Tags

, , , , , , , , , ,

“A shared happiness is twice the happiness, a shared sadness is half the sadness.”

 

 

Bisakah kita merasa bahagia jika tak pernah sedih? Pertanyaan itu memang sudah terjawab pada film animasi Inside Out (2015). Namun Angga Dwimas Sasongko dalam Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini seolah berkata “nanti dulu” lalu mengganti pertanyaan menjadi Apakah tidak tahu akan suatu hal menyedihkan membuat kita lebih bahagia? Dan dapatlah kita drama penuh hati yang menganjurkan untuk membuka diri dan brutally honest kepada anggota keluarga.

Dengan amunisi kutipan-kutipan dari sumber aslinya (buku Nanti Kita Cerita Tentang Hari ini karangan Marchella FP yang populer di kalangan milenial), Angga dan tim penulis naskah membangun satu keluarga sebagai pusat cerita. Keluarga yang dari luar tampak seperti potret keluarga modern yang berbahagia. Dengan tiga anak yang dewasa; si sulung Angkasa adalah sosok abang teladan yang sayang pada kedua adiknya, si tengah Aurora yang agak sedikit pemberontak, tapi memang begitulah seorang seniman, dan adik bungsu Awan yang mulai mengejar mimpinya bekerja di firma arsitektur mentereng. Bersama pendewasaan mereka, terbit juga cerita kegagalan, pertengkaran, kecemburuan. Keluarga ini semakin berjuang dengan ketidakbahagiaan di dalam diri masing-masing, yang berakar pada sikap ayah yang seperti lebih mementingkan Awan.

Awan kan nama cowok, kalo cewek mestinya… Awati kan ya!

 

Menakjubkan cerita dengan tokoh kompleks ini bisa terwujud mengingat buku aslinya ‘hanya’ berupa kalimat-kalimat singkat dan ilustrasi per halaman. Penulis Jenny Jusuf dan Mohammad Irfan Ramly praktisnya hampir sama seperti membangun dari nol. Jika baru-baru ini kita menyaksikan Marriage Story (2019) yang berkisah ‘pertengkaran’ rumahtangga antara suami istri dengan melukiskan proses perceraian betulan dan kuat oleh sudut pandang kearifan lokal sosial di Barat, maka Nanti Kita Cerita Hari Ini sukses menghadirkan drama dalam konteks keluarga yang lebih besar – melibatkan  anak – dengan benar-benar mencerminkan wajah keluarga menurut kehidupan ketimuran. Bahwasanya anak diharapkan sebagai penyambung harapan orangtua, dengan setiap anak punya ‘tugas’ sesuai dengan urutan lahir yang kadang menghambat kehidupan pribadi anak itu sendiri.

Dengan kata lain, ada pengorbanan. Dan tokoh-tokoh anak dalam keluarga ini, sesuai fitrahnya sebagai generasi muda yang modern, siap untuk memberontak, mencari kebahagiaan atas dan demi diri mereka sendiri.

 

Naskah berhasil menghimpun banyak garis plot dan menceritakannya dengan cukup efektif. Kita dapat melihat dan dapat merasakan konflik dari masing-masing tokoh karena film ini menuliskan dengan drama naratif dengan padu. Angkasa, Aurora, dan Awan – mereka punya keinginan dan kebutuhan atau wants-and-needs yang jelas. Benturan wants-and-needs dalam diri mereka bersumber dari tempat yang sama; dari sikap ayah kepada mereka. Konflik tidak berhenti di situ, kita juga melihat bukan saja keinginan dan kebutuhan masing-masing mereka saling berbenturan satu sama lain – menciptakan tensi di antara ketiganya, sekaligus juga bentrok dengan dunia luar – menciptakan tekanan yang harus mereka hadapi. Angkasa yang ingin melindungi adik-adiknya terutama Awan sesuai janji waktu kecilnya kepada ayah, he did a very good job at it, tapi ia juga perlu untuk memikirkan kepentingannya sendiri dan ini berdampak kepada kehidupan romansanya dengan pacar. Aurora yang ingin mendapat rekognisi dari ayah, dia perlu fokus ke pengembangan dirinya sendiri alih-alih selalu terdistraksi oleh cemburunya kepada Awan, yang mengganggu performanya dalam menghasilkan karya seni sebagai profesinya. Awan ingin bisa menentukan pilihannya sendiri dan gak lagi mendapatkan sesuatu karena bantuan ayah, tapi dia perlu belajar untuk tidak menjadi egois sebagaimana yang sudah menyebabkan dirinya dipecat karena tidak bisa bekerja sebagai tim.

Dalam sebuah cerita yang dangkal dan lebih tradisional, sosok ayah yang jadi sumber konflik mereka akan digambarkan satu-dimensi khas trope patriarki. Ayah dalam film ini memang pemaksa dan kadang terlihat terlalu lebay seperti ketika dia memarahi Awan yang terlambat di depan banyak orang seolah adegan yang mengharuskan dia marah saat itu juga supaya dramatis. Ayah ini mirip Marlin di Finding Nemo (2006), ia overprotektif terhadap Awan – bahkan menyuruh semua orang untuk overprotektif kepada bungsunya itu – dan juga mirip dengan Joy di Inside Out (2015) karena sama-sama punya prinsip untuk tak membiarkan kesedihan dekat-dekat sama keluarganya. Sebagai tokoh utama, Ayah memang sering terasa unbearable. Namun film sudah menyiapkan satu alasan sebagai pembelaan terhadap tokoh ini. Ada twist yang mengungkap rahasia yang dipilih untuk dipendam oleh sang ayah yang membuat tokoh ini bukan tipikal patriarki. Twist yang diposisikan sebagai resolusi, atau jawaban dari perubahan yang dilalui Angkasa, Aurora, dan Awan bukan hanya mempengaruhi ketiganya tapi juga bekerja lebih dalam membuat kita memikirkan ulang seberapa jauh orangtua berbuat demi kebahagiaan keluarga.

Kebahagiaan kita memang tidak mestinya bergantung kepada orang lain, namun kita juga tidak bisa mangkir dari kesedihan jika orang-orang yang kita sayang bersedih. Bahagia sendirian adalah bahagia yang kosong, karena bahagia itu juga ada dalam berbagi. Berbagi apapun, termasuk kesedihan.

 

Meskipun ditanam dengan detil dan dengan alasan yang logis, namun ada masalah yang sering hadir dalam setiap cerita yang menggunakan elemen twist. Pada film ini ada beberapa. Di antaranya wants-and-needs si ayah yang terlalu ‘drama’. Kemudian twist malah membuat salah fokus seolah yang penting adalah ‘apa rahasianya’, bukan di ‘mengapa’nya. Padahal impact harusnya ada di ‘mengapa’ itu. Demi twist, film akan membuat ada sesuatu yang harus ditutupi, dikurangi dengan sengaja, karena naturally film ingin bagian pengungkapan bekerja maksimal. Pada kasus film ini, yang diminimalisir adalah peran sang ibu. Berbeda dengan Nemo yang ibunya meninggal saat tragedi masa lalu, ibu kakak-beradik dalam Nanti Kita Cerita Hari Ini masih hidup. Dia adalah bagian dari tragedi, dia ikut menyimpan rahasia, akan tetapi pada dua babak awal tokoh ini tidak banyak berperan. Dia hanya ada di setiap shot. Kita tidak melihat dia berinteraksi dengan anak-anaknya. Ini terlihat gak alami. Juga membuat kekompleksan cerita tidak bisa mencapai sempurna.

Konflik internal wants-and-needs harusnya membuat si tokoh ditarik-tarik antara ayah yang menjadi sumber/yang merepresentasikan keinginan mereka dengan satu tokoh luar yang memaksa mereka menyadari apa yang mereka butuhkan. Angkasa berada di antara ayah dan pacarnya. Awan ditarik-tarik antara ayah dengan Kale, lelaki yang ia temui di konser musik yang mengajarkan dia kebahagiaan sebagai diri sendiri. Aurora, yang sebenarnya punya konflik lebih pedih, hanya punya ayah. Tidak ada tokoh lain yang melambangkan keinginannya. Ibu harusnya menempati posisi ini  – dia satu-satunya tokoh yang kita lihat masuk ke studio Aurora dan later punya adegan dialog khusus berdua – tetapi karena ibu disiapkan baru boleh aktif setelah pengungkapan, kita tidak melihat dinamika wants-and-needs yang lebih dalam pada Aurora. Makanya, perubahan tokoh Aurora tidak kita terima sekuat yang lain.

Sasongko menyiapkan jejeran pemain berkualitas untuk memberikan nyawa kepada tokoh-tokoh cerita yang kompleks dan manusiawi tersebut. Masing-masing tokoh punya dua versi; yang lebih muda dan yang lebih tua, sebab cerita akan sering bolak-balik antara masa lalu saat kejadian tragedi dan masa kini saat mereka sudah dewasa, dan pergantian pemain ini terlihat natural. Karakternya terasa kontinu tanpa ada aspek emosi dari mereka yang terlewatkan oleh kita. Sedikit komplen pada dialog dan bahasa yang dapat terdengar terlalu pretentious, bahkan para aktor sendiri seperti tidak sejiwa dengan kata-kata yang mereka ucapkan. Masalah ini datang dari penetapan konteks dunia yang kurang beridentitas cerita lantaran tokoh utama si ayah tadi yang tidak sedunia dan sepahaman dengan anak-anaknya. Film tidak berhasil menyeimbangkan antara kebutuhan twist, sikap yang ditentang, dan sikap yang menentang. Film juga banyak sekali memakai lagu-lagu, musik aliran ‘kopi-dan-senja’, hingga menyebut penyanyi dan band seperti Kunto Aji, Arah, dan lain-lain. Clearly, film menargetkan penonton kalangan milenial yang indie dan trendi, dan mereka akan suka ini dan tidak akan menganggapnya pretentious.

bagaimana kalo ternyata Awan sebenarnya adalah Zack… eh wait, itu plot Awan lain yang di video game, deng!

 

Buatku, musik dan dialognya memang annoying. My least favourite part justru ketika film memperlihatkan tokoh yang mewakili milenial indie sejati, yakni Awan dan terutama si manic pixienya – si Kale. Film membuat tokoh ini sebagai makhluk paling sempurna di cerita – karena kita melihatnya dari mata Awan yang terpesona mendengar kalimat-kalimat bijaknya – padahal dia sebenarnya asshole juga. Keinginan Awan adalah untuk bisa memilih pilihan sendiri, dan Kale adalah sosok bebas yang ia kagumi. Tapi apa yang terjadi ketika dia jalan dengan Kale? Awan dikasih manisan jeruk. Awan dibawa makan ke kios kenalan Kale. Awan dipesenin kaki kambing sama Kale, tanpa ditanya dulu maunya apa. Keluar dari mulut singa masuk lubang buaya. Sekuen romantis ini actually bekerja di luar struktur dan seharusnya bisa dipikirkan dengan lebih baik lagi. Tapi sepertinya ini adalah cara film untuk menarik target pasar. Karena jualannya memang dialog-dialog itu. Dan silahkan lihat juga gimana film mengandalkan peran-peran minor sebagai penarik, bahkan yang perannya cuma sebagai kameo, sebagai komedi, ataupun sebagai peniru gaya lelucon flashback ala Ant-Man (2015).