Tags

, , , , , , , , , , , , , ,

 

Selamat tahun baru, semuanya!

Sebelum kita digempur oleh reboot-reboot yang bakal bikin ribet saat menyebutkan nama judul karena harus menyertainya dengan angka tahun pembuatan (“Film A yang mana, yang jadul apa yang 90an?” / “Bukan, A yang 2020”), dihebohkan oleh superhero-superhero lokal, dan dikecewakan oleh lebih sering lagi animasi-animasi yang di-live action-kan tahun ini, aku ingin ngasih tahu bahwa sebenarnya 2019 adalah tahun yang cukup mengesankan dalam bahasan film.

Bagai mesin yang panasnya lama, 2019 dimulai dengan relatif adem ayem. Rapor film cawu I My Dirt Sheet aja boringnya luar biasa. Enggak ada yang spesial. Menjelang pertengahan tahun, baru mulai kelihatan riak-riaknya. Akhir tahun buatku yang paling mengejutkan. Emosi benar-benar diaduk oleh banyaknya film-film bagus, dengan film-film jelek dan film produk gak mau kalah. Genre-genre film mainstream hadir dengan berisi. Film-film art tampil dengan merakyat. Secara objektif, sebaran yang bagus enggak banyak peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Film-film yang dapat skor 8 masih sedikit, meski 7 lumayan banyak. Namun ada lebih banyak film yang menyenangkan, menghibur; ada lebih banyak film yang dapat .5 yang berarti aku dapat begitu banyak favorit untuk bisa dimasukkan ke daftar yang bias dan subjektif kali ini.

Untuk membuat semakin menggelinjang, tahun ini aku mengupdate rule dalam menyusun daftar top-8. Bukan hanya sudah ditonton (bioskop atau bukan), sekarang aku hanya akan memasukkan film-film yang sudah kureview saja – hanya film-film yang masuk di rapor film cawu I,II,III (rapor ini kupos empat bulan sekali, look out for these). Tahun 2019 aku telah mereview 136 film. Aku gak nonton semua film yang beredar, tentu saja, aku bukan manusia super haha. Dan itu bukan jumlah yang banyak – apalagi 15 di antaranya sudah masuk daftar Kekecewaan Bioskop 2019. Jadi untuk top list kali ini, aku harus membatasi honorable mentions supaya persaingan semakin ketat dan daftarnya bisa lebih seru lagi.

 

HONORABLE MENTIONS

  • 27 Steps of May (film Indonesia terbaik; salah satu yang terpenting sepanjang tahun 2019)
  • Crawl (horor efektif manusia melawan buaya, tanpa ada twist dan political agenda ribet di antara mereka)
  • Dolemite is My Name (biografi komedi panutan buat yang mau nekat bikin film sendiri)
  • Imperfect (semua cewek harus nonton ini!)
  • Instant Family (drama keluarga menyenangkan yang mengingatkan cinta tak melulu datang dari rantai DNA)
  • Knives Out (misteri pembunuhan dengan twist unik dan bobot keren soal masalah ketakutan terhadap imigran)
  • Marriage Story (observasi proses perceraian yang sebenar-benarnya, dan ini melibatkan proses hukum dan perasaan yang sama getirnya)
  • My Dad is a Heel Wrestler (dengan indah dan penuh hati mengajarkan kepada anak-anak semua pekerjaan sama pentingnya)
  • Pretty Boys (kalo film ini mengajarkan semua pekerjaan sama pentingnya kepada orang dewasa; personal look pria terhadap dunia televisi)
  • The Farewell (terenyuh sekali nonton drama komedi yang berurusan dengan cara mengucapkan selamat tinggal ini)
  • The Irishman (kita tahu ini salah satu terbaik Scorsese saat begitu terinvest kepada tokoh utama yang kriminal)
  • The Peanut Butter Falcon (tontonan yang menghangatkan jiwa membuat mikir dua kali sebelum meremehkan mimpi orang lain)
  • Toy Story 4 (mainan-mainan ini sekali lagi akan bermain dengan perasaan kita)
  • Us (Jordan Peele kembali menakuti kita dengan komentar sosial, kali ini tentang privilege)
  • Weathering with You (salah satu pencapaian visual terindah di 2019; cara terbaik ketika bicara tentang cuaca!)

Special shout out buat Avengers: Endgame yang ulasan filmnya mendapat jumlah view terbanyak di My Dirt Sheet tahun 2019.

 

 

Top-8 yang bakalan kalian baca di bawah, aku menganggap semua sudah menonton filmnya, jadi spoiler, beware. Penjelasannya pun bisa jadi bakal sangat subjektif, jadi jangan tanya lagi kenapa jika ada satu film enggak ada, atau soal urutan yang ‘bagusan yang nomor 6 deh dibanding yang nomor 2’. Bagi yang pengen membaca penilaian lengkap filmnya yang lebih objektif, kalian bisa klik masing-masing judul film untuk membuka halaman ulasan film tersebut.

 

 

8. JOKER

Director: Todd Phillips
Stars: Joaquin Phoenix, Robert De Niro, Zazie Beetz, Frances Conroy
MPAA: R for strong bloody violence, disturbing behavior, language and brief sexual images
IMDB Ratings: 8.7/10
“I used to think that my life was a tragedy, but now I realize, it’s a fucking comedy.”

Saking manusiawi dan mengenanya emosi yang dikeluarkan, Joker menjadi film yang paling polarizing di tahun 2019. Beberapa penonton menyukainya, beberapa lagi takut akan kenyataan film ini banyak yang suka.

Joker adalah orang jahat. Dia membunuhi orang. Dia menginginkan dunia kacau. Film ini dengan hebatnya menempatkan kita di sepatu Joker, sampai kita merasa kasihan kepadanya. Inilah yang membedakan Joker dengan Taxi Drivernya Scorsese. Joker actually memang meminta kita melihat dari sudut pandang si jahat. Ada satu adegan Joker membunuh teman yang mengonfrontasi dirinya perihal pistol, dan kita malah bersimpati pada Joker karena segaris dengan sudut pandangnya bahwa ia dijebak oleh si teman. Padahal tidak. Joker adalah orang sakit di dunia yang sakit.

Buatku ini adalah tanda dari film yang bagus. Berbahaya, ya, tapi hanya bagi penonton yang tidak cakap dan salah mengenali. Selain sudut pandang, film ini juga punya banyak adegan bernada sureal yang semakin menguatkan humanisasi gelap dari manusia yang seluruh hidupnya adalah tragedi.

My Favorite Scene:
Setiap kali Joker menari, di momen-momen emosi yang sebenarnya enggak cocok untuk dipakai berjoged.

 

 

 

 

 

7. READY OR NOT

Director: Matt Bettinelli-Olpin, Tyler Gillett
Stars: Samara Weaving, Adam Brody, Mark O’Brien, Henry Czerny
MPAA: R for violence, bloody images, language throughout, and some drug use
IMDB Ratings: 6.9/10
“Maybe we deserve to burn.”

This is a pure blast! Ingat sejak dua tahun belakangan narasi wanita kuat dan pemberdayaan wanita atas tradisi jadi tren? Yah, film ini menceritakan itu dengan lebih simpel tapi tetap dramatis dan penuh gaya.

Grace bukan hanya melawan orang-orang yang memburunya. Grace melawan tradisi. Berusaha survive dari gagasan dirinya harus sesuai – memenuhi syarat – masuk ke satu ‘keluarga’. Sebagai horor film ini bekerja dengan baik karena punya aksi-aksi berdarah sebagai wujud dari simbol betapa mengerikannya pengaruh sebuah tradisi atau kepercayaan. Sebagai komedi, film ini bekerja terbaik, karena sajiannya yang menghibur penuh oleh kelucuan. Bahkan adegan orang terbunuh saja dibuat lucu.

Samara Weaving benar-benar jagoan di sini. Aku benar-benar suka pada penampilannya, dan itu mungkin karena bibirnya mengingatkanku kepada… ah sudahlah.

My Favorite Scene:
Gaun pengantin yang dikenakan Grace actually adalah karakter tersembunyi. Gaun itu menyimbolkan sesuatu yang tadinya harus ia kenakan, menjadi sesuatu yang ia kendalikan. Adegan favoritku adalah ketika Grace merobek gaunnya, menggunakannya sebagai bagian dari survival.

 

 

 

 

6. THE NIGHTINGALE

Director: Jennifer Kent
Stars: Aisling Franciosi, Baykali Ganambarr, Sam Claflin 
MPAA: R for strong violent and disturbing content including rape, language throughout, and brief sexuality
IMDB Ratings: 7.3/10
“”It’s the law”, cried the thief.”

Jennifer Kent baru membuat dua film. Yang pertama adalah The Babadook yang jadi film juara satu-ku di tahun 2014. Dan yang satunya lagi adalah thriller sejarah Australia ini. Film ini kayak Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, tapi lebih ganas, menakutkan, dan bikin kita lebih geram kepada kemanusiaan. Ada begitu banyak adegan kekerasan disturbing karena melibatkan anak kecil dan wanita, sampai-sampai tokoh-tokoh film ini – penampilan mereka seperti udah bukan akting – semuanya diberikan konseling kejiwaan.

Gagasan yang ingin diangkat oleh sutradara Jennifer Kent tidak sesederhana kejahatan akan mendapat balasan. Tidak, karena kekerasan yang akan berbuntut pada kekerasan hanya akan membentuk lingkaran setan kehancuran manusia yang akan terus bergulir. Kent justru mengangkat pertanyaan ‘bagaimana jika ada cara lain di luar balas dendam’. Dan terutama, ‘masihkah kemanusiaan itu akan ada di dunia yang penuh dengan kekerasan’.

Film ini keras, susah untuk disaksikan karena kontennya yang no holds barred, namun merupakan salah satu film terpenting bagi siapapun yang ingin merasakan kemanusiaan.

My Favorite Scene:
Revenge story semacam ini biasanya selalu menampilkan adegan pembunuhan pertama oleh tokoh utama sebagai sesuatu yang amat pahit, berkesan, menyayat, powerful. Dalam film ini, first kill tokohnya sangat luar biasa. Sayang, aku gak nemu potongan klipnya – sepertinya karena terlalu graphic.

 

 

 

 

 

5. FORD V FERRARI

Director: James Mangold
Stars: Matt Damon, Christian Bale, Josh Lucas, Noah Jupe
MPAA: PG-13 for some language and peril
IMDB Ratings: 8.3/10
“We’re lighter, we’re faster, and if that don’t work, we’re nastier.”

Kita gak suka balap? Who cares! Film adalah soal manusia-manusianya dan Ford v Ferrari menghadirkan dua tokoh yang begitu dekat. Bukan karena mereka tokoh asli yang pernah hidup di bawah mentari yang sama dengan kita. Melainkan karena mereka juga berjuang supaya bisa mengerjakan hal yang mereka cintai. Sama ,kan, kayak kita.

Kalian gak suka biografi karena berat dan lambat? Who CARES! Film ini akan membuktikan bahwa biografi enggak melulu berkaitan dengan cerita berat. Malahan film ini akan sangat crowd-pleaser. Percakapannya enggak pernah membosankan, karena penampilan yang total dari para pemain. Humornya juga lucu dan gak receh. Dramanya gak lebay melainkan penuh emosi yang terasa fully-earned, gak dibuat-buat.

Dan balap mobilnya? Man, gak suka balap juga pasti akan duduk sambil jingkrak-jingkrak deh melihat serunya balapan dan konflik yang melatarbelakanginya.

My Favorite Scene:
Sepanjang film aku mencubit-cubit lenganku karena geram melihat si tokoh korporat penjilat. Aku kasian sama si Miles yang disuruh mengalah tapi kemudian malah ditipu oleh timnya sendiri. Tapi film memasukkan sekilas, hanya beberapa detik adegan Miles kontak mata dengan bos Ferrari, lawan tandingnya. Dan ini buatku adalah adegan yang sangat powerful.

 

 

 

 

 

4. ONCE UPON A TIME… IN HOLLYWOOD 

Director: Quentin Tarantino
Stars: Leonardo DiCaprio, Brad Pitt, Margot Robbie, Al Pacino
MPAA: R for language, some strong graphic violence, drug use, and sexual references
IMDB Ratings: 7.8/10
“It’s the actor’s job to strive for one hundred percent effectiveness. Naturally, we never succeed, but it’s the pursuit..that’s meaningful.”

Aku selalu ‘lemah’ sama film-film yang menunjukkan tentang pembuatan dan bisnis film, dan karya ke-9 dari Quentin Tarantino ini buatku too much to handle. Aku menonton ini hampir-hampir pingsan kelelahan karena menahan diri begitu kuat untuk enggak loncat-loncat menahan girang. That’s how good this movie is for me.

Kata orang, ini adalah surat cinta Tarantino buat cinema. Dan memang sedemikian kuat passion sang sutradara terasa. Ia mereka ulang salah satu hari gelap dalam sejarah Hollywood, dan memasukkan fantasi sendiri. Lewat dua tokoh – bintang film dan stuntman-nya – kita meliha cerita pahlawan di tanah rekayasa yang begitu menyentuh dan lumayan pahit. Meskipun overall film ini amat sangat kocak.

Film ini nyaris tiga jam, tapi aku gak masalah menyaksikannya berulang kali. Malahan katanya tahun ini bakal rilis versi uncut empat jam; AAAAA, I CAN’T WAIT!

My Favorite Scene:
Adegan dengan flamethrower di akhir adalah yang langsung terpikir kalo mengingat film ini. Tapi actually ada banyaaak adegan keren sepanjang durasi. Dan kalo dipikir-pikir lagi, buatku adegan Rick Dalton berusaha tampil prima berakting saat hatinya ragu dan insecure-lah yang mencuri piala sebagai adegan paling favoritku di film ini

 

 

 

 

 

3. PARASITE

Director: Bong Joon Ho
Stars: Kang-ho Song, Sun-kyun Lee, Yeo-jeong Jo, So-dam Park
MPAA: R for language, some violence and sexual content
IMDB Ratings: 8.6/10
“If I had all this I would be kinder.”

Dalam Parasite ada adegan hujan deras, di rumah orang kaya yang letaknya agak tinggi di atas hujan itu tampak begitu indah, romantis, sejuk. Namun di rumah orang miskin yang letaknya nyaris di bawah tanah, hujan itu menenggelamkan, ganas. Dingin.

Kejeniusan dari Parasite adalah mengontraskan dunia kaya dan dunia miskin, membuat tokoh-tokohnya berjuang merebut kekayaan dengan cara yang hanya Bong Joon-Ho yang bisa. Tone yang kontras dihandle dengan baik sebagai perbandingan yang satir. Tidak satupun tokohnya yang satu-dimensi berkat dialog-dialog yang ditulis dengan cerdas. Film juga berani dengan visualnya. Menangani segala macam kaya-dan-miskin dalam lingkupan semua indera kita, termasuk bau – sesuatu yang jarang sekali dilakukan dengan berhasil oleh film-film lain.

My Favorite Scene: Semakin ke belakang, Parasite menjadi semakin fantastical. Ada satu adegan yang sekilas kayak konyol, namun sarat oleh pesan dan komentar sosial yang subtil. Yakni saat dua keluarga miskin berkelahi mati-matian berebut tempat di rumah orang kaya, aku suka sekali ini.

 

 

 

 

 

2. THE LIGHTHOUSE

Director: Robert Eggers
Stars: Robert Pattinson, Willem Dafoe, Valeriia Karaman
MPAA: R for sexual content, nudity, violence, disturbing images, and some language
IMDB Ratings: 8.0/10
“He believed that there was some enchantment in the light. Went mad, he did.”

Film terbaik yang kutonton sepanjang 2019. Pencapaian teknisnya luar biasa. Penggunaan warna serta rasio layarnya amat mendukung rasa terkukung yang ingin disampaikan. Editingnya sangat precise, sampai-sampai kita seolah merasakan langsung kegilaan ikutan merayap ke dalam diri kita. Ini adalah film tentang dua orang yang perlahan menjadi gila berada di pulau terpencil berdua saja untuk waktu yang lama. Dan semakin mereka tumbuh rasa curiga, rasa takut, merasa semuanya enggak beres, kita juga turut merasa begitu. Pada satu titik kita enggak tahu lagi mana yang benar.

Meskipun dialognya aneh dan ‘kuno’, namun tidak sekalipun film ini terdengar kaku. Yang menjadi bukti film ini punya arahan dan penampilan akting yang meyakinkan dan sangat kuat. Horor yang dihadirkan di sini adalah horor psikologis. Ada misteri yang berjalan di dalam dunia film, tapi kita bahkan enggak yakin dari mana kengerian dan misteri itu berasal.

Ini adalah jenis film yang jika ditonton lima orang, maka lima-limanya akan menghasilkan interpretasi yang berbeda. Ada begitu banyak adegan simbol dan kiasan yang memiliki makna berbeda tergantung masing-masing yang menonton. Di atas semua itu, film juga gak sok penting dan sok ribet, dia masih bisa bercanda dengan fart jokes di sana-sini. Aku menunggu-nunggu karya Robert Eggers berikutnya setelah The Witch yang jadi runner-up Top-8 ku di 2016, dan tahun ini dia kembali dengan tak mengecewakan.

My Favorite Scene:
Serius, aku tanya. Kapan lagi. Kita melihat adegan. Robert Pattinson dimarahi Willem Dafoe. Karena gak suka lobster yang ia masak?

 

 

 

 

 

Kita beruntung masih bisa menyaksikan film dari master-master kayak Tarantino, Joon-Ho, bahkan Scorsese. Kita juga dapat comeback dari director-director muda yang ‘baru’ menghasilkan karya kedua, and it’s amazing! Seperti Jordan Peele yang debut Get Out dan sekarang Us – walaupun keduanya masih berkutat di ‘honorable mentions’/. Ada Jennifer Kent yang pernah jadi juaraku, dan sekarang muncul kembali masuk di Top-8 posisi 6. Ada Robert Eggers yang kembali menempati runner up. Sebenarnya tahun ini ada lagi yang comeback, yakni Ari Aster, yang tahun kemarin di posisi puncak dengan film debutnya; Hereditary. Bisakah Ari Aster dapat juara berturut-turut?

Atau mungkin tahun ini giliran film Indonesia? Dua sutradara master kita juga bersaing dengan film masing-masing. 2019 juga diisi oleh banyak film dari sutradara-sutradara debutan, apakah salah satu dari mereka yang bakal menempati posisi pertama dan mengukir sejarah My Dirt Sheet?

Jawabannya setelah iklan meme Joker dengan lagu WWE dariku berikut ini!

 

 

 

 

Oke, film nomor satuku di 2019 adalah:

 

1. FIGHTING WITH MY FAMILY

Director: Stephen Merchant
Stars: Florence Pugh, Vince Vaughn, Nick Frost, Dwayne Johnson
MPAA: PG-13 for crude and sexual material, language throughout, some violence and drug content
IMDB Ratings: 7.1/10
“Dick me dead, and bury me pregnant”

Jika kalian bisa nonton dan suka film balap, padahal gak suka balap, maka you’d definitely watch and like this movie too.

Dan aku bukan sekadar bias hanya karena suka gulat dan actually memfavoritkan Paige sebagai pegulat wanita revolusioner yang jadi tokoh utama cerita ini. Film bertema gulat secara mengejutkan ada tiga di tahun 2019. Tiga-tiganya bagus. Dua di antaranya nongkrong di Honorable Mentions. Fighting with My Family adalah yang paling grounded dan ringan dan menyentuh. Film ini digarap oleh Stephen Merchant, yang juga baru dua kali nyutradarain film panjang, dan dia bukan penggemar gulat. Namun dia berhasil menangkap esensi cerita dan punya gagasan sendiri yang sangat beresonansi dengan penonton.

ini adalah film crowdpleaser dengan formula yang sama kayak film-film tinju ataupun film tentang kompetisi. Tapi penampilan dan naskahnya tergarap dengan luar biasa baik. It is really inspiring. Drama keluarga dan konflik-konfliknya akan sangat menyentuh. Bayangkan kita dan saudara kita punya mimpi yang sama, tapi hanya satu dari kita yang dapat kesempatan – dan kita menyadari kita justru dapat kesempatan itu dari saudara yang kita ‘kalahkan’ tadi. Inilah yang dibicarakan oleh film ini. Bukan glorifikasi dunia gulat, melainkan fokus pada hubungan manusia yang semuanya punya keinginan untuk menang namun dunia simpelnya tidak butuh setiap orang untuk jadi pemenang.

Aku nonton ini sudah berulang kali. Tapi aku gak sanggup untuk melihat adegan Paige ‘diabaikan’ oleh abangnya karena cemburu saat mereka bertanding di arena keluarga. Sebegitu mengenanya emosi di adegan tersebut. Aku benar-benar gak nyangka film yang bahkan gak masuk di bioskop Indonesia ini, yang bersetting gulat yang sering diremehin orang, bisa mengandung cerita keluarga yang semenyentuh dan sehangat ini.

My Favorite Scene:
Film ini juga sangat lucu. Meskipun kadang lucunya awkward dan gak untuk semua orang. Favoritku adalah adegan The Rock menelfon keluarga Paige untuk memberikan suatu kabar. Reaski Nick Frost sangat kocak. Dan lihatlah ekspresi Florence Pugh saat menatap The Rock, seperti menatap idola sungguhan!

 

 

 

 

 

That’s all we have for now.

2019 tidak berlanjut sebagaimana yang kuharapkan di akhir 2018. Tapi ternyata masih menyiapkan kejutan menyenangkan. Aku pun masih optimis perfilman akan semakin mendekati nilai keseimbangan antara industri mainstream dengan ideal dan ala arthouse. Yang jelas, semoga cerita-cerita bersambung yang sengaja dipotong segera enyah dari dunia sinema.

Bagaimana dengan kalian, film 2019 apa yang menjadi favorit kalian? Apa harapan kalian untuk film di tahun 2020?

Share with us in the comments 

 

Oh ya, untuk merayakan satu dekade My Dirt Sheet; nantikan artikel khusus Champion of Champions: My Dirt Sheet Top Movie of a Decade (2010-2019) segera!!

Remember, in life there are winners.
And there are…

We?
We are the longest reigning PIALA MAYA BLOG KRITIK FILM TERPILIH.