, sehingga pergantian tersebut menjadi beralasan. Dalam kasus Mawar menggantikan Vanesha Prescilla di film kedua ini, kita tidak melihat alasan yang jelas selain pernyataan sebagian penonton yang beranggapan Vanesha masih belum matang untuk memainkan karakter Ayu di film ini. Kalo memang itu alasannya, maka menurutku Falcon ‘jahat’ juga karena film ini seharusnya jadi kesempatan Vanesha membuktikan dirinya sebagai aktor karena maaaan, Ayu di film ini punya range yang luar biasa. Dan Mawar, untungnya, berhasil capitalized this chance dengan menunjukkan permainan akting yang terasa seperti ia benar-benar melalui semua kecamuk, kegelisahan, bahkan kesenangannya menjadi seorang ibu di usia muda.
Interaksi Mawar dengan Ditto yang masih diperankan oleh Adipati Dolken juga terlihat natural, maupun saat berantem ataupun saat mode pacaran. Malah Adipati yang terlihat lebih ‘lemah’ aktingnya di sini karena dia gak ada peningkatan dari film pertama. Jika dulu Adipati dan Vanesha sama-sama lemah dalam adegan emosional seperti menangis, atau berantem, maka film itu bisa menutupi dengan lebih banyak menonjolkan interaksi unyu hubungan tanpa-status mereka. Namun kali ini, film punya cerita yang lebih menguras emosi. Dengan Mawar bermain luar biasa, momen-momen emosional sering jadi timpang. Ngeliat Ditto di film ini nangis, kita gak pernah yakin dia beneran nangis atau lagi ngelucu.
Kehamilan yang tak direncanakan merupakan sebuah situasi yang tumpah meruah oleh begitu banyak emosi. Takut, panik, bingung, excitement, dan kebahagiaan. Mawar, sebagai Ayu, akan mengalami itu semua satu persatu. Soal kehamilan yang tiba-tiba ini adalah inti dari cerita Teman tapi Menikah 2, yang harusnya bisa menjadi pembahasan yang lebih padat, lebih berisi, dan menginspirasi pasangan suami istri muda seperti Ayu dan Ditto. Film ini bersinar saat mengangkat pembahasan pentingnya suami dan istri untuk saling support, dan bagaimana mereka juga butuh space. Salah satu poin perkembangan karakter Ayu adalah awalnya dia merasa harus selalu dekat dengan Ditto sebagai usaha menunjukkan support. Namun dia akhirnya untuk tidak harus memaksakan, karena dirinya sendiri butuh penyesuaian, ada batasan yang hadir dengan kehamilan. Dan seperti halnya melahirkan; tidak bisa dengan asal ngepush.
Film mencoba mengangkat konflik dramatis dari pasangan muda yang masih punya ego masing-masing, serta bagaimana mereka masing-masing berjuang untuk damai dengan kenyataan bakal punya anak; bahwa mereka kini hanya punya waktu sembilan bulan untuk puas-puasin mengejar mimpi/cita-cita. Baik Ditto maupun Ayu pada awalnya menghitung bulan ini, untuk alasan yang berbeda. Ditto menghitung waktu kebebasan bagai orang yang lagi di penjara, sedangkan Ayu seolah menghitung mundur hari penghabisan bagi dirinya. Tidak keduanya berkesan positif bagi kelangsungan rumah tangga. Namun sembilan bulan itulah durasi pembelajaran bagi keduanya. Dua-ratus-tujuh-puluh hari adalah waktu yang cukup bagi kebanyakan orang untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan mengarahkan diri ke mindset yang lebih positif. Kita akan melihat Ayu semakin menumbuhkan cinta kepada bayi yang bertumbuh di dalam tubuhnya. Dia membuat banyak perubahan positif, dia berolahraga dengan benar, berusaha mencari cara kehamilan yang lebih sesuai. Begitu juga dengan Ditto yang mulai seperti mengeset ulang prioritas hidupnya. Setengah paruh akhir, sekitar babak ketiga film, adalah bagian yang paling ingin kita lihat dari cerita semacam ini. Di bagian ini lebih mudah untuk peduli kepada tokoh-tokohnya, karena saat ini kita melihat mereka memilih langkah yang, ditambah pula dengan penulisan yang lebih ketat dan lebih ekslusif kepada pekerjaan mereka sebagai publik figur alias bintang televisi. Layer inilah yang seharusnya ditonjolkan film sedari awal.

Terkadang kita harus menerima kenyataan bahwa beberapa hal tidak akan pernah kembali ke sedia kala. Things do change. Plans got scrapped, dan musti dipikirin lagi dari awal. Hanya ada satu yang konstan, dan itu adalah cinta. Si cinta ini bekerja secara misterius. Momen-momen yang terjadi atas nama cinta tidak bisa diprediksi. Sama seperti ketika Ayu yang tidak menyangka bakal nikah sama sahabatnya sendiri. Setiap bumil – direncanakan atau tidak – bakal merasakan kebahagiaan. Sehingga alih-alih berkubang pada hal yang harus digugurkan, nantikanlah cinta dan kedamaian yang hendak didapat sebagai gantinya.

 
Akan tetapi skenario seperti mengulur-ngulur dengan memasukkan banyak hal yang less-signifikan. Paruh awal, mungkin malah sekitar 60-70%nya diisi dengan konflik yang ngeselin. Film ini kasusnya seperti Dilan 1990 (2018) – bukan kesamaan dari cerita, melainkan sama-sama mengandung konflik, hanya saja sebagian besar konfliknya itu gak penting dan kayak diada-adain.

Teman tapi Memaksa

 
“Gak mungkinlah, kita kan baru nikah masa udah hamil” ucapan Ditto merefleksikan kualitas naskah film ini. Atau paling enggak, begitulah naskah nge-depict sifat kekanakan Ditto. Dengan narasi demikian, film seolah membuat kehamilan Ayu sebagai hal yang gak lumrah; ia berusaha membuat kehamilan ini lebih sebagai ‘kecelakaan’ ketimbang hal yang tidak direncanakan. Padahal mereka melakukan, lalu hamil, ya wajar, tapi film membuat mereka kaget karena mereka baru saja menikah. Reaksi ini terlalu dibuat-buat, bahkan untuk mereka berdua yang pasangan muda. I mean, mereka bukan di film Dua Garis Biru. Mereka menikah, komit, tahu cara kerja dan konsep kehamilan. Namun di awal-awal, oleh naskah kedua tokoh ini tampak seperti sedang main rumah-rumahan. Ini mungkin salah satunya disebabkan oleh film ingin tampil untuk penonton dengan rentang usia tiga-belas tahun ke atas, jadi pembahasannya gak boleh mature-mature amat.
Masalah yang membuat mereka berantem hanyalah masalah kecil seperti beda kebiasaan, sehingga setiap kali mereka ribut rasanya gak penting dan buang-buang waktu. Kita bisa melihat keduanya sama-sama salah. Dan ini terus berulang – formulanya selalu ribut, kemudian sadar udah emosi, kemudian maafan – dengan berbagai versi kejadian. Yang semakin mengada-ada. Di satu titik mereka berantem karena Ditti cemburu Ayu lebih perhatian kepada janinnya. See what I mean?
Dengan kejadian selemah itu, tidak pernah sekalipun mereka berantem terasa seperti hal yang mengancam. Kita tidak mengkhawatirkan mereka bakal pisah, kita tidak mencemaskan keadaan bayinya; tidak ada stake yang kuat. Film semestinya segera bermain dengan lapisan-lapisan supaya mereka berantem dengan masalah yang lebih natural dan gak repetitif. Soal kerjaan, soal posisi sebagai artis, soal duit, normal bagi film tentang pasangan muda membahas ini, dan normal juga untuk memantik sedikit dramatisasi demi film berjalan lebih menarik. Daging sesungguhnya ada di paruh akhir, namun pada poin itu sudah terlambat karena menjelang penghabisan film terasa nge-drag luar biasa.
 
 
 
It still has its charms. Ayu dan Ditto begitu lovable, kita suka melihat interaksi mereka. Dimainkan dengan sangat baik pula, terutama di bagian-bagian mereka berbagi suka. Secara narasi, film ini tidak terasa lebih besar dan signifikan dibanding film yang pertama. Padahal ceritanya sekarang mereka sudah menikah dan punya masalah dari kehadiran bayi yang tak-disangka. Masalah yang notabene lebih menguras emosi ketimbang persoalan ngungkapin cinta kepada sahabat. Mestinya ada banyak yang bisa digali, tapi film mengulur dengan menghadirkan konflik-konflik yang kurang menggigit sebagai penghantar.
The Palace of Wisdom gives 5 out of 10 gold stars for #TEMANTAPIMENIKAH2.

 
 
 
That’s all we have for now.
Kenapa sih menurut kalian menjadi ibu atau orangtua itu begitu membahagiakan?
 
Share  with us in the comments 
Remember, in life there are winners.
And there are losers.
 
 
 
 
We?
We are the longest reigning BLOG KRITIK FILM TERPILIH PIALA MAYA.